Santapan Harian Keluarga, 7 – 13 November 2021

Tema Mingguan : “Merawat Relasi Hidup Bersama

Minggu, 07 November 2021                          

bacaan : Matius 23 : 1 – 12

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Perkataan dan Perbuatan Harus Selaras

Tuhan Yesus sebenarnya tidak memandang buruk ajaran atau hukum yang dibuat oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ajaran mereka berasal dari sumber yang sama yaitu Allah sendiri. Ajaran-ajaran itu penting dalam kehidupan karena berguna untuk membawa manusia mengenal Allah dan setia pada perintah-perintahNya.  Namun, yang dikritik Tuhan Yesus adalah cara hidup mereka yang bertolak belakang dengan ajaran yang mereka ajarkan. Ajaran itu mereka bebankan kepada orang lain, sedangkan mereka sendiri tidak mempraktekkannya dalam kehidupan setiap hari. Tuhan Yesus berkata, “mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya.”Karena itu kepada para murid dan orang banyak Yesus mengingatkan hal ini agar mereka jangan meniru apa yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kritik Yesus ini sangat relevan bagi setiap kita yang adalah pengajar dalam gereja bahkan dalam keluarga, dalam diri orangtua yang mendidik anak-anak. Kadangkala apa yang diajarkan kepada anak-anak dalam keluarga, kita sendiri sebagai orangtua tidak melakukannya. Keselarasan antara hal-hal baik yang keluar dari mulut dengan tindakan yang kita lakukan adalah tantangan bagi setiap pengikut Yesus. mengajar hal-hal baik seperti memberi ampun, jujur, setia, bertindak adil dan tidak pilih kasih adalah sangat mudah, namun perlu usaha luar biasa untuk dapat melakukannya. Kualitas kehidupan kita justru terlihat ketika apa yang kita katakan sejalan dengan apa yang kita lakukan. Hidup kita justru dilihat dari apa yang kita lakukan secara konkrit, bukan hanya teori belaka. Sebab kesaksian hidup sederhana yang baik, lebih berharga dari teori-teori suci yang tidak pernah dipraktekkan.

Doa:  Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk bertindak selaras dengan apa yang diucapkan. Amin.

Senin, 08 November 2021                                  

bacaan : Roma 15 : 5 – 7

5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah

Hidup Saling Menerima

Menerima adalah hal mudah untuk dilakukan. Itu benar, terutama jika yang diterima itu yang enak-enak dan yang baik-baik. Menerima kue enak itu mudah. Begitu juga menerima pertolongan orang lain saat mobil kita tiba-tiba mogok di tengah jalan juga mudah.Tapi bagaimana jika yang harus diterima adalah sesuatu yang sering kita anggap sebagai yang buruk, jelek dan tidak enak? Wah, nanti dulu, tidak semua orang bisa menerimanya dengan baik. Menarik bahwa dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat Roma, yang tak terlalu dikenalnya secara personal, Rasul Paulus menyampaikan nasihat. Ia menganjurkan Jemaat di Roma untuk hidup saling menerima, seperti Kristus telah menerima mereka. Nampaknya, Paulus mengandaikan Jemaat Roma berkonteks sama dengan Jemaat-jemaat lain yang telah dikenalnya dengan baik, seperti Efesus atau Filipi yang memiliki masalah perbedaan latar belakang budaya dan tradisi. Perbedaan adalah sebuah realita dalam kehidupan jemaat Kristen yang masih sangat muda saat itu. Namun yang jadi masalah adalah saat pihak-pihak yang berbeda itu tidak bisa saling menerima dan malah saling berprasangka. Prasangka inilah yang membuat jemaat-jemaat terancam pertikaian dan perpecahan. Oleh sebab itu, Paulus meminta mereka untuk hidup saling menerima dengan dasar penerimaan adalah karena apa yang telah dilakukan oleh Kristus. Tak semua orang dalam hidup kita mudah untuk diterima. Kadang ada saja orang yang sulit, yang menyebalkan dan membuat kita tak nyaman. Namun, saat bertemu dengan orang macam itu ingatkan himbauan Paulus: terimalah orang lain, sama seperti Kristus menerima engkau.

Doa:  Tuhan, sebagaimana Engkau telah menerima kami, ajarilah kami untuk menerima satu akan yang lain. Amin.

Selasa, 09 November 2021                                     

bacaan : Filipi 2 : 1 – 4

Kristus
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Hidup Dalam Kerendahan Hati

Kekuatan persekutuan orang percaya terletak pada kesatuan hati, pikiran, kasih, jiwa, dan tujuan di antara para anggotanya. Jika kesatuan itu tidak lagi dimiliki maka persekutuan akan menuju pada kehancuran. Paulus melihat adanya ancaman internal yang berpotensi mengoyak kesatuan jemaat Filipi, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri sehingga orang lain dianggap tidak penting. Sikap ini merupakan wujud kesombongan yang dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan berpotensi menghambat kemajuan dalam kehidupan persekutuan. Orang yang sombong senang mendapatkan pujian bagi dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya yang paling hebat dan menginginkan orang lain pun menganggapnya  demikian. Orang seperti ini biasanya sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Bagi orang tersebut keutuhan persekutuan bukanlah prioritasnya. Menanggapi ancaman tersebut, Paulus mengajak segenap jemaat Filipi untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus. Yesus  rela mengosongkan diri-Nya supaya manusia berdosa dapat diselamatkan. Ia mengabaikan kemuliaan diri-Nya sebagai Allah. Kerendahan diri Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kita semua. Merendahkan diri memang bukan perkara mudah, sebab itu kita perlu melatih diri untuk bersikap demikian dalam relasi kita dengan sesama, khususnya di antara persekutuan orang percaya. Hidup dengan merendahkan diri tidak membuat harga diri kita jatuh. Tetapi itu adalah cara kita meresponi kasih Allah dalam hidup yakni menjaga hubungan dalam persekutuan tetap harmonis.

Doa: Tuhan Yesus, mampukan kami untuk hidup dengan rendah hati. Amin.

Rabu, 10 November 2021                                     

bacaan : Roma 12 : 10

10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Hidup Saling Mengasihi

Jemaat di kota Roma hidup di tengah masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, jemaat mestinya tidak hanya mementingkan kehidupan persekutuan dengan saudara seiman, tetapi juga kehidupan bersama dengan masyarakat lain yang ada di sekitar mereka. Mereka harus tetap melakukannya meskipun mereka sering mengalami tekanan, bahkan aniaya. Kepada mereka, Paulus mengingatkan akan panggilan jemaat untuk hidup di dalam kasih satu dengan yang lain, dan juga dengan sesama manusia. Kasih itu tidak berpura-pura, tetapi harus tulus dan sungguh-sungguh. Jemaat harus dapat menunjukkan kasih mereka kepada semua orang dan juga dapat menunjukkan respek dan penghargaan kepada orang lain dengan memberikan penghormatan yang sepantasnya. kehidupan orang Kristen pada saat ini pun demikian. Kita bukan hanya hidup dengan saudara seiman, tetapi juga dengan mereka yang tidak seiman. Hidup penuh kasih dalam persekutuan orang percaya seharusnya memampukan kita untuk mengasihi semua orang, bahkan yang berbeda iman dengan kita. Kasih yang tulus, sungguh-sungguh, dan bukan cuma kata-kata manis, tetapi terwujud dalam kerja yang nyata dan berdampak. Karena itu, kasih terhadap sesama anggota tubuh Kristus harus diekspresikan dengan jujur, menjauhi tindakan jahat dan melakukan yang baik, dan diteruskan dalam semangat persaudaraan kepada orang lain atau sesama saudara yang berbeda iman. Inilah wujud kesaksian kita sebagai gereja yang hidup di tengah keragaman.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan agar hidup saling mengasihi. Amin.

Kamis, 11 November 2021                   

bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 32

Cara hidup jemaat
32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Menjadi Berkat Bagi Semua Orang

Hidup persekutuan jemaat mula-mula memperlihatkan kepada kita bahwa persekutuan mereka tidak hanya sebatas pada ibadah bersama, berdoa bersama, makan bersama tetapi juga hidup bersama dalam satu kasih sebagaimana yang dikatakan dalam nas ini “Mereka sehati dan sejiwa”. Yang mempersatukan mereka bukanlah ikatan keluarga atau karena saling mengenal, tetapi mereka terikat oleh kasih Tuhan. Hidup yang sehati dan sejiwa adalah buah dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, bahwa Yesus sampai mati di kayu salib adalah hanya karena kasihNya agar kita disatukan dalam kasih Allah. Persekutuan yang kudus yang diikat oleh kasih Tuhan bukan persekutuan yang munafik dan egois. Sama-sama beribadah, berdoa, mendengarkan firman Tuhan,  bersatu di dalam doa, bersatu di dalam ibadah namun tidak bersatu di dalam kehidupan yang nyata. Sehingga kita hendak menggumuli kembali bagaimana kehidupan jemaat mula-mula ini, yakni hidup yang sehati dan sejiwa ini tetap menjadi dasar kehidupan kita. Seperti yang diperlihatkan oleh jemaat mula-mula, bahwa mereka yang sehati dan sejiwa memberikan apa yang ada padanya menjadi milik bersama, hal ini bisa menjadi teladan bagi kita dengan selalu bertanya pada diri kita sendiri, apa yang dapat kuberikan? Apa yang dapat kulakukan untuk membantu sesama? Artinya bahwa iman kita kepada Tuhan akan berbuahkan kepekaan pada orang lain. Maka bagaimana kita membangun diri kita menjadi orang yang berbahagia adalah ketika kita dapat memberi, dapat menolong dan dapat berbuat sesuatu hal yang baik bagi sesama kita atau dengan kata lain kita menjadi berkat bagi semua orang.

Doa:  Allah dalam Yesus Kristus, tolonglah kami agar kami menjadi berkat bagi semua. Amin.

Jumat,12 November 2021                                  

bacaan : 1 Petrus 3 : 1 – 7

Hidup bersama suami isteri
Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, 6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman. 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Rahasia Menjadi Pasangan Yang Harmonis

Keterbukaan dan pengertian merupakan rahasia antara suami dan istri dalam menjalani kebahagiaan rumah tangga bersama anak-anak. Rumah tangga Kristen adalah wadah kesaksian untuk bertumbuhnya iman dan spiritualitas, yang terwujud dalam hubungan dan relasi penuh pengertian dan saling mengasihi diantara anggota keluarga. Hal ini terletak pada hati nurani sebagai pusat atau jantung seluruh keberadaan dan pergerakan kita sebagai manusuia dan bukan semata pada materi. Jika hati nurani kita sehat, dimana spiritualitas relasi kita dengan Tuhan menjadi prioritas, maka akan layak dalam kebahagian dan sukacita kehidupan pasangan suami istri. Mereka saling menghargai, menghormati, saling melengkapi kekurangan masing-masing, tidak ada yang lebih istimewa sebab di mata Tuhan manusia sama. Dunia ini tidak harus menempatkan kelompok lebih tinggi yang ditinggikan dan kelompok rendah yang  dilemahkan, namun tinggi atau rendah, lemah atau kuat, mereka masing-masing memiliki kelebihan-kelebihan khusus yang Allah berikan. Ciptakan hubungan yang harmonis sebab letak kebahagiaan adalah pada kemampuan menjaga dan merawat cinta kasih sebagai anugerah Tuhan. Kebahagiaan rumah tangga tidak semata oleh karena materi yang berlebihan, namun cinta kasih Kristus yang kita bangun di dalam keluarga dan menjadi  inti dari kebahagian itu sendiri. Memang bukan hal yang mudah untuk menjaga kebersamaan dalam keluarga. Banyak cobaan, tantangan dalam kebersamaan yang dibangun akan mendewasakan kita bertumbuh dalam iman. Pentingnya untuk menghadirkan Allah dalam Kristus melalui doa dan aktivitas binakel setiap malam. Sebab kehadiran Tuhan dan RohNya menuntun kita untuk bersikap bijaksana seorang akan yang lain, saling bertanggung jawab seorang akan yang lain, hidup penuh kasih, saling menghormati, saling melengkapi, saling memafkan. ’’Hidup rukun Tuhan perintahkan berkat bagi rumah tangga kita”

Doa:  Tuhan berkatilah keharmonisan rumah tangga kami. Amin.  

 Sabtu, 13 November 2021                              

bacaan : Mazmur 133 : 1 – 3

Persaudaraan yang rukun
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Rahasia Berkat Tuhan

Bermusuhan dapat membuat seseorang hidup tidak tenang dan kehilangan rasa damai. Kepribadian yang demikian diidentifikasi oleh sifat-sifat seperti sinisme, mudah tersinggung,  dan amarah. Mereka ini memiliki pandangan hidup yang negative dan mungkin memiliki interaksi yang buruk dengan orang lain.  Mereka juga mungkin sedang stress berat, sehingga mereka menjadi mudah tersinggung. Memperbaiki perilaku tersebut dengan mewujudkan persekutuan rukun, kuncinya adalah berdoa dan membaca firman. Kerukunan antar saudara dikiaskan dengan minyak dan embun yang menyegarkan dan disamakan dengan berkat Tuhan. Alangkah baik dan indahnya apabila saudara–saudara diam dengan rukun. Persaudaraan yang rukun tidak sebatas marga dan darah daging, namun hubungan lebih luas didalam kerja dan hasil kerja kita, adalah menerima semua orang sama dan memberlakukan semua orang sama, dan juga memelihara hubungan dan relasi. Di Timur tengah kuno minyak yang dicampur rempah dan wangi dipakai untuk menguatkan dan melicinkan kulit seorang tamu yang disambut, kemudian menuangkan minyak di atas kepalanya atau meminyaki kakinya. Simbol minyak adalah pertobatan dan hubungan persaudaraan. Kebiasaan hidup rukun dalam kehidupan kekristenan adalah pola hidup Tuhan Yesus yakni saling mengasihi. Kasih seorang akan yang lain sampai pada musuhnya, akan memulihkan hubungan yang rusak menjadi baik. Karena itu dengan menjaga dan merawat hubungan persaudaraan maka akan ada sukacita hidup dan berkat. Berkat  itu akan menjadi milik orang-orang yang hidup berdamai. Marilah kita menjaga dan merawat kebersamaan hidup di muka bumi ini, sebab bumi adalah milik Tuhan dan menjadi  rumah kita bersama, tempat kita  hidup bersama. Hidup rukun dan damai, berkat Tuhan diperintahkan kepada kita.

Doa:  Tuhan berkati kehidupan kami melalui hidup yang rukun. Amin

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 31 Oktober – 6 November 2021

Tema Mingguan : “Memberitakan Injil Dengan Kasih dan Sukacita

Minggu, 31 Oktober 2021

bacaan :1 Tesalonika 2 : 1 – 12

Pelayanan Paulus di Tesalonika
Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis--hal itu kamu ketahui--dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi--Allah adalah saksi-- 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Menyenangkan Allah

Melakukan kebaikan kepada semua orang merupakan semangat yang selalu disuarakan terutama oleh gereja.  Tetapi yang menjadi pertanyaannya, apa motivasi di balik perbuatan baik yang kita lakukan? Apakah untuk menyenangkan hati Allah atau sebaliknya demi kepuasan dan keuntungan diri sendiri? Rasul Paulus dalam bacaan kita menunjukan dirinya sebagai sosok teladan yang baik yang dapat dicontohi. Ia akui dalam menjalani tugas pelayanannya melewati banyak tantangan termasuk dianiaya dan dihina tetapi ia menjalani semuanya semata-mata karena kasih kemurahan Tuhan. Motivasi rasul Paulus sangat jelas yaitu untuk menyukakan hati Tuhan. Untuk menyukakan hati Tuhan itu, ia tidak mempersoalkan setiap tantangan yang ia hadapi. Bahkan dengan sukacita tanpa membebani orang lain dan kasih seperti yang digambarkan olehnya “seperti seorang ibu mangasuh dan merawati anaknya” juga “seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu”. Sebagai manusia kita cenderung melakukan kebaikan dengan motivasi yang tidak benar di hadapan Tuhan. Sadar atau tidak, perbuatan baik yang kita lakukan terkadang untuk mendapatkan pujian dan menguntungkan diri sendiri. Bahkan tidak disertai dengan kasih dan sukacita.  Sikap dan perbuatan baik Paulus yang disertai cinta kasih terrmasuk memberitakan injil patutlah diteladani. Semua yang dilakukannya itu dengan motivasi yang jelas yaitu memprioritaskan Allah.  Kita diingatkan untuk tetap belajar melakukan sesuatu dengan sungguh, bukan untuk dilihat oleh manusia tetapi sebaliknya untuk menyenangkan hati Allah.

Doa:   Tuhan, mampukan kami menyenangkan hati-Mu lewat sikap dan perbuatan kami, Amin

Senin, 01 November 2021                              

bacaan : 2 Korintus 2 : 1 – 4

Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita. 2 Sebab, jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita karena aku. 3 Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu. 4 Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.

Melayani dengan Kasih Mendatangkan Kebaikan

Inilah surat kedua Paulus kepada jemaat Korintus yang bersifat  pribadi; berisikan ungkapan emosi dan kasih sepenuh hati kepada jemaat di sana. Paulus dengan jujur menyampaikan alasan ia tidak mengunjungi jemaat Korintus karena ia berdukacita sebab kedapatan jemaat tidak bertobat; ada beberapa guru palsu, ada kelompok orang yang memberontak berusaha untuk meremehkan kerasulan Paulus dan mempengaruhi jemaat dari kebenaran firman yang diberitakan Paulus. Mereka menuduh Paulus sombong, kurang cakap sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang rasul Yesus Kristus. Keadaan inilah yang membuat Paulus sangat cemas dan sedih sehingga Paulus memutuskan untuk menunda perkunjungannya di Korintus. Keputusan Paulus ini, agar jemaat mempunyai kesempatan menyelesaikan masalah-masalah yang sedang terjadi dalam jemaat dan mereka mengalami pertobatan agar kunjungannya mendatangkan sukacita bukan dukacita. Bagi Paulus, sukacitanya merupakan sukacita jemaat, sebaiknya dukacitanya merupakan dukacita jemaat. Paulus sunguh-sungguh menyatu dengan jemaat yang dilayaninya. Selain itu, agar Paulus dapat menghindari perselisihan diantara Paulus dan Jemaat Korintus untuk menghindari perpecahan dalam jemaat.

Makna Bacaan ini bagi keluarga saat ini, Pertama, kita semua (papa,mama dan anak-anak) terpanggil untuk memberitakan injil melalui tugas dan tanggungjawab masing-masing orang agar Tuhan dimuliakan, namun terkadang kita mengalami berbagai masalah yang membuat kita cemas, putus asa, bersedih dan sebagainya. Akan tetapi kita belajar dari Paulus untuk senantiasa melayani dengan kasih, sukacita, dan pengampunan agar kita dapat membawa banyak orang kepada pertobatan didalam Yesus. Kedua, kita turut menopang orang lain menyelesaikan masalah mereka sendiri sehingga mereka menuju kedewasan iman.

Doa: Tuhan pakailah kami sebagai alat pelayanan-Mu. Amin.

Selasa, 02 November 2021                           

bacaan : 2 Korintus 6 : 1 – 10

Paulus dalam pelayanannya
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. 2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. 4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, 5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; 6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; 7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela 8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, 9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; 10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Pakailah Hidup Sebagai Anugerah Tuhan

Lagu hidup Ini adalah kesempatan, merupakan lagu yang paling suka dinyanyikan; baik ibadah maupun moment lainnya. Karena lagu ini memberikan pesan iman yang kuat bahwa hidup manusia di dunia adalah anugerah Tuhan sekaligus mengingatkan kita bahwa hidup kita sangat singkat. Karena itu, setiap waktu adalah moment untuk melayani Tuhan dan sesama. Paulus juga berbicara mengenai pentingnya hidup karena hidup kita berada dalam waktu yang sangat terbatas (waktu Tuhan), maka kita harus melayani dan memberi buah dari pelayanan kita (band.1 Kor.7:29). Bacaan kita berisikan nasehat Paulus kepada jemaat Korintus agar mereka jangan menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah mereka terima melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib (ay.1). Hal ini, Paulus perlihatkan melalui pelayanannya, meskipun ia mengalami banyak masalah, penderitaan dan penganiayaan bahkan dipenjarakan. Ia tetap menunjukkan sikap dan teladan yang baik sebagai pelayan Tuhan.  Ia sabar menangung cercaan dan siksaan, memiliki kemurahan hati, bekerja keras, berjaga-jaga, menahan lapar, kebaikan untuk menolong sesama dengan kasih yang tidak pura-pura/munafi (ay.4-6). Kadang dihormati kadang dihina, kadang dicaci maki kadang dipuji, kadang dianggap sebagai penipu namun dipercaya, nyawa Paulus selalu terancam. Tapi, melalui pelayanannya sebagai rasul membawa banyak orang datang kepada Kristus.

Makna bacaan ini bagi keluarga, menjadi orang Kristen (pelayan Tuhan) ada harga yang harus kita bayar, yakni bersedia menjalani penderitaan (salib); dibenci orang, mendapatkan perlakuan tidak adil, difitnah, dicaci-maki,dan sebagainya. Namun kita harus tetap mengisi hidup ini dengan kebaikan-kebaikan; mengasihi, mengampuni mereka yang memusuhi kita, sabar menanggung   penderitaan, melayani dengan kasih yang tulus, maka Tuhan akan memberkati hidup kita. (bd. Roma 2:1).

Doa: Tuhan, jadikanlah hidup kami sebagai alat kemuliaan-Mu. Amin.

Rabu, 03 November 2021                                 

bacaan : Roma 15 : 19 – 21

oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."

Jadikanlah Dirimu Sebagai Alat Kecil Untuk Melayani

Bunda Teresa menulis, “Manusia hanyalah pensil di tangan Allah. Pensil hanyalah pensil, tidak akan bermanfaat apapun jika tidak dipakai untuk menulis. Pensil akan memperlihatkan kegunaannya kalau mau dipakai Allah”. Kalimat yang ditulis oleh Bunda Teresa ini mengandung makna: hidup manusia akan berguna atau sukses, jika ada campur tangan Tuhan. Jadi, tidak ada alasan untuk manusia menyombongkan diri atas keberhasilan/kesuksesan yang dicapainya. Paulus melihat dirinya sendiri, sebagai suatu alat di dalam tangan Yesus Kristus. Ia tidak berbicara tentang apa yang telah dikerjakan dan apa yang telah dicapainya, tetapi tentang apa yang telah Kristus kerjakan melalui diriny. Dalam tugas pemberitaan injil ada banyak tanda dan mujizat yang menyertai melalui peran Roh Kudus sehingga banyak bangsa menjadi percaya dan mengalami pertobatan. Hal ini memberikan kepuasan dan kehormatan bagi Paulus sebagai pelayan Kristus. Bahwa Kristus memanggil dan mengutusnya sebagai seorang pemberita injil (perintis) kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Dengan begitu, ia tidak perlu bersalahpaham (bertengkar) dengan mereka yang lebih dahulu di utus untuk memberitakan injil pada wilayah tertentu. Maknanya bagi keluarga kita, Paulus dalam melaksanakan tugas pemberitaan injil dengan berbagai keberhasilan yang diraihnya, ia mengaku bukan kehebatan dirinya melaikan kuasa Tuhan yang memungkinkan ia melakukan semuanya. Demikian pula dengan keberhasilan/kesuksesan yang kita raih dalam hidup ini, seperti: jabatan, kekayaan/harta, kuasa, pendidikan yang tinggi, menjadi pelayan gereja, janganlah membuat kita sombong, menganggap diri paling hebat dan paling penting dari orang lain karena kita hanyalah “pensil di tangan Tuhan”. Hidup kita akan menjadi berguna (memiliki penghormatan) bila kita melayani Tuhan dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati.

Doa: Tuhan, jadikanlah hidup kami seperti “pensil” di tangan-Mu. Amin.

Kamis, 04 November 2021                       

bacaan : 1 Tesalonika 3 : 1 – 13

Kabar baik yang dibawa oleh Timotius
Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. 2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu, 3 supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. 4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi. 5 Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. 6 Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, 7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. 8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. 11 Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. 12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. 13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Melayani dengan Setia dan Tekun Membawa Sukacita

Perikop ini berbicara mengenai pengutusan Timotius kembali ke Tesalonika oleh Paulus berdasarkan kerinduan dan kecemasannya mengenai orang-orang Tesalonika yang mengalami penganiayaan dan penderitaan hebat. Paulus mendorong mereka supaya berdiri teguh dalam iman, tidak mudah terombang-ambing, hidup kudus sesuai dengan kebenaran Injil. Paulus boleh merasa khawatir, namun pada akhirnya buah pemberitaannya tidaklah sia-sia. Sebab Timotius justru membawa kabar yang menggembirakan (sukacita) tentang iman dan pelayanan kasih orang-orang Tesalonika. Penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami, tidak menggoyahkan iman mereka kepada Yesus Kristus, mereka teguh berdiri didalam Kristus bahkan mereka terus meningkatkan pelayanan kasih kepada sesama. Hal ini telah mendatangkan sukacita dan penghiburan bagi Paulus yang berada di penjara. Dalam rasa syukur dan sukacita, Paulus berdoa siang-malam agar kerinduannya untuk bertemu dengan jemaat di Tesalonika dapat segera diwujutkan oleh Tuhan. Pertemuan tersebut sekaligus mendorong jemaat untuk memiiki kedewasaan iman, hidup berbagi seorang dengan yang lain, hidup tidak bercacat di hadapan Tuhan (merdeka dari dosa) sambil menanti kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Maknanya bagi keluarga, Menanti kadatangan Tuhan Yesus kedua kalinya (akhir zaman) akan ada berbagai godaan dan tantangan sebagai pekerjaan iblis (bd. 1 Petrus 5:8-9). Sebab itu, orang percaya harus terus percaya dan mengandalkan Tuhan, rajin berdoa, mengasihi sesama, meningkatkan hubungan kasih sayang diantara anggota keluarga (laeng sayang laeng, potong di kuku rasa di daging), hidup kudus; jangan menyembah berhala, iri hati, amarah, perselisihan, perseteruan, mementingkan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Doa: Tuhan, kuatkanlah iman kami menghadapi tantangan zaman. Amin.

Jumat, 05 November 2021                               

bacaan : Filipi 1 : 12 – 20

Kesaksian Paulus dalam penjara
12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, 13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. 14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. 15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. 16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, 17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. 18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, 19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. 20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

Kristus Sebagai Sumber Sukacita Dan Kasih

Surat Filipi adalah surat penuh sukacita atau kegembiraan. Surat yang berisi nasehat Paulus saat berada dalam penjara. Karena itu, surat Filipi disebut sebagai “surat penjara”. Paulus tetap bersukacita walau dipenjarakan. Semua itu karena Kristus, karena Injil yang diberitakannya telah membawa banyak orang menjadi percaya kepada Kristus termasuk pasukan pilihan dan tentara romawi. Selain itu, sukacita Paulus semakin bertambah ketika ia mendengarkan kabar baik mengenai jemaat-jemaat yang didirikannya, termasuk Filipi terus mengalami pertumbuhan iman dan pemberian kasih. Hal ini membuat ia terus memotivasi dan memberikan semangat kepada jemaat Filipi untuk sungguh-sungguh melaksanakan pekerjaan pemberitaan injil, meskipun ada sebagian orang yang menggunakan tugas pemberitaan injil untuk mencari keuntungan diri sendiri “bekerja demi upah”, dengan perasaan iri (cemburu) yang mengakibatkan perselisihan (ay.15). sikap Paulus kepada mereka yang memberitakan injil dengan maksud tertentu ia tidak memiliki rasa iri hati atau tersinggung secara pribadi selama Yesus Kristus diberitakan, ia tidak peduli siapa yang mendapat keuntungan atau mencari nama ataupun penilain negative tentang dirinya. Yang terutama bagi Paulus adalah “KRISTUS DIBERITAKAN” (ay.20). Makna bacaan ini bagi keluarga, Tugas pemberitaan Injil senantiasa diperhadapkan dengan resiko dan tantangan, akan tetapi hati kita harus terus bersukacita dan mengucap syukur supaya kita dapat memberitakan injil dan memotivasi orang lain untuk bertumbuh dalam iman dan pelayanan kasih kepada sesama. Jangan ada iri hati (cemburu) atas keberhasilan orang lain dan jangan melakukan tugas pemberintaan injil (pelayanan) dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan (melayani demi upah), mencari nama, gila hormat, dsbnya. Tetapi hendaknya kita melayani dengan rendah hati demi kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Tuhan kiranya hati kami berlimpah sukacita. Amin.

Sabtu, 06 November 2021                           

bacaan : 2 Korintus 1 : 3 – 11

Ucapan syukur
3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, 4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. 5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. 6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. 7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. 8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. 10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, 11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

Allah Sumber Penghiburan Sejati

Kehidupan tidak selalu berjalan dengan mulus. Kadang kita harus menghadapi persoalan dan cobaan yang dapat menggoyahkan iman kita dan membuat kita menyerah dan putus asa. dalam kondisi seperti itu penghiburan sangat kita butuhkan untuk menyejukkan hati dan menambah semangat agar terus berjuang di dalam Tuhan. Dan penghiburan yang sejati hanya akan kita dapatkan dari Tuhan, melalui hati yang setia dan takut akan Tuhan. Di dalam pergumulan dan penderitaan, Allah selalu setia memberikan penghiburan. Penghiburan dan pemulihan-Nya akan mengalir terus menerus sampai kita benar-benar pulih dan berhasil melewati masa-masa sulit. Penghiburan dari Allah akan memampukan kita untuk semakin bertumbuh dan berakar di dalam-Nya. Itulah yang dirasakan oleh Paulus dalam panggilan pelayanannya. Meskipun begitu banyak tantangan dan rintangan ia hadapi sampai merasa seperti mau mati, namun keyakinan akan datangnya penghiburan dari Tuhan membuatnya kuat bertahan dan menjadi kesaksian yang nyata bagi orang-orang di Korintus yang juga mengalami penderitaan. Karena itu, ketika kita sedang melalui hari-hari yang sulit, datanglah pada Allah, berharaplah akan kekuatan dan penghiburan dari-Nya. Ingatlah akan perbuatan-perbuatanNya di masa lampau. Ingatlah akan kasih setia-Nya yang tidak pernah berubah. Maka saat ini pun akan sama seperti saat itu, saat Allah mengangkat kita dari kesusahan, penderitaan dan masalah. Ia akan membawa pemulihan dan kedamaian. Jadi, jangan lelah untuk berseru kepada Allah Sumber penghiburan sejati.

DoaTuhan Yesus, Engkaulah Allah sumber penghiburan sejati dalam hidup kami, Amin.

*SUMBER : SHK Bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” HIDUP SEBAGAI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN “

Minggu, 24 Oktober 2021                              

bacaan : Yeremia 17 : 1 – 18

Pergumulan nabi oleh karena bangsa yang berdosa
"Dosa Yehuda telah tertulis dengan pena besi, yang matanya dari intan, terukir pada loh hati mereka dan pada tanduk-tanduk mezbah mereka 2 sebagai peringatan terhadap mereka! --Mezbah-mezbah mereka dan tiang-tiang berhala mereka memang ada di samping pohon yang rimbun di atas bukit yang tinggi, 3 yakni pegunungan di padang. --Harta kekayaanmu dan segala barang perbendaharaanmu akan Kuberikan dirampas sebagai ganjaran atas dosamu di segenap daerahmu. 4 Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku api telah mencetus yang akan menyala untuk selama-lamanya." 5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. 9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? 10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya." 11 Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal. 12 Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita! 13 Ya Pengharapan Israel, TUHAN, semua orang yang meninggalkan Engkau akan menjadi malu; orang-orang yang menyimpang dari pada-Mu akan dilenyapkan di negeri, sebab mereka telah meninggalkan sumber air yang hidup, yakni TUHAN. 14 Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku! 15 Sesungguhnya, mereka berkata kepadaku: "Di manakah firman TUHAN itu? Biarlah ia sampai!" 16 Namun tidak pernah aku mendesak kepada-Mu untuk mendatangkan malapetaka, aku tidak mengingini hari bencana! Engkaulah yang mengetahui apa yang keluar dari bibirku, semuanya terpampang di hadapan mata-Mu. 17 Janganlah Engkau menjadi kedahsyatan bagiku, Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka. 18 Biarlah orang-orang yang mengejar aku menjadi malu, tetapi janganlah aku ini menjadi malu; biarlah mereka terkejut, tetapi janganlah aku ini terkejut! Buatlah hari malapetaka menimpa mereka, dan hancurkanlah mereka dengan kehancuran berganda.

Mengandalkan Tuhan, Menghasilkan Buah

Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Ia mengibaratkannya bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi “daunnya tetap hijau” dan ia “tidak berhenti menghasilkan buah”. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Edna Medford, Abraham Lincoln disebut sebagai presiden terbaik Amerika. Secara tidak sengaja, orang ini mendengar suara orang berbicara di dalam kamar tersebut. Karena penasaran, dia berhenti sejenak dan mencoba melihat siapakah orang yang sedang berbicara serta apa yang dikatakannya. Seketika itu, terlihat dengan jelas sang presiden sedang berlutut di samping tempat tidurnya dan mengucapkan doa dengan sepenuh hati: “Tuhan Yesus, tolong saya untuk dapat memimpin bangsa yang besar ini.” Keberhasilan Abraham Lincoln terletak pada kesadaran dirinya untuk selalu mengandalkan pertolongan dan kuasa Tuhan. Itu sebabnya, nama Abraham Lincoln terus dikenang sampai hari ini sebagai presiden Amerika Serikat yang paling berhasil. Jika kita mengandalkan Tuhan hidup kita akan selalu menghasilkan buah dan apapun yang kau usahakan berhasil dan nama Tuhan dimuliakan melalui hidupmu.

Doa: Ya Tuhan, kami ingin selalu mengandalkan-Mu dan merindukan hidup yang menghasilkan buah serta memuliakanMu  Amin.

Senin, 25 Oktober 2021                                  

bacaan : Ulangan 6 : 10 – 19

10 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; 11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami--dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, 12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. 13 Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. 14 Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, 15 sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi. 16 Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa. 17 Haruslah kamu berpegang pada perintah, peringatan dan ketetapan TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; 18 haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN, supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, 19 dengan mengusir semua musuhmu dari hadapanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.

Mengandalkan Tuhan Bukan Hanya Saat Kita Butuh

Musa dalam perikop ini tidak pernah bosan mengatakan kepada bangsa Israel agar mereka bertindak dengan hati-hati dan tidak melupakan Tuhan, yang telah membebaskan mereka dari perbudakan. Israel akan mendapatkan berkat yang luar biasa ketika mereka masuk ke tanah perjanjian. Oleh karena itu, Musa meminta agar mereka tetap setia kepada Tuhan. Musa meminta mereka untuk berhati-hati dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Tuhan Allah mau bangsa Israel tetap setia dan mengandalkan-Nya dalam segala keadaan. Ia tidak ingin bangsa Israel menjauh dari-Nya, sehingga Musa diutus untuk memperingatkan mereka. Namun kadang kala bangsa ini tidak sadar bahwa mereka sangat dicintai, Ia hanya ingin mereka taat dan setia, tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri, bertidak hati-hati dan waspada dengan selalu mengandalkan-Nya. Ketika  sedang dalam keadaan susah lalu ada teman, sahabat, bahkan orang asing yang menolong, kita bisa secara spontan mengucapkan terima kasih dan tidak melupakan kebaikan orang itu. Bagaimana dengan Tuhan? jika dengan manusia saja kita akan selalu mengingat apa yang sudah mereka lakukan, apakah kita akan selalu ingat pada Tuhan untuk setiap kebaikan yang Ia lakukan? Apakah kita akan berterima kasih atas kebaikannya. Jika dengan manusia saja kita bisa mengenang kebaikannya selama bertahun-tahun mengapa dengan Tuhan kita hanya mengingatnya pada saat kita butuh setelah begitu banyak kebaikan yang Tuhan berikan? Mari mengandalkan Tuhan setiap saat bukan hanya mengandalkanNya saat kita butuh.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk mengandalkanMu setiap saat, bukan hanya saat kami butuh. Amin

Selasa, 26 Oktober 2021                            

bacaan : Yehezkiel 33 : 12 – 13

12 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyelamatkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup karena kebenarannya, pada waktu ia berbuat dosa. 13 Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! --tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya.

Teguran Yang Berdampak, Buah dari Mengandalkan Tuhan

Selain memberikan rumput dan air yang cukup dan melindungi dari binatang buas, tanggung jawab dari penjaga kambing domba adalah juga mengingatkan kambing dombanya dengan tongkat apabila kambing dombanya mulai berjalan sendiri menuju tempat yang berbahaya. Itulah gambaran tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada Yehezkiel sebagai penjaga Israel. Tanggung jawab Yehezkiel adalah menyampaikan peringatan, teguran, nasihat dari Tuhan kepada bangsa Israel ketika mereka berbuat dosa. Ketika kita dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi penuntun atau mengingatkan orang-orang yang berbuat dosa atau kesalahan, kita harus mengingatkannya dengan sungguh-sungguh dan tidak ada rasa takut dan merasa tidak enak atau malu hati, ketika kita melakukan yang benar kita dapat menolong orang itu untuk kembali kepada Tuhan dan menjadi orang yang lebih baik. Orang yang mengandalkan Tuhan akan selalu meminta hikmat-Nya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan. Kita akan lebih bijaksana dalam bersikap dan bergaul dan tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik. Orang yang sungguh-sungguh dekat Tuhan akan selalu meminta hikmat dan pimpinan-Nya dalam melangkah. Alangkah lebih baik jika kita memberi teguran yang berdampak untuk kebaikan mereka, dibandingkan kita hanya diam saja melihat mereka jatuh. Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat. Jika kita ingin menjadi berkat andalkanlah Tuhan setiap saat maka Ia akan memakaimu menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Doa: Tuhan, kami ingin selalu mengandalkan-Mu setiap saat dan dipakai Engkau pakai untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Amin

Rabu, 27 Oktober 2021                                    

bacaan : Mazmur 16 : 1 – 11

Bahagia orang saleh
Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. 2 Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" 3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku. 4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku. 5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. 6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. 7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Aman Dalam Perlindungan Tuhan

Hidup yang mengandalkan Tuhan seumpama seseorang pengemudi yang mengendarai kendaraannya ke daerah perbukitan. Ia akan melintasi lintasan yang tidak hanya lurus tetapi juga berbelok-belok bahkan tanjakan yang bagian kiri dan kanannya merupakan curam yang sangat dalam dan mengerikan. Namun sesampainya di puncak ia akan menikmati ketenangan, udara yang sejuk serta memanjakan matanya dengan melihat indahnya pemandangan di sekitar. Artinya bahwa dalam setiap perjalanan hidup, lika-liku kehidupan akan kita hadapi. Akan tetapi ketika terus mengandalkan Tuhan maka yang akan kita peroleh ialah sukacita, ketenteraman dan nikmat yang berasal dari pada Tuhan. Bacaan kita ini merupakan ungkapan isi hati Daud yang menggambarkan tentang penyerahan hidupnya kepada Allah. Dalam perjalanan hidupnya, berbagai macam tantangan dan persoalan hidup juga ia alami. Akan tetapi tantangan dan hambatan itu sama sekali tidak mengubah sedikitpun kepercayaan Daud bahwa hanya Allah satu-satunya yang dapat memberikan perlindungan. Pandangan yang tetap kepada Tuhan membuatnya tidak goyah bahkan terus bersukacita dan bersorak-sorai. Sebagai orang percaya kita harus belajar dari Daud yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan meminta Tuhan untuk selalu menjaga dan senantiasa melindungi maka kita akan tetap kedapatan aman dalam perlindungan-Nya. Andalkan Tuhan dan biarkan Ia memegang kendali atas seluruh kehidupan kita. Semoga sukacita dan damai sejaterah dari Allah selalu menyertai.

Doa: Ajari kami untuk tetap mengandalkan Engkau, agar kami aman dalam perlindungan-Mu. Amin.

Kamis, 28 Oktober 2021                             

bacaan : 2 Tawarikh 13 : 1 – 20

Raja Abia
Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam menjadi rajalah Abia atas Yehuda. 2 Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan Yerobeam. 3 Abia memulai perang dengan pasukan pahlawan-pahlawan perang, yang jumlahnya empat ratus ribu orang pilihan, sedangkan Yerobeam mengatur barisan perangnya melawan dia dengan delapan ratus ribu orang pilihan, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. 4 Lalu Abia berdiri di atas gunung Zemaraim, yang termasuk pegunungan Efraim, dan berkata: "Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! 5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? 6 Tetapi Yerobeam bin Nebat, hamba Salomo bin Daud, telah bangkit memberontak melawan tuannya. 7 Petualang-petualang, orang-orang dursila, berhimpun padanya; mereka terlalu kuat bagi Rehabeam bin Salomo, yang masih muda dan belum teguh hati, dan yang tidak dapat mempertahankan diri terhadap mereka. 8 Tentu kamu menyangka, bahwa kamu dapat mempertahankan diri terhadap kerajaan TUHAN, yang dipegang keturunan Daud, karena jumlah kamu besar dan karena pada kamu ada anak lembu emas yang dibuat Yerobeam untuk kamu menjadi allah. 9 Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN, anak-anak Harun itu, dan orang-orang Lewi, lalu mengangkat imam-imam menurut kebiasaan bangsa-bangsa negeri-negeri lain, sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah. 10 Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya, 11 yakni setiap pagi dan setiap petang mereka membakar bagi TUHAN korban bakaran dan ukupan dari wangi-wangian, menyusun roti sajian di atas meja yang tahir, dan mengatur kandil emas dengan pelita-pelitanya untuk dinyalakan setiap petang, karena kamilah yang memelihara kewajiban kami terhadap TUHAN, Allah kami, tetapi kamulah yang meninggalkan-Nya. 12 Lihatlah, pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan terhadap kamu dengan nafiri isyarat-isyarat. Hai orang Israel, jangan kamu berperang melawan TUHAN, Allah nenek moyangmu, karena kamu tidak akan beruntung!" 13 Tetapi Yerobeam mengirim suatu pasukan penghadang yang harus membuat gerakan keliling supaya sampai di belakang mereka, sehingga induk pasukannya berada di depan Yehuda dan pasukan-pasukan penghadang di belakang mereka. 14 Ketika Yehuda menoleh ke belakang, lihatlah, mereka harus menghadapi pertempuran dari depan dan dari belakang. Mereka berteriak kepada TUHAN, sedang para imam meniup nafiri, 15 dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang, Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israel oleh Abia dan Yehuda. 16 Orang Israel lari dari depan Yehuda, tetapi Allah menyerahkan mereka ke dalam tangan Yehuda. 17 Abia dengan laskarnya mendatangkan kekalahan yang besar kepada mereka. Dari orang Israel mati terbunuh lima ratus ribu orang pilihan. 18 Demikianlah orang Israel ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 19 Abia mengejar Yerobeam dan merebut dari padanya beberapa kota, yakni Betel dengan segala anak kotanya, Yesana dengan segala anak kotanya dan Efron dengan segala anak kotanya. 20 Tak pernah lagi Yerobeam mendapat kekuatan di zaman Abia. TUHAN memukul dia, sehingga ia mati.

Pertolongan Tuhan Tepat Pada Waktunya

Ketika sudah tidak sanggup menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan, seringkali kita berteriak dimanakah Tuhan? Akan tetapi tidak sedikit di antara kita juga yang secara tidak langsung mempersalahkan Tuhan tentang apa yang dialami. Pertanyaannya adalah benarkah kita sudah sepenuhnya bergantung dan melakukan kehendak Allah? Bacaan kita jelas menunjukan bahwa pertolongan Allah tidak pernah terlambat.  Dalam kepemimpinan raja Abia, ia tidak meninggalkan Allah dan tetap melakukan yang dikehendaki oleh-Nya.  Meskipun Yerobeam mengirimkan dua kali lipat pasukannya untuk memerangi serta mengepung Yehuda, namun raja Abia dan pasukannya tidak gentar sebab mereka mengandalkan Allah dan Allah ada di pihak mereka. Allah mengindahkan teriakan raja Abia dan Yehuda serta memberikan kemenangan bagi mereka. Dari kisah di atas, kita diajarkan untuk tetap hidup bergantung dan melakukan kehendak Allah. Tetap yakinkan diri kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Bahkan dalam keadaan yang terpuruk sekalipun, Allah sanggup mengubahnya menjadi sukacita. Biarkan hidupmu ada dalam kendali Allah sebab pertolongan-Nya akan selalu tepat pada waktunya.

Doa:  Tuhan kami percaya dengan mengandalkan Engkau, Engkau ada di pihak kami. Amin.

Jumat, 29 Oktober 2021                                       

bacaan : Amsal 3 : 5 – 8

5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

Percayakanlah Hidupmu Kepada Tuhan

Dalam dunia maritim, kompas punya peranan penting bagi seorang nahkoda ketika menahkodai kapalnya. Kompas adalah alat navigasi yang berfungsi untuk menentukan arah mata angin secara akurat. Tanpa kompas sang nahkoda belum tentu dapat melakukan perjalanannya dengan benar. Berlayar menyusuri samudera yang luas tanpa menggunakan kompas sama halnya dengan orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengandalkan-Nya. Realita menunjukan bahwa banyak diantara kita yang mengaku sebagai orang percaya tetapi tidak menunjukan kebergantungannya kepada Allah, melainkan menunjukan sikap yang merasa dirinya lebih tau, lebih baik dan lebih hebat. Bahkan keberhasilan yang dicapai seolah-olah merupakan hasil usaha sendiri. Cara hidup seperti ini mencirikan hidup orang yang hanya bersandar pada pengertian diri sendiri dan menganggap dirinya bijak serta tidak takut Tuhan. Bacaan kita ini mengajarkan pentingnya menaruh kepercayaan seutuhnya kepada sang pemberi hidup. Sebab percaya pada-Nya merupakan fondasi utama membangun relasi antara kita dengan Allah. Percaya berarti memiliki keyakinan yang sungguh dan bersandar seluruh hidup sepenuhnya kepada Allah. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita bergantung kepada Tuhan dengan segenap hati dan mengakui Dia dalam segala hal. Percayalah kepada-Nya karena Dialah yang memelihara seluruh hidup kita. Jangan bergantung pada kekuatan diri sendiri, sebab sekuat-kuatnya manusia tanpa Allah ia tidak akan mampu. Tetaplah andalkan Tuhan dan percayakan hidupmu kepada-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukan kami untuk tetap mempercayakan hidup kepada-MU, Amin

Sabtu, 30 Oktober 2021                                

bacaan : Mazmur 31 : 15 – 16

(31-15) Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" 15 (31-16) Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Tetaplah Berharap Kepada Tuhan

Ketika diperhadapkan dengan sederetan persoalan di dalam kehidupan, banyak diantara kita yang mengungkapkan isi hati serta mencari solusi dengan meminta pendapat orang lain. Dengan harapan persoalan yang dihadapi itu sedapat mungkin diselesaikan. Perikop bacaan kita memperlihatkan tentang penderitaan yang dialami oleh pemazmur. Tekanan yang dihadapi oleh pemazmur bukanlah sesuatu yang sepeleh. Meskipun demikian, pemazmur tidak meminta pedapat atau solusi dari orang lain dan juga sama sekali tidak meninggalkan Tuhan, melainkan tetap berharap kepada-Nya. …..kepada-Mu aku percaya….ayat ini membuktikan dengan berharap dan mengandalkan Tuhan menunjukan iman pemazmur yang begitu teguh kepada Allah. Begitupun dengan kita, masalah dan tantangan hidup datang silih berganti. Tantangan atau persoalan dimaksud bisa saja berkaitan dengan pekerjaan, study, kesehatan, pelayanan bahkan tantangan atau persoalan yang dialami dalam kehidupan keluarga. Persoalan seperti itulah yang terkadang membuat kita semakin menjauh bahkan juga meninggalkan Tuhan. Akan tetapi tahukah kita, Justru persoalan terbesar di dalam hidup yaitu ketika kita tidak berharap kepada Tuhan. Pemazmur dalam bacaan kita saat ini mau mengajarkan kita tentang pentingnya berharap, berlindung serta terus mengandalkan Tuhan sebagai bukti dari iman kita kepada-Nya. Apapun yang menjadai persoalanmu, tetaplah percaya dan bersandar kepada-Nya sebab Dialah yang dengan kasih setia-Nya akan selalu memelihara dan menolongmu. Ingatlah, ketika masalah menghampiri hidup kita janganlah berharap kepada manusia karena akan sia-sia, tetapi tetaplah bersandar dan berpengharapan hanya kepada Allah.

Doa: Bapa, tolonglah kami agar selalu berharap hanya kepada Mu, Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” KOYAKKANLAH HATIMU DAN BERBALIKLAH KEPADA TUHAN “

Minggu, 17 Oktober 2021                                    

bacaan : Yoel 2 : 12 – 17

Seruan untuk bertobat
12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." 13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. 14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. 15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; 16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; 17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Dosa Menyebabkan Penghukuman, Pertobatan Mendapatkan Keselamatan

Sepanjang tahun 2021 ini, tercatat telah terjadi berbagai bencana alam maupun non alam di negeri ini. Bencana alam berupa banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan. Bencana non-alam berupa pandemic covid-19 dengan berbagai variannya. Sebuah tabloid nasional memuat tulisan dengan judul “Apakah Tuhan itu baik?” Bacaan hari ini  menyaksikan bahwa nabi Yoel juga mempertanyakan kebaikan Tuhan. Tema utama kitab Yoel tentang “Hari Tuhan”. Hari Tuhan dihubungkan dengan  penghukuman Allah kepada umat Israel akibat dosa mereka. Mereka berbalik meninggalkan Allah dan menyembah berhala, pejabat dan umat melakukan kesalahan. Akibat dosa yang dilakukan umat Israel ini maka Allah mendatangkan penghukuman-Nya, berupa wabah belalang yang mengerikan disertai kelaparan yang hebat melanda seluruh negeri (YL.1:2-20). Penghukuman Allah yang dasyat ini hanya dapat dibatalkan jika umat, para imam dan seluruh pelayan berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, berpuasa, menangis, mengaduh dan memohon belas kasih Tuhan (ay.12,17). Berbalik berarti umat mencari Tuhan, meninggalkan allah-allah sembahan mereka serta melakukan kehendak Tuhan, yakni membangun relasi dengan Tuhan, sesama dan alam ciptaan-Nya dengan baik dan benar. (ay.13), “Koyakkanlah hatimu” artinya pertobatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh bukan berpura-pura (munafik), karena Allah menilai hati setiap orang. Allah akan menyelamatkan bukan menghukum, karena Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (ay.14). Bencana atau penderitaan adalah peringatan supaya perbuatan dosa ditinggalkan dan berbalik kepada Tuhan, sehingga Ia menyelamatkan hidup kita.

Doa: Tuhan, Tuntunlah kami untuk bertobat dan berbalik kepada-Mu. Amin.

Senin, 18 Oktober 2021                                     

bacaan : 1 Samuel 7 : 2 – 9

Orang Filistin terpukul kalah dekat Mizpa
2 Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN. 3 Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin." 4 Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. 5 Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN." 6 Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. 7 Ketika didengar orang Filistin, bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. Serta didengar orang Israel demikian, maka ketakutanlah mereka terhadap orang Filistin. 8 Lalu kata orang Israel kepada Samuel: "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu." 9 Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia.

Mengasihi Tanpa Syarat

Sadar akan setiap kesalahan dan berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan yang sama adalah bentuk penyesalan diri seorang manusia ketika diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Bentuk penyesalan itu kemudian mengajarkan kita agar berpikir, berkata-kata dan bertindak dengan hati-hati serta memikirkan dampak dari setiap perbuatan kita. Jangan hanya karena ingin menang, ingin bebas atau ingin aman lalu mengabaikan dampak dari keinginan-keinginan itu. Jika keinginan itu didapatkan dari usaha dan kerja yang sungguh-sungguh dan tidak merugikan siapapun maka tidak akan ada penyesalan, tetapi jika keinginan yang didapatkan dari tindakan tidak manusiawi maka suatu saat pasti hasilnya berujung penyesalan. Samuel mengantarkan orang-orang Israel untuk kembali kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Mizpa menjadi daerah pemulihan bagi bangsa Israel. Mereka berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan mereka lagi dan berjanji akan menyembah Tuhan, oleh sebab itu mereka berkata kepada Samuel agar terus berseru kepada Tuhan sehingga Tuhan menyelamatkan mereka dari bangsa Filistin. Bacaan hari ini, mengajarkan kita untuk sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan tanpa syarat. Percaya dan meyakini kuasa-Nya bukan karena dorongan keinginan manusiawi, tetapi oleh keyakinan akan penyelamatan Tuhan. Oleh karena itu, janganlah gegabah, fokuslah kepada Tuhan dan setiap perbuatan-Nya yang ajaib, berpikirlah sebelum bertindak dan berkata, maka setiap gumulan kita akan dijawab-Nya dengan mendatangkan kebaikan dan sukacita.

Doa: Ya… Tuhan, mampukan kami untuk tetap berjalan pada kehendak-Mu. Amin

Selasa, 19 Oktober 2021                                        

bacaan : Hosea 6 : 1 – 3

"Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."

Fondasi Kepercayaan Yang Tulus

Film Fire Proof (Tahan Api) menggambarkan tentang kehidupan dalam rumah tangga yang mengalami konflik interpersonal. Konflik kerap terjadi pada pasangan suami istri hanya karena berbeda pendapat atau kurangnya komunikasi. Salah satu konflik yang menonjol dari film ini ialah tentang rasa percaya yang “pura-pura” antar suami istri agar rumah tangga mereka tetap bertahan. Hingga pada titik kejenuhan, istri memutuskan untuk hubungan ini berakhir dengan perceraian. Sang suami awalnya setuju, namun kedua orang tuanya mencegah ia dengan mengatakan bahwa pernikahan mereka masih dapat diselamatkan. Pada akhirnya, sang suami mempraktekkan rumus cinta dari ayahnya sehingga rumah tangga mereka terselamatkan. Oleh karenanya, keyakinan dan kesungguhan menjadi basis dalam membangun sebuah hubungan. Nabi Hosea memanggil bangsa Israel untuk bertobat serta mengharapkan rahmat dan kemurahan hati Tuhan untuk memulihkan mereka.  Dalam ayat 3a dikatakan bahwa, Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; hal ini merupakan sebuah frase untuk berbalik kepada Tuhan atau seruan pertobatan. Yakinlah akan besarnya pengasihan Tuhan.  Oleh karena itu, bangunlah hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan lewat setiap keluarga kita. Hubungan yang tulus, penuh kasih sayang, saling menguatkan dalam tiap keluarga. Percayalah, jika landasan hubungan yang dibangun bukan sebuah kepura-puraan maka setiap tantangan yang ada di dalamnya pasti dapat terselesaikan dengan penuh kedamaian.

Doa: Urapilah kami dengan Roh Kudus-Mu Tuhan, agar kami memiliki hati yang tulus, Amin

Rabu, 20 Oktober 2021                                         

bacaan : Hosea 12 : 1 – 7

Efraim dan Yakub bapa leluhurnya
(12-1) Dengan kebohongan Aku telah dikepung oleh Efraim, dengan tipu oleh kaum Israel; sedang Yehuda menghilang dari dekat Allah, dari dekat Yang Mahakudus yang setia. (12-2) Efraim menjaga angin, dan mengejar angin timur sehari suntuk, memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan membawa minyak kepada Mesir. 2 (12-3) TUHAN mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. 3 (12-4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. 4 (12-5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: 5 (12-6) --yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya-- 6 (12-7) "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."

Kesempatan Kedua

Tuhanku, Bila Hati Kawanku adalah judul lagu dari Kj. No. 467, yang mengisahkan tentang pengakuan seseorang kepada Tuhan karena telah menyakiti hati sesamanya oleh karena tingkah laku dan tutur katanya. Pengakuan itu mengisyaratkan adanya penyesalan yang mendalam. Tuhan mengenal umat-Nya, Ia mengenal Efraim, Yakub, dan mengetahui setiap detail kehidupan mereka. Tuhan telah melakukan yang terbaik bagi umat-Nya, namun mereka berbuat yang sebaliknya. Tuhan telah memelihara kasih setia-Nya, namun umat mengabaikan-Nya. Tuhan menjaga umat-Nya, namun umat menjauhi-Nya. Dalam keadaan yang demikian, sulit untuk memahami bahwa Tuhan bisa sakit hati karena perbuatan umat-Nya. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih sayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia bisa sakit hati? Namun, ketika kita tidak melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan melanggar setiap ketetapan-Nya maka Ia akan kecewa dan sakit hati (ay.3). Kenyataan membuktikan adanya fakta tentang anggota keluarga yang  saling menyakiti dan mendukacitakan hati. Antar suami-istri, orang tua-anak, bahkan hidup bersaudara. Koinflik dipicu dorongan emosional marah. Kita perlu belajar untuk tidak berbicara ketika sedang marah. Berusahalah menenangkan diri dan berdoalah kepada Tuhan agar Roh Kudus menguasai hati kita. Belajarlah untuk terus saling menegur dengan kasih, merendahkan hati, dan mengalah untuk menciptakan hidup yang berdamai sejahtera. Percayalah pada Tuhan sebab kasih-Nya besar dan selalu  mengampuni.

Doa: Ya Tuhan, berilah kasih-Mu yang melembutan hati agar kami mampu hidup dengan bermakna. Amin.

Kamis, 21 Oktober 2021                                  

bacaan : Ulangan 30 : 1 – 10

Pulih setelah tobat
"Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, 2 dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 3 maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. 4 Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau. 5 TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu. 6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup. 7 TUHAN, Allahmu, akan menjatuhkan segala sumpah serapah itu kepada musuhmu dan pembencimu, yang telah mengejar engkau. 8 Engkau akan mendengarkan kembali suara TUHAN dan melakukan segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. 9 TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu-- 10 apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."

Pemulihan Yang Sejati

Pandemik Covid-19 merupakan pandemik global yang hingga saat ini masih terus diupayakan agar berhenti atau selesai penyebarannya. Banyak upaya dilakukan oleh pemerintah, aparat keamanan, para medis, tokoh-tokoh agama hingga masyarakat sipil. Cara mencegahnya diupayakan dengan berbagai metode mulai dari 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan) hingga Vaksinasi. Semua metode ini diharapkan agar Pandemik ini segera berlalu. Kenyataan ini hendaklah terus direfleksikan orang percaya agar selalu berharap kepada Tuhan. Gereja Protestan Maluku menyuarakan agar semua warga GPM berdoa serentak di rumah masing-masing juga dari TOA Gereja pada setiap pukul 20.00 WIT malam. Keheningan dan penyerahan diri kepada Tuhan dalam setiap doa, sesungguhnya merupakan pengakuan atas keberdosaan kita juga. Ulangan 30 : 1 – 10 menegaskan bahwa bangsa Israel diperintahkan untuk segera berbalik kepada Tuhan, sebab jika  berbalik kepada Tuhan lalu melakukan kehendak-Nya maka pemulihan dan keselamatan akan diterima. Tuhan Allah memiliki kasih yang begitu besar, Ia karuniakan untuk setiap umat-Nya yang bersedia kembali kepada-Nya. Oleh sebab itu, keluarga-keluarga Kristen tetaplah membangun hubungan intim dengan Tuhan dalam doa setiap malam, saling mendoakan, pelihara hidup saling mengasihi serta positif thinking untuk setiap tantangan di dalam hidup. Percayalah, pemulihan akan kita peroleh di dalam penyertaan-Nya.

Doa: Pulihkanlah kami ya Tuhan, dengan kuasa dan kasih setia-Mu. Amin.

Jumat, 22 Oktober  2021                                   

bacaan : Zefanya 2 : 1 – 3

Seruan untuk bertobat
Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, 2 sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN. 3 Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Carilah Tuhan dan Bertobatlah

Manusia selalu ingin terhindar dari bencana atau malapetaka, termasuk mereka yang beriman kepada Tuhan. Kita juga paham bahwa Tuhan tidak pernah memandang muka. Ia cemburu  dan menunjukkan murkaNya kepada siapa pun yang tidak melakukan kebaikan, kebenaran, dan keadilan kepada sesama manusia. Bacaan hari ini menegaskan tindakan kenabian  Zefanya yang menyerukan pertobatan, jika tidak ingin dihalau seperti sekam yang tertiup dan sebelum murka Tuhan menyala-nyala. Bertobat dari apa? Zefanya menyerukan untuk bertobat dari praktek ketidakadilan dan keangkuhan atau kesombongan. Pertobatan seperti apa yang harus dilakukan? Bertobat dengan mencari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang melakukan praktek ketidakadilan merupakan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Begitu pun mereka yang tidak memiliki kerendahan hati, yang suka menyombongkan diri, hidup dalam keangkuhan merupakan orang-orang yang belum mengenal Tuhan meskipun mereka adalah orang-orang yang beragama. Seruan carilah Tuhan, merupakan perintah pertobatan agar terhindar dari malapetaka dan murka Tuhan yang menyala-nyala. Anjuran ini haruslah direfleksikan dan diwujudkan dalam hidup beriman sehari-hari, agar kita mengalami kebaikan dan kemurahan Tuhan kapan dan di mana saja. Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup dalam pertobatan. Amin

Sabtu, 23 Oktober 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 6 : 34 – 42

34 Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 35 maka Engkau kiranya mendengar dari sorga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka. 36 Apabila mereka berdosa kepada-Mu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat, 37 dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, 38 apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 39 maka Engkau kiranya mendengarkan dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. 40 Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya TUHAN Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu."

Datanglah KepadaNya, Jangan Malu

Bacaan 2 Tawarikh 6:34-42, berisi doa Salomo.  Ini adalah doa yang disampaikan Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci, dan tertulis dalam 30 ayat. Kisah  ini menunjukkan bahwa doa menjadi bagian terpenting dalam Bait Suci Salomo selain persembahan dan puji-pujian. Salomo meminta belas kasihan Allah untuk mendengar seruan umat Israel dan Allah kiranya bermurah hati mengampuni apabila mereka menyesali dosa dan kesalahan serta ingin berbalik kepada Allah. Ada berbagai macam ekspresi dan tindakan orang yang menyesal. Ada yang diam meratapi diri, menangis sejadi-jadinya, memohon ampun dari orang yang disakiti, dan lain-lain. Alkitab mencatat banyak kesaksian tentang orang Israel, mulai dari raja, nabi, sampai orang biasa, yang menyesal dan mengakui dosa. Salah satu ekspresi yang mereka lakukan adalah mengoyakkan pakaian. Melalui tindakan itu, mereka mengakui keberadaan diri, ketidaklayakan, dan dosa mereka di hadapan Allah yang mahakudus. Allah menghendaki penyesalan atau sadar diri akan dosa yang sungguh bukan hanya sesaat bukan hanya sekadar mengoyakkan pakaian, tetapi mengoyakkan hati, (penyesalan yang tulus dan ada keinginan untuk menjadi lebih baik secara terus-menerus). Allah adalah setia dan penyayang dan Ia pasti mengampuni kesalahan dan dosa kita. Jangan malu datang kepada-Nya, akuilah kesalahanmu dan buat komitmen untuk jadi lebih baik, Ia ingin engkau berbalik dengan sungguh-sungguh, Ia menunggumu datang kepadaNya dalam doa.

Doa: Ya Tuhan, Ampunilah kami akan segala kesalahan kami, beri kami kesempatan untuk menjadi lebih baik . Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : “KASIH KARUNIA ALLAH MEMBENARKAN ORANG PERCAYA”

Minggu, 10 Oktober 2021                                   

bacaan : Roma 1 : 16 – 17

Injil itu kekuatan Allah
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Injil Itu Kekuatan Allah

Hal penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah bahwa injil itu kekuatan Allah. Injil adalah kekuatan Allah yang  menyelamatkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Injil, kekuatan yang memberikan  keselamatan  kepada manusia dan dunia. Iman dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan, menerangi pikiran dengan kebenaran dan menuntun pada keselamatan itu. Injil adalah kekuatan yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (ayat 16). Ini adalah tema yang sangat penting dalam semua surat Paulus, terutama surat Roma. Gagasan menyelamatkan menunjuk pada karya Allah yang membebaskan manusia dari dosa dan kuasa-kuasa jahat. Keselamatan dialami oleh mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia. Yesus adalah Anak Allah yang telah datang ke dunia untuk menjadi tebusan bagi mereka yang percaya. Pengurbanan Yesus adalah kasih karunia yang dialamatkan kepada seluruh dunia tanpa terkecuali. Maksudnya adalah bahwa keselamatan di dalam Yesus dapat dialami oleh semua manusia yang percaya dan bukan karena jasa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, kecuali oleh kasih karunia Allah. Inilah berita yang menguatkan harapan dan keyakinan bahwa Allah mangasihi, peduli dan rela berkorban. Kita menjadi kuat, sebab Allah dapat melakukan hal yang tidak mampu manusia kerjakan.  Injil menjadi pesan iman yang membebaskan manusia dari kekuatiran, kebimbangan dan keputusasaan.

Doa: Tuhan perlindunganku, berikanlah kekuatan-Mu untuk kami. Amin.

Senin, 11 Oktober 2021                                

bacaan : Mazmur 35 : 27 – 28

27 Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: "TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!" 28 Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari.

Bersukacitalah Karena Kasih Karunia Allah Menyelamatkan

Suatu kali Socrates bertanya kepada seorang lelaki tua yang sederhana tentang apa yang membuatnya bersyukur. Lelaki itu menjawab “Yang paling saya syukuri adalah meski keadaan saya begini, saya memiliki sahabat–sahabat yang begitu SETIA sampai saat ini. Ada banyak sahabat yang tidak setia. Dalam kitab Amsal tertulis, ”Kekayaan menambah banyak sahabat ”tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya. (Amsal 19:4). Sahabat palsu biasanya lebih suka bergaul dengan si kaya dan menjadi seorang penjilat serta penghianat. Namun sahabat sejati menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Pengalaman tentang kebaikan yang luar biasa juga dialami pemazmur. Pemazmur mengalami dan meyakini bahwa kasih Allah melebihi segala sesuatu dalam hidupnya. Ia katakan;  biarlah bersorak-sorak dan bersukacita karena Dia membebaskan dari musuhnya. Kasih karunia Allah menolong kita melangkah, dan memberi kekuatan. Allah menjadikan kita sahabat, agar kasih karunia-Nya diteruskan kepada semua orang. Kita diminta untuk berhati-hati dan bijak agar dapat mebedakan mana sahabat serta mana lawan. Kisah di atas mengajarkan bahwa sahabat sejati dapat menjadikan kita bersyukur. Kita bersyukur bahwa Allah di dalam Yesus telah menjadi sahabat yang setia. Dia selalu setia di dalam hidup kita. Ia mengangkat, menolong, membebaskan dari berbagai kesulitan, keraguan, ketakutan, dan kecemansan. Jadikanlah Dia sahabat setia kita dalam susah maupun senang.

Doa:    Tuhan tunjukanlah kasih setia-Mu, yang menyelamatkan hidup kami. Amin.

Selasa, 12 Oktober 2021                                     

bacaan : Roma 2 : 12 – 16

12 Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. 13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. 14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Allah Berlaku Adil

Allah menuntun kita untuk menemukan kebenaran-Nya. Kebenaran akan Allah memerdekakan kita. Paulus katakan: Allah berikan kebenaran kepada semua orang dan Ia berlaku adil atas mereka. Allah mencintai semua umat manusia, sekalipun bangsa lain tidak memiliki Hukum Taurat. Ia menciptakan hati nurani, agar semua orang dapat memahami benar dan salah.  Hukum Taurat, menunjukkan bahwa manusia tidak mampu untuk lepas dari dosa sehingga dibutuhkanlah anugerah yang menyelamatkan. Paulus menegaskan bahwa semua orang harus  menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya mereka memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup, baik atau jahat. Perbuatan jahat orang percaya yang telah diakui dalam pertobatan, akan diampuni (Roma 8:1). Siapa yang melakukan kesalahan  akan menanggung akibatnya. Hal itu terkait dengan penghakiman Allah.  Keselamatan seseorang tidak ditentukan Hukum Taurat, tetapi oleh kasih karunia Allah. Hukum Taurat berisi tuntunan Allah bagi umat-Nya untuk hidup dan beribadat dan saling melayani. Yesus datang ke dunia dalam kebenaran  dan memerdekakan manusia dari perhambaan dosa. Ia adalah hakim yang adil dan benar. Demikianlah orang Kristen harus menyempurnakan dalam diri mereka takut akan Tuhan, sehingga dapat hidup dalam kemurnian hati nurani dan penguasaan diri, berjaga, berdoa,  kudus, saleh, serta menunjukkan kemurahan juga kebaikan kepada semua manusia.

Doa:    Ya Tuhan berilah Roh-Mu menuntun hati kami, agar mampu melakukan kebenaran. Amin.

Rabu, 13 Oktober 2021                                          

bacaan : Roma 4 : 2 – 6

2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." 4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. 6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:

Dibenarkan Karena Iman

Pernahkah kita mendengar istilah “sombong rohani”? Istilah ini mengandung pandangan bahwa diri lebih baik secara moral, atau lebih benar dari orang lain. Pandangan ini juga diperlihatkan oleh orang Kristen asal Yahudi yang merasa paling benar di hadapan Allah karena mempraktekkan hukum taurat (band. Rm.3:20). Mereka beranggapan bahwa keselamatan hanya dimiliki oleh orang yang melakukan hukum taurat, sebaliknya semua yang tidak mempraktekan hukum taurat dianggap “kafir” dan tak berhak atas keselamatan Allah. Pandangan ini sangat berbahaya karena berpotensi perpecahan bagi orang Kristen Yahudi dengan non Yahudi di Roma. Menanggapi pandangan tersebut, Paulus kemudian memberikan pemahaman yang baru dengan memberikan contoh tentang tokoh Abraham, bapa leluhur Israel (ay.1). Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman karena memiliki iman yang sungguh kepada Allah (band. Kej.12:1-9; 15:1-21; 18:1-15). Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran (ay.3 band.Ibrn.11:8). Demikian juga dengan Daud dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatannya (ay.6).  Paulus mau mengatakan bahwa baik Abraham maupun Daud dibenarkan oleh Tuhan karena iman mereka bukan karena melakukan tuntutan Hukum Taurat atau melakukan perbuatan baik lainnya. Karena itu, apa yang harus dibanggakan di hadapan Allah? Makna bacaan ini bagi kita adalah bahwa setiap orang percaya sudah menerima anugerah keselamatan secara cuma-cuma dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bukan hasil usaha kita atau perbuatan baik (rajin beribadah, rajin melayani, memberikan persepuluhan,dll) sebab berkat yang diterima adalah milik Allah yang diberikan berdasarkan kasih karunia-Nya. Karena itu, kita tidak perlu “sombong rohani” dengan mengaggap diri  paling baik dan benar di hadapan Tuhan sedangkan orang lain berdosa.

Doa: Tuhan tuntunlah hati kami untuk tidak sombong rohani. Amin.

 Kamis, 14 Oktober 2021                               

bacaan : Roma 5 : 1 – 2                                 

Hasil pembenaran
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Bersama Yesus, Melangkah di Tengah Badai Hidup

Pandemi Covid 19 dengan varian Delta dan MU telah menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan bahkan Kesengsaraan (penderitaan) bagi banyak orang. Situasi serupa juga dialami oleh orang Kristen di Roma, mereka mengalami  penganiayaan yang hebat karena iman kepada Yesus Kristus. Dalam menghadapi situasi yang demikian, ada orang Kristen yang yang tetap bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus sekalipun harus menderita, tetapi ada juga yang akhirnya memilih untuk meninggalkan imannya kepada Yesus Kristus karena tidak sanggup menghadapi tekanan tersebut. Paulus menasihati orang percaya agar di tengah situasi yang sulit, mereka tetap mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Alasannya,  mereka sudah dibenarkan karena iman melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Yesus telah menyelamatkan mereka dari kuasa dosa dan memberikan sukacita, damai sejahtera (ay.1) Kehidupan yang  berpusat pada Yesus memampukan orang percaya untuk kokoh berdiri menghadapi berbagai kesengsaraan bahkan dapat bermegah dalam pengharapan karena mereka akan menerima kemuliaan Allah (ay.2). Bacaan ini menegaskan sikap berani menghadapi kenyataan hidup, terutama yang membebani dan menekan. Masalah janganlah melemahkan pengharapan kita kepada Yesus Kristus, sebaliknya menjadi pintu masuk membangun pengharapan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang bijak: “Harapanlah yang membuat seseorang mampu untuk bertahan menjalani hidup sekalipun ada begitu banyak tantangan dan hambatan”. Semoga kita memiliki harapan kepada Yesus Kristus dalam hidup ini. Saat kita membuka mata di pagi hari,  bahkan ketika akan menutupnya pada malam nanti, tetaplah berpengharapan kepada Yesus, Tuhan penyelamat, sambil menyambut hari esok yang lebih baik.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami melangkah di tengah badai hidup. Amin.

Jumat, 15 Oktober 2021                                    

bacaan : Lukas 18 : 9 – 14

Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Barangsiapa Merendahkan Diri Akan Ditinggikan

Kesombongan; sifat suka meninggikan diri, sok tahu dan merasa paling hebat adalah salah satu sifat yang dibenci Tuhan (band.Ams.6:16-17). Hal ini dijelaskan pula oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai dalam perikop bacaan kita tadi. Dikatakan bahwa Orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama berdoa di Bait Allah.  Orang farisi dengan sombongnya menghadap Tuhan dengan menganggap dirinya paling benar karena  merasa tidak melakukan dosa (seperti yang dilakukan pemungut cukai). Ia juga merasa paling hebat karena berpuasa 2 kali seminggu, memberikan persepuluhan secara rutin (ay.11,12). Sedangkan Pemungut cukai dengan sikap rendah diri dan merasa tidak layak, datang menyesali dosa-dosanya dan memohon pengampunan dari Tuhan (ay.13). Tuhan Yesus katakan orang yang berdoa dengan jujur dan benar adalah si pemungut cukai. Doanya didengar oleh Allah karena ia tahu diri sebagai orang yang memerlukan kasih karunia Allah. Doa orang farisi tidak diterima oleh Allah karena kesombongannya. Maknanya bagi kita saat ini, jangan sombong atau merasa diri paling banar, paling hebat di hadapan Tuhan karena melakukan kewajiban keagamaan; rajin beribadah, memberikan persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan, dan sebgainya. Karena Tuhan membenci orang-orang sombong, sebaliknya Dia mengasihi orang rendah hati dan mengakui dosa-dosanya. Firman Tuhan: ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (ay.14). Jadi, biarkan Tuhan yang memuji kita jangan kita memuji diri kita sendiri. Melaksanakan kewajiban keagamaan; beribadah, persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan adalah cara kita mengucap syukur atas berkat yang kita terima  dari Tuhan. Ingatlah, hidup kita hanya karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Doa: Roh Kudus jauhkan kami dari sifat kesombongan. Amin.

Sabtu, 16 Oktober 2021                                        

bacaan : Mazmur 4 : 2

(4-2) Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!

Doa Menjadi Kekuatan

Semua orang tidak terlepas dari yang namanya masalah, penderitaan, putus asa, galau, gelisah, bimbang, kecewa, takut, kuatir. Mengapa penderitaan tidak terlepas dari diri kita? Karena masalah/penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Sebab itu yang terpenting adalah bukan soal masalahnya tetapi pada bagaimana kita dapat menyelesaikannya.  Perikop bacaan kita menjelaskan bagaimana Pemazmur  mengalami tekanan akibat fitnah dan kebohongan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya terhadap dirinya. (ay.3). Ia  menyampaikan permohonan doanya kepada Tuhan dan mengharapkan jawaban-Nya (ay.2). Pemazmur  mengandalkan Tuhan sebagai penolong satu-satunya dan menjadikan-Nya sebagai sumber kebenaran yang akan membela dan memberikan keadilan kepadanya berdasarkan kasih karunia Tuhan. Kita belajar untuk menyerahkan hidup secara total kepada Tuhan kapan dan di manapun berada. Akta berserah dan membawa seluruh persoalan hidup kepada Tuhan,  menjadikan kita menjadi tenang, tenteram dan aman. Berserah kepada Tuhan adalah pengalaman iman pemazmur yang patut diteladani. Kita belajar bahwa dengan berserah kepada Tuhan dan membawa seluruh persoalan hidup kepada-Nya maka akan hilang rasa takut, cemas serta kuatir. Yakinlah bahwa dengan percaya kepada Tuhan, maka persoalan hidup tidak menjadi beban pikiran. Kita akan terhindar dari dialaminya penyakit susah tidur (insomnia) yang membahayakan kesehatan. Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, penyakit susah tidur (insomnia) mengakibatkan masalah psikologis (depresi berat atau gangguan kejiwaan) dan masalah kesehatan yang serius, seperti: stroke, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kegemukan (obesitas) dan penurunan daya tahan tubuh. Jadi marilah berserah dan berseru pada Tuhan, sebab Ia akan menjawab dan memberikan kelegaan kepada kita.

Doa:  Tuhan, jangan tinggalkan aku sendiri, jawablah aku. Amin.

*sumber : SHK bulan Oktober 2021 LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” KASIH ALLAH YANG MENDAMAIKAN “

Minggu, 03 Oktober 2021                                       

bacaan : Ibrani 2 : 5 – 18

Yesus seketika lebih rendah dari pada malaikat-malaikat

5 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. 6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, 8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. 9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. 10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. 11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, 12 kata-Nya: "Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat," 13 dan lagi: "Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya," dan lagi: "Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku." 14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. 16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. 17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. 18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Jalanilah Hidup dengan Damai dan Kudus

Minggu pertama di bulan Oktober ini kita jalani dengan inspirasi tema: kasih Allah yang mendamaikan. Kasih Allah yang mendamaikan telah terwujud melalui kehadiran Yesus Kristus di dunia. Yesus Kristus diutus untuk menjadi tebusan bagi dosa-dosa manusia. Dosa menjadi penghalang dan menjauhkan manusia dari mengalami kasih Allah. Kehidupan orang berdosa selalu diwarnai dengan pemberontakan terhadap Allah. Inilah alasan tindakan pendamaian yang dikaryakan Yesus. Ia menghapus dosa manusia dan mendamaikan mereka dengan Allah. Pendamaian itu dilakukan dengan cara mengurbankan diri-Nya sendiri untuk menjadi tebusan. Yesus yang berkurban itu meninggalkan kemuliaan-Nya di surga, datang dan masuk ke dunia. Tindakan Ilahi demikian inilah yang dimaksudkan penulis surat Ibrani melalui pernyataan “Yesus seketika lebih rendah dari pada malaikat-malaikat”. Anak Allah menjadi manusia dan menjadi lebih rendah dari malaikat untuk sementara waktu. Kristus telah merendahkan diri-Nya dan taat kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus mengalami maut bagi manusia, Ia mati di salib. Kematian-Nya menghapus dosa dan mengalahkan maut serta kejahatan. Kristus berkurban supaya manusia didamaikan dengan Allah. Manusia yang berdamai dengan Allah hidup dan mengalami kemurahan-Nya dengan berlimpah. Semua orang yang berdamai dengan Allah telah menjadi kudus. Artinya “dipilih” atau “dipisahkan” bagi Allah. Orang-orang kudus hidup menjauhkan kejahatan dan dosa karena menyukai kasih, kebenaran, kebaikan, dan kemurahan. Hidup dalam kekudusan adalah panggilan orang Kristen sekarang ini. Kita sedang dalam hidup dalam masyarakat yang tersu bergumul dengan berbagai masalah dan terpanggil untuk terus membarui kehidupan bersama itu. Hendaklah kita hidup dengan damai dan kudus.

Doa:  Ya Tuhan, Allah pendamai, layakkanlah kami untuk hidup berdamai dan kudus dengan semua orang. Amin.

Senin,  04 Oktober 2021                                  

bacaan : Kejadian 9 : 8 – 17

8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." 12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."

Janji Allah, Jaminan Kelangsungan Hidup di Semesta

Kisah ini adalah kelanjutan dari tuturan surutnya air bah dan menegaskan pesan kebaikan Allah. Allah mengasihi manusia dan segenap keberadaan di bumi serta menjamin kelangsungan hidup semua ciptaan-Nya. Masa hidup yang sulit atau ancaman kematian massal telah berlalu. Manusia harus belajar dari masa lalu yang kelam bahwa akibat buruk dari pemberontakan terhadap Allah atau kejahatan ternyata sangat merugikan. Allah menciptakan manusia dan semesta ini dengan baik dan karena itu kehidupan harus pula dijalani dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Pencipta semesta itu baik adanya dan oleh sebab itu tetap berkarya untuk mendatangkan kebaikan. Busur di awan atau pelangi adalah ungkapan reflektif bahwa bumi ini penuh kebaikan Allah, sehingga kita layak hidup di dalamnya. Pelangi merupakan tanda perjanjian Allah yang kekal bahwa kehidupan di semesta ini pasti terus berlangsung dengan baik. Janji Allah menjadi kekuatan untuk menjalani dan menghadapi semua akibat buruk yang disebabkan oleh keterlanjuran dan kecerobohan manusia. Kelangsungan semua ciptaan dijamin Sang Pencipta yang baik. Kebaikan pasti mengalahkan keburukan atau kejahatan, sehingga seluruh makhluk layak hidup dengan harmoni di semesta ini. Pesan pengharapan ekologis atau semesta ini  membuat kita yakin akan kebaikan Allah yang tak pernah berakhir. Kehidupan di semesta ini pasti berlangsung terus karena Allah telah memberikan jaminan kebaikan-Nya. Kehidupan haruslah dijalani dengan pengharapan bukan kegelisahan, kebimbangan, kecemasan, dan kekuatitan. Kita memang tidak dapat meramalkan dan memastikan dengan tepat seluruh fenomena semesta tetapi dapat percaya kepada Allah yang telah berjanji. Janji Allah layak dijadikan jaminan  melangsungkan kehidupan di semesta ini.

Doa: Ya Tuhan, Allah pencipta yang baik, tolonglah kami agar dapat hidup dengan percaya akan janji-Mu. Amin.

Selasa, 05 Oktober  2021                                   

bacaan : Yesaya 27 : 2 – 13

2 Pada waktu itu akan dikatakan: "Bernyanyilah tentang kebun anggur yang elok! 3 Aku, TUHAN, penjaganya; setiap saat Aku menyiraminya. Supaya jangan orang mengganggunya, siang malam Aku menjaganya; 4 kehangatan murka tiada pada-Ku. Sekiranya tampak kepada-Ku puteri malu dan rumput, Aku akan bertindak memeranginya dan akan membakarnya sekaligus, 5 kecuali kalau mereka mencari perlindungan kepada-Ku dan mencari damai dengan Aku, ya mencari damai dengan Aku!" 6 Pada hari-hari yang akan datang, Yakub akan berakar, Israel akan berkembang dan bertunas dan memenuhi muka bumi dengan hasilnya. 7 Apakah TUHAN memusnahkan umat-Nya seperti Ia memusnahkan orang yang memusnahkan mereka? Atau apakah Ia membunuh umat-Nya seperti Ia membunuh orang yang membunuh mereka? 8 Dengan menghalau dan dengan mengusir mereka Engkau telah melawan mereka. Ia telah menyisihkan mereka dengan angin-Nya yang keras di waktu angin timur. 9 Maka beginilah akan dihapuskan kesalahan Yakub dan inilah buahnya kalau ia menjauhkan dosanya: ia akan membuat segala batu mezbah seperti batu-batu kapur yang dipecah-pecahkan, sehingga tiada lagi tiang-tiang berhala dan pedupaan-pedupaan yang tinggal berdiri. 10 Sebab kota yang berkubu itu terpencil, suatu tempat kediaman yang dikosongkan dan ditinggalkan seperti padang gurun; anak lembu akan makan rumput dan berbaring di situ menghabiskan dahan-dahan pohon. 11 Apabila ranting-rantingnya sudah kering, maka akan dipatahkan; perempuan-perempuan akan datang dan menyalakannya. Sebab inilah suatu bangsa yang tidak berakal budi, itulah sebabnya dia tidak disayangi oleh Dia yang menjadikannya dan tidak dikasihi oleh Dia yang membentuknya. 12 Maka pada waktu itu TUHAN akan mengirik mulai dari sungai Efrat sampai sungai Mesir, dan kamu ini akan dikumpulkan satu demi satu, hai orang Israel! 13 Pada waktu itu sangkakala besar akan ditiup, dan akan datang mereka yang hilang di tanah Asyur serta mereka yang terbuang ke tanah Mesir untuk sujud menyembah kepada TUHAN di gunung yang kudus, di Yerusalem.

Ketaatan dan Kedamaian Hidup

Bacaan hari ini berisi pemberitaan nabi Yesaya tentang masa depan umat Israel yang gemilang. Kedamaian atau kebahagiaan hidup di masa depan akan dialami jika mereka hidup dalam ketaatan. Bangsa Israel dipilih supaya hanya kepada Allah saja mereka harus beribadah, bukan ilah yang lain. Israel dikasihani Allah dan digambarkan Yesaya sebagai kebun anggur yang elok. Ia akan menjaga umat pilihan-Nya dan memelihara juga menjamin masa depan yang sukses. Yesaya juga mengingatkan bahwa masa depan yang damai dan bahagia bukan saja menjadi tanggung jawab Allah, tetapi umat juga. Allah memberi jaminan dan pasti menepatinya sedangkan umat haruslah hidup taat. Umat tidak boleh beribadat kepada ilah lain, kecuali hanya pada Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Bila mereka berubah setia, maka petaka tak mungkin dihindari. Karena itu nabi ini menegaskan “sekiranya tampak pada-Ku puteri malu dan rumput, Aku akan bertindak memeranginya dan akan membakarnya sekaligus”. Jadi nabi sedang bernubuat tentang dua hal sekaligus, janji tentang masa depan yang berpengharapan, dan penghukuman. Masa depan manakah yang akan dialami umat tergantung pada pilihan cara beriman mereka sendiri. Allah mengharapkan kesetiaan, tetapi jika umat berubah setia, akibat buruk akan dialami. Kisah hari ini hendaklah dijadikan dorongan dan inspirasi agar kita semakin bertanggung jawab dan berpengharapan akan masa depan yang berpangharapan. Hari ini adalah kesempatan untuk mengusahakan masa depan yang gemilang dan sukses. Semoga setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya, baik pribadi maupun keluarga. Tetaplah percaya kepada Allah, jangan mengandalkan kuasa yang lain, sebab hanya Dia yang menjamin masa depan yang damai.

Doa:  Tuhan, layakkanlah kami menjadi orang percaya yang taat, agar janji-Mu tentang  hidup yang damai dialami, kini dan nanti. Amin.

Rabu, 06 Oktober 2021                                   

bacaan : Yesaya 55 : 6 – 13

6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! 7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. 8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. 10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. 12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. 13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.

Karya Pembebasan Tuhan Mendamaikan Hidup

Bangsa Israel pernah mengalami kesukaran yang amat dasyat ketika dibuang ke Babel, namun mengalami pemulihan karena Tuhan membebaskan mereka. Peristiwa pembebasan dari Babel dihayati sebagai bentuk cinta kasih Tuhan dan diterima sebagai seruan pertobatan. Nabi Yesaya menegaskan seruan pertobatan itu melalui ungkapan: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”. Ia menyerukan pula: “Baiklah orang fasik meningggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…..” (ayat 6-7). Umat harus bertobat dan meninggalkan semua perbuatan salah, kejahatan, dan pemberontakan yang pernah mereka lakukan terhadap Tuhan. Kasih Tuhan menyelamatkan dan membebaskan serta membuat mereka mengalami kedamaian hidup.  Karya pembebasan dari Babel pasti Tuhan nyatakan, sebab firman-Nya adalah kepastian (ayat 11). Yesaya selanjutnya mengatakan: “Sungguh kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai… (ayat 12). Tuhan membawa umat-Nya keluar dari pembuangan di Babel, dan menolong mereka membangun Yerusalem yang baru. Bacaan hari ini mengajarkan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan, kejahatan atau pemberontakan, dan mengalami akibat buruk dalam hidup. Akibat buruk bukanlah akhir hidup, sebab kasih Tuhan tak pernah berakhir dan pasti mengampuni serta memulihkan. Mari belajar untuk memperbaiki kesalahan dan bertobat agar damai dialami dalam hidup. Jalanilah hidup beriman dan wujudkanlah seruan “carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”. Firman-Nya pasti terjadi, kasih Tuhan tak pernah berakhir, percayalah dengan segenap hati, maka engkau akan menjalani hidup dengan damai.  

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar dapat memperbaiki kesalahan, bertobat dan menjalani hidup dengan damai. Amin.

Kamis, 07 Oktober 2021                             

bacaan : Yehezkiel 37 : 24 – 28

24 Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. 25 Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya. 26 Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. 27 Tempat kediaman-Kupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 28 Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya."

Iman Itu Bahan Bakar Kehidupan

Dalam perjalanan tidak selalu jalan yang dilalui lurus tanpa hambatan, terkadang ada tantangan yang membuat perjalanan menjadi melambat bahkan terhambat. Demikian dalam kehidupan kita, tidak selalu hari-hari yang dilalui baik, ada saatnya situasi sulit datang menghampiri. Entah karena kesehatan menurun, kehilangan pekerjaan, ditinggal oleh orang-orang terkasih, keluarga yang berantakan, dan sebagainya. Ada yang mampu menghadapi situasi sulit tersebut tetapi ada juga yang menjadi kecewa, kehilangan pengharapan bahkan mulai ragu kepada Tuhan. Dalam situasi seperti ini apa yang seharusnya dilakukan orang percaya? Dalam nas bacaan ini, Allah berjanji akan memberkati dan diam di tengah-tengah mereka. Allah berkenan memilih umat yang berdosa itu untuk menjadi umat kepunyaan-Nya. Ini artinya bahwa Allah menyertai setiap perjalanan kehidupan yang akan mereka tempuh, tidak hanya satu kali tetapi selama-lamanya. Pada waktunya janji itu ditepati, bangsa Israel dan Yehuda yang tercerai berai disatukan kembali oleh Allah. Bacaan hari ini hendak menguatkan  iman kita agar tidak menjadi lemah apalagi kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Sebab iman adalah bahan bakar kehidupan, tanpa iman kehidupan tidak akan berjalan. Kalau dulu Allah berjanji menyertai kehidupan umat-Nya, tentu kita juga pada saat ini meyakini Ia menyertai perjalanan kehidupan kita. Maka bila kita menjalani kehidupan dan menghadapi situasi yang sulit mohonlah supaya Tuhan memperkuat iman kita yang lemah sehingga tantangan hidup itu dapat kita lewati.

Doa:  Tuhan, tambahkanlah iman kami sehingga kami tetap kuat menghadapi berbagai situasi hidup. Amin.

Jumat, 08 Oktober 2021                                   

bacaan : Zakharia 8 : 9 – 13

9 Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Kuatkanlah hatimu, hai orang-orang yang selama ini telah mendengar firman ini, yang diucapkan para nabi, sejak dasar rumah TUHAN semesta alam diletakkan, untuk mendirikan Bait Suci itu. 10 Sebab sebelum waktu itu tidak ada rezeki bagi manusia, juga tidak bagi binatang; dan karena musuh tidak ada keamanan bagi orang yang keluar dan bagi orang yang masuk, lagipula Aku membuat manusia semua bertengkar. 11 Tetapi sekarang, Aku tidak lagi seperti waktu dahulu terhadap sisa-sisa bangsa ini, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 12 melainkan Aku akan menabur damai sejahtera. Maka pohon anggur akan memberi buahnya dan tanah akan memberi hasilnya dan langit akan memberi air embunnya. Aku akan memberi semuanya itu kepada sisa-sisa bangsa ini sebagai miliknya. 13 Dan kalau dahulu kamu telah menjadi kutuk di antara bangsa-bangsa, hai kaum Yehuda dan kaum Israel, maka sekarang Aku akan menyelamatkan kamu, sehingga kamu menjadi berkat. Janganlah takut, kuatkanlah hatimu!"

Responilah Anugerah Keselamatan Dari Allah

Nas bacaan hari ini memperlihatkan penggenapan janji penyelamatan Allah dalam kehidupan bangsa Israel dan Yehuda. Firman Tuhan ini disampaikan oleh Zakharia, bahwa apa yang dijanjikan Allah itu akan menjadi suatu kenyataan pada waktu yang ditentukan Allah sendiri. Hal itu kemudian menjadi nyata ketika Allah menyatukan kembali kehidupan bangsa Yehuda dan Israel dan membuat mereka menjadi umat kepunyaanNya. Pemberitaan Zakharia bagi kita kini adalah bahwa Allah yang dulu berjanji kepada Israel adalah Allah yang kini berfirman kepada kita pula bahwa Ia akan menjadi penyelamat. Janji itu telah tergenapi dalam diri Tuhan Yesus. Ia datang tepat pada waktu yang telah ditetapkan Allah. Dia hadir untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa melalui pengorbananNya. Semua ini murni anugerah Allah. Dengan memahami semua ini, maka perjuangan kita sekarang bukan lagi perjuangan untuk mencari atau meraih keselamatan. Perjuangan kita sekarang adalah bagaimana meresponi dan menjalani kehidupan sebagaimana layaknya orang yang telah memperoleh keselamatan. Melalui firman Tuhan saat ini, kita diingatkan supaya terus melakukan perbuatan-perbuatan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Kita diajak untuk  berkata benar dan jujur di hadapan Allah. Tidak merancang kejahatan dalam hidup. Tidak mencintai sumpah palsu. Maukah kita  selaku pribadi dan keluarga meresponsi anugerah keselamatan dari Allah itu secara positif dan proaktif? Semoga kita semua terus membangun kehidupan seturut kehendakNya.

 Doa:   Tuhan, terima kasih atas anugerah keselamatan yang diberikan kepada kami. Amin.

Sabtu, 09 Oktober 2021                                       

bacaan : Ibrani 7 : 25 – 28

25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. 26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.

Kasih dan Kemurahan Tuhan Menyelamatkan

Melalui Yesus, kita mengalami kasih dan kehadiran, serta  kemurahan Allah. Sebagai imam besar,  Yesus mengerjakan kehendak Allah untuk menyelamatkan dosa manusia melalui kematian di kayu salib. Bacaan hari ini menegaskan sosok Yesus sebagai imam besar yang berbeda dengan imam-iman lainnya. Dia rela berkorban, mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia dan dunia. Pesan tentang kasih karunia Allah adalah nilai yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan dan pengurbanan. Orang tua haruslah belajar untuk  rela melakukan apa saja bagi kebaikan anak-anak. Demikian anak-anak, diharapkan juga mampu menghadapi segala tantangan dan cobaan hidup. Marilah dengan keberanian kita percaya bahwa Sang imam besar pasti menuntun dengan roh dan kebenaran. Berusahalah agar dosa tidak berkuasa lagi dalam hidup, tetapi dengan bersungguh-sungguh melakukan kehendak Tuhan. Ibarat dosa kita merah seperti kermisi akan menjadi putih seperti salju. Imam besar yakni Yesus Kristus yang adalah pengantara, Dia datang menyelamatkan, juga sedang dinanti kembalinya sebagai hakim yang menghakimi. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana,  selalu siap. Hindarilah berperilaku bagaikan   lima gadis yang bodoh, terlambat mempersiapkan kedatangan sang mempelai. Ingatlah bahwa kasih karunia Allah menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadilah setia di tengah badai hidup, yakinlah bahwa bersama Dia, hidup kita terselamatkan.

Doa: Tuhan selamatkan kami dari keburukan dunia ini. Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LJP-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 September – 2 Oktober 2021

Tema Mingguan : ” SALING MENGUATKAN DENGAN BERBAGI PENGALAMAN IMAN “

Minggu, 26 September 2021                        

bacaan :  Kisah Para Rasul 20 : 17 – 38

Perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus
17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. 28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. 29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. 32 Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. 33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. 34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. 35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." 36 Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. 37 Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. 38 Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

Saling Menguatkan Dalam Pekerjaan Pelayanan

Paulus bercerita tentang perjalanannya dalam menginjili. Bagaimana dia tiba hari pertama di Asia, dalam melayani Kristus ia harus mencucurkan air matanya, menghadapi orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak berguna bagi jemaat disana. Ia mengajar dan memberitakan semua tentang kasih Allah supaya mereka dapat bertobat dan percaya pada Kristus. Dalam pelayanannya, ia tidak menginginkan perak, emas, atau pakaian. Dengan tangannya sendiri ia bekerja memenuhi keperluannya dan teman-temannya. (Ayat 35). Hal ini mesti menjadi perhatian untuk menjadi umat dan pelayan yang baik, yakni tidak lalai dalam panggilan memberitakan Injil, dapat menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan domba Allah. Karena itu, jangan pernah berhenti untuk saling menasehati,  tetap mengerjakan pekerjaan yang dapat menunjang pekerjaan pelayanan, dan selalu berdoa bersama umat dan pelayan. Hal-hal di atas merupakan bagian dari proses saling menguatkan dan berbagi dalam pelayanan dan pengalaman iman. Sebagai umat dan pelayan, kita dapat memerankan peran tersebut dimulai dari keluarga, unit, sektor, jemaat, bahkan gereja ini. Kita tidak bisa sendirian mengerjakannya. Kita perlu keluarga, teman, sahabat , sesama kita untuk saling membantu ,dan menguatkan. Tuhan memakai mereka untuk menolong kita dan Tuhan juga memakai kita menjadi saluran berkat untuk hidup mereka. kiranya kita dapat  Bercerita tentang kebaikan Tuhan dalam hidup dan pelayanan agar semakin dikuatkan dalam menjalani panggilan pelayanan.

Doa:  Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu  menjadi berkat dalam hidup, Amin

Senin, 27 September 2021                            

bacaan : 1 Timotius 4 : 1 – 6

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. 6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

Terima Semua Dengan Ucapan Syukur

Dalam nas ini Paulus menyatakan bahwa makanan, bahkan juga seksualitas adalah ciptaan Tuhan. Semua yang Tuhan ciptakan adalah baik jika diterima dengan ucapan syukur, karena “semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa”. Tetapi, para pengajar sesat memutarbalikkannya dengan menyatakan bahwa apa yang baik yang berasal dari Tuhan itu justru jahat. Ini sama sesatnya dengan menyatakan bahwa apa yang jahat adalah baik. Keduanya sama-sama mengabaikan, bahkan melawan dan melecehkan apa yang telah Allah buat dan nyatakan bagi umat-Nya. Karena itu menghadapi para pengajar sesat ini Paulus menasehati Timotius untuk selalu mengingatkan ajaran-ajaran yang benar kepada umat yang dilayaninya karena ia tidak hanya telah menerima pengajaran, tetapi juga terdidik dan memiliki hidup yang berakar dalam “soal-soal pokok iman dan ajaran sehat” yang selama ini diikutinya. Karena itu ia pun harus mengajarkan hal-hal yang benar, yang sesuai ajaran sehat dan berguna untuk membangun iman. Kita semua adalah orang-orang yang telah bertumbuh dalam iman dan ajaran yang sehat yang kita terima sejak masih kecil hingga masa tua melalui firman Tuhan, ajaran gereja dan sebagainya. Kiranya pertumbuhan iman kita ini digunakan untuk senantiasa mengingatkan dan mengajarkan hal-hal yang benar, mulai dari dalam keluarga hingga ke dalam masyarakat bahwa segala hal yang diciptakan Tuhan perlu diterima dengan senantiasa mengucap syukur. Baik atau buruk.

Doa:      Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tetap mengucap syukur atas apa yang kami terima darimu. Amin.

Selasa, 28 September 2021                   

bacaan : 1 Tesalonika 1 : 2 – 10

Salam Buah pemberitaan Paulus
2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. 3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. 4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. 5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. 6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Jadilah Teladan Yang Baik

Setiap orang dalam perjalanan hidupnya perlu bertumbuh dengan belajar dari orang-orang lainnya yang bisa menjadi sumber keteladanan. Rasul Paulus bersyukur atas keberadaan jemaat Kristen di kota Tesalonika. Dalam kehidupan dan pelayanan mereka, mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi sesamanya.“Kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan,” demikian kata Rasul Paulus. Dengan kata lain, jemaat Kristen Tesalonika telah meneladan Rasul Paulus dan Tuhan Yesus dalam kehidupan jemaat mereka. Dalam hal apa mereka meneladan Rasul Paulus? Dalam hal pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman, pengharapan, dan kasih terpadu dengan baik  dalam kehidupan orang-orang percaya di Tesalonika. Proses meneladan yang baik ini menyebabkan mereka bisa menjadi teladan yang baik juga bagi sesamanya terutama bagi jemaat-jemaat Kristen di wilayah Makedonia dan Akhaya. Setiap keluarga Kristen diundang untuk mengolah keteladanan iman, pengharapan, dan kasih dalam Kristus.Tentu tidak selalu mudah menjadi teladan. Ketika orang tua ingin menjadi teladan dalam kasih, mau tidak mau orang tua sendiri harus mewujudkan kasih itu. Jika orang tua ingin anak-anaknya bisa meminta maaf jika bersalah, orang tua sendiri juga harus memulai memberi teladan minta maaf ketika bersalah. Jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi pembohong, orang tua harus memberi teladan itu kepada anak-anaknya, dengan tidak berbohong kepada mereka. Jadi, mari memberi teladan yang baik.

Doa:  Berikan aku kekuatan ya Tuhan untuk menguatkan orang lain melalui pengalaman imanku. Amin.

Rabu, 29 September 2021                              

bacaan : Galatia 1 : 11 –  24

Bagaimana Paulus menjadi rasul
11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. 13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Jadikan Tantangan Sebagai Kesempatan Berkarya

Nas bacaan hari ini berisikan pembelaan Paulus kepada orang-orang yang meragukan kerasulannya. Mereka bukan hanya meragukan kerasulan Paulus melainkan juga menyerangnya secara pribadi dan menyampaikan tuduhan-tuduhan palsu bahwa apa yang diajarkan dan diberitakannya itu sesuatu yang keliru. Tuduhan demi tuduhan itu dihadapinya justru ketika ia mulai menyampaikan pengajaran dan kebenaran mengenai keselamatan berdasarkan kasih karunia. Namun dari semua perkataan Paulus ini kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata tuduhan demi tuduhan yang dialaminya itu justru menjadi kesempatan bagi Paulus untuk menceritakan pengalaman pertobatan dan karya Allah yang besar dalam hidupnya. Pengalaman iman itulah yang selalu menguatkannya. Karena itu, Paulus tidak menyerah dan berkecil hati menghadapi tantangan yang dterimanya, melainkan semakin teguh dan bersemangat untuk meberitakan Injil. Sebagai orang percaya kita pun perlu meneladani kepekaan dan keberanian Paulus dalam menghadapi setiap tuduhan atau tantangan yang kita terima dalam tanggungjawab pelayanan dan dalam setiap kesempatan kita menjadi saksi Kristus. Jangan biarkan orang lain menjatuhkan kita karena keyakinan akan kebenaran yang kita beritakan dan lakukan. Jangan biarkan keadaan yang sulit membuat kita tidak berdaya dan menyerah atau mundur dari panggilan pelayanan. yakinlah bahwa bersama Kristus, segala tantangan dapat dihadapi dan dijadikan kesempatan untuk bersaksi dan berkarya dengan lebih baik.

Doa:      Tuhan, mampukan aku untuk menjadikan tantangan sebagai kesempatan untuk terus berkarya, Amin

Kamis, 30 September 2021                                   

bacaan : Kolose 2 : 1 – 5

Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, 2 supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, 3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. 4 Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. 5 Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.

Belajar dari Perjuangan yang Berat

Jika kita selalu mengenang peristiwa sejarah masa lampau, kita selalu diingatkan tentang perjuangan para pahlawan yang berkorban untuk meraih kemerdekaan. Beratnya perjuangan para pahlawan mendorong semangat kita generasi masa kini supaya benar-benar mengisi suasana kemerdekaan ini dengan maksimal. Para pahlawan memang sudah gugur, tetapi karya dan perjuangan mereka akan selalu dikenang. Dalam perjalanan pemberitaan injil, rasul Paulus mengalami tantangan yang tidak sedikit. Disiksa, dipenjarakan, dihujat, diusir bahkan terancam mati. Tantangan-tantangan yang dihadapinya itu kemudian dipakainya sebagai motivasi pelayanan bagi umat di Kolose. Paulus ingin supaya jemaat di Kolose dapat memaknai beratnya perjalanan pemberitaan injilnya sebagai kekuatan untuk mereka terus memelihara injil dan tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan. Harus kita akui bahwa menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah, mesti siap berkorban dan menderita. Tetapi dalam setiap pengorbanan dan penderitaan itu, Tuhan selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Di hari terakhir di bulan ini, marilah kita mengingat kembali perjalanan sepanjang bulan ini. Perjuangan yang sangat berat melawan kenyataan kehidupan di tengah pandemi virus corona. Jadikanlah pengalaman iman bersama Tuhan untuk selalu menjadi alarm bagi kita saling menguatkan sebagai orang percaya. Pengalaman iman di bulan ini akan menghentar kita menata hidup yang lebih baik di bulan berikutnya. Jangan takut berjuang, sebab bersama Tuhan, perjuanganmu tidak akan sia-sia.

Doa:   Ya Tuhan, berikan aku kekuatan untuk berjuang saat hidup terasa berat. Amin.

Jumat, 01 Oktober 2021                                      

bacaan : Kisah Para Rasul 12 : 6 – 17

6 Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. 7 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. 8 Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!" 9 Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. 10 Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. 11 Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." 12 Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa. 13 Dan ketika ia mengetuk pintu gerbang, datanglah seorang hamba perempuan bernama Rode untuk mengetahui siapa yang mengetuk itu. 14 Ia terus mengenal suara Petrus, tetapi karena girangnya ia tidak membuka pintu gerbang itu dan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan, bahwa Petrus ada di depan pintu gerbang. 15 Kata mereka kepada perempuan itu: "Engkau mengigau." Akan tetapi ia tetap mengatakan, bahwa benar-benar demikian. Kata mereka: "Itu malaikatnya." 16 Tetapi Petrus terus-menerus mengetuk dan ketika mereka membuka pintu dan melihat dia, mereka tercengang-cengang. 17 Tetapi Petrus memberi isyarat dengan tangannya, supaya mereka diam, lalu ia menceriterakan bagaimana Tuhan menuntunnya ke luar dari penjara. Katanya: "Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita." Lalu ia keluar dan pergi ke tempat lain.

Jalanilah Hidup Dengan Tekun Percaya Dan Berdoa

Pesan kisah penyelamatan Petrus dari penjara menjadi santapan firman di hari pertama bulan Oktober. Bulan ini diawali dengan suguhan penguatan iman, agar kita berdaya menghadapi dan menjalani semua kenyataan. Hari-hari yang akan kita masuki masih menjadi misteri, semua kemungkinan dapat terjadi. Pengalaman hidup mungkin akan dialami dalam bentuk sukses atau gagal, jatuh bangun, suka duka, dan hal-hal itu tidak dapat dihindari. Yakinlah bahwa Tuhan pasti menguatkan kita untuk menghadapi, menggumuli serta memaknai semua pengalaman hidup. Jalanilah hidup dengan berpengharapan karena meyakini pertolongan Tuhan. Tuhan sudah menolong dan membebaskan Petrus ketika ia dipenjarakan dengan penjagaan yang ketat juga berlapis oleh Herodes. Belenggu pemenjaraan yang dialaminya berat dan mustahil dapat diatasi sendiri. Tuhan mengatasi kesukaran yang tak mampu Petrus selesaikan. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan sebab Ia tetap mengasihi sampai pada saat kita habis tenaga. Saat di mana tenaga kita habis, Tuhan pasti hadir dan menyatakan pertolongan-Nya yang membebaskan. Petrus dibebaskan Tuhan karena tak punya kuasa untuk membebaskan diri sendiri, yang dimilikinya adalah keteguhan percaya. Ia tetap percaya pada Tuhan walau sedang mengalami kesukaran hebat dalam penjara. Berusahalah agar keyakinan tidak hilang dalam kesukaran dan pencobaan. Pelajaran lain dari kisah ini adalah kenyataan bahwa ketika Petrus sedang dalam penjara, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Doa yang dipanjatkan dengan tekun adalah wujud keteguhan percaya. Berdoa adalah akta iman yang dapat terus dilakukan justeru ketika kita tidak dapat melakukan hal yang lain. Tekun percaya dan berdoa merupakan pengalaman iman Petrus dan jemaat mula-mula yang perlu diteladani untuk menjalani hidup di bulan ini.       

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tekun percaya dan berdoa, terutama ketika menghadapi masa-masa hidup yang sulit. Amin.

Sabtu, 02 Oktober 2021                               

bacaan : 2 Korintus 7 : 2 – 16

Sukacita sesudah dukacita
2 Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung. 3 Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. 4 Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah. 5 Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. 6 Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus. 7 Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku. 8 Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu--kendatipun untuk seketika saja lamanya--, 9 namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. 10 Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 11 Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu. 12 Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu, maka bukanlah oleh karena orang yang berbuat salah, atau oleh karena orang yang menderita perbuatan salah, melainkan supaya kerelaanmu terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah. 13 Sebab itulah kami menjadi terhibur. Dan selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya. 14 Aku memegahkan kamu kepadanya, dan kamu tidak mengecewakan aku. Kami senantiasa mengatakan apa yang benar kepada kamu, demikian juga kemegahan kami di hadapan Titus sudah ternyata benar. 15 Dan kasihnya bertambah besar terhadap kamu, apabila ia mengingat ketaatan kamu semua, bagaimana kamu menyambut kedatangannya dengan takut dan gentar. 16 Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.

Persahabatan Menguatkan Persekutuan

Paulus mengalami sukacita karena persahabatan dirinya dengan jemaat di Korintus tetap terpelihara. Hubungan persahabatan itu ditandai dengan tindakan memberi tempat di dalam hati, melakukan yang benar, tak merugikan, dan tidak mencari untung. Persahabatan bukan sekadar ikatan yang bersifat fisik tetapi sebuah tautan batin. Seseorang menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan Paulus; “kamu telah beroleh tempat dalam hati kami”. Beroleh tempat dalam hati berarti dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan memahami “dunia” serta hidup mereka. Orang beriman adalah mereka yang tidak mati rasa, tetapi dapat merasakan suasana batin orang lain. Persahabatan menyuburkan perasaan saling menghargai dan merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Seorang sahabat itu “tahu rasa” bukan “rasa tahu”. Ia tahu merasakan susah, karena itu tidak menjadi penyebab atau menambah kesusahan sahabatnya. Orang-orang yang “tahu rasa” memiliki karakter: bertindak benar, tak merugikan dan tidak pula mencari untuk dari sahabatnya. Seorang sahabat selalu berusaha belajar memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya. Kesalahan dijadikan kesempatan untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Mereka juga saling berterus terang, tak ada hal yang disembunyikan sehingga menjadi rahasia, menerima kelebihan dan mengakui bahwa sahabatnya memiliki makna. Persahabatan adalah pesan penting yang kita temukan dari pengalaman iman Paulus dan jemaat di Korintus. Hendaklah kita menjalani hidup sebagai orang beriman dengan semangat persahabatan. Hidup yang dijalani dengan semangat persahabatan pasti menguatkan persekutuan sebagai orang beriman. Bila persekutuan menjadi kuat, maka sukacita pasti dialami.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk mengupayakan dan memelihara  persahabatan, agar persekutuan tetap menjadi kuat.  Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT-OKT 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 September 2021

Tema Mingguan : ” GEMBALA YANG TEKUN MELAYANI “

Minggu, 19 September 2021                    

bacaan : Yehezkiel 34 : 1 – 16

TUHAN, Gembala Israel yang baik, melawan gembala-gembala yang jahat
Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? 3 Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. 5 Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak 6 dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. 7 Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 8 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- 9 oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 10 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. 11 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. 12 Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. 13 Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. 14 Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. 15 Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Panggilan Seorang Gembala

Terkadang, bahkan sering kita tidak memahami bahwa kita  semula adalah domba yang telah dipanggil untuk menjadi gembala. Inilah yang sering membuat kita mengabaikan panggilan sebagai gembala di tengah-tengah domba. Kita menjadi gembala yang ingin diperlakukan sama seperti domba. Ingin diperhatikan, ingin dilayani, ingin diberi makan, dan ingin dilindungi. Bacaan hari ini dari Yehezkiel 34:1-16 hendak mengingatkan dan menegaskan peran seorang gembala di tengah-tengah domba. Sebagai gembala, ia tidak boleh lupa bahwa di tengah-tengah manusia yang lainnya (domba) dirinya berbeda. Gembala tidak boleh lupa bahwa dia adalah orang khusus yang ditempatkan di tengah-tengah manusia yang lainnya sehingga selalu ingin menjadi sama dengan manusia lainnya, bahkan cenderung ingin menjadi yang lebih dari manusia lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan sikap egois, ingin menang sendiri, tidak peduli dengan yang lainnya, bahkan tanpa sadar menyusahkan orang lain. Seorang gembala harus melakukan apapun untuk membangun kehidupan umatnya (domba), mengupayakan kehidupan bagi dombanya; yang sakit didoakan, yang lapar diberi makan, yang haus diberi minum, yang berduka dihibur, yang lemah dikuatkan, yang bersalah diberi pengampunan, dan sebagainya. Itulah panggilan sebagai gembala (pemimpin/pelayan) di tengah domba (umat/masyarakat). Maka marilah kita menjadi gembala yang baik.

Doa: Mampukanlah kami untuk menjadi gembala yang baik dan bertanggungjawab. Amin.

Senin,  20 September 2021                     

bacaan : Yehezkiel 34 : 20 – 24

20 Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus; 21 oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, 22 maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. 23 Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. 24 Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Jangan Menolak Penggilan Menjadi Gembala

Banyak alasan yang selalu menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk menerima suatu tanggung jawab. Ada yang beralasan tidak mempunyai waktu, tidak mampu berbicara, masih muda, tidak pintar, dan lain-lain. Bisa saja kita adalah salah satu dari orang-orang yang selalu beralasan jika dipanggil atau diberi suatu tugas/tanggung jawab. Alasan-alasan seperti yang dikemukakan ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hendak dipanggil untuk suatu tugas pelayanan di gereja. Banyak yang tidak memahami bahwa panggilan pelayanan di gereja bukanlah semata panggilan dunia, melainkan panggilan Tuhan. Bacaan Yehezkiel 34:20-24,  secara tegas mengingatkan bahwa ketika dalam suatu “kawanan domba” (umat Tuhan) terjadi kekurangan gembala maka Tuhan sendiri yang akan mengangkat satu orang gembala atas mereka. Hal ini berarti panggilan sebagai pelayan atau pemimpin dalam gereja harus dipahami sebagai panggilan Tuhan: Tuhan yang memanggil dan yang mengangkat. Karena itu, dalam merespons panggilan Tuhan tidak boleh ada alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Semestinya yang ada yaitu menerima dan siap melaksanakan tanggung jawab tugas pelayanan tersebut. Kita harus meyakini kalau Tuhan yang memanggil dan memilih, maka Tuhan juga yang akan melengkapi dan menyertai dengan Roh hikmat dan kuasaNya agar kita sanggup melakukan tanggungjawab itu dengan baik.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk memahami dan menerima panggilanMU…amin

Selasa, 21 September 2021                         

bacaan : Markus 6 : 30 – 34

Yesus memberi makan lima ribu orang
30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Cerita Yesus memberi makan lima ribu orang ini memiliki makna terdalam. Bukan soal keanehan lima ribu orang bisa makan dari lima potong roti dan dua ekor ikan. Bukan juga soal terjadinya mujizat yang mana hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan bisa mengenyangkan lima ribu orang, bahkan ada tersisa lagi. Kalau kita memfokuskan perhatian pada masalah ekonomi (soal makan/minum), soal lapar, maka memang kita akan menganggap cerita ini tidak terlalu penting dan tidak punya makna. Kisah ini sebenarnya ingin menegaskan bagaimana kita selalu merasa terpanggil untuk menolong orang yang lapar atau orang yang sementara mengalami masalah., Yesus hendak mengajarkan murid-muridNYA dan juga orang-orang Kristen untuk jangan pernah tidak peduli atau mengacuhkan orang yang lapar dan haus, atau orang-orang yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidup. Memang hanya ada lima potong roti dan dua ekor ikan, dan itu tidak cukup untuk memberi makan lima ribu orang. Bagi Yesus menolong orang tidak perlu menunggu kalau ada kelebihan. Tolonglah orang dari apa yang ada, bahkan dari kekurangan yang dimiliki. Yesus katakan: “kamu harus memberi mereka makan”. Kata “harus” menunjukkan bahwa orang Kristen wajib memberi makan kepada mereka yang lapar, wajib menolong orang yang susah, wajib membantu orang yang meminta bantuan. Hal ini juga berarti bahwa membantu/menolong orang itu tidak perlu menunggu kalau pada kita ada kelebihan. Apa yang ada pada kita, itulah yang harus diberikan kepada mereka yang meminta tolong atau bantuan kita. Mengapa harus demikian? Sebab di situlah letak wujud nyata kita menjadi gembala. 

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memahami kewajiban menolong orang yang susah… Amin. 

Rabu, 22 September 2021                                   

bacaan : Roma 12 : 6 – 8

6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Jadilah Gembala Yang Memperlabakan Karunia Tuhan

Masing-masing orang, sejak lahir, memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Hal ini berarti tidak ada manusia yang sempurna sebab manusia yang satu selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Ada orang yang memiliki kemampuan berbicara namun tidak memiliki kemampuan menulis, dan sebaliknya. Ada yang memiliki kemampuan menghafal tapi kurang mampu dalam menganalisa sesuatu, dan sebaliknya. Rasul Paulus juga telah menegaskan hal tersebut diatas. Dengan menggunakan istilah yang lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda kepada umatNya. Ada yang diberikan karunia untuk bernubuat, ada yang dikaruniakan karunia melayani, ada pula yang diberi karunia untuk mengajar, serta ada yang dikaruniakan karunia untuk menasehati. Masing-masing orang dengan karunianya tersendiri. Tuhan tidak memberikan kepada satu orang sekaligus semua karunia. Ada pun maksud Tuhan untuk memberikan karunia yang berbeda-beda kepada masing-masing orang yaitu agar antara satu dengan yang lainnya merasa saling membutuhkan dalam membangun kehidupan bersama. Selain itu, tidak ada yang merasa lebih hebat antara satu dengan lainnya. Yang terpenting di sini adalah masing-masing orang dapat memperlabakan karunia-karunia itu. Karena itu marilah kita menggunakan semua karunia yang telah dianugerahkan Tuhan  dengan sebaik-baiknya, agar melalui semuanya itu nama Tuhan tetap dipermuliakan dan kita pun menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami untuk dapat menjadi gembala yang dapat memperlabakan karunia Tuhan… Amin.

Kamis, 23 September 2021                           

bacaan : Roma 15 : 15 – 16

15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, 16 yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.

Gembala Yang Berani

Salah satu sifat yang ada pada manusia adalah sifat “malu hati”. Sifat ini terkadang muncul pada orang-orang yang takut atau tidak berani mengatakan sesuatu hanya untuk menghindari jangan sampai terjadi konflik dengan orang lain, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh orang lain yang ditegur oleh seseorang.   Namun, berbeda dengan Rasul Paulus, pada dirinya ada keberanian untuk mengingatkan jemaat-jemaat yang dilayaninya tentang pelayanan pemberitaan. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 15:15-16), Rasul Paulus menegaskan bahwa sebagai orang yang telah dianugerahkan kasih karunia, ia tidak takut untuk mengingatkan jemaat Tuhan akan tugas pelayanan pemberitaan Injil. Karena tugas itu penting bagi pertumbuhan iman mereka. Bagi Paulus, orang-orang Kristen di Roma harus juga berani untuk saling mengingatkan tentang Injil Yesus Kristus kepada semua orang tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan sebagainya. Demikian halnya diharapkannya dari kita. Keberanian harus dimiliki oleh orang Kristen ketika menyampaikan kebenaran akan Injil Yesus Kristus: berani untuk berbicara, berani untuk berkata-kata, berani untuk melayani, berani untuk mendoakan, berani untuk mengingatkan, dan berani untuk menolong. Karena itu, sifat malu hati mestinya ditiadakan jika hendak melakukan peran sebagai gembala yang melakukan pelayanan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Asalkan yang hendak kita sampaikan itu adalah demi sebuah kebaikan, perubahan dan kemajuan lalu disampaikan dengan santun, maka marilah kita berani melakukan hal itu.

Doa: Beranikanlah kami ya Tuhan, untuk melayaniMU…. Amin.

Jumat, 24 September 2021                          

bacaan : Kolose 3 : 18 – 25

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Anggota Keluarga Adalah Gembala

Terkadang kita memahami peran sebagai gembala itu adalah dengan menjadi pelayan (pendeta, majelis jemaat, pengurus di gereja). Kita lupa bahwa menjadi gembala itu semestinya dimulai dari keluarga. Rasul Paulus, melalui bacaan ini ia menggaris-bawahi peran gembala dalam keluarga. Bahwa dalam keluarga ada peran sebagai gembala yang dapat dilakukan oleh seisi keluarga. Istri (mama), suami (bapa), anak, dan orang lain di dalam rumah. Sebagai gembala, seorang istri harus tunduk kepada suami. Sebagai gembala, seorang suami (bapa) harus mengasihi istri, tidak berlaku kasar terhadap istri, dan tidak menyakiti hati anak-anak. Sebagai gembala, seorang anak harus menaati orang tua. Kita tahu bahwa tugas seorang gembala itu adalah melakukan pekerjaan Tuhan. Bagi Paulus, melakukan sesuatu untuk Tuhan itu mesti telihat dalam perlakuan terhadap sesama manusia. Hal ini harus dimulai dari dalam keluarga. Makanya Paulus menegaskan dalam ayat 23 “apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Itu berarti semua tindakan penggembalaan di dalam keluarga semuanya itu dilakukan sebagai bukti kasih dan iman kepada Tuhan. Karena itu, yang terpenting di sini adalah membangun relasi dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga demi pelaksanaan peran sebagai gembala, sebab dari situ akan mengalir berkat dari Tuhan yang memberkati seisei keluarga yang sudah setia berperan sebagai gembala. 

Doa: Ya Tuhan, ingatkanlah kami bahwa kami adalah gembala dalam keluarga.. Amin.

Sabtu, 25 September 2021                               

bacaan : Filipi 1 : 21 – 22

21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Berfokus Pada Kristus

Ada syair lagu yang berbunyi: “adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….”. Setidaknya, sepenggal syair lagu yang sering dinyanyikan ini ingin mengatakan bahwa dalam hidup sebagai orang Kristen, Kristus-lah yang semestinya menjadi pusat dan hidup di dalam kita. Itu berarti selama orang Kristen hidup, kehidupan kekristenan mereka harus menampakkan Kristus lewat kata dan perbuatan. Selain itu, menjadi orang Kristen tidak boleh takut pada kematian. Itu yang dimaknai oleh rasul Paulus. Dai memaknai hidupnya adalah Kristus, sehingga sepanjang hidupnya setelah mengalami pertobatan, Kristus menjadi fokus. Apa pun yang dipikirkannya, dikatakannya, dan dilakukannya selalu terpusat pada Kristus. Mengapa demikian? Sebab Paulus meyakini bahwa ketika dalam hidupnya selalu fokus pada Kristus, ia yakin bahwa kematian itu akan menjadi suatu keuntungan baginya. Hal ini penting diingatkan kepada kita, yakni selama menjalani hidup itu orang Kristen haruslah menegerjakan pekerjaan yang memberi buah. Syair lagu di atas kiranya dapat dimaknai sebagai perintah untuk orang-orang Kristen harus selalu mengerjakan segala sesuatu berfokus pada Kristus. Sebagai keluarga Kristen, kita pun diajarkan oleh firman Tuhan ini untuk dapat mengerjakan segala sesuatu yang memberi buah kebaikan bagi sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan.

Doa:   Ya Tuhan, arahkanlah pikiran, perkataan, dan perbuatan kami terfokus pada Kristus… Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT 2021, LJP GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 September 2021

Tema Mingguan : ” TANGGUNG JAWAB DAN RESIKO SEORANG GEMBALA “

Minggu, 12 September 2021                       

bacaan : Yehezkiel 3 : 16 – 21    

Yehezkiel dipanggil menjadi penjaga Israel
16 Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. 18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! --dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. 20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu."

Jadilah Penjaga Bagi Sesamamu

Kita baru merayakan Ulang Tahun GPM yang ke 86 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia maka GPM sudah menjadi lansia yang sarat pengalaman karena telah banyak makan asam garam dan pasti akan sangat bijaksana dalam bertutur maupun bertindak. Dirgahayu GPM, semoga para pelayan dan wargamu, akan menjadi orang-orang yang bijak dalam bertutur maupun bertindak.

Hari ini kita belajar dari Nabi Yehezkiel yang diberi tugas oleh Tuhan, sebagai penjaga Israel. Tugas ini berisiko tinggi karena Yehezkiel harus menyampaikan peringatan kepada bangsa pilihan Tuhan itu. Jika peringatan itu tidak disampaikan, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban darinya dan bisa jadi nyawa Yehezkiel sendiri menjadi taruhannya. Memang berat tugas ini, tetapi itu adalah tugas yang harus diembaninya sebagai seorang suruhan Tuhan. Saudaraku, setiap kita adalah juga ‘penjaga’ bagi sesama kita.  Artinya kita memiliki tanggung jawab memberitakan Firman dan kehendak Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.  Kita tidak boleh tinggal diam dan bersikap masa bodoh saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan sengaja ataupun tanpa sengaja melakukan dosa.  Kita harus berani menegur mereka jika hidup mereka bertentangan dengan firman Tuhan.  Sebab sama seperti Yehezkiel, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Jika Yehezkiel terpanggil untuk menjadi Penjaga Israel maka kita terpanggil untuk menjadi Penjaga bagi sesama kita. Melakukan tugas ini memang berisiko, karena ada yang bisa menerima peringatan kita dan mau berubah, tetapi ada juga yang tidak bisa menerima dan malah berperkara dengan kita. Tetaplah lakukan tugas kita, karena Tuhan akan tetap menyertai kita.

Doa:   Tuhan, lengkapi kami dengan keberanian, hikmat dan semua yang kami perlu untuk menjadi penjaga bagi sesama kami. Amin.    

Senin, 13 September 2021                                  

bacaan : Yeremia 10 : 21   

21 Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.

Tidak Bertanya Sesat Di Jalan

Coba anda mencari seseorang di suatu tempat yang masih asing bagi anda dan karena malu, anda tidak bertanya. Anda pasti akan muter-muter saja dan mungkin juga tersesat seharian tanpa menemukan orang yang anda cari. Tapi jika anda mau bertanya pada orang-orang yang berdiam di situ, pasti ada petunjuk yang diperoleh dan anda bisa segera menemukan yang dicari. Hal ini terjadi juga pada para gembala yang menurut Yeremia “BODOH”, karena melakukan tugas mereka tanpa bertanya kepada Tuhan sehingga menyebabkan “hewan gembalaan” mereka tercerai berai dan mereka menjadi tidak bahagia (Yeremia 10:21). GEMBALA bagi bangsa Israel adalah gambaran pemimpin mereka. Nabi Yeremia sedang mengecam para pemimpin Israel karena menjadi gembala yang bodoh dan jahat. Mereka bertindak menurut kehendak sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan dan mereka pun gagal menjadi pemimpin yang baik atau menurut bacaan kita “tidak bahagia” Saudaraku, dalam perjalanan kehidupan kita, entah saat kita berada di tengah keluarga, di tempat kerja atau di mana saja dan melakukan aktifitas kita, sering kita juga mengalami “tersesat” dan “tidak bahagia”. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, misalnya : pekerjaan kita berantakan, hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita tidak harmonis dan sebagainya. Kondisi ini terjadi karena kita melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri karena menganggap diri bisa, pintar, cakap lalu tidak bertanya kepada Tuhan. Jadi, jika kita tak ingin “tersesat” dan “tidak bahagia” dalam hidup kita, mari tanyakan Tuhan terlebih dulu sebelum kita melakukan sesuatu. Libatkan Tuhan dalam setiap rencana dan kerja kita.

Doa:   Tuhan, kami akan selalu bertanya dan minta petunjuk-Mu sebelum kami  beraktifitas. Kami percaya Tuhan mendengar kami. Amin. 

Selasa, 14 September 2021                             

bacaan : Yeremia 23 : 1 – 4

Janji tentang Tunas Daud yang adil
"Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" --demikianlah firman TUHAN. 2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN. 3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. 4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.

Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

Kores dipercayakan Tuhan untuk menjadi Kepala Desa di salah satu Desa di Pulau B. Pada saat dilantik dan diambil sumpah, Kores berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan di dalam pidatonya Kores mengutip beberapa ayat Alkitab dan mengatakan bahwa dia akan menjadi “Gembala Yang Baik” bagi masyarakat desa itu. Namun seiring perjalanan waktu, Kores ingkar janji. Banyak kecurangan yang dilakukannya sehingga jabatan Kores dicopot dan dia dijebloskan ke dalam penjara.    Saudaraku, apa yang terjadi dengan Kores dalam kisah di atas juga terjadi dalam kehidupan umat pilihan Allah, Israel. Dalam bacaan kita, melalui Yeremia, Allah mengecam para raja Yehuda karena perilaku mereka ibarat gembala yang jahat. Mereka lalai dan membiarkan umat Allah terserak dan tercerai berai, karena itu Tuhan menghukum mereka (ay.1-2). Sementara umat Israel, sekalipun telah berdosa terhadap Allah namun karena kasihNya yang besar, Allah berinisyatif untuk mengumpulkan mereka kembali dan memberikan pemimpin yang lebih bertanggung jawab agar kehidupan umat dapat dipulihkan (ay.3-4). Jika kita sedang dipercayakan menjadi pemimpin, entah di dalam masyarakat, di gereja, di persekutuan-persekutuan, termasuk di dalam keluarga sebagai Papa dan Mama, baiklah lakukan tugas kepemimpinan itu dengan baik dan benar. Baik dan benar bukan menurut ukuran kita, tetapi sesuai kehendak Tuhan. Jadilah gembala yang baik dan bertanggung jawab, sebab jika tidak, maka sewaktu-waktu Allah akan mengambil alih kepemimpinan itu dan yang bersalah pasti akan dihukum. Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Maha Baik telah memberikan contoh bagaimana menjaga dan merawat para domba. Belajarlah padaNya dan jadilah pemimpin yang bertanggung jawab.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami pemimpin yang bertanggung jawab. Amin.

Rabu, 15 September 2021                            

bacaan : Yeremia 25 : 34 – 38

34 Mengeluh dan berteriaklah, hai para gembala! Berguling-gulinglah dalam debu, hai pemimpin-pemimpin kawanan kambing domba! Sebab sudah genap waktunya kamu akan disembelih, dan kamu akan rebah seperti domba jantan pilihan. 35 Maka bagi para gembala tidak akan ada lagi kelepasan, dan bagi para pemimpin kawanan kambing domba tidak akan ada lagi keluputan. 36 Dengar! para gembala berteriak, para pemimpin kawanan kambing domba mengeluh! Sebab TUHAN telah merusakkan padang gembalaan mereka, 37 dan sunyi sepilah padang rumput yang sentosa, oleh karena murka TUHAN yang menyala-nyala itu. 38 Seperti singa Ia meninggalkan semak belukar persembunyian-Nya, sebab negeri mereka sudah menjadi ketandusan, oleh karena pedang yang dahsyat, oleh karena murka-Nya yang menyala-nyala."

Ikutilah Kehendak Tuhan

Yeremia dalam bacaan kita hari ini, mengisahkan tentang amarah Tuhan Allah kepada bangsa-bangsa karena tidak melakukan kehendak-Nya. Penghukuman yang Allah berikan tidaklah memandang muka, semua bangsa yang berdosa dihukum-Nya. Gambaran murka Allah itu ibarat  cawan yang berisi anggur yang memabukkan, yang membuat orang yang meminumnya menjadi mabuk, muntah-muntah, rebah dan tidak bangun lagi. Ayat bacaan kita (34-38) memperlihatkan kondisi umat yang mengalami Kemurkaan Tuhan Allah. Mereka seperti kehilangan arah dan ketakutan serta cemas. Inilah gambaran kesengsaraaan manusia ketika tidak setia dan taat kepada Tuhan.

Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita. Dalam konteks keluarga misalnya, ada pola didikan yang diberikan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Pola didikan itu pasti berbeda-beda namun bertujuan sama yakni menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang baik, setia dan taat. Tidak jarang, dalam didikan itu ada orang tua yang mendidik anaknya dengan keras dan tegas agar anaknya lebih bertanggung jawab dan mandiri. Bila kedapatan anaknya melakukan kesalahan, maka akan ada konsekuensi yang diterima anak. Entah dimarahi, dipukul, dicubit, dsb, pasti si anak harus menerimanya dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Belajar dari kesalahan adalah sikap yang mesti dimiliki setiap orang dengan komitmen bahwa tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Oleh karena itu, bijaklah melihat setiap tantangan dan masalah sebagai bagian dari cara Tuhan sedang mendidik dan mengarahkan kita untuk setia dan taat melakukan kehendak-Nya.

Doa: Ampunilah kami Tuhan, Jadilah penuntun bagi kehidupan kami. Amin.

Kamis, 16 September 2021                           

bacaan : Matius 12 : 9 – 15a

Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat
9 Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. 10 Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. 11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? 12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." 13 Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. 14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Nilai Kemanusiaan

Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang yang lumpuh sebelah tangannya di dalam rumah ibadat. Orang Farisi menjebak dan mempersalahkan Yesus dengan pertanyaan, namun dengan bijaksana, Yesus mengatakan, “Jika seekor dombamu jatuh ke dalam lobang pada hari sabat, pasti kau akan mengeluarkannya?” Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia pastinya lebih berharga dari domba, oleh sebab itu jika domba dapat diselamatkan pada hari sabat, mengapa manusia tidak? Kita sering terperangkap pada aturan dan batasan-batasan yang mungkin saja tidak memberi kenyamanan dalam kehidupan kita. Bahkan aturan dan batasan itu digunakan juga untuk memojokkan atau menjatuhkan kita. Benar, bahwa setiap aturan yang dibuat untuk kebaikan bersama, namun ada hal-hal tertentu yang mesti disikapi secara bijak sehingga tidak merugikan diri kita. Oleh karenanya, evaluasi perlu dilakukan jika ada aturan yang tidak lagi menjawab kebutuhan hidup manusia. Dalam hidup berkeluarga pasti juga ada seperangkat aturan yang diterapkan. Tidak secara tertulis namun aturan-aturan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Misalnya, tugas ibu adalah memasak, tugas ayah memperbaiki sesuatu yang rusak, tugas anak-anak membantu ibu membersihkan rumah. Jika kebiasaan ini setiap hari dilakukan maka akan menjadi sebuah aturan dengan pembagian peran yang ada, sehingga jika ada tugas yang terlewatkan atau tidak dilakukan sesuai kebiasaan itu, maka akan menjadi hal yang salah. Tindakan ini yang dikritisi Yesus, ketika berhadapan dengan pertanyaan orang Farisi tentang bekerja pada hari sabat. Sikap Yesus pada akhirnya menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan lebih tinggi dari aturan/hukum yang ada. Oleh sebab itu, kita diajak untuk bersikap kritis tetapi juga menghargai setiap aturan dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan.

Doa:      Tuhan, berilah kepada kami hati yang selalu mengasihi sesama. Amin.

Jumat, 17 September 2021                                   

bacaan : Lukas 15 : 1 – 7

Perumpamaan tentang domba yang hilang
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Hilangkan Egomu, Temukan Kasihmu

Domba kecil, Domba kecil, hilang di atas bukit, datanglah Gembala angkat Domba kecil.” Ingatkah kita akan lagu ini? Ya! Ini adalah salah satu lirik lagu sekolah minggu yang sudah sangat dikenal. Lirik sederhana ini membuat kita dengan mudah memahami makna lagu, yakni sang Gembala telah menemukan Domba yang hilang. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat karena mereka bersungut ketika melihat Tuhan Yesus duduk bersama orang-orang berdosa dan para pemungut cukai. Tanggapan Tuhan Yesus kepada mereka sederhana, bahwa satu domba yang hilang ketika ditemukan pasti Gembalanya akan sangat bahagia. Bukankah lebih baik satu orang berdosa bertobat daripada 99 orang benar yang tidak bertobat. Seorang Gembala memang harus selalu berada bersama-sama dengan domba-dombanya, sebab tugas gembala ialah menjaga, memelihara dan melindungi kawanan domba-dombanya itu. Gembala bukan hanya ditujukan kepada para pelayan. Gembala adalah pemimpin dalam suatu komunitas. Gembala di dalam keluarga, jemaat, masyarakat adalah pemimpin yang bertugas mengayomi dan memberi rasa aman kepada semua orang yang dipimpinnya. Sikap netral mesti dimiliki seorang Gembala sehingga tidak membedakan satu dari yang lain, hanya saja terkadang sikap egois dan sombong mengakibatkan kita tidak mampu memberlakukannya. Oleh sebab itu, firman Tuhan mengingatkan belajarlah menghilangkan ego kita dan temukanlah kasih untuk menerima dan menggembalakan tanpa saling membedakan.

Doa:   Ya Yesus Gembala yang Agung, tolong kami Tuhan untuk dapat mengasihi sesama kami. Amin.

Sabtu, 18 September 2021                              

bacaan : Matius 18 : 12 – 14

Perumpamaan tentang domba yang hilang
12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Bring Me Home (Bawa Aku Pulang)

Pulanglah anak-Ku, Bapa rindu berseru.. Pulanglah hai anak-Ku Ada ampun Bapa bagimu”. Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nikita mengisahkan tentang kerinduan seorang ayah kepada anak bungsunya yang merantau dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Seruan “Pulanglah Anak-Ku” bermakna bahwa sang ayah benar-benar merindukan anaknya untuk kembali pulang. Bacaan hari ini secara sederhana ingin menunjukkan bahwa Kasih Tuhan begitu besar bagi kita, sehingga IA menghendaki agar tidak satupun kita (Anak-anak-Nya) hilang dari hadapan-Nya. Hilang disini berarti tidak menjauh dari Hadirat Tuhan, tidak melakukan sesuatu diluar Kehendak Tuhan, dan tidak menyakiti hati Tuhan. Layaknya seorang ayah yang merindukan kepulangan anaknya, walaupun anaknya telah melakukan kesalahan kepadanya menunjukkan bahwa Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus melakukan hal yang sama, bahwa IA akan memberikan kesempatan untuk kita kembali “Pulang” (bertobat) kepada-Nya. Oleh Sebab itu, peka dengar panggilan-Nya, tetap siuman untuk selalu melakukan kehendak-Nya, taati setiap perintah-Nya.  Bayangkan saja, kita sebagai orang tua ketika anak kita kembali pulang dan meminta maaf untuk setiap kesalahannya pastinya kita akan memeluk dan memaafkannya walaupun mungkin ada sedikit bentakan atau kemarahan yang diluapkan namun setelah itu kita akan bersukacita karena anak kita telah kembali. Hal yang sama akan kita alami bersama Tuhan, kembalilah kepada-Nya, IA tidak memperhitungkan pelanggaran kita, yang IA lihat hanyalah hati yang sungguh-sungguh bertobat.

Doa: Terima Kasih Ya Tuhan, Untuk setiap Kasih-Mu. Amin.

*sumber SHK Sept 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 September 2021

Tema Mingguan : ” KEPEMIMPINAN YANG MENGGEMBALAKAN “

Minggu, 05 September 2021                         

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 20

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Keluarga Yang Saling Menggembalakan

Tuhan Yesus mengandaikan persekutuan jemaat sebagai domba-domba-Nya dan IA sendiri menyediakan diri-Nya menjadi Gembala domba. Dalam bacaan kita hari ini dijelaskan bahwa tanggungjawab untuk menggembalakan didasari oleh panggilan Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung kita. Tidak ada satu pun yang sanggup menjadi gembala yang baik seperti Yesus, yang memelihara dan berkorban bagi domba-dombaNya. Yesus memelihara umatNya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Ia telah menderita untuk umatNya, untuk kita semua. Meneladani sang Gembala Agung, Yesus Kristus, maka kita pun dipanggil untuk melakukan tugas menggembalakan itu. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati dan cinta kasih. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk melaksanakan tanggungjawab menggembalakan itu, sebab anak-anak di dalam keluarga adalah “domba-domba Allah” yang harus digembalakan untuk mempelajari dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggungjawab untuk menggembalakan, yaitu: mengajar, mendidik, membina, mengasuh dan mendewasakan anak-anak dalam iman kepada Tuhan Yesus. Orang tua hendaklah menjadi “gembala” yang rendah hati, yang mengasuh anak-anaknya tanpa kekerasan namun dengan kelemah-lembutan, dan penuh kasih sayang. Ketika dalam keluarga ada saling menggembalakan, maka akan tercipta sebuah persekutuan keluarga yang harmonis dan bahagia. Maka  melalui iman, marilah kita sambut panggilan itu dan menghadirkan Gembala Agung di keluarga kita melalui kehidupan yang saling menggembalakan demi kebaikan dan kebahagiaan bersama.

Doa: Yesus Gembala yang baik, tuntunlah kami untuk hidup saling menggembalakan di dalam keluarga. Amin.

Senin, 06 September  2021                         

bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Bersyukur Atas Kebajikan Dan Kemurahan Tuhan

Hari ini kita bersyukur atas kebajikan dan kemurahan Tuhan di usia 86 tahun Gereja Protestan Maluku. Melewati berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, baik yang berasal dari luar persekutuan gereja maupun persoalan yang terjadi dalam kehidupan bergereja,  kita selalu meyakini Tuhan Yesus sebagai Gembala  terus menuntun dan menyertai. Karena itu, firman Tuhan hari ini mau mengajak kita merenungkan kasih dan pemeliharaan Tuhan itu. Dalam nas ini pemazmur mengibaratkan dirinya seperti seekor domba, lemah dan tak berdaya menghadapi tantangan dan bahaya. Di dalam keadaan seperti itu, ia memiliki gambaran yang indah tentang Tuhan: Tuhan adalah Gembalaku. Ketika pemazmur berbicara tentang Tuhan sebagai Gembala, ia berpikir tentang Tuhan sebagai Pelindungnya. Bagi domba, gembala adalah segala-galanya. Seorang gembala akan memimpin domba-dombanya ke tempat di mana domba dapat makan dan beristirahat dengan tenang. Gembala  juga yang menuntun domba-dombanya ke jalan yang benar. Ia akan menjauhkan dari marabahaya dan menjaga mereka dengan baik. Begitu juga  kehidupan kita orang percaya. Kehidupan kita, keluarga, jemaat, dan gereja masih ada hingga hari ini karena Tuhan yang menyertai dan memberkati. Seperti seorang gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombanya, begitu juga Tuhan kepada kita semua. Kebajikan dan kemurahan Tuhan sebagai Gembala tetap dinyatakanNya bagi Gereja Protestan Maluku.  Sebab itu, marilah  kita bersyukur dan mengagungkan nama Tuhan setiap waktu lalu kita  bertekad menjadi domba-dombaNya yang baik, yang mengenal suara Sang Gembala dan tetap mengikuti Dia.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus Gembala Yang Baik, atas kebajikan dan kemurahanMu bagi gereja kami. Amin.

Selasa, 07 September  2021                         

bacaan : Mazmur 78 : 70 – 72

70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; 71 dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. 72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.

Tuhan Mencari Orang-Orang Yang Setia Dan Tulus Hati

Sebelum menjadi pemimpin yang besar Daud harus melewati proses ujian kesetiaan dalam perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Seperti menggembalakan kawanan domba milik ayahnya. Dalam menggembalakan, Daud menunjukkan kesetiaan dan ketulusan yang pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah tepat waktunya. Seperti yang ditulis Asaf : dipilihnya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, Umat-Nya dan Israel milik-Nya sendiri. Daud teruji, setia dan tulus hati, menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Di masa-masa seperti sekarang ini, ujian dan tantangan semakin besar. Tantangan itu berupa masalah, penderitaan, kesesakan, kedagingan, dll. Anak-anak Tuhan mengalami kekecewaan di tempat-tempat kerja. Yang banyak terisi oleh orang-orang lain yang tidak seiman. Terjadinya hal ini oleh karena kita yang kurang kuat menghadapi resiko-resiko kerja yang berat. Nampak anak-anak Tuhan mulai kehilangan kesetiaan dan ketulusan dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah Tuhan percayakan. Kondisi itu yang membuatnya kehilangan kesempatan dalam meraih prestasi. Kembali kita diingatkan Sebagai anak-anak Tuhan jadilah panutan, dimana dan kapanpun waktunya kita harus bisa menjadi berkat bagi dunia ini. Jadilah gembala yang baik dan pakailah pola pendekatan gembala dalam menuntun keluaraga dan sesama yang lain. Tuhan mencintai orang-orang yang setia dan tulus hati di bumi ini.

Doa:  Tuhan kuatkan dan teguhkan hatiku, untuk kerjakan tugas-tugas yang Engkau percayakan. Amin.

Rabu, 08 September 2021                                     

bacaan : Yeremia 3 : 15

15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.

Allah Mengaruniakan Gembala Yang Menggembalakan

Cacat tubuh laki-laki itu, namun ia bisa mencari nafkah dan  menjadi pengusaha yang sukses. Dia juga menikahi seorang gadis sempurna tanpa cacat dan sama-sama mereka membangun rumah tangga dan memperoleh dua orang anak yang cantik dan sehat. Orang memandang rendah kepadanya, tidak punya masa depan, dengan hidup yang seperti begitu. Namun Tuhan membuat dia  berhasil dan sukses. Dalam kondisi cacat di kursi roda, laki-laki itu memiliki kemampuan untuk mendidik dan menuntun keluarganya dengan baik. Anak-anak diingatkan untuk hadapi tantangang dan cobaan. Jalanilah dengan keyakinan bahwa dengan iman dan doa, setia dan taat pada Tuhan, kita dapat melakukan segala yang baik dalam hidup ini. Sosok Ayah yang cacat ini telah memberikan  inspirasi kepada keluarga kita, dan lainnya bahwa Allah itu baik. Allah mempercayakan kita sebagai gembala yang memimpin keluarga Allah. Ia memberi hati yang taat ibarat hati seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya, membimbing menuntun pada jalan kebenaran dan hidup. Anak-anak akan mengenal sosok ayah sebagai gembala dan berbangga memilikinya, sekalipun dia seorang yang cacat fisiknya. Kita belajar tidak saja mengenal Allah, tetapi mengenal perbuatan-perbuatan-Nya yang Ia lakukan atas kita. Karenanya setiap orang yang percaya harus menyerahkan diri penuh dalam tuntunan-Nya. Banyak keberhasilan dan kesuksesan di didapat oleh karena  takut akan Tuhan, hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Dalam susah maupun senang hiduplah bersama Tuhan sebab Dia gembala yang baik, yang selalu menggembalakan kita. Marilah kita belajar dari Tuhan gembala yang baik, supaya kita  pun dapat menggembalakan yang lain dengan hati yang penuh kasih .

Doa: Tuhan, karuniakanlah kemampuan bagi kami dalam menggembalakan keluarga. Amin.

Kamis, 09 September 2021                              

bacaan : Yesaya 40 : 9 – 11

9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" 10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Allah Dan Kekuatan-Nya

Banyak orang takut pada virus corona, sebab berat resiko jika terinfeksi virus ini. Banyak cara dipakai untuk terhindar baik 5M, pola makan yang sehat, istirahat yang teratur juga vaksin. Virus ini belum juga berakhir. Dalam situasi ini kita bertanya dan terus bertanya, Tuhan, kapan virus ini ,berakhir? Mungkinkah kita akan kuat kedepan dalam menjalani hidup di masa pandemic ini?. Dalam situasi dan keadaan apapun yang membuat kita terganggu, ingatlah bahwa Allah kita tetap ada bersama kita. Yesaya menggambarkan Allah sebagai Gembala yang menggembalakan dan domba-domba-Nya terpelihara. Allah juga dilukiskan sebagai seorang Gembala yang mengangkat seekor anak domba supaya melindungi dan membawanya dekat di hati-Nya. Tuhan datang dengan kekuatan dan kekuasaan seperti pemimpin yang perkasa, namun kehadiran-Nya bagaikan Gembala penuh perhatian yang menggembalakan domba-domba-Nya. Kebenaran ini harus disambut dengan iman, pengharapan dan kerinduan dalam doa kepada Tuhan. Karena itu umat diharapkan tidak merasa kecewa dan takut apalagi putus asa. Yesaya mengumandangkan firman Tuhan bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka. Karena itu umat diajak untuk bersorak-sorak bagi Dia yang datang yang membawa kemenangan, pembebasan, ditengah penderitaan dan kesesakan. Menghadapi situasi sekarang ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan yang selalu membuat kita menjadi orang-orang yang kuat, tidak menjadi takut dalam menghadapi semua tantangan dan cobaan. Jadi jangan kita  takut menjalani hidup dalam cobaan dunia ini. Justru yang perlu sekarang ini kita minta adalah kekuatan dan kesehatan dari Tuhan, agar kekuatan Roh-Nya melindungi dan memampukan kita menjalani hidup ini .

Doa: Tuhan membebaskan kita dari rasa takut. Amin.

Jumat, 10 September 2021                          

bacaan : I  Tawarikh  11 : 1 – 3

Daud menjadi raja atas Israel
Lalu berkumpullah seluruh Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN, Allahmu, telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas umat-Ku Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN, kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Samuel.

Raja Israel Pilihan Allah Sendiri

Tuhan telah menunjuk Daud sebagai Raja pengganti Saul, yang akan menggembalakan umat Israel. Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik dan sejahtera. Dalam mengerjakan tugas-tugas itu ada unsur pengorbanan. Dia rela berkorban untuk umatnya. Dia tidak saja berdoa dan taat pada Firman-Nya, tetapi mencintai umat juga membebaskan mereka dari banyak musuh. Sama seperti Daud, Allah mempercayakan kita sebagai anak-anak-Nya dalam melakukan tugas-tugas dan Dia meminta kita melakukannya dengan hati yang rela berkorban. Karena itu, sebagai hamba yang melayani, tunjukanlah kasih dan kesetiaan. Dengan kasih kita melayani, baik itu melayani anak-anak, suami/ istri  atau lainnya, dan dengan kesetiaan kita buktikan bahwa kita melakukannya sama seperti kita melakukan untuk Tuhan. Dengan doa dan Firman kita paham akan kebenaran di dalam melaksanan semua bentuk tanggung jawab. Mungkin kita akan kecewa dan putus asa, kita bisa salahkan siapa saja, tetapi jangan lupa Allah tidak pernah mempersatukan kita untuk sesuatu yang buruk, dan kalaupun yang buruk itu datang segeralah memperbaikinya. Tugas kita demikian sebab Allah percayakan kita untuk hal baik dan memperbaiki hal buruk supaya kita menjadi berarti. Oleh karena itu setiap orang yang mau berhasil dan sukses, adalah mereka yang sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab dalam doa dan pergumulan. Ingat bahwa Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik, sejahtera. Jangan kita lupa ada dalam doa, dan jangan jemu-jemu melakukan kebaikan sekalipun tersakiti. Lakukan yang baik, jauhkan yang tidak baik. Lakukan yang positif jauhkan yang negatif, berjuang keras demi keselamatan diri dan sesama demi kebahagiaan bersama.

Doa:  Tuhan mampukan kami mengerjakan tugas-tugas yang Engkau telah percayakan. Amin.                                               

Sabtu, 11 September 2021                           

bacaan : 1 Tawarikh 13 : 1 – 8

Tabut dipindahkan dari Kiryat-Yearim
Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. 2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. 3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya." 4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. 5 Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim. 6 Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim. 7 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. 8 Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri.

Tanyakan Tuhan Dan Jadikan Dia Alternatif Pertama

Syalom saudaraku! Bersyukurlah kepada Tuhan karena kita telah tiba dengan selamat di penghujung usbu ini. Hari ini kita belajar dari Daud dan Umat Israel dalam menangani Tabut Perjanjian, Benda yang adalah lambang kehadiran Allah, yang hanya bisa diangkat/ dipegang oleh para imam dari Suku Lewi. Jika membaca perikop 1 Taw.13:1-8 ini sepintas maka kita akan menyimpulkan bahwa Daud telah melakukan yang terbaik sebagai seorang pemimpin. Ia tidak memutuskan sendiri apa yang hendak dikerjakannya tetapi ia berunding dengan para pemimpin pasukan dan mengumpulkan orang Israel termasuk para imam Lewi dari berbagai penjuru. Tapi kenapa terjadi malapetaka saat tabut itu dipindahkan hingga memakan korban? Rupanya yang baik menurut Daud belum tentu baik menurut Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah, Daud harus bertanya kepada Tuhan lebih dulu. Langkah selanjutnya akan Tuhan tentukan dengan caraNya. Jika hal itu dilakuan Daud maka Uza yang bukan berasal dari imam Lewi tidak akan menyentuh tabut yang berakibat kematiannya. Jika Daud lebih dulu bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberinya hikmat untuk menyerahkan tugas memimpin pujian kepada kaum Lewi, sesuai aturan di Israel.  Saudaraku, sering kali kita berinisiatif melakukan sesuatu tanpa bertanya kepada Tuhan. Tuhan menjadi alternatif terakhir dalam perencanaan kita, bukan alternatif pertama dan utama sehingga kita sering gagal. Karena itu baik Papa sebagai pemimpin dalam keluarga maupun Mama dan anak-anak harus menjadikan Tuhan sebagai alternatif pertama dan utama dalam setiap perencanaan kita, maka Tuhan Pemimpin yang Agung akan menuntun kita untuk melakukan yang baik dan benar menurut Tuhan.

Doa:          Ya Tuhan, tolong kami tuk menempatkan Tuhan sebagai altrnatif pertama dalam setiap perencanaan kami. Amin.

*sumber : SHK Sept 2021, LPJ GPM