Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 November 2022

Tema Bulanan : Meningkatkan Dan Memelihara Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hidup Kudus di Hadapan Tuhan

Minggu, 13 November 2022                            

bacaan : Mazmur 15 : 1 – 5

Siapa yang boleh datang kepada TUHAN?
Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? 2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, 3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; 4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; 5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Hiduplah Dalam Kekudusan

Tuhan, siapakah yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? dan diam di gunung-Mu yang kudus? Pertanyaan ini berdasar pada temuan pemazmur terhadap cara hidup orang Israel. Mereka tidak lagi hidup benar di hadapan Allah. Pertanyaan ini dikemukakan secara reflektif dan dimaksudkan sebagai upaya penyadaran. Umat Israel haruslah menyadari kesalahan, mohon pengampunan, bertobat dan hidup berkenan pada Allah. Kemah Allah atau Bait Allah adalah tempat yang dikuduskan dalam tradisi bangsa israel dan oleh karena itu mereka yang ingin datang ke sana haruslah kudus. Hidup umat Allah harus dicirikan dengan berlaku adil, mengatakan kebenaran, tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat terhadap sesama, dan tidak mengambil untung dari orang lain. Pemazmur sesungguhnya sedang mendaftarkan cara orang menaati Tuhan. Semua perbuatan ini didasarkan pada hukum Taurat.  Cara-cara ini diperintahkan Tuhan untuk dilakukan umat-Nya demi keadilan dan mencegah terjadinya kemiskinan. Hidup sebagai umat Tuhan haruslah kudus dan kuat atau tidak goyah. Kudus berarti “dipisahkan” atau “disendirikan”. Maksudnya, hidup umat Allah itu sesungguhnya berbeda atau tidak sama dengan mereka yang lain sekalipun berada secara bersama-sama. Kudus menjadi tanda atau ciri pembeda yang membedakan umat Tuhan dengan mereka yang tidak seiman. Jadi sebenarnya hidup dalam kekudusan merupakan panggilan dan proses yang dilalui dengan usaha bersungguh-sungguh. Hidup umat Tuhan sejatinya diorientasikan atau diarahkan pada ketercapaian keadaan menjadi kuat. Persekutuan umat yang kudus harus kuat baik secara iman, sosial maupun ekonomi. Hidup yang kudus ditandai dengan ciri, menaati Tuhan, tak ada pertikaian dan cukup ekonomi.

Doa: Ya Tuhan, layakanlah kami untuk hidup dalam kekudusan. Amin.  

Senin, 14 November 2022                             

bacaan : Bilangan 16 : 1 – 7

Pemberontakan Korah, Datan dan Abiram
Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang 2 untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. 3 Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?" 4 Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia. 5 Dan ia berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya: "Besok pagi TUHAN akan memberitahukan, siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat kepada-Nya. 6 Perbuatlah begini: ambillah perbaraan-perbaraan, hai Korah, dan kamu segenap kumpulannya, 7 bubuhlah api ke dalamnya dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus. Cukuplah itu, hai orang-orang Lewi!"

 Hindarilah Menyelesaikan Masalah Dengan Kekerasan

Pemberontakan biasanya lahir dari ketidakpuasan. Korah dan orang-orang Lewi lainnya yang bukan keluarga Harun tidak boleh melakukan kewajiban imam (3:1-10). Mereka memberontak karena ingin memiliki hak khusus imam seperti yang dimiliki anak-anak Harun. Datan, Abiram dan On ketiganya berasal dari suku Ruben. Mereka percaya bahwa semua orang Israel adalah orang kudus (ay.3) dan pantas memiliki hak khusus imam. Rasa tidak puas menyebabkan mereka bersama dengan 250 orang lainnya memberontak kepada Musa dan Harun. Mereka bahkan memfitnah dengan mengatakan bahwa Musa dan Harun meninggikan diri, padahal motif pemberontakan sesungguhnya adalah karena iri hati dan dengki. Apa yang dilakukan oleh Korah, Datan dan Abiram bukanlah sebuah perbuatan yang terpuji. Mereka tidak mampu menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Melakukan hal hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan hanya karena ambisi dan kepentingan diri sendiri. Selain itu, memfitnah orang lain untuk membenarkan diri adalah hal yang tidak pantas untuk dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Tuhan tidak menginginkan kita untuk hidup seperti itu. Terkadang tanpa sadar kita pun bisa jadi seperti Korah, Datan dan Abiram, memberontak kepada Allah dan tidak menjaga kekudusan hidup dihadapan-Nya. Kita memelihara sikap iri hati dan dengki bahkan memfitnah orang hanya untuk kepentingan pribadi. Pesan nas hari ini mengingatkan kita untuk tetap memelihara kekudusan di hadapan Tuhan sehingga berkat-Nya senantiasa mengalir dalam kehidupan dengan limpahnya. Hiduplah kudus dan hindarilah menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan.  

Doa:  Tuhan ajarkanlah kami untuk tetap menjaga kekudusan hidup melalui tutur kata dan perbuatan yang bermakna, Amin.

Selasa, 15 November 2022                              

bacaan : Imamat 20 : 1 – 7

Kudusnya umat TUHAN
TUHAN berfirman kepada Musa: 2 "Engkau harus berkata kepada orang Israel: Setiap orang, baik dari antara orang Israel maupun dari antara orang asing yang tinggal di tengah-tengah orang Israel, yang menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, pastilah ia dihukum mati, yakni rakyat negeri harus melontari dia dengan batu. 3 Aku sendiri akan menentang orang itu dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya, karena ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, dengan maksud menajiskan tempat kudus-Ku dan melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus. 4 Tetapi jikalau rakyat negeri menutup mata terhadap orang itu, ketika ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, dan tidak menghukum dia mati, 5 maka Aku sendiri akan menentang orang itu serta kaumnya dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya dan semua orang yang turut berzinah mengikuti dia, yakni berzinah dengan menyembah Molokh. 6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. 7 Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

Kuduskanlah Dirimu

Bangsa Israel adalah umat Allah yang kudus dan kekudusan haruslah diwujudkan dalam hidup mereka. Sejumlah hukum dan hukuman diberikan agar sebagai umat Allah bangsa Israel tetap setia. Umat Allah harus mematuhi hukum agar mereka terlindungi dan berbeda dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Hukum bukanlah seperangkat aturan yang kaku, menekan dan membebani karena bermakna melindungi, membedakan atau menjadi identitas, dan alat kontrol diri. Hukum melindungi umat Allah dari kebinasaan atau hukuman karena terjatuh ke dalam pencobaan dan melakukan tindakkan yang tidak dikehendaki Tuhan. Tuhan tidak pernah menghendaki umat Israel untuk menyembah dewa Molokh. Orang kudus tak pernah berpaling untuk menyembah Allah lain, kecuali Dia di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Kuasa-Nya melebihi kuasa apapun yang ada di dunia misalnya, dukun, orang barobat, orang cari tahu, suanggi atau kuasa kegelapan. Ingatlah bahwa semua orang yang berpaling untuk menyembah kuasa lain selain kuasa Allah pasti binasa. Kuduskanlah dirimu dan jadilah berbeda dengan dunia ini dengan cara tetap menyembah Allah di dalam Kristus dan Roh Kudus. Dia-lah Tuhan pencipta dan pemelihara yang menghendaki agar umat-Nya hidup dalam ketaatan. Camkanlah pula bahwa setiap tindakkan yang dilakukan pasti ada dampaknya. Perbuatan baik mendatangkan berkat sedangkan yang jahat mengakibatkan hidup mengalami malapetaka dan kebinasaan. Ujilah segala sesuatu dan pilihlah yang berkenan pada Tuhan. Semua hal yang berkenan pada Tuhan diberkati-Nya. Mereka yang diberkati menjadi berbeda dengan orang lain. Kuduskanlah dirimu sebab Tuhan Allah kita adalah kudus.

Doa:  Ya Tuhan, ajarkanlah kami untuk menjaga kekudusan hidup. Amin.  

Rabu, 16 November 2022                                     

bacaan : 2 Korintus 7 : 1

Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

Janji Tuhan dan Hidup Kudus

Teks hari ini dimulai dengan paparan Paulus tentang peringatan kepada jemaat di Korintus bahwa mereka telah memiliki janji-janji Tuhan. Janji yang pertama adalah sebagaimana tersebut dalam pasal 6:16. “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Janji kedua disebutkan dalam pasal 6:18. “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan.” Kosekuensinya adalah jemaat di Korintus harus menyucikan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohaniagar sempurnalah kekudusan mereka dalam takut akan Tuhan. Tuhan telah menepati janji-Nya, hadir dan menyertai umat-Nya serta menjadi Bapa bagi mereka yang percaya. Hidup kita berlangsung dengan, bersama dan di dalam Tuhan. Kita tak lagi hidup untuk diri sendiri. Hal ini berarti pula bahwa hidup yang kita jalani adalah tanda kehadiran Tuhan. Oleh sebab itu semua kecemaran baik jasmani atau rohani tidak boleh menodai hidup orang Kristen. Selain itu kita tak boleh hidup seakan Allah tiada, sehingga bebas melakukan apapun semau diri sendiri. Bersama Allah kita tenang, tak lagi ragu, kuatir atau bimbang. Dia-lah Bapa yang peduli dan sayang kepada kita anak-anak-Nya. Kita menjalani keberadaan karena kasih sayang Tuhan. Marilah buang kebencian, iri hati, keserakahan, kekerasan, fitnaan, dan  cacian. Sempurnakanlah keudusan dalam takut akan Allah. Kita telah menerima janji Allah, maka teruslah hidup dalam kekudusan. Berhentilah membenci dan mulailah mencintai. Berhentilah mencaci dan mulailah menghargai.  Berhentilah iri hati dan mulailah mensyukuri. Orang-orang yang telah menerima janji Tuhan hidupnya suci dan sempurna kekudusannya dalam takut akan Allah. Tuhan yang adalah Bapa, menyertai dan memberkati kita anak-anak-Nya.

Doa:  Ya, Roh Kudus tuntunlah kami untuk tetap menjaga kekudusan hidup dalam takut akan Allah. Amin.

Kamis, 17 November 2022                        

bacaan : 1 Korintus 3 : 16 – 17

16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Tubuh Menjadi Kudus Karena Roh Allah

Teks hari ini diawali dengan pertanyaan: tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Pertanyaan ini menegaskan cara pandang Paulus yang reflektif dan dinamis. Makna bait Allah sebagai tempat Allah hadir di tengah-tengah bangsa Israel (Hab.2:20) diartikan secara baru. Paulus berpandangan bahwa Allah hidup dalam diri orang-orang Korintus, karena Ia telah memberikan Roh Kudus kepada mereka. Setiap orang dari mereka adalah kudus, seperti Bait Allah dahulu juga kudus karena kehadiran Allah di dalamnya. Gagasan teologi Paulus ini penting, kekudusan sesuatu atau seseorang terjadi karena kehadiran Allah yang adalah Roh. Allah hadir dalam diri setiap orang percaya dan menjadikan mereka kudus. Bila tubuh seseorang adalah bait Allah, maka keberadaannya adalah tanda kehadiran Allah pula. Sama seperti bait Allah itu adalah tempat berdoa dan beribadah, demikian pula diri setiap orang percaya. Di mana orang percaya berada di situ pula Allah hadir. Orang percaya menjadi kudus karena Roh Allah hadir di dalam dirinya. Kita perlu secara terus menerus menyadari bahwa diri atau tubuh setiap orang percaya sangat berharga bagi Allah. Kehilangan kesadaran tentang berharganya diri kita bagi Allah mengakibatkan dilakukannya tindakkan kecemaran. Allah tidak saja hadir di tengah-tengah umat-Nya tetapi dalam diri setiap orang percaya. Ia hadir dengan kuasa, kasih, pertolongan, penghiburan dan berkat-Nya. Allah bukan saja hadir di antara atau bersama umat-Nya, tapi dalam diri kita masing-masing. Jadilah kuat dan tenang serta hadapilah hidup ini dengan apa pun kenyataannya. Kita tidak hidup sendiri tetapi bersama-sama dengan Roh Allah. Tuntunan-Nya menguatkan dan menghibur serta meluputkan dari mara bahaya. Ingatlah bahwa kita adalah ciptaan Allah yang sangat baik. Semua hal yang baik dalam kehidupan manusia dimulai dari diri setiap orang percaya yang tetap memelihara kekudusan.

Doa: Ya Roh Kudus, tetaplah bersemayam di hidup kami. Amin.

Jumat, 18 November 2022                               

bacaan : Kolose 1 : 21 – 23

21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, 22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. 23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Menjadi Kudus Karena Didamaikan Kristus

Saulus adalah pribadi yang sangat membenci Allah. Kebenciannya tergambar ketika pada suatu masa banyak melakukan aksi kekerasan dan pembunuhan bagi orang Kristen. Namun, Perilaku kekerasan itu didamaikan oleh Allah ketika Saulus berjalan menuju kota Damsyik. Proses pertobatan ini kemudian membuat Saulus bertobat serta menggantikan namanya menjadi Paulus. Hal ini dilakukan oleh Allah dengan tujuan, agar Paulus memiliki hidup kudus di hadapan-Nya, dan menjadi saksi Kerajaan Allah bagi dunia. Proses kehidupan sebagai Paulus dijalani dengan takut akan Allah, meskipun banyak peristiwa yang terjadi dan membuat ia terpuruk semasa pelayanannya bagi Kristus. Pesan ini, berdasar pada bacaan kita dimana Paulus menggambarkan pribadinya sendiri yang dahulu hidup jauh dari Allah, memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran, kini didamaikan melalui tubuh jasmani Kristus dalam kematian. Bersama dengan jemaat di Kolose, kita sebagai orang Kristen masa kini sesungguhnya diperingatkan Paulus untuk tidak hidup menurut dunia yakni berbuat dosa. Kita terpanggil untuk menjalani hidup dengan kesadaran diri, bahwa kenikmatan dunia bukanlah segalanya, tetapi Kristus. Nas hari ini menjadi peringatan agar kita  teguh dalam Iman dan tetap berjalan pada pengharapan Injil. Injil Kristus-lah yang menuntun kita untuk terus memahami, bahwa hidup yang dipenuhi dengan dosa telah diperdamaikan melalui tubuh jasmani Kristus dalam kematian-Nya.  Kristus menempatkan dan mengubah perilaku kita yang bercela serta bercacat menjadi lebih baik atau kudus di hadapan Allah. Kita yang dahulu jauh dari Allah karena perbuatan yang jahat sekarang menjadi dekat sebab telah didamaikan Kristus. Bersihkanlah hati dan pikiran dari sikap dan keinginan permusuhan. Hiduplah dalam cinta kasih, pengampunan dan damai dengan semua orang.  Bersyukurlah senantiasa, sebab hidup kita yang cemar telah didamaikan dan dikuduskan oleh-Nya.

Doa: Bapa bantulah kami untuk menjaga kedamaian hidup. Amin.

Sabtu, 19 November 2022                       

bacaan : 1 Tawarikh 15 : 11 – 14

11 Lalu Daud memanggil Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dan orang-orang Lewi, yakni Uriel, Asaya, Yoel, Semaya, Eliel dan Aminadab, 12 dan berkata kepada mereka: "Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, kuduskanlah dirimu, kamu ini dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel, ke tempat yang telah kusiapkan untuk itu. 13 Sebab oleh karena pada pertama kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya." 14 Jadi para imam dan orang-orang Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel.

Diri Kudus, Allah Dimuliakan

Teks ini menyaksikan bahwa akta menguduskan diri berkaitan dengan pelaksanaan peribadatan. Orang yang diizinkan untuk beribadat kepada Allah adalah “orang kudus” atau “orang tahir”. Seseorang menjadi najis karena menderita penyakit tertentu, melanggar aturan, menyentuh mayat dan karena itu tidak diizinkan beribadat kepada Allah. Orang yang telah najis harus ditahirkan dengan cara mempersembahkan kurban, membasuh diri, dan tidak berhubungan seks. Paham “najis tahir” inilah yang menjadi pegangan bagi Daud untuk memerintahkan para Imam dan orang Lewi  melaksanakan akta menguduskan diri. Akta menguduskan diri harus mereka lakukan sebelum melangsungkkan pemindahan tabut Tuhan, Allah Israel. Tabut Allah ini berisikan dua loh batu yang diterima oleh Musa di gunung Sinai. Daud pahan bahwa proses menguduskan diri dan kehadiran orang Lewi sangatlah penting. Merekalah yang dipilih Allah untuk mengangkat tabut dan menyelenggarakannya sampai selama-lamanya (lihat ayat 2 dan 13). Paham tentang menguduskan diri bermakna bagi kita sehubungan dengan kesadaran tentang kehadiran Allah, sikap memuliahan Allah dan akta peribadatan. Kesalahan dapat saja kita lakukan selama melakoni aktifitas dalam keseharian hidup. Sadar dan mengakui kesalahan serta mohon pengampunan Tuhan perlu dilangsungkan dengan sungguh-sungguh. Belajar dari kehidupan untuk memperbaiki kesalahan membuka kemungkinan menjalani hidup beriman dengan lebih baik lagi. Kualitas hidup beriman harus terus dipelihara dan ditumbuhkan. Hidup beriman ditandai baik oleh kekudusan diri, meyakini kehadiran Tuhan, gemar beribadat maupun memuliakan Dia dalam segala hal. Mari berusaha melakukan hal apa pun dalam kekudusan atau dengan tidak melakukan kesalahan, menyadari bahwa Tuhan ada bersama kita serta menjalani keberadaan seumpama sedang beribadat agar segala sesuatu menjadi kemuliaan bagi Dia.

Doa: Ya Bapa, biarlah hidup ini tetap kudus di hadapan-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOV 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 6-12 November 2022

Tema Bulanan : Meningkatkan Dan Memelihara Kualitas Hidup

Tema Mingguan : ” Hidup Saling Melayani “

Minggu, 06 November 2022                         

bacaan : Matius 25 : 31 – 46

Penghakiman terakhir
31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Layanilah Seorang Akan yang Lain

Melayani, melayani lebih sungguh. melayani, melayani lebih sungguh. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani, melayani lebih sungguh. Sepenggal bait lagu melayani ini mengingatkan bahwa Tuhan sendiri telah melayani kita dengan memberi diri-Nya disalibkan dan mati untuk menebus dosa manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita melayani Tuhan dan membalas segala kebaikann-Nya bagi kita sebagai orang-orang yang di kasihi-Nya? Serta mampukah kita melakukannya lewat tingkahlaku dan perbuatan? Bacaan kita Matius 25:31-46 mengatakan bahwa pada saatnya, Ketika Anak Manusia  datang dalam kemuliaan-Nya maka, semua bangsa akan dikumpulkan dan mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang dilakukan selama berada di dunia ini. Siapa yang berbuat baik ia akan disebut anak-anak domba dan yang tidak melakukan kebaikan akan dikelompokkan sebagai anak-anak kambing Keduanya akan dipisahkan satu dari yang lainnya. Domba akan menjadi kesayangan dan diberi tempat yang layak bersama dengan gembala-Nya. Sedangkan kambing akan dibinasakan karena perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Hal ini berkaitan dengan sepenggal bait melayani tadi, bahwa Tuhan sendiri mengatakan perbuatan-perbuatan baik yang kamu lakukan dengan melayani sesamamu itu berarti kamu telah melakukannya bagi-Ku. Maka melayanilah seorang akan yang lain, melalui perbuatan-perbuatan baik, kapan dimana saja serta dalam keadaan bagaimanapun. Memperlakukan orang lain dengan kasih, saling berbagi dan menolong sebagai sesama. Semua hal yang dilakukan kepada sesama memiliki kesamaan arti dengan melakukan bagi Tuhan. Yakinlah bahwa ketika hari penghakiman tiba, kita akan menjadi domba-domba yang dipisahkan dari kambing dan akan bersama-sama dengan Tuhan di dalam tempat yang telah disediakan-Nya.      

Doa: Tuhan mampukan kami untuk saling melayani sebagai sesama. Amin.

Senin, 07 November 2022                                

bacaan : Roma 14 : 17 – 18

17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

Mewujudkan Sikap dan Perilaku yang Benar

Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Sebuah pilihan yang yang mudah untuk diucapkan namun tidak demikian dalam pelaksanaannya. Semoga tak berkelebihan bila dikatakan bahwa ada sebagian orang yang agaknya memilih hidup untuk makan dan bukannya makan untuk hidup. Mereka  yang memilih hidup untuk makan dapat saja disebabkan baik oleh kemalasan, masa bodoh ataupun karena kelebihan materi. Sedangkan orang yang makan untuk hidup adalah mereka yang hidupnya digerakkan oleh prinsip kecukupan, perjuangan dan kemanfaatan. Mereka yang  berkekurangan ada pula yang memiliki prinsip makan untuk hidup, sehingga  harus bekerja keras agar bisa makan dan minum. Makanan diperlukan agar tetap bertahan hidup dan berjuang. Jangankan makanan enak makan apa adanya saja sudah bersyukur. Bacaan kita hari ini Roma 14:17-18,  mengatakan bahwa perihal kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minum melainkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Sebab barang siapa yang melayani Kristus dengan cara ini ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia. Bagian Firman ini mengingatkan kita bahwa persoalan masuk ke dalam kerajaan Allah adalah bukan persoalan siapa yang dapat makan dan minum atau tidak mendapatkannya. Namun persoalannya adalah bagaimana kita mewujudkan sikap dan perilaku yang benar, yang menghadirkan damai sejahtera bagi orang lain melalui tuntunan Roh Kudus. Dengan demikian kita telah melayani Kristus sendiri dengan segala perbuatan baik yang dilakukan untuk sesama. Perbuatan-perbuatan baik itulah yang akan membawa kita kepada hidup yang kekal bersama Kristus dalam kerajaan-Nya yang kekal. Makanan dan minuman diperlukan manusia dan oleh sebab itu haruslah diusahakan dan dimanfaatkan dengan kebenaran. Usahakanlah hal apapun dan memanfaatkannya dengan cara yang benar agar damai sejahtera serta sukacita dialami serta dihormati manusia juga berkenan pada Allah.  

Doa: Tuhan tolonglah kami untuk mewujudkan hidup yang benar. Amin.

Selasa, 08 November 2022                       

bacaan : 1 Raja-Raja 17 : 7 – 16

Elia dan janda di Sarfat
7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. 8 Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: 9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." 12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." 13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. 14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Memberi Dari Kekurangan

Memberi dari kekurangan adalah tindakkan iman yang tidak banyak dari kita sebagai orang percaya mampu melakukannya. Keadaanlah yang membentuk seseorang berpikir dua kali untuk memberi dari kekurangannya bagi orang lain.”Kalo beta kasih par dia lalu nanti beta deng beta ana-ana makang apa?”. Hal ini berbeda dengan cerita seorang janda di Sarfat. Ia mampu memberi dari kekurangan kepada orang asing yang baru saja ditemuinya. Janda ini berani mengambil risiko dengan memberi makan kepada Elia karena ia mempercayai perkataan sang nabi. Sedikit tepung dan minyak yang masih dimilikinya tidak akan habis. Ketersediaan tepung dan minyak yang tinggal sedikit menjadi permulaan baru. Tuhan menjamin kelangsungan hidup mereka. Tak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Segenggam tepung dan sedikit minyak di buli-buli yang hanya dapat menjamin hidup mereka sampai besok saja ternyata rela dibagikannya. Janda ini memberi dari kekurangan karena ia percaya pada perkataan Tuhan. Memberi tak akan berakibat pada habisnya sedikit yang masih tersisa, justeru sebaliknya. Memberi mengubah yang sedikit menjadi tak kehabisan. Janda ini percaya bahwa hidup mereka tidaklah ditentukan oleh tepung dan minyak yang masih tersisa sedikit atau harta benda yang dimiliki. Kemurahan Tuhan-lah yang menentukan kelanngsungan hidup di dunia ini. Mereka yang bergantung pada kemurahan Tuhan tak pernah enggan memberi walau ajal sudah menjelang. Memberi dari kekurangan mengubah ancaman kematian menjadi peluang kehidupan. Tak berkesudahan kemurahan Tuhan bagi semua orang yang rela memberi dari apa adanya. Berusahalah untuk memberi dari apa adanya, saat “banyak” ataupun “sedikit”.

Doa: Tuhan mempukan kami memberi dari kekurangan. Amin.

Rabu, 09 November 2022                    

bacaan : 1 Raja – Raja 17 : 17 – 24

Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.
Kata perempuan itu kepada Elia: "Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?"
Kata Elia kepadanya: "Berikanlah anakmu itu kepadaku." Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.
Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?"
Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya."
TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.
Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: "Ini anakmu, ia sudah hidup!"
Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: "Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar."

Tak Berkesudahan Kuasa dan Kemurahan Tuhan

Cerita tentang janda di Sarfat terus berlanjut. Kuasa dan kemurahan Tuhan dinyatakan bukan saja melalui kisah ketersediaan makanan yang tidak habis, tetapi juga saat Elia menghidupkan anak janda Sarfat yang telah meninggal. Masalah kekurangan makanan yang digumuli janda ini sudah teratasi tetapi ia harus berhadapan lagi dengan kenyataan anaknya sakit bahkan meninggal.  Silih berganti masalah hadir dan mengguncang hidup perempuan janda ini dengan hebatnya. Kelaparan sudah diatasi tetapi kematian anaknya tak mampu dihindari. Ia mengeluh dan bertanya serta mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya, tapi tak berdaya mengatasi kemelut hidup. Kematian sudah merenggut hidup anak satu-satunya. Saat hidupnya berguncang, Allah hadir untuk menyatakan kuasa dan kemurahan-Nya. Kelaparan, penyakit bahkan kematian tidaklah membuat berakhir kuasa dan kemurahan Tuhan. Elia mengambil anak yang telah meninggal itu dari pangkuan ibunya. Tindakkan kenabian ini melambangkan kepedulian dan kerelaan Allah untuk mengambil alih derita dan gumulan dari manusia yang sudah tak berdaya lagi. Dia-lah Tuhan Allah kita yang berkuasa atas hidup dan mati. Ia senantiasa bekerja menyatakan kuasa dan kemurahan-Nya dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan-lah pemilik hidup yang berkuasa menghidupkan walau sudah mati. Percaya dan berharaplah pada Dia, Tuhan yang berkuasa mengatasi kelaparan, menyembuhkan penyakit bahkan menghidupkan walau sudah mati. Bergantunglah pada-Nya sebab orang mati saja dapat hidup kembali apalagi yang masih hidup.  Kuasa dan kemurahan-Nya tak berkesudahan bagi mereka yang percaya dan hidup saling memberi.

Doa: Kiranya kuasa dan kemurahan-Mu selalu menghidupi kami. Amin.

Kamis, 10 November 2022                         

bacaan : 2 Raja – Raja 5 : 1 – 7

Naaman disembuhkan
Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. 2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. 3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya." 4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu." 5 Maka jawab raja Aram: "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. 6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya." 7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku."

Alat Kecil di Tangan Tuhan

Kita sering menilai orang dari pekerjaan yang mereka lakukan entah itu sebagai tukang ojek, penyapu jalan, tukang becak, pembantu rumah tangga, pelayan restoran dan masih banyak lagi. Seolah-oleh mereka adalah orang-orang kecil yang tidak perlu kita hargai. Padahal pekerjaan yang mereka kerjakan adalah pekerjaan mulia yang berdampak bagi kehidupan kita. Kisah Naaman seorang panglima perang yang sangat dipercaya oleh tuannya mengalami sakit kusta yang sangat parah. Istri Naaman memiliki seorang pelayan wanita yang merupakan tawanan dari Israel. Pelayan wanita ini berkata kepada nyonyanya agar membawa Naaman menghadap seorang nabi di Samaria untuk disembuhkan. Saran dari pelayan kecil ini ditanggapi oleh nyonyanya dengan memberi tahu kepada Naaman suaminya. Naaman menghadap raja dan memberi tahu apa yang disampaikan pelayannya itu. Raja menyetujui hal tersebut dan menyuruh Naaman segera pergi ke sana. Apa yang mau kita pelajari dari kisah ini adalah bukan pada Naaman dan raja Aram, tetapi pada pelayan perempuan dari istri Naaman yang ditawan itu. Meskipun dalam penderitaannya ditawan dan dijadikan sebagai pelayan, ia tetap melayani tuannya dengan hati yang bersih. Begitulah sebaiknya hidup ini, dalam kesesakan kita tidak boleh putus asa apalagi membalas kejahatan dengan kejahatan, Jika tetap setia dan percaya kepada Tuhan maka Ia akan memakai kita sebagai alat-Nya untuk mengerjakan kebaikan. Semua orang berharga dan berkenan pada Tuhan sebab Ia tak pernah pilih kasih. Ia terus berkarya untuk mendatangkan kebaikan dan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya. Bersyukurlah dan jadilah berarti bagi orang lain.

Doa: Pakailah kami menjadi alat kecil di tangan-Mu Tuhan. Amin.

Jumat, 11 November 2022                     

bacaan : 2 Raja – Raja 4 : 42 – 44

Memberi makan seratus orang
42 Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: "Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan." 43 Tetapi pelayannya itu berkata: "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" Jawabnya: "Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya." 44 Lalu dihidangkannyalah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN.

Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan pasti tidak asing dalam ingatan kita. Nas hari ini juga mengisahkan cerita yang mirip dengannya. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul memberi makan seratus orang untuk menyebut kisah ini. Dua puluh roti jelai serta gandum baru cukup untuk memberi makan seratus orang bahkan ada sisanya. Ketika itu bangsa Israel sedang mengalami kesulitan seperti penyakit, kelaparan, dan kematian. Allah menunjukkan kuasa dan kasih-Nya bagi bangsa Israel yang sedang mengalami keterguncangan hidup    melalui nabi Elisa. Kebutuhan makanan yang sebelumnya tidak mencukupi menjadi tercukupi bahkan lebih atau ada sisanya. Dua puluh banding seratus menurut pandangan manusia adalah kekurangan. Namun, dua puluh banding seratus dalam karya Allah adalah lebih dari cukup bahkan berlimpah limpah. Keyakinan Elisa terhadap kemahakuasaan Tuhan layak diteladani, Terkadang saat berhadapan dengan kesulitan, kita menjadi orang percaya yang meragukan kemahakuasaan Allah. Melayani orang lain dengan cara memenuhi kebutuhan makan mereka merupakan tindakkan kenabian. Masa hidup yang sulit menyediakan peluang bagi orang untuk mengalami rahmat Allah. Rahmat Allah terkadang tak dapat dialami karena terhalang keraguan dan oleh sebab itu kita perlu menumbuhkan kepercayaan. Percayalah bahwa pertolongan Tuhan pasti dialami saat kita berada di batas kemampuan. Kita terbatas dalam kemampuan, sehingga hanya kepada Allah pengharapan dan permohonan ditujukan. Jalanilah hidup dengan keteguhan percaya dan hadapilah apa pun kenyataannya. Kita dapat saja hidup dengan kekurangan materi namun janganlah kehingan percaya kepada Allah sumber berkat.

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk yakin akan kuasa kasih-Mu. Amin.

Sabtu, 12 November 2022                            

bacaan : 1 Petrus  4 : 7 – 11

Hidup orang Kristen
7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. 8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. 9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. 10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Melayani Sampai Akhir

Melayani dipahami dan disebut penulis surat 1 Petrus sebagai tindakkan yang mencirikan hidup orang Kristen. Orang Kristen terpanggil untuk melayani sampai akhir hidupnya (ay.7). Tindakkan melayani dilakukan sebagai suatu keutamaan Kekristenan dalam kaitannya dengan hal menguasai diri, menjadi tenang dan berdoa. Hidup orang Kristen tak boleh dikuasai oleh keinginan yang berlebihan atau “liar”, nafsu, amarah, dan kejahatan. Mohonlah Roh Kudus untuk memberdayakan kita menguasai diri. Biarlah Roh Kudus yang menguasai dan mengatur seluruh keberadaan kita. Tanpa kuasa Roh Kudus, hidup akan diombang-ambingkan saat mengalami berbagai tantangan dan cobaan. Peliharalah ketenangan hidup terutama batin supaya karena hal itu kita dapat terus berdoa. Hidup orang Kristen menjadi utuh dan berkenan pada Tuhan bila dijalani dengan penguasaan diri, tenang, berdoa dan melayani karena kasih. Akta melayani dalam hidup Kekristenan berdasar pada kasih Kristus. Kasih Kristus-lah yang menggerakkan Kekristenan dan karenanya kita menjadi bersungguh-sungguh melayani seorang akan yang lain. Kita tidak melayani agar dilayani atau mencari nama dan memperoleh untung. Akta melayani adalah panggilan yang tidak dibatasi kepentingan, waktu dan tempat atau keadaan karena berlangsung selama kita masih menjalani hidup. Melayani karena mengasihi menutupi banyak sekali dosa dan harus diwujudkan secara konkrit. Memberi tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut dan berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah. Buanglah dusta dan berkatalah dengan jujur serta benar. Jalanilah hidup sebagai kesempatan melayani dan bagi Dia-lah kemuliaan selama-lamanya.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami menjadi pelayan-Mu yang setia, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN NOV 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 30 Okt – 5 Nov 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hidup Dalam Kasih dan Damai

Minggu, 30 Oktober 2022                              

bacaan : 1 Petrus 3 : 8 – 12

Kasih dan damai
8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, 9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: 10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. 11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. 12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Karakter Orang Benar

Setiap orang diciptakan dengan karakter yang berbeda. Karakter membuat seseorang mudah dikenal dan diingat, karena pada dirinya ada ciri khas. Orang Kristen pun memiliki acuan karakter atau ciri khas yang membuat mudah dikenali dan sekaligus membedakan kita dengan dunia. Berdasarkan perikop ini, setidaknya Paulus menegaskan beberapa ciri atau karakter yang mestinya dimiliki oleh kita semua sebagai orang percaya. Karakter atau ciri itu adalah hal-hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan namun seringkali terhalang oleh ego kita. Paulus secara khusus memberikan gambaran tentang ciri atau karakter orang Kristen yang sesuai dengan kebenaran Allah. Karakter utama orang yang benar ialah kasih. Kasih menjadi bahasa dan ciri utama seorang Kristen yang benar. Kasih mesti terwujud dalam cara hidup orang Kristen setiap hari. Bukan hanya tentang bagaimana harus bersikap atas pribadinya tetapi juga mengenai berelasi dengan orang lain. Mengasihi dan menyayangi saudara, khususnya yang seimanpun ada kalanya sulit terwujud. Sikap acuh tak acuh dan kurang peduli menjadi penyebab pudarnya kasih kepada sesama kita. Rendah hati seharusnya menjadi salah satu ciri khas kita sebagai orang Kristen. Namun mungkin berbenturan dengan tingginya status yang dimiliki. Kita sulit untuk memposisikan diri seperti Yesus yang tidak menjadikan status-Nya sebagai alasan untuk kesombongan atau keangkuhan. Pengampunan juga kadang sulit kita terapkan ketika sesama  melakukan yang tidak baik bagi kita. Namun selama Tuhan yang menjadi andalan kita, maka kita pasti mampu menerapkannya.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkanlah kami dalam perjuangan untuk mampu menjadi orang benar di hadapan-Mu. Amin.

Senin, 31 Oktober 2022                             

bacaan : Yohanes 13 : 31 – 35

Perintah baru
31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. 32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. 33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. 34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Perintah Untuk Saling Mengasihi

Pendeta Eka Darmaputera (alm), seorang pendeta dan teolog Indonesia mengatakan: bukan apa yang kita pikirkan, tetapi apa yang kita lakukan. Bukan apa yang kita rumuskan, tetapi apa yang kita laksanakan. Bukan oleh teori yang hebat, tetapi oleh praktek. Di situlah wajah kita dilihat orang. Kasih adalah sebuah tindakkan nyata, yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh dunia yang ada di sekeliling kita. Sebuah sikap/perbuatan tanpa kemunafikan, tetapi ketulusan dan kejujuran. Sikap dan hidup yang seperti inilah yang sedang dicari oleh manusia dan dunia. Tindakan dan perbuatan hidup seperti itulah yang dinanti-nantikan oleh manusia. Namun banyak orang berkata, “Aku akan mengasihi kamu jika kamu mengasihiku.” Itulah prinsip kasih dunia: pengorbanan yang bersyarat. Kasih semacam itu bukanlah kasih sejati. Kasih pada hakikatnya adalah untuk diberikan. Kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi atau berbuat sesuatu. Allah telah memberikan bukti nyata bagaimana Dia mengasihi kita. Artinya kita menerima kasih-Nya terlebih dahulu baru kemudian mengasihi. Jadi kekristenan adalah kasih. Semua aktivitas yang kita lakukan dalam hidup harus berpusat pada kasih. Tanpa kasih semuanya sia-sia! Seperti kata Paulus, “…jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna…sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (1 Korintus 13:1-3). Sampai hari ini, kita perlu mengingat pesan penting yang disampaikan Kristus kepada murid-murid-Nya bahwa setiap kali kita menunjukkan kasih kepada sesama kita, kita sedang memperlihatkan Kristus kepada dunia. Teruslah saling mengasihi agar dunia tahu bahwa kita adalah murid Kristus.

Doa:  Tuhan, tolonglahlah kami supaya hidup saling mengasihi sama seperti Engkau telah mengasihi kami. Amin.

Selasa, 01 November 2022                              

bacaan : Roma 12 : 17 – 21

17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Balaslah Kejahatan Dengan Kasih dan Damai

Nelson Mandela adalah presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. Ia pernah dipenjarakan dan sering disiksa oleh seorang sipir bahkan digantung terbalik sambil dikencingi oleh petugas tersebut. Fakta hidup yang memprihatinan ini dialaminya saat belum terpilih menjadi presiden. Sesudah dibebaskan dan terpilih menjadi presiden, ia menyuruh ajudannya mencari sipir tersebut. Sipir itu ketakutan dan berpikir Mandela akan membalas dendam dengan menghukum balik. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata malah sebaliknya, dengan tulus Mandela justru mengasihi dan mengampuni sipir tersebut sambil berkata, ‘hal pertama yang ku lakukan ketika menjadi presiden adalah memaafkanmu.” Perlakuan buruk pernah juga dialami oleh umat Tuhan di Roma. Mereka hidup di antara orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Orang Kristen dibenci serta mengalami banyak penghambatan. Karena itu, Rasul Paulus dengan lembut mengingatkan orang-orang Kristen di Roma untuk tetap mengasihi dan hidup berdamai dengan mereka yang membenci kekristenan. Manusia tidak mempunyai hak untuk menghakimi sesamanya ataupun membalas kejahatan orang lain. Urusan pembalasan adalah hak Tuhan. Mengasihi dan hidup berdamai dengan orang yang melakukan kejahatan bukanlah hal yang mudah. Namun itulah tugas dan tanggung jawab orang percaya. Kebencian adalah salah satu wujud kejahatan, sehingga perlu dibalas  dengan kasih dan damai. Membalas kejahatan dengan kasih dan damai bermakna kebaikan, bukan kebodohan atau kekalahan. Allah telah lebih dahulu mengasihi dan mendamaikan kita. Kasih dan damai harus diwujudkan dalam kata dan tindakan di tengah keluarga, gereja dan masyarakat bahkan kepada mereka yang membenci kita. Sekalipun sulit, mintahlah Roh Kudus untuk menuntun dan menolong di dalam kelemahan agar dilayakkan   melakukan kehendak-Nya. Teruslah mengasihi dan hidup berdamai dengan semua orang, Tuhan memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu mengasihi walau dibenci. Amin.

Rabu, 02 November 2022                         

bacaan : 2 Korintus 13 : 11 – 13

Salam
11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! 12 Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. 13 (13-12b) Salam dari semua orang kudus kepada kamu. 14 (13-13) Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Hidup yang Berdamai

Marthin Luther King Junior adalah seorang pendeta dan pejuang kedamaian yang pernah mendapatkan nobel perdamaian. Pidatonya yang terkenal I have a dream menggambarkan sebuah harapan akan kehidupan yang penuh kedamaian serta setiap orang memiliki hak yang sama sebagai saudara. Paulus pun menutup suratnya yang terakhir sebelum kunjungannya yang ketiga kali di jemaat Korintus dengan salam dan beberapa nasihat serta berkat bagi Jemaat di sana. Nasihat disampaikannya untuk memotivasi jemaat di Korintus agar menjadi sempurna sebagai orang yang telah hidup dalam Kristus. Mereka harus tetap bersukacita dalam segala penderitaan ataupun penganiayaan karena Kristus dan bertumbuh bersama dalam kasih. Keutuhan jemaat harus dipelihara dengan cara berusaha agar tetap sehati dan sepikir di dalam Kristus serta hidup di dalam damai sejahtera. Cara demikian membuat mereka  terhindar dari perpecahan, perselisihan, iri hati ataupun kepentingan diri sendiri. Hubungan kasih di antara mereka tak boleh menjadi renggang. Allah pasti berkenan dan memberkati usaha mereka untuk memelihara hidup dalam kedamaian. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus adalah rumusan berkat yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus. Kita tentu tak dapat memungkiri bahwa dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan berjemaat pasti dijumpai adanya  perbedaan. Perbedaan haruslah dihadapi dan diselesaikan dengan sukacita (kepala dingin) agar terpelihara kasih persaudaraan. Kita juga diingatkan bahwa memelihara hubungan damai bukan saja berlangsung dalam komunitas Kristen tapi dimanapun orang percaya berada. Panggilan untuk menyatakan hidup yang penuh damai sejahtera berlangsung kapan dan di mana saja. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk melakukan panggilan ini. Namun Paulus kembali mengingatkan bahwa ketika kita melakukan apa yang dikehendaki Allah, maka penyertaan-Nya pasti dinyatakan.

Doa: Berikanlah kami sehati dan sepikir untuk hidup yang penuh damai. Amin.

Kamis, 03 November 2022                    

bacaan : 1 Tesalonika 5 : 12 – 13

Nasihat-nasihat
12 Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; 13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.

Topanglah Mereka yang Melayani

Hidup dalam kasih dan damai adalah salah satu nasihat yang disampaikan oleh Paulus sebagaimana tersebut dalam nas hari ini. Paulus mendorong orang-orang di Tesalonika untuk hidup dalam kehidupan yang seharusnya dilakukan oleh umat percaya dalam menanti kedatangan Tuhan. Ia meminta serta menunjukkan kewajiban bagi orang-orang percaya di Tesalonika untuk menghormati orang yang telah memimpin di dalam Tuhan, sebab mereka telah bekerja keras. Bekerja keras yang mengacu pada kerja yang dilakukan dengan penuh ketekunan dimana mereka melakukan semua hal dan mengorbankan waktu serta diri  sendiri. Mereka melayani serta menuntun umat untuk hidup berpadanan sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dalam Kristus (ay.9). Karena itu orang-orang percaya ditegur dengan penuh kasih jika kedapatan melakukan yang tidak tertib/benar. Sebab pemimpin yang bertanggung jawab tentu ia akan bersikap demikian. Bukan supaya untuk mencari kehormatan karena pelayanan ataupun kerja keras yang telah dilakukan. Namun supaya keutuhan jemaat dapat terpelihara dengan saling mendukung satu dengan yang lain agar Kristus dimuliakan dalam sikap dan tindakan mereka sehari-hari. Karenanya Paulus mengharapkan mereka supaya mendukung tugas dan panggilan para pemimpin mereka dengan penuh kasih sebagai orang-orang percaya untuk hidup selalu dalam damai seorang dengan yang lain. Keluarga yang baik dapat terwujud bila  pemimpinnya  baik dan anggotanya saling mendukung serta memeilhara hidup damai. Semua orang menghindari kekacauan yang dapat memecahkan kehidupan bersama.Setiap kita pun diberi tanggung jawab untuk mendukung aktifitas pelayanan yang berlangsung dalam kehidupan berjemaat. Hal lainnya adalah memeilihara hubungan baik di keluarga dan bermasyarakat dengan saling mendukung dalam kasih agar tercipta kehidupan yang harmonis, penuh damai.

Doa:  Tolong kami Tuhan, untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Amin.

Jumat, 04 November 2022                        

bacaan : 1 Korintus 13 : 1 – 13

Kasih
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. 3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. 4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. 9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. 10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. 13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Tanpa Kasih, Karunia pun Tak Bernilai

Umumnya dipahami bahwa di balik setiap tindakkan yang manusia lakukan, pasti terdapat motivasi dan tentu berbeda-beda adanya. Namun dalam kekristenan, setiap tindakkan harus didasari oleh motivasi yang sama yaitu kasih. Karenanya sejak kecil kita didorong dan diajarkan untuk selalu menunjukkan kasih, baik itu kepada orangtua, sekitar (alam), para sahabat, dan terutama untuk Tuhan. Kasih adalah sesuatu yang mutlak ada dalam kehidupan orang percaya. Kasih bukan hanya sekadar ciri kekristenan tetapi adalah jati diri orang Kristen. Mengapa demikian? Sebab Allah adalah kasih dan kasih-Nya itu telah diwujudnyatakan dalam Yesus Kristus dengan keteladanan yang patut dicontohi. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus menyangkut keberadaan mereka sebagai milik Kristus dan hidup dalam Kristus. Sehingga Paulus menekankan tentang kasih sebagai jati diri mereka. Sebab orang-orang di Korintus, selalu membanggakan karunia-karunia, iman, pengetahuan, serta amal/perbuatan baik yang mereka miliki. Paulus memperingatkan mereka bahwa tanpa kasih, maka karunia yang paling mulia sekalipun tidak akan ada nilainya. Sebab karunia yang diberikan oleh Allah adalah untuk membangun jemaat dan jika tanpa kasih maka semua yang mereka miliki hanyalah akan menghancurkan persekutuan jemaat. Kasih ibarat lem yang merekatkan, sebab  tanpanya rupa-rupa karunia akan berdiri sendiri hanya untuk kepentingan pribadi dan tak ada nilainya. Orang hanya akan menyombongkan atau membanggakan diri dengan karunia ataupun kebaikan yang ia lakukan. Kasih membuat orang percaya sadar bahwa apa yang ia miliki adalah karena Tuhan. Karena itu Paulus ingin mengingatkan kita bahwa semua talenta, karunia dan apapun yang dilakukan dalam hidup haruslah berlandaskan pada kasih. Bila kasih menjadi dasar segala hal, maka apapun yang kita lakukan dalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat pasti bermakna serta menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Doa: Tolong kami Tuhan, untuk hidup dalam kasih yang sejati. Amin.

Sabtu, 05 November 2022                                   

bacaan : Efesus 4 : 2 – 3

2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. 3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

Berpadanan Dengan Panggilan Kristus

Penerimaan seseorang untuk menjadi anggota persekutuan tertentu ditentukan oleh persyaratan yang berlaku. Misalkan saja gank-gank artis yang sedang menjamur yang dapat kita lihat di semua media sosial. Tidak semua artis dapat tergabung dalam gank tersebut. Semua orang tidak dapat dengan serta merta bisa bergabung dalam komunitas tertentu. Sebab untuk menjadi anggota dalam gank atau komunitas tersebut tentu ada syarat atau kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh anggota-anggotanya. Nas hari ini mengisahkan upaya Paulus untuk menjelaskan kepada jemaat di Efesus agar mereka hidup dalam Kristus. Jemaat di Efesus  harus memiliki sifat rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Mereka diminta untuk dapat menunjukkan kasih Kristus dalam wujud tindakkan kebaikan. Sifat yang demikian membuat seseorang akan mengenal tentang dirinya sendiri sebagai milik Kristus. Demikianlah ia mengikuti (berpadanan) teladan Kristus dan hidup dalam terang tuntunan Allah. Orang tidak akan hidup sombong atau berbangga diri dengan yang dimilikinya, juga akan marah pada tempat dan saat yang tepat serta dapat mengendalikan dirinya. Jemaat Efesus juga diharapkan memiliki kesabaran, yakni sanggup menahan hinaan ataupun sakit hati dan mampu menunjukkan kasihnya kepada siapa saja tanpa memandang muka (orang yang tidak disukai sekalipun). Dengan demikian orang percaya dapat memelihara akan kesatuan jemaat dengan ikatan damai sejahtera. Pesan ini juga dialamatkan kepada kita. Kita adalah orang yang hidup di dalam Kristus dan dituntut untuk memelihara kesatuan tubuh Kristus. Pelharalah keutuhan suami-istri, orang tua-anak, berjemaat dan bermasyarakat. Artinya orang Kristen harus menerapkan sikap rendah hati, kelemahlembutan, sabar serta menunjukan kasih kepada siapapun dalam saling membantu. Sehingga hubungan dalam keluarga, jemaat dan masyarakat dapat tetap terjaga, dan hidup harmonis penuh kasih dan damai.

Doa: Berilah kami hati yang merendah dan sabar untuk nyatakan kasih. Amin. 

*SUMBER : SHK bulan Oktober-November 2022, LPJ_GPM

Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hindari Hidup Dalam Kesombongan

Minggu, 23 Oktober 2022                            

bacaan : 1 Korintus 4 : 6 – 21

Rendahkanlah dirimu
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. 14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. 15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. 16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! 17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat. 18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu. 19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. 20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. 21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?

Hidup Dalam Kerendahan

Paulus melayani di jemaat Korintus selama satu setengah tahun. Sudah banyak yang ia ajarkan dan teladankan kepada jemaat di sana. Namun hal itu tidak cukup meyakinkan mereka, sebaliknya kerasulannya diragukan. Paulus sudah berlelah dalam pelayanan tetapi tidak dihargai. Sekalipun demiikian ia sama sekali tidak marah dan kecewa tetapi tetap mengasihi mereka. Paulus menyadari keberadaan dirinya selaku rasul Kristus. Ia sadar akan statusnya sebagai hamba Allah, pelayan yang diutus untuk menuntun orang lain kepada Kristus. Risiikonya adalah dianggap bodoh dan hina karena Kristus, melakukan pekerjaan yang berat, memberkati orang yang memaki, sabar menanggung penganiayaan. Paulus menegaskan bahwa “Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa”. Artinya bahwa kekuatan Allah-lah yang memampukan seseorang membangun jemaat, bukan karena kehebatan berkata-kata. Karena itu, tidak ada hal yang patut disombongkan dalam pelayanan. Semuanya karena kasih karunia Allah. Sikap hidup Paulus yang merendahkan diri   semestinya membelajarkan kita semua bahwa adalah kasih karunia jika kita dipanggil dan dipercayakan tanggungjawab pelayanan. Melayani bukanlah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan atau kepujian diri. Seorang pelayan terpanggil untuk melayani dengan kerendahan hati bagi kemuliaan-Nya. Bersyukurlah senantiasa, teruslah melayani dan hiduplah dalam kerendahan.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan. untuk selalu hidup rendah hati, Amin.

Senin, 24 Oktober 2022                                          

bacaan : Amsal 16 : 18

18 Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.

Kesombongan Awal dari Kejatuhan

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (16:18). Nas ini menyaksikan bahwa kecongkakan akan membuat seseorang hancur dan kesombongan akan membuatnya jatuh. Sejalan dengan hal ini, tersebut pula dalam Amsal 16: 5a bahwa setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan. Ternyata, kesombongan dibenci oleh Tuhan. Kalau begitu, bagaimana supaya tidak menjadi sombong dan dengan begitu terhindar dari kejatuhan dan kehancuran? Ada tiga hal yang dapat dilakukan: pertama, akuilah Tuhan dalam segala perilaku hidup. Semua yang diterima dalam hidup ini bukan karena kita, semuanya karena anugerah Tuhan. Orang sombong menganggap semua karena usaha dan kekuatan serta kebaikan dirinya sendiri. Dia lupa bahwa semua yang didapatkannya hanya karena kasih karunia Allah. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri, “saya bukan siapa-siapa tanpa Tuhan”. Kedua, untuk menghindarkan diri dari kesombongan maka jangan pernah lupa darimana kita berasal. Kenyataannya, banyak orang menjadi lupa darimana mereka berasal, apalagi ketika telah memiliki kuasa dan jabatan.  Sepintar apapun, sekaya bagaimanapun, tetapi jika kita menjadi sombong, semua itu menjadi tidak berguna. Ketiga, belajarlah untuk menghargai semua orang. Apapun latar belakang dan status; ekonomi, sosial dan sebagainya. Hargailah semua orang, tua-muda, anak-anak, perempuan, laki-laki dan lansia.

Doa: Ya Tuhan mampukanlah kami hidup rendah hati dan tidak congkak, Amin.

Selasa, 25 Oktober 2022                                  

bacaan : Yesaya 2: 12 – 22

12 Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan; 13 untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang, dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan; 14 untuk menghukum semua gunung yang tinggi-tinggi dan semua bukit yang menjulang ke atas; 15 untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu; 16 untuk menghukum semua kapal Tarsis dan semua kapal yang paling indah. 17 Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. 18 Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali. 19 Maka orang akan masuk ke dalam gua-gua di gunung batu dan ke dalam liang-liang di tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. 20 Pada hari itu berhala-berhala perak dan berhala-berhala emas yang dibuat manusia untuk sujud menyembah kepadanya akan dilemparkannya kepada tikus dan kelelawar, 21 dan ia akan masuk ke dalam lekuk-lekuk di gunung batu dan ke dalam celah-celah di bukit batu terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi. 22 Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Tuhanlah Sumber Segala Sesuatu, Jangan Sombong!

Siapakah yang dapat meninggikan diri di hadapan Tuhan? Seorangpun tentunya tidak, tetapi manusia seringkali meninggikan diri dengan nama, kekayaan, kuasa dan jabatan yang dimiliki. Umat Israel pun sering berbangga diri dan menjadi angkuh di hadapan Tuhan. Nas hari ini menegaskan akan hal ini.. Gambaran pohon aras di Libanon, pohon tarbantin di Basan, gunung yang tinggi-tinggi dan bukit yang menjulang ke atas, menara yang tinggi dan tembok yang berkubu, kapal Tarsis dan kapal yang paling indah. Semuanya merupakan bahasa simbolik yang memperlihatkan kebanggaan, tempat mereka menggantungkan harap, yang akhirnya membuat diri angkuh lalu melupakan Tuhan sumber segala sesuatu. Nabi Yesaya mengingatkan bahwa semua yang dimiliki itu bukan milik mereka melainkan Tuhan. Sehingga pada hari Tuhan semua itu akan dihabiskan. Mereka yang tidak menaati Tuhan akan bersembunyi. Jadi akhirnya nabi Yesaya mengingatkan, jangan berharap kepada manusia. Nubuatan Yesaya ini menandakan bahwa hanya Allah yang mahatinggi dan layak disembah. Manusia dan segala keperkasaan di dunia: kuasa, jabatan, kekuatan pohon, gunung, menara, tembok dan kapal yang paling indah (ay. 13-16), sifatnya fana dan tidak dapat diandalkan (ay. 22). Semua ini mengingatkan kita untuk tidak sombong dalam menjalani kehidupan. Apakah harta, prestasi, kuasa atau jabatan tinggi telah membuat kita sombong? Ingatlah, semuanya itu hanya pemberian Tuhan. Jika semua itu lenyap, apakah kita tetap masih dapat memandang kepada Tuhan dan memuliakan Dia?

Doa: Ya Bapa, Engkaulah sumber segala-galanya, kiranya kami tidak melupakan itu dan menjadi sombong, Amin.

Rabu, 26 Oktober 2022                             

bacaan : Yehezkiel 28 : 4 – 7

4 Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu.
5 Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong.
6 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah
7 maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan.

Kemakmuran: Berkat atau Petaka?

Kemakmuran pada dasarnya merupakan berkat,  keuntungan dan bukti dari sebuah prestasi atau keberhasilan yang dicapai seseorang. Selayaknya kemakmuran itu membawa damai sejahtera, memberikan sukacita dan ketenteraman. Namun faktanya kemakmuran lebih banyak membawa petaka. Saat seseorang berhasil memperoleh kemakmuran, rendah hati bukan lagi menjadi ciri khasnya melainkan keangkuhan. Keangkuhan inilah yang membuat seseorang gemar mengukur segala sesuatu termasuk pencapaian kemakmuran yang didapat berdasarkan kedudukan, jabatan, harta benda, atau bahkan status sosial. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan seseorang bukan saja akan menjadi lupa diri, tetapi juga lupa akan Tuhan-nya. Sikap dan tingkah laku demikian bukanlah hal yang baru terjadi di dunia dewasa ini, melainkan sudah berlangsung pula di masa silam. Nas hari ini menyaksikan akan adanya kenyataan keangkuhan itu. Raja negeri Tirus menjadi angkuh dan sombong akan kerajaannya yang kuat. Namun melalui nabi Yehezkiel Allah memberi peringatan kepada raja itu bahwa keangkuhannya yang seolah-olah ingin mentuhankan diri itulah yang akan membawa ia dan kerajaannya dalam malapetaka besar. Sejatinya, kebalikkan dari sikap angkuh dan sombong adalah rendah hati, sebuah sifat yang terbentuk melalui pengenalan kita akan Allah. Kita, sebagai pribadi dan keluarga boleh meraih keberhasilan dan mendapatkan kemakmuran, tanpa harus melupakan bahwa semua itu adalah berkat Tuhan. Hiduplah dengan rendah hati dan muliakan Allah dengan semua yang dimiliki. Jadilah alat kesaksian-Nya bagi sesama dan dunia.

Doa: Tolonglah kami Tuhan agar tidak angkuh atau sombong tetapi selalu hidup rendah hati. Amin.

Kamis, 27 Oktober 2022                             

bacaan : Yeremia 48: 28 – 30

28 Tinggalkanlah kota-kota dan diamlah di bukit batu, hai penduduk Moab! Jadilah seperti burung merpati yang bersarang di dinding mulut liang. 29 Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kesombongannya, keangkuhannya dan kecongkakannya, tentang tinggi hatinya. 30 Aku ini kenal kepongahannya, demikianlah firman TUHAN, tidak benar cakapnya, dan tidak benar perilakunya.

Kesombongan Menghancurkan Hidup

Kesombongan merupakan sikap yang dibenci Allah. Orang yang sombong tidak menghargai otoritas atau kemahakuasaan Allah dan hanya membanggakan kemampuan diri sendiri. Bangsa Moab misalnya dengan sombong dan arogan mengejek umat Tuhan yakni Israel. Tuhan Allah memakai Asyur sebagai alat untuk menghukum Moab sehingga mereka mengalami kehancuran yang hebat. Bagai kebun anggur yang tidak terawat lagi, begitulah gambaran keruntuhan Moab (ayat 33). Kesombongan mereka berakhir dengan Kesia-siaan. Kota-kota ditinggalkan dan berdiam di bukit batu, mereka bagaikan burung merpati yang bersarang di dinding mulut liang (ayat 28). Moab terusir dari negeri sendiri, kediaman mereka hancur dan kehilangan harta benda. Kesombongan menghancurkan hidup, harta yang dimiliki semuanya musnah. Mari bertanya pada diri sendiri apakah kita punya alasan untuk menyombongkan diri dengan apa yang dimiliki hari ini? Semua orang berharap agar dilimpahi berkat, namun ironinya ada yang berubah menjadi sombong ketika berkat itu datang. Saat “berada di puncak”, seseorang dapat saja berubah dan mudah terjebak dalam dosa kesombongan. Bila hal itu terjadi, maka orang akan menikmati upah dari kesombongan itu sendiri, yakni kegagalan dan kehancuran. Ingatlah selalu bahwa Allah membenci kesombongan dan tinggi hati, tetapi Dia mengasihi dan suka pada hati yang tertunduk dalam kehambaan. Hiduplah sebagai keluarga Kristen yang rendah hati. Tetap setia pada Tuhan dan teruslah hidup dalam kehambaan serta mempraktekkan kasih dalam segala keberadaan. Orang rendah hati pasti diberkati.

Doa:   Tuhan Yesus, jauhkan segala kesombongan dari diri kami, tapi biarlah kami hidup rendah hati dan selalu taat pada-Mu. Amin.

Jumat, 28 Oktober 2022                                

bacaan : Mazmur 101 : 1 – 8

Seorang raja bernazar
Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN. 2 Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. 3 Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. 4 Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu. 5 Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka. 6 Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. 7 Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku. 8 Setiap pagi akan kubinasakan semua orang fasik di negeri; akan kulenyapkan dari kota TUHAN, semua orang yang melakukan kejahatan.

Memelihara Hidup Yang Tidak Bercela

Sama seperti Daud, kita juga tentu memiliki kerinduan  untuk hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Daud menunjukkan kerinduannya itu dengan berkomitmen untuk menjauhkan diri dari setiap perbuatan yang tidak benar. Komitmennya yang lain adalah memelihara hidup dalam ketulusan hati baik di dalam rumah maupun kerajaanya. Rumah adalah tentang diri sendiri, keluarga, gereja atau komunitas bahkan masyarakat dimana kita berada. Karena itu, Tuhan menghendaki kita menjadi alat kesaksian di lingkungan dimanapun berada dengan menunjukkan cara hidup yang benar dan berkenan sesuai kehendak-Nya. Sebutan lainnya adalah hidup yang berintegritas. Kerinduan dan komitmen kita untuk hidup dalam kebenaran dan tidak bercela seharusnya terwujud pula dalam totalitas hidup, yakni kerja, pelayanan, serta membangun relasi dengan sesama. Bukan sekadar retorika melainkan dalam laku hidup. Perwujudan hidup yang berintegritas membutuhkan komitmen yang harus dipelihara dan dikembangkan seumur hidup. Komitmen yang dimaksud ini  bukan semata bersumber dari kebaikan atau usaha sendiri melainkan berasal dari pengenalan yang sungguh akan Allah. Maksudnya mengenal akan kehendak, perintah dan hukum-hukum-Nya. Pengenalan yang demikian membuahkan perubahan cara hidup dari yang suka kepada kejahatan dan kelaliman   menjadi takut akan Allah. Seperti Daud, mari perhatikan dan pastikan kita menjalani hidup yang benar dan tulus hati. Peliharalah komitmen untuk terus-menerus hidup dalam kebenaran di hadapan Allah serta manusia, dan jadilah berkat lewat seluruh laku hidup kita.

Doa:  Tuhan Yesus, kami mau hidup tidak bercela di hadapan-Mu. Tuntunlah kami supaya tetap hidup takut akan Engkau. Amin.

Sabtu, 29 Oktober 2022                               

bacaan : Roma 11 : 20 – 24

20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! 21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. 22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. 23 Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. 24 Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.

Cabang – Cabang Liar

Mencangkok merupakan sebuah rekayasa genetik tanaman yang banyak dilakukan untuk tujuan memperbanyak tanaman serta mendapatkan hasil panen dengan kualitas yang lebih baik. Biasanya pencangkokan dilakukan dengan memperhatikan kualitas tanaman induk, karena itu dipilih indukan yang potensial agar hasil lebih maksimal. Bahasa metafora dipakai Paulus untuk mengingatkan orang Kristen bukan Yahudi agar tidak menyombongkan diri karena mereka diselamatkan oleh Allah. Kitapun adalah orang-orang percaya bukan Yahudi atau dalam Bahasa metforis adalah cabang-cabang dari pohon zaitun liar.  Jika Bangsa Israel yang adalah cabang utama dari zaitun yang sejati dapat ditebang dan dihancurkan akibat kesombongan, maka kita sebagai cabang-cabang liar juga akan dengan mudah ditebang dan dibakar. Bangsa Israel menjadi sombong karena keterpilihan mereka sebagai umat Allah. Sikap sombong rohani dan puas diri ini adalah hal yang tidak pantas di hadapan Allah. Karena itu Paulus mengingatkan “Janganlah sombong, tetapi takutlah.” Kita adalah cabang-cabang liar yang dicangkokkan kepada pohon keselamatan dan telah menerima anugerah besar dari Allah untuk menikmati hidup sebagai umat-Nya. Karena itu tidaklah pantas bagi kita untuk menyombongkan diri karena anugerah keselamatan yang telah diterima itu. Sebaliknya, peliharalah keselamatan yang telah dianugerahkan Allah itu. Hiduplah dengan berperilaku jujur, setia, adil dan rendah hati agar kita dapat tumbuh dan berbuah lebat sehingga dapat dinikmati oleh sesama serta dunia.

Doa:  Ya Tuhan, tuntunlah kami untuk merawat keselamatan yang Kau berikan agar berbuah dan menjadi berkat bagi dunia. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Oktober 2022, LPJ_GPM

Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Hidup Dalam Tuntunan Ajaran yang Sehat

Minggu, 16 Oktober 2022                                 

bacaan : Titus 2 : 1 – 10

Kewajiban orang tua, pemuda dan hamba
Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. 3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. 6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. 9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, 10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

Menjadi Teladan Baik

Teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontohi. Tanpa teladan, maka seseorang akan dipermalukan karena tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya. Jadi ketika seseorang berkata tentang perbuatan baik, maka orang tersebut harus lebih dulu melakukan kebaikan. Hal yang demikian menjadi pertanda bahwa menjadi teladan tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan bahkan dikorbankan bila ingin menjadi sosok teladan kebaikan. Titus, sosok yang disebutkan dalam nas hari ini merupakan rekan sekerja Paulus. Ia adalah seorang muda, pembantu Paulus yang bukan Yahudi dan tentunya tidak bersunat. Ia kemudian menjadi pengikut Kritus dan memberi diri dengan segala kemudaannya untuk dipakai oleh Tuhan dalam memberitakan injil. Rasul Paulus berpesan, mengajari dan menasihati Titus supaya  tetap memiliki pendirian. Maksudnya, pemberitaan Titus haruslah sesuai dengan ajaran yang sehat. Ajaran sehat baik dan benar adanya serta berguna untuk membangun iman dan menyehatkan hidup jemaat. Titus dapat menjadi sosok teladan yang baik, bila ia lebih dulu mendidik dirinya sendiri sebagai pribadi yang berwibawa, bijaksana, murah hati dan konsisten terhadap pengajarannya. Ia perlu mendidik diri sendiri agar kata dan perbuatannya selaras. Bila ia telah menjadi teladan kebaikan, maka ia layak mengharapkan hal yang sama kepada jemaat. Keterpanggilan sebagai teladan kebaikan pun menjadi panggilan Tuhan kepada kita selaku anak-anak-Nya. Teladan kebaikan harus diwujudkan dalam sikap dan tindakkan. Sikap dan tindakkan kita mesti sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia berkehendak agar kita menjadi garam dan terang serta saluran berkat bagi orang lain. Tuhan Allah kita akan dipermuliakan dan orang lain percaya kepada-Nya, bila kita mampu menjadi teladan kebaikan.

Doa:  Tuhan, ajarlah kami untuk menjadi teladan kebaikan bagi semua orang. Amin.

Senin, 17 Oktober 2022                                 

bacaan : Roma 16 : 17 – 20

Peringatan
17 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! 18 Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. 19 Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. 20 Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!

Jangan Terlena, Waspadalah!

Sebuah lukisan yang memikat dipajang di Museum Louvre, Paris. Lukisan itu menggambarkan seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan iblis di depan papan catur. Wajah si iblis tampak senang melihat anak muda akan segera mengalami skak mat. Pemuda itu pun menunjukkan ekspresi kekecewaan, keheranan dan kebingungan seperti orang yang kalah. Singkat cerita, suatu hari seorang master catur yang ternama mengunjungi galeri tersebut dan mempelajari lukisan itu dengan saksama. Tiba-tiba master catur itu mengejutkan semua orang di sekelilingnya dengan teriakan yang penuh kegembiraan, “ini tipuan! Raja dan kuda masih bisa melangkah.” Ilustrasi ini hendak menegaskan bahwa seringkali di dalam kehidupan iman terkadang kita begitu mudah mengalah pada serangan iblis. Padahal dalam keadaan sesulit apapun Tuhan tetap berkuasa untuk mebebaskan kita dari kekalahan iman. Karena itu milikilah keberanian dan upaya untuk tidak pernah menyerah pada langkah-langkah yang dibangun iblis. Nas hari ini menyaksikan upaya Paulus menyikapi pengajaran sesat berkembang dan mengancam persekutuan umat. Ia menghimbau jemaat Roma supaya tidak terlena dengan pengajaran sesat. Berkembang di sana ajaran tentang perbuatan baik dan hukum Musa yang harus ditaati. Namun ujung-ujungnya hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Ajaran seperti ini haruslah diaspadai agar jemaat tidak terpecah. Hal yang sama tanpa disadari dapat terjadi dalam persekutuan kita. Ada orang-orang yang memanfaatkan ketulusan kita untuk kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, kita dituntut untuk tetap mengandalkan Tuhan dan hidup sesuai ajaran-Nya. Tetaplah waspada dan yakinlah akan pemeliharaan Allah.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami agar tetap berada pada jalan-Mu. Amin.

Selasa, 18 Oktober 2022                                       

bacaan : Titus 1 : 5 – 16

Tugas Titus di Kreta -- Syarat-syarat bagi penatua, penilik jemaat
5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. 7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya. 10 Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. 11 Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan. 12 Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: "Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas." 13 Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, 14 dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran. 15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. 16 Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.

Pemimpin Yang Dapat Diteladani

Paulus bersahabat dengan Titus dan meninggalkannya di Kreta untuk maksud menata jamaat di situ dan menetapkan para pemimpin. Ia mendukung Titus untuk terus mengajarkan iman yang benar dan membimbing jemaat agar tetap hidup sesuai kehendak Allah. Nas hari ini berisi petunjuk dan nasihat bagi para pemimpin jemaat agar memegang teguh iman yang benar dan hidup dengan baik. Jemaat harus hidup sesuai kehendak Allah dan para pemimpin ditetapkan karena memenuhi kriteria yang ketat. Kehendak Allah mesti menjadi penuntun agar jemaat tidak disesatkan dengan ajaran yang salah. Waktu itu ada sejumlah orang Kristen Yahudi di Kreta mengajarkan bahwa setiap laki-laki harus disunat. Keselamatan seseorang tergantung pada anugerah Tuhan bukan karena disunat atau tidak. Tugas menata hidup beriman itu tidaklah mudah, karena itu diperlukan pemimpin yang berkualitas atau yang tak bercacat. Syarat yang ditetapkan untuk memiliki pemimpin seperti itu di antarnya; tidak angkuh, bukan peminum, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, saleh dan adil. Kita juga terpanggil untuk menjadi teladan melalui gaya hidup orang-orang yang percaya kepada Allah. Hindarilah hidup seperti orang-orang Kreta yang mengaku mengenal Allah tetapi perbuatannya menyangkal Dia. Mengaku Allah, tetapi masih berzinah, mencuri, memfitnah, suka berbohong, serakah, sombong dan angkuh serta perbuatan-perbuatan lainnya yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kuasailah diri dan terus mengandalkan Tuhan serta meminta hikmat dari-Nya agar layak menjadi teladan. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri. Berusahalah untuk menjadi pemimpin yang dapat diteladani.

Doa: ya Tuhan layakkanlah kami untuk menjadi pemimpin yang baik. Amin.

Rabu, 19 Oktober 2022                           

bacaan : 2 Timotius 2 : 14 – 19

Nasihat dalam menghadapi pengajar yang sesat
14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. 15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. 17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, 18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang. 19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."

Menjadi Pelayan Kristus Yang Sejati

Timotius adalah asisten sekaligus mitra kerja Paulus dalam memberitakan injil. Ia dibimbing serta dipersiapkan untuk melanjutkan pemberitaan injil sekaligus sebagai generasi penerus  dan kekayaan gereja. Timotius dimotivasi untuk menyelenggarakan kepemimpinan rohani, yakni  melayani jemaat-jemaat, menata ibadah dan pelayanan yang masih berantakan. Ia diperhadapkan dengan para pengajar sesat yang sering menuduh dan memfitnahnya. Pengajar sesat menganut ajaran yg berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasul Paulus. Timotius dinasihati untuk menyikapi mereka dengan cara berusaha menjadi pelayan Kristus yang sejati. Cara ini dipandang Paulus efektif sehingga mereka tidak menemukan cela untuk menjatuhkannya dan mencemarkan nama Tuhan. Makanya ia dikuatkan bahwa Tuhan mengenal dirinya sebagai hamba-Nya yang setia. Tuhan sendiri yang akan membela ketika ia dituduh dan difitnah oleh para pengajar sesat. Timotius dibina dan diasah dengan sebaik-baiknya agar memiliki sikap yang bijaksana dalam perkataan serta menjaga kesucian hidupnya. Ia dibimbing untuk menjadi pelayan Kristus yang sejati. Pelayan yang sejati bertanggung jawab mengajar jemaat agar memiliki pemahaman yang benar tentang firman Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.  Jemaat harus diperlengkapi dengan kebenaran agar tidak mudah terombang-ambing  oleh hasutan ajaran sesat.  Misalnya, dalam hal berbicara (ay.14). Mereka diminta supaya tidak mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Perkataan demikian mengakibatkan pertengkaran yang sama sekali tidak membangun iman siapapun yang mendengarnya. Karena itu, kuatkanlah iman supaya kita menjadi berdaya untuk menghadapi semua kenyataan  hidup. Teruslah belajar dan aktakan firman Tuhan. Hiduplah sesuai kehendak-Nya serta jadilah pelayan Kristus yang sejati.

Doa: Tuhan kuatkan iman kami agar tidak mudah tergoda dengan ajaran yang menyesatkan melainkan hidup menurut kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Oktober 2022                         

bacaan : 2 Timotius 2 : 20 – 22

20 Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. 21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. 22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Tuhan Menunggumu

Ada seorang kakek bersahabat dengan seorang anak laki-laki. Keduanya sering bekerja sama di toko barang kerajinan kayu milik si kakek. Suatu hari ketika melihat toko itu sedang sepi dan si kakek tidak kelihatan, anak laki-laki itu pun datang dan mencuri beberapa pahatan kayu. Anak itu tidak menyadari bahwa melalui jendela dapur si kakek melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sejak saat itu anak laki-laki itu pun tidak pernah muncul lagi di toko. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, mereka bertemu dan anak itu menjauh karena malu sehingga persahabatan mereka pun terputus. Kita mengalami hal serupa ketika  melanggar firman Allah. Kita jatuh dalam dosa karena terlalu menuruti keinginan daging dan menjadi malu bahkan takut untuk berjumpa dengan Allah yang berakibat pada rusaknya hubungan kita dengan-Nya. Ketika kita berbuat dosa terhadap-Nya, akibat yang paling berbahaya bukanlah tindakan itu sendiri, tetapi rusaknya hubungan kita dengan Tuhan. Namun, Allah kita adalah Allah yang setia. Ia selalu merindukan hubungan yang baik dengan kita. Dia selalu menunggu kita untuk kembali. Oleh karena itu, ketika kita melakukan dosa, jangan ragu untuk segera datang serta mengaku dosa kepada-Nya, dan jangan mengulanginya lagi. Menjauhkan diri dari Tuhan akan membuat hubungan baik kita dengan-Nya semakin renggang bahkan terputus. Seperti bapa yang selalu setia menunggu kembalinya si anak yang terhilang, pengampunan-Nya pun tersedia untuk kita. Oleh sebab itu, mintalah hikmat, pertimbangan dan pengertian dari Tuhan, sehingga mampu membedakan baik dan buruk. Janganlah kalah terhadap kedagingan, tapi kalahkan hal itu dengan kebenaran. Bila karena kelemahan, dosa dilakukan, jadilah sadar dan datanglah kepada-Nya seraya mengaku kesalahan serta mohonlah  pengampunan Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan layakkan dan mampukanlah kami untuk tetap hidup di dalam terang-Mu dan menjauhkan kami dari perbuatan yang jahat. Amin.

Jumat, 21 Oktober 2022                              

bacaan : 1 Timotius 6 : 2b – 5

(6-2b) Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. 3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, 4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, 5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

Berpeganglah Pada Ajaran Yang Sehat

Rasul paulus menuliskan surat ini kepada Timotius untuk memotivasinya dalam melakukan tugas pelayanan. Tantangan bagi Timotius adalah menghadapi dan menyikapi pengajar-pengajar sesat yang sangat menggangu pertumbuhan jemaat. Timotius harus menuntun jemaat agar beriman secara benar dan menganut ajaran yang sehat. Muncul pada waktu itu orang-orang yang kesukaannya mencari-cari soal, bersilat kata, menyebabkan fitnah, dengki, curiga dan sebagainya. Bahkan di ayat 5 dikatakan, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan kehilangan kebenaran. Orang-orang yang tidak berpikiran sehat itu mengira bahwa ibadah kepada Tuhan dapat dijadikan sebagai sumber keuntungan. Ibadah adalah hal yang penting untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Tuhan menghendaki peribadahan dilakukan dengan penuh kesungguhan dan kemurnian hati, bukan untuk  maksud mendapatkan keuntungan atau kekayaan.  Timotius bertanggung jawab mengajarkan ajaran yang sehat kepada jemaat. Jemaat tak boleh menyimpang dari ajaran yang sehat. Kesaksian ini mengingatkan kita semua, ajaran sehat yang telah diterima berdasarkan kebenaran firman Allah kiranya dapat dipegang dan dilakukan dalam kehidupan. Ajaran serta tindakkan yang baik dan benar harus dimiliki juga diaktakan. Hiduplah sesuai ajaran yang sehat, agar orang lain dihentar untuk mengalami kasih dan keselamatan dalam Kristus.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan, untuk hidup sesuai ajaran yang sehat. Amin.

Sabtu, 22 Oktober 2022                         

bacaan : 1 Timotius 6 : 17 – 21

17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. 18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi 19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. 20 Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, 21 karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!

Pengajar Ajaran Sehat Yang Mawas Diri

Surat Paulus kepada Timotius dipandang sebagai surat pastoral atau penggembalaan dan berisikan nasihat. Timotius dinasihati agar tetap berpegang dan mengajarkan ajaran yang sehat, sekalipun harus berhadapan dengan berbagai tantangan dalam pelayanan. “Menjadi kaya dalam kebajikan” adalah salah satu ajaran yang perlu Timotius ajarkan. Ajaran ini secara khusus berkaitan dengan permintaan Paulus supaya Timotius memperingati orang kaya. Orang kaya diperingati agar jangan tinggi hati dan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Mereka harus berharap kepada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan segala sesuatu untuk dinikmati. Mereka juga diperingatkan untuk berbuat baik, suka memberi dan membagi yang karena hal ini terkumpullah harta hidup sebenarnya di masa akan datang.   Timotius sendiri pun diingatkan untuk selalu mawas diri dan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Ajaran sehat akan membuat Timotius dan jemaat yang dilayaninya berbeda kehidupannya dari para pengajar sesat itu. Ajaran sangat mempengaruhi karakter dan tingkah laku manusia. Baik tidaknya hidup seseorang ditentukan oleh ajaran yang diterimanya. Kita semua bertanggungjawab untuk mengajarkan ajaran yang sehat. Orangtua dalam keluarga harus mengajarkan dan menerapkan ajaran yang sehat bagi anak-anak. Kita juga diingatkan untuk tetap mawas diri sehingga tidak lengah dan melakukan kesalahan.

Doa: Ya Tuhan tolonglah, agar kami tidak tersesat dalam hidup ini. Amin.*

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2022, LPJ_GPM

Santapan Harian Keluarga, 9 – 15 Oktober 2022

Tema Bulanan : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

Tema Mingguan : Beritakanlah Injil

Minggu, 09 Oktober 2022                             

bacaan : Matius 28 : 16 – 20

Perintah untuk memberitakan Injil
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Duta Kristus

Penulis injil Matius mengakhiri penulisannya dengan perintah untuk memberitakan injil. Perintah ini disebut pula  sebagai Amanat Agung. Yesus memberikan amanat agung kepada murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga. Tanggung jawab memberitakan injil kerajaan sorga tak boleh berhenti. Hidup sebagai murid adalah kesempatan memberitakan injil kepada semua bangsa. Hal ini berarti bahwa keselamatan yang telah dikaryakan Yesus terbuka kepada semua orang. Para murid atau orang percaya tak boleh “menahan” atau membatasi keselamatan sebagai milik sendiri. Mereka yang telah diselamatkan hidupnya terbuka sehingga orang lain menjadi percaya dan diselamatkan juga. Amanat ini menjadi tanggung jawab kita semua. Kita bertanggung jawab untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus, membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus serta mengajar sehingga semua orang melakukan perintah-Nya. Amanat ini menegaskan bahwa kita telah diberikan tiga tanggung jawab, yakni, pemuridan, pembaptisan dan pengajaran. Hidup,   hendaknya dijalani sebagai cara menjalankan amanat agung Yesus.  Cara yang pertama adalah hidup layaknya seorang murid. Seorang murid disebut demikian karena sedang belajar atau belum lulus. Teruslah belajar tentang kehendak Allah sebagaimana disaksikan dalam Alkitab serta pengalaman apa pun yang dialami. Kedua, hiduplah sebagai seorang yang sudah bertobat dan percaya. Hindari melakukan tiindakkan kejahatan dan dosa lalu hidup kudus serta menabur kebaikan. Ketiga, jadilah orang percaya yang cerdas. Janganlah hidup dalam kebodohan baik saat berpikir, merasa atau bertindak. Hanya dengan cara hidup yang demikian itu, kita telah menjadi duta Kristus.

Doa; Ya Kristus, layakkanlah kami untuk menjadi duta bagi-Mu. Amin.

Senin, 10 Oktober 2022                                    

Bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 9 – 10

9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 10 Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."

Jangan takut, Percayalah Pada Tuhan

Paulus pernah mengalami perjumpaan ilahi di Damsyik. Pengalaman ini ia alami lagi di Korintus. Tuhan berfirman dalam sebuah penglihatan kepada Paulus kata-Nya Jangan takut!, teruslah memberitakan firman dan jangan diam! sebab Aku menyertai engkau, dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.” Perjumpaan dengan Tuhan dialaminya saat sedang melakukan tugas memberitakan injil. Tuhan bekerja bersama Paulus dan bertindak sebelum terjadi suatu keburukkan. Hari esok telah disingkapkan-Nya kepada Paulus. Keberanian Paulus diteguhkan, agar ia tak boleh berhenti memberitakan injil, sebab penyertaan dan perlindungan Tuhan akan terus dialaminya. Kuasa dan kebaikan Tuhan melampaui pengalaman hari ini dan menjadikan utusan-Nya tak takut memasuki hari esok. Kita adalah utusan, dan diingatkan bahwa bersama Tuhan, jangan pernah lalui hari hidup dengan takut, tak berbuat sesuatu atau meragukan kuasa-Nya. Beranilah untuk berubah ke arah yang lebih baik, hadapi risiko, mengambil keputusan dan maknai apapun kenyataan hidup. Dekatkanlah diri pada Sang Pengausa waktu itu dan dengarlah Ia bicara agar firman-Nya menentukan arah jalan hidup kita. Jangan diam apalagi berhenti, teruslah bergerak dan isilah hidup dengan karya. Tantangan atau masalah adalah kesempatan untuk menemukan cara baru atau mengetahui apa yang belum pernah diketahui sebelumnya.   Kita tak sendiri dalam hidup ini, tapi bersama Tuhan Sang Pengutus yang tetap mengasihi, melindungi dan melepaskan dari barbagai kemelut. Hari ini sedang kita alami dan menentukan esok, jadi jangan membiarkannya berlalu sia-sia. Esok, akan ada dan kita songsong bersama kasih Tuhan.

Doa: Ya Yesus, beranikanlah kami untuk terus berkarya. Amin.

 Selasa, 11 Oktober 2022                               

bacaan : Markus 3 : 13 – 19

Yesus memanggil kedua belas rasul
13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Dipanggil dan Diutus Yesus Adalah Anugerah

Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan kembali kisah pemanggilan sebagai rasul Yesus. Yesus-lah yang berinisiatif untuk memanggil dan mengutus mereka. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. Panggilan Yesus membutuhkan tanggapan dan mereka pun datang kepada-Nya. Mereka yang dipilih Yesus menjadi rasul-Nya sama sekali tidak memiliki kriteria yang menonjol. Ada yang bekerja sebagai nelayan, pemungut cukai, dan orang biasa. Yesus memanggil mereka untuk menjadi rasul bukan berdasarkan kekuatan, kepintaran dan kebaikan mereka. Kenyataan seperti ini membuktikan bahwa dipanggil dan diutus Yesus adalah anugerah. Panggilan dan pengutusan tak pernah berlangsung tanpa tujuan dan harapan. Karya keselamatan dan hadirnya kerajaan Allah harus terus diberitakan. Mereka yang dipanggil dan diutus Yesus  untuk memberitakan IInjil, dberi-Nya pula kuasa untuk mengusir setan. Kita diingatkan ulang akan gagasan tentang kawan sekerja Tuhan. Kita disertakan Tuhan untuk memberitakan Injil atau menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Kawan sekerja memiliki tanggung jawab untuk meneruskan rencana dan kehendak Allah atau menghadirkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Mereka yang disebut kawan sekerja Tuhan adalah orang yang berkuasa atau berdaya mengalahkan kuasa yang mengancam hidup. Kejahatan, pemberontakan dan keburukan harus dijauhkan agar kehidupan berlangsung secara berkenan pada Tuhan. Kehendak Tuhan sebagaimana tertulis dalam Taurat-Nya harus diutamakan. Akhirnya menjadi kawan sekerja Tuhan berarti hidup dalam keutuhan dan kebersamaan, bukan perpecahan serta pertikaian.

Doa: Ya Yesus, kami bersyukur, telah dijadikan kawan sekerja-Mu. Amin. 

Rabu, 12 Oktober 2022                                   

bacaan : Efesus 6 : 14 – 15

14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

Perlengkapan Rohani Orang Kristen

Rasul Paulus menggunakan gambaran baju perang sebagai ilustrasi perlengkapan rohani orang Kristen (pasal 6:10-20). Perlengkapan rohani haruslah diperhatikan dengan baik agar hidup dapat berlangsung secara bermutu. Hidup yang bermutu berlangsung dalam keseimbangan seluruh aspek baik tubuh atau fisik, rasio maupun roh. Kerohanian adalah satu di antara aspek hidup yang sangat penting, sehingga tak boleh diabaikan. Aspek kerohanian perlu dipelihara sebab menentukan relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan berlangsung dalam Roh atau batin dan terwujd melalui doa juga ibadah. Aspek kerohanian atau relasi dengan Tuhan haruslah menjadi prioritas dan menentukan baik relasi manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam. Oleh sebab itu orang Kristen harus memelihara kerohanian dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan itu adalah “berdiri tegap”, “berikatpinggangkan kebenaran”, “berbajuzirahkan keadilan”, dan “kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera”. Berdiri tegap bermakna memiliki sikap siap sedia, tak ragu atau bimbang. Orang Kristen diminta untuk tidak menjalani hidup dengan keraguan tapi kepastian. Ikat pinggang melingkar pada tubuhnya, maksudnya dilindungi kebenaran Allah. Mengenakan baju zirah agar bagian tubuh yang lain juga terlndung, yakni leher, jantung, dan paru-paru. Baju zirah dipakai untuk menjelaskan betapa pentingnya keadilan bagi orang Kristen. Kita juga diminta untuk berkasutkan kerelaan memberitakan Injil. Orang Kristen yang memiliki kerohanian bermutu, menjalani hidupnya dengan pasti, benar, adil, dan rela. Kerelaan memberitakan Injil menjadi salah satu ciri kerohanian berkualitas. Kelangsungan panggilan memberitakan Injil ternyata ditentukan oleh dimilikinya kualitas kerohanian. Peliharalah perlengkapan rohanimu dengan baik dan ingatlah bahwa bila hidup dijalani dengan pasti, benar, adil, dan rela, maka sesungguhnya Injil sudah diberitakan.

Doa: Kiranya kerohanian kami layak dan berkenan pada-Mu. Amin.

 Kamis, 13 Oktober 2022                                     

bacaan : Galatia 2 : 7 – 8

7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat 8 --karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

Diakui Sebagai Rasul  

Pemberitaan Injil yang dilakukan para rasul berlangsung baik kepada orang dengan latarbelakang Yahudi maupun yang lainnya. Orang Yahudi dikenal sebagai mereka yang “bersunat”. Sedangkan sebutan “tdak bersunat” diikenakan kepada mereka yang bukan Yahudi. Surat Galatia menyaksikan bahwa pemberitaan yang berlangsung di kalangan orang Yahudi dilaksanakan oleh Petrus dan Paulus bagi mereka yang tidak memiliki latarbelakang Yahudi. Pertumbuhan Injil di jamaat Galatia agak terhambat karena adanya sebagian orang yang berpandangan sempit. Mereka ini berpandangan bahwa yang hebat dan diakui adalah hanyalah Petrus karena ia memberitakan Injil bagi orang “bersunat”. Kerasulan Paulus tidak diakui sebab ia memberitakan Injil bagi orang “tidak bersunat”. Pandangan ini dianggap tak bermanfaat dan oleh sebab itu Paulus menentangnya. Keutuhan jemaat haruslah diselamatkan dari adanya pandangan yang menyesatkan. Pandangan ini sesat, karena yang penting bukanlah pemberita dan kepada siapa Injil diberitakan tetapi Kristus. Kristuslah yang memberi kuasa baik kepada Petrus maupun Paulus. Kerasulan seorang rasul ditentukan oleh Kristus yang memberi kuasa. Kristuslah yang penting, bukan Petrus atau Paulus. Mereka berdua telah diberikan kuasa yang sama oleh Kristus dan harus sama-sama diakui sebagai seorang rasul. Seseorang diakui sebagai rasul atau utusan Kristus karena kuasa yang dianugerahkan kepadanya. Kristus Sang Pemberi kuasa itulah yang pada-Nya disatukan semua pemberita Injil. Kesatuan dalam Kristus itulah yang mendasari keutuhan semua pemberita Injil dan jemaat atau mereka yang percaya kepada-Nya.

Doa: Ya Kristus utuhkanlah kami agar layak memberitakan Injil-Mu. Amin.

Jumat, 14 Oktober 2022                                

bacaan : 1 Korintus 1 : 17

17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Memelihara Keutuhan

Rasul Paulus menganggap bahwa keutuhan sebagai jemaat   haruslah dirawat dan dipelihara dengan baik. Jemaat sekalipun berbeda dalam banyak hal, namun menjadi satu dalam Kristus. Ia memperingatkan jemaat di Korintus bahwa kematian Kristus di salb adalah pusat Injil dan mereka harus lebih mendengar Roh Allah daripada hiikmat duniawi. Memang, manusia memiliki kelebihan tertentu dan karenanya diidolakan, namun yang utama adalah Kristus. Oleh sebab itu mengidolakan seseorang tidak lantas menyebabkan perpecahan. Manusia hidup dengan potensi yang berbeda, di antaranya tak sama dalam hal mengidolakan seseorang. Kepelbagaian yang dimiliki manusia tak boleh menjadi sumber perselisihan dan perpecahan. Jemaat Korintus terpola dan terkotak-kotak sesuai idola masing-masing. Keutuhan jemaat terpecah karena mereka hidup dalam golongan tertentu, baik Paulus, Apolos maupun Kefas. Mereka ini walaupun berbeda namun semuanya dipanggil dan diutus Kristus untuk memberitakan Injil. Rasul Paulus amat menyadari bahwa pemberitaan Injil yang dilakukannya tidak berdasar pada hikmat perkataan (manusia). Ia layak dan mampu karena kuasa yang dianugerahkan Kristus. Bila seseorang mengandalkan hikmat manusiawi, maka salib Kristus menjadi sia-sia. Prinsip ini dianut dan dipegang Paulus dalam menjalankan tanggung jawab memberitakan Injil. Marilah jalani hidup sebagai pemberita Injil. Andalkanlah kuasa Kristus jangan bersandar pada hikmat manusia. Hargailah perbedaan, hindarilah perselisihan dan perpecahan serta hiduplah dalam keutuhan. Peliharalah keutuhan baik sebagai keluarga, jemaat maupun masyarakat. Ingatlah bahwa kita semua telah dipersatukan oleh salib Kristus.

Doa: Ya Yesus layakkanlah kami untuk hidup dalam keutuhan. Amin.

Sabtu, 15 Oktober 2022.                          

bacaan : 2 Timotius 1 : 11 – 12

11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. 12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Jangan Pernah Malu Untuk Memberitakan Injil

Rasul Paulus menganggap Timotius seperti anaknya sendiri  (1Tim 1:2). Mereka telah mengadakan perjalanan bersama dan bekerja sama dengan erat (lihat. misalnya Kisah 16:1-3). Kedekatan inilah yang menyebabkan Paulus menyampaikan nasihat dan peringatan bagi Timotius. Paulus menasihati dan mengingatkan Timotius walau sedang dalam penjara (banding 2 Tim 1:8). Injil Kristus harus terus diberitakan dan karena itu Timotius harus meneladani Paulus. Paulus telah menunjukkan teladan keberanian dan kesungguhan. Ia berharap Timotius dapat melanjutkan tugas memberitakan Injil dengan tidak perlu merisaukkan dirinya. Timotius harus memberitakan Injil dengan berani dan tanpa malu. Paulus sadar bahwa Timotius masih muda dan kemudaan itu dapat menjadi hambatan bagi kelangsungan pemberitaan Injil. Oleh sebab itu ia mengingatkan Timotius bahwa sekalipun masih muda, namun pada dirinya ada potensi dan keunggulan iman serta pengalaman memberitakan Injil. Sama seperti Paulus tak pernah malu dalam pemberitaan Injil, maka demikian pula halnya ia berharap pada Timotius. Timotus diminta untuk meyakini kuasa Kristus yang akan memampukan dia sekalipun masih muda. Kristus berkuasa memelihara hidup mereka yang diutus-Nya. Penderitaan dan kemudaan bukanlah alasan untuk menjadi takut dan malu. Kita pun belajar bahwa hidup ini haruslah dijalani dengan berani sebab meyakini kuasa Kristus. Janganlah takut menghadapi kesukaran di hari ini atau hari esok yang masih menjadi rahasia. Teruslah beritakan Injil dengan tidak malu atau rendah diri, merasa diri serba kurang, jangan pula merasa diri tak bisa. Percayakanlah hidupmu kepada Kristus agar engkau menjadi manusia yang percaya diri.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami tidak malu menjadi saksi-Mu. Amin.

SUMBER : SHK Oktober 2022, LPJ_GPM

SANTAPAN HARIAN KELUARGA, 2 – 8 OKTOBER 2022

TEMA BULAN OKTOBER : Pemberitaan Injil dan Kualitas Hidup

TEMA MINGGUAN : Tuhan Mengerjakan Keselamatan bagi UmatNya

Minggu, 02 Oktober 2022                            

bacaan : Yesaya 53 : 1 – 12

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. 7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. 10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. 12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Tuhan Sang Penyelamat

Nas bacaan hari ini menuturkan kesaksian nabi Yesaya tentang hamba Tuhan yang menderita. Gambaran diri hamba Tuhan ini adalah ungkapan keprihatinan umat Israel. Ia tumbuh sebagai taruk dan tunas, yakni bagian tumbuhan yang kecil, tidak kuat dan mudah patah.  Kesuraman menggerogotii hidupnya, ia tidak tampan, dihina, dihindari orang, penuh kesengsaraan, menderita kesakitan, menanggung penyakit dan memikul kesengsaraan orang lain. Ia tertikam padahal tidak memberontak, diremukkan walau bukan seorang penjahat. Ungkapan-ungkapan ini dan  lainnya tentang hamba Tuhan yang menderita diperhadapkan kepada kita. Kini, kita merayakan perjamuan kudus untuk keempat kalinya di tahun ini. Mengambil bagian dalam maedah perjamuan kudus merupakan peringatan akan penderitaan dan pengurbanan Kristus di Salib. Yesus adalah hamba Tuhan yang menderita, berkurban serta menebus manusia juga dunia dari kuasa maut dan dosa.  Dia adalah anak domba yang diremukkan dengan kesakitan dan diserahkan sebagai korban penebusan salah. Penderitaan Kristus bukanlah akhir dari sejarah selamat karena setelah Kristus menangggung semuanya, Allah memulihkan dan menarik semua orang untuk hidup serta mengalami kasih-Nya yang tak terbatas. Derita Kristus melayakkan orang percaya untuk hidup dalam kemurahan Allah, kita selamat karena anugerah-Nya. Kiranya kita pun berkenan untuk hidup bagaikan roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang tertumpah. Jalanilah pekan dan bulan ini sebagai orang tertebus yang kudus. Jadilah berarti bagi orang lain dan muliakanlah Dia dalam segala hal. Ubahlah semua keprihatinan menjadi berpengharapan serta penuhilah hidup dengan pengampunan dan cinta kasih.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk selalu hidup menurut kehendak-Mu. Amin.

Senin, 03 Oktober 2022                            

bacaan : Keluaran 14 : 9 – 14

9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. 10 Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, 11 dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? 12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." 13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."

Berserulah Pada Tuhan

Teks Keluaran 14:9-14 menyuguhkan pesan inspiratif untuk dijadikan pelajaran iman. Pertama, masalah tak pernah hanya sekali dihadapi tetapi berkali-kali. Bebas dari perbudakkan di Mesir tidaklah menjadikan umat Israel selesai menggumuli kesukaran. Kesukaran baru muncul di saat mereka tiba di tepi laut. Masalah hadir tanpa dikehendaki dan menjadi tanda hidup. Hidup mereka pada waktu itu terancam dengan adanya kekuatan perang bangsa Mesir. Fakta iman seperti ini membantu kita untuk tetap sadar baha hidup haruslah djalani dengan berhati-hati dan terus belajar. Belajar tentang pengalaman bersama Tuhan di masa lalu agar kasih, kuasa dan berkat-Nya tetap diyakini. Kepedulian Tuhan pasti nyata saat kita mengalami masa-masa hidup yang sulit.   Kedua, masalah mendekatkan orang pada Tuhan. Bangsa Israel berseru-seru kepada Tuhan saat mereka diiputi ketakutan. Ketakutan menekan batin dan karena itu haruslah diungkap agar kelegaan dialami. Masalah bukanlah alasan untuk menjauhkan diri dari Tuhan dan melakukan hal-hal yang tak berfaedah. Ketiga, masalah dapat memicu persungutan dan perilaku mempersalahkan orang lain. Musa dipersalahkan bangsa Israel karena dialah yang memimpin mereka keluar dari Mesir. Tindakkan bersungut dan mempersalahkan orang lain tidaklah membantu mengatasi masalah. Kita perlu belajar untuk menjadi sabar dan tenang untuk memikirkan jalan keluar. Tak ada masalah yang tidak dapat diatasi saat kita tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Keempat, pertolongan Tuhan nyata saat manusia tiba di batas mampu. Teruslah berusaha mengatasi masalah dan yakinlah bahwa pertolongan Tuhan tak pernah salah waktu.

Doa:  kiranya kami tetap beriman saat menghadapi masalah dan meyakini bahwa keselamatan datang dari Tuhan. Amin.

 Selasa, 04 Oktober 2022                            

bacaan : Mazmur 9 : 12 – 17

11 (9-12) Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, 12 (9-13) sebab Dia, yang membalas penumpahan darah, ingat kepada orang yang tertindas; teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya. 13 (9-14) Kasihanilah aku, ya TUHAN; lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau, yang mengangkat aku dari pintu gerbang maut, 14 (9-15) supaya aku menceritakan segala perbuatan-Mu yang terpuji dan bersorak-sorak di pintu gerbang puteri Sion karena keselamatan yang dari pada-Mu. 15 (9-16) Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. 16 (9-17) TUHAN telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon.

Peliharalah Hidup Agar Tetap Berkenan Pada Tuhan

Pemazmur bermazmur bagi Tuhan di Sion karena pekerjaan keselamatan yang telah dikerjakan-Nya. Ia beritakan perbuatan Tuhan di antara bangsa-bangsa. Tuhan tidak menghendaki tindakkan kekerasan yakni penumpahan darah, tapi ingat kepada orang yang tertindas dan teriak mereka tidak dilupakan-Nya. Pengakuan akan karya keselamatan yang telah Tuhan lakukan itulah yang menjadi pijakkan bagi pemazmur untuk menaikan permohonan. Pemazmur bermohon agar Tuhan mengasihani dan melihat kesengsaraannya oleh sebab kebencian orang lain. Pengalaman pemazmur ini hendaklah dijadikan pedoman menghadapi relasi yang tidak harmonis dalam keseharian hidup kita. Bukanlah tidak mungkin bahwa kita sedang hidup baik dengan mereka yang mencintai maupun membenci. Pengalaman  dicintai sekaligus dibenci dihadapi pemazmur dengan mengandalkan Tuhan. Walau sedang bergumul dengan keluhan karena dibenci, namun pemazmur tidak melupakan perbuatan keselamatan Tuhan yang pernah dialaminya. Oleh sebab itu ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Ia berserah pada Tuhan dan tidak membalas jahat dengan jahat. Tindakkan berseru pada Tuhan memampukan pemazmur untuk tetap menjalani hidup dengan cara yang berkenan pada-Nya. Menghadapi dan mengatasi kesukaran karena dibenci orang lain dengan cara menjaga diri agar tetap berkenan pada Tuhan. Mereka yang hidupnya berkenan pada Tuhan tak akan pernah dikalahkan oleh kekerasan dan kebencian. Peliharalah hati dan pikiranmu dalam roh serta kalahkanlah kebencian dengan cara menjaga hidup tetap berkenan pada Tuhan. 

Doa: Tuhan, berkatilah kami untuk terus melakukan kebaikan dalam nama-Mu. Amin.

Rabu, 05 Oktober 2022                                

bacaan : Mazmur 18 : 1 – 3

Nyanyian syukur Daud
Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul. (18:2) Ia berkata: "Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! 2 (18-3) Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

Allahku, Penyelamatku

Seiring berlangsungnya  kesempatan untuk menjalani kehidupan, dialami pula pergumulan. Pergumulan hendaknya dipahami  sebagai proses pembentukan pribadi yang berkualitas. Proses inilah yang dialami Daud, ketika Tuhan berkenan menjadikannya sebagai seorang raja untuk memimpin bangsa Israel. Pengurapan yang diterima, tidak memuluskan perjalanannya untuk menduduki kursi kerajaan. Ia mengalami ancaman berkali-kali hingga nyaris dibunuh Saul, raja yang akan digantikannya. Daud diluputkan dari kematian yang nyata dihadapannya. Ia menyadari sungguh bahwa keselamatan itu datang dari Allah yang telah mengurapinya. Nas  mazmur 18 : 1-3, menggambarkan keindahan nyanyia syukur Daud tentang kemurahan dan kemahakuasaan Allah. Tuhan bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatanku. Allah gunung batuku, tempat aku berlindung. Perisai tanduk keselamatanku, kota bentengku. Pernyataan ini melukiskan kemahakuasaan Allah yang tidak dapat ditandingi oleh kekuatan apa pun di dunia ini. Kekuasaan-Nya kekal, tidak terbatas pada satu masa, tetapi selama-lamanya. Keyakinan Daud akan keberadaan Allah harus diamini juga oleh orang percaya di masa kini. Ketika Tuhan berkenan mengangkat dan menjadikan kehidupan kita berharga, , ada proses hebat yang mesti dilalui. Proses itu membentuk kita menjadi berkualitas dalam menjalani kehidupan serta berharga di hadapan Tuhan. Karena itu, jalanilah apapun proses kehidupan ini dengan kesungguhan hati. Ungkaplah syukur sebagai bentuk kesadaran akan pertolongan Allah yang nyata dalam setiap proses tersebut.

Doa:  Tuhan, berikan kami kepekaan untuk terus mensyukuri penyertaan-Mu dalam hidup ini. Amin.

Kamis, 06 Oktober 2022                             

bacaan : Mazmur 18 : 47 – 51

46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) yang telah meluputkan aku dari pada musuhku. Bahkan, Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari orang yang melakukan kelaliman. 49 (18-50) Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya."

Bersyukur Selalu

Kita diajak untuk belajar menemukan keindahan dan keluhuran makna bersyukur. Keindahan dan keluhurannya berdasar pada kesadaran bahwa diri yang bersyukur sesungguhnya tidak layak, tapi mendapakan berkat keselamatan dari Tuhan. Kita bersyukur karena pertolonan Tuhan yang memberdayakan dan membuat berhasil melewati berbagai tantangan. Sama halnya dengan raja Daud dalam kesaksian Mazmur 18: 47-51 ini. Ia lafaskan nyanyian syukur kepada Tuhan karena dirinya telah terlepas dari himpitan masalah. Kepercayaannya tetap kokoh, bahwa Allah pasti memberikan pertolongan dan jalan keluar bagi setiap masalah yang dihadapi. Daud setia dan percaya penuh bahwa Tuhan yang mengendalikan seluruh langkah hidupnya. Akhirnya Daud memperoleh kemenangan dan setiap hal yang diraih, membawanya semakin dekat kepada Allah. Marilah belajar untuk menghadapi dan mengatasi masalah yang mengusik kehidupan dengan sikap beriman tetap bersandar dan percaya penuh kepada Tuhan. Yakinlah bahwa kesetiaan Tuhan berlaku abadi bagi semua orang yang berharap pada-Nya. Bersyukurlah senantiasa karena kemurahan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dia-lah Sang pemberi hidup yang layak dipuji  dengan tak hentinya selama hidup ini kita jalani. Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara hidup ini, telah menganugerahkan keselamatan  dan menunjukkan kasih setia kepada semua orang yang berkenan kepada-Nya. Karya selamat-Nya tak berkesudahan, pujilah  dan bersyukurlah  selalu kepada-Nya, Tuhan gunung batu kita yang hidup .

Doa:  Ya Tuhan ajarlah kami bersyukur selalu untuk anugerah yang Engkau berikan. Amin.

Jumat, 07 Oktober 2022                              

bacaan : 2 Samuel 23 : 1 – 7

Perkataan Daud yang terakhir
Inilah perkataan Daud yang terakhir: "Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel: 2 Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku; 3 Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, 4 ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah. 5 Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah? Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin. Sebab segala keselamatanku dan segala kesukaanku bukankah Dia yang menumbuhkannya? 6 Tetapi orang-orang yang dursila mereka semuanya seperti duri yang dihamburkan; sesungguhnya, mereka tidak terpegang oleh tangan: 7 tidak ada orang yang dapat mengusik mereka, kecuali dengan sebatang besi atau gagang tombak, dan dengan api mereka dibakar habis!"

Kuasa, Kemasyuran dan Berkat

Daud raja kedua Israel pada masa menjelang akhir hidupnya menyampaikan “perkataan” yang sarat makna. Masa hidup dan tahun-tahun pemerintahannya ditandai dengan dimilikinya kuasa, kemasyuran, dan berkat. Semuanya diakui sebagai anugerah Tuhan. Tuhan telah berkenan mengurapinya, sehingga padanya ada kuasa sebagai seorang raja dan ia menjadi orang yang dianggkat tinggi. Ia bahkan mengakui bahwa kepadanya juga diberikan kuasa sebagai seorang nabi. Pengakuan akan hal itu dinyatakan secara reflektif melalui ungkapan Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku. Daud menjadi raja Israel yang hidupnya dekat dengan Tuhan dan memahami kehendak-Nya. Hidup Daud menjadi sarana berlangsungnya kehendak dan rencana Tuhan. Oleh sebab itu ia memerintah dengan adil dan takut akan Allah. Kuasa yang dimilikinya berasal dari Tuhan dan dipergunakan bagi kemuliaan-Nya. Tuhan tidak saja menganugerahkan kuasa kepada Daud tapi kemasyuran pula. Ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, cerah, berkilauan dan bagaikan rumput muda. Hidup, jabatan dan keluarganya diberkati. Allah menegakkan perjanjian kekal dan menjamin keluarganya. Kepada Daud diberikan juga berkat berupa kemampuan mengatasi masalah yang mengancam hidup. Tuhan telah melimpahi Daud dengan kuasa, kemasyuran dan berkat. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa pun yang kita butuhkan dalam hidup ini. Dekatkanlah hidup pada Dia, dan pahamilah kehendak-Nya. Muliakanlah Tuhan dalam segala hal dan hiduplah dengan adil. Takutlah akan Alah dan jauhilah kejahatan.

Doa:  Tolonglah kami Tuhan, agar  mampu mensyukuri kuasa,  kemasyuran dan berkat yang telah  dianugerahkan kepada kami. Amin.

Sabtu, 08 Oktober 2022                                 

bacaan : Yesaya 25 : 6- 12

Keselamatan bagi bangsa-bangsa di Sion
6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. 7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. 8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya. 9 Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" 10 Sebab tangan TUHAN akan melindungi gunung ini, tetapi Moab akan diinjak-injak di tempatnya sendiri, sebagai jerami diinjak-injak dalam lobang kotoran. 11 Apabila Moab mengembangkan tangannya di dalamnya seperti cara perenang mengembangkannya untuk berenang, maka TUHAN akan mematahkan kecongkakkan mereka dengan segala daya upaya mereka. 12 Maka kubu-kubu tembokmu yang tinggi akan ditumbangkan-Nya dan dirubuhkan-Nya, dan dicampakkan-Nya ke tanah dan debu.

Allah Menyelamatkan Bangsa Bangsa

Nabi Yesaya pertama-tama menggambarkan karya keselamatan Tuhan laksana sebuah perjamuan dengan masakan bergemuk dan bersumsum disertai anggur tua yang disaring endapannya. Perjamuan ini akan berlangsung di gunung Sion. Sion diyakini sebagai gunung kudus tempat didirikannya Bait Allah di Yerusalem. Tuhan semesta alam akan menyediakan   keselamatan bagi segala bangsa. Sion mewakili umat Allah dan tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sebutan perjamuan adalah ungkapan simbolis yang bermakna kegirangan atau sukacita dan tersedianya makanan dan minuman. Keselamatan Allah berlangsung di tempat dimana Ia berkenan bersemayam. Selanjutnya, Yesaya juga mengungkapkan bahwa karya keselamatan, Tuhan aktakan dengan cara mengoyakkan kain kabung perkabungan yang diselubungkan, meniadakan maut, menghapus air mata, dan menjauhkan aib. Tuhan membebaskan dan memulihkan hidup. Hidup dibebaskan dari derita, kematian, kesedihan dan cela atau rasa malu. Sepanjang sejarah, agaknya manusia berupaya keras agar berhasil menyelamatkan hidup dari berbagai hal yang mengancam. Berbagai ikhtiar dilangsungkan demi memperoleh pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun kerohanian. Upaya–upaya kemanusiaan itu selayaknya diapresiasi atau dihargai. Namun rasanya, manusia tak jua luput dari kegagalan, kekecewaan, kedukaan bahkan kesia-siaan. Mari berjuang bersama Tuhan, sebab keselamatan hanya ada pada-Nya. Dia-lah sumber berkat dan kegirangan. Kita akan dibebaskan dari beban dan tekanan hidup. Hidup kita dipulihkan dari air mata dan aib sehingga diliputi kelegaan serta rasa berharga.

Doa:  Ya Tuhan sumber keselamatan, selamatkanlah kami dari ancaman yang menghantui hidup, agar kegirangan dapat dialami . Amin.

*SUMBER : SHK bulan OKTOBER 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25 Sept – 1 Okt 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu IV : ” Peduli terhadap Sesama

Minggu, 25 September 2022                           

bacaan : Lukas 16 : 19 – 31

Orang kaya dan Lazarus yang miskin
19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Jadilah Berarti Bagi Sesama

Kekayaan, selayaknya dipahami sebagai berkat Tuhan. Semua orang dapat saja memiliki kekayaan yang melimpah sekaligus terpanggil untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Ada bermacam-macam cara yang dilakukan orang sebagai bentuk pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan itu. Misalnya saja dengan melakukan aksi sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, tetapi ada juga yang memanfaatkannya hanya untuk diri sendiri. Perilaku peduli diri sendiri inilah yang tersebut dalam kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Kisah ini menceritakan bahwa si kaya tidak memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya dengan melimpah itu untuk berbagi dengan orang  yang miskin. Keseharian orang kaya ini dijalani hanya  dengan cara bersukaria dalam kemewahan (ay. 19). Keberadaan dan kondisi hidupnya  berbanding terbalik dengan Lazarus yang tidak memiliki tempat tinggal, badanya dipenuhi borok dan untuk makan saja sangatlah sulit. Nas hari ini menuturkan pula bahwa di “seberang hidup”, orang kaya dan Lazarus mendapatkan tempat yang berbeda (ay. 22-23). Kita tentu saja tidak ingin memiliki nasib seperti si kaya yang setelah kematiannya mengalami penderitaan. Bacaan hari ini mengajarkan kita agar dapat memanfaatkan kekayaan yang dimiliki dengan menunjukan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Karena ada banyak saudara-saudari  di luar sana yang tidak seberuntung kita. Kepedulian terhadap sesama tidak hanya ditunjukan dengan berbagi materi saja, tetapi juga dengan perhatian dan kasih sayang kita. Jadilah orang-orang yang peka terhadap orang lain, supaya melalui hidup kita mereka pun dapat merasakan berkat dan kasih Allah. Percayalah, semua kebaikan yang kita lakukan tidaklah sia-sia, melainkan akan berbuah manis kelak. Teruslah peduli dan Jadilah berarti bagi sesama, sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus adalah Allah yang peduli.  Peliharalah belas kasihan atau kepedulia dan jadilah berkat bagi sesama.

Doa:  Ya Tuhan, kiranya hidup kami tetap berarti bagi sesama.  Amin.

Senin, 26 September 2022                             

Imamat 19 : 9 – 13

9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu. 11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. 12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. 13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

Menghidupkan Orang Asing dan Yang Miskin

Perilaku menghidupkan orang asing dan yang miskin pada hakikatnya merupakan wujud hidup yang kudus. Hidup yang kudus adalah penampakkan keberadaan sebagai orang beriman. Orang beriman disebut sebagai mereka yang memiliki hidup kudus. Kudus berarti “dipisahkan” atau “disendirikan”, maksudnya kehidupan orang Kristen haruslah berbeda dari mereka yang lain. Kita boleh hidup bersama mereka yang tidak mengimani Kristus, tetapi dengan kualitas yang berbeda. Hidup yang berkualitas itulah yang membedakan keberadaan umat Allah dengan yang lainnya. Kita terpanggil untuk berjuang memiliki hidup kudus atau berkualitas. Nas hari ini menyaksikan bahwa hidup berkualitas ditandai dengan perilaku peduli terhadap sesama. Sesama yang dimaksud dalam teks ini adalah mereka yang disebut orang asing dan yang miskin. Orang asing dan yang miskin hidup dalam kondisi kekurangan, terutama makanan dan karena itu harus dipedulikan. Kepedulian orang lain atau yang berkelebihan menentukan kelanjutan hidup mereka. Orang asing dan yang miskin hidup dari sisa hasil usaha atau panen para pemilik tanah dan kebun (ayat 9-10). Perilaku meninggalkan sisa hasil usaha bermakna manusiawi. Kebutuhan mendesak orang berkekurangan dipenuhi. Pemilik tanah dan kebun harus membagi hidup agar apa yang ada pada mereka dapat menghidupkan orang lain. Pesan nas ini kiranya dapat mengugah dan menginspirasi keberadaan kita sekarang ini. Hidup berkekurangan tak pernah diharapkan tapi dapat dialami karena kondisi yang tidak menguntungkan. Kepedulian layak dijadikan daya hidup agar kelebihan seseorang mencukupkan kekurangan yang lainnya. Hanya sisa yang diminta untuk menghidupkan, bukan semua yang ada pada kita.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami untuk tetap peduli akan sesama. Amin

Selasa, 27 September 2022                         

bacaan : Imamat 19 : 14 – 16

14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

Setiap Orang berharga di Mata Tuhan

Nas hari ini menyaksikan aspek lain dari panggilan untuk menjalani hidup kudus. Hidup kudus terwujud dalam sikap dan perilaku menghargai dan memperlakukan semua orang sebagai makhluk yang bermartabat. Semua orang berharga di mata Tuhan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam hal mendengar dan melihat merupakan sebagian dari kondisi hidup yang tidak lazim. Teks hari ini tampil untuk menggugah rasa kemanusiaan. Keterbatasan yang ada pada orang lain bukanlah alasan untuk memperlakukan mereka secara tidak wajar. Hindarilah tindakkan mengutuki mereka yang mengalami keterbatasan mendengar (tuli). Kita diharapkan terhindar dari bertindak secara tidak wajar.  Mereka yang memiliki keterbatasan mendengar tak boleh dikutuki. Batu sandungan tak boleh diletakkan di depan orang yang hidup dengan keterbatasan melihat atau buta (ayat 14). Sebaliknya kita diharuskan untuk takut Tuhan. Orang yang hidup dengan keterbatasan apapun tetap berharga di mata Tuhan. Mereka tak boleh dihina, dilecehkan,  ditolak, dan diremehkan. Sebaliknya dikasihi, dihargai, dibela atau diberdayakan. Kita juga diminta untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi orang kecil serta menghindari melakukan tindakkan memfitnah. Orang kecil harus dilindungi serta dibela atau diperlakukan dengan adil dan benar. Ingatlah bahwa perilaku memfitnah hanya akan merusak harmoni hidup dan menciptakan perpecahan. Hindarilah untuk berlaku tidak wajar dan penuhilah keberadaan juga kebersamaan dengan cinta kasih, kepedulian serta takut akan Tuhan.

Doa:  Tuhan, ajarkan kami untuk tidak memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang lemah, berikanlah kami hati yang tulus untuk menjaga keharmonisan hidup. Amin.

Rabu, 28 September 2022                             

bacaan : Imamat 19 : 17 – 19

17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. 18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. 19 Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.

Merawat Hidup Bersama Dengan Kasih

Cara lain memelihara hidup kudus adalah mematikan perilaku membenci namun menghidupkan akta mengasihi. Mengasihi dikehendaki menjadi wujud luhurnya perilaku orang kudus. Kita teranggilan untuk mengasihi baik diri sendiri, saudara maupun sesama. Tak ada seorang manusia pun yang mampu hidup sendiri. Saudara dan sesama tak mungkin dihindari keberadaannya oleh siapapun selama ia menjalani keberadaannya. Kita diminta untuk hidup kudus, caranya adalah merawat kebersamaan dengan kasih. Kasih terlahir dari hati dan berwujud dalam tindakkan. Tindakkan mengasihi terlahir dari hati dan oleh sebab itu murni serta tulus bukan palsu. Mengasihi yang terlahir dari hati yang murni dan tulus bukan saja bermakna bagi orang lain tetapi terutama bagi diri sendiri. Mengasihi haruslah dimulai dari diri bukan diharapkan untuk dilakukan terlebih dahulu oleh orang lain. Setiap orang pada hakikatnya mengasihi diri sendiri dan hal itu harus pula diwujudkan kepada orang lain, baik saudara maupun sesama. Sebagaimana kita mengasihi diri sendiri, seperti itu pula harus dilakukan kepada orang lain. Hati orang kudus tidak dikotori dengan kebencian. Kebencian hanyalah “kotoran” atau “duri” yang membuat seseorang menjadi berdosa. Mengasihi memampukan seseorang menegur orang lain yang melakukan kesalahan tanpa membuatnya tersinggung. Selain itu mengasihi berarti pula tidak menuntut balas dan mendendam. Mengasihi memelihara orang percaya tetap memiliki hidup kudus. Hidup kudus terpelihara karena mengasihi dan karena itu kebersamaan berlangsung pula secara damai dan tertib.  Orang kudus, hidupnya tertib baik saat berbusana, berkerja maupun yang lainnya.

Doa: Ya Tritunggal, mampukanlah kami untuk setia mengasihi. Amin.

Kamis, 29 September 2022                           

bacaan : Imamat 19 : 32 – 37

32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu. 35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan. 36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN."

Meresponi Kasih Allah Dengan Cara Peduli Terhadap Sesama

Teks hari ini menegaskan keterpanggilan untuk peduli kepada sesama. Sesama yang dimaksud adalah mereka yang telah lanjut umur, orang tua, orang asing, dan pencari keadilan serta orang miskin. Umat terpanggil untuk peduli sesama karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi mereka. Pembebasan dari perbudakkan di Mesir adalah bukti dan wujud pengasihan Allah yang luar biasa. Umat terpanggil untuk mengasihi karena mereka telah dikasihi bukan supaya dapat memperoleh kasih. Kepedulian kepada sesama berdasar pada tindakkan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi. Kepedulian terhadap sesama haruslah terwujud melalui tindakan cerdas dan bermutu atau yang menghidupkan. Kita harus berlaku sopan dan  santun kepada semua orang lanjut usia atau mereka yang telah beruban. Orang tua dihormati demikian pun mereka yang “asing”. Orang asing tak boleh ditindas tetapi diterima sebagai bagian dari persekutuan dan dikasihi seperti diri sendiri. Orang yang mencari keadilan haruslah diperlakukan dengan baik. Kecurangan tak boleh berlangsung dalam lembaga peradilan. Para penegak hukum terpanggil bertindak adil agar kebenaran tak diperjual belikan. Kepedulian haruslah terwujud pula dalam aktiftas ekonomi atau jual beli. Para penjual atau pedagang harus memakai timbangan atau ukuran yang betul. Kita terpanggil untuk mewujudkan kasih Allah dalam tindakkan kepedulian kepada sesama. Kepedulian diharapkan terwujud baik dalam keluarga, kepada mereka yang lanjut usianya, di lembaga peradilan maupun saat berlangsungnya aktifitas ekonomi. Kasih Allah tak akan berakhir, karena itu teruslah saling peduli. Peduli sesama berarti, sopan, menghormati dan jujur.

Doa:  Ajarilah kami Tuhan untuk mengerti akan kasih-Mu agar kami mampu untuk  saling peduli seorang akan yang lainnya. Amin.

Jumat, 30 September 2022                          

bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 16

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. 9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami 10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan--pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik. 11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin 12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya. 13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Bersyukur dan Terus Peduli

Kita layak bersyukur di penghujung bulan ini sambil berkomitmen untuk tetap peduli sesama. Tuhan, Allah kita terus berkarya mendatangkan kebaikan dalam hidup baik pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat. Kasih Allah kita alami saat dikasihi atau dipedulikan dengan tulus oleh anggota keluarga yang lain juga sesama. Kesehatan kita terpelihara, anak-anak dapat menjalani aktifitas pendidikan mereka, pekerjaan, jabatan dan karier berlangsung, usaha serta pencarian tetap dilakoni. Seisi keluarga, gereja dan masyarakat terus menjalani keberadaan sampai di hari terakhir bulan ini, hanya karena kasih Tuhan. Teks hari ini kembali menegaskan panggilan kita untuk mewujudkan kepedulian terhadap sesama, secara khusus para janda. Paulus berpesan kepada Timotius agar setiap keluarga peduli terhadap semua janda yang ada pada mereka. Janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan dinasihatkan agar terhindar dari menjalani hidup dengan cara yang bercela. Bagi janda muda atau yang berkeinginan menikah lagi harus didukung supaya mereka beroleh anak, mengurus rumah tangga sendiri dan terhidar dari tindakkan serta cerita yang tak “sedap”. Perhatian khusus haruslah diberikan kepada “janda-janda yang benar-benar janda.” Mereka adalah janda yang tidak kurang dari enam puluh tahun, ditinggalkan seorang diri, menaruh harapan kepada Allah, bertekun dalam doa dan permohonan siang malam atau yang melakukan perbuatan baik. Perhatian khusus kepada “janda yang benar-benar janda”, menjadi tanggung jawab jemaat. Bagi janda yang tidak termasuk katagori khusus, bila hidup mereka dapat ditanggung oleh keluarga sendiri, maka itu pun dapat diterima dan disyukuri.

Doa:  Kuatkan kami dengan kasih-Mu supaya hidup kami jadi berarti bagi keluarga dan sesama. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu III : ” Bertekun dalam doa karena meyakini janji Tuhan.

Minggu, 18 September 2022                    

bacaan : 1 Tawarikh 17 : 16 – 27

Doa syukur Daud
16 Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? 17 Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Allah; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya TUHAN Allah. 18 Apakah lagi yang dapat ditambahkan Daud kepada-Mu dalam hal Engkau memuliakan hamba-Mu ini? Bukankah Engkau yang mengenal hamba-Mu ini? 19 Ya TUHAN, oleh karena hamba-Mu ini dan menurut hati-Mu Engkau telah melakukan segala perkara yang besar ini dengan memberitahukan segala perkara yang besar itu. 20 Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. 21 Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Mu dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dari Mesir? 22 Engkau telah membuat umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. 23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya."

Serahkanlah Segala Rencana dan Hidupmu Kepada Tuhan

Umumnya kita lebih condong berdoa jika mengalami masalah dalam hidup ini. Hal itu pertanda ketika belum mengalami masalah kita tidak mengandalkan Tuhan. Berbeda dengan raja Daud yang berencana untuk membangun Bait Allah dan menyerahkannya dalam doa kepada Tuhan. Daud sangat meyakini bahwa apapun yang ia rencanakan dan lakukan harus diletakkan dalam campur tangan dan kekuatan Tuhan. Alasannya, manusia memiliki keterbatasan tapi Tuhan tidak terbatas dalam hal apapun. Karena itu, Daud berdoa kepada Tuhan. Ia berdoa dengan kerendahan hatinya dan karena itu nyatalah bahwa sebagai seorang raja, Daud tidak menyombongkan dirinya di hadapan Tuhan. Daud juga mengucap syukur kepada Tuhan sebab keluarganya dipercayai (ayat 17-19). Selain itu, Daud meninggikan dan mengagungkan Tuhan Allah. Hal ini terungkap dalam isi doa Daud yang mengatakan bahwa tidak ada Allah lain seperti Engkau yang kami sembah. Dia-lah Allah yang membebaskan umat-Nya dengan perbuatan-perbuatan  besar dan dahsyat. Tuhan-lah penyelamat dan pembebas yang menyelamatkan umat-Nya dari Mesir (ay. 20-22). Akhirnya Daud menyadari bahwa segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja, pemimpin, dan pelayan tidak terlepas dari dukungan keluarga. Karena itu dalam segala kelemahan, kekurangan, dan dengan kerendahan hati Daud berdoa memohon Tuhan memberkati keluarganya. Sikap beriman seperti ini layak diteladani. Keberhasilan seseorang tidak semata terletak pada dukungan dan topangan doa keluarga. Sebaliknya, keluarga perlu pula didoakan. Kiranya menjadi nyata bahwa kita adalah keluarga yang didoakan dan mendoakan satu akan yang lainnya.

Doa: Kiranya rencana dan hidup kami berkenan pada-Mu. Amin.

Senin, 19 September 2022                         

bacaan : Yeremia 29 : 10 – 14

10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. 11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Cari, Temui, dan berserulah Kepada Tuhan

Kebebasan, biasanya dirindukan oleh orang-orang yang berada dalam kesesakan atau penderitaan. Penderitaan mengakibatkan orang merindukan hidup seperti sedia kala atau menjalani keberadaan dalam suasana bebas. Namun, sering kali karena keterbatasan, kita menjadi tak berdaya menemukan jalan keluar. Kadangkala kondisi ini membuat kita kecewa dan putus asa, sehingga ingin melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Lewat teks  Yeremia 29:10-14, kita dipertemukan dengan nubuatan tentang jalan keluar yang dialamatkan bagi umat Israel saat mengalami pembuangan di Babel. Jalan keluar tersebut adalah berdoa menyerahkan segala kerinduan untuk mengalami hidup yang baik. Umat diminta agar berserah dan menyerahkan hidup diatur oleh Tuhan. Manusia memang punya rencana, namun terbatas karena itu harus berserah pada Tuhan. Rencana dan rancangan Tuhan untuk hidup ini jauh lebih baik, sempurna dan sejahtera. Atas dasar itu, sebagai umat Tuhan, taatlah berseru dan berdoa kepada Tuhan, sebab Ia pasti mendengarkan kita (ay. 12). Sekali lagi, bersungguh-sungguhlah mencari dan menemukan Tuhan lewat doa (ay. 13), karena Ia memberikan diri-Nya untuk kita temui. Bawalah seluruh gumulan hidup yang menekan pada-Nya. Berseru dan bermohonlah agar Ia menuntun engkau keluar dari deritamu. Dia-lah Tuhan pembebas yang maha mendengar dan melepaskan umat-Nya dari keluh kesah hidup ini. Ia berkuasa membebaskan dan menganugerahkan kelegaan. Tuhan pernah berjanji kepada umat-Nya Israel dan Ia menepatinya. Yakinlah akan janji kelepasan Tuhan, berdoalah senantiasa dan jalanilah hidup dengan lega.

Doa: Ya Tuhan, inilah kami yang datang kepadaMu sambil berseru dan berdoa. Dengar dan jawablah doa kami. Amin.

Selasa, 20 september 2022                    

bacaan : 1 Raja-raja 8 : 22 – 30    

Doa Salomo
22 Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, 23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 24 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 25 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup di hadapan-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku. 26 Maka sekarang, ya Allah Israel, biarlah kiranya menjadi nyata keteguhan janji yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud, ayahku. 27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 28 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! 29 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 30 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.

                          Berdoa dan Meyakini Janji Tuhan 

Keberhasilan seringkali membuat kita menjadi orang-orang yang lupa diri. Kita menganggap bahwa pencapaian yang didapati semata-mata karena cara berpikir atau kerja keras diri sendiri. Anggapan seperti ini dapat membuat kita menjadi sombong dan angkuh bahkan melupakan Tuhan. Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki sifat seperti itu. Misalnya saja raja Salomo, sebagaimana dikisahkan dalam perikop bacaan kita hari ini. Keberhasilan dimaksud tentu saja berkaitan dengan telah diselesaikannya rumah Allah oleh Salomo sesuai janji Tuhan kepada Daud (ay. 19). keberhasilan tidak membuat Salomo merasa hebat melainkan meyakini bahwa sukses yang diraihnya semata-mata penggenapan janji Tuhan. Isi doa yang Salomo naikkan dengan sungguh di hadapan Tuhan, mengandung pengakuan atas kedaulatan Allah serta keyakinan pada janji-Nya. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini…..(ay. 28), menunjukan kepribadian Salomo yang juga percaya dan bergantung pada ketetapan serta kehendak Allah. Ia yakin bahwa Allah yang sama jugalah yang akan menjawab doa dan permohonannya. Sebagaimana Salomo yang meyakini janji Allah dalam ungkapan doanya, kita pun diajarkan demikian. Karena hanya Allah satu-satunya tempat kita berseru dan memohon. Menjumpai Allah di dalam doa sudah seharusnya menjadi gaya hidup kita sebagai orang percaya. Berdoa adalah bukti iman dan pengakuan serta kebergantungan kita kepada-Nya. Percayalah kepada Tuhan dan hiduplah benar di hadapan-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah tidak pernah mengingkari janji. Oleh sebab itu Yakinlah pada Allah, nyatakan permohonan kita di dalam doa dengan sungguh sambil tetap percaya bahwa Ia akan senantiasa menjawab.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami agar terus berdoa sambil meyakini janji-Mu. Amin.

Rabu, 21 September 2022                                       

bacaan : Roma 12 : 12

12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Bertekunlah Dalam Doa

Doa adalah nafas hidup orang percaya, merupakan kalimat yang sudah sangat sering kita dengar. Kalimat ini menegaskan bahwa doa mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalani kehidupan. Sebab dengan berdoa secara langsung memperlihatkan kepercayaan bahkan kebergantungan kita kepada Allah. Oleh karena itu salah satu pokok teologi yang penting dari nasihat rasul Paulus untuk hidup dalam kasih, adalah bertekunlah dalam doa. Kita tidak dapat menghindari berbagai dinamika  dalam menjalani kehidupan. Terkadang kita berada pada situasi kebahagiaan, tetapi dapat pula mengalami hal atau peristiwa yang mengecewakan. Realita seperti ini dapat saja membuat kita cenderung hidup di luar kasih karena iman menjadi terguncang. Ungkapan Bertekunlah dalam doa, menegaskan nilai ketaatan dan kesetiaan serta keterbukaan di hadapan Allah. Manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Oleh sebab itu, kita membutuhkan campur tangan dan kuasa Allah. Kuasa dan campur tangan Allah yang menolong hanya dapat dialami melalui akta berdoa yang dilakukan dengan tekun. Tekun berdoa merupakan pilihan sikap dan cara beriman untuk memperoleh kekuatan ilahi menghadapi dan mengatasi apapun situsi hidup. Teruslah bersukacita karena Allah akan selalu memberikan harapan baru  bagi kita dan tetaplah tabah meskipun berbagai kesulitan hidup, kesesakan serta cobaan datang silih berganti. Jadikan doa sebagai kebutuhan kita untuk terus membangun relasi dengan Allah dan harapan dalam menjalani hubungan yang penuh kasih dengan sesama. Teruslah mendoakan pribadi masing-masing, sesama manusia dan dunia ini agar kehidupan yang penuh kedamaian kita alami. Percayalah pada Allah, dengan kasih-Nya yang begitu besar Ia akan mendengar dan menyahuti pinta doa kita.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami agar tekun berdoa kepada-Mu sebagai bukti    iman dan percaya kami. Amin.

Kamis, 22 September 2022                           

bacaan : Bilangan 11 : 1 – 3

Api TUHAN
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. 3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

Jangan Mengeluh, Berdoalah!

Hidup yang bahagia menjadi harapan atau dambaan setiap insan manusia. Namun ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan atau dambaan itu, muncullah berbagai reaksi dengan corak yang berbeda. Ada yang menanggapi dengan bersyukur dan lapang dada, tetapi lainnya bersungut-sungut sambil menyalahkan diri sendiri atau orang lain bahkan Tuhan. Tanggapan bersungut-sungut dan menyalahkan inilah yang dilakukan bangsa Israel sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini. Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut di hadapan Tuhan karena kenyataan yang mereka alami. Mereka beranggapan bahwa kehidupan yang dialami dan dijalani saat itu jauh berbeda dengan saat berada di tanah Mesir. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kebutuhan jasmani yakni makan dan minum. Meskipun tidak sama seperti di Mesir, tetapi Allah tidak pernah membiarkan bangsa itu kelaparan. Persungutan mereka berakibat pada dialaminya murka Allah. Api Tuhan menyala di sekitar perkemahan. Kenyataan tersebut membuat bangsa Israel berteriak kepada Musa agar ia  menjadi perantara untuk memohon pengampunan dan pembebasan Tuhan. Kisah ini menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak sungguh-sungguh meyakini dan memercayai Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah perbudakan  (Mesir). Tindakan Musa untuk berdoa kepada Allah, sudah sepatutnya diteladani oleh kita sebagai orang percaya. Benar adanya, dalam setiap proses kehidupan ini kita akan menemukan berbagai macam tantangan dan persoalan. Akan tetapi haruslah tetap yakin bahwa di balik penderitaan, ada maksud Tuhan yang baik bagi hidup kita. Oleh karenanya hindarilah sikap atau perilaku yang bersungut-sungut dan saling menyalahkan serta hiduplah dalam ungkapan syukur yang tulus kepada Allah.  Percayalah, dalam doa yang penuh iman, ada kuasa Allah. 

Doa:  Tuhan Yesus, ajarilah kami mensyukuri setiap rencana Tuhan serta percaya pada kuasa-Mu.  Amin.

Jumat, 23 September 2022                                

bacaan : Matius 7 : 7 – 11

Hal yang kudus dan berharga Hal pengabulan doa
7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji

Setiap orang memiliki pergumulan hidup yang berbeda-beda. Pergumulan dihadapi baik sebagai pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Mungkin saja dapat berkaitan dengan beberapa aspek seperti iman, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial dan lain sebagainya. Terkait hal itu, pernahkah kita merasa bahwa doa dan gumulan kita seolah-olah tidak didengar dan dijawab oleh Tuhan? Bagian bacaan kita hari ini merupakan pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan hal pengabulan doa. Mintalah…carilah…ketoklah…(ay. 7), kata-kata ini bersifat imperatif (perintah) dan ditujukan kepada setiap orang untuk membangun relasi dengan Allah. Hal ini penting diperhatikan karena berdoa sama halnya dengan percaya dan mengakui kuasa Allah. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (ay. 8), mengandung janji dan dialamatkan bagi setiap kita yang dengan sungguh serta tulus berdoa kepada Allah. Orang percaya diminta untuk tetap meyakini janji dan kuasa Allah. Berusahalah untuk tidak meragukan-Nya. Dia yang mengucapkan janji itu adalah Allah yang baik dan berkuasa mengabulkan permohonan kita. Ketika perasaan kita digoncang dengan kebimbangan, keraguan, kecemasan karena dibebani dengan berbagai persoalan hidup, janganlah berputus asa dan hilang harapan. Teruslah berdoa dan berusaha sambil tetap berharap kepada-Nya, karena Allah itu hanya sejauh doa. Mungkin saja tidak terlalu cepat Ia mengabulkan, tetapi bukan pula berarti terlambat, karena jawaban-Nya selalu tepat pada waktunya. Ketahuilah, bahwa setiap kebaikan menurut anggapan manusia, belum tentu baik pada pandangan Allah. Oleh karenanya, berdoalah dengan sungguh, sabarlah menanti jawaban Allah dan yakinlah Ia akan memberikan yang terbaik.

Doa: Tuhan, kami percaya, jawaban doa dari-Mu itulah yang terbaik. Amin.

Sabtu, 24 September 2022                            

bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Jadikan Allah Sebagai Yang Utama

Ketika kita diperhadapkan dengan bermacam-macam persoalan hidup, siapakah yang menjadi prioritas kita? Sebagai orang percaya tentu saja kita akan mendahulukan Tuhan bukan! Tindakan seperti inilah yang dilakukan oleh Nehemia, sebelum menyampaikan maksud kepada raja Artahsasta terkait keinginannya untuk kembali ke Yehuda. Hal ini tentu saja berhubungan dengan kabar atau berita yang diterimanya bahwa orang-orang sebangsanya yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan tercela. Selain itu tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (Neh. 1: 3). Kedekatan Nehemia dengan Artahsasta tercipta karena ia adalah juru minuman raja. Sekalipun demikian, namun Tuhan tetap diutamakannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan setiap doa dan permohonan yang disampaikan kepada Allah (Neh. 1:11; 2:4). Menariknya semua hal yang disampaikan oleh Nehemia kepada Artahsasta dikabulkan. Nehemia meyakini sungguh bahwa semua yang terjadi semata-mata hanya karena tangan Allah yang melindunginya (ay. 8b). Kisah ini memberikan inspirasi bahwa dalam kondisi apapun yang membuat kita ada dalam ketakutan, kebimbangan bahkan keterpurukan, tetaplah mengandalkan Allah.  Bukan berarti kita hanya mendahulukan Allah pada saat ada dalam kesulitan atau masalah hidup saja, tetapi dalam kondisi baik sekalipun. Bahkan di setiap keinginan atau kerinduan kita, sertakan dan utamakanlah Ia di dalamnya. Kita memang belum dapat  memastikan hasil akhir dari segala sesuatu yang direncanakan dan diusahakan. Namun, bila kita mengutamakan Allah, maka percayalah bahwa Ia pasti memberikan yang terbaik. Ingatlah, Allah berkuasa menjawab doa, oleh karena itu jadikanlah Ia yang paling utama selama kehidupan ini kita jalani. Jalanilah hidup ini seturut teladan Nehemia seorang yang tekun berdoa dan bersyukurlah bersama wadah laki-laki GPM di usianya yang ke-34.

Doa:  Tuhan Yesus, ajari kami untuk selalu mengutamakan Engkau dalam      mengawali setiap langkah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM

Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 September 2022

Tema Bulan September : ” Bersyukur dan Tetap Melakukan Kebaikan”

Tema Minggu II : ” Perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni

Minggu, 11 September 2022                      

bacaan : 1 Timotius 1 : 18 – 20

Tugas Timotius
Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,
di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Bersaksi Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Tema pelayanan kita di minggu ini, “perjuangkan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Tema ini berdasar pada nasihat  Paulus kepada Timotius. Timotius akan melanjutkan tugas pemberitaan injil Kristus. Paulus menyadari bahwa Timotius yang disapa sebagai anaknya akan menghadapi berbagai tantangan, ancaman bahkan godaan dari kekuatan dunia. Kondisi yang demikian dapat saja mengakibatkan Timotius meninggalkan panggilan pelayanannya. Ia tidak menghendaki Timotius mengulangi tindakan Himeneus dan Aleksander yang telah mengkhianati panggilan mereka dengan menghujat pekerjaan Tuhan. Paulus telah menyerahkan mereka kepada iblis sebagai bentuk hukuman agar menjadi jera. Fakta itulah yang menyebabkan Paulus menasihati Timotius. Timotius dinasihati untuk memiliki iman yang teguh kepada Kristus serta hati nurani yang murni dalam menjalankan tugas pelayanan pemberitaan injil. Hati sebagai pusat pikiran, perasaan dan pengambilan keputusan mesti selalu dicerahi dengan iman kepada Kristus. Keteguhan iman membuat hati bersukacita terutama ketika menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan. Iman yang kokoh akan menjadi “sauh” saat berhadapan dengan ancaman dan godaan untuk meninggalkan atau menghianati pelayanan. Nasihat firman Tuhan ini pun penting bagi kita sebagai keluarga Allah : papa, mama dan anak-anak dalam melaksanakan panggilan   memberitakan Injil Kristus di tengah dunia ini. Kita memberitakan injil Kristus melalui tutur kata yang baik, sikap santun dan perilaku hidup sesuai teladan Kristus. Hal ini tidaklah mudah atau gampang sebab kita akan berhadapan dengan berbagai tantangan, godaan bahkan ancaman serta kekuatan dunia yang merusak. Panggilan dan situasi inilah yang mendorong  kita untuk memiliki iman yang kokoh kepada Kristus. Teruslah pelihara hati nurani yang murni agar hidup dituntun untuk melangkah sesuai perintah dan kehendak Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan tolonglah kami untuk bersaksi dengan iman & hati nurani yang murni. Amin.-  

Senin, 12 September 2022                             

bacaan : 1 Timotius 1 : 3 – 5

Mengenai ajaran sesat
3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain 4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman. 5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

Hidup Tertib Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Perjalanan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan yang akan dilanjutkan oleh Timotius tidak sepi dari berbagai tantangan atau persoalan. Ada orang yang mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng serta cerita yang berlebihan tentang silsilah. Akibatnya timbul kekacauan dan keutuhan jemaat terancam pecah. Mereka ini perlu dinasihati dan untuk melakukan tugas itu, Timotius harus tinggal di Efesus tetapi Paulus melanjutkan perjalanan ke Makedonia. Beriman kepada Kristus yang telah menganugerahkan keselamatan haruslah terwujud dalam keutuhan persekutuan. Persekutuan jemaat harus tetap terpelihara dan oleh sebab itu pengacau atau pembuat masalah perlu disadarkan. Hati yang menjadi sasaran penyadaran. Timotius diminta untuk memberi menasihat agar hati mereka dipenuhi kasih, dan menjadi suci, murni serta tulus ikhlas. Kemurnian hati nurani terlahir dari iman dan ketulusan. Dampaknya adalah dialaminya kehidupan persekutuan yang utuh, indah dan rukun serta diberkati. Berkat Tuhan pasti lenyap dalam persekutuan yang anggotanya hidup saling berbantah, cekcok, berselisih dan tidak rukun. Nasihat firman Tuhan di hari ini penting bagi kita sebagai papa, mama dan anak-anak yang merindukan kehidupan diberkati Tuhan. Keluarga adalah persekutuan orang beriman yang memiliki tertib hidup. Bukalah hati  dan mohon kehadiran Roh Tuhan agar hidup dituntun sehingga sikap dan perilaku berkenan pada-Nya. Peliharalah hati agar tetap suci, murni, dan tulus ikhlas. Usahakanlah untuk tidak menjadi batu sandungan dalam persekutuan baik keluarga, gereja masyarakat maupun bangsa dan Negara. Jalanilah hidup sebagai kesempatan saling mengingatkan, menasihati, menghargai, menghibur, menopang, mendengar, mendamaikan, mengutuhkan dan mengampuni serta mengasihi. Kita telah mengalami kemurahan Tuhan yang menyelamatkan karena itu hiduplah dengan tertib karena iman dan hati nurani yang murni.

Doa:   Tuhan tolonglah kami untuk hidup tertib dengan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Selasa, 13 September 2022                             

bacaan : Roma 8 : 27 – 28 

27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. 28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Melakukan Kebaikan Dengan Iman dan Hati Nurani Yang Murni

Kenyataan hidup yang  kita alami setiap harinya, tidak sepi dari berbagai persoalan, tantangan, acaman bahkan penderitaan. Semua itu merupakan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Kita tak boleh larut, terpuruk apalagi hancur karena kenyataan hidup yang menekan itu. Hidup dalam masa yang sulit dapat membentuk kita menjadi orang percaya yang kokoh atau kuat serta tetap setia mengasihi Tuhan dan sesama. Nasihat Paulus kepada jemaat di Roma adalah kuncinya. Milikilah  “hati nurani yang murni”, sebab Allah yang adalah pencipta menyelidiki dan mngetahui hati setiap orang. Hati sebagai pusat pemikiran, perasaan serta kehendak mesti dicerahi dalam terang iman kepada Kristus. Segala hal yang terjadi dalam hidup ini, kejahatan ataupun kebaikan ada dalam kendali kuasa Allah. Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Pesan firman ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita yang mengimani Kristus, walau sedang mengalami keditakbaikan. Kita tidak perlu kecewa atau putus asa, dan larut serta binasa. Tetaplah menunaikan panggilan melakukan kebaikan dalam hidup. Allah dalam Kristus yang diimani dan disembah adalah Dia yang tetap bekerja serta berkarya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang setia kepada-Nya. Karya penyelamatan Allah akan terus berlangsung termasuk dalam keluarga kita. Kita terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Karyakanlah kebaikan baik dalam  pekerjaan, usaha maupun pendidikan dan masa depan anak-anak. Hadapilah tantangan atau persoalan bahkan penderitaan dengan tetap beriman dan hati nurani yang murni. Teguhkanlah iman peliharalah hati nurani yang murni dan teruslah kerjakan kebaikan dalam hidup. Penuhilah hidup dengan kebaikan karena iman dan hati nuranimu yang murni. Yakinlah bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk melakukan kebaikan dalam pengharapan iman dan hati nurani yang murni. Amin. 

Rabu, 14 September 2022                                    

bacaan : Kisah Para Rasul 23 : 1 – 3

Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." 2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku."

Gunakan Hati Nuranimu

Ketika menghadapi suatu permasalahan, apalagi perkara hukum, tidak saja dibutuhkan keberanian diri, namun juga hati nurani yang kuat. Sebutan hati nurani diterjemahkan dari kata bahasa Yunani suneidēsis, yang berarti “kesadaran moral” atau “pengetahuan moral”. Jadi, hati nurani merupakan suatu proses berpikir yang menghasilkan perasaan yang secara rasional berkaitan dengan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani akan berfungsi saat seseorang menggunakannya untuk menghadapi suatu perkara atau situasi. Bila digunakan, maka hati nurani akan berperan sebagai pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan, bahkan bertindak untuk melakukan hal yang baik. Atas dasar itu, rasul Paulus menyatakan sikapnya di hadapan sidang Mahkamah Agama, bahwa hidupnya selama ini tidak pernah mengabaikan hati nurani, baik dalam kata maupun perbuatan (Kis.23:2). Paulus sadar bahwa pikiran, perkataan, dan perbuatan baik harus bersumber dari hati nurani. Hati nurani adalah bagian tubuh manusia (anatomi), yang tidak bisa dibohongi maupun membohongi. Pengertian seperti ini membantu kita yang adalah orang Kristen untuk harus selalu hidup sesuai dengan apa yang dipahami benar. Ukuran kebenaran kita adalah kehendak Tuhan. Paham demikian perlu dimiliki oleh setiap orang Kristen. Alasannya, jika hidup orang Kristen tidak memahami pengetahuan yang benar tentang kebenaran atau kehendak Allah, maka akibatnya adalah melakukan hal-hal yang jahat (bdk. Yoh 16:2). Marilah kita buka hati nurani agar dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga kebenaran dan kehendak Allah nyata dalam kehidupan ini.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup sesuai dengan hati nurani Agar Engkau dimuliakan. Amin.

Kamis, 15 September 2022                                     

bacaan : Kisah Para Rasul 24 : 16

16 Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

Menjadi Berani Karena Hati Nurani yang Murni

Nas hari ini merupakan bagian dari kisah pembelaan Paulus di hadapan Feliks. Feliks adalah gubernur Romawi di wilayah Yudea dan disebut pula sebagai wali negeri. Ia dipanggil menghadap Feliks karena adanya tuduhan yang berasal dari Imam Besar Ananias, beberapa orang tua-tua dan pengacara Tertulus. Orang-orang ini mengemukakan tuduhan dan berharap agar Feliks mendakwa Paulus bersalah karena pemberitaan Injil yang dilakukannya. Paulus dituduh sebagai “penyakit sampar”, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara bangsa Yahudi dan tokoh dari sekte Nasrani. Semua tuduhan itu dihadapi dan dipatahkan Paulus dengan beraninya.   Ia berani berbicara di hadapan wali negeri dan mematahkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Feliks dapat diyakinkan bahwa Paulus datang dari Yerusalem untuk beribadah, tak pernah didapati bahwa ia bertengkar, atau menimbulkan huru-hara, tidak melakukan hal yang bertentangan dengan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Keberanian Paulus terbukti pula ketika ia justeru memanfaatkan kesempatan itu untuk bersaksi. “Aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut jalan Tuhan.” Harapan aku dan mereka ditujukan kepada Allah yang sama. Dia-lah Allah yang akan membangkitkan semua orang. Paulus menjadi berani karena ia memiliki hati nurani yang murni baik di hadapan Allah maupun manusia. Berani karena hidup dan melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan Allah. Hidupnya tak dijalani dalam kepalsuan atau siasat dan upaya habis-habisan mencelakakan orang lain demi kepentingan diri semata. Keberanian adalah buah dari dimilikinya hati nurani yang murni oleh seseorang

Doa: Bapa, karuniakanlah hati nurani yang murni kepada kami. Amin.

Jumat, 16 September 2022                              

bacaan : Ibrani 13 : 18 – 21

18 Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik. 19 Dan secara khusus aku menasihatkan kamu, agar kamu melakukannya, supaya aku lebih lekas dikembalikan kepada kamu. 20 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, 21 kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

                    Doa, Hati Nurani yang Baik dan Berkat Tuhan

Semua orang, kapan dan dimana saja, menginginkan hidup yang baik. Hidup yang baik tidak dengan serta merta dapat dialami, sebab harus diperjuangkan. Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa hidup yang baik itu adalah keinginannya. Ia tidak mengingini harta bendawi, jabatan, kedudukan atau kecantikan dan popularitas, sekalipun hal-hal demikian tidaklah buruk. Hidup yang baik itu berhubungan dengan tiga hal, yakni doa, hati nurani dan berkat Tuhan. Keinginan untuk mengalami hidup yang baik haruslah diperjuangkan dengan cara melakukan tiga hal tadi. Memiliki hidup yang baik hendaknya dijadikan keinginan utama dalam keberadaan sebagai orang Kristen. Hidup yang baik itu dapat terwujud bila sebagai orang percaya kita terus berdoa bukan saja kepada diri sendiri, tetapi orang lain juga. Karena itu tersebut dalam nas hari ini: “berdoalah terus untuk kami.” Hidup yang baik itu diperjuangkan dengan terus memelihara kebiasaan berdoa. Berdoalah dengan tidak berkeputusan mendoakan ikhwal diri sendiri juga orang lain. Hidup yang baik ditandai dengan kenyataan bahwa dalam akta beriman pun kita tetap peduli akan sesama. Hal kedua yang penting adalah milikilah hati nurani yang baik. Penulis ini mengatakan: …”kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik.” Pastikanlah bahwa seluruh ungkapan doa yang dinaikan kepada Tuhan, terlahir dari hati nurani yang baik. Mohonlah kuasa Roh Kudus untuk menguasai hidup, agar hati nurani yang baik tetap terpelihara. Akhirnya, bermohonlah agar Tuhan memberkati hidup kita. Hidup yang baik tak mungkin dialami tanpa berkat Tuhan. Jadilah pejuang kebaikan, tekunlah berdoa, peliharalah hati nurani dan bermohonlah kiranya Tuhan memberkati hidup kita.

Doa: Bapa yang baik, berkehendaklah atas seluruh juang kami. Amin.

Sabtu, 17 September 2022                                      

bacaan : Ibrani 9 : 14

14 betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Ingat! Hati Nurani Kita Sudah Disucikan Tuhan Yesus

Haruslah diakui dan diyakini bahwa Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita melalui kematian-Nya di Salib. Kematian Yesus ini merupakan suatu wujud pengorbanan dengan tujuan untuk menyelamatkan umat manusia. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, merupakan wujud penyerahan diri-Nya kepada Allah Bapa sebagai persembahan yang tidak bercacat. Tujuan dari pengorbanan Tuhan Yesus adalah agar umat manusia yang berdosa diselamatkan. Manusia yang diselamatkan itu hati nuraninya disucikan dari perbuatan-perbuatan yang jahat, buruk, atau tidak baik. Hal ini berarti bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan lain, selain kekuatan kuasa Tuhan Yesus. Salah satu wujud dari kekuatan kuasa Tuhan Yesus dalam kehidupan orang Kristen adalah hidup dalam hati nurani yang suci. Makna hati nurani yang suci haruslah terwujud pula dalam kebersamaan dengan orang lain. Hidup suci terlahir dari hati nurani.  Hati nurani berperan menggerakkan diri kita untuk berpikir, berkata, dan berperilaku yang baik serta berarti bagi sesama demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Ingatlah, Tuhan Yesus telah menyucikan hati nurani kita melalui kematian-Nya di Salib. Hargailah pengorbanan Tuhan Yesus itu melalui perilaku hidup suci, yakni yang bersumber dari hati nurani yang sudah disucikan oleh Tuhan Yesus. Nas hari ini juga menyaksikan bahwa hati nurani disucikan dari perbuatan-perbuatan sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Ibadah yang kita aktakan bersumber dari hati nurani yang disucikan. Perbuatan sia-sia hendaklah dijauhkan karena Kristus telah berkorban bagi kita. Kristus telah menumpahkan darah-Nya untuk menjadikan hidup tersucikan yang karenanya kita diminta untuk tekun beribadah.

Doa: Ya Kristus, tolonglah agar kami selalu tekun beribadah. Amin.

*SUMBER : SHK BULN SEPTEMBER 2022, LJP – GPM