Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan
Tema Mingguan : Gereja bagi Semua
Minggu, 02 November 2025
bahan bacaan : Yesaya 56 : 1 – 8
Keselamatan adalah bagi semua orang
Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. 2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat. 3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: "Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering." 4 Sebab beginilah firman TUHAN: "Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama--itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan--,suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun."
Rumah Doa Bagi Banyak Orang
Ada sebuah rumah makan yang besar dengan meja panjang penuh makanan lezat. Pemilik rumah makan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Siapa saja boleh datang baik itu orang kaya, miskin, tua, muda, bahkan yang tidak mampu membayar pun akan diberi makan dengan penuh kasih. Demikianlah gambaran gereja yang sejati: meja perjamuan Tuhan terbuka bagi semua orang, tidak ada yang ditolak. Tuhan menegaskan bahwa rumah-Nya adalah “Rumah Doa Bagi seluruh bangsa”. Ia mengundang bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga orang asing, bahkan orang yang dianggap tidak layak, untuk datang dan menerima kasih serta keselamatan-Nya. Kadang kita sering berpikir bahwa gereja hanya untuk orang tertentu orang yang sudah lama beriman, yang punya latar belakang sama, atau yang kelihatan “baik-baik saja” di mata manusia. Namun bacaan hari ini Yesaya 56 mengingatkan bahwa Allah membuka pintu-Nya lebar-lebar untuk siapa saja. Gereja merupakan tempat bagi siapapun yang mau datang dan menetap, baik itu orang asing, orang yang berbeda suku budaya atau sampai kepada status sosial pun akan tetap di terima. Firman Tuhan ini mengajarkan bahwa gereja bukan milik sekelompok orang tertentu, melainkan milik Kristus yang terbuka bagi semua. Mari kita belajar hidup sebagai orang yang ramah, menerima, dan membawa setiap orang lebih dekat kepada Tuhan.
Doa Mampukan kami Tuhan untuk selalu menjaga keutuhan Rumah untuk banyak orang. Amin.
Senin, 03 November 2025
bahan bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26
Percakapan dengan perempuan Samaria
Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
Pelayanan Tanpa Batas
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria adalah kisah yang sangat penting karena Yesus berani menembus berbagai batasan yang ada pada zaman itu. Bangsa Yahudi dan orang Samaria tidak bergaul karena adanya permusuhan panjang. Namun Yesus justru mendekati perempuan Samaria itu, membuka percakapan, dan menawarkan air hidup. Ini menunjukkan bahwa pelayanan Kristus tidak mengenal sekat suku, ras, atau budaya. Kasih Allah berlaku bagi semua orang dengan menjadi pelayanan di segala tempat. Perempuan Samaria itu menyinggung soal tempat ibadah: apakah di gunung yang berada di Samaria atau di Yerusalem. Tetapi Yesus menegaskan bahwa penyembahan yang benar bukan ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh sikap hati: menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (ayat 23-24). Artinya, pelayanan tidak dibatasi tembok gedung atau tempat khusus. Di mana pun kita berada, kasih Kristus dapat diberitakan. Kita dipanggil untuk melayani siapa saja, tanpa memandang suku, budaya, atau latar belakang. Gereja tidak boleh tertutup, melainkan terbuka untuk menjadi berkat bagi semua orang. Maka kita sebagai pengikut Kristus dipanggil untuk melayani dengan kasih yang tulus, dan menjangkau siapa pun, di mana pun, dan membawa mereka kepada Kristus sumber air hidup.
Doa: Tuhan ajarkan kami untuk memberitakan firmanMu kepada banyak orang Amin.
Selasa, 04 November 2025
bahan bacaan : Yohanes 4 : 27 – 42
27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" 28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" 30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." 32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." 33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." 39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." 40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."
Dari Satu Jiwa Untuk Banyak Jiwa
Seperti sebuah lilin kecil yang dinyalakan dalam ruangan gelap. Cahaya lilin itu mungkin tampak kecil, tetapi cukup untuk membuat orang lain melihat jalan. Jika lilin itu kemudian menyalakan lilin-lilin lain, maka seluruh ruangan akan terang. Demikian juga dengan Injil. Ketika satu orang menerima dan membagikannya, terang itu menyebar dan menjangkau banyak orang. Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur bukanlah kebetulan. Setelah mengalami kasih dan kebenaran Kristus, perempuan itu segera meninggalkan tempayannya lalu kembali ke kotanya untuk bersaksi: “Mari, lihatlah seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay. 29). Kesaksiannya yang sederhana tetapi tulus membuat banyak orang datang kepada Yesus dan menjadi percaya. Inilah kuasa pemberitaan Injil: dimulai dari satu pribadi yang diubahkan, lalu merambat menjangkau banyak orang. Tuhan rindu kita semua ikut ambil bagian dalam pekerjaan besar ini. Maka Jangan remehkan kesaksian sederhana kita, sebab Tuhan bisa pakai itu untuk menyentuh banyak orang. Pemberitaan Injil bukan hanya tugas pendeta atau penginjil, tetapi juga keluarga Kristen di mana pun berada. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat: rumah, tetangga, teman kerja, sekolah, bahkan melalui media social, agar pemeritaan Injil menjangkau banyak orang.
Doa Tuhan, kami mau melayani sesama tanpa melihat latarbelakang mereka, Amin.
Rabu, 05 November 2025
bahan bacaan : Yohanes 10 : 14 – 16
14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
Satu Gembala Untuk Banyak Domba
Seorang gembala di sebuah padang rumput memiliki banyak domba dari berbagai warna dan ukuran. Ada yang putih bersih, ada yang berbintik hitam, ada pula yang berbulu agak kusut. Namun meskipun berbeda, semuanya tetap dipanggil dengan suara yang sama. Ketika gembala itu bersiul, semua domba yang besar maupun kecil, yang dekat maupun jauh berlari mendekat karena mengenal suara gembalanya. Mereka tidak mengikuti suara lain, sebab hanya suara gembala yang membuat mereka merasa aman. Demikianlah Yesus sebagai Gembala Agung memanggil kita dari berbagai bangsa, suku, bahasa, dan latar belakang untuk menjadi satu kawanan. Meski berbeda-beda, kita disatukan dalam kasih dan bimbingan Kristus. Yesus mengenal kita secara pribadi Sama seperti gembala mengenal setiap dombanya, Yesus mengenal nama, pergumulan, dan kebutuhan kita masing-masing. Tugas kita sebagai domba adalah mengenali suaraNya melalui doa, firman dan pimpinan Roh Kudus. Banyak suara dunia yang ingin menyesatkan, tetapi hanya suara Yesus yang membawa pada kehidupan. Karena itu, mari kita hidup saling mengasihi, melampaui perbedaan, dan setia mengikuti Yesus.
Doa: ya Allah, kami mau mendengar dan mengikutiMu, gembala Agung, Amin.
Kamis, 06 November 2025
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 26 – 40
Sida-sida dari tanah Etiopia
26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. 27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. 28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. 29 Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" 30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" 31 Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. 33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" 35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 37 (Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.") 38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. 40 Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.
Tetaplah Bangun Kepeduliaan Memberitakan Injil
Kita tidak hidup sendiri di dunia. Kita hidup bersama orang lain. Amatlah naif bila kita terus menerus memiliki kecendrungan untuk hanya memikirkan diri sendiri. Perilaku egois tidak membuat kita sejahtera dan damai. Tuhan Yesus memanggil kita sebagai gereja agar bisa hidup sebagai orang-orang yang inklusif. Inilah kandungan tema bulan November yaitu Gereja bagi hidup yang berkelanjutan dan untuk minggu ini diarahkan pada tema Mingguan: Gereja bagi semua. Teks kita saat ini menceritakan ksiah pelayanan Filipus. Ia seorang pemberita Injil. Sikap ketaatannya juga ia tunjukkan ketika malaekat Tuhan berkata kepadanya untuk turun ke jalan yang sunyi (Kisah 8:26). Filipus memahami betapa pentingnya hidup berbagi kebenaran tentang kasih Tuhan Yesus kepada orang lain, apalagi yang belum percaya dan mengenal Tuhan. Apakah sikap seperti ini .juga kita miliki? Ataukah kita malah memperlihatkan sikap tidak suka sebagai wujud rasa tidak peduli akan pertumbuhan iman orang lain, misalnya saja malas mengajak orang lain beribadah? Mari belajar dari Filipus yang ingat akan tanggung jawab pemberitaan Injil dan tetap setia melakukannya.
Doa Ya Tuhan Yesus, Tolonglah kami agar selalu mendengar suara-Mu dan setia memberitakan Injil, Amin
Jumat, 07 November 2025
bahan bacaan : Matius 22 : 1 – 14
Perumpamaan tentang perjamuan kawin
Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Semua Orang Berhak atas Keselamatan
Hari Minggu telah tiba. Pit meminta Popy istrinya untuk menyetrika pakaiannya sebab ia mau ke ibadah. Stenly anaknya yang bungsu membawakan pakaiannya juga kepada ibunya. Melihat itu, Pit bertanya kepada Stenly : Mengapa nyong membawa baju untuk mama ? Popy istrinya langsung menjawab: Stenly cuma mau ikut-ikutan saja. Tetapi Stenly berkata bahwa ia juga mau ke ibadah Minggu bersama papa dan mamanya. Mendengarkan hal itu, Pit melarang agar anaknya jangan ikut ibadah Minggu sebab hanya akan merepotkan. Stenly nanti saja ke ibadah sekolah minggu. Pit melarang Popy untuk membawa Stenly saat mereka ke ibadah minggu. Stenly pun hanya bisa diam. Cerita ini kelihatan biasa saja. Tetapi melaluinya terselip pesan yang penting yakni semua orang berhak atas keselamatan.Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga. Orang banyak yang diundang masuk ke dalam Kerajaan Surga ibarat mereka adalah tamu perjamuan kawin. Semua orang diundang dan berhak untuk ikut di dalam perjamuan kawin itu dengan pakaian yang pantas. Ini berarti kita semua dipandang layak di hadapan Tuhan. Siapapun kita termasuk anak-anak. Jangan pernah melarang siapapun untuk datang kepada Tuhan dan jangan pernah membatasinya sebab Tuhan berkenan menyelamatkan semua orang.
Doa: ya Allah, mampukanlah kami datang pada-Mu sebagai sumber keselamatan, Amin.
Sabtu, 08 November 2025
bahan bacaan : Wahyu 7 : 9-17
Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya
9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!" 11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 12 sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" 13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?" 14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. 15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. 16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. 17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
Tuhan Sumber Keselamatan
Teks ini dilatari dengan situasi sulit yang dihadapi orang Kristen sekitar akhir abad pertama, dimana seluruh penduduk kekaisaran Romawi diwajibkan untuk menyembah dan mempersembahkan kurban kepada kaisar-kaisar yang mengganggap diri mereka sebagai dewa. Orang yang menolak dianggap pengkhianat dan dapat dijatuhi hukuman mati. Orang Kristen bertanya tentang keyakinan mereka akan Allah dan penulis kitab Wahyu menjawab dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang akan menaklukan seluruh umat manusia dan semua kekuatan termasuk kekaisaran Romawi yang melawan Allah. Teks Wahyu 7:9-17 menuliskan semua orang datang kepada Tuhan sumber keselamatan. Hanya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lainnya. ini merupakan ajakan bagi semua kita untuk menyakini kedaulatan kuasa Tuhan. Hanya di dalam Tuhan kita menemukan keselamatan. Manusia tidak memliki kuasa yang bisa menandingi Tuhan. Sebagai sumber keselamatan, Tuhan mau agar kita hanya datang kepada-Nya dan menyandarkan seluruh pergumulan hidup hanya kepadaNya.
Doa: ya Allah, hanya Tuhanlah satu-satuNya sumber keselamatan hidup kami, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN NOVEMBER 2025, LPJ-GPM