Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 April 2025

Tema Bulanan : Sadar Dan Peka Sebagai Gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Berani Berkata Dan Bertindak Benar Sesuai Ajaran Yesus

Minggu, 6 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 18 : 19 – 24

19 Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya. 20 Jawab Yesus kepadanya: "Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. 21 Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." 22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?" 23 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?" 24 Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu.

Mengapa Engkau Menampar Aku, Jikalau Kataku Benar?
Tidak semua orang berani berkata dan bertindak benar. Berkata dan bertindak benar membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Di hadapan Imam Besar Hanas yang bertanya mengenai murid-muridNya dan ajaranNya, Tuhan Yesus menjawab bahwa Dia tidak pernah mengajar secara sembunyi-sembunyi. Ajarannya didengar dan diketahui bukan hanya oleh para murid tapi juga banyak orang. Sebab itu, Imam besar boleh menguji dari orang banyak yang mendengarkan ajaranNya, apakah yang diajarkan dan dilakukan itu benar atau tidak. Atas jawaban ini, Yesus ditampar oleh seorang penjaga. Ia pun menanggapi tamparan itu dengan bertanya, jikalau kataKu itu benar, mengapa engkau menampar Aku? Hanya karena berkata dan bertindak benar, Yesus ditampar. Pernahkah kita mengalami hal serupa? Karena berkata dan bertindak benar kita tidak disukai, ditentang bahkan mengalami penderitaan fisik. Sesuatu yang tidak adil dan tidak benar. Kita memang harus teguh, berani berkata dan bertindak benar meskipun di sekeliling begitu menakutkan dan mengancam. Jika kita tidak berani melakukannya, maka akan ada banyak ketidakadilan, penindasan dan ketimpangan yang terus dialami oleh orang-orang lemah, miskin dan susah.

Doa: ya Tuhan, mampukanlah agar kami kuat bertahan dalam derita karena nama Kristus, Amin

Senin, 7 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 8 : 12-20

Yesus adalah terang dunia
12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." 13 Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar." 14 Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. 15 Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun, 16 dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku. 17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; 18 Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku." 19 Maka kata mereka kepada-Nya: "Di manakah Bapa-Mu?" Jawab Yesus: "Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku." 20 Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saat-Nya belum tiba.

Bersaksi yang Benar Tentang Yesus
Bersaksi merupakan satu panggilan gereja yang kita terima dari Tuhan. Tentu, kita akan bersaksi tentang hal-hal yang benar, sama seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sepanjang pelayananNya di dunia. Ia bersaksi tentang kebenaran bahwa DiriNya adalah terang dunia, sehingga setiap orang yang mengikutiNya tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan melainkan akan mempunyai terang kehidupan. Kesaksian ini benar dan patut kita pegang. Tetapi kesaksian kita tidak cukup hanya dengan mengatakannya. Bagaimana caranya? Yaitulah dengan menjadi anak-anak terang, karena terang Kristus telah menerangi hati dan hidup kita. Itulah cara kita bersaksi. Ditengah dunia yang penuh dengan bayang-bayang kegelapan, kehadiran kita yang membawa terang diperlukan. Di tengah banyak kemelut dan penderitaan, kehadiran kita yang memberi sukacita dan pemulihan dibutuhkan. Sebab itu jagalah agar terang Kristus yang ada didalam diri kita tidak padam. Kristus berkata, “kamulah terang dunia’! Semoga dengan mendengarkan firman di hari ini, iman dan karya kesaksian kita diteguhkan. Semangat untuk terus bersaksi tentang yang baik dan benar semakin menggelora dalam segala situasi. Jadilah saksi-saksi Kristus yang sejati!

Doa: Tolong kami ya Tuhan agar bersaksi yang benar. Amin

Selasa, 8 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 8 : 21-29

Yesus bukan dari dunia ini
21 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." 22 Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" 23 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. 24 Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." 25 Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? 26 Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." 27 Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. 28 Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. 29 Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."

\Berkata dan Bertindak Benar Tentang Yesus

Yesus dengan tegas menyatakan kebenaran tentang diri-Nya dan menyampaikan konsekuensi bagi mereka yang menolak untuk percaya. Ia menyatakan bahwa asal-usul-Nya dari surga, meskipun orang-orang Yahudi tidak mempercayai-Nya. Ketika mereka bertanya, “Siapakah Engkau?”, Yesus pun menjawab dengan konsisten. Ia tidak mengubah perkataan-Nya hanya karena takut atau untuk menyenangkan orang lain. Yesus mengatakan bahwa ketika Ia “ditinggikan” (disalibkan), barulah mereka akan menyadari bahwa Ia adalah benar. Pengorbanan diri Yesus memang menjadi bukti nyata dari kebenaran perkataanNya. Sikap Yesus dalam teks ini memberikan keteladanan kepada kita untuk berani berkata dan bertindak benar sesuai dengan kehendak Allah, meskipun menghadapi penolakan atau tantangan. Orang lain terkadang meragukan dan mempertanyakan diri kita ketika menyampaikan sesuatu yang benar. Bahkan, kita mungin tidak disukai. Apalagi, jika mereka menganggap kita hanyalah orang biasa yang tak punya jabatan dan tidak memiliki banyak uang. Sekalipun demikian, kita harus tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran Kristen. Sebagai orang percaya, tindakan kita harus mencerminkan ajaran Yesus, sehingga orang lain dapat melihat kebenaran melalui hidup kita.

Doa: Tolong kami ya Tuhan agar dapat berkata dan bertindak yang benar. Amin

Rabu, 9 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 8 : 30 – 36

Kebenaran yang memerdekakan
30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. 31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." 33 Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

Kemerdekaan Murid yang Benar
Yesus menekankan bahwa kesetiaan pada firman Tuhan adalah tanda seseorang sebagai murid yang benar. Sebab, Firman Tuhan itu berisi kebenaran yang akan membimbing setiap orang untuk hidup benar. Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi tentang pentingnya hidup dalam kebenaran supaya mereka dapat mengalami kemerdekaan dari dosa. Kemerdekaan tersebut yakni bebas dari kebohongan, dosa, dan ketakutan. Ketika mendengar hal ini, orang-orang Yahudi melakukan penolakan dengan menyoalkan perkataan Yesus. Mereka menganggap sudah “bebas” sebagai keturunan Abraham, sehingga tidak memerlukan kemerdekaaan sekalipun datang dari Yesus Kristus. Anggapan tersebut merupakan suatu kebohongan dan penyangkalan diri. Yesus mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak pernah luput berbuat dosa. Mereka telah hidup sebagai hamba dosa. Sebagai murid Kristus, kita tidaklah sama dengan orang-orang Yahudi. Kita harus hidup dalam kebenaran yang memerdekakan kita sebagai muridNya. Kemerdekaan yang diperoleh melalui pengorbanan Yesus Kristus di salib, sehingga kita dapat berkata dan bertindak benar sesuai dengan ajaranNya.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami muridMu yang memperoleh kemerdekaan untuk melakukan kebenaran. Amin

Kamis, 10 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 8 : 37 – 47

Keturunan Abraham yang tidak berasal dari Allah

37 "Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. 38 Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu."39 Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. 40 Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. 41 Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." 42 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. 43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. 44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. 45 Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. 46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? 47 Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah."

Anak Abraham adalah Anak Allah, bukan Anak Iblis
Yesus sedang berdialog dengan orang-orang Yahudi yang mengklaim sebagai keturunan Abraham. Yesus menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham sejati bukan hanya soal garis keturunan biologis, tetapi lebih kepada hidup yang mencerminkan iman dan ketaatan kepada Allah. Hal ini menekankan bahwa iman ditunjukkan dalam tindakan, bukan hanya klaim keturunan atau status agama. Saat ini, orang Kristen harus hidup dengan iman yang murni kepada Allah sebagai Bapa. Ia tidak bisa hidup dalam imannya yang sempit dan mengaitkannya dengan hal-hal yang tidak benar. Salah satu yang sering terjadi yakni orang Kristen menganggap bahwa ia adalah keturunan bangsa Israel. Pada beberapa kesempatan, anak-anak muda Kristen terlihat memegang bendera Israel sebagai ungkapan kesamaan identitas. Tindakan ini dapat menyebabkan situasi hidup bersama yang damai menjadi terganggu. Hanya orang yang hidupnya dipengaruhi oleh Iblis yang bertindak demikian. Iblis selalu berusaha menipu manusia dengan kebohongan dan membawa manusia hidup dalam ketidakbenaran. Sebagai anak-anak yang memiliki Bapa yakni Allah dan Kristus perantaranya, harus berani melawan godaan untuk berbuat curang, berbohong, atau berlaku tidak adil, dan tetap setia kepada kebenaran firman Tuhan.

Doa: Tuhan, inilah kami, anak-anakMu! Tolonglah kami untuk mengatakan kebenaran-Mu. Amin

Jumat, 11 April 2025

bahan bacaan : Markus 14 : 53 – 65

Yesus di hadapan Mahkamah Agama
53 Kemudian Yesus dibawa menghadap Imam Besar. Lalu semua imam kepala, tua-tua dan ahli Taurat berkumpul di situ. 54 Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh, sampai ke dalam halaman Imam Besar, dan di sana ia duduk di antara pengawal-pengawal sambil berdiang dekat api. 55 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian terhadap Yesus supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya. 56 Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain. 57 Lalu beberapa orang naik saksi melawan Dia dengan tuduhan palsu ini: 58 "Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia." 59 Dalam hal inipun kesaksian mereka tidak sesuai yang satu dengan yang lain. 60 Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 61 Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" 62 Jawab Yesus: "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit." 63 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Untuk apa kita perlu saksi lagi? 64 Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?" Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati. 65 Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepada-Nya: "Hai nabi, cobalah terka!" Malah para pengawalpun memukul Dia.

Berani Menegakkan Kebenaran
Ketika Imam Besar bertanya, “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?”, Yesus dengan tegas menjawab, “Akulah Dia.” Jawaban ini menunjukkan bahwa Yesus tidak takut untuk menyatakan kebenaran, meskipun konsekuensinya adalah penderitaan dan kematian. Yesus menerima penderitaan dengan sabar dan tidak membela diri secara berlebihan, karena Dia tahu bahwa penderitaan-Nya adalah bagian dari rencana keselamatan Allah. Hal ini mengajarkan kita bahwa keberanian untuk berbicara benar harus tetap dipegang, meskipun ada risiko besar. Di sisi lain, nas ini juga menyoroti bagaimana dunia sering kali tidak menerima kebenaran. Mahkamah Agama mencari alasan untuk menghukum Yesus, meskipun kesaksian dari para saksi tidak konsisten. Lembaga yang bertanggung jawab menegakkan kebenaran ternyata bisa dikhianati oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya dengan melakukan ketidakbenaran. Penegakkan kebenaran memang bukanlah hal yang mudah. Namun, iman yang teguh kepada Tuhan sumber kebenaran, akan memampukan orang Kristen untuk melakukannya. Teks hari ini menceritakan suatu ketidakbenaran, namun pada akhirnya akan dipatahkan oleh kebenaran Tuhan dalam peristiwa kematian dan kebangkitanNya.

Doa: kuatkan iman kami Tuhan untuk menghadapi tekanan ketidakbenaran. Amin

Sabtu, 12 April 2025

bahan bacaan : Lukas 23 : 13 – 25

Yesus kembali di hadapan Pilatus
13 Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, 14 dan berkata kepada mereka: "Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. 15 Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. 16 Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya." 17 (Sebab ia wajib melepaskan seorang bagi mereka pada hari raya itu.) 18 Tetapi mereka berteriak bersama-sama: "Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!" 19 Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan. 20 Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. 21 Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: "Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!" 22 Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya." 23 Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka. 24 Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. 25 Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Hadapilah Tekanan ketidakbenaran dengan Iman

Teks bacaan hari ini menunjukkan bahwa Yesus yang tidak bersalah justru dihukum mati, sementara Barabas, seorang pemberontak dan pembunuh, dibebaskan. Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi ia tidak berani mengambil sikap yang benar. Ia memilih untuk menyenangkan orang banyak dengan mengikuti kepentingan politik daripada bertindak sesuai dengan kebenaran. Pilatus menghadirkan dirinya sebagai pemimpin yang pengecut karena dipenuhi ketakutan akibat tekanan sosial. Ia tidak berani berkata dan bertindak benar meskipun mengetahui kebenaran. Sebagai orang Kristen, hal ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak bersikap seperti Pilatus. Tekanan dalam bentuk apapun tidak boleh menggoyahkan iman kita untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Apalagi jika kita harus mengorbankan keadilan demi kepentingan pribadi. Kita harus belajar dari Yesus yang memberikan keteladanan dalam memperjuangkan kebenaran. Yesus tetap diam dan menerima penderitaan-Nya dengan taat. Akhir dari perjuanganNya untuk kebenaran, Yesus memperoleh kemuliaan. Hal ini mencerminkan bagaimana kebenaran seringkali ditolak oleh dunia, tetapi pada akhirnya, kehendak Allah tetap terlaksana dan yang benar pasti akan memperoleh kemenangan.

Doa: Tuhan, kuatkan iman kami supaya mampu untuk menegakkan kebenaran. Amin

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar