Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan
Tema Mingguan : Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia!
Minggu, 29 Maret 2026
bahan bacaan : Markus 11 : 8 – 11 (TB2)
8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. 9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, 10 terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 11 Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.
Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia
Ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang menyambut-Nya dengan sorak sorai dan daun palma. Mereka memuji dan mengagungkan Dia sebagai Raja. Namun, di kemudian hari, banyak dari mereka yang sama justru menolak dan membiarkan Dia disalibkan. Sambutan yang semula penuh sukacita berubah menjadi penolakan karena mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kehadiran Yesus. Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan dunia, melainkan untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan di salib. Dari salib itu, kita melihat kasih yang sempurna kasih yang rela menderita demi keselamatan dunia. Hari ini ada banyak anak Tuhan yang mengaku untuk menyambut Yesus dan mengikuti-Nya. Menyambut Yesus berarti bukan hanya bersorak ketika keadaan baik, tetapi mengikut Dia dengan setia di jalan penderitaan, ketaatan, dan kasih. Mengikut Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih yang rela berkorban, dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.Jangan hanya menyambut Yesus dengan kata dan seruan, tetapi sambutlah Dia dengan hati yang mau taat dan setia mengikuti jalan-Nya, sekalipun itu jalan salib.
Doa Tuhan, teguhkanlah pengakuan iman kami untuk menyambut-Mu dan setia mengikuti-Mu, Amin
Senin, 30 Maret 2026
bahan bacaan : Lukas 9 : 23 – 27 (TB2)
Syarat-syarat mengikut Yesus
23 Yesus berkata kepada mereka semua: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mengalami kematian sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."
Ikut Yesus Membutuhkan Pengorbanan
Perkataan Yesus dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar mengikuti dari jauh, tetapi keputusan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan segala konsekuensi yang menyertai. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, melepaskan keinginan pribadi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bukan hal mudah, sebab dunia menawarkan kenyamanan dan kebanggaan diri. Namun, Yesus mengajar bahwa hidup yang sejati justru ditemukan saat kita berani kehilangan diri karena Dia. Syarat berikutnya ialah memikul salib setiap hari. Akhirnya, mengikut Yesus berarti berjalan di jejak Kristus dan hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengorbanan. Jalan ini bukan jalan mudah, tetapi inilah jalan menuju kehidupan yang kekal. Yesus memanggil setiap kita bukan hanya untuk menyambut-Nya, tetapi juga mengikut Dia dengan kesetiaan. Mengikut Yesus tidak cukup hanya dengan kata-kata atau perasaan kagum, melainkan dengan ketaatan dan pengorbanan setiap hari sepanjang hidup. Ada harga yang harus dibayar, tetapi di dalamnya ada sukacita sejati, karena kita berjalan bersama Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.
Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk rela berkorban, taat dan setia mengikuti-Mu, Amin
Selasa, 31 Maret 2026
bahan bacaan : Lukas 9 : 57 – 58 (TB2)
Mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada-Nya, "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
Ikut Yesus Rela Melepaskan Zona Nyaman
Bayangkan seekor anak burung yang sudah nyaman di sarangnya. Ia diberi makan oleh induknya setiap hari, hangat dan aman. Namun suatu hari, induknya mendorongnya keluar dari sarang. Awalnya ia takut, tapi ketika sayapnya mulai mengepak, ia menemukan bahwa ia bisa terbang! Demikian juga dengan kita Tuhan sering “mendorong” kita keluar dari kenyamanan agar kita belajar percaya dan mengalami kuasa-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup mudah, tetapi untuk hidup bermakna. Ketika seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Tetapi Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Perkataan ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah pengingat bahwa mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan duniawi. Yesus tidak menjanjikan kemudahan, tetapi memanggil kita untuk hidup dalam kesetiaan dan pengorbanan. Ia ingin pengikut yang tidak hanya ikut ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan menjadi sempit dan penuh tantangan. Mengikut Yesus berarti siap beranjak dari “zona nyaman” tempat di mana kita merasa aman, mapan, dan tidak terganggu. Namun, di luar zona itu, ada pertumbuhan iman, ketaatan yang lebih dalam, dan pengalaman akan kasih Tuhan yang nyata. Mengikut Yesus bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang komitmen. Di mana pun Dia memimpin, di situlah tempat terbaik untuk kita berada.
Doa Ya Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk melepaskan zona nyaman dan setia mengikuti Engkau. Amin
Rabu, 1 April 2026
bahan bacaan : Lukas 9 : 59 – 60 (TB2)
59 Ia berkata kepada seorang yang lain: "Ikutlah Aku!" Namun orang itu berkata: "Tuhan, Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 60 Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; Namun engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah."
Yesus yang Terutama
Hidup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan memprioritaskan Tuhan di atas semua kepentingan apapun.
Doa: Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan, Amin.
Kamis, 2 April 2026
bahan bacaan : Lukas 9 : 61 – 62 (TB2)
61 Seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."62 Yesus berkata kepadanya: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."
Pegang Janji untuk Tuhan
Perjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol. Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.
Doa: ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu, Amin.
Jumat, 3 April 2026
bahan bacaan : Yohanes 19 : 28 – 30 (TB2)
Yesus mati
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!" 29 Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka menlilitkan suatu bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup
Semua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia. Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.
Doa: YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.
Sabtu, 4 April 2026
bahan bacaan : Yohanes 19 : 38 – 42 (TB2)
Yesus dikuburkan
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus,supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira tigapuluh kilogram beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengafani-Nya dengan kain linen dan membubuhi-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat Yesus disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.
Kasih akan Dia yang Tersalib
Alkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus. Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.
Doa: Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN MARET-APRIL 2026, LPJ-GPM