Santapan Harian Keluarga, 02 – 08 Juni 2024

Tema Bulanan : Menjaga Alam sebagai Rumah Bersama

Tema Mingguan : Berhikmat menghadapi Krisis Pangan

Minggu, 02 Juni 2024

bahan bacaan : Kejadian 41:37-57

Yusuf di Mesir sebagai penguasa
37 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. 38 Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" 39 Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. 40 Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu." 41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." 42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. 43 Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. 44 Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir." 45 Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." 52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." 53 Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, 54 mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. 57 Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.

Berhikmat Menghadri Krisis Pangan
Dalam beberapa kali sambutan yang disampaikan oleh bapak Penjabat Walikota Ambon di kegiatan-kegiatan gereja, beliau mengatakan bahwa tahun ini memiliki tantangantersendiri. Ada 3 tantangan yang menurut beliau akan kita hadapi di tahun ini yaitu: pertama, perubahan iklim yang menyebabkan krisis pangan dan air bersih. Kedua, ketidakpastian arah geoplitik dan ketiga, disrupsi pasokan energy global. Semua tantangan ini akan memberikan dampak langsung bagi kita. Kenaikan harga-harga barang, merosotnya nilai tukar rupiah dan sebagainya. Menghadapi berbagai tantangan ini pemerintah akan tetap memperkuat peran pemberdayaan. Kisah yang kita baca hari ini, memperlihatkan pula cara Yusuf yang pada waktu itu menjadi penguasa di Mesir, untuk bertindak ketika menghadapi krisis kelaparan. Dengan kemampuan dan hikmat yang dimilikinya, ia berupaya menyimpan gandum selama tahun-tahun kelimpahan, sebagai antisipasi ketika datangnya tahun-tahun kelaparan di Mesir. Dengan caranya ini ia berhasil menolong rakyat yang dipimpinnya termasuk bangsa-bangsa lain diseluruh bumi yang datang meminta bantuan kepadanya. Mari kita berhikmat menghadapi krisis pangan ini dengan mengupayakan berbagai gerakan, dimulai dari keluarga: menanam, melaut, memasarkan, menabung, mengelola dan mengendalikan diri, menjaga dan melestarikan alam.

Doa: Tuhan, berilah hikmat-Mu agar kami kuat menghadapi berbagai krisis kehidupan, amin.

Senin, 03 Juni 2024

bahan bacaan : Kejadian 47: 13-17

Tindakan Yusuf
13 Di seluruh negeri itu tidak ada makanan, sebab kelaparan itu sangat hebat, sehingga seisi tanah Mesir dan tanah Kanaan lemah lesu karena kelaparan itu. 14 Maka Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, yakni uang pembayar gandum yang dibeli mereka; dan Yusuf membawa uang itu ke dalam istana Firaun. 15 Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: "Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di depanmu? Sebab tidak ada lagi uang." 16 Jawab Yusuf: "Jika tidak ada lagi uang, berilah ternakmu, maka aku akan memberi makanan kepadamu sebagai ganti ternakmu itu." 17 Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu.

Bertindak Cepat dan Cerdas Menghadapi Krisis
Berhadapan dengan krisis kelaparan yang melanda Mesir dan Kanaan, kebijakan penyelamatan sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh Yusuf bagi Mesir, ia menyimpan semua uang hasil pembelian gandum dan membawanya ke dalam istana. Ketika semua uang dan persediaan makanan telah habis, masyarakat mendatanginya sebagai penguasa untuk memohon bantuan. Melalui transaksi penjualan ternak yang diganti dengan bahan makanan, Yusuf membantu rakyatnya dari krisis pangan dan kelaparan. Sebagai seorang penguasa siapapun dia,sangat diharapkan akan bertindak dengan cepat
dan cerdas untuk menolong rakyatnya ketika mereka berhadapan dengan tantangan dan krisis. Belajar dari apa yang dilakukan oleh Yusuf sewaktu ia menjadi penguasa di Mesir. Kemampuan untuk bertindak cepat dan cerdas akan menolong meringankan penderitaan yang dialami rakyat. Sebagai orang percaya, kita mesti memiliki kemampuan untuk bertindak cepat dan cerdas menghadapi berbagai krisis yang terjadi dalam kehidupan. Dalam keluarga, utamakanlah membeli sesuatu yang menjadi prioritas dan kebutuhan. Menabung untuk masa depan, menjaga dan mengelola segala sumber daya alam yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Tetaplah berserah kepada Tuhan yang memberi kekuatan dan pertolongan untuk melalui semua krisis tersebut.

Doa: Tuhan, kami mau menyalurkan kasih dan berkat-Mu bagi sesama, amin.

Selasa, 04 Juni 2024

bahan bacaan : Kejadian 47:18-26

18 Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: "Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami. 19 Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dengan tanah kami akan menjadi hamba kepada Firaun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan jangan mati, dan supaya tanah itu jangan menjadi tandus." 20 Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Firaun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Firaun. 21 Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain. 22 Hanya tanah para imam tidak dibelinya, sebab para imam mendapat tunjangan tetap dari Firaun, dan mereka hidup dari tunjangan itu; itulah sebabnya mereka tidak menjual tanahnya. 23 Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: "Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Firaun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu. 24 Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu." 25 Lalu berkatalah mereka: "Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun." 26 Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun.

Berjuang Mengatasi Krisis
Pelajaran penting kita dapati dari Yusuf ketika ia bertindak untuk menyelamatkan keluarganya dan bangsa Mesir dari krisis pangan yang menyebabkan kelaparan. Kondisi negeri itu demikian parahnya karena bencana itu. Sebagai orang kepercayaan Firaun, ia diberi tanggungjawab menanggulangi bencana ini sesuai dengan rencana yang disingkapkan dari mimpi Firaun. Yusuf menunjukkan kecakapannya dengan mengambil kebijakan yang memperkokoh dan memperkaya kerajaan pada satu sisi, tetapi juga menolong rakyat Mesir dari kelaparan. Kesepakatan yang dibuat bersama kala itu adalah hasil tanah milik rakyat, seperlima menjadi milik Raja, tetapi hasil empat bagian sisa tetap menjadi hak mereka. Kesepakatan itu meringankan penderitaan rakyat. Karena itu rakyat menyampaikan kepada Yusuf, “Engkau telah memelihara hidup kami, asal kiranya kami mendapat kasih tuanku.” Yusuf telah bertindak sebagai saluran berkat di tengah bangsanya. Dalam situasi serba sulit, penuh krisis dan tantangan, kita dapat dipakai Tuhan sebagai alat-Nya, agar berkat-Nya tercurah bagi banyak orang. Kiranya kasih kita tidak berkurang meski ada di tengah krisis kehidupan.

Doa: Ya Allah, tolonglah kami untuk terus hidup menjadi berkat bagi banyak orang, amin.

Rabu, 05 Juni 2024

bahan bacaan : 1 Raja-raja 18:1-6

Obaja, pegawai Ahab, bertemu dengan Elia
Dan sesudah beberapa lama, datanglah firman TUHAN kepada Elia dalam tahun yang ketiga: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada Ahab, sebab Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi." 2 Lalu pergilah Elia memperlihatkan diri kepada Ahab. Adapun kelaparan itu berat di Samaria. 3 Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN. 4 Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh lima puluh sekelompok dalam gua dan mengurus makanan dan minuman mereka. 5 Ahab berkata kepada Obaja: "Jelajahilah negeri ini dan pergi ke segala mata air dan ke semua sungai; barangkali kita menemukan rumput, sehingga kita dapat menyelamatkan kuda dan bagal, dan tidak usah kita memotong seekorpun dari hewan itu." 6 Lalu mereka membagi-bagi tanah itu untuk menjelajahinya. Ahab pergi seorang diri ke arah yang satu dan Obaja pergi ke arah yang lain

Menolong Orang Lain di Tengah Krisis
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi keadaan genting atau krisis dalam hidupnya. Apapun caranya, kita diminta untuk bersikap bijaksana atau berhikmat dalam menghadapi krisis. Dari nas bacaan hari ini kita bisa belajar tentang bagaimana berhikmat menghadapi krisis. Obaja, seorang yang dibesarkan dalam takut akan Tuhan. Sebagai pegawai raja Ahab, ia tahu semua tindakan di istana. Ketika melihat rencana pembunuhan nabi-nabi Tuhan oleh ratu Izebel, ia menganggapnya sebagai tindakan yang jahat dan bertentangan dengan kehendak Tuhan. la diam-diam menyembunyikan seratus nabi Tuhan dan mencukupkan kebutuhan harian mereka dengan makanan dan minuman. Semua dilakukannya karena rasa takut akan Tuhan. la bisa saja terbunuh tetapi ia telah memilih untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Itulah hikmat yang dimiliki Obaja. Maka berhikmat menghadapi berbagai krisis termasuk krisis pangan, dapat dilakukan oleh semua orang yang takut akan Tuhan, melalui cara melindungi kehidupan orang lain. Pada kita masing-masing, ada potensi dan kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk menolong menyelamatkan orang lain dari krisis kehidupan yang berat. Orang yang takut Tuhan dengan cara melindungi kehidupan orang lain, akan mendapatkan jalan keluar tatkala berhadapan dengan krisis.

Doa: Ya Tuhan, ajari kami untuk menolong orang lain meski krisis kehidupan melanda, amin.

Kamis, 06 Juni 2024

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 11:27-30

27 Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. 28 Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. 29 Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. 30 Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.

Bersama Kita Kuat Menghadapi Berbagai Krisis
Banyak krisis yang terjadi dalam kehidupan dapat diselesaikan secara bersama. Kebersamaan telah menjadi kekuatan yang menggerakan semua orang untuk terlibat mengulurkan tangan. Hal itu pun nyata terbukti dalam kisah ini. Seorang dari para rasul yang bernama Agabus telah menerima karunia bernubuat dari Roh Kudus. la berdiri dan menubuatkan tentang bencana kelaparan (ay. 28). Menyikapi peringatan Agabus dalam nubuatannya itu, menggerakkan murid-murid untuk mengumpulkan sumbangan sesuai kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara di Yudea (ay. 29). Hal yang sama pula dilakukan dan dikirimkan kepada penatua-penatua melalui Barnabas dan Saulus (ay. 30). Hal ini memperlihatkan bahwa sekalipun kelaparan akan melanda dunia seperti yang disampaikan Agabus, akan tetapi murid-murid di Antiokhia telah mengantisipasinya. Mereka tidak mementingkan diri mereka sendiri melainkan juga berusaha menolong orang lain. Tindakan murid-murid di Antiokhia menghadapi krisis kelaparan yang terjadi secara bersama, menunjukkan langkah yang tepat dan berhikmat. Kisah ini mengingatkan kita pula untuk menghadapi berbagai krisis kehidupan ini secara bersama. Ya, hanya dalam kebersamaan kita dapat menolong meringankan beban penderitaan orang-orang yang sedang kesusahan.

Doa: Kami mau mengulurkan tangan bagi yang miskin dan terancam krisis. Amin.

Jumat, 07 Juni 2024

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 4:38-41

Maut dalam kuali
38 Elisa kembali ke Gilgal pada waktu ada kelaparan di negeri itu. Dan ketika pada suatu kali rombongan nabi duduk di depannya, berkatalah ia kepada bujangnya: "Taruhlah kuali yang paling besar di atas api dan masaklah sesuatu makanan bagi rombongan nabi itu." 39 Lalu keluarlah seorang dari mereka ke ladang untuk mengumpulkan sayur-sayuran; ia menemui pohon sulur-suluran liar dan memetik dari padanya labu liar, serangkul penuh dalam jubahnya. Sesudah ia pulang, teruslah ia mengiris-irisnya ke dalam kuali masakan tadi, sebab mereka tidak mengenalnya. 40 Kemudian dicedoklah dari masakan tadi bagi orang-orang itu untuk dimakan dan segera sesudah mereka memakannya, berteriaklah mereka serta berkata: "Maut ada dalam kuali itu, hai abdi Allah!" Dan tidak tahan mereka memakannya. 41 Tetapi berkatalah Elisa: "Ambillah tepung!" Dilemparkannyalah itu ke dalam kuali serta berkata: "Cedoklah sekarang bagi orang-orang ini, supaya mereka makan!" Maka tidak ada lagi sesuatu bahaya dalam kuali itu.

Memakai Hikmat dalam Bertindak
Elisa memerintahkan mereka untuk mengambil tepung lalu dilemparkan ke dalam kuali dan kuali itu menjadi bebas dari racun tadi. Sepertinya ini adalah hal yang kecil, tetapi jika kita mengingat situasi yang terjadi pada waktu peristiwa ini terjadi, barulah kita memahami betapa pentingnya tanda mujizat ini. Ayat 38 mengatakan bahwa ada kelaparan di negeri. Di tengah-tengah kelaparan inilah kuali makanan menjadi sangat berharga. Tanpa masakan dalam kuali itu mereka akan kelaparan. Inilah yang menjadikan tanda mujizat itu sangat penting, sebab tanda itu menyatakan belas kasihan Tuhan yang dinyatakan tepat pada waktunya. Ketika kebutuhan dari umat-Nya sangat besar, Tuhan memberikan pertolongan-Nya. Tuhan tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari umat yang dikasihi-Nya. Dia terus menjaga dan mengawasi sehingga tidak ada satu pun peristiwa yang dialami oleh umat-Nya yang luput dari pengamatan-Nya. Tuhan memakai Elisa untuk menolong para nabi yang dipimpinnya. Setelah itu dia jugalah yang menyediakan makanan di dalam kuali untuk dimasak dan dimakan bersama. Menghadapi berbagai krisis dalam kehidupan kita pun dapat dipakai oleh Tuhan sama seperti Elisa. Kita dapat mengerjakan apa yang bisa dikerjakan berdasarkan potensi sumber daya dan kemauan yang dimiliki di dalam diri. Kita pun dapat menggunakan nilai kearifan local sebagai wujud hikmat dalam menyikapi krisis yang terjadi.

Doa: Bapa, berikan kami hikmat agar kami selalu bertidak dalam kehendakMu. Amin.

Sabtu, 08 Juni 2024

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 4:42-44

Memberi makan seratus orang
42 Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: "Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan." 43 Tetapi pelayannya itu berkata: "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" Jawabnya: "Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya." 44 Lalu dihidangkannyalah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN.

Berhikmat dalam Memberi
Mujizat roti yang dibuat Elisa merupakan tanda penyertaan Tuhan. Di tengah-tengah keterbatasan makanan, kuasa Tuhan tetap tidak terbatas. Jika Elisa mau menghitung-hitung, maka dia akan berpikir bahwa 20 roti mungkin hanya memadai untuk jaminan dia dan hambanya dapat makan selama seminggu. Tetapi yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana golongan nabi yang seratus orang itu bisa makan kenyang. Dia tidak memikirkan haknya sendiri dan tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Dia melihat krisis yang sedang terjadi itu sebagai derita bersama, karena itu dengan berhikmat ia menyikapinya dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Dalam hidup ini, cara Tuhan menolong tidak terbatas pada apa yang ada. Tuhan akan memelihara umat-Nya dengan apa yang ada. Berkat Tuhan tidak mungkin kurang. Itulah sebabnya Ibrani 13:5 mengatakan bahwa kita harus belajar untuk mencukupkan diri kita dengan apa yang ada pada kita. pengalaman beriman dari Elisa ini memberi pelajaran penting agar kita Jangan menjadi serakah dan jangan kehilangan iman. Apa yang Tuhan berikan, bukan hanya cukup untuk keperluan diri, keluarga, jemaat, gereja, tetapi juga untuk menolong orang lain dalam kehidupan bersama. Tuhan pasti akan memelihara kehidupan kita semua, tetapi Dia melakukan itu melalui kita sebagai saluran-Nya. Kita tidak dipanggil untuk meminta kemurahan, tetapi kita dipanggil untuk menjadi menunjukkan kemurahan itu dalam kehidupan bersama yang lain.

Doa: Tuhan ajarlah kami bermurah hati sama seperti-Mu dalam hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2024, LPJ-GPM


Tinggalkan komentar