Santapan Harian Keluarga, 16-22 Juli 2023

Tema Bulanan : Bngunlah Hidup Bersama yang Baik dan Berkualitas

Tema Mingguan : Perjuangkan Keadilan Bagi yang Lemah

Minggu, 16 Juli 2023

bahan bacaan : Yesaya 1 : 10-20

Bertobat lebih baik dari mempersembahkan korban
10 Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! 11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. 14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. 15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. 16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! 18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. 19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. 20 Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Apalah Arti Ibadahmu?

Sungguhkah kita beribadah untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan ataukah hanya sebuah rutinitas?.Banyak orang melaksanakan ibadah sebagai rutinitas belaka.Hal yang sama berlangsung di masa nabi Yesaya. Ibadah di Yehuda berlangsung dengan baik. Berbagai perayaan dan pertemuan ibadah tetap dilakukan. Namun Allah sama sekali tidak menyukainya. Allah muak melihat ibadah dan perayaan mereka. Ibadah mereka hanya sekadar aktivitas agama yang di dalamnya tidak ada penghayatan dan rasa hormat kepada Allah. Tetapi juga karena ibadah yang dilakukan tidak berdampak pada kehidupan  keseharian.Kejahatan dan ketidakadilan begitu banyak terjadi sehingga mereka disamakan dengan keadaan kota Sodom dan Gomora. Dalam kondisi itulah Yesaya tampil untuk menyerukan pertobatan dan kembali hidup sesuai kehendak Allah. Jika mereka mau bertobat, maka dosa yang semerah kirmizi pun akan dibersihkan seputih bulu domba. Firman Tuhan ini mengingatkan kita semua, memang tidak ada alat ukur untuk menilai kesungguhan beribadah kepada Allah. Tetapi masing-masing kita dapat merenungkan apakah ibadah yang dilakukan itu sungguh-sungguh dari hati yang bersih dan tulus. Apakah ibadah kita berdampak pada pembaruan hidup setiap hari dengan setia memperjuangkan keadilan bagi yang lemah dan susah? Semoga demikian!

Doa:  Ya Allah, tolonglah kami memiliki hati yang tulus bersih dalam beribadah dan siap menolong sesama.  Amin.   

Senin, 17 Juli 2023

bahan bacaan : Yesaya 1 : 21-27

Hukuman atas Yerusalem
21 Bagaimana ini, kota yang dahulu setia sekarang sudah menjadi sundal! Tadinya penuh keadilan dan di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh. 22 Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air. 23 Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka. 24 Sebab itu demikianlah firman Tuhan, TUHAN semesta alam, Yang Mahakuat pelindung Israel; "Ha, Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku, dan melakukan pembalasan kepada para musuh-Ku. 25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya. 26 Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia." 27 Sion akan Kubebaskan dengan penghakiman yang adil dan orang-orangnya yang bertobat akan Kubebaskan dengan tindakan yang benar.

Berjuang Bagi yang Rentan

National Collaborating Centre for Determinants of Helath menjelaskan tentang kelompok rentan adalah kelompok atau komunitas beresiko mengalami masalah kesehatan yang buruk. Hal ini dikarenakan mereka tidak dapat mencapai akses sosial, ekonomi dan lingkungan. Pada suatu komunitas, kelompok rentan ini terlihat sangat dominan ada pada kaum perempuan dengan status janda. Mereka hidup dengan beban ganda, selain kondisi sakit yang harus mereka tanggung, tapi juga beban ekonomi dan sosial bagi keluarga menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi. Terkait dengan kondisi ini, gereja tentunya dipanggil untuk dapat menyatakan keberpihakan kepada mereka yang memiliki kerentanan. Nabi Yesaya menyuarakan tanggung jawab ini juga kepada orang Yehuda. Saat itu, kekerasan dan ketidakadilan telah terjadi dimana-mana hingga menyebabkan keadaan yang buruk bagi anak-anak yatim dan janda. Menurut nabi Yesaya, jika Yehuda tidak berbalik dari hidup mereka yang salah dan berdosa, maka Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya bagi mereka dengan memberikan penghukuman. Sebagai orang-orang yang telah mengalami penebusan Kristus, tentunya kita tidak lagi harus menjalani tahapan teguran dan penghukuman dari Allah yang kemudian menuntun kita berubah untuk berpihak pada yang lemah. Keselamatan yang telah kita peroleh harus kita sikapi dengan iman yang benar melalui cara bertanggung jawab membela dan memperjuangan keadilan bagi mereka yang lemah. Kita dapat memulainya dari orang-orang yang lemah disekitar kehidupan kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berjuang bagi mereka yang lemah. Amin.  

Selasa, 18 Juli 2023

bahan bacaan : Yeremia 22 : 15-16

15 Sangkamu rajakah engkau, jika engkau bertanding dalam hal pemakaian kayu aras? Tidakkah ayahmu makan minum juga dan beroleh kenikmatan? Tetapi ia melakukan keadilan dan kebenaran, 16 serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? demikianlah firman TUHAN.

Pakai Kuasa untuk Menolong yang Lemah

Yoyakim  adalah raja Yehuda. Ia merupakan putra kedua dari raja Yosia.  Tidak seperti ayahnya, Yoyakim merupakan serorang raja yang tamak. Di tengah situasi  krisis pada masa pemerintahannya, dia lebih mengutamakan pembangunan istananya dengan memakai kayu-kayu aras yang mahal. Ia sepertinya ingin mengulang kehebatan Raja Salomo yang membangun istananya dengan kayu aras. Namun pembangunan tersebut dilakukan dengan cara yang tidak adil dan lalim. Ia mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upah kepada mereka (ayat 13). Dia tidak peduli dengan penderitaan rakyatnya, melainkan hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan pribadi. Akibat perbuatannya yang jahat nabi Yeremia menubuatkan kesusahan yang akan ditanggungnya kemudian(ayat 18-19). Ketamakan dan kejahatan raja Yoyakim telah menutup mata hati dan imannya untuk menolong mereka yang lemah. Berbeda dengan Yoyakim, jika kita memiliki kekuatan dan kuasa, maka kita harus menggunakannya untuk menolong mereka yang lemah bukan menyusahkan dan mendatangkan penderitaan. Sama seperti yang diteladankan Yesus, kita bertanggung jawab untuk mewujudkan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan bagi sesama.

Doa: Mampukanlah kami Tuhan, untuk berlaku benar dan tidak menyusahkan sesama. Amin.  

Rabu, 19 Juli 2023

bahan bacaan : Zakharia 7 : 8-10

8 Firman TUHAN datang kepada Zakharia, bunyinya: 9 "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! 10 Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing."

Keseimbangan Gaya Hidup Orang Beriman

Situasi kesedihan yang mendalam ketika dialami oleh seseorang atau suatu komunitas pasti memberi tekanan psikis yang besar. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya perhatian pada hal-hal yang ada di sekitar. Di dalam Kitab Zakharia, suasana kesedihan seperti ini sementara dialami pula oleh para penduduk Yerusalem ketika mereka tersadarkan bahwa Bait Suci yang tengah mereka bangun kembali tidak akan seagung yang sebelumnya dan tidak ada lagi raja dari keluarga Daud yang memerintah sama seperti yang dulu. Tuhan kemudian memberikan penglihatan kepada Zakharia untuk menolong penduduk Yerusalem mengatasi persoalan tersebut. Salah satu caranya  yakni mereka harus bisa mengendalikan emosi kesedihan yang sebenarnya mengekspresikan kepentingan mereka sendiri dan melakukan hukum secara benar. Mereka diingatkan untuk mengasihi para janda, anak yatim, orang asing, orang miskin, dll. Pengendalian emosi dan bersikap benar pada yang lemah merupakan suatu kesimbangan gaya hidup sebagai orang beriman. Sebagai orang beriman, kita bertanggung jawab untuk tetap memberi perhatian kepada mereka yang lemah, sekalipun mungkin kita berada pada situasi-situasi emosional yang tidak memungkinkan. Tantangan yang kita alami, tidak boleh membuat kita melakukan pengabaian terhadap tanggung jawab peduli pada yang lain.

Doa: Tuhan, kendalikanlah pikiran kami, supaya kami dapat menolong mereka yang lemah Amin.  

Kamis, 20 Juli 2023

bahan bacaan : Amsal 22 : 22

22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang.

Kendalikanlah Dirimu Bagi Yang Lemah

Pintu gerbang merupakan tempat melakukan persidangan umum atau pengadilan. Pengamsal mengingatkan kita untuk memperlakukan sesama secara baik dan benar, termasuk ketika berada di pintu gerbang atau di tempat serupa yang mana sangat mempengaruhi  keadaan baik atau buruknya seseorang yang berada dalam kelemahan. Pengamsal menekankan pentingnya memiliki empati pada mereka yang lemah, sebab orang yang lemah adalah orang yang miskin, kecil, hina dan hidup dalam kemelaratan. Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang membuat mereka semakin tidak berdaya dan tak mampu keluar dari kelemahan tersebut. Kondisi mereka yang seperti demikian sangatlah membutuhkan dukungan dan solidaritas kita sebagai sesama. Kata “janganlah” dalam teguran pengamsal menekankan pentingnya aspek menahan diri atau pengendalian diri ketika berhadapan dengan orang yang lemah. Mungkin kita mendapati ada hal yang keliru yang telah dilakukannya, namun keadaan yang lemah dari orang tersebut menjadi hal prioritas untuk kita harus memahami dan berempati dengannya. Kita harus bisa menolongnya supaya kehidupannya tidak semakin sulit dan bertambah penderitaannya. Bahkan jika ia harus berada di tempat yang kemudian menilai kekeliruan atau kealpaan dan kesalahannya, kita pun harus tetap bersikap konsisten untuk menolongnya bukan semakin menekannya.  Hal ini membutuhkan kerelaan dan kerendahan hati kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk berempati dan menolong mereka yang lemah. Amin.  

Jumat, 21 Juli 2023

bahan bacaan : Yeremia 7 : 1-7

Khotbah Yeremia mengenai Bait Suci
Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya: 2 "Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN! 3 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. 4 Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, 5 melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, 6 tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri, 7 maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.

Simbol Agama Dapat Membatasi Empati

Bait suci atau berbagai simbol keagamaan lain tidak menjadi jaminan keberpihakan Tuhan. Sebagian orang kristen memang suka menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam menilai baik buruknya seseorang dalam kehidupan sosial. Rajin ke gereja, mendukung secara aktif pelayanan gereja, serta memiliki tugas atau jabatan tertentu dalam pelayanan di gereja terkadang menjadi beberapa kriteria standart untuk mengukur kepribadian seseorang dan menganggap orang tersebut merupakan orang yang baik di mata Tuhan. Menurut Yeremia, hal seperti ini tidak dapat dibenarkan. Sebab jika tingkah laku atau perbuatan orang tersebut tidak selaras dengan kesetiaannya beribadah dan mengimani Tuhan, maka hal tersebut sama dengan mendustai Tuhan. Yeremia mengkritik gaya hidup seperti demikian yang telah dilakukan oleh Bangsa Israel. Yeremia mengingatkan mereka untuk berhenti melakukan ketidakadilan dan menindas orang asing, anak yatim, janda, dll. Allah tidak akan berpihak pada mereka dan berada bersama-sama dengan mereka, jika mereka berlaku tidak adil pada sesama yang lemah. Karena itu, Yeremia pun menubuatkan penghukuman Allah akibat perbuatan mereka. Sebagai orang benar, kita dibenarkan bukan karena iman kita tertulis pada KTP, bukan juga karena kita selalu memegang Alkitab dan berada di gereja. Tuhan menuntut perkataan dan perbuatan kita yang benar dalam wujud mengasihi dan peduli pada mereka yang kecil dan menderita. Mereka yang dianggap masyarakat kelas dua dan memiliki status sosial yang berbeda.

Doa: Tuhan, seharusnya berada diBait-Mu mengingatkan kami untuk peduli pada sesama. Amin 

Sabtu, 22 Juli 2023

bahan bacaan : Maz 82 : 3-4

2 (22-3) Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. 3 (22-4) Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.

Keadilan Tuhan Bagi Yang Lemah

Dunia pengadilan menjadi harapan terbesar bagi mereka yang ingin memperoleh hak-haknya secara adil. Namun terkadang kenyataan yang dialami tidak sesuai dengan harapan yang diimpikan. Mafia peradilan menjadi salah satu masalah yang marak terjadi dalam dunia peradilan dan telah menyebabkan ketidakadilan terus terjadi dimana-mana. Keberadaan mafia peradilan terkadang semakin mempersulit mereka yang memiliki akses yang terbatas untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Tak sedikit dari antara mereka yang merupakan orang kecil dan lemah mengalami kesusahan akibat perbuatan dari mafia peradilan. Salah seorang anggota DPR RI pernah mengatakan bahwa pemberantasan mafia peradilan tidak bisa hanya dilakukan di pucuknya saja, tapi harus dimulai dari akarnya pada dunia peradilan. Kondisi ketidakadilan yang terjadi dalam dunia peradilan modern seperti demikian dan upaya pemberantasannya, telah dilihat lebih dulu oleh Allah menurut Pemazmur. Allah sendiri menyaksikan pengadilan yang terus berpihak kepada orang-orang kuat dan fasik. Ketidakdilan ini membuat Allah mengambil alih tanggung jawab mengadili dengan benar dalam sidang ilahiNya. Mereka yang berlaku tidak adil dan tidak berpihak kepada mereka yang lemah akan diadili oleh Allah. Kita harus berubah dan mengupayakan dunia peradilan yang bersih dan tetap dapat menegakkan keadilan bagi mereka yang lemah.

Doa: Ajarlah kami Tuhan untuk berlaku adil pada tempatnya yang benar.  Amin.  

@SUMBER : SHK BULAN JULI 2023 LPJ-GPM

Tinggalkan komentar