Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 Agustus 2023

Tema Bulanan : Menjaga Keutuhan Keluarga, Gereja dan Masyarakat

Tema Mingguan : Membangun Hidup Tanpa Penindasan

Minggu, 20 Agustus 2023

bahan bacaan : Habakuk 2 : 6-20

Penghukuman atas para penindas
6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. 7 Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan bagi mereka? 8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 11 Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah. 12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. 13 Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia? 14 Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut. 15 Celakalah orang yang memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya. 16 Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan. Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu. 17 Sebab kekerasan terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 18 Apakah gunanya patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya. 19 Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu bisu: "Bangunlah!" Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya. 20 Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!

Celakalah Orang Yang Melakukan Kejahatan

Thomas Hobbes menyebutkan:”Manusia adalah serigala bagi sesamanya” (Latin: homo homini lupus) artinya manusia memiliki sifat serigala (membunuh, menindas, merebut kekuasaan, merampok, mengambil milik orang lain, merebut hak orang lain, dll). Hal-hal ini juga diperlihatkan oleh bangsa Babilonia. Mereka merampok, menipu dan  menghidupi keluarga atau bangsanya dengan menindas bangsa Yehuda, membangun kota-kota dengan uang dan tenaga kerja yang didapat dengan jalan kekerasan serta mempermalukan sesama dan menghancurkan negeri mereka. Mengapa Allah tidak bertindak cepat untuk menghentikan kekejaman dan ketidakadilan di Yehuda? Demikianlah nabi Habakuk bertanya kepada Allah. Memang Yehuda melakukan kejahatan dan ketidakadilan, tetapi Babel jauh lebih kejam. Namun, akhirnya Nabi mengakui,Tuhan Allah membenci dosa. Orang Babel boleh saja menghukum Yehuda tapi Babel akhirnya juga akan jatuh, sebab para pemimpinnya mendewakan kekuatan mereka sendiri (1:11). Bukan orang sombong yang diterima Tuhan, tetapi orang yang hidup oleh iman (2:4). Iman akan diuji melalui saat-saat yang sulit maka Habakuk menunjukkan pentingnya terus memuji Allah sebagai sumber kekuatan yang sejati dan satu-satunya Penyelamat (3:17,19). Firman Tuhan ini mengajarkan, saat kita mengalami ketidakadilan, kekerasan, kehilangan hak hidup tetaplah beriman dan berharap pada Tuhan maka kita akan mengalami sukacita dan damai sejahtera. Apabila kita memperoleh anugerah Tuhan, janganlah melakukan kejahatan karena pasti berujung celaka.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk tidak berbuat jahat. Amin. 

Senin, 21 Agustus 2023

bahan bacaan : Ulangan 23 : 15-16

Kesayangan terhadap budak yang melarikan diri
15 "Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. 16 Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia."

Lindungilah Mereka Yang Tertindas

Film dengan judul “HERRIET” (diangkat dari kisah nyata) seorang  perempuan kulit hitam bernama Harriet Tubman yang membebaskan kaumnya dari perbudakan bangsa kulit putih di Amerika karena dituntun “Suara Tuhan”. Harriet adalah seorang budak, ia diperkosa dan dijual oleh majikannya kepada majikan yang lain. Ia mengalami kekerasan yang lebih kejam dan tidak manusiawi, Karen itu melarikan diri ke Philadelfia. Melalui sebuah organisasi bawah tanah, ia mendapatkan hak hidup di kota tersebut. Akhirnya, ia berjuang membebaskan keluarganya bersama dengan ratusan budak lainnya. Kisah budak melarikan diri ada dalam Alkitab. Mereka melarikan diri karena sebagian besar dari mereka menjadi sasaran kerja paksa dan tindakan sewenang-wenang dari tuannya. Hal tersebut membuat seorang budak mencari tempat untuk berlindung dan memiliki hidup baru. Sebab itu, Musa melarang orang Israel menyerahkan seorang budak yang melarikan diri kepada tuannya (ay.15). Sebaliknya, orang Israel harus mengizinkan dia untuk tinggal bersama mereka dan jangan menindas meraka, karena bangsa Israel pun pernah menjadi budak di Mesir (band. Kel.1:1-12). Saat ini kita tidak lagi mengalami perbudakan seperti di masa lampau tapi masih ada “perbudakan” yang kita alami seperti; ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi (praktek ketidakadilan karena agama, suku, warna kulit, disabilitas, dll), kemiskinan, dan sebagainya. Marilah kita teladani tokoh Herriet untuk memberikan pembebasan bagi mereka yang lemah. Semoga !

 Doa: Tuhan, tuntun kami membangun hidup peduli kepada sesama.  Amin.   

Selasa, 22 Agustus 2023

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 13 : 1-5

Yoahas, raja Israel
Dalam tahun kedua puluh tiga zaman Yoas bin Ahazia, raja Yehuda, Yoahas, anak Yehu, menjadi raja atas Israel di Samaria; ia memerintah tujuh belas tahun lamanya. 2 Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia hidup menuruti dosa Yerobeam bin Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula. Ia tidak menjauhinya. 3 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel, lalu diserahkan-Nyalah mereka ke dalam tangan Hazael, raja Aram, dan ke dalam tangan Benhadad, anak Hazael, selama zaman itu. 4 Tetapi kemudian Yoahas memohon belas kasihan TUHAN, dan TUHAN mendengarkan dia, sebab Ia telah melihat, bagaimana beratnya orang Israel ditindas oleh raja Aram. 5 --TUHAN memberikan kepada orang Israel seorang penolong, sehingga mereka lepas dari tangan Aram dan dapat duduk di kemah-kemah mereka seperti yang sudah-sudah.

                                      Bertobatlah, Maka Tuhan Akan Menolong

Tema minggu ini “Membangun Hidup Tanpa Penindasan”. Tema ini bermaksud mengatakan bahwa selama manusia hidup selalu ada praktek penindasan. Misalnya: pemerkosaan, pelecehan seksual, perampokan, pembulian, pembunuhan, pencurian dan sebagainya. Penindasan adalah hal yang tidak dapat dibenarkan, karena itu manusia harus menjauhkan diri dari penindasan (kekerasan). Perikop bacaan, 2 Raja-raja 13:1-5 mengisahkan tentang Yoahas, raja Samaria melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Kepemimpinannya telah membawa umat Israel melakukan dosa (ay.2). Umat dan raja-rajanya tidak setia kepada Tuhan dengan beribadat kepada berhala-berhala (band Hakim-hakim 10:6). Akhirnya, bangsa itu dihukum dengan menyerahkan mereka ke tangan orang Aram yang menindas dan membinasakan dengan kejam. Keadaan tersebut, membuat Yoahas meminta belas kasihan Tuhan agar rakyatnya bebas dari penindasan raja Aram, dan Tuhan memberikan seorang penolong untuk membebaskan mereka. Dari firman ini kita belajar bahwa ketika mengalami penindasan baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat, berharap dan percaya hanya pada Tuhan yang memberikan pertolongan dan kelepasan. Jangan mengandalkan kekuatan diri sendiri atau orang lain yang memiliki kuasa, jabatan maupun kekayaan. Pertolongan Tuhan itu harus direspons dengan pertobatan hidup. STOP PENINDASAN ! terhadap sesama.

 Doa: Tuhan, tolonglah kami membangun hidup tanpa penindasan, amin.   

Rabu, 23 Agustus 2023

bahan bacaan : Kejadian 16 : 1-16

Hagar dan Ismael
Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. 2 Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. 3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. 4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. 5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." 6 Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. 7 Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. 8 Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." 9 Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." 10 Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." 11 Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. 12 Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." 13 Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" 14 Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered. 15 Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. 16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

Menyelesaikan Masalah Tanpa Kekerasan

Kisah tentang Abram dan Sarai, pasangan suami-isteri yang tidak memiliki anak sampai usia tua, kita semua tahu. Ini yang menyebabkan kebahagiaan dalam keluarga terasa tidak sempurna serta kurangnya iman sarai terhadap janji Allah tentang keturunan. Dalam situasi tersebut, muncullah ide Sarai agar Abram memperistri Hagar (hamba Sarai yang berasal dari Mesir) supaya mereka memiliki anak. Hagar bersedia diperistri oleh Abram, kemudian dia mengandung (ay.3-4). Kehamilan Hagar tentu mambawa kebahagian bagi Abram dan sarai karena mereka akan segera mendapatkan keturunan. Tetapi muncul masalah baru bagi rumah tangga Abram dan isterinya, sarai. Ketika Hagar tahu bahwa dia mengandung, maka dia menjadi sombong; memandang rendah dan menghina Sarai. Sikap Hagar ini sangat menyakiti hati Sarai, maka bangkitlah amarahnya sehingga Sarah menindas dan memberi tekanan yang berat kepada Hagar sampai dia kehilangan semangat untuk hidup dan kemudian lari meninggalkan majikannya. Dari kisah ini kita beroleh makna bahwa selalu ada masalah dalam rumah tangga, namun usahakanlah menyelesaikan masalah dengan mengandalkan Tuhan bukan berdasarkan keinginan kita semata-mata. Karena bisa saja bukan menyelesaikan masalah tapi menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar.Selain itu, usahakan meyelesaikan masalah dengan membangun hidup tanpa penindasan karena penindasan (kekerasan) dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Doa: Tuhan, tuntun kami menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.   Amin.   

Kamis, 24 Agustus 2023

bahan bacaan : Amsal 14 : 31

31 Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Menolong Orang Miskin, Memuliakan Tuhan

Masih banyak orang yang memberlakukan orang lemah dan miskin dengan cara yang tidak benar dan tidak adil.  Misalnya: siswa yatim piatu dihina bodoh dan miskin oleh guru karena belum membayar SPP. Ada juga siswa berkebutuhan khusus yang tubuhnya tidak normal “bongkok” dihina oleh pelajar lain dengan menyebutnya “manusia pikul ransel” dan masih banyak orang yang mengalami kepahitan dalam hidup karena ulah sesama. Kitab Amsal berisi ucapan bijak kepada anak-anak muda yang bertujuan untuk mendidik mereka menghormati dan mentaati Tuhan, sumber hikmat dengan cara peduli kepada orang miskin dan orang yang memerlukan bantuan. Hal ini dikemukakan dalam perikop bacaan kita tadi, “Siapa menindas orang lemah, menghina pencipta-Nya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin memuliakan Dia”. Ayat ini mau menjelaskan bahwa orang lemah selalu menjadi sasaran penindasan dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama. Namun, mereka lupa bahwa menindas orang lemah, itu artinya menghina Tuhan.Sebaliknya, kemurahan hati dan kepedulian kepada orang lemah (orang miskin) menunjukkan bahwa kita memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, marilah kita menunjukkan perhatian dan kepedulian kepada mereka yang lemah; orang miskin, orang berkebutuhan khusus (cacat fisik dan mental), korban kekerasan dengan benar dan adil. Dengan melakukan demikian, Tuhan dimuliakan.

Doa: Tolonglah kami menolong mereka yang lemah dan miskin, Amin.   

Jumat, 25 Agustus 2023

bahan bacaan : Amsal 24 : 1-2

Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka. 2 Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana.

Waspadalah!

Memiliki relasi yang baik dengan orang lain merupakan dambaan setiap insan manusia. Akan tetapi relasi yang baik itu dapat saja menjadi rusak, karena sikap dan tindakan yang tidak manusiawi. Salah satu contoh sikap dan tindakan yang tidak manusiawi yaitu penindasan kepada orang lain. Penindasan sama artinya dengan menekan, memperlakukan dengan sewenang-wenang dan menguasai dengan paksa. Menurut Amsal, orang yang hatinya memikirkan penindasan dan bibirnya membicarakan bencana adalah orang yang jahat. Sikap dan tindakan yang mereka lakukan selalu mengakibatkan penderitaan bagi orang lain. Cara hidup seperti ini sangat berpengaruh dalam membina suatu hubungan yang baik. Penindasan masih sering terjadi dalam hidup bersama baik dalam lingkungan masyarakat, lingkungan kerja bahkan dalam ruang lingkup yang kecil sekalipun seperti keluarga. Misalnya atasan yang menekan bawahan, orang tua yang otoriter terhadap anak dan lain sebagainya. Karena itu, firman Tuhan mengajarkan kita untuk waspada terhadap orang jahat sekaligus menghindari tindakan penindasan kepada sesama. Sebab penindasan adalah tindakan yang tidak berkenan dihadapan Allah dan hanya akan merusak relasi yang baik diantara sesama manusia. Hiduplah sebagai orang percaya yang terus membina relasi baik, serta Ingatlah hanya orang jahat saja yang selalu melakukan penindasan.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar tetap waspada terhadap orang jahat. Amin. 

Sabtu, 26 Agustus 2023

bahna bacaan : Pengkhotbah 4 : 1-3

Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. 2 Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup. 3 Tetapi yang lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang belum melihat perbuatan jahat, yang terjadi di bawah matahari.

Katakan Tidak Bagi Penindasan

Hidup dalam penindasan tidak ingin dialami oleh siapapun. Kendatipun demikian, praktek-praktek penindasan masih saja dilakukan oleh orang-orang tertentu. Rata-rata orang yang melakukan penindasan adalah mereka yang memiliki kuasa yang tinggi. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Pengkhotbah bahwa di pihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. Mereka yang diperlakukan dengan tidak adil ini merupakan orang-orang lemah, miskin, tidak berdaya dan lain sebagainya. Karena itu, tindakan penindasan yang mereka alami mengakibatkan adanya tangisan. Mirisnya yang lebih menyakitkan dan menyayat hati menurut Pengkhotbah yaitu tidak ada penghibur ketika air mata mereka bercucuran. Fakta hidup memperlihatkan bagi kita semua, bahwa ada orang-orang yang memiliki kekuasaan karena status sosial dan jabatan yang tinggi. Namun ada juga orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan, tidak mampu, lemah dan tak berdaya. Perbedaan ini tidaklah patut menjadi alasan untuk melakukan tindakan penindasan, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun dan membina hubungan yang baik. Oleh sebab itu, pergunakanlah kekuasaan yang dimiliki untuk selalu melakukan kebaikan dan bukan kejahatan. Perlakukanlah sesama dengan semestinya dan jadikanlah kekuasaan yang dimiliki sebagai sumber berkat bagi semua orang. Katakan tidak bagi tindakan yang menindas dan biarlah hidup dan karya kita selalu menjadi bermakna bagi semua orang.

Doa: Mampukanlah kami Tuhan, supaya kami tidak menjadi pelaku-pelaku penindasan. Amin.   

@SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2023, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar