Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan
Tema Mingguan : Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah!
Minggu, 8 Maret 2026
bahan bacaan : Lukas 22 : 54 – 62 (TB2)
Petrus menyangkal Yesus
54 Mereka menangkap Yesus dan membawa Dia ke rumah Imam Besar. Sementara itu, Petrus mengikuti dari jauh. 55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. 56 Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api. Ia mengamat-amatinya, lalu berkata: "Orang ini juga bersama Dia." 57 Namun, Petrus menyangkal, katanya: "Aku tidak kenal Dia, Bu!" 58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Namun, Petrus berkata: "Bukan aku, Pak!" 59 Kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama Dia, sebab ia juga orang Galilea." 60 Namun, Petrus berkata: "Pak, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. 61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." 62 Ia pun pergi ke luar dan menangis dengan sedih.
Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah
Sejak tahun 1977 PBB meresmikan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia. Faktanya tindak kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual atau juga diskriminasi atas perempuan kerap tetap berlangsung. Padahal Tuhan menciptakan manusia setara baik laki-laki tetapi juga perempuan. Terhadap situasi yang ada, seruan bertobat menjadi penting disuarakan. Kita harus memandang Tuhan agar kita bertobat dari pandangan dan sikap kita yang salah. Situasi ini pernah dialami oleh Simon Petrus sebagaimana dikisahkan dalam teks bacaan hari ini. Bila sebelumnya ia dengan lantang mengatakan bersedia masuk penjara dan mati dengan Tuhan Yesus, namun saat ia ditanyai oleh hamba perempuan dan orang lain tentang kedekatannya dengan Tuhan Yesus, ia menyangkalinya. Penyangkalannya kemudian disesalinya setelah ia menyadari bahwa Tuhan Yesus sedang memandangnya. Marilah di minggu sengsara keempat, pandang Tuhan dan bertobatlah!
Doa: ya Tuhan Yesus, ampunilah kami orang berdosa ini, Amin.
Senin, 9 Maret 2026
bahan bacaan : Yehezkiel 18 : 30 – 32 (TB2)
30 Oleh karena itu, hai kaum Israel, Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah dan berpalinglah dari segala pelanggaranmu, supaya hal itu tidak menjadi bagimu batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. 31 Buanglah darimu segala pelanggaran yang kamu lakukan terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu harus mati, hai kaum Israel? 32 Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah, supaya kamu hidup!"
Bertobatlah supaya Kamu Hidup
Hesty seorang ibu rumah tangga yang bertetangga dengan Yona seorang PNS guru. Suami Hesty adalah juga seorang PNS guru. Setiap tanggal gajian, Hesty selalu memperhatikan Yona yang membelikan barang baru. Ia pun memaksa suaminya untuk membelikan barang yang baru. Suatu ketika Hesty meminta kepada suaminya untuk membelikan TV baru. Suaminya menolak mengikuti keinginannya karena TV mereka masih bisa digunakan. Hesty pun merajuk dan tidak mau memasak untuk keluarganya. Sikap Hesty sangat tidak baik. Ia harus mengubah gaya hidupnya. Teks hari ini mengajarkan hal pertobatan. Nubuat Yehezkiel berisi berita mengenai kehancuran bangsa Israel, tetapi juga berisi ajakan kepada bangsa Israel agar berbalik kembali kepada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya. Bertobat berarti berbalik dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Kita tahu bahwa orang yang memandang Tuhan harus membarui hati dan rohnya. Ia harus belajar berhenti berbuat jahat. Ayat 32a berkata: Sebab Aku tidak berkenan pada kematian seseorang, demikianlah Firman Tuhan. Tuhan sangat mengasihi kita. Jangan kita sia-siakan kebaikan Tuhan. Bertobatlah supaya kita hidup. Hesty mesti bertobat supaya baik dirinya tetapi juga keluarganya tetap diberkati Tuhan.
Doa: ya Tuhan Yesus terimalah pertobatan kami. Amin.
Selasa, 10 Maret 2026
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 3 : 17 – 20 (TB2)
17 Nah saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. 18 Namun, dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. 19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, 20 agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang ditetapkan bagimu sebagai Kristus.
Sadar dan Bertobat Supaya Hidup Dipulihkan
Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa, melainkan proses melihat diri dalam terang kasih Allah. Dalam teks ini, Petrus berbicara kepada orang banyak yang sebelumnya menolak Yesus. Namun, ia tidak datang dengan nada menghakimi. Ia membuka ruang bagi pemulihan, bahwa di dalam Kristus, kegagalan manusia tidak menjadi kata akhir. Bertobat berarti mengakui bahwa kita sering berjalan dalam kecenderungan yang salah, lalu berbalik menuju jalan yang dipulihkan oleh Allah. Ketika seseorang bertobat, Allah menjanjikan “waktu kelegaan.” Ini adalah keteduhan yang tidak dapat diberikan oleh kekuatan manusia atau pencapaian duniawi, tetapi hadir dari penyertaan Tuhan sendiri. Hidup dipulihkan bukan karena kita sempurna, tetapi karena kasih karunia yang sanggup memperbarui apa yang retak dalam hidup kita. Pertobatan membuka mata dan hati kita untuk menerima hidup yang baru, yang bersumber dari Kristus.
Doa: Tuhan, pulihkanlah hidup kami, Amin.
Rabu, 11 Maret 2026
bahan bacaan : Mazmur 63 : 1 – 9 (TB2)
Merindukan Allah
Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. 2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, pagi-pagi aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair. 3 Demikianlah aku mengarahkan mata pada-Mu di tempat kudus, untuk melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. 4 Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. 5 Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menyebut nama-Mu dengan tangan terangkat. 6 Jiwaku dikenyangkan seperti dengan sumsum yang terlezat, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku menyanyikan puji-pujian. 7 Saat aku mengingat Engkau di tempat tidurku, aku merenungkan Dikau sepanjang jaga malam, 8 Sebab Engkau telah menjadi pertolonganku, dan di bawah naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. 9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.
Mengarahkan Mata Kepada Tuhan Karena Ia Lebih Berharga daripada Hidup
Ketika Daud menulis mazmur ini, ia berada dalam keadaan terancam dan tersisih. Namun ia tidak terjebak dalam ketakutan, melainkan mengarahkan pandangannya kepada Allah. Ia menyadari bahwa hidup dapat membawa banyak hal yang tidak pasti, tetapi Allah tetap menjadi satu-satunya yang pasti. Ketika kita mengarahkan mata kepada Tuhan, kita sedang menempatkan kembali dasar hidup kita pada yang tak tergoyahkan. Pernyataan bahwa kasih Tuhan lebih baik daripada hidup adalah deklarasi iman yang mendalam. Hidup tanpa Tuhan dapat saja penuh keberhasilan lahiriah, tetapi miskin jiwa. Sebaliknya, hidup bersama Tuhan, sekalipun dalam keterbatasan, membawa kedalaman dan makna yang sejati. Mengarahkan mata kepada Tuhan adalah keputusan harian: memilih untuk percaya, berharap, dan bersandar kepada-Nya dalam segala situasi.
Doa: Tuhan, kami mengarahkan mata kepada-Mu, karena Engkau lebih berharga daripada hidup, Amin.
Kamis, 12 Maret 2026
bahan bacaan : Wahyu 2 : 1 – 7 (TB2)
Kepada jemaat di Efesus
"Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu. 2 Aku tahu segala pekerjaanmu, baik jerih payahmu maupun ketabahanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah menguji mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3 Engkau tetap tabah, sabar menderita oleh karena nama-Ku; dan tidak mengenal lelah. 4 Meskipun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 6 Tetapi, inilah yang ada padamu: Engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. 7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Firdaus Allah."
Bertobat dan Kembali kepada Kasih yang Semula
Gereja Efesus dikenal karena ketekunan dan ketepatannya dalam menguji ajaran, namun mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kasih yang semula. Kasih yang semula adalah pengalaman pertama ketika seseorang mengenal Kristus. Hangat, rendah hati dan penuh syukur. Ketika aktivitas keagamaan menjadi rutinitas, cinta itu dapat memudar tanpa disadari. Tuhan memanggil kita untuk kembali, bukan sekadar untuk ingat, melainkan untuk memulihkan keintiman yang pernah hidup. Kasih kepada Kristus bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan yang memampukan kita untuk mengasihi sesama. Dalam memulihkan kasih yang semula, kita menata ulang prioritas hidup, mengembalikan Tuhan ke tempat pertama. Pertobatan di sini adalah undangan untuk memperbarui relasi, bukan untuk menambah beban. Dan ketika kasih itu dipulihkan, hidup dan pelayanan menjadi kembali bernyawa.
Doa: Tuhan, tolonglah kami mengembalikan kasih yang semula dalam hidup kami, Amin.
Jumat, 13 Maret 2026
bahan bacaan : Yesaya 45 : 22 – 25 (TB2)
22 Berpalinglah kepada-Ku supaya kamu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. 23 Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan semua lidah bersumpah setia demi Aku, 24 sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang marah terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu, 25 tetapi seluruh keturunan Israel akan mendapat keadilan dan bermegah di dalam TUHAN."
Memandang Tuhan dan Diselamatkan
Tuhan mengundang semua bangsa untuk memandang kepada-Nya dan menerima keselamatan. Ini adalah panggilan yang universal, melampaui suku, bangsa, dan identitas apa pun. Memandang kepada Tuhan adalah tindakan iman: mengakui bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri dengan usaha atau moralitas kita sendiri. Bukan juga berasal dari kekayaan, kekuasaan atau kemampuan manusia. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada mereka yang datang dengan hati yang terbuka. Di hadapan Tuhan, setiap lutut bersujud dan lidah mengaku, bukan karena paksaan, tetapi karena pengenalan mendalam akan kemuliaan-Nya. Ketika seseorang sungguh-sungguh memandang kepada Tuhan, ia melihat kebenaran yang membebaskan dan kasih yang menyelamatkan. Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan kehilangan kebebasan, melainkan menemukan kebebasan yang sejati untuk dipakai sebagai alat-Nya yang berguna.
Doa: Kami datang Bersujud dan memandangMu Tuhan, selamatkanlah kami! Amin.
Sabtu, 14 Maret 2026
bahan bacaan : Yeremia 18 : 5-10 (TB2)
5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 6 "Apakah Aku tidak dapat bertindak terhadap kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel?, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! 7 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. 8 Akan tetapi, apabila bangsa yang kusebutkan itu bertobat dari kejahatannya, maka Aku akan menyesal karena hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurencanakan terhadap mereka. 9 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanamnya. 10 Namun, apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, menyesallah Aku karena kebaikan yang Kujanjikan untuk didatangkan kepada mereka.
Bentuklah Kami Kembali Seperti yang Tuhan Mau
Tuhan digambarkan sebagai penjunan yang membentuk tanah liat. Ini mengandung pesan bahwa Tuhan berdaulat atas bangsa-bangsa dan kehidupan manusia. Hidup kita berada di tangan Tuhan, seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Ia bisa merusak periuk yang tidak sempurna dan membuatnya kembali menjadi sesuatu yang berguna. Semua itu adalah kuasa tukang periuk sebagai penjunan. Namun kuasa ini bukan kuasa yang kejam, melainkan kuasa yang penuh kesabaran. Jika manusia bertobat, bahkan setelah mereka telah menyimpang jauh, Tuhan bersedia membentuk mereka kembali menjadi bejana yang indah. Penghukuman bukanlah tujuan akhir Tuhan. Yang Ia inginkan adalah pertobatan dan pemulihan. Ketika manusia berhenti bersandar pada kekerasan hati dan mulai kembali kepada Tuhan, kasih karunia bekerja mengubah apa yang rusak. Pertobatan selalu membuka pintu harapan baru. Dalam tangan Tuhan, hidup yang terpecah sekalipun dapat dibentuk kembali menjadi kehidupan yang membawa damai dan berkat.
Doa: Bentuklah kami kembali seperti yang Tuhan mau, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM