Blog

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 Oktober 2026

Tema Bulanan : Gereja Mewartakan Kasih Allah Yang Tidak Berkesudahan

Tema Mingguan : Hidup Dalam Kasih Allah Yang Menguatkan dan Memberdayakan

Minggu, 18 Oktober 2026

bahan bacaan : Yesaya 40 : 27 – 31 (TB2)

27 Mengapa engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku diabaikan Allahku?" 28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN itu Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terselami pengertian-Nya. 29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. 30 Orang-orang muda menjadi letih lesu, teruna-teruna jatuh tersandung, 31 tetapi orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Allah Menguatkan yang Letih

Tidak semua kelelahan tampak dari luar. Ada orang yang tetap bekerja, melayani, dan tersenyum, tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan. Pergumulan yang berlangsung lama sering membuat seseorang bertanya, “Apakah Tuhan masih memperhatikan hidupku?” Perasaan seperti ini juga dialami oleh bangsa Israel ketika berada dalam pembuangan. Melalui nabi Yesaya, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Allah yang kekal, Pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak pernah kehilangan kuasa. Sebaliknya, manusialah yang terbatas sehingga bahkan orang muda pun dapat menjadi lesu dan jatuh. Namun, Allah berjanji memberikan kekuatan kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Orang yang menanti Tuhan akan memperoleh kekuatan baru dalam menghadapi perjalanan hidup.  Karenanya jangan pernah berhenti hanya karena pergumulan belum berakhir. Di tengah kelelahan, Tuhan hadir untuk menopang, memulihkan, dan memberi kekuatan baru. Jangan biarkan keputusasaan menguasai hati. Tetaplah berdoa, saling menguatkan, dan berpegang pada firman Tuhan. Kasih-Nya akan memberdayakan keluarga untuk tetap setia menjalani setiap tanggung jawab dan melangkah dengan pengharapan menuju masa depan yang telah Tuhan sediakan.

Doa: Tuhan kuatkan keluarga kami menjalani hidup seturut kehendak-Mu selalu amin.

Senin, 19 Oktober 2026

bahan bacaan : Mazmur 28 : 6 – 7 (TB2)

6 Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. 7 TUHANlah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya dan aku tertolong. Sebab itu, hatiku beria-ria dan dengan nyanyianku aku bersyukur pada-Nya.

Berserulah pada Tuhan

Terkadang beban hidup terasa sangat berat menindih, langkah kaki berat, dan air mata menetes membasahi wajah yang haus  pertolongan. Di saat itu mungkin terlihat seolah semua mata tertutup dan semua telinga tidak lagi peka mendengar jeritan minta tolong. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa masih ada Tuhan. Kita dapat datang pada-Nya dalam keheningan kalbu dan menyampaikan setiap keluh kesah. Kesaksian ini terdapat dalam kata-kata Daud. Ia meyakini bahwa dalam kemelut yang teramat sangat besar dan saat ia berserah kepada Tuhan, Daud menyakini sungguh bahwa Tuhan akan mendengar seruannya. Daud menyakini Tuhan adalah kekuatan dan perisai dan karena itu Daud sungguh bersyukur untuk segala kebaikan Tuhan. Kekuatan Tuhan sanggup memulihkan keadaan hati yang hancur bahkan kehidupan yang berat sekalipun.  Sebab itu, jangan ragu datanglah pada-Nya dalam  seruan. Tuhan mendengar dan akan menjawab semuanya indah dan tepat pada waktuNya.

Doa: Tuhan, Engkaulah kekuatan dan Perisaiku. Aku bersyukur untuk segala kebaikanMu. amin.

Selasa, 20 Oktober 2026

bahan bacaan : Keluaran 15 : 1 – 3 (TB2)

Nyanyian Musa dan Israel
Pada waktu itu Musa bersama orang Israel menyanyikan kidung ini bagi TUHAN: "Aku hendak bernyanyi bagi TUHAN, sebab Ia luhur dan jaya, kuda dan penunggangnya dicampakkan-Nya ke dalam laut. 2 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Dia telah menjadi keselamatanku. Dia Allahku, kupuji Dia, Dia Allah bapaku, kutinggikan Dia. 3 TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.

Memuji Tuhan adalah Kerinduan Orang Percaya

Ada begitu banyak cara yang sering digunakan orang untuk mengekspresikan apa yang dirasakan atau yang dialami. Salah satunya ialah melalui nyanyian. Nyanyian dapat digunakan sebagai obat saat seseorang menghadapi pergumulan yang berat. Nyanyian pujian bukan saja dapat menyejukan hati, tetapi juga memampukan kita  mengalihkan pandangan dari  masalah  yang membelenggu kita. Teks ini adalah ekspresi iman Musa dan bangsa Israel yang mengalami kasih Allah yang telah tampil sebagai pahlawan perang dan yang menjadi satu satunya kekuatan serta penyelamat yang melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Musa dan bangsa Israel sungguh–sungguh menjadikan nyanyian pujian mereka sebagai bentuk syukur dan ungkapan sukacita atas mujizat besar yang dilakukan Tuhan. Tuhan menolong sehingga mereka dapat menyeberangi laut Teberau. Tangan Tuhan yang kuat telah menghancurkan musuh–musuh mereka. Kita pun saat ini harus tetap menyanyikan kidung pujian bagi Tuhan karena Tuhan baik, kasih setiaNya melebihi segala sesuatu yang kita impikan dan dambakan. Mari saat ini kita belajar untuk mengubah setiap keluh kesah kita dengan tetap menyanyikan kidung pujian bagi Tuhan. Dengan iman tetap mengakui-Nya sebagai Tuhan yang hadir untuk membawa kebaikan di segala situasi kehidupan.

Doa: Ya Tuhan, Engkaulah keselamatanku, kepadaMu aku berlindung.. amin.

Rabu, 21 Oktober 2026

bahan bacaan : Ulangan 31 : 1 – 8 (TB2)

Yosua sebagai pengganti Musa
Kemudian Musa pergi dan menyampaikan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel. 2 Katanya kepada mereka: "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun dan tidak dapat memimpin lagi. Juga TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. 3 TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu dan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga kamu dapat memiliki negeri mereka; Adapun Yosua, dia akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. 4 TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka. 5 TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan kamu harus melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. 6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gentar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu; Ia tidak akan membiarkan kamu dan tidak akan meninggalkan kamu." 7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab kamu akan masuk bersama bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka, engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. 8 Sebab TUHAN, Dialah yang berjalan di depanmu, dan Dia akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah cemas."

Janji Tuhan Adalah Kekuatan Yang Meneguhkan Hati

Hari esok bagi semua kita adalah rahasia, karena itu tidak ada satupun diantara kita tahu apa yang akan terjadi di kurun waktu yang akan kita jelang. Tidak sedikit yang kemudian mengalami kekuatiran. Namun kita harus percaya Tuhan sudah lebih dulu berjalan didepan kita, Tuhan yang menjadikan kita,  Tuhan kenal siapa kita dan oleh karena itu jalan yang akan kita telusuri telah dibukakan-Nya bagi kita. Dari teks hari ini kita belajar bahwa kekuatan kita bukan terletak pada siapa yang kelak akan memimpin, karena kempemimpinan manusia itu ada masanya.  Musa tampil dan menguatkan bangsa Israel bahwa kemenangan demi kemenangan yang mereka raih adalah atas kepemimpinan Tuhan, Tuhan sendiri yang berjalan didepan mereka untuk memusnahkan semua bangsa, serta  memberikan kelepasan dan kemenangan bagi mereka. Karenanya, jangan takut menghadapi hari esok sebab Tuhan ada berjalan didepan kita. Janji penyertaan-Nya adalah sauh yang kuat dan meneguhkan hati serta jiwa kita.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami tetap teguh memegang janjiMu. amin.

Kamis, 22 Oktober 2026

bahan bacaan : 1 Tawarikh 16 : 7 – 13 (TB2)

Kidung pujian Daud
7 Pada hari itu juga, untuk pertama kalinya Daud menyuruh Asaf dan saudara-saudaranya menyanyikan syukur bagi TUHAN: 8 Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! 9 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, perbincangkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! 10 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, hendaklah bersukacita hati orang-orang yang mencari TUHAN! 11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya senantiasa! 12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan Keputusan-keputusan yang diucapkan-Nya, 13 hai anak cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

Perbuatan Tangan Tuhan Ajaib, Carilah WajahNya

Bersyukur adalah cara kita mengakui otoritas dan kedaulatan Tuhan.Lihatlah betapa banyak dan tak terhitung dalam memori kehidupan kita. Betapa tuntunan dan penyertaan-Nya telah menghentar kita melewati kehidupan sampai pada waktu ini. Sukacita besar kita alami ketika dalam segala situasi hidup baik itu menyenangkan ataukah dalam kesusahan kita tetap berseyukur, memuji Tuhan dan menceritakan perbuatan ajaib-Nya sebab hanya dengan demikian kita akan menemukan sukacita dan kebahagiaan sejati. Ketahuilah bahwa Tuhan menghendaki kita memiliki hubungan yang sungguh-sungguh tulus dengan-Nya,. Tuhan tidak menginginkan adanya hubungan sesaat karena menginginkan  berkat jabatan, kesembuhan atau jawaban doa yang lain. Raja Daud menyerukan hal ini bagi Asaf dan saudara- saudaranya agar memimpin umat Israel menaikkan puji-pujian  kepada Tuhan karena perbuatan tangan Tuhan menuntun sehingga Tabut Perjanjian berhasil dipindahkan  ke Yerusalem. Perbuatan ajaib Tuhan ini harus diceritakan agar semua umat mengingat perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan. Jangan pernah melupakan perbuatan ajaib Tuhan, kenanglah itu, ceritakanlah perbuatan ajaibNya bagi keluarga dan semua yang kita jumpai. Katakan bagi diri kita dan kepada semua orang : carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu. Mari jadikan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup.

Doa: ya Tuhan, ajari aku tetap percaya pada-Mu, amin.

Jumat, 23 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 12 : 9a (TB2)

9 Namun, jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Duri dalam Daging dan Kasih Karunia yang Cukup

Kehidupan rasul Paulus tidak luput dari penderitaan. Ia menyebut pengalamannya sebagai “duri dalam daging” sebuah simbol dari kelemahan, keterbatasan, atau pergumulan berat yang terus-menerus ia rasakan. Paulus bahkan tiga kali memohon kepada Tuhan agar duri itu disingkirkan darinya. Namun, jawaban Tuhan melampaui logika manusia: duri itu tidak dicabut, tetapi kasih karunia Tuhan diberikan untuk memampukannya bertahan.Seringkali kita merasa minder, putus asa, atau tidak layak saat menghadapi keterbatasan. Padahal, Tuhan sering memakai titik-titik terlemah dalam hidup kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya, sehingga yang terlihat bukan kehebatan kita, melainkan kehebatan kuasa-Nya. Tuhan tidak selalu langsung mengubah atau menghapus masalah kita. Namun, Dia berjanji memberikan kasih karunia yang tepat dan cukup pada waktunya untuk menguatkan langkah kita hari demi hari. Dengan menyadari keterbatasan diri, kita belajar untuk sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, bukan pada kekuatan atau kepandaian kita sendiri. Bila hidup terasa berat atau melemahkan, alih-alih tawar hati, pandanglah itu sebagai tempat di mana kuasa Tuhan rindu bekerja secara luar biasa dalam hidup.

Doa: ya Tuhan, ajari aku tetap percaya walau ada duri dalam hidupku, amin.

Sabtu, 24 Oktober 2026

bahan bacaan : Mazmur 59 : 17 – 18 (TB2)

17 Tetapi aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. 18 Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku yang mengasihi aku.

Kekuatan Di Tengah Tekanan

Mazmur ini ditulis Daud ketika ia berada dalam situasi yang sangat mencekam Namun, Daud tidak membiarkan rasa takut melumpuhkan imannya. Sebaliknya, ia mengalihkan pandangannya dari masalah kepada siapa Allah bagi dirinya. Daud memilih untuk bermazmur, memuji kekuatan Tuhan, dan bersorak-sorai karena kasih setia-Nya. Saat menghadapi kesesakan atau pergumulan hidup, reaksi alami manusia adalah mengeluh atau tawar hati. Namun, Daud memberi teladan untuk mengambil keputusan iman: memuji Tuhan dan menaikkan syukur di tengah situasi yang sulit.. Ia memandang Tuhan sebagai “kota benteng” dan “tempat perlindungan” yang kokoh, tempat ia aman dari segala marabahaya. Pemeliharaan Tuhan selalu baru setiap pagi. Kasih setia-Nya tidak pernah gagal, bahkan di malam-malam tergelap dalam hidup kita. Apakah Anda sedang menghadapi “kesesakan” atau tekanan yang membuat hati terasa berat?. Mari, arahkan hati, akui kelemahan dan naikkan pujian kepada Allah karena Allah adalah sumber kekuatan kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami kuat ditengah tekanan hidup. Amin

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Oktober 2026

Tema Bulanan : Gereja Mewartakan Kasih Allah Yang Tidak Berkesudahan

Tema Mingguan : Memberi Tanpa Pamrih Sebagai Wujud Kasih Yang Rela Berkorban

Minggu, 11 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 24 : 18 – 25 (TB2)

Mezbah didirikan dan Tulah berhenti
18 Pada hari itu Gad datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat pengirikan milik Arauna, orang Yebus." 19 Daud pun pergi, sesuai dengan perkataan Gad, seperti yang diperintahkan TUHAN. 20 Ketika Arauna memandang ke bawah, ia melihat raja beserta pegawai-pegawainya mendatanginya. Arauna pun ke luar, lalu sujud kepada raja dengan muka sampai ke tanah. 21 Arauna bertanya: "Untuk apakah tuanku raja datang kepada hambanya ini?" Jawab Daud: "Untuk membeli tempat pengirikan ini darimu dengan maksud mendirikan mezbah bagi TUHAN, supaya tulah ini berhenti menimpa rakyat." 22 Lalu berkatalah Arauna kepada Daud: "Baiklah tuanku raja mengambilnya dan mempersembahkan apa yang dipandangnya baik; Inilah lembu-lembu untuk kurban bakaran, juga papan-papan pengirik dan perangkat kuk lembu untuk kayu bakar. 23 Semuanya ini, ya raja, Arauna berikan kepada raja." Arauna berkata pula kepada raja: "Kiranya TUHAN, Allahmu, berkenan kepadamu." 24 Tetapi kata raja kepada Arauna: "Jangan, aku benar-benar mau membelinya darimu dengan suatu harga. Aku tidak akan mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan cuma-cuma." Lalu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu seharga lima puluh syikal perak. 25 Di sana Daud mendirikan mezbah bagi TUHAN dan mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. TUHAN pun mengabulkan doa untuk negeri itu, dan tulah berhenti menimpa orang Israel.

Arti Sebuah Pengorbanan

Firman Tuhan ini mengajarkan kita tentang arti sejati sebuah pengorbanan. Sikap Daud terhadap Arauna memberikan teladan iman yang sangat kuat bagi kita : ibadah dan persembahan kepada Tuhan tidak boleh didasarkan pada sesuatu yang murah, gampang, atau tanpa pengorbanan. Di tengah tantangan kehidupan saat ini, kita sering kali terjebak dalam mentalitas serba instan dan hitung-hitungan dalam memberi. Kisah ini menegur kita sebagai keluarga untuk merefleksikan kembali motif kita dalam melayani dan memberi, baik di dalam gereja maupun di tengah masyarakat. Memberi yang sejati adalah ketika kita rela melepaskan ego, kenyamanan, dan milik kita yang paling berharga demi kemuliaan nama Tuhan dan kebaikan sesama. Kasih yang rela berkorban tidak pernah mencari keuntungan diri sendiri, melainkan bergerak atas dasar ketulusan tanpa pamrih. Mari kita jadikan perenungan ini sebagai landasan hidup dalam membangun kehidupan mesra dengan Allah dan sesama, seturut semangat “hidup orang bersaudara” di bumi Maluku. Ketika kita mampu memberi dengan sukacita dan kerelaan berkorban baik itu waktu, tenaga, maupun materi maka mezbah ucapan syukur yang kita dirikan akan mendatangkan berkat dan pemulihan.

Doa : Tuhan, ajarkan kami melakukan teladan Kasih-Mu dengan rela berkorban, bagi Kemuliaan nama-MU, amin

Senin, 12 Oktober 2026

bahan bacaan : Kejadian 23 : 1 – 20 (TB2)

Kematian Sara dan pembelian kuburnya
Sara hidup selama seratus dua puluh tujuh tahun; sepanjang itulah umur Sara. 2 Kemudian Sara meninggal di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisi Sara. 3 Sesudah itu Abraham bangun dari sisi isterinya yang meninggal itu, lalu berkata kepada bani Het: 4 "Aku ini pendatang yang menumpang di antara kamu; berikanlah kepadaku kuburan sebagai milik di antara kamu, supaya aku dapat mengantar jenazah isteriku dan menguburkannya." 5 Jawab Bani Het kepada Abraham: 6 "Dengarlah kami, tuanku. Tuanku ini seorang pemimpin agung di antara kami; jadi kuburkanlah jenazah isterimu di kuburan kami yang terbaik. Tidak ada seorangpun dari kami yang akan menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan jenazah isterimu." 7 Kemudian sujudlah Abraham di hadapan bani Het, penduduk negeri itu, 8 serta berkata kepada mereka: "Jika kamu setuju, bahwa aku mengantar jenazah isteriku dan menguburkannya, dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan kepada Efron bin Zohar, 9 supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah ia memberikannya dengan harga penuh kepadaku sebagai kuburan milikku di antara kamu." 10 Pada waktu itu Efron hadir di antara bani Het. Lalu jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham yang didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota: 11 "Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sanapun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku aku memberikannya kepadamu; kuburkanlah jenazah isterimu." 12 Lalu sujudlah Abraham di hadapan penduduk negeri itu 13 serta berkata kepada Efron, yang didengar oleh mereka: "Sekiranya engkau berkenan, dengarkanlah aku: aku bayar harga ladang itu; terimalah dariku, supaya aku dapat menguburkan jenazah isteriku di sana." 14 Jawab Efron kepada Abraham: 15 "Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah seharga empat ratus syikal perak, apalah artinya itu bagi engkau dan aku? Kuburkan sajalah jenazah isterimu." 16 Lalu Abraham mendengarkan usul Efron, ia menimbang perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya di hadapan bani Het, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. 17 Demikianlah ladang Efron, yang terletak di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta semua pohon di ladang itu, hingga di seluruh tanah batas itu, 18 beralih kepada Abraham menjadi miliknya, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota. 19 Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. 20 Demikianlah ladang dengan gua yang ada di sana beralih dari bani Het kepada Abraham menjadi kuburan miliknya.

Iman dan Kualitas Hidup Abraham

Teks ini memperlihatkan integritas hidup seorang beriman mampu menggerakkan hati orang-orang di sekitarnya untuk memberi dengan tulus. Kisah pedih tentang kematian Sara berubah menjadi kesaksian iman yang indah ketika Abraham hendak membeli sebidang tanah dari bangsa Het untuk kuburan istrinya. Kerelaan bangsa Het memberi ini lahir bukan karena sebuah paksaan, melainkan karena mereka melihat langsung kualitas hidup Abraham yang luar biasa, sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai seorang “raja agung di tengah-tengah kami” atau “pemimpin yang diutus Allah, kisah ini memberikan teladan mendalam tentang pentingnya menjaga karakter dan nama baik di tengah masyarakat. Abraham tidak pernah memaksakan kehendaknya atau memanfaatkan statusnya, melainkan selalu bertindak jujur, hormat, dan penuh sopan santun, bahkan saat hatinya sedang hancur karena berduka. Integritas inilah yang memancarkan wibawa rohani, sehingga orang lain dengan sukarela mengulurkan tangan membantu. Kita diajak untuk terus menanam hidup berwibawa melalui kejujuran, ketulusan dan sikap saling menghormati dalam kepelbagaian. Tuhan Yesus menolong kita.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk punya hati yang rela berkorban. Amin.

Selasa, 13 Oktober 2026

bahan bacaan : Yeremia 52 : 31 – 34 (TB2)

Yoyakhin dikasihani
31 Pada tahun ketiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin, raja Yehuda, dibuang, pada tanggal dua puluh lima bulan kedua belas, Ewil-Merodakh, raja Babel, pada tahun ia naik tahta, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. 32 Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kepadanya kedudukan yang lebih tinggi dari pada kedudukan raja-raja yang bersama dia di Babel. 33 Ia boleh mengganti pakaian penjaranya dan seterusnya boleh makan di hadapan raja selama hidupnya. 34 Untuk nafkahnya, raja Babel selalu memberikan kepadanya, bagian yang diperlukan setiap hari, selama hidupnya, sampai hari kematiannya.

Ketulusan Menopang Sesama

Cerita ini mengisahkan titik balik kehidupan Yoyakhin, raja Yehuda, yang dipenjarakan di Babel selama 37 tahun. Perubahan luar biasa terjadi ketika Ewil-Merodakh menjadi raja Babel. Tanpa menuntut jasa atau balasan masa lalu, raja baru ini melepaskan Yoyakhin, berbicara dengan baik kepadanya, dan mengangkat derajatnya lebih tinggi dari raja-raja lain yang ada di Babel. Allah ternyata sering kali memakai orang lain membawa pemulihan dan mengangkat martabat hidup kita dari keterpurukan. Kita dipanggil meneladani ketulusan ini dalam kehidupan sehari-hari. Mengangkat derajat hidup sesama bukan tentang mencari panggung, popularitas, atau mengharapkan keuntungan timbal balik. Ketika kita menolong anggota keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak jemaat, atau merangkul mereka yang tersisih, lakukanlah itu dengan motivasi yang murni. Ketulusan sejati terlihat saat kita rela mengulurkan tangan dan membagikan berkat kepada orang-orang yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita. Angkatlah beban sesama kita, hiduplah saling menopang di dalam jemaat dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menopang sesama, Amin.

Rabu, 14 Oktober 2026

bahan bacaan : Markus 12 : 41 – 44 (TB2)

Persembahan seorang janda miskin
41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memasukkan jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. 43 Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya."

Hati Tulus Memberi dan Berbagi

Melalui kisah ini, Yesus mengajak kita melihat esensi sejati dari sebuah pemberian. Di tengah keramaian Bait Allah, banyak orang kaya memberi dari kelimpahan mereka demi pujian atau sekadar kewajiban ritual. Namun, janda miskin ini memberikan dua peser, semua yang dimilikinya untuk hidup. Tuhan tidak pernah menilai besar kecilnya angka yang kita bawa ke tempat persembahan, melainkan ketulusan yang bersumber dari kedalaman hati. Kisah ini menjadi teguran sekaligus penghiburan bahwa persembahan terbaik adalah yang lahir dari kerelaan. Memberi dari kekurangan adalah bukti konkret dari iman yang radikal dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Janda miskin ini mengajar kita untuk tidak menjadi hamba dari kekhawatiran duniawi. Ketika kita memberi dengan tulus sesuai dengan apa yang ada pada kita, kita sedang mengosongkan diri dan mengizinkan kuasa Allah bekerja sepenuhnya untuk mencukupkan. Hidup kita harus mencerminkan sikap ini, di mana kita saling menopang dan berbagi berkat tanpa rasa takut akan kekurangan, sebab kita tahu Dialah sumber segala berkat yang tidak pernah kering. Ketika kita mampu memberi dengan hati yang tulus, kita sedang menyaksikan dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang penuh kasih di  dunia ini.

Doa: Tuhan, ajar kami melayani dengan ramah, tulus, dan penuh kasih, amin

Kamis, 15 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 8 : 1 – 7 (TB2)

Pelayanan kasih
Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang anugerah yang diberikan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2 Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Tuhan, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. 6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. 7 Karena itu sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

Sukacita Dari Memberi

Paulus mengajak jemaat Korintus membantu orang-orang percaya di Yerusalem yang mengalami kesulitan. Ia mencontohkan  jemaat-jemaat di Makedonia yang walaupun  menghadapi penderitaan dan hidup kekurangan, tetapi memberi dengan sukacita. Mereka tidak memberi karena memiliki banyak harta, tetapi karena mereka menyerahkan hidup kepada Tuhan. Firman ini memberi pesan bahwa memberi bukan hanya ketika hidup berkecukupan, tetapi juga ketika kita mau berbagi dari apa yang kita miliki. Kita dapat memberi perhatian kepada anggota keluarga yang sedang bergumul, menyediakan waktu mendengarkan, mendoakan mereka yang sakit, membantu tetangga yang membutuhkan, serta mendukung pelayanan gereja dengan hati yang tulus. Ketika orang tua memberi teladan dalam berbagi, anak-anak pun belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada kerelaan menjadi berkat bagi sesama. Keluarga yang memberi dengan sukacita akan bertumbuh dalam kasih, dipelihara oleh Tuhan, dan menjadi kesaksian yang hidup bagi lingkungan di sekitarnya.

Doa: Tuhan, teguhkan iman kami agar tetap rela memberi dalam segala keadaan. Amin.

Jumat, 16 Oktober 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 17 : 7 – 16 (TB2)

Elia dan janda di Sarfat
7 Akan tetapi sesudah beberapa waktu, wedi itu mengering, sebab hujan tidak turun di negeri itu. 8 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia: 9 "Pergilah sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Lalu berangkatlah ia ke Sarfat. Sesampainya ia di pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Ambillah bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Ambillah juga bagiku sepotong roti." 12 Sahut Perempuan itu: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti sedikitpun padaku, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, lalu aku akan pulang untuk mengolahnya bagiku dan anakku. Kami akan memakannya, lalu kami mati." 13 Tetapi kata Elia kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, lakukanlah seperti yang kaukatakan, hanya saja buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari tepung itu, dan bawalah kepadaku. Sesudah itu barulah kaubuat bagimu dan anakmu. 14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Perempuan itu pun pergi dan melakukan seperti yang dikatakan Elia; Perempuan itu dan seisi rumahnya serta Elia mendapat makan hari demi hari. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang disampaikan-Nya dengan perantaraan Elia.

Memberi Dalam Kekurangan; Bukti Iman

Setiap keluarga pasti pernah menghadapi masa-masa sulit. Penghasilan berkurang, kebutuhan hidup semakin besar, sementara masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, tidak sedikit orang memilih menyimpan apa yang dimiliki karena takut kekurangan. Janda di Sarfat melakukan sebaliknya. Dalam keluarga, sering kali kita merasa sulit berbagi karena khawatir kebutuhan sendiri tidak akan tercukupi. Namun, kisah janda di Sarfat mengingatkan bahwa Tuhan sanggup memelihara orang yang mengutamakan kehendak-Nya. Kerelaan memberi dapat diwujudkan melalui perhatian kepada anggota keluarga, berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan, mendukung pelayanan gereja, atau menyediakan waktu untuk menolong sesama. Ketika keluarga tetap rela memberi di tengah keterbatasan, mereka sedang membuktikan imannya. Allah yang memelihara janda di Sarfat tetap bekerja hingga hari ini. Ia mengenal kebutuhan kita, umat-Nya dan tidak pernah membiarkan orang yang percaya kepada-Nya kekurangan kasih karunia untuk menjalani hidup setiap hari.

Doa: Tuhan, ajari kami untuk tetap memberi walau dalam kekurangan, Amin.

Sabtu, 17 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 4 : 8 – 17 (TB2)

Perempuan Sunem dengan anaknya
8 Pada suatu hari Elisa berjalan lewat Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mendesak dia untuk makan. Jadi setiap kali lewat, ia singgah ke sana untuk makan. 9 Kata perempuan itu kepada suaminya: "Sesungguhnya aku tahu bahwa orang yang selalu singgah pada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. 10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil berdinding batu, baiklah kita menaruh di sana sebuah tempat tidur, meja, kursi dan kandil baginya. Apabila ia datang kepada kita, ia boleh tinggal di sana." 11 Pada suatu hari Elisa datang ke sana, lalu masuk ke kamar atas itu dan tidur di situ. 12 Kemudian ia berkata kepada Gehazi, hambanya: "Panggillah perempuan Sunem itu." Gehazi pun memanggilnya, lalu perempuan berdiri dihadapanya. 13 Elisa telah berkata kepada Gehazi: "Coba katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau panglima tentara?" Jawab perempuan itu: "Aku tinggal di antara kaumku!" 14 Kemudian Elisa berkata: "Apakah yang dapat dibuat baginya?" Jawab Gehazi: "Sesungguhnya, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua." 15 Kata Elisa: "Panggillah dia!" Ia memanggilnya, lalu perempuan itu berdiri di pintu. 16 Berkatalah Elisa: "Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan mendekap seorang anak laki-laki." Tetapi jawab perempuan itu: "Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!" 17 Perempuan itu pun mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu, pada tahun berikutnya, sesuai dengan yang dikatakan Elisa kepadanya.

Keramahan Yang Mendatangkan Berkat

Dalam kehidupan ini, kita sering berdoa agar Tuhan menjawab kebutuhan dan pergumulan kita. Namun sebelum Allah menyatakan mukjizat-Nya, Ia terlebih dahulu membentuk hati yang mau mengasihi dan melayani dengan sepenuh. Perempuan Sunem tidak dikenal karena doa-doanya yang panjang, melainkan karena kepekaannya mengenali Elisa sebagai abdi Allah dan keramahannya melayani Abdi Allah itu. Di balik sikap yang tenang, tersimpan kerinduan yang tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun, yaitu keinginan memiliki seorang anak. Namun, Allah melihat apa yang tersembunyi di dalam hati. Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Tuhan menggenapi janji melalui kelahiran seorang anak baginya. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap setiap pelayanan penuh keramahan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan. Karena itu, janganlah jemu melayani dengan ramah. Ketika kita melayani dengan ramah, berkatNya menghampiri tepat waktu. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati  maka kerinduan kita diubah-Nya menjadi kenyataan dan kesaksian nyata.

Doa: Tuhan kuatkan keluarga kami menjalani hidup seturut kehendak-Mu selalu amin.

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 04 – 10 Oktober 2026

Tema Bulanan : Gereja Mewartakan Kasih Allah Yang Tidak Berkesudahan

Tema Mingguan : Jemaat Sebagai Tubuh Kristus Yang Saling Menghidupkan

Minggu, 04 Oktober 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 12: 12 – 31 (TB2)

Banyak anggota, tetapi satu tubuh
12 Sebab, sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. 13 Sebab, dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 14 Sebab, tubuh juga tidak terdiri atas satu anggota, tetapi atas banyak anggota. 15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 16 Andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? 18 Namun Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? 20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. 21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Demikian pula kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 22 Malahan anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, justru yang paling dibutuhkan. 23 Kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang kurang layak diperhatikan, kita berikan perhatian khusus. 24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang layak diperhatikan. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, 25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 26 Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. 27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 28 Allah telah menetapkan dalam gereja: pertama para rasul, kedua para nabi, ketiga para pengajar. Selanjutnya mereka yang berkarunia untuk membuat mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berbicara dalam berbagai jenis bahasa lidah. 29 Apakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Apakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, 30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa lidah, atau untuk menafsirkan bahasa lidah? 31 Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang lebih penting. Namun, aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

Pribadi Yang Saling Menghidupkan

Tidak seorangpun yang luput dari kekurangan dalam hidupnya. Mungkin kita punya sesuatu yang lebih, tetapi belum tentu kita merasa cukup. Selebih-lebihnya siapapun, tetap pasti ada sisi kurang. Itu sebabnya kita tidak dapat hidup sendiri.Kehadiran orang lain tetap kita butuhkan. Bagi Paulus, kekurangan atau kelebihan itu adalah bagian dari cara Tuhan menolong kita untuk bisa saling melengkapi. Tuhan mengajarkan kita secara tidak langsung menyadari bahwa dalam kemanusiaan, kita bukan apa-apa. Kita diciptakan demikian rupa agar kita saling menopang. Tuhan mau supaya kita tidak mengandalkan diri sendiri tetapi yang terutama adalah Tuhan. Teladan Tuhan Yesus yang menjadi “Roti Kehidupan” mestinya menolong kita untuk juga hidup sebagai tubuh Kristus yang saling menghidupkan. Sebagai jemaat kita terpanggil untuk saling menghidupkan. Apa yang menjadi kelebihan kita janganlah dipergunakan sebagai sarana untuk saling menjatuhkan. Namun sebaliknya biarlah kelebihan kita menjadi panggilan untuk saling menghidupkan sesama yang membutuhkan. Marilah belajar saling menghidupkan. Jangan menjadi pribadi yang saling mematikan. Ingatlah selalu bahwa kita masing-masing adalah anggota tubuh Kristus.

Doa: Tuhan ajar kami hidup saling menghidupkan, Amin.

Senin, 05 Oktober 2026

bahan bacaan : Wahyu 2 : 12 – 17 (TB2)

Kepada jemaat di Pergamus
12 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: 13 Aku tahu di mana engkau tinggal, yaitu di tempat takhta Iblis; Namun engkau berpegang kepada nama-Ku, dan tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis tinggal. 14 Meskipun demikian, Aku mencela engkau dalam beberapa hal: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang mengajar Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berzina. 15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. 16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. 17 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya."

Bijaksanalah dalam Hadapi Sekte

Terkadang kita didatangi kelompok sekte Saksi Yehovah. Adapun  sekte ialah kelompok orang-orang Kristen yang sangat menekankan salah satu pokok ajaran Kristen tertentu sambil menolak sesama orang Kristen yang tidak mau menerima ajaran itu. Mereka kemudian hidup terpisah dari masyarakat Kristen sedunia. (AG. no.165). Sekte ini sangat menekankan ajaran tentang eskatologi yaitu tentang hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman, terutama sekitar peristiwa  kembalinya  Tuhan  Yesus pada  kali  kedua (1914 tapi ditunda 1918). Mereka tidak mempercayai adanya neraka., menolak Trinitas dan kebangkitan Yesus (AG no.184). Ajaran Saksi Yehova bertentangan dengan ajaran gereja kita. Inilah pula yang dikecam oleh teks kita hari ini. Jemaat Pergamus adalah jemaat Kristen yang luar biasa sebab walau dikelilingi oleh banyak kuil berhala, iman mereka akan Tuhan Yesus tidak tergoyahkan. Hanya saja ternyata di dalam jemaat terdapat banyak sekali pengajar sesat. Jemaat diajak penulis agar tidak mudah percaya kepada mereka. Sebaliknya keimanan itu mesti mereka tunjukkan lewat upaya mereka untuk tidak mudah terpengaruh ajaran sesat. Maka marilah kita juga bersikap bijaksana dalam hadapi ajaran sesat.

Doa: ya Tuhan Yesus, tolong kami untuk tidak terpengaruh ajaran sesat ,Amin.

Selasa, 06 Oktober 2026

bahan bacaan : Wahyu 2 : 18 – 29 (TB2)

Kepada jemaat di Tiatira
18 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: 19 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketabahanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. 20 Meskipun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berzina dan makan persembahan-persembahan bagi berhala. 21 Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinanya. 22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berzina dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. 23 Anak-anaknya pun akan Kubunuh dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji pikiran dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu masing-masing menurut perbuatanmu. 24 Namun kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. 25 Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. 26 Siapa yang menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kuberikan kuasa atas bangsa-bangsa; 27 Ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk 28 sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku dan kepadanya akan Kuberikan bintang timur. 29 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Hidup Saling Menegur dalam Kasih

Tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada pula yang selalu benar. Karena itu Tuhan memberikan kasih, bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga mengingatkan kita ketika  berjalan menjauh dari kehendak-Nya. Teguran yang lahir dari kasih bukan bertujuan mempermalukan seseorang, melainkan menolongnya kembali kepada jalan yang benar. Kasih sejati berani berkata benar, tetapi tetap dilakukan dengan hati yang lembut. Dalam surat kepada jemaat di Tiatira, Tuhan memuji banyak hal yang baik, tetapi Ia juga tidak membiarkan dosa terus dipelihara. Tuhan menegur karena Ia mengasihi umat-Nya. Ia ingin jemaat bertobat sehingga hidup mereka kembali dipulihkan. Teguran Tuhan bukan tanda penolakan, melainkan bukti bahwa Ia masih memberi kesempatan untuk berubah. Di dalam keluarga dan persekutuan, janganlah kita memilih diam ketika melihat saudara kita sedang jatuh. Tegurlah dengan kasih, doakan dengan setia, dan rangkullah ketika ia ingin kembali. Jemaat yang sehat bukanlah jemaat yang tidak pernah memiliki kesalahan, tetapi jemaat yang mau saling menolong untuk terus bertumbuh di dalam Kristus. Tetaplah hidup saling menegur dalam kasih karena Tuhan telah lebih dahuku melakukannya untuk kita. Tuhan Yesus kiranya selalu memberkati hidup kita.

Doa: ya Tuhan, ajar kami menegur dalam kasih hati kami selalu. Amin.

Rabu, 07 Oktober 2026

bahan bacaan : Wahyu 3 : 1 – 6 (TB2)

Kepada jemaat di Sardis
"Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tersisa yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. 3 Karena itu ingatlah, apa yang telah kauterima dan dengar; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu kapan saatnya Aku datang kepadamu. 4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. 5 Siapa yang menang, kepdanya akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. 6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Jangan Terlihat Hidup dari Luar tetapi Mati di Dalam

Penampilan sering kali dapat menipu. Rumah yang tampak indah belum tentu dipenuhi dengan sukacita dan kebenaran. Demikian juga kehidupan rohani. Seseorang dapat terlihat aktif melayani, rajin beribadah, bahkan dikenal baik oleh banyak orang, tetapi hatinya mungkin sedang jauh dari Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi juga keadaan hati setiap orang. Jemaat di Sardis memiliki nama sebagai jemaat yang hidup, tetapi Tuhan berkata bahwa sebenarnya mereka mati secara rohani. Mereka kehilangan semangat mengasihi Tuhan dan berhenti bertumbuh. Karena itu Tuhan memanggil mereka untuk bangun, memperkuat apa yang masih tersisa, dan kembali mengingat firman yang telah mereka terima. Inilah pula yang mesti terjadi dalam kehidupan keimanan kita. Hidup kita mesti menampilkan kasih Tuhan. Pelayanan kita kepada sesama adalah karena kasih Tuhan melimpah kita rasakan dalam hati kita. Kasih yang kita nyatakan adalah bukti iman kita. Marilah kita saling membangun agar iman tidak hanya menjadi kegiatan rutin. Doronglah anggota keluarga untuk tetap berdoa, membaca firman, dan hidup sesuai kehendak Tuhan. Pertumbuhan rohani tidak diukur dari seberapa sibuk kita melayani, tetapi dari seberapa dekat kita hidup bersama Kristus setiap hari.

Doa: Teguhkan kesetiaan kami ya Tuhan, Amin.

Kamis, 08 Oktober 2026

bahan bacaan : Wahyu 3 : 7 – 13 (TB2)

Kepada jemaat di Filadelfia
7 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. 9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan sujud di depan kakimu dan mereka akan mengaku bahwa Aku mengasihi engkau. 10 Karena engkau memelihara firman-Ku untuk tabah, Akupun akan memelihara engkau dari waktu pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi. 11 Aku datang segera. Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. 12 Siapa yang menang, ia akan Kujadikan pilar di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; Padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. 13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Berpegang pada Firman Tuhan dan Setia Sekalipun Kecil

Sering kali kita merasa kecil dan tidak memiliki banyak kemampuan. Kita membandingkan diri dengan orang lain lalu merasa tidak berarti. Kita fokus pada sejumlah kekurangan kita dan terus mengukurnya berdasarkan kelebihan yang dimiliki orang lain. Namun yang harus kita tahu yakni Tuhan tidak pernah mengukur seseorang dari besarnya kekuatan atau banyaknya kemampuan dan kelebihan, melainkan dari kesetiaannya kepada Firman-Nya. Kepada jemaat di Filadelfia, Tuhan berkata bahwa mereka memiliki kekuatan yang kecil atau tidak seberapa, tetapi mereka tetap setia dan tidak menyangkal nama-Nya. Kesetiaan itulah yang berharga di hadapan Tuhan. Tuhan membuka jalan bagi mereka yang tetap percaya sekalipun keadaan tidak mudah. Jangan pernah merasa kecil sehingga berhenti bekerja dan melayani. Tetaplah setia dalam hal-hal sederhana. Keluarga harus tekun berdoa bersama, saling menguatkan, dan hidup menurut firman Tuhan. Itulah cara membangun dasar iman yang kokoh. Tuhan sanggup memakai kesetiaan yang kecil untuk menghasilkan berkat yang besar.

Doa: Bangunkan Iman kami ya Tuhan, Amin.

Jumat, 09 Oktober 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 2 : 41 – 47 (TB2)

Cara hidup jemaat yang pertama
41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan, dalam memecahkan roti dan berdoa. 43 Ketakjuban melanda semua orang, sebab rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44 Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bersatu dengan Sehati, Tekun, dan Saling Berbagi

Gereja mula-mula bertumbuh bukan karena mereka memiliki gedung yang megah atau program yang banyak, tetapi karena mereka hidup sebagai keluarga Allah. Mereka belajar firman bersama, berdoa bersama, makan bersama, dan saling menolong ketika ada yang berkekurangan. Kasih menjadi bahasa yang paling nyata di tengah kehidupan mereka. Persatuan mereka bukan berarti tidak pernah memiliki perbedaan, tetapi mereka memilih untuk mengutamakan Kristus daripada kepentingan pribadi. Ketika kasih menjadi dasar kehidupan bersama, setiap orang merasa diterima, diperhatikan, dan dikuatkan. Dari kehidupan seperti itulah Tuhan terus menambahkan orang-orang yang diselamatkan. Keluarga Kristen dipanggil menjadi gambaran kecil dari gereja yang mula-mula. Mulailah dengan hal sederhana, seperti saling mendengar, saling mendoakan, berbagi kepada yang membutuhkan, dan menjaga kebersamaan sekalipun ada dalam pelbagai keperbedaan. Jemaat akan semakin kuat ketika setiap keluarga hidup dalam kasih dan kesatuan.

Doa: Nyalakan kasih kami ya Tuhan, Amin.

Sabtu, 10 Oktober 2026

bahan bacaan : Wahyu 3 : 14 – 22 (TB2)

Kepada jemaat di Laodikia
14 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta dan telanjang, 18 Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari Aku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; juga minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama dia, dan ia bersama Aku. 21 Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Jangan Menjadi Suam-Suam Kuku dalam Pelayanan

Keberhasilan, harta, atau kenyamanan hidup dapat membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Tanpa disadari, hati menjadi dingin. Ibadah tetap dijalani, pelayanan tetap dilakukan, tetapi kasih kepada Tuhan mulai memudar. Inilah keadaan yang disebut Tuhan sebagai suam-suam kuku. Jemaat di Laodikia merasa dirinya kaya dan tidak kekurangan apa pun. Namun Tuhan melihat keadaan yang berbeda. Mereka miskin secara rohani karena mengandalkan diri sendiri. Tuhan mengajak mereka bertobat dan membuka kembali pintu hati bagi kehadiran-Nya. Kasih Tuhan tetap tersedia bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya. Mari menjaga agar hati tetap menyala bagi Tuhan. Jangan biarkan kesibukan, keberhasilan, atau kenyamanan membuat kita kehilangan kerinduan untuk hidup dekat dengan Kristus. Jemaat yang terus rendah hati dan bergantung kepada Tuhan akan tetap hidup, bertumbuh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Satukan hati kami ya Tuhan. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 27 Sept – 03 Okt 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Bekerja dengan Tekun, Jujur dan Bertanggungjawab

Minggu, 27 September 2026

bahan bacaan : Lukas 16 : 1 – 13 (TB2)

Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada orang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. 4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? 6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. 7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. 8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. 9 Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
10 "Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu? 13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

 Tekun, Jujur Dan Bertanggung Jawab

Setiap pekerjaan pasti membutuhkan ketekunan, kejujuran dan tanggung jawab tinggi dalam menjalaninya. Kalau kita pahami lebih dalam sesungguhnya wujud dari tanggung jawab itu dinyatakan melalui ketekunan dan kejujuran dimana ada  penghargaan atas hidup dan kerja  itu sendiri. Marcus Aurelius pernah berkata : “tanggung jawab adalah milikmu, tidak ada yang bisa menghentikan anda dari bersikap jujur atau berterus terang”. Ungkapan ini memberi makna bahwa bagaimanapun kita adanya nanti sangat bergantung pada pilihan dan keputusan kita sendiri. Oleh karena itu baik tekun, jujur dan bertanggung jawab adalah sebetulnya pilihan dan keputusan kita. Hal ini sejalan dengan kisah bendahara yang tidak jujur dalam bacaan ini sebab ketidakjujurannya adalah pilihannya sendiri dan ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya yaitu dipecat oleh tuannya. Kisah ini memang menarik karena di satu sisi tentu kita pun belajar bahwa ketidakjujuran dapat menimbulkan banyak dampak baik bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Oleh karena itu ketika kita berkomitmen pada kejujuran, kita sedang membantu mengurangi tingkat kesalahpahaman, keraguan dan ketakutan di masyarakat. Perbuatan bendahara yang tidak jujur dan menyalahgunakan uang tuannya tidak harus menjadi perilaku kita baik dalam kehidupan keluarga, gereja, dunia kerja kita dan masyarakat. Kejujuran harus tetap menjadi warisan nilai iman yang terpelihara dari genarasi ke genarasi sebab membawa dampak besar bagi hidup yang penuh damai Sejahtera.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami bekerja denan tekun, jujur dan bertanggungjawab. Amin

Senin, 28 September 2026

bahan bacaan : Ayub 8 : 1 – 7 (TB2)

Bildad membela keadilan Allah
Berbicaralah Bildad, orang Suah: 2 "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? 3 Mungkinkah Allah membengkokkan keadilan? Mungkinkah Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? 4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. 5 Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, 6 kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. 7 Kedudukanmu yang dahulu akan terlihat kecil, tetapi keadaanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.

 Hidup Bersih dan Jujur

Suatu ketika, seorang ibu kehilangan anaknya. Dalam duka yang begitu dalam, bukannya mendapatkan penghiburan, ia justru mendengar perkataan yang melukai: “Mungkin ini hukuman Tuhan karena kesalahanmu.” Perkataan itu seakan-akan menambah beban di atas luka yang sudah terbuka. Alih-alih menguatkan, perkataan ini membuatnya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan kehilangan. Hal ini mengingatkan kita kepada Bildad yang menilai penderitaan Ayub sebagai akibat dosa. Padahal, tidak semua penderitaan adalah hukuman atas dosa. Namun di balik pemahaman yang keliru itu, ada suatu kebenaran: hidup yang bersih dan jujur di hadapan Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat hati yang tulus dan setia. Ia tidak menutup mata terhadap pergumulan umat-Nya. Karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Percayalah, Tuhan sanggup memulihkan “rumah” kita  baik kehidupan keluarga, maupun masa depan sesuai dengan kehendak-Nya. Pemulihan Tuhan mungkin tidak selalu cepat, tetapi pasti dan penuh kasih.

Doa: Tuhan, ajar kami hidup bersih dan jujur. Pulihkan kehidupan keluarga kami. Amin.

Selasa, 29 September 2026

bahan bacaan : 2 Raja-raja 12 : 9 – 16 (TB2)

9 Lalu Imam Yoyada mengambil sebuah peti, membuat lobang pada tutupnya. Ia  menaruhnya di samping mezbah, di sebelah kanan apabila orang masuk ke rumah TUHAN. Para imam penjaga pintu menaruh ke dalamnya semua uang yang dibawa orang ke dalam rumah TUHAN. 10 Ketika mereka melihat bahwa uang dalam peti itu sudah banyak, sekretaris raja datang bersama imam besar, lalu membungkus dan menghitung uang yang terkumpul dalam rumah TUHAN. 11 Mereka menyerahkan jumlah uang yang ditetapkan ke tangan para pekerja yang dijadikan pengawas rumah TUHAN. Mereka ini kemudian membayarkannya kepada tukang-tukang kayu, tukang-tukang bangunan yang mengerjakan rumah TUHAN, 12 tukang-tukang tembok dan para pemotong batu; juga membeli kayu  dan potongan batu untuk memperbaiki kerusakan Rumah TUHAN dan segala pengeluaran untuk perbaikan rumah itu. 13 Tetapi untuk rumah TUHAN tidak dibuat bejana perak, pisau, bokor penyiraman, nafiri, perlengkapan apapun dari emas atau perak, dengan uangnya yang dibawa ke dalam rumah TUHAN. 14 Sebab mereka menyerahkannya kepada para pekerja, untuk dipakai memperbaiki rumah TUHAN. 15 Mereka tidak meminta perhitungan dengan orang-orang yang diserahi uang untuk diberikan kepada para pekerja, sebab mereka itu bekerja dengan jujur. 16 Tetapi uang kurban penebus salah dan uang kurban penghapus dosa tidak dibawa ke dalam rumah TUHAN; semuanya itu adalah bagian para imam.

Mengutamakan Kejujuran

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelayanan, kita sering diperhadapkan pada hal-hal kecil yang menguji hati: bagaimana kita mengelola kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, dan bersikap tulus pada apa yang dipercayakan kepada kita. Terkadang hal-hal sederhana ini luput dari perhatian, padahal justru di sanalah karakter kita dibentuk. Firman Tuhan dalam 2 Raja-raja 12:9-16 menceritakan bagaimana Imam Yoyada menata kembali pengelolaan persembahan dengan cara yang terbuka. Uang yang terkumpul dipergunakan untuk memperbaiki Bait Tuhan, dan para pekerja melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Bahkan mereka tidak diawasi secara ketat, karena mereka dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercaya. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan berkenan bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya. Kejujuran dan ketulusan menjadi dasar yang memampukan pemulihan terjadi baik dalam pelayanan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Doa: Tuhan, mampukan kami bekerja dengan rajin dan jujur. Amin.

Rabu, 30 September 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 5 – 6 (TB2)

5 Rancangan orang rajin pasti mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa pasti mengalami kekurangan. 6 Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah uap yang lenyap dari orang yang mencari maut.

Kerja Jujur Mendatangkan Berkat

Di tengah realitas hidup saat ini, tidak sedikit orang yang tergoda untuk menjalani hidup dengan cara yang kurang bertanggung jawab, seperti enggan bekerja dengan sungguh-sungguh, terlalu tergantung pada bantuan, atau mencari jalan pintas melalui pinjol, praktik judi, maupun cara lain yang tidak tepat. Tekanan ekonomi yang semakin meningkat juga sering membuat sebagian orang tergoda untuk mengabaikan nilai kejujuran demi memperoleh keuntungan dengan cepat. Namun, Kitab Amsal 21:5-6 mengingatkan bahwa rancangan orang yang tekun akan membawa kelimpahan, sedangkan keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar hanya bersifat sementara dan pada akhirnya mendatangkan kesulitan. Firman Tuhan ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi dari proses yang dijalani dengan benar. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dengan disiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab, menggunakan setiap kesempatan dengan bijaksana, serta tetap menjujung tinggi kejujuran. Dengan demikian kita mempercayakan hidup kepada Tuhan melalui proses yang benar,  sehingga berkat yang kita terima menjadi berkat yang membawa kebaikan dan damai sejahtera bagi diri sendiri maupun sesama.

Doa: Tuhan, kami percaya berkatMu ada bagi kami yang bekerja dengan jujur, Amin.

Kamis, 01 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 11 : 1 – 4 (TB2)

Neraca yang curang menjijikkan bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat. 2 Bila keangkuhan tiba, datang juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. 3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. 4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.

Jadilah Pribadi yang Jujur

Di dunia dewasa ini, kejujuran merupakan hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mudah dipercaya. Kita mungkin pernah diperhadapkan dengan situasi seperti ini. Kita mengalami kekurangan dan tiba-tiba kita menemukan barang  berharga milik orang lain. Apakah yang menjadi pilihan sikap kita? Sebagai orang percaya kita takut Tuhan dan karena itu kita diajak untuk bersikap jujur. Inilah yang ditekankan dalam teks bacaan hari ini. Kejujuran adalah karakter yang dibentuk dalam kesadaran mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah. Kejujuran adalah juga soal mengakui milik dan mengatakan dengan berani tentang yang buka milik. Hidup orang bijak adalah hidup yang bersesuaian dengan kehendak Tuhan. Menjadi pribadi yang jujur itu adalah kewajiban. Orang jujur hidupnya diberkati Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang jujur sebab dengan kejujuran, kita memperlihatkan kehidupan sebagai orang berhikmat.

Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap jujur, Amin.

Jumat, 02 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 12 : 24 – 28 (TB2)

24 Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. 25 Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. 26 Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri. 27 Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga. 28 Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut.

Janganlah Malas, Rajinlah Bekerja

Perkembangan harga barang dan tuntutan hidup membuat perjalanan kita di saat-saat sekarang menjadi tidak mudah. Kita dituntut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan. Demi kehidupan, kita tidak bisa berpangku tangan. Pekerjaan apa saja akan ditekuni  demi kelanjutan hidup. Tetapi  kesadaran ini ternyata hanya dimiliki oleh orang yang rajin. Bagi orang malas, mereka hanya mau hidup senang tanpa harus mengeluarkan keringat. Di saat orang lain sementara berjuang memenuhi hidup, mereka justru malah menunjukkan kemalasan. Amsal menggambarkan mereka sebagai orang yang berhati bebal. Adapun karakteristik utama orang bebal adalah orang yang tidak takut Tuhan. Kebebalan membuat  mereka tidak mau mendengarkan nasihat. Karakter hidup seperti ini hanya akan membuat mereka mengalami kesusahan. Amsal menyebutkan bahwa bila orang rajin menikmati kesenangan, mereka sebaliknya yaitu kesusahan. Kita tentu tidak mau hidup susah. Karena itu, marilah kita rajin bekerja. Jangan malas, sebab kemalasan hanya akan membuat hidup kita susah. Ingatlah “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga”.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap rajin dalam berusaha, Amin.

Sabtu, 03 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 4 – 5 (TB2)

4 Hati orang malas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. 5 Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik busuk dan memalukan.

Jangan Kerja Baku Harap

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan dan bila diitekuni dengan kesungguhan hati merupakan wujud pengucapan syukur dan pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Hanya saja terkadang ditemukan pribadi-pribadi yang tidak maksimal melakukannya. Satu bentuk kecendrungan perilaku itu nampak melalui model kerja yang hanya bisa mengharapkan kerja keras orang lain atau yang dikenal dengan istilah “kerja baku harap”.. Gaya hidup macam ini dikritik oleh teks kita hari ini. Sebagai kitab pengajaran hikmat, Amsal menekankan pentingnya tidak bermalas-malasan sebab  mengakibatkan kesia-siaan. Bila kita menginginkan sesuatu, kita harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan bukan atas dasar “baku harap”. Selagi sesuatu hal bisa kita kerjakan, kita harus bisa melakukannya sendiri tanpa harus menunggu. Hikmat dari Tuhan menolong kita memahami betul apa yang harus kita kerjakan. Benar, kita perlu kerjasama sebab semua hal tidak bisa kita kerjakan sendiri. Tetapi yang terlebih penting adalah kita harus tahu bahwa jangan membawa kerja baku harap dalam suatu pencapaian tujuan. Kita tidak akan pernah mencapai apapun bila itu menjadi prinsip kerja kita.

Doa: Tuhan Yesus,tolonglah kami untuk rajin bekerja dan tidak kerja baku harap, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT & OKT 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Tekun Melayani Dengan Rendah Hati

Minggu, 20 September 2026

bahan bacaan : Yohanes 13 : 1 – 20 (TB2)

Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. 2 Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas, anak Simon Iskariot, untuk menyerahkan Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain linen dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu sudah bersih, tetapi tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 16 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada orang yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Melayani dengan Rendah Hati

Saat ini, seakan kerendahan hati menjadi barang langka. Akibatnya, hubungan dalam keluarga atau masyarakat sering retak karena ego yang terlalu tinggi dan keengganan untuk mengalah. Teks Yohanes 13:1-20 memberikan teladan yang sangat kontras melalui tindakan Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya. Secara teologis, tindakan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan yang paling tinggi justru dinyatakan melalui pelayanan yang paling rendah. Mencuci kaki adalah tugas seorang budak, namun Yesus, Sang Guru, melakukannya untuk mengajarkan tentang kerendahan hati da menghapus kesombongan para murid-Nya. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati di dalam keluarga dimulai dari kesediaan untuk menjadi “hamba” bagi anggota keluarga yang lain. Gereja wajib membimbing orang tua dan anak-anak untuk memiliki hati yang tulus dalam membantu sesama tanpa mengharap imbalan. Jangan biarkan pelayanan kita di gereja berbeda dengan sikap kita di rumah yang mungkin masih kasar atau egois. Mari kita belajar untuk tekun melayani Tuhan dengan cara merendahkan hati di hadapan sesama manusia.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk melayaniMu dengan rendah hati, amin  

Senin, 21 September 2026

bahan bacaan : Amsal 15 : 33 (TB2)

33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kehormatan didahului kerendahan hati.

Rendah Hati: Jalan menuju Hikmat dan Kehormatan

Kerendahan hati diletakkan sebagai syarat mutlak yang harus ada sebelum seseorang menerima hikmat dan kehormatan. Tuhan tidak dapat mengisi hati yang sudah penuh dengan keakuan; karena itu, kerendahan hati merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri yang membutuhkan bimbingan Ilahi. Alkitab menetapkan pola yang tegas bahwa kerendahan hati adalah pintu masuk, sementara hikmat dan kehormatan adalah hasil akhirnya. Kehormatan yang dimaksud di sini bukanlah penghormatan duniawi yang dikejar melalui materi atau jabatan, melainkan pengakuan tulus dari Tuhan yang lahir karena karakter yang telah teruji, bukan karena paksaan atau sekadar pencitraan. Berdasarkan kebenaran ini, mari kita berhenti mengejar pengakuan dunia yang semu dan mulai membangun hidup di atas dasar rasa hormat kepada Tuhan. Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh ego atau haus akan jabatan, karena kehormatan yang bernilai kekal lahir dari karakter yang teruji di hadapan Allah, bukan dari pencitraan di mata manusia. Milikilah keberanian untuk mengakui keterbatasan diri dan tunduklah pada otoritas Tuhan, sebab saat kita memilih untuk tetap rendah hati, saat itulah Tuhan sendiri yang akan mengangkat dan melimpahkan hikmat-Nya bagi kita.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami, pribadi yang rendah hati, amin

Selasa, 22 September 2026

bahan bacaan : Matius 18 : 1 – 5 (TB2)

Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 2 Yesus memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 dan berkata: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Oleh sebab itu, siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 5 Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

 Menjadi Besar dengan Merendah

Pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar di Surga menunjukkan bahwa mereka masih terjebak dalam ambisi duniawi. Mereka mengira Surga memiliki hierarki kekuasaan yang sama dengan kerajaan di bumi. Namun, Yesus justru menghadirkan seorang anak kecil sebagai teladan. Di masa itu, anak kecil tidak memiliki status sosial atau kekuatan apa pun. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa syarat utama masuk Kerajaan Surga adalah bertobat dan menjadi “kecil” dalam ego. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti tidak dewasa, melainkan melepaskan ambisi berkuasa dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kebesaran di mata Tuhan berbanding terbalik dengan dunia; yang terbesar adalah mereka yang paling rendah hati dan rela melayani orang-orang yang dianggap remeh. Mari kita berhenti mengejar pengakuan atau jabatan yang hanya memicu persaingan. Nilai diri kita di hadapan Tuhan tidak diukur dari hebatnya prestasi, tetapi dari ketulusan hati untuk bergantung pada bimbingan-Nya. Milikilah hati yang jujur dan tidak menyimpan dendam. Percayalah, saat kita berani melepaskan gengsi dan tulus melayani sesama, di situlah kita benar-benar menjadi besar dalam pandangan Tuhan. Jalan menuju Surga bukanlah melalui tangga kekuasaan, melainkan melalui pintu kerendahan hati.

Doa: Menjadi besar dengan merendah adalah harapan kami, Tuhan, dengarkanlah, amin  

Rabu, 23 September 2026

bahan bacaan : Yohanes 12 : 1 – 8 (TB2)

Yesus diurapi di Betania
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3 Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. 4 Namun Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" 6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 7 Lalu kata Yesus: "Biarkanlah dia, supaya ia melakukannya untuk hari penguburan-Ku. 8 Sebab orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu."

Melayani Yesus Dengan Tulus Dan Penuh Kerendahan Hati

Tindakan Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni menggambarkan puncak pelayanan yang tulus. Tulus dalam melayani berarti memberikan yang terbaik, tanpa pamrih dan berpusat pada kasih Kristus, bukan pada penilaian manusia. Maria menggunakan minyak narwastu yang sangat mahal untuk membasuh kaki Yesus dalam kesadarannya untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk persembahan kasih. Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya menyatakan ia merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Yesus. Maria mengajarkan tulus melayani tidak berarti mencari panggung atau pengakuan manusia melainkan fokus menghormati Tuhan. Kontras dengan Maria, Yudas mengkritik pengurapan tersebut dengan alasan ekonomi padahal motivasinya palsu untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dari sini kita belajar ketulusan diuji dari motivasi hati apakah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan diri sendiri. Kisah Maria memberikan motivasi benar bagi kita yang terpanggil untuk melayani dalam ruang-ruang hidup dan kerja kita sebab semua itu pun kita lakukan untuk Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayaniMu dengan tulus dan rendah hati dalam setiap peran dan fungsi setiap hari. Amin.

Kamis, 24 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 11 – 20 (TB2)

11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 Jangan sampai, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, 15 dan memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan mengerikan, dengan ular ganas serta kalajengking dan tanah gersang tanpa air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 Dia yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, dengan maksud merendahkan hatimu dan menguji engkau, supaya mendatangkan kebaikan kepadamu pada akhirnya. 17 Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu: Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti ilah-ilah lain, beribadah kepada mereka dan sujud menyembah mereka, aku memperingatkan kamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu."

Bersyukur Dan Jangan Melupakan Tuhan

Teks bacaan hari ini merupakan teguran  sekaligus peringatan penting dari Musa kepada bangsa Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. Teguran dan peringatan tersebut menekankan bahwa bersyukur bukan hanya ucapan melainkan tindakan mengingat, taat dan kerendahan hati untuk mengakui Tuhan sebagai sumber segala berkat. Musa memperingatkan agar bangsa Israel tetap mengingat segala kebaikan dan tidak melupakan Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Hal ini pun harus menjadi pengingat dalam hidup kita  bahwa orang yang tahu bersyukur tidak lupa diri saat sukses. Kemakmuran seringkali membuat manusia sombong dan merasa berhasil karena usahanya sendiri. Syukur yang benar berarti secara sadar mengingat masa-masa padang gurun dan mengakui bahwa semua kelimpahan saat ini adalah berkat Tuhan. Orang yang tahu bersyukur mengerti bahwa bahwa kecerdasan, kesehatan dan kesempatan kerja berasal dari Allah bukan sekedar hasil jeri payah sendiri. Mengucap syukur pun tidak cukup dengan kata-kata saja tetapi tindakan nyata dari rasa syukur adalah taat dan setia kepada kehendak Tuhan. Bersyukur adalah perintah Tuhan, maka bersyukurlah dalam segala hal.

Doa: Ya Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tahu bersyukur. Amin

Jumat, 25 September 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 4 : 6 – 13 (TB2)

Rendahkanlah dirimu
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 7 Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

Rendahkanlah Dirimu Dalam Pelayanan

Kesombongan sering menjadi akar pahit dalam kehidupan orang percaya. Sadar atau tidak, kesombongan membuat seseorang lupa bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah Allah. Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mengalami perpecahan dan kesombongan rohani. Ada yang mereka merasa lebih tinggi dan lebih baik daripada yang lain. Paulus mengingatkan bahwa kedewasaan rohani tidak diukur dari status, pengetahuan, atau pujian manusia, melainkan melalui pelayanan yang rela berkorban dan hidup dalam kerendahan hati. Kerendahan hati dimulai dengan menaati firman Tuhan, bukan mengandalkan hikmat manusia yang membuat seseorang merasa paling benar. Orang yang rendah hati menyadari dirinya masih perlu terus belajar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Paulus memberi teladan melalui pelayanannya yang rela dihina dan dipandang rendah demi Kristus. Sikap itu juga diteladankan Yesus dalam hidup-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup rendah hati dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Dengan kerendahan hati, hidup kita dapat menjadi berkat, kesaksian, dan memancarkan kasih Kristus bagi sesama dalam setiap tindakan dan perkataan sehari-hari.

Doa: Ajarlah kami Tuhan untuk tidak hidup dalam kesombongan diri Amin.

Sabtu, 26 September 2026

bahan bacaan : Matius 20 : 25 – 28 (TB2)

25 Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 Siapa saja yang ingin menjadi pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Yesus Teladan Kerendahan dalam Pelayanan

Kepemimpinan yang menghamba merupakan salah satu ajaran penting yang diteladankan oleh Yesus. Pemimpin sejati bukanlah pribadi yang memerintah dengan keras dan menindas seperti cara dunia, melainkan seseorang yang melayani sesama dengan kasih dan kerendahan hati. Melalui ajaran-Nya, Yesus mengubah cara pandang tentang jabatan dan kekuasaan. Otoritas yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk membawa dampak positif melalui pelayanan, bukan untuk menguasai atau mencari keuntungan pribadi. Karena itu, seseorang yang dipercaya memegang jabatan tidak boleh merasa bebas bertindak sesuka hati. Kenyataannya, masih banyak orang menggunakan jabatan dan kuasa untuk meninggikan diri serta menguasai orang lain. Yesus menolak sikap seperti ini dan menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan bagi sesamanya. Yesus sendiri telah memberi teladan dengan rela merendahkan diri dan melayani manusia sebagai bukti kasih-Nya yang besar. Oleh sebab itu, dalam setiap peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, baik di keluarga, gereja, maupun masyarakat, semangat kehambaan harus menjadi dasar hidup orang percaya. Dengan melayani secara tulus, kita sedang menghadirkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita setiap hari.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami meneladani kerendahan hatiMu, amin 

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan Dengan Tekun

Minggu, 13 September 2026

bahan bacaan : Yakobus 1 : 22 – 27 (TB2)

22 Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23 Sebab jika seseorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia seumpama seseorang yang sedang memandang mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 24 Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. 25 Namun siapa yang meneliti hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. 26 Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. 27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Tekun Melakukan Firman

Yakobus 1:22-27 mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak berhenti pada mendengar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Firman Tuhan bukan sekadar untuk disimpan dalam pikiran, melainkan untuk dihidupi dengan penuh kesungguhan. Tanpa tindakan, iman menjadi kosong dan tidak berdampak. Sering kali kita merasa sudah cukup ketika rajin mendengar Firman, namun Yakobus menegur sikap demikian. Ia menggambarkan orang yang hanya mendengar sebagai pribadi yang mudah lupa, seperti melihat wajah di cermin lalu pergi tanpa perubahan. Sebaliknya, orang yang tekun melakukan Firman akan mengalami kebahagiaan dan berkat dalam hidupnya. Ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan iman. Melakukan Firman tidak selalu mudah, apalagi ketika harus mengendalikan lidah, menjaga hati tetap bersih, dan tetap berbuat baik di tengah keadaan yang tidak mendukung. Namun justru di situlah iman kita diuji dan dimurnikan. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa ibadah yang sejati terlihat dari kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dan hidup yang menjaga kekudusan. Karena itu, marilah kita terus belajar setia, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi sebagai pelaku Firman yang tekun, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Doa Tuhan, mampukan kami untuk setia melakukan firmanMu. Amin   

Senin, 14 September 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 97 – 104 (TB2)

97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mulah yang kurenungkan. 100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 101 Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu. 102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. 103 Betapa manisnya janji-Mu itu di lidahku, lebih manis dari pada madu di mulutku. 104 Dari titah-titah-Mu kuperoleh pengertian, itulah sebabnya aku membenci segala jalan serong.

Manisnya Firman Tuhan

Pemazmur berkata bahwa firman itu lebih manis dari madu, bahkan menjadi sumber hikmat yang melebihi pengajaran manusia. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merenungkan firman setiap hari, hidupnya dibentuk oleh kebenaran yang sejati. Firman Tuhan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, dihayati, dan dilakukan. Bacaan ini menggambarkan kecintaan yang mendalam kepada firman Tuhan Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari nasihat dari berbagai sumber. Namun, firman Tuhan memberi arah yang pasti dan tidak menyesatkan. Ketika kita setia merenungkannya, kita menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, lebih peka terhadap kehendak Tuhan, dan lebih kuat menghadapi tantangan hidup. Firman itu juga menolong kita membedakan yang benar dan yang salah, sehingga langkah hidup kita tetap lurus. Karena itu, mari menjadikan firman Tuhan sebagai bagian penting setiap hari. Seperti makanan yang menguatkan tubuh, firman Tuhan menguatkan jiwa kita. Ketika kita merasakannya sebagai sesuatu yang manis, kita akan rindu untuk terus mendekat kepada Tuhan dan hidup dalam kehendak-Nya.

Doa  Tuhan, Ajari kami mencintai firmanmu. Amin.  

Selasa, 15 September 2026

bahan bacaan : Mazmur 119 : 105 – 106 (TB2)

105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 106 Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.

Firman Tuhan Pelita Hidup

Mazmur 119:105–106 menyatakan bahwa Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan hidup kita. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dosa, dan kebingungan, Firman Tuhan menjadi sumber tuntunan yang menolong kita melangkah dengan aman. Seperti pelita di malam hari, Firman Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh masa depan sekaligus, tetapi memberi terang yang cukup untuk setiap langkah agar kita tidak jatuh dalam kegagalan moral maupun keputusasaan. Sebagai “pelita bagi kaki,” Firman Tuhan memberi tuntunan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Saat menghadapi pilihan sulit atau dilema hidup, nilai-nilai kebenaran dalam Alkitab menjadi kompas yang menolong kita tetap berjalan di jalan yang benar. Melalui perenungan Firman, kita memperoleh hikmat untuk membedakan yang baik dan yang jahat sehingga keputusan yang diambil selaras dengan kehendak Tuhan.Firman Tuhan juga menjadi “terang bagi jalan,” yang memberi arah dan pengharapan bagi masa depan. Terang-Nya mengusir ketakutan serta memberikan keyakinan bahwa Tuhan sedang menuntun hidup kita menuju tujuan yang indah. Karena itu, hidup dalam terang Firman berarti membiarkan kasih dan kebenaran Tuhan memimpin setiap langkah hingga kita mencapai akhir perjalanan dengan selamat.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menjadikan firman Tuhan pelita hidup. Amin  

Rabu, 16 September 2026

bahan bacaan : Lukas 11 : 27 – 28 (TB2)

Siapa yang berbahagia
27 Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." 28 Ia pun berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Firman Membawa Kebahagiaan

Dalam Lukas 11:27-28, Yesus menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari hubungan darah atau keistimewaan lahiriah, melainkan dari sikap mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Mendengar firman berarti membuka hati terhadap kebenaran Tuhan, sedangkan memeliharanya berarti mewujudkan firman itu dalam tindakan nyata setiap hari. Ketaatan kepada firman membentuk karakter kristiani yang kuat dan membawa dampak baik bagi sesama. Pesan ini sangat relevan dalam memperingati Hari Demokrasi Internasional hari ini. Demokrasi yang sehat tidak hanya berbicara tentang kebebasan dan sistem pemerintahan, tetapi juga tentang integritas, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.  Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang memperjuangkan kebenaran, menjaga kedamaian, dan menghargai keberagaman. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menghidupi iman dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kebahagiaan karena taat pada firman Tuhan harus tercermin dalam sikap yang membawa damai dan kasih kepada semua orang. Melalui kehidupan yang berlandaskan firman, kehadiran kita dapat menjadi berkat serta menghadirkan terang Tuhan di tengah dunia.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mendengar dan memelihara firman-Mu. Amin.

Kamis, 17 September 2026

bahan bacaan : Yosua 1 : 1 – 9 (TB2)

Penugasan Yosua sebagai pengganti Musa
Sesudah kematian Musa hamba TUHAN itu, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: 2 "Hamba-Ku Musa telah meninggal; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangi sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel. 3 Setiap tempat yang diinjak telapak kakimu akan Kuberikan kepadamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. 4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana sampai ke sungai Efrat, sungai besar itu, dari seluruh negeri orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi wilayahmu. 5 Tidak seorangpun akan dapat tahan menghadapi engkau seumur hidupmu; Sebagaimana Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan mengabaikan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. 6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini untuk memiliki negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. 7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, untuk bertindak dengan saksama sesuai dengan segenap hukum yang diperintahkan Musa hamba-Ku kepadamu; jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau jaya dalam setiap langkahmu. 8 Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya. 9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Keberanian Sejati Berakar pada Firman-Nya

Keberanian sejati yang diperintahkan Tuhan kepada Yosua bukan sekadar nekat, melainkan keberanian yang berakar pada firman-Nya. Merenungkan Taurat siang dan malam berarti menyelaraskan pikiran dan detak jantung kita dengan kasih Tuhan. Ketika kita memenuhi pikiran dengan kebenaran-Nya, ketakutan akan masa depan yang tidak pasti akan berganti dengan keteguhan hati. Firman Tuhan menjadi kompas yang memastikan langkah kita tetap lurus di tengah badai kehidupan yang penuh tantangan. Ketaatan kepada firman Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan yang seksama. Tuhan tidak hanya meminta Yosua menghafal janji-Nya, tetapi bertindak sesuai dengan segala hukum yang ada. Dalam konteks pelayanan, bertindak seksama berarti bekerja dengan penuh integritas, ketelitian, dan kasih yang tulus. Kedekatan kita dengan firman Tuhan seharusnya membuahkan karakter yang disiplin dan penuh tanggung jawab, sehingga setiap pekerjaan yang kita lakukan mendatangkan berkat dan keberhasilan bagi banyak orang. Semangat Yosua ini sangat relevan dengan peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) hari ini. Para relawan PMI dipanggil untuk memiliki keteguhan hati dan tindakan nyata dalam misi kemanusiaan tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana Yosua disertai Tuhan ke mana pun ia pergi.  

Doa: Tuhan, bantu kami untuk berani dan berhati teguh. Amin.

Jumat, 18 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 1 – 3 (TB2)

Mengingat kebaikan Allah
"Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak, memasuki dan menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2 Ingatlah akan seluruh perjalanan yang kaulakukan atas pimpinan TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini. Dia bermaksud merendahkan hatimu dan menguji engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 3 Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya engkau mengetahui, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut TUHAN.

Membangun Dasar yang Kokoh

Ulangan 8:1-3 mengingatkan kita bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan jalan menuju kehidupan dan pemulihan. Musa menegaskan bahwa bangsa Israel harus berpegang teguh pada seluruh perintah Tuhan agar mereka memperoleh kekuatan untuk memasuki dan menduduki negeri yang dijanjikan. Hal ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan sejati dalam hidup tidak ditentukan oleh strategi manusiawi semata, melainkan oleh sejauh mana kita menyelaraskan langkah kaki kita dengan kehendak Allah. Melakukan perintah-Nya dengan setia adalah bentuk pengakuan bahwa Dia adalah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Melalui ayat-ayat ini, kita juga diajak untuk mengingat kembali “perjalanan di padang gurun” masa-masa sulit di mana Tuhan membiarkan kita merasa lapar atau kekurangan untuk merendahkan hati kita. Proses ini bertujuan untuk menguji apa yang ada di dalam hati kita: apakah kita tetap setia mengikuti perintah-Nya saat situasi tidak ideal? Padang gurun adalah sekolah iman di mana Tuhan mengikis kesombongan dan melatih kita untuk tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri, melainkan sepenuhnya bersandar pada penyertaan-Nya yang sempurna. Firman-Nya adalah sumber kehidupan yang memberi kita daya tahan di tengah krisis. Ketika kita setia melakukan perintah-Nya, kita sedang membangun hidup di atas dasar yang kokoh.

Doa: Tuhan, bantu kami membangun dasar hidup yang kokoh diatas firmanMu. Amin.

Sabtu, 19 September 2026

bahan bacaan : Ulangan 8 : 4 – 10 (TB2)

4 Pakaianmu tidak menjadi usang di tubuhmu dan kakimu tidak menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. 5 Engkau harus insaf bahwa TUHAN, Allahmu, mendidik engkau seperti seseorang mendidik anaknya. 6 Engkau harus berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan-Nya dan dengan takut akan Dia. 7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan sumber air, yang mengalir di lembah dan gunung; 8 suatu negeri dengan gandum dan jelai, dengan pokok anggur, pohon ara dan pohon delima; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madu; 9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti tanpa perlu berhemat,  dan engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, dengan batu yang mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. 10 Engkau akan makan dan kenyang, serta memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu.

Merawat Ingat, Menjaga Ketaatan

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, hingga lupa merawat ingat akan segala berkat yang sudah ada di tangan. Kita sering merasa masa depan menakutkan, padahal Tuhan telah membuktikan pemeliharaan-Nya yang tak berkesudahan setiap hari. Inilah pesan utama Ulangan 8:4-10. Selama 40 tahun pengembaraan di gurun yang gersang, pakaian bangsa Israel tidak rusak dan kaki mereka tidak bengkak. Allah mendidik mereka seperti seorang ayah; bukan untuk menyiksa, melainkan demi meningkatkan kapasitas rohani serta kesabaran mereka. Ingatan akan kebaikan Tuhan di masa lalu inilah yang seharusnya menjadi energi utama bagi kita untuk menjaga ketaatan di masa kini. Tuhan menjanjikan kelimpahan, namun syaratnya satu: setia berpegang pada perintah-Nya dan hidup takut akan Dia sebagai wujud hormat. Berpegang teguh berarti memilih kejujuran di tengah tawaran jalan pintas duniawi yang menggiurkan. Hidup menurut jalan-Nya berarti konsisten mengutamakan kasih dalam setiap perbuatan nyata kepada sesama. Saat kita ingat Tuhan  dan taat kepadaNya, kesuksesan tidak akan membuat kita sombong karena kita sadar setiap kelimpahan adalah pemberian-Nya. Mari melangkah dengan percaya bahwa Dia yang setia memelihara kita di masa lalu, adalah Tuhan yang sama yang memegang kendali penuh atas masa depan kita.

Doa: Tuhan tuntun kami agar terus merawat ketaatan kepadaMu. Amin  

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 06 – 12 September 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut akan Allah

Minggu, 06 September 2026

bahan bacaan ke-1 : Mazmur 136: 1-3 (TB2)

Kasih setia Allah kepada orang Israel
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 2 Bersyukurlah kepada Allah segala ilah! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuan! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

bahan bacaan ke-2 : Pengkhotbah 4:17 – 5: 6 (TB2)

Takutlah akan Allah
(4-17) Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah! Mendekat untuk mendengar lebih baik dari pada mempersembahkan kurban yang dilakukan orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. 2 (5-1) Janganlah terburu-buru membuka mulutmu, dan janganlah hatimu tergesa-gesa mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit saja. 3 (5-2) Karena sebagaimana mimpi datang dalam banyaknya kesibukan, demikian pula percakapan bodoh dalam banyaknya perkataan. 4 (5-3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda untuk menepatinya, karena Ia tidak berkenan kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5 (5-4) Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 6 (5-5) Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan apa yang dikerjakan tanganmu?

Bersyukur dan Tekunlah Bermisi

Hari ini gereja kita, Gereja Protestan Maluku (GPM), merayakan ulang tahunnya yang ke-91. Sebuah usia yang matang dalam perjalanan pelayanan dan kesaksian iman.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita bersyukur dan berhenti sejenak untuk bertanya: masihkah kita bermisi dengan takut akan Allah? Firman ini mengingatkan, Allah melihat kita yang datang bersyukur kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan, bukan hanya hadir secara fisik, menyanyi, berdoa, atau mendengar khotbah. Ibadah sejati dimulai dari hati yang hormat, rendah hati, dan mau mendengarkan suara Tuhan. Sering kali orang berpikir bahwa bermisi berarti pergi ke tempat jauh, membangun gedung, atau melakukan kegiatan sosial. Semua itu penting. Tetapi misi yang paling mendasar justru dimulai dari cara kita beribadah kepada Allah. Jika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sombong, penuh keluhan, atau setengah hati, maka pelayanan kita kepada sesama pun akan kehilangan makna. Kita tidak dapat membawa kasih Kristus kepada orang lain jika kita sendiri tidak sungguh mengalami kasih-Nya dalam persekutuan dengan-Nya.Di usia GPM yang ke-91 tahun ini, kita dipanggil untuk tetap tekun bermisi. Namun ketekunan dalam misi hanya dapat lahir dari ibadah yang berkualitas dan hidup yang takut akan Allah. Dirgahayu GPM ke 91, Tuhan berkati!

 Doa:  Terima kasih Tuhan, ajar kami setia berjanji, Amin.

Senin, 07 September 2026

bahan bacaan :  Ibrani 12 : 25 – 29 (TB2)

25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang memperingatkan mereka di bumi tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? 26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi, melainkan langit juga." 27 Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada penggantian dari apa yang tergoncangkan, yaitu apa yang dijadikan, supaya apa yang apa yang tidak tergoncangkan, tinggal tetap. 28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. 29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Hidup dengan Rasa “Takut” yang Sehat

Kata “takut” bukan berarti ngeri,gemetar atau takut dihukum seolah-olah Tuhan itu Hakim yang siap menghukum. Padahal, “takut akan Tuhan” dalam Alkitab artinya rasa hormat yang sangat dalam, seperti sikap kita saat bertemu Raja Agung yang sangat kita kasihi dan kita muliakan. Kita sadar bahwa Tuhan itu kudus, Dia itu hebat, dan kita tidak boleh main-main dengan dosa. Di zaman sekarang, banyak orang kehilangan rasa hormat ini. Orang berani menyepelekan aturan, berani korupsi, berani menyakiti sesama karena merasa tidak ada yang melihat. Tapi Firman hari ini mengingatkan: Tuhan kita adalah api yang menghanguskan kejahatan. Tidak ada satu pun yang tertutup bagi-Nya. Jadi, bagaimana cara kita meningkatkan kapasitas sebagai pelayan dan umat? Dimulai dari rasa takut ini. Karena kita takut mengecewakan Tuhan, kita jadi bekerja jujur meski tidak diawasi bos. Karena kita takut menyakiti hati Tuhan, kita jadi menjaga lidah agar tidak memfitnah tetangga. Rasa takut ini justru membuat kita bebas dari ketakutan lain: takut miskin, takut sakit, atau takut dihina manusia. Kalau kita sudah hormat pada Sang Pencipta alam semesta, apa lagi yang perlu kita takuti? Mari jadikan rasa hormat ini sebagai rem pengendali dalam hidup kita, agar langkah kita selalu lurus di jalan-Nya.

Doa:  Tuhan, beri kami hati yang hormat pada-Mu,Amin.

Selasa, 08 September 2026

bahan bacaan :  Pengkhotbah 8 : 9 – 13 (TB2)

Perbuatan Allah tidak dapat diselami manusia
9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai yang lain hingga ia celaka. 10 Aku juga melihat orang-orang fasik dimakamkan, mereka yang tadinya keluar masuk tempat kudus. Orang yang berlaku benar malah dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 11 Karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, hati anak-anak manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 12 Walaupun orang berdosa yang seratus kali berbuat jahat hidup lama, aku tahu, orang yang takut akan Allah akan baik keadaannya, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 13 Tetapi orang fasik tidak akan baik keadaannya  dan seperti bayang-bayang ia tidak akan hidup lama, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.

Nikmati Hidup, Jangan Cuma Mengejar Angin

Pernahkah saudara-saudari merasa hidup ini tidak adil? Kok orang jahat malah kelihatan sukses, hidupnya enak, padahal dia curang di sana-sini? Sementara orang baik malah sering menderita? Pengkhotbah mengakui realita pahit ini: memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak masuk akal bagi otak kita. Tapi pesannya jelas: jangan iri hati! Jangan sampai kita ikut-ikutan jadi jahat hanya karena melihat orang jahat untung. Itu namanya “mengejar angin”. Hasilnya cuma kelelahan dan kekecewaan. Kesenangan orang berdosa itu cuma sementara, seperti busa sabun yang indah sebentar lalu pecah hilang tak berbekas. Sebaliknya, Firman Tuhan menjanjikan kebahagiaan bagi mereka yang “takut akan Allah”. Bahagia di sini bukan berarti kaya raya atau bebas masalah, tapi punya ketenangan hati yang tidak bisa dibeli uang. Orang yang takut Tuhan bisa tidur nyenyak karena hatinya bersih. Mereka menikmati hidup sehari-hari, makan minum bersama keluarga, bekerja dengan jujur, tertawa dengan anak-anak, sebagai hadiah dari Tuhan. Jadi, tugas kita minggu ini adalah melatih diri untuk puas. Stop membandingkan hidup kita dengan orang lain di medsos. Syukuri apa yang ada, lakukan bagian kita dengan benar, dan biarkan Tuhan yang mengurus sisanya. Itulah kunci hidup yang tenang.

Doa:  Tuhan, ajar kami puas dan hidup benar. Amin.

Rabu, 09 September 2026

bahan bacaan : Lukas 8 : 1 – 3 (TB2)

Perempuan-perempuan yang melayani Yesus
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas rasul bersama Dia, 2 demikian juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, 3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka.

Misi Itu Bukan Cuma Buat Pendeta

Sering ada anggapan kalau “bermisi” atau melayani Tuhan itu cuma tugas Pendeta, Penatua, atau Diaken saja. Umat biasa tinggal duduk manis di bangku gereja, dengar khotbah, lalu pulang. Salah besar! Lihat cerita di Lukas 8 ini. Yesus berkeliling memberitakan Injil, dan Dia tidak sendirian. Dia didampingi oleh kedua belas murid, dan juga oleh beberapa perempuan seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. Bahkan dikatakan mereka “melayani Yesus dengan kekayaan mereka”. Artinya, misi Tuhan itu dikerjakan bersama-sama oleh semua orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan sederhana. Ini pesan penting untuk peningkatan kapasitas kita semua.  Mungkin kita tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi kita bisa melayani dengan masakan untuk kegiatan gereja. Mungkin kita tidak punya uang banyak untuk memberi persembahan besar, tapi kita punya waktu untuk menjenguk tetangga yang sakit. Mungkin kita hanya ibu rumah tangga, tapi ketika kita rajin berdoa itu adalah kekuatan bagi misi gereja. Tidak ada pelayanan yang kecil di mata Tuhan jika dilakukan dengan kasih. Mari kita tekun menggunakan talenta masing-masing. Jangan tunggu dipanggil jadi pejabat gereja baru mau gerak. Mulai hari ini, jadilah misionaris di lingkunganmu sendiri: di pasar, di kantor, di sekolah, dan di rumah.

 Doa:  Tuhan, pakai hidup kami untuk melayani sesama,Amin.

Kamis, 10 September 2026

bahan bacaan : Pengkhotbah 12 : 9 – 14 (TB2)

Akhir kata
9 Selain berhikmat, Pengkhotbah juga mengajarkan pengetahuan kepada umat. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. 10 Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis dengan jujur kata-kata kebenaran. 11 Kata-kata orang berhikmat seperti ujung tongkat penggiring ternak dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala. 12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. 13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 14 Sesungguhnya Allah akan membawa setiap perbuatan ke penghakiman yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.

Inti Hidup Itu Sederhana: Takutlah akan Allah!

Di akhir hayatnya, sang Pengkhotbah merangkum seluruh pengalaman hidupnya yang panjang dan penuh kebijaksanaan. Setelah mencoba segala macam hal di dunia ini, ia menemukan satu kesimpulan final yang sangat sederhana: “Takutlah akan Allah dan lakukanlah perintah-perintah-Nya.” Titik. Tidak ada rumus rahasia untuk sukses, tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Semuanya kembali pada hubungan kita dengan Tuhan dan ketaatan kita pada firman-Nya. Di dunia yang semakin rumit dengan berbagai pilihan dan godaan, kita sering lupa hal yang paling dasar ini. Kita sibuk membangun menara prestasi, tapi lupa pondasi imannya. Mari kita evaluasi diri: Sudahkah kita menjadi pribadi yang makin takut akan Tuhan seiring bertambahnya usia dan pengalaman? Atau jangan-jangan kita malah makin sombong? Ingatlah bahwa setiap perbuatan, bahkan yang tersembunyi sekalipun, akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Ini bukan untuk menakut nakuti, tapi untuk menyadarkan kita bahwa hidup ini bermakna.Mari tekun meningkatkan kapasitas rohani kita bukan supaya dipuji manusia, tapi supaya kita hidup semakin memuliakan Tuhan. Hiduplah dengan prinsip sederhana: cintai Tuhan, taati aturan-Nya, dan kasihilah sesama. Itulah inti dari segalanya.

 Doa: Tuhan, tuntun kami hidup taat sampai akhir Amin.

Jumat, 11 September 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 5 : 11 – 21 (TB2)

Pelayanan untuk pendamaian
11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Allah mengenal kami dan aku harap kamu juga  mengenal kami menurut penilaian hati nuranimu.12 Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah. 13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu demi Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu demi kamu. 14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. 15 Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 18 Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20 Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, sebab Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Utusan Damai Kristus

Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Hidup lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Pembaruan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi membawa kita pada sebuah panggilan mulia: menjadi pelayan-pelayan pendamaian. Allah telah lebih dahulu mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus, dan kini Ia mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Menjadi pelayan perdamaian berarti hidup dengan hati yang dipenuhi kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan, bukan dendam; serta membangun hubungan yang retak, bukan memperlebar perpecahan. Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan. Tugas ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak berjalan sendiri. Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah juga memampukan kita untuk berdamai dengan sesama. Ketika kita membuka hati untuk mengampuni dan mengasihi, kita sedang mencerminkan kasih Allah itu sendiri. Karena itu, marilah kita hidup sebagai utusan Kristus, yang melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan damai sejahtera dari Tuhan. Jadilah pembawa damai di mana pun kita berada, sebab itulah identitas kita sebagai pelayan Kristus.

Doa Tuhan, Jadikan kami pembawa damai. Amin    

Sabtu, 12 September 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 6 : 1 – 10 (TB2)

Paulus dalam pelayanannya
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah, yang telah kamu terima. 2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari keselamatan, Aku menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 3 Dalam hal apapun kami tidak menyebabkan orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. 4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dengan penuh ketabahan dalam penderitaan, kesengsaraan dan kesukaran, 5 dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga dan kelaparan; 6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tulus ikhlas; 7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan baik di tangan kanan maupun tangan kiri 8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat dan ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar, 9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; 10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak berpunya, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Setia dan Tekun

Bacaan 2 Korintus 6:1-10 menegaskan bahwa anugerah Allah adalah pemberian yang berharga dan tidak boleh disia-siakan. Anugerah itu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan dan kesungguhan melayani Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sekarang adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah saat keselamatan, sehingga kita diajak untuk meresponsnya dengan sungguh-sungguh. Dalam pelayanannya, Paulus menunjukkan sikap tabah dan tekun dalam segala keadaan. Ia menghadapi penderitaan, kesukaran, dan penolakan, namun tetap setia dan tidak menyerah. Pelayanan yang ia lakukan bukan karena keadaan yang mudah, melainkan karena kesadaran akan anugerah Allah yang besar dalam hidupnya. Demikian juga kita, dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, sering diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk tetap bertahan, setia, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Anugerah Allah menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah. Marilah kita hidup dengan penuh syukur, melayani dengan tekun, dan tetap setia dalam segala keadaan, sehingga hidup kita memuliakan Tuhan.

Doa: Tuhan, kuatkan kami setia selalu menjalankan misi-Mu, Amin   

*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 30 Agustus – 5 September 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Keluarga yang Tekun Menghayati Cinta Kasih Tuhan

Minggu, 30 Agustus 2026

bahan bacaan : Efesus 3 : 14 – 21 (TB2)

Doa Paulus
14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dia, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Kekuatan Doa Yang Menyatukan Ikatan Keluarga

Di hari keluarga ini, kita diajak menghayati bahwa keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup. Keluarga adalah tempat kita menerima kasih, dukungan, dan rasa aman. Di dalamnya, kita belajar nilai, adab, dan moral yang membentuk karakter kita. Keluarga juga mengingatkan kita untuk menghargai setiap anggotanya, meskipun sering kali kita sibuk dan lupa memperhatikan orang-orang terdekat. Dalam keluarga tidak ada hubungan yang sempurna. Konflik, perbedaan, dan kesalahan pasti terjadi. Namun, justru di situlah kita belajar memaafkan dan menerima satu sama lain apa adanya. Sikap ini penting untuk membangun hubungan yang kuat dan menjaga keharmonisan. Keluarga adalah tempat kita berbagi sukacita, kesedihan, dan pergumulan hidup. Karena itu, marilah kita terus hadir bagi keluarga, saling mendukung, dan berbagi beban. Ketika kita saling menguatkan, ikatan keluarga akan semakin kokoh. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa doa adalah kekuatan keluarga Kristen. Dalam doa terdapat kuasa yang mempersatukan.

Doa:  Tuhan, ajarlah keluarga kami selalu menghayati cinta kasihMu. Amin. 

Senin, 31 Agustus 2026

bahan bacaan :  Mazmur 112 : 1 – 10 (TB2)

Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; ia pengasih, penyayang dan adil. 5 Bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil. 6 ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar akan diingat selama-lamanya. 7 ia tidak takut akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya kukuh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah lawan-lawannya. 9 Dengan murah hati ia membagi-bagi kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduk kekuatannya ditinggikan dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu menjadi tawar hati; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

Kebahagiaan dalam Takut Tuhan

Setiap keluarga mengukur kebahagiaan dan memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena mempunyai uang yang banyak, harta yang melimpah, punya kuasa dan jabatan. Ada juga yang bahagia saat anak-anak sudah mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut wajar saja. Tentang kebahagiaan dan ukuran kebahagiaan, firman Tuhan hari ini menjadi menarik untuk kita renungkan. Pemazmur dalam pasal ini menyatakan bahwa berbahagialah orang yang takut akan Tuhan. Bagi Pemazmur, Takut akan Tuhan adalah pokok kebahagiaan bagi semua orang termasuk keluarga Kristen. Kondisi yang baik ataupun buruk tak akan mengurangi kebahagiaan seseorang yang takut akan Tuhan. Ia bahkan akan tetap berdiri teguh dan kokoh dalam segala situasi maupun kondisi sebab takut akan Tuhan menjadi kekuatan bagi orang yang selalu bahagia. Takut akan Tuhan berarti mengagumi, mengagungkan dan memuliakan Tuhan dalam seluruh hidup semua anggota keluarga. Kata-kata dan sikap serta perilaku selalu setia dan taat kepada perintah dan kehendak Tuhan.  Maka sebagai keluarga-keluarga beriman; orang tua dan anak-anak cucu, pilihlah hidup takut akan Tuhan sebab itulah sesungguhnya  kebahagiaan sejati yang akan menjadi berkat turun temurun bagi seisi keluarga.

Doa:  ya Tuhan Yesus ajar kami saling mengasihi dalam keluarga,  Amin.

Selasa, 1 September 2026

bahan bacaan :  Efesus 5 : 25 – 27 (TB2)

25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Laki – Laki Bae

Masih ingatkah kita akan lagu : Laki-laki Bae ? Lagu yang sempat viral di tahun 2019 yang dinyanyikan Beto Habibu (Idol) menjadi lagu yang menarik disimak. Salah satu liriknya mengatakan ”Laki-laki bae selalu jaga se pung perasaan, Laki-laki bae selalu lindungi se nona” . Hidup saling menjaga perasaan dan melindungi penting dimiliki sebagai karakter dalam berumah tangga. Tidak jarang harus kita akui bahwa banyak persoalan dalam keluarga berakar dari minimnya rasa hormat dan kasih antara suami-istri. Tindakan KDRT, perselingkuhan, dan perceraian bahkan pembunuhan bisa terjadi karenanya. Itulah sebabnya penting  memahami soal kebersamaan atau kesatuan hidup. Efesus 5:25-27 memberikan pesan tersebut dengan secara khusus menjelaskan bagaimana sikap laki-laki yang seharusnya. “Laki-laki harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya” (5:25). Pesan ini mengandung makna bahwa Kristus mesti menjadi model keteladanan bagi laki-laki. Kasih-Nya mendorong laki-laki untuk tidak bersikap kasar atau ringan tangan dan mulut. Pertengkaran dalam rumah tangga tidak mesti dipandang sebagai batu loncatan untuk memperlihatkan kuasa atau arogan tetapi dalam kebijaksanaan mendampingi perempuan. Suasana damai dan sukacita harus dihadirkan melalui peran laki-laki. Karena itu, jadilah selalu laki-laki bae.

Doa:  Tuhan, ajar kami saling mengasihi dalam keluarga  Amin

Rabu, 02 September 2026

bahan bacaan : Efesus 5 : 22 – 24 (TB2)

Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Istri harus mengasihi Suami

Rasul Paulus mengangkat masalah kesatuan dalam jemaat sebagai salah satu persoalan utama dalam surat Efesus. Apa yang disoalkan bisa dikatakan merupakan masalah yang tetap terupdate. Di era ini, berbagai upaya memecah belah persekutuan kerap terjadi bahkan di dalam lingkungan keluarga. Teks hari ini menyoroti peran perempuan sebagai istri. Penulis menggunakan kata “tunduk” sebagai sikap yang mesti diperlihatkan perempuan kepada suaminya. Yang menarik, Kristus tetap menjadi role model atas sikapnya.“Hai istri, tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan”. Pesan ini berarti sikap yang diperlihatkan mesti bersesuaian dengan kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah seperti dilakukan terhadap Tuhan.Tuhan adalah pengasihi dan penyayang dan bila suami memperlihatkan sikap yang bertentangan maka istri mesti arif dalam memperlihatkan “tunduk” kepada suami. Pastinya bukan petunjuk agar istri mencari pria idaman lain. Sebaliknya istri diajak agar tetap bisa menghormati suami. Kurang-kurangnya seorang suami, tetap mintakan hikmat dari Tuhan, agar bisa setia dan bijaksana dalam menjalani biduk rumah tangga. Kristuslah Kepala dalam rumah tangga kita dan sebab itu, seorang istri atau perempuan harus belajar mengasihi suaminya atau laki-laki.

 Doa:  Tuhan ajar kami untuk belajar saling menghormati Amin.

Kamis, 03 September 2026

bahan bacaan :  1 Yohanes 4 : 7 – 12 (TB2)

Allah adalah kasih
7 Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Keluarga yang Baku Sayang

Kita selalu diajak untuk saling mengasihi satu dengan yang lain apalagi dalam keluarga. Dinda dan Donny adalah pasangan suami istri, Tetapi rumah tangga yang dijalani sekian tahun tanpa kehadiran anak selalu saja menjadi bumerang bagi mereka berdua. Dinda selalu menyalahkan Doni karena berdasarkan hasil diagnosa dokter, Doni positif dinyatakan mandul. Doni merasa tersudut dengan sikap Dinda tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengasihi Dinda. Sebagai keluarga Kristen, Dinda tidak seharusnya bersikap demikian kepada Doni. Ia harus tetap mengasihi Doni. Memang sulit perjalanan rumah tangga yang mereka lalui, tetapi pernikahan telah menjadi keputusan iman mereka dan sebab itu mereka harus bisa tetap menjalaninya. Kasih harus tetap menjadi pondasi rumah tangga mereka. Teks hari ini memberikan alasan utama mengapa mereka harus mengasihi. Allah adalah kasih itulah jawabannya. Karena Allah adalah kasih maka Dinda mesti memahami bahwa ketiadaan anak bukan penghalang baginya dan Doni untuk tetap saling mengasihi. Ia harus mengasihi Doni apa adanya sebagaimana Doni tetap mengasihinya. Allah adalah kasih dan dalam kasih-Nya, kita tidak tahu apa maksud-Nya dibalik setiap peristiwa yang terjadi. Satu hal yang pasti : kita  keluarga yang dikasihi Allah, maka sudah sepantasnya kita hidup baku sayang.

 Doa:  Tuhan ajar kami untuk tetap baku sayang Amin.

Jumat, 04 September 2026

bahan bacaan :  Kidung Agung 8 : 5 – 7 (TB2)

Cinta kuat seperti maut
5 Siapakah itu yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau. 6 Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! 7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia tetap akan dihina.

Tetaplah Saling Mencinta

Opa Edo dan oma Leny adalah dua orang lansia yang memiliki kisah hidup yang menarik. Dalam usia lanjut, mereka merupakan teman cerita yang sulit dipisahkan. Opa Edo memiliki kebiasaan ruk-ruk  (marah) bila oma Leny belum duduk bercerita dengannya. Oma Leny walau kadang dimarahi opa Edo namun beliau dengan setia selalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Opa Edo kelihatannya selalu merasa tidak lengkap bila oma Leny tidak bersamanya. Kisah mereka memperlihatkan kekuatan cinta yang mendalam. Walau dalam usia lanjut, namun mereka tetap memilih bersama. Kitab Kidung Agung menuliskan kekuatan cinta dalam teks hari ini. Sebagai kidung yang terindah, atau dalam terjemahan lain , Kidung Salomo, teks ini mengibaratkan cinta kuat bagai maut. Karena kuatnya cinta, maka yang membangun hubungan atas dasar cinta pasti akan bertahan. Keluarga Kristen mesti tetap menjadikan cinta kasih Kristus sebagai dasar dalam hidupnya. Tanpanya maka berbagai krisis akan terjadi dalam keluarga apalagi di era digital ini. Bisa saja suami-istri tidak saling menghargai; anak tidak mau ditegur, hubungan adik kakak yang renggang atau bahkan juga minimnya komunikasi. Keluarga Kristen sebagai gereja seharusnya tetap memberi diri dipenuhi dengan cinta kasih Kristus. Mari menua bersama dalam terang cinta kasih Tuhan.

Doa:  Tuhan ajar kami untuk tetap mempertahankan cinta, Amin.

Sabtu, 05 September 2026

bahan bacaan : Kolose 3 : 14 – 15  (TB2)

14 Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Kasih Menjadi Pengikat

Kehidupan sejati seperti apakah yang kita kehendaki terjadi ? Hari ini kitab Kolose menuntun kita menemukannya dalam Kristus. Penulis menceritakan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia adalah kunci yang membuka rahasia Allah  dan karena itu manusia harus hidup baru.  Segala sesuatu yang duniawi harus dimatikan. Marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor dibuang. Tidak saling mendustai, tidak saling membedakan. Ada belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kelemahlembutan dan kesabaran. Tidak menyimpan dendam. Semua tindakan itu bila dilakukan tanpa kasih sama sekali tidak berarti apa-apa. Kasih harus menjadi dasar dari hidup sebab kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kebenaran ini penting diperhatikan terutama dalam keluarga  jemaat. Kita tahu kemajuan era digital membuat banyak perubahan. Tanpa bisa dibendung kita diperhadapkan dengan sejumlah tantangan dan ancaman. Keluarga pun jemaat berada dalam situasi genting yang mendorongnya membangun pertanyaan: bagaimana caranya menyikapi semuanya ?  Teks hari ini mengajarkan kita untuk tetap hidup dalam kasih.  Hanya ketika kasih dijadikan pengikat, maka kita akan bisa menjalani kehidupan dalam sukacita dan damai sejahtera. Sebab itu, mari jadikan kasih sebagai pengikat.

 Doa:  ya Tuhan Yesus, satukanlah kami dalam kasih-Mu, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUS-SEPT 2026

Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Memperjuangkan Keadilan Sosial bagi Masyarakat  

Minggu, 23 Agustus 2026

bahan bacaan : Yeremia 22 : 1 – 9 (TB2)

Beginilah firman TUHAN: "Pergilah ke istana raja Yehuda dan sampaikanlah firman ini di sana! 2 Katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai raja Yehuda yang duduk di atas takhta Daud, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini! 3 Beginilah firman TUHAN: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah korban perampokan dari tangan penganiayanya. Jangan engkau menindas dan jangan melakukan kekerasan terhadap pendatang, anak yatim dan janda. Juga janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini! 4 Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan firman ini, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud. Mereka mengendarai kereta dan kuda, diiringi pegawai-pegawainya dan rakyatnya. 5 Akan tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan ini, Aku bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman TUHAN, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan. 6 Sebab beginilah firman TUHAN mengenai keluarga raja Yehuda: Engkau seperti Gilead bagi-Ku, seperti puncak gunung Libanon! Namun Aku pasti akan membuat engkau menjadi padang gurun, menjadi kota-kota tidak berpenghuni. 7 Aku akan menetapkan pemusnah-pemusnah terhadap engkau, masing-masing dengan senjatanya; mereka akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api. 8 Banyak bangsa akan melewati kota ini dan berkata seorang kepada yang lain: Mengapa TUHAN melakukan hal itu kepada kota yang besar ini? 9 Orang akan menjawab: Sebab, mereka telah meninggalkan perjanjian TUHAN, Allah mereka, lalu sujud menyembah ilah-ilah lain dan beribadah kepadanya."

Tekunlah Memperjuangkan Keadilan Sosial

Memperoleh keadilan tatkala menjalani kehidupan merupakan harapan setiap orang tanpa terkecuali. Kendati demikian yang diharapkan, akan tetapi ketidakadilan masih terjadi dimana-mana. Terhadap realitas tersebut, bagaimana peranan kita sebagai gereja? Apakah kita memilih diam melihat ketidakadilan yang terjadi ataukah akan tekun memperjuangkan keadilan? Teks Yeremia 22:1-8 bacaan kita saat ini mengingatkan tentang pentingnya memperjuangkan keadilan sosial. Ini nampak ketika Yeremia di utus Allah untuk memperingatkan raja Yehuda, pegawai-pegawai dan rakyatnya supaya dapat berlaku adil kepada sesama dalam menjalani kehidupan mereka (ay. 2-3). Dengan berlaku adil dan benar mereka akan menuai kebaikan dari Allah (ay. 4), sebaliknya jika tidak maka malapetaka akan mereka tuai (ay. 5). Peringatan kepada bangsa Yehuda ini baiklah juga menjadi perenungan bersama kita dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya. Di satu sisi kita menentang ketidakadilan tetapi terkadang di sisi lain kita justru menjadi pelaku ketidakadilan. Perlakuan tidak adil sering terjadi dalam masyarakat, ruang lingkup pelayanan bahkan keluarga. Mengingat hal dimaksud tidak berkenan di hadapan Allah, maka kita di ajak untuk memperlakukan semua orang dengan adil tanpa memandang bulu.

Doa: Tuhan,  biarlah kami tetap menjadi pribadi yang tekun memperjuangkan keadilan sosial. Amin. 

Senin, 24 Agustus 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 8 : 15 – 18 (TB2)

Pejabat-pejabat Daud
15 Demikianlah Daud memerintah atas seluruh Israel. Daud menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya. 16 Yoab, anak Zeruya, menjadi panglima; Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara; 17 Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam kerajaan; Seraya menjadi sekretaris kerajaan; 18 Benaya bin Yoyada menjadi panglima orang Kreti dan orang Pleti; dan putra-putra Daud menjadi imam.

Tegakkan Keadilan Tanpa Diskriminasi

Keadilan merupakan hal penting dalam kehidupan, namun hingga sekarang masih sering terjadi ketimpangan dan diskriminasi karena perbedaan status sosial. Banyak orang diperlakukan tidak adil karena kedudukan, kekayaan, atau latar belakang tertentu. Firman Tuhan mengingatkan bagaimana seharusnya kita hidup dan memperlakukan sesama dengan benar. Dalam pemerintahan Raja Daud, keadilan dan kebenaran menjadi dasar utama kepemimpinannya. Daud menjalankan kehendak Allah tanpa membeda-bedakan rakyatnya. Ia tidak hanya berpihak kepada kelompok tertentu, tetapi berusaha berlaku adil bagi semua orang. Sikap ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya, kita masih sering hidup pilih kasih, membeda-bedakan orang lain, dan merendahkan mereka yang lemah. Padahal Tuhan menghendaki agar setiap orang diperlakukan dengan hormat dan setara. Karena itu, firman Tuhan mengajak kita untuk terus menegakkan keadilan dan kebenaran dalam hidup bersama. Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa diskriminasi, menghargai setiap orang, dan menjadi pembawa damai, sehingga hidup kita mencerminkan kasih dan keadilan Allah bagi dunia.

Doa: Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk berlaku adil dan benar tanpa diskriminasi.  Amin.   

Selasa, 25 Agustus 2026

bahan bacaan : Ayub 29 : 11 – 17 (TB2)

11 apabila telinga mendengar tentang aku, disebutnya aku berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipujinya. 12 Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong; 13 aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria; 14 aku berpakaian kebenaran dan keadilan kukenakan seperti jubah dan serban; 15 aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh; 16 aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. 17 Aku meremukkan geraham orang curang, dan merebut mangsanya dari giginya.

Tolonglah Mereka Yang Lemah dan Susah

Perbedaan status sosial merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan masyarakat. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi tembok pemisah, melainkan kesempatan untuk saling menolong dan memperhatikan sesama. Dalam bacaan hari ini, Ayub menunjukkan kepeduliannya kepada orang miskin, yatim piatu, janda, dan mereka yang membutuhkan pertolongan (ay. 12-16). Sikap tersebut menjadi wujud nyata kemurahan hati dan keadilan yang dikehendaki Allah bagi orang lemah dan tidak berdaya. Melalui firman ini, kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah memiliki kepedulian dan empati kepada mereka yang sedang mengalami kesusahan? Ataukah kita masih sibuk dengan kepentingan diri sendiri hingga mengabaikan penderitaan sesama? Di sekitar kita masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan kasih untuk meringankan beban hidup mereka. Karena itu, jangan menjauh dari orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi hadir dan membantu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kehadiran kita hendaknya membawa penghiburan, harapan, kekuatan, serta memperlihatkan hidup yang dipenuhi keadilan dan kebenaran. Saat kita menolong dengan tulus, kita sedang menjadi saluran kasih Tuhan bagi dunia. Tindakan kecil seperti memberi perhatian, mendengar keluh kesah, atau membantu kebutuhan orang lain dapat membawa sukacita dan semangat baru bagi mereka yang hampir kehilangan harapan dalam menjalani kehidupan bersama.

Doa: Bapa, pakailah hidupku supaya jadi penolong bagi mereka yang lemah dan susah. Amin. 

Rabu, 26 Agustus 2026

bahan bacaan : Amos 5 : 21 – 24 (TB2)

Ibadah Israel dibenci TUHAN
21 "Aku membenci, Aku menghina perayaanmu dan Aku tidak menyukai perkumpulan rayamu. 22 Meskipun kamu mempersembahkan kepada-Ku kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban sajianmu, Aku tidak suka, dan kurban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, tidak akan Kupandang. 23 Jauhkanlah dari-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak akan Kudengar. 24 Tetapi hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Allah Suka Keadilan dan Kebenaran

Beribadah, memberi persembahan, dan pujian kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan dan kebenaran dalam kehidupan sehari hari. Keduanya saling melengkapi sebagai bukti iman yang sejati kepada Tuhan. Namun, pada masa nabi Amos, bangsa Israel justru melakukan hal yang berbeda. Mereka rajin beribadah, mempersembahkan korban, dan menaikkan pujian kepada Allah, tetapi tetap berlaku tidak adil terhadap orang miskin dan lemah. Karena itu, Allah menyatakan bahwa Ia tidak berkenan kepada seluruh ritual keagamaan mereka. Semua ibadah, persembahan, dan nyanyian pujian menjadi sia sia karena umat tidak hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran terhadap sesama. Firman Tuhan ini menjadi pengingat bagi orang percaya masa kini agar tidak hanya terlihat rohani di hadapan manusia, tetapi juga hidup benar di hadapan Allah. Kita tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan jika masih menyakiti, merendahkan, dan mengabaikan sesama. Ibadah yang sejati harus terlihat melalui sikap, perkataan, dan tindakan yang mencerminkan kasih, kejujuran, serta keadilan. Karena itu, marilah hidup taat kepada kehendak Allah dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa: Ya Allah, tolong kami supaya mampu menyenangkan hatiMu. Amin.   

Kamis, 27 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 25 : 1 – 4 (TB2)

Hukuman yang tidak sewenang-wenang
"Apabila ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke pengadilan, mereka akan diadili dengan menyatakan siapa yang benar dan siapa yang salah, 2 Jika orang yang bersalah itu layak dipukul, hakim harus menyuruh dia tiarap dan dipukuli di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. 3 Orang itu boleh dipukul empat puluh kali, tidak lebih; Apabila ia dipukul lebih banyak lagi, saudaramu akan menjadi rendah di matamu. 4 Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Memperlakukan Setiap Orang Dengan Layak

Kekeliruan bahkan kesalahan dapat dilakukan oleh semua orang, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Jika diperhadapkan dengan kondisi tersebut, maka seringkali yang dilakukan oleh kita yaitu main hakim sendiri secara verbal maupun non verbal (kekerasan fisik) sebagai akibat atas kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan seseorang. Akan tetapi jika dicermati dengan baik maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena ada hukum atau peraturan negara yang mengatur semuanya itu. Hal yang sama pun diungkapkan di dalam Ulangan 25:1-4 bacaan kita saat ini. Di sini memukul sebagai sebuah hukuman diizinkan, namun hanya sesudah proses peradilan dan dilakukan depan hakim. Artinya tidak semua orang diizinkan secara bebas untuk memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan dengan seenaknya. Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjalani hidup dengan layak tanpa ada tekanan dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Berdasarkan kebenaran firman ini, kita diingatkan supaya lebih taat pada aturan yang mengatur dan tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain. Hindarilah sikap dan perlakuan yang menghakimi secara tidak adil dimana saja kita berada dan kepada siapa saja yang kita jumpai. Sebab setiap orang berhak untuk mendapatkan dan menjalani kehidupan yang layak dan adil tanpa tekanan.

Doa:  Tuhan, ajarilah kami untuk memperlakukan setiap orang dengan layak, Amin.

Jumat, 28 Agustus 2026

bahan bacaan : Ulangan 24 : 19 – 22 (TB2)

19 Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupakan seberkas di ladang, jangan kembali untuk mengambilnya; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala upaya tanganmu. 20 Apabila engkau menguncang-guncangkan pohon zaitunmu untuk menuai hasilnya, jangan memeriksa dahannya sekali lagi; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. 21 Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, jangan melakukan pemetikan sekali lagi; itulah bagian pendatang, anak yatim dan janda. 22 Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini."

 Menabur Kepedulian, Memupuk Keadilan

Keadilan bukan berarti sama rata atau bersikap netral dalam suatu perkara. Keadilan adalah sikap yang benar secara moral, pantas, tepat, dan berbudi luhur. Prinsip keadilan selalu berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Orang yang adil bukanlah mereka yang diam saat terjadi masalah dengan alasan netral, tetapi mereka yang berani menyuarakan dan melakukan yang benar. Keadilan hanya dapat terwujud jika ada kepedulian. Ketika kita peduli, kita tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan. Kita terdorong untuk bertindak dan membela yang benar. Dalam situasi penindasan dan diskriminasi, orang yang peduli akan berdiri di pihak korban, memperjuangkan hak mereka, dan menentang tindakan yang merugikan sesama. Sebaliknya, sikap netral dalam situasi ketidakadilan menunjukkan kurangnya kepedulian, bahkan secara tidak langsung mendukung penindasan. Berlaku adil juga berarti peka terhadap penderitaan di sekitar kita tetangga yang kesulitan, saudara yang bergumul, atau orang asing yang membutuhkan pertolongan.

Doa: Tuhan, kini kami menyadari  bahwa kami harus bertindak membela yang benar. Amin. 

Sabtu, 29 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 13 – 15 (TB2)

13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru. 14 Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan amarah, dan suap secara dian-diam meredakan kegeraman yang hebat. 15 Melakukan keadilan adalah sukacita bagi orang benar, tetapi menakutkan orang yang berbuat jahat.

Sukacita dalam Keadilan

Pernahkah kita marah ketika seseorang tidak jujur? Atau kita dimarahi karena dianggap berbohong, padahal kita merasa sudah terbuka? Ketidakjujuran melukai hati dan merusak kepercayaan. Dalam relasi suami istri, orangtua dan anak, saudara, maupun sahabat, kebohongan membuat hubungan yang baik menjadi retak karena hilangnya rasa percaya. Kitab Amsal mengajarkan bahwa melakukan keadilan adalah kesukaan bagi orang benar. Keadilan berarti berkata jujur tanpa memihak mengakui yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Sikap ini menghadirkan sukacita, karena yang dilakukan adalah perbuatan terpuji, menyenangkan, dan membawa nilai kebaikan bagi sesama. Sebaliknya, orang yang hidup dalam ketidakjujuran dan penipuan tidak akan mengalami ketenangan. Ketika berhadapan dengan keadilan, mereka akan merasa takut. Hal ini karena keadilan selalu mencari kebenaran dan tidak dapat dikompromikan. Tidak ada yang tersembunyi selamanya dari keadilan. Karena itu, marilah kita terus belajar hidup jujur dan berlaku adil dalam setiap relasi. Dengan demikian, hidup kita tidak hanya memelihara kepercayaan, tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:  Tuntun kami Tuhan agar kami hidup takut kepada-Mu, supaya hidup kami selalu berbahagia. Amin..  

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Minggu, 16 Agustus 2026

bahan bacaan : Yeremia 29 : 1 – 23 (TB2)

Surat kepada orang buangan di Babel
Beginilah isi surat yang dikirim nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua yang tersisa di antara orang buangan, kepada para imam, kepada para nabi dan seluruh rakyat yang telah diangkut ke pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 2 Hal ini terjadi sesudah raja Yekhonya bersama ibu suri, pembesar-pembesar istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi keluar dari Yerusalem. 3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus ke Babel oleh Zedekia, raja Yehuda, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya: 4 "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang Kuangkut ke pembuangan dari Yerusalem ke Babel: 5 Dirikanlah rumah dan tempatilah; buatlah kebun dan nikmatilah hasilnya; 6 Ambillah isteri dan perolehlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, bertambah banyaklah dan jangan berkurang! 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. 8 Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di antara kamu dan oleh para penenungmu. Jangan dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! 9 Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 10 Sungguh beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku melawat kamu. Aku akan menepati janji-Ku yang indah kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang Kupikirkan mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan malapetaka, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan. 12 Ketika kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, Aku akan mendengarkan kamu; 13 ketika kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; ketika kamu mencari Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan berkenan kamu temukan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat asal dari mana Aku telah membuang kamu. 15 Katamu: TUHAN telah membangkitkan nabi-nabi bagi kami di Babel. 16 Sungguh, beginilah firman TUHAN tentang raja yang duduk di atas takhta Daud dan tentang seluruh rakyat yang tinggal di kota ini, saudara-saudaramu yang tidak keluar bersamamu ke pembuangan: 17 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku akan mengirim pedang, kelaparan dan sampar ke tengah-tengah mereka. Aku akan membuat mereka seperti buah ara yang busuk sedemikian jeleknya, sehingga tidak dapat dimakan. 18 Aku akan mengejar mereka dengan pedang, kelaparan dan sampar, Aku akan membuat mereka menjadi momok bagi semua kerajaan di bumi, menjadi sumpah, sumber kengerian, sasaran ejekan, dan aib di antara segala bangsa ke mana mereka Kucerai-beraikan, 19 Sebab mereka tidak mendengarkan perkataan-Ku, demikianlah firman TUHAN, yang telah Kusampaikan kepada mereka terus-menerus dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi; tetapi kamu tidak mendengarkannya, demikianlah firman TUHAN. 20 Dengarkanlah firman TUHAN, hai kamu semua orang buangan, yang telah Kukirim dari Yerusalem ke Babel! 21 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, tentang Ahab bin Kolaya dan Zedekia bin Ma'aseya, yang bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku: Sesungguhnya Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, yang akan membunuh mereka di depan matamu sendiri, 22 Dari pengalamn mereka itulah akan dikenal suatu ungkapan kutuk di antara semua orang buangan dari Yehuda yang ada di Babel, demikian: Biarlah TUHAN memperlakukan kamu seperti Zedekia dan Ahab yang telah dipanggang oleh raja negeri Babel di dalam api!, 23 oleh karena mereka telah melakukan kebebalan di Israel, telah berzina dengan isteri sesama mereka dan telah mengucapkan perkataan dusta yang tidak Kuperintahkan kepada mereka. Aku sendirilah yang mengetahui dan menyaksikannya, demikianlah firman TUHAN."

Gereja Tekun Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Kita bersyukur atas anugerah dan kasih Allah dalam Kristus yang nyata dalam seluruh perjalanan hidup sebagai orang percaya. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan hidup yang menantang kita, namun kasih sayang Tuhan tidak pernah berubah. Hal ini yang disaksikan dalam bacaan firman Tuhan di hari ini sebagai pengalaman iman bangsa pilihan Tuhan Israel saat mereka harus di buang ke Babel. Pembuangan Babel sebagai cara Tuhan untuk mendidik mereka karena ketidaktaatan kepada Tuhan. Selama tujuh puluh tahun masa pembuangan itu, mereka diperintahkan untuk tetap bekerja dan beraktivitas dengan mendoakan tempat dimana mereka membangun hidup dan masa depan. Seperti itupun tanggung jawab iman kita sebagai orang percaya, ketika menjalani hari-hari hidup di tengah kehidupan bangsa Indonesia tercinta yang akan mensyukuri HUT kemerdekaannya di besok hari. Kehadiran kita sebagai orang percaya, kiranya menjadi garam dan terang untuk menggarami dan menerangi kehidupan bangsa ini dengan seluruh tugas dan tanggung jawab yang kita lakukan dengan baik.

Doa: Tuhan, mampukan dan kuatkan kami untuk menjadi berkat dalam tanggung jawab sebagai warga bangsa yang baik. Amin.  

Senin, 17 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 15 –  22 (TB2)

Tentang membayar pajak kepada Kaisar
15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dalam perkataan-Nya. 16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penipuan orang, sebab Engkau tidak mencari muka. 17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" 18 Namun, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. 20 Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan nama siapakah ini?" 21 Jawab mereka: "Gambar dan nama Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah." 22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Membayar Pajak Tepat Waktu Menopang Pembangunan Bangsa

Hari ini merupakan sukacita bagi kita dalam merayakan HUT kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia tercinta yang ke 81 tahun. Cita-cita dan kerinduan kita adalah menikmati kemakmuran bagi semua warga bangsa. Salah satu penunjangnya adalah soal uang yang berkaitan dengan membayar pajak. Nas bacaan di hari ini, Tuhan Yesus menegaskan tentang tanggung jawab dapat kita lakukan dengan baik sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Memang kondisi bangsa saat ini, maraknya aksi korupsi terhadap keuangan negara yang merupakan hasil pajak dari masyarakat berdampak buruk sehingga   kemakmuran masyarakat seakan sebuah mimpi saja. Namun kita harus mendoakan para pemimpin bangsa ini, teristimewa anak-anak Tuhan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dengan jabatan dan kuasa yang dianugerahi Tuhan agar dapat melakukannya dengan baik. Sebagai masyarakat, kitapun tetap mewujudkan kewajiban dengan baik dalam membayar pajak. Sekalipun apa yang kita harapkan belum sesuai dengan kenyataan, namun panggilan kita untuk menyuarakan suara kenabian dalam upaya penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme tetap dilakukan dengan penuh iman kepada Allah dalam Kristus yang mengasihi dan memberkati bangsa ini. Sehingga hasil pajak dapat digunakan dengan baik demi kemakmuran negara dan bangsa.          

Doa: Ya Tuhan bijaksanakan kami untuk mewujudkan kewajiban sebagai warga bangsa dengan membayar pajak. Amin  

Selasa, 18 Agustus 2026

bahan bacaan : Nehemia 2 : 11 – 20 (TB2)

Tekad untuk membangun kembali tembok Yerusalem
11 Lalu aku tiba di Yerusalem. Sesudah tiga hari di sana, 12 aku bangun pada malam hari bersama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak memberitahukan kepada siapapun rencana yang diberikan Allahku dalam hatiku untuk kulakukan bagi Yerusalem. Bahkan tidak seekor binatang pun bersamaku selain yang kutunggangi. 13 Pada malam hari itu aku keluar melalui Pintu Gerbang Lembah, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. Aku menyelidiki dengan saksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. Karena binatang yang kutunggangi tidak dapat melewati tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan saksama tembok itu. Kemudian aku kembali dan masuk melalui pintu gerbang Lembah. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku pergi dan apa yang telah kulakukan, karena sampai kini aku belum memberitahukan apa pun kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, para pemuka, para penguasa maupun para petugas lainnya. 17 Lalu aku berkata kepada mereka: "Kamu melihat kemalangan yang kita alami: Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela." 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa baiknya tangan Allahku yang melindungi aku dan apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka, "Kami siap untuk membangun!" Lalu dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Mendengar hal itu Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mengolok-olok dan menghina kami. Kata mereka: "Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?" 20 Aku menjawab mereka, kataku: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!"

Siap Terlibat dalam Pembangunan Bangsa

Kecintaan Nehemia kepada bangsanya Israel membuatnya untuk meninggalkan kenyamanannya di istana raja dengan pekerjaan sebagai juru minum raja. Hal ini dilakukan oleh Nehemia sebab ia mendengar tentang kondisi bangsanya dimana kota Yerusalem telah hancur tembok-temboknya. Nehemia sedih dan bertekad untuk memperbaikinya. Dengan mendapat mandat sebagai bupati, Nehemia langsung bergerak untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab membangun kembali tembok Yerusalem yang hancur. Disaksikan dalam nas alkitab, Nehemia melakukannya dengan bergumul serta berserah dan bergantung kepada Tuhan. Pentingnya campur tangan Tuhan yang melayakkan dan memampukannya Nehemia dalam tugas dan tanggung jawabnya. Sebuah teladan bagi kita, dimana rasa kecintaan pada bangsa ini, maka semua tugas dan tanggungjawab yang kita lakukan, hendaknya selalu meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan. Sehingga semuanya itu akan berhasil dan berguna untuk semua orang serta demi kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Terima kasih Tuhan yang menjadi kekuatan bagi kami untuk menghadapi tantangan dalam hidup ini.  Amin  

Rabu, 19 Agustus 2026

bahan bacaan : Roma 13 : 1 – 7 (TB2)

Kepatuhan kepada pemerintah
Tiap-tiap orang harus tunduk kepada para penguasa yang di atasnya, sebab tidak ada penguasa, yang tidak berasal dari Allah; para penguasa yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2 Sebab itu siapa melawan penguasa, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melawan, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. 3 Sebab orang yang berbuat baik, tidak usah takut kepada pemimpin, kecuali orang yang berbuat jahat. Maukah engkau hidup tanpa takut terhadap pemimpin? Perbuatlah apa yang baik dan engkau akan beroleh pujian darinya. 4 Karena ia adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Namun jika engkau berbuat jahat, takutlah kepadanya, karena tidak percuma ia menyandang pedang. Ia adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 5 Sebab itu perlu kita tunduk, bukan saja karena murka Allah, tetapi juga oleh karena hati nurani kita. 6 Itulah juga sebabnya kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7 Bayarlah kepada semua orang apa yang wajib kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Taat dan Hormat kepada Pemerintah

Sebuah keluarga sederhana tetap setia menaati aturan, meskipun mereka belum langsung merasakan manfaatnya. Mereka tetap tertib, taat, dan menjalankan kewajiban sebagai warga. Ketika akhirnya perubahan terjadi dan keadaan menjadi lebih baik, mereka menyadari bahwa ketaatan mereka turut mendukung kebaikan bersama. Dari situlah mereka belajar bahwa menghormati pemerintah adalah bagian dari iman kepada Tuhan. Roma 13:1–7 mengajarkan bahwa pemerintah adalah hamba Allah yang dipakai untuk menjaga ketertiban dan keadilan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk tunduk dan menghormati pemerintah. Sikap ini bukan berarti selalu setuju dengan semua kebijakan, tetapi tetap hidup taat, menjaga sikap hormat, dan tidak melawan aturan yang berlaku. Dalam keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk menjadi teladan. Melalui sikap taat, anak-anak belajar bahwa iman kepada Tuhan juga diwujudkan dalam tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan hidup taat dan hormat, kita ikut ambil bagian dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa.

Doa:  Ajar kami untuk hidup taat dan hormat kepada pemerintah, Amin.

Kamis, 20 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 5 : 13 – 16 (TB2)

Garam dunia dan terang dunia
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan. 15 Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Menjadi Garam dan Terang bagi Sesama

Yesus menyebut kita garam dan terang dunia. Garam memberi rasa dan mencegah kebusukan, sementara terang mengusir kegelapan. Ini bukan sekadar identitas, tetapi panggilan hidup, khususnya bagi kita di tengah pembangunan bangsa. Sebagai garam, kita dipanggil menghadirkan nilai kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial. Di tengah tantangan zaman seperti korupsi, ketidakadilan, dan sikap tidak peduli, kita harus menjadi pribadi yang menjaga moralitas dan membawa perubahan nyata dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Sebagai terang, kita terpanggil menjadi teladan. Terang tidak bersembunyi, tetapi bersinar agar orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Allah. Dalam konteks bangsa, kita dapat terlibat aktif dalam pendidikan, pelayanan sosial, serta menjaga persatuan dan kerukunan antar sesama. Melalui kehidupan sehari-hari di rumah, keluarga menjadi tempat pertama untuk belajar menjadi garam dan terang. Saling mendukung, hidup dalam kasih, serta membangun kebiasaan baik akan membentuk karakter yang berdampak luas. Kiranya setiap keluarga gereja setia menjalankan panggilan ini, sehingga melalui hidup kita, kesejahteraan dan keadilan bangsa semakin nyata, dan nama Tuhan dimuliakan.

Doa:  ya Tuhan mampukan untuk menjadi garam dan terang bagi sesama. Amin

Jumat, 21 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 21 – 26 (TB2)

21 Aku, raja Artahsasta, telah mengeluarkan perintah kepada semua bendahara di daerah seberang sungai Efrat: segala yang diminta darimu oleh imam Ezra, ahli Taurat Allah semesta langit, haruslah dilaksanakan secara seksama, 22 dengan memakai perak sampai seratus talenta, gandum sampai seratus kor, anggur sampai seratus bat, minyak sampai seratus bat, dan garam tidak terbatas. 23 Segala sesuatu yang berdasarkan perintah Allah semesta langit, harus dilaksanakan dengan tekun untuk Rumah Allah semesta langit, supaya pemerintahan raja serta anak-anaknya jangan tertimpa murka. 24 Kami memberitahukan pula kepadamu, bahwa tidaklah sah bila para imam, orang Lewi, penyanyi, penjaga pintu gerbang, pelayan atau hamba lainnya di Rumah Allah dikenakan pajak, upeti atau bea. 25 Engkau, Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka mengadili seluruh rakyat yang tinggal di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajari. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum sepantasnya, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pengasingan, baik dengan hukuman denda atau hukuman penjara."

Pemimpin Berhikmat, Bangsa Sejahtera

Hikmat dari Tuhan bukan hanya menerangi pikiran, tetapi menuntun langkah menuju damai sejahtera.” Bacaan Kitab Ezra 7:21-26 menunjukkan bagaimana Raja Artahsasta memberi wewenang kepada Ezra untuk mengatur kehidupan umat berdasarkan hukum Allah. Di sini kita melihat bahwa ketika seorang pemimpin berjalan dalam hikmat Tuhan, keputusan yang diambil bukan hanya adil, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Hikmat Allah memampukan seorang pemimpin bertindak benar, tidak memihak, dan berani menegakkan keadilan. Ezra tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan bangsa. Inilah yang menjadi dasar kesejahteraan sejati bukan sekadar materi, tetapi kehidupan yang tertib, adil, dan berkenan kepada Tuhan. Sebagai keluarga Kristen, kita juga dipanggil menjadi “pemimpin kecil” dalam lingkup kita: di rumah, pekerjaan, dan masyarakat. Ketekunan dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa dimulai dari sikap hidup yang takut akan Tuhan dan penuh hikmat dalam setiap keputusan. Mari kita hidup dalam hikmat Allah, sehingga melalui kehidupan kita, keadilan ditegakkan dan kesejahteraan bangsa semakin nyata.

Doa: Tuhan berikanlah kami hikmat kepada para pemimpin bangsa kami, Amin .

Sabtu, 22 Agustus 2026

bahan bacaan : Ezra 7 : 27 – 28a (TB2)

Ezra Memuji Tuhan
27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang sudah menggerakkan hati raja sedemikian rupa, sehingga ia membuat indah Rumah TUHAN di Yerusalem, 28 dan Ia membuat aku diperkenan oleh raja dan penasihat-penasihatnya serta semua pembesar raja yang berkuasa!

Tangan Tuhan Turut Bekerja

Seorang guru di desa terpencil tetap mengajar dengan setia meski fasilitas terbatas. Ia percaya usahanya akan berdampak bagi masa depan. Bertahun-tahun kemudian, murid-muridnya menjadi orang-orang yang membawa perubahan bagi masyarakat. Dalam Ezra 7:27–28a, Ezra memulai dengan pujian kepada Tuhan yang telah menggerakkan hati raja untuk mendukung umat Israel. Ia menyadari bahwa semua itu bukan kebetulan, melainkan karya Tuhan yang berdaulat atas hati manusia dan perjalanan sebuah bangsa. Kesadaran ini memberi Ezra keberanian. Ia percaya tangan Tuhan menyertainya, sehingga ia bertindak mengumpulkan para pemimpin dan membangun kembali kehidupan umat. Iman yang sejati tidak berhenti pada rasa syukur, tetapi mendorong tindakan nyata demi kesejahteraan bersama. Sebagai gereja masa kini, kita dipanggil untuk tekun mengusahakan kesejahteraan bangsa. Tuhan dapat memakai setiap peran kecil kita melalui doa, pelayanan, dan hidup yang benar untuk membawa perubahan. Ketekunan dan kesetiaan kita hari ini bisa menjadi berkat besar di masa depan.

Doa:  Tuhan, jadikan kami alat-Mu untuk membawa kesejahteraan bagi bangsa kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026, LPJ-GPM