Tema Bulanan : Bertumbuhlah Sebagai Gereja Yang Teguh
Tema Mingguan : Bertumbuh Dalam Kasih
Minggu, 09 Februari 2025
bahan bacaan : 1 Kor 13 : 1 – 13
Kasih
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. 3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. 4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. 9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. 10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. 13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Milikilah Kasih
Ada banyak hal yang terlintas dalam pikiran kita jika diperhadapkan dengan pertanyaan, apa yang paling penting dalam hidupmu? Atas pertanyaan itu kita dapat memberi jawaban misalnya: keluarga, karir, pelayanan, dll. Namun pada bagian bacaan kita, rasul Paulus hendak menegaskan bahwa tidak ada hal yang paling penting dalam hidup ini selain memiliki kasih (ay. 1-3). Kasih yang dimaksudkannya yaitu kasih agape yang menunjuk pada kasih Allah. Kasih itu sabar, baik hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu dan tidak berkesudahan (ay. 4-8), harus dimiliki sebagai orang percaya. Namun, apa yang menjadi alasan kita harus memiliki kasih? Sebab Allah yang kita sembah sudah lebih dahulu menyatakan kasih-Nya bagi kita. Kasih kepada Allah harus diwujudnyatakan dalam kehidupan antara sesama manusia maupun ciptaan-Nya yang lain. Biarlah kasih tidak hanya dipahami sebatas pengetahuan saja, melainkan dimiliki dan diterapkan dalam kehidupan keluarga, bergereja maupun bermasyarakat. Memang hal ini tidaklah mudah, akan tetapi mengupayakannya adalah tanggungjawab bersama sebagai orang-orang yang percaya kepada Allah. Oleh sebab itu bertumbuh dan milikilah kasih, sebab tanpa kasih dalam diri kita maka hal yang paling berharga sekalipun sesungguhnya tidak akan berarti.
Doa: Dengan kasihMu Tuhan, kami tetap berkomitmen supaya menghentikan pilih kasih. Amin.
Senin, 10 Februari 2025
bahan bacaan : Yakobus 2 : 8-9
8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. 9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Stop Pilih Kasih
Berdiri sama tinggi duduk sama rendah merupakan suatu ungkapan yang hendak menegaskan tentang kesetaraan manusia sebagai ciptaan. Oleh karena memiliki derajat yang sama, maka tidaklah baik dan benar jika sesama dibeda-bedakan hanya karena status sosial yang dimiliki. Ini jugalah yang dimaksudkan oleh penulis lewat nasihatnya yang mendorong jemaat kristen saat itu, supaya menjauhi hal-hal yang jahat dan mematuhi hukum Allah yang sempurna seperti menolong yatim piatu, para janda dan sesama yang membutuhkan. Sebab hanya dengan demikian menunjukkan keberadaan hidup mereka yang terus bertumbuh dalam kasih kepada sesama. Kasih itu jugalah yang menggerakkan agar kita tidak memandang rendah orang lain atau melakukan sesuatu dengan tidak memandang muka. Artinya kasih punya peranan yang penting bagi pribadi seseorang untuk menjalani kehidupan bersama dengan orang lain. Hal ini disampaikan sebab tindakan pilih kasih seringkali kita perankan baik secara sadar tetapi juga sebaliknya. Realita ini dapat di temui baik dari lingkungan keluarga, hidup bergereja dan bermasyarakat. Namun melalui firman ini kita diingatkan untuk tetap hidup dalam kasih dan tidak memandang muka hanya karena perbedaan status sosial. Teruslah mengasihi satu dengan yang lain dan tetap berkomitmen supaya menghentikan sikap pilih kasih.
Doa: Tuhan Yesus, tolong kami agar semakin bertumbuh dan memiliki kasih. Amin.
Selasa, 11 Februari 2025
bahan bacaan : Matius 5 : 43-48
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Mengasihi Tanpa Batas
Kasih yang kita miliki tidak hanya diperuntukkan bagi diri sendiri melainkan juga kepada sesama. Pertanyaannya, apakah kita akan tetap menyalurkan kasih itu kepada mereka yang juga adalah musuh kita? Memang hal ini tidak mudah dilakukan karena berbagai alasan yang mendasarinya. Akan tetapi dalam pengajaran-Nya di atas bukit Yesus berkata: kasihilah musuh-musuhmu (ay. 44a). Pernyataan Yesus kala itu hendak mengajarkan kepada pendengar-Nya tentang hal mengasihi secara utuh. Sebab menjadi anak-anak Allah tidak hanya mengasihi mereka yang juga mengasihi kita, tetapi mengasihi dengan tidak memandang bulu termasuk mengasihi musuh. Selanjutnya Yesus menegaskan agar pendengar-Nya juga mendoakan mereka yang menganiaya (ay. 44b). Artinya setiap perbuatan jahat tidak dibalas dengan jahat pula melainkan dengan kasih. Mengapa demikian? Sebab kasih tidak ada batasnya. Kendatipun sulit untuk dilakukan namun pengajaran Yesus ini harus dihidupi oleh semua orang yang percaya kepada-Nya. Melalui kebenaran firman Tuhan saat ini kita semua diajarkan untuk terus mengasihi semua orang dan mendoakan mereka yang dianggap musuh. Dengan begitu kita akan semakin bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak membatasi kasih, melainkan menyalurkannya secara utuh kepada semua orang. Biarlah kasih yang selalu kita nyatakan itu senantiasa dirasakan dan dialami juga oleh orang-orang yang berada di sekitar kita. Tetaplah berkomitmen untuk menjadi teladan kasih serta teruslah mengasihi semua orang tanpa batas sebab Allah tidak menghendaki kita membatasi kasih.
Doa: terima kasih Bapa, firmanMu mengajarkan kami untuk tetap saling mengasihi. Amin.
Rabu, 12 Februai 2025
bahan bacaan : Roma 13 : 8 – 14
Kasih adalah kegenapan hukum Taurat
8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. 11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. 12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! 13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. 14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.
Saling Mengasihi
Sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik, demikian juga semestinya kita memperlakukan orang lain. Dengan begitu perlakuan baik tidak hanya berjalan satu arah saja tetapi dua arah. Artinya hal-hal yang baik itu tidak dialami dan dirasakan oleh salah satu pihak saja melainkan oleh semua pihak. Demikian juga dengan nasihat Paulus bagi jemaat kristen di Roma tentang cara hidup mereka agar saling mengasihi sebagai sesama manusia. Bagi Paulus, orang yang hidup saling mengasihi sesungguhnya telah memenuhi hukum taurat (ay. 8). Pernyataan Paulus ini menunjukkan betapa pentingnya perihal saling mengasihi. Oleh sebab itu hal dimaksud benar-benar harus dihidupi oleh semua orang percaya. Jadi hal demikian tidak hanya sebatas wacana saja tetapi harus diwujudnyatakan dalam sikap, tutur kata dan perbuatan dari waktu ke waktu baik dalam lingkungan keluarga, gereja maupun masyarakat. Dengan adanya kesadaran untuk saling mengasihi membuat kita menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak dikehendaki Allah. Misalnya seperti yang disampaikan Paulus agar kita hidup jangan dalam pesta pora, bermabuk-mabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati (ay. 13). Karena itu mengasihi satu dengan yang lain harus tetap menjadi prinsip hidup yang terus dipertahankan. Tetap bertumbuh dalam kasih dan jadilah pribadi-pribadi yang saling mengasihi satu dengan yang lainnya.
Doa: mampukan kami Tuhan untuk mengasihi tanpa batas. Amin.
Kamis, 13 Februari 2025
bahan bacaan : 1 Petrus 2 : 16 – 17
16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
Jadilah Teladan
Menyandang identitas diri sebagai orang percaya tidak dapat dilepaspisahkan dari cara hidup yang baik dan benar. Artinya identitas dimaksud haruslah nyata terlihat dari karakter hidup kita. Dikatakan demikian karena ada banyak orang juga yang mengaku sebagai orang percaya tetapi cara hidupnya tidak mencerminkan identitas tersebut. Karena itu pada bagian bacaan kita, Petrus menasihati jemaat kristen saat itu agar tetap menerapkan cara hidup yang baik dalam menjalani kehidupan mereka sebagai hamba Allah. Ada beberapa hal yang ia ingatkan agar tetap menjadi perhatian antara lain hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah dan hormatilah raja (ay. 17). Pernyataan ini menunjukkan karakter hidup yang baik dan benar secara utuh. Disampaikan demikian sebab tidak hanya berkaitan dalam membangun relasi dengan Tuhan saja tetapi juga dengan sesama manusia. Dengan cara hidup yang demikian maka orang percaya telah memiliki kasih yang sesungguhnya dan dapat menjadi teladan bagi orang lain yang berada di sekitar mereka. Nasihatnya ini haruslah juga mendapat perhatian dan ditindaklanjuti oleh kita semua sebagai orang percaya di masa kini. Sebab hanya dengan demikian menunjukkan keberadaan hidup kita yang terus bertumbuh dalam kasih dan menjadi teladan bagi sesama. Pastikanlah karakter hidup yang kita tampilkan dalam kehidupan setiap hari, merupakan karakter yang mencerminkan kehidupan sesuai identitas kita sebagai orang percaya. Dengan cara hidup demikian kita dapat menjadi contoh atau teladan yang baik bagi semua orang yang berada di sekitar kita.
Doa: Roh Kudus, kuasailah kami agar menjalani hidup dengan tidak menghakimi. Amin.
Jumat, 14 Februari 2025
bahan bacaan : Matius 7 : 1 – 5
Hal menghakimi
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Jangan Menghakimi
Salah satu wujud nyata hidup kita yang terus bertumbuh dalam kasih yaitu ketika kita tidak saling menghakimi satu dengan yang lain. Inilah juga yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika mengajarkan orang banyak di atas bukit. Perintah agar jangan menghakimi nampak jelas ketika Ia berkata: mengapa engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (ay. 3). Maksudnya ialah agar kita tidak menghakimi orang lain sebelum melihat diri sendiri. Itu berarti perilaku yang suka menghakimi perlu dihindari. Hal ini dilakukan atas kesadaran, bahwa semua orang berdosa dan hanya Allah yang berhak untuk menghakimi. Kendatipun demikian perihal saling menghakimi masih terus dijumpai dalam realitas hidup orang percaya dewasa ini. Oleh karenanya, firman Tuhan saat ini sekali lagi mengingatkan kita agar jangan menghakimi supaya hal demikian juga tidak diperlakukan bagi kita (ay. 1). Dari pada terus-menerus melihat kesalahan orang lain, alangkah lebih baik bila kita membenahi diri dan saling mengasihi. Dengan begitu keberadaan hidup kita akan lebih berarti, sebab kita terus menebarkan energi positif bagi orang-orang di sekitar. Hindarilah perilaku menghakimi dan terus belajar mengintrospeksi diri dari waktu ke waktu. Berkomitmenlah untuk menaati firman Tuhan dengan tidak menghakimi melainkan lebih mengasihi semua orang sebagai sesama.
Doa: Ajarilah kami Tuhan agar tetap menjadi teladan yang baik bagi sesama. Amin.
Sabtu, 15 Februari 2025
bahan bacaan : Markus 10 : 17 – 27
Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah
17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
Bertumbuh Melalui Hidup Berbagi
Ani membawa anaknya Nia yang masih kecil ke gereja. Sebelumnya ia mengajari Nia memberikan persembahan. Hanya saja di hari Minggu itu, Nia menangis. Ani kebingungan dan menanyakan alasan ia menangis. Ternyata ia tidak mau memberi persembahan. Ia ingin membeli permen dengan uang itu. Kita mungkin akan berkata bahwa anaknya Ani masih kecil jadi ia belum memahami hakekat memberi. Tapi sesungguhnya apa yang diceritakan tidak beda jauh dengan kisah seorang kaya yang tidak mau berbagi. Semua kebaikan telah ia kerjakan tetapi kalau soal berbagi adalah hal yang tidak mau dilakukannya. Ia tidak rela bila harus membagi apa yang ia miliki dengan lain. Hartanya jauh lebih berharga dari apapun. Itulah sebabnya ia meninggalkan Tuhan Yesus dengan tidak mengikuti apa yang dikatakan-Nya. Perilakunya tidak mencerminkan keberadaannya bertumbuh sebagai gereja yang teguh yakni gereja yang hidup dengan saling berbagi.
Doa : Tuhan Yesus tolong kami agar tidak gelisah, Amin
*SUMBER : SHK FEBRUARI 2025, LPJ-GPM