Tema Bulanan : Berdayakan Ekonomi dan Hidup Sejahtera bersama Yesus Sang Penyelamat
Tema Mingguan : Maknai Kesengsaraan Yesus, Berlakulah Adil dan Jujur
Minggu, 17 Maret 2024
bahan bacaan : Matius 27:1-10
Yesus diserahkan kepada Pilatus Kematian Yudas
Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. 2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu. 3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, 4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" 5 Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. 6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: "Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah." 7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing. 8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah. 9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, 10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."
Berlakulah Jujur dan Adil
Sikap tidak taat dan tidak adil turut kita temukan dalam diri imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, bukan hanya Yudas. Mengapa demikian ? Matius 27: 1-2 memberikan catatan singkat bahwa mereka berkumpul untuk membawa Yesus dengan tudahan palsu agar Yesus dapat dihukum seberat-beratnya oleh Pilatus. Sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa Yesus tidaklah bersalah. Bahkan ayat 4 menegaskan penyesalan dan pengakuan Yudas, bahwa Yesus adalah Anak Allah yang tidaklah bersalah. Jika imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi adil dan jujur maka pengakuan Yudas perlu untuk dipertimbangkan sebelum Yesus dituduh dan dijatuhi hukuman. Namun karena kebencian, mereka menutup mata dari kejujuran diri Yesus, sehingga rencana jahat untuk menyengsarakan Yesus tetaplah dilakukan. Bagaimana posisi kita di saat ini? Apakah kita masih menjadi pengikut Kristus yang terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan? Atau justru karena kebencian, kita melupakan dan mengabaikannya? Ingatlah bahwa tindakan yang tidak adil dan tidak jujur berdampak buruk bagi hidup orang lain. Kesengsaraan Yesus mengajarkan kita untuk sesungguhnya memperjuangkan kejujuran dan keadilan dimanapun kita berada dan apapun situasinya. Janganlah menjadi umat yang menyengsarakan hidup orang lain karena kebencian diri kita.
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar mampu berlaku adil dan jujur. Amin.
Senin, 18 Maret 2024
bahan bacaan : Markus 14: 10-11
Yudas mengkhianati Yesus
10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. 11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Ketamakan Membawa Malapetaka
Ketamakan menjadi salah satu alasan kehancuran dari persekutuan”. Hal yang sama turut terlihat dalam kisah Yudas yang menjual Yesus kepada imam-imam kepala. Padahal sebagaimana diketahui, Yudas adalah murid Yesus yang telah ikut serta dalam proses pelayanan dan pemberitaan Injil, sehingga sewajarnya Yudas mengenal Yesus lebih dalam dan menjaga-Nya dari ancaman para penguasa yang mengintarinya. Namun karena keinginan berlebihan terhadap uang maka Yudas menjadi seorang yang buta terhadap kebenaran, kejujuran, dan kehormatan. Yudas tidak mampu berkata jujur dan benar tentang siapakah Yesus. Karena keinginan terhadap uang, Yudas kemudian melupakan dan mengkhianati pengakuan awalnya, bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juruselamat dunia. Yudas meninggalkan jalan kemuridan dan secara total menolak Yesus dengan seluruh pelayanan yang telah dilakukan. Kita juga mungkin seringkali menjadi marah jika mendengar tentang kisah Yudas yang menjual Yesus, tetapi marilah sejenak kita merenungkan kembali hidup ini, jangan sampai kita masih memiliki orientasi ketamakan, sehingga sewaktu-waktu kita dapat menjual Yesus dengan cara kita sendiri? Jika demikian, apa bedanya kita dengan Yudas? Karena itu, penguasaan diri untuk berkata jujur dan berlaku adil harus menjadi nilai hidup yang tidak boleh terlupakan oleh setiap orang Kristen. Dengan upaya kita untuk berkata jujur dan adil maka kita berbeda dengan Yudas, karena kita memperjuangkan kebenaran demi kehidupan sejati.
Doa: Ya Tuhan, mampukan kami mampu berkata jujur agar tentang-Mu. Amin.
Selasa, 19 Maret 2024
bahan bacaan : Kolose 4:1
Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
Berlakulah Adil Kepada Mereka Yang Lemah
Manusia terkadang terjebak dalam sifat kemanusiaannya saat ia mempunyai banyak hal. Ketika ia memiliki kekuasaan, kadang ia bertindak semena-mena kepada orang lain dengan kekuasaannya. Bagian firman Tuhan di hari ini mengingatkan mereka yang dikategorikan sebagai tuan-tuan untuk memperlakukan para hambanya dengan adil dan jujur. Nasehat ini diberikan karena ada kondisi dimana para hamba ini diperlakukan tidak adil dan jujur. Hak-hak hidup mereka terabaikan. Tenaga mereka dikuras habis-habisan demi keuntungan para tuan. Para tuan dinasehati dan diingatkan bahwa mereka tidak boleh melakukan hal tersebut sebab mereka pun mempunyai tuan yang ada di sorga. Yang dimaksudkan dengan tuan di sorga yakni Allah dalam Kristus yang berkuasa atas seluruh kehidupan umat manusia. Allah sebagai Penguasa dan Pencipta pun mempunyai kasih yang besar melalui anakNya Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan dunia ini. Itulah sebab sebagai para tuan mesti memaknai pengorbanan Tuhan Yesus yang mengasihi kita semua, sehingga para tuan pun mesti mewujudkan kasih Tuhan itu melalui sikap adil dan jujur kepada para hamba. Demikian pula sebagai keluarga Allah kiranya kita dapat mewujudkan kepada sesama kita.
Doa: Tuhan tolong kami agar menggunakan kekuasaan kami dengan adil dan benar. Amin.
Rabu, 20 Maret 2024
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 5:1-11
Ananias dan Safira
Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. 2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. 3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? 4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." 5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. 6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. 7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. 8 Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian." 9 Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar." 10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. 11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.
Ketidakjujuran Akan Membawa Malapetaka
Sebagai manusia terkadang kita dicobai dengan keinginan untuk memiliki sesuatu dengan cara tidak adil dan jujur. Seperti halnya suami isteri Ananias dan Safira yang menjual tanah mereka namun tidak memberikan hasil penjualan semua kepada para rasul. Ananias menyembunyikan sebagian hasilnya penjualan tersebut dan diketahui serta didukung oleh istrinya Safira. Mereka kompak dalam kejahatan dan tetap tidak jujur saat ditanya oleh Petrus. Akibatnya mereka menerima resiko yakni kematian. Sebuah kesaksian iman bagi kita semua sebagai keluarga Allah, papa, mama dan anak-anak agar selalu mewujudkan sikap hidup yang jujur dalam semua hal. Kita mesti memohon tuntunan kuasa Roh Kudus agar dapat melawan roh kedagingan kita yang dikuasai oleh iblis dan bertujuan menghancurkan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Kejujuran kita sebagai bagian dari keyakinan iman kepada Tuhan Yesus yang telah menderita, mati dan bangkit demi keselamatan kita sebagai orang percaya. Kejujuran akan membawa dampak positif dalam relasi hidup dengan Tuhan dan sesama kita.
Doa: Tuhan mampukan kami untuk bertindak jujur. Amin.
Kamis, 21 Maret 2024
bahan bacaan : Amsal 13:23
23 Huma orang miskin menghasilkan banyak makanan, tetapi ada yang lenyap karena tidak ada keadilan.
Didikan Membentuk Keluarga Yang Adil dan Jujur
Kitab Amsal 13 secara umum memperlihatkan bahwa pendidikan baik akan menghasilkan anak yang memiliki hati yang bijaksana dan cakap. Tradisi pendidikan anak harus dimulai dari keluarga. Orang tua memiliki peran besar dalam mendidik anaknya, sebab di rumah anak dilatih untuk disiplin dan menaati aturan-aturan atau hukum-hukum. Tradisi ini sudah berlangsung lama pada orang Yahudi. Anak diajar tentang berkata yang benar, bekerja sesuai dengan yang dikehendaki Allah, perilaku dalam pergaulan dan hal-hal lain yang membuat seseorang dihargai dalam hidupnya, bahkan menghasilkan berkat bagi anak cucu.Itulah yang dimaksud dalam teks ini, bahwa mendidik anak untuk berlaku adil dan jujur, membuat anak akan diberkati, meskipun dalam hidup kekurangan. Teks ini mengingatkan orang tua agar bertanggung jawab membangun karakter anak yang baik sesuai dengan iman Kristen. Hal itu dimulai di rumah sejak usia dini anak. Didiklah anak dengan benar agar mereka tumbuh sebagai anak-anak orang beriman yang takut akan Tuhan, mengerti didikan yang benar dan mampu melakukannya
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami mendidik anak kami untuk berlaku adil dan jujur. Amin
Jumat, 22 Maret 2024
bahan bacaan : Lukas 16:1-9
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur
Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. 4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? 6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. 7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. 8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. 9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
Bekerja Dengan Cerdik Dan Benar Untuk Masa Depan
Kecerdikan harus dimiliki oleh setiap manusia. Yesus tidak bermaksud menyetujui ketidakjujuran sang bendahara. Sang bendahara memang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak hanya lalai dalam perhitungan, dia sengaja menghamburkan harta majikan. Bendahara itu telah bertindak tidak adil karena menempatkan dirinya sebagai pemilik harta, bukan menjadi pengelola. Akibatnya jelas, dia harus mempertanggungjawabkannya dan siap dipecat. Bendahara kemudian menyadari keberadaannya pada masa depan dan cerdik mengambil langkah. Tindakannya ini dapat dilihat sebagai cara yang baik, namun kecerdikan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan ketaatannya kepada Tuhan. Kecerdikan dapat dilihat sebagai cara yang bijak, namun orang percaya tidak boleh diperhamba oleh kekuatan dunia yang disebut Tuhan Yesus sebagai mamon. Sebab mamon tidak dapat menolong dan memberikan keselamatan. Perumpamaan ini mengajarkan kita untuk tetap berlaku benar. Ketika kita memikirkan masa depan, kita sebenarnya harus melakukannya dari masa kini. Kita dapat juga menjadi cerdik tapi ketaatan kepada Tuhan harus menjadi prioritas dalam iman kita.
Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk berlaku benar di masa kini supaya masa depan kami baik. Amin
Sabtu, 23 Maret 2024
bahan bacaan : Ulangan 24 : 14-15
14 Janganlah engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di dalam tempatmu. 15 Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu.
Hargailah setiap Manusia!
Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mendeklarasikan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada setiap tanggal 10 November. Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada semua manusia, tanpa memandang ras, jenis kelamin, kebangsaan, etnis, bahasa, agama atau status sosial lainnya. Hak asasi manusia termasuk hak untuk hidup dan kebebasan. Setiap orang berhak atas hak-hak ini tanpa diskriminasi dari siapa pun. Bacaan hari ini memberi sebuah penegasan kepada setiap orang yang mempekerjakan orang lain (sebagai budak, pekerja) untuk tetap berlaku adil dan tidak menindas mereka. Melainkan, menghargai pekerjaan yang dilakukan tanpa memeras dan mengambil hak mereka. Sebab seorang pekerja juga memiliki hak yang sama untuk menikmati hasil kerja mereka. Dalam kehidupan kita, seringkali perlakuan ketidakadilan masih kita terapkan. Dalam dunia kerja, sebagai pemimpin kadang perlakuan semena-mena terhadap bawahan masih dilanggengkan. Berkuasa untuk mematikan usaha sesama, merampas hak dan bertindak semena-mena. Oleh karenanya, bacaan ini mengingatkan kita supaya semua orang yang memperoleh tanggung jawab sebagai pemimpin, baik pemimpin dalam keluarga, masyarakat maupun gereja untuk memperhatikan hak sesama, hak orang yang kita pimpin serta mampu mengayomi mereka untuk merasakan kenyamanan dalam lingkup pengabdian mereka masing-masing.
Doa: Hanya oleh Kuasa Roh Kudus. kami dimampukan untuk berlaku adil bagi sesama kami. Amin
*SUMBER : SHK BULAN MARET 2024, LPJ-GPM