Tema Bulanan : Anugerah Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan
Tema Mingguan : Dipilih Untuk Memuliakan Tuhan
Minggu, 08 Februari 2026
bahan bacaan : Efesus 1 : 3 – 14 (TB2)
Kekayaan orang-orang yang terpilih
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab, di dalam Dia kita beroleh penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan atas pelanggaran, menurut kekayaan anugerah-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 9 Sebab, Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 11 Di dalam Dialah kami diberi warisan - kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah yang mengerjakan segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Berkat Rohani
Efesus 1:3–14 menampilkan satu kalimat panjang dalam bahasa Yunani yang oleh banyak penafsir disebut sebagai “berkat rohani”, yang menegaskan prakarsa Allah dalam keselamatan. Paulus menyatakan bahwa Allah memilih orang percaya sebelum dunia dijadikan bukan terutama untuk keselamatan individual semata, melainkan untuk hidup dalam kekudusan dan tak bercacat di hadapan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan selalu memiliki orientasi etis dan relasional, yakni membawa umat kembali pada rancangan semula yang memantulkan karakter Allah di bumi. Paulus menegaskan bahwa tujuan pemilihan itu diarahkan kepada pujian bagi kemuliaan-Nya (Ef. 1:6, 12, 14). Tindakan memuliakan Tuhan bukan hanya tindakan pribadi, tetapi keterlibatan dalam pemulihan relasi diri, komunitas, dan ciptaan. Untuk itu, Roh Kudus menjadi jaminan yang berperan sebagai kekuatan transformasi, guna memampukan umat mempraktikkan kehidupan yang memuliakan Allah. Dalam konteks pekerjaan, studi, keluarga, dan pelayanan, orang percaya menjadi representasi kemuliaan Allah ketika integritas, kejujuran, dan kasih menjadi pola hidup sehari-hari. Dalam keluarga, suami menyatakan hal tersebut kepada istri dan sebaliknya, serta orang tua kepada anak dan sebaliknya. Kita harus memulainya dari keluarga kita yang senantiasa membina spiritualitas orang percaya untuk mewujudkan tindakan nyata yang memiliki dampak perubahan yang luas sebagai berkat rohani.
Doa: Tuhan, kami mau menghadirkan berkat rohani bagi semua. Amin
Senin, 09 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 146 : 1 – 10 (TB2)
TUHAN memerintah selama-lamanya
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 4 Apabila nafasnya berhenti, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah segala rencananya. 5 Berbahagialah orang yang menerima pertolongan dari Allah Yakub, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: 6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, 7 yang menegakkan keadilan untuk orang yang tertindas, yang memberi makanan kepada orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang yang terkurung, 8 TUHAN membuka mata orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang benar. 9 TUHAN menjaga para pendatang, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik digagalkan-Nya. 10 TUHAN memerintah untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!
Memuji Tuhan Seumur Hidup
Mazmur 146 dibuka dengan deklarasi personal: “Aku hendak memuji Tuhan seumur hidupku.” Ini menunjukkan bahwa memuliakan Tuhan bukan aktivitas sesaat, tetapi respons eksistensial umat pilihan terhadap karya dan karakter Allah selamanya. Seruan untuk tidak mengandalkan “para pemimpin” atau manusia fana bukan sekadar peringatan moral, tetapi pilihan untuk mengarahkan kepercayaannya hanya kepada Allah. Memuji Tuhan berarti terus mengakui karya-Nya di balik realitas hidup sehari-hari. Tindakan-tindakan Allah nampak ketika Ia membela orang tertindas, memberi roti kepada lapar, membebaskan orang hukuman, menopang yatim dan janda menjadi gambaran karakter Allah yang harus diwujudkan umat pilihan. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan sosial merupakan bagian integral dari etika hidup. Memuliakan Tuhan tidak hanya dalam nyanyian, tetapi dalam tindakan yang mencerminkan keadilan dan belas kasih Allah. Ketika kita membantu mereka yang lemah secara ekonomi berarti kita sementara membuka kesempatan bagi orang lain untuk pulih dan bertumbuh. Dengan cara hidup seperti ini, kita melihat hidup bukan hanya dari perspektif jangka pendek, tetapi dari perspektif kekekalan, yang mana menilai keputusan berdasarkan nilai Kerajaan Allah yakni keadilan, kasih, dan kebenaran. Kita tetap setia melayani meski hasilnya belum tampak, karena Allah tetap memerintah dalam kehidupan kita.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi terang bagi yang lain. Amin
Selasa, 10 Februari 2026
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 42 – 49 (TB2)
42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara lagi tentang hal-hal itu pada hari Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam anugerah Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. 46 Namun dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang dari bangsa-bangsa lain dan mereka memuliakan firman Tuhan. Semua orang yang ditentukan untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. 49 Lalu firman Tuhan disebarkan di seluruh daerah itu.
Terang Bagi Yang Lain
Teks Kisah Para Rasul 13:42–49 menampilkan bahwa dalam karya penyelamatan Allah, pemilihan selalu hadir bersama dengan proses penolakan dan penerimaan terhadap firman. Ketika Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di Antiokhia, sebagian orang Yahudi menolak pesan itu karena iri dan keras hati. Namun penolakan tersebut justru membuka ruang bagi bangsa-bangsa lain untuk menerima terang keselamatan. Secara teologis, dinamika ini menegaskan bahwa pemilihan Allah tidak bersifat eksklusif melainkan memilih untuk tujuan tertentu yakni menjadi saluran berkat dan cahaya keselamatan bagi banyak orang (bdk. Yes. 49:6). Pemilihan itu bukan semata status, tetapi penugasan yang menuntut kesetiaan, keberanian, dan ketekunan dalam menyampaikan firman, bahkan ketika respons yang muncul adalah penolakan. Hal ini tidak pernah membatalkan rencana Allah, namun justru dalam konteks penolakan itulah Injil meluas, dan bangsa-bangsa lain “bersukacita serta memuliakan firman Tuhan” karena mereka pun diikutsertakan dalam karya keselamatan. Teks ini menolong kita untuk memahami bahwa ketika dipilih oleh Allah, kita tidak dipanggil untuk mencari penerimaan manusia, melainkan untuk setia menjadi terang melalui perkataan, karakter, dan kesaksian hidup. Dalam pelayanan, pekerjaan, maupun relasi sosial, mungkin akan muncul sikap penolakan terhadap kebenaran yang dinyatakan, tetapi hal itu tidak boleh memadamkan komitmen untuk tetap menghadirkan kasih, keadilan, dan hikmat Allah. Sebaliknya, setiap kesempatan penerimaan terhadap firman harus dipandang sebagai karya Roh Kudus yang menggenapi maksud Allah untuk menjangkau lebih banyak orang.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa hidup memuliakan-Mu. Amin
Rabu, 11 Februari 2026
bahan bacaan : 1 Korintus 10 : 27 – 33 (TB2)
27 Kalau kamu diundang makan oleh seseorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 28 Namun kalau seorang berkata kepadamu, "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. 29 Yang aku maksudkan dengan keberatan bukanlah keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan hati nurani orang lain itu. Lalu, "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan hati nurani orang lain? 30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang mencela aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" 31 Jadi, baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 32 Janganlah membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.
Hidup Yang Tidak Menjadi Batu Sandungan
Menjadi orang percaya bukan hanya soal menerima anugerah Allah, tetapi tentang bagaimana kita dipilih untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui cara hidup yang benar. Kita dipilih bukan hanya untuk diberkati, tetapi juga untuk menjadi berkat dengan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 23 “ Jangan membuat orang tersandung…”. Ayat ini berisi nasehat Paulus kepada jemaat Korintus yang telah dewasa dalam iman agar mereka tidak membuat saudara seiman, baik orang Yahudi maupun orang Yunani jatuh dalam dosa karena ikut makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa, sebab hal itu menentang Allah (ay.20). Hidup sebagai orang percaya tidak boleh menjadi “batu sandungan” bagi sesama. Hal ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan menjaga cara berbicara, cara bersikap, dan tidak mengajak orang lain melakukan hal-hal yang tidak benar, seperti perilaku yang merugikan orang lain atau bertentangan dengan firman Tuhan ( okultisme, mabuk, narkoba, selingkuh, judi online, penipuan, pencurian, dll). Tidak menjadi “batu sandungan” alah sikap memuliakan Tuhan.
Doa: Roh Kudus tuntun kami supaya tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Amin.
Kamis, 12 Februari 2026
bahan bacaan : Yesaya 43 : 1 – 7 (TB2)
TUHAN Juruselamat dan Penebus Israel
Namun sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel, "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini milik-Ku. 2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau. 3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku memberikan Mesir sebagai tebusan bagimu, dan Etiopia serta Syeba sebagai gantimu. 4 Oleh karena engkau berharga dan mulia di mata-Ku dan Aku mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. 5 Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan menghimpun engkau dari barat. 6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Jangan ditahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung bumi, 7 semua orang yang disebut dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan juga Kujadikan!"
Dipilih Untuk Hidup Memuliakan Tuhan
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan. Hidup kita bukan sekedar untuk diri sendiri atau untuk mengejar kesenangan duniawi, tetapi untuk menjadi saksi kasih, kebaikan, dan kebenaran Allah di tengah dunia. Allah telah menciptakan, menebus, dan memanggil kita bukan untuk sesuatu yang sia-sia, melainkan agar nama-Nya dimuliakan. Nas bacaan kita menjelaskan tentang panggilan Allah bagi Israel sebagai umat pilihan-Nya, supaya mereka hidup benar dihadapan Allah dan menjadi berkat bagi bangsa lain, meskipun mereka hidup menderita di pembuangan. Tuhan telah memanggil kita dengan maksud untuk memuliakan-Nya, sebagaimana firman Tuhan: “Segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan” (Band.1 Kor.10:31), melalui apa pun profesi, kemampuan, atau peran kita, baik di rumah, di sekolah, di kampus, maupun di tempat kerja. Ketika kita memahami identitas dan panggilan kita ini, kita dapat berjalan tanpa takut, sebab Allah berkata: “ janganlah takut..Aku menyertai engkau”.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup memuliakan Tuhan Amin.
Jumat, 13 Februari 2026
bahan bacaan : 1 Korintus 6 : 12 – 20 (TB2)
Nasihat terhadap percabulan
12 "Segala sesuatu diperbolehkan bagiku", tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apapun. 13 "Makanan untuk perut dan perut untuk makanan" tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. 14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. 15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus? Jadi akan kuambilkah anggota Kristus dan menjadikannya anggota tubuh pelacur? Sekali-kali tidak! 16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, telah dikatakan, "Keduanya akan menjadi satu daging." 17 namun, siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Namun orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap tubuhnya sendiri. 19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Muliakan Tuhan Dengan Tubuhmu
Paus Leo Agung pernah berkata: “Umat Kristiani, ingatlah akan siapa dirimu, kamu telah ditebus mahal dengan darah Kristus, maka jangan berbuat jahat tapi muliakan Tuhan dengan tubuhmu”. Perkataan ini sama dengan yang dinasehatkan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Di tengah maraknya paktek percabulan sebagai bentuk penyembahan kepada dewi Aprhodite kala itu. Paulus menegaskan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, tempat kediaman Roh kudus. Itu berarti tubuh kita adalah sesuatu yang kudus dan dihargai Tuhan. Ia memberi kita tubuh bukan hanya untuk bekerja dan bergerak, tetapi untuk menjadi alat memuliakan Dia. Maka kita tidak bebas memperlakukan tubuh sembarangan. Cara kita makan, bekerja, beristirahat, menjaga kesehatan dan memakai anggota tubuh menunjukkan bagaimana kita menghormati Tuhan. jadi ketika kita memakai tubuh untuk hal-hal yang merusak diri, menyakiti orang lain, memuaskan dosa, kita sedang menyalahgunakan sesuatu yang Tuhan tebus dengan darah-Nya.Tubuh ini milik Tuhan, mari menggunakannya untuk hormat dan kemuliaan-Nya.
Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kami, Amin
Sabtu, 14 Februari 2026
bahan bacaan : 2 Tesalonika 1 : 3 – 12 (TB2)
Ucapan syukur dan doa
3 Kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, 4 sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita. 5 Itu adalah bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu. 6 Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu 7 dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya yang penuh kuasa, di dalam api yang bernyala-nyala, 8 dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. 9 Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya, 10 apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai. 11 Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, 12 sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.
Kuat Dalam Iman, Kaya Dalam Kasih Di Tengah Derita
Film animasi “The 21” menceritakan kisah nyata para Kristen Koptik yang diculik oleh kelompok teroris dan dipaksa untuk melepaskan iman mereka kepada Yesus Kristus. Ketika mereka menolak, mereka disiksa. Tetapi mereka tetap setia pada sampai akhir hidup. Mereka tidak membenci penyiksa, malah berdoa supaya para penyiksa diampuni. Selain itu, mereka saling berdoa dan saling menguatkan meskipun mereka kuat menghadapi penganiayaan secara brutal dan ancaman eksekusi. Film ini memperlihatkan keberanian iman yang berakar pada kasih yang sejati, sebagaimana Paulus menasehati jemaat di Tesalonika agar bertumbuh dalam iman, sabar menanggung penderitaan, dan bertambah dalam kasih meski ditindas. Kenyataan ini bukan sesuatu yang mudah dihadapi. Hal ini menjadi teladan bagi kita saat ini untuk tetap kuat dalam iman dan mengasihi sesama, termasuk mereka yang membenci atau membuat menderita. Kasih di tengah penderitaan hanya bisa dilakukan dengan kuasa Kristus. Sebab itu berdoalah agar kita memperoleh kuasa itu dari Tuhan.
Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami kuat dalam iman, kaya dalam kasih sekalipun menderita, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM