Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan
Tema Mingguan : Merdeka untuk Bersuara
Minggu, 03 Agustus 2025
bahan bacaan : Yeremia 26 : 1 – 19
Yeremia mau dibunuh, karena menubuatkan kemusnahan Bait Suci Nabi Uria dihukum mati
Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: 2 Beginilah firman TUHAN: "Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! 3 Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuata mereka yang jahat. 4 Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, 5 dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, --tetapi kamu tidak mau mendengarkan-- 6 maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." 7 Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. 8 Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati! 9 Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. 10 Ketika para pemuka Yehuda mendengar tentang hal ini, pergilah mereka dari istana raja ke rumah TUHAN, lalu duduk di pintu gerbang baru di rumah TUHAN. 11 Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri." 12 Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. 13 Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 14 Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 15 Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." 16 Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita." 17 Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya: 18 "Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat di zaman Hizkia, raja Yehuda. Dia telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan. 19 Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?"
Merdeka Untuk Bersuara
Merdeka untuk bersuara atau bersuara untuk orang lain, kelompok dan golongan lain di luar kita sendiri membutuhkan kemauan, keberanian dan jiwa yang besar. Tidak semua orang mau melakukannya sebab mengandung banyak resiko. Dalam nas bacaan hari ini, kita belajar dari tokoh Yeremia yang berani bersuara tentang keadaan bangsa Yehuda dan apa yang akan dialami yakni kehancuran Yerusalem. Karena keberaniannya bersuara ini, nyawanya terancam, ia mau dibunuh. Padahal yang disampaikannya adalah sesuatu yang benar. Kalau mereka mau bertobat dan membarui hidup, Tuhan akan menyesali dan tidak menghukum mereka dengan kehancuran. Kebenaran yang disampaikan Yeremia juga pernah disampaikan oleh Hizkia dan Tuhan menyelamatkan mereka berdua. Firman ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, Tuhan berkenan menolong orang-orang yang tidak pernah takut menyuarakan kebenaran. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang berpihak kepada kebenaran bahkan yang karena itu kadang terancam nyawanya. Jangan takut untuk bersuara, jika yang hendak kita katakan adalah sesuatu yang benar. Mintalah pertolongan Roh Kudus, sebab hanya kuasa Roh Kudus yang memberanikan kita menyatakan kebenaran melalui kata dan perbuatan.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berani menyuarakan kebenaran, dalam kata dan perbuatan, amin
Senin, 04 Agustus 2025
bahan bacaan : Yeremia 26 : 20 – 24
20 Ada juga seorang lain yang bernubuat demi nama TUHAN, yaitu Uria bin Semaya, dari Kiryat-Yearim. Dia bernubuat tentang kota dan negeri ini tepat seperti yang dikatakan Yeremia. 21 Ketika raja Yoyakim, bersama-sama dengan segenap perwiranya dan semua pemuka, mendengar perkataan orang itu, maka rajapun mencari ikhtiar untuk membunuhnya. Mendengar hal itu maka takutlah Uria, lalu melarikan diri dan tiba di Mesir. 22 Kemudian raja Yoyakim menyuruh orang ke Mesir, yaitu Elnatan bin Akhbor beserta beberapa orang. 23 Mereka mengambil Uria dari Mesir dan membawanya kepada raja Yoyakim. Raja menyuruh membunuh dia dengan pedang dan melemparkan mayatnya ke kuburan rakyat biasa. 24 Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.
Keberanian Menyatakan Kebenaran
Bacaan hari ini masih merupakan kelanjutan dari bacaan kemarin. Dalam Yeremia 26:20-24 ini, seorang bernama Uria bin Semaya juga menyampaikan nubuat demi nama Tuhan. Ia bukan nabi palsu dan bukan bernubuat palsu sebab nubuatanya sama dengan Yeremia, mengingatkan bangsa Yehuda agar bertobat, sebelum mengalami kehancuran. Namun bedanya, karena nubuatan itu hidupnya terancam oleh raja Yoyakim sehingga ia harus melarikan diri. Raja Yoyakim memerintahkan orang mencari Uria untuk dibunuh. Akhirnya Uria mati, sebaliknya Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, seorang pejabat tinggi kerajaan, sehingga nyawanya selamat. Menjadi orang yang menyampaikan kebenaran atau perintah Tuhan bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan atau resiko yang dihadapi, bahkan sampai kehilangan nyawa. Kenyataan ini akan membuat sebagian orang menjadi takut dan memilih diam, tidak lagi berani. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menghindarkan kenyataan seperti ini. Namun, jika pada akhirnya kita alami, berbahagialah, sebab itu berarti kita ada di jalan Tuhan. Kiranya segala tantangan dan resiko tidak melemahkan iman dan semangat kita untuk menyampaikan kebenaran kepada siapa saja.
Doa: Kuatkanlah iman kami agar mampu menghadapi tantangan karena berani menyatakan kebenaran, Amin
Selasa, 05 Agustus 2025
bahan bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28
Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.
Jangan Takut Menyampaikan Suara Tuhan
Ketika ada dalam keadaan yang sulit atau terjepit, meminta nasehat dari orang lain dapat menolong kita menemukan solusi. Itulah yang dilakukan oleh raja Zedekia. Ia bertanya kepada nabi Yeremia tentang apa yang harus dilakukan menghadapi kenyataan hidupnya dan bangsa Yehuda yang terancam oleh Babel. Yeremia menjawab: “dengarkanlah suara Tuhan dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara”. Bagi Yeremia, nasehat yang disampaikannya terbatas, tetapi mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan akan membuat Raja Zedekia dan seluruh rakyatnya selamat. Kehendak Tuhan yaitulah Zedekia menyerahkan diri kepada para pemuka raja Babel. Bagi Zedekia itu sesuatu yang tidak mungkin, karena itu ia memilih tidak mendengarkan suara Tuhan. Akhirya ia ditangkap dan dibawa ke Babel, keluarganya mati dan rakyatnya mengalami kehancuran. Mendengarkan suara Tuhan selalu menjadi solusi terbaik dalam hidup orang percaya. Sayangnya, kita kadang tidak mau mendengar suara Tuhan dan memilih mendengarkan suara kita sendiri. Mengawali aktifitas di hari ini, marilah dengarkan suara Tuhan sebagai pesan bagi kita. Lakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan agar keadaan kita tetap baik dan terpelihara.
Doa: Kami mau mendengar dan melakukan perintahMu Tuhan agar kami selamat terpelihara, amin
Rabu, 06 Agustus 2025
bahan bacaan : Keluaran 5 : 1 – 14
Musa menghadap Firaun -- Bangsa Israel makin ditindas
Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun." 2 Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi." 3 Lalu kata mereka: "Allah orang Ibrani telah menemui kami; izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami, supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang." 4 Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!" 5 Lagi kata Firaun: "Lihat, sekarang telah terlalu banyak bangsamu di negeri ini, masakan kamu hendak menghentikan mereka dari kerja paksanya!" 6 Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengerah-pengerah bangsa itu dan kepada mandur-mandur mereka sendiri: 7 "Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami, 8 tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Allah kami. 9 Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta." 10 Maka para pengerah bangsa itu dan para mandurnya pergi dan berkata kepada mereka: "Beginilah kata Firaun: Aku tidak memberi jerami lagi kepadamu. 11 Pergilah kamu sendiri mengambil jerami, di mana saja kamu mendapatnya, tetapi pekerjaanmu sedikitpun tidak boleh kurang." 12 Lalu berseraklah bangsa itu ke seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan tunggul gandum sebagai pengganti jerami. 13 Dan pengerah-pengerah itu mendesak mereka dengan berkata: "Selesaikan pekerjaanmu, yaitu tugas sehari, seperti pada waktu ada jerami." 14 Lalu pengerah-pengerah Firaun memukul mandur-mandur Israel, yang mereka angkat, sambil bertanya: "Mengapakah kamu pada hari ini tidak menyelesaikan jumlah batu bata yang harus kamu buat seperti kemarin?"
Bersuara Atas Nama Tuhan
Keberanian untuk menyampaikan kehendak Tuhan adalah panggilan kita selaku orang percaya. Meski kita tahu ada banyak resiko yang akan dialami. Dalam nas bacaan hari ini, Musa dan Harun menyampaikan perintah Tuhan kepada Firaun agar ia membiarkan bangsa Israel pergi untuk beribadah kepada Tuhan di padang gurun. Firaun menolak dengan keras permintaan mereka. Perdebatan pun terjadi diantara mereka. Musa dan Harun bersikukuh membela hak saudara-saudaranya, bangsa Israel. Atas nama Tuhan, mereka berulang kali bersuara supaya saudara-saudaranya memperoleh kesempatan dan hak untuk beribadah kepada Tuhan, sekaligus mereka bisa beristirahat sejenak dari kerja paksa yang diberlakukan Firaun atas mereka. Keteguhan hati dan keberanian Musa dan Harun untuk bersuara atas nama Tuhan menjadi teladan bagi kita untuk juga bersuara membela yang lemah dan tertindas. Tindakan ini memang bukanlah hal yang mudah dilakukan, sebab penuh dengan resiko. Tapi jika tetap bersikap diam, maka tanpa sadar kita turut memperpanjang penindasan. Suara kebenaran harus terus digaungkan meski ada tantangan. Tuhan pasti menolong kita untuk melakukannya.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berani bersuara demi kebaikan hidup bersama. Amin.
Kamis, 07 Agustus 2025
bahan bacaan : Keluaran 5 : 15 – 24
15 Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: "Mengapakah tuanku berlaku seperti itu terhadap hamba-hambamu ini? 16 Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini tetapi walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Dan dalam pada itu hamba-hambamu ini dipukuli, padahal rakyat tuankulah yang bersalah." 17 Tetapi ia berkata: "Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN! 18 Jadi sekarang, pergilah, bekerja! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi jumlah batu bata yang sama harus kamu serahkan." 19 Maka mengertilah para mandur Israel, bahwa mereka ada dalam keadaan susah, karena dikatakan kepada mereka: "Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata pada tiap-tiap hari." 20 Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka, 21 lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami." 22 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? 23 Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali." 24 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya."
Bersuara Kepada Tuhan
Nas hari ini merupakan kelanjutan dari pembacaan Alkitab kemarin tentang Musa dan Harun menghadap Firaun. Situasi penderitaan yang dialami setelah Musa dan Harun menghadap Firaun semakin bertambah berat. Bagian ini memang mengungkapkan realitas iman ketika umat berada di titik terendah penderitaan. Bangsa Israel menyalahkan Musa dan Harun yang dianggap memperburuk keadaan mereka. Musa lalu berseru kepada Tuhan, mempertanyakan maksud penderitaan yang dialami oleh Bangsa Israel dan mengapa Tuhan belum campur tangan. Ia dengan jujur berseru, “Ya TUHAN, mengapa Kau perlakukan bangsa ini begitu buruk?” (ay. 22). Pertanyaan dan seruan Musa ini menunjukkan bahwa berseru kepada Tuhan, bahkan dalam bentuk keluhan merupakan ekspresi kejujuran orang beriman. Ia meyakini Tuhan pasti mendengar suara setiap orang yang menyampaikan permohonan dalam kelemahannya. Kita berseru kepada Tuhan dalam permohonan bukan karena lemah secara rohani, tetapi karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat melepaskan kita dari berbagai hal yang menekan dan membawa penderitaan. Itulah iman kita yang menyatakan ketergantungan mutlak kepada Tuhan.
Doa : Mampukanlah kami dengan kekuatan Roh-Mu untuk berani menghentikan ketidakbenaran, Amin
Jumat, 08 Agustus 2025
bahan bacaan : Matius 14 : 1 – 12
Yohanes Pembaptis dibunuh
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.
Bersuaralah, Hentikan Ketidakbenaran!
Teks Matius 14:1-12 menceritakan tentang kematian Yohanes Pembaptis. Ia dipenggal atas permintaan Herodias, istri Herodes, melalui anak perempuannya kepada Herodes. Sebelumnya, Yohanes telah dengan berani menegur tindakan tidak bermoral Herodes, sehingga membuatnya ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Yohanes berani melakukan hal tersebut karena ia tahu bahwa menyuarakan kebenaran adalah bagian dari panggilan kenabiannya. Sebaliknya, respons Herodes dan Herodias menunjukkan bahwa kuasa dunia sering menolak kebenaran, apalagi jika kebenaran itu menggugat gaya hidup atau keputusan mereka. Berhadapan dengan penguasa seperti ini, tidak membuat Yohanes lalu berkecil hati dan mundur untuk menyuarakan kebenaran. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai orang percaya yang memiliki integritas diri dan tidak berkompromi dengan hal-hal yang tidak benar. Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis menjadi teladan bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap memiliki integritas diri dan mampu menghentikan ketidakbenaran dengan bersuara. Kita harus mulai membiasakan hal ini dilakukan dalam keluarga. Kita membelajarkan anak-anak untuk melakukannya dengan sikap saling menghargai.
Doa: Kepada-Mu ya Tuhan, kami berseru dan membawa pengharapan. Engkaulah Penolong kami. Amin
Sabtu, 09 Agustus 2025
bahan bacaan : 1 Raja-Raja 18 : 16 – 19
Elia bertemu dengan Ahab
16 Lalu pergilah Obaja menemui Ahab dan memberitahukan hal itu kepadanya. Kemudian Ahab pergi menemui Elia. 17 Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?" 18 Jawab Elia kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. 19 Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel."
Berani Mengkritik Kesalahan
Nas hari ini bercerita tentang Elia bertemu dengan Ahab, raja Israel yang menyembah Baal dan menyesatkan bangsa Israel. Ketika Ahab menuduh Elia sebagai “pengacau Israel”, Elia langsung membalikkan tuduhan itu dan menyatakan bahwa Ahab-lah yang membawa kekacauan karena meninggalkan perintah Tuhan dan mengikuti Baal. Sikap Elia yang berani menegur Ahab karena ia berdiri di atas firman Tuhan. Keberaniannya bukan karena kekuatan pribadi, tapi karena ia yakin akan kebenaran yang berasal dari Tuhan, yang sementara diembannya. Elia tidak gentar sedikitpun, sekalipun ia harus berhadapan dengan raja yang bisa saja membunuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa suara penegakkan kebenaran tidak boleh dilemahkan oleh tekanan apapun, termasuk tekanan politik atau kekuasaan duniawi. Tidaklah mudah melakukannya. Tapi seperti Elia, kita juga dipanggil untuk berani bersuara mengkritik kesalahan sebagai wujud suara kenabian. Sebaiknya, kita memulai dari diri kita sendiri. Kita harus berani mengoreksi diri dan tidak membenarkan kebiasaan yang salah meskipun sudah umum dilakukan. Kita melakukannya juga dari keluarga dengan menjadi orang tua yang terbuka menerima masukan dan kritik dari anak-anak kita, yang melakukannya dengan santun.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan kebebasan yang mendatangkan kesejahteraan bersama. Amin
*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM