Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Juni 2024

Tema Bulanan : Menjaga Alam sebagai Rumah Bersama

Tema Mingguan : Bersama Merawat Alam Demi keberlanjutan Hidup

Minggu, 16 Juni 2024

bahan bacaan : 1 Raja-raja 21:1-29

Kebun anggur Nabot
Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang." 3 Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!" 4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: "Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. 5 Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?" 6 Lalu jawabnya kepadanya: "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu." 7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu." 8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati." 11 Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: "Nabot telah mengutuk Allah dan raja." Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: "Nabot sudah dilempari sampai mati." 15 Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: "Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati." 16 Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 17 Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya: 18 "Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu." 20 Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. 22 Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa. 23 Juga mengenai Izebel TUHAN telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. 24 Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara." 25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. 26 Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. 27 Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: 29 "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

Tanah Milik Pusaka Tidak Boleh diperjualbelikan
Zakaria J. Ngelow sebagai Pendeta Gereja Kristen Sulawesi Selatan pernah menyampaikan bahwa “Pengelolaan tanah adalah amanat dari Allah”. Ngelow sesungguhnya mengkritik kecenderungan tindakan gadai dan jual beli tanah di masa kini. Menurut Ngelow, pengelolaan tanah milik pusaka harus didasarkan pada kepentingan hidup bersama. Bagi Ngelow, jika tanah tidak dikelola secara bijaksana maka akan menimbulkan beragam masalah, baik dalam relasi manusia dengan alam maupun relasi antar manusia. Berbeda dengan harapan Ngelow, teks 1 Raja-raja 21:1-19 memperlihatkan pengelolaan tanah yang tidak adil. Ahab sebagai penguasa menggunakan kekuasaannya untuk merampas hak milik dan hak hidup umat. Tindakan Ahab merupakan pelanggaran berat atas HAM, Hukum Keagamaan Israel, sekaligus pemberontakan kepada Allah Sang Sumber Hidup. Karena dalam hukum agama Israel, tanah adalah pemberian Allah yang tidak boleh dialihkan. Jika terjadi peralihan hak kepemilikan maka patut didasari pada mekanisme hukum. Ironinya, Ahab tidak melakukan semua itu. Belajar dari kesalahan Ahab maka kita di masa kini dipanggil untuk mengelola tanah berdasarkan prinsip keadilan Allah. Sudah saatnya, kita tidak menggunakan tanah untuk mendominasi sesama, melainkan untuk melayani, memberdayakan, dan memperjuangkan hidup bersama.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk terus memanfaatkan berkat-Mu untuk kepentingan bersama. Amin.

Senin, 17 Juni 2024

bahan bacaan : Kejadian 26: 12-22

12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. 14 Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. 15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah. 16 Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami." 17 Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. 18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. 19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. 20 Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. 21 Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. 22 Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: "Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini."

Kita Terpanggil Merawat Alam
Sejak penciptaan langit dan bumi, manusia diberikan mandat dari Tuhan untuk “Berkuasa” (bnd. Kejadian 1:28). Mandat untuk “Berkuasa” dari Tuhan kemudian salah dipahami, sehingga terjadi kerusakan alam, karena sikap dominasi (power over) manusia. Manusia melupakan bahwa inti mandat Allah adalah menciptakan kesetaraan dan keutuhan hidup antar ciptaan serta panggilan untuk mengelola, merawat, dan melestarikan alam. Teks Kejadian 26:12-27 sebagai bahan perenungan semakin memberikan kita penyadaran tentang pentingnya merawat alam. Dalam teks diceritakan, bahwa negeri Filistin mendapat persoalan besar, yaitu mereka semua kelaparan. Ishak yang turut berada di negeri Filistin kemudian memutuskan mengelola tanah sebagai upaya untuk melanjutkan hidup. Disebutkan bahwa Ishak menabur di tanah dan pada tahun itu juga, ia mendapat hasil seratus kali lipat, dan ia menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya”. Tindakan Ishak memberikan pelajaran kepada kita di masa kini, bahwa alam adalah sumber kehidupan untuk seluruh ciptaan, karena telah diberkati oleh Tuhan. Sebagai manusia, kita patut bersyukur untuk anugerah tersebut. Dan sebagai bentuk ungkapan syukur, kita patut untuk menjaga dan merawat alam ciptaan ini. Dengan menjaga alam, kita sementara berjuang untuk menjaga rumah bersama yang kita diami. Dengan rumah yang aman maka seluruh ciptaan mampu terpelihara dengan baik.

Doa: Tuhan, teruslah mampukan kami untuk merawat alam ciptaan-Mu. Amin.

Selasa, 18 Juni 2024

bahan bacaan : Amsal 23:10-11

10 Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim. 11 Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau.

Jangan Memindahkan Bataz Tanah Milik Orang Lain
Selain disebut sebagai makhluk etis-moral (homo ethicus), makhluk manusiawi (homo humanus), makhluk sosial (homo socius), manusia juga disebut sebagai makhluk ekologi (homo ecologicus). Dengan memahami hakekat diri sebagai makhluk ekologi maka manusia terpanggil untuk menjaga alam ini. Menurut penuturan Amsal 23:10-11, salah satu cara merawat alam adalah “Dengan tidak memindahkan batas tanah milik orang lain, terkhususnya ladang anak-anak yatim”. Larangan tersebut memiliki makna hukum/perlindungan berlapis. Karena pada satu sisi, larangan tersebut bertujuan menjaga dan mempertahankan hak-hak anak yatim dari para penguasa yang tidak adil. Dan pada sisi lain, larangan tersebut bertujuan menghindari eksploitasi lahan yang semena-mena. Dengan eksploitasi lahan maka alam semesta akan dikorbankan dan digiring mendekati kehancuran. Sesungguhnya larangan Amsal 23: 10-11 menjadi penting untuk dimaknai pada masa kini, karena eksploitasi lahan telah terjadi secara masif. Bahkan eksploitasi itu telah menekan orang miskin, janda, yatim piatu, dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita melakukan pertobatan ekologis. Karena dengan pertobatan ekologis kita akan memahami bahwa tanah/lahan yang diberikan oleh Allah perlu untuk dirawat, bukan yang lainnya. Bahkan lebih dari itu, kita akan memahami bahwa sesungguhnya manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Upaya manusia menjaga tanah adalah manifestasi dari upaya menjaga dirinya.

Doa: Ajarilah kami untuk berusaha menjaga tanah pemberian-Mu dari sikap tamak dan arogan. Amin.

Rabu, 19 Juni 2024

bahan bacaan : Amsal 28:19

19 Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.

Orang Yang Bekerja Diberkati, Pemalas Akan Miskin
Dalam artikel “Teologi Tanah” (dipublikasi oleh Oase Intim) menyebutkan, Tanah diciptakan Tuhan sebagai rumah bersama semua makhluk untuk makan dan minum serta melakukan semua aktifitas untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia. Dengan kata lain, jika manusia memanfaatkan tanah dengan baik maka dia akan hidup dengan baik pula. Berbicara tentang tanah sebagai sumber hidup manusia juga dijelaskan dalam bacaan tadi, ay 19 menyebutkan: “Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan”. Penulis Kitab Amsal memperhadapkan kepada kita sebuah pilihan; orang bijak memilih jalan yang menuju kepada berkat, kekayaan dan kebahagiaan. Sebaliknya, orang bodoh selalu memilih jalan yang salah dan menerima akibatnya. Barangsiapa memanfaatkan tanahnya dengan bekerja keras (menanam, menginvestasi) maka dia akan memperoleh berkat yang berlimpah-limpah. Sebaliknya mereka yang malam bekerja dan membiarkan tanah tidak dimanfaatkan dengan baik akan hidup dalam kekurangan.

Doa: Tuhan tuntun kami memanfaatkan tanah sebagai sumber hidup, amin.

Kamis, 20 Juni 2024

bahan bacaan : Imamat 25:1-7

Tahun Sabat dan tahun Yobel
TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Pelihara Alam Bagi Kebaikan Seluruh Makhluk
Salah satu tema penting di dalam Perjanjian Lama ialah tentang sabat (sabat berarti penghentian kerja (Band. Kej.2:1-3). Makna sabat bagi tanah dalam Imamat 25: 1-7 bahwa tanah haruslah diberikan perhentian penuh pada tahun ketujuh. Tuhan Allah memberikan perintah kepada bangsa Israel agar mereka tidak menabur dan menanam pada tahun ketujuh. Tanah haruslah diberikan perhentian penuh selama satu tahun. Dengan demikian seluruh hasil tanah bukan menjadi milik tuan tanah secara mutlak melainkan menjadi milik bersama. Artinya semua yang tumbuh di atas tanah menjadi milik bersama; baik para budak, pekerja maupun orang asing (pendatang) bahkan segala ternak yang hidup di tanah tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa tanah adalah milik Tuhan sehingga Tuhan berkuasa untuk mengatur proses pengelolaan tanah demi menjaga keberlangsungan hidup seluruh makhluk sekaligus memperlihatkan keberpihakan Allah untuk membelah hak hidup kaum lemah. Makna bagi orang percaya saat ini, tanah merupakan anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan demi kemakmuran bersama sebagai tanggung jawab sosial sekaligus menjamin kesuburan tanah sebagai tanggung jawab menjaga lingkungan hidup.

Doa: Tuhan. kiranya tanah sebagai milik-Mu memberikan kesejahteraan bagi kami. Amin.

Jumat, 21 Juni 2024

bahan bacaan : Imamat 25: 23-28

Penebusan tanah
23 "Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku. 24 Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah. 25 Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu. 26 Apabila seseorang tidak mempunyai penebus, tetapi kemudian ia mampu, sehingga didapatnya yang perlu untuk menebus miliknya itu, 27 maka ia harus memasukkan tahun-tahun sesudah penjualannya itu dalam perhitungan, dan kelebihannya haruslah dikembalikannya kepada orang yang membeli dari padanya, supaya ia boleh pulang ke tanah miliknya. 28 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya."

Gunakanlah Tanah Anugerah Tuhan Bagi Kesejahteraan Hidup
Saat ini, dapat dibilang bahwa tanah telah menjadi sumber konflik (sengketa). Dimana-mana terjadi masalah tanah yang berujung pada masalah sosial maupun masalah hukum. Orang “bakalai” (bertengkar) karena tanah, orang “bakusumpah” (saling menyumpahi) karena tanah, orang “bakubunuh” (saling membunuh) juga karena tanah. Kenapa? Karena tanah memiliki nilai investasi (harga) yang tinggi. Akibat harga jual tanah yang sangat fantastis tersebut membuat orang tidak segan-segan mengambil tanah milik orang lain, ada yang menjual tanah warisan secara sepihak, manupulasi sertifikat tanah, dan sebagainya. Persoalan tentang tanah juga terjadi pada saat bangsa Israel mendiami tanah Kanaan. Setiap suku Israel diberikan pembagian dan kepemilikan tanah untuk dikelola demi kesejahteraan hidup akan tetapi ada yang menjual tanah sehingga mereka kehilangan miliknya Karena itu, mereka diingatkan agar jangan menjual tanah secara mutlak karena Allahlah pemilik tanah (ay.23). Orang Kristen diingatkan bahwa tanah milik Tuhan karena itu tanah tidak boleh menjadi sumber konflik melainkan sumber hidup.

Doa: Tuhan, kiranya tanah sebagai milik-Mu tidak menjadi sumber konflik melainkan sumber kesejahteraan, Amin.

Sabtu, 22 Juni 2024

bahan bacaan : Ulangan 27:17

17 Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

Berpeganglah Pada Hak dan Kewajibanmu
Praktek menggeser batas tanah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ada pihak-pihak tertentu yang dengan curang menggeser batas tanah atau patok yang telah dibuat dari si pemilik yang sah. Padahal praktek tersebut dapat diancam pidana. (Pasal 383 KUHP) Larangan tentang menggeser batas tanah milik orang lain pun sudah disampaikan oleh Musa pada zaman lampau. Larangan ini bermaksud agar bangsa Israel tidak semena-mena terhadap milik sesamanya. Dan apabila Israel melanggar perintah tersebut akan membawa konsekuensi buruk bagi kehidupan mereka yakni kutuk. Kutuk ini disampaikan oleh imam dan akan disahut dengan kata “amin” oleh segenap umat Israel (ay.17). Hal ini dilakukan agar umat Israel hidup taat sesuai perintah Tuhan (UI.30:19). Pesan nas ini bagi kita adalah bahwa kita tidak boleh menggeser batas tanah orang lain sebagai pemilik sah karena hal itu bukanlah perbuatan kebenaran. Tindakan tersebut dapat saja mendatangkan persoalan yang berujung pada hukuman pidana. Tentu kita tidak menginginkan hukuman Tuhan. Maka mari kita berlaku jujur di hadapanNya, termasuk jujur terhadap batas-batas tanah.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami hidup dalam kebenaran, dengan tidak menggeser batas tansh yang
telah dibuat, amin.

*: SUMBER SHK BULAN JUNI 2024, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar