Santapan Harian Keluarga, 31 Agustus – 06 September 2025

Tema Bulanan : Gereja Yang Berbuah: Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah

Tema Minggu : Memperkuat Keluarga, Mengokohkan Bangsa.

Minggu, 31 Agustus 2025

bahan bacaan : Kolose 3 : 18 – 25 & 4 : 1 – 6  

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga. 2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. 3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. 4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. 5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. 6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Kehangatan Keluarga yang Diberkati Tuhan

Bacaan ini sering kita dengar dalam Ibadah Pemberkatan Nikah atau perayaan hari ulang tahun pernikah keluarga Kristen. Bacaan yang menjelaskan tentang peran anggota-anggota keluarga. Semua anggota keluarga memiliki tugas dan setiap tugas saling melengkapi satu dan yang lain. Peran suami dan istri yang mesti selalu menumbuhkan cinta kasih di dalam keluarga, peran orang tua dan anak yang mesti saling menghormati dan menghargai. Peran tuan dan hamba yang mesti saling menjaga. Sadarkah kita bahwa zaman sekarang nilai kekeluargaan tergeser karena kecanggihan Teknologi. Suami istri tidak lagi saling menatap namun lebih sering menatap HP masing-masing, tangan pun tidak saling merangkul sebab lebih nyaman menggenggam gadget, komunikasi semakin berkurang. Rumah yang ditempati pun tidak lagi hangat dan berisik dengan tawa keluarga. Meja makan sebagai tempat untuk saling menasihati, saling berbagi dan saling mencurahkan rasa kini sepi dan tidak lagi difungsikan. Realitas ini merupakan tantangn bagi keluarga-keluarga. Mari, hidupkan kembali iklim keluarga Kristen yang saling mengasihi dan menghormati, sebab keluarga adalah tempat pulang yang paling nyaman dan diatas semuanya ialah Kasih Tuhan ada tinggal menetap didalamnya.

Doa: Tuhan, biarlah cinta kasihMu hidup di dalam keluarga kami.  Amin. 

Senin, 01 September 2025

bahan bacaan : Mazmur 92 : 13-16

12 (92-13) Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; 13 (92-14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. 14 (92-15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, 15 (92-16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Jangan Berhenti Berbuah

Menjadi pribadi, keluarga bahkan persekutuan yang hidup benar di hadapan Tuhan merupakan suatu keharusan sebagai orang percaya. Kendatipun sadar akan hal dimaksud, namun seringkali terabaikan karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Itu sebabnya ada sekian banyak orang percaya yang hidupnya bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Terkait dengan hidup yang demikian, maka hidup hanya dilihat sebagai sesuatu yang sekedar dijalani saja tanpa ada pemaknaan yang berarti. Padahal hidup yang dikehendaki Tuhan yaitu hidup yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Agar tetap bertumbuh dan berbuah, maka kita berkewajiban untuk terus melakukan kehendak-Nya.  Inilah juga yang dimaksudkan pemazmur dalam bacaan kita hari ini. Bagi pemazmur hanya orang benar yang akan bertunas dan bertumbuh subur seperti pohon kurma dan pohon aras (ay. 13). Karenanya hidup benar tidak dapat diabaikan melainkan menjadi prinsip hidup yang terus dinyatakan dari waktu ke waktu. Sebab hanya dengan begitu, kita akan terus berbuah sekalipun berada di usia yang sudah lanjut. Buah yang dihasilkan akan mununjukkan siapa kita sesungguhnya karena akan nampak dari sikap, perkataan maupun perbuatan kita. Dengan demikian jangan berhenti menghasilkan buah yang menunjukkan bahwa kita adalah orang benar. Sebab hanya orang benarlah yang dapat berbuah sampai tua.

Doa: Pimpinlah Kami Tuhan, agar mengikuti kehendak-Mu dan terus berbuah. Amin.

Selasa, 02 September 2025

bahan bacaan : Yosua 24 : 14-15

14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Beribadah Kepada Tuhan Dengan Tulus dan Setia

Jika merenungkan kembali seluruh proses hidup yang telah dijalani, bukankah kita akan bersyukur kepada Tuhan? Disampaikan demikian sebab seluruh perjalanan hidup dengan berbagai dinamikanya dapat kita lalui hanya karena campur tangan-Nya.  Pertanyaannya, apa yang mesti kita lakukan meresponi kebaikan-Nya yang selama ini dialami? Ketika berbicara kepada seluruh bangsa Israel, Yosua mengingatkan tentang segala kebaikan Tuhan yang telah dinyatakan bagi mereka. Terhadap hal tersebut ia menyampaikan agar bangsa itu harus meresponinya dengan hidup yang takut Tuhan dan beribadah Pada-Nya dengan tulus dan setia. Selanjutnya ia memberikan ketegasan bahwa sekalipun bangsa itu memilih untuk beribadah kepada ilah lain, tetapi ia dan seisi rumahnya akan tetap beribadah kepada Tuhan. Keputusannya itu merupakan cerminan kehidupan yang patut diteladani oleh orang percaya masa kini. Sebab sebagai pemimpin bangsa Israel dan keluarga, ia tetap melakukan yang benar bagi Tuhan. Apakah hal yang demikian sudah diterapkan dalam kehidupan keluarga kita masing-masing? Melalui firman Tuhan saat ini kita diingatkan baik secara pribadi maupun keluarga, kepada siapa kita harus beribadah. Oleh sebab itu peranan sebagai orang tua maupun anggota keluarga yang lain, harus difungsikan dengan baik. Kendatipun ada banyak persoalan dan tantangan kehidupan, namun kebaikan Tuhan masih kita alami dan rasakan sampai detik ini. Sadar akan hal itu maka yang harus dilakukan sebagai keluarga kristen dalam menjalani hari-hari hidup yaitu takut akan Tuhan, serta senantiasa beribadah kepada-Nya dengan tulus dan setia.

Doa: Hanya kepadaMu Tuhan, keluarga kami datang beribadah dengan tulus dan setia.  Amin

Rabu, 03 September 2025

bahan bacaan : Amsal 31 : 1-9

Amsal-amsal untuk Lemuel dari ibunya
Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya. 2 Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku? 3 Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. 4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, 5 jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas. 6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. 7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya. 8 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. 9 Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.

Pengajaran Yang Benar Menuntun Hidup

Semua orang tua selalu berharap hal terbaik bagi anak-anaknya dimasa kini maupun masa depan mereka. Karena itu ada banyak hal yang terus menjadi perhatian dan dilakukan untuk menunjang kebutuhan anak. Misalnya: mencukupi makan dan pakai, memberikan kesempatan belajar di bangku pendidikan dan yang lainnya. Kendatipun semua ini dipenuhi, namun tanggung jawab mengajarkan dalam bentuk wejangan atau nasihat harus dilakukan sejak dini dalam keluarga. Hal yang demikian juga ditemui pada bagian bacaan kita saat ini. Perkataan yang disampaikan Lemuel raja Masa merupakan pengajaran yang mula-mula diajarkan oleh ibunya. Semua pengajran yang baik dan benar ini akan menolong raja Lemuel tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak serta dapat dengan baik dan benar dalam pengambilan keputusan. Bukankah hal yang sama pula dibutuhkan oleh anak-anak kita? Sadar akan hal itu, maka tanggung jawab sebagai orang tua untuk terus mengajar dan menasihati anak-anak sangat penting diterapkan. Sebab berbagai nasihat dan pengajaran yang benar dari orang tua akan sangat bermanfaat bagi anak-anak dikemudian hari. Atas dasar itulah sebagai orang tua kita diingatkan agar terus menjalankan tugas kita dengan penuh tanggung jawab. Percayalah semua hal baik dan benar yang kita taburkan bagi anak-anak, akan memberi hasil yang baik dan benar.

Doa: Biarlah kami dimampukan Tuhan untuk terus menyampaikan pengajaran yang benar.  Amin

Kamis, 04 September 2025

bahan bacaan : Amsal 1 : 20-33

Nasihat hikmat
20 Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, 21 di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya. 22 "Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan? 23 Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu. 24 Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, 25 bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, 26 maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, 27 apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. 28 Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. 29 Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, 30 tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, 31 maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. 32 Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. 33 Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka."

 Dengarkanlah Teguran Hikmat

Sesuatu yang bertolak belakang dengan kehendak Allah, tentu saja pernah kita lakukan. Hal ini dapat terjadi baik disengaja ataupun sebaliknya lewat sikap, tutur kata maupun perbuatan. Terhadap itu, nasihat hikmat terus diberikan agar kita lebih memahami dan mampu membedakan antara yang benar dan salah. Nasihat hikmat juga bertujuan mengarahkan agar yang mendengarkan dapat memperbaiki kekeliruan dan kesalahan yang pernah dilakukan. Terkait hal dimaksud penulis mengungkapkan bahwa hikmat selalu berseru, memperdengarkan suaranya dan mengucapkan kata-katanya (ay. 20-21). Itu berarti semua orang dapat mendengarkannya. Selanjutnya keputusan memilih untuk menerima dan memperhatikan teguran hikmat atau justru menolak dan mengabaikannya, tergantung tiap-tiap orang. Sebab apapun yang menjadi pilihan kita berdampak pada apa yang akan didapatkan kemudian. Jika menolak peringatan dan nasihat hikmat, maka kehancuran dan kebinasaan yang akan didapatkan (ay. 31-32). Sebaliknya jika menerima nasihat dan teguran hikmat, maka akan tinggal dengan aman dari kengerian malapetaka. Pertanyaannya, apakah kita akan menolak dan mengabaikan nasihat hikmat dan terus terlena serta tetap melakukan kesalahan? Ataukah kita menerima teguran hikmat kemudian memperbaiki kesalahan serta hidup benar dihadapan Tuhan? Dengarkanlah teguran dan nasihat hikmat yang kita dengarkan baik dari dalam keluarga, lingkungan masyarakat maupun dalam ruang lingkup bergereja. Dengan mendengar teguran, hikmat hidup kita senantiasa dibaharui dan diberikan pemahaman untuk menjalani hari-hari hidup selanjutnya.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami agar menerima dan mendengar  teguran hikmat. Amin.

Jumat, 05 September 2025

bahan bacaan : Matius 19 : 1-12

Perceraian
Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana. 3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" 4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." 10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." 11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. 12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Menjaga Keutuhan Keluarga

Membuat keputusan dan berkomitmen untuk bersatu dalam ikatan pernikahan serta menjalani hidup bersama, tentu saja di pandang baik. Namun sangat disayangkan, tidak semua pasangan suami istri mampu bertahan pada keputusan dan komitmen awal yang telah disepakati. Hal ini dapat disebabkan karena berbagai faktor yang mengakibatkan hilang keharmonisan, rusaknya rumah tangga dan yang paling fatal yaitu terjadinya perceraian. Kondisi yang demikian juga tidak jarang dialami oleh kehidupan keluarga-keluarga kristen. Ini marak terjadi, meskipun sesungguhnya mereka memahami bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Itu berarti perceraian merupakan salah satu keputusan manusia yang di tentang oleh Allah. Dengan demikian berusaha menjaga keutuhan keluarga mesti terus dipertahankan. Bagaimana caranya? Pasangan suami istri seharusnya berkomitmen untuk saling mencintai dengan tulus, tetap setia, saling menghormati dll. Semuanya tidak sulit untuk dilakukan bila masing-masing orang hidup takut akan Tuhan. Itu sebabnya, keluarga kristen tidak boleh membuka cela dan memberi ruang bagi semua hal yang bertolak belakang dengan kehendak Allah. Karena percaraian tidak hanya berdampak bagi pasangan suami istri saja tetapi juga bagi anak-anak mereka, maka jadilah keluarga kristen yang selalu menjaga keutuhan rumah tangga.

Doa: Mampukan kami Tuhan untuk selalu menjaga keutuhan keluarga. Amin.

Sabtu, 06 September 2025 (Dirgahayu ke 80 GPM)

bahan bacaan : Markus 4 : 1-9

Perumpamaan tentang seorang penabur
Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Semua Karena Kasih Tuhan (Selamat Merayakan HUT ke-90 GPM)

Tema HUT GPM tahun 2025 adalah Gereja yang menabur, bertumbuh dan berbuah karena kasih Tuhan.  Tema ini mendasari syukur GPM yang ke 90. Melaluinya tergambar komitmen terkait sikap autokritik gereja. Usia yang hampir mendekati satu abad, mestinya membuat GPM menjadi gereja yang tetap menyadari eksistensi dirinya sebagai saluran syalom Allah. GPM terpanggil menyuarakan suara Allah dan menyalurkan damai sejahtera-Nya. Umat dan pelayan harus menghadirkan kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Inilah yang dinyatakan dalam teks Markus 4:1-9. Tuhan Yesus memberikan pengajaran dalam bentuk perumpaan tentang bagaimana kehidupan gereja yang seharusnya. Penabur menaburkan benih namun keberadaan benih yang jatuh di pinggir jalan, batu-batu dan semak duri tidak bertumbuh dan berbuah pada akhirnya. Kondisi mana yang berbeda dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Melaluinya eksistensi gereja sebagai tempat jatuhnya benih dipertanyakan. Apakah GPM tetap bertumbuh dan berbuah? Apakah yang menjadi indikatornya? Yang pasti selama Injil diberitakan, bila kita tetap berakar pada Kristus Sang Kepala Gereja, kita akan bertumbuh dan saatnya kita akan berbuah dalam kemurahan Tuhan.

Doa:  ya Allah, mampukan kami tetap menabur, bertumbuh dan berbuah, Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Membangun Demokrasi Yang Bertanggungjawab

Minggu, 24 Agustus 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 1 – 22

Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama
Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. 2 Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. 3 Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. 4 Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. 5 Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem 6 dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. 7 Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?" 8 Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, 9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, 10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. 11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. 12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." 13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. 14 Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. 15 Dan setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, 16 dan berkata: "Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. 17 Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapapun dalam nama itu." 18 Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. 19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. 20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." 21 Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. 22 Sebab orang yang disembuhkan oleh mujizat itu sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya.

Merdeka untuk Membangun Demokrasi yang Bertanggungjawab

Demokrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat di depan umum. Karena itu, salah satu hal yang harus dimiliki oleh orang-orang yang menganut paham demokrasi adalah keberanian berbicara menyampaikan pendapat. Itu berarti tidak boleh takut kepada siapa pun, termasuk pemimpin, juga tidak boleh takut dihukum atau dipenjara karena penyampaian pendapat yang berbeda dengan kebijakan atau keinginan penguasa/pemimpin. Teks Alkitab hari ini berisikan keberanian dua murid Yesus, Petrus dan Yohanes yang berani bersaksi menyampaikan pendapat dan berbicara di depan Mahkamah Agama saat sidang. Dalam sidang tersebut kedua murid Yesus ini disuruh untuk tidak boleh berbicara dan mengajar lagi dengan menggunakan nama Yesus. Namun, Petrus dan Yohanes menolaknya, sebab bagi mereka apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran, dan semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan banyak orang. Mereka berani menolak permintaan pemimpin sidang, dan lebih tunduk serta taat kepada Allah.Firman Tuhan  hari ini  mengingatkan kita untuk tidak takut menyampaikan suara kebenaran. Kita punya hak untuk menyampaikan pikiran dan pendapat. Lakukanlah itu dengan sopan dan beretika serta penuh rasa tanggungjawab. Teruslah berkata dan bertindak yang baik dan benar kepada siapa pun demi kebaikan hidup bersama.

Doa: Tuhan, berikanlah keberanian kepada kami untuk menyampaikan kebenaran.  Amin. 

Senin, 25 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 16 : 9 – 15

9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. 10 Keputusan dari Allah ada di bibir raja, kalau ia mengadili mulutnya tidak berbuat salah. 11 Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan TUHAN, segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya. 12 Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena takhta menjadi kokoh oleh kebenaran. 13 Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya. 14 Kegeraman raja adalah bentara maut, tetapi orang bijak memadamkannya. 15 Wajah raja yang bercahaya memberi hidup dan kebaikannya seperti awan hujan musim semi.

Berpikir Postif dan Berkata Benar

Setiap orang, termasuk raja atau pemimpin dalam hidupnya harus selalu berpikir dan berbicara segala hal yang baik untuk dirinya, maupun untuk orang lain. Karena itu, dalam diri seseorang harus terbiasa berpikir positif, supaya bisa berkata yang baik atau yang positif juga kepada orang lain. Bagi Salomo, sebagaimana terbaca pada teks hari ini, berpikir positif akan membuat Tuhan turut terlibat untuk menentukan arah langkahnya (ay.9), sedangkan orang yang berbicara baik adalah mereka yang selalu berbicara jujur (bd.ay.13). Bagi Salomo, ini penting untuk setiap orang yang berjuang menjalani hidup agar lebih baik, apalagi seorang pemimpin dalam memimpin anggotanya. Jadi, kejernihan berpikir berimplikasi pada campur tangan Tuhan menuntun arah langkah hidup maupun berbicara kepada siapa pun juga. Karena itu, pesan nas bacaan ini bagi kita yaitulah jangan pernah berpikir negatif tentang orang lain, apalagi berkata yang tidak benar, menuduhkan sesuatu yang belum tentu terbukti kebenarannya. Mari selalu berpikir positif dan berkata yang benar supaya kata-kata yang dikeluarkan melalui bibir mulut kita diberkati dan bermanfaat bagi orang yang mendengarnya.

Doa: Tuhan, kuasailah pikiran kami agar selalu berpikir postif tentang orang lain,  Amin. 

Selasa, 26 Agustus 2025

bahan bacaan : I Petrus 2 : 11 – 15 

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.

Hati sebagai Hamba

Pemerintah adalah wakil Allah di dunia”, Kalimat ini tidak asing lagi di telinga kita. Maknanya ialah mereka yang dipercayakan untuk bekerja dalam pemerintahan baik di aras Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif adalah orang-orang pilihan, yang mesti melakukan kehendak Allah.Hal itu nampak dalam kerja-kerja pemerintah yang mendatangkan ketentraman dan kesejahteraan atas dasar keadilan dan kebenaran. Peringatan yang disampaikan Petrus untuk mengerjakan keselamatan Allah sebagai pemegang kekuasaan yang harus berbuat baik patut untuk diperhatikan. Tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk menyelubungi kejahatan. Namun peringatan yang sama disampaikan pula kepada semua orang agar hidup sebagai orang merdeka. Menghormati dan mengasihi semua orang. memiliki hati sebagai hamba untuk melakukan tugas dan tanggung jawab dengan takut akan Tuhan. Pemerintah dengan banyak kebijakan dan aturan-aturan yang baru, membawa perubahan yang mesti kita sesuaikan dengan pola hidup dan kerja yang mungkin telah menjadi kebiasaan. Perubahan itu pastinya bertujuan baik. Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa Allah Kehidupan yang menganugerahkan tugas dan tanggung jawab bagi kita dalam bentuk apapun, jika dilakukan dengan takut akan Tuhan dan jujur maka akan mendatangkan berkat serta sukacita. Tetap merendah dan milikilah hati sebagai hamba.

Doa: Ajari kami Tuhan, untuk menjadi Hamba yang setia.  Amin. 

Rabu, 27 Agustus 2025

bahan bacaan : Galatia 5 : 13 – 15

13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Tuhan Yesus Mengasihi tanpa Syarat

Merdeka dari dosa merupakan dambaan semua manusia di dunia ini. Orang-orang percaya telah dimerdekakan oleh Allah dari perbudakan dosa melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Bacaan hari ini mau mengingatkan untuk selalu bersyukur atas karya   keselamatan Allah. Wujud syukur itu haruslah nampak dalam kehidupan yang saling mengasihi antar sesama. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” kalimat ini mesti menjadi pedoman untuk hidup berdampingan sebagai sesama manusia, saling mengingatkan agar tidak jatuh dalam dosa, sebab jika tidak demikian maka kemerdekaan yang telah diperoleh tidak akan mendatangakan kesejahteraan melainkan kebinasaan. Mengasihi harus dimulai dari keluarga. Suami dan istri saling jujur, tidak saling mengkhianati, saling mendukung dan menopang. Orang tua dan anak harus memiliki waktu berkualitas untuk saling berkomunikasi dan terbuka. Adik dan kakak harus saling menyayangi dan menghargai. Dalam lingkup jemaat dan masyarakat, hidup saling mengasihi harus melampaui banyak perbedaan dan banyak sekat. Mengasihi tidaklah bersyarat, sebab Tuhan pun mengasihi dan memerdekakan kita karena Kasih-Nya yang tak bersyarat.

Doa: Tolong kami menjalani kemerdekaan dengan hidup dalam kasih,  Amin

Kamis, 28 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran  18 : 13 – 23

Pengangkatan hakim-hakim
13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah." 17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

Hikmat Allah Menyelesaikan Perkara

Sosok mertua Musa digambarkan dalam bacaan kita sebagai sosok yang bijaksana dan penuh dengan Hikmat Allah. Ketika musa diperhadapkan dengan berbagai persoalan dan perkara bangsa Israel yang mesti diselesaikan, Yitro dengan bijaksana memberi solusi yang sungguh membantu Musa. Pada akhirnya, Musa dapat mengendalikan tugasnya dengan bantuan orang-orang yang dipandangnya mampu menyelesaikan setiap perkara bangsa itu. Bacaan hari ini mengajarkan kita beberapa hal, yakni; Pertama, bahwa keputusan sebagai seorang pemimpin tidaklah mudah, karena itu selain membutuhkan saran atau nasihat orang lain mesti juga membutuhkan Hikmat Allah. Hikmat Allah ada pada diri Yitro dan kemudian ia menyampaikannya kepada Musa ketika harus menyelesaikan banyak perkara. Setiap perkara memiliki keunikan dan cara penyelesaiannya berbeda-beda. Ada perkara kecil dan ada pula perkara besar. tetapi dalam segala perkara kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk menyelesaikannya. Kedua, sebagai pemimpin kita pun tidak dapat melakukan segala sesuatu seorang diri, oleh karenanya orang lain diperlukan untuk membantu kita menjalankan tugas yang kita kerjakan. Janganlah merasa angkuh dan sombong, jangan mengandalkan kekuatan sendiri dan menganggap diri mampu tanpa bantuan orang lain, sebab sejatinya sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan manusia lain pula. Mari terus membangun relasi yang baik.

Doa: hikmatMu  Tuhan kami perlu untuk menyelesaikan segala perkara kehidupan ini.  Amin. 

Jumat, 29 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal  15 : 22

22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Kehendak Tuhan yang Memberkati

Manusia punya rencana, Tuhan punya kehendak. Kalimat bijak ini memiliki makna yang mendalam dan memberi kesan berarti bagi hidup orang percaya. Ya! Manusia memang memiliki rencana: baik itu rencana pekerjaan, rencana jodoh, rencana perjalanan, rencana hari tua, dan sebagainya, namun semua rencana itu jika tidak dikehendaki Tuhan maka akan sia-sia. Pada titik ini kita harus mengakui bahwa sungguh Tuhanlah yang berkehendak. Oleh sebab itu, kita selalu diingatkan agar menaruh pengharapan sungguh kepada Tuhan Allah atas setiap gumulan hidup kita. Nas bacaan Amsal 15:22 memperlihatkan bagaimana hasil yang diperoleh manusia jika semua rencananya tidak melalui pertimbangan yang matang, tidak memberi ruang menerima saran apalagi tidak mengandalkan Tuhan. Kegagalan manusia yang mendasar atas perencanaan gumulannya ialah kesombongan dan keangkuhan. Ketika sudah ada pada puncak kejayaan seringkali manusia lupa mengandalkan Tuhan. Nasihat dari sesama pun diabaikan. Akhirnya, jika gagal dan hancur lalu mulai menyalahkan Tuhan, menyalahkan keadaan dan orang sekitar. Firman ini mengingatkan agar tidak angkuh, terbuka bagi pikiran yang positif dan membangun dan jangan gegabah mengambil keputusan. Sertakan Tuhan dalam setiap perencanaan, niscaya pasti mendatangkan kebaikan.

Doa: Rencana kami sekeluarga ditaruh hanya ke dalam tanganMu Tuhan,  Amin.

Sabtu, 30 Agustus 2025

bahan bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6

Jalan orang benar dan jalan orang fasik
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Jalan Hidup Orang Benar Diterangi Kemuliaan Tuhan

Ada dua jalan kehidupan yang selalu dijumpai manusia. Jalan yang benar dan jalan yang tidak benar. Pemazmur mengawali bacaan ini dengan menegaskan konsekuensi memilih jalan yang benar dan yang tidak benar. Jelas bahwa ketika memilih jalan yang benar maka kita menjadi orang benar dan kesukaan kita pada taurat atau Firman Tuhan yang akan mengantar kita pada keberhasilan dan sukacita. Sedangkan jalan yang tidak benar membuat kita menjadi orang fasik dan dihentar pada kebinasaan. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Bacaan hari ini menuntut kita untuk memilih, ingin menjadi orang benar atau orang fasik? Kita telah mengetahui hasilnya pada tiap pilihan dan oleh karenanya bawalah diri kita menjadi orang-orang yang benar agar sukacita dan keberhasilan menjadi bagian dalam kehidupan kita. Orang tua sedari dini  akan mengajarkan anak-anak untuk menjadi orang benar, dimulai dari hidup Takut Tuhan, rajin berdoa, rajin beribadah, patuh kepada orang tua, jujur, mengasihi sesama, dll. Percayalah bahwa hal-hal sederhana itu akan membuahkan hasil yang luar biasa, ketika anak-anak bertumbuh dewasa mereka akan sangat peka dengan keadaan sekitar dan mengusahakan untuk hidup sebagai orang yang benar. Semoga bulan keluarga GPM tahun ini menuntun kita untuk menjadi keluarga-keluarga Kristen yang berjalan di jalan yang benar.

Doa: Ya Tuhan, kiranya kami dapat terus di jalan-jalan orang benar  Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Minggu, 17 Agustus 2025

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 12 : 1 – 24

Pecahnya kerajaan itu
Kemudian Rehabeam pergi ke Sikhem, sebab seluruh Israel telah datang ke Sikhem untuk menobatkan dia menjadi raja. 2 Segera sesudah hal itu kedengaran kepada Yerobeam bin Nebat--pada waktu itu dia masih ada di Mesir, sebab ia melarikan diri ke sana dari hadapan raja Salomo--maka kembalilah ia dari Mesir. 3 Orang menyuruh memanggil dia, lalu datanglah Yerobeam dengan segenap jemaah Israel dan berkata kepada Rehabeam: 4 "Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu." 5 Tetapi ia menjawab mereka: "Pergilah sampai lusa, kemudian kembalilah kepadaku." Lalu pergilah rakyat itu. 6 Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: "Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?" 7 Mereka berkata: "Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu." 8 Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya, 9 katanya kepada mereka: "Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?" 10 Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: "Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami--beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku! 11 Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi." 12 Pada hari lusanya datanglah Yerobeam dengan segenap rakyat kepada Rehabeam, seperti yang dikatakan raja: "Kembalilah kepadaku pada hari lusa." 13 Raja menjawab rakyat itu dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua kepadanya; 14 ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: "Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambah tanggunganmu itu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi." 15 Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat. 16 Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja: "Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!" Maka pergilah orang Israel ke kemahnya, 17 sehingga Rehabeam menjadi raja hanya atas orang Israel yang diam di kota-kota Yehuda. 18 Kemudian raja Rehabeam mengutus Adoram yang menjadi kepala rodi, tetapi seluruh Israel melontari dia dengan batu, sehingga mati, bahkan raja Rehabeam hampir-hampir tidak dapat menaiki keretanya untuk melarikan diri ke Yerusalem. 19 Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini. 20 Segera sesudah seluruh Israel mendengar, bahwa Yerobeam sudah pulang, maka mereka menyuruh memanggil dia ke pertemuan jemaah, lalu mereka menobatkan dia menjadi raja atas seluruh Israel. Tidak ada lagi yang mengikuti keluarga Daud selain dari suku Yehuda saja. 21 Ketika Rehabeam datang ke Yerusalem, ia mengumpulkan segenap kaum Yehuda dan suku Benyamin, seratus delapan puluh ribu teruna yang sanggup berperang untuk memerangi kaum Israel dengan maksud mengembalikan kerajaan itu kepada Rehabeam, anak Salomo. 22 Tetapi datanglah firman Allah kepada Semaya, abdi Allah, demikian: 23 "Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu: 24 Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi." Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.

Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa

Hari ini seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mensyukuri dan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80. Tema HUT kemerdekaan RI tahun ini “Merdeka untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa”. Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan hal yang penting untuk diwujudkan, dimana semua anak bangsa tidak diperlakukan dengan tidak adil, namun semua mendapatkan hak hidup dengan damai demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Hal ini masih menjadi pergumulan bagi pemerintah untuk mewujudkannya sebab maraknya KKN menjadi tantangan besar untuk menuju cita-cita bangsa dan negara Indonesia mencapai masyarakat adil dan makmur. Kesaksian firman Tuhan menceritakan sikap raja Rehabeam yang tidak mendengar nasehat dari para tua-tua untuk meringankan beban rakyat tetapi ia mengikuti nasehat para pemuda untuk memberatkan tanggungan rakyat yang pada akhirnya keutuhan sebagai bangsa terpecah menjadi dua kerajaan Israel utara dan selatan. Pentingnya hikmat Tuhan bagi para pemimpin di masyarakat, gereja maupun keluarga untuk mendengar pendapat yang baik dari semua pihak agar dapat mewujudkan hal baik bagi semua orang.

Doa: Ya Tuhan, karuniakanlah hikmat bagi pemimpin kami agar mereka dapat melakukan tugas dengan baik. Amin. 

Senin, 18 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 11 : 5 – 12

Raja Rehabeam -- Pengokohan kerajaan; keluarga raja
5 Rehabeam diam di Yerusalem dan memperkuat kota-kota kubu di Yehuda. 6 Ia memperkuat Betlehem, Etam, Tekoa, 7 Bet-Zur, Sokho, Adulam, 8 Gat, Mares, Zif, 9 Adoraim, Lakhis, Azeka, 10 Zora, Ayalon dan Hebron, yang terletak di Yehuda dan di Benyamin, sebagai kota-kota berkubu. 11 Ia memperkokoh kota-kota kubu itu dan menempatkan di situ kepala-kepala pasukan dengan persediaan makanan, minyak dan anggur; 12 perisai dan tombakpun disediakan di tiap-tiap kota. Ia membuat kota-kota itu amat kokoh. Demikianlah Yehuda dan Benyamin menjadi daerah kekuasaannya.

Pemimpin yang Bijak Membawa Kemakmuran bagi Masyarakat

Pemimpin bangsa yang bijak adalah pemimpin yang mengedepankan kekuatan pada daerah dan kota-kota agar tidak mudah diserang oleh musuh. Membangun kekuatan tersebut meliputi semua hal, baik secara ekonomi maupun peralatan persenjataan untuk keamanan bangsa dan negara. Hal ini dilakukan oleh raja Rehabeam yang tinggal di Yerusalem sebagai pusat pemerintahannya sambil memperkuat kota-kota di Yehuda dengan mendistribusikan bahan-bahan makanan serta perlengkapan persenjataan. Dengan kebijakan ini memberikan rasa aman dan tentram bagi masyarakat serta membangkitkan semangat mereka untuk saling tolong-menolong dan membantu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Hal inipun menjadi teladan bagi semua pemimpin di berbagai aras dalam negara tercinta Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat demi memenuhi kebutuhan hidup serta dalam bidang keamanan melalui militer yang kuat dan bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Semuanya itu dapat dilakukan dengan baik ketika memohon campur tangan Tuhan sehingga pemimpin dengan bijak dapat melaksanakan hal tersebut juga dengan baik.

Doa: Ya Tuhan berkati pemimpin kami untuk wujudkan cita-cita bangsa dan negara yang adil dan Makmur. Amin  

Selasa, 19 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 11 : 13 – 23  

13 Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia dari daerah-daerah kediaman mereka. 14 Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN, 15 dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya. 16 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 17 Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo. 18 Rehabeam mengambil Mahalat, anak Yerimot bin Daud dan Abihail binti Elhiab bin Isai, menjadi isterinya, 19 yang melahirkan baginya anak-anak lelaki ini: Yeush, Semarya dan Zaham. 20 Sesudah Mahalat ia mengambil Maakha, anak Absalom, menjadi isterinya, yang melahirkan baginya Abia, Atai, Ziza dan Selomit. 21 Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih dari pada semua isteri dan gundiknya--ia mengambil delapan belas isteri dan enam puluh gundik dan memperanakkan dua puluh delapan anak laki-laki dan enam puluh anak perempuan. 22 Rehabeam mengangkat Abia, anak Maakha, sebagai pemuka, yakni sebagai pemimpin di antara saudara-saudaranya, karena ia bermaksud menjadikan dia raja. 23 Oleh sebab itu ia mengambil kebijaksanaan untuk menyebarkan semua anaknya yang lain ke seluruh daerah Yehuda dan Benyamin, ke segala kota kubu. Ia memberikan mereka makanan dengan limpahnya dan menyediakan bagi mereka banyak isteri.

Persatuan Bangsa Demi Kesejahteraan Bersama

Tema pelayanan minggu ini “ Merdeka untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa ”. Tema ini tergambar dalam pelayanan kepemimpinan raja Rehabeam putra Salomo yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya di kerajaan Israel selatan. Raja Rehabeam menerima para imam dan orang Lewi yang datang dari Israel utara, saat raja Yerobeam tidak lagi memakai mereka dalam tugas pelayanan dan menggantikan dengan imam-imam untuk dewa pemujaan yang lain. Para imam dan orang Lewi bersyukur sebab bisa kembali ke Yerusalem serta membulatkan hati mereka untuk mencari  Tuhan melalui seluruh tugas dan tanggung jawab pelayanan mereka. Bergabungnya para imam dan orang Lewi dengan raja Rehabeam, maka lebih memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yehuda. Raja Rehabeam tidak hanya fokus pada seluruh kehidupan rakyat yang ia pimpin dan layani, namun ia juga memperhatikan kehidupan keluarganya. Dengan bijak raja Rehabeam menyebarkan anak-anaknya ke seluruh daerah kekuasaannya serta menyediakan segala kebutuhan hidup mereka. Sebuah teladan kepemimpinan yang baik dengan selalu bergantung dan memohon tuntunan Tuhan yang berdampak bagi keutuhan persatuan serta kemakmuran bagi semua orang.

Doa: Tuhan, tuntun kami sebagai pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua orang. Amin. 

Rabu, 20 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 8 : 1 – 9

Beberapa usaha raja Salomo
Setelah lewat dua puluh tahun selesailah Salomo mendirikan rumah TUHAN dan istananya sendiri. 2 Maka Salomo memperkuat kota-kota yang diberikan Huram kepadanya, dan menyuruh orang Israel menetap di sana. 3 Lalu Salomo pergi ke Hamat-Zoba dan menaklukkannya. 4 Kemudian ia memperkuat Tadmor di padang gurun dan semua kota perbekalan yang didirikannya di Hamat. 5 Ia memperkuat juga Bet-Horon Hulu dan Bet-Horon Hilir menjadi kota kubu yang bertembok, berpintu gerbang dan berpalang, 6 dan juga Baalat, dan segala kota perbekalan kepunyaan Salomo, segala kota tempat kereta, kota-kota tempat orang berkuda dan apa saja yang Salomo ingin mendirikannya di Yerusalem, atau di gunung Libanon, atau di segenap negeri kekuasaannya. 7 Semua orang yang masih tinggal dari orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, yang tidak termasuk orang Israel, 8 yakni keturunan bangsa-bangsa yang masih tinggal di negeri itu dan yang tidak dibinasakan oleh orang Israel, merekalah yang dikerahkan Salomo untuk menjadi orang rodi; demikianlah mereka sampai hari ini. 9 Tetapi orang Israel tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo untuk pekerjaannya, melainkan mereka menjadi prajurit, atau perwira pasukan berkuda, atau panglima atas pasukan kereta dan pasukan berkuda.

Perkuat Keamanan Dan Ketahanan Pangan

Raja Salomo merupakan seorang raja yang dikarunia Tuhan hikmat dan kebijaksanaan yang luar biasa dalam tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin bagi seluruh bangsa Israel. Setelah selesai membangun bait suci yang besar dan megah di kota Yerusalem serta istananya, Salomo melanjutkan dengan memperkuat keamanan bagi kota-kota yang menjadi pertahanannya. Disamping itu juga Salomo membangun kota perbekalan sebagai ketahanan pangan bagi kebutuhan seluruh bangsa dan masyarakat Israel yang sangat banyak. Hal ini menunjukkan kemampuan Salomo dalam mewujudkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang baik dan bijaksana. Keamanan bangsanya serta ketahanan pangan menjadi hal yang menentukan untuk mewujudkan kesejahteraan banyak orang. Kepemimpinan raja Salomo inipun menjadi teladan bagi kita semua dalam tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin masa kini baik dalam masyarakat, gereja dan keluarga. Semua orang akan merasa tentram dan damai saat jaminan akan keamanan dan terpenuhinya kebutuhan hidup menjadi hal yang penting untuk diwujudkan. Kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi tentu dilakukan oleh pemimpin yang selalu mengandalkan hikmat Tuhan.

Doa: Tuntun kami Tuhan sebagai pemimpin yang membangun kesatuan demi kesejahteraan bersama. Amin

Kamis, 21 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 17 : 1 – 6

Raja Yosafat -- Pengokohan kerajaan
Maka Yosafat, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Sebagai pemimpin Israel ia memperkuat dirinya 2 dengan menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim yang direbut oleh Asa, ayahnya. 3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, 4 melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel. 5 Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat. 6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.

Jalani Kemerdekaan Bersama Tuhan

Kemerdekaan dan kebebasan merupakan dua hal yang didambakan oleh setiap manusia. Dalam kekristenan, kedua hal tersebut didapat secara cuma-cuma, yaitu ketika Tuhan Yesus mengorbankan dirinya mati di Salib demi mengalahkan kuasa dosa yang membelenggu manusia. Melalui pengorbanan Yesus itulah, manusia berdosa diselamatkan, yang serentak dengan itu dimerdekakan dan dibebaskan dari kuasa dosa. Kini manusia sudah mengalami kemerdekaan dan kebebasan, namun tindak lanjut dari kemerdekaan dan kebebasan tersebut adalah hidup dengan selalu mencari Tuhan, melakukan perintah-perintah Tuhan, hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dan menjauhkan diri dari segala berhala dunia. Itulah yang dilakukan oleh Yosafat ketika dilantik menjadi raja Yehuda, menata kekuatan militer, serta yang terpenting membekali hidupnya dengan mengandalkan Tuhan, dan ini terbaca dalam bacaan hari ini. Bagi Yosafat apapun yang dilakukan olehnya jika tanpa mengandalkan Tuhan semuanya sia-sia. Kemerdekaan dan kebebasan tidak berarti hidup di luar Tuhan, melainkan semakin hidup di dalam Tuhan. Pesan firman Tuhan ini penting untuk dilaksanakan agar kemerdekaan yang adalah anugerah-Nya dapat kita isi dengan baik dan bertanggungjawab. 

Doa: Mampukanlah kami untuk hidup bersama Tuhan dalam mengisi kemerdekaan.  Amin. 

Jumat, 22 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 29 : 12 – 14

12 Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik. 13 Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar. 14 Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. 15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Laksanakan kejujuran dan Keadilan Di Sepanjang Hidup

Ada dua hal yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tanpa terkecuali. Kedua hal tersebut adalah: kejujuran  dan sikap adil. Kejujuran sama artinya kita tidak berkata dusta atau berbohong dan bersikap adil sama artinya kita tidak berat sebelah, tidak memihak dan berpihak kepada yang benar. Teks bacaan hari ini menegaskan kedua hal tersebut, yang menurut Salomo sebagai penulis kitab Amsal, semuanya penting untuk dimiliki oleh manusia, apalagi  jika ia menjadi penguasa atau pemimpin dalam masyarakat pada suatu lembaga kecil maupun besar. Kalau pemimpinnya penuh kebohongan, bawahannya menjadi liar atau hidup seperti orang fasik yang selalu melakukan kejahatan. Jika pemimpinnya membuat bawahannya miskin atau terjadi penindasan maka Tuhan akan berpihak pada mereka yang dimiskinkan dan ditindas. Apabila dalam memimpin, pemimpinnya bertindak adil kepada orang lemah maka kepemimpinannya akan kokoh dan diberkati oleh Tuhan. Nasehat Salomo ini penting bagi kita selaku pemimpin dalam lembaga terkecil yakni keluarga, atau dalam kepemimpinan di lembaga yang besar. Karena itu, pegang dan laksanakan kejujuran dan keadilan di sepanjang hidup, supaya pekerjaan kita berkenan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Lengkapilah kami dengan RohMu Tuhan untuk hidup jujur dan adil. Amin. 

Sabtu, 23 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 14

14 Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.

Nasihat untuk Keutuhan Hidup 

Salah satu peran penting seorang pemimpin adalah memimpin anggotanya untuk mengalami hidup lebih baik ke depan. Untuk itu perkataan dan perbuatan pemimpin harus mencerminkan kata-kata dan perilaku yang dapat membangun semangat dan kerja anggotanya agar semakin baik dari waktu ke waktu. Dalam hal ini perkataan dan perbuatannya haruslah berisikan kebenaran, yakni berkata dan berbuat segala hal yang benar dalam kepemimpinannya. Agar setiap perkataan dan tindakannya selalu benar maka pemimpin mesti juga membuka diri untuk mendengar masukan atau nasihat dari siapa pun. Nasihat itu penting, sebab dalam nasihat kita, selaku pemimpin mendapat masukan dan saran untuk berkata dan berbuat yang baik dan benar. Karena itu, Salomo melalui teks bacaan hari ini mengingatkan semua pemimpin, termasuk pemimpin keluarga untuk jangan menutup telinga dari setiap nasihat yang disampaikan agar keutuhan, kemajuan, dan keselamatan selalu ada dalam hidup kita ke depan.  

Doa: Biarlah RohMu memampukan kami untuk berkata yang baik dan benar dalam hidup. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Mengusahakan Kesejahteraan Bersama

Minggu, 10 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 6 : 6 – 11

6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? 10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- 11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Kebebasan untuk Kesejahteraan Bersama

Penulis Amsal menasihati orang malas agar belajar dari semut; makhluk kecil yang rajin, terorganisir, dan bekerja tanpa diawasi. Ia memperingatkan bahwa kemalasan akan membawa kemiskinan seperti perampok yang datang tiba-tiba. Alkitab memang memberi makna tentang hal menghargai kerja sebagai cara untuk mencerminkan karakter Allah Sang Pencipta. Seperti semut yang bekerja tanpa paksaan, manusia dipanggil untuk bekerja bukan karena takut hukuman, tetapi karena memahami tujuan hidupnya. Kemalasan bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa menjadi dosa sosial bila membuat seseorang menjadi beban atau tidak peduli pada kesejahteraan bersama. Amsal memberi seruan agar setiap orang aktif berkontribusi untuk kesejahteraan hidup bersama. Kesejahteraan bukanlah mimpi dan tidak bisa tidak datang secara instan. Ada proses, ketekunan, dan pengaturan hidup yang harus diusahakan untuk memperolehnya. Dalam konteks ini, kemerdekaan haruslah dimengerti sebagai kebebasan untuk bertindak secara bijak dan bertanggung jawab demi kebaikan diri dan orang lain. Jadi berusahalah dan bekerjalah sebagai wujud syukur kepada Allah yang memberi kehidupan! Bangun budaya kerja keras, saling dukung, dan gotong royong sebagai jalan menuju kesejahteraan bersama.

Doa: Tuhan, ajarkanlah kami untuk mulai mengkritik diri dan memperbaiki hidup kami. Amin 

Senin, 11 Agustus 2025

bahan bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Cinta Tanah Air Melalui Sikap Peduli dan Tindakan Nyata

Saudaraku, enam hari lagi kita akan merayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Momen bersejarah ini harus kita maknai dengan sikap cinta Tanah Air melalui tindakan nyata. Cinta bangsa dan tanah air juga ditunjukkan oleh Nehemia, seorang  Yahudi yang dipercaya raja Arthasasta dari Persia sebagai pejabat tinggi, namun tidak melupakan penderitaan bangsanya. Ia menunjukkan cintanya kepada bangsa Israel dan tanah airnya, Yerusalem dengan membangun kembali tembok yang runtuh. Nehemia memberi teladan kepada kita tentang cinta bangsa dan Tanah Air melalui cara hidup yang bertanggung jawab dan peduli terhadap persoalan bangsanya. Hal ini dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti mendoakan para pemimpin bangsa, belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, disiplin dan bertanggungjawab, melayani rakyat dengan baik, bebas dari korupsi, menjaga toleransi, meningkatkan kesatuan dan persatuan, menggunakan media sosial secara bijak, dan sebagainya.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk cinta tanah air dengan cara peduli dan bertanggung jawab bagi bangsa.  Amin 

Selasa, 12 Agustus 2025

bahan bacaan : Rut 2 : 1 – 12

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh. 4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!" 5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?" 6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. 7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti." 8 Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. 9 Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu." 10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Kemerdekaan Adalah Kesetaraan Antara Kaya dan Miskin

 Kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan, tetapi yang terpenting adalah tentang keseimbangan hidup antara yang kaya dan yang miskin. Artinya, dalam masyarakat yang merdeka, orang kaya terpanggil untuk membuka akses dan kesempatan bagi orang miskin agar mereka dapat berjuang dan memperoleh kesejahteraan yang merata. Boas adalah orang kaya yang berkuasa, tetapi tidak menyelahgunakan posisinya, sebaliknya ia memberi ruang, melindungi dan memberkati Rut- seorang perempuan  asing dan miskin. Sementara itu, Rut menunjukkan dirinya sebagai perempuan yang terhormat; ia tidak bersikap meminta-minta, melainkan mau bekerja keras. Firman Tuhan ini memberi pesan berharga bagi kita. Mengisi kemerdekaan berarti menggunakan kekayaan, jabatan dan kuasa sebagai anugerah Tuhan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Kemerdekaan bukan digunakan sebagai alat untuk menindas atau mempersulit orang lain apalagi orang miskin, melainkan untuk memberi mereka kesempatan untuk menikmati kehidupan yang lebih baik, sebagaimana yang juga kita miliki.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memperlakukan sesama dengan setara, Amin.

Rabu, 13 Agustus 2025

bahan bacaan : Rut  2 : 13 – 23

13 Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan." 14 Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya. 15 Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; 16 bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia." 17 Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya. 18 Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu, 19 maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!" Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas." 20 Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita." 21 Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku." 22 Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain." 23 Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.

Menjadi Pribadi Yang Murah Hati

Hidup dan pelayanan Bunda Teresa dari kota Kalkuta India, bagaikan “Pelita cinta di tengah kemiskinan”. Setiap kakinya melangkah, hatinya selalu tergerak untuk melayani orang miskin: memberi makan yang lapar, merawat yang sakit, dan memeluk mereka yang tersisih dengan senyum dan kelembutan. Karena baginya, “Setiap orang adalah Yesus dalam rupa yang menyamar” artinya, Yesus bisa hadir lewat siapa saja, termasuk orang miskin. Palayanan kepada orang miskin dengan hati juga diteladankan oleh tokoh Boas dalam nas bacaan tadi. Boas tidak saja membiarkan Rut memungut jelai, tetapi juga mengundangnya makan bersama dan memberikan perlindungan serta rasa aman (ay.14-17). Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dengan kepentingan masing-masing, ketika banyak orang lupa untuk peduli dan melayani sesama, marilah kita bersedia menjadi pribadi yang murah hati seperti: Bunda Teresa, Boas dan Rut. Semoga!.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami menjadi pribadi yang peduli dan melayani sesama, Amin 

Kamis, 14 Agustus 2025

bahan bacaan : Nehemia 5 : 14 – 19

Sikap Nehemia yang tidak mencari keuntungan
14 Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati. 15 Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah. 16 Akupun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu. 17 Duduk pada mejaku orang-orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami. 18 Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi hak bupati, karena pekerjaan itu sangat menekan rakyat. 19 Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.


Kepemimpinan Yang Takut Tuhan

Menjelang perayaan delapan dekade kemerdekaan bangsa ini, pada tanggal 17 Agustus mendatang, ada realitas getir yang tidak bisa disembunyikan bahwa masih banyak pejabat publik (menteri, gubernur, bupati, walikota dll) yang menjadikan  jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri, bukan untuk melayani rakyat. Jabatan yang seharusnya menjadi mandat dari rakyat dan anugerah dari Tuhan bagi seseorang, justru dijadikan ladang untuk praktek korupsi, proyek fiktif, penyalahgunaan anggaran, hingga jual beli jabatan. Hal berbeda diperlihatkan Nehemia; sebagai bupati, ia memiliki hak untuk mencari dan memperoleh keuntungan pribadi dari pajak rakyat, namun ia memilih untuk tidak mengambilnya (ay.14-15). Ia tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai para pemimpin yang bertanggungjawab mengusahakan kesejahteraan masyarakat, agar menunjukkan teladan kepemimpinan yang adil dan jujur. Tidak menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau keluarga, tetapi untuk melayani rakyat demi kesejahteraan bersama. Memimpinlah dengan takut akan Tuhan!

Doa: Tuhan, tolonglah para pemimpin kami agar tidak menyalahgunakan jabatan bagi kepentingan pribadi, amin.

Jumat, 15 Agustus 2025

bahan bacaan : Mazmur 122 : 1 – 9

Doa sejahtera untuk Yerusalem
Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." 2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. 3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. 6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" 8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" 9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Berdoa Demi Kesejahteraan Bangsa Indonesia

Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas pimpinan dan pertolongan-Nya sehingga bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 yang tinggal dua hari lagi.  Kemerdekaan bukan hanya berarti bebas dari penjajahan, tetapi juga merupakan panggilan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk membangun dan mengusahakan kesejahteraan bersama. Panggilan ini  sejalan dengan ajakan Daud dalam perikop bacaan tadi. Daud mengajak  bangsa Israel untuk berdoa dan mengusahakan kesejahteraan kota Yerusalem (ay.6),  karena Yeusalem  yang adil, damai, aman dan rukun akan membawa dampak yang positif bagi kesejahteraan bersama. Maka, sebagai bangsa yang mencintai bangsa dan tanah air Indonesia, marilah kita berdoa bagi para pemimpin dan seluruh rakyat, serta bersama-sama mengusahakan kebaikan agar kita dapat hidup dalam damai dan sejahtera. Jagalah keharmonisan keluarga, pupuklah kebersamaan dalam jemaat dan jauhkan perpecahan. Hindarkanlah sikap hidup yang anti harmonis. Berhentilah melakukan korupsi dan tidak menyalahgunakan jabatan dan sebagaianya. Itulah tekad baru yang harus kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan ini.

Doa: Roh kudus tuntunlah kami untuk terus berdoa dan mengusahakan kesejahteraan bersama , amin. 

Sabtu, 16 Agustus 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah 9 : 10

10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Menggunakan Kesempatan Untuk Bekerja Dengan Giat

Kesempatan untuk melakukan sesuatu hal yang baik melalui pekerjaan kita tidak akan kembali untuk kedua kalinya. Pergunakanlah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bekerja dengan sebaik mungkin. Bekerja dengan sekuat tenaga, bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan. Mengapa ? oleh penulis kitab Pengkhotbah katakan bahwa tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati. Artinya semua telah berakhir dan selesai segala aktivitas seseorang didalam kehidupannya saat kematian datang menjemputnya. Itulah sebabnya Pengkhotbah menasehati kita semua sebagai keluarga Allah untuk menggunakan waktu sebagai kesempatan dari Tuhan dengan baik. Jangan menunda waktu atau membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Orang tua bekerja keras untuk kehidupan dan masa depan keluarga. Pun juga anak-anak berlajar dengan giat dan rajin menuntut ilmu untuk masa depan yang sukses. Semuanya bekerja dan belajar  dengan giat sambil memohon tuntunan Tuhan agar apa yang dihasilkan menjadi berkat bagi keluarga dan semua orang serta kepujian nama Tuhan.

Doa:  Tuhan, tolong kami untuk menggunakan kesempatan dengan baik dalam bekerja. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 03 – 09 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Bersuara

Minggu, 03 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 26 : 1 – 19

Yeremia mau dibunuh, karena menubuatkan kemusnahan Bait Suci Nabi Uria dihukum mati
Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: 2 Beginilah firman TUHAN: "Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! 3 Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuata mereka yang jahat. 4 Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, 5 dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, --tetapi kamu tidak mau mendengarkan-- 6 maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." 7 Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. 8 Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati! 9 Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. 10 Ketika para pemuka Yehuda mendengar tentang hal ini, pergilah mereka dari istana raja ke rumah TUHAN, lalu duduk di pintu gerbang baru di rumah TUHAN. 11 Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri." 12 Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. 13 Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 14 Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 15 Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." 16 Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita." 17 Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya: 18 "Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat di zaman Hizkia, raja Yehuda. Dia telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan. 19 Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?"

Merdeka Untuk Bersuara

Merdeka untuk bersuara atau bersuara untuk orang lain, kelompok dan golongan lain di luar kita sendiri membutuhkan kemauan, keberanian dan jiwa yang besar. Tidak semua orang mau melakukannya sebab mengandung banyak resiko. Dalam nas bacaan hari ini, kita belajar dari tokoh Yeremia yang berani bersuara tentang keadaan bangsa Yehuda dan apa yang akan dialami yakni kehancuran Yerusalem. Karena keberaniannya bersuara ini, nyawanya terancam, ia mau dibunuh. Padahal yang disampaikannya adalah sesuatu yang benar. Kalau mereka mau bertobat dan membarui hidup, Tuhan akan menyesali dan tidak menghukum mereka dengan kehancuran. Kebenaran yang disampaikan Yeremia juga pernah disampaikan oleh Hizkia dan Tuhan menyelamatkan mereka berdua. Firman ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, Tuhan berkenan menolong orang-orang yang tidak pernah takut menyuarakan kebenaran. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang berpihak kepada kebenaran bahkan yang karena itu kadang terancam nyawanya. Jangan takut untuk bersuara, jika yang hendak kita katakan adalah sesuatu yang benar. Mintalah pertolongan Roh Kudus, sebab hanya kuasa Roh Kudus yang memberanikan kita menyatakan kebenaran melalui kata dan perbuatan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berani menyuarakan kebenaran, dalam kata dan perbuatan, amin

Senin, 04 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 26 : 20 – 24

20 Ada juga seorang lain yang bernubuat demi nama TUHAN, yaitu Uria bin Semaya, dari Kiryat-Yearim. Dia bernubuat tentang kota dan negeri ini tepat seperti yang dikatakan Yeremia. 21 Ketika raja Yoyakim, bersama-sama dengan segenap perwiranya dan semua pemuka, mendengar perkataan orang itu, maka rajapun mencari ikhtiar untuk membunuhnya. Mendengar hal itu maka takutlah Uria, lalu melarikan diri dan tiba di Mesir. 22 Kemudian raja Yoyakim menyuruh orang ke Mesir, yaitu Elnatan bin Akhbor beserta beberapa orang. 23 Mereka mengambil Uria dari Mesir dan membawanya kepada raja Yoyakim. Raja menyuruh membunuh dia dengan pedang dan melemparkan mayatnya ke kuburan rakyat biasa. 24 Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.

Keberanian Menyatakan Kebenaran

Bacaan hari ini masih merupakan kelanjutan dari bacaan kemarin. Dalam Yeremia 26:20-24 ini, seorang bernama Uria bin Semaya juga menyampaikan nubuat demi nama Tuhan. Ia bukan nabi palsu dan bukan bernubuat palsu sebab nubuatanya sama dengan Yeremia, mengingatkan bangsa Yehuda agar bertobat, sebelum mengalami kehancuran. Namun bedanya, karena nubuatan itu hidupnya terancam oleh raja Yoyakim sehingga ia harus melarikan diri. Raja Yoyakim memerintahkan orang mencari Uria untuk dibunuh. Akhirnya Uria mati, sebaliknya Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, seorang pejabat tinggi kerajaan, sehingga nyawanya selamat. Menjadi orang yang menyampaikan kebenaran atau perintah Tuhan bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan atau resiko yang dihadapi, bahkan sampai kehilangan nyawa. Kenyataan ini akan membuat sebagian orang menjadi takut dan memilih diam, tidak lagi berani. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menghindarkan kenyataan seperti ini. Namun, jika pada akhirnya kita alami, berbahagialah, sebab itu berarti kita ada di jalan Tuhan. Kiranya segala tantangan dan resiko tidak melemahkan iman dan semangat kita untuk menyampaikan kebenaran kepada siapa saja.

Doa: Kuatkanlah iman kami agar mampu menghadapi tantangan karena berani menyatakan kebenaran, Amin  

Selasa, 05 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28

Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.

Jangan Takut Menyampaikan Suara Tuhan

Ketika ada dalam keadaan yang sulit atau terjepit, meminta nasehat dari orang lain dapat menolong kita menemukan solusi. Itulah yang dilakukan oleh raja Zedekia. Ia bertanya kepada nabi Yeremia tentang apa yang harus dilakukan menghadapi kenyataan hidupnya dan bangsa Yehuda yang terancam oleh Babel.  Yeremia menjawab: “dengarkanlah suara Tuhan dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara”. Bagi Yeremia, nasehat yang disampaikannya terbatas, tetapi mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan akan membuat Raja Zedekia dan seluruh rakyatnya selamat. Kehendak Tuhan yaitulah Zedekia menyerahkan diri kepada para pemuka raja Babel. Bagi Zedekia itu sesuatu yang tidak mungkin, karena itu ia memilih tidak mendengarkan suara Tuhan. Akhirya ia ditangkap dan dibawa ke Babel, keluarganya mati dan rakyatnya mengalami kehancuran. Mendengarkan suara Tuhan selalu menjadi solusi terbaik dalam hidup orang percaya. Sayangnya, kita kadang tidak mau mendengar suara Tuhan dan memilih mendengarkan suara kita sendiri. Mengawali aktifitas di hari ini, marilah dengarkan suara Tuhan sebagai pesan bagi kita. Lakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan agar keadaan kita tetap baik dan terpelihara.

Doa: Kami mau mendengar dan melakukan perintahMu Tuhan agar kami selamat terpelihara, amin 

Rabu, 06 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran 5 : 1 – 14

Musa menghadap Firaun -- Bangsa Israel makin ditindas
Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun." 2 Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi." 3 Lalu kata mereka: "Allah orang Ibrani telah menemui kami; izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami, supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang." 4 Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!" 5 Lagi kata Firaun: "Lihat, sekarang telah terlalu banyak bangsamu di negeri ini, masakan kamu hendak menghentikan mereka dari kerja paksanya!" 6 Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengerah-pengerah bangsa itu dan kepada mandur-mandur mereka sendiri: 7 "Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami, 8 tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Allah kami. 9 Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta." 10 Maka para pengerah bangsa itu dan para mandurnya pergi dan berkata kepada mereka: "Beginilah kata Firaun: Aku tidak memberi jerami lagi kepadamu. 11 Pergilah kamu sendiri mengambil jerami, di mana saja kamu mendapatnya, tetapi pekerjaanmu sedikitpun tidak boleh kurang." 12 Lalu berseraklah bangsa itu ke seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan tunggul gandum sebagai pengganti jerami. 13 Dan pengerah-pengerah itu mendesak mereka dengan berkata: "Selesaikan pekerjaanmu, yaitu tugas sehari, seperti pada waktu ada jerami." 14 Lalu pengerah-pengerah Firaun memukul mandur-mandur Israel, yang mereka angkat, sambil bertanya: "Mengapakah kamu pada hari ini tidak menyelesaikan jumlah batu bata yang harus kamu buat seperti kemarin?"

Bersuara Atas Nama Tuhan

Keberanian untuk menyampaikan kehendak Tuhan adalah panggilan kita selaku orang percaya. Meski kita tahu ada banyak resiko yang akan dialami. Dalam nas bacaan hari ini, Musa dan Harun menyampaikan perintah Tuhan kepada Firaun agar ia membiarkan bangsa Israel pergi untuk beribadah kepada Tuhan di padang gurun. Firaun menolak dengan keras permintaan mereka. Perdebatan pun terjadi diantara mereka. Musa dan Harun bersikukuh membela hak saudara-saudaranya, bangsa Israel. Atas nama Tuhan, mereka berulang kali bersuara supaya saudara-saudaranya memperoleh kesempatan dan hak untuk beribadah kepada Tuhan, sekaligus mereka bisa beristirahat sejenak dari kerja paksa yang diberlakukan Firaun atas mereka. Keteguhan hati dan keberanian Musa dan Harun untuk bersuara atas nama Tuhan menjadi teladan bagi kita untuk juga bersuara membela yang lemah dan tertindas. Tindakan ini memang bukanlah hal yang mudah dilakukan, sebab penuh dengan resiko. Tapi jika tetap bersikap diam, maka tanpa sadar kita turut memperpanjang penindasan. Suara kebenaran harus terus digaungkan meski ada tantangan. Tuhan pasti menolong kita untuk melakukannya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk berani bersuara demi kebaikan hidup bersama. Amin.

Kamis, 07 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran 5 : 15 – 24

15 Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: "Mengapakah tuanku berlaku seperti itu terhadap hamba-hambamu ini? 16 Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini tetapi walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Dan dalam pada itu hamba-hambamu ini dipukuli, padahal rakyat tuankulah yang bersalah." 17 Tetapi ia berkata: "Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN! 18 Jadi sekarang, pergilah, bekerja! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi jumlah batu bata yang sama harus kamu serahkan." 19 Maka mengertilah para mandur Israel, bahwa mereka ada dalam keadaan susah, karena dikatakan kepada mereka: "Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata pada tiap-tiap hari." 20 Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka, 21 lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami." 22 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? 23 Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali." 24 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya."

Bersuara Kepada Tuhan

Nas hari ini merupakan kelanjutan dari pembacaan Alkitab kemarin tentang Musa dan Harun menghadap Firaun. Situasi penderitaan yang dialami setelah Musa dan Harun menghadap Firaun semakin bertambah berat. Bagian ini memang mengungkapkan realitas iman ketika umat berada di titik terendah penderitaan. Bangsa Israel menyalahkan Musa dan Harun yang dianggap memperburuk keadaan mereka. Musa lalu berseru kepada Tuhan, mempertanyakan maksud penderitaan yang dialami oleh Bangsa Israel dan mengapa Tuhan belum campur tangan. Ia dengan jujur berseru, “Ya TUHAN, mengapa Kau perlakukan bangsa ini begitu buruk?” (ay. 22). Pertanyaan dan seruan Musa ini menunjukkan bahwa berseru kepada Tuhan, bahkan dalam bentuk keluhan merupakan ekspresi kejujuran orang beriman. Ia meyakini Tuhan pasti mendengar suara setiap orang yang menyampaikan permohonan dalam kelemahannya. Kita berseru kepada Tuhan dalam permohonan bukan karena lemah secara rohani, tetapi karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat melepaskan kita dari berbagai hal yang menekan dan membawa penderitaan. Itulah iman kita yang menyatakan ketergantungan mutlak kepada Tuhan.

Doa : Mampukanlah kami dengan kekuatan Roh-Mu untuk berani menghentikan ketidakbenaran, Amin

Jumat, 08 Agustus 2025

bahan bacaan : Matius 14 : 1 – 12

Yohanes Pembaptis dibunuh
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Bersuaralah, Hentikan Ketidakbenaran!

Teks Matius 14:1-12 menceritakan tentang kematian Yohanes Pembaptis. Ia dipenggal atas permintaan Herodias, istri Herodes, melalui anak perempuannya kepada Herodes. Sebelumnya, Yohanes telah dengan berani menegur tindakan tidak bermoral Herodes, sehingga membuatnya ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Yohanes berani melakukan hal tersebut karena ia tahu bahwa menyuarakan kebenaran adalah bagian dari panggilan kenabiannya. Sebaliknya, respons Herodes dan Herodias menunjukkan bahwa kuasa dunia sering menolak kebenaran, apalagi jika kebenaran itu menggugat gaya hidup atau keputusan mereka. Berhadapan dengan penguasa seperti ini, tidak membuat Yohanes lalu berkecil hati dan mundur untuk menyuarakan kebenaran. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai orang percaya yang memiliki integritas diri dan tidak berkompromi dengan hal-hal yang tidak benar. Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis menjadi teladan bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap memiliki integritas diri dan mampu menghentikan ketidakbenaran dengan bersuara. Kita harus mulai membiasakan hal ini dilakukan dalam keluarga. Kita membelajarkan anak-anak untuk melakukannya dengan sikap saling menghargai.

Doa: Kepada-Mu ya Tuhan, kami berseru dan membawa pengharapan. Engkaulah Penolong kami. Amin   

Sabtu, 09 Agustus 2025

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 18 : 16 – 19   

Elia bertemu dengan Ahab
16 Lalu pergilah Obaja menemui Ahab dan memberitahukan hal itu kepadanya. Kemudian Ahab pergi menemui Elia. 17 Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?" 18 Jawab Elia kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. 19 Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel."

Berani Mengkritik Kesalahan

Nas hari ini bercerita tentang Elia bertemu dengan Ahab, raja Israel yang menyembah Baal dan menyesatkan bangsa Israel. Ketika Ahab menuduh Elia sebagai “pengacau Israel”, Elia langsung membalikkan tuduhan itu dan menyatakan bahwa Ahab-lah yang membawa kekacauan karena meninggalkan perintah Tuhan dan mengikuti Baal. Sikap Elia yang berani menegur Ahab karena ia berdiri di atas firman Tuhan. Keberaniannya bukan karena kekuatan pribadi, tapi karena ia yakin akan kebenaran yang berasal dari Tuhan, yang sementara diembannya. Elia tidak gentar sedikitpun, sekalipun ia harus berhadapan dengan raja yang bisa saja membunuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa suara penegakkan kebenaran tidak boleh dilemahkan oleh tekanan apapun, termasuk tekanan politik atau kekuasaan duniawi. Tidaklah mudah melakukannya. Tapi seperti Elia, kita juga dipanggil untuk berani bersuara mengkritik kesalahan sebagai wujud suara kenabian. Sebaiknya, kita memulai dari diri kita sendiri. Kita harus berani mengoreksi diri dan tidak membenarkan kebiasaan yang salah meskipun sudah umum dilakukan. Kita melakukannya juga dari keluarga dengan menjadi orang tua yang terbuka menerima masukan dan kritik dari anak-anak kita, yang melakukannya dengan santun.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan kebebasan yang mendatangkan kesejahteraan bersama. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 27 Juli – 2 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang

Tema Mingguan : Hidup bagi Allah dan Mati Terhadap Dosa   

Minggu, 27 Juli 2025

bahan bacaan : Roma 6 : 1-14

Mati dan bangkit dengan Kristus
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? 2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? 3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. 6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. 8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. 9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. 10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. 11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. 12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. 14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Mati Terhadap Dosa dan Hidup bagi Allah

Selamat hari minggu dan selamat beribadah kepada Tuhan. Kita sungguh bersyukur atas anugerah kehidupan yang masih Tuhan berikan. Anugerah yang memungkinkan kita dapat terus hidup, bekerja dan melayani untuk memuliakanNya.  Hari ini melalui surat yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, kita semua diingatkan akan anugerah Allah yang besar ini. Anugerah yang nyata melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus bagi kita sehingga keselamatan kekal dapat diperoleh. Ketika kita telah menerima anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus,  kita harus meresponinya dengan berjuang untuk hidup kudus sesuai dengan kehendak-Nya. Mulailah dengan cara mati terhadap dosa. Itu artinya dalam menjalani kehidupan hari ini dan seterusnya, kita harus berhenti menuruti kehendak dosa. Kita tidak lagi mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, kita harus membiarkan Roh Kudus berdiam didalam diri kita untuk menuntun dan memampukan kita hidup bagi Allah di dalam kekudusan-Nya. Mintalah kuasa Roh Kudus menolong agar tubuh kita berkenan dipakai oleh Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran, sehingga kehidupan yang kita jalani benar-benar berbeda. Kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sebagai wujud syukur atas anugerah keselamatan yang telah diterima.

Doa: Kami mau hidup bagiMu ya Tuhan dan mati terhadap dosa,, amin  

Senin, 28 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 19

19 Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian.

Berpegang pada Kebenaran, Menuju Hidup

Menjalani kehidupan ini, kita sering dihadapkan pada situasi atau kondisi yang tidak mudah antara harus memilih mengikuti kebenaran Tuhan ataukah mengikuti apa yang dianggap benar oleh dunia ini. Sering kita temui dalam aktifitas kerja tiap hari ada begitu banyak godaan untuk berlaku tidak benar atau tidak jujur demi memperoleh keuntungan pribadi. Dalam pergaulan misalnya, kadang juga kita tergoda untuk mengikuti arus hanya supaya dapat diterima oleh orang lain. Namun, jika kita tahu bahwa itu semua salah dan bertentangan dengan kehendak Tuhan, kita harus berani memilih untuk berada dalam jalan kebenaran.  Meskipun untuk itu kita menghadapi masalah atau penolakan dari orang lain. Nas bacaan hari ini merupakan nasehat bijak dari penulis Amsal yang mengingatkan kita agar tidak lari mengejar kejahatan, sebaliknya tetap berpegang pada kebenaran. Alasannya jelas, berpegang pada kebenaran akan menuju kehidupan. Siapa mengejar kejahatan menuju kematian. Tidak ada diantara kita yang suka menuju kematian. Sebab itu berpeganglah pada kebenaran dan hidup didalamnya. Jadikanlah firman Tuhan sebagai sandaran kita, niscaya kehidupan yang baik akan kita dapatkan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berpegang pada kebenaranMu yang menuju kehidupan, Amin  

Selasa, 29 Juli 2025

bahan bacaan : Zakharia 8 : 14-17

14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: "Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam, 15 maka pada waktu ini Aku kembali bermaksud berbuat baik kepada Yerusalem dan kepada kaum Yehuda. Janganlah takut! 16 Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. 17 Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN."

Menegakkan Kebenaran Sebagai Kematangan Moral

Zakharia menegaskan bahwa Allah yang dahulu menjatuhkan hukuman karena dosa umat-Nya, kini kembali berniat melimpahkan berkat dan pemulihan. Hal Ini menunjukkan kasih Allah yang mau memulihkan dan membentuk kembali umat-Nya. Bahkan di dalam penghukuman yang dijalani oleh Bangsa Israel, kasih Allah tak berkurang sebab rencana keselamatanNya pasti digenapi. Karya Allah yang memulihkan dan menyatakan kasihNya ini, harus ditanggapi oleh bangsa Israel dengan perubahan hidup secara total. Melakukan transformasi etis dan sosial merupakan salah satu bentuk perubahan yang diharapkan terjadi dalam kehidupan Bangsa Israel. “Berkata benar….dan tegakkanlah hukum yang benar…”(ayat 16) menegaskan tentang nilai kebenaran dan kejujuran sebagai dasar dari relasi antar umat yang harus diprioritaskan. Kesadaran diri untuk mengalami perubahan sikap etis ini mengingatkan setiap orang percaya bahwa Allah tidak hanya menuntut kesetiaan pada aspek ritual, tetapi perilaku yang benar dalam relasi dengan sesama harus menjadi bentuk nyata dari pemaknaan terhadap yang ritual itu. Jadi, sesungguhnya kebenaran harus dikatakan dan diperjuangkan, bukan sekadar didengar dan dipikirkan. Hal ini sekaligus membuktikan kematangan moralitas orang beriman.

Doa: Tuhan, Tuntunlah kami dengan Roh-Mu untuk terus mengalami kematangan moralitas. Amin 

Rabu, 30 Juli 2025

bahan bacaan : Matius 5 : 33-37

33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jangan Bersumpah Palsu

Nas hari ini merupakan Khotbah Tuhan Yesus di Bukit. Ia memberikan pengajaran tentang jangan bersumpah palsu. Pada zaman Yesus, orang Yahudi terbiasa dengan sumpah yang rumit yakni bersumpah demi bait suci, demi langit, dan demi bumi. Mereka melakukan ini untuk menghindari menyebut nama Allah secara langsung. Tapi kebiasaan ini bisa dimanipulasi untuk berbohong atau membenarkan sesuatu yang keliru. Yesus mengecam kebiasaan ini, karena menciptakan celah untuk sumpah palsu yang terselubung. Ia menunjukkan bahwa seluruh ciptaan adalah milik Allah, dan semua perkataan manusia ada di hadapan-Nya.Yesus menuntut ketulusan hati, bukan hanya ketaatan lahiriah terhadap aturan. Penegasan tentang hal bersumpah palsu bukan sekadar soal ucapan, tetapi tentang konsistensi antara kata dan tindakan. Yesus berkata bahwa ucapan “ya” harus berarti “ya”, dan “tidak” harus berarti “tidak”. Artinya, komunikasi orang percaya harus benar, jujur dan bebas dari manipulasi. Dengan kalimat lain, mengandalkan sumpah bisa menjadi tanda bahwa kata-kata biasa tidak dapat dipercaya. Bahkan, menggunakan sumpah untuk membangun reputasi sangat bersifat manipulatif dan tidak jujur. Karena itu, sebagai orang percaya jangan bersumpah palsu!

Doa: Tuhan, tolonglah kami dengan Roh-mu agar tidak bersumpah palsu.  Amin 

Kamis, 31 Juli 2025

bahan bacaan : Matius 5 : 38-42

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Jangan Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan

Dalam Khotbah Yesus di Bukit. Yesus mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Ia merujuk pada prinsip hukum balas dendam (mata ganti mata), yang dalam konteks Perjanjian Lama adalah cara membatasi pembalasan agar tidak berlebihan. Namun Yesus melampaui hukum itu dan menekankan hal mengampuni dan nir-kekerasan. Kerajaan Allah tidak didasarkan pada keadilan retributif (balas dendam), melainkan pada kasih dan pengampunan. Perintah “jangan melawan orang yang berbuat jahat”, bukan berarti pasif atau menyerah begitu saja pada ketidakadilan, melainkan mengundang respon yang aktif memberlakukan kasih. Memberi pipi yang lain, memberi jubah, dan berjalan dua mil adalah simbol dari mengambil kendali atas respon dengan cara yang berbeda untuk memutus rantai kekerasan. Ajaran ini memang menantang. Sebab balas dendam harus digantikan dengan perbuatan kasih. Sebagaimana sikap Allah Pemurah dan penuh belas kasihan, demikian halnya kita sebagai para pengikut-Nya. Dalam menjalani aktifitas hari ini dan seterusnya, kita dipanggil untuk bersikap lemah lembut, namun tegas dalam kasih. Kita dipanggil untuk menjadi agen damai, bukan pelanjut siklus dendam. Lebih dari itu, janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Klahkanlah kejahatan dengan kebaikan.

Doa: Mampukanlah kami dengan Roh Kudus-Mu, ya Tuhan, untuk tidak membalas dendam. Amin  

Jumat, 01 Agustus 2025

bahan bacaan : Matius 12 : 33 – 37

33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. 34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. 35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. 36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Manis di Muka, Mar Hati Sama Deng Asam Cuka

Kita bersyukur menikmati kehidupan di hari baru, tanda rahmat Tuhan tak berkesudahan. Hari ini kita merenungkan ajaran Tuhan Yesus yang menegaskan: “pohon yang baik akan selalu menghasilkan buah-buah yang baik, sebaliknya pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula”. Selanjutnya, ”setiap pohon dikenal dari buahnya”. Ajaran ini mengandung makna bahwa orang akan mengenal siapa diri kita dari apa yang kita katakan dan lakukan setiap hari. Kita patut menjaga setiap perkataan yang keluar dan tindakan yang dilakukan. Kata-kata baik yang diucapkan, tindakan baik yang dilakukan akan menolong, menguatkan dan memberi motivasi bagi diri kita dan orang lain. Sebaliknya perkataan buruk, penuh prasangka, rencana kotor dan jahat akan membuat relasi terganggu dan orang tersakiti. Betapa dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang-orang yang hatinya bersih, mulutnya bersih dan tindakannya bersih. Jangan sampai ada yang mengatakan, “mulu manis tapi hati macang rarobang”, atau “manis di muka, mar hati macang deng asam cuka”. Ingatlah supaya apa yang dikatakan itu keluar dari hati bersih dan selaras dengan yang dilakukan. Itu ciri dan karakter orang yang menerima ajaran Yesus dalam hidupnya.

Doa: Tuhan, jadikan kami orang-orang yang berhati bersih, supaya ucapan dan tindakan kami pun bersih, amin. 

Sabtu, 02 Agustus 2025

bahan bacaan : Matius 5 : 27 – 30

27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Kendalikan Mata dan Hati dari Dosa

Kitab Injil penuh dengan ajaran Tuhan Yesus. Meskipun ada ajaran-Nya yang sulit dilakukan, namun ajaran-ajaran Tuhan Yesus ini mengandung perintah untuk dilaksanakan sebab mengandung kebenaran iman. Ajaran tentang Jangan berzinah ini masuk dalam satu rumpun ajaran tentang khotbah di bukit, mulai dari pasal 5 sampai 7. Ajaran ini mengandung pesan berharga yaitulah dalam menjalani kehidupan, kita mesti menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat membawa pada perbuatan dosa.  Berzinah misalnya, tidak terjadi begitu saja melainkan diawali dari pandangan mata yang disertai keinginan dalam hati. Itu berarti seseorang sebenarnya dapat terhindar dari perbuatan dosa zinah ini, jika ia dapat menjaga mata dan hatinya tetap murni, tanpa keinginan tertentu. Ketika kita bekerja atau melayani, menjaga mata dan hati dari segala keinginan begitu penting. Jika keinginan mata dan hati tidak terkendali, itu berpotensi membawa kita pada kecenderungan memiliki tanpa batas, termasuk memiliki apa yang dipunyai orang lain, misalnya uang, jabatan, rumah, tanah, isteri atau suami orang. Sebab itu, memulai aktifitas di hari ini, bawalah hati kepada Tuhan dan mintalah supaya Tuhan berkenan menjaga mata dan hati kita dari segala kecenderungan yang membawa kita pada perbuatan dosa. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita sanggup mematikan dalam diri semua perbuatan dosa dan hidup berkenan bagi Tuhan. Inilah kebenaran iman yang diajarkan dan perlu terus dihidupi.

Doa: Kendalikanlah mata dan hati kami ya Tuhan, agar terhindar dari perbuatan dosa, Amin

*SUMBER : SHK BULAN JULI-AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 20-26 Juli 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang

Tema Mingguan : Pengendalian diri : Wujud Ketaatan kepada Tuhan

Minggu, 20 Juli 2025

bahan bacaan : 1 Samuel 26 : 1-25

Untuk kedua kalinya Daud membiarkan Saul hidup
Datanglah orang Zif kepada Saul di Gibea serta berkata: "Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara." 2 Lalu berkemaslah Saul dan turun ke padang gurun Zif dengan tiga ribu orang yang terpilih dari orang Israel untuk mencari Daud di padang gurun Zif. 3 Berkemahlah Saul di bukit Hakhila yang di tepi jalan di padang belantara, sedang Daud tinggal di padang gurun. Ketika diketahui Daud, bahwa Saul datang mengikuti dia ke padang gurun, 4 disuruhnyalah pengintai-pengintai, maka diketahuinyalah, bahwa Saul benar-benar datang. 5 Berkemaslah Daud, lalu sampai ke tempat Saul berkemah. Waktu Daud melihat tempat Saul berbaring dengan Abner bin Ner, panglima tentaranya, --Saul berbaring di tengah-tengah perkemahan, sedang rakyat berkemah sekelilingnya-- 6 berbicaralah Daud kepada Ahimelekh, orang Het itu, dan kepada Abisai, anak Zeruya, saudara Yoab, katanya: "Siapa turun bersama-sama dengan aku kepada Saul ke tempat perkemahan itu?" Jawab Abisai: "Aku turun bersama-sama dengan engkau." 7 Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya. 8 Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali." 9 Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?" 10 Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. 11 Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi." 12 Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak. 13 Setelah Daud sampai ke seberang, berdirilah ia jauh-jauh di puncak gunung, sehingga ada jarak yang besar antara mereka. 14 Dan berserulah Daud kepada tentara itu dan kepada Abner bin Ner, katanya: "Tidakkah engkau menjawab, Abner?" Maka jawab Abner, katanya: "Siapakah engkau ini yang berseru-seru kepada raja?" 15 Kemudian berkatalah Daud kepada Abner: "Apakah engkau ini bukan laki-laki? Siapakah yang seperti engkau di antara orang Israel? Mengapa engkau tidak mengawal tuanmu raja? Sebab ada seorang dari rakyat yang datang untuk memusnahkan raja, tuanmu itu. 16 Tidak baik hal yang kauperbuat itu. Demi TUHAN yang hidup, kamu ini harus mati, karena kamu tidak mengawal tuanmu, orang yang diurapi TUHAN itu. Sekarang, lihatlah, di mana tombak raja dan kendi yang ada di sebelah kepalanya?" 17 Saul mengenal suara Daud, lalu ia berkata: "Suaramukah itu, anakku Daud?" Jawab Daud: "Suaraku, tuanku raja." 18 Lalu berkatalah ia: "Mengapa pula tuanku mengejar hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan yang melekat pada tanganku? 19 Oleh sebab itu, kiranya tuanku raja mendengarkan perkataan hambanya ini. Jika TUHAN yang membujuk engkau melawan aku, maka biarlah Ia mencium bau korban persembahan; tetapi jika itu anak-anak manusia, terkutuklah mereka di hadapan TUHAN, karena mereka sekarang mengusir aku, sehingga aku tidak mendapat bagian dari pada milik TUHAN, dengan berkata: Pergilah, beribadahlah kepada allah lain. 20 Sebab itu, janganlah kiranya darahku tertumpah ke tanah, jauh dari hadapan TUHAN. Sebab raja Israel keluar untuk mencabut nyawaku, seperti orang memburu seekor ayam hutan di gunung-gunung." 21 Lalu berkatalah Saul: "Aku telah berbuat dosa, pulanglah, anakku Daud, sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu, karena nyawaku pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku itu bodoh dan aku sesat sama sekali." 22 Tetapi Daud menjawab: "Inilah tombak itu, ya tuanku raja! Baiklah salah seorang dari orang-orangmu menyeberang untuk mengambilnya. 23 TUHAN akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN. 24 Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan aku dari segala kesusahan." 25 Lalu berkatalah Saul kepada Daud: "Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya." Lalu pergilah Daud meneruskan perjalanannya dan pulanglah Saul ke tempatnya.

Pengendalian Diri: Wujud Ketaatan kepada Tuhan

Ada beberapa area dalam diri kita yang perlu dijaga. Pikiran, mata, pendengaran, ucapan dan tindakan.  Semuanya saling berkaitan dan menuntut adanya pengendalian diri. Agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang lain. Menyeimbangkan area dalam diri tidak hanya mendatangkan dampak positif, namun juga berguna untuk membangun hubungan dengan orang lain. Meminimalkan resiko konflik serta membuat hidup kita lebih produktif. Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita tentang pentingnya pengendalian diri sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Itulah yang ditampilkan oleh Daud yang untuk kedua kalinya membiarkan Saul hidup. Daud memiliki banyak alasan dan kesempatan untuk membunuh Saul, namun hal itu tidak dilakukannya. Dalam tuntunan roh Tuhan, ia masih mampu mengendalikan dirinya dan tidak berlaku jahat terhadap Saul. Pengendalian diri adalah salah satu bentuk kecerdasan emosional. Orang yang dapat mengendalikan dirinya akan mampu memberi batasan pada apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan, apalagi jika itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena itu kita harus belajar untuk terus mengendalikan diri agar ucapan dan tindakan kita tidak melukai bahkan menghancurkan orang lain dan diri kita sendiri. Hal itu kita lakukan sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk mengendalikan diri, amin.

Senin, 21 Juli 2025

bahan bacaan : Mazmur 37 : 1-9

Kebahagiaan orang fasik semu
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; 2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. 3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, 4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; 6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. 7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. 8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. 9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

Hidup Sesuai Kehendak Tuhan

Mazmur 37 berbicara tentang pengajaran, bagaimana seseorang harus bersikap di tengah dunia yang seakan-akan tidak adil di mana hidup orang fasik seakan-akan lebih baik dari hidup orang benar. Sehingga orang benar dituntut untuk bisa bersikap bijaksana dalam menilai apa yang nampaknya seakan ada ketidakadilan. Dalam ayat 1 pemazmur ingatkan: janganlah marah, jangan iri hati. Kenapa ada perkataan ini? karena kalau kita membaca ayat-ayat selanjutnya tersirat bahwa orang fasik, orang yang berbuat curang itu kelihatan kehidupannnya lebih baik daripada orang benar. Terhadap kehidupan orang fasik ini, kita diminta untuk jangan marah dan iri hati kepada mereka. Pada saat kita melihat kehidupan orang lain lebih baik dari hidup kita, jangan iri hati meskipun kesuksesan yang mereka peroleh mungkin dengan cara-cara yang tidak benar/curang. Tetaplah lakukan yang baik, artinya bahwa kita tetap melakukan apa yang menjadi baik dan benar dalam pandangan Tuhan sambil tetap menyerahkan hidup kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang mengambil kendali dalam kehidupan kita, karena ada janji-Nya. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Hiduplah sesuai dengan kehendak Tuhan, jangan marah dan tinggalkanlah panas hati.

Doa: Tuhan, kami mau hidup seturut dengan kehendakMu Tolonglah kami. Amin. 

Selasa, 22 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 15 : 1

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

                                                    Perkataan yang Lemah Lembut

Belajar dari nasehat Salomo, seorang raja penuh hikmat yang mengatakan: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah” (ay 1) . Bila kita bisa menahan diri dan menanggapi perkataan dan tindakan yang negatif dengan ketenangan dan lemah lembut, maka kita akan terhindar dari banyak konflik dan persoalan yang tidak perlu. Tidak jarang kita mendengar ada banyak pernikahan yang mengalami masalah hanya karena suami atau isteri, atau keduanya, tidak dapat menahan perkataannya .Hubungan pertemanan yang baik pun dapat timbul konflik hanya dari perkataan-perkataan yang kurang bijak. Kata-kata yang lembut dan bijaksana bisa menjadi obat bagi hati yang terluka dan membangun jembatan dalam hubungan. Di sisi lain, perkataan yang tajam dan kasar hanya akan memperburuk keadaan, menciptakan rasa sakit dan permusuhan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai  di tengah-tengah dunia ini. Dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip kasih dan pengampunan, kita dapat menjadi saksi Kristus. Mari berdiam diri sejenak dan berdoalah, minta pimpinan Roh Kudus untuk menguasai hati, pikiran dan perkataan kita agar dapat memberi jawaban yang lemah lembut sehingga kita terhindar dari konflik yang tidak perlu.

Doa: Tuhan bantu kami mengendalikan emosi dan perkataan kami.  Amin.   

Rabu, 23 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 12

12 Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri.

Menghina Sesama Tidak Berakal Budi

Amsal dalam bacaan hari ini mengingatkan agar tidak menjelek-jelekkan atau menghina sesama. Orang bijak tidak akan menghina orang lain dalam hati atau dengan kata-kata. Mereka akan menahan diri untuk tidak mengatakan kata-kata yang merendahkan atau mengejek. Mereka tahu bahwa pada diri setiap  orang, ada kelebihan dan kelemahannya. Kekurangan atau kelemahan yang dimiliki seseorang jangan dijadikan bahan ejekan atau hinaan. Orang bijaksana akan menunjukkan kasih dan rasa hormat. Mereka mampu berdiam diri  dan tidak terlanjur mengeluarkan perkataan. Itulah tanda orang berakal budi. Apa yang menjadi nasehat dan peringatan pengamsal ini penting untuk kita ingat dan lakukan. Semua manusia diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama dan patut dihargai. Semua  manusia hadir di dunia atas kehendak Tuhan dan menyandang tugas untuk hidup bersama dengan manusia lain. Mengelola kehidupan ini agar tercipta kehidupan yang damai dan penuh sejahtera. Sebab  itu jangan  suka meninggikan diri lalu merendahkan orang lain apalagi menghinanya. Menghina sesama berarti menghina Tuhan sebagai Penciptanya. Manusia yang menghina Penciptanya adalah manusia yang tidak berakal budi.

Doa: Tuhan berilah kami akal budi yang baik untuk tidak menghina sesama, Amin.  

Kamis, 24 Juli 2025

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 6 : 19-23

19 Kemudian berkatalah Elisa kepada mereka: "Bukan ini jalannya dan bukan ini kotanya. Ikutlah aku, maka aku akan mengantarkan kamu kepada orang yang kamu cari." Lalu diantarkannya mereka ke Samaria. 20 Segera sesudah mereka sampai ke Samaria berkatalah Elisa: "Ya TUHAN, bukalah mata orang-orang ini, supaya mereka melihat." Lalu TUHAN membuka mata mereka, sehingga mereka melihat, dan heran, mereka ada di tengah-tengah Samaria. 21 Lalu bertanyalah raja Israel kepada Elisa, tatkala melihat mereka: "Kubunuhkah mereka, bapak?" 22 Tetapi jawabnya: "Jangan! Biasakah kaubunuh yang kautawan dengan pedangmu dan dengan panahmu? Tetapi hidangkanlah makanan dan minuman di depan mereka, supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka." 23 Disediakannyalah bagi mereka jamuan yang besar, maka makan dan minumlah mereka. Sesudah itu dibiarkannyalah mereka pulang kepada tuan mereka. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel.

Hikmat Allah Menjauhkan Kita dari Perbuatan Jahat

Selain kehadiran dan perlindungan Allah, kisah ini juga menyingkapkan hikmat Allah yang luar biasa. Pasukan Aram yang telah dibutakan matanya digiring ke Samaria, ibukota Israel utara. Secara manusia, seperti yang ditunjukkan oleh sikap Raja Israel, pasukan Aram itu sebaiknya dibinasakan. Namun dalam kisah ini, Elisa yang diberi hikmat Allah, justru meminta Raja agar jangan melakukan yang jahat, sebaliknya menyiapkan pesta untuk menjamu musuh-musuh mereka, sebelum menyuruh mereka pulang ke negerinya. Sejak saat itu tidak ada lagi gerombolan Aram memasuki negeri Israel. Akhirnya kehidupan mereka menjadi damai karena mereka mengikuti hikmat Allah melalui nasehat nabi. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita agar janganlah menaruh dendam atau membalas kejahatan dengan kejahatan.Mendendam menghambat kelancaran aktifitas karena terbawa oleh pikiran untuk membuat hati menjadi puas bila dendam terbalaskan. Kalau kita tidak dapat menahan diri untuk membalas maka akan terbuka kemungkinan untuk kita berlaku jahat. Karena itu jangan membenci orang lain karena kesalahan tau kejahatan yang pernah dilakukannya. Bencilah perbuatan jahatnya dan yakinlah, ganjaran dan nama baik menanti para pemaaf.

Doa: Tuntun kami Tuhan, agar  tidak membalas dendam,. Amin.

Jumat, 25 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 19 : 11

11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

Akal Budi Membuat Panjang Sabar

Emosi yang tidak terkendali seringkali menyebabkan kerugian daripada memberikan manfaat. Kita perlu melatih diri untuk mengendalikan emosi, seperti misalnya kemarahan. Tuhan memberikan kita akal budi untuk berpikir bagaimana seharusnya kita berkata dan bertindak. “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran”, demikianlah ditulis dalam nas hari ini. Disini penulis kitab Amsal memberi nasehat bijak tentang perilaku hidup yang harus dimiliki oleh orang berhikmat berakal budi. Jika ada orang yang menyakiti, janganlah saling membalas, baik dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan. Tetapi sebaliknya hendaklah mengasihi dengan sabar dan memaafkan pelanggaran. Hal ini akan menyelamatkan diri sendiri dan juga sesama kita dari kecendrungan untuk saling menghakimi. Hal penting adalah orang yang berakal budi akan lebih panjang sabar dan kemuliaannya adalah memafkan pelanggaran orang lain. Itulah pekerjaan Roh Tuhan didalam dirinya. Marilah kita menjadi orang-orang yang lebih berakal budi dengan melatih kepanjang sabaran kita dari hari ke hari.

Doa: Tuhan tolong kami untuk selalu sabar. Amin

Sabtu, 26 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 14 : 16-17

16 Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman. 17 Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

Kendalikan Diri, Jangan Lekas Naik Darah

Pernahkah kita merasa tidak mampu mengendalikan emosi atau kemarahan terhadap orang lain? Ya, pasti kita pernah merasakannya. Dalam kondisi demikian, kata-kata yang dikeluarkan tidak dapat dikontrol atau bahkan emosi kita berujung dalam tindakan yang merusak. Itulah sebabnya pengendalian diri merupakan satu hal penting yang mesti kita miliki. Pengendalian diri membuat kita tahu ada batasan untuk sesuatu yang harus dikatakan atau dilakukan. Penulis Amsal mengingatkan dalam bacaan hari ini. “Siapa lekas naik darah bertindak bodoh, tetapi orang bijak bertindak hati-hati”. Kata lekas menunjuk pada ketidakmampuan seseorang mengendalikan diri atau emosinya.Orang yang lekas marah mempermalukan diri sendiri dan lebih dari itu dapat pula melukai hati orang lain. Pengendalian diri dapat dimulai dengan mengontrol kemarahan dalam diri kita. Jangan biarkan kemarahan mengontrol diri kita atau kita mejadi lekas naik darah. Jika kita dapat mengendalikan diri, pikiran menjadi jernih dan tindakan tetap baik. Marilah memulai aktifitas di hari ini dengan belajar menjadi orang bijak yang tahu mengendalikan amarah, agar kita perkataan maupun tindakan yang dilakukan tetap terkontrol dan berkenan menjadi berkat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Doa: Ya Bapa, berilah kami kemampuan mengendalikan amarah dalam diri, amin.

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 Juli 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang

Tema Mingguan : Takut akan Tuhan adalah Awal Pengetahuan

Minggu, 13 Juli 2025

bahan bacaan : Ayub 28 : 20-28

20 Hikmat itu, dari manakah datangnya, atau akal budi, di manakah tempatnya? 21 Ia terlindung dari mata segala yang hidup, bahkan tersembunyi bagi burung di udara. 22 Kebinasaan dan maut berkata: Hanya desas-desusnya yang sampai ke telinga kami. 23 Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya. 24 Karena Ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi, dan melihat segala sesuatu yang ada di kolong langit. 25 Ketika Ia menetapkan kekuatan angin, dan mengatur banyaknya air, 26 ketika Ia membuat ketetapan bagi hujan, dan jalan bagi kilat guruh, 27 ketika itulah Ia melihat hikmat, lalu memberitakannya, menetapkannya, bahkan menyelidikinya; 28 tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."

Hikmat Sejati dari Tuhan

Menjalani kehidupan di dunia ini, kita sangat membutuhkan hikmat. Setiap hari kita membuat pilihan-pilihan yang menentukan kehidupan kita. Kadangkala kita keliru dan membuat keputusan yang berdampak kurang baik bagi diri dan orang keliru. Dalam nas bacaan hari ini diajarkan bahwa hikmat sejati tidak bisa kita temukan dalam harta dunia, atau kemampuan intelektual, tapi hanya dari Tuhan. Hidup takut akan Tuhan adalah awal pengetahuan. Sebagai keluarga, penting bagi kita untuk mengutamakan takut akan Tuhan, yaitu sikap hormat dan kasih kepada-Nya dalam segala hal yang dilakukan. Takut akan Tuhan adalah hikmat yang sejati dan Hikmat Tuhan inilah yang menolong kita untuk membuat pilihan atau keputusan yang benar. Hikmat Tuhan memungkinkan kita membangun keluarga yang kuat dan hidup dengan damai sejahtera. Mari kita ajak seluruh keluarga untuk terus mencari hikmat Tuhan melalui kesetiaan kita beribadah, berdoa, membaca Alkitab yang berisikan Firman Tuhan dan belajar rendah hati di hadapan-Nya. Dengan begitu, kita akan menemukan berkat dan sukacita sejati dalam kehidupan bersama, lebih berharga daripada apa pun yang dunia tawarkan.

Doa:  Tuhan, penuhi keluarga kami dengan hikmatMu. Amin.  

Senin, 14 Juli 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah 7 : 19

19 Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota.

Hikmat yang Menguatkan Keluarga

Hari baru masih Tuhan anugerahkan kepada kita. Marilah bersyukur dan memuji nama-Nya. hari ini kita akan memulai kembali aktifitas kerja dan pelayanan bersama Tuhan. Kita yakin, hikmat Tuhan akan senantiasa menolong untuk bekerja dan melayani dengan sungguh-sungguh hati. Firman Tuhan hari ini melalui nasehat Pengkhotbah mengajarkan kepada kita bahwa hikmat itu kekuatan bagi kita. Dalam hidup yang takut akan Tuhan kita menjadi kuat, lebih dari kekuatan duniawi mana pun. Dengan mengandalkan hikmat Tuhan kita mampu menolak segala tawaran dan godaan dunia yang dapat melemahkan dan menjatuhkan. Sebagai keluarga, mari kita membangun hidup yang selalu menghormati Tuhan, karena dari situlah kita mendapat pengertian dan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan bersama. Saat kita mengandalkan hikmat Tuhan, kita akan dimampukan untuk membuat keputusan yang bijakana, saling menguatkan di masa sulit, dan menjalani hidup dalam suka duka dengan damai. Mari kita terus mencari hikmat-Nya setiap hari, agar keluarga kita menjadi tempat penuh kasih dan ketenangan, Berbahagilah keluarga yang mengandalkan hikmat Tuhan, karena hikmat itu menguatkan keluarga.

Doa:  Tuhan, tuntun keluarga kami dengan hikmatMu. Amin.

Selasa, 15 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 10 : 13-14

13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. 14 Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam.

Bibir Orang Berpengertian terdapat Hikmat

Sering kita mendengarkan bahwa dari cara bicara seseorang dapat tergambar siapa orang itu. Kualitas seseorang dilihat dari kata-kata yang diucapkannya. Semakin matang seseorang secara intelektual memungkinkannya mengeluarkan pikiran dan pendapat yang baik dan berguna. Amsal 10:13-14 bacaan hari ini mengajarkan bahwa di bibir orang berpengertian terdapat hikmat dan orang bijak menyimpan pengetahuan. Kebijaksanaan atau hikmat menolong orang mengendalikan ucapan bibirnya. Ia menjadi orang yang lebih pengertian atau memahami orang lain dengan kekurangan dan kelebihannya. Tetapi mulut orang bodoh mengucapkan sesuatu tanpa berpikir dan membuat pertimbangan terlebih dulu. Sebab itu kadang kata-katanya menyakiti dan membawa kebinasaan bagi dirinya dan orang lain. Sebagai keluarga, kita dipanggil untuk menyimpan pengetahuan, berhati-hati dalam berbicara, dan bertindak dengan pengertian. Dengan kebijaksanaan dari Tuhan, kita dapat membuat keputusan yang benar, membangun satu sama lain, dan menghindari kesalahan yang bisa merusak hubungan. Mari kita biasakan mendengar lebih banyak, berbicara dengan kasih, dan berjalan dengan hati yang penuh hikmat. Saat keluarga kita hidup dalam kebijaksanaan Tuhan, kita akan menjadi terang bagi sekitar. Kebijaksanaan Tuhan adalah pelita bagi rumah kita.

Doa :  Tuhan, kendalikan bibir mulut dan tindakan kami dengan hikmatMu. Amin.  

Rabu, 16 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 10 : 21

21 Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi

Berkatalah Dengan Bijak

Setiap kalimat mengandung makna dan berdampak bagi orang yang mendengarnya. Ketika yang terucap  itu adalah perkataan yang baik, manis didengar, penuh dengan kata- kata yang menghibur dan menguatkan, membuat orang yang mendengar merasa dikuatkan. Begitu juga dengan perkataan yang bijak, sarat dengan tujuan untuk mendorong kearah perubahan atau pembaruan, maka itu akan menjadi motivasi untuk seseorang dapat mengoreksi dirinya dan berubah. Inilah ciri-ciri bibir orang benar yang dimaksudkan pnulis Amsal. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang. Sedangkan setiap kata atau kalimat yang terucap dari bibir dan berdampak buruk pada orang lain, bukan kata-kata yang membangun, bukan kata- kata yang memberikan penguatan tetapi sebaliknya menyakiti adalah ciri–ciri orang bodoh karena kurangnya akal budi. Karena itu firman Tuhan ini mengingatkan agar kita harus lebih banyak berpikir sebelum berkata–kata. Pertimbangkanlah setiap makna dan dampak dari ucapan kita. Kiranya semua ucapan yang kita keluarkan dari bibir mulut mendatangkan berkat sukacita bagi mereka yang mendengarkan.

Doa: Ajarkanlah kami untuk bijaksana dalam berucap dan mendatangkan berkat sukacita bagi sesama, Amin.

Kamis, 17 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 12 : 1

Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.

Mencintai Pengetahuan Dan Menerima  Teguran

Orang yang memiliki kecerdasan serta kemampuan untuk melakukan  yang baik dan benar serta berguna bagi dirinya dan sesama adalah buah kesungguhan mencintai pengetahuan dan menerima setiap terguran. Tidak sedikit orang yang tersesat dalam ketidakberdayaan karena tidak berpengetahuan dan membenci teguran. Mereka tersesat oleh pemahaman yang sempit tentang arti kehidupan dan apa yang semestinya dilakukan untuk menjadikan hidup ini lebih berarti.  Mereka merasa bahwa telah mengetahui segala sesuatu lalu menutup diri dari segala macam bentuk teguran.  Sikap seperti ini sesungguhnya menurut pengamsal adalah kedunguan. Orang yang mencintai pengetahuan selalu mencari dan terus belajar memahami apa yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup serta tetap barsedia dan membuka diri untuk meneriama setiap nasehat dan teguran yang mendatangkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak.  Orang yang mencintai pengetahuan dan tidak membenci teguran  memiliki karakter kerendahan hati. Marilah kita menjadi orang-orang yang rendah hati. Dengan tidak berhenti mencari hikmat Tuhan sebagai dasar pengetahuan dan mau membuka diri untuk menerima teguran.

Doa: Hikmatilah kami TUHAN dengan pengetahuan dan selalu rendah hati menerima teguran Amin

Jumat, 18 Juli 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah 9 : 13-18

Hikmat lebih baik dari pada kuasa
13 Hal ini juga kupandang sebagai hikmat di bawah matahari dan nampaknya besar bagiku; 14 ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya; 15 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu. 16 Kataku: "Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang." 17 Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh. 18 Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

Kebijaksanaan Lebih Baik Daripada Kekuasaan

Orang boleh saja memiliki harta kekayaan, pangkat dan kedudukan, status nomor satu ditengah–tengah masyarakat tetapi kalau tidak memiliki kebijkasanaan maka semua yang dimiliki tidaklah berarti. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang berharga bagi setiap manusia yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian baginya. Pengkhotbah menceritakan kepada kita sebuah kisah tentang seorang pria malang yang menyelamatkan sebuah kota. Terlepas dari kenyataan bahwa pria malang ini adalah pahlawan sejati dalam menyelamatkan banyak orang, ia tidak pernah diingat atas apa yang telah dilakukan. Namun, yang menjadi pesan dari cerita ini adalah bahwa kebijaksanan lebih baik dari kekuatan fisik. Ada kekuatan dalam kebijkasanaan yang menjadikan seseorang hidup dalam kedamaian.  Mari bertekadlah untuk menjadi orang yang bijaksana. Karena kebijaksanaan lebih besar dari kekuatan. Carilah Tuhan dan hikmat-Nya setiap hari, karena kekuatan sendiri tidak akan menyelamatkan kita dari  ancaman atau rancangan jahat orang lain. Tetapi hikmat Tuhan akan menolong menyelamatkan kita. Mereka yang memiliki hikmat keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.

Doa: Anugerahkan kepada kami hikmatMU TUHAN, agar kami menjadi lebih bijaksana, Amin.

Sabtu, 19 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 10 : 17

17 Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.

Mengindahkan Didikan, Berjalan Menuju Kehidupan

barangsiapa ingin berada dalam kehidupan yang baik dan berkualitas,maka perlu  memiiki sifat hati yang mau selalu diajar. Mau  menerima teguran dan masukan yang mengubahkan kita untuk menjadi lebih baik. Sehingga kita pun dapat membantu orang lain untuk hidup dalam jalan kebenaran. Janganlah kita mengabaikan semua teguran dan nasehat jika hal tersebut mendatangkan kebaikan bagi kita. Hal inilah yang menjadi nasehat pengamsal bagi kita di hari ini. Siapa mengindahkan didikan, berjalan menuju kehidupan. Tetapi siapa mengabaikan teguran, ia tersesat. Ketika kita sungguh mau menerima didikan sebagai kekuatan yang membimbing ke jalan kehidupan, maka kehidupan yang sungguh bermakna akan kita dapati. Namun tatkala hal itu diabaikan, kita dapat mengalami kegagalan dan kekecewaan. Didikan akan menjadikan kita matang secara intelektual. Kita tidak hanya sekedar menerima informasi atau pengetahuan tetapi lebih dari itu kita mampu memanfaatkan pengetahuan itu menjadi sesuatu yang berguna bagi diri kita dan orang lain. Indahkanlah didikan dan terimalah teguran.

Doa : Ajarkan kami Tuhan untuk menerima didikan dan teguran demi hidup kami yang lebih baik,  Amin

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 Juli 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah: Gereja yang Matang

Tema Mingguan : Spiritualitas Ketaatan sebagai Wujud Ungkapan Syukur

Minggu, 6 Juli 2026

bahan bacaan : Ulangan 6 : 10-25

10 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; 11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami--dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, 12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. 13 Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. 14 Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, 15 sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi. 16 Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa. 17 Haruslah kamu berpegang pada perintah, peringatan dan ketetapan TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; 18 haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN, supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, 19 dengan mengusir semua musuhmu dari hadapanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. 20 Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? 21 maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 22 TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; 23 tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. 24 TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. 25 Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."

 Taat Sebagai Wujud Syukur

Spiritualitas ketaatan sebagai wujud ungkapan syukur adalah pesan yang penting. Terkadang karena  kesenangan dan kenikmatan hidup, dengan mudah ingatan kepada Tuhan menjadi hilang. Tuhan hanya disebutkan ketika ada masalah. Saat kesusahan telah dilewati, janji apapun kepada Tuhan, seolah dilupakan. Ini yang kerap terjadi dalam hidup kita. Tetapi sesungguhnya kebiasaan ini mesti kita tinggalkan. Bila kita berpola hidup demikian, maka kita ibarat kacang yang lupa kulit. Teks Ulangan 6:10-25 mengajarkan kita tentang pentingnya hidup tetap taat kepada Tuhan. Umat mesti mengingat bahwa segala yang kini dimiliki umat adalah pemberian Tuhan. Umat tidak melakukan apapun namun Tuhan yang berkenan memberkati melalui banyak pemberkatan dalam hidup umat. Karena sumpah sebagai janji Tuhan kepada Abraham, Ishak dan Yakub maka umat bisa menduduki dan berkembang di atas tanah atau negeri yang diberikan Tuhan. Kesadaran untuk tetap taat kepada Tuhan adalah wujud ungkapan syukur kita kepada Tuhan. Kita harus melakukannya karena hidup kita sampai kapanpun tergantung semata pada kemurahan Tuhan. Mari tetap mengingat kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita dengan cara tetap taat kepada-Nya dari waktu ke waktu. 

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami tetap taat dalam situasi hidup seperti apapun. Amin.

Senin, 7 Juli 2025

bahan bacaan : Ulangan 7 : 7-11

7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. 11 Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan."

Walau Kecil Namun Dikasihi Tuhan

Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku, walau ku kecil lemah, aku ini milik-Nya, inilah sepenggal kalimat dalam bait lagu Yesus Sayang Padaku. Lagu ini menyatakan adanya kesadaran diri kita sebagai seorang manusia biasa, penuh salah dan dosa, namun beroleh belas kasihan Allah dalam Tuhan Yesus. Kita disayangi Allah. Ini adalah suatu ungkapan kesadaran yang wajib tetap kita miliki. Sebagaimana yang tertulis dalam teks Ulangan 7:7-11, kita diajari untuk tetap berpegang pada ketetapan dan peraturan Tuhan. Tanah Kanaan yang didiami umat Israel adalah karena pertolongan Tuhan. Mereka kaum yang terkecil dari segala bangsa dan tidak ada hal khusus yang membuat Tuhan memilih mereka. Tindakan Tuhan semata terjadi karena kemurahan-Nya.Hati Tuhan terpikat pada Israel dan Ia berkenan kepada mereka. Karena itu, umat melalui teks ini diingatkan untuk tetap berpegang pada ketetapan dan peraturan Tuhan. Kesadaran bahwa kita kecil dan lemah namun dikasihi Tuhan harus menjadi suatu pedoman bagi kita. Bila kita telah mengalami banyak hal yang baik dalam hidup, jangan pernah menyombongkan diri. Semua hal yang terjadi dalam hidup adalah karena anugerah Tuhan. Mari mensyukuri kebaikan Tuhan ini.

Doa:  Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sungguh mengasih kami Amin.   

Selasa, 8 Juli 2025

bahan bacaan : Ulangan 7 : 12-16

Janji berkat
12 "Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 13 Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. 14 Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. 15 TUHAN akan menjauhkan segala penyakit dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau. 16 Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka dan janganlah beribadah kepada allah mereka, sebab hal itu akan menjadi jerat bagimu

Berkat Pengasihan Tuhan

Sewaktu berada dalam kapal Labobar saya sempat kesulitan karena barang bawaan saya cukup berat. Saya merasa gelisah. Siapa yang bisa membantu saya mengangkat barang? Uang saya tidak cukup bila harus menyewa buruh. Apalagi uang yang saya sisihkan membayar buruh telah dipakai untuk membayar timbangan barang saya. Tapi tanpa saya duga Tuhan mempertemukan saya dengan seorang ibu haji. Beliau bertujuan juga ke Ambon. Kebersamaan yang terjalin antara saya dan beliau kemudian memudahkan saya saat kami tiba di Ambon. Beliau membantu saya sehingga barang-barang saya bisa diangkut dari kapal. Saya percaya pertolongan ibu haji adalah bagian dari berkat yang Tuhan berikan kepada saya. Selalu ada berkat bagi orang yang mendengarkan dan berpegang pada ketetapan Tuhan. Cerita kesaksian ini adalah sesuai dengan pesan yang terkandung dalam nas hari ini. Melaluinya, terungkap janji berkat yang disampaikan kepada umat. Tuhan memerintahkan Musa untuk menyampaikan kepada umat bahwa bila mereka mendengarkan peraturan Tuhan, hidup mereka akan diberkati. Tuhan akan menyatakan pemberkatan dalam kehidupan mereka. Oleh sebab itu nikmatilah berkat pengasihan Tuhan dalam pengucapan syukur.

Doa: Tuhan Yesus berkatilah hidup kami senantiasa. Amin. 

Rabu, 9 Juli 2025

bahan bacaan : Mazmur 37 : 23-24

23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; 24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Tuhan Menetapkan Langkah Hidup

Theo dan Thos adalah dua saudara kembar yang berkeinginan menjadi tentara. Ayah mereka adalah seorang pekerja keras dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika mereka menyampaikan keinginan mereka, ayah mereka menasehati mereka untuk melandasi perjuangan mereka dengan doa. “Katong orang kurang, jadi kalau mau lanjut tes tentara, katong seng ada uang. Katong cuma bisa harap hanya kepada Tuhan saja“. Nasehat ini didengarkan secara baik oleh Theo dan Thos. Mereka memahami betul kondisi ekonomi keluarga mereka. Tetapi mereka sangat meyakini kuasa penyertaan Tuhan. Ini juga kesaksian Firman Tuhan saat ini. Mazmur 137:23-24 menuliskan bahwa langkah hidup orang benar diatur oleh Tuhan. Pemazmur menyaksikan kebaikan Tuhan atas orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Apabila orang benar jatuh, Tuhan tidak membiarkannya jatuh tergeletak sebab Tuhan akan menopang-Nya. Kebenaran ini sungguh memberikan pengharapan. Bukan hanya Theo dan Thos tetapi semua kita menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Kita boleh merancang apapun tetapi kenyataannya hanyalah kehendak Tuhan yang berlaku. Percayalah Tuhan menetapkan langkah hidup kita.

Doa:  Tuhan, kami percaya Engkau yang akan menetapkan langkah hidup kami, Amin.  

Kamis, 10 Juli 2025

bahan bacaan : Mazmur 119 : 57 – 60

57 Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. 58 Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu. 59 Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu. 60 Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.

Berbahagia Berpegang Pada Firman Tuhan

Setiap orang memiliki cara sendiri di dalam menyikapi tantangan. Ada yang mudah sekali larut dengan persoalan yang menimpa dan berputus asa. Bagi mereka, tidak ada pegangan kuat yang bisa menopang pergumulan hidup. Apalagi ketika di era dewasa ini, ada banyak tawaran yang seolah membahagiakan. Namun ketika tantangan dirasakan tidak mampu dihadapi, melarikan diri kedalam tindakan-tindakan yang tidak Tuhan kehendaki bukan menjadi soal yang tidak mungkin. Orang bisa saja mencuri, membuat onar, membunuh atau bahkan bunuh diri. Sikap ini bisa dihindari seandainya saja, kita tetap mendekatkan diri kepada Tuhan. Pemazmur dalam bacaan ini mengatakan tentang pentingnya membaca Alkitab. Ini menjadi kekuatan di dalam menyikapi pergumulan hidup. Bagi Pemazmur, Firman Tuhan menjadi inspirasi yang memberikan kekuatan dan pedoman ketika ia menghadapi apapun. Ia bisa mengalami ketakutan menghadapi orang yang lebih berkuasa dari dirinya, tetapi hanya terhadap Firman Tuhan yang membuat ia benar-benar merasa gentar. Pemazmur bergembira atas janji yang dikatakan Tuhan melalui Firman-Nya.  Ia meyakini kekuatan di balik kelekatannya dengan membaca dan memberlakukan Firman Tuhan. Apa yang disampaikan Pemazmur harus pula menjadi bagian dari hidup kita. Apapun bisa terjadi, tetapi selama kita dekat dengan Firman Tuhan, kita tahu cara terbaik di dalam menjalani hidup. Berbahagia orang yang berpegang pada Firman Tuhan.

Doa:  Tuhan, kami mau tetap berpegang pada firmanMu. Amin.

Jumat, 11 Juli 2025

bahan bacaan : Mazmur 119 : 1-8

Bahagianya orang yang hidup menurut Taurat TUHAN
Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. 2 Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, 3 yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. 4 Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. 5 Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! 6 Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. 7 Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. 8 Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.

Taat Karena Kita Mengasihi Tuhan

Terpujilah Tuhan yang menolong dan memelihara hidup kita hingga hari ini. Tidak pernah berkurang kasih dan berkat Tuhan dalam hidup. Semuanya disediakan Tuhan selalu baru tiap hari. Kasih Tuhan yang besar ini mesti diresponi dengan kesediaan kita untuk selalu mendekat kepadaNya. Tuhan rindu setiap kita hidup dalam ketaatan karena kasih kepada-Nya. Mazmur 119:1-8 mengingatkan bahwa kunci hidup yang berbahagia adalah jka kita hidup berjalan menurut Taurat Tuhan. Taurat Tuhan atau Firman Tuhan adalah pelita yang menerangi setiap langkah hidup. Dalam keluarga, kita belajar saling menolong dan menguatkan untuk tetap setia mengikuti jalan-Nya. Ketaatan bukan beban, tetapi ungkapan syukur kita atas kasih dan kebaikan Tuhan yang setia menyertai keluarga kita setiap hari. Mari kita membangun kebiasaan mendengar dan melakukan Firman Tuhan bersama-sama dalam keseharian, mulai dari hal-hal kecil seperti berkata jujur, saling mengampuni, hingga mendoakan satu sama lain. Saat kita hidup taat sebagai satu keluarga, sukacita dan damai Tuhan akan tinggal di rumah kita. Biarlah kasih kepada Tuhan menjadi alasan utama kita taat, bukan karena takut tapi karena cinta Tuhan.

Doa:  Tuhan, kami mau taat karena mengasihimu. Amin.

Sabtu, 12 Juli 2025

bahan bacaan : Ulangan 13 : 1-5

Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, 2 dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, 3 maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. 4 TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. 5 Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan--dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.

Teguh Berpegang pada Tuhan

Dalam kehidupan yang dijalani, ada banyak godaan untuk mendengar ajaran atau mengikuti hal-hal yang kelihatan baik menurut kita, tapi sebenarnya dapat menjauhkan kita dari Tuhan.  Nas bacaan hari ini adalah sebuah nasehat yang disampaikan kepada bangsa Israel agar jangan mereka menyembah ilah-ilah lain selain Tuhan. sekalipun itu adalah ajaran dari seorang nabi yang menjadi pemimpi dan ia memberitahukan suatu tanda mujizat. Musa mengingatkan bangsa Israel untuk tetap setia kepada Tuhan dan tidak mudah tergoda untuk percaya dan mengikuti ilah lain. Sebagai keluarga, penting sekali untuk saling mengingatkan dan menjaga supaya hati kita tetap percaya penuh kepada Tuhan. Hanya Tuhan saja satu-satunya yang patut dipuji dan disembah. Dalam segala hal yang dikerjakan, kita harus tetap mengandalkanNya. Jangan mudah tergoda dengan ajaran atau ajakan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Mari kita terus belajar firman Tuhan bersama, berdoa, dan saling mendukung supaya iman kita tetap kuat. Saat kita berjalan bersama dalam kebenaran Firman Tuhan dan memintaNya untuk mengendalikan kehidupan, Tuhan akan memimpin dan memberkati kehidupan kita, menyertai keluarga kita dengan sukacita dan damai sejahtera.

Doa:  Tuhan, kami tetap percaya dan mau mengikutiMu, Amin

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Juni – 5 Juli 2025

Tema Bulanan : Advokasi Hak-Hak Komunitas Bumi sebagai gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Kabar Baik untuk Orang Miskin

Minggu, 29 Juni 2025

bahan bacaan : Lukas 19 : 1 – 10

Zakheus
Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." 8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." 9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Berikanlah Apa Yang Kita Miliki Untuk Orang Miskin

Zakheus dipandang sebagai orang berdosa, sebab pekerjaan dan jabatan yang dimilikinya, yakni kepala pemungut cukai, dinilai sebagai suatu pekerjaan tidak benar. Kekayaan Zakheus dianggap sebagai hasil pemerasan pemungutan cukai, yang menurut banyak orang saat itu adalah dosa. Dalam pelayanan Yesus saat itu, semua orang yang dianggap berdosa pun didatangiNya. Hal ini nampak ketika Zakheus hendak melihat kehadiran Yesus, namun menemui kesulitas karena banyak orang juga ingin melihatnya. Kerinduan Zakheus untuk melihat, bahkan bertemu Yesus memang sangat besar, sehingga meskipun terhalang oleh orang banyak ia pun naik ke atas pohon ara supaya dapat melihat Yesus. Ketika melihat Zakheus di atas pohon, Yesus kemudian menyuruhnya turun karena hendak menumpang di rumahnya. Perjumpaan Yesus dengan Zakheus menunjukkan keberpihakan dan kepedulian Yesus pada Zakheus sebagai orang yang dianggap berdosa dan berjuang mencari dan menemukan Yesus. Menariknya, perjumpaan Yesus dengan Zakheus di rumahnya ditindaklanjuti oleh Zakheus dengan berbagi kekayaan kepada orang miskin. Tindakan berbagi kepada orang miskin ini ditanggapi oleh Yesus dengan mengatakan, “hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini,…”. Kisah Zakheus ini memberi pesan bagi kita untuk peduli kepada orang miskin, susah, dan menderita, meskipun kita dipandang sebalah mata sebagai orang berdosa. Sebab, setinggi apapun jabatanmu dan pendidikanmu bahkan sebanyak apapun kekayaanmu, namun jika diri kita tidak berbagi kepada orang miskin, maka sia-sialah semuanya. 

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk peduli dan mau berbagai dengan yang lain. Amin. 

Senin, 30 Juni 2025

bahan bacaan : Ulangan 10 : 12 – 18

Orang Israel diperingatkan supaya taat dan bersyukur
12 "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 13 berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu. 14 Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; 15 tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini. 16 Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. 17 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; 18 yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian.

Membela Hak Anak Yatim Dan Janda

Siapa pun pasti tidak ingin menjadi anak yatim piatau, janda atau duda. Namun, jika itu terjadi pada seseorang, ia pasti tak bisa mengelak atau harus menerima kenyataan tersebut. Persoalannya, mengapa sampai ada orang yang kehilangan salah satu orang tua atau kehilangan suami/istri yang dicintainya? Mengapa sampai ada orang yang berstatus anak yatim dan janda? Apa maksud Tuhan dengan adanya status anak yatim-piatu dan janda/duda? Pertanyaan-pertanyaan ini hendak menegaskan bahwa anak yatim-piatu dan janda harus menjadi kepedulian kita. Sebab Allah itu penuh kasih setia dan keadilan. Ia juga memperhatikan mereka yang kecil dan dianggap sebagai orang-orang yang rentan dalam masyarakat, seperti anak yatim dan janda. Orang-orang ini sering kali tidak memiliki pelindung. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk membela hak anak yatim dan janda Ketidakpedulian kita terhadap anak yatim dan janda berarti kita mengabaikan hal yang paling penting dari ajaran Tuhan yakni bersikap dengan iman dalam membela hak-hak mereka. Belalah mereka yang lemah dengan cinta kasih dan kepedulian dalam iman kita kepada Tuhan Yang Maha Kasih!

Doa: Tuhan, kami ingin membela kehidupan anak yatim dan janda, tolonglah kami. Amin. 

Selasa, 1 Juli 2025

bahan bacaan : Ulangan 10 : 19-22

19 Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. 20 Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. 21 Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri. 22 Dengan tujuh puluh orang nenek moyangmu pergi ke Mesir, tetapi sekarang ini TUHAN, Allahmu, telah membuat engkau banyak seperti bintang-bintang di langit."

Teruslah Menyalurkan Kasih Allah

Berbagai dinamika kehidupan akan kita jumpai melalui seluruh perjalanan hidup yang ditapaki dari waktu ke waktu. Kebahagiaan tetapi juga kesedihan, keberhasilan tetapi juga kegagalan dan banyaknya persoalan selalu datang silih berganti. Bila kita dimampukan untuk menjalani semuanya sampai hari ini, bukankah semua itu hanya karena kasih Allah? Ini memperlihatkan bahwa kasih-Nya senantiasa menyertai kita dalam segala situasi hidup. Kasih yang sama juga dianugerahkan Allah bagi bangsa Israel, sekalipun mereka seringkali tegar tengkuk dan melawan perintah-Nya. Terhadap hal itu, bangsa Israel diingatkan agar selalu bersyukur dan hidup dalam ketaatan pada Allah. Salah satu bentuk syukur dan taat menjawab kasih Allah yang besar bagi mereka yaitu dengan mengasihi orang asing. Mengapa demikian? Sebab dahulu mereka juga adalah orang asing di tanah Mesir. Artinya jika mereka pernah diperlakukan dengan tidak baik sebagai orang asing, maka hal yang sama tidak patut dialami oleh orang asing karena perbuatan mereka. Itu berarti yang harus mereka lakukan yakni terus menyalurkan kasih yang telah diterima dari Allah. Perihal mengasihi orang asing atau pendatang berlaku juga bagi kita sebagai orang percaya, sebab kita juga terus mengalami dan merasakan kasih Allah. Pastikanlah bahwa pribadi-pribadi kita akan selalu bersedia  mengasihi orang lain termasuk orang asing.

Doa: Roh Kudus, mampukan kami untuk menyalurkan kasih Allah bagi sesama tanpa terkecuali. Amin. 

Rabu, 2 Juli 2025

bahan bacaan : Ester 9 : 20-22

Penetapan hari raya Purim
20 Maka Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkan surat-surat kepada semua orang Yahudi di seluruh daerah raja Ahasyweros, baik yang dekat baik yang jauh, 21 untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar, 22 karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin.

                                                    Hidup Saling Berbagi

Berbeda dari segi status sosial merupakan realita yang dapat ditemui dalam kehidupan bersama. Karena itu tidak heran bila ada yang berkelebihan, berkecukupan tetapi ada juga yang berkekurangan. Kenyataan ini seharusnya membuat kita siuman bahwa peranan sebagai makhluk sosial harus difungsikan.Sebagai manusia kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Berdasarkan hal itu, maka kepedulian dapat ditunjukkan kepada sesama yang membutuhkan dengan saling berbagi. Hal serupa juga nampak dalam bacaan kita hari ini. Hari raya Purim ditetapkan untuk memperingati waktu dimana orang Yahudi mendapatkan keamanan dari musuh-musuhnya, sehingga dukacita berubah menjadi sukacita dan perkabungan berubah menjadi kegembiraan. Oleh sebab itu, mereka diwajibkan merayakannya setiap tahun yang disertai dengan perjamuan dan berbagi dengan orang-orang miskin. Ini tidak berarti saling berbagi hanya dilakukan bila berada dalam keadaan aman, penuh sukacita dan bahagia serta hari-hari tertentu saja. Akan tetapi harus menjadi gaya hidup yang terus dipertahankan setiap waktu oleh semua orang tanpa terkecuali. Aksi nyata ini dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal, dalam ruang lingkup pelayanan gereja, dll. Ini tentu saja bertujuan agar kita tidak mementingkan diri sendiri melainkan menjadi pribadi yang lebih berguna bagi mereka yang membutuhkan. Dengan saling berbagi, secara tidak langsung kita turut meringankan sedikit beban yang sedang dialami. Karena itu nyatakan terus kepedulian kita bagi yang benar-benar membutuhkan sambil meyakini apa yang kita lakukan menjadi berkat bagi mereka.

Doa: Tuhan ajarilah kami untuk saling berbagi dengan orang yang membutuhkan.  Amin.   

Kamis, 3 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 22 : 9

9 Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Kebaikan hati seseorang akan jauh lebih berarti jika disertai dengan aksi yang nyata. Sebab sikap yang didukung dengan perbuatan baik, akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi orang lain melainkan juga bagi diri sendiri. Pikiran yang demikian juga terbaca dalam teks saat ini. Penulis Amsal menyampaikan bahwa orang yang baik hati akan diberkati karena membagi rezekinya kepada orang miskin. Hal ini tentu tidak terlepas dari motifasi yang baik dan benar dihadapan Tuhan. Itu berarti berbagi dengan orang miskin mesti dipahami sebagai suatu keharusan yang disertai dengan ketulusan hati. Sebab hanya dengan demikian, kita menjadi berguna bagi orang lain dan diberkati Tuhan. Kendati demikian, masih ada segelintir orang yang berbagi rezekinya kepada orang miskin dengan tujuan yang keliru. Misalnya berbagi agar mendapatkan keuntungan, pujian, popularitas dll. Namun melalui firman ini, kita diajak untuk berbagi rezeki yang didapatkan dengan mereka yang benar-benar membutuhkan. Sikap dan tindakan ini memperlihatkan kebaikan hati sebagai orang beriman. Oleh sebab itu jangan ragu untuk selalu memberi bagi orang-orang miskin dari berkat yang kita terima. Yakinilah bahwa tidak ada yang sia-sia dari semua perbuatan baik yang dilakukan dengan hati yang tulus. Tetaplah jadi berkat bagi semua orang (orang miskin), sebab untuk itulah kita semua diberkati oleh-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, berkatilah kami agar  menjadi berkat bagi orang lain. Amin.

Jumat, 4 Juli 2025

 Bahan bacaan : Amos 8 : 4-8

Peringatan terhadap orang yang mengisap sesamanya
4 Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini 5 dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, 6 supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?" 7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka! 8 Tidakkah akan gemetar bumi karena hal itu, sehingga setiap penduduknya berkabung? Tidakkah itu seluruhnya akan naik seperti sungai Nil, diombang-ambingkan dan surut seperti sungai Mesir?"

Semua Orang Harus Diperlakukan Sama

Tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan hidupnya mengalami ketidakadilan. Kendatipun demikian, keadaan ini masih terus terjadi dimana-mana. Mirisnya hal tersebut seringkali menimpa mereka yang dikategorikan sebagai orang miskin. Keterbatasan secara materi mengakibatkan mereka sulit membela diri dan melawan pelaku ketidakadilan. Hal ini tentu saja membuat keadaan mereka jauh lebih sulit, sebaliknya pelaku ketidakadilan semakin sewenang-wenang terhadap orang lain. Kondisi yang sama juga terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Pemerasan, ketidakjujuran dan berbagai ketidakadilan lainnya terus dialami oleh orang-orang yang tidak mampu. Sangat disayangkan, perlakuan yang tidak terpuji ini justru dilakukan oleh orang-orang sebangsa. Dengan kata lain tanggungjawab menghadirkan keadilan bagi semua orang diabaikan, karena lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Itu sebabnya nabi Amos menyuarakan dan memperingatkan mereka yang memperlakukan orang lain dengan tidak semestinya bahwa Tuhan tidak akan melupakan setiap perbuatan mereka. Itu berarti ada ganjaran yang akan diterima karena perlakuan tidak adil bagi orang miskin. Peringatan Amos bagi bangsa Israel mengingatkan kita tentang pentingnya memperlakukan sesama dengan baik. Jika kita pernah melakukan ketidakbenaran dan ketidakadilan bagi sesama, maka berhentilah. Perlakukanlah semua orang sama, disertai dengan kejujuran dan ketulusan. Tentu saja ini dapat dimulai dari dalam kehidupan keluarga dan lingkungan di sekitar tempat kita tinggal. Hanya dengan begitu semua orang yang tidak mampu dapat hidup dengan selayaknya. 

Doa: tolonglah kami Tuhan agar dapat bersikap adil bagi semua orang . Amin.

Sabtu, 5 Juli 2025

bahan bacaan : Amsal 14 : 21

21 Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.

Miliki Hati Yang Berbelas Kasih

Ada banyak orang yang dapat dikatakan beruntung karena segala kebutuhan hidupnya tercukupi bahkan berkelebihan. Berada pada kondisi yang demikian, ada yang menggunakan kelebihannya itu untuk berbagi atau peduli kepada orang lain tetapi juga sebaliknya. Itu sebabnya ada orang yang punya kecenderungan mengabaikan bahkan menghina sesama yang dianggap tidak mampu atau miskin. Meskipun disadari perilaku seperti ini tidak dibenarkan, namun masih dilakukan karena keegoisan dan kesombongan diri. Terhadap kenyataan ini, firman Tuhan mengingatkan kita agar selalu berbelaskasihan  kepada orang miskin. Sebab hanya dengan demikian kita melakukan yang benar dihadapan Allah dan dikatakan berbahagia. Sebab kebahagian tidak dapat diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan seberapa besar kita memiliki hati yang berbelas kasih. Itu berarti berbelas kasih kepada sesama yang lemah atau miskin, harus menjadi prinsip hidup sebagai orang percaya. Karena hanya dengan begitu hidup yang kita jalani akan jauh lebih berarti. Ingatlah, di sekitar kita ada mereka yang kurang beruntung dan membutuhkan kepedulian serta uluran tangan dari kita. Jangan pernah ragu untuk tetap peduli dan berbelaskasihan bagi sesama melalui tindakan yang nyata. Percayalah, kebahagian tersendiri akan Allah anugerahkan bagi kita jika memiliki hati yang berbelaskasihan.

Doa: Roh Kudus bantu kami agar tetap memiliki hati yang berbelas kasih. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN JUNI – JULI 2025, LPJ-GPM