Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 September 2023

Tema Bulanan : Gereja Yang Bersyukur Di Tengah Perubahan Zaman

Tema Mingguan : Wujudkanlah Syukur Dengan Hidup Rendah Hati Dan Taat

Minggu, 24 September 2023

bahan bacaan : Yohanes 13 : 1 – 20

Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Melayani Dalam Kerendahan Hati

Bangsa Yahudi mempunyai banyak hukum yang mengatur dan mengarahkan mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tetapi Yesus datang untuk menunjukkan bagaimana mereka menjalani hidup sesuai dengan yang difirmankan oleh Allah. Yesus tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menjadikan diri-Nya teladan bagi mereka. Salah satunya  adalah ketika Ia mau membasuh kaki murid- murid-Nya. Tindakan itu dilakukan Yesus sebagai sebuah pembelajaran berharga bagi para murid untuk mengajarkan sekaligus mendorong mereka untuk hidup saling melayani, bukan  dilayani. Itu wujud kerendahan hati. Sebagai para pelayan memang sikap kerendahan hati dalam melayani sangat dibutuhkan. Orang-orang yang ada di sekeliling kita tidak hanya membutuhkan nasihat dan kata-kata hikmat yang indah, tetapi mereka lebih memerlukan tindakan yang kita lakukan. Peran apa pun yang kita ambil dalam dunia ini, baik sebagai ayah, ibu, anak, pemimpin, karyawan, pengusaha, atau apa pun itu, doronglah diri kita agar dapat menjadi teladan dalam hal kerendahan hati. Mengapa? Karena keteladanan akan berbicara lebih keras daripada serangkaian perkataan yang kita ucapkan tanpa diwujudkan dalam tindakan. Jadi mari kita renungkan, sudahkan selama ini kita meneladankan kerendahan hati, termasuk dalam hal melayani? 

Doa: Tolonglah kami menolong mereka yang lemah dan miskin, Amin.   

Senin, 25 September 2023

bahan bacaan : Amsal 11 : 2

2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.

Hidup Rendah Hati, Tidak Suka Mencemooh

Secara sadar maupun tidak sadar sering kita menjadi sombong. Mungkin disebabkan suatu keadaan dan didukung adanya kesempatan. Pada Amsal 11:2b, dikatakan “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati”. Kita diingatkan agar tidak menyerupai orang fasik yang sombong karena  kesombongan adalah hal yang tidak disukai Allah. Terkadang kita mengukur orang lain dengan mudah, menghakimi orang yang lemah dan bertingkah sombong pada orang lain. Hal ini membuat kita mudah merendahkan orang lain. Dengan memiliki kerendahan hati kita bisa memahami keadaan orang lain. Kita memang harus dapat mengerti dan memahami kondisi orang lain, bagaimana kalau kita berada pada posisi orang itu. Janganlah kita menjadi sombong dan suka merendahkan orang lain, itu perilaku yang tidak baik.  Saat keangkuhan muncul maka akan menimbulkan cemooh pada sesama sehingga mengakibatkan timbul kesombongan yang menghilangkan hikmat. Kita tahu bahwa tidak ada orang yang berhasil menjadi orang yang rendah hati secara instan, semuanya membutuhkan proses. Namun yang paling penting dari semua itu adalah kita harus terus memiliki kemauan dan berusaha menjadi orang yang rendah hati kepada siapapun. 

Doa: Tolonglah kami bersikap rendah hati dan tidak mencemooh. Amin.   

Selasa, 26 September 2023

bahan bacaan : Amsal 15 : 33

33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan

“Tidak perlu ajar beta!, kata-kata ketus itu keluar dari salah satu pegawai di kantor yang tidak menghargai usulan yang disampaikan dalam rapat. Ia tidak mau dibilang tentang kekeliruannya.Di dalam Kitab Amsal, orang bijak adalah orang benar yang taat kepada Allah dan hidup sesuai ajaran Kitab Suci. Sebaliknya, orang bodoh menghina didikan. Salomo membandingkan sikap, perbuatan, dan kata-kata orang berhikmat dan orang bodoh dan menerangkan bahwa orang yang berhikmat atau bijaksana akan selalu rendah hati. Kenyataannya, tidak semua orang dapat bersikap rendah hati. Ada yang tidak mau dibilang atau diajar. Padahal salah satu aspek Kerendahan hati adalah memiliki hati yang mau diajar. Kita diajarkan oleh firman Tuhan agar hidup takut Tuhan, dengan begitu kehidupan menjadi baik dan bermanfaat. Kita pun dapat belajar dari orang lain, karena tidak semua hal kita tahu dan miliki Kita bukanlah siapa-siapa tanpa Tuhan dan orang lain. Keberhasilan dan kesuksesan yang kita terima dalam hidup pun selalu terkait dengan kebaikan  Tuhan dan pengorbanan orang lain. Kerendahan hati mengajarkan bahwa kita bisa belajar dari siapa pun bahkan dari hewan. Orang-orang yang rendah hati akan memiliki kehormatan. Mari kita menjadi orang-orang yang takut Tuhan dan rendah hati.

Doa: Mampukanlah kami untuk terus hidup rendah hati dan suka belajar dari orang lain, Amin.   

Rabu, 27 September 2023

bahan bacaan : Amsal 18 : 12

12 Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Hiduplah Rendah Hati, Jauhilah Kesombongan!

Firman Tuhan dalam kitab Amsal mengapresiasi sikap yang mencerminkan karakter rendah hati. Seseorang akan dihormati oleh sesamanya karena melihat kerendahan hati yang ditunjukkan.Sebaliknya, sikap tinggi hati dapat menghancurkan hidup seseorang. Budaya kita sangat menghargai sikap kerendahan hati. Tidak heran kita memiliki pepatah, “belajarlah dari padi, semakin berisi makin merunduk”. Dan orang tua kita selalu mengingatkan, “tong kosong nyaring bunyinya”. Kedua pepatah ini memiliki arti yang sama bahwa kerendahan harus menjadi gaya hidup dan mencerminkan sikap yang terpuji. Praktik kerendahan hati yang paling tulus kita lihat adalah ketika Allah mau menjadi manusia. Tinggi hati mendahului kehancuran, sebaliknya kerendahan hati mendahului kehormatan. Bagi orang yang rendah hati, orang lain menyimpan nilai yang berharga yang dapat dipelajari untuk memperkaya dirinya. Sebaliknya, bagi orang yang sombong merasa orang lain tidak ada apa-apanya. Ia menganggap hanya dirinya yang hebat. Punya segala hal, tidak suka masukan, apalagi kritikan dari orang lain. termasuk dalam kehidupan beriman. Maka firman Tuhan ini mengingatkan kita, hindarilah sikap kesombongan dan jadilah rendah hati!.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami mau selalu rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Amin. 

Kamis, 28 September 2023

bahan bacaan : Amsal 22 : 4

4 Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

 Ganjaran Kerendahan Hati 

Selama beberapa hari ini kita mendengarkan Firman Tuhan tentang kerendahan hati. Sikap kerendahan hati menurut kitab Amsal akan memberikan banyak ganjaran: kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Siapa yang tidak ingin memiliki kekayaan, harta berlimpah dan uang banyak. Dengan semua itu kita dapat melakukan banyak hal dan mebeli apa yang diinginkan. Demikian halnya kita semua menghendaki dihormati oleh orang. Hidup sebagai orang-orang terhormat yang disegani dan dihargai orang lain. Kita pun menginginkan kehidupan yang baik dan bahagia. Hal-hal ini dapat dimiliki karena itu adalah buah ketika kita  bersikap rendah hati. Kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan. Orang yang rendah hati tidak menyombongkan diri. Ia dapat bersyukur di segala situasi dan merasakan kalau semua yang dimilikinya adalah semata-mata anugerah Tuhan. Sebab  itu orang yang rendah hati dapat berelasi dengan semua orang. Ia mampu bekerjasama dengan siapa saja. Tentu sikap yang seperti inilah yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Maka marilah kita tetap mengembangkan kerendahan hati sebagai gaya hidup dan pelayanan kita. Walaupun ada yang masih sulit melakukannya. Namun, di dalam Allah kita dapat menjadi orang-orang yang rendah hati. Keakuan dan kesombongan diri kita akan perlahan terkikis dan akhirnya kita mampu menjadi seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Saat itulah, ganjaran kekayaan, kehormatan dan kehidupan akan kita miliki.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas ganjaran kerendahan hati yang Engkau berikan,  Amin.   

Jumat, 29 September 2023

bahan bacaan : Matius 20 : 26 – 28

26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Menjadi Pelayan yang Rendah Hati

Tuhan Yesus  mengingatkan bahwa dalam Kerajaan Allah seorang pemimpin tidaklah bersikap seperti pemimpin yang ada di dunia ini, yang kadang menggunakan kuasa serta otoritas yang ada padanya untuk kepentingan dirinya. Yesus berkata: “barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. Itu artinya menjadi pemimpin harus mau melayani dan memberikan diri untuk kesejahteraan orang lain. Rendah hati dan punya kesediaan berkorban adalah sifat dari seorang pemimpin. Tuhan Yesus sendiri sudah terlebih dulu memberikan teladan itu untuk diikuti, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Meskipun dengan konteks dan cara yang berbeda.Tidak mementingkan diri sendiri, tidak menyelamatkan diri sendiri tetapi memberi diri, memberi waktu untuk orang lain, memberi tenaga dan pikiran serta apa yang kita punya, bahkan memberi nyawa sekalipun untuk orang lain adalah bukti pengorbanan dan kerendahan hati. Inilah nilai pengorbanan Tuhan Yesus yang diberikan kepada kita, untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, jadilah pemimpin-pemimpin yang melayani dengan rendah hati. Jadilah pelayan yang melayani dengan setia.

Doa: Tuhan Yesus, biarlah kami terus meneladani kerendahan hati-Mu, Amin. 

Sabtu, 30 September 2023

bahan bacaan : Mazmur 149 : 4 

4 Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.

Orang Yang Rendah Hati Memperoleh Keselamatan

Tuhan sungguh senang kepada orang-orang yang hidupnya rendah hati. Demikianlah dikatakan oleh pemazmur dalam bacaan hari ini: “sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan”. Tuhan memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan karena mereka adalah orang-orang yang taat dan setia kepada-Nya. Mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan, mengakui kelemahan dan keterbatasan mereka dan mengandalkan-Nya sepenuhnya. Orang-orang yang rendah hati j uga cenderung untuk mengasihi sesama dan menunjukkan belas kasihan, karena mereka tidak mementingkan diri sendiri. Mereka bersedia untuk melayani Tuhan dan melayani orang lain, tanpa mengharapkan imbalan atau penghargaan. Tuhan menghargai dan memperhatikan sikap hati seperti ini, lalu memberikan keselamatan sebagai hadiah bagi mereka. Karena itu, keselamatan adalah hadiah yang terbesar dan paling berharga yang Tuhan dapat berikan kepada kita jika kita tetap berlaku rendah hati. Maka firman Tuhan ini mengingatkan, marilah kita menjadi orang-orang yang rendah hati. Meskipun hal ini bukanlah mudah, tetapi kita dapat mengupayakannya dengan lebih sungguh dan mewariskannya kepada anak-anak di dalam keluarga.

Doa: Tuhan, terima kasih atas anugrah keselamatan yang Engkau berikan untuk orang rendah hati, amin   Amin.   

@SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2023, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar