Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Ingatlah Kasih Setia Tuhan Dalam Penderitaan

Minggu, 1 Maret 2026

bahan bacaan : Ratapan 3 : 19 – 33 (TB2)

19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan racun pahit dan kepahitan." 20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi, inilah yang kuperhatikan, sebab itu berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHANlah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Baiklah menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 27 Baiklah bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. 28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau kuk ditaruh padanya. 29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. 31 Karena tidak untuk selamanya Tuhan menolak. 32 Walaupun Ia mendatangkan kesusahan, Ia juga berbelas kasihan menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan menyusahkan anak-anak manusia.

Jika Menderita, Ingatlah Kasih Setia Tuhan!

Perjalanan hidup kita selalu penuh dengan warna, mulai dari meringis karena kesakitan, menangis karena bersedih, dan tertawa karena kegirangan. Semua itu terjadi agar kita selalu merasakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangsa Israel, karena kedegilan hatinya harus mengalami penderitaan, ditaklukkan musuh dan ditawan sebagai budak. Meski keadaan sangat terpuruk, namun Yeremia melihat dari sisi imannya bahwa di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Dalam keadaan terpuruk sekalipun ia tetap memandang kepada kasih setia Tuhan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan. Di minggu sengsara ketiga ini, kita belajar untuk mengingat kasih setia Tuhan bila keadaan kita sedang terpuruk. Bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ketika kita terpuruk akibat berbagai persoalan hidup seperti umat Israel, bagaimana kita menanggapi? Stres, depresi, atau putus asa? Di sinilah sebagai seorang percaya diajak untuk menanggapi segala sesuatu dari segi iman. Bila persoalan menghampiri kita, bukan berarti kasih Tuhan telah berakhir. “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi”. Artinya Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi. Ingatlah terus kebaikan Tuhan dan selalu berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini karena Tuhan itu baik dan pengasih.

Doa: Kepada kasih setiaMulah aku percaya, ya Tuhan. Amin.

Senin, 2 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 8 – 13 (TB2)

8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaulakukan. 9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. 10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. 11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. 12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 13 sebab besarlah kasih setia-Mu kepadaku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari lubuk dunia orang mati.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Lubuk Orang Mati

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali diperhadapkan dengan situasi yang menekan. Masalah dan pergumulan itu adakalanya menghimpit iman dan membuat kita berada dalam kesesakan. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang putus asa. Apakah yang harus dilakukan supaya kesesakan tidak membuat kita putus asa?. Pesan Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk tidak perlu takut karena mengalami situasi yang semakin suram. Kesetiaan Tuhan menopang kita untuk mampu menanggung segala perkara. Kita Adalah orang percaya kepada Kristus yang memiliki iman yang mampu mengalahkan dunia. Jiwa kita akan tetap kuat di tengah guncangan dan krisis global karena pengharapan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kadang Tuhan ijinkan kita mengalami lembah kekelaman, situasi yang sulit dan mustahil dan penuh dengan gejolak, tapi justru di situlah kesempatan Tuhan menunjukkan kasih setia dan menyatakan kemuliaanNya. Kita tidak akan dibiarkan berjalan sendiri menghadapi segala tantangan. Tuhan akan melindungi, memelihara dan melepaskan kita dari penderitaan yang berupa lubuk orang-orang mati. Dia adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Olehnya teruslah berharap kepada kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan.

Doa: Terima kasih untuk kasih setiaMu ya Tuhan. Amin.

Selasa, 3 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur  69 : 14 – 19  (TB2)

14 Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 15 Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari mereka yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 16 Janganlah biarkan arus banjir menghanyutkan aku, atau air yang dalam menelan aku, dan jangan biarkan sumur menutup mulutnya mengurung aku. 17 Jawablah aku, ya TUHAN, sebab sungguh baik kasih setia-Mu, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 18 Janganlah sembunyikan wajah-Mu dari hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 19 Datanglah kepadaku, tebuslah aku, oleh karena musuh-musuhku bebaskanlah aku.

Kasih Setia Tuhan Melepaskan Dari Kesesakan

Kesulitan dan penindasan terjadi dalam bacaan ini dan itu digambarkan oleh penulis Mazmur. Ia berbicara tentang kesesakan hatinya, caci maki yang dia alami, dan ketidakmampuannya untuk menemukan pertolongan. Ia meminta pertolongan dan belas kasihan Tuhan dan dia berharap kepada Tuhan sebagai satu-satunya tempat perlindungan dan pertolongan. Dari permohonan Pemazmur ini, menandakan ungkapan kepercayaan dan ketergantungan kepada Tuhan dalam situasi yang sulit, bahwa Tuhan pasti menjawab doa dan mengampuni dia dari penindasan yang dia alami. Ya, adalah tepat dan sangat bijaksana untuk datang kepada Tuhan dalam doa dan mengandalkan-Nya dalam masa-masa kesulitan yang membuat kita sesak. Seringkali kita juga berada dalam kesesakan, kesulitan dan penindasan. Baiknya kita bertindak seperti Pemazmur yang memohon kepada Allah untuk melepaskan kita. Di sini kita mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan memberi pertolongan dalam situasi tersebut karena kasih setiaNya yang besar. Menjadikan Allah sebagai sumber harapan, pertolongan, dan penyelamatan adalah ungkapan iman yang kuat. Ingatlah saat penuh kesesakan, kita dapat berharap kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan penghiburan sebab hanya Dialah yang mampu melepaskan kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur walau hidup kami menderita, namun kasih setiaMu tak pernah berkesudahan, amin.

Rabu, 4 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 94 : 16 – 23 (TB2)

16 Siapakah yang akan bangkit membela aku terhadap orang-orang jahat, siapakah yang akan tampil mendampingi aku terhadap orang yang melakukan kejahatan? 17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku berdiam di alam kesunyian. 18 Ketika aku berpikir: "Kakiku sudah goyah," kasih setia-Mu, ya TUHAN, menopang aku. 19 Ketika bathinku kalut oleh pikiran-pikiran, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. 20 Bagaimana mungkin Engkau bersekongkol dengan kebusukan peradilan, yang merancangkan bencana berdasarkan peraturan? 21 Mereka bersekongkol melawan orang benar, dan menghukum mati orang tidak bersalah. 22 Tetapi, TUHAN adalah kota bentengku, Allahku gunung batu perlindunganku. 23 Ia akan membalas perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka.

Kasih Setia Tuhan Yang Menopang, Menghibur dan Membela

Kita masih hidup dan tentu saja masih menghadapi berbagai masalah yang membawa penderitaan kepada hati. Bagaimana cara kita mengatasi masalah tersebut, tergantung kepada setiap pribadi. Sebagian orang memandang masalah sebagai situasi hidup yang buruk. Sedangkan sebagian lagi memandang masalah sebagai cara Tuhan menunjukan kasih setiaNya. Nas kita pada hari ini menyerukan bahwa Allah pembela keadilan dan kebenaran sebab itu Pemazmur berkata: Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.

Pada saat kita terbebani masalah yang besar dan ketidakmampuan kita menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidup ini, hendaklah kita selalu mengandalkan Tuhan, berpengharapan kepada Tuhan sebab Dia adalah sumber kekuatan yang tidak pernah musnah, sebab kebaikan Allah bagi kita itu abadi. Pengharapan dan penghiburan yang datangnya dari Tuhan memberikan kekuatan dan memampukan kita menghadapi kesulitan. Tuhan tidak pernah berdiam diri ketika kita menderita karena tertindas atau tertekan dalam hidup. Tuhan sanggup membela kita berdasarkan kasih setiaNya.

Doa: Atas kasih setiaMu yang menopang, menghibur dan membela kami, terima kasih ya Tuhan. Amin.

Kamis, 5 Maret 2026

bahan bacaan : Mazmur 136 : 23 – 26 (TB2)

23 Dia yang mengingat kita ketika direndahkan, sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 24 Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 25 Dia yang memberikan makanan kepada segala makhluk; sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 26 Bersyukurlah kepada Allah Semesta Langit! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Ingatlah Kasih Setia Tuhan Ketika Direndahkan

Semua kita pasti pernah melewati masa-masa sulit. Entah di saat kita mampu atau tidak; situasi tersebut bisa membuat kita hilang harapan. Apalagi ketika kita merasa sendirian dalam menyikapinya. Tiada yang peduli kepada kita. Tiada yang menaruh perhatian atau belas kasih kepada kita. Penderitaan semacam ini terasa sangat menyakitkan. Kita bisa hilang arah dan bahkan kemudian melakukan hal yang bukan saja membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain. Tetapi sebagai orang percaya, kita diingatkan  teks hari ini. Sebagai suatu kitab yang berisikan pujian dan doa, Mazmur mengajak kita untuk tetap mengingat kasih setia Tuhan. Sesungguhnya ada banyak kebaikan yang Tuhan buat dalam kehidupan umat. Pemazmur secara berulang mengajak umat untuk bersyukur atas kasih setia Tuhan. Umat tidak boleh melupakan bahwa di saat umat direndahkan justru Allah menyatakan kuasa-Nya. Tuhan mengingat kesusahan umat dan Tuhan yang membebaskan umat. Karena itu, kita diajak untuk tetap ingat kasih setia Tuhan dalam penderitaan. Percayalah di saat kita direndahkan Tuhan tidak membiarkannya. Tuhan menolong kita melewati segala kesukaran. Kasih setia Tuhan menyelamatkan kita.

Doa: ya Allah, mampukanlah kami mempercayai kasih setia-Mu, ,Amin.

Jumat, 6 Maret 2026

Bahan bacaan : Mazmur 90 : 13 – 17 (TB2)

13 Kembalilah, ya TUHAN! Berapa lama lagi? Sayangilah hamba-hamba-Mu! 14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami. 15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami sengsara. 16 Biarlah perbuatan-Mu terlihat oleh hamba-hamba-Mu, dan semarak-Mu oleh anak-anak mereka. 17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, turun ke atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, teguhkanlah perbuatan tangan kami.

Tuhan  Mengenyangkan Hidup

Waktu kecil ketika ayah saya sakit, ia meminta saya untuk berdoa baginya. Saya malu sekali waktu itu. Entah bagaimana kejadiannya saya kemudian berdoa, tapi malamnya saya bermimpi. Tuhan Yesus membawa saya dengan sebuah kapal kecil. Sejak kecil saya menyebut kapal itu bahtera. Tuhan Yesus membawa saya ke gereja dan disana saya bersama orang-orang bernyanyi memuji Tuhan. Setelah itu, Tuhan Yesus bertanya kepada saya, apakah saya lapar?  Saya pun dengan semangat menjawab : Tidak Tuhan Yesus. Saya tidak lapar lagi. Ternyata Tuhan Yesus membuat saya kenyang. Saya terbangun dari tidur dan menceritakan mimpi itu kepada ayah saya. Saya mengingat mimpi itu sampai saat ini dan membuat kedekatan dengan Tuhan menjadi rutinitas saya. Apa yang saya alami tidak berbeda jauh dengan apa yang diungkapkan Pemazmur. Ia merasakan bahwa Tuhan tempat perteduhan yang kekal. Hanya kepada Tuhan, ia menaruh doa: ”Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hidup kami.” Pemazmur menyatakan Tuhan saja yang membuatnya bersukacita. Ini pula keyakinan saya. Tuhan mengenyangkan kita dengan kasih setia-Nya.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami percaya Dikau sanggup kenyangkan kami, Amin.

Sabtu, 7 Maret 2026

bana bacaan : Mazmur 143 : 5 – 8 (TB2)

5 Aku teringat pada hari-hari di masa lampau, aku menuturkan segala pekerjaan-Mu, aku merenungkan perbuatan tangan-Mu. 6 Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela 7 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. 8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

Kasih Setia Tuhan Diberikan Kepada Orang Yang Percaya Kepada-Nya

Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang memiliki keyakinan sungguh akan kuasa Tuhan. Meskipun mereka berada dalam persoalan yang berat, tetapi iman mereka tidak mudah goyah. Sebutlah Beny dan Maria. Keduanya adalah pelayan Tuhan. Mereka telah menikah delapan tahun. Karena belum memiliki anak, mereka berdoa meminta petunjuk Tuhan. Setelah melalui banyak pergumulan, mereka kemudian mengambil keputusan untuk mengadopsi anak. Sekalipun hanya anak angkat tetapi mereka menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka percaya akan kuasa Tuhan dalam hidup rumah tangga mereka. Teks hari ini menceritakan ungkapan doa seorang yang memintakan pertolongan dan pengajaran Tuhan. Ia tertekan dengan situasi hidupnya. Namun ia mengingat campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dengan penyerahan diri, ia meminta Tuhan mengajarinya. Ia pun akhirnya meyakini bahwa kasih setia Tuhan akan tetap berlaku atas hidupnya bahkan persoalannya. Dengan kepasrahan ia menjalani semuanya. Beny dan Maria telah menjalaninya. Mereka percaya akan kasih setia Tuhan walaupun hanya harus memiliki anak angkat.

Doa: ya Tuhan Yesus, tetaplah berikan kasih setia-Mu kepada kami, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Tuhan Menjawab Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Minggu, 22 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 22 : 20 – 25 (TB2)

19 (22-20) Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! 20 (22-21) Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. 21 (22-22) Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku! 22 (22-23) Maka aku mau menceritakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: 23 (22-24) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! 24 (22-25) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun menganggap sepi kesengsaraan orang yang tertindas, Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya terhadap orang itu, dan Ia mendengarkan seruannya minta tolong.

Tuhan Menjawab Seruan Setiap Orang yang Berseru Kepada-Nya

Bacaan hari ini lahir dari jeritan seorang yang terhimpit, yang nyaris kehilangan daya, bahkan merasa seolah-olah ditinggalkan. Namun dari kedalaman penderitaan itu, pemazmur tidak berhenti pada ratapan. Ia berani berseru, memohon pertolongan, dan akhirnya bersaksi tentang Allah yang tidak menolak seruan orang yang tertindas. Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya. Tuhan tidak menutup telinga-Nya. Tuhan hadir, mendengar, dan menyelamatkan. Inilah iman yang hidup di tengah sengsara iman yang tidak menyangkal penderitaan, tetapi tetap menggantungkan harap sepenuhnya kepada Allah. Karena itu, memasuki Minggu Sengsara kedua ini, merupakan suatu masa perenungan yang mengajak kita untuk kembali menatap dengan jujur realitas penderitaan, pergumulan, luka, dan jeritan hati manusia. firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk melihat kembali hidup kita: di tengah tekanan, luka, ketidakpastian, dan pergumulan yang mungkin masih kita tidak mengerti, apakah kita masih memilih untuk berseru kepada Tuhan? Dan sebagai orang-orang pilihan yang hidup dalam anugerah-Nya, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan sungguh mendengar, menjawab, dan tidak pernah meninggalkan kita?

Doa: Tuhan, terima kasih karena menjawab seruanku kepadaMU. Amin.

Senin, 23 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 34 : 16 – 23 (TB2)

15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; 16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. 17 (34-18) Orang-orang benar berseru-seru, dan TUHAN mendengarkan, Ia melepaskan mereka dari segala kesesakannya. 18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat. 19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; 20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun akan patah. 21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. 22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Tuhan Mendengar Seruan Orang Benar yang Menderita

Sepanjang hidup di dunia ini kita akan berhadapan dan menjumpai orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Seperti juga yang pernah dialami para nabi atau tokoh-tokoh penting di dalam Alkitab. Meskipun demikian, satu hal yang dapat dipelajari dari mereka yaitu bahwa mereka selalu melakukan kebenaran dan dekat kepada Tuhan. Hanya dengan melakukan kebenaran, seruan permohonan minta pertolongan kepada Tuhan akan terjawab. Mengapa demikian?, Menurut pemazmur, mata Tuhan itu tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga Tuhan selalu mendengar teriak mereka minta pertolongan (ay.16). Tertuju artinya doa orang benar menjadi perhatian tersendiri dari Tuhan. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Jadi, Tuhan akan selalu mendengar suara permohonan minta pertolongan dari kita, yang penting dalam hidup ini kita melakukan kebenaran. Tuhan Yesus, yang paling benar dari semua orang benar, juga menangis dan berseru kepada Bapa.Karena itu ketika kita berseru dalam penderitaan, kita tidak berseru kepada Allah yang jauh, tetapi kepada Juruselamat yang mengerti dari pengalaman. Ia menjadi jaminan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan seruan orang benar dalam penderitaan.

Doa: Tuhan, mampukan kami hidup dalam kebenaran, supaya doa kami didengar olehMU. Amin.

Selasa, 24 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 86 : 1 – 7 (TB2)

Doa memohon kasih setia
Doa Daud. Arahkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. 2 Jagalah hidupku, sebab aku setia, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. 4 Buatlah hati hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat hatiku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

Tuhan Mendengar dan Menjawab pada Hari Kesesakan

Bacaan hari ini menceritakan tentang Daud yang percaya bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi memperhatikan setiap kata dalam doanya. Ia berkata, “pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.” Inilah iman yang lahir dari pengalaman berjalan bersama Tuhan. ketika badai masalah datang, ketika hati gentar dan takut, ketika menemui jalan buntu, Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan selalu dekat kepada orang yang berseru kepada-Nya. Kita pun sering datang dengan berbagai pergumulan, ketakutan, tekanan atau kebingungan. Seringkali kita diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Masalah dan tantangan hidup silih berganti menghimpit dan membuat kita merasa sesak. Hal ini membuat tidak sedikit orang mengalami kekecewaan dan putus asa dalam hidup. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa kita memiliki Allah yang menyendengkan telingaNya untuk mendengar seruan kita. Dia adalah Allah yang menjawab doa pada waktuNya. Sebab itu,apabila kita  berada dalam kesesakan, janganlah putus asa.  Teguhkanlah hati untuk tetap berharap hanya kepada Tuhan dan Berserulah dalam doa, IA akan menjawab.

Doa: Tuhan, dalam kesesakanku, Dengarkanlah seruan doaku. Amin.

Rabu, 25 Februari 2026

bahan bacaan : Kejadian 21 : 14 – 21 (TB2)

14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekantong air, memberikannya kepada Hagar, dan meletakkannya di atas bahunya. Lalu bersama anak itu disuruhnya Hagar pergi. Hagar kemudian pergi dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikantong itu habis, anak itu ditinggalkannya di bawah semak-semak, 16 Lalu ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Aku tidak tahan melihat anak itu mati." Sementara duduk di situ, Hagar menangis dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak laki-laki itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar. Ia berkata kepadanya: "Apa yang terjadi padamu, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah dia erat-erat, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Ia pergi mengisi kantong airnya, lalu memberi anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu. Ia bertambah besar dan menetap di padang gurun serta menjadi seorang pemanah. 21 Ia tinggal di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Tuhan Mendengar Suara Tangisan Kesusahan

Kisah Hagar dan Ismael di padang gurun adalah salah satu potret paling menyentuh tentang Allah yang mendengar tangisan manusia. Hagar diusir, kehabisan makanan, kehilangan arah dan akhirnya meletakkan Ismael di bawah semak-semak karena tidak sanggup melihat anaknya mati kehausan. Ia menangis jauh dari anaknya, menangis dalam keputusasaan dan ketakutan. Tetapi Alkitab mencatat sesuatu yang indah: Allah mendengar suara anak itu (ay.17). bukan hanya suara  tangisan Hagar melainkan juga Ismael, seorang anak yang tidak mampu menolong dirinya sendiri. Bacaan ini hendak mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan tangisan kita. Saat kita merasa seperti Hagar: hilang arah, merasa sendirian, tertekan dengan banyak masalah dan tidak kuat hadapi penderitaan, airmata adalah doa yang didengar oleh Tuhan.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar suara tangisan kesusahanku, Amin.

Kamis, 26 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 120 : 1 – 7 (TB2)

Doa orang yang tinggal di tengah-tengah musuh
Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2 "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari bibir dusta, dari lidah penipu." 3 Apakah yang akan diberikan-Nya kepadamu dan apakah yang masih akan ditambahkan-Nya kepadamu, hai lidah penipu? 4 Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar. 5 Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai pendatang di Mesekh, karena harus menetap di antara kemah-kemah Kedar! 6 Lama sudah aku menetap bersama orang-orang yang membenci perdamaian. 7 Ketika aku berbicara tentang damai, mereka tentang perang.

Tuhan Mendengar seruan dan Membebaskan dari Tipu daya

Perjumpaan dengan orang lain di sekitar kita adalah realitas hidup yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Suka atau tidak suka, perjumpaan itu membuat kita mengalami berbagai hal yang menyenangkan tetapi juga menyakitkan. Terhadap kenyataan yang demikian, apakah yang akan dilakukan menyikapi semua hal yang menyakitkan itu? Hari ini kita belajar dari pemazmur, karena dalam kesesakan yang di alami ia tetap berseru kepada Tuhan. Pemazmur mengalami kesesakan karena ia harus berhadapan dengan bibir dusta dan lidah penipu. Atau dengan kata lain orang-orang yang menyerangnya dengan tuduhan palsu dan penghianatan. Karena itu, pemazmur berseru dalam doanya agar Tuhan membebaskan jiwanya dari pengaruh buruk mereka. Pengalaman pemazmur yang berhadapan dengan orang-orang yang demikian tidak jarang dialami juga oleh kita di masa kini. Banyak yang suka menebar fitnah dengan bibirnya dan tipu muslihat dengan lidahnya. Hal semacam ini dapat saja kita alami tidak hanya di lingkungan masyarakat secara umum tetapi juga  dalam keluarga dan tempat kita bekerja atau melayani. Menghadapi kenyataan yang demikian maka kita diajarkan untuk selalu menyerukannya kepada Tuhan. Sebab hanya dengan berseru kepada Tuhan, kita akan dimampukan menghadapi berbagai fitnah dan kata-kata menipu yang bertujuan untuk menjatuhkan.

Doa: bebaskanlah kami dari tipu dan dusta, ya Allah yang mendengarkan seruan, Amin.

Jumat, 27 Februari 2026

bahan bacaan : Matius 20 : 29 – 34 (TB2)

Yesus memulihkan penglihatan dua orang buta
29 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 30 Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 31 Orang banyak itu menegur mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?" 33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." 34 Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, dan Ia menyentuh mata mereka. Seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Jangan Berhenti Berseru Kepada Tuhan

Banyaknya persoalan dan tantangan kehidupan yang datang silih berganti cukup berpengaruh melemahkan iman kita. Ini dapat saja terjadi ketika doa dan harapan kita belum dijawab oleh Tuhan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat kita merasa lelah untuk terus meminta dan berharap padaNya. Terhadap hal itu, kisah dua orang buta yang duduk di pinggir jalan pada bacaan saat ini mau mengingatkan kita supaya tidak berhenti berseru pada Tuhan. Kedua orang buta tersebut  tetap berseru pada Tuhan Yesus sekalipun berada dalam kondisi fisik yang terbatas tetapi juga ketika ditegor oleh banyak orang supaya mereka diam. Ini menunjukkan pengharapan mereka yang besar kepada Tuhan Yesus dan kuasaNya yang melakukan banyak mujizat. Kegigihan hati dan mulut mereka untuk tetap berseru dan tidak menyerah, akhirnya membuahkan hasil yaitu memperoleh kesembuhan. Pengalaman hidup kedua orang buta yang disembuhkan oleh Yesus memberikan motivasi dan dorongan kepada kita sebagai orang-orang percaya di zaman ini. Memang benar akan ada tantangan dan hambatan tetapi juga terkesan Tuhan lambat atau tidak menjawab doa-doa kita. Akan tetapi janganlah lelah apalagi berhenti berseru padaNya, sebab cepat atau lambat Tuhan akan menjawab tepat pada waktunya. Ingatlah senantiasa bahwa Tuhan akan menjawab, karena itu janganlah berhenti berseru padaNya.

Doa: Tuhan, dengarkanlah seruan kami yang buta dan lemah ini, Amin.

Sabtu, 28 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 30 : 1 – 4 (TB2)

Nyanyian syukur karena selamat dari bahaya
Mazmur. Nyanyian untuk penahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. 2 (30-3) TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. 3 (30-4) TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menyelamatkan hidupku sehingga aku tidak turun ke liang kubur.

Diselamatkan Saat Berseru

Bacaan ini menggambarkan pengalaman pribadi Daud yang merasakan pertolongan Tuhan secara nyata. Ia mengangkat pujian karena Tuhan telah menyelamatkannya dari keadaan yang hampir merenggut hidup. Daud berseru, dan Tuhan menjawab. Ia bersaksi bahwa Tuhan bukan hanya mendengar, tetapi juga bertindak dengan kuasa yang memulihkan hidup mengangkatnya dari jurang keputusasaan dan menyembuhkan luka-luka yang dialaminya. Ayat-ayat ini menolong kita melihat bahwa Tuhan dekat dengan orang yang berseru kepada-Nya. Seruan kita, entah dalam kesedihan, sakit, atau tekanan hidup, bukanlah teriakan yang hilang di udara. Tuhan mendengar dengan penuh perhatian. Ia tidak membiarkan kita tergeletak dalam pergumulan, tetapi mengulurkan tangan untuk mengangkat dan memulihkan. Pemazmur mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan, sebab kemurahan-Nya jauh lebih besar daripada pergumulan yang kita hadapi. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita merasa doa tidak segera dijawab. Namun Mazmur ini menegaskan bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu yang terbaik. Kesembuhan yang Dia berikan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga bagi hati yang letih dan jiwa yang hampir menyerah. Karena itu, kita diajak untuk tetap percaya dan tetap berseru kepada-Nya. Tuhan yang menyelamatkan Daud adalah Tuhan yang sama yang menyelamatkan kita hari ini.

Doa: Tuhan, yakinkan hati kami untuk tetap percaya dan mau berseru kepadaMu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Jadilah Bagiku Gunung Batu Keselamatan

Minggu, 15 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 31 : 1 – 9 (TB2)

Aman dalam tangan TUHAN
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (31-2) Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku dipermalukan. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, 2 (31-3) arahkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! 3 (31-4) Sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku, dan demi nama-Mu tuntunlah dan bimbinglah aku. 4 (31-5) Keluarkanlah aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. 5 (31-6) Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; tebuslah aku, ya TUHAN, Allah yang setia. 6 (31-7) Engkau membenci orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN. 7 (31-8) Aku hendak bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah mengetahui kesesakan jiwaku, 8 (31-9) Engkau tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.

Dalam Tuhan Ada Perlindungan dan Keselamatan

Hari ini kita memasuki minggu sengsara I (Dalam bahasa Latin disebut estomihi  yang berarti “Jadilah bagiku…”). Dalam tradisi gereja,  perayaan minggu sengsara yang pertama mengingatkan kita bahwa kita mulai memasuki masa perenungan tentang penderitaan Tuhan Yesus menuju salib. Perenungan ini didasarkan pada nas Alkitab  Mazmur 31:3, yang berbunyi: “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku”. Ayat ini menjelaskan situasi sulit yang dialami oleh Daud, yakni tekanan, ketakutan dan ancaman para musuh, sehingga Daud memohon perlindungan dari Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang sanggup menolong dan menyelamatkan hidupnya karena Tuhan adalah Gunung Batu Keselamatan. Saat kita memasuki minggu sengsara Tuhan Yesus yang pertama, kita percaya bahwa Tuhan Yesus “Gunung Batu” telah menderita  dan mati di salib untuk menyelamatkan kita. Sebab itu di tengah tekanan hidup, pergumulan atau penderitaan, bukan kekuatan diri, bukan orang lain, tetapi Tuhan yang melindungi dan menyelamatkan. Berlindunglah padaNya!.

Doa : Tuhan, jadilah Gunung batu keselamatan dalam pergumulan dan penderitaan hidup kami. amin.

Senin, 16 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 31 – 36 (TB2)

30 (18-31) Jalan Allah itu sempurna; janji TUHAN adalah teruji; Dia perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. 31 (18-32) Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? 32 (18-33) Dialah Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku sempurna; 33 (18-34) yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di tempat tinggi; 34 (18-35) yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga. 35 (18-36) Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, pertolongan-Mu membuat aku perkasa.

Jadilah Perisai dan Gunung Batuku ya Tuhan!

Bayangkan seorang pendaki yang mendaki tebing yang sangat curam. Ia mempersiapkan tubuh, melatih kekuatan tangan dan memakai tali pengaman yang kuat. Saat mendaki, ada saat dimana tangannya menjadi lelah dan lemah, batu pijakan kakinya terlepas atau kakinya terpeleset. Tetapi ada satu hal yang membuat dia tidak takut jatuh, tali pengaman yang menahannya. Tali itu melakukan dua hal sekaligus: melindunginya agar tidak jatuh dan mendorongnya naik sampai puncak gunung.Kasih Tuhan adalah “tali pengaman” itu. Pengalaman ini yang menjadi kesaksian iman Daud saat Tuhan melepaskannya dari kejaran raja Saul. Ia berkata, Allah adalah Gunung Batu, Ia mengikat pinggangku dengan keperkasaan”. Kemenangan Daud bukan karena dirinya kuat, tetapi karena Allah yang menguatkannya.  Demikian pun kita yang memaknai kesengsaraan Tuhan Yesus di minggu pertama ini. Seperti Daud, kita tetap membangun pengharapan kepada Allah dalam Kristus. Terkadang kita tergelincir, kadang kita lelah dan lemah, kadang kita menderita dan hampir menyerah. Tetapi kasih Tuhan tidak pernah melepaskan kita. Ia menahan kita, Ia menopang dan melindungi kita. seperti pendaki yang bergantung pada tali pengaman, marilah kita bergantung pada kasih Tuhan Yesus Juruselamat kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas perlindungan-Mu bagi kami. Amin

Selasa, 17 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 18 : 47 – 51 (TB2)

46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Dialah Allah, yang mengadakan pembalasan bagiku, dan menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) dialah yang meluputkan aku dari musuhku. Bahkan, Engkau membuat aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 49 (18-50) Sebab itu aku hendak menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya untuk selamanya."

Tuhan Hidup! Terpujilah Gunung Batu Keselamatan Kita

Daud menutup mazmur ini dengan seruan penuh iman: Tuhan hidup!. Ini bukan hanya deklarasi imannya tetapi kesaksian nyata bahwa Allah yang dipercayainya benar-benar menyatakan kuasa-Nya dalam hidup. Ada perlindungan, kemenangan dan penyelamatan. Pengalaman itu juga kita punya, ketika diselamatkan dari musibah dan bahaya, ketika doa kita dijawab, ketika kuat menghadapi kekecewaan dan kenyataan pahit, terbebas dari masalah dalam keluarga, kuat tahan tekanan dalam pekerjaan,  sadar dari kelemahan diri atau bertobat dari dosa yang terus menghantui.  Semua itu kita tanggung karena ada Tuhan dalam hidup kita. Jika dengan yakin Daud dapat menyatakan bahwa Tuhan hidup! Tuhan sebagai Gunung Batu tempat perlindungan disaat ia mengalami kesesakan. Demikian pun kita sekeluarga saat bergantung dan meyakini kuasa Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk menuntun, melindungi dan menyelamatkan kita Jadilah kuat karena Tuhan dan ini akan menjadi kesaksian iman bagi banyak orang. 

Doa: Tuhan, Engkaulah Allah kami yang hidup. Jadilah Gunung Batu perlindungan kami, Amin.

Rabu, 18 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 73 : 21 – 28 (TB2)

21 Ketika hatiku pedih dan buah pinggangku seperti tertusuk-tusuk, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan menuntun aku dengan nasihat-Mu, hingga akhirnya Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. 25 Siapa yang kumiliki di sorga kecuali Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kudambakan di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang tidak lagi setia kepada Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; Tuhan ALLAH kutetapkan sebagai tempat perlindunganku, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Mu.

Sekalipun Dagingku Habis, Allah Tetap Gunung Batuku

Pengalaman pemazmur dalam menghadapi penderitaan menjadi teladan bagi kita. Ada harapan yang kokoh dari pemazmur untuk tetap dekat dengan Tuhan, sekalipun penderitaan membuat daging di tubuhnya habis lenyap. Harapannya hanya pada Tuhan. Pemazmur merasakan cinta kasih Tuhan yang besar melebihi masalah yang dihadapinya. Hal ini membuatnya bersyukur dan bersaksi tentang kebesaran kuasa Tuhan itu bagi semua orang. Pengalaman ini nyata dihadapi oleh teman sekantor, berulang kali dagingnya habis karena proses pengobatannya dari sakit. Tetapi ia selalu menggantungkan harapannya pada Tuhan. Daging tubuhnya dipulihkan dan ia selamat. Ada banyak orang yang juga bergumul dengan kenyataan yang sama. Daging di tubuh kian habis, semangat menjadi lemah, hati kian tersiksa. Namun, kita percaya dan bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan setiap masalah dan penderitaan sebagai cara Tuhan untuk membentuk kita menjadi anak-anak yang selalu mencari-Nya dan disitulah kita menikmati kasih-Nya. Bersaksilah tentang kebaikan Tuhan ini, Allah tetap Gunung Batu sekalipun daging dan hati habis lenyap!.

Doa : Ya Tuhan kami meyakini akan kebesaran kuasa-Mu sekalipun daging dan hati habis lenyap. Amin

Kamis, 19 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 19 : 13 – 15 (TB2)

12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kekeliruannya sendiri? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. 13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu dari sikap angkuh; jangan sampai aku dikuasai olehnya! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. 14 (19-15) KIranya ucapan mulutku dan renungan hatiku berkenaan kepada-Mu, ya TUHAN, Gunung Batuku dan Penebusku.

Ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku

Daud menyebut Tuhan sebagai “Gunung Batuku”. Ini berarti ia mengakui bahwa Tuhan adalah tempat yang kokoh, tidak tergoyahkan, tempat untuk berlindung dari segala badai kehidupan, dari dosa-dosa yang tidak disadari dan dari godaan yang mencoba menguasainya. Ia juga menyebut Tuhan sebagai “Penebusku”. Penebus adalah seseorang yang membayar harga untuk membebaskan atau menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk, seperti hutang, perbudakan atau hukuman. Itu berarti Daud sadar, hanya Tuhan yang dapat menyelamatkannya dari kekeliruan dan dosanya. Dalam iman kita mengakui, Tuhan Yesus Kristus adalah Penebus. Ia telah membayar lunas dosa-dosa kita dengan pengorbananNya di kayu salib, membebaskan kita dari belenggu dosa dan memberikan hidup yang kekal. Kita membutuhkan Tuhan sebagai kekuatan kita, perlindungan kita dan sebagai Penebus yang menolong.  Mari kita belajar untuk rendah hati mengakui kekeliruan kita dan ketika menghadapi masalah atau godaan, kita selalu datang kepada Tuhan dalam doa. Ingatlah bahwa Tuhan adalah “Gunung Batu” kita yang kokoh.

Doa: Tuhan Penebus, ampuni kami dari segala kekeliruan dan selamatkanlah, Amin.

Jumat, 20 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 1 – 3 (TB2)

Nyanyian syukur Daud
Daud melantunkan syair nyanyian ini kepada TUHAN sesudah TUHAN melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. 2 Ia berkata: "Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, 3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

Tuhan, Engkaulah Gunung batu dan Kubu Pertahanan

Gambaran “gunung batu” dan “kubu pertahanan” adalah metafora yang sangat kuat dalam budaya Timur Tengah kuno. Gunung batu adalah tempat yang tidak tergoyahkan, tinggi, sulit dijangkau musuh dan menawarkan perlindungan dari bahaya. Kubu pertahanan atau benteng adalah bangunan tembok yang dibangun untuk memberikan keamanan maksimal, tempat di mana seseorang merasa aman dari serangan. Daud dengan pengalamannya yang luas sebagai prajurit dan raja, sangat memahami nilai dari perlindungan seperti itu. Itulah sebabnya Daud menyanyi memuji Tuhan sebagai tanda ungkapan syukurnya bahwa Tuhan satu-satunya sumber keamanan dan keselamatan dalam perjalanan hidupnya. Dalam setiap ancaman, badai kehidupan, pengambilan keputusan, dan sebagainya,Tuhanlah yang menjadi tempat ia berpaling. Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan siapa atau apa yang menjadi gunung batu dan kubu pertahanan kita. Ketika badai kehidupan menerpa, baik itu masalah, penyakit, kehilangan atau tekanan pekerjaan, dimanakah kita mencari perlindungan?. Angkatlah pandangan kita kepada Tuhan, Sang Gunung Batu yang tak tergyahkan, Sang Kubu Pertahanan yang tak tertembus. Dalam Dia, kita menemukan kekuatan untuk menghadapi setiap masalah dan tantangan dalam perjalanan hidup ini.

Doa: Tuntun kami sekeluarga Tuhan agar selalu bergantung dan berharap kepadaMu, Amin

Sabtu, 21 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 22 : 47 – 51 (TB2)

47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Gunung Batu Penyelamatku, 48 Dialah Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 49 dan yang membebaskan aku dari  musuh-musuhku. Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau melepaskan aku dari orang yang melakukan kekerasan. 50 Sebab itu aku hendak bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa Ya TUHAN, dan bermazmur bagi nama-Mu. 51 Ia mengaruniakan kemenangan-kemenangan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan keturunannya."

Nyanyikanlah Syukur Kepada Tuhan Penyelamat

Apa yang kita perbuat setelah keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian? Masing-masing orang memiliki respons tersendiri, dan pastinya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Daud memiliki respons yang khas ketika ia keluar dari permasalahan hidup atau terbebas dari ancaman kematian. Bacaan ini secara umum mengungkapkan respons Daud ketika terbebas dari ancaman kematian dari musuhnya. Daud menaikkan nyanyian syukur kepada Tuhan setelah terbebas dari ancaman kematian oleh Saul. Dalam nyanyian syukur itu Daud mengagungkan Tuhan yang hidup, sebab Tuhan telah menjadi “Gunung Batu” yang melindunginya. Tuhan pula yang membebaskan Daud dari para musuh. Atas kehidupan yang Tuhan telah karuniakan sehingga memberi keselamatan yang besar, Daud meninggikan Tuhan; ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku, demikian kata Daud (ay.47). Pesan terdalam dari firman Tuhan ini adalah tantangan dan ancaman apapun dalam hidup ini, jadikanlah Tuhan pelindung dan gunung batu keselamatan, pasti Tuhan yang hidup akan melindungi, menolong dan menyelamatkan kita.  

Doa: Ya Tuhan, hanya Engkaulah Penyelamat dan Pembela kehidupan kami. Amin

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 08 – 14 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Dipilih Untuk Memuliakan Tuhan

Minggu, 08 Februari 2026

bahan bacaan : Efesus 1 : 3 – 14 (TB2)

Kekayaan orang-orang yang terpilih
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab, di dalam Dia kita beroleh penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan atas pelanggaran, menurut kekayaan anugerah-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 9 Sebab, Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 11 Di dalam Dialah kami diberi warisan - kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah yang mengerjakan segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Berkat Rohani

Efesus 1:3–14 menampilkan satu kalimat panjang dalam bahasa Yunani yang oleh banyak penafsir disebut sebagai “berkat rohani”, yang menegaskan prakarsa Allah dalam keselamatan. Paulus menyatakan bahwa Allah memilih orang percaya sebelum dunia dijadikan bukan terutama untuk keselamatan individual semata, melainkan untuk hidup dalam kekudusan dan tak bercacat di hadapan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan selalu memiliki orientasi etis dan relasional, yakni membawa umat kembali pada rancangan semula yang memantulkan karakter Allah di bumi. Paulus menegaskan bahwa tujuan pemilihan itu diarahkan kepada pujian bagi kemuliaan-Nya (Ef. 1:6, 12, 14). Tindakan memuliakan Tuhan bukan hanya tindakan pribadi, tetapi keterlibatan dalam pemulihan relasi diri, komunitas, dan ciptaan. Untuk itu, Roh Kudus menjadi jaminan yang berperan sebagai kekuatan transformasi, guna memampukan umat mempraktikkan kehidupan yang memuliakan Allah. Dalam konteks pekerjaan, studi, keluarga, dan pelayanan, orang percaya menjadi representasi kemuliaan Allah ketika integritas, kejujuran, dan kasih menjadi pola hidup sehari-hari. Dalam keluarga, suami menyatakan hal tersebut kepada istri dan sebaliknya, serta orang tua kepada anak dan sebaliknya. Kita harus memulainya dari keluarga kita yang senantiasa membina spiritualitas orang percaya untuk mewujudkan tindakan nyata yang memiliki dampak perubahan yang luas sebagai berkat rohani.

Doa: Tuhan, kami mau menghadirkan berkat rohani bagi semua. Amin

Senin, 09 Februari 2026

bahan bacaan : Mazmur 146 : 1 – 10 (TB2)

TUHAN memerintah selama-lamanya
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 4 Apabila nafasnya berhenti, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah segala rencananya. 5 Berbahagialah orang yang menerima pertolongan dari Allah Yakub, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: 6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, 7 yang menegakkan keadilan untuk orang yang tertindas, yang memberi makanan kepada orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang yang terkurung, 8 TUHAN membuka mata orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang benar. 9 TUHAN menjaga para pendatang, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik digagalkan-Nya. 10 TUHAN memerintah untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Memuji Tuhan Seumur Hidup

Mazmur 146 dibuka dengan deklarasi personal: “Aku hendak memuji Tuhan seumur hidupku.” Ini menunjukkan bahwa memuliakan Tuhan bukan aktivitas sesaat, tetapi respons eksistensial umat pilihan terhadap karya dan karakter Allah selamanya. Seruan untuk tidak mengandalkan “para pemimpin” atau manusia fana bukan sekadar peringatan moral, tetapi pilihan untuk mengarahkan kepercayaannya hanya kepada Allah. Memuji Tuhan berarti terus mengakui karya-Nya di balik realitas hidup sehari-hari. Tindakan-tindakan Allah nampak ketika Ia membela orang tertindas, memberi roti kepada lapar, membebaskan orang hukuman, menopang yatim dan janda menjadi gambaran karakter Allah yang harus diwujudkan umat pilihan. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan sosial merupakan bagian integral dari etika hidup. Memuliakan Tuhan tidak hanya dalam nyanyian, tetapi dalam tindakan yang mencerminkan keadilan dan belas kasih Allah. Ketika kita membantu mereka yang lemah secara ekonomi berarti kita sementara membuka kesempatan bagi orang lain untuk pulih dan bertumbuh. Dengan cara hidup seperti ini, kita melihat hidup bukan hanya dari perspektif jangka pendek, tetapi dari perspektif kekekalan, yang mana menilai keputusan berdasarkan nilai Kerajaan Allah yakni keadilan, kasih, dan kebenaran. Kita tetap setia melayani meski hasilnya belum tampak, karena Allah tetap memerintah dalam kehidupan kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi terang bagi yang lain. Amin

Selasa, 10 Februari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 42 – 49 (TB2)

42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara lagi tentang hal-hal itu pada hari Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam anugerah Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. 46 Namun dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang dari bangsa-bangsa lain dan mereka memuliakan firman Tuhan. Semua orang yang ditentukan untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. 49 Lalu firman Tuhan disebarkan di seluruh daerah itu.

Terang Bagi Yang Lain

Teks Kisah Para Rasul 13:42–49 menampilkan bahwa dalam karya penyelamatan Allah, pemilihan selalu hadir bersama dengan proses penolakan dan penerimaan terhadap firman. Ketika Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di Antiokhia, sebagian orang Yahudi menolak pesan itu karena iri dan keras hati. Namun penolakan tersebut justru membuka ruang bagi bangsa-bangsa lain untuk menerima terang keselamatan. Secara teologis, dinamika ini menegaskan bahwa pemilihan Allah tidak bersifat eksklusif melainkan memilih untuk tujuan tertentu yakni menjadi saluran berkat dan cahaya keselamatan bagi banyak orang (bdk. Yes. 49:6). Pemilihan itu bukan semata status, tetapi penugasan yang menuntut kesetiaan, keberanian, dan ketekunan dalam menyampaikan firman, bahkan ketika respons yang muncul adalah penolakan. Hal ini tidak pernah membatalkan rencana Allah, namun justru dalam konteks penolakan itulah Injil meluas, dan bangsa-bangsa lain “bersukacita serta memuliakan firman Tuhan” karena mereka pun diikutsertakan dalam karya keselamatan. Teks ini menolong kita untuk memahami bahwa ketika dipilih oleh Allah, kita tidak dipanggil untuk mencari penerimaan manusia, melainkan untuk setia menjadi terang melalui perkataan, karakter, dan kesaksian hidup. Dalam pelayanan, pekerjaan, maupun relasi sosial, mungkin akan muncul sikap penolakan terhadap kebenaran yang dinyatakan, tetapi hal itu tidak boleh memadamkan komitmen untuk tetap menghadirkan kasih, keadilan, dan hikmat Allah. Sebaliknya, setiap kesempatan penerimaan terhadap firman harus dipandang sebagai karya Roh Kudus yang menggenapi maksud Allah untuk menjangkau lebih banyak orang.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa hidup memuliakan-Mu. Amin

Rabu, 11 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 10 : 27 – 33 (TB2)

27 Kalau kamu diundang makan oleh seseorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 28 Namun kalau seorang berkata kepadamu, "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. 29 Yang aku maksudkan dengan keberatan bukanlah keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan hati nurani orang lain itu. Lalu, "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan hati nurani orang lain? 30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang mencela aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" 31 Jadi, baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 32 Janganlah membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.

Hidup Yang Tidak Menjadi Batu Sandungan

Menjadi  orang percaya bukan hanya soal menerima anugerah Allah, tetapi tentang bagaimana kita dipilih untuk hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui cara hidup yang benar. Kita dipilih bukan hanya untuk diberkati, tetapi juga untuk menjadi berkat dengan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 23 “ Jangan membuat orang tersandung…”. Ayat ini berisi nasehat Paulus kepada jemaat Korintus yang telah dewasa dalam iman agar mereka tidak membuat saudara seiman, baik orang Yahudi maupun orang Yunani jatuh dalam dosa karena ikut makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa, sebab hal itu menentang Allah (ay.20). Hidup sebagai orang percaya tidak boleh menjadi “batu sandungan” bagi sesama. Hal ini dapat diwujudkan, misalnya, dengan menjaga cara berbicara, cara bersikap,  dan tidak mengajak orang lain melakukan hal-hal yang tidak benar, seperti perilaku yang merugikan orang lain atau bertentangan dengan firman Tuhan ( okultisme, mabuk, narkoba, selingkuh, judi online, penipuan, pencurian, dll). Tidak menjadi “batu sandungan” alah sikap memuliakan Tuhan.

Doa: Roh Kudus tuntun kami supaya tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Amin.

Kamis, 12 Februari 2026

bahan bacaan : Yesaya  43 : 1 – 7 (TB2)

TUHAN Juruselamat dan Penebus Israel
Namun sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel, "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini milik-Ku. 2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau. 3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku memberikan Mesir sebagai tebusan bagimu, dan Etiopia serta Syeba sebagai gantimu. 4 Oleh karena engkau berharga dan mulia di mata-Ku dan Aku mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. 5 Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan menghimpun engkau dari barat. 6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Jangan ditahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung bumi, 7 semua orang yang disebut dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan juga Kujadikan!"

Dipilih Untuk Hidup Memuliakan Tuhan

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan. Hidup kita bukan sekedar untuk diri sendiri atau untuk mengejar kesenangan duniawi, tetapi untuk menjadi saksi kasih, kebaikan, dan kebenaran Allah di tengah dunia. Allah telah menciptakan, menebus, dan memanggil kita bukan untuk sesuatu yang sia-sia, melainkan agar nama-Nya dimuliakan. Nas bacaan kita menjelaskan tentang panggilan Allah bagi Israel sebagai umat pilihan-Nya, supaya mereka hidup benar dihadapan Allah dan menjadi berkat bagi bangsa lain, meskipun mereka hidup menderita di pembuangan. Tuhan telah memanggil kita dengan maksud untuk memuliakan-Nya, sebagaimana firman Tuhan: “Segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan” (Band.1 Kor.10:31), melalui apa pun profesi, kemampuan, atau peran kita, baik di rumah, di sekolah, di kampus, maupun di tempat kerja. Ketika kita memahami identitas dan panggilan kita ini, kita dapat berjalan tanpa takut, sebab Allah berkata: “ janganlah takut..Aku menyertai engkau”.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup memuliakan Tuhan Amin.

Jumat, 13 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Korintus  6 : 12 – 20 (TB2)

Nasihat terhadap percabulan
12 "Segala sesuatu diperbolehkan bagiku", tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu diperbolehkan bagiku, tetapi aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apapun. 13 "Makanan untuk perut dan perut untuk makanan" tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. 14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. 15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus? Jadi akan kuambilkah anggota Kristus dan menjadikannya anggota tubuh pelacur? Sekali-kali tidak! 16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, telah dikatakan, "Keduanya akan menjadi satu daging." 17 namun, siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Namun orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap tubuhnya sendiri. 19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Muliakan Tuhan Dengan Tubuhmu

Paus Leo Agung pernah berkata: “Umat Kristiani, ingatlah akan siapa dirimu, kamu telah ditebus mahal dengan darah Kristus, maka jangan berbuat jahat tapi muliakan Tuhan dengan tubuhmu”. Perkataan ini sama dengan yang dinasehatkan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Di tengah maraknya paktek percabulan sebagai bentuk penyembahan kepada dewi Aprhodite kala itu. Paulus menegaskan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, tempat kediaman Roh kudus. Itu berarti tubuh kita adalah sesuatu yang kudus dan dihargai Tuhan. Ia memberi kita tubuh bukan hanya untuk bekerja dan bergerak, tetapi untuk menjadi alat memuliakan Dia. Maka kita tidak bebas memperlakukan tubuh sembarangan. Cara kita makan, bekerja, beristirahat, menjaga kesehatan dan memakai anggota tubuh menunjukkan bagaimana kita menghormati Tuhan. jadi ketika kita memakai tubuh untuk hal-hal yang merusak diri, menyakiti orang lain, memuaskan dosa, kita sedang menyalahgunakan sesuatu yang Tuhan tebus dengan darah-Nya.Tubuh ini milik Tuhan, mari menggunakannya untuk hormat dan kemuliaan-Nya.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kami, Amin

Sabtu, 14 Februari 2026

bahan bacaan : 2 Tesalonika 1 : 3 – 12 (TB2)

Ucapan syukur dan doa
3 Kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, 4 sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita. 5 Itu adalah  bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu. 6 Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu 7 dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya yang penuh kuasa, di dalam api yang bernyala-nyala, 8 dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. 9 Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya, 10 apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai. 11 Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, 12 sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.

Kuat Dalam Iman, Kaya Dalam Kasih Di Tengah Derita

Film animasi “The 21” menceritakan kisah nyata para Kristen Koptik yang diculik oleh kelompok teroris dan dipaksa untuk melepaskan iman mereka kepada Yesus Kristus. Ketika mereka menolak, mereka disiksa. Tetapi mereka tetap setia pada sampai akhir hidup. Mereka tidak membenci penyiksa, malah berdoa supaya para penyiksa diampuni. Selain itu, mereka saling berdoa dan saling menguatkan meskipun mereka kuat menghadapi penganiayaan secara brutal dan ancaman eksekusi. Film ini memperlihatkan keberanian iman yang berakar pada kasih yang sejati, sebagaimana Paulus menasehati jemaat di Tesalonika agar  bertumbuh dalam iman, sabar menanggung penderitaan, dan bertambah dalam kasih meski ditindas. Kenyataan ini bukan sesuatu yang mudah dihadapi.  Hal ini menjadi teladan bagi kita saat ini untuk tetap  kuat dalam iman dan mengasihi sesama, termasuk mereka yang membenci atau membuat menderita.  Kasih di tengah penderitaan hanya bisa dilakukan dengan kuasa Kristus. Sebab itu berdoalah agar kita memperoleh kuasa itu dari Tuhan.

Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami kuat dalam iman, kaya dalam kasih sekalipun menderita, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 01 – 07 Februari 2026

Tema Bulanan : Anugerah  Allah: Hiduplah Sebagai Orang-Orang Pilihan

Tema Mingguan : Dipilih Untuk Teguh Mengasihi

Minggu, 01 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 15 : 9 – 17 (TB2)

Perintah supaya saling mengasihi
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Namun, Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi."

Kasih yang Teguh

Yesus mengasihi murid-murid-Nya sama seperti Bapa mengasihi-Nya. Kasih ini adalah standar dan sumber kasih kita, untuk tetap tinggal di dalam kasih-Nya. Kita harus menaati perintah-Nya, sama seperti Yesus menaati Bapa-Nya. Ketaatan bukanlah beban, melainkan respons alami terhadap kasih yang telah kita terima, memungkinkan kita untuk hidup dalam suasana kasih Kristus yang konsisten. Inti dari bagian ini adalah perintah eksplisit untuk “saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Ini bukan sekadar saran, melainkan perintah yang diulang kembali di ayat terakhir (ayat 17) sebagai penekanan. Kasih ini harus terlihat secara nyata di antara sesama orang percaya, menjadi kesaksian bagi dunia luar. Kasih yang teguh dan terbesar ditunjukkan dengan kerelaan untuk memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Yesus sendiri adalah teladan sempurna dari kasih ini melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Kasih ini bersifat tanpa pamrih dan rela berkorban.  Seorang hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi sebagai sahabat, Yesus memberitahukan segala sesuatu yang Dia dengar dari Bapa-Nya. Ini menunjukkan hubungan yang intim dan penuh kepercayaan, untuk mengasihi dengan teguh, kita perlu secara konsisten memelihara hubungan pribadi dengan Yesus melalui doa dan perenungan firman, menaati perintah-Nya untuk saling mengasihi secara praktis, dan membiarkan Roh Kudus menolong kita menghasilkan buah kasih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membawa sukacita yang penuh dan menjadi kesaksian akan kasih Kristus di dunia.

Doa: Tuhan, bantu kami punya kasih yang teguh sepertiMu. Amin.

Senin, 02 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 13 : 34 – 35 (TB2)

34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi."

Saling mengasihi, Identitas Murid Sejati

Yesus tidak hanya memerintahkan kasih secara abstrak, tetapi memberikan standar yang baru dan lebih tinggi: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Tuhan memilih para murid-Nya agar melalui kehidupan mereka, dunia dapat melihat manifestasi kasih Allah. Ayat 35 dengan jelas menyatakan: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. Kasih ini berfungsi sebagai “seragam” atau lencana pengenal komunitas Kristen yang membedakan mereka dari dunia di sekitar mereka. Tujuan pemilihan murid adalah agar mereka menjadi saksi Injil. Kesaksian mereka tidak hanya melalui kata-kata, tetapi yang lebih kuat lagi, melalui cara hidup mereka yang dipenuhi kasih. Ketika orang-orang di luar melihat kasih yang tulus dan mendalam di antara sesama orang percaya, mereka akan tertarik dan tahu bahwa Yesus berasal dari Allah. Mengasihi sesama orang percaya bukanlah pilihan opsional atau sekadar sarana moral, melainkan perintah yang mengikat dan mutlak dari Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup di bawah perintah kasih ini. hidup saling mengasihi agar kasih-Nya yang transformatif dapat terus mengalir melalui kita kepada dunia. Itulah tanda hidup baru yang Tuhan minta dari kita setiap waktu.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami saling mengasihi setiap hari. Amin.

Selasa, 03 Februari 2026

bahan bacaan : Lukas 6 : 31 – 32 (TB2)

31 Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Sebab orang berdosa pun mengasihi orang yang mengasihi mereka.

Mengasihi Musuh

Ayat 31 menyatakan Hukum Emas (Golden Rule): “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Ini adalah prinsip universal untuk interaksi sosial, tetapi Yesus menggunakannya sebagai landasan untuk melangkah lebih jauh lagi melampaui interaksi yang mudah, menuju interaksi yang sulit dengan musuh. Kita ingin diperlakukan dengan baik bahkan ketika kita salah, jadi kita harus memperlakukan musuh kita dengan baik. Ayat 32 menyoroti tantangan utama: Orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda dari “orang-orang berdosa”. Jika kasih kita hanya terbatas pada lingkaran sosial yang aman dan saling menguntungkan, kita tidak menunjukkan nilai tambah dari Injil Kristus. Kita dipilih untuk menunjukkan kasih yang tidak termotivasi oleh potensi keuntungan atau balasan. Kasih kepada musuh adalah kasih yang murni karena tidak mengharapkan imbalan duniawi. Sebagai orang percaya yang dipilih, kita adalah duta besar kerajaan Allah. Kita mengasihi musuh bukan karena musuh itu layak dikasihi, tetapi karena Allah yang kita layani itu mengasihi mereka, dan kita mencerminkan karakter-Nya. Orang percaya dipilih untuk mengasihi musuh bukan karena kita lebih kuat atau lebih baik dari orang lain, tetapi karena kita telah menerima kasih karunia Allah yang tidak layak kita terima.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu hidup berbeda dengan dunia. Amin.

Rabu, 04 Februari 2026

bahan bacaan : 1 Yohanes 2 : 7 – 11 (TB2)

Perintah yang baru
7 Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kamu miliki sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. 8 Namun, kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu. Sebab, kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. 9 Siapa yang berkata, bahwa ia ada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. 10 Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. 11 Namun, siapa yang membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Mengasihi Saudara

Status “anak terang” tidak ditentukan oleh klaim verbal, “saya sudah diselamatkan”, tetapi oleh bukti nyata dari kasih. Kebencian adalah bukti bahwa seseorang masih hidup di dalam kegelapan, terlepas dari pengakuan iman mereka. Kasih membuat pijakan rohani kita kokoh. Tidak ada “sandungan” atau kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa yang disebabkan oleh konflik internal atau dendam. Kasih mempersatukan dan memelihara komunitas orang percaya. Kita dipilih sebagai anak-anak terang. Identitas baru ini menuntut perilaku yang konsisten dengan terang itu sendiri. Sebagaimana terang menghilangkan kegelapan, kasih harus menghilangkan kebencian di hati kita. Membenci saudara adalah pengkhianatan terhadap identitas ilahi kita yang baru. Kasih kepada saudara seiman adalah tanda otentik bahwa terang Kristus berdiam di dalam kita, memandu langkah kita dan membedakan kita dari dunia yang masih berjalan dalam kegelapan. Mengasihi saudara berarti menerjemahkan iman kita ke dalam tindakan nyata. Rasul Yohanes menantang kita untuk tidak hanya mengasihi dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran Jika kita melihat saudara kita membutuhkan bantuan, namun menutup pintu belas kasihan kita, kasih Allah tidak mungkin tinggal di dalam hati kita. Kasih persaudaraan menuntut kedermawanan, pelayanan, dan kesediaan untuk berbagi beban. Dunia tidak akan mengenali kita dari teologi kita yang rumit, gedung gereja yang megah, atau kefasihan kita berbicara, melainkan dari cara kita memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mengasihi saudara kami. Amin.

Kamis, 05 Februari 2026

bahan bacaan : Yunus 3 : 1-10 (TB2)

Niniwe bertobat dan diampuni
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, 2 "Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, dan serukanlah kepadanya pesan yang Kufirmankan kepadamu." 3 Yunus pun segera pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman TUHAN. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 4 Yunus mulai masuk ke dalam kota dan berjalan sepanjang hari. Ia berseru, "Empat puluh hari lagi Niniwe akan dijungkirbalikkan." 5 Lalu orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka mengumumkan puasa dan mereka, dan semuanya, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 6 Setelah kabar itu sampai kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya. Ia menanggalkan jubahnya, menyelubungi dirinya dengan kain kabung, lalu duduk di abu. 7 Atas perintah raja dan para pembesarnya diserukanlah di Niniwe maklumat ini, "Manusia dan ternak, lembu dan kambing domba, tidak boleh makan apa-apa; tidak boleh makan rumput atau minum air. 8 Semuanya, manusia dan ternak harus berselubungkan kain kabung dan berseru sekuat-kuatnya kepada Allah. Masing-masing harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 9 Siapa tahu, Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala, sehingga kita tidak binasa." 10 Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikan-Nya. Ia pun tidak jadi melakukannya.

Kasih Tuhan yang Nyata

Meskipun Yunus gagal dan melarikan diri pada panggilan pertama, Allah tidak meninggalkannya. Firman Tuhan datang untuk kedua kalinya. Allah itu sabar. Dia memilih Yunus, bukan karena Yunus sempurna atau antusias, tetapi karena Allah berdaulat atas rencana penyelamatan-Nya. Jika Allah bergantung pada kesempurnaan kita, tidak ada seorang pun yang akan diutus.Yunus menyampaikan pesan penghakiman yang singkat: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”. Pesan ini sepertinya keras, tetapi ada implikasi tersembunyi: Allah memberikan tenggat waktu 40 hari. Kasih Allah dapat menjangkau hati yang paling keras sekalipun. Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur yang terkenal kejam, musuh Israel. Namun, mereka merendahkan diri. Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada bangsa atau individu yang berada di luar jangkauan kasih dan anugerah Allah. Allah ingin menyatakan sifat-Nya yang pemaaf, bukan penghukum. Dia mengutus Yunus untuk menunjukkan bahwa belas kasihan-Nya tersedia bagi siapa saja yang berseru dan berbalik dari jalan jahat mereka. Allah lebih bersukacita melihat pertobatan daripada penghukuman. Kisah Niniwe mengajarkan kita bahwa fokus utama pemilihan kita sebagai orang percaya adalah untuk menjadi saluran kasih dan pengampunan Allah kepada dunia yang terhilang, bahkan kepada “musuh” kita. Allah rindu agar semua orang bertobat dan diselamatkan.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk kasih-Mu yang tak bersyarat untuk kami. Amin.

Jumat, 06 Februari 2026

bahan bacaan : Yohanes 15 : 18 – 19 (TB2)

Dunia membenci Yesus dan murid-murid-Nya
18 "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. 19 Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi, karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

Kasih Yang Tidak Dibalas

Yohanes 15:18–19 menegaskan bahwa tindakan pemilihan oleh Kristus bukan sekadar penetapan identitas rohani, melainkan penugasan etis yang menempatkan murid dalam posisi sebagai wakil-Nya di tengah dunia. Frasa “Aku telah memilih kamu dari dunia” (ay. 19), harus dipahami sebagai panggilan relasional yang menuntut respons ketaatan konkret. Dengan kata lain, seorang murid harus mampu mengenal dirinya dalam hubungan dengan Kristus secara benar. Pemilihan dalam Injil Yohanes memang mengandung dimensi misi yakni para murid dipanggil keluar dari pola duniawi agar dapat memperlihatkan karakter Kristus melalui tindakan yang memuliakan Allah dan menghormati sesama. Tindakan itu berwujud dalam hidup yang penuh kasih, keterbukaan, dan kesediaan merendahkan diri, sehingga hubungan dengan orang lain menjadi ruang manifestasi ketaatan kepada Yesus. Dengan demikian, pemilihan bukanlah dasar superioritas atau membuat kita berbangga diri dan merasa hebat. Tetapi panggilan untuk menjalankan peran yang memperlihatkan kesetiaan dan integritas dalam komunitas. Bahkan, sekalipun karena ketaatan itu, harus mengalami penolakan dunia (ay. 18). Di tengah-tengah tantangan tersebut, kita harus tetap tetap mempertahankan etos kasih dan penghormatan terhadap sesama sebagai wujud kesetiaan kepada Sang Pemilih.. Ada ungkapan seperti ini : “Kasih menjalankan tugasnya bukan kepada mereka yang membalas, tetapi kepada mereka yang tidak membalas”. Hanya dengan demikian, kasih yang kita lakukan sebagai penyataan kasih Allah dapat dilihat, disadari dan membawa perubahan.

Doa: Tuhan, kuatkan kami untuk tetap mengasihi sekalipun dibenci. Amin.

Sabtu, 07 Februari 2026

bahan bacaan : Efesus 6 : 1-3 (TB2)

Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. ​2 Hormatilah bapakmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Kasih Anak Kepada Orang Tua

Penelitian perkembangan moral menunjukkan bahwa penghargaan dan kepatuhan dalam keluarga berkontribusi besar terhadap internalisasi nilai kasih, empati, dan tanggung jawab sosial. Ketaatan anak kepada orang tua bukan lagi dipahami sebagai mekanisme kontrol, tetapi sebagai latihan spiritual untuk membentuk karakter yang menghargai otoritas, relasi, dan komitmen. Paulus mengaitkan ketaatan anak dengan janji Allah, memperlihatkan bahwa relasi keluarga yang ditata dengan hormat merupakan bagian dari visi Allah untuk kesejahteraan umat. Dengan kata lain, penghormatan kepada orang tua sebagai tindakan yang memelihara shalom dalam keluarga dan dalam komunitas yang lebih luas. Bagi orang tua, khususnya ayah yang disebut Paulus dalam ayat lanjutannya, peran mereka sebagai pendidik rohani juga merupakan panggilan yang dipilih, bukan sekadar posisi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa relasi keluarga yang saling menghormati lahir ketika orang tua menjalankan otoritas dengan kasih, bukan dengan dominasi. Dengan demikian, penerapan Efesus 6:1–3 menuntut kedua pihak menjalankan perannya masing-masing sebagai respon terhadap kasih Allah, bukan tuntutan sepihak. Dalam kehidupan jemaat, pemahaman ini menolong komunitas Kristen membangun budaya saling menghormati antar generasi. Kita memulainya dari keluarga sebagai basis pembinaan iman yang menekankan kasih.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami sebagai anak-anak untuk setia mengasihi orang tua. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 30 Nov – 06 Des 2025

Tema Bulanan : Menjadi Gereja yang Teguh Memberitakan Cinta Kasih Tuhan bagi Semua

Tema Mingguan : Melakukan yang Baik Sebagai Wujud Pengharapan akan Kedatangan Tuhan

Minggu, 30 November 2025

bahan bacaan : Matius 25 : 31 – 46

Penghakiman terakhir
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Menanti Tuhan Datang dengan Melakukan yang Baik

Merayakan minggu Adventus yang pertama hari ini, merupakan sukacita semua orang percaya. Minggu-minggu dimana kita diajak untuk bersukacita  atas kelahiran Yesus  tetapi sekaligus menanti dengan iman akan kedatanganNya yang kedua kali, Namun, seringkali pengharapan itu hanya tinggal di ranah pemikiran, tanpa berdampak nyata pada kehidupan kita sehari-hari. Matius 25:31-46 memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana kita seharusnya mempersiapkan diri dalam menanti kedatangan-Nya. Bukan dengan ritual-ritual keagamaan semata, tetapi dengan tindakan nyata. Pertanyaan bagi kita adalah tindakan nyata seperti apa yang bisa kita lakukan? Pertama, bagilah berkatmu dengan mereka yang tidak punya baik itu makanan, minuman, pakaian. Kedua, jadikanlah rumahmu sebagai rumah aman bagi mereka yang terlantar. Ketiga, sediakan waktumu untuk mengunjungi mereka yang sakit dan terpenjara. Akta ini bukan sekadar amal umum, tetapi tindakan-tindakan kebaikan yang diarahkan bagi mereka yang paling rentan dan membutuhkan pertolongan. Ini menunjukkan bahwa menyambut kedatangan Tuhan bukan aksi statis dalam diam tapi dinamis dalam akta yang hidup melalui kepedulian, empati dan berbuat kebaikan terhadap sesama. Apabila kita tidak peduli terhadap sesama maka itu bentuk penolakan terhadap Kristus sendiri. Mari, nyatakan aktamu sebagai cara menyambut kedatanganNya.

Doa: Tuhan, kami siap menyambutMu dengan melakukan yang baik,  amin 

Senin, 01 Desember 2025

bahan bacaan : Yakobus 2 : 14-17

Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati
14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Perbuatan Baik Sebagai Wujud Iman

Pernahkah saudara merencanakan segala sesuatu tetapi tidak ada tindakan? Saya pernah mengalaminya. Banyak hal yang saya rencanakan tetapi hanya sebatas perencanaan semata. Pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Perencanaan tanpa pelaksanaan sama dengan nol, tidak memberikan dampak perubahan apa pun. Jadi perkataan dan tindakan harus sejalan, supaya dapat menciptakan hal yang baru. Demikian juga dengan iman, jika hanya diucapkan di mulut tanpa adanya tindakan sama dengan omong kosong. Demikianlah orang yang mengakui kalau dirinya memiliki iman tetapi tidak terlihat dari perbuatannya. Oleh karena itu, firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa bahwa iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Iman sejati melahirkan tindakan kasih. Bukan hanya sebatas ucapan semata, tetapi harus terlihat dalam tindakan hidup sehari-hari: menolong yang membutuhkan, berbagi berkat, peduli pada yang kesusahan, dan sebagainya. Sebab itu, tampilkanlah iman kita melalui perbuatan kasih yang dapat dirasakan orang lain, termasuk SADHA (Saudara dengan HIV Aids). Dengan cara itulah kita menjadi kesaksian bagi dunia.

Doa: Tuhan, tolong hidupkanlah imanku untuk selalu berbuat baik. Amin.

Selasa, 02 Desember 2025

bahan bacaan : Ibrani 6 : 9-12

Berpegang teguh pada pengharapan
9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. 

Allah Memperhitungkan Semua Perbuatan Kebaikan

Kebenaran firman Tuhan melalui surat Ibrani  di hari ini mengajarkan bahwa Allah  memperhatikan setiap pelayanan, kerja keras dan kasih yang seseorang atau jemaat tunjukkan kepada sesama demi nama-Nya. Sebab itu, tidak boleh menjadi lamban tetapi meneladani mereka yang dengan iman dan kesabaran memperoleh janji Allah. Itu artinya janganlah pernah menjadi jemu dalam melakukan kebaikan, sebab Tuhan memperhitungkannya.  Terkadang kita menjadi jemu atau merasa lelah ketika kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai, lalu membatasi kita untuk tidak lagi melakukan kebaikan bagi orang lain. Kita menjadi lamban untuk melakukan kebaikan padahal kita dapat melakukannya. Firman Tuhan ini mau meneguhkan bahwa, tidak ada satupun perbuatan kasih dan kebaikan yang sia-sia. Allah Adil dan Ia menghargai kesetiaan anak-anakNya.  Belajarlah tekun dan sabar, sebab janji Allah digenapi pada waktuNya. Inilah dasar pengharapan orang percaya. Kita tidak bekerja sia-sia, karena pada akhirnya kita akan menerima janji Allah. pengharapan itu memberi kekuatan untuk terus melayani dengan setia dan melakukan kebaikan dengan rajin, sekalipun kadang tidak ada yang memberikan penghargaan.

Doa: Bapa Sorgawi, terima kasih atas kasihMu yang mau memperhitungkan semua kebaikan yang dilakukan, Amin.

Rabu, 03 Desember 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 32-43

Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas
32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida. 33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. 34 Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu. 35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan. 36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

Selama Hidup Berbuat Baik

Pada waktu kita memasukkan sebuah baterai kedalam sebuah jam dinding, maka jam dinding itu mulai bekerja menjalankan tugasnya. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, ia terus bekerja dan bekerja sampai baterai itu habis. Jam dinding itu bekerja tanpa pamrih, dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Kisah Petrus yang menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas menekankan bahwa iman kepada Yesus harus diwujudkan melalui perbuatan baik terus menerus. Itu dilakukan oleh Petrus, seperti halnya yang ditunjukkan oleh Dorkas selama ia masih hidup. Tabita atau Dorkas adalah teladan bagaimana hidup seharusnya dijalani. Ia dikenag bukan karena harta, pangkat atau jabatan, melainkan karena kebaikan hatinya. Ia menolong orang miskin, menjahit pakaian bagi janda-janda dan hidupnya dipenuhi kasih.  Firman Tuhan ini mengajarkan kita bahwa hidup ini bukan diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan. Kembangkanlah hati yang murah seperti Dorkas dan jadilah pribadi yang selalu berbuat baik kepada mereka yang membutuhkan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami tetap berbuat baik selama ada kesempatan hidup, Amin.

Kamis, 04 Desember 2025

bahan bacaan : Mikha 6 : 8

8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Berbuat Baik, Berlaku Adil dan Mencintai Kesetiaan

Ayat ini adalah inti dari seluruh hukum dan ibadah yang sejati. Bangsa Israel pada zaman itu hidup dengan banyak ritual, sibuk dengan segala macam bentuk persembahan dan kurban. Namun hidup mereka tidak mencerminkan kehendak Allah. Melalui nabi Mikha, Tuhan menegaskan kembali bahwa yang Ia inginkan bukan sekadar ritual lahiriah tetapi hidup yang benar di hadapan Nya. Hidup yang benar yang dimaksudkan disini adalah: berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Hidup dengan adil kepada sesama itulah yang dikehendaki Allah. Dalam keluarga: orangtua berlaku adil kepada anak-anak. Tidak membeda-bedakan. Dalam pekerjaan: tidak mengambil keuntungan dengan cara curang atau merugikan orang lain. Kita tidak menindas orang lain. Kita pun diminta untuk mencintai kesetiaan dan rendah hati. Tidak sombong atau merasa diri lebih lalu menjatuhkan orang lain. Kiranya melalui firman ini kita semakin diteguhkan untuk hidup bukan hanya sebagai umat yang beribadah, tetapi juga umat yang menghadirkan kebaikan, kasih dan keadilan Allah di dunia ini.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami untuk tetap berbuat baik, berlaku adil dan mencintai kesetiaan, Amin.

Jumat, 05 Desember 2025

bahan bacaan : Matius  10 : 40 – 42  

40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Berbuat Baik Dimulai Dari Hal Yang Kecil

Banyak orang sering berpikir bahwa untuk melayani Tuhan atau menolong sesama harus dengan hal-hal besar: memberi banyak uang, membangun gedung, atau melakukan sesuatu yang spektakuler. Padahal Yesus mengajarkan bahwa kebaikan sejati justru dimulai dari hal-hal kecil, sederhana, dan sering tidak terlihat orang lain. Tuhan Yesus mencontohkan: memberi segelas air sejuk. Itu bukan perbuatan yang besar, tetapi bila dilakukan dengan kasih, memiliki nilai kekal di hadapan Allah. Di mata dunia, hal kecil sering dianggap tidak berarti. Tetapi di mata Tuhan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan kasih memiliki arti besar. Senyuman yang tulus bisa menguatkan hati orang yang putus asa. Sepotong roti bisa menyelamatkan orang yang kelaparan. Doa bisa menghibur hati yang sedang hancur. Kebaikan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Seperti tetesan air yang lama-lama melubangi batu, demikianlah kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengubah kehidupan kita dan orang lain.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat melakukan perbuatan baik sekecil apapun itu. Amin

Sabtu, 06 Desember 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 27

26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum

Mengejar kebaikan Disenangi Orang

Anna memiliki kebiasaan cepat mengantuk ketika ia menaiki mobil. Hari itu bukan saja ia mengantuk, tetapi nampaknya ada pula seorang ibu yang mengantuk dan akhirnya ketiduran dalam perjalanan dari Ambon ke Liang. Anna nyaris juga ikut tertidur. Namun rasa kantuknya tiba-tiba hilang saat ia melihat pemuda yang duduk di sebelah kanan ibu yang tertidur mencoba memasukan tangan ke dalam tas yang dipegang ibu itu. Anna secara keras langsung menegurnya. Suara Anna yang besar akhirnya membuat sang ibu pun terbangun. Pemuda itu pun terburu-buru menghentikan mobil dan segera turun. Perbuatan baik Anna telah menyelamatkan orang lain. Ia tidak mengenalnya tetapi kebaikan hatinya mendorongnya untuk mencegah kejahatan. Hidup ini menjadi jauh lebih baik ketika kita mau tetap melakukan kebaikan. Inilah sikap yang dimaksudkan dalam teks Amsal 11:27. Amsal sebagai kitab yang berisikan kata-kata hikmat menyampaikan penyataan kebenaran yakni bila kita melakukan kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita terima; sebaliknya bila kejahatan yang kita lakukan, maka kejahatan yang kita terima. Apa yang kita buat, semuanya akan kembali kepada kita. Karenanya mari jaga sikap kita. Kejarlah kebaikan, karena itu yang akan membuat kita disenangi orang dan diberkati Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah aku untuk terus mengejar dan melakukan kebaikan, Amin.

*SUMBER : SHK NOV & DES 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 23-29 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja untuk Hidup Berkelanjutan

Minggu, 23 November 2025

bahan bacaan : Kejadian 9 : 1 – 17

Perjanjian Allah dengan Nuh
Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. 3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. 4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. 5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. 6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. 7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya." 8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." 12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."

Anugerah Damai Sejahtera

Pasal 9:1-17, menjelaskan bagaimana Tuhan Allah menyatakan kasih-Nya yang besar atas kehidupan Nuh dan keluarganya. Tuhan dengan kuasa-Nya yang besar memerintahkan Nuh dan anak-anak-Nya untuk melajutkan kehidupan “beranak cuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi”. Suatu anugerah yang besar yang menandai babak baru dari kehidupan di muka bumi ini. Keluarga Nuh sajalah yang oleh ketaatan dan kesetian kepada Tuhan Allah, diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan setelah air bah. Tuhan Allah menghendaki kelangsungan hidup manusia dan kehidupan yang dikehendaki-Nya adalah hidup dalam damai sejahtera.  Tuhan Allah berjanji kepada Nuh, tidak akan ada lagi air bah. Tanda dari janji Tuhan adalah melalui busur pelangi di awan. Saat kita melihat pelangi, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan umatNya. Kasih dan kesetiaanNya tidak berubah. Manusia diberi kuasa atas bumi ini untuk menjaga keberlanjutannya. Manusia harus hidup tertib dan menjaga keseimbangan ciptaan. Sebab itu, sama seperti Nuh dan keluarganya, biarlah kita juga dipakai Tuhan untuk melestarikan ciptaanNya agar kehidupan ini terus berlanjut dengan baik.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas panggilanMu bagi kami menjaga keberlanjutan hidup di bumi. Amin. 

Senin, 24 November 2025

bahan bacaan : Mazmur 78 : 1 – 11

Pelajaran dari sejarah
Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. 2 Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. 3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, 4 kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. 5 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, 6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, 7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; 8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. 9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran; 10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya. 11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.

Ceritakanlah Tentang Kasih Tuhan

Asaf menyampaikan kepada bangsanya tentang bagaimana Allah menetapkan peringatan kepada Yakub dan hukum taurat kepada Israel. Ia juga menyampaikan bahwa nenek moyang mereka telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajarkan peringatan dan taurat itu kepada anak-anak mereka agar dikenal oleh angkatan yang kemudian dan agar anak-anak yang lahir kelak juga dapat menceritakan kepada anak-anak mereka. Ajaran dan peringatan untuk etap menaruh kepercayaan dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah. Mereka juga tidak boleh mengikuti kehidupan nenek moyang mereka yang disebut sebagai angkatan pendurhaka, pemberontak, angkatan yang tidak setia kepada Tuhan. Sebaliknya, bangsanya harus mendengar dengan sungguh-sungguh dan belajar tentang apa yang telah terjadi di masa lampau agar kehidupan mereka ke depan dapat berjalan dengan baik. Mazmur ini mengajarkan kita semua untuk penting mengingat perbuatan Tuhan dan mewariskannya kepada generasi berikut. Banyak perbuatan Tuhan yang nyata dalam hidup kita. Ceritakanlah dan perkenalkanlah Tuhan kepada anak-anak kita dan banyak orang agar mereka semakin bertumbuh dalam iman dan taat kepada Tuhan. Sungguh indah jika mereka pada akhirnya menjadi generasi yang memuliakan nama Tuhan karena terinspirasi dari cerita pengalaman hidup kita bersama Tuhan.

Doa: Tuhan, Biarlah cerita hidup kami bersamaMu, memberkati banyak orang. Amin. 

Selasa, 25 November 2025

bahan bacaan : Yosua 14 : 6 – 15

Kaleb mendapat Hebron
6 Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: "Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea. 7 Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. 8 Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. 9 Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. 10 Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; 11 pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. 12 Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN." 13 Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya. 14 Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati. 15 Nama Hebron dahulu ialah Kiryat-Arba; Arba ialah orang yang paling besar di antara orang Enak. Dan amanlah negeri itu, berhenti berperang.

Iman yang Teguh Seperti Kaleb

Melalui perkataan Kaleb kepada Yosua dan klaimnya terhadap janji Tuhan, kita bisa meneladaninya. Kaleb selalu beriman dan setia mengikut Tuhan sepenuh hati (ay.8, 9, 14), meskipun sudah berlalu empat puluh lima tahun dan saat itu ia berusia delapan puluh lima tahun. Ini terjadi karena Tuhan memelihara dan menopang hidupnya. Pengembaraan empat puluh tahun di padang gurun dan lima tahun berperang di Kanaan tidak meredupkan harapan Kaleb karena ia selalu mengingat janji kesetiaan Allah yang akan memberikan bagian tanah miliknya. Janji itu ditepati, meskipun tanah itu masih dikuasai oleh orang Enak atau para raksasa. Dalam kesemuanya itu, Kaleb mengimani bahwa Tuhan selalu menyertai dia. Dari Kaleb, kita belajar untuk taat dan beriman kepada Allah dengan setia di sepanjang hidup. Pertambahan usia tidak boleh melemahkan iman kita kepada Tuhan, juga tidak melemahkan semangat untuk menjalankan perintah Tuhan. Ya, seringkali kita begitu bersemangat di waktu usia masih muda. Tetapi ketika telah berusia lanjut, kadang iman menjadi lemah karena banyak masalah dan tantangan hidup. Kaleb mengajarkan bahwa iman harus terus dipelihara, bahkan harus semakin matang seiring bertambahnya usia. Untuk itu, janganlah kita bergantung pada kekuatan diri, melainkan pada janji-janji Tuhan.

Doa: Tuhan, tambahkan iman percaya kami seperti Kaleb yang teguh dengan janjiMu. Amin. 

Rabu, 26 November 2025

bahan bacaan : Yesaya 43 : 18 – 21

18 firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. 20 Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; 21 umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku."

Beritakanlah Kemasyuran Tuhan

Tiga pembagian waktu yang penting untuk kita ingat adalah waktu lalu, waktu kini dan masa depan. waktu lalu adalah periode yang telah berlalu, tidak dapat diubah serta berdampak pada waktu kini atau masa depan. Waktu kini adalah periode waktu yang sementara berlangsung, kita dapat bertindak, membuat keputusan dan mengalami kehidupan. Masa depan adalah periode waktu yang belum terjadi. Masa depan dapat berupa harapan, impian atau rencana untuk dilakukan. Kepada bangsa Israel  Yesaya  mengingatkan untuk tidak terjebak  dalam bayangan masa lalu, sebab Tuhan akan melakukan sesuatu yang baru. “jalan di padang gurun dan sungai di padang belantara”.  Itu karya Allah yang mustahil menurut manusia, tapi nyata oleh kuasa-Nya. bahkan ciptaan lain ikut menikmati karya pembaruan Allah. Itu berarti, bukan hanya manusia tetapi juga ciptaan lain Tuhan lindungi. Firman Tuhan ini mengundang kita semua untuk hidup dalam pengharapan baru bersama Tuhan dan menjadi umatNya yang selalu memuliakan namaNya melalui keterpanggilan kita menjaga keberlenjutan hidup di dunia ini.

Doa: Dalam setiap waktu, ajarkan kami untuk terus memasyurkan namaMu dan menjaga keberlanjutan hidup,  amin

Kamis, 27 November 2025

bahan bacaan : Keluaran 2 : 23 – 25

Musa diutus TUHAN
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.

Berserulah, Allah akan Menjawab

Permasalahan, tantangan, penderitaan, semua orang menghadapinya. Ketika persoalan  dan tantangan itu datang silih berganti, kita cenderung bertanya, dimana Allah. Apakah Allah tahu apa persoalan kita? Apakah Allah tahu penderitaan kita?. Sesungguhnya Allah mengetahui  semua yang terjadi dalam hidup seluruh ciptaannya! Pertanyaan mendasar untuk kita adalah apakah kita datang kepada Allah dalam doa untuk menyampaikan seluruh permasalahan dan tantangan tersebut? Keluaran 2:22-23  mengungkapkan dengan jelas tentang Israel yang mengalami perbudakan bertahun-tahun, tetapi ketika mereka berpaling kepada Allah, berseru meminta pertolongan kepadaNya. Allah pun berpaling menjawab dan menolong mereka. Firman Tuhan ini memberi pesan kepada kita bahwa Tuhan bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang dekat dan penuh empati. Ia tidak hanya tahu masalah dan pergumulan kita, tetapi Ia juga menaruh perhatian, kasih dan rencana untuk menolong kita. Berserulah, dan meminta dalam doa kepada  Allah dalam Yesus, Ia akan memberi jawaban tepat pada waktunya. Jawabannya tidak pernah mengecewakan. Karena itu, mari kita hidup dalam iman dan pengharapan, sambil terus berseru kepada-Nya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu mendengar dan menjawab doaku, amin

Jumat, 28 November 2025

bahan bacaan : Roma 11 : 25 – 36

Penyelamatan Israel
25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." 28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. 33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Rencana  Allah yang Penuh Kasih.

Manusia siapakah yang mengetahui rencana Allah? Jawabannya, tidak ada! Manusia hanya bisa mensyukuri bahwa rencana Allah itu baik adanya sebab Ia mengasihi semua ciptaanNya. Baik yang tegar tengkuk atau keras kepala, yang percaya kepadaNya maupun yang tidak. Pengakuan ini yang disampaikan Paulus dalam teks hari ini bahwa Allah memiliki rencana keselamatan yang mencakup Israel dan bangsa-bangsa lain. Rencana  keselamatan ini bukanlah gagasan manusia tetapi berasal dari kasih Allah sendiri. Rencana  ini terwujud melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Ini berarti bahwa rencana keselamatan Allah yang melampaui batas-batas manusia. Kasih Allah ini tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok tertentu, tetapi meluas kepada seluruh dunia. Inilah kasih yang inklusif, yang menghapus sekat-sekat pemisah dan membuka jalan bagi semua orang untuk diselamatkan. Bagaimana kita merespon rencana keselamatan Allah yang penuh kasih ini? Menerima rencana penyelamatan Allah berarti hidup dalam identitas yang baru. Pertama, kita bukan lagi budak dosa, tetapi anak-anak Allah. Kedua, hidup mengasihi sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Ketiga, dengan menjadi saksi atau saluran berkat bagi banyak orang. Bersyukurlah atas rencana Allah yang penuh kasih dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami bagian dari rencana penuh kasihMu, amin 

Sabtu, 29 November 2025

bahan bacaan : Amsal 24 : 14 – 15

14 Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang. 15 Jangan mengintai kediaman orang benar seperti orang fasik, jangan merusak rumahnya.

Hikmat untuk Masa Depan

Masa depan, tidak bisa ditebak karena masa depan adalah peristiwa yang belum terjadi. Masih dalam rencana.  Tetapi semua orang selalu berharap miliki masa depan yang baik. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mendapatkan masa depan yang baik? Tentu harus ada rencana dan aksi. Menurut Amsal 24:14-15, hikmat adalah kunci untuk mendapatkan masa depan yang baik dan harapan yang tetap ada. Hikmat bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu dengan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu carilah hikmat sebanyak-banyaknya supaya masa depan kita cerah. Bagaimana caranya? Bacalah banyak buku, dengarkan nasehat orang tua, guru, atau teman yang lebih berpengalaman dan yang paling penting, membaca Firman Tuhan agar selalu mengenal kehendakNya. Tuhan adalah sumber hikmat. Jika kita menjauh dari Tuhan, kita tidak memiliki hikmat dan akhirnya kita akan menjadi orang fasik. Tetapi dalam dekat dengan Tuhan, hikmat akan menjadi milik kita. Selanjutnya, kita akan menjadi orang benar serta hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.  

Doa: Berikanlah HikmatMu menuntun masa depanku, Tuhan, amin 

*SUMBER : SHK NOV 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 16-22 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Menjadi Gereja yang Ugahari

Minggu, 16 November 2025

bahan bacaan : Amsal  30 : 7 – 9 

7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Hidup Sederhana, Jauh dari Keserakahan

Lapar bicara laeng kanyang biking laeng”, kalimat sederhana tapi mengandung makna  yang sangat dalam. Waktu ada limpah lupa jalan pulang, tapi saat seng ada lai mau kaluar  lewat tiris – tiris rumah saja seng bisa. Ini tipe keserakahan yang nyata karena tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada . Kalau cara hidup seperti ini langgeng dalam keseharian berarti akan terjadi rupa-rupa pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan. Agur bin Yake dalam permohonan-Nya kepadaTuhan,  momohonkan agar dijauhkan dari kecurangan dan kebohongan, ini merupakan dosa-dosa etis, moral, yang berdampak pada terganggunya hubungan sosial. Ia  juga meminta jangan memberikan  kemiskinan dan kekayaan, tetapi biarkan ia menikmati makanan yang menjadi bagiannya.Kemiskinan dan kekayaan adalah dua keadaan hidup yang sama – sama memiliki dampak negatif ketika tidak di sikapi dengan bijak. Firman ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dan sangat dibutuhkan. Bukan soal kemiskinan dan kekayaan tetapi bagaimana kita teta. mengandalkan Tuhan sebagai sumber berkat, Selalu merasa puas dan cukup  dengan apa yang diperoleh serta senantiasa megucap syukur dengan apa yang Tuhan beri. Buanglah jauh-jauh segala hasrat dan keinginan yang berlebihan, jangan angkuh dan serakah!. Bangunlah hidup dalam kesederhanaan. 

Doa: Biarlah kami mau hidup dalam kesederhanaan karena semua yang kami punyai asalnya dari-Mu. Amin

Senin, 17 November 2025

bahan bacaan : Keluaran 16 : 17 – 20 

17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 19 Musa berkata kepada mereka: "Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi." 20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka

Cukupkanlah Dirimu dengan Pemberian Tuhan

Mencari dan mengumpulkan sesuatu untuk persediaan hari esok adalah cara manusia demi tetap bertahan hidup. Apalagi  di tengah tantangan saman yang semakin susah karena berbagai  kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini menuai berbagai macam reaksi sebab hal ini menyebabkan keterpurukan secara ekonomi dan ketidak sejahteraan bagi rakyat. Ini tentu mengkhawatirkan. Sikap khawatir yang ekstrim kadang berdampak pada keraguan akan kuasa Tuhan bahwa Ia yang memegang dan berkuasa atas hari esok. Padang gurun Sin menjadi saksi kemahakuasaan Allah yang sanggup mencukupkan segala sesuatu demi kelangsungan kehidupan umat. Manna Allah turunkan dari langit sebagai jawaban atas keluhan umat Israel yang lapar. Namun apa yang terjadi disana ialah perintah Allah untuk mengumpulkan secukupnya dilanggar. Karena kekhawatiran mereka mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan, akibatnya manna itu busuk dan berulat. Peristiwa ini menandakan bahwa pemeliharaan Tuhan itu sempurna dan adil. BerkatNya cukup untuk kita masing-masing. Sebab itu cukupkanlah diri dengan segala yang berasal dari tangan kasih Tuhan.  Jika kita rakus, serakah atau tidak percaya pada janjiNya, berkat itu bisa menjadi bencana.

Doa : Tuhan, Ajarkan kami untuk mencukupkan diri dengan pemberianMu, Amin

Selasa, 18 November 2025

bahan bacaan : Amsal  16 : 17 – 19  

17 Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya. 18 Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. 19 Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.

Jangan Hidup Dalam Kesombongan Dan Ketidakjujuran                                                                                                                  

Kalau mau supaya jang calaka harus kalakuang tu bae jang kajahatang. Kalau mau orang lia deng paduli saat susah, saat jatuh deng seng berdaya, jang sombong jang tinggi hati,jang rasa diri hebat dari orang laeng, lalu kalau ada pung labe jang hanya mau bagi deng orang yang satu level saja tapi kalau pung labe, bagi lai deng orang yang seng punya”. Itu pesan seorang ayah kepada anaknya saat ia pergi merantau. Nasehat ini mau mengingatkan agar anak-anak bahkan siapa saja agar hidup rendah hati. Amsal mengingatkan hal yang sama:” kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Lebih baik hidup rendah hati dan sederhana daripada kaya dari hasil curang dan hidup dalam kesombongan. Firman Tuhan ini penting untuk kita ingat, marilah kita hidup jujur. Kejujuran melindungi kita dari dosa, dari tipu daya bahkan dari akibat buruk di hari  ini dan kemudian hari. Di dunia yang penuh kompromi dan kepalsuan ini, kita diajak untuk setia, jujur dan rendah hati. Dengan demikian Tuhan tetap dimuliakan dalam seluruh praktek hidup kita .

Doa: Perteguhkanlah iman kami Tuhan untuk selalu mencintai kebenaran agar kesombongan dan kebohongan tidak merajai hati kami. Amin.

Rabu, 19 November 2025

bahan bacaan : Amsal  15 : 16 – 17

16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. 17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.

Hidup Sederhana dengan Kasih dan Takut akan Tuhan

Manakah yang akan dipilih, antara banyak harta tapi selalu di hantui kecemasan, ataukah memilih  hidup sederhana tapi limpah sukacita dan jauh dari kecemasan? Pasti semua kita akan memilih lebih baik sedikit atau lebih baik hidup sederhana asalkan bahagia, tenang aman dan nyaman tanpa tekanan dan jauh dari kecemasan. Kesederhanaan dalam hidup bukan berarti tidak boleh memiliki sesuatu yang lebih. Tetapi   hidup sesuai dengan apa yang kita miliki dengan cara menyeimbangkan keinginan dengan penghasilan atau pendapatan yang kita punya. Pada sisi lain, hidup dengan mengejar kekayaan seringkali menyeret kita kedalam berbagai masalah, ketakutan kalau harta kita hilang, hidup dalam kecurigaan terhadap orang lain, hilang ketentraman jiwa dan batinbahkan berdampak pada hubungan dengan Tuhan. Amsal mengajak kita untuk merenungkan nilai kehidupan yang sejati. Memperoleh kekayaan tanpa rasa takut akan Tuhan hanya membawa kegelisahan. Tetapi relasi yang hangat, penuh cinta lebih berharga dari semua itu. Mari membangun kasih dalam keluarga, gereja dan sesama. Karena kasih lebih bernilai daripada segala kekayaan.

Doa : Tuhan curahkanlah kiranya kekuatan dan hikmatmu agar kami tidak mencondongkan hati dan terikat pada tawaran dunia,  Amin

Kamis, 20 November 2025

bahan bacaan : 2 Korintus 9 : 6 – 15 

Memberi dengan sukacita membawa berkat
6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Berbagi Adalah Wujud Pelayanan Kasih

Kita hidup dan menikmati segala sesuatu di dunia ini adalah karena kasih dan kemurahan Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan untuk membalas segala kebaikan Tuhan?. Hanya puji dan sembah yang teraktualisasi lewat tindakan hidup yang mau berbagi dengan sesama. Tindakan berbagi  adalah wujud belas kasihan kepada orang lemah, memiutangi Tuhan yang akan membalas perbuatannya itu (amsal 19:17). Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus untuk mendorong mereka memberi dengan hati yang tulus. Ia memakai prinsip sederhana; menabur dan menuai. Menabur sedikit,menuai sedikit; tetapi menabur banyak, menuai banyak. Prinsip ini bukan hanya berlaku dalam dunia pertanian, tetapi juga dalam kehidupan iman kita. Maka memberi atau berbagi dengan sesama bukanlah sekedar sebuah pilihan melainkan wujud nyata dari iman, pengharapan serta kasih.Berbagi dalam ketulusan adalah berbagi dengan apa adanya kita, dan bukan karena ada apa – apanya. Berbagi dalam ketulusan hati tidak akan pernah membuat kita berkekurangan, justru kita akan dilimpahi Tuhan dengan berkat-Nya yang berlimpah.

Doa: Tuhan, kami mau berbagi dengan sesama sebagai perwujudan kasihMu yang melimpah,  Amin.

Jumat, 21 November 2025

bahan bacaan : Roma 15 : 1 – 13

Orang yang lemah dan orang yang kuat
Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. 8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, 9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: "Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu." 10 Dan selanjutnya: "Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya." 11 Dan lagi: "Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia." 12 Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan." 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Keseimbangan Hidup: yang Kuat Membantu yang Lemah

alam Roma 15 ini, Paulus berbicara tentang gereja Tuhan yang terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda: budaya, karakter, bahkan kemampuan yang berbeda, tetapi menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan kuncinya yaitu yang kuat menolong yang lemah. Mereka yang kuat memiliki kewajiban menolong yang lemah. Mereka yang lemah tidak boleh menjadi korban dari yang kuat. Disinilah prinsip keseimbangan hidup dibangun. Hidup tidak akan pernah seimbang bila yang kuat hanya memikirkan dirinya sendiri dan yang lemah dibiarkan tergeletak tanpa pertolongan. Justru keindahan hidup tercipta ketika ada keseimbangan. Sebab itu kekuatan yang dimiliki, entah itu fisik, pikiran, harta atau pengaruh, bukanlah untuk dipamerkan, melainkan untuk dipakai menolong. Sebab sesungguhnya kekuatan itupun adalah pemberian Tuhan. Saat kita menolong, kita bukan hanya membangun orang lain, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup. Tuhan Yesus adalah teladan utama. Walau Ia Mahakuat, Ia rela merendahkan diri, menanggung kelemahan kita bahkan memikul dosa dunia di kayu salib. Kasih-Nya menciptakan keseimbangan, sehingga kita yang lemah kini memiliki harapan dan kekuatan baru. Hal ini mengingatkan, agar kita tidak egois, melainkan setia menolong mereka yang lemah. Kiranya hidup kita menjadi saluran keseimbangan hidup dan berkat dalam dunia ini.

Doa: Tuhan, kami mau selalu menolong orang yang lemah. Amin.  

Sabtu, 22 November 2025

bahan bacaan : 1 Tesalonika 5 : 18

18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Mengucap Syukur dalam Segala Hal

Nasehat untuk mengucap syukur dalam segala hal dihubungkan dengan nasehat untuk selalu berdoa. Mengucap syukur juga adalah bentuk kepercayaan seseorang kepada Allah. Ketika mengucap syukur, kita percaya bahwa Tuhan Yesus akan bekerja secara luar biasa sesuai dengan apa yang Dia rancangkan yaitu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Mengucap syukur membuat kita lebih sadar akan berkat-berkat Tuhan dalam hidup. Saat kita menyadari berkat-berkat itu, kita akan semakin menghargai kasih-Nya dan lebih bersyukur atas segala yang diberikan. mengucap syukur bukanlah sesuatu yang kita lakukan saat kita menginginkannya atau saat hidup berjalan baik. Mengucap syukur adalah sesuatu yang harus kita lakukan dalam segala situasi. Inilah kehendak Allah yang berkenan. Ini adalah perintah yang hanya dapat ditaati melalui iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus dan kekuatan yang diberikan oleh Roh Kudus. Paulus tidak menyarankan kita mengabaikan kenyataan akan rasa sakit atau penderitaan kita. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk memupuk hati yang bersyukur di setiap musim kehidupan. Tuhan Yesus sendiri memberi teladan. Dalam perjamuan terakhir, Ia mengucap syukur saat membagi roti dan anggur, padahal Ia tahu penderitaan salib sudah menanti. Itu menunjukkan bahwa syukur lahir dari iman, bukan dari keadaan. Jadi, marilah kita selalu bersyukur sebab syukur adalah sikap hati yang percaya bahwa Allah tetap berdaulat dalam segala keadaan.

Doa: Tuhan, bantu kami punya sikap hati yang mau bersyukur dalam segala situasi. Amin  

*SUMBER : SHK NOV 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 09-15 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja yang Arif Menyikapi Perubahan Zaman

Minggu, 09 November 2025

bahan bacaan : Efesus 5 : 1 – 20  

Hidup sebagai anak-anak terang
Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. 6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14 Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Jangan Asal Bertindak

Demonstrasi yang terjadi di akhir bulan Agustus 2025 memberikan banyak kesan dan pesan berharga. Salah satunya terkait dengan sikap para pendemo. Mereka berani dalam menyampaikan asprasi. Ini hal yang baik. Tetapi ketika arogansi mereka diberitakan terjadi dalam bentuk penjarahan yang dilakukan atas nama keadilan, itu sesuatu yang tidak baik. Efesus 5 : 1-20 menuliskan pesan yang berharga bagi kita. Hidup sebagai anak-anak terang inilah yang dipesankan. Hal ini mengandung makna yakni agar kita tidak asal dalam hidup ini terutama dalam segala tindakan. Apa yang kita lakukan memperlihatkan jati diri Kekristenan kita. Kita harus bersikap adaptif atau memiliki daya dalam menyesuaikan diri dengan perubahan apapun. Tetapi semua yang dilakukan tidak boleh sekadar asal dilakukan. Semua yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Jangan pernah memakai nama kebenaran dan keadilan sebagai dasar tindakan kita namun sesungguhnya yang terjadi adalah kita sementara juga melakukan tindakan yang tidak benar dan tidak adil. Itu bukan tipe anak-anak terang. Anak-anak terang hanya memiliki satu kriteria yaitu tidak asal bertindak, apalagi bertindak yang jahat. Maukah kita tetap mempertahankan jati diri kita sebagai anak-anak Terang?   

Doa:  Ya Allah, kami mau menjadi anak-anak terang, Amin.

Senin, 10 November 2025

bahan bacaan :   Amsal 4 : 23 – 27 

23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. 25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. 26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. 27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Jadilah  Pahlawan dan Bukan Penjahat

Hari ini kita memperingati hari pahlawan. Mungkin ada banyak defenisi tentang arti pahlawan. Tetapi salah satu defenisi pahlawan adalah orang yang mampu menyikapi zaman dengan menjaga hati dan terus menatap ke depan. Hidup seorang pahlawan pasti hanya akan menjadi berkat dan itulah sebabnya ia disebut pahlawan. Amsal sebagai kitab hikmat memberikan pengajaran tentang sisi hidup seorang pahlawan. Hatinya dijagai dengan kewaspadaan, ia tidak membiarkan hatinya dikuasai oleh hal yang tidak baik. Mulutnya tidak digunakan untuk mengatakan hal yang tidak benar. Matanya dipakai hanya untuk melihat kebenaran dan bukan sebaliknya. Kakinya berjalan di jalan yang rata. Ia tidak melangkah di jalan kejahatan. Renungan ini menuntun kita untuk hidup dengan hati yang terjaga, mulut yang jujur, mata yang focus, dan langakh yang mantap. Dunia boleh menawarkan banyak godaan yang dapat membuat kita tergoda menoleh ke kanan atau ke kiri, tetapi mata iman menuntun kita untuk tetap setia pada jalan Tuhan dan melakukan apa yang benar dan bukan sebaliknya. Sebab itu firman Tuhan harus menjadi kompas agar kita tidak menyimpang. Jadilah pahlawan dan bukan penjahat.

Doa:  Ya Allah, mampukanlah kami menjadi pahlawan kebaikan,  Amin.

Selasa, 11 November 2025

bahan bacaan : Titus  2 : 1 – 2

Kewajiban orang tua, pemuda dan hamba
Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan

Hidup Menjadi Teladan Yang Matang

Firman Tuhan hari ini menjadi dasar untuk kita bersyukur bersama laki-laki GPM yang berusia 39 tahun. Dari firman ini kita diajak untuk hidup dalam pengajaran yang sehat. Bukan sekedar tahu kebenaran firman Tuhan, tetapi menghidupinya dalam kata dan perbuatan. Orang yang sudah dewasa dalam iman, khususnya laki-laki, diingatkan untuk hidup sederhana, terhormat, bijaksana, dan teguh dalam iman, kasih, serta ketekunan. Dunia hari ini banyak menawarkan jalan pintas untuk menghibur hati, tetapi firman Tuhan menuntun kita untuk menjadi teladan yang kokoh di tengah badai nilai-nilai yang berubah. Karakter yang matang bukan lahir dari kemudahan, tetapi dari kesetiaan memegang kebenaran walau banyak yang menentangnya. Tuhan rindu melihat umat-Nya menjadi pilar bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat. Kekuatan seorang ayah, kakak, atau pelayan laki-laki tidak hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi dari kestabilan hati dan kebijaksanaan hidupnya. Mari kita bercermin, apakah perkataan dan sikap kita menuntun keluarga kepada Kristus atau malah menjauhkan karena kita tidak bisa menjadi teladan? Hari ini, jadikan firman sebagai pelita agar hidup kita menjadi contoh dan teladan yang menguatkan orang lain untuk tetap berjalan dalam kebenaran.

Doa: Teguhkan Imanku Tuhan, agar dapat menjadi teladan, Amin.

Rabu, 12 November 2025

bahan bacaan : Titus  2 : 3 – 5

3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Perempuan Bijak, Generasi Kuat

Perempuan-perempuan yang dewasa dalam iman dipanggil untuk hidup dengan penuh hormat, tidak memfitnah, tidak diperbudak oleh hawa nafsu, dan menjadi pengajar yang baik bagi generasi muda. Dalam dunia yang serba cepat ini, godaan untuk sibuk mengomentari hidup orang lain sangat besar. Tetapi firman Tuhan memanggil para perempuan untuk menjadi sumber kebijaksanaan, penopang keluarga, dan penanam nilai-nilai ilahi bagi anak-anak dan remaja. Kata-kata yang diucapkan dengan kasih dan bijak bisa menjadi benih kehidupan yang kelak menghasilkan buah yang manis. Kita tidak tahu seberapa besar dampak yang dihasilkan dari teladan hidup yang benar. Seorang ibu yang sabar, seorang kakak yang penuh perhatian, atau seorang nenek yang setia berdoa bisa menjadi benteng iman bagi keluarga. Tuhan ingin perempuan-perempuan-Nya menjadi agen pembawa damai, pelindung kasih, dan pengajar kebaikan yang tulus. Mari kita mulai hari ini dengan komitmen untuk menjadi suara yang membangun dan hati yang membimbing generasi muda dengan pembentukan karakter: hidup dalam kasih, bijaksana, suci, penuh kebaikan dan bertanggungjawab. Keluarga yang kuat, melahirkan generasi yang kuat dan itu adalah kesaksian nyata bagi dunia.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk hidup sebagai teladan iman, Amin.

Kamis, 13 November 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah  11 : 9 – 10

Nasihat bagi pemuda-pemudi
9 Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! 10 Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.

Masa Muda Yang Bertanggung Jawab

Sukacita adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri. Hidup yang terlalu kaku dan tanpa sukacita akan membuat kita lupa menikmati segala hal yang baik dan indah dari Tuhan. Namun firman Tuhan mengingatkan:  masa muda perlu dinikmati, tetapi tidak boleh dijalani secara sembarangan. Karena setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Artinya, boleh mengikuti keinginan hati, tetapi keinginan itu harus ditimbang dengan kebenaran firman. Dunia mendorong anak muda untuk “mengejar kebebasan” tanpa batas, tetapi Tuhan mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab. Masa muda adalah anugerah yang indah, tetapi juga masa yang rentan untuk terseret oleh kesenangan sesaat. Jangan biarkan hati kita tertipu oleh hal-hal yang kelihatan manis di depan, tetapi pahit di belakang. Hidup dengan bijak di masa muda berarti menata langkah sejak sekarang, bukan nanti ketika segalanya sudah terlambat. Singkirkan hal-hal yang dapat mengeraskan hati dan merusak masa depan. Jadilah pribadi yang memanfaatkan masa muda untuk membangun iman, karakter, dan masa depan yang kokoh. Allah rindu anak-anak muda memiliki hati yang bersih, tubuh yang sehat dan hidup yang bersemangat. Sebab itu, sukacita sejati tidak merusak diri, melainkan memuliakan Allah.

Doa: Arahkan Jalanku di masa muda ini ya Tuhan, Amin.

Jumat, 14 November 2025

bahan bacaan : Lukas  12 : 54 – 59

Menilai zaman
54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Peka Membaca Tanda -Tanda Zaman

Yesus menegur orang-orang yang pandai membaca tanda-tanda cuaca, tetapi gagal membaca tanda-tanda zaman. Teguran itu bermaksud agar mereka peka terhadap karya Allah dalam sejarah kehidupan. Begitu pula kita. menilai zaman bukan berarti hanya mengikuti trend perkembangan dunia, tetapi melihat apa yang sedang Allah kerjakan. Sering kita sibuk memprediksi hal-hal duniawi, tetapi tidak peka pada apa yang Tuhan sedang kerjakan di sekitar kita. Apakah kita mampu melihat bahwa dibalik peristiwa sosial, politik, ekonomi dan kehidupan sehari-hari, Allah sedang berbicara dan mengarahkan kita? Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk bertindak selagi masih ada waktu. Pertobatan bukanlah hal yang harus ditunda-tunda. Kita tidak tahu kapan kesempatan itu akan berakhir. Mari belajar membaca tanda-tanda yang Tuhan tunjukkan melalui firman, peristiwa, dan suara hati, agar kita dapat hidup selaras dengan kehendak-Nya dan siap menyambut-Nya dengan hati yang bersih. Jangan kita sibuk membaca tanda-tanda dunia tetapi lalai membaca tanda-tanda kehendak Tuhan, dan kehendakNya adalah bertobat dan tidak ikut arus dunia ini yang menyesatkan.

Doa: Buat kami peka  melihat apa maksud Tuhan dibalik setiap zaman, Amin.

Sabtu, 15 November 2025

bahan bacaan : Amsal 3 : 1 – 4 

Berkat dari hikmat
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. 3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia

Firman Yang Tertulis Di Hati

Tuhan berjanji bahwa mereka yang setia memegang pengajaran-Nya akan menikmati umur panjang, sejahtera, dan kasih setia yang tidak lekang oleh waktu. Firman dan kasih Tuhan harus tertulis bukan hanya di Alkitab, tetapi di hati kita. Inilah kunci untuk menemukan damai sejati di tengah dunia yang penuh gejolak. Kesetiaan pada firman bukan sekadar soal menghafal ayat, tetapi menghidupinya dalam pilihan-pilihan kecil setiap hari. Kebaikan dan kesetiaan adalah harta yang tidak bisa dibeli, tetapi bisa kita berikan kepada orang lain sebagai warisan rohani. Saat hidup kita dipenuhi kasih dan kejujuran, kita akan mendapatkan perkenaan dari Allah dan manusia. Hari ini, mari kita pilih untuk menaruh firman di hati, membiarkannya membentuk pikiran, perkataan, dan tindakan, sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang mengundang orang lain untuk mengenal kasih Tuhan. Jangan abaikan firman, karena disitulah sumber kehidupan yang menuntuk kita hidup berkenan kepada Tuhan.

Doa: FirmanMu tertulis dalam hati kami ya  Tuhan, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOVEMBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 02 – 08 November 2025

Tema Bulanan : Gereja bagi Kehidupan yang Berkelanjutan

Tema Mingguan : Gereja bagi Semua

Minggu, 02 November 2025

bahan bacaan : Yesaya 56 : 1 – 8

Keselamatan adalah bagi semua orang
Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. 2 Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat. 3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: "Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering." 4 Sebab beginilah firman TUHAN: "Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama--itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan--,suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun."

Rumah Doa Bagi Banyak Orang

Ada sebuah rumah makan yang besar dengan meja panjang penuh makanan lezat. Pemilik rumah makan tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Siapa saja boleh datang baik itu orang kaya, miskin, tua, muda, bahkan yang tidak mampu membayar pun akan diberi makan dengan penuh kasih. Demikianlah gambaran gereja yang sejati: meja perjamuan Tuhan terbuka bagi semua orang, tidak ada yang ditolak. Tuhan menegaskan bahwa rumah-Nya adalah “Rumah Doa Bagi seluruh bangsa”. Ia mengundang bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga orang asing, bahkan orang yang dianggap tidak layak, untuk datang dan menerima kasih serta keselamatan-Nya. Kadang kita sering berpikir bahwa gereja hanya untuk orang tertentu orang yang sudah lama beriman, yang punya latar belakang sama, atau yang kelihatan “baik-baik saja” di mata manusia. Namun bacaan hari ini Yesaya 56 mengingatkan bahwa Allah membuka pintu-Nya lebar-lebar untuk siapa saja. Gereja merupakan tempat bagi siapapun yang mau datang dan menetap, baik itu orang asing, orang yang berbeda suku budaya atau sampai kepada status sosial pun akan tetap di terima. Firman Tuhan ini mengajarkan bahwa gereja bukan milik sekelompok orang tertentu, melainkan milik Kristus yang terbuka bagi semua. Mari kita belajar hidup sebagai orang yang ramah, menerima, dan membawa setiap orang lebih dekat kepada Tuhan.

Doa Mampukan kami Tuhan untuk selalu menjaga keutuhan Rumah untuk banyak orang. Amin.  

Senin, 03 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26

Percakapan dengan perempuan Samaria
Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Pelayanan Tanpa Batas

Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria adalah kisah yang sangat penting karena Yesus berani menembus berbagai batasan yang ada pada zaman itu. Bangsa Yahudi dan orang Samaria tidak bergaul karena adanya permusuhan panjang. Namun Yesus justru mendekati perempuan Samaria itu, membuka percakapan, dan menawarkan air hidup. Ini menunjukkan bahwa pelayanan Kristus tidak mengenal sekat suku, ras, atau budaya. Kasih Allah berlaku bagi semua orang dengan menjadi pelayanan di segala tempat. Perempuan Samaria itu menyinggung soal tempat ibadah: apakah di gunung yang berada di Samaria atau di Yerusalem. Tetapi Yesus menegaskan bahwa penyembahan yang benar bukan ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh sikap hati: menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (ayat 23-24). Artinya, pelayanan tidak dibatasi tembok gedung atau tempat khusus. Di mana pun kita berada, kasih Kristus dapat diberitakan. Kita dipanggil untuk melayani siapa saja, tanpa memandang suku, budaya, atau latar belakang. Gereja tidak boleh tertutup, melainkan terbuka untuk menjadi berkat bagi semua orang. Maka kita sebagai pengikut Kristus dipanggil untuk melayani dengan kasih yang tulus, dan menjangkau siapa pun, di mana pun, dan membawa mereka kepada Kristus sumber air hidup.

Doa: Tuhan ajarkan kami untuk memberitakan firmanMu kepada banyak orang  Amin.  

Selasa, 04 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 4 : 27 – 42

27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" 28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" 30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." 32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." 33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." 39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." 40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Dari Satu Jiwa Untuk Banyak Jiwa

Seperti sebuah lilin kecil yang dinyalakan dalam ruangan gelap. Cahaya lilin itu mungkin tampak kecil, tetapi cukup untuk membuat orang lain melihat jalan. Jika lilin itu kemudian menyalakan lilin-lilin lain, maka seluruh ruangan akan terang. Demikian juga dengan Injil. Ketika satu orang menerima dan membagikannya, terang itu menyebar dan menjangkau banyak orang. Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur bukanlah kebetulan. Setelah mengalami kasih dan kebenaran Kristus, perempuan itu segera meninggalkan tempayannya lalu kembali ke kotanya untuk bersaksi: “Mari, lihatlah seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (ay. 29). Kesaksiannya yang sederhana tetapi tulus membuat banyak orang datang kepada Yesus dan menjadi percaya. Inilah kuasa pemberitaan Injil: dimulai dari satu pribadi yang diubahkan, lalu merambat menjangkau banyak orang. Tuhan rindu kita semua ikut ambil bagian dalam pekerjaan besar ini. Maka Jangan remehkan kesaksian sederhana kita, sebab Tuhan bisa pakai itu untuk menyentuh banyak orang. Pemberitaan Injil bukan hanya tugas pendeta atau penginjil, tetapi juga keluarga Kristen di mana pun berada. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat: rumah, tetangga, teman kerja, sekolah, bahkan melalui media social, agar pemeritaan Injil menjangkau banyak orang.

Doa Tuhan, kami mau melayani  sesama tanpa melihat latarbelakang mereka,  Amin.

Rabu, 05 November 2025

bahan bacaan : Yohanes 10 : 14 – 16

14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Satu Gembala Untuk Banyak Domba

Seorang gembala di sebuah padang rumput memiliki banyak domba dari berbagai warna dan ukuran. Ada yang putih bersih, ada yang berbintik hitam, ada pula yang berbulu agak kusut. Namun meskipun berbeda, semuanya tetap dipanggil dengan suara yang sama. Ketika gembala itu bersiul, semua domba yang besar maupun kecil, yang dekat maupun jauh berlari mendekat karena mengenal suara gembalanya. Mereka tidak mengikuti suara lain, sebab hanya suara gembala yang membuat mereka merasa aman. Demikianlah Yesus sebagai Gembala Agung memanggil kita dari berbagai bangsa, suku, bahasa, dan latar belakang untuk menjadi satu kawanan. Meski berbeda-beda, kita disatukan dalam kasih dan bimbingan Kristus. Yesus mengenal kita secara pribadi Sama seperti gembala mengenal setiap dombanya, Yesus mengenal nama, pergumulan, dan kebutuhan kita masing-masing. Tugas kita sebagai domba adalah mengenali suaraNya melalui doa, firman dan pimpinan Roh Kudus. Banyak suara dunia yang ingin menyesatkan, tetapi hanya suara Yesus yang membawa pada kehidupan. Karena itu, mari kita hidup saling mengasihi, melampaui perbedaan, dan setia mengikuti Yesus.

Doa:  ya Allah, kami mau mendengar dan mengikutiMu, gembala Agung,  Amin.

Kamis, 06 November 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 26 – 40 

Sida-sida dari tanah Etiopia
26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. 27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. 28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. 29 Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" 30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" 31 Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. 33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" 35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" 37 (Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.") 38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. 40 Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.

Tetaplah Bangun Kepeduliaan Memberitakan Injil

Kita tidak hidup sendiri di dunia. Kita hidup bersama orang lain. Amatlah naif bila kita terus menerus memiliki kecendrungan untuk hanya memikirkan diri sendiri. Perilaku egois tidak membuat kita sejahtera dan damai. Tuhan Yesus memanggil kita sebagai gereja agar  bisa hidup sebagai orang-orang yang inklusif. Inilah kandungan tema bulan November yaitu  Gereja bagi hidup yang berkelanjutan dan untuk minggu ini diarahkan pada tema Mingguan: Gereja bagi semua. Teks kita saat ini menceritakan ksiah pelayanan  Filipus. Ia seorang pemberita Injil. Sikap ketaatannya juga ia tunjukkan ketika malaekat Tuhan berkata kepadanya untuk turun ke jalan yang sunyi (Kisah 8:26). Filipus memahami betapa pentingnya hidup berbagi kebenaran tentang kasih Tuhan Yesus kepada orang lain, apalagi yang belum percaya dan mengenal Tuhan. Apakah sikap seperti ini .juga kita miliki? Ataukah kita malah memperlihatkan sikap tidak suka sebagai wujud rasa tidak peduli akan pertumbuhan iman orang lain, misalnya saja malas mengajak orang lain beribadah? Mari belajar dari Filipus yang ingat akan tanggung jawab pemberitaan Injil dan tetap setia melakukannya.

Doa Ya Tuhan Yesus, Tolonglah kami agar selalu mendengar suara-Mu dan setia memberitakan Injil, Amin  

Jumat, 07 November 2025

bahan bacaan : Matius 22 : 1 – 14

Perumpamaan tentang perjamuan kawin
Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."

Semua Orang Berhak atas Keselamatan

Hari Minggu telah tiba. Pit meminta Popy istrinya untuk menyetrika pakaiannya sebab ia mau ke ibadah. Stenly anaknya yang bungsu membawakan pakaiannya juga kepada ibunya. Melihat itu, Pit bertanya  kepada Stenly : Mengapa nyong membawa baju untuk mama ? Popy istrinya langsung menjawab: Stenly cuma mau ikut-ikutan saja. Tetapi Stenly berkata bahwa ia juga mau ke ibadah Minggu bersama papa dan mamanya. Mendengarkan hal itu, Pit melarang agar anaknya jangan ikut ibadah Minggu sebab hanya akan merepotkan. Stenly nanti saja ke ibadah sekolah minggu. Pit melarang Popy untuk membawa Stenly saat mereka ke ibadah minggu. Stenly pun hanya bisa diam. Cerita ini kelihatan biasa saja. Tetapi melaluinya terselip pesan yang penting yakni semua orang berhak atas keselamatan.Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga. Orang banyak yang diundang masuk ke dalam Kerajaan Surga ibarat mereka adalah tamu perjamuan kawin. Semua orang diundang dan berhak untuk ikut di dalam perjamuan kawin itu dengan pakaian yang pantas. Ini berarti kita semua dipandang layak di hadapan Tuhan. Siapapun kita termasuk anak-anak. Jangan pernah melarang siapapun untuk datang kepada Tuhan dan jangan pernah membatasinya sebab Tuhan berkenan menyelamatkan semua orang.

 Doa:  ya Allah, mampukanlah kami datang pada-Mu sebagai sumber keselamatan, Amin.

Sabtu, 08 November 2025

bahan bacaan : Wahyu 7 : 9-17

Orang banyak yang tidak terhitung banyaknya
9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!" 11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, 12 sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" 13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?" 14 Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. 15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka. 16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. 17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

Tuhan Sumber Keselamatan

Teks ini dilatari dengan situasi sulit yang dihadapi orang Kristen sekitar akhir abad pertama, dimana seluruh penduduk kekaisaran Romawi diwajibkan untuk menyembah dan mempersembahkan kurban kepada kaisar-kaisar yang mengganggap diri mereka sebagai dewa. Orang yang menolak dianggap pengkhianat dan dapat dijatuhi hukuman mati. Orang Kristen bertanya tentang keyakinan mereka akan Allah dan penulis kitab Wahyu menjawab dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang akan menaklukan seluruh umat manusia dan semua kekuatan termasuk kekaisaran Romawi yang melawan Allah. Teks Wahyu 7:9-17 menuliskan semua orang datang kepada Tuhan sumber keselamatan. Hanya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lainnya. ini merupakan ajakan bagi semua kita untuk menyakini kedaulatan kuasa Tuhan. Hanya di dalam Tuhan kita menemukan keselamatan. Manusia tidak memliki kuasa yang bisa menandingi Tuhan. Sebagai sumber keselamatan, Tuhan mau agar kita hanya datang kepada-Nya dan menyandarkan seluruh pergumulan hidup hanya kepadaNya.

 Doa: ya Allah, hanya Tuhanlah satu-satuNya sumber keselamatan hidup kami,   Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOVEMBER 2025, LPJ-GPM