Tema Bulanan : Hidup Tangguh di Tengah Perubahan Zaman
Tema Mingguan : Keluarga Sebagai Basis Pembinaan
Minggu, 25 Agustus 2024
bahan bacaan : 1 Samuel 2 : 11-26
Kejahatan anak-anak Eli
11 Lalu pulanglah Elkana ke Rama tetapi anak itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan imam Eli. 12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, 13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya 14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. 15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: "Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja." 16 Apabila orang itu menjawabnya: "Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu," maka berkatalah ia kepada orang itu: "Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan." 17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN. 18 Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan. 19 Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan. 20 Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: "TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN." Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya. 21 Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN. 22 Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, 23 berkatalah ia kepada mereka: "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? 24 Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. 25 Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?" Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka. 26 Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.
Keluarga Bagi Kemuliaan Tuhan
Dalam bacaan hari ini, kita membandingkan dua keluarga yaitu pertama, keluarga Imam Eli, yang menurunkan jabatannya kepada kedua anaknya Hofni dan Pinehas. Imam Eli memberikan jabatan namun tidak mampu mempersiapkan kerohanian kedua anaknya untuk hidup sungguh–sungguh di dalam Tuhan. Mereka tidak menghormati Tuhan dengan memandang rendah korban untuk Tuhan, dll. Berbeda dengan keluarga kedua, yaitu keluarga Hana. Hana sungguh beriman kepada Tuhan. Setelah Samuel diserahkan kepada Tuhan, setiap tahun ibunya membuat baju efod baginya dari kain lenan. Keluarga Elkana pun makin diberkati Tuhan. Belajar dari kedua keluarga di atas, maka kita diarahkan untuk mampu menuntun kehidupan anak–anak kita hidup di dalam rasa takut akan Tuhan. Kita bertanggung jawab untuk menentukan pola didik yang baik untuk mengarahkan mereka menghormati Tuhan. Mereka wajib menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan dengan melakukan hal–hal yang baik. Dengan demikian, hidup mereka adalah hidup yang memuliakan Tuhan dan hidup yang menjadi berkat bagi sesama.
doa: Tuhan, aku dan keluargaku ingin taat dan mengabdi hanya kepadaMu, amin
Senin, 26 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 9 : 18-29
Nuh dan anak-anaknya
18 Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham adalah bapa Kanaan. 19 Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi. 20 Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. 21 Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. 22 Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. 23 Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. 24 Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, 25 berkatalah ia: "Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya." 26 Lagi katanya: "Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. 27 Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya." 28 Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. 29 Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati.
Bijak Bertindak
Di awal kisahnya, Nuh dikenal sebagai orang benar dan hidup bergaul dengan Allah. Namun, anggur yang dia tanam kemudian menjadi awal sebuah bencana lain di dalam hidupnya. Ia mabuk oleh anggur hasil panennya sendiri dan terbaring telanjang di dalam kemahnya. Kejatuhan Nuh ternyata membuat orang lain tersandung juga. Ham, anak Nuh yang melihat ayahnya berada dalam kondisi yang demikian, tidak dapat menahan diri untuk menceritakan hal itu kepada kedua saudaranya yang lain, yaitu Sem dan Yafet. Berbeda dengan Ham, Sem dan Yafet berusaha menutup aurat ayahnya dengan tidak melihatnya. Bagi Nuh, tindakan Ham merupakan suatu kesalahan yang besar. Ia sama sekali tidak berupaya melindungi martabat ayahnya, melainkan menceritakan hal itu kepada orang lain. Saat ini, gaya menceritakan kesalahan bahkan masalah orang lain, adalah sebuah trend yang tidak bisa dihilangkan. Bahkan bukan hanya dari orang ke orang, tetapi juga disampaikan di dunia maya. Hal ini bukanlah etika yang baik. Bijak dalam bertindak harus kita ajarkan kepada anak-anak kita, agar mereka memiliki sikap yang baik ketika melihat orang lain melakukan kesalahan.
doa: Jadikan kami penolong bagi sesama, amin
Selasa, 27 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 27 : 1-4
Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung
Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa." 2 Berkatalah Ishak: "Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. 3 Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; 4 olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati."
Mendengar dan Melakukan
Hadirnya anak dalam keluarga adalah anugerah Allah. Setiap anak terlahir dengan talenta dan karunia masing-masing. Demikian pula halnya dengan Esau dan Yakub. Melalui Ishak dan Ribka, Esau dan Yakub tumbuh menjadi dewasa dengan bakat dan talenta masing-masing. Esau gemar berburu, sementara Yakub memilih di rumah untuk bercocok tanam dan beternak. Ketika Ishak sudah tua, saatnya ia menyelesaikan urusannya dengan memberikan berkat bagi anaknya, Esau. Untuk itu Ishak meminta Esau untuk berburu dan membuat makanan yang enak serta gurih agar dapat dinikmati olehnya. Apa yang diminta oleh Ishak menjadi contoh bagi setiap keluarga di masa sekarang ini. Karena seiring berjalan waktu, ketaatan akan perintah orang tua sudah mulai terkikis. Padahal yang harus mereka lakukan ketika diminta ialah mendengar dan melakukannya. Itulah ketaatan yang sesungguhnya. Karena dengan taat melaksanakan perintah orang tua, maka berkat akan diterima. Untuk itu marilah menjadi anak-anak yang taat dan setia serta layanilah orang tua dengan kesungguhan hati, karena dengan kesungguhan hati dalam melayani, hidup kita tidak akan sia-sia tetapi akan dipenuhi dengan limpahan berkat dari Allah Sang pemberi hidup.
doa: Tuhan, jadikan kami orang tua yang baik bagi anak-anak kami, amin
Rabu, 28 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 27 : 5-17
5 Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya, 6 berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya: "Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu: 7 Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan TUHAN, sebelum aku mati. 8 Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu. 9 Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya. 10 Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati." 11 Lalu kata Yakub kepada Ribka, ibunya: "Tetapi Esau, kakakku, adalah seorang yang berbulu badannya, sedang aku ini kulitku licin. 12 Mungkin ayahku akan meraba aku; maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olokkan dia; dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat." 13 Tetapi ibunya berkata kepadanya: "Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah ambil kambing-kambing itu." 14 Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya; sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang digemari ayahnya. 15 Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya. 16 Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. 17 Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya.
Meraih Janji Allah Dengan Cara Yang Salah
Hidup dalam dunia yang berdosa membuat apa yang terjadi seringkali berbeda dengan apa yang diharapkan. Kita sering melihat ada banyak yang karena menginginkan sesuatu, menggunakan berbagai cara untuk memperolehnya, walaupun itu adalah cara yang salah. Ishak telah tua dan ia berkeinginan untuk memberi berkat sulungnya kepada Esau, dengan memintanya membuat makanan dari hasil buruannya. Ketika Ribka mendengar hal itu, ia pun mencari jalan keluar sendiri bagi anak kesayangannya. Ia berusaha menipu Ishak, sebab menurutnya Yakub yang berhak mendapatkan hak kesulungan. Ia bahkan berkata, bahwa ia rela menanggung kutuk dari Ishak, jika ternyata Yakub ketahuan membohongi ayahnya. Dengan sungguh–sungguh mereka merencanakan untuk menipu Ishak agar memberikan berkat tersebut bagi Yakub. Hal ini diakibatkan oleh karena Ribka terlalu mengasihi Yakub daripada Esau. Ingatlah! Anak adalah berkat dari Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dipelihara dan dididik oleh orang tua, sehingga kehidupan mereka menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.
doa: Jadikan kami anak-anak yang taat dan setia, amin
Kamis, 29 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 27 : 18-29
18 Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: "Bapa!" Sahut ayahnya: "Ya, anakku; siapakah engkau?" 19 Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." 20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." 21 Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan." 22 Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau." 23 Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia, 24 tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!" 25 Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum. 26 Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku." 27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. 28 Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. 29 Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia."
Meraih Berkat Dengan Tipu Daya
Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itulah pepatah yang bisa kita gunakan untuk cerita dalam bacaan hari ini. Dengan bantuan Ribka, Yakub menipu Ishak. Ia memakai pakaian yang indah kepunyaan Esau, membalutkan kulit anak kambing di kedua tangannya, dan membawa makanan kesukaan Ishak yang disiapkan oleh Ribka. Tanpa rasa malu Yakub menyatakan bahwa Tuhan Allah Ishak yang membuatnya mencapai tujuan. Ishak yang sudah rabun kemudian percaya dan memberkati Yakub. Yakub telah memperoleh berkat dengan cara yang Salah. Berkat diraih dengan tipu daya. Hal inilah yang harus kita hindari. Jangan hanya karena keinginan kita untuk masa depan anak–anak, lalu kita menghalalkan semua cara walaupun itu salah. Kita harus mengajarkan kepada anak–anak bahwa untuk memperoleh segala sesuatu, mereka harus berjalan sesuai dengan jalurnya. Jangan dengan tipu daya ataupun tipu muslihat. Karena pada akhirnya apa yang dilakukan akan membawa dampak yang buruk bagi masa depan anak–anak kita. Belajarlah menjalani hidup ini sesuai dengan yang Tuhan kehendaki bukan yang kita kehendaki!
doa: Berkatilah keluarga kami ya Tuhan, Amin
Jumat, 30 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 27 : 30-40
30 Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu. 31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: "Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku." 32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: "Siapakah engkau ini?" Sahutnya: "Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau." 33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati." 34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" 35 Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu." 36 Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?" 37 Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: "Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?" 38 Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau. 39 Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. 40 Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu."
Persoalan Keluarga
Pengkhianatan akhirnya membuahkan persoalan dalam keluarga bahkan retaknya hubungan persaudaraaan antara Esau dan Yakub. Yakub mengambil hak kesulungan Esau dan kemudian mengambil berkat yang seharusnya menjadi milik Esau. Dendam Esau dan perselisihan yang terjadi merupakan dampak dari cara didikan orang tua mereka yaitu Ishak dan Ribka. Ishak lebih mengasihi Esau dan Ribka lebih mengasihi Yakub. Bagian ini menunjukkan kepada kita bahwa meskipun Ishak dan Ribka adalah orang tua dari Esau, kelalaian sebagai ayah dan keberpihakan sebagai ibu menyebabkan konflik jangka panjang. Keluarga menjadi terpecah belah. Belajar dari pengalaman hidup Esau dan Yakub, menjadikan kita untuk memahami bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Untuk kebaikan keluarga marilah kita merawat dan menjaga hubungan kita dengan baik. Menciptakan suasana yang penuh dengan cinta kasih dan keharmonisan. Jangan karena harta dan kekayaan memecah seluruh tatanan kehidupan keluarga kita. Ada pepatah bijak yang mengatakan, “Tak perlu memiliki semuanya di dunia ini agar hidupmu bahagia, cukup syukuri apa dan siapa yang ada bersamamu saat ini”.
doa: Izinkan AnugerahMU membarui hidup kami, amin
Sabtu, 31 Agustus 2024
bahan bacaan : Kejadian 4 : 1-16
Kain dan Habel
Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." 2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." 8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" 10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." 13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku." 15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.
Harga Diri: Sebuah Kemewahan
Kita melihat sebuah perjalanan perkembangan kebudayaan manusia mulai dengan telanjang, lalu ia berpakaian untuk menutupi ketelanjangannya. Kini, ia perlu menghias dirinya dengan ornamen–ornamen untuk makin menutupi ketelanjangannya, yaitu harga diri. Harga diri itu mahal, karena didapatkan dengan harga darah. Bukankah sesuatu yang indah ketika Hawa melahirkan anak–anaknya? Pertama, lahirlah Kain, kemudian Habel menyusul. Mereka berdua mempersembahkan korban. Habel membawa korban terbaik, dari hasil pertama yang dikerjakannya. Tidak demikian dengan Kain. Tidak ada indikasi bahwa Kain membawa hasil sulung dari apa yang diusahakannya. Yang tercatat dalam kitab hanyalah Allah menganggap baik apa yang diberikan Habel dan tidak menerima apa yang diberikan Kain.
Penolakan itu sakit. Kain tak mampu menahan emosi dan kebenciannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan seorang Habel hidup. pembunuhan pertama terjadi dalam sejarah manusia. Ketika Tuhan bertanya, ia menjawab Tuhan seenaknya. Tidak ada kasih melainkan iri hati dan kebencian. Kehidupan di luar Eden memang sudah berbeda. Kain tak bisa lari dari kenyataan. Disertai jaminan penyertaan Tuhan, pakaian Kain dilumuri dengan harga diri yang membuatnya miskin. Tuhan membentuk institusi keluarga supaya setiap anggota keluarga dapat merasakan cinta kasih dan kehadiran Allah. Tuhan juga ingin menjadikan setiap keluarga orang percaya sebagai bagian dari karya agungNya. Hal itu dapat tercapai apabila setiap anggota keluarga menerima satu sama lain dengan cinta kasih dan ketulusan. Bukan sebaliknya hidup dalam kecemburuan dan iri hati seperti yang terjadi pada Kain terhadap adiknya Habel. Biarlah setiap keluarga Tuhan diberkati untuk terus menumbuhkan cinta yang utuh dan di dalam kebersamaan dan saling menopang untuk berjalan dalam kasih.
doa : Tuhan, jauhkan sifat iri hati dari Keluarga Kami, amin
*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2024, LPJ-GPM