Santapan Harian Keluarga, 07 – 13 Desember 2025

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Menanti Tuhan dengan Hidup dalam Kasih

Minggu, 07 Desember 2025

bahan bacaan : Mikha 4 : 1 – 5

Sion sebagai pusat kerajaan damai
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, 2 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem." 3 Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. 4 Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya. 5 Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.

Nantikanlah Tuhan Dengan Hidup Dalam Kasih

Panggilan setiap orang percaya adalah menjadi gereja yang teguh memberitakan cinta kasih Tuhan bagi semua. Itulah sebabnya penantian kita akan Tuhan harus dijalani sesuai kehendak Tuhan yakni melalui kehidupan dalam kasih. Adapun kasih itu sabar, murah hati, tidak pemarah, tidak sombong, tidak memegahkan diri. Kasih itu hidup damai dengan semua orang. Mikha 4:1-5 menuliskan pentingnya kesadaran penantian akan Tuhan harus dibarengi  dengan hidup dalam kasih. Mikha yang dalam bahasa Ibrani berarti “ Siapakah seperti Tuhan“ menuliskan bahwa karena dosa, maka Israel dihukum Tuhan, namun hari Tuhan akan memberikan kedamaian kepada mereka. Pada masa itu, peralatan perang akan diubah menjadi peralatan pertanian dari bangsa-bangsa; pedang menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas, tidak ada yang mengangkat pedang, atau belajar perang, masing-masing duduk dibawah pohon anggur atau ara, tanpa saling menggentarkan. Suasana damai penuh kasih itulah yang dikehendaki Tuhan dari umatNya dan seluruh bangsa. Teks hari ini mengajak kita semua untuk merayakan minggu adven kedua, dengan hidup dalam kasih. Berdamai  dengan semua orang adalah salah satu wujud kasih.

Doa:  ya Allah, mampukanlah kami untuk hidup damai, penuh kasih dengan semua orang, Amin.

Senin, 08 Desember 2025

bahan bacaan :   Amsal 10 : 12 

12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Jangan Ada Benci

Banyak hal berharga baik yang bisa terlewatkan bila kebencian dibiarkan menguasai hidup. Ada pekerjaan yang menjanjikan keuntungan, tetapi karena kebencian, maka tidak dikerjakan. Ada saat yang menawarkan pemulihan hubungan, tetapi karena kebencian, maka semua berlalu begitu saja. Kebencian menimbulkan sejumlah penyakit seperti asam lambung atau sakit kepala. Sesekali bertanyalah kepada orang-orang tua yang telah lanjut usia. Tanyakan kepada mereka rahasia umur panjang mereka. Kita akan dibuat kaget sebab salah satu rahasia mereka selain hidup dekat dengan Tuhan tetapi juga adalah karena mereka tidak membiarkan kebencian menguasai hidup mereka. Bacaan kita hari ini Amsal 10 :12 memberikan pelajaran penting terkait soal kebencian. Sebagai teks hikmat, Amsal mengatakan bahwa kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi pelanggaran. Hal ini yang diajarkan pula oleh Tuhan Yesus, yaitu hidup saling mengasihi dan bukan sebaliknya dengan saling membenci. Demi kasih-Nya, Tuhan Yesus berkenan rela mati di tiang kayu salib untuk kita. Amsal mengajari kita melepaskan pengampunan bagi orang lain agar hidup tidak dikuasai kebencian. Inilah yang dimaksud Amsal tentang kasih menutupi pelanggaran. Jangan ada benci diantara kita !

Doa:  ya Allah, mampukanlah kami hidup tidak saling membenci, Amin.

Selasa, 09 Desember 2025

bahan bacaan :   Yohanes 15 : 11 – 15  

11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Kamu adalah Sahabatku

Sahabat adalah seorang yang dekat, memahami dan menjadi bagian yang penting dalam hidup kita. Realita dewasa ini kita cendrung menetapkan identitas sahabat hanya pada orang-orang tertentu saja dan orang lain yang tidak selevel dan sejalan dalam banyak hal dengan kita, mereka bukan sahabat. Mereka bisa saja kemudian kita posisikan sebagai musuh. Yohanes 15:11-15 mengajarkan hal yang berbeda. Tuhan Yesus menyebut kita adalah sahabat. Karena kasih-Nya yang besar kepada sahabat, maka Tuhan Yesus rela menyerahkan diri-Nya  demi kita. Karena kita adalah sahabat-Nya maka Ia menyampaikan apa yang dikehendaki-Nya yakni agar kita saling mengasihi. Tuhan Yesus menyatakan betapa berharganya kita di hadapan-Nya sebab Ia tidak menyebut kita hamba melainkan sahabat. Kebenaran ini harus membuat kita merubah hidup kita. Bila kita hidup dalam kebencian, maka sebagai sahabat  Tuhan, yang harus kita lakukan adalah mengampuni. Bila kita tidak mau berbagi dengan kelebihan kita, sebagai sahabat Tuhan, kita harus bisa merubah cara hidup demikian. Kamu adalah sahabatku. Itu kata Tuhan untuk kita. Maukah kita mengatakannya juga kepada orang lain?

Doa:  ya Allah, mampukanlah kami bersahabat dengan semua orang, Amin.

Rabu, 10 Desember 2025

bahan bacaan :   Yohanes 15 : 16 – 17 

16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Tetaplah saling Mengasihi

Tanty dan Serly. adalah teman baik sejak kecil. Mereka bertumbuh bersama dan kemudian masing-masing menjalani hidupnya; Tanty menjadi seorang ibu rumah tangga dan Serly menjadi seorang dokter. Suatu ketika Tanty mengalami masalah dalam hubungannya dengan suaminya. Ia memendam semua yang dihadapi. Rupanya belakangan ini suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang berkumpul bersama keluarga. Tanty  stres dengan keadaan rumah tangganya dan nyaris melakukan upaya bunuh diri. Serly yang merawat Tanty saat dirujuk ke rumah sakit kemudian mendampinginya dan meyakinkannya untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Ikatan persahabatan yang pernah terjalin diantara mereka akhirnya membuat Tanty pulih. Adapun teks kita hari ini menuliskan tentang tujuan  tindakan pemilihan dan penetapan Tuhan atas hidup kita : agar kita pergi dan menghasilkan buah dan buah itu tetap, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Tuhan Yesus diberikan kepada kita. Oleh sebab itu, sebagai orang-orang yang dikasihi Allah, marilah kita tetap hidup saling mengasihi. Dengan saling mengasihi, kita memperlihatkan kasih Tuhan bagi sesama. Kasih yang tidak hanya dalam bentuk kata-kata yang menghiburkan, tetapi juga kesediaan mendengar dan mendampingi orang lain. Semoga Tuhan Yesus menolong kita untuk tetap bisa hidup saling mengasihi.

Doa:  ya Allah, mampukanlah kami hidup tetap saling mengasihi, Amin.

Kamis, 11 Desember 2025

bahan bacaan : Amsal  17 : 17

17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Kasih Yang Tetap Di Segala Waktu

Setiap kita pasti mendambakan persahabatan sejati. Dunia penuh dengan hubungan yang sementara—ada sahabat yang datang ketika kita senang, tetapi pergi ketika kita susah. Amsal 17:17 mengingatkan kita bahwa sahabat sejati bukan diukur dari seberapa banyak tawa yang kita bagi bersama, tetapi seberapa setia ia ada di sisi kita ketika kita dalam kesulitan. Sahabat sejati mengasihi setiap waktu, dan saudara lahir untuk menolong dalam kesusahan. Menjelang Natal, kita diajak meneladani kasih Kristus yang tidak berubah sekalipun kita sering jatuh dalam kelemahan. Kasih yang sejati tidak hanya hadir di saat senang, tetapi tetap setia di saat sulit. Inilah kasih yang menghidupkan makna persaudaraan di tengah keluarga dan jemaat. Firman ini menantang kita untuk menjadi sahabat sejati bagi orang lain: Hadirlah bukan hanya ketika senang, tetapi juga ketika susah. Belajarlah mengasihi tanpa syarat, bukan karena keuntungan. Jadilah orang yang bisa diandalkan, yang mendengarkan, mendoakan, dan menopang orang lain. Persahabatan yang sejati adalah cermin kasih Kristus yang hidup dalam diri kita.

Doa: Tuhan, tolong ajari Aku Mengasihi.  Amin 

Jumat, 12 Desember 2025

bahan bacaan : Imamat  19 : 17 – 18

17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Kasih yang Murni Mengampuni Tanpa Dendam

Tuhan menegaskan bahwa kasih sejati bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tentang menolak membenci, tidak mendendam, dan berani mengampuni. Menjelang Natal, firman ini mengajak kita untuk membersihkan hati dari kebencian, iri, dan sakit hati. Tidak ada sukacita Natal yang sejati jika hati kita masih terikat oleh luka yang belum dilepaskan.

Kasih yang diperintahkan Tuhan adalah kasih yang aktif yang mengupayakan perdamaian, memaafkan kesalahan, dan mengangkat kembali yang jatuh. Natal adalah saat terbaik untuk memutus rantai kebencian dan memulai lembaran baru. Jangan biarkan dendam menghalangi kita merasakan damai sejahtera yang Yesus bawa bagi dunia. Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa kebencian yang dipelihara dalam hati adalah dosa. Kebencian mungkin tidak selalu tampak keluar, tetapi ia dapat merusak dari dalam. Hati yang dibiarkan dipenuhi kebencian akan melahirkan dendam, iri, bahkan keinginan membalas. Tuhan ingin umat-Nya hidup dalam hati yang bersih, bebas dari racun kebencian. Budaya dunia sering mengajarkan “mata ganti mata, gigi ganti gigi,” tetapi Tuhan menegaskan bahwa balas dendam hanya milik-Nya. Jika kita memilih untuk menuntut balas, kita justru memperpanjang lingkaran kebencian. Tetapi ketika kita melepaskan dendam, kita menyerahkan keadilan kepada Allah yang adil. Hanya dengan itu kita dapat mengalami damai sejahtera sejati.

Doa: Bersihkan Hatiku dari benci dan dendam ya Tuhan,  Amin 

Sabtu, 13 Desember 2025

bahan bacaan : Yudas 1 : 20 – 23

20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. 21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. 22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, 23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Menjaga Kasih Dan Menolong Yang Lemah Iman

Firman hari ini mengingatkan kita untuk membangun diri di atas iman yang kudus, berdoa dalam Roh Kudus, dan menunjukkan belas kasihan. Itulah tanda iman yang hidup. Iman bukan sesuatu yang statis, melainkan harus dirawat dan ditumbuhkan. Sebab itu, iman yang sehat lahir dari relasi yang hidup dengan Allah: lewat doa, firman, dan kesetiaan berjalan bersama-Nya. Dalam menyambut natal diperlukan iman yang hidup, sebab natal bukan sekedar perayaan lahiriah, tetapi kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan dan menguatkan iman. Kita dipanggil bukan hanya menjaga diri, tetapi juga meraih orang lain yang hampir terjatuh. Kasih Allah menggerakkan kita untuk peduli, mengangkat, dan menuntun kembali mereka yang tersesat. Saat kita mengulurkan tangan dengan penuh kasih kepada mereka, kita sedang memperkenalkan Yesus yang lahir untuk menyelamatkan semua orang. Menjelang Natal, mari kita pastikan hati kita tetap hangat dalam kasih Tuhan, sekaligus menjadi penghubung kasih itu kepada sesama. Kiranya kita setia menjaga iman sambil mndorong sesama kembali kepada kasih Allah, sebab hanya didalam kasih itulah, kita menemukan hidup yang kekal

Doa: Peliharalah Imanku Tuhan.  Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN DESEMBER 2025, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar