Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hidup Dalam Tuntunan Ajaran yang Sehat

Minggu, 16 Oktober 2022                                 

bacaan : Titus 2 : 1 – 10

Kewajiban orang tua, pemuda dan hamba
Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. 3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. 6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. 9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, 10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

Menjadi Teladan Baik

Teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontohi. Tanpa teladan, maka seseorang akan dipermalukan karena tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya. Jadi ketika seseorang berkata tentang perbuatan baik, maka orang tersebut harus lebih dulu melakukan kebaikan. Hal yang demikian menjadi pertanda bahwa menjadi teladan tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan bahkan dikorbankan bila ingin menjadi sosok teladan kebaikan. Titus, sosok yang disebutkan dalam nas hari ini merupakan rekan sekerja Paulus. Ia adalah seorang muda, pembantu Paulus yang bukan Yahudi dan tentunya tidak bersunat. Ia kemudian menjadi pengikut Kritus dan memberi diri dengan segala kemudaannya untuk dipakai oleh Tuhan dalam memberitakan injil. Rasul Paulus berpesan, mengajari dan menasihati Titus supaya  tetap memiliki pendirian. Maksudnya, pemberitaan Titus haruslah sesuai dengan ajaran yang sehat. Ajaran sehat baik dan benar adanya serta berguna untuk membangun iman dan menyehatkan hidup jemaat. Titus dapat menjadi sosok teladan yang baik, bila ia lebih dulu mendidik dirinya sendiri sebagai pribadi yang berwibawa, bijaksana, murah hati dan konsisten terhadap pengajarannya. Ia perlu mendidik diri sendiri agar kata dan perbuatannya selaras. Bila ia telah menjadi teladan kebaikan, maka ia layak mengharapkan hal yang sama kepada jemaat. Keterpanggilan sebagai teladan kebaikan pun menjadi panggilan Tuhan kepada kita selaku anak-anak-Nya. Teladan kebaikan harus diwujudkan dalam sikap dan tindakkan. Sikap dan tindakkan kita mesti sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia berkehendak agar kita menjadi garam dan terang serta saluran berkat bagi orang lain. Tuhan Allah kita akan dipermuliakan dan orang lain percaya kepada-Nya, bila kita mampu menjadi teladan kebaikan.

Doa:  Tuhan, ajarlah kami untuk menjadi teladan kebaikan bagi semua orang. Amin.

Senin, 17 Oktober 2022                                 

bacaan : Roma 16 : 17 – 20

Peringatan
17 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! 18 Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. 19 Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. 20 Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!

Jangan Terlena, Waspadalah!

Sebuah lukisan yang memikat dipajang di Museum Louvre, Paris. Lukisan itu menggambarkan seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan iblis di depan papan catur. Wajah si iblis tampak senang melihat anak muda akan segera mengalami skak mat. Pemuda itu pun menunjukkan ekspresi kekecewaan, keheranan dan kebingungan seperti orang yang kalah. Singkat cerita, suatu hari seorang master catur yang ternama mengunjungi galeri tersebut dan mempelajari lukisan itu dengan saksama. Tiba-tiba master catur itu mengejutkan semua orang di sekelilingnya dengan teriakan yang penuh kegembiraan, “ini tipuan! Raja dan kuda masih bisa melangkah.” Ilustrasi ini hendak menegaskan bahwa seringkali di dalam kehidupan iman terkadang kita begitu mudah mengalah pada serangan iblis. Padahal dalam keadaan sesulit apapun Tuhan tetap berkuasa untuk mebebaskan kita dari kekalahan iman. Karena itu milikilah keberanian dan upaya untuk tidak pernah menyerah pada langkah-langkah yang dibangun iblis. Nas hari ini menyaksikan upaya Paulus menyikapi pengajaran sesat berkembang dan mengancam persekutuan umat. Ia menghimbau jemaat Roma supaya tidak terlena dengan pengajaran sesat. Berkembang di sana ajaran tentang perbuatan baik dan hukum Musa yang harus ditaati. Namun ujung-ujungnya hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Ajaran seperti ini haruslah diaspadai agar jemaat tidak terpecah. Hal yang sama tanpa disadari dapat terjadi dalam persekutuan kita. Ada orang-orang yang memanfaatkan ketulusan kita untuk kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, kita dituntut untuk tetap mengandalkan Tuhan dan hidup sesuai ajaran-Nya. Tetaplah waspada dan yakinlah akan pemeliharaan Allah.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami agar tetap berada pada jalan-Mu. Amin.

Selasa, 18 Oktober 2022                                       

bacaan : Titus 1 : 5 – 16

Tugas Titus di Kreta -- Syarat-syarat bagi penatua, penilik jemaat
5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. 7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya. 10 Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. 11 Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan. 12 Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: "Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas." 13 Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, 14 dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran. 15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. 16 Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

Pemimpin Yang Dapat Diteladani

Paulus bersahabat dengan Titus dan meninggalkannya di Kreta untuk maksud menata jamaat di situ dan menetapkan para pemimpin. Ia mendukung Titus untuk terus mengajarkan iman yang benar dan membimbing jemaat agar tetap hidup sesuai kehendak Allah. Nas hari ini berisi petunjuk dan nasihat bagi para pemimpin jemaat agar memegang teguh iman yang benar dan hidup dengan baik. Jemaat harus hidup sesuai kehendak Allah dan para pemimpin ditetapkan karena memenuhi kriteria yang ketat. Kehendak Allah mesti menjadi penuntun agar jemaat tidak disesatkan dengan ajaran yang salah. Waktu itu ada sejumlah orang Kristen Yahudi di Kreta mengajarkan bahwa setiap laki-laki harus disunat. Keselamatan seseorang tergantung pada anugerah Tuhan bukan karena disunat atau tidak. Tugas menata hidup beriman itu tidaklah mudah, karena itu diperlukan pemimpin yang berkualitas atau yang tak bercacat. Syarat yang ditetapkan untuk memiliki pemimpin seperti itu di antarnya; tidak angkuh, bukan peminum, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, saleh dan adil. Kita juga terpanggil untuk menjadi teladan melalui gaya hidup orang-orang yang percaya kepada Allah. Hindarilah hidup seperti orang-orang Kreta yang mengaku mengenal Allah tetapi perbuatannya menyangkal Dia. Mengaku Allah, tetapi masih berzinah, mencuri, memfitnah, suka berbohong, serakah, sombong dan angkuh serta perbuatan-perbuatan lainnya yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kuasailah diri dan terus mengandalkan Tuhan serta meminta hikmat dari-Nya agar layak menjadi teladan. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri. Berusahalah untuk menjadi pemimpin yang dapat diteladani.

Doa: ya Tuhan layakkanlah kami untuk menjadi pemimpin yang baik. Amin.

Rabu, 19 Oktober 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 14 – 19

Nasihat dalam menghadapi pengajar yang sesat
14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. 15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. 17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, 18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang. 19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."

Menjadi Pelayan Kristus Yang Sejati

Timotius adalah asisten sekaligus mitra kerja Paulus dalam memberitakan injil. Ia dibimbing serta dipersiapkan untuk melanjutkan pemberitaan injil sekaligus sebagai generasi penerus  dan kekayaan gereja. Timotius dimotivasi untuk menyelenggarakan kepemimpinan rohani, yakni  melayani jemaat-jemaat, menata ibadah dan pelayanan yang masih berantakan. Ia diperhadapkan dengan para pengajar sesat yang sering menuduh dan memfitnahnya. Pengajar sesat menganut ajaran yg berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasul Paulus. Timotius dinasihati untuk menyikapi mereka dengan cara berusaha menjadi pelayan Kristus yang sejati. Cara ini dipandang Paulus efektif sehingga mereka tidak menemukan cela untuk menjatuhkannya dan mencemarkan nama Tuhan. Makanya ia dikuatkan bahwa Tuhan mengenal dirinya sebagai hamba-Nya yang setia. Tuhan sendiri yang akan membela ketika ia dituduh dan difitnah oleh para pengajar sesat. Timotius dibina dan diasah dengan sebaik-baiknya agar memiliki sikap yang bijaksana dalam perkataan serta menjaga kesucian hidupnya. Ia dibimbing untuk menjadi pelayan Kristus yang sejati. Pelayan yang sejati bertanggung jawab mengajar jemaat agar memiliki pemahaman yang benar tentang firman Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.  Jemaat harus diperlengkapi dengan kebenaran agar tidak mudah terombang-ambing  oleh hasutan ajaran sesat.  Misalnya, dalam hal berbicara (ay.14). Mereka diminta supaya tidak mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Perkataan demikian mengakibatkan pertengkaran yang sama sekali tidak membangun iman siapapun yang mendengarnya. Karena itu, kuatkanlah iman supaya kita menjadi berdaya untuk menghadapi semua kenyataan  hidup. Teruslah belajar dan aktakan firman Tuhan. Hiduplah sesuai kehendak-Nya serta jadilah pelayan Kristus yang sejati.

Doa: Tuhan kuatkan iman kami agar tidak mudah tergoda dengan ajaran yang menyesatkan melainkan hidup menurut kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Oktober 2022                         

bacaan : 2 Timotius 2 : 20 – 22

20 Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. 21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. 22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Tuhan Menunggumu

Ada seorang kakek bersahabat dengan seorang anak laki-laki. Keduanya sering bekerja sama di toko barang kerajinan kayu milik si kakek. Suatu hari ketika melihat toko itu sedang sepi dan si kakek tidak kelihatan, anak laki-laki itu pun datang dan mencuri beberapa pahatan kayu. Anak itu tidak menyadari bahwa melalui jendela dapur si kakek melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sejak saat itu anak laki-laki itu pun tidak pernah muncul lagi di toko. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, mereka bertemu dan anak itu menjauh karena malu sehingga persahabatan mereka pun terputus. Kita mengalami hal serupa ketika  melanggar firman Allah. Kita jatuh dalam dosa karena terlalu menuruti keinginan daging dan menjadi malu bahkan takut untuk berjumpa dengan Allah yang berakibat pada rusaknya hubungan kita dengan-Nya. Ketika kita berbuat dosa terhadap-Nya, akibat yang paling berbahaya bukanlah tindakan itu sendiri, tetapi rusaknya hubungan kita dengan Tuhan. Namun, Allah kita adalah Allah yang setia. Ia selalu merindukan hubungan yang baik dengan kita. Dia selalu menunggu kita untuk kembali. Oleh karena itu, ketika kita melakukan dosa, jangan ragu untuk segera datang serta mengaku dosa kepada-Nya, dan jangan mengulanginya lagi. Menjauhkan diri dari Tuhan akan membuat hubungan baik kita dengan-Nya semakin renggang bahkan terputus. Seperti bapa yang selalu setia menunggu kembalinya si anak yang terhilang, pengampunan-Nya pun tersedia untuk kita. Oleh sebab itu, mintalah hikmat, pertimbangan dan pengertian dari Tuhan, sehingga mampu membedakan baik dan buruk. Janganlah kalah terhadap kedagingan, tapi kalahkan hal itu dengan kebenaran. Bila karena kelemahan, dosa dilakukan, jadilah sadar dan datanglah kepada-Nya seraya mengaku kesalahan serta mohonlah  pengampunan Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan layakkan dan mampukanlah kami untuk tetap hidup di dalam terang-Mu dan menjauhkan kami dari perbuatan yang jahat. Amin.

Jumat, 21 Oktober 2022                              

bacaan : 1 Timotius 6 : 2b – 5

(6-2b) Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. 3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, 4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, 5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

Berpeganglah Pada Ajaran Yang Sehat

Rasul paulus menuliskan surat ini kepada Timotius untuk memotivasinya dalam melakukan tugas pelayanan. Tantangan bagi Timotius adalah menghadapi dan menyikapi pengajar-pengajar sesat yang sangat menggangu pertumbuhan jemaat. Timotius harus menuntun jemaat agar beriman secara benar dan menganut ajaran yang sehat. Muncul pada waktu itu orang-orang yang kesukaannya mencari-cari soal, bersilat kata, menyebabkan fitnah, dengki, curiga dan sebagainya. Bahkan di ayat 5 dikatakan, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan kehilangan kebenaran. Orang-orang yang tidak berpikiran sehat itu mengira bahwa ibadah kepada Tuhan dapat dijadikan sebagai sumber keuntungan. Ibadah adalah hal yang penting untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Tuhan menghendaki peribadahan dilakukan dengan penuh kesungguhan dan kemurnian hati, bukan untuk  maksud mendapatkan keuntungan atau kekayaan.  Timotius bertanggung jawab mengajarkan ajaran yang sehat kepada jemaat. Jemaat tak boleh menyimpang dari ajaran yang sehat. Kesaksian ini mengingatkan kita semua, ajaran sehat yang telah diterima berdasarkan kebenaran firman Allah kiranya dapat dipegang dan dilakukan dalam kehidupan. Ajaran serta tindakkan yang baik dan benar harus dimiliki juga diaktakan. Hiduplah sesuai ajaran yang sehat, agar orang lain dihentar untuk mengalami kasih dan keselamatan dalam Kristus.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan, untuk hidup sesuai ajaran yang sehat. Amin.

Sabtu, 22 Oktober 2022                         

bacaan : 1 Timotius 6 : 17 – 21

17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. 18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi 19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. 20 Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, 21 karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!

Pengajar Ajaran Sehat Yang Mawas Diri

Surat Paulus kepada Timotius dipandang sebagai surat pastoral atau penggembalaan dan berisikan nasihat. Timotius dinasihati agar tetap berpegang dan mengajarkan ajaran yang sehat, sekalipun harus berhadapan dengan berbagai tantangan dalam pelayanan. “Menjadi kaya dalam kebajikan” adalah salah satu ajaran yang perlu Timotius ajarkan. Ajaran ini secara khusus berkaitan dengan permintaan Paulus supaya Timotius memperingati orang kaya. Orang kaya diperingati agar jangan tinggi hati dan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Mereka harus berharap kepada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan segala sesuatu untuk dinikmati. Mereka juga diperingatkan untuk berbuat baik, suka memberi dan membagi yang karena hal ini terkumpullah harta hidup sebenarnya di masa akan datang.   Timotius sendiri pun diingatkan untuk selalu mawas diri dan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Ajaran sehat akan membuat Timotius dan jemaat yang dilayaninya berbeda kehidupannya dari para pengajar sesat itu. Ajaran sangat mempengaruhi karakter dan tingkah laku manusia. Baik tidaknya hidup seseorang ditentukan oleh ajaran yang diterimanya. Kita semua bertanggungjawab untuk mengajarkan ajaran yang sehat. Orangtua dalam keluarga harus mengajarkan dan menerapkan ajaran yang sehat bagi anak-anak. Kita juga diingatkan untuk tetap mawas diri sehingga tidak lengah dan melakukan kesalahan.

Doa: Ya Tuhan tolonglah, agar kami tidak tersesat dalam hidup ini. Amin.*

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2022, LPJ_GPM

Santapan Harian Keluarga, 9 – 15 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Beritakanlah Injil

Minggu, 09 Oktober 2022                             

bacaan : Matius 28 : 16 – 20

Perintah untuk memberitakan Injil
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Duta Kristus

Penulis injil Matius mengakhiri penulisannya dengan perintah untuk memberitakan injil. Perintah ini disebut pula  sebagai Amanat Agung. Yesus memberikan amanat agung kepada murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga. Tanggung jawab memberitakan injil kerajaan sorga tak boleh berhenti. Hidup sebagai murid adalah kesempatan memberitakan injil kepada semua bangsa. Hal ini berarti bahwa keselamatan yang telah dikaryakan Yesus terbuka kepada semua orang. Para murid atau orang percaya tak boleh “menahan” atau membatasi keselamatan sebagai milik sendiri. Mereka yang telah diselamatkan hidupnya terbuka sehingga orang lain menjadi percaya dan diselamatkan juga. Amanat ini menjadi tanggung jawab kita semua. Kita bertanggung jawab untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus, membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus serta mengajar sehingga semua orang melakukan perintah-Nya. Amanat ini menegaskan bahwa kita telah diberikan tiga tanggung jawab, yakni, pemuridan, pembaptisan dan pengajaran. Hidup,   hendaknya dijalani sebagai cara menjalankan amanat agung Yesus.  Cara yang pertama adalah hidup layaknya seorang murid. Seorang murid disebut demikian karena sedang belajar atau belum lulus. Teruslah belajar tentang kehendak Allah sebagaimana disaksikan dalam Alkitab serta pengalaman apa pun yang dialami. Kedua, hiduplah sebagai seorang yang sudah bertobat dan percaya. Hindari melakukan tiindakkan kejahatan dan dosa lalu hidup kudus serta menabur kebaikan. Ketiga, jadilah orang percaya yang cerdas. Janganlah hidup dalam kebodohan baik saat berpikir, merasa atau bertindak. Hanya dengan cara hidup yang demikian itu, kita telah menjadi duta Kristus.

Doa; Ya Kristus, layakkanlah kami untuk menjadi duta bagi-Mu. Amin.

Senin, 10 Oktober 2022                                    

Bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 9 – 10

9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 10 Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."

Jangan takut, Percayalah Pada Tuhan

Paulus pernah mengalami perjumpaan ilahi di Damsyik. Pengalaman ini ia alami lagi di Korintus. Tuhan berfirman dalam sebuah penglihatan kepada Paulus kata-Nya Jangan takut!, teruslah memberitakan firman dan jangan diam! sebab Aku menyertai engkau, dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.” Perjumpaan dengan Tuhan dialaminya saat sedang melakukan tugas memberitakan injil. Tuhan bekerja bersama Paulus dan bertindak sebelum terjadi suatu keburukkan. Hari esok telah disingkapkan-Nya kepada Paulus. Keberanian Paulus diteguhkan, agar ia tak boleh berhenti memberitakan injil, sebab penyertaan dan perlindungan Tuhan akan terus dialaminya. Kuasa dan kebaikan Tuhan melampaui pengalaman hari ini dan menjadikan utusan-Nya tak takut memasuki hari esok. Kita adalah utusan, dan diingatkan bahwa bersama Tuhan, jangan pernah lalui hari hidup dengan takut, tak berbuat sesuatu atau meragukan kuasa-Nya. Beranilah untuk berubah ke arah yang lebih baik, hadapi risiko, mengambil keputusan dan maknai apapun kenyataan hidup. Dekatkanlah diri pada Sang Pengausa waktu itu dan dengarlah Ia bicara agar firman-Nya menentukan arah jalan hidup kita. Jangan diam apalagi berhenti, teruslah bergerak dan isilah hidup dengan karya. Tantangan atau masalah adalah kesempatan untuk menemukan cara baru atau mengetahui apa yang belum pernah diketahui sebelumnya.   Kita tak sendiri dalam hidup ini, tapi bersama Tuhan Sang Pengutus yang tetap mengasihi, melindungi dan melepaskan dari barbagai kemelut. Hari ini sedang kita alami dan menentukan esok, jadi jangan membiarkannya berlalu sia-sia. Esok, akan ada dan kita songsong bersama kasih Tuhan.

Doa: Ya Yesus, beranikanlah kami untuk terus berkarya. Amin.

 Selasa, 11 Oktober 2022                               

bacaan : Markus 3 : 13 – 19

Yesus memanggil kedua belas rasul
13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Dipanggil dan Diutus Yesus Adalah Anugerah

Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan kembali kisah pemanggilan sebagai rasul Yesus. Yesus-lah yang berinisiatif untuk memanggil dan mengutus mereka. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. Panggilan Yesus membutuhkan tanggapan dan mereka pun datang kepada-Nya. Mereka yang dipilih Yesus menjadi rasul-Nya sama sekali tidak memiliki kriteria yang menonjol. Ada yang bekerja sebagai nelayan, pemungut cukai, dan orang biasa. Yesus memanggil mereka untuk menjadi rasul bukan berdasarkan kekuatan, kepintaran dan kebaikan mereka. Kenyataan seperti ini membuktikan bahwa dipanggil dan diutus Yesus adalah anugerah. Panggilan dan pengutusan tak pernah berlangsung tanpa tujuan dan harapan. Karya keselamatan dan hadirnya kerajaan Allah harus terus diberitakan. Mereka yang dipanggil dan diutus Yesus  untuk memberitakan IInjil, dberi-Nya pula kuasa untuk mengusir setan. Kita diingatkan ulang akan gagasan tentang kawan sekerja Tuhan. Kita disertakan Tuhan untuk memberitakan Injil atau menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kawan sekerja memiliki tanggung jawab untuk meneruskan rencana dan kehendak Allah atau menghadirkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Mereka yang disebut kawan sekerja Tuhan adalah orang yang berkuasa atau berdaya mengalahkan kuasa yang mengancam hidup. Kejahatan, pemberontakan dan keburukan harus dijauhkan agar kehidupan berlangsung secara berkenan pada Tuhan. Kehendak Tuhan sebagaimana tertulis dalam Taurat-Nya harus diutamakan. Akhirnya menjadi kawan sekerja Tuhan berarti hidup dalam keutuhan dan kebersamaan, bukan perpecahan serta pertikaian.

Doa: Ya Yesus, kami bersyukur, telah dijadikan kawan sekerja-Mu. Amin. 

Rabu, 12 Oktober 2022                                   

bacaan : Efesus 6 : 14 – 15

14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

Perlengkapan Rohani Orang Kristen

Rasul Paulus menggunakan gambaran baju perang sebagai ilustrasi perlengkapan rohani orang Kristen (pasal 6:10-20). Perlengkapan rohani haruslah diperhatikan dengan baik agar hidup dapat berlangsung secara bermutu. Hidup yang bermutu berlangsung dalam keseimbangan seluruh aspek baik tubuh atau fisik, rasio maupun roh. Kerohanian adalah satu di antara aspek hidup yang sangat penting, sehingga tak boleh diabaikan. Aspek kerohanian perlu dipelihara sebab menentukan relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan berlangsung dalam Roh atau batin dan terwujd melalui doa juga ibadah. Aspek kerohanian atau relasi dengan Tuhan haruslah menjadi prioritas dan menentukan baik relasi manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam. Oleh sebab itu orang Kristen harus memelihara kerohanian dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan itu adalah “berdiri tegap”, “berikatpinggangkan kebenaran”, “berbajuzirahkan keadilan”, dan “kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera”. Berdiri tegap bermakna memiliki sikap siap sedia, tak ragu atau bimbang. Orang Kristen diminta untuk tidak menjalani hidup dengan keraguan tapi kepastian. Ikat pinggang melingkar pada tubuhnya, maksudnya dilindungi kebenaran Allah. Mengenakan baju zirah agar bagian tubuh yang lain juga terlndung, yakni leher, jantung, dan paru-paru. Baju zirah dipakai untuk menjelaskan betapa pentingnya keadilan bagi orang Kristen. Kita juga diminta untuk berkasutkan kerelaan memberitakan Injil. Orang Kristen yang memiliki kerohanian bermutu, menjalani hidupnya dengan pasti, benar, adil, dan rela. Kerelaan memberitakan Injil menjadi salah satu ciri kerohanian berkualitas. Kelangsungan panggilan memberitakan Injil ternyata ditentukan oleh dimilikinya kualitas kerohanian. Peliharalah perlengkapan rohanimu dengan baik dan ingatlah bahwa bila hidup dijalani dengan pasti, benar, adil, dan rela, maka sesungguhnya Injil sudah diberitakan.

Doa: Kiranya kerohanian kami layak dan berkenan pada-Mu. Amin.

 Kamis, 13 Oktober 2022                                     

bacaan : Galatia 2 : 7 – 8

7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat 8 --karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

Diakui Sebagai Rasul  

Pemberitaan Injil yang dilakukan para rasul berlangsung baik kepada orang dengan latarbelakang Yahudi maupun yang lainnya. Orang Yahudi dikenal sebagai mereka yang “bersunat”. Sedangkan sebutan “tdak bersunat” diikenakan kepada mereka yang bukan Yahudi. Surat Galatia menyaksikan bahwa pemberitaan yang berlangsung di kalangan orang Yahudi dilaksanakan oleh Petrus dan Paulus bagi mereka yang tidak memiliki latarbelakang Yahudi. Pertumbuhan Injil di jamaat Galatia agak terhambat karena adanya sebagian orang yang berpandangan sempit. Mereka ini berpandangan bahwa yang hebat dan diakui adalah hanyalah Petrus karena ia memberitakan Injil bagi orang “bersunat”. Kerasulan Paulus tidak diakui sebab ia memberitakan Injil bagi orang “tidak bersunat”. Pandangan ini dianggap tak bermanfaat dan oleh sebab itu Paulus menentangnya. Keutuhan jemaat haruslah diselamatkan dari adanya pandangan yang menyesatkan. Pandangan ini sesat, karena yang penting bukanlah pemberita dan kepada siapa Injil diberitakan tetapi Kristus. Kristuslah yang memberi kuasa baik kepada Petrus maupun Paulus. Kerasulan seorang rasul ditentukan oleh Kristus yang memberi kuasa. Kristuslah yang penting, bukan Petrus atau Paulus. Mereka berdua telah diberikan kuasa yang sama oleh Kristus dan harus sama-sama diakui sebagai seorang rasul. Seseorang diakui sebagai rasul atau utusan Kristus karena kuasa yang dianugerahkan kepadanya. Kristus Sang Pemberi kuasa itulah yang pada-Nya disatukan semua pemberita Injil. Kesatuan dalam Kristus itulah yang mendasari keutuhan semua pemberita Injil dan jemaat atau mereka yang percaya kepada-Nya.

Doa: Ya Kristus utuhkanlah kami agar layak memberitakan Injil-Mu. Amin.

Jumat, 14 Oktober 2022                                

bacaan : 1 Korintus 1 : 17

17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Memelihara Keutuhan

Rasul Paulus menganggap bahwa keutuhan sebagai jemaat   haruslah dirawat dan dipelihara dengan baik. Jemaat sekalipun berbeda dalam banyak hal, namun menjadi satu dalam Kristus. Ia memperingatkan jemaat di Korintus bahwa kematian Kristus di salb adalah pusat Injil dan mereka harus lebih mendengar Roh Allah daripada hiikmat duniawi. Memang, manusia memiliki kelebihan tertentu dan karenanya diidolakan, namun yang utama adalah Kristus. Oleh sebab itu mengidolakan seseorang tidak lantas menyebabkan perpecahan. Manusia hidup dengan potensi yang berbeda, di antaranya tak sama dalam hal mengidolakan seseorang. Kepelbagaian yang dimiliki manusia tak boleh menjadi sumber perselisihan dan perpecahan. Jemaat Korintus terpola dan terkotak-kotak sesuai idola masing-masing. Keutuhan jemaat terpecah karena mereka hidup dalam golongan tertentu, baik Paulus, Apolos maupun Kefas. Mereka ini walaupun berbeda namun semuanya dipanggil dan diutus Kristus untuk memberitakan Injil. Rasul Paulus amat menyadari bahwa pemberitaan Injil yang dilakukannya tidak berdasar pada hikmat perkataan (manusia). Ia layak dan mampu karena kuasa yang dianugerahkan Kristus. Bila seseorang mengandalkan hikmat manusiawi, maka salib Kristus menjadi sia-sia. Prinsip ini dianut dan dipegang Paulus dalam menjalankan tanggung jawab memberitakan Injil. Marilah jalani hidup sebagai pemberita Injil. Andalkanlah kuasa Kristus jangan bersandar pada hikmat manusia. Hargailah perbedaan, hindarilah perselisihan dan perpecahan serta hiduplah dalam keutuhan. Peliharalah keutuhan baik sebagai keluarga, jemaat maupun masyarakat. Ingatlah bahwa kita semua telah dipersatukan oleh salib Kristus.

Doa: Ya Yesus layakkanlah kami untuk hidup dalam keutuhan. Amin.

Sabtu, 15 Oktober 2022.                          

bacaan : 2 Timotius 1 : 11 – 12

11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Jangan Pernah Malu Untuk Memberitakan Injil

Rasul Paulus menganggap Timotius seperti anaknya sendiri  (1Tim 1:2). Mereka telah mengadakan perjalanan bersama dan bekerja sama dengan erat (lihat. misalnya Kisah 16:1-3). Kedekatan inilah yang menyebabkan Paulus menyampaikan nasihat dan peringatan bagi Timotius. Paulus menasihati dan mengingatkan Timotius walau sedang dalam penjara (banding 2 Tim 1:8). Injil Kristus harus terus diberitakan dan karena itu Timotius harus meneladani Paulus. Paulus telah menunjukkan teladan keberanian dan kesungguhan. Ia berharap Timotius dapat melanjutkan tugas memberitakan Injil dengan tidak perlu merisaukkan dirinya. Timotius harus memberitakan Injil dengan berani dan tanpa malu. Paulus sadar bahwa Timotius masih muda dan kemudaan itu dapat menjadi hambatan bagi kelangsungan pemberitaan Injil. Oleh sebab itu ia mengingatkan Timotius bahwa sekalipun masih muda, namun pada dirinya ada potensi dan keunggulan iman serta pengalaman memberitakan Injil. Sama seperti Paulus tak pernah malu dalam pemberitaan Injil, maka demikian pula halnya ia berharap pada Timotius. Timotus diminta untuk meyakini kuasa Kristus yang akan memampukan dia sekalipun masih muda. Kristus berkuasa memelihara hidup mereka yang diutus-Nya. Penderitaan dan kemudaan bukanlah alasan untuk menjadi takut dan malu. Kita pun belajar bahwa hidup ini haruslah dijalani dengan berani sebab meyakini kuasa Kristus. Janganlah takut menghadapi kesukaran di hari ini atau hari esok yang masih menjadi rahasia. Teruslah beritakan Injil dengan tidak malu atau rendah diri, merasa diri serba kurang, jangan pula merasa diri tak bisa. Percayakanlah hidupmu kepada Kristus agar engkau menjadi manusia yang percaya diri.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami tidak malu menjadi saksi-Mu. Amin.

SUMBER : SHK Oktober 2022, LPJ_GPM

SANTAPAN HARIAN KELUARGA, 2 – 8 OKTOBER 2022

TEMA BULAN OKTOBER : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

TEMA MINGGUAN : Tuhan Mengerjakan Keselamatan bagi UmatNya

Minggu, 02 Oktober 2022                            

bacaan : Yesaya 53 : 1 – 12

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. 7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. 10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. 12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Tuhan Sang Penyelamat

Nas bacaan hari ini menuturkan kesaksian nabi Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita. Gambaran diri hamba Tuhan ini adalah ungkapan keprihatinan umat Israel. Ia tumbuh sebagai taruk dan tunas, yakni bagian tumbuhan yang kecil, tidak kuat dan mudah patah.  Kesuraman menggerogotii hidupnya, ia tidak tampan, dihina, dihindari orang, penuh kesengsaraan, menderita kesakitan, menanggung penyakit dan memikul kesengsaraan orang lain. Ia tertikam padahal tidak memberontak, diremukkan walau bukan seorang penjahat. Ungkapan-ungkapan ini dan  lainnya tentang hamba Tuhan yang menderita diperhadapkan kepada kita. Kini, kita merayakan perjamuan kudus untuk keempat kalinya di tahun ini. Mengambil bagian dalam maedah perjamuan kudus merupakan peringatan akan penderitaan dan pengurbanan Kristus di Salib. Yesus adalah hamba Tuhan yang menderita, berkurban serta menebus manusia juga dunia dari kuasa maut dan dosa.  Dia adalah anak domba yang diremukkan dengan kesakitan dan diserahkan sebagai korban penebusan salah. Penderitaan Kristus bukanlah akhir dari sejarah selamat karena setelah Kristus menangggung semuanya, Allah memulihkan dan menarik semua orang untuk hidup serta mengalami kasih-Nya yang tak terbatas. Derita Kristus melayakkan orang percaya untuk hidup dalam kemurahan Allah, kita selamat karena anugerah-Nya. Kiranya kita pun berkenan untuk hidup bagaikan roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang tertumpah. Jalanilah pekan dan bulan ini sebagai orang tertebus yang kudus. Jadilah berarti bagi orang lain dan muliakanlah Dia dalam segala hal. Ubahlah semua keprihatinan menjadi berpengharapan serta penuhilah hidup dengan pengampunan dan cinta kasih.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk selalu hidup menurut kehendak-Mu. Amin.

Senin, 03 Oktober 2022                            

bacaan : Keluaran 14 : 9 – 14

9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. 10 Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, 11 dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? 12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." 13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."

Berserulah Pada Tuhan

Teks Keluaran 14:9-14 menyuguhkan pesan inspiratif untuk dijadikan pelajaran iman. Pertama, masalah tak pernah hanya sekali dihadapi tetapi berkali-kali. Bebas dari perbudakkan di Mesir tidaklah menjadikan umat Israel selesai menggumuli kesukaran. Kesukaran baru muncul di saat mereka tiba di tepi laut. Masalah hadir tanpa dikehendaki dan menjadi tanda hidup. Hidup mereka pada waktu itu terancam dengan adanya kekuatan perang bangsa Mesir. Fakta iman seperti ini membantu kita untuk tetap sadar baha hidup haruslah djalani dengan berhati-hati dan terus belajar. Belajar tentang pengalaman bersama Tuhan di masa lalu agar kasih, kuasa dan berkat-Nya tetap diyakini. Kepedulian Tuhan pasti nyata saat kita mengalami masa-masa hidup yang sulit.   Kedua, masalah mendekatkan orang pada Tuhan. Bangsa Israel berseru-seru kepada Tuhan saat mereka diiputi ketakutan. Ketakutan menekan batin dan karena itu haruslah diungkap agar kelegaan dialami. Masalah bukanlah alasan untuk menjauhkan diri dari Tuhan dan melakukan hal-hal yang tak berfaedah. Ketiga, masalah dapat memicu persungutan dan perilaku mempersalahkan orang lain. Musa dipersalahkan bangsa Israel karena dialah yang memimpin mereka keluar dari Mesir. Tindakkan bersungut dan mempersalahkan orang lain tidaklah membantu mengatasi masalah. Kita perlu belajar untuk menjadi sabar dan tenang untuk memikirkan jalan keluar. Tak ada masalah yang tidak dapat diatasi saat kita tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Keempat, pertolongan Tuhan nyata saat manusia tiba di batas mampu. Teruslah berusaha mengatasi masalah dan yakinlah bahwa pertolongan Tuhan tak pernah salah waktu.

Doa:  kiranya kami tetap beriman saat menghadapi masalah dan meyakini bahwa keselamatan datang dari Tuhan. Amin.

 Selasa, 04 Oktober 2022                            

bacaan : Mazmur 9 : 12 – 17

11 (9-12) Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, 12 (9-13) sebab Dia, yang membalas penumpahan darah, ingat kepada orang yang tertindas; teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya. 13 (9-14) Kasihanilah aku, ya TUHAN; lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau, yang mengangkat aku dari pintu gerbang maut, 14 (9-15) supaya aku menceritakan segala perbuatan-Mu yang terpuji dan bersorak-sorak di pintu gerbang puteri Sion karena keselamatan yang dari pada-Mu. 15 (9-16) Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. 16 (9-17) TUHAN telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon.

Peliharalah Hidup Agar Tetap Berkenan Pada Tuhan

Pemazmur bermazmur bagi Tuhan di Sion karena pekerjaan keselamatan yang telah dikerjakan-Nya. Ia beritakan perbuatan Tuhan di antara bangsa-bangsa. Tuhan tidak menghendaki tindakkan kekerasan yakni penumpahan darah, tapi ingat kepada orang yang tertindas dan teriak mereka tidak dilupakan-Nya. Pengakuan akan karya keselamatan yang telah Tuhan lakukan itulah yang menjadi pijakkan bagi pemazmur untuk menaikan permohonan. Pemazmur bermohon agar Tuhan mengasihani dan melihat kesengsaraannya oleh sebab kebencian orang lain. Pengalaman pemazmur ini hendaklah dijadikan pedoman menghadapi relasi yang tidak harmonis dalam keseharian hidup kita. Bukanlah tidak mungkin bahwa kita sedang hidup baik dengan mereka yang mencintai maupun membenci. Pengalaman  dicintai sekaligus dibenci dihadapi pemazmur dengan mengandalkan Tuhan. Walau sedang bergumul dengan keluhan karena dibenci, namun pemazmur tidak melupakan perbuatan keselamatan Tuhan yang pernah dialaminya. Oleh sebab itu ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Ia berserah pada Tuhan dan tidak membalas jahat dengan jahat. Tindakkan berseru pada Tuhan memampukan pemazmur untuk tetap menjalani hidup dengan cara yang berkenan pada-Nya. Menghadapi dan mengatasi kesukaran karena dibenci orang lain dengan cara menjaga diri agar tetap berkenan pada Tuhan. Mereka yang hidupnya berkenan pada Tuhan tak akan pernah dikalahkan oleh kekerasan dan kebencian. Peliharalah hati dan pikiranmu dalam roh serta kalahkanlah kebencian dengan cara menjaga hidup tetap berkenan pada Tuhan. 

Doa: Tuhan, berkatilah kami untuk terus melakukan kebaikan dalam nama-Mu. Amin.

Rabu, 05 Oktober 2022                                

bacaan : Mazmur 18 : 1 – 3

Nyanyian syukur Daud
Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul. (18:2) Ia berkata: "Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! 2 (18-3) Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

Allahku, Penyelamatku

Seiring berlangsungnya  kesempatan untuk menjalani kehidupan, dialami pula pergumulan. Pergumulan hendaknya dipahami  sebagai proses pembentukan pribadi yang berkualitas. Proses inilah yang dialami Daud, ketika Tuhan berkenan menjadikannya sebagai seorang raja untuk memimpin bangsa Israel. Pengurapan yang diterima, tidak memuluskan perjalanannya untuk menduduki kursi kerajaan. Ia mengalami ancaman berkali-kali hingga nyaris dibunuh Saul, raja yang akan digantikannya. Daud diluputkan dari kematian yang nyata dihadapannya. Ia menyadari sungguh bahwa keselamatan itu datang dari Allah yang telah mengurapinya. Nas  mazmur 18 : 1-3, menggambarkan keindahan nyanyia syukur Daud tentang kemurahan dan kemahakuasaan Allah. Tuhan bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatanku. Allah gunung batuku, tempat aku berlindung. Perisai tanduk keselamatanku, kota bentengku. Pernyataan ini melukiskan kemahakuasaan Allah yang tidak dapat ditandingi oleh kekuatan apa pun di dunia ini. Kekuasaan-Nya kekal, tidak terbatas pada satu masa, tetapi selama-lamanya. Keyakinan Daud akan keberadaan Allah harus diamini juga oleh orang percaya di masa kini. Ketika Tuhan berkenan mengangkat dan menjadikan kehidupan kita berharga, , ada proses hebat yang mesti dilalui. Proses itu membentuk kita menjadi berkualitas dalam menjalani kehidupan serta berharga di hadapan Tuhan. Karena itu, jalanilah apapun proses kehidupan ini dengan kesungguhan hati. Ungkaplah syukur sebagai bentuk kesadaran akan pertolongan Allah yang nyata dalam setiap proses tersebut.

Doa:  Tuhan, berikan kami kepekaan untuk terus mensyukuri penyertaan-Mu dalam hidup ini. Amin.

Kamis, 06 Oktober 2022                             

bacaan : Mazmur 18 : 47 – 51

46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) yang telah meluputkan aku dari pada musuhku. Bahkan, Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari orang yang melakukan kelaliman. 49 (18-50) Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya."

Bersyukur Selalu

Kita diajak untuk belajar menemukan keindahan dan keluhuran makna bersyukur. Keindahan dan keluhurannya berdasar pada kesadaran bahwa diri yang bersyukur sesungguhnya tidak layak, tapi mendapakan berkat keselamatan dari Tuhan. Kita bersyukur karena pertolonan Tuhan yang memberdayakan dan membuat berhasil melewati berbagai tantangan. Sama halnya dengan raja Daud dalam kesaksian Mazmur 18: 47-51 ini. Ia lafaskan nyanyian syukur kepada Tuhan karena dirinya telah terlepas dari himpitan masalah. Kepercayaannya tetap kokoh, bahwa Allah pasti memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi setiap masalah yang dihadapi. Daud setia dan percaya penuh bahwa Tuhan yang mengendalikan seluruh langkah hidupnya. Akhirnya Daud memperoleh kemenangan dan setiap hal yang diraih, membawanya semakin dekat kepada Allah. Marilah belajar untuk menghadapi dan mengatasi masalah yang mengusik kehidupan dengan sikap beriman tetap bersandar dan percaya penuh kepada Tuhan. Yakinlah bahwa kesetiaan Tuhan berlaku abadi bagi semua orang yang berharap pada-Nya. Bersyukurlah senantiasa karena kemurahan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dia-lah Sang pemberi hidup yang layak dipuji  dengan tak hentinya selama hidup ini kita jalani. Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara hidup ini, telah menganugerahkan keselamatan  dan menunjukkan kasih setia kepada semua orang yang berkenan kepada-Nya. Karya selamat-Nya tak berkesudahan, pujilah  dan bersyukurlah  selalu kepada-Nya, Tuhan gunung batu kita yang hidup .

Doa:  Ya Tuhan ajarlah kami bersyukur selalu untuk anugerah yang Engkau berikan. Amin.

Jumat, 07 Oktober 2022                              

bacaan : 2 Samuel 23 : 1 – 7

Perkataan Daud yang terakhir
Inilah perkataan Daud yang terakhir: "Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel: 2 Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku; 3 Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, 4 ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah. 5 Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah? Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin. Sebab segala keselamatanku dan segala kesukaanku bukankah Dia yang menumbuhkannya? 6 Tetapi orang-orang yang dursila mereka semuanya seperti duri yang dihamburkan; sesungguhnya, mereka tidak terpegang oleh tangan: 7 tidak ada orang yang dapat mengusik mereka, kecuali dengan sebatang besi atau gagang tombak, dan dengan api mereka dibakar habis!"

Kuasa, Kemasyuran dan Berkat

Daud raja kedua Israel pada masa menjelang akhir hidupnya menyampaikan “perkataan” yang sarat makna. Masa hidup dan tahun-tahun pemerintahannya ditandai dengan dimilikinya kuasa, kemasyuran, dan berkat. Semuanya diakui sebagai anugerah Tuhan. Tuhan telah berkenan mengurapinya, sehingga padanya ada kuasa sebagai seorang raja dan ia menjadi orang yang dianggkat tinggi. Ia bahkan mengakui bahwa kepadanya juga diberikan kuasa sebagai seorang nabi. Pengakuan akan hal itu dinyatakan secara reflektif melalui ungkapan Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku. Daud menjadi raja Israel yang hidupnya dekat dengan Tuhan dan memahami kehendak-Nya. Hidup Daud menjadi sarana berlangsungnya kehendak dan rencana Tuhan. Oleh sebab itu ia memerintah dengan adil dan takut akan Allah. Kuasa yang dimilikinya berasal dari Tuhan dan dipergunakan bagi kemuliaan-Nya. Tuhan tidak saja menganugerahkan kuasa kepada Daud tapi kemasyuran pula. Ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, cerah, berkilauan dan bagaikan rumput muda. Hidup, jabatan dan keluarganya diberkati. Allah menegakkan perjanjian kekal dan menjamin keluarganya. Kepada Daud diberikan juga berkat berupa kemampuan mengatasi masalah yang mengancam hidup. Tuhan telah melimpahi Daud dengan kuasa, kemasyuran dan berkat. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa pun yang kita butuhkan dalam hidup ini. Dekatkanlah hidup pada Dia, dan pahamilah kehendak-Nya. Muliakanlah Tuhan dalam segala hal dan hiduplah dengan adil. Takutlah akan Alah dan jauhilah kejahatan.

Doa:  Tolonglah kami Tuhan, agar  mampu mensyukuri kuasa,  kemasyuran dan berkat yang telah  dianugerahkan kepada kami. Amin.

Sabtu, 08 Oktober 2022                                 

bacaan : Yesaya 25 : 6- 12

Keselamatan bagi bangsa-bangsa di Sion
6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. 7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. 8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya. 9 Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" 10 Sebab tangan TUHAN akan melindungi gunung ini, tetapi Moab akan diinjak-injak di tempatnya sendiri, sebagai jerami diinjak-injak dalam lobang kotoran. 11 Apabila Moab mengembangkan tangannya di dalamnya seperti cara perenang mengembangkannya untuk berenang, maka TUHAN akan mematahkan kecongkakkan mereka dengan segala daya upaya mereka. 12 Maka kubu-kubu tembokmu yang tinggi akan ditumbangkan-Nya dan dirubuhkan-Nya, dan dicampakkan-Nya ke tanah dan debu.

Allah Menyelamatkan Bangsa Bangsa

Nabi Yesaya pertama-tama menggambarkan karya keselamatan Tuhan laksana sebuah perjamuan dengan masakan bergemuk dan bersumsum disertai anggur tua yang disaring endapannya. Perjamuan ini akan berlangsung di gunung Sion. Sion diyakini sebagai gunung kudus tempat didirikannya Bait Allah di Yerusalem. Tuhan semesta alam akan menyediakan   keselamatan bagi segala bangsa. Sion mewakili umat Allah dan tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sebutan perjamuan adalah ungkapan simbolis yang bermakna kegirangan atau sukacita dan tersedianya makanan dan minuman. Keselamatan Allah berlangsung di tempat dimana Ia berkenan bersemayam. Selanjutnya, Yesaya juga mengungkapkan bahwa karya keselamatan, Tuhan aktakan dengan cara mengoyakkan kain kabung perkabungan yang diselubungkan, meniadakan maut, menghapus air mata, dan menjauhkan aib. Tuhan membebaskan dan memulihkan hidup. Hidup dibebaskan dari derita, kematian, kesedihan dan cela atau rasa malu. Sepanjang sejarah, agaknya manusia berupaya keras agar berhasil menyelamatkan hidup dari berbagai hal yang mengancam. Berbagai ikhtiar dilangsungkan demi memperoleh pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun kerohanian. Upaya–upaya kemanusiaan itu selayaknya diapresiasi atau dihargai. Namun rasanya, manusia tak jua luput dari kegagalan, kekecewaan, kedukaan bahkan kesia-siaan. Mari berjuang bersama Tuhan, sebab keselamatan hanya ada pada-Nya. Dia-lah sumber berkat dan kegirangan. Kita akan dibebaskan dari beban dan tekanan hidup. Hidup kita dipulihkan dari air mata dan aib sehingga diliputi kelegaan serta rasa berharga.

Doa:  Ya Tuhan sumber keselamatan, selamatkanlah kami dari ancaman yang menghantui hidup, agar kegirangan dapat dialami . Amin.

*SUMBER : SHK bulan OKTOBER 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25 Sept – 1 Okt 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu IV : ” Peduli terhadap Sesama

Minggu, 25 September 2022                           

bacaan : Lukas 16 : 19 – 31

Orang kaya dan Lazarus yang miskin
19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Jadilah Berarti Bagi Sesama

Kekayaan, selayaknya dipahami sebagai berkat Tuhan. Semua orang dapat saja memiliki kekayaan yang melimpah sekaligus terpanggil untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Ada bermacam-macam cara yang dilakukan orang sebagai bentuk pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan itu. Misalnya saja dengan melakukan aksi sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, tetapi ada juga yang memanfaatkannya hanya untuk diri sendiri. Perilaku peduli diri sendiri inilah yang tersebut dalam kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Kisah ini menceritakan bahwa si kaya tidak memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya dengan melimpah itu untuk berbagi dengan orang  yang miskin. Keseharian orang kaya ini dijalani hanya  dengan cara bersukaria dalam kemewahan (ay. 19). Keberadaan dan kondisi hidupnya  berbanding terbalik dengan Lazarus yang tidak memiliki tempat tinggal, badanya dipenuhi borok dan untuk makan saja sangatlah sulit. Nas hari ini menuturkan pula bahwa di “seberang hidup”, orang kaya dan Lazarus mendapatkan tempat yang berbeda (ay. 22-23). Kita tentu saja tidak ingin memiliki nasib seperti si kaya yang setelah kematiannya mengalami penderitaan. Bacaan hari ini mengajarkan kita agar dapat memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan menunjukan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Karena ada banyak saudara-saudari  di luar sana yang tidak seberuntung kita. Kepedulian terhadap sesama tidak hanya ditunjukan dengan berbagi materi saja, tetapi juga dengan perhatian dan kasih sayang kita. Jadilah orang-orang yang peka terhadap orang lain, supaya melalui hidup kita mereka pun dapat merasakan berkat dan kasih Allah. Percayalah, semua kebaikan yang kita lakukan tidaklah sia-sia, melainkan akan berbuah manis kelak. Teruslah peduli dan Jadilah berarti bagi sesama, sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus adalah Allah yang peduli.  Peliharalah belas kasihan atau kepedulia dan jadilah berkat bagi sesama.

Doa:  Ya Tuhan, kiranya hidup kami tetap berarti bagi sesama.  Amin.

Senin, 26 September 2022                             

Imamat 19 : 9 – 13

9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu. 11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. 12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. 13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

Menghidupkan Orang Asing dan Yang Miskin

Perilaku menghidupkan orang asing dan yang miskin pada hakikatnya merupakan wujud hidup yang kudus. Hidup yang kudus adalah penampakkan keberadaan sebagai orang beriman. Orang beriman disebut sebagai mereka yang memiliki hidup kudus. Kudus berarti “dipisahkan” atau “disendirikan”, maksudnya kehidupan orang Kristen haruslah berbeda dari mereka yang lain. Kita boleh hidup bersama mereka yang tidak mengimani Kristus, tetapi dengan kualitas yang berbeda. Hidup yang berkualitas itulah yang membedakan keberadaan umat Allah dengan yang lainnya. Kita terpanggil untuk berjuang memiliki hidup kudus atau berkualitas. Nas hari ini menyaksikan bahwa hidup berkualitas ditandai dengan perilaku peduli terhadap sesama. Sesama yang dimaksud dalam teks ini adalah mereka yang disebut orang asing dan yang miskin. Orang asing dan yang miskin hidup dalam kondisi kekurangan, terutama makanan dan karena itu harus dipedulikan. Kepedulian orang lain atau yang berkelebihan menentukan kelanjutan hidup mereka. Orang asing dan yang miskin hidup dari sisa hasil usaha atau panen para pemilik tanah dan kebun (ayat 9-10). Perilaku meninggalkan sisa hasil usaha bermakna manusiawi. Kebutuhan mendesak orang berkekurangan dipenuhi. Pemilik tanah dan kebun harus membagi hidup agar apa yang ada pada mereka dapat menghidupkan orang lain. Pesan nas ini kiranya dapat mengugah dan menginspirasi keberadaan kita sekarang ini. Hidup berkekurangan tak pernah diharapkan tapi dapat dialami karena kondisi yang tidak menguntungkan. Kepedulian layak dijadikan daya hidup agar kelebihan seseorang mencukupkan kekurangan yang lainnya. Hanya sisa yang diminta untuk menghidupkan, bukan semua yang ada pada kita.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami untuk tetap peduli akan sesama. Amin

Selasa, 27 September 2022                         

bacaan : Imamat 19 : 14 – 16

14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Setiap Orang berharga di Mata Tuhan

Nas hari ini menyaksikan aspek lain dari panggilan untuk menjalani hidup kudus. Hidup kudus terwujud dalam sikap dan perilaku menghargai dan memperlakukan semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Semua orang berharga di mata Tuhan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam hal mendengar dan melihat merupakan sebagian dari kondisi hidup yang tidak lazim. Teks hari ini tampil untuk menggugah rasa kemanusiaan. Keterbatasan yang ada pada orang lain bukanlah alasan untuk memperlakukan mereka secara tidak wajar. Hindarilah tindakkan mengutuki mereka yang mengalami keterbatasan mendengar (tuli). Kita diharapkan terhindar dari bertindak secara tidak wajar.  Mereka yang memiliki keterbatasan mendengar tak boleh dikutuki. Batu sandungan tak boleh diletakkan di depan orang yang hidup dengan keterbatasan melihat atau buta (ayat 14). Sebaliknya kita diharuskan untuk takut Tuhan. Orang yang hidup dengan keterbatasan apapun tetap berharga di mata Tuhan. Mereka tak boleh dihina, dilecehkan,  ditolak, dan diremehkan. Sebaliknya dikasihi, dihargai, dibela atau diberdayakan. Kita juga diminta untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi orang kecil serta menghindari melakukan tindakkan memfitnah. Orang kecil harus dilindungi serta dibela atau diperlakukan dengan adil dan benar. Ingatlah bahwa perilaku memfitnah hanya akan merusak harmoni hidup dan menciptakan perpecahan. Hindarilah untuk berlaku tidak wajar dan penuhilah keberadaan juga kebersamaan dengan cinta kasih, kepedulian serta takut akan Tuhan.

Doa:  Tuhan, ajarkan kami untuk tidak memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang lemah, berikanlah kami hati yang tulus untuk menjaga keharmonisan hidup. Amin.

Rabu, 28 September 2022                             

bacaan : Imamat 19 : 17 – 19

17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. 19 Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.

Merawat Hidup Bersama Dengan Kasih

Cara lain memelihara hidup kudus adalah mematikan perilaku membenci namun menghidupkan akta mengasihi. Mengasihi dikehendaki menjadi wujud luhurnya perilaku orang kudus. Kita teranggilan untuk mengasihi baik diri sendiri, saudara maupun sesama. Tak ada seorang manusia pun yang mampu hidup sendiri. Saudara dan sesama tak mungkin dihindari keberadaannya oleh siapapun selama ia menjalani keberadaannya. Kita diminta untuk hidup kudus, caranya adalah merawat kebersamaan dengan kasih. Kasih terlahir dari hati dan berwujud dalam tindakkan. Tindakkan mengasihi terlahir dari hati dan oleh sebab itu murni serta tulus bukan palsu. Mengasihi yang terlahir dari hati yang murni dan tulus bukan saja bermakna bagi orang lain tetapi terutama bagi diri sendiri. Mengasihi haruslah dimulai dari diri bukan diharapkan untuk dilakukan terlebih dahulu oleh orang lain. Setiap orang pada hakikatnya mengasihi diri sendiri dan hal itu harus pula diwujudkan kepada orang lain, baik saudara maupun sesama. Sebagaimana kita mengasihi diri sendiri, seperti itu pula harus dilakukan kepada orang lain. Hati orang kudus tidak dikotori dengan kebencian. Kebencian hanyalah “kotoran” atau “duri” yang membuat seseorang menjadi berdosa. Mengasihi memampukan seseorang menegur orang lain yang melakukan kesalahan tanpa membuatnya tersinggung. Selain itu mengasihi berarti pula tidak menuntut balas dan mendendam. Mengasihi memelihara orang percaya tetap memiliki hidup kudus. Hidup kudus terpelihara karena mengasihi dan karena itu kebersamaan berlangsung pula secara damai dan tertib.  Orang kudus, hidupnya tertib baik saat berbusana, berkerja maupun yang lainnya.

Doa: Ya Tritunggal, mampukanlah kami untuk setia mengasihi. Amin.

Kamis, 29 September 2022                           

bacaan : Imamat 19 : 32 – 37

32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu. 35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. 36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN."

Meresponi Kasih Allah Dengan Cara Peduli Terhadap Sesama

Teks hari ini menegaskan keterpanggilan untuk peduli kepada sesama. Sesama yang dimaksud adalah mereka yang telah lanjut umur, orang tua, orang asing, dan pencari keadilan serta orang miskin. Umat terpanggil untuk peduli sesama karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi mereka. Pembebasan dari perbudakkan di Mesir adalah bukti dan wujud pengasihan Allah yang luar biasa. Umat terpanggil untuk mengasihi karena mereka telah dikasihi bukan supaya dapat memperoleh kasih. Kepedulian kepada sesama berdasar pada tindakkan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi. Kepedulian terhadap sesama haruslah terwujud melalui tindakan cerdas dan bermutu atau yang menghidupkan. Kita harus berlaku sopan dan  santun kepada semua orang lanjut usia atau mereka yang telah beruban. Orang tua dihormati demikian pun mereka yang “asing”. Orang asing tak boleh ditindas tetapi diterima sebagai bagian dari persekutuan dan dikasihi seperti diri sendiri. Orang yang mencari keadilan haruslah diperlakukan dengan baik. Kecurangan tak boleh berlangsung dalam lembaga peradilan. Para penegak hukum terpanggil bertindak adil agar kebenaran tak diperjual belikan. Kepedulian haruslah terwujud pula dalam aktiftas ekonomi atau jual beli. Para penjual atau pedagang harus memakai timbangan atau ukuran yang betul. Kita terpanggil untuk mewujudkan kasih Allah dalam tindakkan kepedulian kepada sesama. Kepedulian diharapkan terwujud baik dalam keluarga, kepada mereka yang lanjut usianya, di lembaga peradilan maupun saat berlangsungnya aktifitas ekonomi. Kasih Allah tak akan berakhir, karena itu teruslah saling peduli. Peduli sesama berarti, sopan, menghormati dan jujur.

Doa:  Ajarilah kami Tuhan untuk mengerti akan kasih-Mu agar kami mampu untuk  saling peduli seorang akan yang lainnya. Amin.

Jumat, 30 September 2022                          

bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 16

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. 9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami 10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan--pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik. 11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin 12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya. 13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Bersyukur dan Terus Peduli

Kita layak bersyukur di penghujung bulan ini sambil berkomitmen untuk tetap peduli sesama. Tuhan, Allah kita terus berkarya mendatangkan kebaikan dalam hidup baik pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat. Kasih Allah kita alami saat dikasihi atau dipedulikan dengan tulus oleh anggota keluarga yang lain juga sesama. Kesehatan kita terpelihara, anak-anak dapat menjalani aktifitas pendidikan mereka, pekerjaan, jabatan dan karier berlangsung, usaha serta pencarian tetap dilakoni. Seisi keluarga, gereja dan masyarakat terus menjalani keberadaan sampai di hari terakhir bulan ini, hanya karena kasih Tuhan. Teks hari ini kembali menegaskan panggilan kita untuk mewujudkan kepedulian terhadap sesama, secara khusus para janda. Paulus berpesan kepada Timotius agar setiap keluarga peduli terhadap semua janda yang ada pada mereka. Janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan dinasihatkan agar terhindar dari menjalani hidup dengan cara yang bercela. Bagi janda muda atau yang berkeinginan menikah lagi harus didukung supaya mereka beroleh anak, mengurus rumah tangga sendiri dan terhidar dari tindakkan serta cerita yang tak “sedap”. Perhatian khusus haruslah diberikan kepada “janda-janda yang benar-benar janda.” Mereka adalah janda yang tidak kurang dari enam puluh tahun, ditinggalkan seorang diri, menaruh harapan kepada Allah, bertekun dalam doa dan permohonan siang malam atau yang melakukan perbuatan baik. Perhatian khusus kepada “janda yang benar-benar janda”, menjadi tanggung jawab jemaat. Bagi janda yang tidak termasuk katagori khusus, bila hidup mereka dapat ditanggung oleh keluarga sendiri, maka itu pun dapat diterima dan disyukuri.

Doa:  Kuatkan kami dengan kasih-Mu supaya hidup kami jadi berarti bagi keluarga dan sesama. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu III : ” Bertekun dalam doa karena meyakini janji Tuhan.

Minggu, 18 September 2022                    

bacaan : 1 Tawarikh 17 : 16 – 27

Doa syukur Daud
16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Allah; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya TUHAN Allah. 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya TUHAN, oleh karena hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya."

Serahkanlah Segala Rencana dan Hidupmu Kepada Tuhan

Umumnya kita lebih condong berdoa jika mengalami masalah dalam hidup ini. Hal itu pertanda ketika belum mengalami masalah kita tidak mengandalkan Tuhan. Berbeda dengan raja Daud yang berencana untuk membangun Bait Allah dan menyerahkannya dalam doa kepada Tuhan. Daud sangat meyakini bahwa apapun yang ia rencanakan dan lakukan harus diletakkan dalam campur tangan dan kekuatan Tuhan. Alasannya, manusia memiliki keterbatasan tapi Tuhan tidak terbatas dalam hal apapun. Karena itu, Daud berdoa kepada Tuhan. Ia berdoa dengan kerendahan hatinya dan karena itu nyatalah bahwa sebagai seorang raja, Daud tidak menyombongkan dirinya di hadapan Tuhan. Daud juga mengucap syukur kepada Tuhan sebab keluarganya dipercayai (ayat 17-19). Selain itu, Daud meninggikan dan mengagungkan Tuhan Allah. Hal ini terungkap dalam isi doa Daud yang mengatakan bahwa tidak ada Allah lain seperti Engkau yang kami sembah. Dia-lah Allah yang membebaskan umat-Nya dengan perbuatan-perbuatan  besar dan dahsyat. Tuhan-lah penyelamat dan pembebas yang menyelamatkan umat-Nya dari Mesir (ay. 20-22). Akhirnya Daud menyadari bahwa segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja, pemimpin, dan pelayan tidak terlepas dari dukungan keluarga. Karena itu dalam segala kelemahan, kekurangan, dan dengan kerendahan hati Daud berdoa memohon Tuhan memberkati keluarganya. Sikap beriman seperti ini layak diteladani. Keberhasilan seseorang tidak semata terletak pada dukungan dan topangan doa keluarga. Sebaliknya, keluarga perlu pula didoakan. Kiranya menjadi nyata bahwa kita adalah keluarga yang didoakan dan mendoakan satu akan yang lainnya.

Doa: Kiranya rencana dan hidup kami berkenan pada-Mu. Amin.

Senin, 19 September 2022                         

bacaan : Yeremia 29 : 10 – 14

10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Cari, Temui, dan berserulah Kepada Tuhan

Kebebasan, biasanya dirindukan oleh orang-orang yang berada dalam kesesakan atau penderitaan. Penderitaan mengakibatkan orang merindukan hidup seperti sedia kala atau menjalani keberadaan dalam suasana bebas. Namun, sering kali karena keterbatasan, kita menjadi tak berdaya menemukan jalan keluar. Kadangkala kondisi ini membuat kita kecewa dan putus asa, sehingga ingin melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Lewat teks  Yeremia 29:10-14, kita dipertemukan dengan nubuatan tentang jalan keluar yang dialamatkan bagi umat Israel saat mengalami pembuangan di Babel. Jalan keluar tersebut adalah berdoa menyerahkan segala kerinduan untuk mengalami hidup yang baik. Umat diminta agar berserah dan menyerahkan hidup diatur oleh Tuhan. Manusia memang punya rencana, namun terbatas karena itu harus berserah pada Tuhan. Rencana dan rancangan Tuhan untuk hidup ini jauh lebih baik, sempurna dan sejahtera. Atas dasar itu, sebagai umat Tuhan, taatlah berseru dan berdoa kepada Tuhan, sebab Ia pasti mendengarkan kita (ay. 12). Sekali lagi, bersungguh-sungguhlah mencari dan menemukan Tuhan lewat doa (ay. 13), karena Ia memberikan diri-Nya untuk kita temui. Bawalah seluruh gumulan hidup yang menekan pada-Nya. Berseru dan bermohonlah agar Ia menuntun engkau keluar dari deritamu. Dia-lah Tuhan pembebas yang maha mendengar dan melepaskan umat-Nya dari keluh kesah hidup ini. Ia berkuasa membebaskan dan menganugerahkan kelegaan. Tuhan pernah berjanji kepada umat-Nya Israel dan Ia menepatinya. Yakinlah akan janji kelepasan Tuhan, berdoalah senantiasa dan jalanilah hidup dengan lega.

Doa: Ya Tuhan, inilah kami yang datang kepadaMu sambil berseru dan berdoa. Dengar dan jawablah doa kami. Amin.

Selasa, 20 september 2022                    

bacaan : 1 Raja-raja 8 : 22 – 30    

Doa Salomo
22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, 23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 24 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 25 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup di hadapan-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku. 26 Maka sekarang, ya Allah Israel, biarlah kiranya menjadi nyata keteguhan janji yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud, ayahku. 27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! 29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.

                          Berdoa dan Meyakini Janji Tuhan 

Keberhasilan seringkali membuat kita menjadi orang-orang yang lupa diri. Kita menganggap bahwa pencapaian yang didapati semata-mata karena cara berpikir atau kerja keras diri sendiri. Anggapan seperti ini dapat membuat kita menjadi sombong dan angkuh bahkan melupakan Tuhan. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki sifat seperti itu. Misalnya saja raja Salomo, sebagaimana dikisahkan dalam perikop bacaan kita hari ini. Keberhasilan dimaksud tentu saja berkaitan dengan telah diselesaikannya rumah Allah oleh Salomo sesuai janji Tuhan kepada Daud (ay. 19). keberhasilan tidak membuat Salomo merasa hebat melainkan meyakini bahwa sukses yang diraihnya semata-mata penggenapan janji Tuhan. Isi doa yang Salomo naikkan dengan sungguh di hadapan Tuhan, mengandung pengakuan atas kedaulatan Allah serta keyakinan pada janji-Nya. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini…..(ay. 28), menunjukan kepribadian Salomo yang juga percaya dan bergantung pada ketetapan serta kehendak Allah. Ia yakin bahwa Allah yang sama jugalah yang akan menjawab doa dan permohonannya. Sebagaimana Salomo yang meyakini janji Allah dalam ungkapan doanya, kita pun diajarkan demikian. Karena hanya Allah satu-satunya tempat kita berseru dan memohon. Menjumpai Allah di dalam doa sudah seharusnya menjadi gaya hidup kita sebagai orang percaya. Berdoa adalah bukti iman dan pengakuan serta kebergantungan kita kepada-Nya. Percayalah kepada Tuhan dan hiduplah benar di hadapan-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah tidak pernah mengingkari janji. Oleh sebab itu Yakinlah pada Allah, nyatakan permohonan kita di dalam doa dengan sungguh sambil tetap percaya bahwa Ia akan senantiasa menjawab.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami agar terus berdoa sambil meyakini janji-Mu. Amin.

Rabu, 21 September 2022                                       

bacaan : Roma 12 : 12

12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Bertekunlah Dalam Doa

Doa adalah nafas hidup orang percaya, merupakan kalimat yang sudah sangat sering kita dengar. Kalimat ini menegaskan bahwa doa mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalani kehidupan. Sebab dengan berdoa secara langsung memperlihatkan kepercayaan bahkan kebergantungan kita kepada Allah. Oleh karena itu salah satu pokok teologi yang penting dari nasihat rasul Paulus untuk hidup dalam kasih, adalah bertekunlah dalam doa. Kita tidak dapat menghindari berbagai dinamika  dalam menjalani kehidupan. Terkadang kita berada pada situasi kebahagiaan, tetapi dapat pula mengalami hal atau peristiwa yang mengecewakan. Realita seperti ini dapat saja membuat kita cenderung hidup di luar kasih karena iman menjadi terguncang. Ungkapan Bertekunlah dalam doa, menegaskan nilai ketaatan dan kesetiaan serta keterbukaan di hadapan Allah. Manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Oleh sebab itu, kita membutuhkan campur tangan dan kuasa Allah. Kuasa dan campur tangan Allah yang menolong hanya dapat dialami melalui akta berdoa yang dilakukan dengan tekun. Tekun berdoa merupakan pilihan sikap dan cara beriman untuk memperoleh kekuatan ilahi menghadapi dan mengatasi apapun situsi hidup. Teruslah bersukacita karena Allah akan selalu memberikan harapan baru  bagi kita dan tetaplah tabah meskipun berbagai kesulitan hidup, kesesakan serta cobaan datang silih berganti. Jadikan doa sebagai kebutuhan kita untuk terus membangun relasi dengan Allah dan harapan dalam menjalani hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Teruslah mendoakan pribadi masing-masing, sesama manusia dan dunia ini agar kehidupan yang penuh kedamaian kita alami. Percayalah pada Allah, dengan kasih-Nya yang begitu besar Ia akan mendengar dan menyahuti pinta doa kita.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami agar tekun berdoa kepada-Mu sebagai bukti    iman dan percaya kami. Amin.

Kamis, 22 September 2022                           

bacaan : Bilangan 11 : 1 – 3

Api TUHAN
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. 3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

Jangan Mengeluh, Berdoalah!

Hidup yang bahagia menjadi harapan atau dambaan setiap insan manusia. Namun ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan atau dambaan itu, muncullah berbagai reaksi dengan corak yang berbeda. Ada yang menanggapi dengan bersyukur dan lapang dada, tetapi lainnya bersungut-sungut sambil menyalahkan diri sendiri atau orang lain bahkan Tuhan. Tanggapan bersungut-sungut dan menyalahkan inilah yang dilakukan bangsa Israel sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut di hadapan Tuhan karena kenyataan yang mereka alami. Mereka beranggapan bahwa kehidupan yang dialami dan dijalani saat itu jauh berbeda dengan saat berada di tanah Mesir. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kebutuhan jasmani yakni makan dan minum. Meskipun tidak sama seperti di Mesir, tetapi Allah tidak pernah membiarkan bangsa itu kelaparan. Persungutan mereka berakibat pada dialaminya murka Allah. Api Tuhan menyala di sekitar perkemahan. Kenyataan tersebut membuat bangsa Israel berteriak kepada Musa agar ia  menjadi perantara untuk memohon pengampunan dan pembebasan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak sungguh-sungguh meyakini dan memercayai Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan  (Mesir). Tindakan Musa untuk berdoa kepada Allah, sudah sepatutnya diteladani oleh kita sebagai orang percaya. Benar adanya, dalam setiap proses kehidupan ini kita akan menemukan berbagai macam tantangan dan persoalan. Akan tetapi haruslah tetap yakin bahwa di balik penderitaan, ada maksud Tuhan yang baik bagi hidup kita. Oleh karenanya hindarilah sikap atau perilaku yang bersungut-sungut dan saling menyalahkan serta hiduplah dalam ungkapan syukur yang tulus kepada Allah.  Percayalah, dalam doa yang penuh iman, ada kuasa Allah. 

Doa:  Tuhan Yesus, ajarilah kami mensyukuri setiap rencana Tuhan serta percaya pada kuasa-Mu.  Amin.

Jumat, 23 September 2022                                

bacaan : Matius 7 : 7 – 11

Hal yang kudus dan berharga Hal pengabulan doa
7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji

Setiap orang memiliki pergumulan hidup yang berbeda-beda. Pergumulan dihadapi baik sebagai pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Mungkin saja dapat berkaitan dengan beberapa aspek seperti iman, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial dan lain sebagainya. Terkait hal itu, pernahkah kita merasa bahwa doa dan gumulan kita seolah-olah tidak didengar dan dijawab oleh Tuhan? Bagian bacaan kita hari ini merupakan pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan hal pengabulan doa. Mintalah…carilah…ketoklah…(ay. 7), kata-kata ini bersifat imperatif (perintah) dan ditujukan kepada setiap orang untuk membangun relasi dengan Allah. Hal ini penting diperhatikan karena berdoa sama halnya dengan percaya dan mengakui kuasa Allah. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (ay. 8), mengandung janji dan dialamatkan bagi setiap kita yang dengan sungguh serta tulus berdoa kepada Allah. Orang percaya diminta untuk tetap meyakini janji dan kuasa Allah. Berusahalah untuk tidak meragukan-Nya. Dia yang mengucapkan janji itu adalah Allah yang baik dan berkuasa mengabulkan permohonan kita. Ketika perasaan kita digoncang dengan kebimbangan, keraguan, kecemasan karena dibebani dengan berbagai persoalan hidup, janganlah berputus asa dan hilang harapan. Teruslah berdoa dan berusaha sambil tetap berharap kepada-Nya, karena Allah itu hanya sejauh doa. Mungkin saja tidak terlalu cepat Ia mengabulkan, tetapi bukan pula berarti terlambat, karena jawaban-Nya selalu tepat pada waktunya. Ketahuilah, bahwa setiap kebaikan menurut anggapan manusia, belum tentu baik pada pandangan Allah. Oleh karenanya, berdoalah dengan sungguh, sabarlah menanti jawaban Allah dan yakinlah Ia akan memberikan yang terbaik.

Doa: Tuhan, kami percaya, jawaban doa dari-Mu itulah yang terbaik. Amin.

Sabtu, 24 September 2022                            

bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Jadikan Allah Sebagai Yang Utama

Ketika kita diperhadapkan dengan bermacam-macam persoalan hidup, siapakah yang menjadi prioritas kita? Sebagai orang percaya tentu saja kita akan mendahulukan Tuhan bukan! Tindakan seperti inilah yang dilakukan oleh Nehemia, sebelum menyampaikan maksud kepada raja Artahsasta terkait keinginannya untuk kembali ke Yehuda. Hal ini tentu saja berhubungan dengan kabar atau berita yang diterimanya bahwa orang-orang sebangsanya yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan tercela. Selain itu tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (Neh. 1: 3). Kedekatan Nehemia dengan Artahsasta tercipta karena ia adalah juru minuman raja. Sekalipun demikian, namun Tuhan tetap diutamakannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan setiap doa dan permohonan yang disampaikan kepada Allah (Neh. 1:11; 2:4). Menariknya semua hal yang disampaikan oleh Nehemia kepada Artahsasta dikabulkan. Nehemia meyakini sungguh bahwa semua yang terjadi semata-mata hanya karena tangan Allah yang melindunginya (ay. 8b). Kisah ini memberikan inspirasi bahwa dalam kondisi apapun yang membuat kita ada dalam ketakutan, kebimbangan bahkan keterpurukan, tetaplah mengandalkan Allah.  Bukan berarti kita hanya mendahulukan Allah pada saat ada dalam kesulitan atau masalah hidup saja, tetapi dalam kondisi baik sekalipun. Bahkan di setiap keinginan atau kerinduan kita, sertakan dan utamakanlah Ia di dalamnya. Kita memang belum dapat  memastikan hasil akhir dari segala sesuatu yang direncanakan dan diusahakan. Namun, bila kita mengutamakan Allah, maka percayalah bahwa Ia pasti memberikan yang terbaik. Ingatlah, Allah berkuasa menjawab doa, oleh karena itu jadikanlah Ia yang paling utama selama kehidupan ini kita jalani. Jalanilah hidup ini seturut teladan Nehemia seorang yang tekun berdoa dan bersyukurlah bersama wadah laki-laki GPM di usianya yang ke-34.

Doa:  Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu mengutamakan Engkau dalam      mengawali setiap langkah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu II : ” Perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni

Minggu, 11 September 2022                      

bacaan : 1 Timotius 1 : 18 – 20

Tugas Timotius
Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,
di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Bersaksi Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Tema pelayanan kita di minggu ini, “perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Tema ini berdasar pada nasihat  Paulus kepada Timotius. Timotius akan melanjutkan tugas pemberitaan injil Kristus. Paulus menyadari bahwa Timotius yang disapa sebagai anaknya akan menghadapi berbagai tantangan, ancaman bahkan godaan dari kekuatan dunia. Kondisi yang demikian dapat saja mengakibatkan Timotius meninggalkan panggilan pelayanannya. Ia tidak menghendaki Timotius mengulangi tindakan Himeneus dan Aleksander yang telah mengkhianati panggilan mereka dengan menghujat pekerjaan Tuhan. Paulus telah menyerahkan mereka kepada iblis sebagai bentuk hukuman agar menjadi jera. Fakta itulah yang menyebabkan Paulus menasihati Timotius. Timotius dinasihati untuk memiliki iman yang teguh kepada Kristus serta hati nurani yang murni dalam menjalankan tugas pelayanan pemberitaan injil. Hati sebagai pusat pikiran, perasaan dan pengambilan keputusan mesti selalu dicerahi dengan iman kepada Kristus. Keteguhan iman membuat hati bersukacita terutama ketika menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan. Iman yang kokoh akan menjadi “sauh” saat berhadapan dengan ancaman dan godaan untuk meninggalkan atau menghianati pelayanan. Nasihat firman Tuhan ini pun penting bagi kita sebagai keluarga Allah : papa, mama dan anak-anak dalam melaksanakan panggilan   memberitakan Injil Kristus di tengah dunia ini. Kita memberitakan injil Kristus melalui tutur kata yang baik, sikap santun dan perilaku hidup sesuai teladan Kristus. Hal ini tidaklah mudah atau gampang sebab kita akan berhadapan dengan berbagai tantangan, godaan bahkan ancaman serta kekuatan dunia yang merusak. Panggilan dan situasi inilah yang mendorong  kita untuk memiliki iman yang kokoh kepada Kristus. Teruslah pelihara hati nurani yang murni agar hidup dituntun untuk melangkah sesuai perintah dan kehendak Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan tolonglah kami untuk bersaksi dengan iman & hati nurani yang murni. Amin.-  

Senin, 12 September 2022                             

bacaan : 1 Timotius 1 : 3 – 5

Mengenai ajaran sesat
3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain 4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman. 5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

Hidup Tertib Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Perjalanan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan yang akan dilanjutkan oleh Timotius tidak sepi dari berbagai tantangan atau persoalan. Ada orang yang mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng serta cerita yang berlebihan tentang silsilah. Akibatnya timbul kekacauan dan keutuhan jemaat terancam pecah. Mereka ini perlu dinasihati dan untuk melakukan tugas itu, Timotius harus tinggal di Efesus tetapi Paulus melanjutkan perjalanan ke Makedonia. Beriman kepada Kristus yang telah menganugerahkan keselamatan haruslah terwujud dalam keutuhan persekutuan. Persekutuan jemaat harus tetap terpelihara dan oleh sebab itu pengacau atau pembuat masalah perlu disadarkan. Hati yang menjadi sasaran penyadaran. Timotius diminta untuk memberi menasihat agar hati mereka dipenuhi kasih, dan menjadi suci, murni serta tulus ikhlas. Kemurnian hati nurani terlahir dari iman dan ketulusan. Dampaknya adalah dialaminya kehidupan persekutuan yang utuh, indah dan rukun serta diberkati. Berkat Tuhan pasti lenyap dalam persekutuan yang anggotanya hidup saling berbantah, cekcok, berselisih dan tidak rukun. Nasihat firman Tuhan di hari ini penting bagi kita sebagai papa, mama dan anak-anak yang merindukan kehidupan diberkati Tuhan. Keluarga adalah persekutuan orang beriman yang memiliki tertib hidup. Bukalah hati  dan mohon kehadiran Roh Tuhan agar hidup dituntun sehingga sikap dan perilaku berkenan pada-Nya. Peliharalah hati agar tetap suci, murni, dan tulus ikhlas. Usahakanlah untuk tidak menjadi batu sandungan dalam persekutuan baik keluarga, gereja masyarakat maupun bangsa dan Negara. Jalanilah hidup sebagai kesempatan saling mengingatkan, menasihati, menghargai, menghibur, menopang, mendengar, mendamaikan, mengutuhkan dan mengampuni serta mengasihi. Kita telah mengalami kemurahan Tuhan yang menyelamatkan karena itu hiduplah dengan tertib karena iman dan hati nurani yang murni.

Doa:   Tuhan tolonglah kami untuk hidup tertib dengan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Selasa, 13 September 2022                             

bacaan : Roma 8 : 27 – 28 

27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. 28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Melakukan Kebaikan Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Kenyataan hidup yang  kita alami setiap harinya, tidak sepi dari berbagai persoalan, tantangan, acaman bahkan penderitaan. Semua itu merupakan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Kita tak boleh larut, terpuruk apalagi hancur karena kenyataan hidup yang menekan itu. Hidup dalam masa yang sulit dapat membentuk kita menjadi orang percaya yang kokoh atau kuat serta tetap setia mengasihi Tuhan dan sesama. Nasihat Paulus kepada jemaat di Roma adalah kuncinya. Milikilah  “hati nurani yang murni”, sebab Allah yang adalah pencipta menyelidiki dan mngetahui hati setiap orang. Hati sebagai pusat pemikiran, perasaan serta kehendak mesti dicerahi dalam terang iman kepada Kristus. Segala hal yang terjadi dalam hidup ini, kejahatan ataupun kebaikan ada dalam kendali kuasa Allah. Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Pesan firman ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita yang mengimani Kristus, walau sedang mengalami keditakbaikan. Kita tidak perlu kecewa atau putus asa, dan larut serta binasa. Tetaplah menunaikan panggilan melakukan kebaikan dalam hidup. Allah dalam Kristus yang diimani dan disembah adalah Dia yang tetap bekerja serta berkarya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang setia kepada-Nya. Karya penyelamatan Allah akan terus berlangsung termasuk dalam keluarga kita. Kita terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Karyakanlah kebaikan baik dalam  pekerjaan, usaha maupun pendidikan dan masa depan anak-anak. Hadapilah tantangan atau persoalan bahkan penderitaan dengan tetap beriman dan hati nurani yang murni. Teguhkanlah iman peliharalah hati nurani yang murni dan teruslah kerjakan kebaikan dalam hidup. Penuhilah hidup dengan kebaikan karena iman dan hati nuranimu yang murni. Yakinlah bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk melakukan kebaikan dalam pengharapan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Rabu, 14 September 2022                                    

bacaan : Kisah Para Rasul 23 : 1 – 3

Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." 2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku."

Gunakan Hati Nuranimu

Ketika menghadapi suatu permasalahan, apalagi perkara hukum, tidak saja dibutuhkan keberanian diri, namun juga hati nurani yang kuat. Sebutan hati nurani diterjemahkan dari kata bahasa Yunani suneidēsis, yang berarti “kesadaran moral” atau “pengetahuan moral”. Jadi, hati nurani merupakan suatu proses berpikir yang menghasilkan perasaan yang secara rasional berkaitan dengan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani akan berfungsi saat seseorang menggunakannya untuk menghadapi suatu perkara atau situasi. Bila digunakan, maka hati nurani akan berperan sebagai pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan, bahkan bertindak untuk melakukan hal yang baik. Atas dasar itu, rasul Paulus menyatakan sikapnya di hadapan sidang Mahkamah Agama, bahwa hidupnya selama ini tidak pernah mengabaikan hati nurani, baik dalam kata maupun perbuatan (Kis.23:2). Paulus sadar bahwa pikiran, perkataan, dan perbuatan baik harus bersumber dari hati nurani. Hati nurani adalah bagian tubuh manusia (anatomi), yang tidak bisa dibohongi maupun membohongi. Pengertian seperti ini membantu kita yang adalah orang Kristen untuk harus selalu hidup sesuai dengan apa yang dipahami benar. Ukuran kebenaran kita adalah kehendak Tuhan. Paham demikian perlu dimiliki oleh setiap orang Kristen. Alasannya, jika hidup orang Kristen tidak memahami pengetahuan yang benar tentang kebenaran atau kehendak Allah, maka akibatnya adalah melakukan hal-hal yang jahat (bdk. Yoh 16:2). Marilah kita buka hati nurani agar dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga kebenaran dan kehendak Allah nyata dalam kehidupan ini.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup sesuai dengan hati nurani Agar Engkau dimuliakan. Amin.

Kamis, 15 September 2022                                     

bacaan : Kisah Para Rasul 24 : 16

16 Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

Menjadi Berani Karena Hati Nurani yang Murni

Nas hari ini merupakan bagian dari kisah pembelaan Paulus di hadapan Feliks. Feliks adalah gubernur Romawi di wilayah Yudea dan disebut pula sebagai wali negeri. Ia dipanggil menghadap Feliks karena adanya tuduhan yang berasal dari Imam Besar Ananias, beberapa orang tua-tua dan pengacara Tertulus. Orang-orang ini mengemukakan tuduhan dan berharap agar Feliks mendakwa Paulus bersalah karena pemberitaan Injil yang dilakukannya. Paulus dituduh sebagai “penyakit sampar”, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara bangsa Yahudi dan tokoh dari sekte Nasrani. Semua tuduhan itu dihadapi dan dipatahkan Paulus dengan beraninya.   Ia berani berbicara di hadapan wali negeri dan mematahkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Feliks dapat diyakinkan bahwa Paulus datang dari Yerusalem untuk beribadah, tak pernah didapati bahwa ia bertengkar, atau menimbulkan huru-hara, tidak melakukan hal yang bertentangan dengan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Keberanian Paulus terbukti pula ketika ia justeru memanfaatkan kesempatan itu untuk bersaksi. “Aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut jalan Tuhan.” Harapan aku dan mereka ditujukan kepada Allah yang sama. Dia-lah Allah yang akan membangkitkan semua orang. Paulus menjadi berani karena ia memiliki hati nurani yang murni baik di hadapan Allah maupun manusia. Berani karena hidup dan melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan Allah. Hidupnya tak dijalani dalam kepalsuan atau siasat dan upaya habis-habisan mencelakakan orang lain demi kepentingan diri semata. Keberanian adalah buah dari dimilikinya hati nurani yang murni oleh seseorang

Doa: Bapa, karuniakanlah hati nurani yang murni kepada kami. Amin.

Jumat, 16 September 2022                              

bacaan : Ibrani 13 : 18 – 21

18 Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik. 19 Dan secara khusus aku menasihatkan kamu, agar kamu melakukannya, supaya aku lebih lekas dikembalikan kepada kamu. 20 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, 21 kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

                    Doa, Hati Nurani yang Baik dan Berkat Tuhan

Semua orang, kapan dan dimana saja, menginginkan hidup yang baik. Hidup yang baik tidak dengan serta merta dapat dialami, sebab harus diperjuangkan. Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa hidup yang baik itu adalah keinginannya. Ia tidak mengingini harta bendawi, jabatan, kedudukan atau kecantikan dan popularitas, sekalipun hal-hal demikian tidaklah buruk. Hidup yang baik itu berhubungan dengan tiga hal, yakni doa, hati nurani dan berkat Tuhan. Keinginan untuk mengalami hidup yang baik haruslah diperjuangkan dengan cara melakukan tiga hal tadi. Memiliki hidup yang baik hendaknya dijadikan keinginan utama dalam keberadaan sebagai orang Kristen. Hidup yang baik itu dapat terwujud bila sebagai orang percaya kita terus berdoa bukan saja kepada diri sendiri, tetapi orang lain juga. Karena itu tersebut dalam nas hari ini: “berdoalah terus untuk kami.” Hidup yang baik itu diperjuangkan dengan terus memelihara kebiasaan berdoa. Berdoalah dengan tidak berkeputusan mendoakan ikhwal diri sendiri juga orang lain. Hidup yang baik ditandai dengan kenyataan bahwa dalam akta beriman pun kita tetap peduli akan sesama. Hal kedua yang penting adalah milikilah hati nurani yang baik. Penulis ini mengatakan: …”kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik.” Pastikanlah bahwa seluruh ungkapan doa yang dinaikan kepada Tuhan, terlahir dari hati nurani yang baik. Mohonlah kuasa Roh Kudus untuk menguasai hidup, agar hati nurani yang baik tetap terpelihara. Akhirnya, bermohonlah agar Tuhan memberkati hidup kita. Hidup yang baik tak mungkin dialami tanpa berkat Tuhan. Jadilah pejuang kebaikan, tekunlah berdoa, peliharalah hati nurani dan bermohonlah kiranya Tuhan memberkati hidup kita.

Doa: Bapa yang baik, berkehendaklah atas seluruh juang kami. Amin.

Sabtu, 17 September 2022                                      

bacaan : Ibrani 9 : 14

14 betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Ingat! Hati Nurani Kita Sudah Disucikan Tuhan Yesus

Haruslah diakui dan diyakini bahwa Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita melalui kematian-Nya di Salib. Kematian Yesus ini merupakan suatu wujud pengorbanan dengan tujuan untuk menyelamatkan umat manusia. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, merupakan wujud penyerahan diri-Nya kepada Allah Bapa sebagai persembahan yang tidak bercacat. Tujuan dari pengorbanan Tuhan Yesus adalah agar umat manusia yang berdosa diselamatkan. Manusia yang diselamatkan itu hati nuraninya disucikan dari perbuatan-perbuatan yang jahat, buruk, atau tidak baik. Hal ini berarti bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan lain, selain kekuatan kuasa Tuhan Yesus. Salah satu wujud dari kekuatan kuasa Tuhan Yesus dalam kehidupan orang Kristen adalah hidup dalam hati nurani yang suci. Makna hati nurani yang suci haruslah terwujud pula dalam kebersamaan dengan orang lain. Hidup suci terlahir dari hati nurani.  Hati nurani berperan menggerakkan diri kita untuk berpikir, berkata, dan berperilaku yang baik serta berarti bagi sesama demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Ingatlah, Tuhan Yesus telah menyucikan hati nurani kita melalui kematian-Nya di Salib. Hargailah pengorbanan Tuhan Yesus itu melalui perilaku hidup suci, yakni yang bersumber dari hati nurani yang sudah disucikan oleh Tuhan Yesus. Nas hari ini juga menyaksikan bahwa hati nurani disucikan dari perbuatan-perbuatan sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Ibadah yang kita aktakan bersumber dari hati nurani yang disucikan. Perbuatan sia-sia hendaklah dijauhkan karena Kristus telah berkorban bagi kita. Kristus telah menumpahkan darah-Nya untuk menjadikan hidup tersucikan yang karenanya kita diminta untuk tekun beribadah.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami selalu tekun beribadah. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan

Tema Minggu I : ” Cintailah dan Hiduplah Menurut Taurat TUHAN “

Minggu, 04 September 2022                         

bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6

Jalan orang benar dan jalan orang fasik
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Orang Fasik Hidupnya Bagaikan “Sekam”

Hari minggu pertama bulan September ini mengawali usbuh yang dikehendaki berlangsung dengan arahan tema: “cintailah dan hiduplah menurut Taurat Tuhan.” Tema ini kiranya dapat menjiwai dan menggerakkan seluruh keberadaan dan aktifitas keluarga-keluarga GPM. Kita berada dan terpanggil untuk menatalayani sikap dan perilaku sebagai orang benar. Orang benar menjalani hidup dengan cara menghindari sikap dan perilaku seperti orang fasik. Sebutan orang fasik memiliki makna yang sama dengan jahat atau berdosa. Cara bersikap dan bertindak kita hendaklah dipertimbangkan dan diaktakan secara berkenan pada Tuhan. Bila cara bersikap dan bertindak berkenan pada Tuhan, maka demikianlah kita menjadi orang benar. Orang benar, hidupnya diberkati atau berbahagia. Diberkati atau berbahagia tidaklah berarti sekadar mempunyai banyak harta dan uang, juga merasa senang serta nyaman. Arti sesungguhnya adalah menerima anugerah Tuhan dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Teruslah tumbuhkan kesukaan akan Taurat Tuhan dan renungkanlah hal itu siang dan malam. Orang yang hidupnya seturut Taurat Tuhan bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, berbuah pada musimnya dan daunnya tak pernah layu. Maksudnya adalah apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kebaikan hidup yang demikian tak akan dialami orang fasik, yakni mereka yang berpaling dari Tuhan dan tidak manaati hukum-Nya. Orang fasik diumpamakan dengan “sekam”, mereka tidak mempunyai akar. Mereka kehilangan kegemilangan hidup, tak akan diberkati atau berbahagia  serta kehilangan daya dalam penghakiman juga kesukaran. Ujilah akan seluruh kesukaan agar berpadanan dengan kehendak Tuhan. Bila kehendak Tuhan merajai hidup kita, maka berkat-Nya dialami. Kebahagiaan akan mengikuti kita sepanjang hari-hari hidup. Kita akan dibimbing-Nya sehingga terhindar dari kebinasaan. Jadilah orang benar, maka hidupmu diberkati dan berbahagia.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar tidak menjadi orang fasik. Amin.

Senin, 05 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 137 – 144

137 Engkau adil, ya TUHAN, dan hukum-hukum-Mu benar. 138 Telah Kauperintahkan peringatan-peringatan-Mu dalam keadilan dan dalam kesetiaan belaka. 139 Nyala cintaku menghabiskan aku, sebab para lawanku melupakan segala firman-Mu. 140 Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya. 141 Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan. 142 Keadilan-Mu adil untuk selama-lamanya, dan Taurat-Mu benar. 143 Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku. 144 Peringatan-peringatan-Mu adil untuk selama-lamanya, buatlah aku mengerti, supaya aku hidup.

Mengagungkan Kuasa dan Kemurahan Tuhan

Pemazmur melakukan renungan tentang campur tangan dan keberpihakan Tuhan dalam hidup orang yang mengalami kesukaran. Dia-lah yang menghakimi dengan adil dan menyatakan pertolongan bagi mereka yang terinjak. Menghakimi dan melindungi merupakan wujud tanggungn jawab seorang raja. Ia memerintah dan menghakimi agar keadilan ditegakkan di bumi khususnya bagi para korban ketidakadilan. Tuhanlah Raja yang memerintah dengan adil, karena itu semua orang terutama korban dapat datang kepada-Nya memohon pertolongan.  Korban yang dimaksud dalam kitab Mazmur adalah orang miskin (9:19), tertindas (9:13), dan mereka yang sengsara (9:10). Renungan akan Tuhan Sang Raja itu dinyatakan pemazmur dengan ungkapan yang bermakna. Hukum-hukum-Mu benar, Ia adil juga setia dan janji-janji Tuhan itu sangat teruji. Tuhan sudah dialami dan diakui pemazmur dalam situasi hidup yang memprihatinkan. Keprihatinan hidup itu dinyatakan pemazmur dengan ungkapan “kecil” dan “hina”. Pemazmur mengalami dan menjalani hidup yang sukar dan sengsara. Walau demikian hidup pemazmur, namun ia tetap menyukai perintah dan ketetapan Tuhan. Renungan pemazmur ini kiranya meneguhkan dan menyegarkan keberadaan kita sebagai persekutuan yang besok akan mengalami bertambahnya tahun kemurahan Tuhan. Kita tetap berada sampai di hari ini hanya karena Tuhan. Dia-lah kepala Gereja yang senantiasa memerintah, menyatakan pertolongan dan berkehendak atas hidup umat dan pelayan GPM. Kita terus dilayakkan untuk mengaktakan panggilan bergereja, menanan dan menyiram serta memberdayakan juga mengatasi berbagai kesukaran. Panggilan bergereja dan beriman kita akan terus berlangsung bersama kuasa dan kemurahan Tuhan yang tersedia baik di darat maupun laut. Bergiatlah terus menjadi keluarga yang menanam di daratan sebab panggilan melaut tahun ini kita aktakan sebagai gereja yang bersyukur. 

Doa: ya Tuhan, kami agungkan kuasa dan kemurahan-Mu. Amin.

Selasa, 06 September 2022                                   

bacaan : Filipi 4 : 2 – 9

Nasihat-nasihat terakhir
2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! 5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! 6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. 8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Bersyukur dan Bersukacita

Hari ini keluarga besar Gereja Protestan Maluku bersyukur dan bersukacita karena bertambah tahun pelayanan. Kita telah diperkenankan Tuhan berarak bersama sampai di usia ke- 87. Sebagaimana Tuhan telah menyatakan kemurahan-Nya kepada Paulus dan kawan-kawan sekerjanya, demikian pun kita. Kemurahan Tuhan tersedia baik di pulau-pulau mupun laut yang membentang di Maluku dan Maluku Utara. Dia-lah Tuhan semesta yang terus menyertai seluruh umat dan pelayan GPM baik selaku pribadi, keluarga, maupun jemaat. Penyertaan yang sama kita yakini dialami pula dalam kebersamaan sebagai masyarakat, bangsa maupun negara. Hitunglah berkat Tuhan di sepanjang hidup yang telah berlangsung sampai hari ini. Jadilah kuat dan tenang serta berkelimpahanlah dalam rasa syukur. Bersukacitalah senantiasa sebab kemurahan Tuhan tak akan berakhir. Ia pasti akan terus hadir dan menyatakan pertolongan-Nya dalam hari hidup juga pengabdian, usaha dan kerja. Kita hidup dan berarak bersama karena kasih Tuhan. Kasih Tuhan pasti tersedia terutama di saat hidup menderu. Pergumulan, masalah dan tantangan terus menjadi bagian yang menyatu dengan hidup kita. Hiduplah seturut nasihat Paulus. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Janganlah kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.  Hidup kita dipedulikan Tuhan, damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran dalam Kristus Yesus. Pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, serta yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Kita bersyukur dan bersukacita serta berkomitmen menjadikan keberadaan sebagai kesempatan untuk hidup seturut kehendak Tuhan. Berusaha dan berjuanglah untuk hidup yang lebih baik dalam terang dan tuntunan kehendak-Nya. Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kita.

Doa: Bapa, kiranya syukur dan sukacita kami berkenan pada-Mu. Amin.

Rabu, 07 September 2022                   

bacaan : Mazmur 119 : 113 – 120

113 Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai. 114 Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu. 115 Menjauhlah dari padaku, hai penjahat-penjahat; aku hendak memegang perintah-perintah Allahku. 116 Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu, supaya aku hidup, dan janganlah membuat aku malu dalam pengharapanku. 117 Sokonglah aku, supaya aku selamat; aku hendak bersukacita dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa. 118 Engkau menolak semua orang yang sesat dari ketetapan-ketetapan-Mu, sebab sia-sia tipu muslihat mereka. 119 Sebagai sanga Kauanggap semua orang fasik di bumi; sebab itu aku mencintai peringatan-peringatan-Mu. 120 Badanku gemetar karena ketakutan terhadap Engkau, aku takut kepada penghukuman-Mu.

Taurat-Mu kucintai

Kita bersyukur bersama keluarga besar kota Ambon di usia ke-447 dan terpanggil lagi untuk bergiat merenungkan makna ungkapan pemazmur: “Taurat-Mu kucintai.” Taurat adalah sebutan teologi yang mengandung pengertian luas tentang kehendak Allah sebagaimana termuat dalam lima kitab pertama di Alkitab. Allah menghendaki agar umat Israel hidup sesuai dengan kehendak-Nya.  Hidup yang berkenan pada Allah itu diharapkan terwujud dalam praktek dan relasi baik keagamaan maupun sosial. Orang-orang yang mencintai Taurat bukan saja memahami kehendak Tuhan tetapi hidup mereka juga sesuai dengannya. Saat berhadapan dengan kesukaran, Allah dijadikan tempat persembunyian dan perisai. Pertolongan Tuhan menjadikan manusia terluput dari malapetaka dan kebinasaan. Firman-Nya menerangi dan menuntun, sehingga semua yang berharap pada Dia tak dikecewakan. Perintah-perintah-Nya meluputkan orang dari melakukan kejahatan. Orang yang mencintai Taurat menghindari dan membenci kejahatan. Hidupnya dipenuhi dengan kebaikan bukan kejahatan. Kesukaannya adalah melakukan yang baik. Hidup yang dipenuhi kebaikan itu menyangkut, baik pikiran, perasaan, kehendak maupun perilaku atau tindakkan. Kebaikan itulah yang memungkinkan orang menjadi dekat dengan Tuhan dan memiliki kepastian untuk bermohon. Tuhan itu maha baik dan setia karena itu bermohonlah agar Ia menopang hidupmu sesuai janji-Nya. Keselamatan kita tergantung sokongan-Nya yang membuat sukacita. Bersukacitalah karena hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Inilah maksud pemazmur melalui pernyataannya: “aku hendak bersukacita dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa.” Orang jahat dibenci Tuhan tetapi mereka yang mencintai Taurat-Nya dikasihi. Ingatlah bahwa semua orang yang melakukan kejahatan akan dihukum Tuhan dan oleh sebab itu berpeganglah pada peringatan-peringatan-Nya.

Doa: Ya Tuhan, layakkanlah kami untuk menjadi orang percaya yang mencintai Taurat-Mu. Amin

Kamis,  08 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 9 – 16

9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. 10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. 11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. 12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. 13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. 14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. 15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. 16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.

Makna Firman Tuhan Bagi Hidup Orang Muda

Nas hari ini meyaksikan perhatian khusus Pemazmur terhadap hidup orang muda. Kelakuan merupakan dimensi penting dalam perkembangan dan pertumbuhan orang muda. Ada dua kemungkinan kecenderungan orang muda mengaktakan kelakuannya. Kecenderungan pertama adalah berkelakuan baik dan kedua buruk. Oleh sebab itu kelakuan mereka perlu diasah dan dilatih agar menjadi baik atau bersih. Sebutan bersih memiliki arti yang sama dengan istilah tahir. Tahir adalah lambang dari hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup orang muda haruslah berpadanan dengan kehendak Tuhan. Hal ini dimaksudkan agar potensi yang dimiliki mereka dapat dikembangkan ke arah yang positif dan kecenderungan perilaku buruk dihindari. Rasanya tak kurang banyak kerisauan dan kegelisahan gereja terhadap kelakuan buruk anak muda kita. Kebiasaan minum minuman keras, kekerasan, seks bebas adalah sebagian fakta miris yang memprihatinkan. Menyoal  fakta keprihatinan orang muda merupakan kesadaran kemanusiaan untuk menyiapkan masa depan yang berkualitas dan gemilang bagi mereka. Kekuatan firman Tuhan haruslah menjadi andalan kita. Firman Tuhan berkuasa menjaga kelakuan orang muda tetap bersih. Hidup mereka menjadi dekat pada Tuhan dan tidak menyimpang dari perintah-perintah-Nya. Hati menyimpan janji Tuhan dan perbuatan dosa menjauh lalu bibir menceritakan hukum Tuhan. Titah Tuhan senantiasa direnungkan, dan jalan-jalan-Nya tak tersembunyi. Harapan ini menjadi tanggung jawab semua pihak, khususnya orang tua dan semua kita yang dewasa. Orang muda adalah harapan masa depan, peliharalah kelakuan mereka agar tetap bersih dengan kuasa firman Tuhan. Mohonlah Roh Kudus dan bersungguh-sungguhlah membaca Alkitab.

Doa: Bapa, murnikanlah kelakuan kami dengan firman-Mu. Amin

Jumat, 09 September 2022                  

bacaan : Mazmur 119 : 97 – 104

97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 101 Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu. 102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. 103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. 104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

Perintah Tuhan dan Hidup Bermutu

Nas bacaan hari ini hendak menuntun kita agar mampu memahami kaitan antara perintah Tuhan dan hidup bermutu. Kaitannya bersifat sebab akibat. Hidup bermutu adalah buah atau dampak baik bila seseorang melakukan perintah Tuhan. Hidup bermutu dialami dan disaksikan pemazmur secara reflektif. Ia merefleksikan sikap dan perilaku beriman yang dijalaninya bersama Tuhan. Perintah Tuhan dipelihara serta diaktakan bukan sebagai beban melainkan jawaban atas kasih-Nya, sehingga  dijalani dengan sukacita. Tuhan telah berprakarsa menyatakan kasih-Nya bagi umat. Kasih dipahami sebagai inti perintah Tuhan. Tuhan mengasihi demikian pun umat. Wujudnya adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Oleh sebab itu pemazmur bersaksi bahwa perintah Tuhan-lah yang menjadikan hidupnya menjadi bermutu. Hidup bermutu dilukiskan dengan ungkapan: “aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku.” Ciri kedua hidup bermutu adalah memiliki akal budi. Selain itu orang yang hidupnya bermutu ditandai dengan adanya pengertian, tak memilih jalan kejahatan, mengecap manisnya janji Tuhan, dan membenci dusta. Kita terpanggil untuk mewujudkan panggilan hidup bermutu dalam keluarga masing-masing. Hendaklah hidup yang kita jalani di setiap keluarga berlangsung dengan takut Tuhan. Takut Tuhan merupakan wujud utama orang bijaksana. Bijaksana dapat pula dimengerti sebagai kecakapan dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah. Berusahalah terus menjadikan seisi keluarga kita sebagai orang-orang cerdas, berilmu, menguasai pengetahuan dan teknologi. Semoga kita terhindar dari jalan kejahatan dan bencilah dusta. Perjuangkanlah kebaikan dan jalanilah hidup dengan jujur.

Doa: kiranya perintah-Mu kami taati agar hidup bermutu dialami. Amin

Sabtu, 10 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 105 – 112

105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 106 Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil. 107 Aku sangat tertindas, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. 108 Kiranya persembahan sukarela yang berupa puji-pujian berkenan kepada-Mu, ya TUHAN, dan ajarkanlah hukum-hukum-Mu kepadaku. 109 Aku selalu mempertaruhkan nyawaku, namun Taurat-Mu tidak kulupakan. 110 Orang-orang fasik telah memasang jerat terhadap aku, tetapi aku tidak sesat dari titah-titah-Mu. 111 Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. 112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

Jangan Melupakan Firman Tuhan

Seorang bapak mengalami kegagalan usaha dan jatuh sakit, sehingga ia dan keluarganya hidup dalam keterbatasan yang memprihatinkan. Hari-hari hidupnya dilalui dengan berat, namun ia tetap tekun berdoa dan membaca Alkitab. Doa dipanjatkannya untuk memohon kekuatan dari Tuhan agar ia, isteri juga anak-anak berdaya menjalani hidup dengan tabah. Suatu hari, setelah berdoa, ia membaca Mazmur 119:105 dan seterusnya.  Keheningan dan keharuan merasuk rasa dan pikirnya. Pengalaman hidup yang pernah dialami pemazmur, sekarang sementara digumulinya. Ia tertindas dalam derita, namun tergugah dengan ungkapan: “ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.” Firman Tuhan itu menghidupkan atau menolong meneguhkan keyakinan dan harapan saat hidup diterpa nestapa. Kegagalan, sakit atau duka nestapa bukanlah akhir hidup. Firman Tuhan menopang dan memulihkan sehingga kabut kekuatiran sirna. Jalan hidup diterangi dan langkah-langkah perjuangan berayun dengan pasti. Keyakinan dan harapan pulih, lalu mulut menuturkan puji-pujian yang terlahir dari hati yang tulus. Tuhan dipuji walau hidup terus bergumul. Sekalipun satu persoalan diatasi dan yang lainnya menanti bagaikan jerat yang mematikan, janganlah berpaling dari firman Tuhan. Teguhlah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya agar hatimu berkegirangan. Firman-Nya menyejukkan dan membuat hati tenang. Masa-masa hidup yang sulit mampu dihadapi karena firman Tuhan membersihkan hati dari kekuatiran, kebimbangan serta kecemasan. Oleh sebab itu janganlan lupakan firman Tuhan yang akan menuntun dan memastikan ke mana kita melangkah. Biarlah jalan-jalan hidup kita senantiasa diterangi firman Tuhan.

Doa: Bapa Pengasih, tuntunlah hidup kami dengan firman-Mu. Amin

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Agustus – 3 September 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu IV : “Takutlah akan TUHAN, seisi Rumah mu Diberkati”

Minggu, 28 Agustus 2022                              

bacaan : Mazmur 128 : 1 – 6

Berkat atas rumah tangga
Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! 2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! 3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! 4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. 5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, 6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Takut Akan Tuhan Sumber Kebahagiaan

Kita bersyukur sebab telah diperkenankan Tuhan untuk menjalani keberadaan sampai di hari minggu terakhir bulan Agustus. Minggu ini akan kita jalani sambil menyiapkan diri memasuki pekan bina keluarga GPM. Akta kita mengakhiri Agustus dan memasuki September dibingkai dalam tema mingguan: Takutlah Akan Tuhan, Seisi Rumahmu Diberkati. Rumusan tema ini didasarkan pada nas Mazmur 128:1-6. Pemazmur meletakkan harapannya pada Tuhan saat mendambakan kebahagiaan bagi seisi rumahnya. Karena itu kebahagiaan disyaratkan dengan sikap beriman takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah kunci dan jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan, ketentraman, bahkan berkat-berkat sorgawi. Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang yang menaati Tuhan dan menghormati hukum-Nya.  Oleh karena itu takut akan Tuhan harus dilandaskan pada sebuah kesadaran iman yang merujuk kepada suatu hubungan yang intim antara ciptaan dan Sang Pencipta. Arti takut akan Tuhan lebih merujuk kepada soal ketaatan dan kesetiaan. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kenyataan memakan hasil jerih payah tangan sendiri. Seisi rumah diberkati kalau di dalamnya Tuhan ditakuti. Wujud berkat itu adalah hidup dalam keadaan yang baik, isteri akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumah, anak-anak seperti tunas pohon zaitun sekeliling meja, dan melihat anak-anak dari anak-anak. Kebahagiaan keluarga bukan sekadar harta atau materi saja. Keluarga yang berbahagia hidup dalam relasi yang harmonis, kegembiraan, sehat, semua tanggung jawab berlangsung secara baik dan mengalami umur panjang serta menyaksikan kenyataan berlanjutnya keturunan di bumi ini. Jadi teruslah pelihara rasa takut akan Tuhan, seisi rumahmu diberkati.

Doa: Ya Tuhan berkatilah seisi rumah kami. Amin. 

Senin, 29 Agustus 2022                                 

bacaan : Amsal 14 : 26 – 27

26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. 27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Takut Akan Tuhan Membawa Ketentraman Hidup

Teks Amsal 14:26–27 menyaksikan bahwa sesungguhnya ada rasa takut yang berfaedah besar sekali. Maksudnya adalah rasa takut akan Tuhan. Faedah rasa takut akan Tuhan adalah mengalami ketenteraman yang besar, perlindungan bahkan merupakan sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut. Penulis Amsal mengaitkan takut akan Tuhan dengan hikmat. Orang yang takut akan Tuhan adalah mereka yang berhikmat. Orang yang berhikmat tidak akan melakukan kefasikan atau kejahatan dan hidup mereka. Takut akan Tuhan itu tidak terjadi karena ada ancaman nanti masuk neraka. Takut akan Tuhan  membawa kita semakain dekat pada-Nya dan oleh sebab itu menghindari perbuatan kefasikan. Coba dibayangkan bila ada seorang beriman yang tak tak Tuhan dan melakukan korupsi, maka bukan tidak mungkin hidupnya dihantui rasa bersalah. Hidup yang dihantui rasa bersalah kehilangan ketenteraman dan berada dalam bayang-bayang mendapat hukuman. Oleh sebab itu hendaklah terus diupayakan agar keberadaan keluarga kita berlangsung dengan dimilikinya aras takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa pada rasa takut akan Tuhan itu ada jaminan ketentraman. Biar ribut dunia, atau di sekitar ada begitu banyak kekacauan dan ancaman kematian, namun orang yang takut akan Tuhan pasti mengalami ketenteraman. Takutlah akan Tuhan, sebab perlindungan-Nya akan dialami. Perlindungan Tuhan itulah sumber kehidupan yang dapat melepaskan kita dari kebinasaan atau kehancuran. Takutlah akan Tuhan agar kebaikan terpancaran dari dalam keluargamu dan berkat Tuhan dialami.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah agar kami dapat terus memiliki rasa takut pada-Mu agar terhindar dari petaka. Amin.

 Selasa, 30 Agustus 2022                               

bacaan : Kejadian 35 : 1 – 8

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar. 6 Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan--yaitu Betel--,ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. 7 Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya. 8 Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan.

Tahirkanlah Diri, Seisi Rumahmu Diberkati

Mengalami penyertaan dan kebaikkan Allah dalam hidup adalah sebuah anugerah dan sukacita besar. Pengalaman tersebut baik untuk dijadikan sebagai kekuatan membangun hidup. Nas hari mengisahkan bahwa pengalaman mengalami kebaikan Allah itulah yang mendasari tindakkan Yakub kembali ke Betel.  Yakub harus pergi ke Betel dan merupakan perjalanan kedua kalinya. Bila perjalanan pertama dilakukannya seorang diri, maka lain kenyataannya dengan yang kedua kali ini. Ia datang dengan empat orang istri, duabelas anak laki-laki dan satu anak perempuan, hamba, budak dan ternak yang tidak terhitung. Tentu saja ini semua adalah karya campur tangan Allah semasa pengembaraannya. Ia pergi ke Betel untuk kedua kalinya karena perintah Allah. Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mesbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.” Yakub memandang bahwa perintah dan penyertaan Allah yang dasyat serta ajaib itu harus disampaikan kepada seisi rumahnya atau semua orang yang bersama-sama dengan dia. Mezbah bagi Allah harus dibangun tetapi seisi rumahnya haruslah tahir atau kudus terlebih dahulu. Kehidupan mereka harus dimurnikan atau dibersihkan dari kecemaran dan dosa. Perintah Allah dilaksanakan dengan pertobatan dan kekudusan. Karena hanya dengan mendengar perintah dan mengalami penyertaan-Nya serta hidup dalam kekudusan, maka seisi rumah dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub akan diberkati. Peliharalah kekudusan hidup  dan takut akan Tuhan, Ia pasti menyertai dan memberkati seisi rumah kita.

Doa: Ya Tuhan tolonglah agar hidup kami tetap kudus. Amin.  

Rabu, 31 Agustus 2022                                    

bacaan : Ulangan 12 : 1 – 7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Bersyukur dan bersukacitalah

Bersyukur dan bersukacitalah karena Tuhan telah menyertai kita sampai di hari terakhir bulan Agustus ini. Sama seperti Tuhan sudah memimpin bangsa Israel, sehjingga mereka telah bersiap  memasuki tanah Kanaan, demikian halnya dengan kita. Kita telah dihentar melewati bulan Agustus dan hendak memasuki bulan September. Minggu pertama bulan September nanti akan berlangsung pekan pembinaan keluarga GPM yang berpuncak pada tanggal 6 September. Akta bergereja ini dilangsungkan untuk merefleksikan dan menemukan makna dari semua pengalaman yang telah kita alami sebagai umat Allah. Allah telah memilih kita, mengutus dan menyertai serta memberkati. Oleh sebab itu hendaklah bulan ini kita akhiri dengan rasa syukur. Kita mengucap syukur atas kebaikan-Nya. Kebaikan itulah yang menyertai seluruh keberadaan, tanggung jawab, karier, pengabdian, pencarian sepanjang bulan Agustus ini.  Bila Tuhan telah menyertai kita di bulan yang akan segera berlalu ini, maka yakinlah pula bahwa penyertaaan yang sama kita alami di bulan September. Tetaplah bersukacita walau kita mungkin belum dapat memastikan apa yang akan terjadi dan dialami nanti. Kehidupan ini berlangsung karena kehendak Tuhan dan Dia jualah yang akan menjaminnya. Mari belajar dari pengalaman iman bangsa Israel. Mereka selalu berusaha menjaga atau memelihara keberadaan sebagai umat Allah. Hidup dibersihkan dari kecemaran karena penyembahan berhala dan memdirikan bait untuk memuliakan Allah. Mari masuk bulan baru dengan komitmen membersihkan diri dari seluruh kejahatan dan dosa. Teruslah muliakan Allah dalam ibadah, hadapilah hidup dengan bersyukur dan bersukacita bersama kasih Tuhan.

Doa: Bapa, mampukanlah kami untuk senantiasa bersyukur. Amin.

Kamis, 01 September 2022                          

bacaan : Maleakhi 3 : 16 – 18

16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya." 17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. 18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Kasih dan Berkat Tuhan Tersedia Bagi Umat-Nya

Kita bersyukur telah memasuki bulan September dan bersukacita bersama keluarga besar UKIM di usianya yang ke-37. Kasih Tuhan selalu tersedia sebab Ia telah memilih orang percaya sebagai anak-anak-Nya yang berharga. Ia juga berjanji memberkati kita jika perintah-perintah-Nya dipatuhi. Kasih dan berkat Tuhan tersedia bagi keluarga GPM yang sedang merayakan pekan bina. Pekan bina yang  diaktakan untuk menyongsong peringatan limpah karunia Tuhan di usia ke- 87 GPM, tanggal 6 September nanti. Nas hari ini mengingatkan pula bahwa Allah berkehendak agar kita memberi tanggapan atas kasih-Nya itu dengan hidup dalam ketaatan. Ketaatan yang dimaksudkan Maleakhi adalah mematuhi peraturan dan beribadah kepada Tuhan. Hari pertama di bulan ini kiranya kita jalani dengan tetap memelihara keinginan mematuhi peraturan dan beribadah.  Inilah yang dimaksudkan Maleakhi dalam ungkapan: “orang-orang yang takut akan Tuhan” (ayat 16). Ungkapan ini bermakna reflektif bagi pelayan dan umat GPM yang sedang mengaktakan pekan bina. Akta peringatan ini sesungguhnya merupakan momentum atau kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan serta perilaku beriman kita yang taat. Kita topang civitas akademika UKIM dan menanti peringatan ke- 87 usia GPM dengan komitmen menjadikan hidup pribadi dan keluarga sebagai orang beriman yang taat. Ketaatan merupakan keluhuran ekspresi takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan kiranya menjadi “wajah” atau penampakkan sikap dan perilaku beriman pelayan dan umat GPM. Mari jalani keberadaan dengan tetap meyakini pesan Maleakhi: “ mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam…..Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (ayat 17). Hayatilah bahwa sesungguhnya hidup merupakan kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan.

Doa: Kami bersyukur atas limpahnya kasih dan berkat-Mu. Amin.

Jumat, 02 September 2022                        

bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10

Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. 5 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. 6 Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. 7 Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. 9 Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

Hidup Sebagai Orang Benar

Hidup telah Tuhan anugerahkan untuk kita alami dan dijalani menurut kehendak-Nya. Ia berkehendak agar kita hidup sebagai orang benar. Orang benar pasti akan mengalami kebahagiaan. Jadi bila hidup dijalani bukan sebagai orang benar, kebahagiaan tidak akan dialami. Nas hari ini setidaknya menyaksikan dua hal tentang hidup orang benar. Pertama, mereka disebut pula orang yang takut akan Tuhan, sangat suka kepada perintah-Nya atau menaati hukum Allah. Hidup orang benar itu ditandai dengan sikap dan perilaku hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas itu berlangsung dalam relasi yang benar dengan Allah dan sesama. Tak ada hidup yang terlepas dari pertolongan dan otoritas Allah serta kebersamaan dengan orang lain. Keutamaannya adalah relasi dengan Tuhan dan kemudian dikonkritkan dalam kebersamaan dengan sesama. Hidup orang benar itu luhur sebab padanya ada belaskasihan, suka memberi, membagi-bagi serta menolong orang miskin dan hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan. Oleh sebab itu mereka tidak takut pada kabar celaka. Orang yang menaati Allah dan melakukan yang benar, memang tak akan bebas dari kesukaran, namun karena iman, gumulan hidup berani dihadapi. Orang yang menyembah Allah, belum tentu akan menjalani hidup yang serba mudah. Namun, mereka akan memiliki sifat-sifat ilahi seperti pengasih dan penyayang. Kedua, Tuhan memberkati hidup orang benar dengan limpahnya. Anak cucu mereka akan perkasa di bumi. Kegemilangan hidup tak akan berkesudahan sebab tetap berlanjut dalam sejarah keturunan. Keturunan orang benar berlanjut dan bertambah, tak akan dialami kehilangan generasi di bumi ini bahkan tetap diberkati. Harta dan kekayaan ada pada rumah orang benar dan di dalam gelap terbit terang. Kemujuran akan menyertai hidup mereka serta takkan goyah untuk selama-lamanya. Hidup seperti inilah yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani sebagai pelayan dan umat GPM.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami untuk hidup sebagai orang benar. Amin.

Sabtu, 03 September 2022                        

bacaan : Mazmur 111 : 1 – 10

Kebajikan Allah
Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. 2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. 3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya. 4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. 5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya. 6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa. 7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, 8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran. 9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Tuhan itu Pengasih dan Penyayang

Pekan ini dapat kita jalani dan akhiri hanya karena kasih dan sayang Tuhan. Ia terus menyatakannya dengan tak berkesudahan. Pekan bina keluarga sedang berlangsung dan bersama pemazmur hendaklah kita lafaskan: “aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati.“ Nas hari ini menyaksikan bahwa bangsa Israel tetap mengalami kasih dan sayang Tuhan, baik berupa makanan dan perlindungan maupun tanah pusaka. Pernyataan tentang wujud kasih dan sayang Tuhan seperti itu, merefleksikan fakta iman yang dialami  saat pengembaraan dan memperoleh tanah kanaan. Tanah perjanjian diberikan sesudah mereka mengembara empat puluh tahun. Tuhan menolong bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Tuturan pemazmur seperti ini sesungguhnya merupakan refleksi bahwa bangsa Israel dapat bertahan dan melanjutkan hidup hanya karena kasih dan sayang Tuhan.  Refleksi inilah yang mendasari pernyataannya pada ayat 10; “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.” Pernyataan ini mengingatkan kita kepada peristiwa pemberian ‘hukum’ Taurat di Gunung Sinai. Bangsa yang telah mengalami kasih sayang Tuhan harus menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Gagasan teologi menaati hukum Taurat dan menyembah Allah inilah yang dimaksud pemazmur dengan pernyataan: “takut akan Tuhan.” Maksudnya orang-orang yang “takut akan Tuhan” adalah mereka yang menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Persiapkanlah keberadaan baik sebagai pribadi maupun keluarga untuk mengambil bagian dalam akta perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah di hari minggu pertama bulan ini. Tuhan-lah sumber berkat, Ia akan mencukupkan segala yang kita perlukan. Takutlah akan Dia, penyayang dan pengasih itu, maka seisi rumah kita akan diberkati. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, keadilan-Nya tetap untuk selamanya. Jadilah kuat dan tenang sebab Ia pasti memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan pengasih dan penyayang, kami syukurkan berkat-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu III : “Tetap Setia melakukan Usaha Pembebasan”

Minggu, 21 Agustus 2022                               

bacaan : Yeremia 34 : 8 – 22

Janji kepada budak-budak Ibrani tidak ditepati
8 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, 9 supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya. 10 Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka. 11 Tetapi sesudah itu mereka berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi. 12 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku sendiri telah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, isinya: 14 Pada akhir tujuh tahun haruslah kamu masing-masing melepaskan saudaranya bangsa Ibrani yang sudah menjual dirinya kepadamu; ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, kemudian haruslah engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka. Tetapi nenek moyangmu tidak mendengarkan Aku dan tidak memperhatikan Aku. 15 Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan. 16 Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. 18 Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; 19 pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu, 20 mereka akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, sehingga mayat mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi. 21 Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. 22 Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk."

Selaraskan Perkataan dan Perbuatan

Janji tinggal janji, parlente jalan tarus, ungkapan ini berarti mengingkari janji atau perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Perbuatan mengingkari janji inilah yang dilakukan oleh para pejabat, pemimpin umat dan masyarakat yang ada di Yerusalem. Mereka mengumumkan pembebasan kepada budak laki-laki dan perempuan dan membebaskan mereka sebagai orang-orang merdeka sesuai dengan perintah Tuhan Allah (peraturan tahun sabat dalam Kel.21:1-6: Ul.15:1-11) bahkan perjanjian tersebut diikat dengan sumpah dihadapan Tuhan Allah (ayat 8-15). Namun, karena kedegilan hati,  mereka menarik kembali perkataan atau membatalkan perjanjian pembebasan budak. Budak yang telah dibebaskan diperbudak lagi (ayat 16). Akibat dari tindakan yang tidak taat dan setia  itu, maka Tuhan Allah mendatangkan murka-Nya atas mereka (ayat 17). Murka Tuhan meliputi; kematian, penyakit sampar (penyakit menular), kelaparan, hancurnya kota Yerusalem, umat di bawa ke pembuangan (ayat 17-22). Gambaran malapetaka yang dasyat adalah akibat ketidaktaatan bangsa Israel akan janji mereka kepada Tuhan. Kisah ini menyuguhkan makna untuk dijadikan sebagai pedoman iman.  Jika kita berjanji di hadapan Tuhan dan manusia, hendaknya ditepati (jangan berbohong). Misalnya: sebagai pemimpin setia melaksanakan sumpah jabatan, berjanji kepada istri atau suami untuk tetap setia, berjanji untuk melayani keluarga dengan baik (jangan mengkhianati), berjanji melaksanakan tugas pelayanan gereja dengan setia, lakukanlah dengan taat. Karena jika kita tidak memenuhi janji tersebut, maka kita  akan mendapatkan penghukuman Allah. Ingatlah perkataan Mahatma Gandhi: “Selaraskan kata dan tindakan”

Doa: Tuhan, kiranya kata dan tindakan kami selaras. Amin.

Senin, 22 Agustus 2022                                 

bacaan : Imamat 25 : 8 – 13

8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. 9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. 10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. 11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. 12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. 13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.

Kita, Mahkluk Yang Merdeka

Waktu 24 jam yang tersedia, terasa kurang bagi kita. Bekerja dengan tak hentinya untuk mengejar segala keberhasilan. Mengeksplorasi dan mengeksploitasi segalanya tanpa melihat dan memperhatikan keseimbangan diri sendiri maupun sesama ciptaan. Kita terus mengusahakan segala sesuatunya tanpa mempertimbangkan keberadaan, kekuatan diri sendiri serta kelangsungan hidup semua ciptaan di semesta ini. Kita, dengan berbagai upaya berusaha keras, dan secepat mungkin serta modal yang sedikit-dikitnya, berharap memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Kita dengan penuh kesadaran, terus mengikat diri dan mengikuti pola kehidupan yang tak seimbang serta mengembangkan prinsip ekonomi tidak berkeadilan yang dibangun oleh masyarakat umum. Hal itu membuat kita menjadi hamba, bahkan budak, yang tidak bebas merdeka.

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita, bahwa ada batasan dari segala sesuatu yang harus dijalani dan dikerjakan. Allah memberikan tuntunan, agar kita menjadi manusia yang bebas merdeka bagi diri sendiri dan sesama ciptaan. Allah menghendaki agar kita dapat berlaku adil bagi diri sendiri dan sesama ciptaan-Nya. Seperti Allah, yang beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya, waktu melakukan penciptaan, maka Dia pun mengajarkan kepada kita untuk juga melakukannya. Tahun Yobel bukan merupakan waktunya Allah datang untuk membebaskan manusia, melainkan masa yang Dia berikan kepada tiap orang guna membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat.  Aturan tentang tahun Yobel dibuat dengan maksud mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi diri sendiri juga sesama ciptaan. Tujuannya adalah agar kita dan sesama ciptaan, dapat memberikan kesempatan kepada diri untuk mengarahkan hati kepada Allah guna menghormati, memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu di tahun Yobel ini. Amin.

Selasa, 23 Agustus 2022                              

bacaan : Keluaran 21 : 1 – 11

Tentang hak budak Ibrani
"Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka. 2 Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa. 3 Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia. 4 Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri. 5 Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, 6 maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup. 7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. 8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu. 9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan. 10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia. 11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."

Landasan Hak Asasi Manusia & Prinsip Kemanusiaan Dalam Perbudakan

Alkitab begitu serius memperlakukan hamba secara manusiawi. Perlakuan tersebut bukan untuk menyatakan setuju dengan perbudakan, tetapi untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang lebih manusiawi, serta arah perbaikan sistem yang dilakukan, dapat melihat bahwa Allah memandang penting kebebasan orang. Kebebasan adalah dasar dari semua hak asasi manusia, untuk memastikan bahwa setiap orang berhak untuk mengejar kesetaraan dan kebahagiaan. Allah menebus dan menyelamatkan Israel menjadi dasar dari semua ketentuan hukum Allah dan perbudakan jelas melanggar prinsip kesetaraan dan hak asasi manusia. Nas hari ini mengkritisi bagaimana hidup sebagai umat Allah dalam budaya yang menerima perbudakan sebagai kelaziman. Prinsip kemanusiaan yang berbelas kasih diterapkan dalam kasus perbudakan ini.

Menjual diri sebagai budak dalam kehidupan bangsa Ibrani kuno adalah cara bertahan hidup agar mendapat makanan dan perlindungan dari tuannya. Tuannya bisa memperkerjakan budak hanya enam tahun dan tahun ketujuh (tahun Sabat), budak tersebut akan menjadi orang bebas. Tuhan menuntut kepatutan dan belas kasih dalam hidup bangsa Israel dan itu menjadi pelajaran penting bagi kita dalam hidup bersama dengan orang lain. Namun, di zaman modern ini kita sering kali mendapati perbudakan terjadi di mana-mana. “Orang kuat” mengeksploitasi pihak yang lemah, baik secara ekonomi maupun politik. Banyak orang miskin diculasi dan dijebak sebagai buruh murah di negeri lain dalam industri prostitusi. Bahkan sikap memperbudak masih terlihat dari cara seseorang mempekerjakan dan membayar gaji orang yang bekerja padanya. Sikap-sikap tidak manusiawi ini tidak boleh dilakukan. Tuhan Allah menghendaki kita untuk menghargai sesama tanpa memandang latar belakang hidup mereka.

Doa: Ya Tuhan, terangilah hati kami agar menghargai sesama secara manusiawi tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Amin.

Rabu, 24 Agustus 2022                                

bacaan : Yeremia 39 : 11 – 14

Perintah Nebukadnezar untuk melindungi Yeremia
11 Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: 12 "Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!" 13 Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang-- 14 mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.

Ketaatan Mendatangkan Pemeliharaan Tuhan

Taktik pengepungan dan pemutusan, lazim dipakai dalam peperangan yang berlangsung di daerah Timur Dekat Kuno. Pasukan perang mengepung kota lawan, selanjutnya dilangsungkan taktik memotong pasokan makanan dan air, sambil berusaha membobol tembok. Mereka menanti sampai penduduk kota yang terkepung itu kelaparan, lemah, dan mudah dikalahkan. Cara seperti inilah yang dilakukan oleh tentara Babel saat mengepung kota Yerusalem sampai akhirnya mereka berhasil membobol tembok dan merebut kota. Kisah ini mencatat bahwa setelah Yerusalem direbut, nasib raja Zedekia dan nabi Yeremia,  berkaitan dengan sikap mereka terhadap firman Tuhan. Raja Zedekia yang melarikan diri ke padang gurun mengalami nasib yang benar-benar mengerikan. Dia ditangkap, dibawa kepada raja Nebukadnezar, dipaksa menyaksikan anak-anaknya dihukum mati, dibutakan matanya, lalu dibelenggu dan dibuang ke negeri Babel. Tidak ada berita lagi tentang raja Zedekia, tetapi mungkin ia bertobat di pembuangan, sehingga ia ditangisi rakyat saat meninggal. Nabi Yeremia diperlakukan berbeda dengan orang-orang Yehuda yang lain. Raja Nebukadnezar memerintahkan agar nabi Yeremia dibebaskan dari penjara dan diberi kebebasan untuk tetap tinggal di negeri itu. Berbeda dengan nasib banyak orang di Yehuda, nabi Yeremia tidak mengalami kekerasan.

Kisah kehancuran kota Yerusalem mengajarkan kita tentang adanya berkat karena ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan serta hukuman karena menolak untuk mendengarkan firman Tuhan. Nabi Yeremia mewakili orang yang taat sekaligus teladan  memercayai Tuhan. Sedangkan raja Zedekia mewakili orang yang tidak mau melakukan firman Tuhan.

Kadang-kadang, Alkitab mengingatkan kita tentang sesuatu yang telah diketahui tetapi kemudian dilupakan atau tidak dilakukan. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita sanggup melakukan firman Tuhan!

Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar selalu taat kepada-Mu. Amin.

Kamis, 25 Agustus 2022                          

bacaan : Yeremia 39 : 15 – 18

Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan
15 Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya: 16 "Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga. 17 Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, 18 tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Perbuatan Baik Yang Dilakukan, Pasti Akan Kembali Dengan Sendirinya

Kisah tentang Ebed-Melekh mulai disaksikan di pasal 38:1-13. Ia berkebangsaan Etiopia, seorang sida-sida yang tinggal di istana raja Zedekia. Hari ini kita akan melihat buah dari perbuatan baiknya kepada Yeremia. Pada masa pemerintahan raja Zedekia itu, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur. Kebaikan hati Ebed-Melekh tak langsung mendapatkan balasannya. Cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar.

Janganlah takut untuk memberi kepada yang membutuhkan. Jangan takut untuk menolong dan membebaskan orang yang sedang dalam kesusahan. Lakukanlah semua itu tanpa membeda-bedakan siapa yang kita bantu. Tak perlu membuat kebaikan besar yang menghebohkan, cukup kebaikan-kebaikan kecil yang ditabur kepada mereka yang berada di sekitar kita. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan yang telah kita alami. Kita tidak berbuat baik untuk memperoleh keselamatan. Yakinlah bahwa semua perbuatan baik pasti diberkati Tuhan dan buahnya akan kita alami pula.

Doa:  Mampukanlah kami untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 26 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 14 : 40 – 46

40 Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: "Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain." Lalu jawab rakyat kepada Saul: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik." 41 Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. 42 Kata Saul: "Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan." Lalu didapati Yonatan. 43 Kata Saul kepada Yonatan: "Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat." Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: "Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati." 44 Kata Saul: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati." 45 Tetapi rakyat berkata kepada Saul: "Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini." Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati. 46 Maka pulanglah Saul setelah mengejar orang Filistin, dan orang Filistin itupun kembali ke tempat kediamannya.

Bersikaplah Bijak Sehingga Tidak Mengorbankan Orang Lain

Ketika kesombongan menguasai hati dan pikiran kita, keputusan yang diambil pada akhirnya membuahkan suatu yang tidak bijak. Keangkuhan dapat menjerumuskan kita, menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan banyak orang. Nas hari ini menyaksikan bahwa Saul sedang menghadapi situasi yang terdesak. Ia kemudian menyuruh bangsa Israel untuk mengambil sumpah yang berisi kutukan dan konsekuensinya  orang Israel tidak boleh makan apa pun. Perang menjadi semakin sulit karena Saul menambahkan beban yang tidak perlu bagi orang Israel. Akibatnya mereka menjadi letih lesu. Saul telah mencelakakan rakyatnya sendiri, seperti yang diutarakan Yonatan, anaknya. Akibat yang lebih besar adalah orang Israel pada akhirnya berbuat dosa dalam memakan hasil rampasan. Allah juga tidak menjawab doa Saul. Kemudian, Saul mencari tahu penyebab dari semua ini. Akhirnya, ia menemukan bahwa Yonatan telah merasai sedikit madu. Kematian adalah konsekuensi yang harus ditanggung semua pelanggar ketentuan, sekalipun itu anak sendiri. Namun, Yonatan dapat bebas dari hukuman mati karena permohonan orang-orang Israel kepada Saul. Kesombongan yang ada pada Saul menyebabkannya melakukan hal yang bukan kehendak Allah. Saul hanya berfokus pada dirinya sendiri, ia tidak menghiraukan Allah. Kesombongan ini menempatkannya pada posisi seolah dia lebih besar daripada Allah. Itulah awal kehancurannya. Keputusan yang diambil berikutnya memberikan dampak negatif yang meluas. Ketika kesombongan melingkupi hati dan pikiran, kita dapat jatuh untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Saul. Kesombongan lain mengatakan: diriku tidak bersalah, yang salah adalah orang lain. Kesombongan memisahkan relasi manusia. Hidup tidak sombong adalah buah Roh Kudus yang bekerja karena orang percaya memprioritaskan kehendak Allah bekerja dalam dirinya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk mengatasi kesombongan. Amin.

Sabtu, 27 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 30 : 11 – 20

11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air, 12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. 13 Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit. 14 Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis." 15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu." 16 Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda. 17 Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. 18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. 19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. 20 Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: "Inilah jarahan Daud."

Mengandalkan Tuhan Ada Pemulihan dan Pembebasan

Tindakan pembebasan yang Allah karyakan terkadang tidak dapat terselami oleh akal manusia yang terbatas. Karya pembebasan itu berada di luar jangkaun akal manusia. Daud pernah mengalami pengalaman demikian. Batinnya terguncang hebat, akibat peristiwa besar yang terjadi di ziklag. Tekanan batinnya bertambah karena rakyat beranggapan bahwa Daudlah yang bertanggung jawab atas seluruh petaka yang sedang mereka alami. Daud tidak putus asa apalagi kecewa terhadap Tuhan.  Kepercayaannya tetap teguh, ia mengandalkan TUHAN sepenuhnya. Catatan reflektif bagi kita ialah bahwa ; sesungguhnya peristiwa ziklag memiliki urutan seperti ini : kehilangan segala sesuatu (ay. 1 – 5), penolakan (ay. 6), kemenangan (ay. 17 – 18), pemulihan (ay. 19). Dari peristiwa siklag mengingatkan kita bahwa mengimani ALLAH itu bukan berarti seluruh perjalanan hidup ini akan mulus dan aman-aman saja, sebaliknya ada waktu Ketika TUHAN mengizinkan ketidaknyamanan kita di porak-porandakan. Ada waktu saat kita ditolak, dipersalahkan dan disudutkan oleh orang- orang di sekitar kita.

Dari Daud kita belajar untuk tetap menguatkan kepercayaan kepada Tuhan dan tetap bergantung kepada-Nya. Ingat bahwa   kekecewaan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan, menyanggupkan kita memperoleh jalan keluar, mengalami pemulihan, pembebasan dan akan tampil sebagai pemenang.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa bergantung dan menaruh percaya hanya kepada Dikau, sehingga kami bisa melihat jalan-jalan-Mu untuk pemulihan persoalan-persoalan hidup ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu II : “Hidup sebagai Hamba Allah”

Minggu, 14 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Petrus 2 : 11 – 17

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Jadilah Perantau dan Pendatang Yang Dapat Diteladani

Bersyukurlah sebab kita dapat mengalami kemurahan Tuhan di hari perhentian yang kudus. Hari ini kita belajar dari surat Petrus yang berisi nasihat bagi perantau dan pendatang. Pendatang artinya orang yang datang ke suatu daerah atau negeri serta negara dan menetap sebagai orang asing di situ. Sementara rantau berarti daerah atau negeri di luar daerah/negeri sendiri atau negeri asing. Saat itu umat Israel memang banyak yang sementara hidup sebagai pendatang dan perantau di berbagai daerah. Namun jika bicara tentang perantau dan pendatang maka bukan hanya perantau dan pendatang secara harafiah, tetapi sesungguhnya semua kita adalah pendatang dan perantau di dunia ini. Petrus memberi nasihat kepada kita sebagai perantau dan pendatang agar berhati-hati dan waspada. Kita harus memperlihatkan cara hidup yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi orang lain terutama bagi mereka yang belum percaya kepada Yesus atau dalam konteks bacaan kita bangsa-bangsa bukan Yahudi sehingga mereka juga memuliakan Allah. Teladan itu antara lain:

  • Menjauhkan diri dari hawa nafsu kedagingan.
  • Hormati pemerintah dan mereka yang dipercayakan untuk memimpin kita.
  • Kita sudah dimerdekakan dari belenggu penjajahan bangsa asing tetapi juga belenggu dosa karena itu hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi merdeka yang bertanggung jawab, bukan yang kebablasan. Artinya bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan hal-hal berguna bukan bebas melakukan apa saja yang kita mau tetapi tidak sepadan dengan kehendak Allah.
  • Hormati dan kasihilah sesama. Jadilah teladan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan, tolong kami untuk hidup sebagai orang yang dapat diteladani. Amin.

Senin, 15 Agustus 2022                            

bacaan : 1 Korintus 7 : 17 – 24

Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. 20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. 21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu. 22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. 23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia. 24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Hiduplah Sebagai Hamba Allah

Hari pertama di minggu ini telah kita jalani dengan selamat sambil diajak untuk hidup sebagai hamba Allah.. Apa artinya itu? Mari simak dulu cerita Sonia sebagai pengantar sekaligus pembanding. Sonia, adalah seorang ibu muda yang penampilan sehari-harinya “aduhai”. Saat dia diminta untuk menjadi pengurus unit, penampilannya  berubah. Pakaiannya tidak lagi “kekurangan kain”, makeup-nya sudah tidak menor dan dia mulai suka menyapa orang. Pertanyaannya: Apakah penampilan fisik seseorang dapat menjamin bahwa orang tersebut sudah hidup sebagai hamba Allah?  Belum tentu!! Penampilan fisik terkadang bisa menipu. Karena itu Paulus memberi ketegasan kepada jemaat Korintus dan kita bahwa memenuhi panggilan Allah dan menjadi hamba-Nya bukanlah persoalan lahiriah seperti sunat atau tidak (18), hamba atau orang merdeka (21), bukan juga soal penampilan. Seseorang menjadi hamba Allah karena ia telah dibeli dengan harga mahal oleh Allah, yaitu darah dan nyawa anakNya, Yesus Kristus (23). Seseorang menjadi hamba Allah adalah karena dia telah ditebus oleh Allah dari kuasa dosa dan maut. Karena itu menjadi hamba Allah berarti hidup menurut ketetapan, peraturan, petunjuk dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya. Paulus menekankan bahwa yang penting adalah perubahan hidup dimana seorang hamba Allah harus memperlihatkan kehidupan yang taat dan setia kepada Allah, bukan sekadar penampilan fisik. Hidup dalam panggilan sebagai Hamba Allah dapat dilakukan dengan keberadaan kita apa adanya. Penampilan sederhana namun dengan hati yang lemah lembut, rendah hati dan tidak sombong. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita. Hiduplah sebagai hamba Allah dan lakukanlah kehendak-Nya.

Doa: Tuhan ampuni kami yang menyebut diri sebagai hamba-Mu namun tidak melakukan kewajiban kami sebagai seorang Hamba Allah.. Amin.

Selasa, 16 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 3 :  24 – 27

24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. 27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Ketaatan di Tengah Ancaman

Semakin dibabat, semakin merambat. Istilah tersebut agaknya tidak terlalu berlebihan jika disematkan kepada orang Kristen. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang Kristen dari awal kemunculannya sampai saat ini tidak lepas dari penganiayaan. Namun, semakin orang Kristen mengalami penganiayaan justru mengalami peningkatan yang sangat drastis. Penganiayaan justru membuat orang Kristen semakin kuat dan bertumbuh. Hal ini dikarenakan Tuhan melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Kisah penganiayaan yang dialami oleh mereka yang percaya (beriman) kepada Tuhan pun diperlihatkan oleh para tokoh Alkitab, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam kitab Daniel 3:24-27. Jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak permintaan raja Nebudkadnezar untuk menyembah patung yang didirikannya itu, mengakibatkan ketiga teman Daniel tersebut dilemparkan ke perapian yang panas luar biasa, sehingga membakar habis tentara yang melempar ketiga orang tersebut. Sedangkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat.  Mereka selamat karena dilindungi dan dijaga oleh Tuhan (Ayat 17). Melihat bahwa mereka tidak terluka di dalam api besar, maka raja memanggil Sadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian dan menghadap kepadanya. Dia menyebut mereka “Hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi” (ayat 26). Istilah ini digunakan untuk memuji Allah yang mereka sembah adalah Allah yang kuat dan perkasa. Perikop ini memberi makna bagi kita saat ini, bahwa perapian (kobaran api) melambangkan berbagai masalah dan penderitaan yang sedang dialami oleh orang Kristen karena beriman kepada Tuhan Yesus. Kita difitnah, diberlakukan dengan tidak adil (misalnya: larangan mendirikan gereja yang dialami oleh GKI Yasmin, HKBP Bekasi, sehingga mereka beribadah di depan istana Negara). Tetaplah yakin bahwa dalam berbagai persoalan Tuhan yang kita percaya adalah Pembebas dan Penyelamat kita. Janganlah ragu teruslah mengandalkan Dia.

Doa: Tuhan, tolonglah supaya kami tidak binasa, Amin.

Rabu, 17 Agustus 2022                                    

bacaan : Yesaya 49 : 8 – 13

Sion dipulihkan
8 Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, 9 untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. 10 Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. 11 Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. 12 Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim." 13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

Dimerdekakan Untuk Memerdekakan

Hari ini genaplah usia ke-77 tahun (1945-2022) Negara Indonesia yang kita cintai. Kita mensyukurinya sebagai kemurahan Tuhan Sang Pemilik Negara ini. GPM melalui LPJ menetapkan Tema HUT RI: “Mensyukuri Kebaikan Tuhan yang Membebaskan”. Tema ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperoleh Negara ini hanya karena kebaikan Tuhan semata. Pesan lain tema ini adalah kehidupan di Negara yang merdeka haruslah berlangsung dalam kepastian bahwa hak-hak hidup orang banyak menjadi terjamin. Hak untuk berpendapat, menerima pelayanan kesehatan yang memadai, pendidikan berkualitas, perlindungan hukum, pekerjaan, kehidupan yang layak dan sejahtera, dll. Sayangnya, di usia bangsa yang ke-77 tahun ini masih kedapatan praktek ketidakadilan, suap, korupsi, penyalagunaan kuasa, bahkan kenaikan harga-harga barang yang memberatkan kehidupan masyarakat. Karena itu, mari kita berefleksi berdasarkan Yesaya 49: 8-13. Bagian ini termasuk kitab Yesaya yang kedua (Deutero Yesaya), mengisahkan tentang kehidupan bangsa Israel di Babel sebagai tawanan. Mereka hidup tidak bebas, tertekan dan sangat menderita.  Nabi Yesaya berpesan bahwa Tuhan akan menjawab, menolong dan membebaskan bangsa Israel dari pembuangan Babel  dengan membawa mereka pulang kembali ke Yerusalem, tanah pusaka mereka (ayat 8), memberikan kebebasan dan menyedikan makanan bagi kebutuhan mereka (ayat 9), sehingga mereka tidak akan mati kelaparan melainkan berkelebihan supaya mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (ayat 10-12). Waktunya pasti tiba dan mereka akan memuji-muji Tuhan sebagai Penyelamat dan Pembebas mereka yang kekal (ayat.13).  Kemerdekaan diberikan Tuhan supaya kita menjadi orang-orang merdeka yang dapat memerdekakan orang lain dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, eksploitasi alam, dan sebagainya.

Doa: Tuhan, lindungilah segenap bangsa Indonesia, Amin.

Kamis, 18 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 23 – 26

23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, 26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Perkuat Karakter Kristiani, Jadilah Teladan!

Perikop ini merupakan nasihat Paulus kepada Timotius. Ia   sedang berhadapan dengan para pengajar sesat yang suka bersilat lidah dan mengacaukan pelayanannya (ayat 14). Paulus menasihati Timotius agar berusaha menjadi pekerja Kristus (Hamba Tuhan) yang memiliki teladan Kristus dalam pelayanan. Bila hal tersebut dilakukan, maka para pengajar itu tidak menemukan celah untuk menjatuhkan Timotius dan mencemarkan Injil kebenaran (ayat 15). Timotius harus menunjukkan sifat-sifat yang tepat dalam hidup agar sesuai dengan peranannya sebagai pemimpin Kristen. Sifat-sifat itu adalah menghindari persoalan yang di cari-cari, bodoh dan tidak layak, karena semua itu mengarah kepada pertengkaran (ayat 23). Paulus menegaskan, adalah lebih baik menghindari pertengkaran dari pada berusaha untuk masuk dan terjun dalam arena tersebut. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapapun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut (ayat 24). Selain itu, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk menjadikan para musuh sebagai sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus. Bagaimana caranya? Ia harus memiliki kecakapan mengajar untuk menuntun seseorang yang suka melawan agar sadar dari jalan yang salah; meninggalkan cara hidup yang jahat serta lepas dari kuasa iblis yang selama ini telah menawan mereka dan memaksa mereka mengikuti kehendaknya (ayat 25- 26). Timotius harus memberikan kesempatan setiap orang untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman. Makna bagi kita saat ini, adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain. Waktu hidup kita begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sebaiknya diisi dengan hal-hal yang baik dan berguna bagi Tuhan dan sesama, Dengan demikian kita akan menolong orang lain menyadari kesalahannya dan mengalami pertobatan.

Doa: Tuhan, pakailah kami sebagai alat keselamatan-Mu., Amin.

Jumat, 19 Agustus 2022                                

bacaan : Roma 6 : 15 – 23

Dua macam perhambaan
15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! 16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? 17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. 20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. 21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. 22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jadilah Hamba-Hamba Kebenaran

Tema mingguan yang ditetapkan oleh Lembaga Pembinaan Jemaat (LPJ) GPM adalah “Hidup Sebagai Hamba Allah”. Dasarnya adalah Roma 6: 15-23, secara khusus ayat 18. Maksudnya merdeka dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.  Menjadi hamba kebenaran itu tidaklah muda sebab kita harus berjuang melawan dosa. Setiap orang yang mau menjadi hamba kebenaran harus memerdekakan diri dari kuasa dosa. Orang yang merdeka  di dalam Kristus, wajib mematikan segala keinginan dan hawa nafsu dunia. Pertanyaannya apakah yang harus kita lakukan agar dapat hidup sebagai hamba kebenaran? Pertama, sebagai manusia yang memiliki kelemahan, kemungkinan jatuh ke dalam dosa masih ada. Terlebih Iblis memiliki banyak cara untuk merebut kita (banding 1 Petrus 5:8) melalui orang-orang terdekat yang hidupnya belum berpusat pada Tuhan, lingkungan sekitar di mana kita bergaul, bahkan mereka yang kelihatan baik padahal penuh dengan kemunafikan, kelemahan diri, semua dapat dijadikan alat oleh iblis untuk menjerat kita (1 Korintus 15: 33; 2 Korintus 11: 14). Sebab itu, waspadalah dan jangan pernah memberi kesempatan kepada Iblis. Kedua, Hiduplah dipimpin oleh Roh. Roh Kudus yang ada dalam kita bagaikan sebuah alarm yang akan bekerja mengingatkan dan menyadarkan kita dari dosa (Yohanes 16:8). Orang yang hidup dalam roh memiliki kekuatan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging; perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Sebaliknya sebagai hamba kebenaran maka hidup kita menghadirkan buah-buah Roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, jangan gila hormat (Gal.5:19-26). Menurut Paulus hidup adalah pilihan; memilih hidup di dalam dosa mendatangkan penghakiman Allah (kematian) atau memilih hidup dalam kebenaran membawa kita kepada kehidupan yang kekal (ayat 21-23).

Doa: Tuhan, jadikanlah kami hamba-hamba kebenaran. Amin.

Sabtu, 20 Agustus 2022                                     

bacaan : Galatia 1 : 6 – 10

Hanya satu Injil
6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. 10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Berpegang Teguh Pada Injil Kristus

Surat Galatia merupakan salah satu surat yang ditulis oleh rasul Paulus untuk menjawab situasi yang mengancam saat itu. Situasi yang mengancam itu adalah serangan terhadap kerasulan Paulus dan Injil Kristus. Khusus nas bacaan kita tadi, berbicara tentang serangan terhadap Injil yang diberitakan Paulus. Bagi Paulus, Keselamatan merupakan karunia yang diberikan berdasarkan kemurahan, sepenuhnya bergantung pada iman kepada Yesus Kristus bukan tergantung pada sunat dan hukum taurat. Sedangkan, bagi orang-orang Yahudi keselamatan tergantung melaksanakan taurat Musa dan tradisi sunat. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi bersikeras memaksakan orang-orang Kristen non Yahudi untuk melaksanakan hukum taurat dan sunat supaya mereka diselamatkan. Menghadapi situasi tersebut, Paulus dengan tegas memperingatkan orang-orang Yahudi yang telah menerima Yesus Kristus supaya mereka berpegang pada injil yang diberitakan oleh Paulus dan jangan terpengaruh kepada injil-injil palsu yang diberitakan oleh lawan-lawan Paulus. Sebab injil yang mereka beritakan bertentangan dengan Injil Kristus (ayat 6-7). Hidup di bawah hukum taurat merupakan perhambaan sedangkan hidup dengan iman merupakan kebebasan. Orang Kristen tidak diikat dengan hukum taurat karena Kristus telah membebaskan melalui kematian-Nya. Karena itu, apabila ada orang yang menyesatkan kamu dengan injil yang berbeda dari Injil Kristus, maka terkutuklah dia (ayat 8-9). Selanjutnya, Paulus mempertegas dirinya sebagai hamba Allah dengan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk menyenangkan hati manusia melainkan untuk menyengkankan hati Allah. Ia bukan mencari nama melalui kerasulannya melaiankan untuk melayani Allah yang telah memanggil dan mengutusnya. Makna bagi kita, berpeganglah pada injil Kristus dengan melakukan kehendak-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal.

Doa: Kiranya kami teguh berpegang pada injil Kristus. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM