Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 Oktober 2024

Tema Bulanan : Meningkatkan Relasi Antar Sesama Untuk Kesejahteraan

Tema Mingguan : Relasi Gereja yang Saling Menerima & Menghormati

Minggu, 13 Oktober 2024

bahan bacaan : Matius 21 : 23-27

Pertanyaan mengenai kuasa Yesus
23 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" 24 Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 25 Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? 26 Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." 27 Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesuspun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

Jadilah Pribadi yang Tenang!

Protes terhadap pelayanan Yesus selalu berdatangan dari Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Sebagaimana catatan Kitab-kitab injil, kelompok-kelompok itu meragukan dan tidak mempercayai Yesus adalah Anak Allah; Sang Mesias yang dijanjikan itu. Matius 21: 23-27 merupakan salah satu teks yang menampilkan upaya kelompok tersebut membangun relasi dengan Yesus. Tergambarkan relasi mereka didasarkan pada keraguan dan niat jahat untuk menjatuhkan/mempermalukan Yesus (bnd. Pertanyaan imam kepala dan tua bangsa Yahudi pada ayat 23). Namun menariknya, Yesus tidak menanggapi kelompok tersebut dengan kekerasan. Justru sebaliknya, Yesus menampilkan sikap tenang yang kokoh, sehingga Ia tidak mempermalukan mereka. Yesus menerima dan menghormati mereka, sambil berusaha membenahi pikiran mereka yang bertentangan dengan kebenaran Allah. Catatan menarik untuk kita di saat ini, sebagai manusia kita akan selalu berelasi dengan sesama. Karena itu, ketenangan diri untuk berkata dan menanggapi perkataan orang lain harus menjadi pilihan sikap yang bijak. Jadi, dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun kita berelasi, kita akan mampu memberikan kedamaian dan penghormatan yang sungguh kepada sesama kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami agar tetap menjadi pribadi yang tenang dalam membangun relasi dengan sesama. Amin.

Senin, 14 Oktober 2024

bahan bacaan : 2 Korintus 11 : 7 – 21a

Paulus tidak mementingkan diri
7 Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? 8 Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! 9 Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian. 10 Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun di daerah-daerah Akhaya. 11 Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya. 12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. 13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. 14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. 15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. 16 Kuulangi lagi: jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya akupun boleh bermegah sedikit. 17 Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah. 18 Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga. 19 Sebab kamu suka sabar terhadap orang bodoh, karena kamu begitu bijaksana: 20 karena kamu sabar, jika orang memperhambakan kamu, jika orang menghisap kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu. 21 Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah.

Membangun Relasi Dengan Pribadi yang Rendah Hati  

Sikap mendominasi cenderung menjadi wajah relasi dan dialog di masa kini. Beberapa orang terkesan memuji diri sendiri dan menganggap yang lain lebih rendah dari dirinya. Bahkan ungkapan “Kamu bodoh” sering dijumpai sebagai salah satu bentuk nyata upaya mendominasi dalam proses dialog. Kenyataan yang sama turut diperlihatkan dalam teks 2 Korintus 11: 7-21a. Diperlihatkan, bahwa kedatangan rasul-rasul palsu di Korintus telah menyebabkan Paulus dikenal sebagai orang bodoh (bnd. Ay. 16). Namun menarik, bahwa di tengah gempuran kekerasan verbal, Paulus tidak membalas mereka. Justru Paulus mengatakan, bahwa dirinya akan tetap menerima jika jemaat Korintus turut menganggap dirinya sebagai seorang yang bodoh. Kerendahan hati dan ketenangan Paulus untuk tidak membalas kekerasan verbal orang lain harus juga kita maknai di masa kini. Sekalipun kita direndahkan atau dianggap lemah oleh orang lain, marilah kita menjadi pribadi yang tenang untuk menanggapinya. Karena ketenangan kita akan meminimalisir upaya saling mendominasi yang berujung pada kekacauan relasi. Pada akhirnya, relasi tetap terjaga dalam bingkai penerimaan dan penghormatan.

Doa: Ajarilah kami agar tetap rendah hati dan tenang dalam membangun relasi dengan sesama. Amin.

Selasa, 15 Oktober 2024

bahan bacaan : 1 Korintus 3 : 10-13

Dasar dan bangunan
10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 13 sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

Kristus sebagai Dasar Persekutuan

Sering disampaikan oleh para ahli ataupun pekerja bangunan, bahwa bangunan yang kokoh hanya bisa dimiliki jika telah lebih dulu memiliki dasar/fondasi yang kuat. Itu sebabnya, dalam sebuah proses pembangunan, selalu didahulukan bagian dasarnya, sebab dasar menjadi penentu keberlangsungan bangunan tersebut. Dalam membangun relasi sebagai persekutuan, Paulus menasehati jemaat di Korintus supaya setiap orang dapat melanjutkan pembangunan yang telah diletakannya (ay. 10). Namun harus diingat bahwa dasar bangunan tidak lagi dapat diubah, sebab dasarnya adalah Yesus Kristus (ay. 11). Bangunan yang dimaksudkan Paulus merujuk pada jemaat Korintus yang telah dibangunnya. Nasehat Paulus itu menjadi kritik untuk kenyataan perpecahan jemaat di Korintus. Bagi Paulus, setiap jemaat harus mengetahui bahwa Yesus Kristus merupakan dasar persekutuan yang telah dibangunnya. Yesus Kristus sebagai dasar jemaat merujuk pada kesatuan dan persatuan dalam kasih. Hal yang sama juga perlu kita maknakan di saat ini, bahwa dasar dalam kehidupan bersama/ persekutuan adalah Yesus Kristus yang penuh kasih. Oleh karena itu, kita perlu menjaganya agar bangunan persekutuan kita tetap berdiri kokoh.

Doa: Ya Tuhan, ingatkanlah kami bahwa Engkau adalah dasar dari persekutuan ini. Amin.

Rabu, 16 Oktober 2024

bahan bacaan : Galatia 2 : 15-21

Yang terutama, juga untuk orang Kristen keturunan Yahudi
15 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. 16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. 17 Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. 18 Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. 19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Janganlah Menjadi Pribadi yang Egois!

Ada kecenderungan sebagian orang untuk membangun relasi dengan sikap egois yang tinggi. Dalam keegoisan, ia kemudian memaksakan sesamanya melakukan apa yang dirinya kehendaki. Pada akhirnya, dalam sikap egois tersebut maka relasi menjadi tidak sehat, bahkan berada dalam ancaman perpecahan. Berdasarkan kecenderungan keegoisan itu juga, Paulus turut menasehati orang-orang Yahudi di Galatia untuk tidak memaksakan sesamanya yang non Yahudi melakukan sunat. Paulus mengetahui, bahwa keegoisan orang-orang Yahudi untuk memaksakan sesama yang non Yahudi melakukan sunat akan berujung pada perpecahan umat Kristen di Galatia. Bagi Paulus, yang menyelamatkan orang percaya bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena imannya kepada Kristus Yesus (bnd. Ay. 16). Hal penting untuk kita maknakan di masa kini, bahwa keegoisan dalam berelasi perlu untuk ditinggalkan. Kita terpanggil untuk tidak memaksakan apa yang kita inginkan kepada sesama. Saling bertukar pikiran atau berdiskusi untuk mencapai kesepakatan bersama adalah salah satu cara untuk membangun relasi yang sehat dengan sesama.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk tidak menjadi egois dalam upaya membangun kehidupan bersama. Amin.

Kamis, 17 Oktober 2024

bahan bacaan : Galatia 3 : 1-14

Dibenarkan oleh karena iman
Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? 2 Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? 3 Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? 4 Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! 5 Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil? 6 Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 7 Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. 8 Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati." 9 Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. 10 Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." 11 Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." 12 Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. 13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" 14 Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

 Perbedaan Bukan Pemecah Keharmonisan

Dalam membangun relasi dan dialog, ada upaya untuk memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Upaya tersebut tidaklah salah. Yang keliru adalah upaya tersebut kemudian dijalankan bersamaan dengan cara menjatuhkan orang lain akan kebenaran yang diyakini olehnya. Kenyataan yang sama turut terjadi dalam jemaat Galatia. Kelompok Yahudi dan non Yahudi mempertentangkan mengenai siapakah yang pantas dan layak mendapat berkat dari Allah. Bahkan dalam pertentangan tersebut, ada kecenderungan untuk saling menjatuhkan. Menariknya, Paulus menegaskan kepada mereka yang bertentangan, bahwa Yesus Kristus yang mati dan bangkit adalah bukti keselamatan dan perberkatan Allah disalurkan kepada Abraham dan bangsa-bangsa lain (bnd. Ay. 14). Belajar dari pertentangan tersebut maka salah satu nilai penting dalam membangun relasi adalah penerimaan. Dengan kalimat lain, setiap orang yang membangun relasi harus menerima satu dengan yang lain, tanpa memandang latar belakang, keyakinan, dan kebenaran yang dipegangnya. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kebenaran yang diyakininya. Oleh karena itu, sikap untuk menerima dan menghormati mereka adalah cara membangun dan menjaga relasi agar tetap harmonis.

Doa: Roh Kudus persatukan gereja-Mu, amin.

Jumat, 18 Oktober 2024

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 11 : 1-18

Petrus mempertanggungjawabkan baptisan Kornelius di Yerusalem
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. 2 Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. 3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." 4 Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: 5 "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku. 6 Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung. 7 Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! 8 Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku. 9 Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! 10 Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit. 11 Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea. 12 Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu, 13 dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus. 14 Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu. 15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. 16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. 17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?" 18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Perbedaan adalah Anugerah Allah

Rasanya, pertentangan antara kelompok yang Yahudi dan non Yahudi tidak pernah berkesudahan pada awal-awal masa pertumbuhan gereja. Seorang Yahudi yang dekat, diam di rumah, dan makan sehidangan dengan orang non Yahudi akan dilabeli sebagai seorang kafir/haram (bnd. Ay. 3). Orang Yahudi meyakini, bahwa pertobatan, keselamatan, dan berkat Allah hanya ditujukan kepada mereka, bukan yang lain. Padahal, kepada bangsa-bangsa lain, Allah turut mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup (bnd. Ay. 18). Petrus yang mendapat pertentangan karena telah melakukan pembaptisan kepada Kornelius di Yerusalem turut menegaskan, bahwa apa yang dilakukannya dihalalkan oleh Allah (bnd. Ay. 9). Jawaban Petrus turut menjadi kritik dan panggilan kepada kita di masa kini, bahwa perbedaan golongan, ras, suku, dan kepercayaan jangan menjadi pemecah kehidupan bersama. Justru sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai anugerah Allah yang membawa kehidupan. Ingatlah, bahwa taman yang indah tidak pernah terisi oleh 1 warna tunggal, melainkan oleh beragam warna. Semakin banyak warna maka semakin indah taman itu. Demikianlah hidup kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk dapat menerima dan menghormati sesama kami yang berbeda dengan kami. Amin.

Sabtu, 19 Oktober 2024

bahan bacaan : Markus 9 : 38-41

Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan
38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. 41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Yesus Milik Semua Orang

Toleransi berarti menghormati dan menghargai perbedaan. Setiap orang memiliki cara tertentu untuk menyatakan imannya, misalnya : berkhotbah, mengajar dan melayani. Sikap toleransi menuntut kita untuk bisa menerima cara tersebut dan tidak bisa mengklaim kebenaran hanya pada diri kita. Hal ini  ditunjukkan oleh Yesus dalam perikop hari ini.  Tindakan kebaikan dan pelayanan (termasuk mengusir setan) yang dilakukan dengan nama-Nya, meskipun oleh orang yang berbeda dari sisi latar belakang kelompok , bagi Yesus tetap diterima (ay.39-40). Sikap Yesus ini berbeda dengan sikap Yohanes yang menolak pelayanan orang lain (bukan murid Yesus) dengan menggunakan nama Yesus (ay.38). Pesan teks, Kita harus mencontohi sikap Yesus bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber konflik dan perpecahan. Tidak boleh ada gereja yang merasa lebih baik dan lebih benar dari gereja lain. Sebaliknya, perbedaan harus dihargai demi membangun kerjasama dan persatuan, dimana semua orang dipanggil dalam pelayanan Gereja demi kemuliaan nama Tuhan.  

Doa: Roh Kudus anugerahkan hikmat bagi kami untuk membangun kerjasama yang baik. amin.

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2024, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar