Santapan Harian Keluarga, 28 Agustus – 3 September 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu IV : “Takutlah akan TUHAN, seisi Rumah mu Diberkati”

Minggu, 28 Agustus 2022                              

bacaan : Mazmur 128 : 1 – 6

Berkat atas rumah tangga
Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! 2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! 3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! 4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. 5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, 6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Takut Akan Tuhan Sumber Kebahagiaan

Kita bersyukur sebab telah diperkenankan Tuhan untuk menjalani keberadaan sampai di hari minggu terakhir bulan Agustus. Minggu ini akan kita jalani sambil menyiapkan diri memasuki pekan bina keluarga GPM. Akta kita mengakhiri Agustus dan memasuki September dibingkai dalam tema mingguan: Takutlah Akan Tuhan, Seisi Rumahmu Diberkati. Rumusan tema ini didasarkan pada nas Mazmur 128:1-6. Pemazmur meletakkan harapannya pada Tuhan saat mendambakan kebahagiaan bagi seisi rumahnya. Karena itu kebahagiaan disyaratkan dengan sikap beriman takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah kunci dan jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan, ketentraman, bahkan berkat-berkat sorgawi. Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang yang menaati Tuhan dan menghormati hukum-Nya.  Oleh karena itu takut akan Tuhan harus dilandaskan pada sebuah kesadaran iman yang merujuk kepada suatu hubungan yang intim antara ciptaan dan Sang Pencipta. Arti takut akan Tuhan lebih merujuk kepada soal ketaatan dan kesetiaan. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kenyataan memakan hasil jerih payah tangan sendiri. Seisi rumah diberkati kalau di dalamnya Tuhan ditakuti. Wujud berkat itu adalah hidup dalam keadaan yang baik, isteri akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumah, anak-anak seperti tunas pohon zaitun sekeliling meja, dan melihat anak-anak dari anak-anak. Kebahagiaan keluarga bukan sekadar harta atau materi saja. Keluarga yang berbahagia hidup dalam relasi yang harmonis, kegembiraan, sehat, semua tanggung jawab berlangsung secara baik dan mengalami umur panjang serta menyaksikan kenyataan berlanjutnya keturunan di bumi ini. Jadi teruslah pelihara rasa takut akan Tuhan, seisi rumahmu diberkati.

Doa: Ya Tuhan berkatilah seisi rumah kami. Amin. 

Senin, 29 Agustus 2022                                 

bacaan : Amsal 14 : 26 – 27

26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. 27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Takut Akan Tuhan Membawa Ketentraman Hidup

Teks Amsal 14:26–27 menyaksikan bahwa sesungguhnya ada rasa takut yang berfaedah besar sekali. Maksudnya adalah rasa takut akan Tuhan. Faedah rasa takut akan Tuhan adalah mengalami ketenteraman yang besar, perlindungan bahkan merupakan sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut. Penulis Amsal mengaitkan takut akan Tuhan dengan hikmat. Orang yang takut akan Tuhan adalah mereka yang berhikmat. Orang yang berhikmat tidak akan melakukan kefasikan atau kejahatan dan hidup mereka. Takut akan Tuhan itu tidak terjadi karena ada ancaman nanti masuk neraka. Takut akan Tuhan  membawa kita semakain dekat pada-Nya dan oleh sebab itu menghindari perbuatan kefasikan. Coba dibayangkan bila ada seorang beriman yang tak tak Tuhan dan melakukan korupsi, maka bukan tidak mungkin hidupnya dihantui rasa bersalah. Hidup yang dihantui rasa bersalah kehilangan ketenteraman dan berada dalam bayang-bayang mendapat hukuman. Oleh sebab itu hendaklah terus diupayakan agar keberadaan keluarga kita berlangsung dengan dimilikinya aras takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa pada rasa takut akan Tuhan itu ada jaminan ketentraman. Biar ribut dunia, atau di sekitar ada begitu banyak kekacauan dan ancaman kematian, namun orang yang takut akan Tuhan pasti mengalami ketenteraman. Takutlah akan Tuhan, sebab perlindungan-Nya akan dialami. Perlindungan Tuhan itulah sumber kehidupan yang dapat melepaskan kita dari kebinasaan atau kehancuran. Takutlah akan Tuhan agar kebaikan terpancaran dari dalam keluargamu dan berkat Tuhan dialami.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah agar kami dapat terus memiliki rasa takut pada-Mu agar terhindar dari petaka. Amin.

 Selasa, 30 Agustus 2022                               

bacaan : Kejadian 35 : 1 – 8

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar. 6 Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan--yaitu Betel--,ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. 7 Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya. 8 Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan.

Tahirkanlah Diri, Seisi Rumahmu Diberkati

Mengalami penyertaan dan kebaikkan Allah dalam hidup adalah sebuah anugerah dan sukacita besar. Pengalaman tersebut baik untuk dijadikan sebagai kekuatan membangun hidup. Nas hari mengisahkan bahwa pengalaman mengalami kebaikan Allah itulah yang mendasari tindakkan Yakub kembali ke Betel.  Yakub harus pergi ke Betel dan merupakan perjalanan kedua kalinya. Bila perjalanan pertama dilakukannya seorang diri, maka lain kenyataannya dengan yang kedua kali ini. Ia datang dengan empat orang istri, duabelas anak laki-laki dan satu anak perempuan, hamba, budak dan ternak yang tidak terhitung. Tentu saja ini semua adalah karya campur tangan Allah semasa pengembaraannya. Ia pergi ke Betel untuk kedua kalinya karena perintah Allah. Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mesbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.” Yakub memandang bahwa perintah dan penyertaan Allah yang dasyat serta ajaib itu harus disampaikan kepada seisi rumahnya atau semua orang yang bersama-sama dengan dia. Mezbah bagi Allah harus dibangun tetapi seisi rumahnya haruslah tahir atau kudus terlebih dahulu. Kehidupan mereka harus dimurnikan atau dibersihkan dari kecemaran dan dosa. Perintah Allah dilaksanakan dengan pertobatan dan kekudusan. Karena hanya dengan mendengar perintah dan mengalami penyertaan-Nya serta hidup dalam kekudusan, maka seisi rumah dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub akan diberkati. Peliharalah kekudusan hidup  dan takut akan Tuhan, Ia pasti menyertai dan memberkati seisi rumah kita.

Doa: Ya Tuhan tolonglah agar hidup kami tetap kudus. Amin.  

Rabu, 31 Agustus 2022                                    

bacaan : Ulangan 12 : 1 – 7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Bersyukur dan bersukacitalah

Bersyukur dan bersukacitalah karena Tuhan telah menyertai kita sampai di hari terakhir bulan Agustus ini. Sama seperti Tuhan sudah memimpin bangsa Israel, sehjingga mereka telah bersiap  memasuki tanah Kanaan, demikian halnya dengan kita. Kita telah dihentar melewati bulan Agustus dan hendak memasuki bulan September. Minggu pertama bulan September nanti akan berlangsung pekan pembinaan keluarga GPM yang berpuncak pada tanggal 6 September. Akta bergereja ini dilangsungkan untuk merefleksikan dan menemukan makna dari semua pengalaman yang telah kita alami sebagai umat Allah. Allah telah memilih kita, mengutus dan menyertai serta memberkati. Oleh sebab itu hendaklah bulan ini kita akhiri dengan rasa syukur. Kita mengucap syukur atas kebaikan-Nya. Kebaikan itulah yang menyertai seluruh keberadaan, tanggung jawab, karier, pengabdian, pencarian sepanjang bulan Agustus ini.  Bila Tuhan telah menyertai kita di bulan yang akan segera berlalu ini, maka yakinlah pula bahwa penyertaaan yang sama kita alami di bulan September. Tetaplah bersukacita walau kita mungkin belum dapat memastikan apa yang akan terjadi dan dialami nanti. Kehidupan ini berlangsung karena kehendak Tuhan dan Dia jualah yang akan menjaminnya. Mari belajar dari pengalaman iman bangsa Israel. Mereka selalu berusaha menjaga atau memelihara keberadaan sebagai umat Allah. Hidup dibersihkan dari kecemaran karena penyembahan berhala dan memdirikan bait untuk memuliakan Allah. Mari masuk bulan baru dengan komitmen membersihkan diri dari seluruh kejahatan dan dosa. Teruslah muliakan Allah dalam ibadah, hadapilah hidup dengan bersyukur dan bersukacita bersama kasih Tuhan.

Doa: Bapa, mampukanlah kami untuk senantiasa bersyukur. Amin.

Kamis, 01 September 2022                          

bacaan : Maleakhi 3 : 16 – 18

16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya." 17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. 18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Kasih dan Berkat Tuhan Tersedia Bagi Umat-Nya

Kita bersyukur telah memasuki bulan September dan bersukacita bersama keluarga besar UKIM di usianya yang ke-37. Kasih Tuhan selalu tersedia sebab Ia telah memilih orang percaya sebagai anak-anak-Nya yang berharga. Ia juga berjanji memberkati kita jika perintah-perintah-Nya dipatuhi. Kasih dan berkat Tuhan tersedia bagi keluarga GPM yang sedang merayakan pekan bina. Pekan bina yang  diaktakan untuk menyongsong peringatan limpah karunia Tuhan di usia ke- 87 GPM, tanggal 6 September nanti. Nas hari ini mengingatkan pula bahwa Allah berkehendak agar kita memberi tanggapan atas kasih-Nya itu dengan hidup dalam ketaatan. Ketaatan yang dimaksudkan Maleakhi adalah mematuhi peraturan dan beribadah kepada Tuhan. Hari pertama di bulan ini kiranya kita jalani dengan tetap memelihara keinginan mematuhi peraturan dan beribadah.  Inilah yang dimaksudkan Maleakhi dalam ungkapan: “orang-orang yang takut akan Tuhan” (ayat 16). Ungkapan ini bermakna reflektif bagi pelayan dan umat GPM yang sedang mengaktakan pekan bina. Akta peringatan ini sesungguhnya merupakan momentum atau kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan serta perilaku beriman kita yang taat. Kita topang civitas akademika UKIM dan menanti peringatan ke- 87 usia GPM dengan komitmen menjadikan hidup pribadi dan keluarga sebagai orang beriman yang taat. Ketaatan merupakan keluhuran ekspresi takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan kiranya menjadi “wajah” atau penampakkan sikap dan perilaku beriman pelayan dan umat GPM. Mari jalani keberadaan dengan tetap meyakini pesan Maleakhi: “ mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam…..Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (ayat 17). Hayatilah bahwa sesungguhnya hidup merupakan kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan.

Doa: Kami bersyukur atas limpahnya kasih dan berkat-Mu. Amin.

Jumat, 02 September 2022                        

bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10

Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. 5 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. 6 Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. 7 Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. 9 Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

Hidup Sebagai Orang Benar

Hidup telah Tuhan anugerahkan untuk kita alami dan dijalani menurut kehendak-Nya. Ia berkehendak agar kita hidup sebagai orang benar. Orang benar pasti akan mengalami kebahagiaan. Jadi bila hidup dijalani bukan sebagai orang benar, kebahagiaan tidak akan dialami. Nas hari ini setidaknya menyaksikan dua hal tentang hidup orang benar. Pertama, mereka disebut pula orang yang takut akan Tuhan, sangat suka kepada perintah-Nya atau menaati hukum Allah. Hidup orang benar itu ditandai dengan sikap dan perilaku hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas itu berlangsung dalam relasi yang benar dengan Allah dan sesama. Tak ada hidup yang terlepas dari pertolongan dan otoritas Allah serta kebersamaan dengan orang lain. Keutamaannya adalah relasi dengan Tuhan dan kemudian dikonkritkan dalam kebersamaan dengan sesama. Hidup orang benar itu luhur sebab padanya ada belaskasihan, suka memberi, membagi-bagi serta menolong orang miskin dan hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan. Oleh sebab itu mereka tidak takut pada kabar celaka. Orang yang menaati Allah dan melakukan yang benar, memang tak akan bebas dari kesukaran, namun karena iman, gumulan hidup berani dihadapi. Orang yang menyembah Allah, belum tentu akan menjalani hidup yang serba mudah. Namun, mereka akan memiliki sifat-sifat ilahi seperti pengasih dan penyayang. Kedua, Tuhan memberkati hidup orang benar dengan limpahnya. Anak cucu mereka akan perkasa di bumi. Kegemilangan hidup tak akan berkesudahan sebab tetap berlanjut dalam sejarah keturunan. Keturunan orang benar berlanjut dan bertambah, tak akan dialami kehilangan generasi di bumi ini bahkan tetap diberkati. Harta dan kekayaan ada pada rumah orang benar dan di dalam gelap terbit terang. Kemujuran akan menyertai hidup mereka serta takkan goyah untuk selama-lamanya. Hidup seperti inilah yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani sebagai pelayan dan umat GPM.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami untuk hidup sebagai orang benar. Amin.

Sabtu, 03 September 2022                        

bacaan : Mazmur 111 : 1 – 10

Kebajikan Allah
Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. 2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. 3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya. 4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. 5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya. 6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa. 7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, 8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran. 9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Tuhan itu Pengasih dan Penyayang

Pekan ini dapat kita jalani dan akhiri hanya karena kasih dan sayang Tuhan. Ia terus menyatakannya dengan tak berkesudahan. Pekan bina keluarga sedang berlangsung dan bersama pemazmur hendaklah kita lafaskan: “aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati.“ Nas hari ini menyaksikan bahwa bangsa Israel tetap mengalami kasih dan sayang Tuhan, baik berupa makanan dan perlindungan maupun tanah pusaka. Pernyataan tentang wujud kasih dan sayang Tuhan seperti itu, merefleksikan fakta iman yang dialami  saat pengembaraan dan memperoleh tanah kanaan. Tanah perjanjian diberikan sesudah mereka mengembara empat puluh tahun. Tuhan menolong bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Tuturan pemazmur seperti ini sesungguhnya merupakan refleksi bahwa bangsa Israel dapat bertahan dan melanjutkan hidup hanya karena kasih dan sayang Tuhan.  Refleksi inilah yang mendasari pernyataannya pada ayat 10; “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.” Pernyataan ini mengingatkan kita kepada peristiwa pemberian ‘hukum’ Taurat di Gunung Sinai. Bangsa yang telah mengalami kasih sayang Tuhan harus menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Gagasan teologi menaati hukum Taurat dan menyembah Allah inilah yang dimaksud pemazmur dengan pernyataan: “takut akan Tuhan.” Maksudnya orang-orang yang “takut akan Tuhan” adalah mereka yang menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Persiapkanlah keberadaan baik sebagai pribadi maupun keluarga untuk mengambil bagian dalam akta perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah di hari minggu pertama bulan ini. Tuhan-lah sumber berkat, Ia akan mencukupkan segala yang kita perlukan. Takutlah akan Dia, penyayang dan pengasih itu, maka seisi rumah kita akan diberkati. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, keadilan-Nya tetap untuk selamanya. Jadilah kuat dan tenang sebab Ia pasti memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan pengasih dan penyayang, kami syukurkan berkat-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu III : “Tetap Setia melakukan Usaha Pembebasan”

Minggu, 21 Agustus 2022                               

bacaan : Yeremia 34 : 8 – 22

Janji kepada budak-budak Ibrani tidak ditepati
8 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, 9 supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya. 10 Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka. 11 Tetapi sesudah itu mereka berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi. 12 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku sendiri telah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, isinya: 14 Pada akhir tujuh tahun haruslah kamu masing-masing melepaskan saudaranya bangsa Ibrani yang sudah menjual dirinya kepadamu; ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, kemudian haruslah engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka. Tetapi nenek moyangmu tidak mendengarkan Aku dan tidak memperhatikan Aku. 15 Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan. 16 Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. 18 Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; 19 pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu, 20 mereka akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, sehingga mayat mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi. 21 Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. 22 Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk."

Selaraskan Perkataan dan Perbuatan

Janji tinggal janji, parlente jalan tarus, ungkapan ini berarti mengingkari janji atau perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Perbuatan mengingkari janji inilah yang dilakukan oleh para pejabat, pemimpin umat dan masyarakat yang ada di Yerusalem. Mereka mengumumkan pembebasan kepada budak laki-laki dan perempuan dan membebaskan mereka sebagai orang-orang merdeka sesuai dengan perintah Tuhan Allah (peraturan tahun sabat dalam Kel.21:1-6: Ul.15:1-11) bahkan perjanjian tersebut diikat dengan sumpah dihadapan Tuhan Allah (ayat 8-15). Namun, karena kedegilan hati,  mereka menarik kembali perkataan atau membatalkan perjanjian pembebasan budak. Budak yang telah dibebaskan diperbudak lagi (ayat 16). Akibat dari tindakan yang tidak taat dan setia  itu, maka Tuhan Allah mendatangkan murka-Nya atas mereka (ayat 17). Murka Tuhan meliputi; kematian, penyakit sampar (penyakit menular), kelaparan, hancurnya kota Yerusalem, umat di bawa ke pembuangan (ayat 17-22). Gambaran malapetaka yang dasyat adalah akibat ketidaktaatan bangsa Israel akan janji mereka kepada Tuhan. Kisah ini menyuguhkan makna untuk dijadikan sebagai pedoman iman.  Jika kita berjanji di hadapan Tuhan dan manusia, hendaknya ditepati (jangan berbohong). Misalnya: sebagai pemimpin setia melaksanakan sumpah jabatan, berjanji kepada istri atau suami untuk tetap setia, berjanji untuk melayani keluarga dengan baik (jangan mengkhianati), berjanji melaksanakan tugas pelayanan gereja dengan setia, lakukanlah dengan taat. Karena jika kita tidak memenuhi janji tersebut, maka kita  akan mendapatkan penghukuman Allah. Ingatlah perkataan Mahatma Gandhi: “Selaraskan kata dan tindakan”

Doa: Tuhan, kiranya kata dan tindakan kami selaras. Amin.

Senin, 22 Agustus 2022                                 

bacaan : Imamat 25 : 8 – 13

8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. 9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. 10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. 11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. 12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. 13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.

Kita, Mahkluk Yang Merdeka

Waktu 24 jam yang tersedia, terasa kurang bagi kita. Bekerja dengan tak hentinya untuk mengejar segala keberhasilan. Mengeksplorasi dan mengeksploitasi segalanya tanpa melihat dan memperhatikan keseimbangan diri sendiri maupun sesama ciptaan. Kita terus mengusahakan segala sesuatunya tanpa mempertimbangkan keberadaan, kekuatan diri sendiri serta kelangsungan hidup semua ciptaan di semesta ini. Kita, dengan berbagai upaya berusaha keras, dan secepat mungkin serta modal yang sedikit-dikitnya, berharap memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Kita dengan penuh kesadaran, terus mengikat diri dan mengikuti pola kehidupan yang tak seimbang serta mengembangkan prinsip ekonomi tidak berkeadilan yang dibangun oleh masyarakat umum. Hal itu membuat kita menjadi hamba, bahkan budak, yang tidak bebas merdeka.

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita, bahwa ada batasan dari segala sesuatu yang harus dijalani dan dikerjakan. Allah memberikan tuntunan, agar kita menjadi manusia yang bebas merdeka bagi diri sendiri dan sesama ciptaan. Allah menghendaki agar kita dapat berlaku adil bagi diri sendiri dan sesama ciptaan-Nya. Seperti Allah, yang beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya, waktu melakukan penciptaan, maka Dia pun mengajarkan kepada kita untuk juga melakukannya. Tahun Yobel bukan merupakan waktunya Allah datang untuk membebaskan manusia, melainkan masa yang Dia berikan kepada tiap orang guna membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat.  Aturan tentang tahun Yobel dibuat dengan maksud mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi diri sendiri juga sesama ciptaan. Tujuannya adalah agar kita dan sesama ciptaan, dapat memberikan kesempatan kepada diri untuk mengarahkan hati kepada Allah guna menghormati, memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu di tahun Yobel ini. Amin.

Selasa, 23 Agustus 2022                              

bacaan : Keluaran 21 : 1 – 11

Tentang hak budak Ibrani
"Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka. 2 Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa. 3 Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia. 4 Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri. 5 Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, 6 maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup. 7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. 8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu. 9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan. 10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia. 11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."

Landasan Hak Asasi Manusia & Prinsip Kemanusiaan Dalam Perbudakan

Alkitab begitu serius memperlakukan hamba secara manusiawi. Perlakuan tersebut bukan untuk menyatakan setuju dengan perbudakan, tetapi untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang lebih manusiawi, serta arah perbaikan sistem yang dilakukan, dapat melihat bahwa Allah memandang penting kebebasan orang. Kebebasan adalah dasar dari semua hak asasi manusia, untuk memastikan bahwa setiap orang berhak untuk mengejar kesetaraan dan kebahagiaan. Allah menebus dan menyelamatkan Israel menjadi dasar dari semua ketentuan hukum Allah dan perbudakan jelas melanggar prinsip kesetaraan dan hak asasi manusia. Nas hari ini mengkritisi bagaimana hidup sebagai umat Allah dalam budaya yang menerima perbudakan sebagai kelaziman. Prinsip kemanusiaan yang berbelas kasih diterapkan dalam kasus perbudakan ini.

Menjual diri sebagai budak dalam kehidupan bangsa Ibrani kuno adalah cara bertahan hidup agar mendapat makanan dan perlindungan dari tuannya. Tuannya bisa memperkerjakan budak hanya enam tahun dan tahun ketujuh (tahun Sabat), budak tersebut akan menjadi orang bebas. Tuhan menuntut kepatutan dan belas kasih dalam hidup bangsa Israel dan itu menjadi pelajaran penting bagi kita dalam hidup bersama dengan orang lain. Namun, di zaman modern ini kita sering kali mendapati perbudakan terjadi di mana-mana. “Orang kuat” mengeksploitasi pihak yang lemah, baik secara ekonomi maupun politik. Banyak orang miskin diculasi dan dijebak sebagai buruh murah di negeri lain dalam industri prostitusi. Bahkan sikap memperbudak masih terlihat dari cara seseorang mempekerjakan dan membayar gaji orang yang bekerja padanya. Sikap-sikap tidak manusiawi ini tidak boleh dilakukan. Tuhan Allah menghendaki kita untuk menghargai sesama tanpa memandang latar belakang hidup mereka.

Doa: Ya Tuhan, terangilah hati kami agar menghargai sesama secara manusiawi tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Amin.

Rabu, 24 Agustus 2022                                

bacaan : Yeremia 39 : 11 – 14

Perintah Nebukadnezar untuk melindungi Yeremia
11 Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: 12 "Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!" 13 Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang-- 14 mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.

Ketaatan Mendatangkan Pemeliharaan Tuhan

Taktik pengepungan dan pemutusan, lazim dipakai dalam peperangan yang berlangsung di daerah Timur Dekat Kuno. Pasukan perang mengepung kota lawan, selanjutnya dilangsungkan taktik memotong pasokan makanan dan air, sambil berusaha membobol tembok. Mereka menanti sampai penduduk kota yang terkepung itu kelaparan, lemah, dan mudah dikalahkan. Cara seperti inilah yang dilakukan oleh tentara Babel saat mengepung kota Yerusalem sampai akhirnya mereka berhasil membobol tembok dan merebut kota. Kisah ini mencatat bahwa setelah Yerusalem direbut, nasib raja Zedekia dan nabi Yeremia,  berkaitan dengan sikap mereka terhadap firman Tuhan. Raja Zedekia yang melarikan diri ke padang gurun mengalami nasib yang benar-benar mengerikan. Dia ditangkap, dibawa kepada raja Nebukadnezar, dipaksa menyaksikan anak-anaknya dihukum mati, dibutakan matanya, lalu dibelenggu dan dibuang ke negeri Babel. Tidak ada berita lagi tentang raja Zedekia, tetapi mungkin ia bertobat di pembuangan, sehingga ia ditangisi rakyat saat meninggal. Nabi Yeremia diperlakukan berbeda dengan orang-orang Yehuda yang lain. Raja Nebukadnezar memerintahkan agar nabi Yeremia dibebaskan dari penjara dan diberi kebebasan untuk tetap tinggal di negeri itu. Berbeda dengan nasib banyak orang di Yehuda, nabi Yeremia tidak mengalami kekerasan.

Kisah kehancuran kota Yerusalem mengajarkan kita tentang adanya berkat karena ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan serta hukuman karena menolak untuk mendengarkan firman Tuhan. Nabi Yeremia mewakili orang yang taat sekaligus teladan  memercayai Tuhan. Sedangkan raja Zedekia mewakili orang yang tidak mau melakukan firman Tuhan.

Kadang-kadang, Alkitab mengingatkan kita tentang sesuatu yang telah diketahui tetapi kemudian dilupakan atau tidak dilakukan. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita sanggup melakukan firman Tuhan!

Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar selalu taat kepada-Mu. Amin.

Kamis, 25 Agustus 2022                          

bacaan : Yeremia 39 : 15 – 18

Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan
15 Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya: 16 "Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga. 17 Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, 18 tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Perbuatan Baik Yang Dilakukan, Pasti Akan Kembali Dengan Sendirinya

Kisah tentang Ebed-Melekh mulai disaksikan di pasal 38:1-13. Ia berkebangsaan Etiopia, seorang sida-sida yang tinggal di istana raja Zedekia. Hari ini kita akan melihat buah dari perbuatan baiknya kepada Yeremia. Pada masa pemerintahan raja Zedekia itu, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur. Kebaikan hati Ebed-Melekh tak langsung mendapatkan balasannya. Cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar.

Janganlah takut untuk memberi kepada yang membutuhkan. Jangan takut untuk menolong dan membebaskan orang yang sedang dalam kesusahan. Lakukanlah semua itu tanpa membeda-bedakan siapa yang kita bantu. Tak perlu membuat kebaikan besar yang menghebohkan, cukup kebaikan-kebaikan kecil yang ditabur kepada mereka yang berada di sekitar kita. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan yang telah kita alami. Kita tidak berbuat baik untuk memperoleh keselamatan. Yakinlah bahwa semua perbuatan baik pasti diberkati Tuhan dan buahnya akan kita alami pula.

Doa:  Mampukanlah kami untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 26 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 14 : 40 – 46

40 Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: "Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain." Lalu jawab rakyat kepada Saul: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik." 41 Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. 42 Kata Saul: "Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan." Lalu didapati Yonatan. 43 Kata Saul kepada Yonatan: "Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat." Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: "Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati." 44 Kata Saul: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati." 45 Tetapi rakyat berkata kepada Saul: "Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini." Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati. 46 Maka pulanglah Saul setelah mengejar orang Filistin, dan orang Filistin itupun kembali ke tempat kediamannya.

Bersikaplah Bijak Sehingga Tidak Mengorbankan Orang Lain

Ketika kesombongan menguasai hati dan pikiran kita, keputusan yang diambil pada akhirnya membuahkan suatu yang tidak bijak. Keangkuhan dapat menjerumuskan kita, menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan banyak orang. Nas hari ini menyaksikan bahwa Saul sedang menghadapi situasi yang terdesak. Ia kemudian menyuruh bangsa Israel untuk mengambil sumpah yang berisi kutukan dan konsekuensinya  orang Israel tidak boleh makan apa pun. Perang menjadi semakin sulit karena Saul menambahkan beban yang tidak perlu bagi orang Israel. Akibatnya mereka menjadi letih lesu. Saul telah mencelakakan rakyatnya sendiri, seperti yang diutarakan Yonatan, anaknya. Akibat yang lebih besar adalah orang Israel pada akhirnya berbuat dosa dalam memakan hasil rampasan. Allah juga tidak menjawab doa Saul. Kemudian, Saul mencari tahu penyebab dari semua ini. Akhirnya, ia menemukan bahwa Yonatan telah merasai sedikit madu. Kematian adalah konsekuensi yang harus ditanggung semua pelanggar ketentuan, sekalipun itu anak sendiri. Namun, Yonatan dapat bebas dari hukuman mati karena permohonan orang-orang Israel kepada Saul. Kesombongan yang ada pada Saul menyebabkannya melakukan hal yang bukan kehendak Allah. Saul hanya berfokus pada dirinya sendiri, ia tidak menghiraukan Allah. Kesombongan ini menempatkannya pada posisi seolah dia lebih besar daripada Allah. Itulah awal kehancurannya. Keputusan yang diambil berikutnya memberikan dampak negatif yang meluas. Ketika kesombongan melingkupi hati dan pikiran, kita dapat jatuh untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Saul. Kesombongan lain mengatakan: diriku tidak bersalah, yang salah adalah orang lain. Kesombongan memisahkan relasi manusia. Hidup tidak sombong adalah buah Roh Kudus yang bekerja karena orang percaya memprioritaskan kehendak Allah bekerja dalam dirinya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk mengatasi kesombongan. Amin.

Sabtu, 27 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 30 : 11 – 20

11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air, 12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. 13 Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit. 14 Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis." 15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu." 16 Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda. 17 Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. 18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. 19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. 20 Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: "Inilah jarahan Daud."

Mengandalkan Tuhan Ada Pemulihan dan Pembebasan

Tindakan pembebasan yang Allah karyakan terkadang tidak dapat terselami oleh akal manusia yang terbatas. Karya pembebasan itu berada di luar jangkaun akal manusia. Daud pernah mengalami pengalaman demikian. Batinnya terguncang hebat, akibat peristiwa besar yang terjadi di ziklag. Tekanan batinnya bertambah karena rakyat beranggapan bahwa Daudlah yang bertanggung jawab atas seluruh petaka yang sedang mereka alami. Daud tidak putus asa apalagi kecewa terhadap Tuhan.  Kepercayaannya tetap teguh, ia mengandalkan TUHAN sepenuhnya. Catatan reflektif bagi kita ialah bahwa ; sesungguhnya peristiwa ziklag memiliki urutan seperti ini : kehilangan segala sesuatu (ay. 1 – 5), penolakan (ay. 6), kemenangan (ay. 17 – 18), pemulihan (ay. 19). Dari peristiwa siklag mengingatkan kita bahwa mengimani ALLAH itu bukan berarti seluruh perjalanan hidup ini akan mulus dan aman-aman saja, sebaliknya ada waktu Ketika TUHAN mengizinkan ketidaknyamanan kita di porak-porandakan. Ada waktu saat kita ditolak, dipersalahkan dan disudutkan oleh orang- orang di sekitar kita.

Dari Daud kita belajar untuk tetap menguatkan kepercayaan kepada Tuhan dan tetap bergantung kepada-Nya. Ingat bahwa   kekecewaan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan, menyanggupkan kita memperoleh jalan keluar, mengalami pemulihan, pembebasan dan akan tampil sebagai pemenang.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa bergantung dan menaruh percaya hanya kepada Dikau, sehingga kami bisa melihat jalan-jalan-Mu untuk pemulihan persoalan-persoalan hidup ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu II : “Hidup sebagai Hamba Allah”

Minggu, 14 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Petrus 2 : 11 – 17

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Jadilah Perantau dan Pendatang Yang Dapat Diteladani

Bersyukurlah sebab kita dapat mengalami kemurahan Tuhan di hari perhentian yang kudus. Hari ini kita belajar dari surat Petrus yang berisi nasihat bagi perantau dan pendatang. Pendatang artinya orang yang datang ke suatu daerah atau negeri serta negara dan menetap sebagai orang asing di situ. Sementara rantau berarti daerah atau negeri di luar daerah/negeri sendiri atau negeri asing. Saat itu umat Israel memang banyak yang sementara hidup sebagai pendatang dan perantau di berbagai daerah. Namun jika bicara tentang perantau dan pendatang maka bukan hanya perantau dan pendatang secara harafiah, tetapi sesungguhnya semua kita adalah pendatang dan perantau di dunia ini. Petrus memberi nasihat kepada kita sebagai perantau dan pendatang agar berhati-hati dan waspada. Kita harus memperlihatkan cara hidup yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi orang lain terutama bagi mereka yang belum percaya kepada Yesus atau dalam konteks bacaan kita bangsa-bangsa bukan Yahudi sehingga mereka juga memuliakan Allah. Teladan itu antara lain:

  • Menjauhkan diri dari hawa nafsu kedagingan.
  • Hormati pemerintah dan mereka yang dipercayakan untuk memimpin kita.
  • Kita sudah dimerdekakan dari belenggu penjajahan bangsa asing tetapi juga belenggu dosa karena itu hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi merdeka yang bertanggung jawab, bukan yang kebablasan. Artinya bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan hal-hal berguna bukan bebas melakukan apa saja yang kita mau tetapi tidak sepadan dengan kehendak Allah.
  • Hormati dan kasihilah sesama. Jadilah teladan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan, tolong kami untuk hidup sebagai orang yang dapat diteladani. Amin.

Senin, 15 Agustus 2022                            

bacaan : 1 Korintus 7 : 17 – 24

Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. 20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. 21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu. 22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. 23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia. 24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Hiduplah Sebagai Hamba Allah

Hari pertama di minggu ini telah kita jalani dengan selamat sambil diajak untuk hidup sebagai hamba Allah.. Apa artinya itu? Mari simak dulu cerita Sonia sebagai pengantar sekaligus pembanding. Sonia, adalah seorang ibu muda yang penampilan sehari-harinya “aduhai”. Saat dia diminta untuk menjadi pengurus unit, penampilannya  berubah. Pakaiannya tidak lagi “kekurangan kain”, makeup-nya sudah tidak menor dan dia mulai suka menyapa orang. Pertanyaannya: Apakah penampilan fisik seseorang dapat menjamin bahwa orang tersebut sudah hidup sebagai hamba Allah?  Belum tentu!! Penampilan fisik terkadang bisa menipu. Karena itu Paulus memberi ketegasan kepada jemaat Korintus dan kita bahwa memenuhi panggilan Allah dan menjadi hamba-Nya bukanlah persoalan lahiriah seperti sunat atau tidak (18), hamba atau orang merdeka (21), bukan juga soal penampilan. Seseorang menjadi hamba Allah karena ia telah dibeli dengan harga mahal oleh Allah, yaitu darah dan nyawa anakNya, Yesus Kristus (23). Seseorang menjadi hamba Allah adalah karena dia telah ditebus oleh Allah dari kuasa dosa dan maut. Karena itu menjadi hamba Allah berarti hidup menurut ketetapan, peraturan, petunjuk dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya. Paulus menekankan bahwa yang penting adalah perubahan hidup dimana seorang hamba Allah harus memperlihatkan kehidupan yang taat dan setia kepada Allah, bukan sekadar penampilan fisik. Hidup dalam panggilan sebagai Hamba Allah dapat dilakukan dengan keberadaan kita apa adanya. Penampilan sederhana namun dengan hati yang lemah lembut, rendah hati dan tidak sombong. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita. Hiduplah sebagai hamba Allah dan lakukanlah kehendak-Nya.

Doa: Tuhan ampuni kami yang menyebut diri sebagai hamba-Mu namun tidak melakukan kewajiban kami sebagai seorang Hamba Allah.. Amin.

Selasa, 16 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 3 :  24 – 27

24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. 27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Ketaatan di Tengah Ancaman

Semakin dibabat, semakin merambat. Istilah tersebut agaknya tidak terlalu berlebihan jika disematkan kepada orang Kristen. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang Kristen dari awal kemunculannya sampai saat ini tidak lepas dari penganiayaan. Namun, semakin orang Kristen mengalami penganiayaan justru mengalami peningkatan yang sangat drastis. Penganiayaan justru membuat orang Kristen semakin kuat dan bertumbuh. Hal ini dikarenakan Tuhan melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Kisah penganiayaan yang dialami oleh mereka yang percaya (beriman) kepada Tuhan pun diperlihatkan oleh para tokoh Alkitab, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam kitab Daniel 3:24-27. Jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak permintaan raja Nebudkadnezar untuk menyembah patung yang didirikannya itu, mengakibatkan ketiga teman Daniel tersebut dilemparkan ke perapian yang panas luar biasa, sehingga membakar habis tentara yang melempar ketiga orang tersebut. Sedangkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat.  Mereka selamat karena dilindungi dan dijaga oleh Tuhan (Ayat 17). Melihat bahwa mereka tidak terluka di dalam api besar, maka raja memanggil Sadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian dan menghadap kepadanya. Dia menyebut mereka “Hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi” (ayat 26). Istilah ini digunakan untuk memuji Allah yang mereka sembah adalah Allah yang kuat dan perkasa. Perikop ini memberi makna bagi kita saat ini, bahwa perapian (kobaran api) melambangkan berbagai masalah dan penderitaan yang sedang dialami oleh orang Kristen karena beriman kepada Tuhan Yesus. Kita difitnah, diberlakukan dengan tidak adil (misalnya: larangan mendirikan gereja yang dialami oleh GKI Yasmin, HKBP Bekasi, sehingga mereka beribadah di depan istana Negara). Tetaplah yakin bahwa dalam berbagai persoalan Tuhan yang kita percaya adalah Pembebas dan Penyelamat kita. Janganlah ragu teruslah mengandalkan Dia.

Doa: Tuhan, tolonglah supaya kami tidak binasa, Amin.

Rabu, 17 Agustus 2022                                    

bacaan : Yesaya 49 : 8 – 13

Sion dipulihkan
8 Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, 9 untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. 10 Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. 11 Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. 12 Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim." 13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

Dimerdekakan Untuk Memerdekakan

Hari ini genaplah usia ke-77 tahun (1945-2022) Negara Indonesia yang kita cintai. Kita mensyukurinya sebagai kemurahan Tuhan Sang Pemilik Negara ini. GPM melalui LPJ menetapkan Tema HUT RI: “Mensyukuri Kebaikan Tuhan yang Membebaskan”. Tema ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperoleh Negara ini hanya karena kebaikan Tuhan semata. Pesan lain tema ini adalah kehidupan di Negara yang merdeka haruslah berlangsung dalam kepastian bahwa hak-hak hidup orang banyak menjadi terjamin. Hak untuk berpendapat, menerima pelayanan kesehatan yang memadai, pendidikan berkualitas, perlindungan hukum, pekerjaan, kehidupan yang layak dan sejahtera, dll. Sayangnya, di usia bangsa yang ke-77 tahun ini masih kedapatan praktek ketidakadilan, suap, korupsi, penyalagunaan kuasa, bahkan kenaikan harga-harga barang yang memberatkan kehidupan masyarakat. Karena itu, mari kita berefleksi berdasarkan Yesaya 49: 8-13. Bagian ini termasuk kitab Yesaya yang kedua (Deutero Yesaya), mengisahkan tentang kehidupan bangsa Israel di Babel sebagai tawanan. Mereka hidup tidak bebas, tertekan dan sangat menderita.  Nabi Yesaya berpesan bahwa Tuhan akan menjawab, menolong dan membebaskan bangsa Israel dari pembuangan Babel  dengan membawa mereka pulang kembali ke Yerusalem, tanah pusaka mereka (ayat 8), memberikan kebebasan dan menyedikan makanan bagi kebutuhan mereka (ayat 9), sehingga mereka tidak akan mati kelaparan melainkan berkelebihan supaya mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (ayat 10-12). Waktunya pasti tiba dan mereka akan memuji-muji Tuhan sebagai Penyelamat dan Pembebas mereka yang kekal (ayat.13).  Kemerdekaan diberikan Tuhan supaya kita menjadi orang-orang merdeka yang dapat memerdekakan orang lain dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, eksploitasi alam, dan sebagainya.

Doa: Tuhan, lindungilah segenap bangsa Indonesia, Amin.

Kamis, 18 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 23 – 26

23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, 26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Perkuat Karakter Kristiani, Jadilah Teladan!

Perikop ini merupakan nasihat Paulus kepada Timotius. Ia   sedang berhadapan dengan para pengajar sesat yang suka bersilat lidah dan mengacaukan pelayanannya (ayat 14). Paulus menasihati Timotius agar berusaha menjadi pekerja Kristus (Hamba Tuhan) yang memiliki teladan Kristus dalam pelayanan. Bila hal tersebut dilakukan, maka para pengajar itu tidak menemukan celah untuk menjatuhkan Timotius dan mencemarkan Injil kebenaran (ayat 15). Timotius harus menunjukkan sifat-sifat yang tepat dalam hidup agar sesuai dengan peranannya sebagai pemimpin Kristen. Sifat-sifat itu adalah menghindari persoalan yang di cari-cari, bodoh dan tidak layak, karena semua itu mengarah kepada pertengkaran (ayat 23). Paulus menegaskan, adalah lebih baik menghindari pertengkaran dari pada berusaha untuk masuk dan terjun dalam arena tersebut. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapapun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut (ayat 24). Selain itu, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk menjadikan para musuh sebagai sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus. Bagaimana caranya? Ia harus memiliki kecakapan mengajar untuk menuntun seseorang yang suka melawan agar sadar dari jalan yang salah; meninggalkan cara hidup yang jahat serta lepas dari kuasa iblis yang selama ini telah menawan mereka dan memaksa mereka mengikuti kehendaknya (ayat 25- 26). Timotius harus memberikan kesempatan setiap orang untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman. Makna bagi kita saat ini, adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain. Waktu hidup kita begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sebaiknya diisi dengan hal-hal yang baik dan berguna bagi Tuhan dan sesama, Dengan demikian kita akan menolong orang lain menyadari kesalahannya dan mengalami pertobatan.

Doa: Tuhan, pakailah kami sebagai alat keselamatan-Mu., Amin.

Jumat, 19 Agustus 2022                                

bacaan : Roma 6 : 15 – 23

Dua macam perhambaan
15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! 16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? 17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. 20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. 21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. 22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jadilah Hamba-Hamba Kebenaran

Tema mingguan yang ditetapkan oleh Lembaga Pembinaan Jemaat (LPJ) GPM adalah “Hidup Sebagai Hamba Allah”. Dasarnya adalah Roma 6: 15-23, secara khusus ayat 18. Maksudnya merdeka dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.  Menjadi hamba kebenaran itu tidaklah muda sebab kita harus berjuang melawan dosa. Setiap orang yang mau menjadi hamba kebenaran harus memerdekakan diri dari kuasa dosa. Orang yang merdeka  di dalam Kristus, wajib mematikan segala keinginan dan hawa nafsu dunia. Pertanyaannya apakah yang harus kita lakukan agar dapat hidup sebagai hamba kebenaran? Pertama, sebagai manusia yang memiliki kelemahan, kemungkinan jatuh ke dalam dosa masih ada. Terlebih Iblis memiliki banyak cara untuk merebut kita (banding 1 Petrus 5:8) melalui orang-orang terdekat yang hidupnya belum berpusat pada Tuhan, lingkungan sekitar di mana kita bergaul, bahkan mereka yang kelihatan baik padahal penuh dengan kemunafikan, kelemahan diri, semua dapat dijadikan alat oleh iblis untuk menjerat kita (1 Korintus 15: 33; 2 Korintus 11: 14). Sebab itu, waspadalah dan jangan pernah memberi kesempatan kepada Iblis. Kedua, Hiduplah dipimpin oleh Roh. Roh Kudus yang ada dalam kita bagaikan sebuah alarm yang akan bekerja mengingatkan dan menyadarkan kita dari dosa (Yohanes 16:8). Orang yang hidup dalam roh memiliki kekuatan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging; perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Sebaliknya sebagai hamba kebenaran maka hidup kita menghadirkan buah-buah Roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, jangan gila hormat (Gal.5:19-26). Menurut Paulus hidup adalah pilihan; memilih hidup di dalam dosa mendatangkan penghakiman Allah (kematian) atau memilih hidup dalam kebenaran membawa kita kepada kehidupan yang kekal (ayat 21-23).

Doa: Tuhan, jadikanlah kami hamba-hamba kebenaran. Amin.

Sabtu, 20 Agustus 2022                                     

bacaan : Galatia 1 : 6 – 10

Hanya satu Injil
6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. 10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Berpegang Teguh Pada Injil Kristus

Surat Galatia merupakan salah satu surat yang ditulis oleh rasul Paulus untuk menjawab situasi yang mengancam saat itu. Situasi yang mengancam itu adalah serangan terhadap kerasulan Paulus dan Injil Kristus. Khusus nas bacaan kita tadi, berbicara tentang serangan terhadap Injil yang diberitakan Paulus. Bagi Paulus, Keselamatan merupakan karunia yang diberikan berdasarkan kemurahan, sepenuhnya bergantung pada iman kepada Yesus Kristus bukan tergantung pada sunat dan hukum taurat. Sedangkan, bagi orang-orang Yahudi keselamatan tergantung melaksanakan taurat Musa dan tradisi sunat. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi bersikeras memaksakan orang-orang Kristen non Yahudi untuk melaksanakan hukum taurat dan sunat supaya mereka diselamatkan. Menghadapi situasi tersebut, Paulus dengan tegas memperingatkan orang-orang Yahudi yang telah menerima Yesus Kristus supaya mereka berpegang pada injil yang diberitakan oleh Paulus dan jangan terpengaruh kepada injil-injil palsu yang diberitakan oleh lawan-lawan Paulus. Sebab injil yang mereka beritakan bertentangan dengan Injil Kristus (ayat 6-7). Hidup di bawah hukum taurat merupakan perhambaan sedangkan hidup dengan iman merupakan kebebasan. Orang Kristen tidak diikat dengan hukum taurat karena Kristus telah membebaskan melalui kematian-Nya. Karena itu, apabila ada orang yang menyesatkan kamu dengan injil yang berbeda dari Injil Kristus, maka terkutuklah dia (ayat 8-9). Selanjutnya, Paulus mempertegas dirinya sebagai hamba Allah dengan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk menyenangkan hati manusia melainkan untuk menyengkankan hati Allah. Ia bukan mencari nama melalui kerasulannya melaiankan untuk melayani Allah yang telah memanggil dan mengutusnya. Makna bagi kita, berpeganglah pada injil Kristus dengan melakukan kehendak-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal.

Doa: Kiranya kami teguh berpegang pada injil Kristus. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 7 – 13 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu I : “Berjuang untuk Membela Kehidupan”

Minggu, 07 Agustus 2022

bacaan : Ester 4 : 1 – 17

Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya. 5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. 14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." 17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.

Perjuangan Yang Hebat

Hidup di negeri asing tidaklah mudah karena berbagai sebab termasuk ancaman pembunuhan. Bangsa Israel pernah mengalami hal tersebut di Persia yakni pada masa pemerintahan raja Ahasyweros. Nas hari ini mengisahkan perjuangan baik yang dilakukan oleh Mordekhai maupun Ester untuk menyelamatkan bangsa Israel dari ancaman tersebut. Hidup sebagaimana dikisahkan dalam tuturan ini adalah perjuangan berat agar bebas dari upaya pembunuhan. Perjuangan berat harus mereka tempuh sebagai harga atau akta membela hidup. Mordekhai dan Ester mempertaruhkan keselamatan mereka dalam perjuangan ini. Nyawa menjadi taruhan dan oleh sebab itu mereka ditantang untuk berani berkorban bagi orang lain. Semangat perjuangan Mordekhai dan Ester sama yakni membebaskan bangsa Israel di kota Susan dari ancaman pembunuhan karena siasat Haman, seorang pejabat tinggi raja. Mereka memiliki semangat perjuangan yang sama, namun berjuang dengan cara dan di tempat yang berbeda. Mordekahi berjuang di luar istana raja dengan cara berkabung sedangkan Ester dari dalam. Ester berjuang dengan caranya sendiri yang adalah seorang ratu. Cara dan tempat berjuang berbeda, namun menjadi satu dalam semangat yang sama dan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Inspirasinya adalah hidup dan jabatan dipertaruhkan untuk keselamatan orang lain. Mordekahi dan Ester tidaklah menjadikan jabatan mereka sebagai tameng atau pelindung untuk luput dari ancaman pembunuhan. Inilah teladan perjuangan membela hidup orang lain sekalipun harus mempertaruhkan jabatan dan keselamatan sendiri. Tindakkan membela hidup seperti inilah yang layak dijadikan cara atau pilihan hidup kita sekarang ini.  

Doa: tolonglah kami ya Tuhan agar berani berkorban. Amin.

Senin, 08 Agustus 2022                               

bacaan : 1 Samuel 7 : 10 – 14

10 Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. 11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar. 12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita." 13 Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, 14 dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.

Andalkanlah Tuhan Saat Perjuangkan Hidup

Eben-Haezer adalah nama yang diberikan Samuel kepada batu yang didirikannya antara Mizpa Yesana (ayat 12). Kata Eben-Haezer berarti “sampai di sini Tuhan menolong kita”. Akta mendirikan batu dan menamainya dilakukan Samuel sebagai cara mensyukuri kemurahan Tuhan yang menolongnya ketika berperang dengan bangsa Filistin. Ia memimpin bangsa Israel berjuang untuk merebut kota-kota yang direbut bangsa Filistin. Mereka tak sekadar merebut kota tapi berjuang mempertahankan tanah pemberian Tuhan. Tanah merupakan wujud pemenuhan  janji berkat yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Karena itu status kepemilikannya harus terus dipertahankan atau diperjuangkan. Samuel bertindak cepat dan tepat sekalipun tidak mudah. Ia berusaha mengatasi ancaman kelanjutan keberadaan bangsa Israel. Tanah dan kota dapat direbut kembali sekaligus dimilikinya rasa aman untuk menjalani keberadaan setiap harinya. Kisah kepemimpinan Samuel ini menegaskan bahwa selama kehidupan berlangsung, ancaman selalu dijumpai. Kita diminta untuk menjadi semakin kritis dan cerdas untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Tak ada hidup dan perjuangan yang mudah. Oleh sebab itu berharaplah pada pertolongan Tuhan. Setiap perjuangan untuk membela hidup pasti dikehendaki dan diberkati Tuhan. Mari belajar pula akan spiritualitas Samuel. Ia memulai perjuangan dengan membakar korban bakaran. Hal ini berarti Samuel mengandalkan Tuhan. Selain itu ia juga meneladankan sikap mensyukuri kemurahan Tuhan. Ia berjuang dengan mengandalkan Tuhan dan tetap memuliakn-Nya saat mengalami kemenangan. Andalkanlah Tuhan dan terus berjuang membela hidup.  Tuhan menolong kita.

Doa: Ya Tuhan berkatilah perjuangan hidup kami. Amin.

Selasa, 09 Agustus 2022                                

bacaan : 1 Samuel 12 : 1 – 5

Samuel minta diri dari bangsa itu
Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: "Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. 2 Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. 3 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu." 4 Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun." 5 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku." Jawab mereka: "Dia menjadi saksi."

Menjaga Hidup Tetap “Bersih”

Nas hari adalah sebagian ucapan yang disampaikan Samuel pada saat ia hendak berpisah dengan bangsa Israel. Ia berpisah karena telah selesai melakukan tugasnya sebagai pemimpin umat Allah. Tanggung jawab kepemimpinannya dilakukan dari sejak masih muda sampai dengan terpilihnya Saul menjadi raja Israel. Terpilihnya Saul sebagai raja merupakan tonggak atau babak baru berlangsungnya kepemimpinan. Fakta sejarah inilah yang mendasari ucapan perpisahan Samuel. Ucapan perpisahan ini sesungguhnya merupakan refleksi diri seorang hamba Tuhan yang “bersih” selama menunaikan panggilan pengutusan yang berat itu. Samuel telah dilayakkan Tuhan memimpin perjuangan bangsa Israel untuk membela hidup mereka dengan cara-cara yang berhikmat. Samuel bukanlah pemimpin yang “kotor” dan oleh sebab itu ia berani meminta Tuhan serta bangsa Israel menjadi saksi atas tanggung jawab yang telah diselesaikannya. Ia tidak pernah memeras dan memperlakukan bangsa Israel dengan kekerasan atau mengambil apa yang bukan miliknya, demikian pun dengan sogok. Ia merupakan tokoh dan pemimpin ideal yang bukan saja sukses menjalani kepemimpinan, tetapi juga menjaga hidup tetap “bersih”. Samuel terbukti hingga di batas pengabdiannya taat berjuang dengan integritas diri yang luar biasa.Teladan iman ini kiranya kita jadikan sebagai pilihan sikap dan cara hidup kristiani. Ada banyak hal yang telah, sedang dan akan terus kita perjuangkan. Masa depan gemilang bagi keturunan kita, karier, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, perkerjaan, jabatan, pencarian atau usaha apa pun. Teruslah berjuang sambil menjaga hidup tetap “bersih”. Hindari melakukan kejahatan dan dosa selama hidup ini kita perjuangkan.

Doa: Bapa layakkanlah kami terus upayakan hidup bermutu. Amin.

Rabu, 10 Agustus 2022                               

bacaan : 2 Tawarikh 19 : 4 – 11

Yosafat mengangkat hakim-hakim
4 Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah, dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 5 Ia mengangkat juga hakim-hakim di seluruh negeri, yakni di semua kota yang berkubu di Yehuda, di tiap-tiap kota. 6 Berpesanlah ia kepada hakim-hakim itu: "Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk TUHAN, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum. 7 Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita." 8 Juga di Yerusalem Yosafat mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewi, dari antara para imam dan dari antara para kepala puak Israel untuk memberi keputusan dalam hal hukum TUHAN dan dalam hal perselisihan. Mereka berkedudukan di Yerusalem. 9 Ia memerintahkan mereka: "Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, demikian: 10 Dalam setiap perkara, yang disampaikan kepada kamu oleh rekan-rekanmu yang tinggal di kota-kota, yakni perkara-perkara mengenai penumpahan darah atau mengenai hukum, perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan hendaklah kamu memperingatkan mereka, supaya mereka jangan bersalah terhadap TUHAN, sehingga murka-Nya menimpa kamu dan rekan-rekanmu. Hendaklah kamu berbuat demikian, dan kamu tidak akan bersalah. 11 Dengan ini imam kepala Amarya diangkat sebagai ketuamu dalam segala perkara ketuhanan dan Zebaja bin Ismael, pemuka kaum Yehuda, dalam segala perkara kerajaan, sedang orang Lewi akan melayani kamu sebagai pengatur. Bertindaklah dengan tegas! Kiranya TUHAN menyertai orang yang tulus ikhlas."

Pemimpin dan Sang Pembaru Kehidupan

Yosafat yang namanya berarti “Tuhan menghakimi”, memperjuangkan kehidupan umat Israel agar berkenan pada Allah. Perjuangan itu dilakukannya dengan pertama-tama mengunjungi daerah-daerah yang berada di luar Yerusalem. Pengenalan potensi dan persoalan di wilayah-wilayah pemerintahan menentukan keberhasilan. Ia memerankan figur seorang pemimpin yang tidak tinggal duduk dan mendengar saja, tapi mendatangi serta melihat juga mengalami sendiri kenyataan di daerah kekuasaannya. Kedua, ia menyuruh rakyat berbalik kepada tuhan, Allah nenek moyang mereka. Seruan pertobatan disampaikan agar hidup beriman umat diselamatkan dari pengaruh kepercayaan asing. Ketiga, sang reformator Israel ini membuat pembaruan dalam sistem peradilaan, baik umum maupun keagamaan.  Ia menempatkan hakim-hakim yang saleh di seluruh negeri dan mendirikan semacam peradilan tinggi di Yerusalem (ayat 8 – 11). Sistem peradilan Israel didasarkan pada perintah Allah, agar semua orang diperlakukan sama, tanpa memperhitungkan kedudukan mereka dalam masyarakat. Oleh sebab itu kepada hakim-hakim ini, Yosafat berpesan supaya mereka takut Tuhan, bertindak benar, tegas dan ikhlas. Selain itu tak boleh berlaku curang atau memihak serta tidak menerima suap. Mereka haruslah memastikan bahwa seluruh umat Tuhan mengalami rasa keadilan. Kita pun terpanggil untuk terus berjuang membela hidup agar pertobatan dialami oleh mereka yang melakukan kesalahan dan keadilan dapat dialami baik dalam lingkup keluarga, gereja maupun masyarakat bangsa dan Negara. Hindarilah hidup dengan cara “memandang muka” atau pilih kasih, sebab Tuhan itu baik kepada semua orang.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami menjadi pembaru kehidupan. Amin.

Kamis, 11 Agustus 2022                          

bacaan : 2 Tawarikh 20 : 1 – 15

Kemenangan atas Moab dan Amon Akhir pemerintahan Yosafat
Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. 2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. 3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. 4 Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. 5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru 6 dan berkata: "Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. 7 Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? 8 Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu. Kata mereka: 9 Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. 10 Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya. 11 Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami. 12 Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." 13 Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka. 14 Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, 15 dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

Takut..? No…!

“Jangan kamu takut, Aku adalah. Itu Tuhan janji, biar ingatlah…Bahkan tiada pernah.”  Dua Sahabat Lama nomor 173 ini ingin berpesan kepada kita untuk selalu ingat pada janji Tuhan. Ia selalu bersama kita, tidak akan pernah meninggalkan. Oleh sebab itu, sekalipun ada banyak tantangan dan cobaan menghadang, tetaplah percaya pada-Nya dan jangan takut. Hari ini, kita belajar dari kisah Yosafat raja Yehuda beserta rakyatnya. Moab dan Amon adalah dua bangsa besar yang maju berperang melawan mereka. Kekuatan dua bangsa ini benar-benar menjadi ancaman bagi Yosafat dan rakyatnya sehingga membuat Yosafat takut. Yosafat bukanlah tipa pemimpin yang melarikan diri sekalipun sedang dilanda ketakutan. Kesadarannya sebagai pemimpin tidaklah sirnah. Ia harus bertindak melakukan sesuatu demi membela dan memperjuangkan kehidupan rakyatnya. Tindakkan membela kehidupan dilakukannya dengan  mencari Tuhan, mengajak seluruh rakyatnya untuk berpuasa dan bersama rakyatnya berdoa dengan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan sampai akhirnya Tuhan menjawab doa mereka. Dalam jawaban-Nya, Tuhan berpesan agar Yosafat tidak takut karena Tuhan-lah yang akan berperang menggantikannya.

Selagi kita masih di dunia ini, ada saja masalah menghampiri kita. Jangan takut, belajarlah dari Yosafat. Carilah Tuhan dan serahkan segala masalahmu kepada-Nya di dalam doa. Jangan andalkan kekuatan diri atau mencari pertolongan pada kekuatan lain di luar Tuhan, karena semua itu hanya sementara dan sia-sia adanya. Ajaklah keluarga dan handai taulan untuk menopangmu dalam doa. Ibarat tungku, semakin banyak kayu semakin besar nyala apinya dan masakanpun akan cepat matang. Nantikanlah jawaban-Nya dengan sabar. Ingat janji Tuhan, jangan Takut..!!!

Doa: Kiranya kami tetap meyakini janji-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 12 Agustus 2022                            

bacaan : 2 Raja-Raja 5 : 8 – 16 

8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel." 9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. 10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir." 11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: "Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! 12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. 13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir." 14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. 15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"

Tuhan Menghendaki Kerendahan Hati dan Ketaatan

Naaman, bukan saja orang penting dan terpandang karena kedudukkannya sebagai panglima raja Aram, tetapi juga karena dia merupakan orang yang mendapat tempat khusus  di hati raja. Ia juga mendapat perkenaan Tuhan sehingga sering membawa kemenangan bagi Aram dalam perang. Sayangnya dia menderita penyakit kusta, yang pada waktu itu belum ada penawarnya. Kisah penyembuhannya melibatkan banyak orang, mulai dari pelayan sampai pemimpin negara.

Hampir saja tujuan Naaman ke Israel gagal total, karena dia menganggap bahwa dengan kuasa dan uang, kesembuhan dapat diperoleh. Dia sangsi dan merasa terusik dengan cara yang disampaikan Elisa melalui orang suruhannya. Dia berharap Elisa akan melakukan ritual yang spektakuler untuk kesembuhannya. Untung saja pegawai-pegawainya meyakinkan Namaan untuk ikut saja saran Elisa. Akhirnya Naaman pun sembuh.

Ketaatan Namaan melakukan kehendak Tuhan lewat hamba-Nya, Elisa, serta kerendahan hatinya untuk mendengarkan saran pelayan dan pegawainyalah yang membuatnya sembuh. Maka Naaman pun mengungkapkan pengakuan tulusnya: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”

Dari kisah Naaman kita belajar beberapa hal:

  • Hargailah pendapat orang lain, sekalipun itu seorang anak kecil, karena Tuhan dapat memakai mereka sebagai alat untuk memberitahukan kehendak-Nya.
  • Ada banyak hal baik yang hendak Tuhan nyatakan dalam kehidupan, namun kita sendirilah yang terkadang membuat susah sebab lebih yakin pada kekuatan dan pikiran sendiri.
  • Jangan lupa mengagungkan Tuhan dan bersyukur atas setiap kebaikan-Nya bagi kita.

Doa:   Tuhan, sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah seperti Engkau, karena itu aku mau tetap taat kepada-Mu. Amin.

Sabtu, 13 Agustus 2022                                       

bacaan :  Amos 5 : 7 – 13

Melawan perkosaan keadilan
7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 8 Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi--TUHAN itulah nama-Nya. 9 Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. 10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, --sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. 12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

Jadilah Duta Keadilan

Brandon, berceritera kepada saya tentang  tetangganya Jodi, yang rumahnya persis bersebelahan dengan dia. Ia juga bercerita tentang Jona yang masih punya hubungan keluarga dengannya dan rumah mereka berjarak kurang lebih 200 meter. Suatu hari terjadi masalah antara mereka berdua hingga sampai ke tingkat pengadilan. Jodi berharap Brandon akan berpihak kepadanya karena mereka tetangga dekat. Sementara Jona berharap Brandon akan memihak dirinya karena selain tetanggaan, mereka masih punya hubungan keluarga. Kalaupun tidak berpihak setidaknya netral. Brandon agak bingung juga. Kebingungannya itu diatasi dengan membaca renungan  tentang Amos 5:7-13 yang mengisyaratkan untuk  berpihak kepada yang benar.

Saudaraku, banyak orang yang berpikir bahwa berlaku netral adalah sama dengan berlaku adil. Padahal berlaku adil adalah berpihak kepada yang benar. Kisah Brandon dan nas hari ini menegaskan beberapa pesan yang dapat kita jadikan pelajaran:

  • Jangan mengubah keadilan menjadi ipuh (=racun) dan menghempaskan kebenaran ke tanah. Artinya bahwa keadilan dan kebenaran itu harus dihargai, dijunjung tinggi dan dilakukan.
  • Kita wajib menegur mereka yang melakukan ketidakadilan, sekalipun karenanya dibenci.
  • Jangan menindas yang lemah, dan membuat orang miskin semakin miskin.
  • Jangan membeli keadilan atau memberi suap agar mendapat keadilan.
  • Bagi yang diberi kedudukan sebagai “petinggi”, entah itu di masyarakat atau dalam kehidupan bergereja, jangan pergunakan  kedudukan atau jabatan untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan mereka yang miskin.
  • Jadilah Duta Keadilan di masyarakat dan dalam kehidupan bergereja. Tuhan memberkati kita untuk melakukan tugas ini.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk menjadi duta-duta Keadilan-Mu.. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 31 Juli – 6 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu I : “Aku Berubah dan sesuai dengan kehendak Allah”

Senin, 01 Agustus 2022                             

bacaan : 2 Samuel 12 : 18 – 23

18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!" 19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." 20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!" 22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. 23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

Perubahan Total

Kematian merupakan realitas yang membawa kesedihan dan duka bagi setiap orang yang mengalaminya. Para pegawai  menyangka bahwa Daud akan mengalami hal tersebut ketika ia mengetahui anaknya meninggal. Respon yang diberikan Daud ternyata sebaliknya dan sangat jauh berbeda ketika anaknya sakit. Selama 7 hari Daud meratap dan berpuasa. Namun setelah anak itu meninggal, Daud tidak lagi menangis. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap dan makan. Apakah Daud tidak berduka? Mungkinkah ia senang dengan kematian anaknya? Perubahan pada sikap Daud menunjukkan bahwa ia sementara membentuk frame (bingkai atau cara) berpikirnya secara baru tentang kematian dan tidak bisa dilepaskan dari penderitaan sakit yang sebelumnya telah di alami oleh anak tersebut. Kematian dipahami Daud bukan sebagai suatu keadaan penderitaan yang paling sulit atau sebagai puncak penderitaan. Kematian merupakan suatu keadaan baru atau kemenangan bagi anaknya dari penderitaan. Anak Daud tidak lagi hidup dalam kesakitan yang membelenggu dan membawanya pada penderitaan. Realitas kematian diresponi Daud dengan sikap mengucap syukur kepada Tuhan Allah. Ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan menyembah-Nya. Pengucapan syukur Daud disertai dengan pengakuan imannya kepada Allah yang memiliki otoritas penuh terhadap kehidupan manusia. Daud tidak membantah kenyataan atau apa yang dilakukan oleh Allah. Ia tetap taat dan hidup mengikuti kehendak Tuhan. Perubahan cara berpikir memang seharusnya terjadi searah juga pada perubahan sikap. Kita adalah orang beriman, karena itu tidak bisa hanya mengalami perubahan pada  satu dimensi saja. Keutuhan kita sebagai manusia menuntut terjadinya perubahan secara menyeluruh. Perubahan yang menyeluruh menjadikan kita hidup sebagai umat kepunyaan Tuhan yang hidup dalam kelimpahan dan  kehendak-Nya 

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk sungguh-sungguh mau berubah. Amin.

Selasa, 02 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 5 : 27 – 32

Lewi pemungut cukai mengikut Yesus
27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Dukunglah Perubahan!

Seperti biasanya pelayanan perkunjungan itu berlangsung dari satu rumah ke rumah jemaat yang lain. Tak terkecuali, rumah bapak Agus yang berada di ujung jalan itu. Sekelompok pelayan masuk ke rumahnya dan diterima dengan tawa ringan. Selesai berdoa, salah satu ibu mulai berbicara dan menyampaikan hal-hal tentang kebutuhan pelayanan gereja. Tiba-tiba pa Agus memberi respon dengan mengatakan: “bapak  dan ibu pelayan, jika tidak berkeberatan, saya ingin mengajukan diri menjadi pengasuh SMTPI jemaat ini.” Para pelayan yang mendengar jawabannya menjadi kaget sekaligus tersenyum bahagia, karena maksud pastoral yang disampaikan oleh mereka mendapat sambutan baik dari pak Agus. Perilaku pak Agus di lingkungannya dikenal suka miras namun ramah. Ia adalah seorang yang berlatar belakang pendidikan tinggi teologi dan memiliki karakter yang baik dalam membina anak-anak. Beberapa pengasuh yang lain saat mengetahui pak Agus hendak menjadi pengasuh segera menyampaikan ketidaksetujuan mereka. Alasannya bahwa Pak Agus adalah seorang pemabuk. Pemikiran yang sifatnya sangat subjektif ini sama dengan yang dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka begitu mudah menilai dan menghakimi seseorang. Padahal setiap orang memiliki hak untuk memutuskan jalan hidupnya, termasuk perubahan hidup yang harus dilakukan. Ketika orang Lewi memutuskan meninggalkan sesuatu dan mengikuti Yesus, maka saat itu menjadi langkah awal baginya untuk berubah dan hidup taat mengikuti kehendak Tuhan. Siapapun seharusnya dapat menerima dan memberi dukungan bagi suatu perubahan hidup yang hendak terjadi sama seperti orang Lewi. Sebab, baik atau tidaknya seseorang bukan hanya bergantung pada keinginan orang tersebut untuk berubah, melainkan juga pada diri kita yang berada di sekitarnya. 

Doa: Ajarlah kami untuk menjadi orang-orang beriman yang mendukung  terjadinya perubahan hidup orang lain. Amin.

Rabu, 03 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Tawarikh 13 : 1 – 12

Raja Abia
Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam menjadi rajalah Abia atas Yehuda. 2 Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan Yerobeam. 3 Abia memulai perang dengan pasukan pahlawan-pahlawan perang, yang jumlahnya empat ratus ribu orang pilihan, sedangkan Yerobeam mengatur barisan perangnya melawan dia dengan delapan ratus ribu orang pilihan, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. 4 Lalu Abia berdiri di atas gunung Zemaraim, yang termasuk pegunungan Efraim, dan berkata: "Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! 5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? 6 Tetapi Yerobeam bin Nebat, hamba Salomo bin Daud, telah bangkit memberontak melawan tuannya. 7 Petualang-petualang, orang-orang dursila, berhimpun padanya; mereka terlalu kuat bagi Rehabeam bin Salomo, yang masih muda dan belum teguh hati, dan yang tidak dapat mempertahankan diri terhadap mereka. 8 Tentu kamu menyangka, bahwa kamu dapat mempertahankan diri terhadap kerajaan TUHAN, yang dipegang keturunan Daud, karena jumlah kamu besar dan karena pada kamu ada anak lembu emas yang dibuat Yerobeam untuk kamu menjadi allah. 9 Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN, anak-anak Harun itu, dan orang-orang Lewi, lalu mengangkat imam-imam menurut kebiasaan bangsa-bangsa negeri-negeri lain, sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah. 10 Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya, 11 yakni setiap pagi dan setiap petang mereka membakar bagi TUHAN korban bakaran dan ukupan dari wangi-wangian, menyusun roti sajian di atas meja yang tahir, dan mengatur kandil emas dengan pelita-pelitanya untuk dinyalakan setiap petang, karena kamilah yang memelihara kewajiban kami terhadap TUHAN, Allah kami, tetapi kamulah yang meninggalkan-Nya. 12 Lihatlah, pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan terhadap kamu dengan nafiri isyarat-isyarat. Hai orang Israel, jangan kamu berperang melawan TUHAN, Allah nenek moyangmu, karena kamu tidak akan beruntung!"

Lain Dulu, Lain Sekarang

Seorang pendeta dan beberapa temannya semasa SMA bercakap-cakap di suatu rumah kopi.

Pendeta :  Sudah lama kita tidak bertemu. Saya terakhir bertemu dengan anis sekitar 2 tahun lalu di Jogja, saat baru menyelesaikan studi S2

Anis       :  Iya benar. Saya juga kaget waktu itu, sebab kita tak pernah bertemu sebelumnya selama di Ambon.

Bobby    :  eh, tapi bagaimana sehingga kamu sekarang menjadi pendeta? Padahal diantara kita bertiga, kamu yang paling suka bolos sekolah dan malas masuk pelajaran agama. Apakah supaya mudah dapat pekerjaan?

Pendeta :   bukan begitu. Setelah SMA, saya menderita sakit yang lama. Saya terus bergumul mohon kesembuhan dan berjanji jika saya sembuh maka saya akan memberi hidup untuk melayani Tuhan.

Situasi hidup sang pendeta ternyata sangat mempengaruhi terjadinya perubahan. Begitu pula yang terjadi pada raja Abia, ketika ia harus berperang melawan Yerobeam. Peperangan itu telah menimbulkan kesadaran diri untuk bergantung hanya pada Allah pemberi keselamatan. Kita perlu membandingkan kisah Abia menurut Tawarikh ini dengan 1 Raja-raja 15:1-8 (bertutur tentang raja Abia atau Abiam sebagai raja yang hidup dalam dosa). Ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allah. Namun pada saat terjadinya perang antara dirinya dengan Yerobeam, seluruh gaya hidup yang lama itu pun berubah total. Perubahan itu tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri, namun ia juga melakukan perubahan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinannya sebagai raja saat itu. Hidup orang beriman memang harus selalu mengalami perubahan. Situasi apapun yang kita alami, menjadi kesempatan membangun refleksi dalam pengenalan yang sungguh kepada Allah dan mengubah hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Ubahlah kami Tuhan dalam setiap jalan hidup yang  ditapaki. Amin. 

Kamis, 04 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 15 : 11 – 32

Perumpamaan tentang anak yang hilang
11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Rumahku Adalah Keluargaku

Seorang anak korban pelecehan seksual meminta perlindungan dari lembaga pemerhati anak. Ia berharap bisa kembali ke keluarganya dan tetap memiliki rasa aman. Kasus pelecehan seksual yang dialami anak tersebut telah dilakukan oleh seorang anggota keluarga yang hidup. Akibatnya ia kehilangan rasa percaya pada keluarganya sendiri. Keluarga merupakan ruang penting yang tidak hanya menentukan kejelasan identitas seseorang. Namun sebagai tempat yang menjamin keberlangsungan hak-hak hidup individu di dalamnya, termasuk bertumbuh dan terbentuknya nilai-nilai spiritualitas. Keluarga dalam pengertian yang benar ditunjukkan oleh Lukas melalui cerita tentang perumpamaan anak yang hilang. Anak sulung dan bungsu memiliki keputusan yang berbeda untuk masa depan mereka. Sikap mereka terhadap keputusan itu kemudian berdampak pada diri mereka sendiri. Suatu ketika saat hidup yang dijalani mulai dirasakan sangat susah dan menderita, si bungsu pun mengambil keputusan untuk kembali kepada keluarganya. Ia menyadari telah melakukan kesalahan dengan memilih hidup mandiri dan tak mampu menjalaninya secara bertanggung jawab. Satu-satunya tempat yang dapat memahami kelemahannya dan menerimanya kembali yakni keluarganya. Si bungsu kembali kepada ayahnya dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Hidup si bungsu berubah dan turut mempengaruhi terjadinya perubahan hidup juga pada kakaknya. Rasa iri dan ketidaksukaan dari si sulung kepada adiknya dikoreksi oleh ayahnya dengan nasihat yang menegaskan peran dan pengaruh keluarga pada setiap anggota keluarga tanpa membeda-bedakan. Setiap anggota keluarga memang seharusnya bertanggung jawab menjaga keutuhan keluarganya. Untuk itu, setiap anggota keluarga seharusnya mengedepankan sikap mau menerima dalam berbagai keadaan supaya persekutuan keluarga dapat tetap terpelihara dengan baik.

Doa: Tuntunlah kami dengan Roh dan Hikmat-Mu untuk hidup dalam keluarga   yang saling menerima. Amin.

Jumat, 05 Agustus 2022                                     

bacaan : Yunus 2 : 1 – 10

Doa ucapan syukur Yunus
Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. 4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? 5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku. 7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" 10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Jiwaku Lesu di “Titik Terjauh”

Nabi Yunus berkata dalam doanya “ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan…”

Perkataan Nabi Yunus ini serupa dengan sepenggal lirik lagu KJ. 237, yakni: “…jiwa yang letih lesu mendengar panggilan-Mu…”.

Kedua kalimat ini menggambarkan suatu situasi hidup yang paling melemahkan dan membawa pada ketidakberdayaan bagi seseorang. Hal ini tidak hanya menunjuk pada tubuh orang tersebut secara fisik. Kata “jiwa” dipakai oleh Yunus untuk menunjuk pada seluruh eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang tidak mampu diatasi sendiri atau juga dengan pertolongan manusia yang lain. Ia mengakui kebersalahannya dengan mengingkari panggilan Tuhan. Yunus tidak pergi ke Niniwe sesuai perintah Tuhan, namun melarikan diri ke Tarsis. Akibatnya, Tuhan mendatangkan badai yang besar dan Yunus harus dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain. Yunus mengingat Tuhan, ketika sudah berada dalam perut ikan. Ia berdoa dengan iman yang sungguh dan meyakini bahwa Tuhan Allah tidak jauh sekalipun Yunus berada di titik terjauh. Tuhan Allah pun pasti bisa mendengar sekalipun ia berada di dalam “dunia orang mati”, sebagai tempat yang jauh, sunyi dan tak bisa diketahui oleh siapapun. Doa Yunus ini merupakan sebuah reflkesi iman yang mendorong terjadinya perubahan hidup Yunus. Sebagai orang beriman, kita membutuhkan suatu situasi terendah dalam kehidupan yang kita jalani guna memantik kesadaran diri sebagai murid Tuhan atau saksi-Nya. Evaluasi dan transformasi hidup secara radikal pun akan terjadi akibat situasi yang paling gelap itu. Untuk itu, sebaiknya kita menyikapi kondisi hidup yang tak menyenangkan hingga yang dianggap paling menyusahkan dengan iman yang sungguh kepada Tuhan. Sebab kita pasti dapat menghitung berkat Tuhan yang tak terkira di balik seluruh peristiwa hidup.

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memaknai seluruh keadaan hidup dengan iman yang sungguh. Amin.  

Sabtu, 06 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 4 : 28 – 37

28 Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; 29 sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, 30 berkatalah raja: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" 31 Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; 32 engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!" 33 Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. 34 Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. 35 Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: "Apa yang Kaubuat?" 36 Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. 37 Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.

Pindah Keyakinan Karena Otoritas Tuhan

Sekarang ini banyak sekali dijumpai dalam berbagai bentuk media pemberitaan tentang berpindahnya seseorang dari agama A ke agama B. Isi pemberitaan ini disampaikan dengan kisah-kisah yang menarik dan sangat memancing emosi pembaca atau penontonnya. Suatu ketika seorang bapak yang cukup fanatik dalam menjalani kehidupan beragamanya mempertanyakan kebenaran berita tersebut, katanya : apakah berpindah agama semudah seseorang hendak melakukan perjalanan dari kota A ke kota B dan ia hanya perlu membeli tiket atau membayar ongkos transportnya saja? Sikap mempertanyakan perubahan yang terjadi pada diri seseorang apalagi berkaitan dengan hal yang sifatnya prinsip yakni tentang keyakinannya memang merupakan suatu kewajaran. Hal ini pun menolong setiap orang untuk menganalisa benar tidaknya perubahan tersebut sambil memberi catatan evaluatif yang memberi makna bagi diri sendiri. Kisah perubahan hidup Raja Nebukadnezar dalam nas bacaan hari ini mungkin pula membuat kita bertanya, mengapa sang raja berubah kepercayaannya? Alangkah baiknya kita membaca keseluruhan cerita tentang Raja Nebukadnezar. Otoritas Tuhan merupakan kekuasaan yang paling tinggi dan harus diakui serta diterima oleh siapapun termasuk Raja Nebukadnezar. Itulah pesan utama dari cerita tentang perubahan hidup Raja Nebukadnezar. Ketika sang raja mengalami hal yang sama dengan mimpinya, ia sadar bahwa Tuhan berdaulat atas dirinya. Otoritas Tuhan kemudian meruntuhkan seluruh keegoisan sang raja. Ia harus mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang terbatas sekalipun memiliki kekuasaan yang luas dan posisi yang paling tinggi dari antara manusia lainnya. Sebab ketika Tuhan berkehendak, maka jadilah seperti yang dikehendaki-Nya. Hidup di dalam otoritas Tuhan merupakan cara kita yang adalah orang beriman untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya

Doa: Kami ingin hidup dalam otoritas-Mu ya Tuhan. Amin.

*SUMBER : SHK AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Juli 2022

Tema Bulanan : “Kasih Kristus Menguatkan Daya Juang Untuk Transformasi Hidup

Tema Mingguan : “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan

Minggu, 24 Juli 2022                                         

bacaan : Lukas 12 : 13 – 21

Orang kaya yang bodoh
13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." 14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" 15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." 16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Tuhan Menyediakan, Bermurah Hatilah

Yesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Hal ini disampaikan sebagai pengajaran kepada pendengar-Nya ketika seorang dari antara mereka yang memohon untuk menyelesaikan perkara warisan orang ini bermaksud supaya saudaranya mau membagi harta warisan. Ia datang memohon agar Yesus mengumpulkan baginya harta duniawi. Yesus kemudian memberi kepadanya pemahaman yang benar tentang keinginan akan harta duniawi. Yesus datang bukan supaya manusia mengumpulkan baginya harta duniawi yang pada saatnya akan ditinggalkannya namun supaya setiap orang menjadi pewaris kerajaan sorga. Maksudnya agar orang mengumpulkan harta di sorga yang tidak akan termakan ngengat. Seorang terkaya di dunia yaitu Jhon D. Rockefeller pernah di tanya oleh reporter televisi “how much is enough?” (“seberapa banyak lagi uang atau harta yang kau butuhkan?”) karena dia sudah menjadi orang terkaya di dunia saat itu, dan dia berkata “just a lillte bit more” (“sedikit lagi”). Inilah buktinya walaupun seseorang sudah memiliki banyak harta kekayaan, tetap saja tidak ada kata cukup. Yesus memberikan perumpamaan tentang ketamakan itu seperti seorang yang merasa senang dan aman karena memiliki lumbung yang besar untuk menyimpan kekayaannya, namun kesenangannya itu tidak bertahan lama sebab malam itu juga Tuhan mengambil jiwanya. Jangan pernah kita mengkuatirkan akan hari esok, sebab Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan. Biarlah hatimu dikuasai Tuhan untuk menjadi orang yang bermurah hati, memberikan hidup dan apapun yang ada pada kita menjadi kemuliaan Tuhan.

Doa: Tuhan tolonglah kami menjadi orang yang bermurah hati. Amin

Senin, 25 Juli 2022                                         

bacaan : Matius 23 : 25 – 26

25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Berbeda Dengan Kebanyakan Orang

Tiga orang hamba dipercayakan harta tuan mereka. Hal ini menempatkan ketiga hamba itu sebagai orang kepercayaan sang tuan untuk mengelola harta. Mereka diberikan otoritas dari sang tuan untuk memutuskan apa yang perlu guna mengusahakan harta tuan mereka. Mereka bukan lagi hamba biasa, tetapi wakil dari tuan mereka. Betapa besarnya tuan mereka menghargai mereka. Tuan mereka memberikan penghargaan besar kepada ketiga orang hamba itu. Mendapatkan kepercayaan besar seperti itu tentu seharusnya membuat para hamba itu gentar. Mereka seharusnya merasa tidak layak dan mereka seharusnya mengerjakan apa yang dipercayakan kepada mereka dengan tekun, takut, dan gentar. Mereka sadar bahwa tuan mereka mengambil risiko sangat besar dengan memercayakan mereka uang. Tuan itu meletakkan usahanya untuk maju atau hancur di tangan para hamba ini. Tetapi hamba yang ketiga menghina penghormatan yang diberikan oleh tuannya itu. Dia tidak gentar karena dia tidak menghormati tuannya sehingga penghormatan yang diberikan tidak dianggap olehnya. Kepercayaan itu mahal harganya tidak mudah untuk orang bisa percaya dengan kita, apalagi kalau urusannya sudah menyangkut dengan uang, banyak orang yang jatuh juga karena masalah uang dan banyak juga orang yang tidak jujur dalam mengelola uang. Kita harus berbeda dengan kebanyakan orang menjaga kepercayaan itu dan tidak bersikap tamak dan serakah maka kita akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia (bd.Amsal 3:4)

Doa:  Ya Tuhan, Beri kami kebijaksanaan untuk selalu menjaga kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami, sehingga itu berbau harum di hadapan-Mu. Amin.

Selasa, 26 Juli 2022                                                

bacaan : Amsal 15 : 27

27 Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup.

Andalkan Hikmat Allah Dalam Seluruh Kerjamu

Kata suap berkonotasi negatif yaitu pemberian atau hadiah berupa barang/uang yang diberikan dengan hati yang tidak tulus, tamak dan curang. Suap diberikan dengan maksud yang salah. Misalnya saja untuk mendapatkan keuntungan yang sudah jelas itu bertentangan dengan hukum. Siapa loba akan keuntungan gelap mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup. Suatu hari seorang arab lewat dan karena lapar ia memutuskan mampir di restoran milik orang yahudi dan memesan sandwich, pada saat itu orang arab sedang bermusuhan dengan orang Yahudi. Pemilik resto mengambil keputusan untuk memberikan orang arab itu makanan dengan syarat tagihannya dua kali lipat. Si orang arab pun makan dan hari-hari selanjutnya si arab ini kembali dengan banyak teman dan pemilik restoranpun tetap menaikan tagihan bahkan sampai empat kali lipat. Si arab pun tetap memuji makanan restoran itu dan membayar bahkan memberikan uang tip lebih. Keesokan harinya di pintu resto terpampang tulisan dengan bunyi, maaf tidak menerima pelanggan orang yahudi, khusus orang arab. Kita rasanya pernah berkata pada diri sendiri, biar susah-susah beta akan kasih hidup beta punya keluarga dari beta pung kerja yang beta lakukan dengan dua tangan dan dengan karingat yang jatuh. Namun situasi dapat berubah saat persoalan tak dapat diselesaikan. Semua cara ditempuh, akal bulus pun dipakai asal dapat memenuhi tuntutan hidup. Amsal mengingatkan bahwa rumahtangga akan mengalami keburukkan sebagai akibat “kerja kotor”. Karena itu bekerjalah dengan cara yang berkenan pada Tuhan.

Doa:  Kiranya Roh hikmat menuntun kita dalam melakukan setiap pekerjaan secara benar. Amin.

Rabu, 27 Juli 2022                                                   

bacaan : Ibrani 13 : 5a

5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Hiduplah Dalam Kecukupan

Suatu kesalahan dan kesesatan terbesar yang dilakukan manusia ialah tatkala ia berjuang dengan segala cara untuk menikmati kekayaan sehingga memperhambakan diri kepada kekayaan (uang). Lalu ia berdoa kepada TUHAN agar memenuhi hasratnya.  Tindakkan seperti ini salah dan sesat. Segala bentuk kejahatan adalah akibat dari cinta akan uang lalu orang-orang menyimpang dari kebenaran. Hal ini terjadi bukan saja pada pihak tertentu tetapi pada semua kalangan, termasuk orang Kristen. Akibatnya buruk, tidak heran jika kekristenan menjadi fenomena yang “kering”. Menghambakan diri kepada uang adalah bentuk ketidakpuasan atas apa yang Allah beri dalam hidup kita. Menghambakan diri kepada uang adalah bentuk ketidakpercayaan sekaligus bentuk penyerahan diri yang tidak seutuhnya pada pemeliharaan Allah dalam kecukupan yang sejati. Pemeliharaan Allah dalam kecukupan yang sejati itu memungkinkan kita untuk menikmati hidup dalam kebahagiaan. Hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur. Bila hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur, maka dalam segala keadaan kita dapat berkata cukup. Tak dapat disangkali bahwa uang itu penting tetapi bukan segala-galanya. Uang tidak dapat membeli sukacita, kebahagiaan, ketenangan apalagi keselamatan jiwa. Karena itu siapa cinta uang tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia (bd. Pengkhotbah 5 : 9). Karena itu jaga hati supaya tidak terfokus pada harta dan kekayaan yang pada gilirannya menjadikan kita hamba uang dan orang-orang yang tidak pernah merasa berkecukupan.

Doa: Tuhan jadikanlah kami orang-orang yang sungguh mempercayakan seluruh hidup dalam pemeliharaan-Mu yang berkecukupan. Amin

Kamis, 28 Juli 2022                                            

bacaan : 2 Petrus 2 : 1 – 3

Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. 2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. 3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

Teguh Dalam Ajaran Yang Benar

Bermuka dua dalam istilah kerennya artinya palsu. Semua kita pernah menemukan itu, kalau ada yang asli pasti ada yang palsu. Orang-orang dengan tipe seperti ini sangat berbahaya sebab ibarat musuh dalam selimut. Karena itu kita harus mengenali sungguh-sungguh ciri-ciri orang tersebut. Hal-hal yang palsu ini selalu saja ada dalam keseharian kita mulai dari benda-benda sampai kepada teman tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada pada mereka yang tampil sebagai pengajar. Dampak yang ditimbulkan dari hal-hal yang palsu itu sangat merugikan, sangat menyesatkan karena segala sesuatu   direkayasa. Karena itu mengenali ciri-ciri kepalsuan itu penting supaya tidak terjebak dan pada akhirnya tersesat dalam rupa-rupa pengajaran yang sesat. Mereka yang palsu rata-rata tidak tulus, merendahkan orang, senang bila orang jatuh, senang melakukan sesuatu hanya untuk mencari popularitas. Petrus memberikan gambaran bagi kita tentang bagaimana mengenal nabi-nabi palsu itu. Pengajaran nabi-nabi palsu kelihatannya Alkitabiah tetapi sebenarnya tidaklah berfokus pada Tuhan Bahkan nabi-nabi palsu ini akan membuat jemaat Tuhan menyangkal Yesus Kristus yang telah menebus mereka. Nabi-nabi palsu ini akan berusaha mencari keuntungan dengan ajaran-ajaran yang disebarkan. Rasul Petrus mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam ajaran-ajaran para nabi palsu sebab akan membawa pada kebinasaan. Bila  pengakuan iman kita tidak sejalan dengan ajaran dan cara hidup, maka mari selidiki diri agar terhindar dari kemalangan.

Doa: Tolong kami dengan kuasa roh-Mu agar dalam setiap pengajaran yang kami sampaikan itu hanya berdasarkan kehendak-Mu. Amin

Jumat, 29 Juli 2022                                       

bacaan : Bilangan 11 : 31 -35

Burung puyuh
31 Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. 32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu--setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer--,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan. 33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. 34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. 35 Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ.

Rakus Membawa Celaka

Makan berlebihan dapat membahayakan bagi Kesehatan tubuh. Sebutan lain dari makan berlebihan adalah kerakusan. Akibatnya beragam; memicu obesitas, meningkatnya risiko terjadinya penyakit-penyakit kronik bahkan dapat menimbulkan masalah mental. Kerakusan adalah pemberhalaan perut dengan mengkonsumsi apa saja yang dapat memuaskan hasrat dan memberikan kenikmatan tanpa memikirkan risiko. Ada orang yang menganggapnya biasa. Ternyata kerakusan adalah sebuah dosa karena itu mengakibatkan rusaknya tatanan hidup.

• Kerakusan itu merusak pola hidup sehat. Manusia tidak lagi makan untuk hidup tetapi hidup hanya untuk makan.

• Merusak kepekaan, kepedulian dan rasa untuk berbagi dengan sesama, yang ada hanya bagaimana soal memenuhi hasrat.

• Orang rakus itu pertanda bahwa ia sementara mengalami krisis iman, ia tidak percaya kepada ALLAH sebagai sang pencipta tetapi juga sang pemelihara kehidupan.

Berjalan dengan iman ternyata tidak mudah. Kita terkadang melihat segala sesuatu lancar dan tidak ada masalah. Padahal Allah punya cara sendiri memimpin dan memelihara umat-Nya. Pengembaraan bangsa Israel dalam perjalanan ke Kanaan dengan membanding-bandingkan dan merindukan makanan dan minuman di Mesir yang lebih baik walaupun diperbudak maka Allah mendatangkan burung puyuh sebagai makanan mereka dan sesuai janjiNYA sebulan penuh umat akan makan dari puyuh itu. Namun ada saja yang rakus dan serakah dan hal ini mendatangkan tulah dari Allah, sehingga banyak dari mereka yang mati. Dari hal ini kita diajarkan bahwa berkat yang terbaik dan termulia itu adalah pemberian TUHAN. Belajarlah menyukai semua hal yang TUHAN berikan karena TUHAN tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita. Jangan tambahkan benih persungutan, benih dosa, tidak beriman, tidak bersyukur, karena dengan demikian kita akan jatuh, celaka, dan kehilangan kemuliaan TUHAN. Nikmatilah secukupnya dengan rasa syukur maka terpenuhilah hasrat kita.

Doa: Ajarlah kami hikmat-Mu agar kami tidak menggunakan berkat-Mu untuk memenuhi hasrat dan kepentingan sendiri. Amin

Sabtu, 30 Juli 2022                                       

bacaan : 1 Timotius 6 : 9 – 10

9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Akar Segala Kejahatan Ialah Cinta Uang

Dalam sebuah pertemuan dengan seorang hamba Tuhan dia katakana bahwa orang yang mau hidup miskin di dalam dunia ialah hamba TUHAN. Alasannya sederhana karena pada prinsipnya seorang hamba hanya menjalankan apa yang diperintahkan tuannya. Ironisnya dunia hari ini mana ada orang yang mau hidup miskin dan susah?  Semua orang mau hidup enak dan kaya. Kalau miskin mau ini dan itu susah, tetapi jika kaya semua bisa. Agaknya hal tersebut manusia di abad modern ini.  Praktek tipu-tipu adalah sarana menuju pemenuhan hasrat menjadi kaya. Awalnya mempesonakan dengan kabar-kabar yang memikat, penuh rayuan dan janji.  Semua orang dibuat terlena, terbuai dan hanyut. Semua orang dijadikan mesin pemuas hasrat dan setelah semua hasrat terpenuhi maka janji dan semua kata-kata yang manis berubah menjadi kebohongan yang menyisahkan kebencian dan permusuhan.  Salah satu pernyataan Tuhan yang paling mengejutkan bahwa sebenarnya hampir tidak mungkin bagi seorang kaya untuk masuk kerajaan surga karena tidak sedikit mereka yang mengejar kekayaan jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (ayat 10). Tujuan dan kepuasan orang yang mengejar kekayaan akan berpusat pada hal mementingkan diri dan hasratnya oleh harta dan kekayaan dan tidak lagi berpusat pada Allah.

Doa : Kami membutuhkan kekayaan sejati yang hanya datang dari-Mu Tuhan, tolong kami agar mampu menebarkan kasih dengan tidak mengabaikan iman  yang menyelamatkan kami agar kehidupan rohani kami indah di mata-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Juli 2022

Tema Bulanan : “Kasih Kristus Menguatkan Daya Juang Untuk Transformasi Hidup

Tema Mingguan : “Hidup di dunia tapi tidak duniawi

Minggu, 17 Juli 2022                                

bacaan : 2 Korintus 10 : 1 – 11

Sikap Paulus
Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. 2 Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi. 3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, 4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, 6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna. 7 Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia. 8 Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu. 9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku. 10 Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti. 11 Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.

Hidup di Dunia Tapi Jangan Duniawi

Ikan air laut selalu terasa tawar, meskipun lahir dan hidup di dalam laut. Lahir dan hidup di dalam air laut yang asin tidak membuat daging ikan terasa asin. Dalam bahasa yang sederhana, hidup di laut yang asin tapi tidak menjadi asin. Rasul Paulus, lewat bacaan ini hendak menegaskan Jemaat di Korintus untuk hidup di dalam dunia tapi jangan menjadi duniawi. Ia hendak menyadarkan orang-orang Kristen bahwa selama kita hidup di dunia baiklah perjuangan hidup kita tidak secara duniawi. Artinya, janganlah hal-hal yang duniawi mempengaruhi dan menguasi hidup kita atau mengubah hidup menjadi manusia dunia. Perjuangan hidup orang Kristen di dunia haruslah berlangsung di dalam Kristus, yakni dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah. Paulus telah menunjukkan keteladanan tentang hidup yang tidak duniawi. Ia memilih untuk tidak menyelesaikan masalah antara dirinya dengan sejumlah orang secara fisik atau kekerasan. Hidup di dunia tak mumngkin tanpa masalah karena itu penyelesaiannya harus dilakukan dengan cara damai. Kekerasan tak boleh dipakai untuk menyelesaikan konflik atau terganggunya relasi di antara seorang dengan yang lainnya. Hidup sebagai umat milik Kristus haruslah berlangsung dalam damai, cinta kasih, rukun, harmonis, dan persaudaraan. Inilah maksudnya, kita memang lahir dan hidup di dunia namun itu tidak berarti kita menjadi manusia duniawi. Manusia duniawi hidup sebagai pembuat masalah atau keonaran, penuduh yang tak mengakui kelebihan orang lain serta ingin menang sendiri. Kita terpanggil untuk memelihara hidup dan mengubah dunia dengan kebaikan bagi kemuliaan Kristus.

Doa: Bapa, tolonglah kami untuk hidup bukan dengan cara yang duniawi. Amin.

Senin, 18 Juli 2022                                              

bacaan : Titus 2 : 11 – 12                                                                               

Kasih karunia Allah menyelamatkan semua manusia
11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. 12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

Hiduplah Sebagai Orang Yang Bijaksana di Dunia ini

Setiap orang yang percaya kepada Kristus harus selalu menyadari bahwa keselamatan telah dianugerahkan dengan Cuma-cuma. Kristus rela mengalami penderitaan dan kematian tapi bangkit dalam kemenangan. Ia menang atas kuasa dosa dan maut lalu menganugerahkannya sebagai keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Demikianlah ungkap Rasul Paulus, sebagaimana disebutkan dalam Titus 2:11-12: anugerah Tuhan Yesus yang menyelamatkan merupakan suatu kasih karunia. Disebut kasih karunia sebab keselamatan yang didapat oleh manusia, khususnya orang percaya, bukan merupakan hasil usaha manusia melainkan inisiatif Tuhan Allah. Tindakan Tuhan Allah yang mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari dosa dimaksudkan untuk mendidik kita agar dpat meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Melalui Firman Tuhan ini, manusia dihadapkan dengan suatu tuntutan, sekaligus kewajiban agar dalam menjalani kehidupan di dunia kita tidak menjalaninya menurut keinginan dunia. Kehidupan duniawi kita sudah dikalahkan, dihancurkan, dan dipatahkan oleh Yesus Kristus dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Hal ini pertanda, kita harus menjalani kehidupan sebagai orang-orang yang sudah ditebus dan diselamatkan dengn selalu hidup bijaksana, yaitu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, bersikap dan berperilaku adil, serta selalu mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan ibadah. Semua orang yang telah diselamatkan menjadi bijaksana atau manusia yang berbeda dari mereka yang tidak percaya kepada Kristus.

Doa: Ya Kristus, layakkanlah kami menjadi orang yang bijaksana. Amin.

Selasa, 19 Juli 2022                                            

bacaan : Yohanes 15 : 19                                                                       

19 Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

Walaupun Dunia Membenci, Saya Tetap Mengikuti Yesus

Dibenci oleh orang lain adalah hal yang tidak di kehendaki manusia dalam hidup ini. Begitu pun sebaliknya, orang lain juga tidak ingin dibenci oleh kita. Biasanya orang yang membenci kita adalah mereka yang memandang dengan curiga dan menilai secara sepihak.  Kita dinilai dan diposisikan sebagai orang yang  tidak; sepaham, sejalan, dan mengikuti mereka. Ada banyak pengalaman bahwa ternyata ketika seseorang tidak sepaham, sejalan, dan tidak mengikuti orang lain atau kelompok tertentu maka orang itu dibenci dan dibuat susah, bahkan dibunuh, seperti yang dialami oeh Yesus Kristus. Bacaan Alkitab ini memuat ucapan Yesus yang menegaskan tentang risiko tidak mengikuti keinginan dunia. Yesus menegaskan bahwa ada dua pilihan yang bertolak belakang, yaitu kalau mengikuti keinginan dunia maka dunia akan mengasihi kita. Sebaliknya, kalau menolak mengikuti keinginan dunia dan memilih mengikut Yesus maka dunia akan membenci kita. Kita adalah orang-orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangitan-Nya. Pilihan Yesus Kristus untuk mengorbankan diri-Nya mati di Salib merupakan suatu keputusan untuk memilih dan menjadikan kita umat pilihan-Nya. Kita dipilih untuk menerima anugerah keselamatan dan kehidupan kekal (bd. Yoh.3:16). Hal ini berarti, kita tidak punya pilihan lain sekarang ini selain tetap setia mengikuti Yesus Sang penyelamat, meskipun karena hal tersebut, dibenci dunia. Tinggalkan keinginan dunia, dan tetaplah setia mengikuti Yesus.

Doa:  Ya Yesus, teguhkanlah hatiku untuk terus mengikuti-Mu meskipun dunia membenciku, amin

Rabu, 20 Juli 2022                                            

bacaan : Kolose 2 : 20 – 23                                                                                

20 Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: 21 jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; 22 semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. 23 Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.

Hiduplah Menurut ajaran, Nasihat dan Perintah Yesus

Nas hari ini menyaksikan upaya Paulus mendorong jemaat di Kolose untuk memahami apa arti dibangkitkan kepada kehidupan baru di dalam Kristus. Hidup baru dialami umat karena anugerah keselamatan yang diterima dari Kristus. Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan usaha manusia. Umat yang telah diselamatkan diminta untuk hidup seturut ajaran, nasihat, dan perintah Yesus. Oleh sebab itu peraturan yang dibuat manusia sekalipun bermanfaat, namun bukanlah syarat memperoleh selamat. Ada sebagian orang percaya di Kolose yang masih beranggapan bahwa hukum-hukum dalam keagamaan. Hal juga tidak berarti pengabaian hukum yang dibuat manusia. Hukum buatan manusia tetap diperlukan untuk menjamin ketertiban dan keteraturan. Hidup baru di dalam Kristus adalah cara hidup yang mentaati kehendak Tuhan. Paulus, melalui bacaan Alkitab ini, memberikan pencerahan kepada orang-orang Kristen di Kolose bahwa hidup di dunia ini memerlukan hukum. Namun, selaku orang percaya yang sudah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus, orang-orang Kristen tidak boleh mengabaikan segala sesuatu yang sudah Yesus ajarkan, nasihatkan, dan lakukan untuk umat manusia. Peraturan dunia memang ada dan perlu tapi jangan sampai orang-orang percaya melupakan dan mengabaikan perkara-perkara di atas yang Yesus sudah ajarkan dan sampaikan kepada manusia. Hiduplah karena kasih karunia dan jadilah orang percaya yang tertib dan teratur serta setia. Bila kita telah menjalani keberadaan sesuai kehendak Yesus, maka hidup yang sejati pasti dialami.

Doa: Ya Yesus, ajarlah kami untuk hidup menurut kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 21 Juli 2022                                         

bacaan : Matius 5 : 13 – 16

Garam dunia dan terang dunia
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Bermakna Seperti Garam dan Terang

Garam memiliki fungsi yang  unik, dapat memberi rasa asin tanpa terlihat. Lihat saja air laut dan air tawar (air biasa). Jika sama-sama dimasukkan ke dalam wadah seperti gelas, nyaris tidak akan ada bedanya. Garam hanya bisa terdeteksi jika dirasakan. Seperti itulah gambaran kita yang Tuhan inginkan. Menjadi anak Tuhan seperti garam, yang mengasinkan dengan larut di dalamnya. Garam tidak berfungsi maksimal ketika berkumpul dengan garam lainnya. Garam akan berfungsi maksimal ketika ia dilarutkan ke dalam benda lain. Garam akan berfungsi ketika dibubuhkan pada sayur yang hambar, sehingga rasanya menjadi lebih enak. Kita pun demikian, ada kalanya kita harus menjadi seperti garam, yang tanpa banyak terlihat  tetapi kehadirannya dirasakan membawa berkat dimanapun kita berada. Tuhan juga memerintahkan kita untuk menjadi terang (ay. 14). Fungsi terang berbeda dengan garam. Jika garam tidak terlihat ketika larut dalam air, terang justru harus terlihat oleh orang lain. Jika kita melihat ayat 14 sampai 16, kita akan mengerti bahwa hidup sebagai terang berarti harus siap dilihat orang banyak. Kehadiran kita harus dapat mengusir kegelapan. Ketika ada terang, maka kegelapan pun akan lenyap. Itulah mengapa kita pun harus mampu melakukan fungsi  sebagai terang, yaitu membawa penerangan bagi lingkungan sekitar. Terang pun jauh lebih berguna di tempat yang gelap. Ketika   ajaran Yesus ini sungguh dihayati, maka Ia akan memampukan kita baik sebagai garam maupun terang. Hidup kita bermakna karena kebusukan dan kehambaran serta kegelapan diatasi.

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami supaya kami selalu bermakna bagi banyak orang dimana pun kami berada. Amin.

Jumat, 22 Juli 2022                                        

bacaan : Yohanes 17 : 6 – 19

6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. 13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. 14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. 16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. 18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

Hidup Sebagai Murid Yesus

Yesus dalam kondisi mempersiapkan perpisahan dengan para murid. Wajar jika seorang guru yang hendak berpisah dengan murid melakukan sesuatu untuk murid yang selama ini selalu mengikut-Nya. Setelah Dia berdoa kepada Bapa mengenai ketaatan dan seluruh tugas pelayanan yang dilakukan-Nya dalam ketaatan dan kesetiaan. Batinnya kemudian tergerak oleh belas kasih. Dia mendoakan para murid kepada Bapa. Bagi Yesus, kita ini adalah milik Bapa. Karena Roh Kudus, kita menuju pada Yesus. Kita tidak mungkin terpisah dengan Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Kesatuan dan kasih ini nyata sangat nampak dalam doa dan penyerahan murid yang dilakukan Yesus kepada Allah Bapa. Yesus meminta agar kita tidak diambil dari dunia yang jahat dan penuh pencobaan ini. Yesus sadar bahwa kita bukan dari dunia ini, kita adalah umat surgawi, milik Allah yang dikuduskan dan dipilih untuk menjadi warga Kerajaan Allah. Namun demikian, Yesus ingin agar Bapa menolong kita melakukan banyak tugas di dunia ini dan terutama agar melindungi kita dari yang Jahat. Yesus memohon agar Bapa menguduskan kita dalam kebenaran. Kebenaran itu ada dalam Firman Tuhan. Firman yang telah menjadi daging yaitu Yesus itu diam di antara kita. Hanya melalui Yesus, kita bisa mengenal Allah dan Firman-Nya. Hari ini kita diingatkan kembali untuk berbalik pada Firman, selalu berpegang teguh pada Firman dan mendekat pada Yesus. Melihat Yohanes 17:6-19, nyata juga penekanan secara konsisten akan identitas kita sebagai murid Kristus. Murid Yesus ada di dunia ini tapi tidak serupa dengan dunia ini.  Allah menguduskan kita

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami untuk selalu berbeda dengan dunia dan  sadar akan keberadaan kami sebagai murid-Mu. Amin.

Sabtu, 23 Juli 2022                                    

bacaan : 1 Yohanes 2 : 15 – 17

15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Tidak Menuruti Dunia

Rasul Yohanes memberi peringatan tentang bahaya yang dapat dialami orang-orang percaya. Karena tinggal di dalam dunia, hati kita bisa begitu melekat pada berbagai hal di dalamnya (ayat 15). Di sini rasul Yohanes tidak sedang menuding suatu gaya hidup tertentu, penampilan tertentu, atau kepemilikan harta dalam jumlah tertentu. Ia sedang berbicara tentang kondisi hati saat umat Tuhan menanggapi apa yang ada di sekitarnya. Kondisi hati yang menganggap bahwa apa yang ditawarkan dunia jauh lebih baik daripada apa yang ditawarkan Tuhan. Seorang duta besar misalnya diutus ke sebuah negara yang sangat berbeda dari negara asalnya. Berbulan-bulan lamanya ia harus beradaptasi dengan bahasa dan budaya di sana. Namun, bayangkanlah jika ia menjadi begitu terpikat dengan nilai-nilai dan tradisi negara tersebut. Ia mulai menganggap negara itu sebagai negaranya sendiri, tentunya akan berdampak kurang baik bagi setiap keputusan yang akan diambilnya karena sudah tidak objektif lagi.  Kita pun demikian hidup di dunia tetapi jangan sampai terpikat dengan nilai-nilai duniawi. Kasih adalah kunci untuk berjalan di dalam terang sesuai dengan panggilan kita. Kita tidak dapat bertumbuh selama masih membenci sesama kita. Pertumbuhan dalam relasi kita dengan Allah akan menghasilkan pertumbuhan dalam relasi kita dengan sesama. Kita harus menjauh dari keinginan-keinginan dunia ini, sehingga kita dapat mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati, oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhan. Mintalah kekuatan dari Tuhan dan alamilah kasih-Nya, sehingga kita dapat mengasihi sesama.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk menjauhi keinginan-keinginan dunia dan tidak terpikat olehnya karena kami hidup di dalam-Mu.  Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2022, LJP-GPM

Santapan Harian Kelurga, 10 – 16 Juli 2022

Tema Bulanan : ” Kasih Kristus Menguatkan Daya Juang Untuk Transformasi Hidup.

Tema Mingguan : “Mengejar kebahagian sejati

Minggu, 10 Juli 2022                                       

bacaan : Mazmur 49 : 1 – 21

Kebahagiaan yang sia-sia
Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur. (49-2) Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian, pasanglah telinga, hai semua penduduk dunia, 2 (49-3) baik yang hina maupun yang mulia, baik yang kaya maupun yang miskin bersama-sama! 3 (49-4) Mulutku akan mengucapkan hikmat, dan yang direnungkan hatiku ialah pengertian. 4 (49-5) Aku akan menyendengkan telingaku kepada amsal, akan mengutarakan peribahasaku dengan bermain kecapi. 5 (49-6) Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku, 6 (49-7) mereka yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka? 7 (49-8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, 8 (49-9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya-- 9 (49-10) supaya ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur. 10 (49-11) Sungguh, akan dilihatnya: orang-orang yang mempunyai hikmat mati, orang-orang bodoh dan dungupun binasa bersama-sama dan meninggalkan harta benda mereka untuk orang lain. 11 (49-12) Kubur mereka ialah rumah mereka untuk selama-lamanya, tempat kediaman mereka turun-temurun; mereka menganggap ladang-ladang milik mereka. 12 (49-13) Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. 13 (49-14) Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Sela 14 (49-15) Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka. 15 (49-16) Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku. Sela 16 (49-17) Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, 17 (49-18) sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia. 18 (49-19) Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, 19 (49-20) namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya. 20 (49-21) Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.

Berbahagialah Mereka Yang Mengandalkan Tuhan

Kita memang tak dapat pungkiri bahwa materi, kekuasaan, jabatan atau yang lainnya memiliki nilai penting dalam keberadaan manusia. Manusia tak mungkin hidup tanpa hal-hal tersebut, karena itu hikmat dan pengertian diperlukan untuk mengusahakan dan memilikinya. Hikmat dan pengertian perlu agar manusia terhindar dari kebahagiaan yang sia-sia. Kita memerlukan materi dan yang lainnya, namun jangan sampai melupakan Tuhan, sebab kebahagiaan sejati berasal dari-Nya. Hal apapun yang kita miliki termasuk kegemilangan, popularitas, dan prestasi hanyalah pemenuhan atas kebutuhan sebagai manusia, tetapi bukan penyelamat. Orang berhikmat mengandalkan Tuhan dan terhindar dari kesia-siaan. Andalkanlah Tuhan dan upayakanlah semua hal yang dibutuhkan dalam hidup agar kebahagiaan sejati dialami. Perhatikanlah dua contoh peradaban modern berikut ini. Presiden Brasil, G.Vargas yang berada di puncak karier dan jabatannya tapi justeru bunuh diri dengan cara menembak jantungnya sendiri. Marilyn Monroe, artis terkenal dan cantik mengalami depresi hingga overdosis. Kita mendapat pelajaran dari dua kisah itu bahwa keselamatan tidak terletak pada banyaknya harta atau tinggi rendahnya jabatannya serta popularitas atau ketenaran. Ingat dan renungkanlah bahwa mengandalkan Tuhan menjadikan kita berhikmat menjalani keberadaan dan berbahagia. Dia-lah Sang pemilik hidup dan sumber berkat. Pemazmur meyakini-Nya sebagai  Sang pemilik kuasa abadi yang akan menjamin hidup kita kini dan nanti. Semua orang yang mengandalkan Tuhan memiliki hikmat, bersukacita dan berbahagia. Oleh sebab itu andalkanlah Dia dalam seluruh keberadaan ini.

Doa: Tuhan mampukan kami untuk selalu mengandalkan-Mu. Amin.

Senin, 11 Juli 2022                                          

bacaan : Amsal 11 : 27 – 28

27 Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan. 28 Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.

Mengejar Kebaikan dan Menjauhi Kejahatan

Penulis Amsal seperti yang tersebut dalam nas hari ini menyampaikan wejangan hikmat tentang hal yang harus diupayakan seseorang dalam hidupnya. Hidup adalah kesempatan untuk “mengejar” atau mengupayakan kebaikan, bukan kejahatan (ayat 27). Inilah fakta keberadaan manusia, senantiasa bergumul dengan baik dan buruk. Hal ini bermkna peringatan agar semua orang menjalani hidup secara berhati-hati. Pilihan tindakkan kebaikan dan kejahatan pasti menjadi kenyataan yang terus berlangsung. Semua orang diharapkan dapat menyadari bahwa setiap tindakkan melahirkan dampak tertentu. Seseorang yang melakukan kebaikan dikenan orang. Tindakkan kebaikan menjadi cerita hidup yang bermakna positif bagi orang lain. Sebaliknya kejahatan berdampak pada dialaminya kemalangan atau kesusahan. Kita diajak untuk mempertimbangkan baik buruk suatu tindakkan. Pertimbangan tentang manfaat inilah yang mendasari dipilihnya tindakkan kebaikan. Kebaikan dan kejahatan memang keduanya dapat dilakukan manusia, tapi perlu disadari bahwa hanya kebaikanlah yang mendatangkan manfaan bagi kehidupan.    Gagasan sebab akibat tindakan ini diulangi penulis lagi di ayat 28 dengan mengatakan: “siapa mempercayakan diri kepada kekayaan akan jatuh, tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.”  Orang berhikmat tak akan mempercayakan hidupnya pada kekayaan tapi untuk Tuhan. Kekayaan bersifat sementara dan tak menjamin kelangsungan hidup. Orang benar mempercayakan hidupnya kepada Tuhan, sebab Dia-lah yang berkuasa menjamin kelangsungan dan kebahagiaan hidup di dunia ini.

Doa: Ya Bapa, tolong kami untuk mengejar kebaikan, bukan kejahatan. Amin.

Selasa, 12 Juli 2022                                         

bacaan : Amsal  4 : 14 – 19

14 Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. 15 Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. 16 Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; 17 karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. 18 Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. 19 Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.

Jalanilah Hidup Sebagai Orang Benar

Ada sebuah syair lagu “berliku-liku kehidupan ini, jalan mana yang harus kulalui, rintangan dan cobaan selalu menghalangi, bila ku ingin datang padaMu”. Syair lagu ini menjelaskan tentang situasi dan kondisi hidup kita di tengah dunia ini yang tidak pernah sepi dari berbagai hal yang menantang, mengggoda iman dan keyakinan kita kepada Allah. Sebagai anak-anak Tuhan, penting bagi kita untuk selalu meminta hikmat-Nya agar dituntun dan berjalan sebagai orang benar. Jalan hidup orang benar menuju kehidupan kekal. Sebaliknya jalan hidup orang fasik atau yang salah, menuju kebinasaan. Penulis Amsal mencirikan orang fasik adalah orang yang tidak mengakui Tuhan dan kuasaNya. Mereka adalah orang-orang yang sombong dan angkuh yang selalu merancang dan melakukan kejahatan. Istilah jalan adalah sikap serta perilaku hidup. Jalan orang benar, adalah sikap juga perilaku hidup yang benar. Jalan hidup mereka sesuai dengan perintah dan kehendak Tuhan. Penghormatan kepada Tuhan sebagai Pencipta dan sumber hidup selalu terwujud dalam kehidupan orang benar. Kemudian dalam relasi dengan manusia dan semua ciptaan, sikap dan perilaku orang benar selalu mendatangkan berkat, sukacita dan kebahagian. Sebaliknya jalan orang fasik adalah sikap serta perilaku hidup mereka yang jauh juga menyimpang dari perintah dan kehendak Tuhan. Keberadaan mereka digambarkan dengan ungkapan: “Setiap hari, kejahatan seakan dijadikan sebagai makanan”. Perlakuan demikian merupakan gambaran dari hidup yang memprihatinkan dan harus dijauhi. Oleh sebab itu marilah menjalani hidup sebagai orang benar.

Doa: Ya Tuhan, layakanlah kami menjalani hidup sebagai orang benar. Amin.

Rabu, 13 Juli 2022                                              

bacaan : Amsal 3 : 13 – 17

13 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, 14 karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. 15 Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. 16 Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. 17 Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata.

Milikilah Hikmat Tuhan Sehingga Hidup Penuh Bahagia

Semua orang, siapapun dia, apapun latar belakang hidupnya, pasti ingin berbahagia. Kebahagian dapat dipandang dari berbagai ukuran. Terkadang orang mengukur kebahagian itu dari hal-hal materi. Orang akan bahagia kalau mempunyai uang yang banyak, sebab pikirnya dengan uang dia bisa beli dan miliki apa saja. Orang juga akan bahagia kalau dia mempunyai jabatan dan kedudukan yang tinggi, sebab dia merasa hebat dan berkuasa atas semua orang. Orang akan bahagia ketika mempunyai harta yang banyak, sebab dia akan merasa dihormati dan terpandang. Namun, dalam kenyataan tidak selalu demikian. Orang yang punya uang dan harta yang banyak, ternyata merasa tidak tenang. Setiap malam dia tidak tidur dengan nyenyak, sebab memikirkan uang dan hartanya, jangan-jangan dirapok atau dicuri. Orang yang punya jabatan dan kedudukan yang tinggi juga tidak tenang sebab dia terus memikirkan bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan kedudukan dan jabatannya. Dampaknya adalah seseorang dapat melakukan apa saja untuk mempertahankan semua yang telah dimiliki. Kita perlu belajar dari firman Tuhan sebagaimana disebutkan oleh penulis Amsal dalam nas hari ini. Ia menegaskan bahwa orang yang berbahagia adalah mereka yang mendapatkan hikmat dan kepandaian. Hikmat dan kepandaian yang dimaksudkan berasal dari Tuhan bukan manusia. Siapa yang mendapatkan hikmat Tuhan, keuntungannya melebihi emas,  perak dan permata serta keinginan manusia. Ia akan menikmati umur panjang, kekayaan dan kehormatan juga kebahagiaan serta kesejahteraan.

Doa: Ya Tuhan berilah hikmat dan kepandaian-Mu agar kami mengalami kehidupan yang sejati. Amin.

Kamis, 14 Juli 2022                                       

bacaan : Mazmur 25 : 12 – 14

12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. 13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. 14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Hidup Takut Tuhan Membawa Kebahagian Sejati

Kita dapat mengalami kebanggaan karena memiliki hubungan yang akrab dengan seorang pejabat atau penguasa. Sebab melalui hubungan keakraban tersebut, kita mungkin akan menikmati fasilitas dan berbagai kemudahan dari pejabat atau penguasa tersebut. Kenyataan yang demikian manusiawi adanya. Sekalipun demikian, sebagai anak-anak Tuhan, ada baiknya bila kita memahami bahwa kebahagian dan sukacita adalah buah dari dimilikinya hubungan yang akrab dengan Tuhan. Dia-lah Sang pencipta dan penguasa hidup.  Hubungan yang akrab dengan Tuhan terwujud karena sikap hidup takut kepada-Nya. Maksudnya menghargai, menghormati dan mengagumi Tuhan selalu dalam seluruh hidup kita. Tuhan menjadi yang terutama dalam setiap langkah hidup yang kita jalani setiap waktu. Nas hari ini menegaskan pernyataan pemazmur bahwa orang yang takut akan Tuhan, padanya akan ditunjuk jalan hidup ke depan. Tak ada seorang pun manusia yang dapat mengetahui dan menyingkapkan hari esok atau masa depan dengan sempurna. Kebahagian sejati akan dialami saat kita membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan. Setiap janji penyertaan-Nya menjadi kekuatan dan harapan di tengah perjalanan hidup, sekalipun diterpa berbagai tantangan, persoalan bahkan ancaman. Kita melangkah bersama  Tuhan dengan pasti dan berani, saat bekerja,  belajar, mengabdi dan melayani demi mengupayakan masa depan yang penuh kebahagian. Mari membuka hati memohon hikmat Tuhan agar dalam hidup ini kita takut pada-Nya. Yakinlah bahwa setiap orang yang takut akan Tuhan pasti mengalami kebahagiaan sejati.

Doa: Ya Tuhan berilah kepada kami hidup yang takut pada-Mu, sehingga kebahagiaan sejati dapat dialami. Amin.

Jumat 15 Juli 2022                                              

bacaan : Amsal 20 : 1 – 7

Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya. 2 Kegentaran yang datang dari raja adalah seperti raung singa muda, siapa membangkitkan marahnya membahayakan dirinya. 3 Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak. 4 Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa. 5 Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya. 6 Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? 7 Orang benar yang bersih kelakuannya--berbahagialah keturunannya.

Kelakuan Bersih Berbahagialah Keturunannya

Semua orang pasti ingin dan mengharapkan kebahagian bagi keluargan serta keturunannya. Itulah sebabnya semua orang berjuang dan berusaha keras untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Terkadang orang keliru memahami kebahagian itu hanya sebatas hal-hal lahiriah saja. Misalnya uang, harta kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Firman Tuhan di hari ini, menyaksikan ketegasan penulis Amsal. Katanya, hanya dengan sikap yang bersih, jauh dari hal-hal buruk atau kejahatan, kebahagian dinikmati oleh setiap orang dan keturunannya. Orang yang hidupnya bersih dikasihi Tuhan. Mereka menjauhkan diri dari kebiasaan minum minuman keras, menjauhi cemohan, perbantahan, amarah, dan kemalasan. Perilaku meminum minuman keras dijauhi karena sadar bahwa akibat dari kebiasaan ini tidak ada kedamaian tetapi selalu terjadi keributan. Orang yang suka minum minuman keras atau pemabuk tak mungkin terhindar dari akibat buruk kebiasaan itu. Hilang kesadaran dan kontrol diri, kesehatan tubuh terancam, kerugian ekonomi dan kehilangan waktu atau kesempatan. Sebaliknya orang yang bersih hidupnya mampu menyelesaikan masalah dengan bijak, bekerja keras dan menikmati hasilnya, disebut orang baik hati serta setia juga dapat membuat rancangan kehidupan dengan baik. Orang yang bersih kelakuannya menghargai anugerah Tuhan, menata hidup sendiri dan keluarganya dengan baik, berarti bagi sesama serta menikmati masa depan yang gemilang. Hendaklah kita terus menjaga kemurnian hati agar terhindar dari keburukan dan kejahatan. Ingatlah bahwa kebahagiaan keluarga dan keturunan tergantung pada bersihnya hidup kita.

Doa: Bapa, tolonglah kami agar dapat miliki hidup yang bersih. Amin.

Sabtu, 16 Juli 2022                                                  

bacaan : Lukas 6 : 20

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.

Yesus Menyebut Orang Miskin Berbahagia

Semua manusia, dalam hidup ini, mendambakan kehidupan yang penuh bahagia. Tak ada seorang pun yang mau hidup tidak bahagia. Dalam rangka itulah, masing-masing orang ingin berpikir dan melakukan berbagai hal untuk mendapatkan kebahagiaan menurut cara mereka masing-masing. Ada yang merasa bahwa kebahagiaan itu bisa diraih apabila memiliki pasangan hidup, yakni menikah dan membangun keluarga. Ada pula yang ingin menikmati kebahagiaan bila memiliki harta kekayaan atau saat sudah sejahtera. Tidak jarang pula, ada orang-orang tertentu yang merasa bahwa dia akan bahagia jika mendapat jabatan atau kekuasaan. Selain itu untuk orang-orang tertentu, mereka merasa bahagia jika melihat orang lain, teristimewa orang yang membenci dirinya, mengalami kesusahan. Kebahagiaan tidak terletak dari seberapa banyak harta kekayaan yang dimiliki, seberapa tinggi kedudukan, jabatan, dan pendidikan seseorang, atau ketika seseorang sudah menjalani kehidupan berumah tangga. Firman Tuhan dalam Lukas 6:20 mengandung pengertian bahwa kebahagiaan memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Allah. Kebahagiaan sejati bukan menyangkut hal duniawi, tidak berhubungan dengan harta kekayaan dan jabatan semata, pasangan hidup saja, melainkan yang terpenting dan utama adalah berkaitan dengan hal-hal sorgawi; kesucian hidup, doa, hidup sejalan dengan Firman Tuhan, mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Atas dasar itulah, Yesus menyebut orang miskin berbahagia. Orang yang miskin berbahagia karena kerajaan Allah sudah hadir. Allah mengasihi dan berpihak pada mereka.

Doa: Ya Tuhan, berilah pengasihan-Mu agar kami bahagia. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Juli 2022

Tema Bulanan : “Kasih Kristus Menguatkan Daya Juang Untuk Transformasi Hidup

Tema Mingguan : “Hidup baru di dalam Kristus

Minggu, 03 Juli 2022                                           

bacaan : Kolose 3 : 5 – 17

Manusia baru
5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. 12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. 16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Hidup Menurut Kehendak Kristus

Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan tak menghendaki perbuatan; percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, penyembahan berhala. Selain itu, Tuhan juga tidak menghendaki terjadi dalam hidup orang Kristen, marah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor, saling mendustai, perpecahan, kebencian, dan pilih kasih. Oleh sebab itu menjadi Kristen berarti bersedia untuk mengubah kebiasaan lama yang tak ada faedahnya. Melakukan hal-hal yang tak ada faedahnya sama artinya dengan hidup sebagai manusia lama. Orang kristen sebaliknya diminta untuk melakukan hal yang berfaedah atau yang dikehendaki Tuhan. Inilah yang dimaksudkan Paulus hidup sebagai manusia baru. Hidup sebagai manusia baru berarti bersungguh-sungguh mengubah semua perbuatan buruk agar hanya terdapat yang baik. Perbuatan yang baik itu adalah belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, kerelaan untuk mengampuni, kasih, damai sejahtera, dan bersyukur senantiasa. Semua perbuatan baik itu adalah jawaban orang kristen atas kasih yang telah Kristus anugerahkan. Perbuatan-perbuatan baik akan memampukan kita bertahan dan berjuang demi kehidupan yang layak. Hidup harus terus menerus ditransformasikan. Maksudnya cara atau bentuk hidup lama, yakni semua perbuatan yang tak ada faedahnya perlu diubah agar menjadi berkenan pada kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan selalu baik, bila kita melakukannya, maka kebaikan atau faedah pasti dialami. Akhirnya, lakukanlah segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.    

Doa: Ya Tuhan, kiranya hidup kami menjadi berkenan pada kehendak-Mu. Amin.

Senin, 04 Juli 2022                                              

bacaan : Titus 3 : 1 – 14

Pesan-pesan penutup
Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. 2 Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. 3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. 4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, 5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, 7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. 8 Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia. 9 Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka. 10 Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. 11 Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri. 12 Segera sesudah kukirim Artemas atau Tikhikus kepadamu, berusahalah datang kepadaku di Nikopolis, karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin ini. 13 Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan sesuatu apa. 14 Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Lakukanlah Hal Yang Baik Dan Berguna

Nas hari ini merupakan pesan Paulus kepada Titus tentang petunjuk dan nasihat agar semua orang percaya tetap  memegang teguh iman yang benar serta hidup dengan baik. Pesan ini diawali dengan permintaan agar mereka tunduk kepada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap melakukan setiap pekerjaan yang baik. Permintaan ini disampaikan sebab jika orang kristen terang-terangan tidak tunduk maka pemerintah dapat saja melarang mereka beribadat atau bahkan melakukan tindakkan pembunuhan. Bila mereka dilarang untuk beribadat atau dibunuh, maka injil tidak dapat lagi diberitakan di seluruh wilayah kekaisaran Romawi. Sikap tunduk atau menghormati pemerintah berguna bagi kelanjutan pelaksanaan pemberitaan injil bukan untuk kepentingan diri atau pribadi. Kebaikan hidup orang Kristen juga harus dinyatakan dalam hal tidak boleh; memfitnah dan bertengkar, menjadi hamba berbagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, saling membenci dll. Selanjutnya Paulus menasihati agar mereka selalu ramah dan lemah lembut terhadap semua orang serta terus belajar untuk melakukan pekerjaan yang baik agar dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok. Demikianlah caranya kehidupan yang berbuah diupayakan dalam hidup beriman sehari-hari. Hidup beriman kita haruslah membuahkan kebaikan, sama seperti Kristus yang telah menyatakan kemurahan-Nya. Kebaikan adalah tanda hidup semua kita yang telah mengalami kasih karunia Kristus. Ia telah memilih kita untuk diselamatkan. Karena itu, marilah kita hidup seturut nasihat Paulus; lakukanlah hal yang baik dan berguna.   

Doa: Ya Tuhan layakkanlah kami menjalani hidup dengan berarti. Amin.

Selasa, 05 Juli 2022                                           

bacaan : 1 Petrus 1 : 23

23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

Dilahirkan Kembali Dari Benih Yang Tidak Fana

Allah sudah memilih suatu umat yang baru untuk hidup kudus. Maksud dari keterpilihan itu adalah hidup sebagai persekutuan yang melayani Allah. Sehubungan dengan gagasan tersebut, maka Petrus mengingatkan pula bahwa sebagai pengikut Kristus, jemaat dapat saja mengalami penderitaan, sebagaimana Kristus juga menderita bagi mereka. Pilihan sikap beriman untuk menghadapi pergulatan hidup sebagai umat Allah adalah tetap memelihara kekudusan dan kasih persaudaraan. Oleh sebab itu tersebut dalam teks bacaan hari ini: karena kamu telah dilahirkan kembali, bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Hidup yang kudus berarti terpisah (dikhususkan) dari kebiasaan atau hal-hal yang duniawi. Kekudusan dapat dialami jika hidup “dilahirkan kembali”, maksudnya berubah sesuai firman Allah. Sebutan lainnya adalah dilahirkan kembali dari benih yang tidak fana. Ungkapan hidup kudus dalam konteks surat Petrus berarti tetap memiliki iman, kerendahan hati, dan sukacita dalam penderitaan. Jemaat pada masa itu memang mengalami penganiayaan dan penyingkiran dari masyarakat.  Sekalipun tak sama persis, namun situasi dimana kita hidup sekarang juga tak terlepas dari adanya pergumulan, kesukaran atau penderitaan. Sehubungan dengan kenyataan seperti itu, maka hendaklah kita jadikan kesaksian Petrus ini sebagai pedoman hidup. Keberadaan orang Kristen dewasa ini haruslah ditandai dengan hidup yang beriman, kerendahan hati, bersukacita dalam penderitaan serta tetap memelihara kasih persaudaraan. Inilah tanda bahwa kita dilahirkan kembali.

Doa: Ya Bapa, ubahlah hidup kami agar sesuai dengan firman-Mu. Amin.

Rabu, 06 Juli 2022                                            

bacaan : Efesus 2 : 11 – 22

Dipersatukan di dalam Kristus
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, -- 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. 19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Kasih Kristus Mepersatukan Semua Bangsa

Keragaman atau kepelbagian dalam hal apapun termasuk fakta adanya berbagai bangsa di dunia, sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dikelola. Fakta ini sejalan dengan gagasan teologi Paulus tentang keluarga Allah sebagaimana tersebut dalam nas hari ini. Pengertiannya adalah sebagai berikut. Pertama, Allah telah menyelamatkan orang-orang yang mengimani Kristus dan semua mereka dipersatukan dalam satu tubuh. Kristus telah meruntuhkan tembok-tembok yang memisahkan orang (Yahudi dan bukan Yahudi). Semua orang percaya bukan saja dipersatukan dalam Kristus melainkan telah pula didamaikan dengan Allah. Mereka telah mengalami pengampunan dosa melalui pengurbanan Kristus di Salib. Kedua, kita yang adalah umat tertebus, terpanggil untuk mengemban misi pemberitaan injil. Keselamatan Allah diuntukkan bagi semua ciptaan dan untuk itu pemberitaan injil haruslah berlangsung. Semua orang yang mengimani Kristus haruslah menjadi pemberita injil dalam hidupnya kapan dan dimana saja. Ketiga, semua orang yang mengimani Kristus haruslah hidup dalam cinta kasih, bukan dalam tembok-tembok pemisah karena jabatan, kedudukan, status sosial, kepentingan, golongan, suku, dan keturunan. Mari hidup dalam  keutuhan dan persudaraan sejati sejagad yang saling peduli serta melindungi. Hidup yang saling peduli dan melindungi dapat dialami bila terkikis perseteruan, perselisihan, permusuhan, pertengkaran, curiga, dll. Suburkanlah sikap hidup saling menghargai dan menerima, memperkaya dan membangun. Kiranya hidup ini kita jalani sebagai satu keluarga Allah.

Doa: Ya Bapa kuatkan kami untuk hidup bersama dalam keutuhan keluarga Allah.  Amin.

Kamis, 07 Juli 2022                                    

bacaan : 3 Yohanes 1 : 11 – 12

11 Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah. 12 Tentang Demetrius semua orang memberi kesaksian yang baik, malah kebenaran sendiri memberi kesaksian yang demikian. Dan kami juga memberi kesaksian yang baik tentang dia, dan engkau tahu, bahwa kesaksian kami adalah benar.

                               Perbuatan adalah Wujud Pemberitaan

Kegembiraan yang paling besar dari orang tua adalah melihat anak-anak mereka hidup dalam kebenaran. Kebenaran yang dimaksud bukan saja secara intelektual yakni memiliki pengetahuan tetapi juga mengasihi. Kebenaran itulah yang menjadikan seseorang berpikir dan bertindak seperti Kristus. Demetrius adalah pemimimpin dari para pengkhotbah keliling yang selalu memberitakan dan mempraktekkan kebenaran. Inilah pesan bahwa kekuatan akal tidak dapat menggantikan tempat kasih di hati. Demikian Yohanes mengakhiri suratnya dengan kasih. Penulis ini hendak menegaskan bahwa kekuatan pengetahuan dan sifat lemah lembut harus berjalan bersama. Jangan meniru yang jahat, melainkan yang baik. Mari cermati kisah berikut ini. Ada seorang anak yang mengalami perubahan perilaku yang amat drastis. Ia pada awalnya sangat baik, tetapi karena keinginan main game, sehingga dia mencuri HP tetangganya. Perbuatan buruk dilakukannya juga dalam pertemanan sehari-hari. Selain itu, ia suka berbohong dan  selalu mencuri uang orang tua untuk membeli pulsa. Kisah tersebut merupakan contoh yang memperlihatkan dan menjadi peringatan bagi orang tua tentang betapa sulitnya mengajarkan perilaku baik kepada anak-anak kita. Kita perlu belajar dan meneladani Demetrius, seorang yang   memberitakan kebenaran dan menjauhi perbuatan dosa. Teladan kebaikan dari Demetrius hendaklah dihayati agar sebagai orang dewasa, kita dapat mengajarkan kebaikan kepada anak-anak. Janganlah meniru yang jahat melainkan yang baik, barangsiapa berbuat baik, dia berasal dari Allah, tetapi barang siapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.

Doa: Tuhan mampukan kami untuk berpikir dan bertindak yang baik. Amin.

Jumat, 08 Juli 2022                                          

bacaan : Galatia 2 : 19 – 21

19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Kehidupan Baru Didasarkan Pada Iman Akan Kristus

Ajaran Paulus tentang kehidupan Baru dan iman akan Kristus berkaitan dengan pergulatan keimanannya yang unik. Ia terlahir sebagai orang Yahudi dan taat melakukan hukum Taurat (Gal. 2:15). Namun, karena pengalaman spiritual yang hebat di Damsyik, ia mengimani Kristus (Kis. 9:2-30). Pengalaman iman itulah yang mendasari pernyataannya sebagaimana tersebut dalam nas hari ini. Katanya: “sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus” (ayat 19). Salib adalah simbol kematian bagi dunia, sebaliknya menurut Paulus salib berarti hidup baru. Paulus memang tidak disalibkan secara harfiah, tetapi kehidupan lamanya di bawah hukum Taurat telah menjadi kehidupan baru yang didasarkan pada iman akan Kristus. Iman kepada Kristus memberinya hidup baru, yang tidak dapat diberikan hukum Taurat (bdk. Flp. 3:8-9). Ia selanjutnya mengakui bahwa hidupnya bukan lagi karena dirinya sendiri melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang ia hidupi sekarang adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (ayat 20). Kasih yang mengampuni, mendamaikan, membebaskan, dan mengubah hidup dari Kristus telah dialami Paulus sebagai anugerah. Anugerah itu juga disediakan Kristus bagi semua orang yang mengimani-Nya. Sebagaimana karena kasih, Kristus telah mengubah Saulus menjadi Paulus, maka hidup semua orang yang mengimani-Nya juga akan diubah. Bukalah hidup dan jangan menolak kasih karunia Kristus agar hidupmu dibarui selalu. Berusahalah miliki kehidupan baru karena iman akan Kristus. 

Doa: Tuhan, tolong kami untuk hidup karena iman. Amin.

Sabtu, 09 Juli 2022                                            

bacaan :  2 Korintus 5 : 17

17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Di dalam Dia Ada Ciptaan Baru

Siapa yang ada dalam Kristus dia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang. Artinya setiap orang yang ada dalam Kristus telah meninggalkan manusia lama kemudian diubahkan Tuhan, menjadi orang kudus. Manusia baru dalam Kristus itu adalah manusia yang telah mengalami pencerahan spiritualitas yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena itu mereka yang telah dibarui selalu hidup dalam Roh serta kebenaran. Kebenaran yang dimaksud Paulus adalah karya pengurbanan Kristus yang telah mendamaikan manusia dengan Allah. Jemaat Korintus diminta meyakini kebenaran tersebut dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Mereka hidup sebagai orang yang telah diperdamaikan dengan Allah. Hidup orang percaya tak boleh lagi memberi tempat bagi berlangsung pertikaian atau permusuhan. Oleh sebab itu dalam nas hari ini, Paulus katakan: “jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ia bukan saja berbicara tentang perdamaian, tetapi juga menjadi pelakunya. Paulus menulis surat dan menyapa semua orang yang mengkritik dan memusuhinya dalam suasana cinta kasih. Ia menjumpai semua lawannya dengan kasih persaudaraan agar relasi mereka tetap berlangsung dalam suasana perdamaian. Teladan iman dan kebaikan ini layak dimiliki agar hidup kekristenan dewasa ini dapat terhindar dari ancaman keretakan dan permusuhan serta perpecahan. Hendaklah perdamaian dimulai dari diri sendiri, yakni berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dalam keluarga dan semua orang bahkan alam sekitar. 

Doa; Ya Tuhan kiranya kami mampu menjadi pelaku perdamaian. Amin

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Juni – 2 Juli 2022

Tema Bulanan : ” Dipenuhi Roh Kudus untuk Menatalayani Ciptaan “

Tema Mingguan : ” Tanggung Jawab Manusia Mengelola Alam “

Minggu, 26 Juni 2022                                      

bacaan : Kejadian 2 : 8 – 25

Manusia dan taman Eden
8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. 9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. 11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. 12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. 13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. 14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat. 15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." 18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

 Memelihara dan Mengusahakan Alam

Kisah penciptaan manusia menjadi kisah yang luar biasa sebagai karya mulia Allah. Allah menghendaki manusia ciptaan-Nya menjadi serupa dan segambar dengan-Nya (Imago Dei) agar dapat memelihara dan menjaga ciptaan yang lain. Oleh sebab itu, bacaan kita hari mengisahkan tentang keberadaan manusia pertama di tengah-tengah taman Eden, taman kesukaan yang diciptakan Allah agar manusia dapat hidup dan menikmati kehidupannya. Allah menghendaki setiap yang ada di dalam taman itu dinikmati oleh manusia sebagai bagian dari Kasih-Nya, namun ada satu pohon yang tidak boleh dinikmati buahnya. Larangan ini menjadi batasan agar manusia dapat belajar menaati Allah. Melewati batasan ini menyebabkan relasi manusia dengan Allah menjadi terganggu. Dari kisah ini, kita melihat bahwa ada relasi yang dibangun oleh manusia dengan Allah dan ciptaan lainnya. Relasi ini dikendaki Allah tetap terjaga dan harmonis. Sebagai Imago Dei, kita diingatkan agar tetap menjaga dan merawat alam pemberian-Nya. Cara sederhana untuk menjaga alam ini ialah dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menjadikan pekarangan rumah orang lain sebagai tempat buang sampah, tidak memutar jalan air sehingga terjadi pengikisan tanah yang menyebabkan longsor, tidak menebang hutan secara liar, dan berbagai tindakan lainnya.  Ingatlah, kisah taman Eden menegaskan bahwa dalam tanggungjawab mengusahakan dan memelihara alam ciptaan bukanlah perihal individu saja, melainkan tugas bersama. Jadi mulailah dari diri sendiri, keluarga, gereja dan masyarakat.

Doa: Tuhan, tolonglah kami menjaga relasi dengan-Mu melalui kepedulian untuk memelihara alam ciptaan-Mu. Amin.

Senin, 27 Juni 2022                               

bacaan : Pengkhotbah 2 : 4 – 6

4 Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; 5 aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; 6 aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda.

Bekerja Keras, Tekun dan Ulet

Bekerja telah menjadi kewajiban kita semua. Karena itu perilaku kerja keras, tekun dan ulet sangat dianjurkan menjadi perilaku manusia ketika bekerja. Akan tetapi perilaku tersebut bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disebabkan antara lain sifat kemalasan. Oleh karena itu dibutuhkan niat yang tulus dan pembiasaan diri agar perilaku itu sedikit demi sedikit akan tumbuh dan menjadi kebiasaan. Dalam nas bacaan hari ini pengkhotbah menyampaikan bagaimana ia selalu berupaya membangun sikap kerja keras dengan tidak membiarkan tangannya tetap diam. Selalu saja ada sesuatu yang dilakukannya dengan tekun dan ulet. Membangun rumah dan mengusahakan kebun-kebun dan sebagainya. Semua yang dikerjakan dengan penuh kerja keras, ketekunan dan keuletan, pasti membuahkan hasil yang memadai. Hasil kerja keras itu membuat kehidupannya terjamin. Apa yang menjadi kebiasaan pengkhotbah, menjadi pembelajaran juga bagi kita. Jika kita sungguh-sungguh bekerja keras dengan tekun dan ulet, Tuhan akan memberkati. Bukan seolah-olah terlihat seperti kita berambisi, tetapi kita mau mengerjakan pekerjaan yang menjadi kewajiban itu dengan baik. Karena itu, tetaplah kerjakan pekerjaan kita dengan penuh tanggungjawab. Jangan mudah berputus asa dan menyerah dalam bekerja. Yakinlah bahwa buah dari kerja keras, ketekunan dan keuletan adalah berkat sukacita. Itulah yang disediakan Tuhan bagi setiap orang yang mencari dan mendapatkan berkatnya dengan cara jujur, bekerja keras, tekun dan ulet.

Doa:  Tuhan, berilah semangat untuk kami bekerja keras, tekun dan ulet. Amin.

Selasa, 28 Juni 2022                                    

bacaan : Amsal 24 : 27 – 34

27 Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu. 28 Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu. 29 Janganlah berkata: "Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya." 30 Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. 31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. 32 Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. 33 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," 34 maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Bertanggungjawablah!

Alam merupakan ciptaan Allah yang tidak dapat dilepaspisahkan dari kehidupan manusia. Tangungjawab untuk mengelola alam telah diberikan Allah kepada manusia sejak awal penciptaan (bnd. Kej 2:15). Tanggungjawab ini diberikan oleh Allah agar manusia dapat memanfaatkan, menikmati dan melanjutkan hidup dari apa yang dikelolanya. Sejalan dengan itu, maka Amsal dalam bacaan kita mau menekankan tentang pentingnya bekerja keras. Aku melalui ladang seorang pemalas…..tanahnya tertutup dengan jeruju dan temboknya sudah roboh (ay. 30 dan 31), menggambarkan suatu keadaan yang disebabkan karena perilaku malas dan tidak bertanggungjawabnya manusia terkait mandat yang diberikan Allah. Kemalasan dan tidak bertanggungjawabnya manusia itulah yang mengakibatkan terjadinya kekurangan bahkan kemiskinan. Seperti yang dilukiskan oleh Amsal, demikian juga dapat  dijumpai  dalam kehidupan kita. Sebab banyak diantara kita yang kurang menunjukan kepeduliannya kepada alam, sehingga mengabaikan kepercayaan yang diberikan oleh Allah. Padahal, justru dari alamlah setiap kebutuhan manusia dapat terpenuhi. Bacaan hari ini mengajarkan kita supaya menghindari sikap malas dan sikap yang tidak berakalbudi, sebaliknya terus memanfaatkan alam pemberian Allah dengan sebaik-baiknya. Sebab dengan demikian dapat meningkatkan kualitas hidup sebagai orang percaya yang sekaligus menunjukan ketaatan kepada Allah. Percayalah bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh tidak memberikan kekecewaan melainkan akan berbuah manis. Karena itu, dengan bekerja keras, maka kita telah berupaya melaksanakan tanggungjawab yang diberikan oleh Allah yakni mengusahakan dan memelihara alam ciptaan-Nya.

Doa: Ajarilah kami Tuhan agar tetap bertanggungjawab  mengusahakan dan memelihara alam ciptaan-Mu. Amin.

Rabu, 29 Juni 2022                                        

bacaan : Yesaya 28 : 23 – 29

Kebijaksanaan TUHAN
23 Pasanglah telinga dan dengarkanlah suaraku; perhatikanlah dan dengarkanlah perkataanku! 24 Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur? 25 Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? 26 Mengenai adat kebiasaan ia telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya. 27 Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. 28 Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur. 29 Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.

Sesuai Petunjuk Allah

Sebagaimana pentingnya hasil alam bagi kehidupan manusia, maka penting juga memiliki pengetahuan tentang cara pengelolaan sumber alam tersebut. Oleh sebab itu tidak heran Yesaya menyampaikan nubuatannya tentang kebijaksanaan Allah terhadap Yehuda, dengan metafora di bidang pertanian. Berbicara mengenail pertanian tidak hanya terkait soal cara pengelolaan lahan, waktu menabur dan menuai tetapi juga proses mengelola hasil panen. Setiap harikah orang membajak…..bukankah setelah meratakan tanahnya….. (ay. 24 dan 25), memperlihatkan pentingnya tahapan pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang petani.  Sebelum menabur benih ia harus memastikan bahwa lahan yang akan diolahnya benar-benar layak dipergunakan dengan cara membajak, mencangkul kemudian menyisir lahannya. Tahapan-tahapan ini memperlihatkan peranan seorang petani yang cukup memiliki pengetahuan tentang pengelolaan tanah. Pengetahuan dimaksud tidak bersumber dari dirinya sendiri melainkan sesungguhnya berasal dari Allah (ay. 26). Bacaan hari ini mengajarkan kita tentang tanggungjawab menjalankan peran untuk mengelola alam ciptaan Allah. Dengan tidak seenaknya mengikuti pengetahuan pada diri sendiri tetapi berdasarkan petunjuk atau hikmat dari Allah. Sebab kita seringkali cenderung melakukan sesuatu hanya berpusat pada apa yang kita pikirkan dan dianggab benar oleh diri sendiri.  Padahal, justru hikmat yang berasal dari Allah mampu mengatur segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Sertakan Tuhan dalam menjalani hari-hari hidup kita sambil terus meminta petunjuk dari-Nya. Yakinlah bahwa  hikmat dan kebijaksanaan Allah akan mengantarkan kita ke kehidupan yang lebih baik.

Doa:  Tuhan Yesus, tolonglah kami agar tidak mengandalkan diri sendiri tetapi selalu meminta petunjuk dari pada-Mu. Amin.

Kamis, 30 Juni 2022                                     

bacaan : Ulangan 20 : 19 – 20

19 Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kaukepung. 20 Hanya pohon-pohon, yang engkau tahu tidak menghasilkan makanan, boleh kaurusakkan dan kautebang untuk mendirikan pagar pengepungan terhadap kota yang berperang melawan engkau, sampai kota itu jatuh."

Jagalah dan Jangan Merusak Alam

Segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki manfaat masing-masing termasuk alam sekitar kita. Salah satu manfaat yang dihasilkan dari alam dalam hal ini tumbuh-tumbuhan yakni menjadi makanan bagi manusia (bnd. Kej 1:29). Oleh sebab itu perlu ditingkatkan kesadaran untuk terus menjaga, memelihara dan tidak merusakannya. Hal seperti ini juga yang disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel sebagai peraturan ketika melakukan pengepungan suatu kota untuk direbut. Meskipun ada dalam kondisi konflik melawan bangsa lain (peperangan), akan tetapi mereka diwajibkan untuk tidak melakukan tindakan pengrusakan atau penghancuran terhadap sumber-sumber alam. Bahkan terlihat jelas bahwa tindakan penebangan pun dibolehkan dengan syarat dan tujuan tertentu (ay. 20). Artinya bahwa pemeliharaan terhadap sumber-sumber alam harus terus dilestarikan karena sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi pada kenyataan masa kini didapati bahwa kesadaran melestarikan lingkungan mengalami kemerosotan. Hal ini dapat dibuktikan dengan terjadinya kerusakan lingkungan di sekitar kita, yang diakibatkan oleh ulah manusia. Penebangan liar, eksploitasi dan lain sebagainya dilakukan hanya untuk memuaskan keserakahan manusia, tanpa berfikir dampak buruk akibat perbuatan tersebut. Mengakhiri bulan ini, Firman Tuhan mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga, merawat bahkan memanfaatkan dengan baik sumber alam sesuai kebutuhan kita. Tetaplah menjaga dan hindari tindakan pengrusakan yang dapat berakibat buruk, baik untuk kehidupan manusia maupun kehidupan alam sekitar. Lakukanlah itu sebagai tanda bahwa kita menghargai alam tempat kita hidup sekaligus menghargai Tuhan sebagai Sang pencipta.

Doa: Ya Tuhan, tuntunlah kami untuk menjaga dan tidak merusak alam ciptaan-Mu, Amin.

Jumat, 01 Juli 2022                                                

bacaan : Amsal 12 : 11

11 Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi.

                      Mengerjakan Tanah, Makanan Diperoleh 

Mengawali keberadaan dan perjalanan di bulan ketujuh ini, kita diajak untuk tetap hidup sebagai orang bijak. Orang bijak memahami pentingnya bekerja keras, sebab hanya dengan cara demikian makanan diperoleh. Bekerja keras adalah cara atau jalan  menuju kebahagiaan, kekayaan, dan berkat. Teks hari ini haruslah dipahami sebagai ajakan iman untuk mengupayakan hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas ditandai dengan terpenuhinya kebutuhan dan makanan adalah salah satunya. Bila kebutuhan makanan terpenuhi, maka hidup terhindar dari kelaparan. Walaupun makanan hanyalah salah satu kebutuhan hidup, namun menjadi hal yang prioritas atau utama. Hidup tak mungkin berlanjut bila makanan tidak tersedia. Ingatlah bahwa makanan tak akan datang sendiri, kecuali diusahakan. Bekerja keras mengerjakan atau mengolah tanah adalah salah satu cara untuk memperoleh makanan. Tanah adalah wujud berkat Tuhan yang tersedia di alam dan oleh sebab itu haruslah dikelola agar hidup yang berkualitas dialami. Alam adalah tempat Tuhan menyediakan berkat-Nya dengan limpah ruah. Berkat Tuhan tersedia, baik di daratan, lautan, hutan, sungai, pantai, gunung, lembah, meti, dusun, bahkan di tempat pengabdian atau bekerja serta berkarier. Kita semua diminta untuk bekerja keras agar berkat yang telah Tuhan sediakan dapat dialami sebagai makanan. Tuhan telah menyediakan berkat-Nya di alam dan kita terpanggil untuk mengerjakan atau mengupayakannya menjadi makanan. Makanan tak akan datang atau jadi dengan sendirinya kecuali kitalah yang bekerja keras untuk mengupayakannya.

Doa: Ya Tuhan, berilah hikmat-Mu agar kami layak menata berkat yang tersedia dengan limpahnya di alam ini. Amin.

 

Sabtu, 02 Juli 2022                                     

bacaan : Mazmur 107 : 36 – 38

36 Ditempatkan-Nya di sana orang-orang lapar, dan mereka mendirikan kota tempat kediaman; 37 mereka menabur di ladang-ladang dan membuat kebun-kebun anggur, yang mengeluarkan buah-buahan sebagai hasil. 38 Diberkati-Nya mereka sehingga mereka bertambah banyak dengan sangat, dan hewan-hewan mereka tidak dibuat-Nya berkurang.

Kemurahan Tuhan Nyata Dalam Masa Hidup Yang Sulit

Hidup di “padang gurun” pernah dialami bangsa Israel baik setelah pembebasan karena perbudakan di Mesir, maupun pulang dari Babel tempat pembuangan. Masa-masa sulit merupakan bagian hidup yang menyatu dengan kegirangan, sukses atau sukacita. Oleh sebab itu tak mungkin dihindari atau disangkali tetapi haruslah dihadapi. Nas hari ini menyaksikan bahwa kemampuan menghadapi masa hidup yang sulit ditentukan oleh dimilikinya pengharapan. Bila hidup yang sulit mengguncang dan menggetarkan, maka eratkanlah harapan pada Tuhan Allah pengasih dan sumber berkat. Pengharapan itulah yang menjadikan kita dapat kokoh berdiri sebagai orang beriman terutama ketika mengalami masa-masa sulit dalam hidup ini. Pemazmur juga menegaskan bahwa pengharapan bukan saja menjadikan kita dapat berdiri dengan kokoh, namun menjadikan kita mampu untuk terus berkarya. Hendaklah hidup dijalani  dengan sikap iman  tetap miliki pengharapan dan tidak berhenti berkarya. Demikian kata pemazmur, dalam keadaan lapar, mereka mendirikan kota tempat kediaman, menabur di ladang-ladang dan membuat kebun anggur. Semua orang yang tetap memelihara pengharapan kepada Tuhan Maha Pengasih, hidup dan usahanya diberkati. Alam adalah wujud dan tanda kemurahan Tuhan. Karena itu sekalipun kesusahan menderu, namun selama alam ciptaan Tuhan masih ada, maka hidup kita tak akan berakhir. Berharaplah pada Dia sumber berkat itu, sebab kasih-Nya selalu tersedia dengan limpahnya pada alam tempat kita hidup. Tuhan pasti memberkati hidup dan juang kita serta menjamin kelangsungannya.

Doa: Kiranya murah-Mu baka dalam masa hidup kami yang sulit. Amin.

*Sumber : SHK Bulan Juni-Juli 2022, LPJ GPM