Tema Bulanan :Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri
Tema Mingguan : Saling Mendengar sebagai Gereja
Minggu, 12 Oktober 2025
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 15 : 1 – 21
Sidang di Yerusalem
Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." 2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa." 6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. 7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. 10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? 11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga." 12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. 13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: 14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. 15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: 16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, 17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, 18 yang telah diketahui dari sejak semula. 19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, 20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. 21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."
Mendengar Adalah Jembatan Hati Yang Berbeda
Ada kata bijak: “Saling mendengar adalah jembatan antara hati yang berbeda”. Kata bijak ini mau menjelaskan kepada kita bahwa perbedaan pasti ada dalam hidup; baik karakter, pendapat, nilai hidup bahkan dogma atau ajaran agama. Namun, jika perbedaan tersebut dipersoalkan maka akan terjadi perselisihan yang dapat merusak hubungan satu dengan yang lain. Karena itu mendengar adalah tindakan awal mencegah perselisihan. Dalam perikop ini, Paulus dan Barnabas meminta jemaat perdana untuk “mendengarkan” apa yang mereka katakan, bahwa keselamatan adalah anugerah Allah bagi semua orang, Yahudi maupun non-Yahudi. Keselamatan bukan karena melakukan sunat sebagai tradisi yahudi, melainkan karena anugerah Tuhan semata. Pesan bagi kita, sebagai gereja hendaklah kita saling mendengar untuk menunjukkan bahwa kita menghargai perbedaan, peduli terhadap yang lain, tetap terbuka dan rendah hati.
Doa: Tuhan ajarlah kami untuk menjadi gereja yang mau mendengar, amin.
Senin, 13 Oktober 2025
bahan bacaan : Amsal 25 : 12
12 Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.
Teguran Yang Bijak, Telinga Yang Mendengar
Menegur adalah salah satu tindakan yang menunjukkan bahwa kita peduli terhadap orang lain. Kita mau membetulkan kesalahan atau membimbiing seseorang kembali ke jalan yang benar. Namun, sayangnya tidak semua teguran dapat diterima oleh orang lain, sebaliknya cenderung menghakimi, menjatuhkan dan mempermalukan dengan kata-kata yang kasar serta menyinggung perasaan. Hal ini dapat menimbulkan kemarahan, kekecewaan dan rasa malu yang mendalam bagi seseorang. Hal ini seperti yang digambarkan melalui ungkapan khas Papua yang sederhana: “ko pung maksud baik, tapi ko pung cara tu salah”. Karena itu, Pengamsal menunjukkan cara yang benar untuk menegur, yakni menggunakan kata-kata yang bijak, santun, etika dan penuh kasih karena teguran yang bijak sangat berharga (seperti emas) untuk memperbaiki kesalahan seseorang. Mari arahkanlah telinga kepada teguran yang berfaedah untuk membawa perubahan hidup.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk menegur seseorang dengan bijaksana, Amin
Selasa, 14 Oktober 2025
bahan bacaan : Amsal 15 : 31 – 32
31 Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. 32 Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.
Mendengar Teguran, Menjadi Berakal Budi
Setiap orang pasti pernah ditegur, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kenapa? Karena tidak ada manusia yang sempurna, dalam perjalanan hidup kita pasti pernah berbuat salah, bersikap kurang tepat dan keliru dalam mengambil keputusan. Karena itu, menurut penulis kitab Amsal, teguran itu penting agar seseorang memiliki akal budi atau hidup takut akan Tuhan. Dengan demikian, jika seseorang ditegur, baik oleh pemimpin, orang tua, rekan kerja bahkan dari orang-orang yang kita pimpin, hal itu dilakukan dengan maksud baik. Teguran yang disampaikan dengan kata-kata santun dan cara yang benar, harus diterima dengan berbesar hati, tidak berusaha untuk membela diri, mencari pembenaran atau membenci yang menegur. Teguran yang membawa kepada hidup berarti ada orang yang peduli, mau mengingatkan ketika kita salah jalan. Mendengarkan teguran, membuat kita menjadi berakal budi, sebab teguran yang diberikan dengan penuh kasih membimbing kita menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati dan sukses dalam hidup.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk siap menerima teguran dengan rendah hati, Amin.
Rabu, 15 Oktober 2025
bahan bacaan : Yakobus 1 : 19 – 20
Pendengar atau pelaku firman
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; 20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Cepat Mendengar, Lambat Berbicara
Peribahasa mengatakan: “Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara”. Artinya, seharusnya kita lebih sering mendengar daripada berbicara. Kenapa? Karena perkataan yang tidak bijaksana atau tidak dikontrol dapat menimbulkan konflik, menyakiti orang lain dan membuat kita berdosa, misalnya dengan berbohong, bergosip, mengeluarkan kata makian dan sebagainya. Perkataan-perkataan kita pada waktunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebab itu, Yakobus mengingatkan kita tentang tiga hal penting, yakni: cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah (ay.19). Itu artinya jangan kita cepat-cepat membangun opini atau memberikan tanggapan sebelum mendengar dengan jelas, mengontrol kata-kata dengan bijaksana agar kita tidak melakukan kesalahan, dan mengontrol emosi dengan baik agar kita tidak mudah marah yang dapat membawa kehancuran dan keretakan relasi.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk membangun hidup saling “mendengar” untuk mencegah perselisihan, Amin.
Kamis, 16 Oktober 2025
bahan bacaan : Amsal 12 : 15
15 Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.
Mendengar Nasehat Untuk Menjadi Bijak
Mengawali seluruh aktivitas kita di hari baru, firman Tuhan melalui pengamsal mengingatkan kita agar menjadi orang-orang bijak dengan mendengarkan nasehat. Nasehat yang kita peroleh baik melalui firman Tuhan pun juga melalui sesama bertujuan baik untuk kehidupan yang diberkati Tuhan. Bukan hal mudah saat kita mau mendengarkan nasehat yang baik, sebab terkadang sebagai manusia sifat keegoisan membuat kita merasa lebih pintar, hebat dan benar sehingga menolak untuk menerima nasehat yang disampaikan kepada kita. Jika kita bersikap demikian, maka pengamsal menyebut kita sebagai orang bodoh yang sangat percaya diri dengan berjalan menurut kehendak hati, Padahal semuanya itu menuju kepada kehancuran dan kebinasaan hidup. Oleh sebab itu, marilah kita selalu meminta tuntunan hikmat Tuhan agar baik sebagai orang tua maupun anak-anak, kita menjadi orang-orang yang selalu rendah hati dan mau membuka telinga dan hati untuk mendengarkan setiap nasehat yang baik dan positif serta melakukannya demi kehidupan yang diberkati Tuhan.
Doa: Tuhan, tuntun kami dengan hikmatMu agar kami mau mendengar nasehat untuk menjadi bijak. Amin
Jumat, 17 Oktober 2025
bahan bacaan : Amsal 18 : 15
15 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.
Hati Sebagai Pusat Untuk Memperoleh Pengetahuan Yang Baik
Kehidupan yang kita jalani sebagai orang percaya dengan berbagai tantangan, persoalan dan pergumulan hidup mesti menyadarkan kita untuk pentingnya mengupayakan pengetahuan yang diperoleh melalui hikmat Tuhan. Pengamsal dalam bacaan firman Tuhan di hari ini menasehati agar hikmat Tuhan harus menguasai hati sebagai pusat kehidupan agar memberikan pengetahuan bagi kita. Hikmat sangat penting bagi kita, tetapi itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita perlu mengupayakannya. Karena itu, hati orang berpengertian akan selalu terbuka untuk belajar dan telinga orang bijak kan selalu siap mendengar. Sebab itu kita perlu belajar menjadikan hati dan pendengaran untuk memperoleh pengetahuan yang baik. Sikap yang rendah hati untuk terus belajar adalah tanda dari kebijaksanaan. Maka orang yang berhenti belajar akan cepat puas, namun orang yang bijaksana sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari dari Tuhan dan firmanNya, dari sesama bahkan dari pengalaman hidup.
Doa : Ya Tuhan kami mohon kuasa hati kami dengan hikmatMu untuk mendapatkan pengetahuan. Amin
Sabtu, 18 Oktober 2025
bahan bacaan : Amsal 18 : 13
13 Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.
Mendengar Sebelum Memberi Jawaban
Pengamsal memberi nasehat dengan selalu membandingkan antara mereka yang bijak dan mereka yang bodoh. Salah satunya melalui firman Tuhan di hari ini yang menegaskan tentang mereka yang bijak adalah mereka yang akan mendengar dahulu baru memberikan jawaban. Sedangkan mereka yang bodoh akan langsung menjawab tanpa berkesempatan untuk mendengar. Memberikan jawaban tanpa mendengarkan, memperlihatkan bahwa kita kurang bijaksana. Hal ini ibarat kita mau memperbaiki sesuatu namun kita tidak tahu apa yang rusak. Tindakan tersebut oleh pengamsal disebutkan mempertontonkan kebodohan dan mempermalukan diri sendiri. Pengamsal menasehati agar hendaknya kita menjadi pendengar yang baik sebelum menjadi pembicara yang baik. Sebelum kita memberikan jalan keluar berupa tanggapan, saran atau solusi, kita telah mendengar dengan sungguh-sungguh dan memahami duduk masalah atau persoalannya sehingga kita dapat memberikan saran dan solusi dengan baik. Seperti slogan Kantor Penggadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah” dan bukan menyelesaikan masalah tambah masalah. Hal menyelesaikan masalah dapat kita lakukan, asal mau mendengar dan memohon hikmat dari Tuhan.
Doa: Ya Tuhan, ajar kami untuk selalu mendengar lebih dulu sebelum menjawab. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM