Tema Bulanan : Anugerah Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan
Tema Mingguan : Tuhan Menjawab Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya
Minggu, 22 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 22 : 20 – 25 (TB2)
19 (22-20) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! 20 (22-21) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. 21 (22-22) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku! 22 (22-23) Maka aku mau menceritakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: 23 (22-24) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! 24 (22-25) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun menganggap sepi kesengsaraan orang yang tertindas, Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya terhadap orang itu, dan Ia mendengarkan seruannya minta tolong.
Tuhan Menjawab Seruan Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya
Bacaan hari ini lahir dari jeritan seorang yang terhimpit, yang nyaris kehilangan daya, bahkan merasa seolah-olah ditinggalkan. Namun dari kedalaman penderitaan itu, pemazmur tidak berhenti pada ratapan. Ia berani berseru, memohon pertolongan, dan akhirnya bersaksi tentang Allah yang tidak menolak seruan orang yang tertindas. Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya. Tuhan tidak menutup telinga-Nya. Tuhan hadir, mendengar, dan menyelamatkan. Inilah iman yang hidup di tengah sengsara iman yang tidak menyangkal penderitaan, tetapi tetap menggantungkan harap sepenuhnya kepada Allah. Karena itu, memasuki Minggu Sengsara kedua ini, merupakan suatu masa perenungan yang mengajak kita untuk kembali menatap dengan jujur realitas penderitaan, pergumulan, luka, dan jeritan hati manusia. firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk melihat kembali hidup kita: di tengah tekanan, luka, ketidakpastian, dan pergumulan yang mungkin masih kita tidak mengerti, apakah kita masih memilih untuk berseru kepada Tuhan? Dan sebagai orang-orang pilihan yang hidup dalam anugerah-Nya, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan sungguh mendengar, menjawab, dan tidak pernah meninggalkan kita?
Doa: Tuhan, terima kasih karena menjawab seruanku kepadaMU. Amin.
Senin, 23 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 34 : 16 – 23 (TB2)
15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; 16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. 17 (34-18) Orang-orang benar berseru-seru, dan TUHAN mendengarkan, Ia melepaskan mereka dari segala kesesakannya. 18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat. 19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; 20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun akan patah. 21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. 22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.
Tuhan Mendengar Seruan Orang Benar yang Menderita
Sepanjang hidup di dunia ini kita akan berhadapan dan menjumpai orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Seperti juga yang pernah dialami para nabi atau tokoh-tokoh penting di dalam Alkitab. Meskipun demikian, satu hal yang dapat dipelajari dari mereka yaitu bahwa mereka selalu melakukan kebenaran dan dekat kepada Tuhan. Hanya dengan melakukan kebenaran, seruan permohonan minta pertolongan kepada Tuhan akan terjawab. Mengapa demikian?, Menurut pemazmur, mata Tuhan itu tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga Tuhan selalu mendengar teriak mereka minta pertolongan (ay.16). Tertuju artinya doa orang benar menjadi perhatian tersendiri dari Tuhan. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Jadi, Tuhan akan selalu mendengar suara permohonan minta pertolongan dari kita, yang penting dalam hidup ini kita melakukan kebenaran. Tuhan Yesus, yang paling benar dari semua orang benar, juga menangis dan berseru kepada Bapa.Karena itu ketika kita berseru dalam penderitaan, kita tidak berseru kepada Allah yang jauh, tetapi kepada Juruselamat yang mengerti dari pengalaman. Ia menjadi jaminan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan seruan orang benar dalam penderitaan.
Doa: Tuhan, mampukan kami hidup dalam kebenaran, supaya doa kami didengar olehMU. Amin.
Selasa, 24 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 86 : 1 – 7 (TB2)
Doa memohon kasih setia
Doa Daud. Arahkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. 2 Jagalah hidupku, sebab aku setia, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. 4 Buatlah hati hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat hatiku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.
Tuhan Mendengar dan Menjawab pada Hari Kesesakan
Bacaan hari ini menceritakan tentang Daud yang percaya bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi memperhatikan setiap kata dalam doanya. Ia berkata, “pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.” Inilah iman yang lahir dari pengalaman berjalan bersama Tuhan. ketika badai masalah datang, ketika hati gentar dan takut, ketika menemui jalan buntu, Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan selalu dekat kepada orang yang berseru kepada-Nya. Kita pun sering datang dengan berbagai pergumulan, ketakutan, tekanan atau kebingungan. Seringkali kita diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Masalah dan tantangan hidup silih berganti menghimpit dan membuat kita merasa sesak. Hal ini membuat tidak sedikit orang mengalami kekecewaan dan putus asa dalam hidup. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa kita memiliki Allah yang menyendengkan telingaNya untuk mendengar seruan kita. Dia adalah Allah yang menjawab doa pada waktuNya. Sebab itu,apabila kita berada dalam kesesakan, janganlah putus asa. Teguhkanlah hati untuk tetap berharap hanya kepada Tuhan dan Berserulah dalam doa, IA akan menjawab.
Doa: Tuhan, dalam kesesakanku, Dengarkanlah seruan doaku. Amin.
Rabu, 25 Februari 2026
bahan bacaan : Kejadian 21 : 14 – 21 (TB2)
14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekantong air, memberikannya kepada Hagar, dan meletakkannya di atas bahunya. Lalu bersama anak itu disuruhnya Hagar pergi. Hagar kemudian pergi dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikantong itu habis, anak itu ditinggalkannya di bawah semak-semak, 16 Lalu ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Aku tidak tahan melihat anak itu mati." Sementara duduk di situ, Hagar menangis dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak laki-laki itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar. Ia berkata kepadanya: "Apa yang terjadi padamu, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah dia erat-erat, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Ia pergi mengisi kantong airnya, lalu memberi anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu. Ia bertambah besar dan menetap di padang gurun serta menjadi seorang pemanah. 21 Ia tinggal di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
Tuhan Mendengar Suara Tangisan Kesusahan
Kisah Hagar dan Ismael di padang gurun adalah salah satu potret paling menyentuh tentang Allah yang mendengar tangisan manusia. Hagar diusir, kehabisan makanan, kehilangan arah dan akhirnya meletakkan Ismael di bawah semak-semak karena tidak sanggup melihat anaknya mati kehausan. Ia menangis jauh dari anaknya, menangis dalam keputusasaan dan ketakutan. Tetapi Alkitab mencatat sesuatu yang indah: Allah mendengar suara anak itu (ay.17). bukan hanya suara tangisan Hagar melainkan juga Ismael, seorang anak yang tidak mampu menolong dirinya sendiri. Bacaan ini hendak mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan tangisan kita. Saat kita merasa seperti Hagar: hilang arah, merasa sendirian, tertekan dengan banyak masalah dan tidak kuat hadapi penderitaan, airmata adalah doa yang didengar oleh Tuhan.
Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar suara tangisan kesusahanku, Amin.
Kamis, 26 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 120 : 1 – 7 (TB2)
Doa orang yang tinggal di tengah-tengah musuh
Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2 "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari bibir dusta, dari lidah penipu." 3 Apakah yang akan diberikan-Nya kepadamu dan apakah yang masih akan ditambahkan-Nya kepadamu, hai lidah penipu? 4 Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar. 5 Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai pendatang di Mesekh, karena harus menetap di antara kemah-kemah Kedar! 6 Lama sudah aku menetap bersama orang-orang yang membenci perdamaian. 7 Ketika aku berbicara tentang damai, mereka tentang perang.
Tuhan Mendengar seruan dan Membebaskan dari Tipu daya
Perjumpaan dengan orang lain di sekitar kita adalah realitas hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Suka atau tidak suka, perjumpaan itu membuat kita mengalami berbagai hal yang menyenangkan tetapi juga menyakitkan. Terhadap kenyataan yang demikian, apakah yang akan dilakukan menyikapi semua hal yang menyakitkan itu? Hari ini kita belajar dari pemazmur, karena dalam kesesakan yang di alami ia tetap berseru kepada Tuhan. Pemazmur mengalami kesesakan karena ia harus berhadapan dengan bibir dusta dan lidah penipu. Atau dengan kata lain orang-orang yang menyerangnya dengan tuduhan palsu dan penghianatan. Karena itu, pemazmur berseru dalam doanya agar Tuhan membebaskan jiwanya dari pengaruh buruk mereka. Pengalaman pemazmur yang berhadapan dengan orang-orang yang demikian tidak jarang dialami juga oleh kita di masa kini. Banyak yang suka menebar fitnah dengan bibirnya dan tipu muslihat dengan lidahnya. Hal semacam ini dapat saja kita alami tidak hanya di lingkungan masyarakat secara umum tetapi juga dalam keluarga dan tempat kita bekerja atau melayani. Menghadapi kenyataan yang demikian maka kita diajarkan untuk selalu menyerukannya kepada Tuhan. Sebab hanya dengan berseru kepada Tuhan, kita akan dimampukan menghadapi berbagai fitnah dan kata-kata menipu yang bertujuan untuk menjatuhkan.
Doa: bebaskanlah kami dari tipu dan dusta, ya Allah yang mendengarkan seruan, Amin.
Jumat, 27 Februari 2026
bahan bacaan : Matius 20 : 29 – 34 (TB2)
Yesus memulihkan penglihatan dua orang buta
29 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 30 Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 31 Orang banyak itu menegur mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?" 33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." 34 Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyentuh mata mereka. Seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.
Jangan Berhenti Berseru Kepada Tuhan
Banyaknya persoalan dan tantangan kehidupan yang datang silih berganti cukup berpengaruh melemahkan iman kita. Ini dapat saja terjadi ketika doa dan harapan kita belum dijawab oleh Tuhan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat kita merasa lelah untuk terus meminta dan berharap padaNya. Terhadap hal itu, kisah dua orang buta yang duduk di pinggir jalan pada bacaan saat ini mau mengingatkan kita supaya tidak berhenti berseru pada Tuhan. Kedua orang buta tersebut tetap berseru pada Tuhan Yesus sekalipun berada dalam kondisi fisik yang terbatas tetapi juga ketika ditegor oleh banyak orang supaya mereka diam. Ini menunjukkan pengharapan mereka yang besar kepada Tuhan Yesus dan kuasaNya yang melakukan banyak mujizat. Kegigihan hati dan mulut mereka untuk tetap berseru dan tidak menyerah, akhirnya membuahkan hasil yaitu memperoleh kesembuhan. Pengalaman hidup kedua orang buta yang disembuhkan oleh Yesus memberikan motivasi dan dorongan kepada kita sebagai orang-orang percaya di zaman ini. Memang benar akan ada tantangan dan hambatan tetapi juga terkesan Tuhan lambat atau tidak menjawab doa-doa kita. Akan tetapi janganlah lelah apalagi berhenti berseru padaNya, sebab cepat atau lambat Tuhan akan menjawab tepat pada waktunya. Ingatlah senantiasa bahwa Tuhan akan menjawab, karena itu janganlah berhenti berseru padaNya.
Doa: Tuhan, dengarkanlah seruan kami yang buta dan lemah ini, Amin.
Sabtu, 28 Februari 2026
bahan bacaan : Mazmur 30 : 1 – 4 (TB2)
Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya
Mazmur. Nyanyian untuk penahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. 2 (30-3) TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. 3 (30-4) TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menyelamatkan hidupku sehingga aku tidak turun ke liang kubur.
Diselamatkan Saat Berseru
Bacaan ini menggambarkan pengalaman pribadi Daud yang merasakan pertolongan Tuhan secara nyata. Ia mengangkat pujian karena Tuhan telah menyelamatkannya dari keadaan yang hampir merenggut hidup. Daud berseru, dan Tuhan menjawab. Ia bersaksi bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi juga bertindak dengan kuasa yang memulihkan hidup mengangkatnya dari jurang keputusasaan dan menyembuhkan luka-luka yang dialaminya. Ayat-ayat ini menolong kita melihat bahwa Tuhan dekat dengan orang yang berseru kepada-Nya. Seruan kita, entah dalam kesedihan, sakit, atau tekanan hidup, bukanlah teriakan yang hilang di udara. Tuhan mendengar dengan penuh perhatian. Ia tidak membiarkan kita tergeletak dalam pergumulan, tetapi mengulurkan tangan untuk mengangkat dan memulihkan. Pemazmur mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan, sebab kemurahan-Nya jauh lebih besar daripada pergumulan yang kita hadapi. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita merasa doa tidak segera dijawab. Namun Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu yang terbaik. Kesembuhan yang Dia berikan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga bagi hati yang letih dan jiwa yang hampir menyerah. Karena itu, kita diajak untuk tetap percaya dan tetap berseru kepada-Nya. Tuhan yang menyelamatkan Daud adalah Tuhan yang sama yang menyelamatkan kita hari ini.
Doa: Tuhan, yakinkan hati kami untuk tetap percaya dan mau berseru kepadaMu. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM