Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Minggu, 11 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 3 : 1 – 15

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." 13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?" 14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu

Musa tidak sedang mencari Tuhan ketika semak itu menyala. Ia hanya menjalani hari-hari biasa sebagai gembala, di padang gurun yang sunyi. Namun justru di ruang keseharian yang tampak berulang itu Tuhan memanggil. Banyak orang mengira kemuliaan Allah hadir dalam peristiwa besar. Padahal sering kali Ia menyentuh kita melalui ruang keseharian kita: kelelahan yang kita rasakan, pergumulan yang kita pendam, atau rasa tidak mampu yang kita sembunyikan. Di sanalah Tuhan menyatakan diri-Nya. Ketika Ia berfirman, “Aku adalah Aku,” itu berarti Allah hadir bukan karena keadaan kita, tetapi karena sifat-Nya yang setia. Kemuliaan Allah bukan sekadar cahaya surgawi, tetapi kesediaan-Nya turun tangan membebaskan manusia dari penindasan dan tekanan hidup. Jika hari ini hidup terasa berat, ingatlah: Allah yang memanggil Musa adalah Allah yang memanggil kita. Ia mendengar, Ia peduli, Ia bertindak. Ia mengutus kita membebaskan kehidupan orang lain pula dari berbagai belenggu yang membuatnya tidak dapat menikmati kehidupan ini secara baik dan berkualitas. Ketika Allah mengutus, Ia menyertai.

Doa: Tuhan, Hadirlah dan Tolonglah Kami. Amin.

Senin, 12 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 116 : 6 – 7 

6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. 7 Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.

Tuhan Memelihara Orang yang Sederhana

Pemazmur menyebut dirinya “orang sederhana,” bukan karena ia kurang kemampuan, tetapi karena ia memilih hidup jujur dan apa adanya di hadapan Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dunia menuntut kita untuk selalu tampak kuat, tetapi Mazmur ini mengingatkan bahwa justru ketika kita mengakui ketidakberdayaan, Tuhan bertindak. Kesederhanaan hati bukan kelemahan, melainkan ruang yang memungkinkan kasih Tuhan bekerja. Sebab itu seperti pemazmur, kita dapat berkata kepada diri kita: “Kembalilah tenang, hai jiwaku.” Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, tenang bukan berarti tidak ada persoalan, atau masalah hilang, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita bersandar. Tuhan tetap sama. Hari ini, mari bekerja dengan meminta kekuatan dari Tuhan, dan bila malam telah tiba bersyukur serta beristirahatlah dalam pemeliharaan Tuhan. Kita tidak perlu kuat setiap waktu. Cukuplah hidup jujur di hadapan Tuhan. Ia tidak mengecewakan hati yang jujur. Tuhan ingin kita selalu mengingat kebaikanNya, agar hati kita kembali tenang.

Doa: Terima kasih Tuhan karena Engkau memelihara orang lemah dan sederhana, Jiwaku sungguh tenang Tuhan. Amin.

Selasa, 13 Januari 2026

bahan bacaan : 1 Raja – Raja 17 : 1 – 6

Elia di tepi sungai Kerit
Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan." 2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: 3 "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 4 Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana." 5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

Tuhan Menyediakan Kebutuhanmu

Eia berada di tengah masa krisis. Namun Tuhan memeliharanya melalui cara yang tidak terduga: burung gagak mengantarkan roti dan daging setiap hari. Tuhan sering bekerja melalui jalan yang tidak kita bayangkan. Hal itu terjadi melalui kesempatan kecil yang tiba-tiba muncul, seseorang yang menolong tanpa alasan, atau kekuatan hati yang tiba tanpa kita sadari. Pemeliharaan Allah tidak selalu megah, tetapi selalu cukup. Dalam hidup kita, ada masa ketika sumber daya tampak menipis dan harapan terasa jauh. Teks ini mengingatkan kita bahwa Tuhan menyediakan secukupnya setiap hari. Ia tidak pernah kehabisan cara untuk menolong. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Cukup untuk hari ini. Itu pun adalah anugerah yang limpah. Bersyukurlah atas limpahnya pemeliharaan Tuhan dan ingatlah ketika keadaan hidup menjadi sulit, percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan. Tidak ada masalah tanpa pemeliharaanNya.

Doa: Cukupkan keperluan kami hari ini Tuhan. Amin.

Rabu, 14 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 46 : 3 – 4

3 "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Tuhan Memelihara Sampai Masa Putih Rambut

Firman ini sungguh menyentuh: Tuhan memikul kita sejak dalam kandungan, dan menggendong sampai masa rambut memutih. Ini bukan janji yang bersyarat. Ini pernyataan kasih yang berlangsung seumur hidup. Tidak ada musim hidup, masa muda, sibuk bekerja, menjadi orang tua, atau memasuki lanjut usia, di mana Tuhan berhenti memelihara. Kita sering cemas tentang masa depan. Tentang kesehatan, anak, biaya hidup, atau hari tua. Namun Tuhan mengingatkan bahwa pemeliharaan-Nya bukan hanya hari ini, tetapi sampai akhir perjalanan hidup. Jika rambut memutih menandai waktu yang berjalan, maka itu juga menandai kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berkurang. Di saat kita mudah berubah, kasih Tuhan tidak pernah bergeser dan berubah. Bersyukurlah jika kita masih diberi waktu hingga memutih rambut, sebab itu bukti kasih Tuhan yang menanggung, memikul, menggendong dan menyelamatkan. Percayakan kendali hidup kita kepada Allah yang lebih tahu jalan-jalan hidup ke depan. Dalam gendongan Tuhan kita aman dan selamat.

Doa: Tuhan, terima kasih, Engkau Setia Selalu sepanjang hidup kami. Amin.

Kamis, 15 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 55 : 23 – 24

22 (55-23) Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. 23 (55-24) Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya kepada-Mu.

Jangan Khawatir, Tuhan Memeliharamu

Pemazmur mengajak kita menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan. Kekhawatiran sering membuat kita merasa harus mengendalikan segalanya. Namun iman mengajak kita untuk membiarkan Tuhan menopang hidup kita. Menyerahkan kekhawatiran bukan berarti pasrah tanpa upaya. Itu adalah keberanian untuk percaya bahwa kita tidak berjalan sendiri. Pemeliharaan Tuhan berarti Ia tidak membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Setiap langkah kita ditopang tangan-Nya. Ia menanggung dan memastikan kita tetap berdiri. Kita mungkin tidak selalu melihatnya, tetapi kita hidup di dalam penjagaan-Nya. Hari ini, kita cukup mengatakan: “Tuhan, aku percaya Engkau memegang dan memeliharaku, bahkan melepaskanku dari orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan bagiku.” Itu wujud percaya kita untuk melanjutkan kehidupan ini.

Doa: Kuserahkan Hidupku padaMu, Tuhan yang mengasihi dan memeliharaku, Amin.

Jumat, 16 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 20 – 21

Seruan kepada bangsa-bangsa supaya kembali kepada TUHAN
20 "Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. 21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!

Jangan Gantikan Allah Dengan Baal

Sampai saat ini masih banyak orang yang menggantungkan pertolongan kepada kuasa yang berasal dari dalam dunia. Berbagai macam syarat dan ritual harus dipenuhi sebagai jalan untuk memperoleh apa yang diidamkan. Mereka beranggapan bahwa semua itu memiliki kuasa yang dapat dijadikan sebagai berhala. Tapi mereka lupa bahwa tindakan ini dapat menyeret mereka masuk dalam kesesakan. Pada kenyataannya sejak bumi dan segala isinya dijadikan Allah telah menyatakan kemuliaanNya bahkan lebih dari pada itu kemuliaan Allah dinyatakan melalui kedatangan Yesus Kristus yang olehnya manusia diselamatkan.Terhadap mereka yang membuat patung berhala dan menyembah kepadanya Allah menyebut mereka sebagai yang tidak berpengetahuan karena sesungguhnya patung kayu buatan manusia tidak memiliki kuasa unutuk menyelamatkan. Allah tidak menghendaki kebinasaan sebab itu Ia menghendaki mereka kembali. Tindakan Allah ini mendorong semua kita mengaktakan iman percaya yang teguh kepada Allah dan selamanya tak akan tergantikan dengan baal–baal zaman ini. Ingatlah bahwa sejak zaman purbakala dan memberitahukannya sejak zaman dahulu  bahwa tidak ada Allah selain daripadaku Allah yang adil dan juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Pantaskah kita ragu dan mencari penolong yang lain, selain Allah Pencipta dan Pemelihara hidup ini? 

Doa: Tuhan aku tetap percaya hanya Engkau Allah Sumber selamat yang mulia, Amin.

Sabtu, 17 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 10 : 8 – 12 

8 Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? 9 Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali? 10 Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju? 11 Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat. 12 Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.

Pemeliharaan-Mu sempurna, Aku tetap bertahan

Diam dan merenung, pergi dan  berlari sejauh mungkin, merintih dan menangis, bahkan tidak sedikit yang larut dalam kekecewaan, putus asa dan hilang pengharapan saat kesukaran dan penderitaan menerpa kehidupan. Ketika membaca nas ini, kita dibawa masuk ke dalam pergumulan hati Ayub. Ia sedang berada dalam titik gelap hidupnya: kehilangan, kesakitan dan kesunyian. Namun, diantara keluh kesahnya, terselip satu pengakuan iman: Ayub tahu bahwa hidupnya berasal dari Allah. Sebab itu ia melihat kembali pemeliharaan Tuhan sejak awal hidupnya. Meski penuh airmata, Ayub melihat satu fakta yang tidak berubah: hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah. Pengakuan iman bahwa hidup adalah anugerah dan kasih setia Tuhan tidak berubah akan membuat kita senantiasa bersyukur. Termasuk bersyukur dikala kita ada dalam penderitaan. Setiap penderitaan dalam hidup dapat menjadi cara Tuhan membentuk kita untuk semakin bertumbuh dewasa di dalam iman. Oleh karena itu tetaplah percaya Tuhan sebab Ia setia menopang dan menolong.

Doa : Terima kasih telah membuatku bertahan dan kuat di tengah penderitaan, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar