Santapan Harian Keluarga, 05 – 11 Oktober 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri

Tema Mingguan : Bersekutu, Bersaksi dan Saling melayani Sebagai Gereja

Minggu, 05 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Petrus 4 : 7 – 11

Hidup orang Kristen
7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. 8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. 9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. 10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Waspadalah! Jangan Kehilangan Jati Diri

Kita bersyukur atas anugerah keselamatan yang Tuhan berikan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sakramen Perjamuan Kudus merupakan cara kita untuk mengenang kembali pengorbanan Tuhan. Dalam kaitan itu, rasul Petrus dalam nas bacaan ini mengingatkan, kesudahan segala sesuatu sudah dekat, sebab itu kuasailah dirimu dan waspadalah supaya kamu dapat berdoa. Hal ini diingatkannya kepada penerima surat ini yang memang sedang berada dalam tekanan di kala itu. Seberat apapun penderitaan yang dialami, mereka harus menguasai diri dan tetap waspada. Tidak membiarkan diri dikuasai oleh kejahatan, tetapi harus terus hidu saling mengasihi. Melalui surat ini kita pun diingatkan, seberat apapun keadaan hidup yang dialami anak-anak Tuhan, kita tidak boleh menyerah dan kehilangan kasih. Ini teladan Tuhan Yesus bagi kita. Walaupun berada di puncak penderitaan, Ia tetap taat dan memberlakukan kasih. Jika melihat situasi kita sekarang, di saat tekanan ekonomi dan politik sedang dihadapi. Kita mungkin dapat terbawa situasi untuk berubah, namun kita diingatkan agar kuasai diri dan waspada. Jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai anak-anak Tuhan. Laksanakanlah tugas panggilan sebagai orang yang beriman dan tunjukanlah kasih, itulah cara kita meresponi kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami waspada dan mengendalikan diri dari segala yang jahat, amin  

Senin, 06 Oktober 2025

bahan bacaan : Yohanes 15 : 26 – 27

26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27 Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

Kesaksian  Gereja Dalam Karya Roh Kudus

Gereja tidak boleh hanya bersekutu ke dalam, tetapi juga keluar untuk memberitakan Kristus dengan perkataan dan tindakan. Untuk itu, tantangan bahkan ancaman dalam pelayanan merupakan realitas yang harus dihadapi oleh gereja, sama seperti yang telah dialami oleh jemaat Kristen pada akhir abad pertama. Jemaat Kristen yang menjadi latar konteks Injil Yohanes merupakan jemaat yang saat itu sementara menghadapi penolakan keras, baik dari orang Yahudi (sinagoga) maupun dunia Romawi. Pengikut Kristus sering diusir dari sinagoga (lih. Yoh 9:22) dan dianggap kelompok sesat. Teks Injil Yohanes hadir untuk menguatkan jemaat yang sedang mengalami kebencian, penganiayaan, dan tekanan sosial-politik tersebut. Nasehat Yesus kepada para murid untuk bersaksi disertai dengan pemberian Roh Kudus sebagai penolong bagi mereka. Yesus menyatakan bahwa gereja tidak sendirian dalam melakukan tugas bersaksi dan melayani, sebab ada Roh Kudus. Roh Kudus  menjadi Penghibur dan menguatkan serta memampukan para murid untuk bersaksi tentang Kristus, sebab mereka telah bersama Yesus “sejak semula”. Kita pun bertanggung jawab untuk bersaksi tentang Kristus. Tapi gereja bukan bersaksi dan melayani dengan usaha sendiri, melainkan dalam karya bersama Roh Kudus.

Doa :  Tuhan, tolonglah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk bersaksi dan melayani. Amin.

Selasa, 07 Oktober 2025

bahan bacaan : Roma 7 : 6   

6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

Pelayanan Menurut Roh

Paulus menegaskan bahwa melalui Kristus, orang percaya telah “mati bagi hukum Taurat.” Artinya, orang percaya tidak lagi terikat pada sistem hukum yang kaku dan formalistis sebagai jalan memperoleh kebenaran. Kematian dan kebangkitan Kristus membuat orang percaya bebas dari kuasa hukum yang menuduh. Pembebasan ini bukan berarti orang percaya hidup tanpa arah, melainkan hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Roh yang menggerakkan orang percaya untuk melayani dengan menolong seseorang, menghibur yang berduka, atau menegur dengan kasih. Melayani “menurut Roh” berarti Roh Kudus memberi kuasa, motivasi, dan arah dalam pelayanan, sehingga pelayanan tidak dilihat sebagai beban, tetapi merupakan tindakan yang disertai dengan sukacita. Melayani juga bukan untuk mencari pujian atau menunaikan kewajiban, tetapi karena kasih Kristus menguasai kita. Pelayanan kita menyatakan kuasa yang membebaskan. Sebagai Gereja, kita melayani bukan dengan aturan kaku yang membebani, tetapi dengan kasih yang membebaskan, memulihkan, dan membangun hidup.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk melayani menurut tuntunan Roh-Mu. Amin  

Rabu, 08 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Korintus 9 : 13 – 14

13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? 14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

Pelayanan Sebagai Ketetapan Allah

Pelayanan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan penetapan Allah. Seperti imam Lewi dipilih untuk melayani di mezbah, demikian pula pelayan Injil ditetapkan Tuhan untuk hidup dalam panggilan melayani. Artinya: panggilan pelayanan memiliki dasar otoritas Allah, bukan semata keinginan manusia. Pelayan yang memahami bahwa panggilannya adalah otoritas Allah akan melihat dirinya bukan sebagai “pekerja organisasi,” tetapi sebagai hamba Allah yang diutus. Ia tidak melayani untuk menyenangkan diri atau manusia, tetapi untuk taat kepada Allah. Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani melalui peran dan tugas yang sementara diembannya atau dilakukannya. Pelayanan bukan hanya milik pendeta atau hamba Tuhan penuh waktu, tapi setiap orang percaya ditetapkan Allah untuk melayani melalui hidup dan pekerjaannya sehari-hari. Seorang pengemudi motor atau ojek misalnya, dipanggil untuk melayani melalui pekerjaannya. Ia harus melayani dengan jujur dalam tarif, tidak menipu pelanggan. Sopan dan ramah, memberi senyum dan sikap hormat serta tidak berkata kasar. Ia menolong penumpang, misalnya menunggu dengan sabar, bahkan mendoakan orang yang diantar secara diam-diam. Demikian pun dalam segala yang kita kerjakan, biarlah kita mengerjakannya dalam dasar takut kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarkanlah kami untuk melakukan tugas dan kerja kami sebagai wujud pelayanan yang ditetapkan Allah. amin 

Kamis, 09 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Yohanes 1 : 1 – 4   

Kesaksian rasul tentang Firman hidup
Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. 2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. 3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Sukacita  Sebagai Buah Persekutuan

Sukacita Kristen bukan terutama dari keadaan lahiriah, melainkan dari relasi kasih yang menyatu dengan Allah dan sesama dalam Kristus. Menurut Yohanes dalam teks ini, persekutuan dengan Allah tidak mungkin tanpa pengenalan dan iman kepada Yesus Kristus. Allah menghadirkan hidup kekal melalui Kristus, sehingga orang percaya dipanggil masuk dalam persekutuan dengan-Nya (ayat 2–3). Persekutuan orang percaya dengan Allah berarti hidup dalam relasi yang nyata dengan-Nya, bukan sekadar pengetahuan intelektual. Yohanes kemudian menegaskan salah satu alasanya yakni “supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami” (ayat 3). Persekutuan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari persekutuan dengan sesama orang percaya. Kasih Allah yang dialami orang percaya harus terwujud dalam kasih dan kebersamaan dengan saudara-saudara seiman. Hasil dari persekutuan dengan Allah dan sesama itu adalah sukacita yang sempurna (ayat 4). Jemaat memang harus hidup saling menguatkan, berbagi, menolong, dan mendoakan sebagai wujud kasih yang dialami bersama, bukan sendirian.

Doa: Kami ingin tetap bersekutu dengan-Mu, ya Tuhan, supaya hidup kami dipenuhi sukacita. Amin  

Jumat, 10 Oktober 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 26 : 19 – 23

19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. 20 Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. 21 Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku. 22 Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, 23 yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain."

Melayani Tanpa Pandang Bulu

Gereja dipanggil untuk melayani semua kalangan, tanpa membedakan berdasarkan status sosial, etnis, gender, atau latar belakang. Melayani tanpa pandang bulu adalah wujud nyata kasih Allah yang merangkul semua orang, bahkan mereka yang dianggap hina atau terbuang. Teks hari ini menegaskan bahwa pelayanan sejati adalah ketaatan pada panggilan Allah untuk memberitakan Injil bagi semua orang, tanpa diskriminasi, dan berpusat pada Kristus yang bangkit. Paulus menyatakan tanggung jawab pemberitaan injil kepada semua bangsa dalam kesaksiannya di hadapan Raja Agripa. Ia menceritakan pertobatannya yang terjadi di Damsyik dan bagaimana ia berbalik kepada Allah, serta melakukan pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan (ayat 20). Pesannya disampaikan pertama kepada orang Yahudi, lalu kepada bangsa-bangsa lain (ayat 20–21). Hal ini menegaskan prinsip iman bahwa Allah tidak membeda-bedakan (band. Kis. 10:34). Pelayanan sejati memang harus terbuka bagi siapa pun yakni kaya–miskin, laki–perempuan, dll tanpa membatasi kasih karunia Allah. Karena itu, marilah kita bersaksi dan melayani tanpa pandang bulu.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayani tanpa membeda-bedakan. Amin 

Sabtu, 11 Oktober 2025

bahan bacaan : Yohanes 17 : 24 – 26

24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. 25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."

Persekutuan Sebagai Wujud Pemberitaan Injil

Bulan Oktober dikenal sebagai bulan Pemberitaan Injil (PI). Tugas mengabarkan Injil bukan sekedar memberitakan tentang Yesus kepada orang banyak, tetapi membawa orang masuk ke dalam persekutuan; dalam hubungan yang hidup dengan Allah dan dengan sesama. Hal ini dijelaskan dalam bagian bacaan kita tadi,  dimana salah satu tema utama dalam doa Tuhan Yesus adalah persekutuan (bersekutu). Tuhan Yesus ingin agar semua murid-Nya (gereja) hidup dalam persekutuan. Sebab dengan kita bersatu dalam kasih Allah, maka kita akan memandang kemuliaan Allah (ay.24). Kemuliaan Allah adalah anugerah bagi setiap orang percaya untuk hidup kekal bersama Kristus. Doa Yesus mengingatkan kita untuk menjauhkan dari persekutuan, aroma kesombongan, iri hati, kebencian, fitnah, saling menghakimi dan saling menjatuhkan. Hal ini memang sedang terjadi dimana-,mana (keluarga, gereja, kantor, kampus, sekolah, tempat kerja dll) yang menghancurkan kebersamaan. Marilah kita tetap membangun persekutuan yang baik sebagai wujud pemberitaan injil.

Doa:  Tuhan Yesus tuntun kami agar hidup sebagai gereja yang bersekutu dan saling mengasihi, Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar