Santapan Harian Keluarga, 30 Nov – 06 Des 2025

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Melakukan yang Baik Sebagai Wujud Pengharapan akan Kedatangan Tuhan

Minggu, 30 November 2025

bahan bacaan : Matius 25 : 31 – 46

Penghakiman terakhir
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Menanti Tuhan Datang dengan Melakukan yang Baik

Merayakan minggu Adventus yang pertama hari ini, merupakan sukacita semua orang percaya. Minggu-minggu dimana kita diajak untuk bersukacita  atas kelahiran Yesus  tetapi sekaligus menanti dengan iman akan kedatanganNya yang kedua kali, Namun, seringkali pengharapan itu hanya tinggal di ranah pemikiran, tanpa berdampak nyata pada kehidupan kita sehari-hari. Matius 25:31-46 memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana kita seharusnya mempersiapkan diri dalam menanti kedatangan-Nya. Bukan dengan ritual-ritual keagamaan semata, tetapi dengan tindakan nyata. Pertanyaan bagi kita adalah tindakan nyata seperti apa yang bisa kita lakukan? Pertama, bagilah berkatmu dengan mereka yang tidak punya baik itu makanan, minuman, pakaian. Kedua, jadikanlah rumahmu sebagai rumah aman bagi mereka yang terlantar. Ketiga, sediakan waktumu untuk mengunjungi mereka yang sakit dan terpenjara. Akta ini bukan sekadar amal umum, tetapi tindakan-tindakan kebaikan yang diarahkan bagi mereka yang paling rentan dan membutuhkan pertolongan. Ini menunjukkan bahwa menyambut kedatangan Tuhan bukan aksi statis dalam diam tapi dinamis dalam akta yang hidup melalui kepedulian, empati dan berbuat kebaikan terhadap sesama. Apabila kita tidak peduli terhadap sesama maka itu bentuk penolakan terhadap Kristus sendiri. Mari, nyatakan aktamu sebagai cara menyambut kedatanganNya.

Doa: Tuhan, kami siap menyambutMu dengan melakukan yang baik,  amin 

Senin, 01 Desember 2025

bahan bacaan : Yakobus 2 : 14-17

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati
14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Perbuatan Baik Sebagai Wujud Iman

Pernahkah saudara merencanakan segala sesuatu tetapi tidak ada tindakan? Saya pernah mengalaminya. Banyak hal yang saya rencanakan tetapi hanya sebatas perencanaan semata. Pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Perencanaan tanpa pelaksanaan sama dengan nol, tidak memberikan dampak perubahan apa pun. Jadi perkataan dan tindakan harus sejalan, supaya dapat menciptakan hal yang baru. Demikian juga dengan iman, jika hanya diucapkan di mulut tanpa adanya tindakan sama dengan omong kosong. Demikianlah orang yang mengakui kalau dirinya memiliki iman tetapi tidak terlihat dari perbuatannya. Oleh karena itu, firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa bahwa iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Iman sejati melahirkan tindakan kasih. Bukan hanya sebatas ucapan semata, tetapi harus terlihat dalam tindakan hidup sehari-hari: menolong yang membutuhkan, berbagi berkat, peduli pada yang kesusahan, dan sebagainya. Sebab itu, tampilkanlah iman kita melalui perbuatan kasih yang dapat dirasakan orang lain, termasuk SADHA (Saudara dengan HIV Aids). Dengan cara itulah kita menjadi kesaksian bagi dunia.

Doa: Tuhan, tolong hidupkanlah imanku untuk selalu berbuat baik. Amin.

Selasa, 02 Desember 2025

bahan bacaan : Ibrani 6 : 9-12

Berpegang teguh pada pengharapan
9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. 

Allah Memperhitungkan Semua Perbuatan Kebaikan

Kebenaran firman Tuhan melalui surat Ibrani  di hari ini mengajarkan bahwa Allah  memperhatikan setiap pelayanan, kerja keras dan kasih yang seseorang atau jemaat tunjukkan kepada sesama demi nama-Nya. Sebab itu, tidak boleh menjadi lamban tetapi meneladani mereka yang dengan iman dan kesabaran memperoleh janji Allah. Itu artinya janganlah pernah menjadi jemu dalam melakukan kebaikan, sebab Tuhan memperhitungkannya.  Terkadang kita menjadi jemu atau merasa lelah ketika kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai, lalu membatasi kita untuk tidak lagi melakukan kebaikan bagi orang lain. Kita menjadi lamban untuk melakukan kebaikan padahal kita dapat melakukannya. Firman Tuhan ini mau meneguhkan bahwa, tidak ada satupun perbuatan kasih dan kebaikan yang sia-sia. Allah Adil dan Ia menghargai kesetiaan anak-anakNya.  Belajarlah tekun dan sabar, sebab janji Allah digenapi pada waktuNya. Inilah dasar pengharapan orang percaya. Kita tidak bekerja sia-sia, karena pada akhirnya kita akan menerima janji Allah. pengharapan itu memberi kekuatan untuk terus melayani dengan setia dan melakukan kebaikan dengan rajin, sekalipun kadang tidak ada yang memberikan penghargaan.

Doa: Bapa Sorgawi, terima kasih atas kasihMu yang mau memperhitungkan semua kebaikan yang dilakukan, Amin.

Rabu, 03 Desember 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 32-43

Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas
32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida. 33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. 34 Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu. 35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan. 36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

Selama Hidup Berbuat Baik

Pada waktu kita memasukkan sebuah baterai kedalam sebuah jam dinding, maka jam dinding itu mulai bekerja menjalankan tugasnya. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, ia terus bekerja dan bekerja sampai baterai itu habis. Jam dinding itu bekerja tanpa pamrih, dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Kisah Petrus yang menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas menekankan bahwa iman kepada Yesus harus diwujudkan melalui perbuatan baik terus menerus. Itu dilakukan oleh Petrus, seperti halnya yang ditunjukkan oleh Dorkas selama ia masih hidup. Tabita atau Dorkas adalah teladan bagaimana hidup seharusnya dijalani. Ia dikenag bukan karena harta, pangkat atau jabatan, melainkan karena kebaikan hatinya. Ia menolong orang miskin, menjahit pakaian bagi janda-janda dan hidupnya dipenuhi kasih.  Firman Tuhan ini mengajarkan kita bahwa hidup ini bukan diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan. Kembangkanlah hati yang murah seperti Dorkas dan jadilah pribadi yang selalu berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami tetap berbuat baik selama ada kesempatan hidup, Amin.

Kamis, 04 Desember 2025

bahan bacaan : Mikha 6 : 8

8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Berbuat Baik, Berlaku Adil dan Mencintai Kesetiaan

Ayat ini adalah inti dari seluruh hukum dan ibadah yang sejati. Bangsa Israel pada zaman itu hidup dengan banyak ritual, sibuk dengan segala macam bentuk persembahan dan kurban. Namun hidup mereka tidak mencerminkan kehendak Allah. Melalui nabi Mikha, Tuhan menegaskan kembali bahwa yang Ia inginkan bukan sekadar ritual lahiriah tetapi hidup yang benar di hadapan Nya. Hidup yang benar yang dimaksudkan disini adalah: berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Hidup dengan adil kepada sesama itulah yang dikehendaki Allah. Dalam keluarga: orangtua berlaku adil kepada anak-anak. Tidak membeda-bedakan. Dalam pekerjaan: tidak mengambil keuntungan dengan cara curang atau merugikan orang lain. Kita tidak menindas orang lain. Kita pun diminta untuk mencintai kesetiaan dan rendah hati. Tidak sombong atau merasa diri lebih lalu menjatuhkan orang lain. Kiranya melalui firman ini kita semakin diteguhkan untuk hidup bukan hanya sebagai umat yang beribadah, tetapi juga umat yang menghadirkan kebaikan, kasih dan keadilan Allah di dunia ini.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami untuk tetap berbuat baik, berlaku adil dan mencintai kesetiaan, Amin.

Jumat, 05 Desember 2025

bahan bacaan : Matius  10 : 40 – 42  

40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Berbuat Baik Dimulai Dari Hal Yang Kecil

Banyak orang sering berpikir bahwa untuk melayani Tuhan atau menolong sesama harus dengan hal-hal besar: memberi banyak uang, membangun gedung, atau melakukan sesuatu yang spektakuler. Padahal Yesus mengajarkan bahwa kebaikan sejati justru dimulai dari hal-hal kecil, sederhana, dan sering tidak terlihat orang lain. Tuhan Yesus mencontohkan: memberi segelas air sejuk. Itu bukan perbuatan yang besar, tetapi bila dilakukan dengan kasih, memiliki nilai kekal di hadapan Allah. Di mata dunia, hal kecil sering dianggap tidak berarti. Tetapi di mata Tuhan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan kasih memiliki arti besar. Senyuman yang tulus bisa menguatkan hati orang yang putus asa. Sepotong roti bisa menyelamatkan orang yang kelaparan. Doa bisa menghibur hati yang sedang hancur. Kebaikan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Seperti tetesan air yang lama-lama melubangi batu, demikianlah kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengubah kehidupan kita dan orang lain.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat melakukan perbuatan baik sekecil apapun itu. Amin

Sabtu, 06 Desember 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 27

26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum

Mengejar kebaikan Disenangi Orang

Anna memiliki kebiasaan cepat mengantuk ketika ia menaiki mobil. Hari itu bukan saja ia mengantuk, tetapi nampaknya ada pula seorang ibu yang mengantuk dan akhirnya ketiduran dalam perjalanan dari Ambon ke Liang. Anna nyaris juga ikut tertidur. Namun rasa kantuknya tiba-tiba hilang saat ia melihat pemuda yang duduk di sebelah kanan ibu yang tertidur mencoba memasukan tangan ke dalam tas yang dipegang ibu itu. Anna secara keras langsung menegurnya. Suara Anna yang besar akhirnya membuat sang ibu pun terbangun. Pemuda itu pun terburu-buru menghentikan mobil dan segera turun. Perbuatan baik Anna telah menyelamatkan orang lain. Ia tidak mengenalnya tetapi kebaikan hatinya mendorongnya untuk mencegah kejahatan. Hidup ini menjadi jauh lebih baik ketika kita mau tetap melakukan kebaikan. Inilah sikap yang dimaksudkan dalam teks Amsal 11:27. Amsal sebagai kitab yang berisikan kata-kata hikmat menyampaikan penyataan kebenaran yakni bila kita melakukan kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita terima; sebaliknya bila kejahatan yang kita lakukan, maka kejahatan yang kita terima. Apa yang kita buat, semuanya akan kembali kepada kita. Karenanya mari jaga sikap kita. Kejarlah kebaikan, karena itu yang akan membuat kita disenangi orang dan diberkati Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk terus mengejar dan melakukan kebaikan, Amin.

*SUMBER : SHK NOV & DES 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar