Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Juni 2025

Tema Bulanan : Advokasi Hak-Hak Komunitas Bumi sebagai gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Roh Kudus Memampukan Orang Percaya untuk Hidup Setara

Minggu, 08 Juni 2025

bahan bacaan I : Yoel 2:28-32;

Hari TUHAN
28 "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. 29 Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu. 30 Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. 31 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu. 32 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas."

bahan bacaan II : Kisah Para Rasul 2:1-13   

Pentakosta
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." 12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" 13 Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.

Hidup Setara dengan Kuasa Roh Kudus

Yoel 2:28 menyatakan bahwa Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya kepada “segala manusia”, tanpa memandang jenis kelamin, usia, atau status sosial. Hal ini menegaskan bahwa semua orang memiliki akses yang sama kepada Tuhan. Dalam tugas bersaksi dan melayani, setiap orang percaya memiliki peran penting. Ayat 32 menegaskan bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Keselamatan tersedia bagi semua orang tanpa diskriminasi. Seperti Yoel, dalam Kisah Para Rasul 2, hal kesetaraan juga dinyatakan ketika para murid menerima Roh Kudus. Tuhan mencurahkan kuasa itu tanpa memandang latar belakang mereka. Semua orang memiliki hak yang sama untuk menerima anugerah Roh Kudus. Orang-orang dari berbagai bangsa yang ada saat itu pun dapat mendengar para murid berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Pesan Injil ternyata tidak hanya untuk satu kelompok tertentu, tetapi untuk semua bangsa. Melalui peristiwa keturunan Roh Kudus, Tuhan menghancurkan batas-batas linguistik dan budaya, yang sebelumnya sering menjadi alasan perpecahan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menghormati dan memperlakukan semua orang dengan setara dan adil. Dalam kuasa Roh Kudus tidak ada perbedaan dalam kesempatan untuk bertumbuh, melayani.

Doa: Mampukanlah kami dengan Roh Kudus-Mu, ya Tuhan, untuk hidup setara. Amin  

Senin, 09 Juni 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37

Cara hidup jemaat
32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Hidup Berbagi Dalam Prinsip Kesetaraan

Bacaan hari ini menggambarkan kehidupan jemaat mula-mula yang hidup dalam kesatuan, berbagi segala sesuatu, dan tidak ada yang berkekurangan di antara mereka. Dalam konteks teologi, perikop ini memiliki makna mendalam tentang hidup setara dalam komunitas orang-orang beriman. Ayat 32 mengatakan jemaat hidup “sehati dan sejiwa,” ini menunjukkan bahwa iman kepada Kristus membawa persatuan yang melampaui status sosial atau ekonomi. Kesetaraan dalam komunitas Kristen bukan hanya teori, tetapi diwujudkan dalam sikap hidup yang saling peduli. Tidak ada yang menganggap miliknya sendiri, tetapi semuanya digunakan untuk kepentingan bersama. Yusuf yang disebut Barnabas menjadi contoh bagi kita. Tindakannya mencerminkan prinsip iman bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan dipanggil untuk mengelolanya demi kesejahteraan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi. Tanggung jawab mementingkan hidup bersama sebagai wujud hidup setara tentunya bukan hanya sebagai tindakan sosial, tetapi adalah bentuk nyata dari orang-orang yang hidupnya dipenuhi kasih dan dengan kuasa Roh Kudus  yang mengubah hidup.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk hidup berbagi dalam kesetaraan. Amin 

Selasa, 10 Juni 2025

bahan bacaan : Roma 8 : 12 – 17   

12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. 13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. 14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. 17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Hiduplah Menurut Roh!

Orang percaya tidak lagi terikat oleh keinginan daging, tetapi dipanggil untuk hidup dalam Roh. Sebab, hidup dalam daging membawa kematian, sementara hidup dalam Roh membawa kehidupan kekal. Mereka yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah, yang tidak lagi hidup dalam ketakutan sebagai budak, melainkan kebebasan sebagai anak-anak yang dapat berseru, “Abba, ya Bapa!”. Anak-anak Allah yang hidup dengan pimpinan Roh Allah tidak hidup dalam sikap mendiskriminasi dan saling membedakan satu dengan yang lain. Sebaliknya sebagai anak-anak Allah, Roh memampukan setiap orang untuk memiliki kesempatan yang sama datang pada Tuhan. Situasi saudara-saudara positif HIV yang masih mendapatkan perlakuan diskriminasi dari keluarga dan lingkungan membuktikan hidup beriman kita yang belum sungguh-sungguh memahami diri sebagai anak-anak Allah. Kita memang dipenuhi dengan kelemahan dan dosa, namun dengan selalu sadar sebagai anak-anak Allah, kita akan mengandalkan tuntunan Roh, sehingga keinginan Roh yang kita ikuti, bukan keinginan daging. Keinginan Roh pasti akan membawa kita pada keadilan dan kesetaraan dalam hidup.

Doa: ya Tuhan, berilah Roh-Mu untuk menuntun hidup kami sebagai anak-anak-Mu. Amin 

Rabu, 11 Juni 2025

bahan bacaan : Amsal 22 : 2

2 Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.

Orang Kaya dan Orang Miskin Sama Di Mata Tuhan

Teks Amsal hari ini hendak menyatakan kepada kita bahwa Tuhan adalah pencipta semua manusia tanpa memandang status sosial. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam nilai intrinsik manusia di hadapan Allah. Hal ini searah dengan konsep penciptaanNya yang menjadikan manusia serupa dan segambar denganNya. Perbedaan status sosial tidak boleh menjadi alasan untuk diskriminasi atau ketidakadilan. Orang kaya tidak boleh sombong, dan orang miskin tidak boleh merasa rendah diri. Semua yang ada pada manusia terjadi dalam ijin Allah, sehingga sekalipun secara fisik nampak berbeda, namun di mata Allah semuanya sama. Perbedaan ini hanya bersifat sementara dan bertujuan supaya mereka yang memiliki lebih banyak sumber daya memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang kekurangan. Pengamsal mengatakan “Tuhanlah yang menjadikan mereka semua” sebagai penegasan tentang kedaulatan Tuhan yang bisa mengubah situasi hidup setiap manusia. Sama seperti kata Pengkhotbah bahwa semua ada waktunya, demikianlah maksud Tuhan di dalam kedaulatanNya. Karena itu, baik orang kaya maupun orang miskin harus hidup bersyukur dan saling membangun untuk mewujudkan hidup bersama yang harmonis.

Doa: Tuhan, ajarlah kami bersyukur dan mempergunakan pemberianMu untuk kebaikan bersama. amin

Kamis, 12 Juni 2025

bahan bacaan : Amsal 24 : 23 – 26

23 Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak. Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik. 24 Siapa berkata kepada orang fasik: "Engkau tidak bersalah", akan dikutuki bangsa-bangsa, dilaknatkan suku-suku bangsa. 25 Tetapi mereka yang memberi peringatan akan berbahagia, mereka akan mendapat ganjaran berkat. 26 Siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir.

Berlakulah Adil!

Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam keadilan dan tidak memihak karena status sosial, ekonomi, atau latar belakang seseorang. Panggilan tersebut berlangsung dalam setiap ruang kehidupannya, termasuk pada lembaga-lembaga pengadilan. Seorang warga bina di salah satu rumah tahanan mengungkapkan situasi sidang hingga keputusan yang dialami oleh mereka kadang tidak adil. Realita ini tentunya sangat miris bagi seseorang yang menyebutkan dirinya Kristen dan melakukan pekerjaan sebagai penegak keadilan. Tempat tersebut mestinya menjadi ladang pelayanan untuk menyaksikan Tuhan yang diimaninya sebagai Tuhan yang berpihak pada kebenaran dan keadilan. Sayangnya, karena kepentingan diri dan kelompok terkadang panggilan untuk hidup adil diabaikan. Kitab Amsal ini menegaskan bahwa menyebut orang fasik tidak bersalah berarti sama dengan ia mendukung ketidakadilan. Hal ini berlawanan dengan prinsip kebenaran Tuhan. Setiap orang percaya harus berani menegur ketidakadilan, meskipun itu sulit atau tidak populer. Sebab,Tuhan memberkati orang yang menegur ketidakbenaran dan menegakkan keadilan. Orang percaya juga harus membangun hubungan yang setara dan saling menghormati dengan kejujuran. Perkataan yang jujur membawa pada kedekatan dan harmoni.

Doa : Tuhan mampukanlah kami untuk hidup adil satu dengan yang lain. Amin

Jumat, 13 Juni 2025

bahan bacaan : Yakobus 2 : 1 – 4 

Jangan memandang muka
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. 2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, 3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", 4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Stop Diskriminasi!

Sebagai tubuh Kristus, gereja menjadi tempat dimana semua orang diterima dengan kasih tanpa diskriminasi. Yakobus 2:1 menyatakan bahwa iman kepada Kristus harus selaras dengan sikap yang tidak memandang muka. Hal ini berarti bahwa dalam hidup persekutuan, semua orang diperlakukan setara tanpa diskriminasi. Ayat 2-3 menggambarkan situasi di mana orang kaya diperlakukan dengan hormat, sementara orang miskin diabaikan. Situasi ini mencerminkan kecenderungan manusia untuk lebih menghormati mereka yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Sikap ini bertentangan dengan ajaran Kristus yang menghargai semua orang tanpa melihat statusnya. Sebab membeda-bedakan orang berarti memiliki “pikiran yang jahat.” Dengan kata lain, orang yang berbuat demikian adalah orang yang hidupnya senantiasa berlangsung dalam dosa. Tidaklah demikian bagi kita yang sudah mengalami keselamatan dari penebusan Yesus Kristus. PengorbananNya di salib merupakan bukti, kasih kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan. Karena itu, seharusnya demikian pula kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kita harus hidup dengan pikiran yang baik, yang sehat atau yang penuh kasih.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk hidup dalam kasih dan tidak melakukan diskriminasi. Amin. 

Sabtu, 14 Juni 2025

bahan bacaan : Amsal 28 : 21

21 Memandang bulu tidaklah baik, tetapi untuk sekerat roti orang membuat pelanggaran.

Jangan Memandang Bulu!

Memandang bulu atau pilih kasih menunjuk kepada sikap atau tindakan yang tidak adil kepada orang lain. Tindakan ini disebabkan oleh faktor status sosial, ikatan emosional/kedekatan dan latar belakang yang “serupa” atau “lebih baik”. Misalnya: orang yang memiliki jabatan tinggi, orang kaya, teman dekat, keluarga dekat, se-agama, se-budaya, se-suku atau se-pendidikan seringkali diperlakukan dengan sangat istimewa dibandingkan dengan orang lain. Sikap pandang bulu ini dapat menyebabkan ketidakadilan yang dapat merusak hubungan antar sesama berdasarkan faktor-faktor di atas. Oleh karena itu, penulis kitab Amsal menasehati kita agar “jangan memandang bulu” karena akan melahirkan ketidakadilan yang memicu konflik diantara pribadi atau kelompok yang merasa dirugikan. Penting bagi kita untuk berlaku adil dan menghargai semua orang tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Tindakan ini harus dimulai dari keluarga, misalnya: orang tua tidak boleh pilih kasih diantara anak-anak.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk tidak bersikap pandang bulu, Amin 

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar