Blog

Santapan Harian Keluarga, 30 Nov – 06 Des 2025

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Melakukan yang Baik Sebagai Wujud Pengharapan akan Kedatangan Tuhan

Minggu, 30 November 2025

bahan bacaan : Matius 25 : 31 – 46

Penghakiman terakhir
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Menanti Tuhan Datang dengan Melakukan yang Baik

Merayakan minggu Adventus yang pertama hari ini, merupakan sukacita semua orang percaya. Minggu-minggu dimana kita diajak untuk bersukacita  atas kelahiran Yesus  tetapi sekaligus menanti dengan iman akan kedatanganNya yang kedua kali, Namun, seringkali pengharapan itu hanya tinggal di ranah pemikiran, tanpa berdampak nyata pada kehidupan kita sehari-hari. Matius 25:31-46 memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana kita seharusnya mempersiapkan diri dalam menanti kedatangan-Nya. Bukan dengan ritual-ritual keagamaan semata, tetapi dengan tindakan nyata. Pertanyaan bagi kita adalah tindakan nyata seperti apa yang bisa kita lakukan? Pertama, bagilah berkatmu dengan mereka yang tidak punya baik itu makanan, minuman, pakaian. Kedua, jadikanlah rumahmu sebagai rumah aman bagi mereka yang terlantar. Ketiga, sediakan waktumu untuk mengunjungi mereka yang sakit dan terpenjara. Akta ini bukan sekadar amal umum, tetapi tindakan-tindakan kebaikan yang diarahkan bagi mereka yang paling rentan dan membutuhkan pertolongan. Ini menunjukkan bahwa menyambut kedatangan Tuhan bukan aksi statis dalam diam tapi dinamis dalam akta yang hidup melalui kepedulian, empati dan berbuat kebaikan terhadap sesama. Apabila kita tidak peduli terhadap sesama maka itu bentuk penolakan terhadap Kristus sendiri. Mari, nyatakan aktamu sebagai cara menyambut kedatanganNya.

Doa: Tuhan, kami siap menyambutMu dengan melakukan yang baik,  amin 

Senin, 01 Desember 2025

bahan bacaan : Yakobus 2 : 14-17

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati
14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Perbuatan Baik Sebagai Wujud Iman

Pernahkah saudara merencanakan segala sesuatu tetapi tidak ada tindakan? Saya pernah mengalaminya. Banyak hal yang saya rencanakan tetapi hanya sebatas perencanaan semata. Pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Perencanaan tanpa pelaksanaan sama dengan nol, tidak memberikan dampak perubahan apa pun. Jadi perkataan dan tindakan harus sejalan, supaya dapat menciptakan hal yang baru. Demikian juga dengan iman, jika hanya diucapkan di mulut tanpa adanya tindakan sama dengan omong kosong. Demikianlah orang yang mengakui kalau dirinya memiliki iman tetapi tidak terlihat dari perbuatannya. Oleh karena itu, firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa bahwa iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Iman sejati melahirkan tindakan kasih. Bukan hanya sebatas ucapan semata, tetapi harus terlihat dalam tindakan hidup sehari-hari: menolong yang membutuhkan, berbagi berkat, peduli pada yang kesusahan, dan sebagainya. Sebab itu, tampilkanlah iman kita melalui perbuatan kasih yang dapat dirasakan orang lain, termasuk SADHA (Saudara dengan HIV Aids). Dengan cara itulah kita menjadi kesaksian bagi dunia.

Doa: Tuhan, tolong hidupkanlah imanku untuk selalu berbuat baik. Amin.

Selasa, 02 Desember 2025

bahan bacaan : Ibrani 6 : 9-12

Berpegang teguh pada pengharapan
9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. 

Allah Memperhitungkan Semua Perbuatan Kebaikan

Kebenaran firman Tuhan melalui surat Ibrani  di hari ini mengajarkan bahwa Allah  memperhatikan setiap pelayanan, kerja keras dan kasih yang seseorang atau jemaat tunjukkan kepada sesama demi nama-Nya. Sebab itu, tidak boleh menjadi lamban tetapi meneladani mereka yang dengan iman dan kesabaran memperoleh janji Allah. Itu artinya janganlah pernah menjadi jemu dalam melakukan kebaikan, sebab Tuhan memperhitungkannya.  Terkadang kita menjadi jemu atau merasa lelah ketika kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai, lalu membatasi kita untuk tidak lagi melakukan kebaikan bagi orang lain. Kita menjadi lamban untuk melakukan kebaikan padahal kita dapat melakukannya. Firman Tuhan ini mau meneguhkan bahwa, tidak ada satupun perbuatan kasih dan kebaikan yang sia-sia. Allah Adil dan Ia menghargai kesetiaan anak-anakNya.  Belajarlah tekun dan sabar, sebab janji Allah digenapi pada waktuNya. Inilah dasar pengharapan orang percaya. Kita tidak bekerja sia-sia, karena pada akhirnya kita akan menerima janji Allah. pengharapan itu memberi kekuatan untuk terus melayani dengan setia dan melakukan kebaikan dengan rajin, sekalipun kadang tidak ada yang memberikan penghargaan.

Doa: Bapa Sorgawi, terima kasih atas kasihMu yang mau memperhitungkan semua kebaikan yang dilakukan, Amin.

Rabu, 03 Desember 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 32-43

Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas
32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida. 33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. 34 Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu. 35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan. 36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

Selama Hidup Berbuat Baik

Pada waktu kita memasukkan sebuah baterai kedalam sebuah jam dinding, maka jam dinding itu mulai bekerja menjalankan tugasnya. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, ia terus bekerja dan bekerja sampai baterai itu habis. Jam dinding itu bekerja tanpa pamrih, dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Kisah Petrus yang menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas menekankan bahwa iman kepada Yesus harus diwujudkan melalui perbuatan baik terus menerus. Itu dilakukan oleh Petrus, seperti halnya yang ditunjukkan oleh Dorkas selama ia masih hidup. Tabita atau Dorkas adalah teladan bagaimana hidup seharusnya dijalani. Ia dikenag bukan karena harta, pangkat atau jabatan, melainkan karena kebaikan hatinya. Ia menolong orang miskin, menjahit pakaian bagi janda-janda dan hidupnya dipenuhi kasih.  Firman Tuhan ini mengajarkan kita bahwa hidup ini bukan diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan. Kembangkanlah hati yang murah seperti Dorkas dan jadilah pribadi yang selalu berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami tetap berbuat baik selama ada kesempatan hidup, Amin.

Kamis, 04 Desember 2025

bahan bacaan : Mikha 6 : 8

8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Berbuat Baik, Berlaku Adil dan Mencintai Kesetiaan

Ayat ini adalah inti dari seluruh hukum dan ibadah yang sejati. Bangsa Israel pada zaman itu hidup dengan banyak ritual, sibuk dengan segala macam bentuk persembahan dan kurban. Namun hidup mereka tidak mencerminkan kehendak Allah. Melalui nabi Mikha, Tuhan menegaskan kembali bahwa yang Ia inginkan bukan sekadar ritual lahiriah tetapi hidup yang benar di hadapan Nya. Hidup yang benar yang dimaksudkan disini adalah: berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Hidup dengan adil kepada sesama itulah yang dikehendaki Allah. Dalam keluarga: orangtua berlaku adil kepada anak-anak. Tidak membeda-bedakan. Dalam pekerjaan: tidak mengambil keuntungan dengan cara curang atau merugikan orang lain. Kita tidak menindas orang lain. Kita pun diminta untuk mencintai kesetiaan dan rendah hati. Tidak sombong atau merasa diri lebih lalu menjatuhkan orang lain. Kiranya melalui firman ini kita semakin diteguhkan untuk hidup bukan hanya sebagai umat yang beribadah, tetapi juga umat yang menghadirkan kebaikan, kasih dan keadilan Allah di dunia ini.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami untuk tetap berbuat baik, berlaku adil dan mencintai kesetiaan, Amin.

Jumat, 05 Desember 2025

bahan bacaan : Matius  10 : 40 – 42  

40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Berbuat Baik Dimulai Dari Hal Yang Kecil

Banyak orang sering berpikir bahwa untuk melayani Tuhan atau menolong sesama harus dengan hal-hal besar: memberi banyak uang, membangun gedung, atau melakukan sesuatu yang spektakuler. Padahal Yesus mengajarkan bahwa kebaikan sejati justru dimulai dari hal-hal kecil, sederhana, dan sering tidak terlihat orang lain. Tuhan Yesus mencontohkan: memberi segelas air sejuk. Itu bukan perbuatan yang besar, tetapi bila dilakukan dengan kasih, memiliki nilai kekal di hadapan Allah. Di mata dunia, hal kecil sering dianggap tidak berarti. Tetapi di mata Tuhan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan kasih memiliki arti besar. Senyuman yang tulus bisa menguatkan hati orang yang putus asa. Sepotong roti bisa menyelamatkan orang yang kelaparan. Doa bisa menghibur hati yang sedang hancur. Kebaikan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Seperti tetesan air yang lama-lama melubangi batu, demikianlah kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengubah kehidupan kita dan orang lain.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat melakukan perbuatan baik sekecil apapun itu. Amin

Sabtu, 06 Desember 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 27

26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum

Mengejar kebaikan Disenangi Orang

Anna memiliki kebiasaan cepat mengantuk ketika ia menaiki mobil. Hari itu bukan saja ia mengantuk, tetapi nampaknya ada pula seorang ibu yang mengantuk dan akhirnya ketiduran dalam perjalanan dari Ambon ke Liang. Anna nyaris juga ikut tertidur. Namun rasa kantuknya tiba-tiba hilang saat ia melihat pemuda yang duduk di sebelah kanan ibu yang tertidur mencoba memasukan tangan ke dalam tas yang dipegang ibu itu. Anna secara keras langsung menegurnya. Suara Anna yang besar akhirnya membuat sang ibu pun terbangun. Pemuda itu pun terburu-buru menghentikan mobil dan segera turun. Perbuatan baik Anna telah menyelamatkan orang lain. Ia tidak mengenalnya tetapi kebaikan hatinya mendorongnya untuk mencegah kejahatan. Hidup ini menjadi jauh lebih baik ketika kita mau tetap melakukan kebaikan. Inilah sikap yang dimaksudkan dalam teks Amsal 11:27. Amsal sebagai kitab yang berisikan kata-kata hikmat menyampaikan penyataan kebenaran yakni bila kita melakukan kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita terima; sebaliknya bila kejahatan yang kita lakukan, maka kejahatan yang kita terima. Apa yang kita buat, semuanya akan kembali kepada kita. Karenanya mari jaga sikap kita. Kejarlah kebaikan, karena itu yang akan membuat kita disenangi orang dan diberkati Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk terus mengejar dan melakukan kebaikan, Amin.

*SUMBER : SHK NOV & DES 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 23-29 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja untuk Hidup Berkelanjutan

Minggu, 23 November 2025

bahan bacaan : Kejadian 9 : 1 – 17

Perjanjian Allah dengan Nuh
Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. 3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. 4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. 5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. 6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. 7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya." 8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." 12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."

Anugerah Damai Sejahtera

Pasal 9:1-17, menjelaskan bagaimana Tuhan Allah menyatakan kasih-Nya yang besar atas kehidupan Nuh dan keluarganya. Tuhan dengan kuasa-Nya yang besar memerintahkan Nuh dan anak-anak-Nya untuk melajutkan kehidupan “beranak cuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi”. Suatu anugerah yang besar yang menandai babak baru dari kehidupan di muka bumi ini. Keluarga Nuh sajalah yang oleh ketaatan dan kesetian kepada Tuhan Allah, diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan setelah air bah. Tuhan Allah menghendaki kelangsungan hidup manusia dan kehidupan yang dikehendaki-Nya adalah hidup dalam damai sejahtera.  Tuhan Allah berjanji kepada Nuh, tidak akan ada lagi air bah. Tanda dari janji Tuhan adalah melalui busur pelangi di awan. Saat kita melihat pelangi, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan umatNya. Kasih dan kesetiaanNya tidak berubah. Manusia diberi kuasa atas bumi ini untuk menjaga keberlanjutannya. Manusia harus hidup tertib dan menjaga keseimbangan ciptaan. Sebab itu, sama seperti Nuh dan keluarganya, biarlah kita juga dipakai Tuhan untuk melestarikan ciptaanNya agar kehidupan ini terus berlanjut dengan baik.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas panggilanMu bagi kami menjaga keberlanjutan hidup di bumi. Amin. 

Senin, 24 November 2025

bahan bacaan : Mazmur 78 : 1 – 11

Pelajaran dari sejarah
Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. 2 Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. 3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, 4 kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. 5 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, 6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, 7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; 8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. 9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran; 10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya. 11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.

Ceritakanlah Tentang Kasih Tuhan

Asaf menyampaikan kepada bangsanya tentang bagaimana Allah menetapkan peringatan kepada Yakub dan hukum taurat kepada Israel. Ia juga menyampaikan bahwa nenek moyang mereka telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan peringatan dan taurat itu kepada anak-anak mereka agar dikenal oleh angkatan yang kemudian dan agar anak-anak yang lahir kelak juga dapat menceritakan kepada anak-anak mereka. Ajaran dan peringatan untuk etap menaruh kepercayaan dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah. Mereka juga tidak boleh mengikuti kehidupan nenek moyang mereka yang disebut sebagai angkatan pendurhaka, pemberontak, angkatan yang tidak setia kepada Tuhan. Sebaliknya, bangsanya harus mendengar dengan sungguh-sungguh dan belajar tentang apa yang telah terjadi di masa lampau agar kehidupan mereka ke depan dapat berjalan dengan baik. Mazmur ini mengajarkan kita semua untuk penting mengingat perbuatan Tuhan dan mewariskannya kepada generasi berikut. Banyak perbuatan Tuhan yang nyata dalam hidup kita. Ceritakanlah dan perkenalkanlah Tuhan kepada anak-anak kita dan banyak orang agar mereka semakin bertumbuh dalam iman dan taat kepada Tuhan. Sungguh indah jika mereka pada akhirnya menjadi generasi yang memuliakan nama Tuhan karena terinspirasi dari cerita pengalaman hidup kita bersama Tuhan.

Doa: Tuhan, Biarlah cerita hidup kami bersamaMu, memberkati banyak orang. Amin. 

Selasa, 25 November 2025

bahan bacaan : Yosua 14 : 6 – 15

Kaleb mendapat Hebron
6 Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: "Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea. 7 Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. 8 Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. 9 Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. 10 Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; 11 pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. 12 Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN." 13 Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya. 14 Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati. 15 Nama Hebron dahulu ialah Kiryat-Arba; Arba ialah orang yang paling besar di antara orang Enak. Dan amanlah negeri itu, berhenti berperang.

Iman yang Teguh Seperti Kaleb

Melalui perkataan Kaleb kepada Yosua dan klaimnya terhadap janji Tuhan, kita bisa meneladaninya. Kaleb selalu beriman dan setia mengikut Tuhan sepenuh hati (ay.8, 9, 14), meskipun sudah berlalu empat puluh lima tahun dan saat itu ia berusia delapan puluh lima tahun. Ini terjadi karena Tuhan memelihara dan menopang hidupnya. Pengembaraan empat puluh tahun di padang gurun dan lima tahun berperang di Kanaan tidak meredupkan harapan Kaleb karena ia selalu mengingat janji kesetiaan Allah yang akan memberikan bagian tanah miliknya. Janji itu ditepati, meskipun tanah itu masih dikuasai oleh orang Enak atau para raksasa. Dalam kesemuanya itu, Kaleb mengimani bahwa Tuhan selalu menyertai dia. Dari Kaleb, kita belajar untuk taat dan beriman kepada Allah dengan setia di sepanjang hidup. Pertambahan usia tidak boleh melemahkan iman kita kepada Tuhan, juga tidak melemahkan semangat untuk menjalankan perintah Tuhan. Ya, seringkali kita begitu bersemangat di waktu usia masih muda. Tetapi ketika telah berusia lanjut, kadang iman menjadi lemah karena banyak masalah dan tantangan hidup. Kaleb mengajarkan bahwa iman harus terus dipelihara, bahkan harus semakin matang seiring bertambahnya usia. Untuk itu, janganlah kita bergantung pada kekuatan diri, melainkan pada janji-janji Tuhan.

Doa: Tuhan, tambahkan iman percaya kami seperti Kaleb yang teguh dengan janjiMu. Amin. 

Rabu, 26 November 2025

bahan bacaan : Yesaya 43 : 18 – 21

18 firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. 20 Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; 21 umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku."

Beritakanlah Kemasyuran Tuhan

Tiga pembagian waktu yang penting untuk kita ingat adalah waktu lalu, waktu kini dan masa depan. waktu lalu adalah periode yang telah berlalu, tidak dapat diubah serta berdampak pada waktu kini atau masa depan. Waktu kini adalah periode waktu yang sementara berlangsung, kita dapat bertindak, membuat keputusan dan mengalami kehidupan. Masa depan adalah periode waktu yang belum terjadi. Masa depan dapat berupa harapan, impian atau rencana untuk dilakukan. Kepada bangsa Israel  Yesaya  mengingatkan untuk tidak terjebak  dalam bayangan masa lalu, sebab Tuhan akan melakukan sesuatu yang baru. “jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara”.  Itu karya Allah yang mustahil menurut manusia, tapi nyata oleh kuasa-Nya. bahkan ciptaan lain ikut menikmati karya pembaruan Allah. Itu berarti, bukan hanya manusia tetapi juga ciptaan lain Tuhan lindungi. Firman Tuhan ini mengundang kita semua untuk hidup dalam pengharapan baru bersama Tuhan dan menjadi umatNya yang selalu memuliakan namaNya melalui keterpanggilan kita menjaga keberlenjutan hidup di dunia ini.

Doa: Dalam setiap waktu, ajarkan kami untuk terus memasyurkan namaMu dan menjaga keberlanjutan hidup,  amin

Kamis, 27 November 2025

bahan bacaan : Keluaran 2 : 23 – 25

Musa diutus TUHAN
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.

Berserulah, Allah akan Menjawab

Permasalahan, tantangan, penderitaan, semua orang menghadapinya. Ketika persoalan  dan tantangan itu datang silih berganti, kita cenderung bertanya, dimana Allah. Apakah Allah tahu apa persoalan kita? Apakah Allah tahu penderitaan kita?. Sesungguhnya Allah mengetahui  semua yang terjadi dalam hidup seluruh ciptaannya! Pertanyaan mendasar untuk kita adalah apakah kita datang kepada Allah dalam doa untuk menyampaikan seluruh permasalahan dan tantangan tersebut? Keluaran 2:22-23  mengungkapkan dengan jelas tentang Israel yang mengalami perbudakan bertahun-tahun, tetapi ketika mereka berpaling kepada Allah, berseru meminta pertolongan kepadaNya. Allah pun berpaling menjawab dan menolong mereka. Firman Tuhan ini memberi pesan kepada kita bahwa Tuhan bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang dekat dan penuh empati. Ia tidak hanya tahu masalah dan pergumulan kita, tetapi Ia juga menaruh perhatian, kasih dan rencana untuk menolong kita. Berserulah, dan meminta dalam doa kepada  Allah dalam Yesus, Ia akan memberi jawaban tepat pada waktunya. Jawabannya tidak pernah mengecewakan. Karena itu, mari kita hidup dalam iman dan pengharapan, sambil terus berseru kepada-Nya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar dan menjawab doaku, amin

Jumat, 28 November 2025

bahan bacaan : Roma 11 : 25 – 36

Penyelamatan Israel
25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." 28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. 33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Rencana  Allah yang Penuh Kasih.

Manusia siapakah yang mengetahui rencana Allah? Jawabannya, tidak ada! Manusia hanya bisa mensyukuri bahwa rencana Allah itu baik adanya sebab Ia mengasihi semua ciptaanNya. Baik yang tegar tengkuk atau keras kepala, yang percaya kepadaNya maupun yang tidak. Pengakuan ini yang disampaikan Paulus dalam teks hari ini bahwa Allah memiliki rencana keselamatan yang mencakup Israel dan bangsa-bangsa lain. Rencana  keselamatan ini bukanlah gagasan manusia tetapi berasal dari kasih Allah sendiri. Rencana  ini terwujud melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Ini berarti bahwa rencana keselamatan Allah yang melampaui batas-batas manusia. Kasih Allah ini tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok tertentu, tetapi meluas kepada seluruh dunia. Inilah kasih yang inklusif, yang menghapus sekat-sekat pemisah dan membuka jalan bagi semua orang untuk diselamatkan. Bagaimana kita merespon rencana keselamatan Allah yang penuh kasih ini? Menerima rencana penyelamatan Allah berarti hidup dalam identitas yang baru. Pertama, kita bukan lagi budak dosa, tetapi anak-anak Allah. Kedua, hidup mengasihi sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Ketiga, dengan menjadi saksi atau saluran berkat bagi banyak orang. Bersyukurlah atas rencana Allah yang penuh kasih dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami bagian dari rencana penuh kasihMu, amin 

Sabtu, 29 November 2025

bahan bacaan : Amsal 24 : 14 – 15

14 Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang. 15 Jangan mengintai kediaman orang benar seperti orang fasik, jangan merusak rumahnya.

Hikmat untuk Masa Depan

Masa depan, tidak bisa ditebak karena masa depan adalah peristiwa yang belum terjadi. Masih dalam rencana.  Tetapi semua orang selalu berharap miliki masa depan yang baik. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mendapatkan masa depan yang baik? Tentu harus ada rencana dan aksi. Menurut Amsal 24:14-15, hikmat adalah kunci untuk mendapatkan masa depan yang baik dan harapan yang tetap ada. Hikmat bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu dengan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu carilah hikmat sebanyak-banyaknya supaya masa depan kita cerah. Bagaimana caranya? Bacalah banyak buku, dengarkan nasehat orang tua, guru, atau teman yang lebih berpengalaman dan yang paling penting, membaca Firman Tuhan agar selalu mengenal kehendakNya. Tuhan adalah sumber hikmat. Jika kita menjauh dari Tuhan, kita tidak memiliki hikmat dan akhirnya kita akan menjadi orang fasik. Tetapi dalam dekat dengan Tuhan, hikmat akan menjadi milik kita. Selanjutnya, kita akan menjadi orang benar serta hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.  

Doa: Berikanlah HikmatMu menuntun masa depanku, Tuhan, amin 

*SUMBER : SHK NOV 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 16-22 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Menjadi Gereja yang Ugahari

Minggu, 16 November 2025

bahan bacaan : Amsal  30 : 7 – 9 

7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Hidup Sederhana, Jauh dari Keserakahan

Lapar bicara laeng kanyang biking laeng”, kalimat sederhana tapi mengandung makna  yang sangat dalam. Waktu ada limpah lupa jalan pulang, tapi saat seng ada lai mau kaluar  lewat tiris – tiris rumah saja seng bisa. Ini tipe keserakahan yang nyata karena tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada . Kalau cara hidup seperti ini langgeng dalam keseharian berarti akan terjadi rupa-rupa pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan. Agur bin Yake dalam permohonan-Nya kepadaTuhan,  momohonkan agar dijauhkan dari kecurangan dan kebohongan, ini merupakan dosa-dosa etis, moral, yang berdampak pada terganggunya hubungan sosial. Ia  juga meminta jangan memberikan  kemiskinan dan kekayaan, tetapi biarkan ia menikmati makanan yang menjadi bagiannya.Kemiskinan dan kekayaan adalah dua keadaan hidup yang sama – sama memiliki dampak negatif ketika tidak di sikapi dengan bijak. Firman ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan sangat dibutuhkan. Bukan soal kemiskinan dan kekayaan tetapi bagaimana kita teta. mengandalkan Tuhan sebagai sumber berkat, Selalu merasa puas dan cukup  dengan apa yang diperoleh serta senantiasa megucap syukur dengan apa yang Tuhan beri. Buanglah jauh-jauh segala hasrat dan keinginan yang berlebihan, jangan angkuh dan serakah!. Bangunlah hidup dalam kesederhanaan. 

Doa: Biarlah kami mau hidup dalam kesederhanaan karena semua yang kami punyai asalnya dari-Mu. Amin

Senin, 17 November 2025

bahan bacaan : Keluaran 16 : 17 – 20 

17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 19 Musa berkata kepada mereka: "Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi." 20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka

Cukupkanlah Dirimu dengan Pemberian Tuhan

Mencari dan mengumpulkan sesuatu untuk persediaan hari esok adalah cara manusia demi tetap bertahan hidup. Apalagi  di tengah tantangan saman yang semakin susah karena berbagai  kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini menuai berbagai macam reaksi sebab hal ini menyebabkan keterpurukan secara ekonomi dan ketidak sejahteraan bagi rakyat. Ini tentu mengkhawatirkan. Sikap khawatir yang ekstrim kadang berdampak pada keraguan akan kuasa Tuhan bahwa Ia yang memegang dan berkuasa atas hari esok. Padang gurun Sin menjadi saksi kemahakuasaan Allah yang sanggup mencukupkan segala sesuatu demi kelangsungan kehidupan umat. Manna Allah turunkan dari langit sebagai jawaban atas keluhan umat Israel yang lapar. Namun apa yang terjadi disana ialah perintah Allah untuk mengumpulkan secukupnya dilanggar. Karena kekhawatiran mereka mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan, akibatnya manna itu busuk dan berulat. Peristiwa ini menandakan bahwa pemeliharaan Tuhan itu sempurna dan adil. BerkatNya cukup untuk kita masing-masing. Sebab itu cukupkanlah diri dengan segala yang berasal dari tangan kasih Tuhan.  Jika kita rakus, serakah atau tidak percaya pada janjiNya, berkat itu bisa menjadi bencana.

Doa : Tuhan, Ajarkan kami untuk mencukupkan diri dengan pemberianMu, Amin

Selasa, 18 November 2025

bahan bacaan : Amsal  16 : 17 – 19  

17 Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya. 18 Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. 19 Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.

Jangan Hidup Dalam Kesombongan Dan Ketidakjujuran                                                                                                                  

Kalau mau supaya jang calaka harus kalakuang tu bae jang kajahatang. Kalau mau orang lia deng paduli saat susah, saat jatuh deng seng berdaya, jang sombong jang tinggi hati,jang rasa diri hebat dari orang laeng, lalu kalau ada pung labe jang hanya mau bagi deng orang yang satu level saja tapi kalau pung labe, bagi lai deng orang yang seng punya”. Itu pesan seorang ayah kepada anaknya saat ia pergi merantau. Nasehat ini mau mengingatkan agar anak-anak bahkan siapa saja agar hidup rendah hati. Amsal mengingatkan hal yang sama:” kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Lebih baik hidup rendah hati dan sederhana daripada kaya dari hasil curang dan hidup dalam kesombongan. Firman Tuhan ini penting untuk kita ingat, marilah kita hidup jujur. Kejujuran melindungi kita dari dosa, dari tipu daya bahkan dari akibat buruk di hari  ini dan kemudian hari. Di dunia yang penuh kompromi dan kepalsuan ini, kita diajak untuk setia, jujur dan rendah hati. Dengan demikian Tuhan tetap dimuliakan dalam seluruh praktek hidup kita .

Doa: Perteguhkanlah iman kami Tuhan untuk selalu mencintai kebenaran agar kesombongan dan kebohongan tidak merajai hati kami. Amin.

Rabu, 19 November 2025

bahan bacaan : Amsal  15 : 16 – 17

16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. 17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.

Hidup Sederhana dengan Kasih dan Takut akan Tuhan

Manakah yang akan dipilih, antara banyak harta tapi selalu di hantui kecemasan, ataukah memilih  hidup sederhana tapi limpah sukacita dan jauh dari kecemasan? Pasti semua kita akan memilih lebih baik sedikit atau lebih baik hidup sederhana asalkan bahagia, tenang aman dan nyaman tanpa tekanan dan jauh dari kecemasan. Kesederhanaan dalam hidup bukan berarti tidak boleh memiliki sesuatu yang lebih. Tetapi   hidup sesuai dengan apa yang kita miliki dengan cara menyeimbangkan keinginan dengan penghasilan atau pendapatan yang kita punya. Pada sisi lain, hidup dengan mengejar kekayaan seringkali menyeret kita kedalam berbagai masalah, ketakutan kalau harta kita hilang, hidup dalam kecurigaan terhadap orang lain, hilang ketentraman jiwa dan batinbahkan berdampak pada hubungan dengan Tuhan. Amsal mengajak kita untuk merenungkan nilai kehidupan yang sejati. Memperoleh kekayaan tanpa rasa takut akan Tuhan hanya membawa kegelisahan. Tetapi relasi yang hangat, penuh cinta lebih berharga dari semua itu. Mari membangun kasih dalam keluarga, gereja dan sesama. Karena kasih lebih bernilai daripada segala kekayaan.

Doa : Tuhan curahkanlah kiranya kekuatan dan hikmatmu agar kami tidak mencondongkan hati dan terikat pada tawaran dunia,  Amin

Kamis, 20 November 2025

bahan bacaan : 2 Korintus 9 : 6 – 15 

Memberi dengan sukacita membawa berkat
6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Berbagi Adalah Wujud Pelayanan Kasih

Kita hidup dan menikmati segala sesuatu di dunia ini adalah karena kasih dan kemurahan Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan untuk membalas segala kebaikan Tuhan?. Hanya puji dan sembah yang teraktualisasi lewat tindakan hidup yang mau berbagi dengan sesama. Tindakan berbagi  adalah wujud belas kasihan kepada orang lemah, memiutangi Tuhan yang akan membalas perbuatannya itu (amsal 19:17). Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus untuk mendorong mereka memberi dengan hati yang tulus. Ia memakai prinsip sederhana; menabur dan menuai. Menabur sedikit,menuai sedikit; tetapi menabur banyak, menuai banyak. Prinsip ini bukan hanya berlaku dalam dunia pertanian, tetapi juga dalam kehidupan iman kita. Maka memberi atau berbagi dengan sesama bukanlah sekedar sebuah pilihan melainkan wujud nyata dari iman, pengharapan serta kasih.Berbagi dalam ketulusan adalah berbagi dengan apa adanya kita, dan bukan karena ada apa – apanya. Berbagi dalam ketulusan hati tidak akan pernah membuat kita berkekurangan, justru kita akan dilimpahi Tuhan dengan berkat-Nya yang berlimpah.

Doa: Tuhan, kami mau berbagi dengan sesama sebagai perwujudan kasihMu yang melimpah,  Amin.

Jumat, 21 November 2025

bahan bacaan : Roma 15 : 1 – 13

Orang yang lemah dan orang yang kuat
Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. 8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, 9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: "Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu." 10 Dan selanjutnya: "Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya." 11 Dan lagi: "Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia." 12 Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan." 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Keseimbangan Hidup: yang Kuat Membantu yang Lemah

alam Roma 15 ini, Paulus berbicara tentang gereja Tuhan yang terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda: budaya, karakter, bahkan kemampuan yang berbeda, tetapi menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan kuncinya yaitu yang kuat menolong yang lemah. Mereka yang kuat memiliki kewajiban menolong yang lemah. Mereka yang lemah tidak boleh menjadi korban dari yang kuat. Disinilah prinsip keseimbangan hidup dibangun. Hidup tidak akan pernah seimbang bila yang kuat hanya memikirkan dirinya sendiri dan yang lemah dibiarkan tergeletak tanpa pertolongan. Justru keindahan hidup tercipta ketika ada keseimbangan. Sebab itu kekuatan yang dimiliki, entah itu fisik, pikiran, harta atau pengaruh, bukanlah untuk dipamerkan, melainkan untuk dipakai menolong. Sebab sesungguhnya kekuatan itupun adalah pemberian Tuhan. Saat kita menolong, kita bukan hanya membangun orang lain, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup. Tuhan Yesus adalah teladan utama. Walau Ia Mahakuat, Ia rela merendahkan diri, menanggung kelemahan kita bahkan memikul dosa dunia di kayu salib. Kasih-Nya menciptakan keseimbangan, sehingga kita yang lemah kini memiliki harapan dan kekuatan baru. Hal ini mengingatkan, agar kita tidak egois, melainkan setia menolong mereka yang lemah. Kiranya hidup kita menjadi saluran keseimbangan hidup dan berkat dalam dunia ini.

Doa: Tuhan, kami mau selalu menolong orang yang lemah. Amin.  

Sabtu, 22 November 2025

bahan bacaan : 1 Tesalonika 5 : 18

18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Mengucap Syukur dalam Segala Hal

Nasehat untuk mengucap syukur dalam segala hal dihubungkan dengan nasehat untuk selalu berdoa. Mengucap syukur juga adalah bentuk kepercayaan seseorang kepada Allah. Ketika mengucap syukur, kita percaya bahwa Tuhan Yesus akan bekerja secara luar biasa sesuai dengan apa yang Dia rancangkan yaitu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Mengucap syukur membuat kita lebih sadar akan berkat-berkat Tuhan dalam hidup. Saat kita menyadari berkat-berkat itu, kita akan semakin menghargai kasih-Nya dan lebih bersyukur atas segala yang diberikan. mengucap syukur bukanlah sesuatu yang kita lakukan saat kita menginginkannya atau saat hidup berjalan baik. Mengucap syukur adalah sesuatu yang harus kita lakukan dalam segala situasi. Inilah kehendak Allah yang berkenan. Ini adalah perintah yang hanya dapat ditaati melalui iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus dan kekuatan yang diberikan oleh Roh Kudus. Paulus tidak menyarankan kita mengabaikan kenyataan akan rasa sakit atau penderitaan kita. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk memupuk hati yang bersyukur di setiap musim kehidupan. Tuhan Yesus sendiri memberi teladan. Dalam perjamuan terakhir, Ia mengucap syukur saat membagi roti dan anggur, padahal Ia tahu penderitaan salib sudah menanti. Itu menunjukkan bahwa syukur lahir dari iman, bukan dari keadaan. Jadi, marilah kita selalu bersyukur sebab syukur adalah sikap hati yang percaya bahwa Allah tetap berdaulat dalam segala keadaan.

Doa: Tuhan, bantu kami punya sikap hati yang mau bersyukur dalam segala situasi. Amin  

*SUMBER : SHK NOV 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 09-15 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja yang Arif Menyikapi Perubahan Zaman

Minggu, 09 November 2025

bahan bacaan : Efesus 5 : 1 – 20  

Hidup sebagai anak-anak terang
Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. 6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Jangan Asal Bertindak

Demonstrasi yang terjadi di akhir bulan Agustus 2025 memberikan banyak kesan dan pesan berharga. Salah satunya terkait dengan sikap para pendemo. Mereka berani dalam menyampaikan asprasi. Ini hal yang baik. Tetapi ketika arogansi mereka diberitakan terjadi dalam bentuk penjarahan yang dilakukan atas nama keadilan, itu sesuatu yang tidak baik. Efesus 5 : 1-20 menuliskan pesan yang berharga bagi kita. Hidup sebagai anak-anak terang inilah yang dipesankan. Hal ini mengandung makna yakni agar kita tidak asal dalam hidup ini terutama dalam segala tindakan. Apa yang kita lakukan memperlihatkan jati diri Kekristenan kita. Kita harus bersikap adaptif atau memiliki daya dalam menyesuaikan diri dengan perubahan apapun. Tetapi semua yang dilakukan tidak boleh sekadar asal dilakukan. Semua yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Jangan pernah memakai nama kebenaran dan keadilan sebagai dasar tindakan kita namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita sementara juga melakukan tindakan yang tidak benar dan tidak adil. Itu bukan tipe anak-anak terang. Anak-anak terang hanya memiliki satu kriteria yaitu tidak asal bertindak, apalagi bertindak yang jahat. Maukah kita tetap mempertahankan jati diri kita sebagai anak-anak Terang?   

Doa:  Ya Allah, kami mau menjadi anak-anak terang, Amin.

Senin, 10 November 2025

bahan bacaan :   Amsal 4 : 23 – 27 

23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. 25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. 26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. 27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Jadilah  Pahlawan dan Bukan Penjahat

Hari ini kita memperingati hari pahlawan. Mungkin ada banyak defenisi tentang arti pahlawan. Tetapi salah satu defenisi pahlawan adalah orang yang mampu menyikapi zaman dengan menjaga hati dan terus menatap ke depan. Hidup seorang pahlawan pasti hanya akan menjadi berkat dan itulah sebabnya ia disebut pahlawan. Amsal sebagai kitab hikmat memberikan pengajaran tentang sisi hidup seorang pahlawan. Hatinya dijagai dengan kewaspadaan, ia tidak membiarkan hatinya dikuasai oleh hal yang tidak baik. Mulutnya tidak digunakan untuk mengatakan hal yang tidak benar. Matanya dipakai hanya untuk melihat kebenaran dan bukan sebaliknya. Kakinya berjalan di jalan yang rata. Ia tidak melangkah di jalan kejahatan. Renungan ini menuntun kita untuk hidup dengan hati yang terjaga, mulut yang jujur, mata yang focus, dan langakh yang mantap. Dunia boleh menawarkan banyak godaan yang dapat membuat kita tergoda menoleh ke kanan atau ke kiri, tetapi mata iman menuntun kita untuk tetap setia pada jalan Tuhan dan melakukan apa yang benar dan bukan sebaliknya. Sebab itu firman Tuhan harus menjadi kompas agar kita tidak menyimpang. Jadilah pahlawan dan bukan penjahat.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami menjadi pahlawan kebaikan,  Amin.

Selasa, 11 November 2025

bahan bacaan : Titus  2 : 1 – 2

Kewajiban orang tua, pemuda dan hamba
Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan

Hidup Menjadi Teladan Yang Matang

Firman Tuhan hari ini menjadi dasar untuk kita bersyukur bersama laki-laki GPM yang berusia 39 tahun. Dari firman ini kita diajak untuk hidup dalam pengajaran yang sehat. Bukan sekedar tahu kebenaran firman Tuhan, tetapi menghidupinya dalam kata dan perbuatan. Orang yang sudah dewasa dalam iman, khususnya laki-laki, diingatkan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, dan teguh dalam iman, kasih, serta ketekunan. Dunia hari ini banyak menawarkan jalan pintas untuk menghibur hati, tetapi firman Tuhan menuntun kita untuk menjadi teladan yang kokoh di tengah badai nilai-nilai yang berubah. Karakter yang matang bukan lahir dari kemudahan, tetapi dari kesetiaan memegang kebenaran walau banyak yang menentangnya. Tuhan rindu melihat umat-Nya menjadi pilar bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat. Kekuatan seorang ayah, kakak, atau pelayan laki-laki tidak hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi dari kestabilan hati dan kebijaksanaan hidupnya. Mari kita bercermin, apakah perkataan dan sikap kita menuntun keluarga kepada Kristus atau malah menjauhkan karena kita tidak bisa menjadi teladan? Hari ini, jadikan firman sebagai pelita agar hidup kita menjadi contoh dan teladan yang menguatkan orang lain untuk tetap berjalan dalam kebenaran.

Doa: Teguhkan Imanku Tuhan, agar dapat menjadi teladan, Amin.

Rabu, 12 November 2025

bahan bacaan : Titus  2 : 3 – 5

3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Perempuan Bijak, Generasi Kuat

Perempuan-perempuan yang dewasa dalam iman dipanggil untuk hidup dengan penuh hormat, tidak memfitnah, tidak diperbudak oleh hawa nafsu, dan menjadi pengajar yang baik bagi generasi muda. Dalam dunia yang serba cepat ini, godaan untuk sibuk mengomentari hidup orang lain sangat besar. Tetapi firman Tuhan memanggil para perempuan untuk menjadi sumber kebijaksanaan, penopang keluarga, dan penanam nilai-nilai ilahi bagi anak-anak dan remaja. Kata-kata yang diucapkan dengan kasih dan bijak bisa menjadi benih kehidupan yang kelak menghasilkan buah yang manis. Kita tidak tahu seberapa besar dampak yang dihasilkan dari teladan hidup yang benar. Seorang ibu yang sabar, seorang kakak yang penuh perhatian, atau seorang nenek yang setia berdoa bisa menjadi benteng iman bagi keluarga. Tuhan ingin perempuan-perempuan-Nya menjadi agen pembawa damai, pelindung kasih, dan pengajar kebaikan yang tulus. Mari kita mulai hari ini dengan komitmen untuk menjadi suara yang membangun dan hati yang membimbing generasi muda dengan pembentukan karakter: hidup dalam kasih, bijaksana, suci, penuh kebaikan dan bertanggungjawab. Keluarga yang kuat, melahirkan generasi yang kuat dan itu adalah kesaksian nyata bagi dunia.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk hidup sebagai teladan iman, Amin.

Kamis, 13 November 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah  11 : 9 – 10

Nasihat bagi pemuda-pemudi
9 Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! 10 Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.

Masa Muda Yang Bertanggung Jawab

Sukacita adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri. Hidup yang terlalu kaku dan tanpa sukacita akan membuat kita lupa menikmati segala hal yang baik dan indah dari Tuhan. Namun firman Tuhan mengingatkan:  masa muda perlu dinikmati, tetapi tidak boleh dijalani secara sembarangan. Karena setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Artinya, boleh mengikuti keinginan hati, tetapi keinginan itu harus ditimbang dengan kebenaran firman. Dunia mendorong anak muda untuk “mengejar kebebasan” tanpa batas, tetapi Tuhan mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab. Masa muda adalah anugerah yang indah, tetapi juga masa yang rentan untuk terseret oleh kesenangan sesaat. Jangan biarkan hati kita tertipu oleh hal-hal yang kelihatan manis di depan, tetapi pahit di belakang. Hidup dengan bijak di masa muda berarti menata langkah sejak sekarang, bukan nanti ketika segalanya sudah terlambat. Singkirkan hal-hal yang dapat mengeraskan hati dan merusak masa depan. Jadilah pribadi yang memanfaatkan masa muda untuk membangun iman, karakter, dan masa depan yang kokoh. Allah rindu anak-anak muda memiliki hati yang bersih, tubuh yang sehat dan hidup yang bersemangat. Sebab itu, sukacita sejati tidak merusak diri, melainkan memuliakan Allah.

Doa: Arahkan Jalanku di masa muda ini ya Tuhan, Amin.

Jumat, 14 November 2025

bahan bacaan : Lukas  12 : 54 – 59

Menilai zaman
54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Peka Membaca Tanda -Tanda Zaman

Yesus menegur orang-orang yang pandai membaca tanda-tanda cuaca, tetapi gagal membaca tanda-tanda zaman. Teguran itu bermaksud agar mereka peka terhadap karya Allah dalam sejarah kehidupan. Begitu pula kita. menilai zaman bukan berarti hanya mengikuti trend perkembangan dunia, tetapi melihat apa yang sedang Allah kerjakan. Sering kita sibuk memprediksi hal-hal duniawi, tetapi tidak peka pada apa yang Tuhan sedang kerjakan di sekitar kita. Apakah kita mampu melihat bahwa dibalik peristiwa sosial, politik, ekonomi dan kehidupan sehari-hari, Allah sedang berbicara dan mengarahkan kita? Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk bertindak selagi masih ada waktu. Pertobatan bukanlah hal yang harus ditunda-tunda. Kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan berakhir. Mari belajar membaca tanda-tanda yang Tuhan tunjukkan melalui firman, peristiwa, dan suara hati, agar kita dapat hidup selaras dengan kehendak-Nya dan siap menyambut-Nya dengan hati yang bersih. Jangan kita sibuk membaca tanda-tanda dunia tetapi lalai membaca tanda-tanda kehendak Tuhan, dan kehendakNya adalah bertobat dan tidak ikut arus dunia ini yang menyesatkan.

Doa: Buat kami peka  melihat apa maksud Tuhan dibalik setiap zaman, Amin.

Sabtu, 15 November 2025

bahan bacaan : Amsal 3 : 1 – 4 

Berkat dari hikmat
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. 3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia

Firman Yang Tertulis Di Hati

Tuhan berjanji bahwa mereka yang setia memegang pengajaran-Nya akan menikmati umur panjang, sejahtera, dan kasih setia yang tidak lekang oleh waktu. Firman dan kasih Tuhan harus tertulis bukan hanya di Alkitab, tetapi di hati kita. Inilah kunci untuk menemukan damai sejati di tengah dunia yang penuh gejolak. Kesetiaan pada firman bukan sekadar soal menghafal ayat, tetapi menghidupinya dalam pilihan-pilihan kecil setiap hari. Kebaikan dan kesetiaan adalah harta yang tidak bisa dibeli, tetapi bisa kita berikan kepada orang lain sebagai warisan rohani. Saat hidup kita dipenuhi kasih dan kejujuran, kita akan mendapatkan perkenaan dari Allah dan manusia. Hari ini, mari kita pilih untuk menaruh firman di hati, membiarkannya membentuk pikiran, perkataan, dan tindakan, sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang mengundang orang lain untuk mengenal kasih Tuhan. Jangan abaikan firman, karena disitulah sumber kehidupan yang menuntuk kita hidup berkenan kepada Tuhan.

Doa: FirmanMu tertulis dalam hati kami ya  Tuhan, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOVEMBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 02 – 08 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja bagi Semua

Minggu, 02 November 2025

bahan bacaan : Yesaya 56 : 1 – 8

Keselamatan adalah bagi semua orang
Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. 2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat. 3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: "Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering." 4 Sebab beginilah firman TUHAN: "Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama--itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan--,suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun."

Rumah Doa Bagi Banyak Orang

Ada sebuah rumah makan yang besar dengan meja panjang penuh makanan lezat. Pemilik rumah makan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Siapa saja boleh datang baik itu orang kaya, miskin, tua, muda, bahkan yang tidak mampu membayar pun akan diberi makan dengan penuh kasih. Demikianlah gambaran gereja yang sejati: meja perjamuan Tuhan terbuka bagi semua orang, tidak ada yang ditolak. Tuhan menegaskan bahwa rumah-Nya adalah “Rumah Doa Bagi seluruh bangsa”. Ia mengundang bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga orang asing, bahkan orang yang dianggap tidak layak, untuk datang dan menerima kasih serta keselamatan-Nya. Kadang kita sering berpikir bahwa gereja hanya untuk orang tertentu orang yang sudah lama beriman, yang punya latar belakang sama, atau yang kelihatan “baik-baik saja” di mata manusia. Namun bacaan hari ini Yesaya 56 mengingatkan bahwa Allah membuka pintu-Nya lebar-lebar untuk siapa saja. Gereja merupakan tempat bagi siapapun yang mau datang dan menetap, baik itu orang asing, orang yang berbeda suku budaya atau sampai kepada status sosial pun akan tetap di terima. Firman Tuhan ini mengajarkan bahwa gereja bukan milik sekelompok orang tertentu, melainkan milik Kristus yang terbuka bagi semua. Mari kita belajar hidup sebagai orang yang ramah, menerima, dan membawa setiap orang lebih dekat kepada Tuhan.

Doa Mampukan kami Tuhan untuk selalu menjaga keutuhan Rumah untuk banyak orang. Amin.  

Senin, 03 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26

Percakapan dengan perempuan Samaria
Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Pelayanan Tanpa Batas

Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria adalah kisah yang sangat penting karena Yesus berani menembus berbagai batasan yang ada pada zaman itu. Bangsa Yahudi dan orang Samaria tidak bergaul karena adanya permusuhan panjang. Namun Yesus justru mendekati perempuan Samaria itu, membuka percakapan, dan menawarkan air hidup. Ini menunjukkan bahwa pelayanan Kristus tidak mengenal sekat suku, ras, atau budaya. Kasih Allah berlaku bagi semua orang dengan menjadi pelayanan di segala tempat. Perempuan Samaria itu menyinggung soal tempat ibadah: apakah di gunung yang berada di Samaria atau di Yerusalem. Tetapi Yesus menegaskan bahwa penyembahan yang benar bukan ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh sikap hati: menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (ayat 23-24). Artinya, pelayanan tidak dibatasi tembok gedung atau tempat khusus. Di mana pun kita berada, kasih Kristus dapat diberitakan. Kita dipanggil untuk melayani siapa saja, tanpa memandang suku, budaya, atau latar belakang. Gereja tidak boleh tertutup, melainkan terbuka untuk menjadi berkat bagi semua orang. Maka kita sebagai pengikut Kristus dipanggil untuk melayani dengan kasih yang tulus, dan menjangkau siapa pun, di mana pun, dan membawa mereka kepada Kristus sumber air hidup.

Doa: Tuhan ajarkan kami untuk memberitakan firmanMu kepada banyak orang  Amin.  

Selasa, 04 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 4 : 27 – 42

27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" 28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" 30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." 32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." 33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." 39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." 40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Dari Satu Jiwa Untuk Banyak Jiwa

Seperti sebuah lilin kecil yang dinyalakan dalam ruangan gelap. Cahaya lilin itu mungkin tampak kecil, tetapi cukup untuk membuat orang lain melihat jalan. Jika lilin itu kemudian menyalakan lilin-lilin lain, maka seluruh ruangan akan terang. Demikian juga dengan Injil. Ketika satu orang menerima dan membagikannya, terang itu menyebar dan menjangkau banyak orang. Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur bukanlah kebetulan. Setelah mengalami kasih dan kebenaran Kristus, perempuan itu segera meninggalkan tempayannya lalu kembali ke kotanya untuk bersaksi: “Mari, lihatlah seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay. 29). Kesaksiannya yang sederhana tetapi tulus membuat banyak orang datang kepada Yesus dan menjadi percaya. Inilah kuasa pemberitaan Injil: dimulai dari satu pribadi yang diubahkan, lalu merambat menjangkau banyak orang. Tuhan rindu kita semua ikut ambil bagian dalam pekerjaan besar ini. Maka Jangan remehkan kesaksian sederhana kita, sebab Tuhan bisa pakai itu untuk menyentuh banyak orang. Pemberitaan Injil bukan hanya tugas pendeta atau penginjil, tetapi juga keluarga Kristen di mana pun berada. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat: rumah, tetangga, teman kerja, sekolah, bahkan melalui media social, agar pemeritaan Injil menjangkau banyak orang.

Doa Tuhan, kami mau melayani  sesama tanpa melihat latarbelakang mereka,  Amin.

Rabu, 05 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 10 : 14 – 16

14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Satu Gembala Untuk Banyak Domba

Seorang gembala di sebuah padang rumput memiliki banyak domba dari berbagai warna dan ukuran. Ada yang putih bersih, ada yang berbintik hitam, ada pula yang berbulu agak kusut. Namun meskipun berbeda, semuanya tetap dipanggil dengan suara yang sama. Ketika gembala itu bersiul, semua domba yang besar maupun kecil, yang dekat maupun jauh berlari mendekat karena mengenal suara gembalanya. Mereka tidak mengikuti suara lain, sebab hanya suara gembala yang membuat mereka merasa aman. Demikianlah Yesus sebagai Gembala Agung memanggil kita dari berbagai bangsa, suku, bahasa, dan latar belakang untuk menjadi satu kawanan. Meski berbeda-beda, kita disatukan dalam kasih dan bimbingan Kristus. Yesus mengenal kita secara pribadi Sama seperti gembala mengenal setiap dombanya, Yesus mengenal nama, pergumulan, dan kebutuhan kita masing-masing. Tugas kita sebagai domba adalah mengenali suaraNya melalui doa, firman dan pimpinan Roh Kudus. Banyak suara dunia yang ingin menyesatkan, tetapi hanya suara Yesus yang membawa pada kehidupan. Karena itu, mari kita hidup saling mengasihi, melampaui perbedaan, dan setia mengikuti Yesus.

Doa:  ya Allah, kami mau mendengar dan mengikutiMu, gembala Agung,  Amin.

Kamis, 06 November 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 26 – 40 

Sida-sida dari tanah Etiopia
26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. 27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. 28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. 29 Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" 30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" 31 Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. 33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" 35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 37 (Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.") 38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. 40 Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.

Tetaplah Bangun Kepeduliaan Memberitakan Injil

Kita tidak hidup sendiri di dunia. Kita hidup bersama orang lain. Amatlah naif bila kita terus menerus memiliki kecendrungan untuk hanya memikirkan diri sendiri. Perilaku egois tidak membuat kita sejahtera dan damai. Tuhan Yesus memanggil kita sebagai gereja agar  bisa hidup sebagai orang-orang yang inklusif. Inilah kandungan tema bulan November yaitu  Gereja bagi hidup yang berkelanjutan dan untuk minggu ini diarahkan pada tema Mingguan: Gereja bagi semua. Teks kita saat ini menceritakan ksiah pelayanan  Filipus. Ia seorang pemberita Injil. Sikap ketaatannya juga ia tunjukkan ketika malaekat Tuhan berkata kepadanya untuk turun ke jalan yang sunyi (Kisah 8:26). Filipus memahami betapa pentingnya hidup berbagi kebenaran tentang kasih Tuhan Yesus kepada orang lain, apalagi yang belum percaya dan mengenal Tuhan. Apakah sikap seperti ini .juga kita miliki? Ataukah kita malah memperlihatkan sikap tidak suka sebagai wujud rasa tidak peduli akan pertumbuhan iman orang lain, misalnya saja malas mengajak orang lain beribadah? Mari belajar dari Filipus yang ingat akan tanggung jawab pemberitaan Injil dan tetap setia melakukannya.

Doa Ya Tuhan Yesus, Tolonglah kami agar selalu mendengar suara-Mu dan setia memberitakan Injil, Amin  

Jumat, 07 November 2025

bahan bacaan : Matius 22 : 1 – 14

Perumpamaan tentang perjamuan kawin
Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."

Semua Orang Berhak atas Keselamatan

Hari Minggu telah tiba. Pit meminta Popy istrinya untuk menyetrika pakaiannya sebab ia mau ke ibadah. Stenly anaknya yang bungsu membawakan pakaiannya juga kepada ibunya. Melihat itu, Pit bertanya  kepada Stenly : Mengapa nyong membawa baju untuk mama ? Popy istrinya langsung menjawab: Stenly cuma mau ikut-ikutan saja. Tetapi Stenly berkata bahwa ia juga mau ke ibadah Minggu bersama papa dan mamanya. Mendengarkan hal itu, Pit melarang agar anaknya jangan ikut ibadah Minggu sebab hanya akan merepotkan. Stenly nanti saja ke ibadah sekolah minggu. Pit melarang Popy untuk membawa Stenly saat mereka ke ibadah minggu. Stenly pun hanya bisa diam. Cerita ini kelihatan biasa saja. Tetapi melaluinya terselip pesan yang penting yakni semua orang berhak atas keselamatan.Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga. Orang banyak yang diundang masuk ke dalam Kerajaan Surga ibarat mereka adalah tamu perjamuan kawin. Semua orang diundang dan berhak untuk ikut di dalam perjamuan kawin itu dengan pakaian yang pantas. Ini berarti kita semua dipandang layak di hadapan Tuhan. Siapapun kita termasuk anak-anak. Jangan pernah melarang siapapun untuk datang kepada Tuhan dan jangan pernah membatasinya sebab Tuhan berkenan menyelamatkan semua orang.

 Doa:  ya Allah, mampukanlah kami datang pada-Mu sebagai sumber keselamatan, Amin.

Sabtu, 08 November 2025

bahan bacaan : Wahyu 7 : 9-17

Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya
9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!" 11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 12 sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" 13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?" 14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. 15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. 16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. 17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

Tuhan Sumber Keselamatan

Teks ini dilatari dengan situasi sulit yang dihadapi orang Kristen sekitar akhir abad pertama, dimana seluruh penduduk kekaisaran Romawi diwajibkan untuk menyembah dan mempersembahkan kurban kepada kaisar-kaisar yang mengganggap diri mereka sebagai dewa. Orang yang menolak dianggap pengkhianat dan dapat dijatuhi hukuman mati. Orang Kristen bertanya tentang keyakinan mereka akan Allah dan penulis kitab Wahyu menjawab dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang akan menaklukan seluruh umat manusia dan semua kekuatan termasuk kekaisaran Romawi yang melawan Allah. Teks Wahyu 7:9-17 menuliskan semua orang datang kepada Tuhan sumber keselamatan. Hanya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lainnya. ini merupakan ajakan bagi semua kita untuk menyakini kedaulatan kuasa Tuhan. Hanya di dalam Tuhan kita menemukan keselamatan. Manusia tidak memliki kuasa yang bisa menandingi Tuhan. Sebagai sumber keselamatan, Tuhan mau agar kita hanya datang kepada-Nya dan menyandarkan seluruh pergumulan hidup hanya kepadaNya.

 Doa: ya Allah, hanya Tuhanlah satu-satuNya sumber keselamatan hidup kami,   Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOVEMBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Okt – 1 Nop 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri

Tema Mingguan : Bersyukurlah untuk Saling Berbagi sebagai Jemaat Kristus

Minggu, 26 Oktober 2025

bahan bacaan : Filipi 4 : 10 – 20

Terima kasih atas pemberian jemaat
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 20 Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

Tetaplah Bersyukur dan Saling Berbagi

Bersyukur dalam segala hal dan saling berbagi dengan sesama merupakan sikap dan tindakan yang baik dan benar di hadapan Allah. Sikap dan tindakan dimaksud dapat kita temui pada teks bacaan hari ini, baik dalam pribadi Paulus maupun kehidupan jemaat kristen di Filipi. Dalam suratnya ini,  Paulus mengungkapkan rasa syukurnya atas semua bantuan yang diberikan jemaat Filipi kepadanya. Sekalipun tidak dapat dipungkiri bahwa ada saat dimana jemaat tidak memberi, akan tetapi tetap dipandang positif oleh Paulus (ay. 10). Hal positif lainnya yaitu kepedulian jemaat Filipi yang tetap ada dalam kesadaran untuk berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, memberi adalah wujud iman dan kasih. Pertanyaannya, apakah kita masih tetap sadar untuk selalu bersyukur dan berbagi dengan sesama? atau kita justru bersungut-sungut dan lebih mementingkan diri sendiri?, apalagi di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini. Kita tidak dapat memprediksi dengan tepat perjalanan hidup yang akan dilalui dari waktu ke waktu. Hal ini disampaikan karena ada sejumlah kenyataan yang terjadi diluar harapan dan pikiran kita. Kendati demikian, bukankah sebagai orang percaya kita harus tetap bersyukur dan hidup saling berbagi?. Firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar cukup, tetap bersyukur dan mempercayakan segala kebutuhan kepada Allah. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian, kekuatan kita bukan dari apa yang kita punya, melainkan dari Kristus yang hidup dalam kita.

Doa: Ajarilah kami Tuhan, untuk selalu bersyukur dan saling berbagi. Amin. 

Senin, 27 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 25

25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Diberkati Untuk Menjadi Berkat

Semua orang berkesempatan menikmati berkat dari Tuhan saat menjalani hari-hari hidupnya. Kendatipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa berkat yang didapatkan dan dinikmati oleh masing-masing orang berbeda. Karena itu, ada yang berkelebihan, ada yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan tetapi ada juga yang berkekurangan. Terhadap kenyataan yang demikian maka tanggung jawab beriman yang diwujudnyatakan dalam sikap dan perbuatan harus diterapkan dalam kehidupan bersama. Salah satu contohnya yaitu berbagi dan membantu sesama manusia yang membutuhkan. Pada prinsipnya, berkat yang didapatkan tidak hanya diperuntukkan untuk diri sendiri melainkan juga bagi orang lain. Dengan kata lain kita diberkati supaya dapat menjadi berkat bagi yang lain. Firman Tuhan hari ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum ia sendiri akan diberi minum (ay. 25). Artinya segala perbuatan baik yang dilakukan tidak akan berakhir dengan sia-sia. Sebab bagian berkat yang kita dapatkan dan dibagikan kepada yang lain, sesungguhnya membuat kita semakin diberkati. Karena itu latihlah diri bahkan keluarga kita untuk tetap saling memberi dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Dengan berbagi dan memberi, kita tidak akan pernah berkekurangan melainkan terus diberkati. Biarlah melalui aksi nyata yang kita lakukan dapat bermanfaat dan menjadi teladan bagi sesama. Jangan ragu memberi dan membantu orang lain dari berkat yang kita dapatkan melalui pekerjaan maupun usaha yang dikerjakan dalam hidup tiap-tiap hari, sebab untuk itulah kita semua diberkati.

Doa: Roh Kudus kuasai hati kami agar tidak lalai melakukan yang baik dan benar. Amin. 

Selasa, 28 Oktober 2025

bahan bacaan : Ibrani 13 : 15 – 16

15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. 16 Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.

Jangan Lalai Berbuat Baik dan Benar

Melakukan yang baik dan benar sesuai kehendak Allah merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan oleh setiap orang percaya. Pertanyaannya apakah kita telah melakukannya dalam menjalani hidup? Sebab hal dimaksud bukan hanya sebatas pemahaman semata melainkan harus diwujudnyatakan dalam iman melalui sikap, perkataan dan tindakan. Dengan kata lain kita diingatkan agar jangan lalai untuk terus melakukan yang baik dan benar sesuai iman percaya kepada Allah. Karena itu melalui teks bacaan saat ini, penulis surat Ibrani hendak mengajarkan kita tentang hidup yang selalu memuliakan Allah dan tidak lupa memberikan bantuan (ay. 15-16). Kendatipun hal ini sudah diketahui oleh kita namun seringkali lalai bahkan secara sengaja diabaikan. Kita justru melakukan hal yang bertolakbelakang dengan kehendak-Nya yakni ucapan bibir yang tidak memuliakan Allah, bersaksi dusta, menyebarkan gosip, memutarbalikan fakta dll. Selain itu ada pula sikap yang hanya mementingkan diri sendiri, mengambil hak orang lain dan tidak peduli kepada orang yang membutuhkan. Terhadap hal itu kita diingatkan untuk kembali merenung dan mengintrospeksi diri serta membuat komitmen untuk berbalik melakukan yang baik dan berkenan di hadapan Allah. Ini harus menjadi kesadaran bersama untuk diterapkan dalam kehidupan secara pribadi maupun keluarga. Ingat! Jangan lalai berbuat baik dan benar.

Doa: Tuhan, berkati kami agar dapat menjadi berkat bagi orang lain.  Amin.   

Rabu, 29 Oktober 2025

bahan bacaan : Matius 6 : 1 – 4

Hal memberi sedekah
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Motivasi Yang Keliru

Ada banyak alasan yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan hal yang baik bagi orang lain. Alasan dimaksud antara lain: sadar akan tanggung jawab sebagai sesama manusia yang harus saling mengasihi dan peduli satu dengan yang lain. Akan tetapi ada juga karena ada alasan lain yakni untuk mendapatkan popularitas, memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri, pamer dll. Artinya kebaikan-kebaikan yang dilakukan dapat dilatarbelakangi oleh motivasi yang benar tetapi juga terdorong oleh motivasi yang keliru atau salah. Karena itu dalam teks hari ini Tuhan Yesus mengajarkan pada pendengar-Nya saat itu, agar tidak melakukan kewajiban agama dengan tujuan untuk dilihat orang. Salah satu contohnya yaitu memberikan sedekah disertai dengan seruan yang lantang agar dipuji orang (ay. 2). Ini disampaikan-Nya sebab perbuatan baik tersebut didorong oleh motivasi yang salah dan pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang munafik. Terhadap hal itu Yesus mengajarkan agar pemberian sedekah yang dilakukan tidak perlu digembar-gemborkan atau diketahui oleh orang banyak, melainkan harus tersembunyi (ay. 3-4). Nasihat Tuhan Yesus ini tentunya berlaku juga bagi kita para pengikut-Nya dimasa kini. Kita diingatkan untuk selalu menunjukkan kepedulian kepada orang lain lewat tindakan yang kongkrit seperti memberi sedekah. Namun hal itu dilakukan bukan untuk kepentingan diri sendiri, dipuji oleh orang lain, mencari keuntungan, pamer dll. Lakukanlah semua kebaikan kepada mereka yang membutuhkan dengan motivasi yang baik dan benar dihadapan Allah, sambil tetap percaya Ia akan membalas dengan berkat-Nya.

Doa: Bapa,  ajarilah kami untuk selalu hidup saling mengasihi. Amin.  

Kamis, 30 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Yohanes 3 : 11 – 18

Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru
11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; 12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. 13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. 14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Hidup Saling Mengasihi

Perintah untuk mengasihi satu dengan yang lain merupakan prinsip hidup yang harus menjadi pegangan bagi semua orang percaya. Dengan saling mengasihi kita dapat mencegah diri dari sikap iri hati dan perbuatan dosa lainnya yang menyakiti sesama dan menyakiti Allah (ay. 12). Karena itu kebenaran firman ini mengajarkan kita untuk menghidupi kasih atau selalu hidup saling mengasihi satu dengan yang lain. Sebab siapa yang tidak saling mengasihi, ia berada dalam maut dan tidak memiliki hidup yang kekal (ay. 14-15). Kita mestinya menyadari bahwa Allah mengasihi kita sehingga mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia dengan mati di tiang kayu salib. Bertolak dari itu, kita harus meresponinya dengan mengasihi sesama (ay. 16). Mengasihi sesama harus ditunjukkan dengan aksi-aksi yang nyata dan dalam kebenaran (ay. 17-18). Salah satu contohnya yakni dengan tidak menutup pintu hati dari mereka yang berkekurangan dan membutuhkan. Perhatikanlah semua orang yang berada di sekitar  dan kerjakanlah yang telah diperintahkan kepada kitadengan taat dan setia. Sebab hanya dengan demikian kita telah menghidupi kasih yang jauh sebelumnya telah dianugerahkan Allah bagi kita lewat Tuhan Yesus Kristus. Tetaplah hidup saling mengasihi tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain, sebab demikianlah yang diperintahkan dan harus dijalankan oleh kita.

Doa: Tuhan kami mau melakukan perintahMu, berbagi dengan motivasi yang benar. Amin.  

Jumat, 31 Oktober 2025

bahan bacaan : Galatia 6 : 1 – 10

Saling membantulah kamu
Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. 6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. 7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Gunakanlah Kesempatan Dengan Baik

Hidup yang dianugerahkan Allah bagi kita umat-Nya harus dipergunakan dengan baik. Ini disampaikan karena tiap-tiap orang diberikan kesempatan, akan tetapi tentu saja ada batasannya. Bertolak dari itu tiap-tiap orang berhak memilih apakah akan menggunakan kesempatan tersebut untuk hal-hal yang baik ataukah sebaliknya? Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, pada bagian ini Paulus hendak menasihati agar jemaat dapat saling membantu satu dengan yang lain. Saling membantu yang dimaksudkan mencakup semua hal yakni memimpin orang ke jalan yang benar apabila melakukan pelanggaran, saling tolong menolong dalam menanggung beban (ay. 1-2). Artinya ketika seseorang atau sekelompok orang berada dalam kekeliruan atau kesalahan dan adapula yang berbeban berat, maka kita berkewajiban untuk membantu. Kendatipun sadar akan hal ini, namun sebagian besar dari kita belum menerapkan atau menindaklanjuti dalam kehidupan berkeluarga, bergereja dan juga bermasyarakat. Oleh sebab itu jika kesempatan masih diberikan kepada kita, maka pergunakanlah kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Sebab keberadaan kita sebagai orang beriman bukan untuk diri kita sendiri, melainkan haruslah berguna dan bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Karena itu kapanpun dan dimanapun kita berada, mintalah Roh Kudus untuk menggerakkan hati kita agar terus melakukan hal-hal baik. Jangan pernah jemu untuk melakukan kebaikan sebab itulah panggilan kita sebagai orang percaya utuk saling menolong atau membantu serta melayani sebagai sesama manusia. Lakukanlah itu selagi masih ada kesempatan dan jadilah berkat bagi orang lain.

Doa: Roh Kudus tolonglah kami agar dapat menggunakan kesempatan dengan baik. Amin 

Sabtu, 01 November 2025

bahan bacaan : Mazmur 37 : 21

21 Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

Belas Kasihan Orang Benar

Sikap murah hati bukan hanya soal memberi dari kelebihan, tetapi memberi karena hati yang digerakkan oleh kasih Tuhan. Orang benar tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain, melainkan berbagi walaupun caranya sederhana. Hal ini mencerminkan karakter Allah yang penuh anugerah dan kemurahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kemurahan hati bisa tampak dalam hal-hal kecil dengan cara mendengar keluhan orang lain, memberikan senyum atau penghiburan bagi orang yang ada dalam persoalan dan juga sedih hati dan menolong sesama yang kekurangan, sesuai kemampuan. Ketika kita hidup dengan belas kasih, kita bukan hanya menolong orang lain, tetapi juga memancarkan kasih Kristus di tengah dunia. Orang yang murah hati tidak pernah kehilangan, sebab Tuhan sendiri yang mencukupkan. Menjadi orang benar berarti meneladani hati Allah: penuh kasih dan kemurahan. Dunia mungkin mengajarkan kita untuk menyimpan bagi diri sendiri, tetapi Firman Tuhan hari ini mengingatkan dan mengajarkan bahwa orang benar dikenal bukan karena apa yang ia miliki, melainkan karena kasih dan kemurahan yang ia bagikan bagi semua orang. Mari kita bertanya pada diri sendiri: Adakah seseorang yang mau saya tolong atau saya beri senyum dan perhatian, sebagai wujud belas kasih Tuhan?

Doa: Ajarilah kami untuk tetap penuh dengan belas kasihan dan hidup dalam murah hati. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Oktober 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri

Tema Mingguan : Pembaruan Diri untuk Membarui Kehidupan

Minggu, 19 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Tesalonika 5 : 1 – 11  

Berjaga-jaga
Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput. 4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

Membarui Diri Untuk Pembaruan Hidup

Tema pelayanan minggu ini “pembaruan diri untuk membarui kehidupan”. Tema ini hendak menegaskan bagi kita sebagai orang-orang percaya untuk bersyukur dengan memaknai pengorbanan Tuhan Yesus yang telah mengampuni dan menyelamatkan kita dari penghukuman dosa. Pengorbanan Tuhan Yesus yang mahal itu mesti kita jawab dengan mewujudkannya melalui sikap dan perilaku hidup yang disebut oleh Paulus dalam bacaan kita sebagai anak-anak terang atau anak-anak siang. Sebagai anak-anak terang atau anak-anak siang, maka iman, pengharapan serta kasih kita kepada Tuhan Yesus dan sesama mesti terwujud didalam masa penantian kedatangan Tuhan Yesus kembali. Kedatangan Tuhan seperti pencuri yang kita tidak tahu kapan waktunya. Sehingga kita harus selalu siap sedia. Janganlah kita menunggu dengan  menjadi anak-anak gelap atau anak-anak malam, dengan menghabiskan waktu untuk hal-hal serta perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah sebabnya firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk membarui hidup agar kita pun dapat melakukan pembaruan dalam kehidupan, baik di keluarga, gereja pun masayarakat.

Doa: Tuhan, ampunilah dosa kami, dan baruilah agar kami dapat melakukan pembaruan dalam kehidupan ini. Amin.  

Senin, 20 Oktober 2025

bahan bacaan : Mazmur 51 : 9 – 15

7 (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! 8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! 9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! 11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! 12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! 13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

          Pengampunan Tuhan Membuat Hidup Menjadi Baru   

Raja Daud seorang raja yang besar pada zamannya dan dalam kepemimpinannya bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan menikmati masa kegemilangan. Namun ia juga seorang manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan.  Keinginan Daud untuk mengambil istri Uria, Batsyeba membuat Daud merancang kejahatan dengan menempatkan Uria di depan medan perang, sehingga membuat Uria mati. Hal itu membuat Daud untuk leluasa memiliki Batsyeba. Namun itu merupakan perbuatan dosa yang besar. Tuhan menegur Daud melalui nabi Nathan, tentang dosa dan pelanggarannya. Menarik dalam bacaan kita di hari ini, Daud berseru memohon pengampunan dari Tuhan dan berharap dosanya tidak dijadikan sebagai alasan untuk dia terbuang dari hadapan Tuhan. Cinta dan sayang Tuhan yang besar kembali ditujukan kepada Daud dengan mengampuni dan membaruinya. Ia pun berubah dan menjadikan dirinya berkat bagi banyak orang. Jika kita berbuat salah, segeralah barui hidup dan meresponi kebaikan Tuhan yang mengampuni itu denan selalu berbuat baik dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Tuntun kami Tuhan agar selalu menjadi berkat bagi orang lain sebagai tanda hidup baru. Amin  

Selasa, 21 Oktober 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 1 – 19a

Saulus bertobat
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, 2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. 3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" 5 Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." 7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. 8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. 9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum. 10 Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!" 11 Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, 12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi." 13 Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. 14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu." 15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. 16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." 17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus." 18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.

Pertobatan Membawa Perubahan Arah Hidup

Masa depan setiap orang tidak ada yang tahu. Hari ini seseorang dapat menjadi orang baik, tetapi ke depan dapat juga berubah menjadi orang jahat. Sebaliknya, hari ini seseorang menjadi jahat, namun ke depan dapat mengalami perubahan menjadi orang baik dan berguna. Itulah yang dialami oleh Paulus. Sebelum bertobat dikenal dengan nama Saulus, pria yang sangat jahat dan selalu membunuh pengikut-pengikut Yesus. Saulus tidak pernah menyusun rencana untuk menjadi orang baik apalagi berencana menjadi rasul. Sebaliknya, Saulus menyusun rencana untuk menangkap orang-orang Kristen di rumah-rumah ibadat lalu dibawa ke hadapan imam besar untuk disidangkan. Benar kata firman Tuhan, rencanamu bukanlah rencanaKu, rancanganmu bukanlah rancanganKu. Ternyata Yesus menjumpai Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Perjumpaan Saulus dengan Yesus membawa pertobatan dan pembaruan. Ia dipakai oleh Yesus menjadi rasul yang memberitakan Injil Kristus kepada banyak orang. Pesan firman Tuhan ini adalah, pertobatan bukan hanya menyesali masa lalu, tetapi juga berbalik membarui arah hidup, dari jalan lama menuju jalan baru sesuai kehendak Tuhan. Kita akan dipakai untuk menjadi alat Tuhan memberitakan Injil, jika ada pertobatan yang sungguh dalam diri. 

Doa: Tuhan, ubahlah hidupku, dan pakailah aku menjadi alatMu untuk memberitakan Injil.  Amin. 

Rabu, 22 Oktober 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 7 : 14

4 dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri merek

Berbalik Kepada Tuhan Ada Pemulihan

Adakah dari antara kita yang ingin mengalami pemulihan dalam hidup?. Jika tidak ada, pertanda orang itu tidak ingin berkembang dan maju, serta tidak ingin mengalami hal-hal baik terjadi pada dirinya. Sebaliknya, jika ada berarti orang tersebut ingin berkembang dan mengalami kemajuan dalam hidup, serta mengalami hal-hal baik dalam hidupnya. Teks bacaan ini memberikan beberapa hal yang harus dilakukan jika ingin mengalami pemulihan dalam hidup, yaitu: merendahkan diri, berdoa, selalu mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan hidup yang jahat. Tuhan menampakkan diri dan menyampaikan hal tersebut kepada Salomo, apabila ingin pengampunan dosa dan pemulihan hidup terjadi pada umat Israel. Itulah janji Tuhan yang penuh kasih. Begitu pun dengan hidup kita, apabila kita bertobat dari kesalahan dan dosa, maka Tuhan akan mengampuni dosa, dan memulihkan kehidupan kita sehingga menjadi lebih baik lagi. Pertobatan nyata harus disertai perubahan hidup. Tidak cukup hanya mengaku dosa tetapi juga meninggalkan dosa. Kita semua dipanggil untuk menjadi umat yang rendah hati, berdoa, suka mencari wajah Tuhan dan sungguh-sungguh bertobat.

Doa: Tuhan, kami mengakui dosa, dan berharap pengampunan serta pemulihan dariMu.  Amin. 

Kamis, 23 Oktober 2025

bahan bacaan : Lukas 15 : 11 – 32

Perumpamaan tentang anak yang hilang
11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Bapa yang Merangkul

Setiap orang tua pasti pasti tidak ingin kehilangan anak, dan apabila ada salah satu anaknya hilang dari kehdupan keluarganya akan membuat kesedihan yang mendalam. Namun, jika anak yang hilang ditemukan atau telah kembali dan berada di tengah keluarga, ia pasti disambut dengan penuh sukacita oleh orang tua dan memulihkan martabatnya sebagai seorang anak. Itulah kisah yang disebutkan dalam perumpamaan ini. Perumpamaan tentang anak yang hilang menjadi sebuah gambaran akan kasih Allah yang berlimpah. Sebab itu Allah bersukacita atas pertobatan setiap orang dari dosa. Seberat apapun dosa, sedalam apapun kita jatuh. Kasih Allah tidak pernah habis.  Tuhan mengharapkan kita yang berdosa, bertobat dan kembali kepadaNya. Bahkan ketika kita masih jauh, Allah berlari menyambut kita.Inilah kabar sukacita Injil:  Allah bukanlah Allah yang menghukum tanpa belas kasih, melainkan Bapa yang merangkul.Jadi, pesan firman Tuhan ini kepada kita, jangan berlarut-larut hidup dalam dosa, kembalilah kepada Tuhan dan bertobatlah, sebab Tuhan merindukan kita berubah menjadi baik.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu merangkul kami yang berdosa ini,  Amin. 

Jumat, 24 Oktober 2025

bahan bacaan : Roma 12 : 1 – 8

Persembahan yang benar
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. 4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, 5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. 6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Berubahlah oleh Pembaruan Budi

Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak lepas dari kelemahan dan kesalahan. Siapa pun dia pasti pernah melakukan hal–hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menyangkalinya, sebab firman Tuhan sendiri mengatakan bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, seorang pun tidak ada yang benar. Semua manusia adalah orang berdosa (lihat Roma 3:9-20). Paulus menyebutkan bahwa manusia yang melakukan kesalahan atau dosa disebut sebagai manusia yang sudah menjadi serupa dengan dunia ini. Karena itu, harus ada pembaruan hidup. Kalimat yang digunakan Paulus adalah berubahlah oleh pembaruan budimu. Maksudnya supaya manusia dapat membedakan mana kehendak Allah, dan mana yang bukan kehendak Allah; mana yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna, serta mana yang tidak baik dan yang tidak sempurna. Tentu hal ini dimaksudkan agar kita tahu bahwa yang baik dan yang sempurna bagi Allah-lah yang harus dipegang dan dilakukan, dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hiduo, kudus dan nerkenan kepada Allah. Bukan korban bakaran atau persembahan materi yang terutama, melainkan hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan. Hidup kita akan berkenan kepada Tuhan bila kita mempersembahkan diri setiap hari kepadaNya, Hidup rendah hati dan melayani dengan setia. Itulah panggilan bagi kita sebagai umat kepunyaan Kristus.

Doa: Tuhan baruilah hati dan budi kami, agar semakin berkenan kepadaMu, Amin. 

Sabtu, 25 Oktober 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 14 – 25

14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. 18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, 19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." 20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. 21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. 22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; 23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan." 24 Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu." 25 Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Roh Kudus Menuntun Kepada Pembaruan Hidup

Apapun yang dilakukan oleh kita tidak akan pernah membuahkan hasil yang maksimal dan bermanfaat dalam hidup jika tidak meminta campur tangan kuasa Roh Kudus. Semuanya akan mubazir atau sia-sia. Itulah yang terjadi ketika Filipus memberitakan Injil di Samaria, dan hasilnya banyak orang mengikuti Yesus dan memberi diri di baptis, termasuk salah seorang tukang sihir. Meskipun demikian, mereka belum mengalami kuasa Roh Kudus dan ketika Petrus bersama Yohanes hadir di Samaria menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang dibaptis, mereka pun menerima kuasa Roh Kudus. Ketika melihat itu, tukang sihir tadi menawarkan uang agar mendapat kuasa yang sama. Tetapi ia ditegur Petrus. Meski keras, teguran petrus adalah panggilan kasih agar si tukang sihir itu bertobat. Ia menanggapi dengan meminta doa. Ini mengajarkan kita untuk tidak menutup diri saat ditegur. Allah masih memberi kesempatan, asal kita mau merendahkan diri dan kembali kepadaNya.Hanya Roh Kudus yang membuat terjadinya pembaruan hidup dalam diri kita. sehingga hidup, kerja dan pelayanan kita tidak mengejar harta dan penghormatan melainkan kemuliaan kepada Allah.

Doa: Tuhan, biarlah Roh KudusMu hadir dalam hidupku agar pembaruan terjadi padaku  Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Oktober 2025

Tema Bulanan :Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri

Tema Mingguan : Saling Mendengar sebagai Gereja

Minggu, 12 Oktober 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 15 : 1 – 21

Sidang di Yerusalem
Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." 2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa." 6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. 7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. 10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? 11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga." 12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. 13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: 14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. 15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: 16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, 17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, 18 yang telah diketahui dari sejak semula. 19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, 20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. 21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."

Mendengar Adalah Jembatan Hati Yang Berbeda

Ada kata bijak: “Saling mendengar adalah jembatan antara hati yang berbeda”. Kata bijak ini mau menjelaskan kepada kita bahwa perbedaan pasti ada dalam hidup; baik karakter, pendapat, nilai hidup bahkan dogma atau ajaran agama. Namun, jika perbedaan tersebut dipersoalkan maka akan terjadi perselisihan yang dapat merusak hubungan satu dengan yang lain. Karena itu mendengar adalah tindakan awal mencegah perselisihan. Dalam perikop ini, Paulus dan Barnabas meminta jemaat perdana untuk “mendengarkan” apa yang mereka katakan, bahwa keselamatan adalah anugerah Allah bagi semua orang, Yahudi maupun non-Yahudi. Keselamatan bukan karena melakukan sunat sebagai tradisi yahudi, melainkan karena anugerah Tuhan semata. Pesan bagi kita, sebagai gereja hendaklah kita saling mendengar untuk menunjukkan bahwa kita menghargai perbedaan, peduli terhadap yang lain, tetap terbuka dan rendah hati.

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk menjadi gereja yang mau mendengar, amin. 

Senin, 13 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 25 : 12

12 Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.

Teguran Yang Bijak, Telinga Yang Mendengar

Menegur adalah salah satu tindakan yang menunjukkan bahwa kita peduli terhadap orang lain. Kita mau membetulkan kesalahan atau membimbiing seseorang kembali ke jalan yang benar. Namun, sayangnya tidak semua teguran dapat diterima oleh orang lain, sebaliknya cenderung menghakimi, menjatuhkan dan mempermalukan dengan kata-kata yang kasar serta menyinggung perasaan. Hal ini dapat menimbulkan kemarahan, kekecewaan dan rasa malu yang mendalam bagi seseorang. Hal ini seperti yang digambarkan melalui ungkapan khas Papua yang sederhana: “ko pung maksud baik, tapi ko pung cara tu salah”. Karena itu, Pengamsal menunjukkan cara yang benar untuk menegur, yakni menggunakan kata-kata yang bijak, santun, etika dan penuh kasih karena teguran yang bijak sangat berharga (seperti emas)  untuk memperbaiki kesalahan seseorang. Mari arahkanlah telinga kepada teguran yang berfaedah untuk membawa perubahan hidup.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk menegur seseorang dengan bijaksana, Amin  

Selasa, 14 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 15 : 31 – 32

31 Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. 32 Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

Mendengar Teguran, Menjadi Berakal Budi

Setiap orang pasti pernah ditegur, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kenapa? Karena tidak ada manusia yang sempurna, dalam perjalanan hidup kita pasti pernah berbuat salah, bersikap kurang tepat dan keliru dalam mengambil keputusan. Karena itu, menurut penulis kitab Amsal, teguran itu penting agar seseorang memiliki akal budi atau hidup takut akan Tuhan. Dengan demikian, jika seseorang ditegur, baik oleh pemimpin, orang tua, rekan kerja bahkan dari orang-orang yang kita pimpin, hal itu dilakukan dengan maksud baik. Teguran yang disampaikan dengan kata-kata santun dan cara yang benar, harus diterima dengan berbesar hati, tidak berusaha untuk membela diri, mencari pembenaran atau membenci yang menegur. Teguran yang membawa kepada hidup berarti ada orang yang peduli, mau mengingatkan ketika kita salah jalan. Mendengarkan teguran, membuat kita menjadi berakal budi, sebab teguran yang diberikan dengan penuh kasih membimbing kita menjadi pribadi yang tangguh, rendah hati dan sukses dalam hidup.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk siap menerima teguran dengan rendah hati, Amin. 

Rabu, 15 Oktober 2025

bahan bacaan : Yakobus 1 : 19 – 20

Pendengar atau pelaku firman
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; 20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Cepat Mendengar, Lambat Berbicara

Peribahasa mengatakan: “Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara”. Artinya, seharusnya kita lebih sering mendengar daripada berbicara. Kenapa? Karena perkataan yang tidak bijaksana atau tidak dikontrol dapat menimbulkan konflik, menyakiti orang lain dan membuat kita berdosa, misalnya dengan berbohong, bergosip, mengeluarkan kata makian dan sebagainya. Perkataan-perkataan kita pada waktunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebab itu, Yakobus mengingatkan kita tentang tiga hal penting, yakni: cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah (ay.19). Itu artinya jangan kita cepat-cepat membangun opini atau memberikan tanggapan sebelum mendengar dengan jelas, mengontrol kata-kata dengan bijaksana agar kita tidak melakukan kesalahan, dan mengontrol emosi dengan baik agar kita tidak mudah marah yang dapat membawa kehancuran dan keretakan relasi.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk membangun hidup saling “mendengar” untuk mencegah perselisihan, Amin.  

Kamis, 16 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 12 : 15

15 Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.

Mendengar Nasehat Untuk Menjadi Bijak

Mengawali seluruh aktivitas kita di hari baru, firman Tuhan melalui pengamsal mengingatkan kita agar menjadi orang-orang bijak dengan mendengarkan nasehat. Nasehat yang kita peroleh baik melalui firman Tuhan pun juga melalui sesama bertujuan baik untuk kehidupan yang diberkati Tuhan. Bukan hal mudah saat kita mau mendengarkan nasehat yang baik, sebab terkadang sebagai manusia sifat keegoisan membuat kita merasa lebih pintar, hebat dan benar sehingga menolak untuk menerima nasehat yang disampaikan kepada kita. Jika kita bersikap demikian, maka pengamsal menyebut kita sebagai orang bodoh yang sangat percaya diri dengan berjalan menurut kehendak hati, Padahal semuanya itu menuju kepada kehancuran dan kebinasaan hidup. Oleh sebab itu, marilah kita selalu meminta tuntunan hikmat Tuhan agar baik sebagai orang tua maupun anak-anak, kita menjadi orang-orang yang selalu rendah hati dan mau membuka telinga dan hati untuk mendengarkan setiap nasehat yang baik dan positif serta melakukannya demi kehidupan yang diberkati Tuhan.   

Doa:  Tuhan, tuntun kami dengan hikmatMu agar kami mau mendengar nasehat untuk menjadi bijak. Amin   

Jumat, 17 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 18 : 15

15 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

Hati Sebagai Pusat Untuk Memperoleh Pengetahuan Yang Baik

Kehidupan yang kita jalani sebagai orang percaya dengan berbagai tantangan, persoalan dan pergumulan hidup mesti menyadarkan kita untuk pentingnya mengupayakan pengetahuan yang diperoleh melalui hikmat Tuhan. Pengamsal dalam bacaan firman Tuhan di hari ini menasehati agar hikmat Tuhan harus menguasai hati  sebagai pusat kehidupan agar memberikan pengetahuan bagi kita. Hikmat sangat penting bagi kita, tetapi itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita perlu mengupayakannya. Karena itu, hati orang berpengertian akan selalu terbuka untuk belajar dan telinga orang bijak kan selalu siap mendengar.  Sebab itu kita perlu belajar menjadikan hati dan pendengaran untuk memperoleh pengetahuan yang baik.  Sikap yang rendah hati untuk terus belajar adalah tanda dari kebijaksanaan. Maka orang yang berhenti belajar akan cepat puas, namun orang yang bijaksana sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari dari Tuhan dan firmanNya, dari sesama bahkan dari pengalaman hidup.

Doa : Ya Tuhan kami mohon kuasa hati kami dengan hikmatMu untuk mendapatkan pengetahuan. Amin   

Sabtu, 18 Oktober 2025

bahan bacaan : Amsal 18 : 13

13 Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

Mendengar Sebelum Memberi Jawaban

Pengamsal memberi nasehat dengan selalu membandingkan antara mereka yang bijak dan mereka yang bodoh. Salah satunya melalui firman Tuhan di hari ini yang menegaskan tentang mereka yang bijak adalah mereka yang akan mendengar dahulu baru memberikan jawaban. Sedangkan mereka yang bodoh akan langsung menjawab tanpa berkesempatan untuk mendengar.  Memberikan jawaban tanpa mendengarkan,  memperlihatkan bahwa kita kurang bijaksana. Hal ini ibarat kita mau memperbaiki sesuatu namun kita tidak tahu apa yang rusak. Tindakan tersebut oleh pengamsal disebutkan mempertontonkan kebodohan dan mempermalukan diri sendiri. Pengamsal menasehati agar hendaknya kita menjadi pendengar yang baik sebelum menjadi pembicara yang baik. Sebelum kita memberikan jalan keluar berupa tanggapan, saran atau solusi, kita telah mendengar dengan sungguh-sungguh dan memahami duduk masalah atau persoalannya sehingga kita dapat memberikan saran dan solusi dengan baik. Seperti slogan Kantor Penggadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah” dan bukan menyelesaikan masalah tambah masalah. Hal menyelesaikan masalah dapat kita lakukan, asal mau mendengar dan memohon hikmat dari Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, ajar kami untuk selalu mendengar lebih dulu sebelum menjawab. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 05 – 11 Oktober 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Bersyukur dan Mentransformasi Diri

Tema Mingguan : Bersekutu, Bersaksi dan Saling melayani Sebagai Gereja

Minggu, 05 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Petrus 4 : 7 – 11

Hidup orang Kristen
7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. 8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. 9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. 10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Waspadalah! Jangan Kehilangan Jati Diri

Kita bersyukur atas anugerah keselamatan yang Tuhan berikan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sakramen Perjamuan Kudus merupakan cara kita untuk mengenang kembali pengorbanan Tuhan. Dalam kaitan itu, rasul Petrus dalam nas bacaan ini mengingatkan, kesudahan segala sesuatu sudah dekat, sebab itu kuasailah dirimu dan waspadalah supaya kamu dapat berdoa. Hal ini diingatkannya kepada penerima surat ini yang memang sedang berada dalam tekanan di kala itu. Seberat apapun penderitaan yang dialami, mereka harus menguasai diri dan tetap waspada. Tidak membiarkan diri dikuasai oleh kejahatan, tetapi harus terus hidu saling mengasihi. Melalui surat ini kita pun diingatkan, seberat apapun keadaan hidup yang dialami anak-anak Tuhan, kita tidak boleh menyerah dan kehilangan kasih. Ini teladan Tuhan Yesus bagi kita. Walaupun berada di puncak penderitaan, Ia tetap taat dan memberlakukan kasih. Jika melihat situasi kita sekarang, di saat tekanan ekonomi dan politik sedang dihadapi. Kita mungkin dapat terbawa situasi untuk berubah, namun kita diingatkan agar kuasai diri dan waspada. Jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai anak-anak Tuhan. Laksanakanlah tugas panggilan sebagai orang yang beriman dan tunjukanlah kasih, itulah cara kita meresponi kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami waspada dan mengendalikan diri dari segala yang jahat, amin  

Senin, 06 Oktober 2025

bahan bacaan : Yohanes 15 : 26 – 27

26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. 27 Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."

Kesaksian  Gereja Dalam Karya Roh Kudus

Gereja tidak boleh hanya bersekutu ke dalam, tetapi juga keluar untuk memberitakan Kristus dengan perkataan dan tindakan. Untuk itu, tantangan bahkan ancaman dalam pelayanan merupakan realitas yang harus dihadapi oleh gereja, sama seperti yang telah dialami oleh jemaat Kristen pada akhir abad pertama. Jemaat Kristen yang menjadi latar konteks Injil Yohanes merupakan jemaat yang saat itu sementara menghadapi penolakan keras, baik dari orang Yahudi (sinagoga) maupun dunia Romawi. Pengikut Kristus sering diusir dari sinagoga (lih. Yoh 9:22) dan dianggap kelompok sesat. Teks Injil Yohanes hadir untuk menguatkan jemaat yang sedang mengalami kebencian, penganiayaan, dan tekanan sosial-politik tersebut. Nasehat Yesus kepada para murid untuk bersaksi disertai dengan pemberian Roh Kudus sebagai penolong bagi mereka. Yesus menyatakan bahwa gereja tidak sendirian dalam melakukan tugas bersaksi dan melayani, sebab ada Roh Kudus. Roh Kudus  menjadi Penghibur dan menguatkan serta memampukan para murid untuk bersaksi tentang Kristus, sebab mereka telah bersama Yesus “sejak semula”. Kita pun bertanggung jawab untuk bersaksi tentang Kristus. Tapi gereja bukan bersaksi dan melayani dengan usaha sendiri, melainkan dalam karya bersama Roh Kudus.

Doa :  Tuhan, tolonglah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk bersaksi dan melayani. Amin.

Selasa, 07 Oktober 2025

bahan bacaan : Roma 7 : 6   

6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

Pelayanan Menurut Roh

Paulus menegaskan bahwa melalui Kristus, orang percaya telah “mati bagi hukum Taurat.” Artinya, orang percaya tidak lagi terikat pada sistem hukum yang kaku dan formalistis sebagai jalan memperoleh kebenaran. Kematian dan kebangkitan Kristus membuat orang percaya bebas dari kuasa hukum yang menuduh. Pembebasan ini bukan berarti orang percaya hidup tanpa arah, melainkan hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Roh yang menggerakkan orang percaya untuk melayani dengan menolong seseorang, menghibur yang berduka, atau menegur dengan kasih. Melayani “menurut Roh” berarti Roh Kudus memberi kuasa, motivasi, dan arah dalam pelayanan, sehingga pelayanan tidak dilihat sebagai beban, tetapi merupakan tindakan yang disertai dengan sukacita. Melayani juga bukan untuk mencari pujian atau menunaikan kewajiban, tetapi karena kasih Kristus menguasai kita. Pelayanan kita menyatakan kuasa yang membebaskan. Sebagai Gereja, kita melayani bukan dengan aturan kaku yang membebani, tetapi dengan kasih yang membebaskan, memulihkan, dan membangun hidup.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk melayani menurut tuntunan Roh-Mu. Amin  

Rabu, 08 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Korintus 9 : 13 – 14

13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? 14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

Pelayanan Sebagai Ketetapan Allah

Pelayanan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan penetapan Allah. Seperti imam Lewi dipilih untuk melayani di mezbah, demikian pula pelayan Injil ditetapkan Tuhan untuk hidup dalam panggilan melayani. Artinya: panggilan pelayanan memiliki dasar otoritas Allah, bukan semata keinginan manusia. Pelayan yang memahami bahwa panggilannya adalah otoritas Allah akan melihat dirinya bukan sebagai “pekerja organisasi,” tetapi sebagai hamba Allah yang diutus. Ia tidak melayani untuk menyenangkan diri atau manusia, tetapi untuk taat kepada Allah. Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani melalui peran dan tugas yang sementara diembannya atau dilakukannya. Pelayanan bukan hanya milik pendeta atau hamba Tuhan penuh waktu, tapi setiap orang percaya ditetapkan Allah untuk melayani melalui hidup dan pekerjaannya sehari-hari. Seorang pengemudi motor atau ojek misalnya, dipanggil untuk melayani melalui pekerjaannya. Ia harus melayani dengan jujur dalam tarif, tidak menipu pelanggan. Sopan dan ramah, memberi senyum dan sikap hormat serta tidak berkata kasar. Ia menolong penumpang, misalnya menunggu dengan sabar, bahkan mendoakan orang yang diantar secara diam-diam. Demikian pun dalam segala yang kita kerjakan, biarlah kita mengerjakannya dalam dasar takut kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarkanlah kami untuk melakukan tugas dan kerja kami sebagai wujud pelayanan yang ditetapkan Allah. amin 

Kamis, 09 Oktober 2025

bahan bacaan : 1 Yohanes 1 : 1 – 4   

Kesaksian rasul tentang Firman hidup
Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. 2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. 3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Sukacita  Sebagai Buah Persekutuan

Sukacita Kristen bukan terutama dari keadaan lahiriah, melainkan dari relasi kasih yang menyatu dengan Allah dan sesama dalam Kristus. Menurut Yohanes dalam teks ini, persekutuan dengan Allah tidak mungkin tanpa pengenalan dan iman kepada Yesus Kristus. Allah menghadirkan hidup kekal melalui Kristus, sehingga orang percaya dipanggil masuk dalam persekutuan dengan-Nya (ayat 2–3). Persekutuan orang percaya dengan Allah berarti hidup dalam relasi yang nyata dengan-Nya, bukan sekadar pengetahuan intelektual. Yohanes kemudian menegaskan salah satu alasanya yakni “supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami” (ayat 3). Persekutuan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari persekutuan dengan sesama orang percaya. Kasih Allah yang dialami orang percaya harus terwujud dalam kasih dan kebersamaan dengan saudara-saudara seiman. Hasil dari persekutuan dengan Allah dan sesama itu adalah sukacita yang sempurna (ayat 4). Jemaat memang harus hidup saling menguatkan, berbagi, menolong, dan mendoakan sebagai wujud kasih yang dialami bersama, bukan sendirian.

Doa: Kami ingin tetap bersekutu dengan-Mu, ya Tuhan, supaya hidup kami dipenuhi sukacita. Amin  

Jumat, 10 Oktober 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 26 : 19 – 23

19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. 20 Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. 21 Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku. 22 Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, 23 yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain."

Melayani Tanpa Pandang Bulu

Gereja dipanggil untuk melayani semua kalangan, tanpa membedakan berdasarkan status sosial, etnis, gender, atau latar belakang. Melayani tanpa pandang bulu adalah wujud nyata kasih Allah yang merangkul semua orang, bahkan mereka yang dianggap hina atau terbuang. Teks hari ini menegaskan bahwa pelayanan sejati adalah ketaatan pada panggilan Allah untuk memberitakan Injil bagi semua orang, tanpa diskriminasi, dan berpusat pada Kristus yang bangkit. Paulus menyatakan tanggung jawab pemberitaan injil kepada semua bangsa dalam kesaksiannya di hadapan Raja Agripa. Ia menceritakan pertobatannya yang terjadi di Damsyik dan bagaimana ia berbalik kepada Allah, serta melakukan pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan (ayat 20). Pesannya disampaikan pertama kepada orang Yahudi, lalu kepada bangsa-bangsa lain (ayat 20–21). Hal ini menegaskan prinsip iman bahwa Allah tidak membeda-bedakan (band. Kis. 10:34). Pelayanan sejati memang harus terbuka bagi siapa pun yakni kaya–miskin, laki–perempuan, dll tanpa membatasi kasih karunia Allah. Karena itu, marilah kita bersaksi dan melayani tanpa pandang bulu.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayani tanpa membeda-bedakan. Amin 

Sabtu, 11 Oktober 2025

bahan bacaan : Yohanes 17 : 24 – 26

24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. 25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."

Persekutuan Sebagai Wujud Pemberitaan Injil

Bulan Oktober dikenal sebagai bulan Pemberitaan Injil (PI). Tugas mengabarkan Injil bukan sekedar memberitakan tentang Yesus kepada orang banyak, tetapi membawa orang masuk ke dalam persekutuan; dalam hubungan yang hidup dengan Allah dan dengan sesama. Hal ini dijelaskan dalam bagian bacaan kita tadi,  dimana salah satu tema utama dalam doa Tuhan Yesus adalah persekutuan (bersekutu). Tuhan Yesus ingin agar semua murid-Nya (gereja) hidup dalam persekutuan. Sebab dengan kita bersatu dalam kasih Allah, maka kita akan memandang kemuliaan Allah (ay.24). Kemuliaan Allah adalah anugerah bagi setiap orang percaya untuk hidup kekal bersama Kristus. Doa Yesus mengingatkan kita untuk menjauhkan dari persekutuan, aroma kesombongan, iri hati, kebencian, fitnah, saling menghakimi dan saling menjatuhkan. Hal ini memang sedang terjadi dimana-,mana (keluarga, gereja, kantor, kampus, sekolah, tempat kerja dll) yang menghancurkan kebersamaan. Marilah kita tetap membangun persekutuan yang baik sebagai wujud pemberitaan injil.

Doa:  Tuhan Yesus tuntun kami agar hidup sebagai gereja yang bersekutu dan saling mengasihi, Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Sept – 04 Okt 2025

Tema Bulanan : Gereja Yang Berbuah: Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah

Tema Mingguan : Gereja yang Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah

Minggu, 28 September 2025

bahan bacaan : Roma 14 : 13-23

Jangan memberi batu sandungan
13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! 14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. 15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. 16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. 17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. 19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. 20 Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! 21 Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu. 22 Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. 23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Hadirkanlah Kasih, Damai Sejahtera Dan Sukacita

Panggilan kita sebagai gereja yaitu persekutuan umat percaya adalah menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah yakni kasih, sukacita, kebenaran dan damai sejahtera. Mewujudkan hal demikian merupakan hal penting sebagaimana karya Allah yang telah dilakukan dalam cinta kasih Tuhan Yesus melalui pengorbananNya mati dan bangkit demi keselamatan dunia dan orang percaya. Melalui surat pastoral kepada jemaat di Roma, Paulus mengingatkan jemaat untuk mewujudkan hal tersebut dan tidak mempersoalkan hal-hal sepele tentang makanan. Sebab kondisinya akibat soal ini membuat mereka saling menghakimi dan menjadi sandungan antara satu dengan yang lain serta berdampak tidak baik bagi persekutuan jemaat. Paulus tegaskan agar mereka meninggalkan cara berpikir dan bertindak demikian, namun mereka harus sadar akan panggilan mereka untuk mewujudkan sikap hidup yang mendatangkan tanda-tanda kerajaan Allah. Demikianpun kita saat ini, dimana pun dan kapanpun panggilan itu harus kita lakukan dengan menghadirkan kasih, damai sejahtera, sukacita dan kebenaran melalui seluruh kerja dan akivitas keseharian kita. Kesemuanya itu adalah demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Doa:  Tuhan tolonglah kami agar dapat mewujudkan kasih, damai Sejahtera dan sukacita bagi semua orang. Amin.-

Senin, 29 September 2025

bahan bacaan : 1 Korintus 4 : 14-21

14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. 15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. 16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! 17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat. 18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu. 19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. 20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. 21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?

Keteladanan adalah Kata dan Tindakan

Kita mungkin pernah mendengar ada yang menyatakan bahwa tindakan lebih kuat daripada kata-kata. Kata-kata ini ada benarnya juga sebab kita memahami bahwa faktanya orang akan menilai seperti apapun bukan hanya tergantung dari kata-kata yang indah atau diplomatis, melainkan dari apa yang kita lakukan. Kita bisa saja berkata kasih, tetapi bila dalam hidup, orang mengenal kita sebagai seorang yang sulit didatangi untuk memintakan kesediaan memberikan sumbangan, kata-kata kasihkita dianggap hanya menjadi ucapan pemanis bibir saja. Kita bisa saja mengajarkan orang untuk percaya kepada Tuhan, namun ketika kita ada dalam situasi sakit dan kita mendatangi tukang baroba maka kesaksian kita dipertanyakan. Jemaat Korintus adalah jemaat yang besar. Perselisihan yang mengakibatkan perpecahan . Perlakuan satu terhadap yang lain sangat memprihatinkan. Tarikan budaya duniawi menambah keresahan terkait keberadaan Kekristenan di Korintus. Paulus menegur pola hidup seperti ini. Hidup sebagai pengikut Tuhan itu bukan hanya berkaitan dengan apa yang diyakini dan dikatakan, tetapi juga apa yang dilakukan. Karena itu, marilah kita mengevaluasi kehidupan keimanan kita. Semoga Tuhan Yesus menolong kita mengaktakan iman setiap dalam kata dan perbuatan.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami menyatakan iman melalui kata dan perbuatan kami, ,Amin.

Selasa, 30 September 2025

bahan bacaan : Matius 6 : 31-34

31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Jangan Kuatir

Tak pernah Tuhan janji hidupku takkan berduri, tak pernah Dia janji lautan tenang, tetapi Dia berjanji kan selalu sertaku, dan menuntun jalan hidupku slalu..” adalah sepenggal lagu rohani yang sangat memberikan inspirasi bagi kita. Melaluinya kita belajar untuk tidak kuatir. Memang harus diakui bahwa kekhawatiran adalah hal yang manusiawi. Dengan melihat berbagai realitas di masa sekarang ini siapapun pasti ada dalam kekhawatiran. Sekian daftarnya bisa disusun sebagai cara memperlihatkan betapa kuatir menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Hari ini Firman Tuhan memberikan pendasaran indah melalui jaminan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Sebagai Injil yang berbicara tentang hidup dan ajaran Tuhan Yesus, melaluinya kita juga diajari apa artinya menjadi umat Allah  dan hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Itulah sebabnya maka pertanyaan “ Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? “ tidak mesti menjadi pertanyaan orang percaya. Injil Matius menulis bahwa pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Tuhan Yesus mengajari kita bahwa hidup itu lebih penting dari apapun. Burung di udara Tuhan pelihara, bunga bakung di ladang Tuhan dandani, apalagi kita orang-orang yang dikasihi-Nya. Oleh sebab itu, mari belajar untuk tidak kuatir sebab seperti yang Tuhan katakan: kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Kuatir tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya Tuhan Yesus saja yang bisa menolong kita.  

Doa:  Ya Allah, pemeliharaanMu membuat kami tak lagi kuatir. ,Amin.

Rabu, 01 Oktober 2025

bahan bacaan : Lukas 15 : 8 – 10

Perumpamaan tentang dirham yang hilang
8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. 10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

Sukacita karena Menemukan yang Hilang

Menurut kamus Alkitab, dirham adalah mata uang emas dari Persia yang beratnya kurang lebih delapan gram dan juga mata uang perak dari Yunani yang nilainya hampir sama dengan satu dinar. Itu berarti cukup berharga, sehingga kehilangan satu keping menjadi begitu berarti bagi perempuan dalam perumpamaan ini. Dengan cermat ia mencari hingga menemukannya dan sungguh bersukacita. Dalam konteks waktu itu, para pemungut cukai disebut “pendosa” tetapi Tuhan mau mendekati mereka. Kasih Tuhan yang ajaib menggapai dan memulihkan mereka dari perasaan terbuang atau terhilang, menjadi manusia yang berharga. Perumpamaan dirham yang hilang ini menegaskan kasih dan keseriusan Allah untuk mencari siapapun yang terhilang atau terhempas dari komunitasnya. Bagaimana dengan kita, pernahkah kita merasa tidak berdaya dan terpisah dari komunitas atau terhilang? atau melihat saudara yang lain juga mengalaminya? Ingat, Tuhan Yesus begitu mengasihi dan mengharapkan kita kembali kepadaNya.Jika Tuhan Yesus begitu bergembira menemukan kita. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita menyambut kasih Tuhan yang besar itu? menutup diri atau membuka diri untuk diubahkan? Firman Tuhan ini mengingatkan, kita berharga sebab itu Tuhan rela turun ke dunia, mengambil jalan sengsara agar kita diselamatkan. Itu kabar sukacita tentang kerajaan Allah bagi kita.

Doa: Ya Bapa, tolong kami untuk tekun mencari dan menemukan sesama yang terhilang, amin. 

Kamis, 02 Oktober 2025

bahan bacaan : Markus 4 : 26 – 29

Perumpamaan tentang benih yang tumbuh
26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."

Tuhan Menumbuhkan Benih yang Ditabur

Tuhan Yesus mengajarkan hakekat Kerajaan Allah melalui perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur benih dan benih itu bertumbuh. Sebagai seorang penabur, pekerjaannya tentu menaburkan benih yang baik. Ia berpengharapan bahwa benih yang ditaburnya itu akan bertumbuh dan berbuah. Tetapi penabur diingatkan bahwa pertumbuhan benih yang ditaburnya itu, bukan ada di tangannya melainkkan di tangan Tuhan. Hidup dan pertumbuhan benih yang telah ditaburkan adalah anugerah Tuhan.  Allah sendiri turut bekerja dan kalau Allah bekerja dari benih yang kecil, Dia menumbuhkan. Maka yang kecil sekalipun akan bertumbuh menjadi besar, berdayaguna dan berdampak besar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa yang besar lebih memikat perhatian. Rumah yang besar, rezeki yang melimpah, prestasi raksasa, sungguh membuat kita terpesona. Tapi, jangan suka kecil hati pada proses yang dimulai dari yang kecil. Menghayalkan yang tidak dipunyai. Di tangan Tuhan potensi dan talenta sekecil apapun sungguh berharga. Kita harus tekun dan setia mengerjakan hal apapun, mulai dari yang kecil, dengan menabur benih kebaikan setiap waktu. Percayalah, Tuhan akan memberkati setiap benih kebaikan yang ditabur agar bertumbuh dan berbuah melimpah-limpah sehingga bermanfaat bagi banyak orang.

Doa: Ya Bapa, ajarilah kami untuk tetap setia menabur kebaikan dari hal-hal yang kecil, amin. 

Jumat, 03 Oktober 2025

bahan bacaan : Lukas 15 : 1 – 7

Perumpamaan tentang domba yang hilang
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Bawa Pulang yang Tersesat dan Terhilang

Perumpamaan tentang domba yang hilang memiliki makna yang sama dengan perumpamaan tentang dirham yang hilang dan anak yang hilang. Ketiganya menceritakan tentang kasih dan keseriusan Allah untuk mencari manusia yang berdosa. Ketiga perupamaan di Injil Lukas ini berkaitan dengan kisah di ayat-ayat sebelumnya tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut karena Yesus makan dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Akan tetapi Tuhan Yesus tahu apa yang dipikirkan mereka dan menjelaskan kehendak-Nya dengan tiga perumpamaan ini.  Melaluinya, Lukas mau mengajarkan bahwa Tuhan Allah didalam Yesus Kristus begitu mengasihi kita manusia berdosa. Sebab itu Ia datang kedalam dunia untuk mencari milikNya, manakala mereka tersesat atau terhilang. Ini sungguh kabar baik tentang Kerajaan Allah bagi semua orang. Sebab itu, selaku orang-orang yang telah menikmati anugerah Tuhan ini, maukah kita juga terlibat sebagai alat dalam tangan Tuhan untuk mencari dan menemukan di sekitar kita orang-orang yang “tersesat dan terhilang”, bagi kemuliaan dan sukacita Tuhan?. Mereka sangat membutuhkan pendampingan dan bimbingan, kasih dan pemulihan. Mari kita menolong mereka, bawa pulang yang tersesat dan terhilang.

Doa: Tuhan, kami mau terus mencari dan menemukan domba yang hilang bagi-Mu,  amin

Sabtu, 04 Oktober 2025

bahan bacaan : Markus 4 : 30 – 34

Perumpamaan tentang biji sesawi
30 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? 31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. 32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." 33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, 34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Mulai Dari Yang Kecil

biasanya kita memandang remeh pada apa yang kecil dan sebaliknya kagum pada apa yang besar.  Kita suka kagum melihat bangunan mewah yang besar. Kita hormat pada orang besar. Kita menyukai prestasi yang besar dan sebagainya.  Padahal kalau kita memikirkan lebih jauh, yang besar itu berawal dari yang kecil, bukan? Hal-hal yang besar tidak terjadi mendadak, tetapi merupakan kelanjutan atau hasil dari hal-hal kecil. Menjadi besar itu membutuhkan proses. Dikatakan, Kerajaan Allah seumpama biji sesawi yang sangat kecil ukurannya, sekitar setengah milimeter. Tetapi biji yang kecil ini dalam prosesnya bertumbuh menjadi pohon besar, sehingga burung-burung dapat membuat sarang disitu. Demikianlah gambaran Kerajaan Allah, dimulai dari apa yang sangat kecil, lalu terus bertumbuh menjadi besar. Dari perumpamaan ini kita melihat, ada proses yang harus dilalui untuk menjadi besar. Itulah sebabnya kita perlu bekerja. Kita menabur, menanam dan menyiram. Tetapi ada Allah yang juga bekerja memberikan pertumbuhan. Maka kita yakin, kalau kita mau hal-hal yang besar, harus setia mengerjakan perkara-perkara yang kecil. Kalau kita mau punya karakter yang besar seumpama integritas, itu harus berproses dari kebiasaan-kebiasaan kecil setiap hari, misalnya kebiasaan untuk berkata dan bersikap jujur. Setia dan jujur dari kecil.

Doa: Kami percaya Tuhan turut bekerja dibalik yang kecil untuk mendatangkan hal yang besar bagi kerajaan-Mu, amin.  

*SUMBER : SHK BULAN SEPT DAN OKT 2025, LPJ-GPM