Tema Bulanan : Berdayakan Ekonomi dan Hidup Sejahtera bersama Yesus Sang Penyelamat
Tema Mingguan : Kuduskan Hidup dan Pikullah Salib Bersama Yesus, Juruselamatmu
Minggu, 24 Maret 2024
bahan bacaan : Lukas 14:25-35
Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut Yesus
25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, 30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. 31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? 32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. 33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. 34 Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? 35 Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
Ku Mau Mendengar & MengikutiMu, Yesusku
Palmarum menandakan kita telah berada pada Minggu Sengsara Tuhan Yesus yang ketujuh atau terakhir. Bersamaan dengan itu pula, anak-anak Tuhan di Gereja Protestan Maluku, hari ini mengaku dan berjanji akan menjadi pengikut Kristus yang setia dan berkomitmen untuk menjadi anggota sidi Gereja Protestan Maluku. Pengakuan ini adalah wujud ketaatan dan kesungguhan hati mereka untuk benar-benar menjadi murid Kristus. Oleh karenanya, Lukas 14:25-35 mengingatkan kita kembali pada hari untuk memahami identitas kita sebagai orang-orang percaya, sebagai warga GPM yang harus berakar dan berbuah. Kuduskan hidup dan pikul salib menjadi dasar yang kokoh untuk membangun hubungan yang lebih intim dengan Tuhan. Jika demikian, maka haruslah kita sebagai murid Kristus mewujudkannya dalam segala aspek hidup kita. Berani menyangkal diri, menanggalkan kesenangan pribadi, melepaskan kepentingan diri, dll hanya untuk mengikut Yesus.
Ingat, Nyanyian pada KJ 375 “Saya Mau Ikut Yesus” harus dimaknai sebagai pengakuan yang sungguh untuk mengikut Yesus.
Doa: Roh Kudus, pimpinlah kami untuk menjadi Murid Kristus yang setia. Amin.
Senin, 25 Maret 2024
bahan bacaan : Filipi 1:27-30
Nasihat supaya tetap berjuang
27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 28 dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. 29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.
Jangan Pernah Menyerah
Siapapun tidak menghendaki kemalangan. Tetapi kadang situasi hidup menjerumuskan kita sehingga penderitaan menjadi tidak terelakan. Paulus seorang rasul yang baru mengalami kuasa penyataan Tuhan ternyata kini diperhadapkan dengan penjara. Namun sebagai orang yang tetap percaya kepada Tuhan, penjara tidak membuatnya terpuruk. Justru di dalam penjara ia membangun semangat jemaat termasuk di Filipi. Apa yang ditulis Paulus adalah suatu hal yang menantang. Bagaimana mungkin tubuhnya terpenjara namun ia seolah tidak menangisi atau bahkan meminta belas kasihan orang akan penderitaannya? la justru malah mengajak umat untuk memandang bukan pada persoalan yang terjadi tetapi pada komitmen hidup terhadap Tuhan. Tuhan yang terutama dalam hidup dan karena itu bila karena pelayanan atau pekerjaan dalam nama Tuhan diperhadapkan dengan tantangan, itu hal yang biasa. Itu pakaian seorang Kristiani. Gambaran ini ia tuliskan kepada umat di Filipi dengan memaparkan keberadaan dirinya apa adanya. Semangat yang rasul sampaikan adalah pesan berharga bagi kita. Benar, kita punya banyak masalah, mulai dari masalah yang dapat kita katakan dapat dikelompokkan sebagai masalah kecil atau masalah besar. Satu hal yang pasti Tuhan lebih besar dari masalah kita. Karena itu jangan pernah menyerah! Injil Kristus adalah tanda keselamatan Allah yang berlaku juga bagi kita.
Doa : ya Allah bantulah kami agar jangan pernah menyerah. Amin
Selasa, 26 Maret 2024
bahan bacaan : Imamat 19:32-37
32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu. 35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. 36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN."
Tetaplah Kudus!
Tantanga menjadi orang Kristen sesungguhnya bukan sekadar soal suka atau tidak suka dalam menyikapi persoalan. Soal terutama adalah pemaknaan bahwa hidup adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan dan karena itu tidak ada pilihan lain selain hidup kudus. Ya, hidup kudus sebab Tuhan adalah kudus adanya. Kita akui memasuki tahun 2024 ini banyak hal telah mulai menjadi bagian pergulatan kita. Berbarengan dengan itu, tawaran untuk menjalani hidup dalam ketidakkudusan di hadapan Tuhan menjadi hal yang menggiurkan. Perkembangan dunia yang kian cangggih seakan menjadi loncatan yang bisa menutupi segala kejahatan. Tetapi hari ini Firman Tuhan mengingatkan kita. Siapa kita di hadapan Tuhan. Tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa. Karena itu, orangtua yang lanjut usia harus kita hormati, kita harus berlaku baik kepada orang asing, dan bersikap adil. Mengapa orangtua yang lanjut usia dihormati? Karena dari orangtua kita ada dan pada saatnya kita juga menjalani masa hidup yang sama. Mengapa bersikap baik kepada orang asing? Karena kita juga adalah orang yang pemah menjalani kesempatan hidup sebagai orang asing. Mengapa bersikap adil? Karena dengan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan bisa terjadi. Semoga Tuhan Yesus menolong kita menyatakan perilaku demikian.
Doa: Ya Allah, mampukanlah kami untuk hidup kudus. Amin.
Rabu, 27 Maret 2024
bahan bacaan : Matius 19:27-30
Upah mengikut Yesus
27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" 28 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. 29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. 30 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."
Kesadaran Akan Komitmen Pikul Salib
Mengikut Tuhan merupakan keputusan yang harus dilakukan dengan penuh kesadaran
dan bukan dalam keterpaksaan. Ini hal yang penting sebab ketidaksadaran akan nampak dalam perilaku. Tidak heran kita akan mendengarkan keluhan tentang pelayan yang malas beribadah, suka mabuk dan membuat keributan atau juga tidak terlibat dalam berbagai kegiatan gerejawi. Di minggu sengsara VII ini Firman Tuhan mengajarkan kita untuk memahami secara sadar apa yang menjadi komitmen kita dalam mengikut Tuhan. Kesannya kita kehilangan banyak hal; misalnya sebagai pelayan, kita tidak bisa berlaku seenaknya. Kebebasan dan kesenangan kita seakan dikekang. Bila tidak ada kesadaran, maka sia-sia apa yang menjadi komitmen kita. Semestinya kita bersyukur sebab tidak ada yang terhilang.Tuhan Yesus menjanjikan bahwa kita akan mendapatkan lebih. Suatu ungkapan janji yang tidak dimaknai hanya sebatas materi tetapi melampaui apa yang dapat disebut sebagai kebahagiaan sejati. Hidup sejahtera bersama Yesus Kristus menuntut kita untuk tetap setia memikul salib. Marilah tetap setia sebab akhir dari seluruh proses berjalan bersama Tuhan, kita sendiri yang akan menikmatinya.
Doa: Ya Tuhan Yesus, ajar kami setia memikul salib-Mu. Amin.
Kamis, 28 Maret 2024
bahan bacaan : Lukas 23:26-32
Yesus dibawa untuk disalibkan
26 Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. 27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. 28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! 29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. 30 Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! 31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?" 32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia.
Pikul Salib
Hari itu Ishak sementara mempersiapkan diri untuk mandi. Rencananya ia akan mendampingi anaknya Agus yang sakit. Semalam bersama istri dan anak, mereka baru saja berdoa meminta pertolongan Tuhan berkenan dengan kondisi kesehatan Agus. Ia seorang mahasiswa yang akan menyusun skripsi namun karena sakit maag yang mengarah pada asam lambung, maka ia diminta pulang untuk menjalani pengobatan bersama orangtuanya. Istrinya Mega sementara berbelanja di toko yang terletak di depan rumah mereka. Ishak, yang sebelumnya berencana mandi, tiba-tiba dikagetkan dengan bunyi benturan keras. Ia lalu mendengar teriakan orang-orang di sekeliling rumahnya. Pikirnya, pasti telah terjadi tabrakan. Ternyata benar apa yang ia pikirkan. Namun, yang tidak pernah Ishak duga adalah korban tabrak adalah istrinya sendiri. Seperti itulah kehidupan. Tinggal sehari lagi kita akan merayakan Jumat Agung. Bacaan hari ini menceritakan Simon orang Kirene yang dipaksa memikul salib Tuhan. Juga diceritakan tentang tangisan perempuan-perempuan ketika melihat Tuhan memikul salib. Tuhan Yesus mengajarkan hidup ini keras. Betapa sering kita dipaksa menghadapi kenyataan hidup yang tidak pernah kita duga. Tuhan Yesus telah menjalaninya demi penyelamatan kita. Untuk itu, tetaplah setia pikul salib sebab Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan kita sendiri dalam menghadapi apapun. Ibarat pelangi sehabis hujan, demikian gambaran kasih setia Allah yang akan sertai kita walaupun dalam situasi buruk seperti apapun.
Doa : Tuhan Yesus, tolong kami untuk tetap pikul salib. Amin.
Jumat, 29 Maret 2024
bahan bacaan : Yohanes 19:31-37
Lambung Yesus ditikam
31 Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib--sebab Sabat itu adalah hari yang besar--maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. 32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; 33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, 34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. 35 Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. 36 Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan." 37 Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."
Kemurahan Tuhan
Saya senang dengan lagu Kemurahan Tuhan yang dinyanyikan Angel Piters. Bait-baitnya sangat menyentuh sebab saya sendiri mengalaminya. Kemurahan Tuhan adalah bagian yang menghentar saya sampai hari ini. Banyak peristiwa telah terjadi dalam hidup saya. Demikian penceritaan Maria kepada saya. Ia mengeluh akan kemabukan suaminya. Setiap kali dalam kemabukannya, selalu saja kata-kata-kata kotor berupa makian ditujukan pada Maria. Ia malu dengan keadaan suaminya apalagi dengan keadaan anak-anaknya yang sudah menanjak dewasa, la pernah memikirkan rencana untuk bunuh diri. Miris memang kenyataan seperti itu. Tetapi kemurahan Tuhan menolong Maria. Bacaan hari ini mengisahkan peristiwa kematian Tuhan Yesus yang sangat mengenaskan. Tuhan Yesus benar-benar mati. Ini dibuktikan dengan tidak dipatahkannya kaki Tuhan dan juga lewat darah dan air yang keluar dari lambung Tuhan saat ditikam oleh prajurit. Tuhan menjalani semuanya karena kasih demi kita orang berdosa. Kematian Tuhan menegaskan bahwa Tuhan tahu betul seperti apa pahitnya penderitaan. Tuhan sudah menjalaninya dan ini pengharapan kita sebab Tuhan telah mati namun Ia tidak tetap dalam alam kematian. Ia bangkit sebagai pemenang. Marilah kita renungi tragisnya kematian Tuhan. Semua terjadi supaya kita diselamatkan. Karena itu, tetaplah setia pikul salib Tuhan.
Doa: Tuhan Yesus terima kasih atas kemurahan-Mu. Amin
Sabtu, 30 Maret 2024
bahan bacaan : 1 Tesalonika 4:1-12
Nasihat supaya hidup kudus
Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. 9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.
Hidup Sopan
Sebuah stikers bertuliskan “anda sopan, kami segan”. Samy dan Rony adalah teman baik sejak kecil. Suatu ketika mereka mengikuti rapat di rumah Ali teman mereka. Rony kelihatannya marah ketika tahu Nena pacarnya duduk berduaan dengan Ali. Samy mencoba menenangkannya. Tapi Rony tidak mau mendengarkan. Ia segera menarik Nena dari tempat duduknya. Di saat itu, ayah Ali langsung memarahi Rony dan menyuruhnya keluar dari rumah Ali. Sikap Rony tidak sopan akibatnya orang menjadi tidak segan padanya. Suatu realita yang wajar bila dalam keseharian, kita tidak menjagai perilaku kita, maka pasti orang akan sulit menghargai kita. Paulus menekankan pentingnya kita menjagai keteladan sebab cara hidup kita menunjukan citra kita sebagai umat Allah. Bersikap dan berkata baik akan membuat kita bisa membangun hubungan dengan siapa saja. Tuhan Yesus mati di tiang kayu salib sebagai bentuk pertanggungjawaban kecintaannya akan kita. Tuhan Yesus menjadi teladan kasih terbesar. Itulah sebabnya, mari tunjukkan identitas diri sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Bukan hanya dengan apa yang kita katakan, melainkan juga dengan apa yang kita perbuat tiap saat. Di saat kita mengatakan kekristenan identitas dengan kasih, maka marilah menyatakan kasih dalam kehidupan kita. Belajarlah hidup sopan, niscaya dengan kesopanan kita, orang belajar mengenal dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat.
Doa: Ya Allah, ajari kami bersikap sopan kepada semua orang. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN MARET 2024, LPJ-GPM