Santapan Harian Keluarga : 4 – 10 Mei 2025

Tema Bulanan : Kritik Diri dan Transformasi Sebagai Gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Pendidikan Untuk Keadilan

Minggu, 4 Mei 2025

bahan bacaan : Amos 5 : 7 – 13

Melawan perkosaan keadilan
7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 8 Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi--TUHAN itulah nama-Nya. 9 Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. 10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, --sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. 12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

Kenakan Perisai Keadilan Sebagai Sumber Kehidupan

Amos mengutarakan kemahakuasaan Tuhan atas kehidupan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Banyak sekali penyimpangan yang dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan terhadap mereka yang termaginal, terabaikan dan dipandang sebelah mata. Teks bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya melakukan kebaikan dan keadilan terhadap sesama. Sebab Tuhan Allah akan menghempaskan mereka yang berbuat tidak adil, dengan caraNya. Praktek ketidakadilan terhadap mereka yang kecil dan termarginal menjadi juga persoalan saat ini. Mereka yang termarginal tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka sendiri, bahkan pemenuhan hak-hak mereka pun sengaja diabaikan. Perlakuan tidak adil mereka peroleh dalam berbagai aspek, misalnya pemberian upah yang tidak adil, hak pendidikan yang tidak merata, dll. Terhadap kenyataan ini, kita harus sadar bahwa Tuhan itu Maha Adil. Ia menghendaki kita berlaku adil dan kita dapat memulainya dari keluarga. Kita membelajarkan hal keadilan sebagai orang tua yang mengasihi semua anak tanpa membeda-bedakan. Kita mengajarkan berbagi tugas rumah secara merata. Kita menumbuhkan pendidikan untuk keadilan yang berlangsung dalam iman kepada Tuhan yang hidup.

Doa: Ya Tuhan, karuniakanlah kepada kami, Roh melakukan Keadilan bagi sesama. Amin,

Senin, 5 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Samuel 25 : 32 – 35

32 Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; 33 terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. 34 Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu--jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing." 35 Lalu Daud menerima dari perempuan itu apa yang dibawanya untuk dia, dan berkata kepadanya: "Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik."

Kebijaksanaan Seorang Perempuan Yang Takut Tuhan

Hari ini kita merayakan HUT Perempuan GPM yang ke 57. Sesuai dengan Tema Mingguan : Terpujilah Perempuan GPM yang arif, kita pun diingatkan untuk tetap menjadi perempuan-perempuan Gereja yang bijaksana dan arif. Dalam teks hari ini, Abigail merupakan seorang istri yang cakap dan takut Tuhan telah menyelamatkan suaminya Nabal dari kemarahan Daud. Tindakan Nabal yang tidak hormat kepada Daud seharusnya berdampak padanya, tetapi atas kebaikan dan kerendahan hati istrinya Abigail, Nabal selamat. Sosok Abigail menjadi sosok perempuan dan istri yang patut diteladani. Ia melakukan tugasnya untuk menjaga keutuhan hidup rumah tangganya dan sebagai cara menghormati suami atau kepala keluarga. Di Perayaan HUT Perempuan GPM, kita dituntun untuk juga menjadi perempuan-perempuan yang bijaksana dan arif. Tak dapat disangkal, seringkali kita juga berhadapan dengan suami yang berperawakan seperti Nabal yakni kasar dan tidak menghargai istri, namun hal itu tidak dapat menjadi alasan untuk kita melakukan hal yang sama sebab jika demikian maka kehancuran rumah tangga akan kita alami. Untuk itu, prioritaskan kebaikan dalam rumah tanggamu walaupun jalan yang ditemui tidaklah mudah.

Doa: Ya Tuhan, jadikan kami bijaksana untuk menghadapi setiap persoalan. Amin

Selasa, 6 Mei 2025

bahan bacaan : Yehezkiel 18 : 1 – 9

Setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya
Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 3 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. 4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. 5 Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, 6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 7 tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, 8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, 9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia--ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

Baik Buruk Perbuatan Akan Dipertanggungjawabkan

Perihal bertanggungjawab atas apa yang dilakukan adalah keharusan setiap manusia. Yehezkiel 18:1-9 menekankan prinsip tanggung jawab pribadi dalam hubungan manusia dengan Allah, terutama dalam hal keadilan dan kebenaran. Pada masa itu, orang Israel memiliki anggapan bahwa mereka dihukum karena dosa nenek moyang mereka, seperti yang tercermin dalam peribahasa yang dikutip dalam Yehezkiel 18:2: “Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.” Namun, Allah melalui Yehezkiel menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Jika seseorang hidup dengan benar dan melakukan keadilan, ia akan hidup, tetapi jika ia berbuat dosa, ia sendiri yang menanggung akibatnya. Allah adil dalam menilai manusia. Ia tidak membiarkan orang benar binasa, dan Ia tidak menyelamatkan orang fasik tanpa pertobatan. Keadilan Allah memberi harapan bahwa siapa pun yang berbalik dari kejahatan dan hidup benar akan diselamatkan. Tindakan Keadilan dalam hidup sebagai orang yang benar, yaitu mereka yang tidak menyembah berhala, tidak menindas sesama, tetapi berlaku adil, tidak memeras atau mengambil riba. Hal Ini menekankan bahwa iman sejati harus disertai dengan tindakan keadilan sosial.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk bertanggung jawab melakukan keadilan. Amin

Rabu, 7 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Tim 6 : 11 – 16

Pesan penutup
11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. 12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. 13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: 14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, 15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. 16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

Hidup Benar Di Hadapan Allah
Memiliki keterbatasan dan kekurangan sebagai manusia, seringkali menjadi alasan ketika kita melakukan kekeliruan bahkan salah dalam bersikap maupun bertindak. Akan tetapi jika direnungkan kembali, hal demikian tidak dapat dibenarkan mengingat status kita sebagai anak-anak Allah. Karena status itu jugalah, mengakhiri suratnya ini Paulus tetap mengingatkan dan menasihati Timotius dan pemimpin-pemimpin jemaat agar selalu hidup benar di hadapan Allah. Itu berarti mereka harus menjauhkan diri dari berbagai kejahatan termasuk cinta uang yang akan membuat mereka menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka. Terhadap hal demikian, secara tegas Paulus menyampaikan agar mereka mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Cara hidup seperti ini penting diperhatikan dan dilakukan agar kita tidak semena-mena terhadap sesama. Untuk memahami semuanya itu harus didukung dan didorong oleh didikan serta pengajaran yang baik dan benar. Pengajaran dimaksud dapat dimulai dari dalam keluarga sebagai basis pembinaan yang pertama. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan orang tua untuk membimbing dan mengarahkan anggota keluarga lainnya, tentang cara hidup yang berkenan di hadapan Allah. Biarlah dengan didikan yang kita dapatkan selama ini mampu menjadikan kita memahami cara hidup yang benar dan adil.

Doa: Tuhan, kami mau berkomitmen agar hidup benar dan adil Amin.

Kamis, 8 Mei 2025

bahan bacaan : Mazmur 40 : 10 – 11

9 (40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. 10 (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Teruslah Suarakan Keadilan

Ada sekian banyak orang diantara kita yang tidak tanggung-tanggung menyuarakan tentang keadilan. Namun tidak sedikit pula yang bungkam bahkan tidak peduli dengan ketidakadilan yang terjadi dimana-mana. Padahal semua orang berhak mendapatkan keadilan dan semua orang juga berkewajiban menyuarakan keadilan. Terkait hal ini, pemazmur dalam bacaan kita telah memberikan contoh yang baik. Dalam doa dan ungkapan syukurnya, pemazmur mengaku dihadapan Tuhan tentang keberadaan dirinya yang tidak pernah menahan bibir untuk terus memberitakan keadilan. Untuk memperkuat perkataanya itu, ia menyampaikan bahwa terhadap perihal itu Tuhan juga mengetahuinya (ay. 10). Sekali lagi secara tegas pemazmur menyampaikan bahwa ia tidak pernah menyembunyikan keadilan, kesetiaan, karya keselamatan, kasih dan kebenaran yang berasal dari Tuhan kepada banyak orang (ay. 11). Pertanyaannya seberapa pentingkah kita turut menyuarakan keadilan dan hal-hal lainnya yang telah Allah nyatakan? Hal ini tentu saja memberikan dampak positif yang mengajarkan semua orang percaya agar juga memberitakan hal serupa dan menjadi orang-orang yang berlaku adil terhadap sesama. Tuhan telah lebih dahulu menyatakan keadilan-Nya bagi manusia, oleh sebab itu kita pun dituntut untuk berlaku adil dan terus bersuara untuk keadilan. Pergunakan kesempatan yang Allah berikan bagi kita dengan baik kepada semua orang tanpa terkecuali. Pastikanlah selalu bahwa kita tidak akan bungkam atau diam saja melainkan tetap menyampaikan suara Allah tentang keadilan.

Doa: Pakailah kami Tuhan sebagai alat untuk terus menyuarakan keadilan. Amin

Jumat, 9 Mei 2025

bahan bacaan : Kejadian 18 : 16 – 19

Doa syafaat Abraham untuk Sodom
16 Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. 17 Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? 18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Lakukanlah Perintah-Nya

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan. Mengapa demikian? Sebab melalui pendidikan kita dapat menghasilkan generasi-generasi selanjutnya yang berkualitas. Hal ini tentu tidak hanya terbatas diterapkan dalam pendidikan formal saja, melainkan harus dilakukan sejak dini dalam kehidupan keluarga. Itu sebabnya orang tua sedapat mungkin harus memainkan peranannya dengan baik. Peranan sebagai orang tua pun nampak jelas terbaca dalam bacaan kita saat ini ketika Abraham dipilih Allah. Selain Abraham telah ditetapkan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (ay. 18), ia juga telah dipilih supaya memerintahkan anak-anaknya dan keturunannya agar hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan dengan melakukan kebenaran dan keadilan (ay. 19). Tanggung jawab yang diperintahkan Tuhan kepada Abraham merupakan tanggung jawab yang harusnya juga diperankan oleh kita sebagai orang tua. Ini tentu saja bertujuan agar anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas hidupnya yakni melakukan yang benar dan adil. Pertanyaannya, apakah semua orang tua telah melakukan tanggung jawabnya ini dengan baik? Lakukanlah perintah-Nya dalam hari-hari hidup kita sebab hanya dengan demikian, kita telah setia dan taat kepada Allah serta menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.

Doa: Tuntun kami Tuhan, agar kami dimampukan untuk melakukan perintahMu. Amin.

Sabtu, 10 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Taw 18 : 14 – 17

Pegawai-pegawai Daud

14 Demikianlah Daud telah memerintah atas seluruh Israel, dan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya. 15 Yoab, anak Zeruya, menjadi panglima; Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara; 16 Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Sausa menjadi panitera; 17 Benaya bin Yoyada menjadi panglima orang Kreti dan orang Pleti; dan anak-anak Daud adalah orang-orang utama yang diperbantukan kepada raja.

Hentikan Ketidakadilan

Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas merupakan ungkapan yang menggambarkan ketidakadilan dalam penegakan hukum, di mana hukum cenderung keras terhadap rakyat kecil (tajam ke bawah) tetapi lunak terhadap orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kedudukan tinggi (tumpul ke atas). Itu berarti keadilan tidak diberlakukan merata kepada semua kalangan. Tindakan dimaksud acapkali kita temui, saksikan dan dengarkan baik dilingkungan sekitar maupun lewat media massa. Bahkan tidak jarang kita menjadi korban atau justru menjadi pelaku ketidakadilan. Kendati pun banyak pengalaman hidup yang kita alami, belajarlah dari Daud dalam bacaan kita hari ini! Bagian ini menceritakan tentang kepribadiannya menjadi seorang raja yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh bangsanya (ay. 14). Artinya dalam kepemimpinan Daud, kebenaran dan keadilan tidak timpang sebelah melainkan merata bagi semua orang yang di pimpinnya. Hal yang demikian juga diharapkan menjadi bagian karakter hidup kita sebagai pengikut-pengikut Kristus. Ini harus menjadi perhatian bersama, sebab ada banyak anak-anak Tuhan yang terjebak dalam sikap dan tindakan yang tidak benar dan tidak adil terhadap sesamanya. Namun melalui firman saat ini, kita diajarkan tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak. Pastikanlah bahwa kita akan menjadi pelaku-pelaku tindak kebenaran dan keadilan baik dalam lingkungan keluarga, di ruang lingkup pelayanan maupun dalam hidup bermasyarakat! Hentikanlah ketidakadilan sebab semua orang hanya ingin diperlakukan dengan benar dan adil!

Doa: kami percaya Tuhan Roh KudusMu menuntun kami berlaku benar dan adil . Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar