Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang
Tema Mingguan : Pengendalian diri : Wujud Ketaatan kepada Tuhan
Minggu, 20 Juli 2025
bahan bacaan : 1 Samuel 26 : 1-25
Untuk kedua kalinya Daud membiarkan Saul hidup
Datanglah orang Zif kepada Saul di Gibea serta berkata: "Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara." 2 Lalu berkemaslah Saul dan turun ke padang gurun Zif dengan tiga ribu orang yang terpilih dari orang Israel untuk mencari Daud di padang gurun Zif. 3 Berkemahlah Saul di bukit Hakhila yang di tepi jalan di padang belantara, sedang Daud tinggal di padang gurun. Ketika diketahui Daud, bahwa Saul datang mengikuti dia ke padang gurun, 4 disuruhnyalah pengintai-pengintai, maka diketahuinyalah, bahwa Saul benar-benar datang. 5 Berkemaslah Daud, lalu sampai ke tempat Saul berkemah. Waktu Daud melihat tempat Saul berbaring dengan Abner bin Ner, panglima tentaranya, --Saul berbaring di tengah-tengah perkemahan, sedang rakyat berkemah sekelilingnya-- 6 berbicaralah Daud kepada Ahimelekh, orang Het itu, dan kepada Abisai, anak Zeruya, saudara Yoab, katanya: "Siapa turun bersama-sama dengan aku kepada Saul ke tempat perkemahan itu?" Jawab Abisai: "Aku turun bersama-sama dengan engkau." 7 Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya. 8 Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali." 9 Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?" 10 Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. 11 Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi." 12 Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak. 13 Setelah Daud sampai ke seberang, berdirilah ia jauh-jauh di puncak gunung, sehingga ada jarak yang besar antara mereka. 14 Dan berserulah Daud kepada tentara itu dan kepada Abner bin Ner, katanya: "Tidakkah engkau menjawab, Abner?" Maka jawab Abner, katanya: "Siapakah engkau ini yang berseru-seru kepada raja?" 15 Kemudian berkatalah Daud kepada Abner: "Apakah engkau ini bukan laki-laki? Siapakah yang seperti engkau di antara orang Israel? Mengapa engkau tidak mengawal tuanmu raja? Sebab ada seorang dari rakyat yang datang untuk memusnahkan raja, tuanmu itu. 16 Tidak baik hal yang kauperbuat itu. Demi TUHAN yang hidup, kamu ini harus mati, karena kamu tidak mengawal tuanmu, orang yang diurapi TUHAN itu. Sekarang, lihatlah, di mana tombak raja dan kendi yang ada di sebelah kepalanya?" 17 Saul mengenal suara Daud, lalu ia berkata: "Suaramukah itu, anakku Daud?" Jawab Daud: "Suaraku, tuanku raja." 18 Lalu berkatalah ia: "Mengapa pula tuanku mengejar hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan yang melekat pada tanganku? 19 Oleh sebab itu, kiranya tuanku raja mendengarkan perkataan hambanya ini. Jika TUHAN yang membujuk engkau melawan aku, maka biarlah Ia mencium bau korban persembahan; tetapi jika itu anak-anak manusia, terkutuklah mereka di hadapan TUHAN, karena mereka sekarang mengusir aku, sehingga aku tidak mendapat bagian dari pada milik TUHAN, dengan berkata: Pergilah, beribadahlah kepada allah lain. 20 Sebab itu, janganlah kiranya darahku tertumpah ke tanah, jauh dari hadapan TUHAN. Sebab raja Israel keluar untuk mencabut nyawaku, seperti orang memburu seekor ayam hutan di gunung-gunung." 21 Lalu berkatalah Saul: "Aku telah berbuat dosa, pulanglah, anakku Daud, sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu, karena nyawaku pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku itu bodoh dan aku sesat sama sekali." 22 Tetapi Daud menjawab: "Inilah tombak itu, ya tuanku raja! Baiklah salah seorang dari orang-orangmu menyeberang untuk mengambilnya. 23 TUHAN akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN. 24 Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan aku dari segala kesusahan." 25 Lalu berkatalah Saul kepada Daud: "Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya." Lalu pergilah Daud meneruskan perjalanannya dan pulanglah Saul ke tempatnya.
Pengendalian Diri: Wujud Ketaatan kepada Tuhan
Ada beberapa area dalam diri kita yang perlu dijaga. Pikiran, mata, pendengaran, ucapan dan tindakan. Semuanya saling berkaitan dan menuntut adanya pengendalian diri. Agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Menyeimbangkan area dalam diri tidak hanya mendatangkan dampak positif, namun juga berguna untuk membangun hubungan dengan orang lain. Meminimalkan resiko konflik serta membuat hidup kita lebih produktif. Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita tentang pentingnya pengendalian diri sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Itulah yang ditampilkan oleh Daud yang untuk kedua kalinya membiarkan Saul hidup. Daud memiliki banyak alasan dan kesempatan untuk membunuh Saul, namun hal itu tidak dilakukannya. Dalam tuntunan roh Tuhan, ia masih mampu mengendalikan dirinya dan tidak berlaku jahat terhadap Saul. Pengendalian diri adalah salah satu bentuk kecerdasan emosional. Orang yang dapat mengendalikan dirinya akan mampu memberi batasan pada apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan, apalagi jika itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena itu kita harus belajar untuk terus mengendalikan diri agar ucapan dan tindakan kita tidak melukai bahkan menghancurkan orang lain dan diri kita sendiri. Hal itu kita lakukan sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan.
Doa: Tuhan, tolong kami untuk mengendalikan diri, amin.
Senin, 21 Juli 2025
bahan bacaan : Mazmur 37 : 1-9
Kebahagiaan orang fasik semu
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; 2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. 3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, 4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; 6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. 7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. 8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. 9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.
Hidup Sesuai Kehendak Tuhan
Mazmur 37 berbicara tentang pengajaran, bagaimana seseorang harus bersikap di tengah dunia yang seakan-akan tidak adil di mana hidup orang fasik seakan-akan lebih baik dari hidup orang benar. Sehingga orang benar dituntut untuk bisa bersikap bijaksana dalam menilai apa yang nampaknya seakan ada ketidakadilan. Dalam ayat 1 pemazmur ingatkan: janganlah marah, jangan iri hati. Kenapa ada perkataan ini? karena kalau kita membaca ayat-ayat selanjutnya tersirat bahwa orang fasik, orang yang berbuat curang itu kelihatan kehidupannnya lebih baik daripada orang benar. Terhadap kehidupan orang fasik ini, kita diminta untuk jangan marah dan iri hati kepada mereka. Pada saat kita melihat kehidupan orang lain lebih baik dari hidup kita, jangan iri hati meskipun kesuksesan yang mereka peroleh mungkin dengan cara-cara yang tidak benar/curang. Tetaplah lakukan yang baik, artinya bahwa kita tetap melakukan apa yang menjadi baik dan benar dalam pandangan Tuhan sambil tetap menyerahkan hidup kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang mengambil kendali dalam kehidupan kita, karena ada janji-Nya. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Hiduplah sesuai dengan kehendak Tuhan, jangan marah dan tinggalkanlah panas hati.
Doa: Tuhan, kami mau hidup seturut dengan kehendakMu Tolonglah kami. Amin.
Selasa, 22 Juli 2025
bahan bacaan : Amsal 15 : 1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.
Perkataan yang Lemah Lembut
Belajar dari nasehat Salomo, seorang raja penuh hikmat yang mengatakan: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah” (ay 1) . Bila kita bisa menahan diri dan menanggapi perkataan dan tindakan yang negatif dengan ketenangan dan lemah lembut, maka kita akan terhindar dari banyak konflik dan persoalan yang tidak perlu. Tidak jarang kita mendengar ada banyak pernikahan yang mengalami masalah hanya karena suami atau isteri, atau keduanya, tidak dapat menahan perkataannya .Hubungan pertemanan yang baik pun dapat timbul konflik hanya dari perkataan-perkataan yang kurang bijak. Kata-kata yang lembut dan bijaksana bisa menjadi obat bagi hati yang terluka dan membangun jembatan dalam hubungan. Di sisi lain, perkataan yang tajam dan kasar hanya akan memperburuk keadaan, menciptakan rasa sakit dan permusuhan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah-tengah dunia ini. Dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip kasih dan pengampunan, kita dapat menjadi saksi Kristus. Mari berdiam diri sejenak dan berdoalah, minta pimpinan Roh Kudus untuk menguasai hati, pikiran dan perkataan kita agar dapat memberi jawaban yang lemah lembut sehingga kita terhindar dari konflik yang tidak perlu.
Doa: Tuhan bantu kami mengendalikan emosi dan perkataan kami. Amin.
Rabu, 23 Juli 2025
bahan bacaan : Amsal 11 : 12
12 Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.
Menghina Sesama Tidak Berakal Budi
Amsal dalam bacaan hari ini mengingatkan agar tidak menjelek-jelekkan atau menghina sesama. Orang bijak tidak akan menghina orang lain dalam hati atau dengan kata-kata. Mereka akan menahan diri untuk tidak mengatakan kata-kata yang merendahkan atau mengejek. Mereka tahu bahwa pada diri setiap orang, ada kelebihan dan kelemahannya. Kekurangan atau kelemahan yang dimiliki seseorang jangan dijadikan bahan ejekan atau hinaan. Orang bijaksana akan menunjukkan kasih dan rasa hormat. Mereka mampu berdiam diri dan tidak terlanjur mengeluarkan perkataan. Itulah tanda orang berakal budi. Apa yang menjadi nasehat dan peringatan pengamsal ini penting untuk kita ingat dan lakukan. Semua manusia diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama dan patut dihargai. Semua manusia hadir di dunia atas kehendak Tuhan dan menyandang tugas untuk hidup bersama dengan manusia lain. Mengelola kehidupan ini agar tercipta kehidupan yang damai dan penuh sejahtera. Sebab itu jangan suka meninggikan diri lalu merendahkan orang lain apalagi menghinanya. Menghina sesama berarti menghina Tuhan sebagai Penciptanya. Manusia yang menghina Penciptanya adalah manusia yang tidak berakal budi.
Doa: Tuhan berilah kami akal budi yang baik untuk tidak menghina sesama, Amin.
Kamis, 24 Juli 2025
bahan bacaan : 2 Raja-Raja 6 : 19-23
19 Kemudian berkatalah Elisa kepada mereka: "Bukan ini jalannya dan bukan ini kotanya. Ikutlah aku, maka aku akan mengantarkan kamu kepada orang yang kamu cari." Lalu diantarkannya mereka ke Samaria. 20 Segera sesudah mereka sampai ke Samaria berkatalah Elisa: "Ya TUHAN, bukalah mata orang-orang ini, supaya mereka melihat." Lalu TUHAN membuka mata mereka, sehingga mereka melihat, dan heran, mereka ada di tengah-tengah Samaria. 21 Lalu bertanyalah raja Israel kepada Elisa, tatkala melihat mereka: "Kubunuhkah mereka, bapak?" 22 Tetapi jawabnya: "Jangan! Biasakah kaubunuh yang kautawan dengan pedangmu dan dengan panahmu? Tetapi hidangkanlah makanan dan minuman di depan mereka, supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka." 23 Disediakannyalah bagi mereka jamuan yang besar, maka makan dan minumlah mereka. Sesudah itu dibiarkannyalah mereka pulang kepada tuan mereka. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel.
Hikmat Allah Menjauhkan Kita dari Perbuatan Jahat
Selain kehadiran dan perlindungan Allah, kisah ini juga menyingkapkan hikmat Allah yang luar biasa. Pasukan Aram yang telah dibutakan matanya digiring ke Samaria, ibukota Israel utara. Secara manusia, seperti yang ditunjukkan oleh sikap Raja Israel, pasukan Aram itu sebaiknya dibinasakan. Namun dalam kisah ini, Elisa yang diberi hikmat Allah, justru meminta Raja agar jangan melakukan yang jahat, sebaliknya menyiapkan pesta untuk menjamu musuh-musuh mereka, sebelum menyuruh mereka pulang ke negerinya. Sejak saat itu tidak ada lagi gerombolan Aram memasuki negeri Israel. Akhirnya kehidupan mereka menjadi damai karena mereka mengikuti hikmat Allah melalui nasehat nabi. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita agar janganlah menaruh dendam atau membalas kejahatan dengan kejahatan.Mendendam menghambat kelancaran aktifitas karena terbawa oleh pikiran untuk membuat hati menjadi puas bila dendam terbalaskan. Kalau kita tidak dapat menahan diri untuk membalas maka akan terbuka kemungkinan untuk kita berlaku jahat. Karena itu jangan membenci orang lain karena kesalahan tau kejahatan yang pernah dilakukannya. Bencilah perbuatan jahatnya dan yakinlah, ganjaran dan nama baik menanti para pemaaf.
Doa: Tuntun kami Tuhan, agar tidak membalas dendam,. Amin.
Jumat, 25 Juli 2025
bahan bacaan : Amsal 19 : 11
11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.
Akal Budi Membuat Panjang Sabar
Emosi yang tidak terkendali seringkali menyebabkan kerugian daripada memberikan manfaat. Kita perlu melatih diri untuk mengendalikan emosi, seperti misalnya kemarahan. Tuhan memberikan kita akal budi untuk berpikir bagaimana seharusnya kita berkata dan bertindak. “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran”, demikianlah ditulis dalam nas hari ini. Disini penulis kitab Amsal memberi nasehat bijak tentang perilaku hidup yang harus dimiliki oleh orang berhikmat berakal budi. Jika ada orang yang menyakiti, janganlah saling membalas, baik dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan. Tetapi sebaliknya hendaklah mengasihi dengan sabar dan memaafkan pelanggaran. Hal ini akan menyelamatkan diri sendiri dan juga sesama kita dari kecendrungan untuk saling menghakimi. Hal penting adalah orang yang berakal budi akan lebih panjang sabar dan kemuliaannya adalah memafkan pelanggaran orang lain. Itulah pekerjaan Roh Tuhan didalam dirinya. Marilah kita menjadi orang-orang yang lebih berakal budi dengan melatih kepanjang sabaran kita dari hari ke hari.
Doa: Tuhan tolong kami untuk selalu sabar. Amin
Sabtu, 26 Juli 2025
bahan bacaan : Amsal 14 : 16-17
16 Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman. 17 Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.
Kendalikan Diri, Jangan Lekas Naik Darah
Pernahkah kita merasa tidak mampu mengendalikan emosi atau kemarahan terhadap orang lain? Ya, pasti kita pernah merasakannya. Dalam kondisi demikian, kata-kata yang dikeluarkan tidak dapat dikontrol atau bahkan emosi kita berujung dalam tindakan yang merusak. Itulah sebabnya pengendalian diri merupakan satu hal penting yang mesti kita miliki. Pengendalian diri membuat kita tahu ada batasan untuk sesuatu yang harus dikatakan atau dilakukan. Penulis Amsal mengingatkan dalam bacaan hari ini. “Siapa lekas naik darah bertindak bodoh, tetapi orang bijak bertindak hati-hati”. Kata lekas menunjuk pada ketidakmampuan seseorang mengendalikan diri atau emosinya.Orang yang lekas marah mempermalukan diri sendiri dan lebih dari itu dapat pula melukai hati orang lain. Pengendalian diri dapat dimulai dengan mengontrol kemarahan dalam diri kita. Jangan biarkan kemarahan mengontrol diri kita atau kita mejadi lekas naik darah. Jika kita dapat mengendalikan diri, pikiran menjadi jernih dan tindakan tetap baik. Marilah memulai aktifitas di hari ini dengan belajar menjadi orang bijak yang tahu mengendalikan amarah, agar kita perkataan maupun tindakan yang dilakukan tetap terkontrol dan berkenan menjadi berkat bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Doa: Ya Bapa, berilah kami kemampuan mengendalikan amarah dalam diri, amin.
*SUMBER : SHK BULAN JULI 2025, LPJ-GPM