Tema Bulanan : Anugerah Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan
Tema Mingguan : Dipilih Untuk Teguh Mengasihi
Minggu, 01 Februari 2026
bahan bacaan : Yohanes 15 : 9 – 17 (TB2)
Perintah supaya saling mengasihi
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Namun, Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi."
Kasih yang Teguh
Yesus mengasihi murid-murid-Nya sama seperti Bapa mengasihi-Nya. Kasih ini adalah standar dan sumber kasih kita, untuk tetap tinggal di dalam kasih-Nya. Kita harus menaati perintah-Nya, sama seperti Yesus menaati Bapa-Nya. Ketaatan bukanlah beban, melainkan respons alami terhadap kasih yang telah kita terima, memungkinkan kita untuk hidup dalam suasana kasih Kristus yang konsisten. Inti dari bagian ini adalah perintah eksplisit untuk “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Ini bukan sekadar saran, melainkan perintah yang diulang kembali di ayat terakhir (ayat 17) sebagai penekanan. Kasih ini harus terlihat secara nyata di antara sesama orang percaya, menjadi kesaksian bagi dunia luar. Kasih yang teguh dan terbesar ditunjukkan dengan kerelaan untuk memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Yesus sendiri adalah teladan sempurna dari kasih ini melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Kasih ini bersifat tanpa pamrih dan rela berkorban. Seorang hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi sebagai sahabat, Yesus memberitahukan segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa-Nya. Ini menunjukkan hubungan yang intim dan penuh kepercayaan, untuk mengasihi dengan teguh, kita perlu secara konsisten memelihara hubungan pribadi dengan Yesus melalui doa dan perenungan firman, menaati perintah-Nya untuk saling mengasihi secara praktis, dan membiarkan Roh Kudus menolong kita menghasilkan buah kasih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membawa sukacita yang penuh dan menjadi kesaksian akan kasih Kristus di dunia.
Doa: Tuhan, bantu kami punya kasih yang teguh sepertiMu. Amin.
Senin, 02 Februari 2026
bahan bacaan : Yohanes 13 : 34 – 35 (TB2)
34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi."
Saling mengasihi, Identitas Murid Sejati
Yesus tidak hanya memerintahkan kasih secara abstrak, tetapi memberikan standar yang baru dan lebih tinggi: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Tuhan memilih para murid-Nya agar melalui kehidupan mereka, dunia dapat melihat manifestasi kasih Allah. Ayat 35 dengan jelas menyatakan: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. Kasih ini berfungsi sebagai “seragam” atau lencana pengenal komunitas Kristen yang membedakan mereka dari dunia di sekitar mereka. Tujuan pemilihan murid adalah agar mereka menjadi saksi Injil. Kesaksian mereka tidak hanya melalui kata-kata, tetapi yang lebih kuat lagi, melalui cara hidup mereka yang dipenuhi kasih. Ketika orang-orang di luar melihat kasih yang tulus dan mendalam di antara sesama orang percaya, mereka akan tertarik dan tahu bahwa Yesus berasal dari Allah. Mengasihi sesama orang percaya bukanlah pilihan opsional atau sekadar sarana moral, melainkan perintah yang mengikat dan mutlak dari Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup di bawah perintah kasih ini. hidup saling mengasihi agar kasih-Nya yang transformatif dapat terus mengalir melalui kita kepada dunia. Itulah tanda hidup baru yang Tuhan minta dari kita setiap waktu.
Doa: Tuhan, Ajarlah kami saling mengasihi setiap hari. Amin.
Selasa, 03 Februari 2026
bahan bacaan : Lukas 6 : 31 – 32 (TB2)
31 Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Sebab orang berdosa pun mengasihi orang yang mengasihi mereka.
Mengasihi Musuh
Ayat 31 menyatakan Hukum Emas (Golden Rule): “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Ini adalah prinsip universal untuk interaksi sosial, tetapi Yesus menggunakannya sebagai landasan untuk melangkah lebih jauh lagi melampaui interaksi yang mudah, menuju interaksi yang sulit dengan musuh. Kita ingin diperlakukan dengan baik bahkan ketika kita salah, jadi kita harus memperlakukan musuh kita dengan baik. Ayat 32 menyoroti tantangan utama: Orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda dari “orang-orang berdosa”. Jika kasih kita hanya terbatas pada lingkaran sosial yang aman dan saling menguntungkan, kita tidak menunjukkan nilai tambah dari Injil Kristus. Kita dipilih untuk menunjukkan kasih yang tidak termotivasi oleh potensi keuntungan atau balasan. Kasih kepada musuh adalah kasih yang murni karena tidak mengharapkan imbalan duniawi. Sebagai orang percaya yang dipilih, kita adalah duta besar kerajaan Allah. Kita mengasihi musuh bukan karena musuh itu layak dikasihi, tetapi karena Allah yang kita layani itu mengasihi mereka, dan kita mencerminkan karakter-Nya. Orang percaya dipilih untuk mengasihi musuh bukan karena kita lebih kuat atau lebih baik dari orang lain, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia Allah yang tidak layak kita terima.
Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu hidup berbeda dengan dunia. Amin.
Rabu, 04 Februari 2026
bahan bacaan : 1 Yohanes 2 : 7 – 11 (TB2)
Perintah yang baru
7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kamu miliki sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 8 Namun, kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu. Sebab, kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 9 Siapa yang berkata, bahwa ia ada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10 Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 11 Namun, siapa yang membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Mengasihi Saudara
Status “anak terang” tidak ditentukan oleh klaim verbal, “saya sudah diselamatkan”, tetapi oleh bukti nyata dari kasih. Kebencian adalah bukti bahwa seseorang masih hidup di dalam kegelapan, terlepas dari pengakuan iman mereka. Kasih membuat pijakan rohani kita kokoh. Tidak ada “sandungan” atau kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa yang disebabkan oleh konflik internal atau dendam. Kasih mempersatukan dan memelihara komunitas orang percaya. Kita dipilih sebagai anak-anak terang. Identitas baru ini menuntut perilaku yang konsisten dengan terang itu sendiri. Sebagaimana terang menghilangkan kegelapan, kasih harus menghilangkan kebencian di hati kita. Membenci saudara adalah pengkhianatan terhadap identitas ilahi kita yang baru. Kasih kepada saudara seiman adalah tanda otentik bahwa terang Kristus berdiam di dalam kita, memandu langkah kita dan membedakan kita dari dunia yang masih berjalan dalam kegelapan. Mengasihi saudara berarti menerjemahkan iman kita ke dalam tindakan nyata. Rasul Yohanes menantang kita untuk tidak hanya mengasihi dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran Jika kita melihat saudara kita membutuhkan bantuan, namun menutup pintu belas kasihan kita, kasih Allah tidak mungkin tinggal di dalam hati kita. Kasih persaudaraan menuntut kedermawanan, pelayanan, dan kesediaan untuk berbagi beban. Dunia tidak akan mengenali kita dari teologi kita yang rumit, gedung gereja yang megah, atau kefasihan kita berbicara, melainkan dari cara kita memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih.
Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mengasihi saudara kami. Amin.
Kamis, 05 Februari 2026
bahan bacaan : Yunus 3 : 1-10 (TB2)
Niniwe bertobat dan diampuni
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, 2 "Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, dan serukanlah kepadanya pesan yang Kufirmankan kepadamu." 3 Yunus pun segera pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman TUHAN. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Yunus mulai masuk ke dalam kota dan berjalan sepanjang hari. Ia berseru, "Empat puluh hari lagi Niniwe akan dijungkirbalikkan." 5 Lalu orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka mengumumkan puasa dan mereka, dan semuanya, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah kabar itu sampai kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya. Ia menanggalkan jubahnya, menyelubungi dirinya dengan kain kabung, lalu duduk di abu. 7 Atas perintah raja dan para pembesarnya diserukanlah di Niniwe maklumat ini, "Manusia dan ternak, lembu dan kambing domba, tidak boleh makan apa-apa; tidak boleh makan rumput atau minum air. 8 Semuanya, manusia dan ternak harus berselubungkan kain kabung dan berseru sekuat-kuatnya kepada Allah. Masing-masing harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala, sehingga kita tidak binasa." 10 Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikan-Nya. Ia pun tidak jadi melakukannya.
Kasih Tuhan yang Nyata
Meskipun Yunus gagal dan melarikan diri pada panggilan pertama, Allah tidak meninggalkannya. Firman Tuhan datang untuk kedua kalinya. Allah itu sabar. Dia memilih Yunus, bukan karena Yunus sempurna atau antusias, tetapi karena Allah berdaulat atas rencana penyelamatan-Nya. Jika Allah bergantung pada kesempurnaan kita, tidak ada seorang pun yang akan diutus.Yunus menyampaikan pesan penghakiman yang singkat: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”. Pesan ini sepertinya keras, tetapi ada implikasi tersembunyi: Allah memberikan tenggat waktu 40 hari. Kasih Allah dapat menjangkau hati yang paling keras sekalipun. Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur yang terkenal kejam, musuh Israel. Namun, mereka merendahkan diri. Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada bangsa atau individu yang berada di luar jangkauan kasih dan anugerah Allah. Allah ingin menyatakan sifat-Nya yang pemaaf, bukan penghukum. Dia mengutus Yunus untuk menunjukkan bahwa belas kasihan-Nya tersedia bagi siapa saja yang berseru dan berbalik dari jalan jahat mereka. Allah lebih bersukacita melihat pertobatan daripada penghukuman. Kisah Niniwe mengajarkan kita bahwa fokus utama pemilihan kita sebagai orang percaya adalah untuk menjadi saluran kasih dan pengampunan Allah kepada dunia yang terhilang, bahkan kepada “musuh” kita. Allah rindu agar semua orang bertobat dan diselamatkan.
Doa: Tuhan, terima kasih untuk kasih-Mu yang tak bersyarat untuk kami. Amin.
Jumat, 06 Februari 2026
bahan bacaan : Yohanes 15 : 18 – 19 (TB2)
Dunia membenci Yesus dan murid-murid-Nya
18 "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. 19 Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi, karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.
Kasih Yang Tidak Dibalas
Yohanes 15:18–19 menegaskan bahwa tindakan pemilihan oleh Kristus bukan sekadar penetapan identitas rohani, melainkan penugasan etis yang menempatkan murid dalam posisi sebagai wakil-Nya di tengah dunia. Frasa “Aku telah memilih kamu dari dunia” (ay. 19), harus dipahami sebagai panggilan relasional yang menuntut respons ketaatan konkret. Dengan kata lain, seorang murid harus mampu mengenal dirinya dalam hubungan dengan Kristus secara benar. Pemilihan dalam Injil Yohanes memang mengandung dimensi misi yakni para murid dipanggil keluar dari pola duniawi agar dapat memperlihatkan karakter Kristus melalui tindakan yang memuliakan Allah dan menghormati sesama. Tindakan itu berwujud dalam hidup yang penuh kasih, keterbukaan, dan kesediaan merendahkan diri, sehingga hubungan dengan orang lain menjadi ruang manifestasi ketaatan kepada Yesus. Dengan demikian, pemilihan bukanlah dasar superioritas atau membuat kita berbangga diri dan merasa hebat. Tetapi panggilan untuk menjalankan peran yang memperlihatkan kesetiaan dan integritas dalam komunitas. Bahkan, sekalipun karena ketaatan itu, harus mengalami penolakan dunia (ay. 18). Di tengah-tengah tantangan tersebut, kita harus tetap tetap mempertahankan etos kasih dan penghormatan terhadap sesama sebagai wujud kesetiaan kepada Sang Pemilih.. Ada ungkapan seperti ini : “Kasih menjalankan tugasnya bukan kepada mereka yang membalas, tetapi kepada mereka yang tidak membalas”. Hanya dengan demikian, kasih yang kita lakukan sebagai penyataan kasih Allah dapat dilihat, disadari dan membawa perubahan.
Doa: Tuhan, kuatkan kami untuk tetap mengasihi sekalipun dibenci. Amin.
Sabtu, 07 Februari 2026
bahan bacaan : Efesus 6 : 1-3 (TB2)
Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. 2 Hormatilah bapakmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Kasih Anak Kepada Orang Tua
Penelitian perkembangan moral menunjukkan bahwa penghargaan dan kepatuhan dalam keluarga berkontribusi besar terhadap internalisasi nilai kasih, empati, dan tanggung jawab sosial. Ketaatan anak kepada orang tua bukan lagi dipahami sebagai mekanisme kontrol, tetapi sebagai latihan spiritual untuk membentuk karakter yang menghargai otoritas, relasi, dan komitmen. Paulus mengaitkan ketaatan anak dengan janji Allah, memperlihatkan bahwa relasi keluarga yang ditata dengan hormat merupakan bagian dari visi Allah untuk kesejahteraan umat. Dengan kata lain, penghormatan kepada orang tua sebagai tindakan yang memelihara shalom dalam keluarga dan dalam komunitas yang lebih luas. Bagi orang tua, khususnya ayah yang disebut Paulus dalam ayat lanjutannya, peran mereka sebagai pendidik rohani juga merupakan panggilan yang dipilih, bukan sekadar posisi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa relasi keluarga yang saling menghormati lahir ketika orang tua menjalankan otoritas dengan kasih, bukan dengan dominasi. Dengan demikian, penerapan Efesus 6:1–3 menuntut kedua pihak menjalankan perannya masing-masing sebagai respon terhadap kasih Allah, bukan tuntutan sepihak. Dalam kehidupan jemaat, pemahaman ini menolong komunitas Kristen membangun budaya saling menghormati antar generasi. Kita memulainya dari keluarga sebagai basis pembinaan iman yang menekankan kasih.
Doa: Tuhan, Ajarlah kami sebagai anak-anak untuk setia mengasihi orang tua. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM