Tema Bulanan :
Tema Mingguan :
Minggu, 21 Januari 2024
bahan bacaan : Yeremia 9: 23-26
Mengenal Allah adalah kebahagiaan manusia
23 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, 24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." 25 "Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya: 26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya."
Bermegahlah Karena Engkau Mengenal Allah
Pengenalan akan Allah sesungguhnya melampaui segala bentuk kekayaan dan kekuatan, sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat bermegah di hadapan-Nya. Gagasan yang sama dipertegas oleh Yeremía, seperti yang tertulis pada pasal 9. Bahwa dengan kekayaan dan kekuatan yang dimiliki, umat dapat menjadi sombong dan angkuh terhadap Allah dan sesamanya, karena didasarkan pada prestasi diri sendiri. Karena itu, ia menegaskan bahwa jika umat ingin bermegah hendaklah ia bermegah karena ia “Memahami dan mengenal Allah”. Kata memahami dan mengenal Allah yang ditampilkan pada ayat 24 bukan sekedar menggambarkan pentingnya pengetahuan tentang Allah. Namun, ungkapan memahami dan mengenal Allah artinya memiliki relasi yang intim dengan-Nya. Sehingga dengan relasi yang intim itu, kita dapat mengakui bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan besar. Bahkan hanya karena kekuasaan Allah itulah, manusia dapat memegahkan dirinya. Menariknya menurut Yeremia, orang yang bermegah karena mengenal dan memahami Allah tidak akan berujung pada kesombongan dan keegoisan diri. Karena mengagungkan dan menyombongkan diri sendiri adalah permulaan dari kehancuran hidup. Bagian ini bukan berarti tidak boleh memiliki kelebihan, melainkan kelebihan yang dimiliki harus bertujuan untuk kemuliaan Allah.
Doa: Ya Allah, tuntunlah kami untuk selalu bermegah karena-Mu.Amin.
Senin, 22 Januari 2024
bahan bacaan : Kejadian 11: 1-9
Menara Babel
Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. 3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. 4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." 5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, 6 dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. 7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." 8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. 9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Libatkanlah Allah Dalam Seluruh Rencana Hidupmu
Mengapakah demikian? Karena dengan mengandalkan diri sendiri maka manusia melupakan pentingnya ketergantungan hidup akan Allah, sehingga tidak lagi berusaha memahami kehendak-Nya dalam setiap perencanaan hidup. Kenyataan yang sama turut diperlihatkan dalam kisah pembangunan menara babel. Dalam catatan Kejadian 11, manusia menolak adanya keberagaman, sehingga mereka berusaha untuk menjadi satu. Berbeda dengan perencanaan manusia, Allah justru membuat mereka menjadi terpencar di bumi dengan beragamnya komunitas masyarakat. Bahkan dipertegas bahwa apapun yang manusia rencanakan, tidak akan pernah terlaksana. Apakah Allah tidak adil akan proses itu? Kejadian 11 memperlihatkan nilai sebaliknya, bahwa Allah begitu adil dalam seluruh pekerjaan tangan-Nya. Allah menghendaki adanya pertumbuhan, pembangunan, dan kemajuan umat. Namun menjadi penting adalah, segala usaha itu haruslah didasari pada hubungan yang intim dengan Allah. Memahami kehendak Allah dalam setiap perencanaan adalah keputusan bijak umat, sehingga kemajuan yang diperoleh tidak menjadi dasar menyombongkan diri. Bagaimanakah dengan kita masih Allah izinkan hidup sampai saat ini? Apakah kita yang masih melibatkan-Nya dalam seluruh pergumulan hidup di awal tahun ini? Jika belum maka percayalah, bahwa melibatkan Allah dalam seluruh rencana hidup, akan membuat kita memahami kehendak-Nya
Doa: Ya Allah, tolong kami agar mampu untuk memahami kehendak-Mu. Amin.
Selasa, 23 Januari 2024
bahan bacaan : Ayub 42: 1-6
Ayub mencabut perkataannya dan menyesalkan diri
Maka jawab Ayub kepada TUHAN: 2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. 3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. 4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. 5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. 6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."
Akuilah Allah Dengan Seluruh Kekuasaan-Nya
Tidak pernah ada kata “Terlambat” kepada setiap orang yang ingin berjumpa dan memahami Allah dalam hidupnya. Kenyataan yang sama turut diperlihatkan oleh Ayub dalam kesudahan penderitaannya. Kitab Ayub memberi catatan, bahwa ketika hidup Ayub dipenuhi dengan penderitaan, dia menolak dan membantah Allah. Ayub bahkan menggugat Allah dengan seluruh kekuasaan-Nya. Karena menurut Ayub, dirinya selalu berlaku benar dan adil, sehingga mengapa dia harus menderita? Gugatan Ayub kepada Allah di tengah penderitaan memperlihatkan bahwa ia telah gagal memahami tujuan Allah dalam hidupnya. Ayub telah memandang penderitaan dari sudut pandang manusia yang berdosa, sehingga ia melupakan bahwa Allah sesungguhnya adil dan benar dalam setiap perbuatannya. Menariknya, pasal 42 kemudian mengakhiri kisah Ayub dengan kesadaran dan pengakuan dirinya atas kemahakuasaan Allah. Ayub mengaku, bahwa dirinya gagal memahami kehendak Allah dalam hidupnya. Kesadaran akan keterbatasan dirinya membawa pengubahan visi tentang Allah yang adil dan benar. Karena itu, jadilah bijak untuk memahami kehendak Allah dalam seluruh perjalanan hidup kita. Sadari dan akuilah diri kita sebagai manusia yang sangat terbatas dan lemah. Karena pengakuan akan keterbatasan diri memberi kita ruang untuk berjumpa dan memahami kehendak Allah dalam setiap perjalanan hidup ini.
Doa: Ya Tuhan, nyatakanlah kemahakuasaanMu di dalam kelemahan kami. Amin.
Rabu, 24 Januari 2024
bahan bacaan : Matius 16:1-4
Orang Farisi dan Saduki meminta tanda
Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka. 2 Tetapi jawab Yesus: "Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, 3 dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. 4 Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.
Berilah Dirimu Dipimpin Oleh Allah
Pertentangan tentang apakah Yesus adalah anak Allah terus berkembang ketika Ia melakukan pelayanan. Kenyataan yang sama dapat ditemukan dalam nats hari ini, yaitu orang-orang Farisi dan Saduki menghampiri Yesus dan meminta-Nya untuk melakukan Mujizat. Permintaan orang Farisi dan Saduki didasari pada rasa tidak percaya mereka akan diri Allah dalam Yesus. Meminta Yesus melakukan Mujizat bertujuan untuk melihat apakah Yesus adalah Allah yang telah menjadi daging? Jika benar maka Ia sanggup untuk melakukan segala hal, karena kekuasaan yang dimiliki tidak tertandingi. Namun Yesus dalam kelembutannya menjawab bahwa tanda yang dimintakan sesungguhnya sudah ada, hanya mereka yang tidak dapat melihatnya. Maksud dari perkataan Yesus adalah diri-Nya sendiri merupakan tanda/berita dari Allah. Namun orang Farisi dan Saduki tidak mampu mengetahuinya, karena mereka tidak membawa diri untuk dipimpin oleh Allah. Pada akhirnya, mereka tidak mampu untuk memahami kehendak Allah dalam pelayanan Yesus. Membawa diri kepada Allah untuk dipimpin oleh-Nya memampukan setiap kita memahami kehendak Allah dalam seluruh perjalanan hidup ini. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang dapat mengatakan bahwa dirinya memahami kehendak Allah tanpa dipimpin oleh Allah. Justru sebaliknya, karena hakekat diri kita sebagai manusia yang lemah dan terbatas maka pimpinan Allah sajalah yang mampu mengantarkan kita memahami kehendak-Nya dalam seluruh perjalanan hidup ini.
Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami agar selalu memahami kehendak-Mu. Amin.
Kamis, 25 Januari 2024
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 22:1-22
Paulus berbicara kepada orang Yahudi
"Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." 2 Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka. Ia berkata: 3 "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. 4 Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. 5 Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum. 6 Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. 7 Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? 8 Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. 9 Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. 10 Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. 11 Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. 12 Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. 13 Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. 14 Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. 15 Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. 16 Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan! 17 Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait Allah, rohku diliputi oleh kuasa ilahi. 18 Aku melihat Dia, yang berkata kepadaku: Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku. 19 Jawabku: Tuhan, mereka tahu, bahwa akulah yang pergi dari rumah ibadat yang satu ke rumah ibadat yang lain dan yang memasukkan mereka yang percaya kepada-Mu ke dalam penjara dan menyesah mereka. 20 Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya. 21 Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain." 22 Rakyat mendengarkan Paulus sampai kepada perkataan itu; tetapi sesudah itu, mereka mulai berteriak, katanya: "Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!"
Hidup Sesuai Ketetapan Tuhan
Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berharga; baik pengalaman manis maupun pahit. Setiap pengalaman tersebut, harus kita jadikan pelajaran penting untuk menata masa depan bahkan menjadi kesaksian untuk memuliakan Tuhan. Hal ini diperlihatkan oleh rasul Paulus dalam perikop bacaan kita tadi. Melalui pidato yang disampaikannya di depan banyak orang pada saat itu, Paulus menceritakan pengalamannya menjadi pengikut Kristus; Ia adalah seorang penganiaya orang Kristen
yang mengalami pertobatan. Ia diutus Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi (ay.21). Pengalaman berharga Paulus di depan pintu kota Damsyik membuat dia memberikan hidupnya bagi Kristus (Flp.1:21). Kita semua pun memiliki pengalaman yang berharga bersama Tuhan pada saat kita susah maupun senang; saat sakit, gagal dalam usaha, pekerjaan maupun pendidikan, ataupun ketika hidup kita baik-baik saja. Semua hal tersebut menuntun kita untuk memahami kehendak Tuhan dan mentaatinya. Setiap kejadian hidup merupakan tanda dari Tuhan bahwa Dia mengasihi kita dan menetapkan kita untuk melaksanakan tugas pengutusan-Nya.
Doa: Tuhan, ini kami utuslah sesuai kehendak-Mu, amin.
Jumat, 26 Januari 2024
bahan bacaan : Kejadian 9 : 8-17
8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." 12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."
Tanda Alam Sebagai Pernyataan Kehendak Allah
Kejahatan dan ketaatan adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Kedua hal tersebut merupakan yang sering temui dalam dupan manusia. Seperti dalam kisah Air Bah (7:1-24). Akibat kejahatan manusia di hadapan Tuhan Allah, maka la memusnahkan manusia beserta seluruh makhluk di muka bumi. Namun ketaatan Nuh merupakan alasan Allah untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari bencana Air Bah. Bahkan Allah berjanji kepada manusia dan seluruh makhluk di bumi bahwa Dia tidak akan lagi mendatangkan murka-Nya melenyapkan kehidupan dengan Air Bah (ay.11). Tanda perjanjian yang dipakai Allah adalah busur di awan (pelangi) sebagai lambang kasih Allah dan jaminan damai antara Allah dan manusia. Pesan bagi kita, marilah kita berpegah teguh pada janji Allah tentang bagaimana la memelihara, menjaga dan menyelamatkan hidup kita dari berbagai situasi yang sulit. Janji Allah ini juga berhubungan dengan tanggungjawab manusia untuk taat dan setia kepada kehendak Tuhan, merawat dan memelihara seluruh mahkluk di bumi (misalnya: stop eksploitasi).
Doa: Kiranya kami setia berpegang teguh pada janji Allah yang menyelamatkan, amin.
Sabtu, 27 Januari 2024
bahan bacaan : Lukas 13:1-5
Dosa dan penderitaan
Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."
Bertobat Atau Binasa
Ada yang berpendapat bahwa musibah, penderitaan maupun kematian adalah akibat dosa. Pemahaman tersebut pun dianut oleh orang-orang pada zaman Yesus yang menghubungkan penyakit atau kematian dengan dosa (band. Yoh.9:1-41) sebagaimana perikop bacaan tadi. Menurut mereka kematian orang-orang Galilea maupun 18 orang Yerusalem akibat dosa mereka. Padahal Orang Galilea dibunuh oleh Pilatus karena mereka melakukan pemberontakan kepada Pemerintah Romawi, menghambat proyek bendungan air di Yerusalem, sedangkan 18 orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam. Tentang hal tersebut, Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas tidak ada hubungan antara kematian dan dosa. Sebaliknya, mereka diperingatkan supaya bertobat; berbalik dari kebiasaan hidup dalam kekerasan serta waspada dalam setiap pekerjaan supaya mereka selamat. Maknanya, Kematian Yesus Kristus di kayu salib telah memerdekakan kita dari dosa sehingga tidak ada penderitaan ataupun kematian dikarenakan oleh dosa. Sebaliknya, penderitaan ataupun kematian disebabkan karena kesalahan kita sendiri. Misalnya: korupsi akhirnya menderita di penjara, nafsu makan yang tidak terkontrol akibatnya sakit, ngebut-ngebut di jalan raya akibatnya terjadi kecelakaan, dll.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami hidup sesuai Kehendak Tuhan. amin.
*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2024, LPJ – GPM