Tema Bulanan : Wujudkan Makna Sengsara Kristus dalam Realitas Berdemokrasi
Tema Mingguan : Muliakan Yesus yang Sengsara dan Tentukan Pilihan Politik
Minggu, 11 Februari 2024
bahan bacaan I : Markus 9:2-13,
Yesus dimuliakan di atas gunung
2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, 3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. 4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. 5 Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." 6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. 7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." 8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. 9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. 10 Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati." 11 Lalu mereka bertanya kepada-Nya: "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?" 12 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan? 13 Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia."
bahan bacaan II : Ulangan 1:9-18
Riwayat pengangkatan hakim-hakim
9 "Pada waktu itu aku berkata kepadamu, demikian: Seorang diri aku tidak dapat memikul tanggung jawab atas kamu. 10 TUHAN, Allahmu, telah membuat kamu banyak dan sesungguhnya, sekarang kamu sudah seperti bintang-bintang di langit banyaknya. 11 TUHAN, Allah nenek moyangmu, kiranya menambahi kamu seribu kali lagi dari jumlahmu sekarang dan memberkati kamu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu. 12 Tetapi bagaimana seorang diri aku dapat memikul tanggung jawab atas kesusahanmu, atas bebanmu dan perkaramu? 13 Kemukakanlah dari suku-sukumu orang-orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, maka aku akan mengangkat mereka menjadi kepala atas kamu. 14 Lalu kamu menjawab aku: Memang baik apa yang kauanjurkan untuk dilakukan itu. 15 Kemudian aku mengambil kepala-kepala sukumu, yakni orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman, lalu aku mengangkat mereka menjadi pemimpin atas kamu, yakni sebagai kepala pasukan seribu, kepala pasukan seratus, kepala pasukan lima puluh dan kepala pasukan sepuluh dan sebagai pengatur pasukan bagi suku-sukumu. 16 Dan pada waktu itu aku memerintahkan kepada para hakimmu, demikian: Berilah perhatian kepada perkara-perkara di antara saudara-saudaramu dan berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing yang ada padanya. 17 Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan. Jangan gentar terhadap siapapun, sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah. Tetapi perkara yang terlalu sukar bagimu, harus kamu hadapkan kepadaku, supaya aku mendengarnya. 18 Demikianlah aku pada waktu itu memerintahkan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan."
Kemuliaan Tuhan Mengubah Hidup
Semua umat Tuhan pasti mengalami kebahagiaan jika padanya ada perjumpaan Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Hal tersebut dirasakan oleh murid-murid Yesus. Kemuliaan Tuhan membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami kebahagiaan yang luar biasa. Kemuliaan yang mereka lihat mengubah suasana hati mereka. Hati mereka pasti susah, tetapi bersyukur ketika mereka melihat kemuliaan Tuhan di atas gunung, hati mereka begitu bergembira. Kemuliaan Tuhan membuat mereka merendahkan hati di hadapan Tuhan. Catatan Matius memberitahukan kepada kita bahwa ketika mendengar hal itu, tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Pancaran sinar kemuliaan Tuhan membuat mereka tertunduk dan merendahkan hati di hadapan Tuhan. Betapa agungnya kemuliaan Tuhan memenuhi hati mereka. Kita tidak melihat kemuliaan Tuhan secara langsung, tetapi kemuliaan Tuhan sudah dinyatakan melalui penyertaan Tuhan sepanjang hidup
kita dan keluarga sejak dahulu. Kemuliaan melalui Yesus Kristus yang kita terima membuat kita hidup semakin takut akan Tuhan dan merendahkan hati di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita.
Doa: Biarlah kemuliaanMU mengubah hidupku menjadi lebih baik. Amin.
Senin, 12 Februari 2024
Bahan bacaan : Yohanes 12:20-24
Yesus memberitakan kematian-Nya
20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. 23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Jatuh Tapi Berbuah
Firman Tuhan hari ini bicara tentang biji gandum, yang menggambarkan diri Yesus sendiri. Kalau Tuhan Yesus tidak taat sampai mati di kayu salib, Ia tidak akan berbuah. tidak ada korban penebusan dosa, dan tidak ada keselamatan. Manusia berdosa akan tetap menanggung akibat dari dosa. Namun, karena Tuhan Yesus mau taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah. Tuhan Yesus telah menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, akhirnya menghasilkan tuaian yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan. Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah menghasilkan buah. Tujuannya agar dapat berbuah maka kita pun harus mengikuti jejak Tuhan Yesus yaitu menjadi seperti gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, kita pun harus bersedia meninggalkan kehidupan lama dan sepenuhnya mengenakan kehidupan Kristus.
Doa: Biarlah kami mampu berbuah dalam hidup ini. Amin.
Selasa, 13 Februari 2024
bahan bacaan : Yohanes 12:27-30
27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. 28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Maka terdengarlah suara dari sorga: "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" 29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: "Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia." 30 Jawab Yesus: "Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu.
Kemuliaan Yesus Setelah Menderita
Yohanes 12 berisikan kisah tentang orang-orang yang menerima Yesus dan yang menolak Dia. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan juga orang-orang Yunani. Beberapa orang Yunani datang kepada Filipus seorang murid Yesus yang berbangsa Yahudi, namun mempunyai nama Yunani. Mereka datang padanya karena ingin bertemu dengan Yesus. Respons Yesus, bahwa inilah saatnya Anak Manusia dipermullakan. Kedatangan orang Yunani bagi Yesus menjadi petunjuk bahwa masa pelayanan Yesus kepada bangsa Yahudi sudah berakhir dengan banyak penolakan dan la akan diterima oleh bangsa-bangsa bukan Yahudi, Akan tetapi, sebelum misi kepada bangsa-bangsa dicapai, terlebih dahulu Yesus harus mati, Ini sungguh sebuah tantangan yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh, pola hidup yang dapat dijalani hanya apabila kita berjalan dalam terang dan percaya kepada terang, yaitu Yesus. Bapa telah mempermuliakan Yesus yang rela menggenapi rencana-Nya. Bapa juga akan mempermuliakan kita sebagai anak-anak-Nya apabila kita tidak memikirkan lagi kenyamanan diri, melainkan melayani Yesus dengan sepenuh hati dan berkorban bagi-Nya, serta memberitakan kematian-Nya dan berbuah bagi-Nya.
Doa: Biarlah dalam derita kami, Tuhan selalu dimuliakan. Amin
Rabu, 14 Pebruari 2024
bahan bacaan : Yohanes 12:31-36
31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; 32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." 33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. 34 Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" 35 Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. 36 Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang." Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka.
Menderita untuk Kemenangan
Dalam hidup ada pergumulan/ketegangan. Tetapi akhir dari semua itu bukanlah pergumulan/ ketegangan, tetapi kemenangan dan kepastian. Bahwa Dalam hidup kita juga ada pergumulan/ ketegangan, tetapi kita harus percaya bahwa akhir dari semua ini adalah kepastian dan kemenangan. Dalam hal ini Yesus menolak cara mudah yang ditawarkan dunia untuk membuat manusia menolak penderitaan atau enggan menerima penderitaan. Penderitaan yang ditempuh oleh Yesus menunjukkan bahwa la memilih cara yang sukar (melalui kematian di salib), melalui mana Ia akan menarik semua orang datang kepadaNya. Jadi, ayat ini hendak menekankan kebenaran bahwa keselamatan hanya terjadi melalui penderitaan dan kematian Yesus. Hal ini pertanda bahwa sebagai umat Tuhan, jangan pernah memandang penderitaan sebagai beban hidup, namun lihatlah sebagai anugerah Tuhan. Di balik penderitaan itu ada kemenangan dan keselamatan yang diberikan Tuhan.
Doa: Berikanlah kemenangani dari derita hidup kami. Tuhan. Amin.
Kamis, 15 Pebruari 2024
bahan bacaan : Yohanes 13:31-33
Perintah baru
31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. 32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. 33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.
Hiduplah Penuh Kasih
Kisah tentang Yudas ini penting sebab berbicara tentang pengkhianatan. Yesus memandang rencana jahat Yudas untuk menyerahkan-Nya kepada para pemimpin agama Yahudi dan penyaliban yang akan dihadapi-Nya sebagai cara Allah Bapa untuk memuliakan-Nya, serta jalan bagi-Nya untuk memuliakan Allah Bapa. Hal ini menunjukkan bahwa panggilan Yesus kepada para murid dengan sebutan “anak-anak-Ku menunjukkan relasi yang erat dan dekat yang dibangun dan diprakarsai oleh Yesus. Karena Yesus yang memprakarsainya, relasi itu bersifat kekal. Yesus telah, sedang, dan akan terus mengasihi mereka. Karena itu, Dia memberikan perintah supaya mereka saling mengasihi dengan standar yang Yesus berikan. Dan, saling mengasihi itulah yang akan menjadi identitas mereka di tengah-tengah dunia, yaitu cara dunia mengenali mereka. Perintah ini berlaku untuk semua orang percaya di sepanjang masa, termasuk kita dan semua orang yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Kasih itu tidak hanya kita alami, namun kasih itu akan menjadi bukti bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus. Sudahkah kita mengasihi sesama tanpa memandang bulu seperti Yesus mengasihi kita?
Doa: Mampukanlah kami untuk hidup dalam kasih. Amin.
Jumat, 16 Pebruari 2024
bahan bacaan : Ibrani 2:9
9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.
Bertahanlah Dalam Penderitaan
Kita mungkin tidak setuju dengan pernyataan direndahkan untuk ditinggikan, sebab sebagai manusia dunia kita selalu ingin ditinggikan, tidak mau direndahkan. Namun bagi Yesus penderitaan dan maut diterimaNya sebagai bagian dari jalan untuk menyelamatkan manusia. Yesus mau direndahkan, tapi kemudian dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Supaya oleh kasih karunia Allah la mengalami maut bagi semua manusia. Yesus seketika lebih rendah daripada malaikat-malaikat padahal Yesus itu lebih tinggi dari malaikat bahkan tidak bisa dibandingkan dgn malaikat. Setelah Kristus menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, Ia ditinggikan dan dikaruniakan nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yg ada di langit dan yg ada di atas bumi dan yg ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah Bapa. Jika kita saat ini “dibuat lebih rendah”, ada upah dan kemuliaan bagi mereka yg bertahan sampai akhir. Bertahanlah sesaat lagi karena semua pun akan berlalu.
Doa: tinggikanlah kami di tengah penderitaan hidup. Amin.
Sabtu, 17 Februari 2024
bahan bacaan : Ibrani 2:10
10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.
Pengorbanan Yang Bernilai
Mengakhiri Minggu Sengsara I ini, kita disuguhkan dengan nas bacaan yang memberi pesan tentang Kemuliaan Allah melalui Penderitaan Yesus Kristus. Seketika kita dibuat tergugah dengan pengorbanan dan kasih Yesus yang besar sehingga Ia bersedia menderita untuk kita. Menderita dan berkorban adalah dua sikap yang mesti dimiliki oleh setiap orang yang bersedia untuk melayani, baik melayani dalam pelayanan gerejawi maupun melayani dalam masyarakat. Yesus sendiri telah mengorbankan diriNya untuk memberikan keselamatan kepada kita sebagai bentuk ketaatanNya kepada Allah. Oleh karenanya, dalam seluruh tanggung jawab yang kita lakukan, baik dalam keluarga, pekerjaan maupun pelayanan, hendaknya kita dapat mewujudkan tanggung jawab itu dengan mengedepankan nilai ketaatan, ketulusan, kejujuran dan kesederhanaan serta rela berkorban. Euoforia politik untuk menentukan pilihan telah kita lalui bersama. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa hal itu terjadi dalam minggu sengsara I ini. Untuk itu, jelaslah bahwa sebagai orang-orang percaya kita diingatkan akan kesengsaraan Tuhan Yesus agar moment di tahun politik ini dimaknai sebagai tahun rahmat Tuhan yang mempercayakan tugas-tugas besar bagi setiap orang yang sungguh-sungguh hendak Melayani Tuhan dan sesama, bukan sekedar untuk memuaskan kepentingan pribadi dan golongan tertentu. Ingatlah pengorbanan Yesus bersifat universal, yakni untuk semua manusia tanpa membeda-bedakan.
Doa: Ya Tuhan, sambutlah kami yang senantiasa menaruh Pengharapan hanya kepadaMu.
*SUMBER : SHK BULAN FEBRUARI 2024, LPJ-GPM