Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang
Tema Mingguan : Hidup bagi Allah dan Mati Terhadap Dosa
Minggu, 27 Juli 2025
bahan bacaan : Roma 6 : 1-14
Mati dan bangkit dengan Kristus
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? 2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? 3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. 6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. 8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. 9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. 10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. 11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. 12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. 14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
Mati Terhadap Dosa dan Hidup bagi Allah
Selamat hari minggu dan selamat beribadah kepada Tuhan. Kita sungguh bersyukur atas anugerah kehidupan yang masih Tuhan berikan. Anugerah yang memungkinkan kita dapat terus hidup, bekerja dan melayani untuk memuliakanNya. Hari ini melalui surat yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, kita semua diingatkan akan anugerah Allah yang besar ini. Anugerah yang nyata melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus bagi kita sehingga keselamatan kekal dapat diperoleh. Ketika kita telah menerima anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita harus meresponinya dengan berjuang untuk hidup kudus sesuai dengan kehendak-Nya. Mulailah dengan cara mati terhadap dosa. Itu artinya dalam menjalani kehidupan hari ini dan seterusnya, kita harus berhenti menuruti kehendak dosa. Kita tidak lagi mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, kita harus membiarkan Roh Kudus berdiam didalam diri kita untuk menuntun dan memampukan kita hidup bagi Allah di dalam kekudusan-Nya. Mintalah kuasa Roh Kudus menolong agar tubuh kita berkenan dipakai oleh Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran, sehingga kehidupan yang kita jalani benar-benar berbeda. Kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sebagai wujud syukur atas anugerah keselamatan yang telah diterima.
Doa: Kami mau hidup bagiMu ya Tuhan dan mati terhadap dosa,, amin
Senin, 28 Juli 2025
bahan bacaan : Amsal 11 : 19
19 Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian.
Berpegang pada Kebenaran, Menuju Hidup
Menjalani kehidupan ini, kita sering dihadapkan pada situasi atau kondisi yang tidak mudah antara harus memilih mengikuti kebenaran Tuhan ataukah mengikuti apa yang dianggap benar oleh dunia ini. Sering kita temui dalam aktifitas kerja tiap hari ada begitu banyak godaan untuk berlaku tidak benar atau tidak jujur demi memperoleh keuntungan pribadi. Dalam pergaulan misalnya, kadang juga kita tergoda untuk mengikuti arus hanya supaya dapat diterima oleh orang lain. Namun, jika kita tahu bahwa itu semua salah dan bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita harus berani memilih untuk berada dalam jalan kebenaran. Meskipun untuk itu kita menghadapi masalah atau penolakan dari orang lain. Nas bacaan hari ini merupakan nasehat bijak dari penulis Amsal yang mengingatkan kita agar tidak lari mengejar kejahatan, sebaliknya tetap berpegang pada kebenaran. Alasannya jelas, berpegang pada kebenaran akan menuju kehidupan. Siapa mengejar kejahatan menuju kematian. Tidak ada diantara kita yang suka menuju kematian. Sebab itu berpeganglah pada kebenaran dan hidup didalamnya. Jadikanlah firman Tuhan sebagai sandaran kita, niscaya kehidupan yang baik akan kita dapatkan.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berpegang pada kebenaranMu yang menuju kehidupan, Amin
Selasa, 29 Juli 2025
bahan bacaan : Zakharia 8 : 14-17
14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: "Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam, 15 maka pada waktu ini Aku kembali bermaksud berbuat baik kepada Yerusalem dan kepada kaum Yehuda. Janganlah takut! 16 Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. 17 Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN."
Menegakkan Kebenaran Sebagai Kematangan Moral
Zakharia menegaskan bahwa Allah yang dahulu menjatuhkan hukuman karena dosa umat-Nya, kini kembali berniat melimpahkan berkat dan pemulihan. Hal Ini menunjukkan kasih Allah yang mau memulihkan dan membentuk kembali umat-Nya. Bahkan di dalam penghukuman yang dijalani oleh Bangsa Israel, kasih Allah tak berkurang sebab rencana keselamatanNya pasti digenapi. Karya Allah yang memulihkan dan menyatakan kasihNya ini, harus ditanggapi oleh bangsa Israel dengan perubahan hidup secara total. Melakukan transformasi etis dan sosial merupakan salah satu bentuk perubahan yang diharapkan terjadi dalam kehidupan Bangsa Israel. “Berkata benar….dan tegakkanlah hukum yang benar…”(ayat 16) menegaskan tentang nilai kebenaran dan kejujuran sebagai dasar dari relasi antar umat yang harus diprioritaskan. Kesadaran diri untuk mengalami perubahan sikap etis ini mengingatkan setiap orang percaya bahwa Allah tidak hanya menuntut kesetiaan pada aspek ritual, tetapi perilaku yang benar dalam relasi dengan sesama harus menjadi bentuk nyata dari pemaknaan terhadap yang ritual itu. Jadi, sesungguhnya kebenaran harus dikatakan dan diperjuangkan, bukan sekadar didengar dan dipikirkan. Hal ini sekaligus membuktikan kematangan moralitas orang beriman.
Doa: Tuhan, Tuntunlah kami dengan Roh-Mu untuk terus mengalami kematangan moralitas. Amin
Rabu, 30 Juli 2025
bahan bacaan : Matius 5 : 33-37
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Jangan Bersumpah Palsu
Nas hari ini merupakan Khotbah Tuhan Yesus di Bukit. Ia memberikan pengajaran tentang jangan bersumpah palsu. Pada zaman Yesus, orang Yahudi terbiasa dengan sumpah yang rumit yakni bersumpah demi bait suci, demi langit, dan demi bumi. Mereka melakukan ini untuk menghindari menyebut nama Allah secara langsung. Tapi kebiasaan ini bisa dimanipulasi untuk berbohong atau membenarkan sesuatu yang keliru. Yesus mengecam kebiasaan ini, karena menciptakan celah untuk sumpah palsu yang terselubung. Ia menunjukkan bahwa seluruh ciptaan adalah milik Allah, dan semua perkataan manusia ada di hadapan-Nya.Yesus menuntut ketulusan hati, bukan hanya ketaatan lahiriah terhadap aturan. Penegasan tentang hal bersumpah palsu bukan sekadar soal ucapan, tetapi tentang konsistensi antara kata dan tindakan. Yesus berkata bahwa ucapan “ya” harus berarti “ya”, dan “tidak” harus berarti “tidak”. Artinya, komunikasi orang percaya harus benar, jujur dan bebas dari manipulasi. Dengan kalimat lain, mengandalkan sumpah bisa menjadi tanda bahwa kata-kata biasa tidak dapat dipercaya. Bahkan, menggunakan sumpah untuk membangun reputasi sangat bersifat manipulatif dan tidak jujur. Karena itu, sebagai orang percaya jangan bersumpah palsu!
Doa: Tuhan, tolonglah kami dengan Roh-mu agar tidak bersumpah palsu. Amin
Kamis, 31 Juli 2025
bahan bacaan : Matius 5 : 38-42
38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
Jangan Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan
Dalam Khotbah Yesus di Bukit. Yesus mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Ia merujuk pada prinsip hukum balas dendam (mata ganti mata), yang dalam konteks Perjanjian Lama adalah cara membatasi pembalasan agar tidak berlebihan. Namun Yesus melampaui hukum itu dan menekankan hal mengampuni dan nir-kekerasan. Kerajaan Allah tidak didasarkan pada keadilan retributif (balas dendam), melainkan pada kasih dan pengampunan. Perintah “jangan melawan orang yang berbuat jahat”, bukan berarti pasif atau menyerah begitu saja pada ketidakadilan, melainkan mengundang respon yang aktif memberlakukan kasih. Memberi pipi yang lain, memberi jubah, dan berjalan dua mil adalah simbol dari mengambil kendali atas respon dengan cara yang berbeda untuk memutus rantai kekerasan. Ajaran ini memang menantang. Sebab balas dendam harus digantikan dengan perbuatan kasih. Sebagaimana sikap Allah Pemurah dan penuh belas kasihan, demikian halnya kita sebagai para pengikut-Nya. Dalam menjalani aktifitas hari ini dan seterusnya, kita dipanggil untuk bersikap lemah lembut, namun tegas dalam kasih. Kita dipanggil untuk menjadi agen damai, bukan pelanjut siklus dendam. Lebih dari itu, janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Klahkanlah kejahatan dengan kebaikan.
Doa: Mampukanlah kami dengan Roh Kudus-Mu, ya Tuhan, untuk tidak membalas dendam. Amin
Jumat, 01 Agustus 2025
bahan bacaan : Matius 12 : 33 – 37
33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. 34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. 35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. 36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."
Manis di Muka, Mar Hati Sama Deng Asam Cuka
Kita bersyukur menikmati kehidupan di hari baru, tanda rahmat Tuhan tak berkesudahan. Hari ini kita merenungkan ajaran Tuhan Yesus yang menegaskan: “pohon yang baik akan selalu menghasilkan buah-buah yang baik, sebaliknya pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula”. Selanjutnya, ”setiap pohon dikenal dari buahnya”. Ajaran ini mengandung makna bahwa orang akan mengenal siapa diri kita dari apa yang kita katakan dan lakukan setiap hari. Kita patut menjaga setiap perkataan yang keluar dan tindakan yang dilakukan. Kata-kata baik yang diucapkan, tindakan baik yang dilakukan akan menolong, menguatkan dan memberi motivasi bagi diri kita dan orang lain. Sebaliknya perkataan buruk, penuh prasangka, rencana kotor dan jahat akan membuat relasi terganggu dan orang tersakiti. Betapa dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang-orang yang hatinya bersih, mulutnya bersih dan tindakannya bersih. Jangan sampai ada yang mengatakan, “mulu manis tapi hati macang rarobang”, atau “manis di muka, mar hati macang deng asam cuka”. Ingatlah supaya apa yang dikatakan itu keluar dari hati bersih dan selaras dengan yang dilakukan. Itu ciri dan karakter orang yang menerima ajaran Yesus dalam hidupnya.
Doa: Tuhan, jadikan kami orang-orang yang berhati bersih, supaya ucapan dan tindakan kami pun bersih, amin.
Sabtu, 02 Agustus 2025
bahan bacaan : Matius 5 : 27 – 30
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
Kendalikan Mata dan Hati dari Dosa
Kitab Injil penuh dengan ajaran Tuhan Yesus. Meskipun ada ajaran-Nya yang sulit dilakukan, namun ajaran-ajaran Tuhan Yesus ini mengandung perintah untuk dilaksanakan sebab mengandung kebenaran iman. Ajaran tentang Jangan berzinah ini masuk dalam satu rumpun ajaran tentang khotbah di bukit, mulai dari pasal 5 sampai 7. Ajaran ini mengandung pesan berharga yaitulah dalam menjalani kehidupan, kita mesti menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat membawa pada perbuatan dosa. Berzinah misalnya, tidak terjadi begitu saja melainkan diawali dari pandangan mata yang disertai keinginan dalam hati. Itu berarti seseorang sebenarnya dapat terhindar dari perbuatan dosa zinah ini, jika ia dapat menjaga mata dan hatinya tetap murni, tanpa keinginan tertentu. Ketika kita bekerja atau melayani, menjaga mata dan hati dari segala keinginan begitu penting. Jika keinginan mata dan hati tidak terkendali, itu berpotensi membawa kita pada kecenderungan memiliki tanpa batas, termasuk memiliki apa yang dipunyai orang lain, misalnya uang, jabatan, rumah, tanah, isteri atau suami orang. Sebab itu, memulai aktifitas di hari ini, bawalah hati kepada Tuhan dan mintalah supaya Tuhan berkenan menjaga mata dan hati kita dari segala kecenderungan yang membawa kita pada perbuatan dosa. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita sanggup mematikan dalam diri semua perbuatan dosa dan hidup berkenan bagi Tuhan. Inilah kebenaran iman yang diajarkan dan perlu terus dihidupi.
Doa: Kendalikanlah mata dan hati kami ya Tuhan, agar terhindar dari perbuatan dosa, Amin
*SUMBER : SHK BULAN JULI-AGUSTUS 2025, LPJ-GPM