Tema Bulanan : Hidup Dalam Spiritualitas Kebangkitan Kristus
Tema Mingguan : Pikiran dan Hati yang Gelap Melawan Kebenaran Allah
Minggu, 14 April 2024
bahan bacaan : Roma 1:18-32
Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia
18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. 21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. 25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. 28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: 29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. 30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, 31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. 32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.
Pikiran dan Hati yang Gelap Mendatangkan Murka Allah
Banyak orang mengenal siapa itu Allah dan mengerti tentang kebenaran Allah. Namun ironinya, tidak semua orang mampu untuk melakukan kebenaran. Demikianlah penggalan kalimat yang dapat menggambarkan kehidupan umat di kota Roma. Teks Roma 1: 18-32 menampilkan kebiasaan hidup umat di Roma yang melupakan Allah sebagai satu-satunya Pencipta (bnd. Ay. 23-25). Umat lebih memilih menyembah dewa-dewi, melakukan pembunuhan, menunjang perselisihan, memperkokoh kejahatan dan tipu muslihat, menghidupi sikap sombong, tidak taat, dan lain sebagainya. Paulus menyatakan, bahwa seluruh pelanggaran tersebut tidak disebabkan karena paksaan pihak lainnya, namun karena umat setuju untuk melakukannya (bnd. Ay. 32). Bagi Paulus, pikiran dan hati umat di Roma telah menjadi gelap, sehingga tidak dapat melihat terang kebenaran Allah (bnd. Ay. 21-22). Menjadi pertanyaan untuk kita renungkan, apakah kita yang mengaku mengenal dan mengerti tentang kebenaran Allah telah melakukannya? Atau, hati dan pikiran kita telah menjadi gelap, seperti jemaat di Roma? Sesungguhnya, teks ini memberikan penyadaran kepada kita semua, bahwa pikiran dan hati yang gelap akan membuat kita melawan kebenaran Allah, sehingga mendatangkan murka Allah. Sebaliknya, pikiran dan hati yang diterangi oleh kebenaran Allah akan mampu mendatangkan berkat dalam seluruh kehidupan yang dijalani.
Doa: Tuhan, mampukan kami dengan Roh Kudus agar mampu melakukan kehendak-Mu. Amin.
Senin, 15 April 2024
bahan bacaan : Yakobus 3:13-18
Hikmat yang dari atas 3:13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. 3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! 3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. 3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. 3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
Hiduplah Sesuai Hikmat Allah
Dengan berdasar pada hikmat Allah maka umat mampu melakukan tindakan yang benar”. Demikianlah penggalan kalimat menggugah dari Pdt. Dr. Samuel B. Hakh (Dosen Teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Jakarta). Ungkapan Hakh itu merupkan respon ketika membaca kitab Yakobus yang memperlihatkan kelakuan tidak etis dari jemaat. Dalam kitab Yakobus, disampaikan bahwa terdapat jemaat yang menaruh iri hati kepada sesama, mementingkan diri sendiri, dan mengucapkan dusta (bnd. Ay. 14). Bahkan ada jemaat yang mengejar pangkat (bnd. Pasal 3: 1-2) dan mengejar keuntungan sebesar-besarnya (bnd. Pasal 4: 13-17). Menurut penulis Yakobus, seluruh tindakan yang tidak benar itu bersumber dari hikmat dunia yang terus dan semakin diandalkan oleh jemaat. Karena itu, penulis Yakobus mengajak jemaat, untuk berbalik kepada hikmat yang datang dari atas, yaitu hikmat Allah. Dengan memiliki dan mengandalkan hikmat Allah maka jemaat akan mampu mendengar suara dan perintah-Nya, serta melakukan kehendak-Nya. Pada akhirnya, kehidupan bersama menjadi damai dan sejahtera. Ajakan untuk meminta dan memiliki hikmat Allah turut sampaikan kepada kita saat ini. Karena dengan memiliki hikmat Allah maka kita mampu menjadi pendamai, peramah, penurut, sosok yang penuh belas kasih, dan tidak memihak kepada kemunafikan. Bahkan buah kebaikan yang dihasilkan itu akan mampu menggerakan orang lain untuk turut mengusahakannya.
Doa: Ya Tuhan, berkenanlah Engkau memberikan hikmat-Mu kepada setiap kami. Amin.
Selasa, 16 April 2024
bahan bacaan : Matius 13:13-15
13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Melawan Perintah Allah tidak akan Mendatangkan Berkat
Salah satu metode pengajaran dan pemberitaan Yesus adalah perumpamaan. Penggunaan perumpamaan adalah upaya Yesus untuk mempermudah umat memahami inti pemberitaan-Nya. Matius 13: 13-15 merupakan kesatuan dengan perikop “Perumpamaan tentang Seorang Penabur”. Dengan perumpamaan tersebut, Yesus hendak menjelaskan tentang diri-Nya Kerajaan Sorga kepada orang-orang yang mengikutinya. Namun ironinya, ayat 13-15 memberi kenyataan bahwa terdapat kelompok yang sekalipun mendengar apa yang disampaikan, mereka tidak akan mengerti. Bahkan terdapat kelompok yang melihat pekerjaan Yesus, tetapi tidak akan menganggapnya. Ayat tersebut merupakan kritikan Yesus terhadap sikap tidak percaya umat atas dini-Nya sebagai Mesias yang telah dijanjikan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama, dan Kerajaan Sorga sebagai inti pemberitaan-Nya. Ungkapan “Hati bangsa yang telah menebal”, memberikan penekanan, bahwa jika sumber pengambilan keputusan menyatakan penolakan maka pikiran dan tindakan akan mengikutinya. Sesungguhnya, kritikan Yesus turut disampaikan kepada kita. Sebagai orang percaya, penting untuk kita memahami siapa Yesus dan mengakui pekerjaan-Nya. Dengan upaya tersebut maka kita tidak akan melawan perintah Allah. Sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan, akan mendatangkan berkat dari Allah. Upaya melakukan semua itu hanyalah dengan meminta hikmat dari Allah.
Doa: Ya Tuhan, mampukan dan layakanlah kami untuk memahami kebenaran-Mu. Amin.
Rabu, 17 April 2024
bahan bacaan : 2 Korintus 10:1-6
Sikap Paulus
Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. 2 Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi. 3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, 4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, 6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
Tawanlah Pikiran dan Hati yang Gelap
Upaya untuk semakin mengenal Allah tidak akan pernah lepas dari berbagai pencobaan.Kitab 2 Korintus memberikan gambaran itu, bahwa jemaat di Korintus berada dalam pencobaan, karena munculnya kelompok lain yang meragukan Paulus sebagai rasul sejati. Usaha mereka untuk memamerkan kuasa rohani yang dimiliki berhasil memenangkan mayoritas jemaat. Bahkan dalam serangan mereka, Paulus disebutkan sebagai sosok yang sikapnya lemah dan perkataannya tidak berarti jika berhadapan muka dengan muka. Menariknya, dalam serangan balik Paulus, ia tidak memamerkan diri sebagai seorang rasul, sebagaimana lawannya. Namun ia mengutip sapaan kebanggaan yang dipakai para lawannya itu untuk menyatakan, bahwa mereka tidak berhak menggunakan sapaan itu. Paulus memberikan argumentasi menarik, bahwa di dalam kelemahannya, kuasa Allah dinyatakan. Tanggapan balik Paulus terhadap para penyesat itu memperlihatkan, bahwa dirinya sungguh mengenal Allah yang lemah lembut dan ramah itu. Pengenalan akan Allah telah membawa Paulus untuk menawan pikiran dan hati yang gelap, sehingga ia tidak lebih membuat kacau keadaan jemaat Korintus di tengah persoalan yang dihadapi. Kita di masa kini juga patut belajar dari sikap Paulus yang mewarisi kelemahlembutan dan keramahan Allah. Sikap yang lemah lembut dan ramah adalah bukti penawanan kita atas pikiran dan hati yang gelap. Sebab kita percaya, bahwa hidup dengan pikiran dan hati yang gelap tidak akan pernah mendatangkan berkat.
Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk menawan pikiran dan hati yang gelap. Amin.
Kamis, 18 April 2024
bahan bacaan : 1 Timotius 4:1-5
Tugas Timotius dalam menghadapi pengajar sesat
Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.
Pikiran dan Hati yang Gelap adalah Bentuk Murtad kepada Allah
Berbeda dengan Paulus yang mendapat penolakan atas wibawa rasulannya, Timotius justru diperhadapkan dengan masuknya kelompok pengajaran lain di kalangan jemaat. Kelompok pengajaran tersebut secara tegas mempraktikan hidup askestis, yaitu ciri hidup yang tidak mengakui pentingnya pernikahan dan menghindari makanan tertentu (bnd. Ay. 3). Dalam pandangan mereka, melakukan pernikahan dan makan makanan tertentu adalah haram. Pandangan dan praktik hidup mereka kemudian membuat jemaat menjadi bingung. Dalam kebingungan jemaat tersebut, Timotius kemudian memberikan penegasan, bahwa kelompok pengajaran tersebut mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan (bnd. Ay. 1). Pernyataan Timotius tersebut hendak memberikan penegasan, bahwa mereka bukan berasal dari Allah, sehingga jemaat tidak patut mengikuti mereka. Timotius turut memberikan penegasan, bahwa semua yang telah diciptakan oleh Allah adalah baik. Tidak ada satupun yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur (bnd. Ay. 4). Sebab semuanya telah dikuduskan oleh firman Allah dan doa (bnd. Ay. 5). Seruan Timotius patut kita maknai di saat ini, bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah baik adanya dan tidak haram oleh pengudusan firman Allah dan doa. Dengan kita menganggap bahwa ciptaan Allah adalah haram maka kita sementara menghidupi hati dan pikiran yang gelap, dengan cara meragukan karya penciptaan-Nya.
Doa: Ya Tuhan, tolong kami untuk tidak murtad dengan meragukan karya ciptaan-Mu. Amin
Jumat, 19 April 2024
bahan bacaan : Yohanes 12:37-43
Mengapa orang Yahudi tidak dapat percaya
37 Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya, 38 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?" 39 Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: 40 "Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka." 41 Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia. 42 Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. 43 Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.
Jangan Menyangkal Yesus Karena Kesenangan Duniawi
Keputusan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat adalah keputusan hidup yang paling utama. Namun mengapa kebanyakan orang memilih untuk mrnolak Yesus sebagai Juruslamat mereka?. Salah satu alasannya adalah karena mereka takut terhadap penolakan orang banyak. Ketakutan menghalangi rasa percaya kepada Yesus Kristus. Hal ini dijelaskan dalam perikop tadi, bahwa meskipun orang-orang Farisi telah melihat mujizat yang dibuat oleh Yesus namun mereka tetap menolak percaya kepada-Nya karena takut dikucilkan (ay.42) dan takut kehilangan kehormatan di hadapan banyak orang (ay 43). Kenyataan ini memperlihatkan kepada kita, bahwa ada banyak orang Kristen yang takut bersaksi tentang Yesus Kristus dalam hidup. Bahkan ada yang mengambil keputusan untuk meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus karena takut kehilangan banyak hal: kuasa, jabatan, harta, kehormatan atau takut ditolak oleh lingkungan sosial. Firman ini mengingatkan, orang yang lebih suka kehormatan manusia daripada kehormatan Allah, sesungguhnya memiliki hati dan pikiran yang gelap. Jadilah orang percaya yang tidak akan menyangkal Tuhan hanya karena kesenangan duniawi.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk tidak menyangkalMu demi kesenangan duniawi, amin.
Sabtu, 20 April 2024
bahan bacaan : Yeremia 5: 20-25
20 Beritahukanlah ini di antara kaum keturunan Yakub, kabarkanlah itu di Yehuda dengan mengatakan: 21 "Dengarkanlah ini, hai bangsa yang tolol dan yang tidak mempunyai pikiran, yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar! 22 Masakan kamu tidak takut kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap Aku? Bukankah Aku yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sebagai perhinggaan tetap yang tidak dapat dilampauinya? Biarpun ia bergelora, ia tidak sanggup, biarpun gelombang-gelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya! 23 Tetapi bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak; mereka telah menyimpang dan menghilang. 24 Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen. 25 Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.
Antara Hati dan Batu, Mana yang Lebih Keras?
Kita pasti pernah mendengar sinonim “Hati batu”. Gambaran hati manusia yang sama seperti batu atau kaku dan keras. Dalam konteks sejarah bangsa Israel, hal itu dapat disematkn kepada mereka karena mereka tidak mau mendengar nasehat para nabi untuk kembali kepada Tuhan dan mengalami pertobatan (Psl.3). Yeremia dengan tegas mengecam bangsa Israel dengan menyebut mereka tolol dan tidak mempunyai pikiran (ay 21), hati yang selalu melawan dan memberontak kepada Allah (ay.23). Kecaman Yeremia ini disebabkan oleh sikap mereka yang telah menolak Allah dan tidak melakukan kebenaran yang bersumber dari Allah. Mereka melakukan apa yang jahat di mata Allah. Demikianlah kondisi hati bangsa Israel yang sekeras batu, bahkan lebih keras. Karena batu masih ada celah terbelah dengan aliran air yang mengalir di sela-selanya, sedangkan hati bangsa Israel sudah sangat keras dan kaku, hidup melawan Allah dan akhirnya mereka di hukum. Hidup takut akan Tuhan, satu-satunya jalan untuk luput dari hukuman. Firman ini mengingatkan kita pula untuk tidak menjadi orang berhati batu. Tidak mau lagi mendengarkan suara Tuhan. Panggilan untuk datang kepada Tuhan melalui ibadah kita abaikan, nasehat baik orang lain kita lupakan, firman-Nya tidak didengarkan lagi. Hati kita bukan batu bukan?.ya, bukan batu!
Doa: Roh Kudus Tuntunlah Kami untuk tidak berhati batu dan menjadi degil, amin.
*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2024, LPJ-GPM