Santapan Harian Keluarga, 25 Sept – 1 Okt 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu IV : ” Peduli terhadap Sesama

Minggu, 25 September 2022                           

bacaan : Lukas 16 : 19 – 31

Orang kaya dan Lazarus yang miskin
19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Jadilah Berarti Bagi Sesama

Kekayaan, selayaknya dipahami sebagai berkat Tuhan. Semua orang dapat saja memiliki kekayaan yang melimpah sekaligus terpanggil untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Ada bermacam-macam cara yang dilakukan orang sebagai bentuk pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan itu. Misalnya saja dengan melakukan aksi sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, tetapi ada juga yang memanfaatkannya hanya untuk diri sendiri. Perilaku peduli diri sendiri inilah yang tersebut dalam kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Kisah ini menceritakan bahwa si kaya tidak memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya dengan melimpah itu untuk berbagi dengan orang  yang miskin. Keseharian orang kaya ini dijalani hanya  dengan cara bersukaria dalam kemewahan (ay. 19). Keberadaan dan kondisi hidupnya  berbanding terbalik dengan Lazarus yang tidak memiliki tempat tinggal, badanya dipenuhi borok dan untuk makan saja sangatlah sulit. Nas hari ini menuturkan pula bahwa di “seberang hidup”, orang kaya dan Lazarus mendapatkan tempat yang berbeda (ay. 22-23). Kita tentu saja tidak ingin memiliki nasib seperti si kaya yang setelah kematiannya mengalami penderitaan. Bacaan hari ini mengajarkan kita agar dapat memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan menunjukan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Karena ada banyak saudara-saudari  di luar sana yang tidak seberuntung kita. Kepedulian terhadap sesama tidak hanya ditunjukan dengan berbagi materi saja, tetapi juga dengan perhatian dan kasih sayang kita. Jadilah orang-orang yang peka terhadap orang lain, supaya melalui hidup kita mereka pun dapat merasakan berkat dan kasih Allah. Percayalah, semua kebaikan yang kita lakukan tidaklah sia-sia, melainkan akan berbuah manis kelak. Teruslah peduli dan Jadilah berarti bagi sesama, sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus adalah Allah yang peduli.  Peliharalah belas kasihan atau kepedulia dan jadilah berkat bagi sesama.

Doa:  Ya Tuhan, kiranya hidup kami tetap berarti bagi sesama.  Amin.

Senin, 26 September 2022                             

Imamat 19 : 9 – 13

9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu. 11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. 12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. 13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

Menghidupkan Orang Asing dan Yang Miskin

Perilaku menghidupkan orang asing dan yang miskin pada hakikatnya merupakan wujud hidup yang kudus. Hidup yang kudus adalah penampakkan keberadaan sebagai orang beriman. Orang beriman disebut sebagai mereka yang memiliki hidup kudus. Kudus berarti “dipisahkan” atau “disendirikan”, maksudnya kehidupan orang Kristen haruslah berbeda dari mereka yang lain. Kita boleh hidup bersama mereka yang tidak mengimani Kristus, tetapi dengan kualitas yang berbeda. Hidup yang berkualitas itulah yang membedakan keberadaan umat Allah dengan yang lainnya. Kita terpanggil untuk berjuang memiliki hidup kudus atau berkualitas. Nas hari ini menyaksikan bahwa hidup berkualitas ditandai dengan perilaku peduli terhadap sesama. Sesama yang dimaksud dalam teks ini adalah mereka yang disebut orang asing dan yang miskin. Orang asing dan yang miskin hidup dalam kondisi kekurangan, terutama makanan dan karena itu harus dipedulikan. Kepedulian orang lain atau yang berkelebihan menentukan kelanjutan hidup mereka. Orang asing dan yang miskin hidup dari sisa hasil usaha atau panen para pemilik tanah dan kebun (ayat 9-10). Perilaku meninggalkan sisa hasil usaha bermakna manusiawi. Kebutuhan mendesak orang berkekurangan dipenuhi. Pemilik tanah dan kebun harus membagi hidup agar apa yang ada pada mereka dapat menghidupkan orang lain. Pesan nas ini kiranya dapat mengugah dan menginspirasi keberadaan kita sekarang ini. Hidup berkekurangan tak pernah diharapkan tapi dapat dialami karena kondisi yang tidak menguntungkan. Kepedulian layak dijadikan daya hidup agar kelebihan seseorang mencukupkan kekurangan yang lainnya. Hanya sisa yang diminta untuk menghidupkan, bukan semua yang ada pada kita.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami untuk tetap peduli akan sesama. Amin

Selasa, 27 September 2022                         

bacaan : Imamat 19 : 14 – 16

14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Setiap Orang berharga di Mata Tuhan

Nas hari ini menyaksikan aspek lain dari panggilan untuk menjalani hidup kudus. Hidup kudus terwujud dalam sikap dan perilaku menghargai dan memperlakukan semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Semua orang berharga di mata Tuhan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam hal mendengar dan melihat merupakan sebagian dari kondisi hidup yang tidak lazim. Teks hari ini tampil untuk menggugah rasa kemanusiaan. Keterbatasan yang ada pada orang lain bukanlah alasan untuk memperlakukan mereka secara tidak wajar. Hindarilah tindakkan mengutuki mereka yang mengalami keterbatasan mendengar (tuli). Kita diharapkan terhindar dari bertindak secara tidak wajar.  Mereka yang memiliki keterbatasan mendengar tak boleh dikutuki. Batu sandungan tak boleh diletakkan di depan orang yang hidup dengan keterbatasan melihat atau buta (ayat 14). Sebaliknya kita diharuskan untuk takut Tuhan. Orang yang hidup dengan keterbatasan apapun tetap berharga di mata Tuhan. Mereka tak boleh dihina, dilecehkan,  ditolak, dan diremehkan. Sebaliknya dikasihi, dihargai, dibela atau diberdayakan. Kita juga diminta untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi orang kecil serta menghindari melakukan tindakkan memfitnah. Orang kecil harus dilindungi serta dibela atau diperlakukan dengan adil dan benar. Ingatlah bahwa perilaku memfitnah hanya akan merusak harmoni hidup dan menciptakan perpecahan. Hindarilah untuk berlaku tidak wajar dan penuhilah keberadaan juga kebersamaan dengan cinta kasih, kepedulian serta takut akan Tuhan.

Doa:  Tuhan, ajarkan kami untuk tidak memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang lemah, berikanlah kami hati yang tulus untuk menjaga keharmonisan hidup. Amin.

Rabu, 28 September 2022                             

bacaan : Imamat 19 : 17 – 19

17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. 19 Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.

Merawat Hidup Bersama Dengan Kasih

Cara lain memelihara hidup kudus adalah mematikan perilaku membenci namun menghidupkan akta mengasihi. Mengasihi dikehendaki menjadi wujud luhurnya perilaku orang kudus. Kita teranggilan untuk mengasihi baik diri sendiri, saudara maupun sesama. Tak ada seorang manusia pun yang mampu hidup sendiri. Saudara dan sesama tak mungkin dihindari keberadaannya oleh siapapun selama ia menjalani keberadaannya. Kita diminta untuk hidup kudus, caranya adalah merawat kebersamaan dengan kasih. Kasih terlahir dari hati dan berwujud dalam tindakkan. Tindakkan mengasihi terlahir dari hati dan oleh sebab itu murni serta tulus bukan palsu. Mengasihi yang terlahir dari hati yang murni dan tulus bukan saja bermakna bagi orang lain tetapi terutama bagi diri sendiri. Mengasihi haruslah dimulai dari diri bukan diharapkan untuk dilakukan terlebih dahulu oleh orang lain. Setiap orang pada hakikatnya mengasihi diri sendiri dan hal itu harus pula diwujudkan kepada orang lain, baik saudara maupun sesama. Sebagaimana kita mengasihi diri sendiri, seperti itu pula harus dilakukan kepada orang lain. Hati orang kudus tidak dikotori dengan kebencian. Kebencian hanyalah “kotoran” atau “duri” yang membuat seseorang menjadi berdosa. Mengasihi memampukan seseorang menegur orang lain yang melakukan kesalahan tanpa membuatnya tersinggung. Selain itu mengasihi berarti pula tidak menuntut balas dan mendendam. Mengasihi memelihara orang percaya tetap memiliki hidup kudus. Hidup kudus terpelihara karena mengasihi dan karena itu kebersamaan berlangsung pula secara damai dan tertib.  Orang kudus, hidupnya tertib baik saat berbusana, berkerja maupun yang lainnya.

Doa: Ya Tritunggal, mampukanlah kami untuk setia mengasihi. Amin.

Kamis, 29 September 2022                           

bacaan : Imamat 19 : 32 – 37

32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu. 35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. 36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN."

Meresponi Kasih Allah Dengan Cara Peduli Terhadap Sesama

Teks hari ini menegaskan keterpanggilan untuk peduli kepada sesama. Sesama yang dimaksud adalah mereka yang telah lanjut umur, orang tua, orang asing, dan pencari keadilan serta orang miskin. Umat terpanggil untuk peduli sesama karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi mereka. Pembebasan dari perbudakkan di Mesir adalah bukti dan wujud pengasihan Allah yang luar biasa. Umat terpanggil untuk mengasihi karena mereka telah dikasihi bukan supaya dapat memperoleh kasih. Kepedulian kepada sesama berdasar pada tindakkan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi. Kepedulian terhadap sesama haruslah terwujud melalui tindakan cerdas dan bermutu atau yang menghidupkan. Kita harus berlaku sopan dan  santun kepada semua orang lanjut usia atau mereka yang telah beruban. Orang tua dihormati demikian pun mereka yang “asing”. Orang asing tak boleh ditindas tetapi diterima sebagai bagian dari persekutuan dan dikasihi seperti diri sendiri. Orang yang mencari keadilan haruslah diperlakukan dengan baik. Kecurangan tak boleh berlangsung dalam lembaga peradilan. Para penegak hukum terpanggil bertindak adil agar kebenaran tak diperjual belikan. Kepedulian haruslah terwujud pula dalam aktiftas ekonomi atau jual beli. Para penjual atau pedagang harus memakai timbangan atau ukuran yang betul. Kita terpanggil untuk mewujudkan kasih Allah dalam tindakkan kepedulian kepada sesama. Kepedulian diharapkan terwujud baik dalam keluarga, kepada mereka yang lanjut usianya, di lembaga peradilan maupun saat berlangsungnya aktifitas ekonomi. Kasih Allah tak akan berakhir, karena itu teruslah saling peduli. Peduli sesama berarti, sopan, menghormati dan jujur.

Doa:  Ajarilah kami Tuhan untuk mengerti akan kasih-Mu agar kami mampu untuk  saling peduli seorang akan yang lainnya. Amin.

Jumat, 30 September 2022                          

bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 16

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. 9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami 10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan--pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik. 11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin 12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya. 13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Bersyukur dan Terus Peduli

Kita layak bersyukur di penghujung bulan ini sambil berkomitmen untuk tetap peduli sesama. Tuhan, Allah kita terus berkarya mendatangkan kebaikan dalam hidup baik pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat. Kasih Allah kita alami saat dikasihi atau dipedulikan dengan tulus oleh anggota keluarga yang lain juga sesama. Kesehatan kita terpelihara, anak-anak dapat menjalani aktifitas pendidikan mereka, pekerjaan, jabatan dan karier berlangsung, usaha serta pencarian tetap dilakoni. Seisi keluarga, gereja dan masyarakat terus menjalani keberadaan sampai di hari terakhir bulan ini, hanya karena kasih Tuhan. Teks hari ini kembali menegaskan panggilan kita untuk mewujudkan kepedulian terhadap sesama, secara khusus para janda. Paulus berpesan kepada Timotius agar setiap keluarga peduli terhadap semua janda yang ada pada mereka. Janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan dinasihatkan agar terhindar dari menjalani hidup dengan cara yang bercela. Bagi janda muda atau yang berkeinginan menikah lagi harus didukung supaya mereka beroleh anak, mengurus rumah tangga sendiri dan terhidar dari tindakkan serta cerita yang tak “sedap”. Perhatian khusus haruslah diberikan kepada “janda-janda yang benar-benar janda.” Mereka adalah janda yang tidak kurang dari enam puluh tahun, ditinggalkan seorang diri, menaruh harapan kepada Allah, bertekun dalam doa dan permohonan siang malam atau yang melakukan perbuatan baik. Perhatian khusus kepada “janda yang benar-benar janda”, menjadi tanggung jawab jemaat. Bagi janda yang tidak termasuk katagori khusus, bila hidup mereka dapat ditanggung oleh keluarga sendiri, maka itu pun dapat diterima dan disyukuri.

Doa:  Kuatkan kami dengan kasih-Mu supaya hidup kami jadi berarti bagi keluarga dan sesama. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu III : ” Bertekun dalam doa karena meyakini janji Tuhan.

Minggu, 18 September 2022                    

bacaan : 1 Tawarikh 17 : 16 – 27

Doa syukur Daud
16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Allah; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya TUHAN Allah. 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya TUHAN, oleh karena hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya."

Serahkanlah Segala Rencana dan Hidupmu Kepada Tuhan

Umumnya kita lebih condong berdoa jika mengalami masalah dalam hidup ini. Hal itu pertanda ketika belum mengalami masalah kita tidak mengandalkan Tuhan. Berbeda dengan raja Daud yang berencana untuk membangun Bait Allah dan menyerahkannya dalam doa kepada Tuhan. Daud sangat meyakini bahwa apapun yang ia rencanakan dan lakukan harus diletakkan dalam campur tangan dan kekuatan Tuhan. Alasannya, manusia memiliki keterbatasan tapi Tuhan tidak terbatas dalam hal apapun. Karena itu, Daud berdoa kepada Tuhan. Ia berdoa dengan kerendahan hatinya dan karena itu nyatalah bahwa sebagai seorang raja, Daud tidak menyombongkan dirinya di hadapan Tuhan. Daud juga mengucap syukur kepada Tuhan sebab keluarganya dipercayai (ayat 17-19). Selain itu, Daud meninggikan dan mengagungkan Tuhan Allah. Hal ini terungkap dalam isi doa Daud yang mengatakan bahwa tidak ada Allah lain seperti Engkau yang kami sembah. Dia-lah Allah yang membebaskan umat-Nya dengan perbuatan-perbuatan  besar dan dahsyat. Tuhan-lah penyelamat dan pembebas yang menyelamatkan umat-Nya dari Mesir (ay. 20-22). Akhirnya Daud menyadari bahwa segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja, pemimpin, dan pelayan tidak terlepas dari dukungan keluarga. Karena itu dalam segala kelemahan, kekurangan, dan dengan kerendahan hati Daud berdoa memohon Tuhan memberkati keluarganya. Sikap beriman seperti ini layak diteladani. Keberhasilan seseorang tidak semata terletak pada dukungan dan topangan doa keluarga. Sebaliknya, keluarga perlu pula didoakan. Kiranya menjadi nyata bahwa kita adalah keluarga yang didoakan dan mendoakan satu akan yang lainnya.

Doa: Kiranya rencana dan hidup kami berkenan pada-Mu. Amin.

Senin, 19 September 2022                         

bacaan : Yeremia 29 : 10 – 14

10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Cari, Temui, dan berserulah Kepada Tuhan

Kebebasan, biasanya dirindukan oleh orang-orang yang berada dalam kesesakan atau penderitaan. Penderitaan mengakibatkan orang merindukan hidup seperti sedia kala atau menjalani keberadaan dalam suasana bebas. Namun, sering kali karena keterbatasan, kita menjadi tak berdaya menemukan jalan keluar. Kadangkala kondisi ini membuat kita kecewa dan putus asa, sehingga ingin melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Lewat teks  Yeremia 29:10-14, kita dipertemukan dengan nubuatan tentang jalan keluar yang dialamatkan bagi umat Israel saat mengalami pembuangan di Babel. Jalan keluar tersebut adalah berdoa menyerahkan segala kerinduan untuk mengalami hidup yang baik. Umat diminta agar berserah dan menyerahkan hidup diatur oleh Tuhan. Manusia memang punya rencana, namun terbatas karena itu harus berserah pada Tuhan. Rencana dan rancangan Tuhan untuk hidup ini jauh lebih baik, sempurna dan sejahtera. Atas dasar itu, sebagai umat Tuhan, taatlah berseru dan berdoa kepada Tuhan, sebab Ia pasti mendengarkan kita (ay. 12). Sekali lagi, bersungguh-sungguhlah mencari dan menemukan Tuhan lewat doa (ay. 13), karena Ia memberikan diri-Nya untuk kita temui. Bawalah seluruh gumulan hidup yang menekan pada-Nya. Berseru dan bermohonlah agar Ia menuntun engkau keluar dari deritamu. Dia-lah Tuhan pembebas yang maha mendengar dan melepaskan umat-Nya dari keluh kesah hidup ini. Ia berkuasa membebaskan dan menganugerahkan kelegaan. Tuhan pernah berjanji kepada umat-Nya Israel dan Ia menepatinya. Yakinlah akan janji kelepasan Tuhan, berdoalah senantiasa dan jalanilah hidup dengan lega.

Doa: Ya Tuhan, inilah kami yang datang kepadaMu sambil berseru dan berdoa. Dengar dan jawablah doa kami. Amin.

Selasa, 20 september 2022                    

bacaan : 1 Raja-raja 8 : 22 – 30    

Doa Salomo
22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, 23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 24 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 25 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup di hadapan-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku. 26 Maka sekarang, ya Allah Israel, biarlah kiranya menjadi nyata keteguhan janji yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud, ayahku. 27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! 29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.

                          Berdoa dan Meyakini Janji Tuhan 

Keberhasilan seringkali membuat kita menjadi orang-orang yang lupa diri. Kita menganggap bahwa pencapaian yang didapati semata-mata karena cara berpikir atau kerja keras diri sendiri. Anggapan seperti ini dapat membuat kita menjadi sombong dan angkuh bahkan melupakan Tuhan. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki sifat seperti itu. Misalnya saja raja Salomo, sebagaimana dikisahkan dalam perikop bacaan kita hari ini. Keberhasilan dimaksud tentu saja berkaitan dengan telah diselesaikannya rumah Allah oleh Salomo sesuai janji Tuhan kepada Daud (ay. 19). keberhasilan tidak membuat Salomo merasa hebat melainkan meyakini bahwa sukses yang diraihnya semata-mata penggenapan janji Tuhan. Isi doa yang Salomo naikkan dengan sungguh di hadapan Tuhan, mengandung pengakuan atas kedaulatan Allah serta keyakinan pada janji-Nya. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini…..(ay. 28), menunjukan kepribadian Salomo yang juga percaya dan bergantung pada ketetapan serta kehendak Allah. Ia yakin bahwa Allah yang sama jugalah yang akan menjawab doa dan permohonannya. Sebagaimana Salomo yang meyakini janji Allah dalam ungkapan doanya, kita pun diajarkan demikian. Karena hanya Allah satu-satunya tempat kita berseru dan memohon. Menjumpai Allah di dalam doa sudah seharusnya menjadi gaya hidup kita sebagai orang percaya. Berdoa adalah bukti iman dan pengakuan serta kebergantungan kita kepada-Nya. Percayalah kepada Tuhan dan hiduplah benar di hadapan-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah tidak pernah mengingkari janji. Oleh sebab itu Yakinlah pada Allah, nyatakan permohonan kita di dalam doa dengan sungguh sambil tetap percaya bahwa Ia akan senantiasa menjawab.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami agar terus berdoa sambil meyakini janji-Mu. Amin.

Rabu, 21 September 2022                                       

bacaan : Roma 12 : 12

12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Bertekunlah Dalam Doa

Doa adalah nafas hidup orang percaya, merupakan kalimat yang sudah sangat sering kita dengar. Kalimat ini menegaskan bahwa doa mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalani kehidupan. Sebab dengan berdoa secara langsung memperlihatkan kepercayaan bahkan kebergantungan kita kepada Allah. Oleh karena itu salah satu pokok teologi yang penting dari nasihat rasul Paulus untuk hidup dalam kasih, adalah bertekunlah dalam doa. Kita tidak dapat menghindari berbagai dinamika  dalam menjalani kehidupan. Terkadang kita berada pada situasi kebahagiaan, tetapi dapat pula mengalami hal atau peristiwa yang mengecewakan. Realita seperti ini dapat saja membuat kita cenderung hidup di luar kasih karena iman menjadi terguncang. Ungkapan Bertekunlah dalam doa, menegaskan nilai ketaatan dan kesetiaan serta keterbukaan di hadapan Allah. Manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Oleh sebab itu, kita membutuhkan campur tangan dan kuasa Allah. Kuasa dan campur tangan Allah yang menolong hanya dapat dialami melalui akta berdoa yang dilakukan dengan tekun. Tekun berdoa merupakan pilihan sikap dan cara beriman untuk memperoleh kekuatan ilahi menghadapi dan mengatasi apapun situsi hidup. Teruslah bersukacita karena Allah akan selalu memberikan harapan baru  bagi kita dan tetaplah tabah meskipun berbagai kesulitan hidup, kesesakan serta cobaan datang silih berganti. Jadikan doa sebagai kebutuhan kita untuk terus membangun relasi dengan Allah dan harapan dalam menjalani hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Teruslah mendoakan pribadi masing-masing, sesama manusia dan dunia ini agar kehidupan yang penuh kedamaian kita alami. Percayalah pada Allah, dengan kasih-Nya yang begitu besar Ia akan mendengar dan menyahuti pinta doa kita.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami agar tekun berdoa kepada-Mu sebagai bukti    iman dan percaya kami. Amin.

Kamis, 22 September 2022                           

bacaan : Bilangan 11 : 1 – 3

Api TUHAN
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. 3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

Jangan Mengeluh, Berdoalah!

Hidup yang bahagia menjadi harapan atau dambaan setiap insan manusia. Namun ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan atau dambaan itu, muncullah berbagai reaksi dengan corak yang berbeda. Ada yang menanggapi dengan bersyukur dan lapang dada, tetapi lainnya bersungut-sungut sambil menyalahkan diri sendiri atau orang lain bahkan Tuhan. Tanggapan bersungut-sungut dan menyalahkan inilah yang dilakukan bangsa Israel sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut di hadapan Tuhan karena kenyataan yang mereka alami. Mereka beranggapan bahwa kehidupan yang dialami dan dijalani saat itu jauh berbeda dengan saat berada di tanah Mesir. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kebutuhan jasmani yakni makan dan minum. Meskipun tidak sama seperti di Mesir, tetapi Allah tidak pernah membiarkan bangsa itu kelaparan. Persungutan mereka berakibat pada dialaminya murka Allah. Api Tuhan menyala di sekitar perkemahan. Kenyataan tersebut membuat bangsa Israel berteriak kepada Musa agar ia  menjadi perantara untuk memohon pengampunan dan pembebasan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak sungguh-sungguh meyakini dan memercayai Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan  (Mesir). Tindakan Musa untuk berdoa kepada Allah, sudah sepatutnya diteladani oleh kita sebagai orang percaya. Benar adanya, dalam setiap proses kehidupan ini kita akan menemukan berbagai macam tantangan dan persoalan. Akan tetapi haruslah tetap yakin bahwa di balik penderitaan, ada maksud Tuhan yang baik bagi hidup kita. Oleh karenanya hindarilah sikap atau perilaku yang bersungut-sungut dan saling menyalahkan serta hiduplah dalam ungkapan syukur yang tulus kepada Allah.  Percayalah, dalam doa yang penuh iman, ada kuasa Allah. 

Doa:  Tuhan Yesus, ajarilah kami mensyukuri setiap rencana Tuhan serta percaya pada kuasa-Mu.  Amin.

Jumat, 23 September 2022                                

bacaan : Matius 7 : 7 – 11

Hal yang kudus dan berharga Hal pengabulan doa
7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji

Setiap orang memiliki pergumulan hidup yang berbeda-beda. Pergumulan dihadapi baik sebagai pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Mungkin saja dapat berkaitan dengan beberapa aspek seperti iman, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial dan lain sebagainya. Terkait hal itu, pernahkah kita merasa bahwa doa dan gumulan kita seolah-olah tidak didengar dan dijawab oleh Tuhan? Bagian bacaan kita hari ini merupakan pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan hal pengabulan doa. Mintalah…carilah…ketoklah…(ay. 7), kata-kata ini bersifat imperatif (perintah) dan ditujukan kepada setiap orang untuk membangun relasi dengan Allah. Hal ini penting diperhatikan karena berdoa sama halnya dengan percaya dan mengakui kuasa Allah. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (ay. 8), mengandung janji dan dialamatkan bagi setiap kita yang dengan sungguh serta tulus berdoa kepada Allah. Orang percaya diminta untuk tetap meyakini janji dan kuasa Allah. Berusahalah untuk tidak meragukan-Nya. Dia yang mengucapkan janji itu adalah Allah yang baik dan berkuasa mengabulkan permohonan kita. Ketika perasaan kita digoncang dengan kebimbangan, keraguan, kecemasan karena dibebani dengan berbagai persoalan hidup, janganlah berputus asa dan hilang harapan. Teruslah berdoa dan berusaha sambil tetap berharap kepada-Nya, karena Allah itu hanya sejauh doa. Mungkin saja tidak terlalu cepat Ia mengabulkan, tetapi bukan pula berarti terlambat, karena jawaban-Nya selalu tepat pada waktunya. Ketahuilah, bahwa setiap kebaikan menurut anggapan manusia, belum tentu baik pada pandangan Allah. Oleh karenanya, berdoalah dengan sungguh, sabarlah menanti jawaban Allah dan yakinlah Ia akan memberikan yang terbaik.

Doa: Tuhan, kami percaya, jawaban doa dari-Mu itulah yang terbaik. Amin.

Sabtu, 24 September 2022                            

bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Jadikan Allah Sebagai Yang Utama

Ketika kita diperhadapkan dengan bermacam-macam persoalan hidup, siapakah yang menjadi prioritas kita? Sebagai orang percaya tentu saja kita akan mendahulukan Tuhan bukan! Tindakan seperti inilah yang dilakukan oleh Nehemia, sebelum menyampaikan maksud kepada raja Artahsasta terkait keinginannya untuk kembali ke Yehuda. Hal ini tentu saja berhubungan dengan kabar atau berita yang diterimanya bahwa orang-orang sebangsanya yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan tercela. Selain itu tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (Neh. 1: 3). Kedekatan Nehemia dengan Artahsasta tercipta karena ia adalah juru minuman raja. Sekalipun demikian, namun Tuhan tetap diutamakannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan setiap doa dan permohonan yang disampaikan kepada Allah (Neh. 1:11; 2:4). Menariknya semua hal yang disampaikan oleh Nehemia kepada Artahsasta dikabulkan. Nehemia meyakini sungguh bahwa semua yang terjadi semata-mata hanya karena tangan Allah yang melindunginya (ay. 8b). Kisah ini memberikan inspirasi bahwa dalam kondisi apapun yang membuat kita ada dalam ketakutan, kebimbangan bahkan keterpurukan, tetaplah mengandalkan Allah.  Bukan berarti kita hanya mendahulukan Allah pada saat ada dalam kesulitan atau masalah hidup saja, tetapi dalam kondisi baik sekalipun. Bahkan di setiap keinginan atau kerinduan kita, sertakan dan utamakanlah Ia di dalamnya. Kita memang belum dapat  memastikan hasil akhir dari segala sesuatu yang direncanakan dan diusahakan. Namun, bila kita mengutamakan Allah, maka percayalah bahwa Ia pasti memberikan yang terbaik. Ingatlah, Allah berkuasa menjawab doa, oleh karena itu jadikanlah Ia yang paling utama selama kehidupan ini kita jalani. Jalanilah hidup ini seturut teladan Nehemia seorang yang tekun berdoa dan bersyukurlah bersama wadah laki-laki GPM di usianya yang ke-34.

Doa:  Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu mengutamakan Engkau dalam      mengawali setiap langkah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu II : ” Perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni

Minggu, 11 September 2022                      

bacaan : 1 Timotius 1 : 18 – 20

Tugas Timotius
Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,
di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Bersaksi Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Tema pelayanan kita di minggu ini, “perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Tema ini berdasar pada nasihat  Paulus kepada Timotius. Timotius akan melanjutkan tugas pemberitaan injil Kristus. Paulus menyadari bahwa Timotius yang disapa sebagai anaknya akan menghadapi berbagai tantangan, ancaman bahkan godaan dari kekuatan dunia. Kondisi yang demikian dapat saja mengakibatkan Timotius meninggalkan panggilan pelayanannya. Ia tidak menghendaki Timotius mengulangi tindakan Himeneus dan Aleksander yang telah mengkhianati panggilan mereka dengan menghujat pekerjaan Tuhan. Paulus telah menyerahkan mereka kepada iblis sebagai bentuk hukuman agar menjadi jera. Fakta itulah yang menyebabkan Paulus menasihati Timotius. Timotius dinasihati untuk memiliki iman yang teguh kepada Kristus serta hati nurani yang murni dalam menjalankan tugas pelayanan pemberitaan injil. Hati sebagai pusat pikiran, perasaan dan pengambilan keputusan mesti selalu dicerahi dengan iman kepada Kristus. Keteguhan iman membuat hati bersukacita terutama ketika menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan. Iman yang kokoh akan menjadi “sauh” saat berhadapan dengan ancaman dan godaan untuk meninggalkan atau menghianati pelayanan. Nasihat firman Tuhan ini pun penting bagi kita sebagai keluarga Allah : papa, mama dan anak-anak dalam melaksanakan panggilan   memberitakan Injil Kristus di tengah dunia ini. Kita memberitakan injil Kristus melalui tutur kata yang baik, sikap santun dan perilaku hidup sesuai teladan Kristus. Hal ini tidaklah mudah atau gampang sebab kita akan berhadapan dengan berbagai tantangan, godaan bahkan ancaman serta kekuatan dunia yang merusak. Panggilan dan situasi inilah yang mendorong  kita untuk memiliki iman yang kokoh kepada Kristus. Teruslah pelihara hati nurani yang murni agar hidup dituntun untuk melangkah sesuai perintah dan kehendak Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan tolonglah kami untuk bersaksi dengan iman & hati nurani yang murni. Amin.-  

Senin, 12 September 2022                             

bacaan : 1 Timotius 1 : 3 – 5

Mengenai ajaran sesat
3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain 4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman. 5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

Hidup Tertib Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Perjalanan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan yang akan dilanjutkan oleh Timotius tidak sepi dari berbagai tantangan atau persoalan. Ada orang yang mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng serta cerita yang berlebihan tentang silsilah. Akibatnya timbul kekacauan dan keutuhan jemaat terancam pecah. Mereka ini perlu dinasihati dan untuk melakukan tugas itu, Timotius harus tinggal di Efesus tetapi Paulus melanjutkan perjalanan ke Makedonia. Beriman kepada Kristus yang telah menganugerahkan keselamatan haruslah terwujud dalam keutuhan persekutuan. Persekutuan jemaat harus tetap terpelihara dan oleh sebab itu pengacau atau pembuat masalah perlu disadarkan. Hati yang menjadi sasaran penyadaran. Timotius diminta untuk memberi menasihat agar hati mereka dipenuhi kasih, dan menjadi suci, murni serta tulus ikhlas. Kemurnian hati nurani terlahir dari iman dan ketulusan. Dampaknya adalah dialaminya kehidupan persekutuan yang utuh, indah dan rukun serta diberkati. Berkat Tuhan pasti lenyap dalam persekutuan yang anggotanya hidup saling berbantah, cekcok, berselisih dan tidak rukun. Nasihat firman Tuhan di hari ini penting bagi kita sebagai papa, mama dan anak-anak yang merindukan kehidupan diberkati Tuhan. Keluarga adalah persekutuan orang beriman yang memiliki tertib hidup. Bukalah hati  dan mohon kehadiran Roh Tuhan agar hidup dituntun sehingga sikap dan perilaku berkenan pada-Nya. Peliharalah hati agar tetap suci, murni, dan tulus ikhlas. Usahakanlah untuk tidak menjadi batu sandungan dalam persekutuan baik keluarga, gereja masyarakat maupun bangsa dan Negara. Jalanilah hidup sebagai kesempatan saling mengingatkan, menasihati, menghargai, menghibur, menopang, mendengar, mendamaikan, mengutuhkan dan mengampuni serta mengasihi. Kita telah mengalami kemurahan Tuhan yang menyelamatkan karena itu hiduplah dengan tertib karena iman dan hati nurani yang murni.

Doa:   Tuhan tolonglah kami untuk hidup tertib dengan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Selasa, 13 September 2022                             

bacaan : Roma 8 : 27 – 28 

27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. 28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Melakukan Kebaikan Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Kenyataan hidup yang  kita alami setiap harinya, tidak sepi dari berbagai persoalan, tantangan, acaman bahkan penderitaan. Semua itu merupakan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Kita tak boleh larut, terpuruk apalagi hancur karena kenyataan hidup yang menekan itu. Hidup dalam masa yang sulit dapat membentuk kita menjadi orang percaya yang kokoh atau kuat serta tetap setia mengasihi Tuhan dan sesama. Nasihat Paulus kepada jemaat di Roma adalah kuncinya. Milikilah  “hati nurani yang murni”, sebab Allah yang adalah pencipta menyelidiki dan mngetahui hati setiap orang. Hati sebagai pusat pemikiran, perasaan serta kehendak mesti dicerahi dalam terang iman kepada Kristus. Segala hal yang terjadi dalam hidup ini, kejahatan ataupun kebaikan ada dalam kendali kuasa Allah. Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Pesan firman ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita yang mengimani Kristus, walau sedang mengalami keditakbaikan. Kita tidak perlu kecewa atau putus asa, dan larut serta binasa. Tetaplah menunaikan panggilan melakukan kebaikan dalam hidup. Allah dalam Kristus yang diimani dan disembah adalah Dia yang tetap bekerja serta berkarya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang setia kepada-Nya. Karya penyelamatan Allah akan terus berlangsung termasuk dalam keluarga kita. Kita terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Karyakanlah kebaikan baik dalam  pekerjaan, usaha maupun pendidikan dan masa depan anak-anak. Hadapilah tantangan atau persoalan bahkan penderitaan dengan tetap beriman dan hati nurani yang murni. Teguhkanlah iman peliharalah hati nurani yang murni dan teruslah kerjakan kebaikan dalam hidup. Penuhilah hidup dengan kebaikan karena iman dan hati nuranimu yang murni. Yakinlah bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk melakukan kebaikan dalam pengharapan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Rabu, 14 September 2022                                    

bacaan : Kisah Para Rasul 23 : 1 – 3

Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." 2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku."

Gunakan Hati Nuranimu

Ketika menghadapi suatu permasalahan, apalagi perkara hukum, tidak saja dibutuhkan keberanian diri, namun juga hati nurani yang kuat. Sebutan hati nurani diterjemahkan dari kata bahasa Yunani suneidēsis, yang berarti “kesadaran moral” atau “pengetahuan moral”. Jadi, hati nurani merupakan suatu proses berpikir yang menghasilkan perasaan yang secara rasional berkaitan dengan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani akan berfungsi saat seseorang menggunakannya untuk menghadapi suatu perkara atau situasi. Bila digunakan, maka hati nurani akan berperan sebagai pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan, bahkan bertindak untuk melakukan hal yang baik. Atas dasar itu, rasul Paulus menyatakan sikapnya di hadapan sidang Mahkamah Agama, bahwa hidupnya selama ini tidak pernah mengabaikan hati nurani, baik dalam kata maupun perbuatan (Kis.23:2). Paulus sadar bahwa pikiran, perkataan, dan perbuatan baik harus bersumber dari hati nurani. Hati nurani adalah bagian tubuh manusia (anatomi), yang tidak bisa dibohongi maupun membohongi. Pengertian seperti ini membantu kita yang adalah orang Kristen untuk harus selalu hidup sesuai dengan apa yang dipahami benar. Ukuran kebenaran kita adalah kehendak Tuhan. Paham demikian perlu dimiliki oleh setiap orang Kristen. Alasannya, jika hidup orang Kristen tidak memahami pengetahuan yang benar tentang kebenaran atau kehendak Allah, maka akibatnya adalah melakukan hal-hal yang jahat (bdk. Yoh 16:2). Marilah kita buka hati nurani agar dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga kebenaran dan kehendak Allah nyata dalam kehidupan ini.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup sesuai dengan hati nurani Agar Engkau dimuliakan. Amin.

Kamis, 15 September 2022                                     

bacaan : Kisah Para Rasul 24 : 16

16 Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

Menjadi Berani Karena Hati Nurani yang Murni

Nas hari ini merupakan bagian dari kisah pembelaan Paulus di hadapan Feliks. Feliks adalah gubernur Romawi di wilayah Yudea dan disebut pula sebagai wali negeri. Ia dipanggil menghadap Feliks karena adanya tuduhan yang berasal dari Imam Besar Ananias, beberapa orang tua-tua dan pengacara Tertulus. Orang-orang ini mengemukakan tuduhan dan berharap agar Feliks mendakwa Paulus bersalah karena pemberitaan Injil yang dilakukannya. Paulus dituduh sebagai “penyakit sampar”, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara bangsa Yahudi dan tokoh dari sekte Nasrani. Semua tuduhan itu dihadapi dan dipatahkan Paulus dengan beraninya.   Ia berani berbicara di hadapan wali negeri dan mematahkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Feliks dapat diyakinkan bahwa Paulus datang dari Yerusalem untuk beribadah, tak pernah didapati bahwa ia bertengkar, atau menimbulkan huru-hara, tidak melakukan hal yang bertentangan dengan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Keberanian Paulus terbukti pula ketika ia justeru memanfaatkan kesempatan itu untuk bersaksi. “Aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut jalan Tuhan.” Harapan aku dan mereka ditujukan kepada Allah yang sama. Dia-lah Allah yang akan membangkitkan semua orang. Paulus menjadi berani karena ia memiliki hati nurani yang murni baik di hadapan Allah maupun manusia. Berani karena hidup dan melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan Allah. Hidupnya tak dijalani dalam kepalsuan atau siasat dan upaya habis-habisan mencelakakan orang lain demi kepentingan diri semata. Keberanian adalah buah dari dimilikinya hati nurani yang murni oleh seseorang

Doa: Bapa, karuniakanlah hati nurani yang murni kepada kami. Amin.

Jumat, 16 September 2022                              

bacaan : Ibrani 13 : 18 – 21

18 Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik. 19 Dan secara khusus aku menasihatkan kamu, agar kamu melakukannya, supaya aku lebih lekas dikembalikan kepada kamu. 20 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, 21 kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

                    Doa, Hati Nurani yang Baik dan Berkat Tuhan

Semua orang, kapan dan dimana saja, menginginkan hidup yang baik. Hidup yang baik tidak dengan serta merta dapat dialami, sebab harus diperjuangkan. Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa hidup yang baik itu adalah keinginannya. Ia tidak mengingini harta bendawi, jabatan, kedudukan atau kecantikan dan popularitas, sekalipun hal-hal demikian tidaklah buruk. Hidup yang baik itu berhubungan dengan tiga hal, yakni doa, hati nurani dan berkat Tuhan. Keinginan untuk mengalami hidup yang baik haruslah diperjuangkan dengan cara melakukan tiga hal tadi. Memiliki hidup yang baik hendaknya dijadikan keinginan utama dalam keberadaan sebagai orang Kristen. Hidup yang baik itu dapat terwujud bila sebagai orang percaya kita terus berdoa bukan saja kepada diri sendiri, tetapi orang lain juga. Karena itu tersebut dalam nas hari ini: “berdoalah terus untuk kami.” Hidup yang baik itu diperjuangkan dengan terus memelihara kebiasaan berdoa. Berdoalah dengan tidak berkeputusan mendoakan ikhwal diri sendiri juga orang lain. Hidup yang baik ditandai dengan kenyataan bahwa dalam akta beriman pun kita tetap peduli akan sesama. Hal kedua yang penting adalah milikilah hati nurani yang baik. Penulis ini mengatakan: …”kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik.” Pastikanlah bahwa seluruh ungkapan doa yang dinaikan kepada Tuhan, terlahir dari hati nurani yang baik. Mohonlah kuasa Roh Kudus untuk menguasai hidup, agar hati nurani yang baik tetap terpelihara. Akhirnya, bermohonlah agar Tuhan memberkati hidup kita. Hidup yang baik tak mungkin dialami tanpa berkat Tuhan. Jadilah pejuang kebaikan, tekunlah berdoa, peliharalah hati nurani dan bermohonlah kiranya Tuhan memberkati hidup kita.

Doa: Bapa yang baik, berkehendaklah atas seluruh juang kami. Amin.

Sabtu, 17 September 2022                                      

bacaan : Ibrani 9 : 14

14 betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Ingat! Hati Nurani Kita Sudah Disucikan Tuhan Yesus

Haruslah diakui dan diyakini bahwa Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita melalui kematian-Nya di Salib. Kematian Yesus ini merupakan suatu wujud pengorbanan dengan tujuan untuk menyelamatkan umat manusia. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, merupakan wujud penyerahan diri-Nya kepada Allah Bapa sebagai persembahan yang tidak bercacat. Tujuan dari pengorbanan Tuhan Yesus adalah agar umat manusia yang berdosa diselamatkan. Manusia yang diselamatkan itu hati nuraninya disucikan dari perbuatan-perbuatan yang jahat, buruk, atau tidak baik. Hal ini berarti bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan lain, selain kekuatan kuasa Tuhan Yesus. Salah satu wujud dari kekuatan kuasa Tuhan Yesus dalam kehidupan orang Kristen adalah hidup dalam hati nurani yang suci. Makna hati nurani yang suci haruslah terwujud pula dalam kebersamaan dengan orang lain. Hidup suci terlahir dari hati nurani.  Hati nurani berperan menggerakkan diri kita untuk berpikir, berkata, dan berperilaku yang baik serta berarti bagi sesama demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Ingatlah, Tuhan Yesus telah menyucikan hati nurani kita melalui kematian-Nya di Salib. Hargailah pengorbanan Tuhan Yesus itu melalui perilaku hidup suci, yakni yang bersumber dari hati nurani yang sudah disucikan oleh Tuhan Yesus. Nas hari ini juga menyaksikan bahwa hati nurani disucikan dari perbuatan-perbuatan sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Ibadah yang kita aktakan bersumber dari hati nurani yang disucikan. Perbuatan sia-sia hendaklah dijauhkan karena Kristus telah berkorban bagi kita. Kristus telah menumpahkan darah-Nya untuk menjadikan hidup tersucikan yang karenanya kita diminta untuk tekun beribadah.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami selalu tekun beribadah. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan

Tema Minggu I : ” Cintailah dan Hiduplah Menurut Taurat TUHAN “

Minggu, 04 September 2022                         

bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6

Jalan orang benar dan jalan orang fasik
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Orang Fasik Hidupnya Bagaikan “Sekam”

Hari minggu pertama bulan September ini mengawali usbuh yang dikehendaki berlangsung dengan arahan tema: “cintailah dan hiduplah menurut Taurat Tuhan.” Tema ini kiranya dapat menjiwai dan menggerakkan seluruh keberadaan dan aktifitas keluarga-keluarga GPM. Kita berada dan terpanggil untuk menatalayani sikap dan perilaku sebagai orang benar. Orang benar menjalani hidup dengan cara menghindari sikap dan perilaku seperti orang fasik. Sebutan orang fasik memiliki makna yang sama dengan jahat atau berdosa. Cara bersikap dan bertindak kita hendaklah dipertimbangkan dan diaktakan secara berkenan pada Tuhan. Bila cara bersikap dan bertindak berkenan pada Tuhan, maka demikianlah kita menjadi orang benar. Orang benar, hidupnya diberkati atau berbahagia. Diberkati atau berbahagia tidaklah berarti sekadar mempunyai banyak harta dan uang, juga merasa senang serta nyaman. Arti sesungguhnya adalah menerima anugerah Tuhan dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Teruslah tumbuhkan kesukaan akan Taurat Tuhan dan renungkanlah hal itu siang dan malam. Orang yang hidupnya seturut Taurat Tuhan bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, berbuah pada musimnya dan daunnya tak pernah layu. Maksudnya adalah apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kebaikan hidup yang demikian tak akan dialami orang fasik, yakni mereka yang berpaling dari Tuhan dan tidak manaati hukum-Nya. Orang fasik diumpamakan dengan “sekam”, mereka tidak mempunyai akar. Mereka kehilangan kegemilangan hidup, tak akan diberkati atau berbahagia  serta kehilangan daya dalam penghakiman juga kesukaran. Ujilah akan seluruh kesukaan agar berpadanan dengan kehendak Tuhan. Bila kehendak Tuhan merajai hidup kita, maka berkat-Nya dialami. Kebahagiaan akan mengikuti kita sepanjang hari-hari hidup. Kita akan dibimbing-Nya sehingga terhindar dari kebinasaan. Jadilah orang benar, maka hidupmu diberkati dan berbahagia.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar tidak menjadi orang fasik. Amin.

Senin, 05 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 137 – 144

137 Engkau adil, ya TUHAN, dan hukum-hukum-Mu benar. 138 Telah Kauperintahkan peringatan-peringatan-Mu dalam keadilan dan dalam kesetiaan belaka. 139 Nyala cintaku menghabiskan aku, sebab para lawanku melupakan segala firman-Mu. 140 Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya. 141 Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan. 142 Keadilan-Mu adil untuk selama-lamanya, dan Taurat-Mu benar. 143 Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku. 144 Peringatan-peringatan-Mu adil untuk selama-lamanya, buatlah aku mengerti, supaya aku hidup.

Mengagungkan Kuasa dan Kemurahan Tuhan

Pemazmur melakukan renungan tentang campur tangan dan keberpihakan Tuhan dalam hidup orang yang mengalami kesukaran. Dia-lah yang menghakimi dengan adil dan menyatakan pertolongan bagi mereka yang terinjak. Menghakimi dan melindungi merupakan wujud tanggungn jawab seorang raja. Ia memerintah dan menghakimi agar keadilan ditegakkan di bumi khususnya bagi para korban ketidakadilan. Tuhanlah Raja yang memerintah dengan adil, karena itu semua orang terutama korban dapat datang kepada-Nya memohon pertolongan.  Korban yang dimaksud dalam kitab Mazmur adalah orang miskin (9:19), tertindas (9:13), dan mereka yang sengsara (9:10). Renungan akan Tuhan Sang Raja itu dinyatakan pemazmur dengan ungkapan yang bermakna. Hukum-hukum-Mu benar, Ia adil juga setia dan janji-janji Tuhan itu sangat teruji. Tuhan sudah dialami dan diakui pemazmur dalam situasi hidup yang memprihatinkan. Keprihatinan hidup itu dinyatakan pemazmur dengan ungkapan “kecil” dan “hina”. Pemazmur mengalami dan menjalani hidup yang sukar dan sengsara. Walau demikian hidup pemazmur, namun ia tetap menyukai perintah dan ketetapan Tuhan. Renungan pemazmur ini kiranya meneguhkan dan menyegarkan keberadaan kita sebagai persekutuan yang besok akan mengalami bertambahnya tahun kemurahan Tuhan. Kita tetap berada sampai di hari ini hanya karena Tuhan. Dia-lah kepala Gereja yang senantiasa memerintah, menyatakan pertolongan dan berkehendak atas hidup umat dan pelayan GPM. Kita terus dilayakkan untuk mengaktakan panggilan bergereja, menanan dan menyiram serta memberdayakan juga mengatasi berbagai kesukaran. Panggilan bergereja dan beriman kita akan terus berlangsung bersama kuasa dan kemurahan Tuhan yang tersedia baik di darat maupun laut. Bergiatlah terus menjadi keluarga yang menanam di daratan sebab panggilan melaut tahun ini kita aktakan sebagai gereja yang bersyukur. 

Doa: ya Tuhan, kami agungkan kuasa dan kemurahan-Mu. Amin.

Selasa, 06 September 2022                                   

bacaan : Filipi 4 : 2 – 9

Nasihat-nasihat terakhir
2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. 4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! 5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! 6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. 8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Bersyukur dan Bersukacita

Hari ini keluarga besar Gereja Protestan Maluku bersyukur dan bersukacita karena bertambah tahun pelayanan. Kita telah diperkenankan Tuhan berarak bersama sampai di usia ke- 87. Sebagaimana Tuhan telah menyatakan kemurahan-Nya kepada Paulus dan kawan-kawan sekerjanya, demikian pun kita. Kemurahan Tuhan tersedia baik di pulau-pulau mupun laut yang membentang di Maluku dan Maluku Utara. Dia-lah Tuhan semesta yang terus menyertai seluruh umat dan pelayan GPM baik selaku pribadi, keluarga, maupun jemaat. Penyertaan yang sama kita yakini dialami pula dalam kebersamaan sebagai masyarakat, bangsa maupun negara. Hitunglah berkat Tuhan di sepanjang hidup yang telah berlangsung sampai hari ini. Jadilah kuat dan tenang serta berkelimpahanlah dalam rasa syukur. Bersukacitalah senantiasa sebab kemurahan Tuhan tak akan berakhir. Ia pasti akan terus hadir dan menyatakan pertolongan-Nya dalam hari hidup juga pengabdian, usaha dan kerja. Kita hidup dan berarak bersama karena kasih Tuhan. Kasih Tuhan pasti tersedia terutama di saat hidup menderu. Pergumulan, masalah dan tantangan terus menjadi bagian yang menyatu dengan hidup kita. Hiduplah seturut nasihat Paulus. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Janganlah kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.  Hidup kita dipedulikan Tuhan, damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran dalam Kristus Yesus. Pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, serta yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Kita bersyukur dan bersukacita serta berkomitmen menjadikan keberadaan sebagai kesempatan untuk hidup seturut kehendak Tuhan. Berusaha dan berjuanglah untuk hidup yang lebih baik dalam terang dan tuntunan kehendak-Nya. Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kita.

Doa: Bapa, kiranya syukur dan sukacita kami berkenan pada-Mu. Amin.

Rabu, 07 September 2022                   

bacaan : Mazmur 119 : 113 – 120

113 Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai. 114 Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu. 115 Menjauhlah dari padaku, hai penjahat-penjahat; aku hendak memegang perintah-perintah Allahku. 116 Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu, supaya aku hidup, dan janganlah membuat aku malu dalam pengharapanku. 117 Sokonglah aku, supaya aku selamat; aku hendak bersukacita dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa. 118 Engkau menolak semua orang yang sesat dari ketetapan-ketetapan-Mu, sebab sia-sia tipu muslihat mereka. 119 Sebagai sanga Kauanggap semua orang fasik di bumi; sebab itu aku mencintai peringatan-peringatan-Mu. 120 Badanku gemetar karena ketakutan terhadap Engkau, aku takut kepada penghukuman-Mu.

Taurat-Mu kucintai

Kita bersyukur bersama keluarga besar kota Ambon di usia ke-447 dan terpanggil lagi untuk bergiat merenungkan makna ungkapan pemazmur: “Taurat-Mu kucintai.” Taurat adalah sebutan teologi yang mengandung pengertian luas tentang kehendak Allah sebagaimana termuat dalam lima kitab pertama di Alkitab. Allah menghendaki agar umat Israel hidup sesuai dengan kehendak-Nya.  Hidup yang berkenan pada Allah itu diharapkan terwujud dalam praktek dan relasi baik keagamaan maupun sosial. Orang-orang yang mencintai Taurat bukan saja memahami kehendak Tuhan tetapi hidup mereka juga sesuai dengannya. Saat berhadapan dengan kesukaran, Allah dijadikan tempat persembunyian dan perisai. Pertolongan Tuhan menjadikan manusia terluput dari malapetaka dan kebinasaan. Firman-Nya menerangi dan menuntun, sehingga semua yang berharap pada Dia tak dikecewakan. Perintah-perintah-Nya meluputkan orang dari melakukan kejahatan. Orang yang mencintai Taurat menghindari dan membenci kejahatan. Hidupnya dipenuhi dengan kebaikan bukan kejahatan. Kesukaannya adalah melakukan yang baik. Hidup yang dipenuhi kebaikan itu menyangkut, baik pikiran, perasaan, kehendak maupun perilaku atau tindakkan. Kebaikan itulah yang memungkinkan orang menjadi dekat dengan Tuhan dan memiliki kepastian untuk bermohon. Tuhan itu maha baik dan setia karena itu bermohonlah agar Ia menopang hidupmu sesuai janji-Nya. Keselamatan kita tergantung sokongan-Nya yang membuat sukacita. Bersukacitalah karena hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Inilah maksud pemazmur melalui pernyataannya: “aku hendak bersukacita dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa.” Orang jahat dibenci Tuhan tetapi mereka yang mencintai Taurat-Nya dikasihi. Ingatlah bahwa semua orang yang melakukan kejahatan akan dihukum Tuhan dan oleh sebab itu berpeganglah pada peringatan-peringatan-Nya.

Doa: Ya Tuhan, layakkanlah kami untuk menjadi orang percaya yang mencintai Taurat-Mu. Amin

Kamis,  08 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 9 – 16

9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. 10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. 11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. 12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. 13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. 14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. 15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. 16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.

Makna Firman Tuhan Bagi Hidup Orang Muda

Nas hari ini meyaksikan perhatian khusus Pemazmur terhadap hidup orang muda. Kelakuan merupakan dimensi penting dalam perkembangan dan pertumbuhan orang muda. Ada dua kemungkinan kecenderungan orang muda mengaktakan kelakuannya. Kecenderungan pertama adalah berkelakuan baik dan kedua buruk. Oleh sebab itu kelakuan mereka perlu diasah dan dilatih agar menjadi baik atau bersih. Sebutan bersih memiliki arti yang sama dengan istilah tahir. Tahir adalah lambang dari hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup orang muda haruslah berpadanan dengan kehendak Tuhan. Hal ini dimaksudkan agar potensi yang dimiliki mereka dapat dikembangkan ke arah yang positif dan kecenderungan perilaku buruk dihindari. Rasanya tak kurang banyak kerisauan dan kegelisahan gereja terhadap kelakuan buruk anak muda kita. Kebiasaan minum minuman keras, kekerasan, seks bebas adalah sebagian fakta miris yang memprihatinkan. Menyoal  fakta keprihatinan orang muda merupakan kesadaran kemanusiaan untuk menyiapkan masa depan yang berkualitas dan gemilang bagi mereka. Kekuatan firman Tuhan haruslah menjadi andalan kita. Firman Tuhan berkuasa menjaga kelakuan orang muda tetap bersih. Hidup mereka menjadi dekat pada Tuhan dan tidak menyimpang dari perintah-perintah-Nya. Hati menyimpan janji Tuhan dan perbuatan dosa menjauh lalu bibir menceritakan hukum Tuhan. Titah Tuhan senantiasa direnungkan, dan jalan-jalan-Nya tak tersembunyi. Harapan ini menjadi tanggung jawab semua pihak, khususnya orang tua dan semua kita yang dewasa. Orang muda adalah harapan masa depan, peliharalah kelakuan mereka agar tetap bersih dengan kuasa firman Tuhan. Mohonlah Roh Kudus dan bersungguh-sungguhlah membaca Alkitab.

Doa: Bapa, murnikanlah kelakuan kami dengan firman-Mu. Amin

Jumat, 09 September 2022                  

bacaan : Mazmur 119 : 97 – 104

97 Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98 Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 101 Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu. 102 Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku. 103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku. 104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

Perintah Tuhan dan Hidup Bermutu

Nas bacaan hari ini hendak menuntun kita agar mampu memahami kaitan antara perintah Tuhan dan hidup bermutu. Kaitannya bersifat sebab akibat. Hidup bermutu adalah buah atau dampak baik bila seseorang melakukan perintah Tuhan. Hidup bermutu dialami dan disaksikan pemazmur secara reflektif. Ia merefleksikan sikap dan perilaku beriman yang dijalaninya bersama Tuhan. Perintah Tuhan dipelihara serta diaktakan bukan sebagai beban melainkan jawaban atas kasih-Nya, sehingga  dijalani dengan sukacita. Tuhan telah berprakarsa menyatakan kasih-Nya bagi umat. Kasih dipahami sebagai inti perintah Tuhan. Tuhan mengasihi demikian pun umat. Wujudnya adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Oleh sebab itu pemazmur bersaksi bahwa perintah Tuhan-lah yang menjadikan hidupnya menjadi bermutu. Hidup bermutu dilukiskan dengan ungkapan: “aku lebih bijaksana dari musuh-musuhku.” Ciri kedua hidup bermutu adalah memiliki akal budi. Selain itu orang yang hidupnya bermutu ditandai dengan adanya pengertian, tak memilih jalan kejahatan, mengecap manisnya janji Tuhan, dan membenci dusta. Kita terpanggil untuk mewujudkan panggilan hidup bermutu dalam keluarga masing-masing. Hendaklah hidup yang kita jalani di setiap keluarga berlangsung dengan takut Tuhan. Takut Tuhan merupakan wujud utama orang bijaksana. Bijaksana dapat pula dimengerti sebagai kecakapan dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah. Berusahalah terus menjadikan seisi keluarga kita sebagai orang-orang cerdas, berilmu, menguasai pengetahuan dan teknologi. Semoga kita terhindar dari jalan kejahatan dan bencilah dusta. Perjuangkanlah kebaikan dan jalanilah hidup dengan jujur.

Doa: kiranya perintah-Mu kami taati agar hidup bermutu dialami. Amin

Sabtu, 10 September 2022                     

bacaan : Mazmur 119 : 105 – 112

105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 106 Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil. 107 Aku sangat tertindas, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. 108 Kiranya persembahan sukarela yang berupa puji-pujian berkenan kepada-Mu, ya TUHAN, dan ajarkanlah hukum-hukum-Mu kepadaku. 109 Aku selalu mempertaruhkan nyawaku, namun Taurat-Mu tidak kulupakan. 110 Orang-orang fasik telah memasang jerat terhadap aku, tetapi aku tidak sesat dari titah-titah-Mu. 111 Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. 112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

Jangan Melupakan Firman Tuhan

Seorang bapak mengalami kegagalan usaha dan jatuh sakit, sehingga ia dan keluarganya hidup dalam keterbatasan yang memprihatinkan. Hari-hari hidupnya dilalui dengan berat, namun ia tetap tekun berdoa dan membaca Alkitab. Doa dipanjatkannya untuk memohon kekuatan dari Tuhan agar ia, isteri juga anak-anak berdaya menjalani hidup dengan tabah. Suatu hari, setelah berdoa, ia membaca Mazmur 119:105 dan seterusnya.  Keheningan dan keharuan merasuk rasa dan pikirnya. Pengalaman hidup yang pernah dialami pemazmur, sekarang sementara digumulinya. Ia tertindas dalam derita, namun tergugah dengan ungkapan: “ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.” Firman Tuhan itu menghidupkan atau menolong meneguhkan keyakinan dan harapan saat hidup diterpa nestapa. Kegagalan, sakit atau duka nestapa bukanlah akhir hidup. Firman Tuhan menopang dan memulihkan sehingga kabut kekuatiran sirna. Jalan hidup diterangi dan langkah-langkah perjuangan berayun dengan pasti. Keyakinan dan harapan pulih, lalu mulut menuturkan puji-pujian yang terlahir dari hati yang tulus. Tuhan dipuji walau hidup terus bergumul. Sekalipun satu persoalan diatasi dan yang lainnya menanti bagaikan jerat yang mematikan, janganlah berpaling dari firman Tuhan. Teguhlah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya agar hatimu berkegirangan. Firman-Nya menyejukkan dan membuat hati tenang. Masa-masa hidup yang sulit mampu dihadapi karena firman Tuhan membersihkan hati dari kekuatiran, kebimbangan serta kecemasan. Oleh sebab itu janganlan lupakan firman Tuhan yang akan menuntun dan memastikan ke mana kita melangkah. Biarlah jalan-jalan hidup kita senantiasa diterangi firman Tuhan.

Doa: Bapa Pengasih, tuntunlah hidup kami dengan firman-Mu. Amin

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Agustus – 3 September 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu IV : “Takutlah akan TUHAN, seisi Rumah mu Diberkati”

Minggu, 28 Agustus 2022                              

bacaan : Mazmur 128 : 1 – 6

Berkat atas rumah tangga
Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! 2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! 3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! 4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. 5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, 6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Takut Akan Tuhan Sumber Kebahagiaan

Kita bersyukur sebab telah diperkenankan Tuhan untuk menjalani keberadaan sampai di hari minggu terakhir bulan Agustus. Minggu ini akan kita jalani sambil menyiapkan diri memasuki pekan bina keluarga GPM. Akta kita mengakhiri Agustus dan memasuki September dibingkai dalam tema mingguan: Takutlah Akan Tuhan, Seisi Rumahmu Diberkati. Rumusan tema ini didasarkan pada nas Mazmur 128:1-6. Pemazmur meletakkan harapannya pada Tuhan saat mendambakan kebahagiaan bagi seisi rumahnya. Karena itu kebahagiaan disyaratkan dengan sikap beriman takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah kunci dan jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan, ketentraman, bahkan berkat-berkat sorgawi. Berkat Tuhan tersedia bagi orang-orang yang menaati Tuhan dan menghormati hukum-Nya.  Oleh karena itu takut akan Tuhan harus dilandaskan pada sebuah kesadaran iman yang merujuk kepada suatu hubungan yang intim antara ciptaan dan Sang Pencipta. Arti takut akan Tuhan lebih merujuk kepada soal ketaatan dan kesetiaan. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kenyataan memakan hasil jerih payah tangan sendiri. Seisi rumah diberkati kalau di dalamnya Tuhan ditakuti. Wujud berkat itu adalah hidup dalam keadaan yang baik, isteri akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumah, anak-anak seperti tunas pohon zaitun sekeliling meja, dan melihat anak-anak dari anak-anak. Kebahagiaan keluarga bukan sekadar harta atau materi saja. Keluarga yang berbahagia hidup dalam relasi yang harmonis, kegembiraan, sehat, semua tanggung jawab berlangsung secara baik dan mengalami umur panjang serta menyaksikan kenyataan berlanjutnya keturunan di bumi ini. Jadi teruslah pelihara rasa takut akan Tuhan, seisi rumahmu diberkati.

Doa: Ya Tuhan berkatilah seisi rumah kami. Amin. 

Senin, 29 Agustus 2022                                 

bacaan : Amsal 14 : 26 – 27

26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. 27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Takut Akan Tuhan Membawa Ketentraman Hidup

Teks Amsal 14:26–27 menyaksikan bahwa sesungguhnya ada rasa takut yang berfaedah besar sekali. Maksudnya adalah rasa takut akan Tuhan. Faedah rasa takut akan Tuhan adalah mengalami ketenteraman yang besar, perlindungan bahkan merupakan sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut. Penulis Amsal mengaitkan takut akan Tuhan dengan hikmat. Orang yang takut akan Tuhan adalah mereka yang berhikmat. Orang yang berhikmat tidak akan melakukan kefasikan atau kejahatan dan hidup mereka. Takut akan Tuhan itu tidak terjadi karena ada ancaman nanti masuk neraka. Takut akan Tuhan  membawa kita semakain dekat pada-Nya dan oleh sebab itu menghindari perbuatan kefasikan. Coba dibayangkan bila ada seorang beriman yang tak tak Tuhan dan melakukan korupsi, maka bukan tidak mungkin hidupnya dihantui rasa bersalah. Hidup yang dihantui rasa bersalah kehilangan ketenteraman dan berada dalam bayang-bayang mendapat hukuman. Oleh sebab itu hendaklah terus diupayakan agar keberadaan keluarga kita berlangsung dengan dimilikinya aras takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa pada rasa takut akan Tuhan itu ada jaminan ketentraman. Biar ribut dunia, atau di sekitar ada begitu banyak kekacauan dan ancaman kematian, namun orang yang takut akan Tuhan pasti mengalami ketenteraman. Takutlah akan Tuhan, sebab perlindungan-Nya akan dialami. Perlindungan Tuhan itulah sumber kehidupan yang dapat melepaskan kita dari kebinasaan atau kehancuran. Takutlah akan Tuhan agar kebaikan terpancaran dari dalam keluargamu dan berkat Tuhan dialami.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah agar kami dapat terus memiliki rasa takut pada-Mu agar terhindar dari petaka. Amin.

 Selasa, 30 Agustus 2022                               

bacaan : Kejadian 35 : 1 – 8

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar. 6 Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan--yaitu Betel--,ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. 7 Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya. 8 Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan.

Tahirkanlah Diri, Seisi Rumahmu Diberkati

Mengalami penyertaan dan kebaikkan Allah dalam hidup adalah sebuah anugerah dan sukacita besar. Pengalaman tersebut baik untuk dijadikan sebagai kekuatan membangun hidup. Nas hari mengisahkan bahwa pengalaman mengalami kebaikan Allah itulah yang mendasari tindakkan Yakub kembali ke Betel.  Yakub harus pergi ke Betel dan merupakan perjalanan kedua kalinya. Bila perjalanan pertama dilakukannya seorang diri, maka lain kenyataannya dengan yang kedua kali ini. Ia datang dengan empat orang istri, duabelas anak laki-laki dan satu anak perempuan, hamba, budak dan ternak yang tidak terhitung. Tentu saja ini semua adalah karya campur tangan Allah semasa pengembaraannya. Ia pergi ke Betel untuk kedua kalinya karena perintah Allah. Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mesbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.” Yakub memandang bahwa perintah dan penyertaan Allah yang dasyat serta ajaib itu harus disampaikan kepada seisi rumahnya atau semua orang yang bersama-sama dengan dia. Mezbah bagi Allah harus dibangun tetapi seisi rumahnya haruslah tahir atau kudus terlebih dahulu. Kehidupan mereka harus dimurnikan atau dibersihkan dari kecemaran dan dosa. Perintah Allah dilaksanakan dengan pertobatan dan kekudusan. Karena hanya dengan mendengar perintah dan mengalami penyertaan-Nya serta hidup dalam kekudusan, maka seisi rumah dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub akan diberkati. Peliharalah kekudusan hidup  dan takut akan Tuhan, Ia pasti menyertai dan memberkati seisi rumah kita.

Doa: Ya Tuhan tolonglah agar hidup kami tetap kudus. Amin.  

Rabu, 31 Agustus 2022                                    

bacaan : Ulangan 12 : 1 – 7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Bersyukur dan bersukacitalah

Bersyukur dan bersukacitalah karena Tuhan telah menyertai kita sampai di hari terakhir bulan Agustus ini. Sama seperti Tuhan sudah memimpin bangsa Israel, sehjingga mereka telah bersiap  memasuki tanah Kanaan, demikian halnya dengan kita. Kita telah dihentar melewati bulan Agustus dan hendak memasuki bulan September. Minggu pertama bulan September nanti akan berlangsung pekan pembinaan keluarga GPM yang berpuncak pada tanggal 6 September. Akta bergereja ini dilangsungkan untuk merefleksikan dan menemukan makna dari semua pengalaman yang telah kita alami sebagai umat Allah. Allah telah memilih kita, mengutus dan menyertai serta memberkati. Oleh sebab itu hendaklah bulan ini kita akhiri dengan rasa syukur. Kita mengucap syukur atas kebaikan-Nya. Kebaikan itulah yang menyertai seluruh keberadaan, tanggung jawab, karier, pengabdian, pencarian sepanjang bulan Agustus ini.  Bila Tuhan telah menyertai kita di bulan yang akan segera berlalu ini, maka yakinlah pula bahwa penyertaaan yang sama kita alami di bulan September. Tetaplah bersukacita walau kita mungkin belum dapat memastikan apa yang akan terjadi dan dialami nanti. Kehidupan ini berlangsung karena kehendak Tuhan dan Dia jualah yang akan menjaminnya. Mari belajar dari pengalaman iman bangsa Israel. Mereka selalu berusaha menjaga atau memelihara keberadaan sebagai umat Allah. Hidup dibersihkan dari kecemaran karena penyembahan berhala dan memdirikan bait untuk memuliakan Allah. Mari masuk bulan baru dengan komitmen membersihkan diri dari seluruh kejahatan dan dosa. Teruslah muliakan Allah dalam ibadah, hadapilah hidup dengan bersyukur dan bersukacita bersama kasih Tuhan.

Doa: Bapa, mampukanlah kami untuk senantiasa bersyukur. Amin.

Kamis, 01 September 2022                          

bacaan : Maleakhi 3 : 16 – 18

16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya." 17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. 18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.

Kasih dan Berkat Tuhan Tersedia Bagi Umat-Nya

Kita bersyukur telah memasuki bulan September dan bersukacita bersama keluarga besar UKIM di usianya yang ke-37. Kasih Tuhan selalu tersedia sebab Ia telah memilih orang percaya sebagai anak-anak-Nya yang berharga. Ia juga berjanji memberkati kita jika perintah-perintah-Nya dipatuhi. Kasih dan berkat Tuhan tersedia bagi keluarga GPM yang sedang merayakan pekan bina. Pekan bina yang  diaktakan untuk menyongsong peringatan limpah karunia Tuhan di usia ke- 87 GPM, tanggal 6 September nanti. Nas hari ini mengingatkan pula bahwa Allah berkehendak agar kita memberi tanggapan atas kasih-Nya itu dengan hidup dalam ketaatan. Ketaatan yang dimaksudkan Maleakhi adalah mematuhi peraturan dan beribadah kepada Tuhan. Hari pertama di bulan ini kiranya kita jalani dengan tetap memelihara keinginan mematuhi peraturan dan beribadah.  Inilah yang dimaksudkan Maleakhi dalam ungkapan: “orang-orang yang takut akan Tuhan” (ayat 16). Ungkapan ini bermakna reflektif bagi pelayan dan umat GPM yang sedang mengaktakan pekan bina. Akta peringatan ini sesungguhnya merupakan momentum atau kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan serta perilaku beriman kita yang taat. Kita topang civitas akademika UKIM dan menanti peringatan ke- 87 usia GPM dengan komitmen menjadikan hidup pribadi dan keluarga sebagai orang beriman yang taat. Ketaatan merupakan keluhuran ekspresi takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan kiranya menjadi “wajah” atau penampakkan sikap dan perilaku beriman pelayan dan umat GPM. Mari jalani keberadaan dengan tetap meyakini pesan Maleakhi: “ mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam…..Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (ayat 17). Hayatilah bahwa sesungguhnya hidup merupakan kesempatan merayakan kasih dan berkat Tuhan.

Doa: Kami bersyukur atas limpahnya kasih dan berkat-Mu. Amin.

Jumat, 02 September 2022                        

bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10

Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. 5 Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. 6 Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. 7 Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. 9 Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.

Hidup Sebagai Orang Benar

Hidup telah Tuhan anugerahkan untuk kita alami dan dijalani menurut kehendak-Nya. Ia berkehendak agar kita hidup sebagai orang benar. Orang benar pasti akan mengalami kebahagiaan. Jadi bila hidup dijalani bukan sebagai orang benar, kebahagiaan tidak akan dialami. Nas hari ini setidaknya menyaksikan dua hal tentang hidup orang benar. Pertama, mereka disebut pula orang yang takut akan Tuhan, sangat suka kepada perintah-Nya atau menaati hukum Allah. Hidup orang benar itu ditandai dengan sikap dan perilaku hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas itu berlangsung dalam relasi yang benar dengan Allah dan sesama. Tak ada hidup yang terlepas dari pertolongan dan otoritas Allah serta kebersamaan dengan orang lain. Keutamaannya adalah relasi dengan Tuhan dan kemudian dikonkritkan dalam kebersamaan dengan sesama. Hidup orang benar itu luhur sebab padanya ada belaskasihan, suka memberi, membagi-bagi serta menolong orang miskin dan hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan. Oleh sebab itu mereka tidak takut pada kabar celaka. Orang yang menaati Allah dan melakukan yang benar, memang tak akan bebas dari kesukaran, namun karena iman, gumulan hidup berani dihadapi. Orang yang menyembah Allah, belum tentu akan menjalani hidup yang serba mudah. Namun, mereka akan memiliki sifat-sifat ilahi seperti pengasih dan penyayang. Kedua, Tuhan memberkati hidup orang benar dengan limpahnya. Anak cucu mereka akan perkasa di bumi. Kegemilangan hidup tak akan berkesudahan sebab tetap berlanjut dalam sejarah keturunan. Keturunan orang benar berlanjut dan bertambah, tak akan dialami kehilangan generasi di bumi ini bahkan tetap diberkati. Harta dan kekayaan ada pada rumah orang benar dan di dalam gelap terbit terang. Kemujuran akan menyertai hidup mereka serta takkan goyah untuk selama-lamanya. Hidup seperti inilah yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani sebagai pelayan dan umat GPM.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami untuk hidup sebagai orang benar. Amin.

Sabtu, 03 September 2022                        

bacaan : Mazmur 111 : 1 – 10

Kebajikan Allah
Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. 2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. 3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya. 4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. 5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya. 6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa. 7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh, 8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran. 9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. 10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Tuhan itu Pengasih dan Penyayang

Pekan ini dapat kita jalani dan akhiri hanya karena kasih dan sayang Tuhan. Ia terus menyatakannya dengan tak berkesudahan. Pekan bina keluarga sedang berlangsung dan bersama pemazmur hendaklah kita lafaskan: “aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati.“ Nas hari ini menyaksikan bahwa bangsa Israel tetap mengalami kasih dan sayang Tuhan, baik berupa makanan dan perlindungan maupun tanah pusaka. Pernyataan tentang wujud kasih dan sayang Tuhan seperti itu, merefleksikan fakta iman yang dialami  saat pengembaraan dan memperoleh tanah kanaan. Tanah perjanjian diberikan sesudah mereka mengembara empat puluh tahun. Tuhan menolong bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Tuturan pemazmur seperti ini sesungguhnya merupakan refleksi bahwa bangsa Israel dapat bertahan dan melanjutkan hidup hanya karena kasih dan sayang Tuhan.  Refleksi inilah yang mendasari pernyataannya pada ayat 10; “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.” Pernyataan ini mengingatkan kita kepada peristiwa pemberian ‘hukum’ Taurat di Gunung Sinai. Bangsa yang telah mengalami kasih sayang Tuhan harus menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Gagasan teologi menaati hukum Taurat dan menyembah Allah inilah yang dimaksud pemazmur dengan pernyataan: “takut akan Tuhan.” Maksudnya orang-orang yang “takut akan Tuhan” adalah mereka yang menaati hukum Taurat dan menyembah Allah saja. Persiapkanlah keberadaan baik sebagai pribadi maupun keluarga untuk mengambil bagian dalam akta perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah di hari minggu pertama bulan ini. Tuhan-lah sumber berkat, Ia akan mencukupkan segala yang kita perlukan. Takutlah akan Dia, penyayang dan pengasih itu, maka seisi rumah kita akan diberkati. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, keadilan-Nya tetap untuk selamanya. Jadilah kuat dan tenang sebab Ia pasti memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan pengasih dan penyayang, kami syukurkan berkat-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu III : “Tetap Setia melakukan Usaha Pembebasan”

Minggu, 21 Agustus 2022                               

bacaan : Yeremia 34 : 8 – 22

Janji kepada budak-budak Ibrani tidak ditepati
8 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, 9 supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya. 10 Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka. 11 Tetapi sesudah itu mereka berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi. 12 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku sendiri telah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, isinya: 14 Pada akhir tujuh tahun haruslah kamu masing-masing melepaskan saudaranya bangsa Ibrani yang sudah menjual dirinya kepadamu; ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, kemudian haruslah engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka. Tetapi nenek moyangmu tidak mendengarkan Aku dan tidak memperhatikan Aku. 15 Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan. 16 Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. 18 Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; 19 pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu, 20 mereka akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, sehingga mayat mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi. 21 Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. 22 Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk."

Selaraskan Perkataan dan Perbuatan

Janji tinggal janji, parlente jalan tarus, ungkapan ini berarti mengingkari janji atau perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Perbuatan mengingkari janji inilah yang dilakukan oleh para pejabat, pemimpin umat dan masyarakat yang ada di Yerusalem. Mereka mengumumkan pembebasan kepada budak laki-laki dan perempuan dan membebaskan mereka sebagai orang-orang merdeka sesuai dengan perintah Tuhan Allah (peraturan tahun sabat dalam Kel.21:1-6: Ul.15:1-11) bahkan perjanjian tersebut diikat dengan sumpah dihadapan Tuhan Allah (ayat 8-15). Namun, karena kedegilan hati,  mereka menarik kembali perkataan atau membatalkan perjanjian pembebasan budak. Budak yang telah dibebaskan diperbudak lagi (ayat 16). Akibat dari tindakan yang tidak taat dan setia  itu, maka Tuhan Allah mendatangkan murka-Nya atas mereka (ayat 17). Murka Tuhan meliputi; kematian, penyakit sampar (penyakit menular), kelaparan, hancurnya kota Yerusalem, umat di bawa ke pembuangan (ayat 17-22). Gambaran malapetaka yang dasyat adalah akibat ketidaktaatan bangsa Israel akan janji mereka kepada Tuhan. Kisah ini menyuguhkan makna untuk dijadikan sebagai pedoman iman.  Jika kita berjanji di hadapan Tuhan dan manusia, hendaknya ditepati (jangan berbohong). Misalnya: sebagai pemimpin setia melaksanakan sumpah jabatan, berjanji kepada istri atau suami untuk tetap setia, berjanji untuk melayani keluarga dengan baik (jangan mengkhianati), berjanji melaksanakan tugas pelayanan gereja dengan setia, lakukanlah dengan taat. Karena jika kita tidak memenuhi janji tersebut, maka kita  akan mendapatkan penghukuman Allah. Ingatlah perkataan Mahatma Gandhi: “Selaraskan kata dan tindakan”

Doa: Tuhan, kiranya kata dan tindakan kami selaras. Amin.

Senin, 22 Agustus 2022                                 

bacaan : Imamat 25 : 8 – 13

8 Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun. 9 Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. 10 Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. 11 Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. 12 Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. 13 Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.

Kita, Mahkluk Yang Merdeka

Waktu 24 jam yang tersedia, terasa kurang bagi kita. Bekerja dengan tak hentinya untuk mengejar segala keberhasilan. Mengeksplorasi dan mengeksploitasi segalanya tanpa melihat dan memperhatikan keseimbangan diri sendiri maupun sesama ciptaan. Kita terus mengusahakan segala sesuatunya tanpa mempertimbangkan keberadaan, kekuatan diri sendiri serta kelangsungan hidup semua ciptaan di semesta ini. Kita, dengan berbagai upaya berusaha keras, dan secepat mungkin serta modal yang sedikit-dikitnya, berharap memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Kita dengan penuh kesadaran, terus mengikat diri dan mengikuti pola kehidupan yang tak seimbang serta mengembangkan prinsip ekonomi tidak berkeadilan yang dibangun oleh masyarakat umum. Hal itu membuat kita menjadi hamba, bahkan budak, yang tidak bebas merdeka.

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita, bahwa ada batasan dari segala sesuatu yang harus dijalani dan dikerjakan. Allah memberikan tuntunan, agar kita menjadi manusia yang bebas merdeka bagi diri sendiri dan sesama ciptaan. Allah menghendaki agar kita dapat berlaku adil bagi diri sendiri dan sesama ciptaan-Nya. Seperti Allah, yang beristirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya, waktu melakukan penciptaan, maka Dia pun mengajarkan kepada kita untuk juga melakukannya. Tahun Yobel bukan merupakan waktunya Allah datang untuk membebaskan manusia, melainkan masa yang Dia berikan kepada tiap orang guna membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat.  Aturan tentang tahun Yobel dibuat dengan maksud mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi diri sendiri juga sesama ciptaan. Tujuannya adalah agar kita dan sesama ciptaan, dapat memberikan kesempatan kepada diri untuk mengarahkan hati kepada Allah guna menghormati, memuji dan bersyukur kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu di tahun Yobel ini. Amin.

Selasa, 23 Agustus 2022                              

bacaan : Keluaran 21 : 1 – 11

Tentang hak budak Ibrani
"Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka. 2 Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa. 3 Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia. 4 Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri. 5 Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka, 6 maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup. 7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. 8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu. 9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan. 10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia. 11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."

Landasan Hak Asasi Manusia & Prinsip Kemanusiaan Dalam Perbudakan

Alkitab begitu serius memperlakukan hamba secara manusiawi. Perlakuan tersebut bukan untuk menyatakan setuju dengan perbudakan, tetapi untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang lebih manusiawi, serta arah perbaikan sistem yang dilakukan, dapat melihat bahwa Allah memandang penting kebebasan orang. Kebebasan adalah dasar dari semua hak asasi manusia, untuk memastikan bahwa setiap orang berhak untuk mengejar kesetaraan dan kebahagiaan. Allah menebus dan menyelamatkan Israel menjadi dasar dari semua ketentuan hukum Allah dan perbudakan jelas melanggar prinsip kesetaraan dan hak asasi manusia. Nas hari ini mengkritisi bagaimana hidup sebagai umat Allah dalam budaya yang menerima perbudakan sebagai kelaziman. Prinsip kemanusiaan yang berbelas kasih diterapkan dalam kasus perbudakan ini.

Menjual diri sebagai budak dalam kehidupan bangsa Ibrani kuno adalah cara bertahan hidup agar mendapat makanan dan perlindungan dari tuannya. Tuannya bisa memperkerjakan budak hanya enam tahun dan tahun ketujuh (tahun Sabat), budak tersebut akan menjadi orang bebas. Tuhan menuntut kepatutan dan belas kasih dalam hidup bangsa Israel dan itu menjadi pelajaran penting bagi kita dalam hidup bersama dengan orang lain. Namun, di zaman modern ini kita sering kali mendapati perbudakan terjadi di mana-mana. “Orang kuat” mengeksploitasi pihak yang lemah, baik secara ekonomi maupun politik. Banyak orang miskin diculasi dan dijebak sebagai buruh murah di negeri lain dalam industri prostitusi. Bahkan sikap memperbudak masih terlihat dari cara seseorang mempekerjakan dan membayar gaji orang yang bekerja padanya. Sikap-sikap tidak manusiawi ini tidak boleh dilakukan. Tuhan Allah menghendaki kita untuk menghargai sesama tanpa memandang latar belakang hidup mereka.

Doa: Ya Tuhan, terangilah hati kami agar menghargai sesama secara manusiawi tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Amin.

Rabu, 24 Agustus 2022                                

bacaan : Yeremia 39 : 11 – 14

Perintah Nebukadnezar untuk melindungi Yeremia
11 Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: 12 "Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!" 13 Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang-- 14 mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.

Ketaatan Mendatangkan Pemeliharaan Tuhan

Taktik pengepungan dan pemutusan, lazim dipakai dalam peperangan yang berlangsung di daerah Timur Dekat Kuno. Pasukan perang mengepung kota lawan, selanjutnya dilangsungkan taktik memotong pasokan makanan dan air, sambil berusaha membobol tembok. Mereka menanti sampai penduduk kota yang terkepung itu kelaparan, lemah, dan mudah dikalahkan. Cara seperti inilah yang dilakukan oleh tentara Babel saat mengepung kota Yerusalem sampai akhirnya mereka berhasil membobol tembok dan merebut kota. Kisah ini mencatat bahwa setelah Yerusalem direbut, nasib raja Zedekia dan nabi Yeremia,  berkaitan dengan sikap mereka terhadap firman Tuhan. Raja Zedekia yang melarikan diri ke padang gurun mengalami nasib yang benar-benar mengerikan. Dia ditangkap, dibawa kepada raja Nebukadnezar, dipaksa menyaksikan anak-anaknya dihukum mati, dibutakan matanya, lalu dibelenggu dan dibuang ke negeri Babel. Tidak ada berita lagi tentang raja Zedekia, tetapi mungkin ia bertobat di pembuangan, sehingga ia ditangisi rakyat saat meninggal. Nabi Yeremia diperlakukan berbeda dengan orang-orang Yehuda yang lain. Raja Nebukadnezar memerintahkan agar nabi Yeremia dibebaskan dari penjara dan diberi kebebasan untuk tetap tinggal di negeri itu. Berbeda dengan nasib banyak orang di Yehuda, nabi Yeremia tidak mengalami kekerasan.

Kisah kehancuran kota Yerusalem mengajarkan kita tentang adanya berkat karena ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan serta hukuman karena menolak untuk mendengarkan firman Tuhan. Nabi Yeremia mewakili orang yang taat sekaligus teladan  memercayai Tuhan. Sedangkan raja Zedekia mewakili orang yang tidak mau melakukan firman Tuhan.

Kadang-kadang, Alkitab mengingatkan kita tentang sesuatu yang telah diketahui tetapi kemudian dilupakan atau tidak dilakukan. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita sanggup melakukan firman Tuhan!

Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar selalu taat kepada-Mu. Amin.

Kamis, 25 Agustus 2022                          

bacaan : Yeremia 39 : 15 – 18

Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan
15 Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya: 16 "Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga. 17 Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, 18 tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Perbuatan Baik Yang Dilakukan, Pasti Akan Kembali Dengan Sendirinya

Kisah tentang Ebed-Melekh mulai disaksikan di pasal 38:1-13. Ia berkebangsaan Etiopia, seorang sida-sida yang tinggal di istana raja Zedekia. Hari ini kita akan melihat buah dari perbuatan baiknya kepada Yeremia. Pada masa pemerintahan raja Zedekia itu, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur. Kebaikan hati Ebed-Melekh tak langsung mendapatkan balasannya. Cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar.

Janganlah takut untuk memberi kepada yang membutuhkan. Jangan takut untuk menolong dan membebaskan orang yang sedang dalam kesusahan. Lakukanlah semua itu tanpa membeda-bedakan siapa yang kita bantu. Tak perlu membuat kebaikan besar yang menghebohkan, cukup kebaikan-kebaikan kecil yang ditabur kepada mereka yang berada di sekitar kita. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan yang telah kita alami. Kita tidak berbuat baik untuk memperoleh keselamatan. Yakinlah bahwa semua perbuatan baik pasti diberkati Tuhan dan buahnya akan kita alami pula.

Doa:  Mampukanlah kami untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 26 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 14 : 40 – 46

40 Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: "Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain." Lalu jawab rakyat kepada Saul: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik." 41 Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. 42 Kata Saul: "Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan." Lalu didapati Yonatan. 43 Kata Saul kepada Yonatan: "Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat." Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: "Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati." 44 Kata Saul: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati." 45 Tetapi rakyat berkata kepada Saul: "Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini." Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati. 46 Maka pulanglah Saul setelah mengejar orang Filistin, dan orang Filistin itupun kembali ke tempat kediamannya.

Bersikaplah Bijak Sehingga Tidak Mengorbankan Orang Lain

Ketika kesombongan menguasai hati dan pikiran kita, keputusan yang diambil pada akhirnya membuahkan suatu yang tidak bijak. Keangkuhan dapat menjerumuskan kita, menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan banyak orang. Nas hari ini menyaksikan bahwa Saul sedang menghadapi situasi yang terdesak. Ia kemudian menyuruh bangsa Israel untuk mengambil sumpah yang berisi kutukan dan konsekuensinya  orang Israel tidak boleh makan apa pun. Perang menjadi semakin sulit karena Saul menambahkan beban yang tidak perlu bagi orang Israel. Akibatnya mereka menjadi letih lesu. Saul telah mencelakakan rakyatnya sendiri, seperti yang diutarakan Yonatan, anaknya. Akibat yang lebih besar adalah orang Israel pada akhirnya berbuat dosa dalam memakan hasil rampasan. Allah juga tidak menjawab doa Saul. Kemudian, Saul mencari tahu penyebab dari semua ini. Akhirnya, ia menemukan bahwa Yonatan telah merasai sedikit madu. Kematian adalah konsekuensi yang harus ditanggung semua pelanggar ketentuan, sekalipun itu anak sendiri. Namun, Yonatan dapat bebas dari hukuman mati karena permohonan orang-orang Israel kepada Saul. Kesombongan yang ada pada Saul menyebabkannya melakukan hal yang bukan kehendak Allah. Saul hanya berfokus pada dirinya sendiri, ia tidak menghiraukan Allah. Kesombongan ini menempatkannya pada posisi seolah dia lebih besar daripada Allah. Itulah awal kehancurannya. Keputusan yang diambil berikutnya memberikan dampak negatif yang meluas. Ketika kesombongan melingkupi hati dan pikiran, kita dapat jatuh untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Saul. Kesombongan lain mengatakan: diriku tidak bersalah, yang salah adalah orang lain. Kesombongan memisahkan relasi manusia. Hidup tidak sombong adalah buah Roh Kudus yang bekerja karena orang percaya memprioritaskan kehendak Allah bekerja dalam dirinya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk mengatasi kesombongan. Amin.

Sabtu, 27 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Samuel 30 : 11 – 20

11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air, 12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. 13 Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit. 14 Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis." 15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu." 16 Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda. 17 Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. 18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. 19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. 20 Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: "Inilah jarahan Daud."

Mengandalkan Tuhan Ada Pemulihan dan Pembebasan

Tindakan pembebasan yang Allah karyakan terkadang tidak dapat terselami oleh akal manusia yang terbatas. Karya pembebasan itu berada di luar jangkaun akal manusia. Daud pernah mengalami pengalaman demikian. Batinnya terguncang hebat, akibat peristiwa besar yang terjadi di ziklag. Tekanan batinnya bertambah karena rakyat beranggapan bahwa Daudlah yang bertanggung jawab atas seluruh petaka yang sedang mereka alami. Daud tidak putus asa apalagi kecewa terhadap Tuhan.  Kepercayaannya tetap teguh, ia mengandalkan TUHAN sepenuhnya. Catatan reflektif bagi kita ialah bahwa ; sesungguhnya peristiwa ziklag memiliki urutan seperti ini : kehilangan segala sesuatu (ay. 1 – 5), penolakan (ay. 6), kemenangan (ay. 17 – 18), pemulihan (ay. 19). Dari peristiwa siklag mengingatkan kita bahwa mengimani ALLAH itu bukan berarti seluruh perjalanan hidup ini akan mulus dan aman-aman saja, sebaliknya ada waktu Ketika TUHAN mengizinkan ketidaknyamanan kita di porak-porandakan. Ada waktu saat kita ditolak, dipersalahkan dan disudutkan oleh orang- orang di sekitar kita.

Dari Daud kita belajar untuk tetap menguatkan kepercayaan kepada Tuhan dan tetap bergantung kepada-Nya. Ingat bahwa   kekecewaan tidak akan menyelesaikan masalah. Kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan, menyanggupkan kita memperoleh jalan keluar, mengalami pemulihan, pembebasan dan akan tampil sebagai pemenang.

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa bergantung dan menaruh percaya hanya kepada Dikau, sehingga kami bisa melihat jalan-jalan-Mu untuk pemulihan persoalan-persoalan hidup ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULN AGUSTUS 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu II : “Hidup sebagai Hamba Allah”

Minggu, 14 Agustus 2022                             

bacaan : 1 Petrus 2 : 11 – 17

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Jadilah Perantau dan Pendatang Yang Dapat Diteladani

Bersyukurlah sebab kita dapat mengalami kemurahan Tuhan di hari perhentian yang kudus. Hari ini kita belajar dari surat Petrus yang berisi nasihat bagi perantau dan pendatang. Pendatang artinya orang yang datang ke suatu daerah atau negeri serta negara dan menetap sebagai orang asing di situ. Sementara rantau berarti daerah atau negeri di luar daerah/negeri sendiri atau negeri asing. Saat itu umat Israel memang banyak yang sementara hidup sebagai pendatang dan perantau di berbagai daerah. Namun jika bicara tentang perantau dan pendatang maka bukan hanya perantau dan pendatang secara harafiah, tetapi sesungguhnya semua kita adalah pendatang dan perantau di dunia ini. Petrus memberi nasihat kepada kita sebagai perantau dan pendatang agar berhati-hati dan waspada. Kita harus memperlihatkan cara hidup yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi orang lain terutama bagi mereka yang belum percaya kepada Yesus atau dalam konteks bacaan kita bangsa-bangsa bukan Yahudi sehingga mereka juga memuliakan Allah. Teladan itu antara lain:

  • Menjauhkan diri dari hawa nafsu kedagingan.
  • Hormati pemerintah dan mereka yang dipercayakan untuk memimpin kita.
  • Kita sudah dimerdekakan dari belenggu penjajahan bangsa asing tetapi juga belenggu dosa karena itu hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi merdeka yang bertanggung jawab, bukan yang kebablasan. Artinya bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan hal-hal berguna bukan bebas melakukan apa saja yang kita mau tetapi tidak sepadan dengan kehendak Allah.
  • Hormati dan kasihilah sesama. Jadilah teladan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan, tolong kami untuk hidup sebagai orang yang dapat diteladani. Amin.

Senin, 15 Agustus 2022                            

bacaan : 1 Korintus 7 : 17 – 24

Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. 18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. 20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. 21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu. 22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. 23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia. 24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Hiduplah Sebagai Hamba Allah

Hari pertama di minggu ini telah kita jalani dengan selamat sambil diajak untuk hidup sebagai hamba Allah.. Apa artinya itu? Mari simak dulu cerita Sonia sebagai pengantar sekaligus pembanding. Sonia, adalah seorang ibu muda yang penampilan sehari-harinya “aduhai”. Saat dia diminta untuk menjadi pengurus unit, penampilannya  berubah. Pakaiannya tidak lagi “kekurangan kain”, makeup-nya sudah tidak menor dan dia mulai suka menyapa orang. Pertanyaannya: Apakah penampilan fisik seseorang dapat menjamin bahwa orang tersebut sudah hidup sebagai hamba Allah?  Belum tentu!! Penampilan fisik terkadang bisa menipu. Karena itu Paulus memberi ketegasan kepada jemaat Korintus dan kita bahwa memenuhi panggilan Allah dan menjadi hamba-Nya bukanlah persoalan lahiriah seperti sunat atau tidak (18), hamba atau orang merdeka (21), bukan juga soal penampilan. Seseorang menjadi hamba Allah karena ia telah dibeli dengan harga mahal oleh Allah, yaitu darah dan nyawa anakNya, Yesus Kristus (23). Seseorang menjadi hamba Allah adalah karena dia telah ditebus oleh Allah dari kuasa dosa dan maut. Karena itu menjadi hamba Allah berarti hidup menurut ketetapan, peraturan, petunjuk dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya. Paulus menekankan bahwa yang penting adalah perubahan hidup dimana seorang hamba Allah harus memperlihatkan kehidupan yang taat dan setia kepada Allah, bukan sekadar penampilan fisik. Hidup dalam panggilan sebagai Hamba Allah dapat dilakukan dengan keberadaan kita apa adanya. Penampilan sederhana namun dengan hati yang lemah lembut, rendah hati dan tidak sombong. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita. Hiduplah sebagai hamba Allah dan lakukanlah kehendak-Nya.

Doa: Tuhan ampuni kami yang menyebut diri sebagai hamba-Mu namun tidak melakukan kewajiban kami sebagai seorang Hamba Allah.. Amin.

Selasa, 16 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 3 :  24 – 27

24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" 25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. 27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Ketaatan di Tengah Ancaman

Semakin dibabat, semakin merambat. Istilah tersebut agaknya tidak terlalu berlebihan jika disematkan kepada orang Kristen. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang Kristen dari awal kemunculannya sampai saat ini tidak lepas dari penganiayaan. Namun, semakin orang Kristen mengalami penganiayaan justru mengalami peningkatan yang sangat drastis. Penganiayaan justru membuat orang Kristen semakin kuat dan bertumbuh. Hal ini dikarenakan Tuhan melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Kisah penganiayaan yang dialami oleh mereka yang percaya (beriman) kepada Tuhan pun diperlihatkan oleh para tokoh Alkitab, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam kitab Daniel 3:24-27. Jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak permintaan raja Nebudkadnezar untuk menyembah patung yang didirikannya itu, mengakibatkan ketiga teman Daniel tersebut dilemparkan ke perapian yang panas luar biasa, sehingga membakar habis tentara yang melempar ketiga orang tersebut. Sedangkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat.  Mereka selamat karena dilindungi dan dijaga oleh Tuhan (Ayat 17). Melihat bahwa mereka tidak terluka di dalam api besar, maka raja memanggil Sadrakh, Mesakh dan Abednego keluar dari perapian dan menghadap kepadanya. Dia menyebut mereka “Hamba-hamba Allah yang Maha Tinggi” (ayat 26). Istilah ini digunakan untuk memuji Allah yang mereka sembah adalah Allah yang kuat dan perkasa. Perikop ini memberi makna bagi kita saat ini, bahwa perapian (kobaran api) melambangkan berbagai masalah dan penderitaan yang sedang dialami oleh orang Kristen karena beriman kepada Tuhan Yesus. Kita difitnah, diberlakukan dengan tidak adil (misalnya: larangan mendirikan gereja yang dialami oleh GKI Yasmin, HKBP Bekasi, sehingga mereka beribadah di depan istana Negara). Tetaplah yakin bahwa dalam berbagai persoalan Tuhan yang kita percaya adalah Pembebas dan Penyelamat kita. Janganlah ragu teruslah mengandalkan Dia.

Doa: Tuhan, tolonglah supaya kami tidak binasa, Amin.

Rabu, 17 Agustus 2022                                    

bacaan : Yesaya 49 : 8 – 13

Sion dipulihkan
8 Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, 9 untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung: Keluarlah! kepada orang-orang yang ada di dalam gelap: Tampillah! Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundulpun tersedia rumput bagi mereka. 10 Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. 11 Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. 12 Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim." 13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

Dimerdekakan Untuk Memerdekakan

Hari ini genaplah usia ke-77 tahun (1945-2022) Negara Indonesia yang kita cintai. Kita mensyukurinya sebagai kemurahan Tuhan Sang Pemilik Negara ini. GPM melalui LPJ menetapkan Tema HUT RI: “Mensyukuri Kebaikan Tuhan yang Membebaskan”. Tema ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperoleh Negara ini hanya karena kebaikan Tuhan semata. Pesan lain tema ini adalah kehidupan di Negara yang merdeka haruslah berlangsung dalam kepastian bahwa hak-hak hidup orang banyak menjadi terjamin. Hak untuk berpendapat, menerima pelayanan kesehatan yang memadai, pendidikan berkualitas, perlindungan hukum, pekerjaan, kehidupan yang layak dan sejahtera, dll. Sayangnya, di usia bangsa yang ke-77 tahun ini masih kedapatan praktek ketidakadilan, suap, korupsi, penyalagunaan kuasa, bahkan kenaikan harga-harga barang yang memberatkan kehidupan masyarakat. Karena itu, mari kita berefleksi berdasarkan Yesaya 49: 8-13. Bagian ini termasuk kitab Yesaya yang kedua (Deutero Yesaya), mengisahkan tentang kehidupan bangsa Israel di Babel sebagai tawanan. Mereka hidup tidak bebas, tertekan dan sangat menderita.  Nabi Yesaya berpesan bahwa Tuhan akan menjawab, menolong dan membebaskan bangsa Israel dari pembuangan Babel  dengan membawa mereka pulang kembali ke Yerusalem, tanah pusaka mereka (ayat 8), memberikan kebebasan dan menyedikan makanan bagi kebutuhan mereka (ayat 9), sehingga mereka tidak akan mati kelaparan melainkan berkelebihan supaya mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain (ayat 10-12). Waktunya pasti tiba dan mereka akan memuji-muji Tuhan sebagai Penyelamat dan Pembebas mereka yang kekal (ayat.13).  Kemerdekaan diberikan Tuhan supaya kita menjadi orang-orang merdeka yang dapat memerdekakan orang lain dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, eksploitasi alam, dan sebagainya.

Doa: Tuhan, lindungilah segenap bangsa Indonesia, Amin.

Kamis, 18 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 23 – 26

23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, 24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar 25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, 26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Perkuat Karakter Kristiani, Jadilah Teladan!

Perikop ini merupakan nasihat Paulus kepada Timotius. Ia   sedang berhadapan dengan para pengajar sesat yang suka bersilat lidah dan mengacaukan pelayanannya (ayat 14). Paulus menasihati Timotius agar berusaha menjadi pekerja Kristus (Hamba Tuhan) yang memiliki teladan Kristus dalam pelayanan. Bila hal tersebut dilakukan, maka para pengajar itu tidak menemukan celah untuk menjatuhkan Timotius dan mencemarkan Injil kebenaran (ayat 15). Timotius harus menunjukkan sifat-sifat yang tepat dalam hidup agar sesuai dengan peranannya sebagai pemimpin Kristen. Sifat-sifat itu adalah menghindari persoalan yang di cari-cari, bodoh dan tidak layak, karena semua itu mengarah kepada pertengkaran (ayat 23). Paulus menegaskan, adalah lebih baik menghindari pertengkaran dari pada berusaha untuk masuk dan terjun dalam arena tersebut. Kunci untuk terhindar dari pertengkaran adalah dengan berusaha tetap ramah kepada siapapun termasuk orang yang memusuhinya; dan sabar menghadapi setiap cercaan tersebut (ayat 24). Selain itu, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk menjadikan para musuh sebagai sahabat dan saudara dalam iman pada Yesus Kristus. Bagaimana caranya? Ia harus memiliki kecakapan mengajar untuk menuntun seseorang yang suka melawan agar sadar dari jalan yang salah; meninggalkan cara hidup yang jahat serta lepas dari kuasa iblis yang selama ini telah menawan mereka dan memaksa mereka mengikuti kehendaknya (ayat 25- 26). Timotius harus memberikan kesempatan setiap orang untuk bertobat dan mengalami pemulihan iman. Makna bagi kita saat ini, adakah kita masih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna; seperti bertengkar, menggosip, menjelekkan orang lain. Waktu hidup kita begitu singkat dan tak akan terulang, jadi sebaiknya diisi dengan hal-hal yang baik dan berguna bagi Tuhan dan sesama, Dengan demikian kita akan menolong orang lain menyadari kesalahannya dan mengalami pertobatan.

Doa: Tuhan, pakailah kami sebagai alat keselamatan-Mu., Amin.

Jumat, 19 Agustus 2022                                

bacaan : Roma 6 : 15 – 23

Dua macam perhambaan
15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! 16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? 17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. 19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. 20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. 21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. 22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. 23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Jadilah Hamba-Hamba Kebenaran

Tema mingguan yang ditetapkan oleh Lembaga Pembinaan Jemaat (LPJ) GPM adalah “Hidup Sebagai Hamba Allah”. Dasarnya adalah Roma 6: 15-23, secara khusus ayat 18. Maksudnya merdeka dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.  Menjadi hamba kebenaran itu tidaklah muda sebab kita harus berjuang melawan dosa. Setiap orang yang mau menjadi hamba kebenaran harus memerdekakan diri dari kuasa dosa. Orang yang merdeka  di dalam Kristus, wajib mematikan segala keinginan dan hawa nafsu dunia. Pertanyaannya apakah yang harus kita lakukan agar dapat hidup sebagai hamba kebenaran? Pertama, sebagai manusia yang memiliki kelemahan, kemungkinan jatuh ke dalam dosa masih ada. Terlebih Iblis memiliki banyak cara untuk merebut kita (banding 1 Petrus 5:8) melalui orang-orang terdekat yang hidupnya belum berpusat pada Tuhan, lingkungan sekitar di mana kita bergaul, bahkan mereka yang kelihatan baik padahal penuh dengan kemunafikan, kelemahan diri, semua dapat dijadikan alat oleh iblis untuk menjerat kita (1 Korintus 15: 33; 2 Korintus 11: 14). Sebab itu, waspadalah dan jangan pernah memberi kesempatan kepada Iblis. Kedua, Hiduplah dipimpin oleh Roh. Roh Kudus yang ada dalam kita bagaikan sebuah alarm yang akan bekerja mengingatkan dan menyadarkan kita dari dosa (Yohanes 16:8). Orang yang hidup dalam roh memiliki kekuatan untuk mematikan perbuatan-perbuatan daging; perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Sebaliknya sebagai hamba kebenaran maka hidup kita menghadirkan buah-buah Roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, jangan gila hormat (Gal.5:19-26). Menurut Paulus hidup adalah pilihan; memilih hidup di dalam dosa mendatangkan penghakiman Allah (kematian) atau memilih hidup dalam kebenaran membawa kita kepada kehidupan yang kekal (ayat 21-23).

Doa: Tuhan, jadikanlah kami hamba-hamba kebenaran. Amin.

Sabtu, 20 Agustus 2022                                     

bacaan : Galatia 1 : 6 – 10

Hanya satu Injil
6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. 10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Berpegang Teguh Pada Injil Kristus

Surat Galatia merupakan salah satu surat yang ditulis oleh rasul Paulus untuk menjawab situasi yang mengancam saat itu. Situasi yang mengancam itu adalah serangan terhadap kerasulan Paulus dan Injil Kristus. Khusus nas bacaan kita tadi, berbicara tentang serangan terhadap Injil yang diberitakan Paulus. Bagi Paulus, Keselamatan merupakan karunia yang diberikan berdasarkan kemurahan, sepenuhnya bergantung pada iman kepada Yesus Kristus bukan tergantung pada sunat dan hukum taurat. Sedangkan, bagi orang-orang Yahudi keselamatan tergantung melaksanakan taurat Musa dan tradisi sunat. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi bersikeras memaksakan orang-orang Kristen non Yahudi untuk melaksanakan hukum taurat dan sunat supaya mereka diselamatkan. Menghadapi situasi tersebut, Paulus dengan tegas memperingatkan orang-orang Yahudi yang telah menerima Yesus Kristus supaya mereka berpegang pada injil yang diberitakan oleh Paulus dan jangan terpengaruh kepada injil-injil palsu yang diberitakan oleh lawan-lawan Paulus. Sebab injil yang mereka beritakan bertentangan dengan Injil Kristus (ayat 6-7). Hidup di bawah hukum taurat merupakan perhambaan sedangkan hidup dengan iman merupakan kebebasan. Orang Kristen tidak diikat dengan hukum taurat karena Kristus telah membebaskan melalui kematian-Nya. Karena itu, apabila ada orang yang menyesatkan kamu dengan injil yang berbeda dari Injil Kristus, maka terkutuklah dia (ayat 8-9). Selanjutnya, Paulus mempertegas dirinya sebagai hamba Allah dengan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk menyenangkan hati manusia melainkan untuk menyengkankan hati Allah. Ia bukan mencari nama melalui kerasulannya melaiankan untuk melayani Allah yang telah memanggil dan mengutusnya. Makna bagi kita, berpeganglah pada injil Kristus dengan melakukan kehendak-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal.

Doa: Kiranya kami teguh berpegang pada injil Kristus. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 7 – 13 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu I : “Berjuang untuk Membela Kehidupan”

Minggu, 07 Agustus 2022

bacaan : Ester 4 : 1 – 17

Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorangpun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya. 5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, 13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. 14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." 17 Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.

Perjuangan Yang Hebat

Hidup di negeri asing tidaklah mudah karena berbagai sebab termasuk ancaman pembunuhan. Bangsa Israel pernah mengalami hal tersebut di Persia yakni pada masa pemerintahan raja Ahasyweros. Nas hari ini mengisahkan perjuangan baik yang dilakukan oleh Mordekhai maupun Ester untuk menyelamatkan bangsa Israel dari ancaman tersebut. Hidup sebagaimana dikisahkan dalam tuturan ini adalah perjuangan berat agar bebas dari upaya pembunuhan. Perjuangan berat harus mereka tempuh sebagai harga atau akta membela hidup. Mordekhai dan Ester mempertaruhkan keselamatan mereka dalam perjuangan ini. Nyawa menjadi taruhan dan oleh sebab itu mereka ditantang untuk berani berkorban bagi orang lain. Semangat perjuangan Mordekhai dan Ester sama yakni membebaskan bangsa Israel di kota Susan dari ancaman pembunuhan karena siasat Haman, seorang pejabat tinggi raja. Mereka memiliki semangat perjuangan yang sama, namun berjuang dengan cara dan di tempat yang berbeda. Mordekahi berjuang di luar istana raja dengan cara berkabung sedangkan Ester dari dalam. Ester berjuang dengan caranya sendiri yang adalah seorang ratu. Cara dan tempat berjuang berbeda, namun menjadi satu dalam semangat yang sama dan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Inspirasinya adalah hidup dan jabatan dipertaruhkan untuk keselamatan orang lain. Mordekahi dan Ester tidaklah menjadikan jabatan mereka sebagai tameng atau pelindung untuk luput dari ancaman pembunuhan. Inilah teladan perjuangan membela hidup orang lain sekalipun harus mempertaruhkan jabatan dan keselamatan sendiri. Tindakkan membela hidup seperti inilah yang layak dijadikan cara atau pilihan hidup kita sekarang ini.  

Doa: tolonglah kami ya Tuhan agar berani berkorban. Amin.

Senin, 08 Agustus 2022                               

bacaan : 1 Samuel 7 : 10 – 14

10 Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. 11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar. 12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita." 13 Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, 14 dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.

Andalkanlah Tuhan Saat Perjuangkan Hidup

Eben-Haezer adalah nama yang diberikan Samuel kepada batu yang didirikannya antara Mizpa Yesana (ayat 12). Kata Eben-Haezer berarti “sampai di sini Tuhan menolong kita”. Akta mendirikan batu dan menamainya dilakukan Samuel sebagai cara mensyukuri kemurahan Tuhan yang menolongnya ketika berperang dengan bangsa Filistin. Ia memimpin bangsa Israel berjuang untuk merebut kota-kota yang direbut bangsa Filistin. Mereka tak sekadar merebut kota tapi berjuang mempertahankan tanah pemberian Tuhan. Tanah merupakan wujud pemenuhan  janji berkat yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Karena itu status kepemilikannya harus terus dipertahankan atau diperjuangkan. Samuel bertindak cepat dan tepat sekalipun tidak mudah. Ia berusaha mengatasi ancaman kelanjutan keberadaan bangsa Israel. Tanah dan kota dapat direbut kembali sekaligus dimilikinya rasa aman untuk menjalani keberadaan setiap harinya. Kisah kepemimpinan Samuel ini menegaskan bahwa selama kehidupan berlangsung, ancaman selalu dijumpai. Kita diminta untuk menjadi semakin kritis dan cerdas untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Tak ada hidup dan perjuangan yang mudah. Oleh sebab itu berharaplah pada pertolongan Tuhan. Setiap perjuangan untuk membela hidup pasti dikehendaki dan diberkati Tuhan. Mari belajar pula akan spiritualitas Samuel. Ia memulai perjuangan dengan membakar korban bakaran. Hal ini berarti Samuel mengandalkan Tuhan. Selain itu ia juga meneladankan sikap mensyukuri kemurahan Tuhan. Ia berjuang dengan mengandalkan Tuhan dan tetap memuliakn-Nya saat mengalami kemenangan. Andalkanlah Tuhan dan terus berjuang membela hidup.  Tuhan menolong kita.

Doa: Ya Tuhan berkatilah perjuangan hidup kami. Amin.

Selasa, 09 Agustus 2022                                

bacaan : 1 Samuel 12 : 1 – 5

Samuel minta diri dari bangsa itu
Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: "Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. 2 Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. 3 Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu." 4 Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun." 5 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku." Jawab mereka: "Dia menjadi saksi."

Menjaga Hidup Tetap “Bersih”

Nas hari adalah sebagian ucapan yang disampaikan Samuel pada saat ia hendak berpisah dengan bangsa Israel. Ia berpisah karena telah selesai melakukan tugasnya sebagai pemimpin umat Allah. Tanggung jawab kepemimpinannya dilakukan dari sejak masih muda sampai dengan terpilihnya Saul menjadi raja Israel. Terpilihnya Saul sebagai raja merupakan tonggak atau babak baru berlangsungnya kepemimpinan. Fakta sejarah inilah yang mendasari ucapan perpisahan Samuel. Ucapan perpisahan ini sesungguhnya merupakan refleksi diri seorang hamba Tuhan yang “bersih” selama menunaikan panggilan pengutusan yang berat itu. Samuel telah dilayakkan Tuhan memimpin perjuangan bangsa Israel untuk membela hidup mereka dengan cara-cara yang berhikmat. Samuel bukanlah pemimpin yang “kotor” dan oleh sebab itu ia berani meminta Tuhan serta bangsa Israel menjadi saksi atas tanggung jawab yang telah diselesaikannya. Ia tidak pernah memeras dan memperlakukan bangsa Israel dengan kekerasan atau mengambil apa yang bukan miliknya, demikian pun dengan sogok. Ia merupakan tokoh dan pemimpin ideal yang bukan saja sukses menjalani kepemimpinan, tetapi juga menjaga hidup tetap “bersih”. Samuel terbukti hingga di batas pengabdiannya taat berjuang dengan integritas diri yang luar biasa.Teladan iman ini kiranya kita jadikan sebagai pilihan sikap dan cara hidup kristiani. Ada banyak hal yang telah, sedang dan akan terus kita perjuangkan. Masa depan gemilang bagi keturunan kita, karier, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, perkerjaan, jabatan, pencarian atau usaha apa pun. Teruslah berjuang sambil menjaga hidup tetap “bersih”. Hindari melakukan kejahatan dan dosa selama hidup ini kita perjuangkan.

Doa: Bapa layakkanlah kami terus upayakan hidup bermutu. Amin.

Rabu, 10 Agustus 2022                               

bacaan : 2 Tawarikh 19 : 4 – 11

Yosafat mengangkat hakim-hakim
4 Yosafat diam di Yerusalem. Ia mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah, dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim, sambil menyuruh rakyat berbalik kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 5 Ia mengangkat juga hakim-hakim di seluruh negeri, yakni di semua kota yang berkubu di Yehuda, di tiap-tiap kota. 6 Berpesanlah ia kepada hakim-hakim itu: "Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk TUHAN, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum. 7 Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita." 8 Juga di Yerusalem Yosafat mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewi, dari antara para imam dan dari antara para kepala puak Israel untuk memberi keputusan dalam hal hukum TUHAN dan dalam hal perselisihan. Mereka berkedudukan di Yerusalem. 9 Ia memerintahkan mereka: "Kamu harus bertindak dengan takut akan TUHAN, dengan setia dan dengan tulus hati, demikian: 10 Dalam setiap perkara, yang disampaikan kepada kamu oleh rekan-rekanmu yang tinggal di kota-kota, yakni perkara-perkara mengenai penumpahan darah atau mengenai hukum, perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan hendaklah kamu memperingatkan mereka, supaya mereka jangan bersalah terhadap TUHAN, sehingga murka-Nya menimpa kamu dan rekan-rekanmu. Hendaklah kamu berbuat demikian, dan kamu tidak akan bersalah. 11 Dengan ini imam kepala Amarya diangkat sebagai ketuamu dalam segala perkara ketuhanan dan Zebaja bin Ismael, pemuka kaum Yehuda, dalam segala perkara kerajaan, sedang orang Lewi akan melayani kamu sebagai pengatur. Bertindaklah dengan tegas! Kiranya TUHAN menyertai orang yang tulus ikhlas."

Pemimpin dan Sang Pembaru Kehidupan

Yosafat yang namanya berarti “Tuhan menghakimi”, memperjuangkan kehidupan umat Israel agar berkenan pada Allah. Perjuangan itu dilakukannya dengan pertama-tama mengunjungi daerah-daerah yang berada di luar Yerusalem. Pengenalan potensi dan persoalan di wilayah-wilayah pemerintahan menentukan keberhasilan. Ia memerankan figur seorang pemimpin yang tidak tinggal duduk dan mendengar saja, tapi mendatangi serta melihat juga mengalami sendiri kenyataan di daerah kekuasaannya. Kedua, ia menyuruh rakyat berbalik kepada tuhan, Allah nenek moyang mereka. Seruan pertobatan disampaikan agar hidup beriman umat diselamatkan dari pengaruh kepercayaan asing. Ketiga, sang reformator Israel ini membuat pembaruan dalam sistem peradilaan, baik umum maupun keagamaan.  Ia menempatkan hakim-hakim yang saleh di seluruh negeri dan mendirikan semacam peradilan tinggi di Yerusalem (ayat 8 – 11). Sistem peradilan Israel didasarkan pada perintah Allah, agar semua orang diperlakukan sama, tanpa memperhitungkan kedudukan mereka dalam masyarakat. Oleh sebab itu kepada hakim-hakim ini, Yosafat berpesan supaya mereka takut Tuhan, bertindak benar, tegas dan ikhlas. Selain itu tak boleh berlaku curang atau memihak serta tidak menerima suap. Mereka haruslah memastikan bahwa seluruh umat Tuhan mengalami rasa keadilan. Kita pun terpanggil untuk terus berjuang membela hidup agar pertobatan dialami oleh mereka yang melakukan kesalahan dan keadilan dapat dialami baik dalam lingkup keluarga, gereja maupun masyarakat bangsa dan Negara. Hindarilah hidup dengan cara “memandang muka” atau pilih kasih, sebab Tuhan itu baik kepada semua orang.

Doa: Tuhan, layakkanlah kami menjadi pembaru kehidupan. Amin.

Kamis, 11 Agustus 2022                          

bacaan : 2 Tawarikh 20 : 1 – 15

Kemenangan atas Moab dan Amon Akhir pemerintahan Yosafat
Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. 2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. 3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. 4 Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. 5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru 6 dan berkata: "Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. 7 Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? 8 Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu. Kata mereka: 9 Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. 10 Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya. 11 Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami. 12 Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." 13 Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka. 14 Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, 15 dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

Takut..? No…!

“Jangan kamu takut, Aku adalah. Itu Tuhan janji, biar ingatlah…Bahkan tiada pernah.”  Dua Sahabat Lama nomor 173 ini ingin berpesan kepada kita untuk selalu ingat pada janji Tuhan. Ia selalu bersama kita, tidak akan pernah meninggalkan. Oleh sebab itu, sekalipun ada banyak tantangan dan cobaan menghadang, tetaplah percaya pada-Nya dan jangan takut. Hari ini, kita belajar dari kisah Yosafat raja Yehuda beserta rakyatnya. Moab dan Amon adalah dua bangsa besar yang maju berperang melawan mereka. Kekuatan dua bangsa ini benar-benar menjadi ancaman bagi Yosafat dan rakyatnya sehingga membuat Yosafat takut. Yosafat bukanlah tipa pemimpin yang melarikan diri sekalipun sedang dilanda ketakutan. Kesadarannya sebagai pemimpin tidaklah sirnah. Ia harus bertindak melakukan sesuatu demi membela dan memperjuangkan kehidupan rakyatnya. Tindakkan membela kehidupan dilakukannya dengan  mencari Tuhan, mengajak seluruh rakyatnya untuk berpuasa dan bersama rakyatnya berdoa dengan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan sampai akhirnya Tuhan menjawab doa mereka. Dalam jawaban-Nya, Tuhan berpesan agar Yosafat tidak takut karena Tuhan-lah yang akan berperang menggantikannya.

Selagi kita masih di dunia ini, ada saja masalah menghampiri kita. Jangan takut, belajarlah dari Yosafat. Carilah Tuhan dan serahkan segala masalahmu kepada-Nya di dalam doa. Jangan andalkan kekuatan diri atau mencari pertolongan pada kekuatan lain di luar Tuhan, karena semua itu hanya sementara dan sia-sia adanya. Ajaklah keluarga dan handai taulan untuk menopangmu dalam doa. Ibarat tungku, semakin banyak kayu semakin besar nyala apinya dan masakanpun akan cepat matang. Nantikanlah jawaban-Nya dengan sabar. Ingat janji Tuhan, jangan Takut..!!!

Doa: Kiranya kami tetap meyakini janji-Mu, ya Tuhan. Amin.

Jumat, 12 Agustus 2022                            

bacaan : 2 Raja-Raja 5 : 8 – 16 

8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel." 9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. 10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir." 11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: "Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! 12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. 13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir." 14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. 15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"

Tuhan Menghendaki Kerendahan Hati dan Ketaatan

Naaman, bukan saja orang penting dan terpandang karena kedudukkannya sebagai panglima raja Aram, tetapi juga karena dia merupakan orang yang mendapat tempat khusus  di hati raja. Ia juga mendapat perkenaan Tuhan sehingga sering membawa kemenangan bagi Aram dalam perang. Sayangnya dia menderita penyakit kusta, yang pada waktu itu belum ada penawarnya. Kisah penyembuhannya melibatkan banyak orang, mulai dari pelayan sampai pemimpin negara.

Hampir saja tujuan Naaman ke Israel gagal total, karena dia menganggap bahwa dengan kuasa dan uang, kesembuhan dapat diperoleh. Dia sangsi dan merasa terusik dengan cara yang disampaikan Elisa melalui orang suruhannya. Dia berharap Elisa akan melakukan ritual yang spektakuler untuk kesembuhannya. Untung saja pegawai-pegawainya meyakinkan Namaan untuk ikut saja saran Elisa. Akhirnya Naaman pun sembuh.

Ketaatan Namaan melakukan kehendak Tuhan lewat hamba-Nya, Elisa, serta kerendahan hatinya untuk mendengarkan saran pelayan dan pegawainyalah yang membuatnya sembuh. Maka Naaman pun mengungkapkan pengakuan tulusnya: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”

Dari kisah Naaman kita belajar beberapa hal:

  • Hargailah pendapat orang lain, sekalipun itu seorang anak kecil, karena Tuhan dapat memakai mereka sebagai alat untuk memberitahukan kehendak-Nya.
  • Ada banyak hal baik yang hendak Tuhan nyatakan dalam kehidupan, namun kita sendirilah yang terkadang membuat susah sebab lebih yakin pada kekuatan dan pikiran sendiri.
  • Jangan lupa mengagungkan Tuhan dan bersyukur atas setiap kebaikan-Nya bagi kita.

Doa:   Tuhan, sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah seperti Engkau, karena itu aku mau tetap taat kepada-Mu. Amin.

Sabtu, 13 Agustus 2022                                       

bacaan :  Amos 5 : 7 – 13

Melawan perkosaan keadilan
7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 8 Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi--TUHAN itulah nama-Nya. 9 Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. 10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, --sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. 12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

Jadilah Duta Keadilan

Brandon, berceritera kepada saya tentang  tetangganya Jodi, yang rumahnya persis bersebelahan dengan dia. Ia juga bercerita tentang Jona yang masih punya hubungan keluarga dengannya dan rumah mereka berjarak kurang lebih 200 meter. Suatu hari terjadi masalah antara mereka berdua hingga sampai ke tingkat pengadilan. Jodi berharap Brandon akan berpihak kepadanya karena mereka tetangga dekat. Sementara Jona berharap Brandon akan memihak dirinya karena selain tetanggaan, mereka masih punya hubungan keluarga. Kalaupun tidak berpihak setidaknya netral. Brandon agak bingung juga. Kebingungannya itu diatasi dengan membaca renungan  tentang Amos 5:7-13 yang mengisyaratkan untuk  berpihak kepada yang benar.

Saudaraku, banyak orang yang berpikir bahwa berlaku netral adalah sama dengan berlaku adil. Padahal berlaku adil adalah berpihak kepada yang benar. Kisah Brandon dan nas hari ini menegaskan beberapa pesan yang dapat kita jadikan pelajaran:

  • Jangan mengubah keadilan menjadi ipuh (=racun) dan menghempaskan kebenaran ke tanah. Artinya bahwa keadilan dan kebenaran itu harus dihargai, dijunjung tinggi dan dilakukan.
  • Kita wajib menegur mereka yang melakukan ketidakadilan, sekalipun karenanya dibenci.
  • Jangan menindas yang lemah, dan membuat orang miskin semakin miskin.
  • Jangan membeli keadilan atau memberi suap agar mendapat keadilan.
  • Bagi yang diberi kedudukan sebagai “petinggi”, entah itu di masyarakat atau dalam kehidupan bergereja, jangan pergunakan  kedudukan atau jabatan untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan mereka yang miskin.
  • Jadilah Duta Keadilan di masyarakat dan dalam kehidupan bergereja. Tuhan memberkati kita untuk melakukan tugas ini.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk menjadi duta-duta Keadilan-Mu.. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 31 Juli – 6 Agustus 2022

Tema Bulan Agustus : “Gereja Memiliki Daya Juang Mewujudkan Pembebasan

Tema Minggu I : “Aku Berubah dan sesuai dengan kehendak Allah”

Senin, 01 Agustus 2022                             

bacaan : 2 Samuel 12 : 18 – 23

18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!" 19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." 20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!" 22 Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. 23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

Perubahan Total

Kematian merupakan realitas yang membawa kesedihan dan duka bagi setiap orang yang mengalaminya. Para pegawai  menyangka bahwa Daud akan mengalami hal tersebut ketika ia mengetahui anaknya meninggal. Respon yang diberikan Daud ternyata sebaliknya dan sangat jauh berbeda ketika anaknya sakit. Selama 7 hari Daud meratap dan berpuasa. Namun setelah anak itu meninggal, Daud tidak lagi menangis. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap dan makan. Apakah Daud tidak berduka? Mungkinkah ia senang dengan kematian anaknya? Perubahan pada sikap Daud menunjukkan bahwa ia sementara membentuk frame (bingkai atau cara) berpikirnya secara baru tentang kematian dan tidak bisa dilepaskan dari penderitaan sakit yang sebelumnya telah di alami oleh anak tersebut. Kematian dipahami Daud bukan sebagai suatu keadaan penderitaan yang paling sulit atau sebagai puncak penderitaan. Kematian merupakan suatu keadaan baru atau kemenangan bagi anaknya dari penderitaan. Anak Daud tidak lagi hidup dalam kesakitan yang membelenggu dan membawanya pada penderitaan. Realitas kematian diresponi Daud dengan sikap mengucap syukur kepada Tuhan Allah. Ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan menyembah-Nya. Pengucapan syukur Daud disertai dengan pengakuan imannya kepada Allah yang memiliki otoritas penuh terhadap kehidupan manusia. Daud tidak membantah kenyataan atau apa yang dilakukan oleh Allah. Ia tetap taat dan hidup mengikuti kehendak Tuhan. Perubahan cara berpikir memang seharusnya terjadi searah juga pada perubahan sikap. Kita adalah orang beriman, karena itu tidak bisa hanya mengalami perubahan pada  satu dimensi saja. Keutuhan kita sebagai manusia menuntut terjadinya perubahan secara menyeluruh. Perubahan yang menyeluruh menjadikan kita hidup sebagai umat kepunyaan Tuhan yang hidup dalam kelimpahan dan  kehendak-Nya 

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk sungguh-sungguh mau berubah. Amin.

Selasa, 02 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 5 : 27 – 32

Lewi pemungut cukai mengikut Yesus
27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Dukunglah Perubahan!

Seperti biasanya pelayanan perkunjungan itu berlangsung dari satu rumah ke rumah jemaat yang lain. Tak terkecuali, rumah bapak Agus yang berada di ujung jalan itu. Sekelompok pelayan masuk ke rumahnya dan diterima dengan tawa ringan. Selesai berdoa, salah satu ibu mulai berbicara dan menyampaikan hal-hal tentang kebutuhan pelayanan gereja. Tiba-tiba pa Agus memberi respon dengan mengatakan: “bapak  dan ibu pelayan, jika tidak berkeberatan, saya ingin mengajukan diri menjadi pengasuh SMTPI jemaat ini.” Para pelayan yang mendengar jawabannya menjadi kaget sekaligus tersenyum bahagia, karena maksud pastoral yang disampaikan oleh mereka mendapat sambutan baik dari pak Agus. Perilaku pak Agus di lingkungannya dikenal suka miras namun ramah. Ia adalah seorang yang berlatar belakang pendidikan tinggi teologi dan memiliki karakter yang baik dalam membina anak-anak. Beberapa pengasuh yang lain saat mengetahui pak Agus hendak menjadi pengasuh segera menyampaikan ketidaksetujuan mereka. Alasannya bahwa Pak Agus adalah seorang pemabuk. Pemikiran yang sifatnya sangat subjektif ini sama dengan yang dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka begitu mudah menilai dan menghakimi seseorang. Padahal setiap orang memiliki hak untuk memutuskan jalan hidupnya, termasuk perubahan hidup yang harus dilakukan. Ketika orang Lewi memutuskan meninggalkan sesuatu dan mengikuti Yesus, maka saat itu menjadi langkah awal baginya untuk berubah dan hidup taat mengikuti kehendak Tuhan. Siapapun seharusnya dapat menerima dan memberi dukungan bagi suatu perubahan hidup yang hendak terjadi sama seperti orang Lewi. Sebab, baik atau tidaknya seseorang bukan hanya bergantung pada keinginan orang tersebut untuk berubah, melainkan juga pada diri kita yang berada di sekitarnya. 

Doa: Ajarlah kami untuk menjadi orang-orang beriman yang mendukung  terjadinya perubahan hidup orang lain. Amin.

Rabu, 03 Agustus 2022                           

bacaan : 2 Tawarikh 13 : 1 – 12

Raja Abia
Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam menjadi rajalah Abia atas Yehuda. 2 Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan Yerobeam. 3 Abia memulai perang dengan pasukan pahlawan-pahlawan perang, yang jumlahnya empat ratus ribu orang pilihan, sedangkan Yerobeam mengatur barisan perangnya melawan dia dengan delapan ratus ribu orang pilihan, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. 4 Lalu Abia berdiri di atas gunung Zemaraim, yang termasuk pegunungan Efraim, dan berkata: "Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! 5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? 6 Tetapi Yerobeam bin Nebat, hamba Salomo bin Daud, telah bangkit memberontak melawan tuannya. 7 Petualang-petualang, orang-orang dursila, berhimpun padanya; mereka terlalu kuat bagi Rehabeam bin Salomo, yang masih muda dan belum teguh hati, dan yang tidak dapat mempertahankan diri terhadap mereka. 8 Tentu kamu menyangka, bahwa kamu dapat mempertahankan diri terhadap kerajaan TUHAN, yang dipegang keturunan Daud, karena jumlah kamu besar dan karena pada kamu ada anak lembu emas yang dibuat Yerobeam untuk kamu menjadi allah. 9 Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN, anak-anak Harun itu, dan orang-orang Lewi, lalu mengangkat imam-imam menurut kebiasaan bangsa-bangsa negeri-negeri lain, sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah. 10 Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya, 11 yakni setiap pagi dan setiap petang mereka membakar bagi TUHAN korban bakaran dan ukupan dari wangi-wangian, menyusun roti sajian di atas meja yang tahir, dan mengatur kandil emas dengan pelita-pelitanya untuk dinyalakan setiap petang, karena kamilah yang memelihara kewajiban kami terhadap TUHAN, Allah kami, tetapi kamulah yang meninggalkan-Nya. 12 Lihatlah, pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan terhadap kamu dengan nafiri isyarat-isyarat. Hai orang Israel, jangan kamu berperang melawan TUHAN, Allah nenek moyangmu, karena kamu tidak akan beruntung!"

Lain Dulu, Lain Sekarang

Seorang pendeta dan beberapa temannya semasa SMA bercakap-cakap di suatu rumah kopi.

Pendeta :  Sudah lama kita tidak bertemu. Saya terakhir bertemu dengan anis sekitar 2 tahun lalu di Jogja, saat baru menyelesaikan studi S2

Anis       :  Iya benar. Saya juga kaget waktu itu, sebab kita tak pernah bertemu sebelumnya selama di Ambon.

Bobby    :  eh, tapi bagaimana sehingga kamu sekarang menjadi pendeta? Padahal diantara kita bertiga, kamu yang paling suka bolos sekolah dan malas masuk pelajaran agama. Apakah supaya mudah dapat pekerjaan?

Pendeta :   bukan begitu. Setelah SMA, saya menderita sakit yang lama. Saya terus bergumul mohon kesembuhan dan berjanji jika saya sembuh maka saya akan memberi hidup untuk melayani Tuhan.

Situasi hidup sang pendeta ternyata sangat mempengaruhi terjadinya perubahan. Begitu pula yang terjadi pada raja Abia, ketika ia harus berperang melawan Yerobeam. Peperangan itu telah menimbulkan kesadaran diri untuk bergantung hanya pada Allah pemberi keselamatan. Kita perlu membandingkan kisah Abia menurut Tawarikh ini dengan 1 Raja-raja 15:1-8 (bertutur tentang raja Abia atau Abiam sebagai raja yang hidup dalam dosa). Ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan Allah. Namun pada saat terjadinya perang antara dirinya dengan Yerobeam, seluruh gaya hidup yang lama itu pun berubah total. Perubahan itu tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri, namun ia juga melakukan perubahan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinannya sebagai raja saat itu. Hidup orang beriman memang harus selalu mengalami perubahan. Situasi apapun yang kita alami, menjadi kesempatan membangun refleksi dalam pengenalan yang sungguh kepada Allah dan mengubah hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Ubahlah kami Tuhan dalam setiap jalan hidup yang  ditapaki. Amin. 

Kamis, 04 Agustus 2022                                  

bacaan : Lukas 15 : 11 – 32

Perumpamaan tentang anak yang hilang
11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Rumahku Adalah Keluargaku

Seorang anak korban pelecehan seksual meminta perlindungan dari lembaga pemerhati anak. Ia berharap bisa kembali ke keluarganya dan tetap memiliki rasa aman. Kasus pelecehan seksual yang dialami anak tersebut telah dilakukan oleh seorang anggota keluarga yang hidup. Akibatnya ia kehilangan rasa percaya pada keluarganya sendiri. Keluarga merupakan ruang penting yang tidak hanya menentukan kejelasan identitas seseorang. Namun sebagai tempat yang menjamin keberlangsungan hak-hak hidup individu di dalamnya, termasuk bertumbuh dan terbentuknya nilai-nilai spiritualitas. Keluarga dalam pengertian yang benar ditunjukkan oleh Lukas melalui cerita tentang perumpamaan anak yang hilang. Anak sulung dan bungsu memiliki keputusan yang berbeda untuk masa depan mereka. Sikap mereka terhadap keputusan itu kemudian berdampak pada diri mereka sendiri. Suatu ketika saat hidup yang dijalani mulai dirasakan sangat susah dan menderita, si bungsu pun mengambil keputusan untuk kembali kepada keluarganya. Ia menyadari telah melakukan kesalahan dengan memilih hidup mandiri dan tak mampu menjalaninya secara bertanggung jawab. Satu-satunya tempat yang dapat memahami kelemahannya dan menerimanya kembali yakni keluarganya. Si bungsu kembali kepada ayahnya dan meminta maaf dengan penuh penyesalan. Hidup si bungsu berubah dan turut mempengaruhi terjadinya perubahan hidup juga pada kakaknya. Rasa iri dan ketidaksukaan dari si sulung kepada adiknya dikoreksi oleh ayahnya dengan nasihat yang menegaskan peran dan pengaruh keluarga pada setiap anggota keluarga tanpa membeda-bedakan. Setiap anggota keluarga memang seharusnya bertanggung jawab menjaga keutuhan keluarganya. Untuk itu, setiap anggota keluarga seharusnya mengedepankan sikap mau menerima dalam berbagai keadaan supaya persekutuan keluarga dapat tetap terpelihara dengan baik.

Doa: Tuntunlah kami dengan Roh dan Hikmat-Mu untuk hidup dalam keluarga   yang saling menerima. Amin.

Jumat, 05 Agustus 2022                                     

bacaan : Yunus 2 : 1 – 10

Doa ucapan syukur Yunus
Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. 4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? 5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku. 7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!" 10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Jiwaku Lesu di “Titik Terjauh”

Nabi Yunus berkata dalam doanya “ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan…”

Perkataan Nabi Yunus ini serupa dengan sepenggal lirik lagu KJ. 237, yakni: “…jiwa yang letih lesu mendengar panggilan-Mu…”.

Kedua kalimat ini menggambarkan suatu situasi hidup yang paling melemahkan dan membawa pada ketidakberdayaan bagi seseorang. Hal ini tidak hanya menunjuk pada tubuh orang tersebut secara fisik. Kata “jiwa” dipakai oleh Yunus untuk menunjuk pada seluruh eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang tidak mampu diatasi sendiri atau juga dengan pertolongan manusia yang lain. Ia mengakui kebersalahannya dengan mengingkari panggilan Tuhan. Yunus tidak pergi ke Niniwe sesuai perintah Tuhan, namun melarikan diri ke Tarsis. Akibatnya, Tuhan mendatangkan badai yang besar dan Yunus harus dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dan para penumpang yang lain. Yunus mengingat Tuhan, ketika sudah berada dalam perut ikan. Ia berdoa dengan iman yang sungguh dan meyakini bahwa Tuhan Allah tidak jauh sekalipun Yunus berada di titik terjauh. Tuhan Allah pun pasti bisa mendengar sekalipun ia berada di dalam “dunia orang mati”, sebagai tempat yang jauh, sunyi dan tak bisa diketahui oleh siapapun. Doa Yunus ini merupakan sebuah reflkesi iman yang mendorong terjadinya perubahan hidup Yunus. Sebagai orang beriman, kita membutuhkan suatu situasi terendah dalam kehidupan yang kita jalani guna memantik kesadaran diri sebagai murid Tuhan atau saksi-Nya. Evaluasi dan transformasi hidup secara radikal pun akan terjadi akibat situasi yang paling gelap itu. Untuk itu, sebaiknya kita menyikapi kondisi hidup yang tak menyenangkan hingga yang dianggap paling menyusahkan dengan iman yang sungguh kepada Tuhan. Sebab kita pasti dapat menghitung berkat Tuhan yang tak terkira di balik seluruh peristiwa hidup.

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memaknai seluruh keadaan hidup dengan iman yang sungguh. Amin.  

Sabtu, 06 Agustus 2022                                   

bacaan : Daniel 4 : 28 – 37

28 Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; 29 sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, 30 berkatalah raja: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" 31 Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; 32 engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!" 33 Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. 34 Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. 35 Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: "Apa yang Kaubuat?" 36 Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. 37 Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.

Pindah Keyakinan Karena Otoritas Tuhan

Sekarang ini banyak sekali dijumpai dalam berbagai bentuk media pemberitaan tentang berpindahnya seseorang dari agama A ke agama B. Isi pemberitaan ini disampaikan dengan kisah-kisah yang menarik dan sangat memancing emosi pembaca atau penontonnya. Suatu ketika seorang bapak yang cukup fanatik dalam menjalani kehidupan beragamanya mempertanyakan kebenaran berita tersebut, katanya : apakah berpindah agama semudah seseorang hendak melakukan perjalanan dari kota A ke kota B dan ia hanya perlu membeli tiket atau membayar ongkos transportnya saja? Sikap mempertanyakan perubahan yang terjadi pada diri seseorang apalagi berkaitan dengan hal yang sifatnya prinsip yakni tentang keyakinannya memang merupakan suatu kewajaran. Hal ini pun menolong setiap orang untuk menganalisa benar tidaknya perubahan tersebut sambil memberi catatan evaluatif yang memberi makna bagi diri sendiri. Kisah perubahan hidup Raja Nebukadnezar dalam nas bacaan hari ini mungkin pula membuat kita bertanya, mengapa sang raja berubah kepercayaannya? Alangkah baiknya kita membaca keseluruhan cerita tentang Raja Nebukadnezar. Otoritas Tuhan merupakan kekuasaan yang paling tinggi dan harus diakui serta diterima oleh siapapun termasuk Raja Nebukadnezar. Itulah pesan utama dari cerita tentang perubahan hidup Raja Nebukadnezar. Ketika sang raja mengalami hal yang sama dengan mimpinya, ia sadar bahwa Tuhan berdaulat atas dirinya. Otoritas Tuhan kemudian meruntuhkan seluruh keegoisan sang raja. Ia harus mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang terbatas sekalipun memiliki kekuasaan yang luas dan posisi yang paling tinggi dari antara manusia lainnya. Sebab ketika Tuhan berkehendak, maka jadilah seperti yang dikehendaki-Nya. Hidup di dalam otoritas Tuhan merupakan cara kita yang adalah orang beriman untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya

Doa: Kami ingin hidup dalam otoritas-Mu ya Tuhan. Amin.

*SUMBER : SHK AGUSTUS 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Juli 2022

Tema Bulanan : “Kasih Kristus Menguatkan Daya Juang Untuk Transformasi Hidup

Tema Mingguan : “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan

Minggu, 24 Juli 2022                                         

bacaan : Lukas 12 : 13 – 21

Orang kaya yang bodoh
13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." 14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" 15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." 16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Tuhan Menyediakan, Bermurah Hatilah

Yesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Hal ini disampaikan sebagai pengajaran kepada pendengar-Nya ketika seorang dari antara mereka yang memohon untuk menyelesaikan perkara warisan orang ini bermaksud supaya saudaranya mau membagi harta warisan. Ia datang memohon agar Yesus mengumpulkan baginya harta duniawi. Yesus kemudian memberi kepadanya pemahaman yang benar tentang keinginan akan harta duniawi. Yesus datang bukan supaya manusia mengumpulkan baginya harta duniawi yang pada saatnya akan ditinggalkannya namun supaya setiap orang menjadi pewaris kerajaan sorga. Maksudnya agar orang mengumpulkan harta di sorga yang tidak akan termakan ngengat. Seorang terkaya di dunia yaitu Jhon D. Rockefeller pernah di tanya oleh reporter televisi “how much is enough?” (“seberapa banyak lagi uang atau harta yang kau butuhkan?”) karena dia sudah menjadi orang terkaya di dunia saat itu, dan dia berkata “just a lillte bit more” (“sedikit lagi”). Inilah buktinya walaupun seseorang sudah memiliki banyak harta kekayaan, tetap saja tidak ada kata cukup. Yesus memberikan perumpamaan tentang ketamakan itu seperti seorang yang merasa senang dan aman karena memiliki lumbung yang besar untuk menyimpan kekayaannya, namun kesenangannya itu tidak bertahan lama sebab malam itu juga Tuhan mengambil jiwanya. Jangan pernah kita mengkuatirkan akan hari esok, sebab Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan. Biarlah hatimu dikuasai Tuhan untuk menjadi orang yang bermurah hati, memberikan hidup dan apapun yang ada pada kita menjadi kemuliaan Tuhan.

Doa: Tuhan tolonglah kami menjadi orang yang bermurah hati. Amin

Senin, 25 Juli 2022                                         

bacaan : Matius 23 : 25 – 26

25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Berbeda Dengan Kebanyakan Orang

Tiga orang hamba dipercayakan harta tuan mereka. Hal ini menempatkan ketiga hamba itu sebagai orang kepercayaan sang tuan untuk mengelola harta. Mereka diberikan otoritas dari sang tuan untuk memutuskan apa yang perlu guna mengusahakan harta tuan mereka. Mereka bukan lagi hamba biasa, tetapi wakil dari tuan mereka. Betapa besarnya tuan mereka menghargai mereka. Tuan mereka memberikan penghargaan besar kepada ketiga orang hamba itu. Mendapatkan kepercayaan besar seperti itu tentu seharusnya membuat para hamba itu gentar. Mereka seharusnya merasa tidak layak dan mereka seharusnya mengerjakan apa yang dipercayakan kepada mereka dengan tekun, takut, dan gentar. Mereka sadar bahwa tuan mereka mengambil risiko sangat besar dengan memercayakan mereka uang. Tuan itu meletakkan usahanya untuk maju atau hancur di tangan para hamba ini. Tetapi hamba yang ketiga menghina penghormatan yang diberikan oleh tuannya itu. Dia tidak gentar karena dia tidak menghormati tuannya sehingga penghormatan yang diberikan tidak dianggap olehnya. Kepercayaan itu mahal harganya tidak mudah untuk orang bisa percaya dengan kita, apalagi kalau urusannya sudah menyangkut dengan uang, banyak orang yang jatuh juga karena masalah uang dan banyak juga orang yang tidak jujur dalam mengelola uang. Kita harus berbeda dengan kebanyakan orang menjaga kepercayaan itu dan tidak bersikap tamak dan serakah maka kita akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia (bd.Amsal 3:4)

Doa:  Ya Tuhan, Beri kami kebijaksanaan untuk selalu menjaga kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami, sehingga itu berbau harum di hadapan-Mu. Amin.

Selasa, 26 Juli 2022                                                

bacaan : Amsal 15 : 27

27 Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup.

Andalkan Hikmat Allah Dalam Seluruh Kerjamu

Kata suap berkonotasi negatif yaitu pemberian atau hadiah berupa barang/uang yang diberikan dengan hati yang tidak tulus, tamak dan curang. Suap diberikan dengan maksud yang salah. Misalnya saja untuk mendapatkan keuntungan yang sudah jelas itu bertentangan dengan hukum. Siapa loba akan keuntungan gelap mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup. Suatu hari seorang arab lewat dan karena lapar ia memutuskan mampir di restoran milik orang yahudi dan memesan sandwich, pada saat itu orang arab sedang bermusuhan dengan orang Yahudi. Pemilik resto mengambil keputusan untuk memberikan orang arab itu makanan dengan syarat tagihannya dua kali lipat. Si orang arab pun makan dan hari-hari selanjutnya si arab ini kembali dengan banyak teman dan pemilik restoranpun tetap menaikan tagihan bahkan sampai empat kali lipat. Si arab pun tetap memuji makanan restoran itu dan membayar bahkan memberikan uang tip lebih. Keesokan harinya di pintu resto terpampang tulisan dengan bunyi, maaf tidak menerima pelanggan orang yahudi, khusus orang arab. Kita rasanya pernah berkata pada diri sendiri, biar susah-susah beta akan kasih hidup beta punya keluarga dari beta pung kerja yang beta lakukan dengan dua tangan dan dengan karingat yang jatuh. Namun situasi dapat berubah saat persoalan tak dapat diselesaikan. Semua cara ditempuh, akal bulus pun dipakai asal dapat memenuhi tuntutan hidup. Amsal mengingatkan bahwa rumahtangga akan mengalami keburukkan sebagai akibat “kerja kotor”. Karena itu bekerjalah dengan cara yang berkenan pada Tuhan.

Doa:  Kiranya Roh hikmat menuntun kita dalam melakukan setiap pekerjaan secara benar. Amin.

Rabu, 27 Juli 2022                                                   

bacaan : Ibrani 13 : 5a

5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Hiduplah Dalam Kecukupan

Suatu kesalahan dan kesesatan terbesar yang dilakukan manusia ialah tatkala ia berjuang dengan segala cara untuk menikmati kekayaan sehingga memperhambakan diri kepada kekayaan (uang). Lalu ia berdoa kepada TUHAN agar memenuhi hasratnya.  Tindakkan seperti ini salah dan sesat. Segala bentuk kejahatan adalah akibat dari cinta akan uang lalu orang-orang menyimpang dari kebenaran. Hal ini terjadi bukan saja pada pihak tertentu tetapi pada semua kalangan, termasuk orang Kristen. Akibatnya buruk, tidak heran jika kekristenan menjadi fenomena yang “kering”. Menghambakan diri kepada uang adalah bentuk ketidakpuasan atas apa yang Allah beri dalam hidup kita. Menghambakan diri kepada uang adalah bentuk ketidakpercayaan sekaligus bentuk penyerahan diri yang tidak seutuhnya pada pemeliharaan Allah dalam kecukupan yang sejati. Pemeliharaan Allah dalam kecukupan yang sejati itu memungkinkan kita untuk menikmati hidup dalam kebahagiaan. Hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur. Bila hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur, maka dalam segala keadaan kita dapat berkata cukup. Tak dapat disangkali bahwa uang itu penting tetapi bukan segala-galanya. Uang tidak dapat membeli sukacita, kebahagiaan, ketenangan apalagi keselamatan jiwa. Karena itu siapa cinta uang tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia (bd. Pengkhotbah 5 : 9). Karena itu jaga hati supaya tidak terfokus pada harta dan kekayaan yang pada gilirannya menjadikan kita hamba uang dan orang-orang yang tidak pernah merasa berkecukupan.

Doa: Tuhan jadikanlah kami orang-orang yang sungguh mempercayakan seluruh hidup dalam pemeliharaan-Mu yang berkecukupan. Amin

Kamis, 28 Juli 2022                                            

bacaan : 2 Petrus 2 : 1 – 3

Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. 2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. 3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

Teguh Dalam Ajaran Yang Benar

Bermuka dua dalam istilah kerennya artinya palsu. Semua kita pernah menemukan itu, kalau ada yang asli pasti ada yang palsu. Orang-orang dengan tipe seperti ini sangat berbahaya sebab ibarat musuh dalam selimut. Karena itu kita harus mengenali sungguh-sungguh ciri-ciri orang tersebut. Hal-hal yang palsu ini selalu saja ada dalam keseharian kita mulai dari benda-benda sampai kepada teman tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada pada mereka yang tampil sebagai pengajar. Dampak yang ditimbulkan dari hal-hal yang palsu itu sangat merugikan, sangat menyesatkan karena segala sesuatu   direkayasa. Karena itu mengenali ciri-ciri kepalsuan itu penting supaya tidak terjebak dan pada akhirnya tersesat dalam rupa-rupa pengajaran yang sesat. Mereka yang palsu rata-rata tidak tulus, merendahkan orang, senang bila orang jatuh, senang melakukan sesuatu hanya untuk mencari popularitas. Petrus memberikan gambaran bagi kita tentang bagaimana mengenal nabi-nabi palsu itu. Pengajaran nabi-nabi palsu kelihatannya Alkitabiah tetapi sebenarnya tidaklah berfokus pada Tuhan Bahkan nabi-nabi palsu ini akan membuat jemaat Tuhan menyangkal Yesus Kristus yang telah menebus mereka. Nabi-nabi palsu ini akan berusaha mencari keuntungan dengan ajaran-ajaran yang disebarkan. Rasul Petrus mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam ajaran-ajaran para nabi palsu sebab akan membawa pada kebinasaan. Bila  pengakuan iman kita tidak sejalan dengan ajaran dan cara hidup, maka mari selidiki diri agar terhindar dari kemalangan.

Doa: Tolong kami dengan kuasa roh-Mu agar dalam setiap pengajaran yang kami sampaikan itu hanya berdasarkan kehendak-Mu. Amin

Jumat, 29 Juli 2022                                       

bacaan : Bilangan 11 : 31 -35

Burung puyuh
31 Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. 32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu--setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer--,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan. 33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. 34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. 35 Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ.

Rakus Membawa Celaka

Makan berlebihan dapat membahayakan bagi Kesehatan tubuh. Sebutan lain dari makan berlebihan adalah kerakusan. Akibatnya beragam; memicu obesitas, meningkatnya risiko terjadinya penyakit-penyakit kronik bahkan dapat menimbulkan masalah mental. Kerakusan adalah pemberhalaan perut dengan mengkonsumsi apa saja yang dapat memuaskan hasrat dan memberikan kenikmatan tanpa memikirkan risiko. Ada orang yang menganggapnya biasa. Ternyata kerakusan adalah sebuah dosa karena itu mengakibatkan rusaknya tatanan hidup.

• Kerakusan itu merusak pola hidup sehat. Manusia tidak lagi makan untuk hidup tetapi hidup hanya untuk makan.

• Merusak kepekaan, kepedulian dan rasa untuk berbagi dengan sesama, yang ada hanya bagaimana soal memenuhi hasrat.

• Orang rakus itu pertanda bahwa ia sementara mengalami krisis iman, ia tidak percaya kepada ALLAH sebagai sang pencipta tetapi juga sang pemelihara kehidupan.

Berjalan dengan iman ternyata tidak mudah. Kita terkadang melihat segala sesuatu lancar dan tidak ada masalah. Padahal Allah punya cara sendiri memimpin dan memelihara umat-Nya. Pengembaraan bangsa Israel dalam perjalanan ke Kanaan dengan membanding-bandingkan dan merindukan makanan dan minuman di Mesir yang lebih baik walaupun diperbudak maka Allah mendatangkan burung puyuh sebagai makanan mereka dan sesuai janjiNYA sebulan penuh umat akan makan dari puyuh itu. Namun ada saja yang rakus dan serakah dan hal ini mendatangkan tulah dari Allah, sehingga banyak dari mereka yang mati. Dari hal ini kita diajarkan bahwa berkat yang terbaik dan termulia itu adalah pemberian TUHAN. Belajarlah menyukai semua hal yang TUHAN berikan karena TUHAN tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita. Jangan tambahkan benih persungutan, benih dosa, tidak beriman, tidak bersyukur, karena dengan demikian kita akan jatuh, celaka, dan kehilangan kemuliaan TUHAN. Nikmatilah secukupnya dengan rasa syukur maka terpenuhilah hasrat kita.

Doa: Ajarlah kami hikmat-Mu agar kami tidak menggunakan berkat-Mu untuk memenuhi hasrat dan kepentingan sendiri. Amin

Sabtu, 30 Juli 2022                                       

bacaan : 1 Timotius 6 : 9 – 10

9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Akar Segala Kejahatan Ialah Cinta Uang

Dalam sebuah pertemuan dengan seorang hamba Tuhan dia katakana bahwa orang yang mau hidup miskin di dalam dunia ialah hamba TUHAN. Alasannya sederhana karena pada prinsipnya seorang hamba hanya menjalankan apa yang diperintahkan tuannya. Ironisnya dunia hari ini mana ada orang yang mau hidup miskin dan susah?  Semua orang mau hidup enak dan kaya. Kalau miskin mau ini dan itu susah, tetapi jika kaya semua bisa. Agaknya hal tersebut manusia di abad modern ini.  Praktek tipu-tipu adalah sarana menuju pemenuhan hasrat menjadi kaya. Awalnya mempesonakan dengan kabar-kabar yang memikat, penuh rayuan dan janji.  Semua orang dibuat terlena, terbuai dan hanyut. Semua orang dijadikan mesin pemuas hasrat dan setelah semua hasrat terpenuhi maka janji dan semua kata-kata yang manis berubah menjadi kebohongan yang menyisahkan kebencian dan permusuhan.  Salah satu pernyataan Tuhan yang paling mengejutkan bahwa sebenarnya hampir tidak mungkin bagi seorang kaya untuk masuk kerajaan surga karena tidak sedikit mereka yang mengejar kekayaan jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (ayat 10). Tujuan dan kepuasan orang yang mengejar kekayaan akan berpusat pada hal mementingkan diri dan hasratnya oleh harta dan kekayaan dan tidak lagi berpusat pada Allah.

Doa : Kami membutuhkan kekayaan sejati yang hanya datang dari-Mu Tuhan, tolong kami agar mampu menebarkan kasih dengan tidak mengabaikan iman  yang menyelamatkan kami agar kehidupan rohani kami indah di mata-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JULI 2022, LPJ-GPM