Tema Bulanan : Pelayan Yang Berkualitas Untuk Pembangunan Jemaat
Tema Mingguan : Kesiapan Diri Menjadi Pelayan Kristus
Minggu, 14 Juli 2024
bahan bacaan : 1 Timotius 3 : 1 – 13
Syarat-syarat bagi penilik jemaat
Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, 4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. 7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.
Syarat-syarat bagi diaken
8 Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, 9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. 10 Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. 11 Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. 12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. 13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.
Tunjukanlah Teladanmu Sebagai Pelayan Kristus
Ungkapan yang sering disampaikan pada musim hujan adalah “Sedialah payung sebelum hujan”, atau untuk seseorang yang ingin berperang sering disampaikan: “Sedialah peluru sebelum perang”. Secara sederhana, ungkapan itu menegaskan pentingnya persiapan sebelum memulai pekerjaan. Kita kemudian sepakat, bahwa pekerjaan yang didahului dengan persiapan memilki hasil maksimal. Teks 1 Timotius 3:1-13 turut memerlihatkan sejumlah syarat persiapan bagi penilik jemaat dan diaken. Disampaikan bahwa setiap umat yang hendak dipilih menjadi pelayan gereja harus memiliki perilaku hidup benar, yang ditunjukan melalui hidup bijaksana dan sopan (ay. 2), peramah dan pendamai (ay. 3), sebab sikap itu menjadi bukti apakah dirinya telah mengenal dan melakukan kehendak Allah. Mereka juga dipanggil untuk menjaga keharmonisan keluarga sebagai cerminan bagi keluarga dan jemaat yang lain. Penting kemudian disadari bahwa syarat tersebut juga merupakan panggilan pelayanan bersama di masa kini. Setiap umat perlu menyadari pentingnya memiliki perilaku hidup benar sebagai bentuk keteladan umat dan pelayan Kristus. Ingatlah motivitasi Paulus, bahwa salah satu dari kekuatan jemaat dan pelayanan gereja terletak pada karakter (teladan) hidup umat dan pelayanNya.
Doa: Tuhan, mampukan kami dengan Roh Kudus agar mampu menjadi teladan bagi sesama. Amin.
Senin, 15 Juli 2024
bahan bacaan : Galatia 1 : 11-24
Bagaimana Paulus menjadi rasul
11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. 13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.
Panggilan Pelayanan Sebagai Augerah Allah!
Seseorang yang bertumbuh dalam iman akan mengakui bahwa jika dirinya dipilih dan dipanggil oleh Allah untuk suatu proses pelayanan maka itu adalah bukti anugerah dan kehendak Allah. Sebab pilihan dan panggilan Allah tidak dapat dipengaruhi atau diintervensi oleh siapapun. Rasul Paulus dalam teks Galatia 1:11-24 turut mempertegas pernyataan tersebut. Paulus memberi kesaksian, bahwa dirinya pernah menganiaya dan berusaha membinasakan jemaat Kristen, sebab dirinya tidak percaya kepada Kristus. Tetapi jika saat ini ia (sebagai seorang rasul) kembali berusaha membangun jemaat Kristus maka sesungguhnya itu didasari pada imannya, bahwa Allah melalui Yesus yang telah memilihnya sejak dalam kandungan ibunya. Bahkan Allah juga yang telah mengaruniakannya kasih karunia. Berdasarkan kesaksian Paulus tersebut maka satu hal yang mesti kita dipahami di saat ini, bahwa Allah selalu memiliki kehendak bebas untuk memilih dan memanggil siapapun dalam proses perkembangan pelayanan-Nya. Belajar dari iman dan kesaksian Paulus maka yang perlu untuk kita akui adalah Allah tidak pernah keliru dalam menentukan pilihan dan panggilan-Nya. Sebagai umat percaya, kita dituntut untuk menjadi sama seperti Paulus yang meyakini, bahwa jika kita dipilih menjadi pelayan maka itu adalah panggilan dari Allah. Allah yang telah menyatakan kehendak bebas-Nya, sehingga segala bentuk panggilan pelayanan tersebut adalah sebuah anugerah dari Allah.
Doa: Kami bersyukur Tuhan, atas panggilan pelayanan-Mu, sebab kami percaya bahwa itu adalah anugerah Amin.
Selasa, 16 Juli 2024
bahan bacaan : 1 Korintus 9 : 15 – 18
15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga! 16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Bersukacita dan Tanpa Pamrih Dalam Pelayanan
Mungkin di antara kita pernah mendengarkan salah satu penggalan lirik lagu: “Kerja buat Tuhan, selalu manis e. Biar sondor gaji, selalu manise”. Penggalan lirik tersebut memberi penegasan dan panggilan, bahwa melalukan pelayanan jangan didasari pada penerimaan upah, melainkan sebagai bukti keikutsertaan kita dalam pekerjaan Tuhan di tengah dunia. Pendasaran yang sama turut disampaikan oleh Paulus dalam 1 Korintus 9:15-18. Paulus menyampaikan, bahwa sebagai seorang rasul, ia memiliki banyak hak dalam pelayanannya (ay. 1-14), namun ia tidak pernah mempergunakannya (ay. 15). Ia menyampaikan, bahwa ia tidak mempergunakan haknya sebab ia menyadari pelayanan sebagai kewajiban. Bahkan ia melakukannya bukan sesuai kehendaknya, melainkan berdasarkan apa yang ditanggungkan Allah. Pengakuan Paulus kemudian menjadi pendasaran bahwa tidak boleh satupun pelayan yang bermegah dengan hasil pelayanan-Nya, sebab hanya Allah yang patut dimegahkan dari seluruh hasil pelayanan. Motivasi yang sama harus turut dimaknai dalam pelayanan masa kini, bahwa proses pelayanan jangan didasari pada upah. Sebaliknya, pelayanan harus didasari pada kesediaan yang tulus, sehingga kita dapat memahami bahwa upah sesungguhnya dari proses pelayanan adalah kesukacitaan.
Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk melakukan pelayanan-Mu dengan sukacita dan tanpa pamrih. Amin.
Rabu, 17 Juli 2024
bahan bacaan : 1 Korintus 9 : 19 – 23
19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Lakukan Pelayanan Allah Kepada Semua Orang
Menjadi pertanyaan sederhana untuk kita renungkan dan evaluasi saat ini adalah kepada siapa pelayanan itu harus diberikan? Pertanyaan ini menjadi penting sebab kecenderungan pelayanan yang dilakukan untuk orang dan komunitas tertentu masih terjadi. Kenyataan yang sama turut terjadi dalam jemaat Korintus, sehingga Paulus menegaskan bahwa dirinya bebas melakukan pelayanan kepada semua orang, karena ia adalah hamba dari semua orang. Catatan menarik dari pengakuan Paulus adalah ia mampu menjadikan dirinya seperti sesamanya, sehingga mereka semakin mengenal Kristus melalui pelayanan yang diberikan. Tidak menjadi masalah jika Paulus harus terlihat seperti seorang yang hidup di bawah atau di atas hukum taurat, ataupun seorang yang hidup bersama yang lemah. Sebab dalam tindakan tersebut maka pelayanan Kristus yang ditanggungkan kepadanya dapat dirasakan semua orang. Kenyataan tersebut kemudian memberikan penegasan, bahwa pelayanan di masa kini harus turut diberikan kepada siapapun; tanpa dibatasi pada kelompok, usia, gender, ras, dan lainnya. Seorang pelayan Kristen harus memposisikan dirinya dengan tepat bersama sesamanya agar pelayanan dapat diberikan dan dirasakan. Kristus yang hidup dalam pelayanan, mati dan bangkit telah lebih dulu melakukan pelayanan-Nya kepada semua orang: miskin dan kaya, laki-laki dan perempuan, Yahudi dan non Yahudi, serta yang lainnya. Karena itu, keberlanjutan dari pelayanan Kristus di masa kini harus diberikan dan dirasakan oleh semua orang.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami agar dapat melakukan pelayanan kepada semua orang. Amin
Kamis, 18 Juli 2024
bahan bacaan : 1 Korintus 9 : 24 – 27
24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. 26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Layanilah Allah dan Pekerjaan-Nya
Tidak ada seorangpun yang melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas. Misalnya, setiap orang makan pasti memiliki tujuan untuk kenyang. Atau seseorang belajar pasti memiliki tujuan untuk pintar dan cerdas. Tetapi menjadi pertanyaannya: apa tujuan kita melakukan pelayanan Allah? Apalagi, upah dan gaji bukan menjadi bagian kita selaku para pelayan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Paulus menggambarkan kehidupan kita di dunia sebagai arena pertandingan lari. Ada umat yang memilih berlari dan berusaha mendapat makhota fana, tetapi ada juga berlari dan berusaha mendapat makhota abadi. Tindakan seseorang yang berlari dalam arena adalah gambaran Paulus tentang apa yang kita lakukan sepanjang hidup ini. Bagi Paulus, tindakan berlari yang baik adalah ketika kita membawa diri untuk melayani Allah dan pekerjaan-Nya, bukan hanya mencari kesenangan dunia semata. Memang benar adanya, bahwa gaji dan upah tidak menjadi bagian kita, namun percayalah bahwa ada janji keselamatan kekal bersama Allah. Karena itu, jalanilah hidup ini dengan tujuan untuk semakin mengenal Allah dan melayani pekerjaan-Nya dengan sungguh, sehingga kita tidak menjadi seorang petinju yang menyerang orang secara sembarangan, ataupun seorang pelari yang berlari tanpa tujuan.
Doa: Tetap ajari kami Tuhan, agar kami tidak berupaya mendapat makhota yang fana, tetapi makhota abadi. Amin
Jumat, 19 Juli 2024
bahan bacaan : Yohanes 12 : 20-26
Yesus memberitakan kematian-Nya
20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." 22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. 23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Setia Melayani Tuhan, Memperoleh Kehormatan Allah
Dalam bukunya seri: Selamat Melayani, Pdt DR. Andar Ismail mengutip pertanyaan yang pernah dikemukakan oleh Plato “Siapakah yang senang kalau harus melayani orang lain?” ungkapan ini menunjukkan kejujuran seorang plato tentang hal melayani. Bagi Plato melayani atau “menjadi babu” bagi orang lain bukan sesuatu yang menyenangkan. Sekalipun demikian, kita bangga ketika menyatakan “siap melayani” atau bersedia “menjadi pelayan gereja”. Sayangnya, dalam kenyataannya kita tidak setia melaksanakan tugas tersebut dengan baik; bersungut-sungut, bermalas-malasan, dsbnya. Tuhan Yesus menyatakan “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan dimana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada” (ay.26). Perkataan Tuhan Yesus ini menunjuk kepada kematian-Nya (ay.25). Jadi, barangsiapa mau menjadi pelayan dia harus bersedia menderita bahkan mati demi Kristus, Di sini, ada unsur: ketaatan, kesetiaan dan komitmen sungguh-sungguh untuk melayani Tuhan Yesus. Dengan ketaatan tersebut, seseorang akan mendapatkan kehormatan (berkat, anugerah) dari Allah sebagai pahala atau upah.
doa : Roh Kudus Tuntunlah kami menjadi pelayan yang setia untuk melayani Tuhan Yesus, amin
Sabtu, 20 Juli 2024
bahan bacaan : 2 Korintus 3 : 1-6
Pelayan-pelayan perjanjian yang baru
Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? 2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. 3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. 4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. 5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. 6 Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.
Jangan Menyombongkan Diri Dalam Pekerjaan Tuhan
Ada seorang pengusaha kaya raya mengajak seorang pendeta makan di salah satu restoran ternama, selesai makan mereka menuju tempat parkir dan bertemu dengan seorang pengemis. Kemudian pengusaha tadi memberikan 100 ribu rupiah kepada pengemis itu. Si pengemis langsung gembira dan mendoakan pengusaha kaya tadi, tapi si pengusaha langsung menegur “Stop jangan berdoa untuk saya karena saya sudah kaya, berdoa untuk dirimu saja karena kamu miskin”. Perkataanya menunjukkan kesombongan diri. Hal kesombongan atau memuji diri pun diperlihatkan oleh orang Kristen di Korintus dalam perikop bacaan tadi. Mereka suka memuji diri (ay.1) atas hasil pekerjaan dan pelayanan mereka. Untuk itu Paulus mengingatkan mereka bahwa Jemaat Kristen di Korintus adalah hasil dari pekabaran Injil yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena itu tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Apa yang diterima merupakan anugerah Tuhan.
Doa, Roh Kudus jagalah hati kami supaya kami tidak “sombong rohani” amin
*SUMBER : SHK BULAN JULI 2024, LPJ-GPM