Santapan Harian Keluarga, 11-17 Juli 2021

Tema Mingguan : “Risiko dari Panggilan dan Pengutusan Tuhan”

Minggu, 11 Juli 2021                                      

bacaan :  Amos 7 : 10 – 17

Amos diusir
10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya. 11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan." 12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana! 13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan." 14 Jawab Amos kepada Amazia: "Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. 15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. 16 Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

RISIKO DARI PANGGILAN DAN PENGUTUSAN TUHAN

Amos adalah seorang peternak di Tekoa (Amos 1: 1) di wilayah Israel Selatan/Yahuda. Dia dipanggil dan diutus oleh Tuhan ke Israel Utara/Samaria untuk menyampaikan kehendak Tuhan kepada  umat Israel di sana. Pada waktu itu umat di Israel Utara rajin melaksanakan Ibadah ritual mereka, tetapi terjadi banyak kejahatan dalam masyarakat. Salah satunya ialah masalah ketidak-adilan sosial. Orang yang kaya dan berkuasa menindas orang yang miskin dan tidak berdaya. Akibatnya ialah banyak orang miskin  mengalami penderitaan hidup. Di tengah kenyataan hidup yang demikian Amos dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya.  Tetapi Amos harus menghadapi risiko dari panggilannya yaitu ia terancam di usir oleh Amazia seorang Imam yang bekerja di Bethel. Amasia mengusir Amos untuk pulang ke kampung halamannya di Israel Selatan. Tetapi Amos tidak takut menghadapi ancaman itu, dan dengan berani ia menyampaikan ancaman hukuman Allah kepada Amazia dan keluarganya. Ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi risiko apapun karena panggilan dan pengutusan kita. Apakah itu dibenci, dimusuhi, dijauhkan bahkan disingkirkan dari  di tengah masyarakat. Baik di  tempat kita tinggal dan berdiam maupun di tempat kita bekerja dan melayani sesuai panggilan dan pengutusan Tuhan kepada kita. Panggilan kita adalah terus menyampaikan pesan firman Allah di manapun kita berada dan bagaimanapun keadaannya. Yang benar katakan benar, yang salah katakan salah. Tuhan memberkati.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami menghadapi risiko apapun karena  panggilan dan pengutusan-Mu, Amin

Senin, 12  Juli 2021                                      

bacaan : 1 Samuel 22 : 9 – 19

9 Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: "Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub. 10 Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya." 11 Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. 12 Kata Saul: "Cobalah dengar, ya anak Ahitub!" Jawabnya: "Ya, tuanku." 13 Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: "Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?" 14 Lalu Ahimelekh menjawab raja: "Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? 15 Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar." 16 Tetapi raja berkata: "Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu." 17 Lalu raja memerintahkan kepada bentara yang berdiri di dekatnya: "Majulah dan bunuhlah para imam TUHAN itu sebab mereka membantu Daud; sebab walaupun mereka tahu, bahwa ia melarikan diri, mereka tidak memberitahukan hal itu kepadaku." Tetapi para pegawai raja tidak mau mengangkat tangannya untuk memarang imam-imam TUHAN itu. 18 Lalu berkatalah raja kepada Doeg: "Majulah engkau dan paranglah para imam itu." Maka majulah Doeg, orang Edom itu, lalu memarang para imam itu. Ia membunuh pada hari itu delapan puluh lima orang, yang memakai baju efod dari kain lenan. 19 Juga penduduk Nob, kota imam itu, dibunuh raja dengan mata pedang; laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang menyusu, pula lembu, keledai dan domba dibunuhnya dengan mata pedang.

BERPIHAKLAH PADA KEBENARAN, APAPUN RISIKONYA

Berpihak kepada sesuatu yang benar, seringkali menimbulkan ketidaksenangan dari orang yang merasa dirugikan. Hal ini yang terjadi dalam kehidupan raja Saul, yang berprasangka buruk kepada Daud dan juga para kepada para imam termasuk Ahimelekh bin Ahatub. Saul berpikir bahwa mereka telah berpihak kepada Daud dan akan berbalik menyerang Saul. Dugaan Saul diperkuat oleh laporan Doeg orang Edom, yang ingin mengambil hati raja Saul dengan cara yang licik. Tanpa berpikir panjang, Saul memerintahkan untuk memanggil Ahimelekh beserta keluarganya, dan juga para imam yang ada di Nob. Di hadapan Saul, Ahimelekh berupaya menjelaskan tentang tanggungjawab mereka sebagai  para imam yang selalu menanyakan Allah tentang banyak perkara termasuk tentang Daud dan bahwa mereka tidak berpihak kepada siapapun, termasuk Daud. Bahkan ia menyebut Daud sebagai seorang yang baik dan tidak bermaksud jahat kepada Saul. Namun karena sakit hati, Saul memerintahkan para pegawainya untuk membunuh Ahimelekh, namun mereka tidak bersedia melakukan perbuatan keji itu, sebab mereka tau Ahimelekh dan para imam adalah orang baik dan mereka tidak bersalah. Namun di saat itu Doeg mengambil kesempatan untuk mengambil hati raja, dan akhirnya Ahimelekh beserta keluarganya dan para imam yang ada di Nob, mati di tangan Doeg orang Edom itu. Memang ketika kita berpihak kepada hal yang benar, kita akan dimusuhi oleh orang yang berada di pihak yang salah, bahkan kita akan berhadapan dengan fitnahan dan rancangan jahat. Namun demikian tetaplah berpihak pada kebenaran dan berlakulah dengan adil dan benar. Tuhan Yesus pasti melindungi. 

Doa: Tuhan, kuatkan kami menghadapi setiap risiko ketika kami berpihak pada kebenaran, Amin

Selasa, 13 Juli 2021                                   

bacaan : Yeremia 11 : 18 – 23

Nyawa Yeremia terancam di Anatot
18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku. 19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: "Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!" 20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: "Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangan kami!" -- 22 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: "Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan; 23 tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka."

DIKHIANATI DAN DIANCAM TETAPI DILINDUNGI TUHAN

Menyatakan suatu kebenaran dan menegur kesalahan adalah panggilan orang percaya ketika hadir dan beraktifitas di tengah – tengah masyarakat yang cenderung bersahabat dengan kejahatan. Namun demikian, kita selalu diperhadapkan dengan  risiko yang berat, kita bukannya diterima tetapi ditolak, dibenci, dan dimusuhi. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan Allah memanggil kita untuk melakukan kebenaran dan menyuarakan kebenaran. Hal ini yang dilakukan oleh Yeremia ketika dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menegur Yehuda. Yeremia memberitakan penghukuman Allah kepada Yehuda yang melakukan banyak perbuatan jahat. Ia dengan tegas menegur  Yehuda agar bertobat dan berbalik kepada Allah. Karena itulah Yeremia harus menghadapi risiko dikhianati dan terancam dibunuh. Namun Tuhan Allah yang mengutus Yeremia untuk menegur kesalahan Yehuda, selalu melindunginya. Yeremia menyebut Allah sebagai hakim yang adil, yang selalu berpihak pada kebenaran dan menyelamatkan setiap orang yang berani menyatakan kebenaran. Allah yang adil akan bertindak untuk menghukum setiap orang yang melakukan kejahatan. Dengan meyakini bahwa Tuhan itu melindungi setiap orang yang setia kepada-Nya memberanikan kita untuk menyampaikan suara kenabian dilingkungan kita, dengan selalu menegur dan menasehati jika ada yang berbuat salah, membela orang – orang yang diperlakukan dengan tidak adil, berkata dan bertindak benar dan adil, apapun risikonya. Percayalah bahwa Allah akan bertindak memberi pertolongan, menjaga dan melindungi kita tepat pada waktunya.

Doa: Tuhan, beri kami kemampuan untuk menyuarakan kebenaran. Amin!

Rabu, 14 Juli 2021                                       

Yeremia 37 : 11 – 16

Yeremia dipenjarakan
11 Ketika tentara orang Kasdim itu telah angkat kaki dari Yerusalem oleh karena takut kepada tentara Firaun, 12 maka keluarlah Yeremia dari Yerusalem untuk pergi ke daerah Benyamin dengan maksud mengurus di sana pembagian warisan di antara kaum keluarga. 13 Tetapi ketika ia sampai ke pintu gerbang Benyamin, maka di sana ada seorang kepala jaga yang bernama Yeria bin Selemya bin Hananya; ia menangkap nabi Yeremia sambil berteriak: "Engkau mau menyeberang kepada orang Kasdim!" 14 Dan sekalipun Yeremia menjawab: "Itu bohong, aku tidak hendak menyeberang kepada orang Kasdim!", tetapi Yeria tidak mendengarkan, lalu ia menangkap Yeremia dan membawanya menghadap para pemuka. 15 Para pemuka ini menjadi marah kepada Yeremia; mereka memukul dia dan memasukkannya ke dalam rumah tahanan, rumah panitera Yonatan itu; adapun rumah itu telah dibuat mereka menjadi penjara. 16 Demikianlah halnya Yeremia masuk ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah itu. Dan lama Yeremia tinggal di sana.

DIFITNAH ADALAH RISIKO ORANG YANG BERTINDAK BENAR 

Memfitnah merupakan tindakan menuduh seseorang melakukan kejahatan tanpa alat bukti.Memfitnah adalah tindakan kejam dan berdampak buruk bagi orang yang difitnah, ada ungkapan yang mengatakan : “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, ungkapan ini sering disampaikan menyikapi berbagai perbuatan orang – orang yang suka memfitnah sesamanya. Memfitnah tidak membunuh secara fisik, tetapi membunuh karakter, membunuh masa depan seseorang. Dalam bacaan kita, dikatakan bahwa setelah orang Kasdim “angkat kaki” dari Yerusalem, maka Yeremia bermaksud untuk pergi ke daerah Benjamin untuk suatu urusan keluarganya. Namun, ia ditangkap oleh Yeria bin Selemya seorang kepala jaga, yang menuduh Yeremia hendak menyeberang kepada orang Kasdim. Yeremia sudah berupaya untuk memberi penjelasan bahwa tuduhan itu adalah suatu kebohongan, namun Yeria tidak mendengarnya, bahkan Yeria menangkap Yeremia dan membawanya kehadapan para pemuka, bahkan memasukannya ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah. Yeria memfitnah Yeremia seakan – akan Yeremia akan menyeberang kepada orang Kasdim dan bersekongkol dengan mereka untuk menyerang Yerusalem.  Hal yang dihadapi oleh Yeremia, juga bisa dialami oleh setiap orang percaya yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah masyarakat. Orang yang bekerja dengan jujur dan setia, orang yang berani berkata benar dan berpihak pada kebenaran, sering dituduh, difitnah, dan dimusuhi. Namun Tuhan Allah tidak akan tinggal diam, melihat perbuatan orang – orang yang kejam dan dengan sewenang – wenang suka menuduh dan memfitnah orang yang tidak bersalah. Allah akan bertindak untuk memberi keadilan, sebab penghakiman itu hak Allah

Doa : Tuhan, jauhkan daripada kami kecendrungan untuk saling memfitnah, amin

Kamis, 15 Juli 2021                                       

Yeremia 38 : 1 – 13

Yeremia dimasukkan ke dalam perigi; ia tertolong oleh Ebed-Melekh

Tetapi Sefaca bin Matan, Gedalya bin Pasyhur, Yukhal bin Selemya dan Pasyhur bin Malkia mendengar perkataan yang tidak henti-henti diucapkan oleh Yeremia kepada segenap orang banyak itu: 2 "Beginilah firman TUHAN: Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini mendapatkan orang Kasdim, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya dan ia tetap hidup. 3 Beginilah firman TUHAN: Kota ini akan pasti diserahkan ke dalam tangan tentara raja Babel yang akan merebutnya." 4 Maka berkatalah para pemuka itu kepada raja: "Baiklah orang ini dihukum mati! Sebab sebenarnya dengan mengatakan hal-hal seperti itu maka ia melemahkan semangat prajurit-prajurit yang masih tinggal di kota ini dan semangat segenap rakyat. Sungguh, orang ini tidak mengusahakan kesejahteraan untuk bangsa ini, melainkan kemalangan." 5 Raja Zedekia menjawab: "Baiklah, ia ada dalam kuasamu! Sebab raja tidak dapat berbuat apa-apa menentang kamu!" 6 Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu. 7 Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu--ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja--bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi--pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin-- 8 maka keluarlah Ebed-Melekh dari istana raja itu, lalu berkata kepada raja: 9 "Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota." 10 Lalu raja memberi perintah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, katanya: "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!" 11 Ebed-Melekh membawa orang-orang itu dan masuk ke istana raja, ke gudang pakaian di tempat perbendaharaan; dari sana ia mengambil pakaian yang buruk-buruk dan pakaian yang robek-robek, lalu menurunkannya dengan tali kepada Yeremia di perigi itu. 12 Berserulah Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, kepada Yeremia: "Taruhlah pakaian yang buruk-buruk dan robek-robek itu di bawah ketiakmu sebagai ganjal tali!" Yeremiapun berbuat demikian. 13 Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.

BERKATA BENAR, BIJAKSANA DAN TEGAS, DI WAKTU YANG TEPAT

Berterus terang mengatakan suatu kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan, sebab perkataan yang tajam dan jujur sering tidak disukai orang. Banyak orang kuatir akan risiko yang dialami, jika ia berkata dan bertindak benar. Hari ini, kita diperhadapkan dengan sikap orang – orang yang dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menyatakan suatu kebenaran di tengah masyarakat. Yang pertama adalah sikap Yeremia, ketika menghadapi perilaku hidup dari para pemimpin Yehuda dan Yerusalem yang melakukan banyak ketidakadilan dan kejahatan. Yeremia dengan tegas menegur dan menyampaikan penghukuman Allah. Tetapi sikap Yeremia berakibat buruk pada dirinya, ia ditangkap dan dimasukan dalam perigi lumpur. Sebagai seorang raja Zedekia tidak berani mengambil keputusan yang tegas dihadapan para pemuka, dan membiarkan Yeremia dihakimi oleh para pemuka itu, padahal raja tau bahwa apa yang dikatakan oleh Yeremia adalah benar. Rupanya Zedekia takut jika ia kehilangan jabatannya sebagai raja. Sikap yang lain adalah  Ebed-Melekh, seorang sida – sida dari Etiopia. Ketika melihat perbuatan para pemuka terhadap Yeremia, ia datang menjumpai raja pada waktu yang tepat dan di tempat yang tempat, yaitu di pintu gerbang Benjamin, tempat raja duduk mendengar keluhan rakyat. Dengan bijaksana Ebed-Melekh berbicara dan mempengaruhi raja untuk melihat perbuatan jahat yang dilakukan terhadap Yeremia, akhirnya raja setuju untuk membebaskan Yeremia. Melihat ini kita patut bertanya, di manakah kita berada? Bagaimana sikap kita menghadapi persoalan kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Mintalah tuntunan  Roh Kudus, agar mampu berkata benar, dengan bijaksana dan tegas, tetapi di waktu dan tempat yang tepat. Tuhan pasti memberkati.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menyikapi berbagai persoalan dengan bijaksana dan tepat, Amin

Jumat, 16 Juli 2021                                      

bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28  

Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.

TETAP SETIA DITENGAH KETIDAKTAATAN  

Nabi Yeremia dipanggil dan diutus Tuhan Allah untuk menyampaikan nubuatan Tuhan kepada Zedekia raja Yehuda di Israel Selatan yang berpusat di Yerusalem. Beberapa kali raja Zedekia memanggil Yeremia untuk mendengar pesan Tuhan, namun raja Zedekia tidak melakukannya tetapi mengabaikannya. Dalam bacaan kita, nabi Yeremia dipanggil kembali dan melakukan percakapan terakhir dengan raja Zedekia. Yeremia menyampaikan firman Tuhan kepada Zedekia untuk menyerahkan diri kepada penguasa Babel, tetapi Zedekia tidak menaatinya dan akhirnya ia dan umat Israel di buang ke Babel. Namun demikian, Yeremia tetap melakukan tugas panggilan dan pengutusannya dengan setia, walaupun ia juga diperhadapkan dengan tantangan bahkan ancaman bagi keselamatan dirinya. Yeremia percaya bahwa perlindungan dan penyertaan Tuhan selalu nyata dalam seluruh kehidupan serta tugas panggilan dan pelayanannya. Itulah sebabnya Yeremia tetap konsisten serta setia melakukan tugas panggilan dari Tuhan. Yeremia tetap menyampaikan suara kenabiannya dengan berani dan tidak ada kepentingan bagi dirinya. Yeremia siap menerima apapun risiko yang ia lakukan dari tugas panggilan dan pengutusannya. Hal inipun menjadi kesaksian bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap setia melakukan panggilan dan pengutusan kita, menyampaikan suara kenabian kita di tengah masyarakat, ketika berhadapan dengan ketidaktaatan dan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Seringkali apa yang kita katakan atau lakukan, tidak didengar atau tidak dipedulikan, apalagi ditaati. Tetapi teruslah menyampaikan pesan firman Tuhan melalui buah pikiran, perkataan, sikap dan perbuatan yang baik dan benar, apapun risikonya. Percayalah bahwa kita tidak sendiri, sebab Allah dalam Yesus Kristus pasti menyertai kita.

Doa:  Tuhan, mampukan kami dalam melakukan tugas panggilan-Mu. Amin.

Sabtu, 17 Juli 2021                       

bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 50 – 51

Ke Ikonium, Listra dan Derbe
50 Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. 51 Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.

BERSAKSI DITENGAH ANCAMAN PENGANIAYAAN

Rasul Paulus dan Barnabas dalam tugas pelayanan Pekabaran Injil Kristus banyak menghadapi tantangan dan penderitaan bahkan ancaman terhadapan keselamatan mereka. Risiko yang dihadapi Paulus dan Barnabas, tidak membuat mereka takut, bimbang atau ragu, tetapi membuat mereka lebih giat dan semangat untuk memberitakan Injil Kristus. Bacaan kita hari ini, menceriterakan bahwa, pada saat kehadiran Paulus dan Barnabas di Antiokhia di Pisidia  untuk memberitakan Injil Kristus, ada orang-orang Yahudi yang tidak senang dan tidak suka dengan Paulus dan Barnabas, sehingga mereka menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu sehingga menimbulkan penganiayaan terhadap Paulus dan Barnabas dan mereka di usir dari kota itu. Saat meninggalkan kota itu, Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu. Apa yang dibuat Paulus dan Barnabas sebagai tanda akan datangnya penghukuman Allah bagi mereka yang menolak keselamatan dalam Kristus. Kita juga mesti meneladani Paulus dan Barnabas untuk menyampaikan berita keselamatan Allah dalam Kristus bagi dunia dan semua orang yang belum percaya. Kita memberitakannya melalui perkataan serta juga sikap dan perbuatan kita. Kalau ada pimpinan, teman, sahabat atau saudara yang salah, mesti kita tegur dan mengingatkan mereka dengan penuh kasih, agar mereka sadar dan berbalik dari kesalahan mereka. Kalaupun mereka menolak, maka hal itu ditanggung mereka sendiri. Bisa saja kita tidak disukai, dibenci dan dimusuhi. Namun kita mesti bersyukur bahwa lebih baik kita tidak disukai oleh manusia dari pada kita tidak melakukan perintah serta panggilan dari Tuhan.       

Doa :   Tuhan, tolong kami agar untuk bersaksi tentang nama-Mu di tengah dunia ini. Amin.-

*sumber : SHK bulan Juli 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 4-10 Juli 2021

Tema Mingguan : “Gereja Dipanggil dan Diutus Tuhan di Tengah Masyarakat”

Minggu, 04 Juli 2021                                  

bacaan : 1 Petrus 2 : 1 – 10

Yesus Kristus batu penjuru
Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. 4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

KITA DIPANGGIL DAN DIUTUS TUHAN

Siapapun diantara kita sebagai orang – orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, akan mengakui bahwa, kita adalah orang – orang yang dipilih, dipanggil untuk diselamatkan oleh Yesus Kristus lewat pengorbanan-nya di Tiang Kayu Salib. Kita dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah – tengah dunia ini. Nasehat ini disampaikan oleh Rasul Petrus menguatkan jemaat – jemaat di Asia Kecil, yang pada waktu itu sementara mengalami penganiayaan karena iman dan percaya mereka kepada Yesus. Petrus menyebut mereka sebagai umat pilihan Allah, yaitu umat yang perilaku hidupnya harus berbeda dengan orang – orang yang tidak percaya kepada Yesus. Karena itu, mereka harus menanggalkan semua gaya hidup mereka yang lama, seperti: kejahatan, tipu muslihat, kedengkian dan fitnah. Mereka harus berbalik kepada Yesus dan mengubah gaya hidup mereka menjadi baru. Orang percaya yang dipanggil, hidupnya akan dibarui dan di utus untuk menjadi saksi di mana saja ia berada dan beraktifitas. Petrus menyebut orang percaya yang diutus menjadi saksi ibarat batu – batu yang hidup, yang dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani yaitu persekutuan umat sebagai Tubuh Kristus. Kita adalah batu – batu yang hidup, yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk menjadi saksi Kristus. Banyak orang akan percaya kepada Yesus, jika kita menampakkan gaya hidup yang penuh kasih, dan menjaga persekutuan sebagai Tubuh Kristus. Karena itu jadikanlah Batu Penjuru yaitu Yesus Kristus Tuhan kita sebagai dasar bangunan yang kokoh, yang diatasnya kita semua bertumpu untuk menjadi bangunan rohani, yaitu persekutuan umat yang kokoh.

Doa : Tuhan, inilah kami, utuslah kami untuk menjadi Saksi-Mu, Amin.

Senin, 05 Juli 2021                              

bacaan : Bilangan 16 : 23 – 29

23 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 24 "Katakanlah kepada umat itu: Pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram." 25 Lalu pergilah Musa kepada Datan dan Abiram, dan para tua-tua Israel mengikuti dia. 26 Berkatalah ia kepada umat itu: "Baiklah kamu menjauh dari kemah orang-orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apapun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka." 27 Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan isterinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil. 28 Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: 29 jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN.

MENDENGAR DAN MELAKUKAN PERINTAH ALLAH

Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Mereka tidak lagi mendengar dan melakukan perintah Allah, tetapi mengikuti kehendak diri sendiri. Hal ini terjadi dalam bacaan kita, Bilangan 16, yang menceriterakan tentang pemberontakan Korah, Datan dan Abiram yang ingin mengambil alih kepemimpinan Musa dan Harun, yang dipercayakan oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah Kanaan. Mereka bukan saja memberontak kepada Musa tetapi justru mereka tidak mendengar dan melakukan perintah Tuhan. Akhirnya Korah, Datan dan Abiram dihukum oleh Allah. Disisi lain, ketika Korah, Datan dan Abiram dihukum, Allah  berfirman kepada Musa agar ia memerintahkan seluruh umat Israel menyingkir dari tempat kediaman ketiga orang itu agar mereka tidak kena bencana. Akhirnya Umat Israel yang mendengar dan melakukan perintah Tuhan, selamat dari bencana yang menimpa Korah, Datan dan Abiram. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan, namun kerendahan hati untuk mendengar dan melakukan perintah Allah akan membawa selamat. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan. Seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai persoalan yang mengharuskan kita untuk bersikap, apakah kita akan mendengar dan melakukan perintah Tuhan ataukah mengikuti keinginan diri sendiri dan memberontak kepada Allah. Sebagai orang percaya, hendaklah kita menghadapi setiap persoalan dengan berserah di dalam doa kepada Allah. Berilah diri dituntun oleh Roh Kudus agar kita dapat mendengar dan melakukan perintah Tuhan, sebab itulah yang menyelamatkan.

Doa : Tuhan, ajarlah kami mendengar dan melakukan perintah-Mu, Amin.

Selasa, 06 Juli 2021                                     

bacaan : 2 Samuel 5 : 1 – 4

Daud menjadi raja atas seluruh Israel
Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. 4 Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah

DIPANGGIL DAN DIUTUS UNTUK MENGGEMBALAKAN

Menjadi gembala adalah panggilan untuk melayani. Panggilan ini dipercayakan kepada semua orang, baik sebagai orang tua di keluarga, maupun sebagai pemimpin dalam setiap persekutuan dan pekerjaan. Tugas seorang gembala adalah melayani, mengasuh, membimbing, menolong, dan mengayomi. Gembala tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan keselamatan orang yang dipimpinnya. Seorang gembala dapat diteladani, jika tanggungjawabnya dapat dikerjakan dengan baik.  Dalam bacaan kita, dikisahkan bahwa ketika raja Saul mati, maka segala suku Israel datang menjumpai Daud di Hebron dan meminta Daud untuk menjadi pemimpin mereka. Mereka mengingatkan Daud tentang firman Tuhan kepada Daud : “…….engkaulah yang yang harus menggembalakan umat-Ku Israel dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel”. Datanglah juga tua – tua Israel ke Hebron dan mereka mengurapi Daud menjadi Raja atas Israel. Tanggungjawab Daud yang utama adalah menggembalakan umat Israel. Seorang gembala adalah pemimpin namun seorang pemimpin belum tentu menjadi gembala. Daud diharapkan menjadi pemimpin yang menggembalakan, dan itu dikerjakan oleh Daud dengan penuh rasa tanggungjawab. Sebagai orang percaya, ketika dipercayakan untuk menjadi pemimpin, baik dalam kehidupan keluarga, dan berbagai persekutuan maupun dalam kehidupan gereja dan masyarakat, hendaklah ia menjadi seorang gembala yang dipanggil dan diutus untuk membimbing, mengasuh, menolong, menuntun, membalut yang terluka. Ia tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan kepentingan bersama. Hanya dengan demikian, ia mendatangkan kesejahteraan bersama bagi banyak orang yang dipimpinnya.

Doa : Tuhan, jika Engkau percayakan kami menjadi seorang pemimpin, jadikanlah kami sebagai gembala, Amin.

Rabu, 07 Juli 2021                                       

bacaan : Yesaya 6 : 8 – 10

8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" 9 Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! 10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh."

MELAYANI DEMI PERTOBATAN DAN PENYELAMATAN DARI TUHAN

Tuhan tidak menghendaki agar manusia hidup di tengah berbagai kejahatan. Sebab dampak berbagai kejahatan manusia ialah penderitaan hidup manusia dan makhluk-makhluk lain. Karena itu Tuhan mengutus orang-orang pilihan-Nya untuk menyampaikan apa kehendak-Nya kepada masyarakat/umat di mana orang percaya itu berada agar bertobat dan diselamatkan oleh Tuhan. Yesaya dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya bagi umat Israel, yang pada waktu itu setia beribadah kepada Tuhan, tetapi perilakunya di tengah masyarakat adalah jahat, mereka menindas orang-orang yang lemah  Jadi, di gereja alim, dimasyarakat lalim. Itulah situasi orang percaya saat ini, rajin beribadah tetapi tidak melaksanakan firman Tuhan yang didengar dalam kehidupan bersama dengan orang lain di tengah masyarakat. Sikap saling menindas dan meremehkan masih dengan sadar dilakukan oleh kita. Tanpa  disadari, kebanyakan perilaku kita turut merusak kehidupan bermasyarakat. Jika ini masih terus terjadi, maka sebenarnya kita tidak memenuhi panggilan dan pengutusan Tuhan bagi kita. Firman Tuhan katakan, setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.! Karena itu, berubahlah  sekarang juga.. ! Katakan kepada Tuhan :”Inilah aku, utuslah aku!”. Nyatakanlah dengan berani kehendak Tuhan ditengah masyarakat, baik siang maupun malam, dalam susah maupun senang, dalam setiap peran dan tanggujawab yang dimiliki. Supaya terjadi pertobatan dan penyelamatan Tuhan di tengah masyarakat dan kehidupan bersama adalah kehidupan yang mengalami damai sejahtera yang berasal dari Tuhan.

Doa: Ya, Tuhan, inilah aku, utuslah aku.  Amin. 

Kamis, 08 Juli 2021                                         

bacaan : Yehezkiel 2 : 1 – 7

Panggilan Yehezkiel
Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." 2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku. 3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. 4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. 5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. 6 Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. 7 Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.

JANGAN TAKUT, BERITAKAN FIRMANKU KEPADA SEMUA ORANG

Manakah yang sangat berbahaya : tahu tapi pura-pura tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya ataukah tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya? Tentu saja yang berbahaya adalah yang tahu tapi tidak melakukannya. Israel memiliki sikap tersebut. Terlalu banyak kebaikan Allah yang mereka alami. Terlalu sering mereka mendengarkan Firman Allah melalui para utusan Allah, mulai dari Musa, para hakim, para nabi, tetapi mereka tidak melakukannya. Allah menyebut mereka sebagai bangsa pemberontak. Seharusnya, sebagai umat milik Allah mereka menuruti dan melakukan kehendak Allah. Tetapi mereka dan nenek moyangnya melawan Allah, keras kepala dan tegar tengkuk. Mereka lebih suka menuruti dan melakukan kehendak dirinya atau kemauan mereka. mereka diibaratkan seperti onar dan duri, juga seperti kalajengking. Kata-kata mereka sangat menyakitkan, wajah mereka pun tidak bersahabat. Perilaku seperti inipun masih dijumpai  dalam  hidup masyarakat dan persekutuan saat ini. Begitu banyak orang percaya saat ini, melakukan kesalahan dan dosa dengan sangat sadar. Mereka tak lagi memperhitungkan Allah yang begitu setia mengasihi mereka. Kita merasa seperti membuang garam ke dalam laut jika memberitakan Firman Allah kepada orang-orang seperti ini. Haruskah mereka dihindari..? Tidak boleh, sebab  justru kepada mereka seperti inilah Firman Allah diberitakan. Seperti Yehezkiel kita juga dipanggil dan diutus untuk terus menyampaikan firman Tuhan, supaya mereka tahu bahwa Allah tetap ada dalam kehidupan mereka. Mintalah tuntunan Roh Kudus untuk menggelisahkan mereka agar berbalik menjadi setia kepada Allah.

Doa : Ya Tuhan, kuatkan kami melaksanakan panggilan-Mu, walaupun menghadapi tantangan, amin

Jumat, 09 Juli 2021                                     

bacaan : Matius 4 : 18 – 22

Yesus memanggil murid-murid yang pertama
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

SAYA MAU IKUT YESUS

“Saya mau iku Yesus, sampai s’lama – lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia….” Lirik lagu Kidung Jemaat 375 ini menggambarkan kerinduan seseorang yang percaya dan mau mengikuti Yesus, apapun yang ia hadapi. Ketika Yesus berkata : “mari ikutlah Aku” artinya mari berjalanlah dengan-Ku dan lakukanlah semua perintah-Ku. Apa jawaban kita terhadap panggilan Yesus ini? Tentu saja spontan kita berkata “ya”. Tetapi, apakah kita konsisten dengan jawaban kita? Banyak orang percaya menjawab panggilan Yesus dengan “ya”, baik pada saat Pegakuan Sidi Gereja, juga dalam berbagai akta iman lainnya, tetapi seringkali  perilaku hidupnya selalu bertentangan dengan jawabannya kepada Yesus. Sebab, jawaban “ya” berarti kita telah menyerahkan diri secara total kepada Yesus. Seluruh tubuh, jiwa dan waktu kita dipakai untuk melakukan kehendak Yesus. Tujuan hidup kita adalah untuk melakukan kehendak Yesus. Apapun yang kita lakukan dalam hidup selalu disebabkan oleh kehendak Yesus. Orang yang mengikut Yesus, tak pernah menyoal siapa dirinya, apa profesinya, berapa banyak pengetahuannya? Sebab ia tahu Yesus lebih memperhatikan kesediaan hati dan bukan kemampuan. Orang yang mengikut Yesus tak pernah menyoal apa untung dan ruginya, atau apa yang akan didapatkannya? Sebab ia tahu bahwa Yesus menyiapkan segala sesuatu bagi hidupnya baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang. Orang yang mengikut Yesus tidak akan menjadikan keluarganya dan pekerjaanya sebagai penghalang untuk melakukan kehendak Yesus, sebab ia tahu Yesus memberkatinya dalam segala keadaan. Orang yang mengikut Yesus, akan menjadi penjala manusia, yaitu menolong sesamanya yang menderita karena berbagai persoalan hidup.

Doa: Ya Tuhan, kami mau mengikuti-Mu.  Amin.

Sabtu, 10 Juli 2021                                         

bacaan : Matius 10 : 16

16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS SEPERTI MERPATI

Homo homini lupus, adalah sebuah istilah latin yang artinya, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dalam kenyataannya, manusia saling memangsa, saling menjual, saling menikam, saling membunuh, saling menyerang, diantara teman, sahabat, saudara, kakak-adik, orangtua-anak, pimpinan-staf, dll. Tidak dapat dibedakan, mana kawan, mana lawan, mana teman, mana saudara. Semuanya bisa berubah dalam hitungan detik, hanya karena satu alasan yaitu kepentingan. Baik kepentingan perut atau kepentingan diri. Suatu situasi yang buruk dan sangat mengancam keutuhan hidup bersama sebagai suatu keluarga, persekutuan dan masyarakat. Firman Tuhan katakan, kita di utus ke dunia seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebagaimana domba adalah hewan yang selalu dituntun dan dipelihara  oleh  gembalanya, demikianlah kita dalam menjalani hidup kita selalu dituntun dan dipelihara oleh Tuhan sekalipun kita hidup  dalam situasi masyarakat seperti serigala. Lalu, bagaimana menjalani tugas pengutusan dalam situasi masyarakat seperti ini? Yesus memberi bagi kita suatu  strategi yaitu “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Cerdik artinya cepat mengerti situasi dan pandai mencari pemecahannya, seperti ular yang mengerti keberadaan dirinya sebagai hewan melata yang tak berkaki, tak bertangan, tak bersayap, sehingga cendrung menjauh dari ancaman bahaya, tetapi sekali muncul pagutannya mematikan. Merpati adalah burung bisa terbang tinggi tetapi selalu kembali ke sarangnya. Dengan kecerdikan dan ketulusan orang percaya dapat menyelamatkan dirinya dari setiap ancaman kehidupan, dan tetap setia melakukan tugas pengutusannya ditengah masyarakat.

Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami agar cerdik dan tulus menghadapi tantangan, amin

*sumber SHK Bulan Juli 2021 LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 27 Juni – 3 Juli 2021

Tema Mingguan : “Hiduplah Dengan Bekerja Keras Dan Hati Nurani Yang Taat Kepada Allah”

Minggu, 27 Juni 2021                                

bacaan : Kejadian 3 : 1 – 19

Manusia jatuh ke dalam dosa
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." 4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. 7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." 11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" 12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." 17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

HIDUPLAH DENGAN BEKERJA DAN HATI YANG TAAT KEPADA ALLAH

Hidup dan kerja merupakan dua kata yang saling berkaitan, tidak bisa dilepas-pisahkan. Tidak ada orang hidup yang tidak bekerja, begitu pun juga tidak ada pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang tidak hidup. Hal ini mengandung pengertian bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diisi dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berguna untuk hidup itu sendiri. Begitu pun juga, kerja yang bermakna adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan hidup itu sendiri menjadi bermakna. Dalam paham yang demikian itulah, kerja harus dimaknai sebagai suatu aktivitas yang dilakukan oleh manusia demi melaksanakan amanat Tuhan, yaitu bekerja.

Bacaan Alkitab hari ini, khususnya ayat 19 memberikan penekanan yang sangat jelas bahwa untuk menjadikan hidup itu bermakna (yakni bisa makan, dll), setiap orang harus bekerja (istilah yang digunakan dalam ayat 19 yaitu berpeluh). Berpeluh pertanda harus ada keringat yang keluar, dan biasanya keringat itu dapat keluar dari tubuh seseorang jika ia melakukan suatu pakerjaan. Dalam konteks bacaan Alkitab ini, setiap orang harus memahami kerja itu merupakan suatu amanat Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Karena itu, dalam melakukan pekerjaan dibutuhkan sikap taat dengan hati nurani yang murni. Ketaatan tersebut bukanlah merupakan sikap ketertundukan kepada manusia, melainkan kepada Tuhan yang memberikan pekerjaan tersebut kepada manusia.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk taat melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan ini. Amin.

Senin, 28 Juni 2021                               

bacaan : Kejadian 30 : 25 – 36

Yakub memperoleh ternak
25 Setelah Rahel melahirkan Yusuf, berkatalah Yakub kepada Laban: "Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku. 26 Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu." 27 Tetapi Laban berkata kepadanya: "Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau." 28 Lagi katanya: "Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya." 29 Sahut Yakub kepadanya: "Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku, 30 sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?" 31 Kata Laban: "Apakah yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab Yakub: "Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku: 32 Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku. 33 Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku." 34 Kemudian kata Laban: "Baik, jadilah seperti perkataanmu itu." 35 Lalu diasingkannyalah pada hari itu kambing-kambing jantan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang dan segala kambing yang berbintik-bintik dan berbelang-belang, segala yang ada warna putih pada badannya, serta segala yang hitam di antara domba-domba, dan diserahkannyalah semuanya itu kepada anak-anaknya untuk dijaga. 36 Kemudian Laban menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu.

BEKERJALAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN TAAT

Semua orang memahami bahwa kerja itu selalu berkaitan dengan upah atau gaji. Karena itu, jika seseorang selesai melakukan pekerjaan, selalu saja yang ditanyakan kepada orang yang memberikan pekerjaan itu adalah upahnya. Itulah yang ditanyakan Yakub kepada Laban, setelah Yakub melakukan pekerjaan yang diberikan Laban kepadanya. Yang menarik dari bacaan Alkitab ini, adalah, Laban tidak langsung memberikan upah kepada Yakub melainkan menyampaikan penilaiannya terhadap kerja Yakub dengan melihat hasil kerjanya. Dalam hal ini Laban menghargai pekerjaan Yakub, dan ternyata pekerjaan Yakub membawa perubahan terhadap kehidupan Laban, yaitu ternak – ternaknya bertambah banyak. Perubahan itu terjadi karena kehadiran Yakub di tengah kehidupan Laban, disertai kerja keras dengan hati nurani yang taat kepada Allah, dalam melaksanakan amanat yang diberikan Laban, dan Laban merasa terberkati melalui kerja keras Yakub. Kisah kerja keras Yakub dengan hati nurani yang taat, semestinya menjadi inspirasi bagi orang – orang Kristen, agar dalam melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan, janganlah berorientasi hanya pada upah. Lakukanlah setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada masing-masing orang, dengan sungguh – sungguh, agar kita dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik dan sampai tuntas, sehingga memberikan hasil yang bermakna. Percayalah bahwa Tuhan Allah akan melimpahkan berkat bagi setiap orang yang melakukan pekerjaan dan tanggungjawabnya dengan sungguh – sungguh dan penuh ketaatan. Itulah sejatinya suatu pekerjaan.

Doa: Ya Tuhan, berkatilah setiap pekerjaan yang kami lakukan. Amin.

Selasa, 29 Juni 2021                                    

bacaan : Kejadian 41: 46 – 57 

46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." 52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." 53 Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, 54 mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. 57 Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.

BEKERJALAH HARI INI UNTUK HARI ESOK

Kita yang hidup hari ini tidaklah hidup untuk hari ini, melainkan hidup untuk hari esok dan masa depan. Karena itu, setiap orang dalam hidupnya haruslah mampu berpikir bagaimana ia harus hidup di hari ini demi kehidupan yang akan datang. Dengan berpikir demikian, orang tersebut akan bekerja dan melakukan sesuatu di hari ini untuk masa depannya.

Bacaan Alkitab kita menjelaskan, bagaimana Yusuf sebagai orang kepercayaan Firaun berpikir dan bertindak di hari ini untuk kehidupan banyak orang di masa depan. Dikatakan bahwa untuk menyikapi ancaman bahaya kelaparan yang akan terjadi di musim kering, maka hasil panen tujuh tahun kelimpahan tidak dihambur-hamburkan, melainkan disimpan untuk kepentingan masa depan, ketika masa itu tiba. Dalam hal ini, cara kerja Yusuf harus dipahami sebagai upaya untuk memanfaatkan berkat Tuhan di masa kelimpahan dengan sebaik – baiknya dan tidak menghambur – hamburkannya untuk hal-hal yang tidak penting. Yusuf bekerja tidak hanya untuk hari ini, tidak juga untuk dirinya sendiri,  melainkan ia menyediakan persiapan makanan bagi bangsa Mesir dan juga bangsa – bangsa lain yang terdampak bahaya kelaparan di masa mendatang. Itulah kerja yang diberkati oleh Tuhan, yakni tidak berpikir dan melakukan pekerjaan untuk diri sendiri dan mencukupkan kebutuhan hari ini saja, melainkan juga kebutuhan di masa mendatang.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja bukan untuk hari ini dan diri sendiri, melainkan untuk hari esok dan banyak orang, Amin.

Rabu, 30 Juni 2021                                          

bacaan : Ruth 2 : 1 – 3

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

KERJA ADALAH TANGGUNGJAWAB UNTUK HIDUP

“Bekerja” dalam pemahaman iman Kristen adalah panggilan untuk memperjuangkan hidup. Sejak manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi tanggungjawab untuk bekerja agar dapat menikmati berkat Tuhan. Namun demikian, ada kecendrungan manusia yang ingin menikmati hidup tanpa mau bekerja. Ada yang hanya menadahkan tangan dengan berbagai modus penipuan, berlaku curang dan ada yang suka mencuri dengan berbagai cara. Dalam bacaan kita, dikisahkan tentang Rut yang ditinggal mati oleh suaminya, disuruh pulang oleh mertuanya Naomi, namun ia bertekad untuk terus menjalani hidupnya bersama mertuanya. Rut sadar bahwa hidup yang akan ia jalani tidak mudah, namun ia tetap bertahan untuk menjalaninya. Rut percaya bahwa Tuhan Allah memberikan dua tangan dan dua kakinya untuk bekerja dan dengan bekerja ia akan hidup bersama mertuanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Rut tidak meminta belas kasihan  Naomi dan Boas untuk memberinya makan, melainkan memberikan baginya pekerjaan. Rut sadar bahwa untuk mendapatkan makanan, ia harus bekerja dengan tangannya sendiri. Rut tidak ingin menadahkan tangan tanpa bekerja, apalagi mendapatkan makanan dengan cara yang tidak benar. Naomi dan Boas sangat menghargai sikap Rut dan membiarkannya bekerja bersama para pengerja di ladang jelai milik Boas. Cerita Rut ini memberi pesan kapada kita bahwa bekerja adalah tanggungjawab yang diberikan oleh Allah. Memang harus diakui bahwa saat ini kita menghadapi berbagai kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, namun bekerja untuk mendapatkan berkat Tuhan bukanlah hal yang tidak mungkin. Tuhan berjanji akan memberkati setiap keringat yang menetes dan itu tidak akan sia –sia.

Doa: Ya Tuhan, berilah kesempatan bagi kami untuk bekerja agar kami dapat menikmati berkat-Mu, Amin

Kamis, 01 Juli 2021                                          

bacaan : Efesus 4 : 28 

28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

JANGAN MENCURI, BEKERJALAH DENGAN TANGAN SENDIRI

Dalam nasehatnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengingatkan mereka agar tetap menjaga sikap dan perilaku hidup sebagai manusia baru, yaitu meninggalkan semua kebiasaan atau perbuatan lama yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Salah satu sikap hidup yang benar sebagai manusia baru, yaitu bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik. Hal ini menghindarkan orang dari sikap malas, masa bodoh dan akhirnya mencuri. Memang mencuri adalah perbuatan tercela, apapun alasannya. Ada banyak alasan, mengapa orang suka mencuri, dan salah satunya adalah karena kebutuhan hidup yang mendesak. Namun dalam nasehat rasul Paulus, ia mengingatkan jemaat di Efesus untuk jangan mencuri, tetapi sebaliknya bekerja keras dengan tangan sendiri, supaya mereka dapat mencukupkan kebutuhan hidup mereka, bahkan mereka juga dapat berbagi dengan orang yang berkekurangan. Hidup berbagi adalah sikap iman untuk membantu orang yang berkekurangan agar mereka juga tidak mencuri. Sebagai orang percaya, setiap orang harus meyakini bahwa Tuhan Allah adalah sumber berkat, dan Ia akan memberkati setiap jerih lelah orang – orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Tuhan Allah juga akan memberkati setiap orang yang mensyukuri berkat Tuhan dengan hidup berbagi. Saat ini ada orang yang tidak mau bekerja tetapi mau hidup senang, dan jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pasti ia akan mencuri. Tetapi sebaliknya ada orang yang bekerja dengan sungguh – sungguh dan menikmati berkatnya dengan rasa syukur bahkan bersedia berbagi dengan sesamanya, walaupun hasil yang ia peroleh tidak seberapa dan sikap inilah yang dikehendaki oleh Allah. Percayalah bahwa setiap orang yang bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, ia tidak akan berkekurangan.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, amin

Jumat, 02 Juli 2021                                  

bacaan : 2 Tesalonika 3 : 6 – 15

6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. 13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. 14 Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, 15 tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

BEKERJALAH, JANGAN MAKAN DARI KERINGAT ORANG LAIN

“Bekerja s’lama siang, tatkala fajar trang. Janganlah tidur diam lalai waktu s’nang. Lihatlah matahari tak sua b’rentilah, ya dari pagi hari, hingga malamlah”, lirik lagu Dua Dahabat Lama, nomor 207 ini, mengajak kita untuk rajin bekerja dengan meneladani matahari, yang bekerja dengan setia untuk menerangi bumi, sejak terbit di pagi hari, sampai terbenam di sore hari. Nasehat untuk rajin bekerja juga menjadi penekanan rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Nasehat ini disampaikan oleh Paulus untuk mengajak jemaat hidup dalam kekudusan dan rajin bekerja sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Paulus mengajak jemaat untuk menjauhkan diri dari orang malas dan tidak mengikuti jejak mereka. Paulus bahkan menegaskan bahwa:  “…jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (ay.10.b). Paulus tidak asal bicara, tetapi dia malah menunjukkan teladan dengan bekerja keras dan tidak mau menjadi beban dari orang lain atau makan dari keringat orang lain. Sebagai orang percaya, kita pun harus memahami bahwa bekerja tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup, walapun untuk menafkahi hidup keluarga orang harus bekerja. Bekerja adalah suatu panggilan iman yang harus diwujudkan dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Bekerja yang dimaksudkan adalah melakukan pekerjaan – pekerjaan yang baik dan benar. Dalam kenyataannya ada orang yang malas dan tidak mau bekerja, tetapi ingin menikmati hidup yang enak. Orang seperti ini cenderung untuk memanfaatkan orang lain bagi kepentingan dirinya, seperti suka mencuri, menipu, dan bersenang – senang diatas penderitaan orang lain. Sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, jika ada orang yang mengatakan ‘tidak ada pekerjaan’ atau ‘belum dapat kerja’, tetapi hendaklah semua potensi dalam diri kita diberdayakan untuk bekerja.

Doa : Tuhan, ajar kami agar tidak makan dari keringat orang lain. Amin.   

Sabtu, 03 Juli 2021                                    

bacaan : Pengkhotbah 9 : 10

10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

BEKERJA SELAGI ADA WAKTU

“Jangan tunda sampai besok, apa yang dapat dikerjakan hari ini”, suatu pepatah tua yang mengingatkan kita agar tidak menunda – nunda mengerjakan suatu pekerjaan. Hal ini penting, sebab pasti ada pekerjaan lain yang harus kita lakukan di hari esok.  Nasehat ini disampaikan oleh raja Salomo kepada umat Israel untuk menyadarkan mereka bahwa ‘hidup manusia di dunia ini adalah kesempatan’: “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal……” (Pengh.3:2a), oleh sebab itu, kesempatan untuk hidup harus digunakan dengan sebaik – baiknya. Pengkhotbah 9:10 katakan: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga……,” hal ini berarti jika ada kesempatan untuk bekerja, bekerjalah dengan sungguh – sungguh. Salomo hendak mengatakan bahwa apa yang bisa dikerjakan, selagi masih ada waktu, selagi masih kuat, selagi masih sehat. Seringkali orang mengabaikan kesempatan untuk bekerja, dan waktu pemberian Tuhan digunakan untuk bersenang – senang, untuk jalan – jalan dan bersantai, tetapi ada juga orang yang menggunakan waktu untuk melakukan pekerjaan yang merugikan sesama dan menyakiti hati Tuhan. Gaya hidup seperti ini akan merugikan sesama dan diri sendiri. Padahal kita semua tau bahwa kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita hanyalah sementara. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dengan kita di hari esok, karena itu selagi masih ada kesempatan di hari ini, selagi masih kuat dan sehat, lakukanlah pekerjaan – pekerjaan yang baik, benar, adil dan berguna bagi banyak orang dan untuk kemuliaan Tuhan.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk bekerja dan menjadi berkat bagi banyak orang, Amin. 

*sumber : SHK bulan Juni-Juli 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 20-26 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Perbuatan Besar Allah Di Alam Semesta Tidak Tercapai Oleh Pengetahuan Manusia “

Minggu, 20 Juni 2021                                  

bacaan : Ayub  37: 1 – 24

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia. 14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

PERBUATAN TUHAN TIDAK TERSELAMI OLEH AKAL MANUSIA

Ingatkah kita tentang gempa bumi berkekuatan 6.8 Magnitudo yang melanda kota Ambon dan sekitarnya, pada Kamis, 26 September 2019 sampai dengan Oktober 2019 yang lalu.  Ada sebanyak 114 gempa dan 1.044 kali gempa susulan yang berpotensi tsunami. Akan tetapi grafik gempa mengalami penurunan yang signifikan, sehingga tidak berpotensi tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa dan mengendalikan alam semesta demi keberlangsungan dan kebaikan seluruh makhluk ciptaan termasuk manusia. Dalam Ayub 37: 14 “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah”. Kalimat ini merupakan nasehat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Bagi Elihu, semua gejala alam yang dahsyat, yang menakutkan dan yang tidak mampu dikendalikan oleh pikiran manusia merupakan tanda kebesaran dan kemuliaan Allah (ay.1-13). Allah memakai alam yang dikendalikan-Nya untuk mengajarkan manusia akan kemahakuasaan-Nya (ay.7), baik untuk menghukum dosa maupun untuk menyatakan kasih setia-Nya (ay.13). Dengan pernyataannya ini, Elihu mau mengingatkan Ayub bahwa perbuatan Allah yang ajaib ini tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan Ayub. Karena itu Ayub harus menyadari bahwa ia tidak berhak menggugat Allah sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penderitaannya itu. Justeru, ia harus bertobat dan bersyukur bahwa Allah menyelamatkan hidupnya. Bagi kehidupan orang percaya saat ini, peristiwa-peristiwa alam (termasuk gempa bumi) mengingatkan kita bahwa Allah berkarya dan mengendalikan alam untuk keselamatan hidup manusia, karena itu mari kita bersyukur dan mengalami pertobatan hidup dengan merawat dan memelihara alam sebagai ciptaan Tuhan.

Doa:  Tuhan,  kami tahu bahwa apapun yang kami alami di bawah kolong langit ini berada dalam kendali tangan-Mu, Amin.

Senin, 21 Juni 2021                                          

bacaan : Amsal 3: 19-20

19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, 20 dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.

HIKMAT MELEBIHI APAPUN

Habis gelap terbitlah terang, kalimat bijak ini cocok dipakai untuk menggambarkan situasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca badai seroja menerjang daerah ini, Minggu 04 April 2021 lalu. Badai tersebut telah memporakporandakan pemukiman warga dan mengakibatkan korban jiwa. Namun, di sisi lain terjadi fenomena alam yang luar biasa, yakni munculnya pulau dan danau baru dengan sejumlah mata air baru (kurang lebih 20 mata air baru). Limpahan air yang begitu besar di kawasan tersebut patut disyukuri oleh warga setempat karena fenomena alam ini telah menjadi berkat bagi mayarakat. Berkat tersebut berupa air bersih yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari . Fenomena alam ini memang menimbulkan keheranan dan menjadi pertanyaan banyak orang: “Bagaimana mungkin daerah yang kering dan tandus di NTT, khususnya Kota Kupang bisa muncul danau baru dengan sejumlah mata air?” Secara ilmiah, dapat disimpulkan bahwa munculnya danau baru karena curah hujan yang sangat tinggi, tetapi sebagai orang beriman kita mengakuinya sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan, Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Hal ini juga diungkapkan oleh penulis kitab Amsal: “Dengan hikmat Tuhan meletakan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkannya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun” (ay.19-20). Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya amat sangat baik untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi ini, termasuk manusia. Karena itu, sebagai keluarga Kristen kita patut bersyukur bahwa peristiwa-peristiwa alam yang kita alami merupakan tanda kehadiran Allah untuk memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan, kami mau bersyukur untuk alam yang Engkau ciptakan bagi keberlangsungan hidup kami, Amin.

Selasa, 22 Juni 2021                                    

bacaan : Keluaran 13: 17-22

Allah menuntun umat-Nya
17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." 18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. 19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." 20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. 21 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. 22 Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

TUHAN MELINDUNGI DAN MENUNTUN HIDUP KITA DENGAN CARANYA

Saat ini seluruh penduduk dunia masih berjuang melawan pandemic covid-19 (virus corona) yang entah kapan berakhir. Kasus covid-19 di India kembali meledak (dikabarkan 200 orang meninggal setiap jam). Situasi ini sangat mengkuatirkan Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Seluruh rakyat diharapkan mentaati protokol kesehatan  (prokes) dengan baik dan tetap berdoa. Situasi penuh ancaman pernah dialami oleh bangsa Israel pada saat mereka melakukan perjalanan di padang gurun. Mereka harus berperang, dikejar musuh, kehabisan makanan dan minuman, tubuh mereka terbakar oleh sengatan matahari, mereka kedinginan di waktu malam bahkan ada yang meninggal karena tidak mampu bertahan dalam situasi tersebut. Dalam situasi tersebut, Tuhan hadir untuk melindungi dan menyelamtkan mereka. Ayat 21: “Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Pada siang hari, tiang awan melindungi mereka dari sengatan matahari. Pada malam hari, tiang api menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya angin padang gurun. Tiang awan dan tiang api bukan saja fenomena alam biasa tapi merupakan tanda kehadiran Tuhan Allah untuk menuntun dan melindungi bangsa Israel. Jika dahulu Tuhan melindungi bangsa Israel, Tuhan yang sama juga masih melindungi kita sampai saat ini dari berbagai ancaman kehidupan, seperti: penyakit, bencana alam, pandemic covid 19, dan sebagainya. Namun yang perlu diingat oleh kita sebagai persekutuan keluarga adalah menyerahkan seluruh hidup kita dalam perlindungan Tuhan.

Doa: Tuhan, lindungi hidup kami dari berbagai ancaman dan ajarilah kami untuk menyerahkan segenap hidupM kepada-Mu

Rabu, 23 Juni  2021                                   

bacaan : Keluaran 16: 13-21

13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. 14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. 15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. 16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." 17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 19 Musa berkata kepada mereka: "Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi." 20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka. 21 Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.

CUKUPKANLAH HIDUPMU DENGAN BERKAT TUHAN

Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk mencukupi satu orang tamak atau serakah”, (Mahatma Gandhi). Apa yang dikatakan Gandhi mengandung makna penting agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki karena Tuhan telah menyediakan segalanya dengan baik dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia di bumi ini. Betapa seringnya kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Sifat seperti ini juga diperlihatkan oleh bangsa Israel di padang gurun, mereka lupa tentang kebaikan Tuhan dan terus saja bersungut-sungut (ay.3). Maka Tuhan memberikan manna dan burung puyuh menjadi makanan mereka supaya mereka tidak lupa bahwa Tuhan mengasihi mereka (ay.12). Akan tetapi ada diantara mereka yang serakah, dan mengambil lebih banyak untuk diri sendiri (ay.17). Tuhan melalui Musa memberi perintah kepada bangsa Israel agar mereka mengambil secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang (ay.16). Perintah Tuhan ini bermaksud untuk memperingatkan mereka agar tidak serakah, tetapi tahu bersyukur atas berkat yang mereka terima. Karena keserakahan dapat merugikan diri sendiri dan membunuh makhluk hidup lainnya (ay.20-21). Bacaan ini memberikan pelajaran bagi kita dalam rangka memperingati bulan lingkungan hidup, kita diingatkan untuk menjaga dan merawat alam ini dengan baik bagi kelangsungan hidup kita. Jangan merusak alam dengan mengambil sebanyak-banyaknya (eksploitasi) untuk kepentingan diri sendiri. Jika alam menjadi rusak dapat membawa bencana bagi manusia. Ingat, alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk bersyukur dengan rasa cukup, Amin.

Kamis, 24 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 16 : 22 – 31

22 Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. 23 Lalu berkatalah Musa kepada mereka: "Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi." 24 Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya. 25 Selanjutnya kata Musa: "Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. 26 Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu." 27 Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya. 28 Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku? 29 Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu." 30 Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh. 31 Umat Israel menyebutkan namanya: manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.

SABAT UNTUK TUHAN, MANUSIA DAN ALAM

Kata kunci pada bacaan ini adalah Sabat. Apa itu sabat? Dalam kamus Alkitab, sabat berarti penghentian (kerja). Hari perhentian kerja yang sangat penting bagi kehidupan orang Israel, didasarkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya “Penciptaan” (Kej.2:1-3). Sabat juga merupakan hari dimana umat pergi ke Bait Allah untuk beribadah (Yes.1:13). Di kemudian hari umat Kristen beristirahat di hari Minggu sebagai hari Tuhan. Jadi, sabat sebenarnya mengandung pengertian waktu dimana  manusia beristirahat, berhenti melakukan pekerjaan mengelola dan mengambil isi bumi dan beribadah, membangun hubungan dengan Allah. Dalam bacaan ini, Musa dengan tegas berbicara tentang sabat sebagai hari perhentian penuh bagi Tuhan (ay.23). Bangsa Israel dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun termasuk pekerjaan di ladang.(ay.25). Hal ini berguna untuk menjaga kesuburan tanah. Jika tanah menjadi subur maka akan memberikan hasil yang berlimpah-limpah untuk dinikmati oleh manusia. Hal terpenting yang dapat dipelajari oleh orang percaya, yakni Pertama, kuduskanlah hari sabat untuk beribadah kepada Tuhan. Selama enam hari Tuhan mengijinkan kita untuk bekerja dan memperoleh berkat-Nya, maka sepatutnyalah kita bersyukur kepada Tuhan. Saat ini, orang Kristen sulit menyediakan waktu untuk Tuhan karena ibadah tidak dianggap penting (prioritas). Yang terpikir hanyalah kerja, kerja dan kerja. Seolah-olah ibadah merupakan pemborosan waktu padahal waktu adalah anugerah Tuhan. Kedua, sabat berhubungan dengan tanggungjawab manusia terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan. Untuk itu, jangan merusak dan mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, mari kita jaga, rawat dan lindungi alam untuk hidup kita bersama.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk menghargai waktu pemberian-Mu, Amin.

Jumat, 25 Juni 2021                                

bacaan : Keluaran 16: 32-36

32 Musa berkata: "Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, ketika Aku membawa kamu keluar dari tanah Mesir." 33 Sebab itu Musa berkata kepada Harun: "Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun." 34 Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan. 35 Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. 36 Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.

JANGAN MELUPAKAN KEBAIKAN TUHAN

Setiap orang atau kelompok pasti mempunyai kenangan masa lalu, baik yang buruk maupun yang indah. Bagi banyak orang, mereka ingin melupakan kenangan buruk dan menyedihkan,  tetapi sebaliknya kenangan yang indah ingin terus diingat. Salah seorang tokoh, mengatakan: “Kenangan perlu ada dalam hidup agar seseorang memiliki hidup dan masa depan yang jauh lebih baik serta menjadi warisan ingatan kepada anak-cucu (keturunan)”. Demikian pula dengan bangsa Israel, mereka memiliki kenangan yang pahit maupun yang manis selama perjalanan mereka dari Mesir menuju tanah Kanaan. Mereka mengalami perbudakan di Mesir, dikejar-kejar oleh musuh, kehabisan makanan, mengalami kedinginan karena cuaca gurun, kelelahan dan kematian karena perjalanan panjang selama 40 tahun di gurun. Namun, Tuhan mengasihi mereka. Ia menjaga dan melindungi mereka, ia memberi mereka makan roti, burung puyuh dan manna. Perbuatan baik Allah ini mesti dikenang oleh bangsa Israel dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, Musa memberikan perintah untuk mengambil manna dan menyimpannya di Bait Allah supaya menjadi kenangan dan peringatan bagi ke- turunan Israel (ay.32),  bahwa Allah mengasihi dan memberkati nenek moyang mereka dengan memberi mereka makan manna untuk menopang perjalanan pengembaraan di padang gurun (band. Ay.15-16). Maknanya bagi kita saat ini, bahwa perjalanan hidup kita juga memiliki kenangan yang pahit maupun manis (ada sukses ada gagal). Akan tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita sendiri. Ia senantiasa menuntun, membimbing dan memberkati kita. Oleh karena itu kebaikan Tuhan jangan dilupakan, melainkan diajarkan berulang-ulang kepada anak-cucu kita supaya mereka pun mengingat kebaikan Tuhan dan senantiasa bersyukur.

Doa : Bapa, kami bersyukur kepada-Mu atas segala penyertaan dan perlindungan disepanjang hidup kami, Amin

 Sabtu, 26 Juni 2021                                           

bacaan : Ibrani 11: 1-3

Yesus lebih tinggi dari Musa
Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. 3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya.

DENGAN IMAN KITA MENGERTI

Kitab Ibrani ditulis oleh Paulus kepada orang-orang Kristen asal Yahudi yang sedang mengalami penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Penganiayaan tersebut mengakibatkan ada diantara mereka yang menjadi murtad, kembali kepada kepercayaan semula. Menghadapi situasi ini, Paulus menasehati mereka untuk tetap mempertahankan iman atau kepercayaan mereka kepada Kristus hingga pada kesudahannya, terus memperlihatkan kedewasaan rohani dan tidak kembali kepada kehidupan lama yang berada dibawah penghakiman dengan cara meninggalkan kepercayaan kepada Yesus Kristus. Paulus mengatakan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (ay.1). Dasar inilah yang menjadikan orang Kristen percaya pada kuasa Allah dan mengakui bahwa alam semesta dengan segala isinya dijadikan oleh Firman Allah walaupun kita tidak melihatnya (ay.3). Alam semesta diciptakan oleh Tuhan Allah sangat baik, untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk termasuk manusia. Tetapi manusia dengan serakah dan egonya telah merusak ciptaan Tuhan ini dan akibatnya terjadi pemanasan global yang berdampak bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Misalnya: cuaca yang tidak teratur (cuaca ekstrim), kekeringan panjang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, gagal panen, munculnya berbagai penyakit, dan sebagainya. Nilainya bagi kita adalah beriman kepada Tuhan Yesus hendaknya diwujudkan dalam sikap hidup menjaga, memelihara dan merawat alam demi kelangsungan hidup kita dan anak-cucu kita ke depan. Ingatlah kata bijak: “Merawat lingkungan hari ini untuk kehidupan yang lebih baik di hari esok”.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami mengaktakan iman kepada-Mu dengan cara memelihara dan merawat alam ciptaan-Mu, Amin.

         *sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 13-19 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Kebesaran Allah Di Alam Semesta “

Minggu, 13 Juni 2021                              

bacaan : Bilangan 16 : 30 – 35

30 Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." 31 Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, 32 dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. 33 Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu. 34 Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: "Jangan-jangan bumi menelan kita juga!" 35 Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.

ORANG SOMBONG PASTI BINASA

Thomas Andrews adalah orang yang membuat kapal Titanic, kapal yang dikenal begitu fenomenal. Kapal itu dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga pembuatnya merasa kapal itu akan kokoh terhadap serangan dan bahaya apapun. Merasa sukses atas hasil kerja kerasnya itu, Thomas Andrews pernah mengatakan “Kapal ini tidak akan pernah tenggelam oleh apapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun”. Ketika melakukan perjalanan pertama kalinya, Titanic menabrak gunung es di Samudera Atlantik, dan membuatnya retak, pecah dan terbelah manjadi dua, sebelum akhirnya tenggelam. Thomas turut menjadi korban dan tenggelam bersama kapalnya itu. Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Menonjolkan diri karena sukses membuat kapal yang mewah, menjadikan Thomas Andrews “lupa diri” dan meremehkan kuasa Tuhan. Korah, Datan dan Abiram yang ingin melengserkan kepemimpinan Musa dan Harun juga melakukan pemberontakan kepada Tuhan. Bersama 250 orang mereka berdiri di depan pintu kemah pertemuan dan membawa ukupan-ukupan mereka. Tuhan murka kepada mereka dan membelah tanah dibawah mereka, sehingga menelan mereka dengan seisi rumah serta harta milik mereka. Tanah yang terbelah adalah cara Tuhan memakai alam untuk menyatakan kemahakuasaan-Nya atas sifat manusia yang memberontak kepada-Nya. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan. Semua yang terlihat kuat bagi manusia, sangat tidak sebanding dengan Kuasa Kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan.

Doa : Ya Tuhan, berilah kepada kami kerendahan hati untuk memaknai kehendak-MU, Amin

Senin, 14 Juni 2021                                    

bacaan : Yesaya 9 : 17 – 20

18 (9-17) Sebab kefasikan itu menyala seperti api yang memakan habis puteri malu dan rumput, lalu membakar belukar di hutan sehingga tonggak asap berkepul-kepul ke atas. 19 (9-18) Oleh karena murka TUHAN semesta alam, terbakarlah tanah itu, dan bangsa itu menjadi makanan api; seorangpun tidak mengasihani saudaranya. 20 (9-19) Mereka mencakup ke sebelah kanan, tetapi masih lapar, mereka memakan ke sebelah kiri, tetapi tidak kenyang, setiap orang memakan daging temannya: 21 (9-20) Manasye memakan Efraim, dan Efraim memakan Manasye, dan bersama-sama mereka melawan Yehuda. Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung.

HARGAILAH ALAM PEMBERIAN TUHAN

Kita mesti telanjang dan benar – benar bersih, suci lahirlah di dalam batin….” Sepotong syair lagu Ebet G. Ade ini mengingatkan kita untuk merenung dan memaknai berbagai musibah dan bencana yang terjadi akhir – akhir ini di Tanah Air Indonesia. Bencana non alam berupa pandemic Covid-19, gempa bumi, musibah jatuhnya Pesawat udara, badai siklon tropis, tenggelamnya Kapal Selam Nainggala 402, dan mungkin berbagai musibah dan bencana yang lain.  Semuanya meninggalkan duka yang dalam dan berbagai kerugian material yang tidak sedikit. Dalam bacaan kita juga diceriterakan tentang bencana yang menimpa Suku Efraim. Sebagai salah satu suku yang besar, Efraim telah dianugerahkan berkat oleh Tuhan, sehingga dari suku ini terlahir pemimpin-pemimpin yang besar seperti: Yosua dan Raja Yerobeam I. Namun karena ketidaksetiaan dan ketidaktaatan kepada Allah, menyebabkan Efraim dihukum. “Tangan teracung” merupakan gambaran kemarahan Allah. Sebanyak 4 kali kata ini disebutkan (Yes 9:11,16,20; 10:4) yang menandakan Allah sangat marah dengan apa yang dilakukan umat-Nya. Allah menghukum mereka dengan menghanguskan tanah sehingga mereka kelaparan. Peristiwa yang dialami Suku Efraim mengingatkan kita supaya tidak terbuai dengan segala yang kita miliki, sebab berkat kehidupan, kekayaan, kesuksesan adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Berkat yang sama pula bukan untuk disombongkan sehingga melupakan kebaikan dan anugerah Allah, tetapi untuk dinikmati dengan syukur dan dibagikan jika berkelebihan, sebab Allah pun dapat menjadi marah karena keserakahan kita, manusia. Dan Allah menunjukan kuasa-Nya lewat alam untuk menegur kita, sehingga kita dapat menjadi manusia yang menghargai pemberian-Nya di alam semesta ini.

Doa : Ampunilah kami Tuhan, bimbinglah kami untuk selalu setia dan taat kepada-MU, Amin

Selasa, 15 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 3 : 1 – 12

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."

IMANUEL, ALLAH MENYERTAI KITA

Musa dipercayakan oleh Tuhan untuk membawa orang Israel keluar dari Tanah Mesir. Dalam kehidupan pribadinya yang adalah seorang gembala kambing domba, Musa merasa dia tidak mampu melakukannya. “Siapakah aku ini…?”, tanya Musa ketika Tuhan mengutusnya untuk membebaskan bangsa Israel dari Tanah Mesir. Di ayat 12 ditegaskan bahwa Tuhan Allah akan menyertai Musa untuk melakukan tugas pengutusan itu. Setiap orang percaya memiliki panggilan dan misi dari Allah. Panggilan itu dapat berupa tugas dan tanggung jawab pelayanan, tetapi juga berupa perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan damai sejahtera. Oleh sebab itu, jawablah panggilan dan misi dari Allah dengan hati yang beriman. Hati yang beriman akan menuntun kita untuk terus berjalan melaksanakan pengutusan-Nya. Baik di darat, laut, udara bahkan waktu pagi, siang, sore, malam, tengah malam, apapun kondisinya, Tuhan pasti tetap akan menyertai kita. Tuhan yang berkuasa atas alam dan seluruh ciptaan-Nya menyatakan kasih dan kuasa-Nya dalam menjaga dan melindungi kita. Jaminan-Nya ialah keselamatan dan sukacita. Dalam kendali dan kuasa-Nya, maka kita meyakini lautan tidak akan menenggelamkan, udara tidak akan menjatuhkan, dan darat tidak akan mencelakakan. Kita meyakini bahwa Tuhan Allah kita akan selalu menyertai kita, apapun keadaan kita. Dialah Imanuel, Allah beserta kita, dan itu terwujud lewat kehadiran Yesus, yang terus menyertai dan menyelamatkan kita, baik kemarin, hari ini dan esok.  Setiap orang pasti punya pengalaman iman atas penyertaan Tuhan dalam hidupnya, syukurilah itu dan teruslah berserah hanya kedalam tuntun dan pemeliharaan-Nya.

Doa : Sertailah kami Tuhan, dan berjalanlah bersama kami. Amin.

Rabu, 16 Juni 2021                                    

bacaan : Keluaran 17 : 1 – 7

Di Masa dan di Meriba
Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. 2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?" 3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" 4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" 5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. 6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. 7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

AIR YANG MEMBERI HIDUP

The National Academies of Sciences, Engineering and Medicine (Akademi Sains, Teknik dan Kedokteran Nasional, AS), menetapkan  bahwa asupan cairan harian yang memadai untuk manusia adalah sekitar 15,5 gelas (3,7 liter) untuk laki-laki dan 11,5 gelas (2,7 liter) untuk perempuan. Rekomendasi ini mencakup cairan dari air, minuman lain dan makanan. Setiap manusia membutuhkan air sebagai salah satu asupan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kekurangan air maka akan mengalami dehidrasi. Kebutuhan akan air ini juga menjadi kebutuhan bangsa Israel, ketika berada di dalam perjalanan dari Padang Gurun Sin ke Rafidim. Begitu mendesaknya kebutuhan akan air ini, menyebabkan bangsa Israel pun bertengkar dengan Musa karena mereka merasa sangat haus dan kekurangan air. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa, sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan Tuhan menuntun mereka hingga tiba di atas gunung Batu Horeb. Musa menggunakan tongkatnya dan memukul gunung batu itu sehingga keluarlah air untuk diminum bangsa Israel. Kemahakuasaan Tuhan yang memberikan air sebagai sumber kehidupan adalah bukti nyata bahwa Kasih-Nya mengalir deras bagaikan air hidup bagi kita. Kita diajak untuk selalu bersyukur atas alam pemberian Tuhan ini yang memungkinkan kita untuk hidup didalamnya. Bersyukurlah untuk setiap musim dengan tidak bersungut-sungut. Hujan dan panas adalah cara Tuhan untuk menghidupi umat-Nya. Walau, kadang musim-musim ini juga dapat menjadi musibah. Namun dengan keyakinan iman kita harus memaknai bahwa musibah atau bencana sesunggunya adalah peringatan untuk kita, manusia agar lebih menghargai alam pemberian-Nya ini dan bertanggungjawab untuk merawatnya dengan baik

Doa : Tuhan, ajarilah kami untuk selalu bersyukur atas alam pemberian-Mu ini, Amin

Kamis, 17 Juni 2021                              

bacaan : Keluaran 15 : 22 – 27

Di Mara dan di Elim
22 Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. 23 Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. 24 Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" 25 Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, 26 firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." 27 Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.

PERTOLOINGAN TUHAN SELALU TEPAT PADA WAKTUNYA

Kami tak pernah menyangka jika “mama” mesti mengalami gangguan penyakit pada kandungannya. Dari kota Ambon sampai ibukota Jakarta, kami berjuang demi kesembuhan dan pemulihan mama. Kenyataan yang kami hadapi terasa pahit. Ketakutan, kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan dan hilangnya pengharapan seperti berjalan mendekati kami. Dan kami hanya bisa berserah dalam doa kepada Tuhan Yesus. Terkadang kami mengeluh, bersungut hadapi penanganan medis yang menurut kami lambat karena kami ingin mama segera sembuh. Kenyataan ini persis dialami bangsa Israel dalam perjalanan dari Laut Teberau ke Padang Gurun Syur yang juga diperhadapkan dengan ketersediaan air yang kurang bahkan air rasa yang pahit (Mara). Mereka tidak tahan dengan kondisi yang demikian sehingga mereka terus berteriak dan bersungut kepada Musa. Tuhan menolong mereka dan menunjukan sepotong kayu kepada Musa untuk dilemparkan ke dalam air, dan seketika itu juga air berubah menjadi manis.  Pertolongan Tuhan mungkin tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak pernah terlambat, namun pertolongan-Nya tepat pada waktu-Nya. Sebagai manusia, terkadang kita menginginkan jawaban yang cepat dan sesuai dengan keinginan kita, tanpa memikirkan bahwa rancangan Tuhan pasti yang terbaik. Air yang pahit diubah menjadi manis, bukanlah sebuah kebetulan, namun itu adalah cara Tuhan membentuk orang-orang Israel agar sabar, setia, taat dan berharap selalu pada-Nya. Hal yang sama pula Tuhan inginkan supaya kita memilikinya sebagai keluarga orang-orang percaya. Percaya bahwa proses yang kita jalani, dan jawaban Allah akan membuahkan sesuatu yang manis walau awalnya pahit bagi kita.

Doa: Berilah kepada kami kesabaran untuk melihat janji manis-Mu, Tuhan. amin

Jumat, 18 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 19 : 1-13

TUHAN menampakkan diri di gunung Sinai
Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. 2 Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. 3 Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: 4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. 5 Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. 6 Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." 7 Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. 8 Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. 9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. 10 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. 11 Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. 12 Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. 13 Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu."

PERJANJIAN KASIH DENGAN TUHAN

MOU (Memorandum Of Understanding) adalah suatu bentuk perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang dicantumkan dalam suatu dokumen formal. Perjanjian itu terkait dengan kesepakatan bersama terhadap kewajiban dan hak dari tiap pihak. Dalam perjanjian itu, kedua belah pihak diharapkan saling mendukung dan mengingatkan untuk pelaksanaan tugas tanggung jawab mereka. Dalam perjalanan keluar dari Tanah Mesir, Bangsa Israel dituntun oleh Musa ke Padang Gurun Sinai dan berkemah disitu. Musa naik ke gunung itu dan mendengar perintah Tuhan kepadanya untuk memperingatkan bangsa Israel agar berpegang teguh kepada Firman-Nya dan Perjanjian-Nya sehingga mereka akan menjadi harta kesayangan milik Tuhan. Awan yang tebal digunakan oleh Tuhan sebagai media untuk memberitakan tentang penampakan-Nya bagi bangsa Israel. Tuhan mengingatkan agar tidak seorang pun menyentuh atau mendaki Gunung Sinai saat penampakan terjadi, hal ini dimaksudkan agar bangsa Israel dapat menjaga kekudusan hidup mereka di hadapan Tuhan. Mereka boleh mendaki gunung itu jika terdengar bunyi sangkakala yang panjang. Pemeliharaan Tuhan adalah bentuk perjanjian kasih yang mendatangkan kedewasaan iman bagi setiap anak-anak-Nya. Dalam perjanjian kasih ini, Tuhan berjanji mengasihi, memelihara dan menyelamatkan umat-Nya dan kita sebagai pihak kedua pun harus berjanji untuk selalu setia, taat dan patuh terhadap perintah-Nya serta percaya dan berserah hanya kepada-Nya. Berdasarkan perjanjian kasih itu, kita pun bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Itulah respons iman kita kepada Allah, dan buah yang akan kita petik dari respons iman itu ialah hidup bersukacita.

Doa : Terima Kasih Tuhan atas Pemeliharaan-Mu bagi hidup kami. Amin.

Sabtu, 19 Juni 2021                                

bacaan : Keluaran 19 : 14 – 25

14 Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya. 15 Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan." 16 Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. 17 Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. 18 Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. 19 Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. 20 Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas. 21 Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: "Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. 22 Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka." 23 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus." 24 Lalu TUHAN berfirman kepadanya: "Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya." 25 Lalu turunlah Musa mendapatkan bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka.

ALAM SEBAGAI BUKTI KEMAHAKUASAAN TUHAN

Kedatangan Tuhan semakin dekat dan bangsa Israel diminta untuk bersiap diri serta menjaga kekudusan hidup mereka. Guruh, kilat, awan padat dan bunyi sangkakala adalah tanda-tanda alam yang menyertai kedatangan Tuhan. Manifestasi atau wujud yang menandakan kedatangan Tuhan ini sangat mengagumkan dan memiliki beberapa tujuan, yakni: (1). Menunjukkan kekudusan, kuasa dan kemahatinggian Allah, (2). Membangkitkan Iman kepada Allah, (3). Menekankan kepada umat bahwa hukuman dan kematian akan menjadi akibat dari ketidaktaatan yang disengaja kepada Allah. Musa membawa bangsa Israel keluar untuk menjumpai Allah di Gunung Sinai, dan Allah memperingatkan agar mereka tidak melihat-Nya sebab akan binasa. Bahkan Para Imam pun haruslah hidup dalam kekudusan agar dapat melihat Allah. Mereka hanya menyaksikan kemahakuasaan Tuhan Allah lewat berbagai tanda-tanda alam.  Mengalami kemahakuasaan Tuhan tidak hanya sebatas perjumpaan ritual saja, namun lewat berbagai peristiwa alam, kita juga mampu melihat akan kemahakuasaan Tuhan. Allah yang Maha Kuasa itu memberikan kenyamanan kepada kita lewat lingkungan tempat tinggal kita, ciptaan lain yang menjadi sahabat dan penyokong kebutuhan hidup serta iklim yang bersahaja untuk melakukan aktifitas. Tidak jarang juga, karena kelalaian dan keserakahan manusia, maka alam juga dapat membahayakan kehidupan kita lewat berbagai bencana. Semua itu adalah bukti kemahakuasaan Tuhan di Bumi ini dan karena itu tidak ada seorang pun manusia yang dapat melawan kemahakuasaan Tuhan lewat berbagai prediksi dan kecanggihan teknologi. Sebab kita tidak dapat melihat Tuhan jikalau tidak menjaga kekudusan hidup kita.

Doa: Kuduskanlah kehidupan kami Tuhan, agar layak melihat Kuasa dan          Kebesaran-Mu. Amin.

*sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 Juni 2021

Tema Mingguan : ” TUHAN MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU BAIK ADANYA “

Minggu, 06 Juni 2021                                  

bacaan : Kejadian 1 : 1 – 31    

Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. 4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. 6 Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air." 7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua. 9 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering." Dan jadilah demikian. 10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian. 12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga. 14 Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian. 16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. 20 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala." 21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak." 23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima. 24 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian. 25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

TUHAN MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU BAIK ADANYA

Menyatulah dengan alam, cobalah selami cara alam bergerak dan bereaksi, sayangilah ia. Setelah itu baru namakan dirimu manusia” (Jerinx). Kata bijak ini mengingatkan kita untuk menyayangi alam semesta ciptaan Tuhan, seperti diri sendiri.  Memang Tuhan telah menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya  sebagai tanda kehadiran Allah. Cerita tentang Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya adalah sebuah pengakuan bahwa langit dan bumi beserta isinya diciptakan oleh Tuhan. Pekerjaan penciptaan itu telah direncanakan dengan sangat baik, dimulai dari tidak ada, kosong dan belum berbentuk, tetapi ada Roh Allah yang melayang – layang di atas permukaan air. Dengan firman-Nya Allah menciptakan terang; cakrawala; lautan dan daratan; segala jenis tumbuhan; benda penerang  penanda malam dan siang; segala makhluk hidup di air dan lautan, segala jenis burung di udara; segala ternak dan binatang liar dan melata. Ketika Allah melihat semuanya baik, maka Allah menciptakan manusia pada hari yang terakhir dan memberi tanggungjawab kepada manusia untuk memelihara, mengusahakan, menjaga dan melestarikan semua ciptaan Allah. Jika Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan baik, dan Allah mengasihinya sebagai miliknya yang sangat berharga, bagaimana mungkin manusia merusakannya dengan berbagai perbuatan yang menyebabkan ciptaan Allah itu menjadi tidak baik. Lingkungan yang kotor, banjir, longsor, dan bencana alam lainnya adalah tangisan alam yang disakiti oleh manusia. Alam yang rusak dan sakit, akan menyebabkan hidup manusia juga menjadi terancam, karena itu mulailah mengasihi dan bersahabat dengan alam, pelihara dan rawatlah dengan baik, semua itu untuk kehidupan kita dan anak cucu kita ke depan.    

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk memelihara dan merawat bumi  ciptaan- Mu, untuk hidup kami dan anak cucu kami, Amin.

Senin, 7 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 89 : 11 – 12

10 (89-11) Engkaulah yang meremukkan Rahab seperti orang terbunuh, dengan lengan-Mu yang kuat Engkau telah mencerai-beraikan musuh-Mu. 11 (89-12) Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.

KEBAIKAN TUHAN MELALUI CIPTAAN-NYA

Saat ini banyak orang mengunjungi tempat-tempat wisata untuk refresing atau bersantai, karena di situ kita akan menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan yang menimbulkan rasa takjub dan kagum atas karya Ilahi yang mesti kita lestarikan untuk generasi kita. Kekaguman dan pengakuan inipun lahir dari pemazmur dalam bacaan kita di hari ini, dengan menegaskan bahwa langit, bumi beserta isinya diciptakan dan didasari oleh Tuhan Allah dengan sangat baik dan sempurna. Ditegaskan oleh pemazmur bahwa semua yang diciptakan oleh Tuhan, diperuntukkan kepada manusia, menunjukkan kebaikan dan cinta kasih Tuhan kepada umat manusia termasuk juga pemazmur. Itulah sebabnya pemazmur memuji dan memuliakan Tuhan karena kebaikan cinta kasih-Nya. Pemazmur mau menceritakan dan menyaksikan kebaikan Tuhan itu didalam seluruh kehidupannya. Demikianpun kita sebagai keluarga Allah : opa, oma, papa, mama dan anak-anak yang mengagumi dan mengakui akan kebesaran cinta kasih Tuhan yang selalu nyata dalam kehidupan kita sekeluarga. Apalagi ditengah pergumulan serta tantangan pandemic Covid-19 yang masih mewarnai kehidupan kita, serta juga berbagai masalah yang terus kita hadapi setiap saat. Ketika kita menghirup udara segar secara gratis, menikmati cahaya matahari untuk menguatkan imun tubuh, hendaknya mengingatkan kita akan kebesaran dan kemahakuasaan Ilahi yang mesti disyukuri setiap saat.  Hendaknya kita juga menceriterakan dan menyaksikan cinta kasih Tuhan melalui sikap dan perilaku hidup kita, dengan berbagi kasih dan sukacita bagi semua orang yang membutuhkannya. Sehingga kehidupan di alam ciptaan ini selalu dipenuhi dengan kemuliaan cinta kasih Allah bagi semua makhluk ciptaan.  

Doa : Terima kasih Tuhan untuk kebaikan cinta kasih-Mu bagi kami yang selalu nyata dalam hidup ini melalui alam ciptaan-Mu. Amin.-

        

Selasa, 8 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 96 : 1 – 6

Allah, Tuhan dan Hakim seluruh dunia
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! 2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 3 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. 4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. 5 Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. 6 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.

NYANYIAN SYUKUR ATAS BERKAT TUHAN

Sebuah legenda Yahudi kuno mengisahkan bahwa setelah menciptakan dunia, Allah memanggil para malaikat dan menanyakan pendapat mereka. Salah satu malaikat berkata: “Ada satu yang kurang, yaitu suara pujian bagi Sang Pencipta”. Maka Allah pun menciptakan musik yang terdengar melalui desiran angin dan nyanyian burung. Allah juga memberikan karunia pujian bagi manusia. Sepanjang masa nyanyian dan musik telah memberkati banyak orang. Nyanyian pujian kepada Allah untuk memuliakan Nama-Nya, serta menghibur dan menguatkan kita sebagai umat manusia. Itulah sebabnya pemazmur mengajak umat Tuhan dan kita semua untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan. Nyanyian baru adalah ungkapan syukur atas berkat Tuhan, penyertaan dan tuntunan-Nya bagi kita semua. Menyanyi untuk Tuhan, memuji dan memuliakan nama-Nya melalui seluruh sikap serta perilaku hidup kita. Mengapa kita kita harus menyanyi dan memuji Tuhan? Pemazmur katakan, Tuhan Maha Besar dan sangat terpuji, IA lebih dahsyat dari segala allah. Itulah sebabnya kesaksian pemazmur ini mengajak kita sekeluarga untuk menyanyi dan memuji serta memuliakan Tuhan melalui seluruh sikap dan perilaku hidup kita. Kita memuji dan memuliakan Tuhan bukan supaya Dia baik, tetapi karena Dia baik. Bukan supaya Tuhan menolong kita, tetapi karena Dia justru telah menolong kita. Bukan supaya Tuhan tampak agung dan mulia, namun Dia memang benar-benar agung dan mulia. Tanpa nyanyian serta puji-pujian kita, keagungan dan kemuliaan Tuhan tidak akan berkurang sedikitpun. Artinya keagungan dan kemuliaan Tuhan tidak ditentukan dari puji-pujian kita. Namun sebagai orang yang telah menikmati keselamatan dalam Tuhan Yesus, kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan, atas kebesaran cinta kasih-Nya bagi kita.   

Doa : Tuhan kami mau menyanyi dan memuji-Mu melalui seluruh hidup kami, sebagai kesaksian akan kebesaran cinta kasih-Mu. Amin.-

Rabu, 9 Juni 2021                                          

bacaan : Mazmur 102 : 26

26) Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.

KEBAIKAN TUHAN MENJADI NYATA DI ALAM CIPTAAN-NYA

Ada ungkapan “di atas langit ada langit”. Ungkapan ini bisa dibuktikan ketika kita berada dalam ruang cabin pesawat terbang dan terasa sudah di atas langit, ternyata ketika kita melihat ke atas dari cabin pesawat tersebut masih juga ada langit. Dengan memandang kondisi tersebut, maka sebuah pengakuan bahwa betapa besar kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Betapa kecilnya kita sebagai manusia di hadapan kemahakuasaan ciptaan Tuhan itu. Pemazmur menegaskan hal tersebut dalam bacaan kita bahwa sejak dahulu Tuhan telah meletakkan dasar bumi melalui penciptaan-Nya dan langit adalah  buatan tangan-Nya. Langit yang tak berbatas sebagai bukti kebaikan dan cinta kasih Tuhan yang juga tiada berbatas. Serta bumi yang telah diletakkan dasarnya oleh Tuhan sebagai karya ciptaan yang ajaib dari sang Ilahi adalah tempat hunian dan berpijak kita sebagai manusia. Itu berarti kebesaran kuasa Tuhan dalam menciptakan langit dan bumi dari belum berbentuk dan kosong (Ibrani “tohu wabohu”), menjadi ada dan nyata serta baik adanya. Tindakan Allah ini menunjuk kepada hakekat Allah yang tetap mengasihi melalui seluruh alam ciptaan-Nya. Apapun situasi dan kondisi dunia serta alam yang menantang dan mengancam, tidak akan menyurutkan dan mengurangi besarnya cinta kasih Tuhan bagi kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Ditengah ancaman pandemic Covid-19 ini, kita yakin dan percaya bahwa perlindungan dan kemahakuasaan Tuhan akan selalu nyata dan hadir dalam seluruh kehidupan kita. Untuk itu sebagai keluarga hendaknya kita bersyukur atas cinta kasih Tuhan melalui alam ciptaan-Nya dengan segala kelimpahan dan keindahan serta keunikannya yang mesti kita jaga, rawat dan lestarikan kepada generasi kita.

Doa : Terima kasih Tuhan untuk alam ciptaan-Mu sebagai wujud cinta kasih- Mu yang besar dan melimpah bagi kehidupan kami. Amin.-

Kamis, 10 Juni 2021                                       

bacaan : Mazmur 33 : 5 – 9

5 Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. 6 Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. 7 Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah. 8 Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! 9 Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

FIRMAN TUHAN MEMBERI KEHIDUPAN

Kebesaran Tuhan dinyatakan melalui karya penciptaan langit dan bumi serta segala isinya yang disaksikan oleh pemazmur dalam bacaan  firman Tuhan di hari ini. Pemazmur menegaskan bahwa dengan berfirman, Tuhan menjadikan langit, bumi  dan seluruh isinya. Melalui perintah Tuhan, maka semuanya ada, sebuah penegasan yang menggambarkan betapa berkuasanya Tuhan bahwa melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, maka yang tidak ada menjadi ada, kacau balau menjadi teratur, gelap menjadi terang, tidak baik menjadi baik. Itu berarti betapa pentingnya firman Tuhan yang menjadi pelita dan terang pada jalan kita sebagai orang percaya untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan bersama dengan semua makhluk. Sebagai keluarga Allah : opa, oma, papa, mama dan anak-anak hendaknya mengawali aktivitas setiap hari dengan memohon tuntunan Roh Kudus untuk membaca dan merenungan firman Tuhan sebagai kekuatan dan penuntun dalam kehidupan kita. Saat kita membaca firman Tuhan, maka Tuhan pun sedang berkarya dalam hidup kita. Semakin sering kita membaca firman Tuhan, maka semakin banyak hal baik yang kita lakukan bagi kehidupan kita serta juga untuk semua ciptaan di alam semesta. Menurut penelitian, jika kita sedang membaca firman Tuhan, maka tubuh kita sedang mengalami pemulihan. Jantung, hati, pikiran dan bagian tubuh yang lain akan mengalami pemulihan saat kita membaca, merenungan serta menghayati firman Tuhan. Apalagi jika firman Tuhan kita lakukan maka kehidupan yang diberkati Tuhan di alam ciptaan ini akan selalu nyata. 

Doa : Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu yang telah menjadi segala sesuatu bagi kami. Mampukan kami untuk melakukan firman-Mu dalam seluruh kehidupan kami, amin

Jumat, 11 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 146 : 1 – 6

Hanya Allah satu-satunya penolong
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. 5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: 6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

MEMUJI TUHAN ATAS KEBAIKANNYA

Ada sebuah kesaksian seorang anak Tuhan yang belajar bertumbuh dan mengenal serta membangun hubungan yang intim dan khusus dengan Tuhan. Dalam kesaksiannya bahwa setiap pagi dia mengambil waktu saat teduh untuk berkomunikasi dalam doa dan puji-pujian dengan Tuhan. Anak Tuhan inipun mengkritik ibu-ibu dan anak – anak yang mengawali pagi bukan dengan saat teduh dan doa, tetapi membuka HP mencari pesan – pesan di FB dan WhatsApp. Dia juga mengkritik bapak-bapak yang pagi-pagi tidak bersaat teduh dan berdoa, tetapi mencari sisa rokok yang semalam tidak sempat dihabiskan. Anak Tuhan yang setia dan taat mencari Tuhan selama hidupnya, menceritakan dan menyaksikan bahwa ia mengalami cinta kasih Tuhan yang besar dan ajaib dalam seluruh perjalanan kehidupan keluarganya. Hal ini sejalan dengan kesaksian pemazmur yang selalu memuji Tuhan selama hidupnya sebab pemazmur mengalami jamahan tangan kasih Tuhan yang ajaib dalam kehidupannya. Kuasa dan cinta kasih Tuhan yang tidak berbanding dengan apapun dalam hidup ini termasuk juga manusia dengan segala kekuatan dan kuasa mereka. Sebab bagi pemazmur kuasa dan kekuatan manusia itu terbatas dan sia-sia. Penegasan pemazmur dan kesaksian anak Tuhan ini hendaknya menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Allah bahwa memuji dan memuliakan Tuhan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya adalah hal penting yang mesti kita lakukan setiap waktu. Setiap pagi hendaknya kita meluangkan waktu bersaat teduh dan berdoa untuk Tuhan yang punya hidup ini. Kalaupun langit dan bumi serta segala isinya telah diciptakan dengan baik dan penuh kuasa oleh Tuhan, masakan masalah dan tantangan yang kita hadapi tidak bisa diatasi dan diselesaikan oleh Tuhan ? Yakin dan percayalah !

Doa : Tuhan kami memuji dan memuliakan-Mu sebab Engkau selalu menuntun, menyertai dan memberkati seluruh kehidupan kami. Amin.-

Sabtu, 12 Juni 2021                                           

bacaan : Kejadian 2 : 1 – 3

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

ADA WAKTU UNTUK BERISTIRAHAT DAN MEMULIAKAN TUHAN

Hari ini kita berada di akhir usbu setelah sepekan bergumul dalam berbagai aktivitas pekerjaan, usaha serta pendidikan anak-anak. Besok hari minggu sebagai hari sabat yang dikuduskan Tuhan bagi kita semua sebagai umat-Nya untuk beribadah di rumah-rumah gereja. Hal ini sejalan dengan kesaksian firman Tuhan yang menyatakan bahwa pada hari yang ketujuh Tuhan memberkati dan menguduskannya setelah enam hari lamanya Tuhan menciptakan langit dan bumi serta segala isinya termasuk didalamnya manusia. Kesaksian firman Tuhan ini mau menegaskan bahwa Tuhan Allah pun menyediakan waktu untuk berhenti dan beristirahat dari seluruh proses pekerjaan penciptaan yang dilakukan-Nya. Tuhan  telah mengatur dengan baik segala waktu yang menjadi anugerah itu bagi kita, bahwa ada waktu untuk bekerja maka ada waktu juga untuk beristirahat. Enam hari Tuhan sudah memberikan bagi untuk bekerja, berusaha, belajar dan di hari yang ketujuh Tuhan menguduskannya, dan hal itu mesti kita mematuhinya dengan membangun persekutuan dalam ibadah minggu bersama dengan Tuhan. Sejauhmana waktu beristirahat kita gunakan sebaik mungkin, teristimewa untuk memuliakan Tuhan ataukah waktu tersebut kita prioritaskan untuk bersantai, piknik atau mengerjakan pekerjaan tersisa yang belum selesai ? Demikian pun hal ini  terkait dengan tanggung jawab kita kepada alam semesta. Ketika kita mengelolanya maka mesti ada waktu untuk berisitirahat bagi alam ini. Jangan sampai kita menguras alam ini dengan serakah dan tidak memberi waktu istirahat yang akan berdampak kepada generasi kita. Hal ini mesti menjadi perhatian kita bersama dan dengan kesungguhan hati kita mewujudkannya demi hormat serta kepujian nama Tuhan serta kehidupan semua ciptaan yang diberkati.  

Doa : Terima kasih Tuhan atas teladan-Mu bagi kami untuk beristirahat dan menyediakan waktu  bersekutu dan memuliakan Nama-Mu, Amin.-

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2021 LPJ-GPM

        

Santapan Harian Keluarga, 30 Mei – 5 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Roh Kudus Memberi Kekuatan Untuk Menyatakan Pelanggaran dan Dosa.

Minggu, 30 Mei 2021 

bacaan : Mikha  3 : 5 – 8  

5 Beginilah firman TUHAN terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang. 6 Sebab itu hari akan menjadi malam bagimu tanpa penglihatan, dan menjadi gelap bagimu tanpa tenungan. Matahari akan terbenam bagi para nabi itu, dan hari menjadi hitam suram bagi mereka. 7 Para pelihat akan mendapat malu dan tukang-tukang tenung akan tersipu-sipu; mereka sekalian akan menutupi mukanya, sebab tidak ada jawab dari pada Allah. 8 Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh TUHAN, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya.

NYATAKANLAH KEHENDAK TUHAN DALAM HIDUP-MU

Bacaan kita hari ini menceriterakan kesaksian nabi Mikha tentang perilaku buruk baik dari umat, nabi, maupun pemimpin Israel. Umat Israel bukannya beribadat dan taat kepada Tuhan, mereka justeru menyembah ilah lain. Para pemimpin menipu dan merampok orang miskin sedangkan para nabi salah menggunakan jabatan. Nabi-nabi berpihak kepada orang kaya dan berlaku tidak adil kepada orang miskin. Mikha berbeda dengan nabi lain pada waktu itu. Nabi yang lain itu menubuatkan apa yang ingin didengar umat agar mereka mendapat bayaran. Seorang nabi harus menubuatkan apa yang Tuhan kehendaki, termasuk menyatakan kesalahan dan penghukuman. Mereka menubuatkan yang menyenangkan umat supaya dengan begitu mereka dibayar. Nabi-nabi tersebut tidak memperjuangkan kehendak Tuhan tetapi kepentingan diri sendiri. Mereka bernubuat agar mendapat bayaran bukan supaya kehendak Tuhan dinyatakan. Nubuatan Mikha datang langsung dari Roh Tuhan, yang merupakan kehadiran dan kuasa Allah. Ia bukanlah nabi yang menyesatkan umat, sebab ia mengingatkan umat tentang bagaimana hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Umat harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, agar tidak mendapat hukuman. Para pemimpin harus berlaku adil dan membela orang miskin. Hal senada pun haruslah diperankan para pemimpin dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat, mereka tidak boleh memakai jabatan kepemimpinan untuk memperkaya diri sendiri dan mengorbankan kehendak Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami untuk menyatakan kehendak-Mu.  Amin.

Senin, 31 Mei   2021                                    

bacaan : Yakobus 5 : 19 – 20

19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, 20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

IMAN BERARTI BERTINDAK

Kita sungguh bersyukur dapat menjalani dan beraktifitas sampai di hari terakhir bulan ini. Bulan ini kita akhiri dengan menyimak pesan pemberitaan Yakobus. Ia menasihati jemaat Kristen untuk menjaga iman mereka agar tetap hidup. Iman yang hidup berarti bertindak dengan cara teruslah bersabar, jadilah orang yang berbelas kasih, dan berdoalah dengan tidak henti. Orang Kristen diminta bersabar menanti kedatangan Tuhan. Yakobus melarang orang Kristen untuk bersumpah, tetapi memberi anjuran agar berdoa bagi orang lain, terutama bagi mereka yang telah menyimpang ke jalan yang sesat. Keselamatan haruslah diwujudkan dalam perbuatan baik, supaya iman tetap hidup. Ia juga menegaskan bahwa kesalahan atau dosa bukanlah akhir hidup, sebab akan selalu terbuka pengampunan Allah. Karena itu marilah kita akhiri bulan ini dengan semangat menanti kedatangan Tuhan, terus peduli dengan orang lain, tidak menolak orang yang salah atau berdosa, sambil terus menjaga hidup agar tidak melakukan kesalahan atau dosa. Yakinlah bahwa Tuhan selalu menyatakan kebaikan, Ia mengampuni dan memulihkan. Berusahalah untuk memberi diri atau hidup untuk diatur, dan dikasihi Tuhan, melalui nasihat, teguran dan kepedulian orang lain. Hanya dengan demikian iman kita tidak akan mati. Ingatlah selalu pesan utama Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah mati. Kita diminta berbuat baik bukan untuk diselamatkan, tetapi sebaliknya kita berbuat baik karena sudah diselamatkan. Perbuatan baik bukanlah sebab untuk memperoleh keselamatan, melainkan akibat dari keselamatan yang sudah dianugerahkan. Orang Kristen berbuat baik bukan untuk memperoleh balas jasa, sebab keselamatan adalah kasih karunia Allah, bukan usaha manusia.

Doa:  Tuhan mampukanlah  kami untuk beriman lewat perbuatan , Amin!

Selasa, 01 Juni 2021                          

bacaan : Yehezkiel 11 : 5 – 12  

5 Maka Roh TUHAN meliputi aku dan TUHAN berfirman kepadaku: "Katakanlah: Beginilah firman TUHAN: Kamu berkata-kata begini, hai kaum Israel, dan Aku tahu apa yang timbul dalam hatimu. 6 Orang-orang yang kamu bunuh di kota ini bertambah banyak dan kamu penuhi jalan-jalannya dengan mereka. 7 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Orang-orang yang kamu bunuh di kota ini, merekalah dagingnya dan kota inilah periuk, tetapi kamu akan Kugiring keluar dari dalamnya. 8 Kamu takut kepada pedang, tetapi Aku akan mendatangkan pedang atasmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 9 Aku akan menggiring kamu keluar dari dalamnya dan menyerahkan kamu di tangan orang-orang asing dan menjatuhkan hukuman-hukuman kepadamu. 10 Kamu akan berebahan karena pedang dan di tanah Israel Aku akan menghukum kamu; dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. 11 Kota ini tidak akan menjadi periuk bagimu ataupun kamu seakan-akan daging di dalamnya; di tanah Israel Aku akan menghukum kamu. 12 Dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, karena kelakuanmu tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku tidak kamu lakukan; bahkan engkau melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang di sekitarmu."

RENDAHKANLAH DIRIMU DIHADAPAN ALLAH

Setiap orang  tidak pernah luput dari berbuat kesalahan dan dosa. Pernahkah kita menyadari, berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat setiap hari terhadap sesama kita, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja? Orang sering mengidentikan kesalahan dan dosa adalah ketika orang melakukan tindakan kriminal berat, seperti: membunuh, mencuri, ataupun berzinah. Namun bagaimana dengan orang yang suka berbohong, menghina, memfitnah, membenci, menyakiti hati orang lain dengan sikap dan ucapannya? Walaupun demikian, tidak banyak orang yang mau menyadari diri dan mengakui segala kesalahannya. Hal ini disebabkan karena gengsi dan  selalu merasa diri benar. Dalam kitab Yehezkiel 11 : 5 – 12, dikisahkan tentang para pemimpin Israel antara lain Yaazanya bin Azur dan Pelaca bin Benaya, yang selalu merasa diri mereka benar. Bahkan ketika umat Israel ditawan ke Babel, para pemimpin ini tetap bertahan di Yerusalem dan menganggap diri mereka sebagai orang – orang benar dan tidak mau mendengar nasehat nabi Yehezkiel. Mereka menyebut diri mereka sebagai “daging pilihan..”  Padahal mereka justru melakukan berbagai perbuatan jahat dengan membunuh penduduk kota itu. Hukuman Tuhan senantiasa berlaku bagi orang – orang yang menyimpang dari ketetapan-Nya, siapapun mereka, apakah orang terkemuka, para pemimpin, sampai dengan masyarakat biasa. Karena itu hendaklah setiap orang menyadari dirinya dan bertobat, sehingga Allah akan mengampuni segala dosanya dan memulihkan hidupnya. Sebagai orang percaya, kitapun diharapkan selalu membuka diri memaknai teguran Tuhan memohonkan ampunan-Nya dan memberi dibarui oleh-Nya. Hanya dengan demikian kita akan menikmati hidup yang diberkati oleh Tuhan.

Doa : Tuhan, ampunilah dosa kami dan baruilah hidup kami, Amin.

Rabu, 02 Juni 2021                              

bacaan : 1 Samuel 2 : 27 – 36      

Nubuat tentang Eli dan kaum keluarganya
27 Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun? 28 Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbah-Ku, membakar ukupan dan memakai baju efod di hadapan-Ku; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban api-apian orang Israel. 29 Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel? 30 Sebab itu--demikianlah firman TUHAN, Allah Israel--sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang--demikianlah firman TUHAN--:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah. 31 Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu. 32 Maka engkau akan memandang dengan mata bermusuhan kepada segala kebaikan yang akan Kulakukan kepada Israel dan dalam keluargamu takkan ada seorang kakek untuk selamanya. 33 Tetapi seorang dari padamu yang tidak Kulenyapkan dari lingkungan mezbah-Ku akan membuat matamu rusak dan jiwamu merana; segala tambahan keluargamu akan mati oleh pedang lawan. 34 Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. 35 Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi. 36 Kemudian siapa yang masih tinggal hidup dari keturunanmu akan datang sujud menyembah kepadanya meminta sekeping uang perak atau sepotong roti, dan akan berkata: Tempatkanlah kiranya aku dalam salah satu golongan imam itu, supaya aku dapat makan sekerat roti."

SALING MENEGUR UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK

Teguran dan nasehat dari orang tua kepada anak – anak untuk membimbing mereka menapaki perjalanan hidup ke depan adalah wujud dari perhatian dan kasih sayang orang tua yang tidak menghendaki anak – anaknya binasa. Namun jika anak – anak tidak mau mendengar nasehat orang tua dan senang melakukan perbuatan jahat yang meresahkan banyak orang dan menyakiti hati Tuhan, maka Tuhan pasti akan menegur dengan cara Tuhan untuk menyadarkan mereka. Hal ini terjadi dalam kehidupan imam Eli dan kedua anaknya Hofni dan Pinehas yang ikut melayani di Bait Allah. Dikisahkan bahwa apabila umat yang datang membawa  persembahan korban sembelihan kepada Tuhan, kedua anak itu akan mengambilnya untuk dimakan (1Sam.2:12-13). Apabila umat tidak mau memberikan persembahan korban itu kepada mereka, maka mereka dapat mengambilnya dengan cara kekerasan (1Sam.2: 16). Kedua anak Imam Eli itu tidak hanya mengambil apa yang menjadi hak Tuhan, mereka juga melakukan banyak kejahatan kepada sesamanya. Apa yang dilakukan oleh kedua anak Imam Eli, sangat meresahkan hati umat yang datang beribadah di Silo. Sebagai orangtua, imam Eli sadar bahwa apa yang dilakukan oleh kedua anaknya itu tidak hanya meresahkan umat, tetapi juga menyakiti hati Tuhan, dan ia menasehati mereka. Namun kedua anaknya yang masih muda itu tidak mau mendengarkan apa yang menjadi nasihat Eli sebagai orang tua mereka (1Sam 2:24-25).

Sebab itulah Tuhan Allah mengutus seorang abdi Allah untuk menegur mereka, bahkan menyampaikan hukuman yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka jika tidak bertobat. Sebagai orang percaya, kita pun diberi tanggungjawab untuk saling menegur dan menasehati untuk hidup yang lebih baik.

Doa : Tuhan berilah Roh Kudus-Mu untuk menuntun kami, Amin.

Kamis, 03 Juni 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 24 : 15 – 22

15 Yoyada menjadi tua, dan lanjut umur, lalu matilah ia. Seratus tiga puluh tahun umurnya ketika ia mati. 16 Ia dikuburkan di kota Daud di samping raja-raja, karena perbuatan-perbuat yang baik di Israel terhadap Allah dan rumah-Nya. 17 Sesudah Yoyada mati, pemimpin-pemimpin Yehuda datang menyembah kepada raja. Sejak itu raja mendengarkan mereka. 18 Mereka meninggalkan rumah TUHAN, Allah nenek moyang mereka, lalu beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala. Oleh karena kesalahan itu Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka. 19 Namun TUHAN mengutus nabi-nabi kepada mereka, supaya mereka berbalik kepada-Nya. Nabi-nabi itu sungguh-sungguh memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya. 20 Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!" 21 Tetapi mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah TUHAN. 22 Raja Yoas tidak mengingat kesetiaan yang ditunjukkan Yoyada, ayah Zakharia itu, terhadap dirinya. Ia membunuh anak Yoyada itu, yang pada saat kematiannya berseru: "Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas!"

JADILAH SETIA, BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA

Beta ini sebenarnya orang baik, tapi keadaan biking beta tidak baik. Hari ini beta baik, esok lusa tidak baik, jadi sebenarnya beta tidak baik”, demikian salah satu lirik lagu Ambon, yang mengungkapkan sebuah pengakuan  bahwa seseorang menjadi baik tergantung keadaan. Seseorang akan melakukan kebaikan, jika ia mendapat keuntungan daripadanya. Tetapi jika ia dipengaruhi dengan jaminan keuntungan, kedudukan, jabatan, maka ia akan melakukan apapun termasuk melakukan hal yang tidak benar. Hal ini juga terjadi pada raja Yoas, ketika ia memerintah di zaman imam Yoyada, Yoas melakukan banyak perbuatan baik, seperti memperbaiki Rumah Tuhan, mengatur peribadahan, dan mengajak umat untuk beribadah kepada Allah Israel. Namun ketika imam Yoyada mati, raja Yoas dipengaruhi oleh para pemimpin Yehuda untuk berbalik menyembah kepada patung – patung berhala dan akhirnya Yoas meninggalkan ibadahnya kepada Allah. Yoas bahkan membunuh Zakharia , anak imam Yoyada yang memperingatkan raja. “…..oleh karena engkau meninggalkan Tuhan, Ia pun meninggalkan kamu”. Demikian peringatan Zakharia yang kemudian menjadi kenyataan karena raja Yoas tidak berbalik kepada Allah. Dalam kehidupan orang percaya, kita diingatkan oleh firman Tuhan untuk tetap setia dalam iman kepada Yesus, apapun keadaannya. Namun dalam kenyataannya, kita sering berbalik tidak setia dan megecewakan Tuhan, ketika ada godaan kepentingan diri, kenikmatan sesaat,  yang menyebabkan kita berbalik menjadi tidak setia. Seorang suami atau isteri yang berselingkuh adalah wujud ketidak setiaannya kepada pasangannya, tetapi juga tidak setia dalam janji Nikah-nya dihadapan Tuhan. Hari ini kita diingatkan untuk   terus berlaku setia, baik atau tidak baik waktunya.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk berlaku setia, baik atau tidak baik waktunya, amin

Jumat, 04 Juni 2021                           

bacaan : 2 Samuel 12 : 1 – 10

Natan memperingatkan Daud sehingga Daud menyesal
TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. 2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; 3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. 4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu." 5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. 6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." 7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. 8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. 9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. 10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

MENEGUR DENGAN BIJAKSANA

Ketika mengetahui bahwa seorang diantara kita melakukan kesalahan atau perbuatan dosa, apa yang kita lakukan? Mungkin kita akan menghinanya, menceriterakan keburukannya, bahkan menghakiminya. Padahal sebagai orang percaya kita sepatutnya saling menegur dan menasehati untuk menolong saudara kita menyadari kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik, sebab tidak seorangpun diantara kita yang luput dari perbuatan salah. Dalam bacaan kita hari ini, kita belajar dari sikap Natan, seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk menegur Daud atas kesalahan yang diperbuatnya. Daud telah melakukan perbuatan dosa  dengan mengambil Batseba isteri Uria dan mengatur siasat untuk membunuh Uria di medan perang. Tidak seorangpun yang berani menegur Daud atas perbuatannya, sebab pasti mereka akan berhadapan dengan berbagai risiko. Namun dengan bijaksana, Natan menjumpai Daud dan menggelisahkan hatinya  dengan sebuah kisah yang mempertentangkan “si kaya yang punya kuasa dan memiliki banyak ternak dengan si miskin yang hanya memiliki seekor anak domba”. Daud sangat tersentuh dan marah kepada si kaya yang memperdaya si miskin, namun ternyata perbuatan seperti itulah yang telah Daud lakukan terhadap Uria, seorang pahlawan perang Daud yang paling setia. Teguran Natan benar – benar menyadarkan Daud, dan akhirnya Daud menyadari dan menyesali perbuatan dosanya : “…..Aku sudah berdosa kepada Tuhan” (ay13.a), demikianlah pengakuan Daud. Karena itu, jika  ada saudara kita yang kedapatan melakukan kesalahan, janganlah kita menghakiminya tanpa menolong dia untuk menyadari kesalahannya. Mintalah Roh Kudus menuntun kita untuk hidup saling menegur dan menasehati didalam kasih agar  sebagai orang percaya, kita dapat meneladani Yesus.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk saling menegur dan menasehati dalam tuntunan Roh-Mu, Amin

Sabtu, 05 Juni 2021                             

bacaan : 1 Raja – Raja 21 : 1 – 29

Kebun anggur Nabot
Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang." 3 Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!" 4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: "Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. 5 Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?" 6 Lalu jawabnya kepadanya: "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu." 7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu." 8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati." 11 Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: "Nabot telah mengutuk Allah dan raja." Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: "Nabot sudah dilempari sampai mati." 15 Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: "Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati." 16 Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 17 Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya: 18 "Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu." 20 Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. 22 Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa. 23 Juga mengenai Izebel TUHAN telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. 24 Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara." 25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. 26 Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. 27 Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: 29 "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

BERTOBATLAH DAN BALIK PADA ALLAH

Seringkali orang tidak merasa puas dengan apa yang telah dia miliki, dan cenderung ingin mendapatkan sebanyak – banyaknya. Untuk mendapatkan semua keinginannya, dia pun rela mengorbankan orang lain. Sifat seperti ini terlihat dalam kehidupan raja Ahab dan isterinya Izebel. Sebagai seorang raja, Ahab sudah memiliki banyak kekayaan, tinggal di istana, dilayani oleh para pelayan dan semua keinginannya pasti terpenuhi. Namun demikian Ahab masih menginginkan sebidang tanah di samping istananya, yaitu kebun anggur milik Nabot orang Yizreel. Kebun anggur ini adalah satu – satunya milik Nabot, warisan nenek moyangnya. Walaupun sudah dipertahankan oleh Nabot, namun Izebel isteri Ahab menggunakan cara yang licik untuk membunuh Nabot dan mengambil kebun anggurnya dengan paksa. Perbuatan Ahab dan Izebel sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan, mereka merampas milik orang kecil dan tak berdaya, padahal sebagai seorang pemimpin, tanggungjawab mereka adalah melindungi orang – orang seperti Nabot. Hal ini tidak dibiarkan oleh Tuhan, dan Tuhan Allah mengutus Nabi Elia untuk menegur Ahab dan Izebel. Teguran Elia mengantarkan Ahab untuk menyadari kesalahannya, dikatakan bahwa Ahab menyadari kesalahannya, ia mengoyakkan pakaiannya, memakai kain kabung, berpuasa dan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Melihat sikap Ahab, Tuhan Allah mengampuni dia dan menyelamatkan hidupnya. Pengampunan Allah selalu diberikan kepada setiap orang yang mau bertobat dan berbalik kepada Allah, merendahkan diri dan menyesali semua kesalahannya.  Jika saat ini saudara terantuk dan jatuh dalam perbuatan salah, tidak ada kata terlambat: “bertobatlah dan balik pada Allah”, Dia pasti mengampunimu.

Doa : Tuhan, ampunilah segala salah dan dosa kami, dan tuntunlah kami ke jalan yang benar, amin

*sumber SHK terbitan LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 23-29 Mei 2021

Tema Mingguan : “Roh Kudus Memberi Keberanian Untuk Bersaksi

Minggu, 23 Mei 2021                      

bacaan : Kisah Para Rasul 2 : 14 – 28

Khotbah Petrus
14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. 15 Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, 16 tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: 17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. 18 Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. 19 Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. 20 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. 21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. 22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

“ROH KUDUS MEMBERI KEBERANIAN UNTUK BERSAKSI”

Syalom saudaraku! Hari ini kita merayakan Hari Pentakosta atau Pencurahan Roh Kudus. Lukas sebagai penulis kitab Kisah Para Rasul memberi kesaksian tetang peristiwa yang terjadi 2000-an tahun lalu itu. Menurut Lukas, saat Roh Kudus turun ke atas para murid Yesus, mereka menerima kuasa dan terjadilah perubahan besar dalam diri mereka. Kuasa itu membakar semangat mereka untuk bangkit dan bersaksi. Petrus yang pernah meyangkal Yesus dan sempat meragukan kebangkitan-Nya, dengan berani bersaksi di depan orang-orang Yahudi dan semua orang yang berkumpul saat itu tentang Yesus yang dibunuh oleh orang Yahudi melalui tangan bangsa-bangsa durhaka, tetapi hidup lagi. Tanpa  rasa takut ia berkata dengan tegas : “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini” (ay. 14). Sebuah pernyataan keras dan tegas yang dilanjutkan dengan pembelaan bahwa mereka sedang tidak mabuk tetapi melalui mereka nubuat nabi Yoel sedang digenapi. Ya, murid-murid Yesus tidak mabuk tetapi mereka sedang memberikan tempat bagi Roh Kudus dan kuasa-Nya untuk berkarya di dalam dan melalui mereka.

Saudaraku, Roh Kudus telah tercurah 2000-an tahun lalu, tetapi kuasa-Nya tidak terbatas pada waktu, tempat atau orang tertentu. Roh itu dan kuasa-Nya ada hingga kini dan di tempat ini. Tinggal bagaimana kita memberikan tempat bagi-Nya untuk berkarya dalam diri kita sehingga kita memiliki keberanian untuk bersaksi tentang kebenaran firman Tuhan. Bersaksi tidak hanya dengan kata tetapi juga dengan perbuatan nyata. Karena itu marilah kita belajar untuk bertutur dengan santun dan bertindak dengan jujur dan adil sebagai wujud kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita. 

Doa:   Ya Roh Kudus berdiamlah dalam hati kami, agar kami memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Yesus yang hidup, Amin.      

Senin, 24 Mei 2021                                       

bacaan : Yohanes 16 : 4b – 15  

(16-4b) "Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu, 5 tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? 6 Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. 7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. 8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; 9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; 11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. 12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. 15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."

“BERILAH TEMPAT BAGI ROH KUDUS”

Kita telah memasuki usbu baru. Semoga selalu ada sukacita setelah kita rayakan Pentakosta di hari kemarin. Saudaraku, ada pertanyaan bagi kita yang telah merayakan hari pencurahan Roh Kudus: “Adakah ruang yang kita berikan bagi Roh Kudus untuk berdiam dan berkarya dalam diri kita sehingga kita memiliki keberanian untuk bersaksi? Pertanyaan ini disampaikan karena pada kenyataannya banyak orang yang mengaku telah menerima Roh Kudus, namun seringkali kuasa itu tidak tercermin dalam kehidupannya. Contoh: masih sering kita temukan “Kebon Binatang” dalam keluarga Kristen. Koq bisa? Ya! Kalau laki mara bini : “Woe, parampuang babi ee”. Begitu juga kalu bini mara laki : “kutok par laki-laki anjing ni”. Kalau nilai anak jelek: “Anak ini dia bodo macang deng karbou”. Nah, dalam rumah berkumpullah babi, anjing, karbou, lalu tambah dengan monyet dan lain-lain lagi, jadilah rumah itu “KEBUN BINATANG”. Saudaraku, dalam bacaan kita hari ini, Yohanes bersaksi bahwa Ketika Yesus naik ke Sorga, Ia menjanjikan Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan memperlengkapi para murid dan memberi mereka kuasa sehingga mereka dimampukan untuk melaksanakan mandat yang Tuhan anugerahkan bagi mereka.

Kita, yang percaya kepada Yesus, mendapat perintah juga untuk
memberitakan Injil kepada dunia ini. Lalu bagaimana mungkin kita melakukannya dan berharap ada orang yang datang kepada Yesus karena kesaksian kita jika kehidupan kita belum mencerminkan kehadiran Roh itu? Jadi saudaraku, mari berikan tempat bagi penghibur, yaitu Roh Kudus itu dalam hidup kita agar Roh itu menuntun kita untuk memperkatakan firman Tuhan dan memberlakukan kebaikan dalam kehidupan kita sehingga Rumah kita akan seperti “taman Eden” dan tidak seperti “kebon binatang”

Doa:   Ya Roh Kudus tuntun kami tuk memperkatanan Firman-Mu. Amin.    

Selasa, 25 Mei 2021                    

bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 19.b – 25   

Saulus dalam lingkungan saudara-saudara
19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. 20 Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. 21 Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?" 22 Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. 23 Beberapa hari kemudian orang Yahudi merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. 24 Tetapi maksud jahat itu diketahui oleh Saulus. Siang malam orang-orang Yahudi mengawal semua pintu gerbang kota, supaya dapat membunuh dia. 25 Sungguhpun demikian pada suatu malam murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang.

“TANTANGAN TETAP ADA TETAPI TUHAN MEMBERI JALAN KELUAR”

Saat Saulus berjumpa dengan Yesus, kehidupannya berubah. Dia tiak lagi menjadi penganiaya orang kristen. Ia tinggal bersama saudara-saudara seiman beberapa lama di kota Damsyik dan mulai bersaksi tentang Yesus sebagai  anak Allah di rumah-rumah ibadat. Kehadirannya membingungkan orang-orang yang mengenal dia sebagai penganiaya pengikut Kristus. Koq bisa? Dia yang tadi-tadinya tidak suka mendengar nama Yesus disebut, kini justeru memberitakan tentang Yesus? Ya, bisa! Tuhan punya kehendak bebas untuk memakai siapa saja yang Ia mau pakai menjadi pelayan-Nya. Itulah yang terjadi pada Saulus. Saulus yang kemudian menjadi Paulus, terus bersaksi dan pengaruhnya semakin besar di situ. Kondisi ini menimbulkan kebencian orang-orang Yahudi terhadap Saulus dan mereka berencana untuk membunuhnya. Tetapi tangan Tuhan tetap menyertai dia sehingga maksud itu diketahuinya sehingga sekalipun seluruh pintu kota Damsyik dijaga ketat, tetapi Saulus lolos dari bahaya maut. Hal ini terjadi karena Saulus benar-benar bersandar hanya kepada Yesus. Saudaraku, sering kita juga mengalami apa yang dialami Saulus. Saat kita memutuskan untuk melakukan kehendak-Nya, ada saja tantangan yang kita hadapi. Sering tantangan itu datang dari luar, tetapi banyak kali juga datang dari dalam keluarga kita sendiri. Seorang muda pernah curhat kepada saya : “Bupen ee, di beta pung sekitar ni pengidap panyaki masyarakat paleng banya. Ada panjudi, ada pamabo, ada pamara, ada yang suka bamaki deng ada yang pung tangang suka baloko lai. Beta parna bicara par dong, la ajak dong par pi kabaktiang, maar dong bale ancam beta lai.” Menjawab curhatan itu saya menjawab: “biar ada tantangan, jangan berhenti melakukan kebaikan, pasti ada jalan keluar”

Doa:   Tuhan, teguhkanlah iman kami untuk melakukan kehendak-Mu walau di tengah tantangan. Amin.  

Rabu, 26 Mei 2021                          

bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 42 – 49  

42 Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya. 43 Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah. 44 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. 45 Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. 46 Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. 47 Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." 48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. 49 Lalu firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu.

“JANGAN GENTAR, TERUSLAH BERSAKSI”

Sinta, seorang evanggelis, berkisah tentang hidupnya. Tanpa malu dia mengatakan bahwa: ”saya adalah mantan PSK (pekerja seks komersial)”. Lagi katanya : “saya terjun ke “dunia malam” bukan untuk mendapatkan uang, tetapi sebagai pelarian. Namun, ada sebuah kejadian yang membuat saya sadar bahwa ternyata ada orang yang hidupnya lebih hancur dari saya, karena itu saya memutuskan untuk keluar dari “dunia malam”, demikian cerita Sinta. Seiring berjalannya waktu Sinta mulai ikut dalam pelayanan di gereja. Orang-orang yang mengenal dia dalam profesi sebelumnya mencemooh dia, tetapi semangat melayaninya tidak pudar. Tanpa gentar dia terus melayani. Pelayanan Sinta membuahkan hasil, ada beberapa PSK yang “bertobat” dan keluar dari “dunia malam”. Tapi di sisi lain, ada orang yang menganggap dirinya lebih layak, menjadi tidak senang dengan pelayanan Sinta. Apa yang dikatakan Sinta kepada mereka? “Kalian harus diinjili karena kalian memiliki kesombongan rohani”.Saudaraku! Banyak tantangan yang dihadapi Paulus dan rekannya Barnabas dalam memberitakan Injil.  Tetapi mereka pantang mundur, mereka terus melayani dan pelayanannya membuahkan hasil. Banyak orang yang berasal dari kalangan non-Yahudi, yaitu mereka yang diberi cap sebagai “orang yang tidak mengenal Allah,” justru menjadi percaya. Terhadap mereka yang iri dan menghujat dirinya, Paulus menegaskan bahwa ia dan teman-temannya akan memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain, karena umat pilihan Allah telah menolak Yesus sebagai Juru Selamat. Saudaraku, kita sering mendapat tantangan saat bersaksi tentang Yesus, namun belajar dari Sinta maupun Paulus dan Barnabas, janganlah gentar, teruslah bersaksi. Tuhan pasti akan memberkati pelayanan kita.

Doa: Tuhan, tolong kami dengan kuasa Roh Kudus-Mu, agar tidak gentar dalam bersaksi, amin

Kamis, 27 Mei  2021                      

bacaan : Kisah Para Rasul 14 : 1 – 20

Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya. 2 Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu. 3 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. 4 Tetapi orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu. 5 Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu. 6 Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. 7 Di situ mereka memberitakan Injil. 8 Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. 9 Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. 10 Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: "Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.

BERANI BERSAKSI KARENA ROH KUDUS

Keberanian yang dimiliki Paulus dan Barnabas untuk memberitakan injil di daerah-daerah bukan Yahudi layak dijadikan motivasi bagi orang Kristen dewasa ini. Mereka berani karena mengandalkan kuasa Roh Kudus. Kemampuan yang dimiliki setiap orang pasti terbatas, sehingga diperlukan kuasa Roh agar menjadi berdaya hebat. Para rasul adalah orang-orang biasa saja namun menjadi luar biasa karena diberdayakan dengan ajaib oleh Roh. Roh memberdayakan mereka menjadi cakap dan berani memberitakan injil dalam situasi yang membahayakan keselamatan diri. Injil diberitakan di Ikonium dengan cara masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya (ayat 1). Mereka juga membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, walau mendapat hambatan dan penolakan dari sebagian orang Yahudi dan orang-orang yang tidak mengenal Allah (ayat 2-3). Penolakan dan hambatan terus dialami, sehingga Ikonium harus ditinggalkan dan selanjutnya pergi ke Listra. Listra adalah tempat berlangsungnya penyembuhan orang yang telah lumpuh sejak lahirnya. Akibat penyembuhan itu Paulus dan Barnabas disangka dewa Zeus dan Hermes, lalu dipuja tetapi mereka menolaknya. Hambatan dan penolakan terjadi lagi, orang banyak dihasut lalu melempari mereka dengan batu dan menyeret ke luar kota. Listra ditinggalkan dan pergilah mereka ke Derbe. Mereka berani hadapi tantangan silih berganti karena percaya pada kuasa Roh Kudus. Jika saat ini saudara menghadapi tantangan dan persoalan, berserahlah dalam tuntunan Roh Kudus agar kuat menghadapi dan menyelesaikannya.

Doa: Ya Roh Kudus, layakanlah kami untuk menjadi pemberita injil yang cakap dan berani, amin

Jumat, 28 Mei 2021                        

bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 24 – 28

Apolos di Efesus
24 Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. 25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. 26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. 27 Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. 28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

JADILAH BERMAKNA DENGAN APA YANG ADA PADAMU

Hari ini kita mendengarkan kisah tentang pemberitaan injil yang dilakukan Apolos di Efesus dan Akhaya. Ia seorang asal Yahudi dari Aleksandria yang walaupun masih terbatas pengetahuan tentang injil namun berani menjadi seorang pemberita. Pengetahuannya mengenai injil masih terbatas, hanya tentang Yohanes pembaptis. Keterbatasan pengetahuan tidaklah menyurutkan keinginan Apolos untuk memberitakan injil di Efesus. Ia berani masuk ke rumah ibadat dan memberitakan injil di situ. Priskila dan Akwila juga ikut mendengarkan pemberitaan itu, lalu mereka membawa Apolos ke rumah dan menjelaskan jalan Allah atau pekerjaan penyelamatan yang telah dilakukan Allah melalui Yesus. Apolos dengan sukacita dan rendah hati mau belajar dari kelebihan Priskila dan Akwila. Priskila dan Akwila rela membagi pengetahuan mereka kepada Apolos. Inilah teladan tentang sikap rela berbagi dan mendengar agar semuanya menjadi berdaya. Orang yang berkelebihan tidak menjadi sombong dan yang berkekurangan tidak mengalami perasaan minder. Pekerjaan pemberitaan injil terus dikaryakan Apolos, dari Efesus ia berangkat ke Akhaya. Pengalaman di Efesus memperkaya Apolos untuk terus bermakna setibanya di Akhaya. Ia menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang percaya di situ dan terus membantah orang Yahudi serta membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Hidup Apolos menjadi berarti karena ia rela berbagi dari apa yang ada padanya. Ia juga seorang yang membuka diri untuk belajar dari kelebihan orang lain. Ia tidak hilang keberanian dan tetap bermakna di manapun berada. Belajarlah dari Apolos untuk menjadi saksi Tuhan Yesus

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami  berarti bagi orang lain. Amin

Sabtu, 29 Mei 2021                         

bacaan : Kisah  Para Rasul 23 : 1 – 11

Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." 2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku." 4 Dan orang-orang yang hadir di situ berkata: "Engkau mengejek Imam Besar Allah?" 5 Jawab Paulus: "Hai saudara-saudara, aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!" 6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." 7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. 8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. 9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya." 10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas. 11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."

TERUSLAH MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

Paulus memberitakan injil di Yerusalem dan dihadapkan di hadapan mahkamah agama. Ia berbicara dengan berani sehingga imam besar Ananias menyuruh orang menampar mulutnya. Kemampuan yang dimiliki Paulus pada saat menghadapi situasi ini sangat mengagumkan. Pertama, tamparan atau kekerasan fisik yang dialaminya ditanggapi dengan hanya berkata-kata. Menampar pipi seseorang yakni memukul dengan tangan bagian luar bermakna penghinaan. Ia tidak membalas penghinaan dengan balas menghina, namun menyerahkan perlakuan keji tersebut kepada Allah yang memiliki kebebasan bertindak. Allah itulah yang dia percaya dan memanggil serta memberinya kuasa untuk menjadi seorang rasul. Kekerasan, penolakan, dan penghinaan adalah risiko yang tak dapat dihindari dalam pekerjaan pemberitaan injil. Caranya menghadapi tantangan itulah yang perlu dijadikan motivasi beriman. Kekerasan atau penghinaan dibalas dengan kebaikan dan penyerahan hidup kedapa Tuhan. Kedua, ia mampu mengalahkan orang banyak yang menentangnya hanya dengan kecakapan berbicara dan pengetahuan yang dimiliki. Seorang diri dalam kerumuhan dan hadangan orang banyak tidaklah menciutkan nyali Paulus. Kisah ini menegaskan bahwa dalam kesukaran, Roh memampukan Paulus berbicara dan memanfaatkan pengetahuan yang ada padanya. Inilah cara beriman, bila hidup diperhadapkan dengan masalah, tetaplah berserah dan mohon kuasa untuk dapat berbicara dengan baik dan mampu menggunakan pengetahuan yang ada.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tetap berserah dalam  tangan kasih-Mu. Amin

Santapan Harian Keluarga, 16-22 Mei 2021

Tema Mingguan : ” Dipilih Untuk Menjadi Murid Kristus “.

Minggu,16 Mei 2021                         

bacaan : Kisah Para Rasul 1 : 15 – 26

Matias dipilih menggantikan Yudas
15 Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata: 16 "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. 17 Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini." 18 --Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar. 19 Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri "Hakal-Dama", artinya Tanah Darah--. 20 "Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain. 21 Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, 22 yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya." 23 Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. 24 Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, 25 untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya." 26 Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.

DIPILIH UNTUK MENJADI MURID KRISTUS

Nyonya Brigid dari Irlandia, sangat merana karena kehilangan makna kehadiran Tuhan. Ia menceritakan masalah ini kepada temannya, seorang nyonya tua yang mengunjunginya. Tamunya itu memberi nasehat: “Berdoalah kepada Allah, mohonlah kepada-Nya agar Ia menjamah engkau, maka Ia akan menumpangkan tangan-Nya keatasmu”. Brigid yang sudah tua itu mulai berdoa dan ia merasa sangat tenang, dan seketika itu juga ia merasa ada tangan diatas bahunya. Ia berseru kegirangan: “Ia telah menyentuhku”. Kemudian kata sahabatnya itu: “Ini adalah tanganku, Allah memanfaatkan tangan yang paling dekat denganmu dan Ia menggunakan tanganku untuk menyentuhmu”.  Seperti Yesus memilih dan mempercayakan Matias menggantikan Yudas Iskariot sebagai murid-Nya untuk melayani umat-Nya, Dia-pun memilih dan mengutus kita untuk menjadi murid-Nya. Yesus   memilih Matias yang dekat, yang memiliki pengalaman hidup bersama-Nya. Matias, yang artinya anugerah dari Allah, justru dipakai untuk melengkapi kekurangan para Rasul lain dalam pekerjaan Tuhan. Sebagai orang percaya, kita semua adalah orang yang dipilih dan diutus oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya. Berdoalah minta kekuatan daripada-Nya untuk melaksanakan tugas pengutusan itu, bahwa Yesus yang mempercayakan, Yesus memberi kuasa, Yesus memperlengkapi, Yesus mengutus dan Yesus yang tetap menyertai. Dengan mendapat kasih karunia Allah, kita diutus untuk terus bersaksi dan melayani sebagai seorang murid Yesus, lewat pekerjaan, usaha, pelayanan, jasa, dan berbagai aktifitas yang lain.

Doa: Tuhan jadikan kami murid-Mu dan utuslah kami untuk bersaksi bagi kemuliaan Nama-Mu, amin

 Senin ,17 Mei 2021                            

bacaan : Kisah Para Rasul 6 : 1 – 7

Tujuh orang dipilih untuk melayani orang miskin
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. 2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. 3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." 5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. 7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

DIPILIH DAN DIUTUS UNTUK MELAYANI

Joe, seorang pemuda yang selalu berusaha menjadi pelayan Tuhan yang baik. Pada suatu ketika, seorang ibu yaitu tetangganya meminta kesediaan Joe untuk mengantarkan putranya ke rumah sakit. Sebenarnya Joe sudah mempunyai rencana yang lain, tetapi ia tidak tahu bagaiman harus mengatakan hal itu. Joe pun mendudukan bocah lelaki itu ke kursi mobilnya, mengencangkan pengamannya dan melaju menuju rumah sakit yang jaraknya kurang lebih 50 kilometer. Ketika mereka sedang di jalan, bocah lelaki itu menatap Joe perlahan dan bertanya: “Apakah engkau Allah?’’ Dengan terkejut Joe menjawab: “bukan’’. Bocah lelaki itu melanjutkan: “Saya sering  mendengar ibu berdoa dan memohon pertolongan Allah, apakah engkau bekerja untuk Allah?’’ Joe menjawab “ya, Allah menyuruh saya untuk menolongmu”. Joe merasa sangat senang, bahwa dia dipilih dan dipercayakan oleh Allah untuk menolong sang bocah kecil itu, yang sementara menghadapi penderitaan sakit yang serius. Sejak itu, Joe  menghabiskan waktunya untuk menolong banyak orang yang sakit, dan yang membutuhkan pertolongannya.

Ketika terjadi persungutan diantara orang Kristen Yahudi karena para janda dan orang miskin diantara mereka sering terabaikan dalam pelayanan, maka kedua belas rasul Yesus mengumpulkan semua murid dan meminta kesediaan  mereka untuk membantu pelayanan kepada orang – orang miskin. Merekapun memilih  tujuh orang dari antara mereka yang kemudian didoakan dengan penumpangan tangan dan diutus untuk membantu pelayanan. Kita semua sebenarnya adalah orang – orang yang sudah dipilih dan diutus oleh Yesus untuk melayani sesama yang membutuhkan, karena itu lakukanlah dengan penuh kasih sayang.

Doa : Ya Roh Kudus mampukan kami untuk melayani pekerjaan-Mu. Amin.

Selasa, 18 Mei 2021                       

bacaan : Kisah Para Rasul 21 : 1 – 6

Paulus di Tirus dan di Siprus
Sesudah perpisahan yang berat itu bertolaklah kami dan langsung berlayar menuju Kos. Keesokan harinya sampailah kami di Rodos dan dari situ kami ke Patara. 2 Di Patara kami mendapat kapal, yang hendak menyeberang ke Fenisia. Kami naik kapal itu, lalu bertolak. 3 Kemudian tampak Siprus di sebelah kiri, tetapi kami melewatinya dan menuju ke Siria. Akhirnya tibalah kami di Tirus, sebab muatan kapal harus dibongkar di kota itu. 4 Di situ kami mengunjungi murid-murid dan tinggal di situ tujuh hari lamanya. Oleh bisikan Roh murid-murid itu menasihati Paulus, supaya ia jangan pergi ke Yerusalem. 5 Tetapi setelah lewat waktunya, kami berangkat meneruskan perjalanan kami. Murid-murid semua dengan isteri dan anak-anak mereka mengantar kami sampai ke luar kota; dan di tepi pantai kami berlutut dan berdoa. 6 Sesudah minta diri kami naik ke kapal, dan mereka pulang ke rumah.

PERSEKUTUAN HIDUP PARA MURID YESUS

Persekutuan umat sebagai murid – murid Yesus, sangat terlihat dari cara hidup mereka, cara hidup yang sangat berbeda dengan persekutuan yang lain. Mereka mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan diri, mereka saling menegur, saling mengingatkan, saling membantu dengan penuh kasih. Persekutuan seperti ini  terlihat dalam kehidupan rasul Paulus, para pelayan lain dan jemaat – jemaat kristen di Asia Kecil. Dalam perjalanan pemberitaan Injil, rasul Paulus dan teman – temannya tidak sendiri, ketika mereka tiba di suatu tempat, mereka disambut dengan penuh kasih dalam persaudaraan. Rasul Paulus selalu megunjungi masing – masing jemaat dan melihat keberadaan mereka. Sebelum berpisah dari satu tempat, mereka berdoa bersama – sama, dan mengantarkan rasul Paulus dan rombongan sampai di Pelabuhan kapal atau di batas kota. Bahkan ketika mengetahui ancaman terhadap rasul Paulus di Yerusalem, mereka menasehati Paulus agar jangan pergi ke Yerusalem, semua itu karena mereka mengasihi Paulus dan Paulus juga mengasihi mereka. Cara hidup seperti itulah yang menyebabkan Injil Kristus tersebar dengan sangat luas dan mereka sanggup menghadapi berbagai tantangan, bahkan ancaman. Saat ini, kita juga menghadapi berbagai  tantangan dan ancaman. Hal penting yang harus dihidupkan dan dirawat dengan baik adalah persekutuan hidup. Persekutuan hidup keluarga, persekutuan jemaat, persekutuan masyarakat, dimana disana semua anggota persekutuan saling mengasihi, saling membantu, saling menegur, saling mendoakan, saling mengingatkan, saling mengampuni satu dengan yang lain. Hanya dengan demikian, kita dapat menjadi murid – murid Yesus.

Doa : Tuhan, berkatilah persekutuan hidup kami, dimanapun kami ada, Amin.

Rabu, 19 Mei 2021                         

bacaan : Kisah Para Rasul 21 : 7 – 14   

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Pada keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, yaitu satu dari ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat. 10 Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari Yudea seorang nabi bernama Agabus. 11 Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: "Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain." 12 Mendengar itu kami bersama-sama dengan murid-murid di tempat itu meminta, supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem. 13 Tetapi Paulus menjawab: "Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus." 14 Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: "Jadilah kehendak Tuhan!"

BERANI MENGHADAPI SETIAP RISIKO SEBAGAI MURID YESUS

Hidup sebagai saksi Kristus bukanlah perkara yang mudah, sebab kita akan menjumpai banyak tantangan dan ancaman. Namun jika kita menjalaninya bersama Yesus, maka Dia akan memberi kekuatan dan berjanji selalu menyertai kita. Hal ini dialami oleh rasul Paulus dalam perjalanan pemberitaan injil Yesus Kristus. Dalam perjalanan menuju ke Yerusalem, ia diingatkan oleh seorang nabi dari Yudea yaitu Agabus tentang ancaman yang akan diahadapinya di Yerusalem . Agabus mengambil ikat pinggang Paulus dan berkata : “Demikianlah kata Roh Kudus, ….orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang – orang Yahudi di Yerusalem….”. Walaupun sudah diingatkan dan juga dinasehati oleh para murid yang lain agar Paulus tidak pergi ke Yerusalem, namun Paulus dengan tegas mengatakan: “…..aku ini rela bukan saja diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena Nama Tuhan Yesus” (ay.13.b). Sikap rasul Paulus yang tegas dan berani bukan karena ia hebat dan kuat, tetapi karena imannya kepada Yesus yang mati, bangkit dan Naik ke Sorga, yang ia yakini akan sanggup menyelamatkannya, maka rasul Paulus berani menghadapi setiap risiko dari pekerjaan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Sebagai orang percaya, kita juga akan menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam hidup dan kerja kita, namun demikian sikap iman kita hendaklah tetap teguh berpengharapan kepada Yesus. Andalkanlah Yesus dalam setiap rencana dan kerja kita, serahkanlah semua persoalan yang kita hadapi dalam pengendalian Yesus, dan percayalah bahwa Ia akan bertindak untuk melindungi dan menyelamatkan kita tepat pada waktunya. Percayalah..!

Doa : Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami berani menghadapi setiap tantangan karena iman kami kepada-Mu, Amin.

Kamis, 20 Mei 2021                                 

bacaan : 2 Tesalonika 1 : 3 – 12

Ucapan syukur dan doa
3 Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu, 4 sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita: 5 suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu. 6 Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu 7 dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, 8 dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. 9 Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya, 10 apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai. 11 Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, 12 sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.

BERDIRI TEGUH DI TENGAH ANCAMAN

Salah satu lirik lagu “Di Tengah Kesukaran”, yaitu : “….kendati jalanku di susah p’rang. Yesus pedoman hidupku, b’ri aku menang. Selalu aku sembahyang, ya Tuhan pimpinlah”. Lagu ini  memberi kekuatan ketika dinyanyikan ditengah berbagai persoalan berat yang dihadapi oleh orang – orang percaya. Memang dalam pengalaman iman, setiap orang percaya pasti mengakui bahwa Yesus adalah kekuatan bagi jiwa mereka. Hal ini juga dialami oleh jemaat Tuhan di Tesalonika, ketika mereka menghadapi berbagai penganiayaan dan penindasan karena iman mereka kepada Yesus. Rasul Paulus katakan: “…..kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita” (ay.4.b). Memang di tengah pencobaan yang berat, kesulitan hidup yang dihadapi, bahkan ditengah penindasan dan penganiayaan, ternyata pertumbuhan iman jemaat Tesalonika semakin bertambah, kasih mereka semakin kuat, mereka saling mempedulikan satu dengan yang lain. Saat ini, kita pun menghadapi berbagai cobaan berat dalam kehidupan kita, baik hidup di tengah pandemic Covid-19 yang belum berakhir, cuaca ekstrim yang mengancam, dan berbagai persoalan pribadi, keluarga dan persekutuan. Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa, hanya ada satu cara untuk bertahan dan berdiri teguh ditengah pencobaan, yaitu bersyukur atas pertolongan Tuhan, berdoa selalu meminta penyertaan-Nya, bersandar hanya kepada Tuhan dan lakukanlah perbuatan – perbuatan baik dalam hidupmu.

Doa : Tuhan, berilah kekuatan bagi kami, menghadapi berbagai persoalan hidup, amin

Jumat, 21 Mei 202 1                                     

bacaan : 2 Petrus 1 : 3 – 15

Panggilan dan pilihan Allah
3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. 5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. 9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. 10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. 11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. 12 Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. 13 Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. 14 Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 15 Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.

MELAYANI TUHAN DENGAN SUNGGUH – SUNGGUH

Kerja buat Tuhan selalu manis e, biar sondor gaji terlalu manis e..”. lirik lagu ini biasa dinyanyikan oleh anak – anak SMTPI, yang merupakan suatu pengakuan tentang betapa senangnya melayani pekerjaan Tuhan, biar tidak ada upah. Dalam suratnya kepada orang percaya yang mengalami kasih karunia Allah, rasul Petrus membagi pengalaman imannya, bahwa ia dipanggil  dan diutus oleh Allah untuk melayani pekerjaan pemberitaan Injil, karena kasih karunia Allah yang besar, bukan karena kekuatan dan kehebatannya. Oleh sebab itu rasul Petrus bertekad untuk mengerjakan panggilan Tuhan itu dengan  bersungguh – sungguh, dan ia juga menasehati jemaat agar mereka mengerjakan panggilan Allah dengan sungguh – sungguh. Petrus menasehati jemaat agar mereka tetap hidup secara benar sebagai seorang murid Yesus, sehingga layak dihadapan Allah. Seorang murid Yesus yang berimankan Yesus, hendaklah menambahkan iman mereka dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, kesalehan dan kasih kepada semua orang (ayat 3, 5 – 7). Yang dimaksudkan dengan iman disini, adalah melakukan perbuatan – perbuatan yang menunjukkan bahwa jemaat telah sungguh – sungguh menyatu dengan Allah dalam Yesus Kristus dan hidup menurut kehendak-Nya sebagai murid – murid-Nya. Inilah yang membedakan jemaat Kristus dari guru – guru palsu yang perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Sebagai orang – orang yang juga dipanggil untuk melayani Tuhan, baik dalam melaksanakan tugas sebagai orang tua, para guru, para pelayan, para pemimpin dan berbagai profesi lainnya, maka hendaklah itu dikerjakan dengan sungguh – sungguh. Jangan mengerjakannya dengan setengah hati, atau bermasa bodoh. Sebab Allah pasti memberkati setiap orang yang melayani-Nya dengan sungguh – sungguh.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk melayani dengan sungguh – sungguh, Amin.

Sabtu, 22 Mei 2021                                             

bacaan : Yakobus 2 : 5.a

5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?

JANGAN MEMANDANG MUKA

Satu keluarga kaya yang baru pindah rumah, bertetangga dengan keluarga yang sederhana dan miskin. Suatu malam, ketika mati lampu yang disebabkan oleh angin dan hujan yang deras, tiba – tiba pintu rumah keluarga kaya diketuk orang dari luar. Seorang gadis cantik, putri keluarga kaya itu membuka pintu dengan perasaan curiga. Ketika ia melihat siapa yang mengetuk pintu, serentak ia berkata: “Kami tidak melayani permintaan sumbangan…”. Ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang gadis kecil berpakaian lusuh, putri keluarga miskin tetangga mereka. “Maaf kak, saya tidak meminta sumbangan, saya mau memberikan ini…”, kata sang gadis kecil sambil menyerahkan satu buah lilin. Gadis kecil itu melihat bahwa rumah tetangga barunya sangat gelap akibat mati lampu, dan ia berpikir, mungkin mereka membutuhkan sebuah lilin. Gadis cantik itu terkejut dan menyesali perkataannya yang sudah salah sangka kepada tetangganya. Kisah ini menegaskan bahwa seringkali seseorang dinilai baik hanya dari penampilan luarnya saja. Realitas seperti ini juga terjadi dalam kehidupan dua belas suku di perantauan, yang menyebabkan Yakobus menulis surat untuk menasehati mereka. Yakobus mengingatkan bahwa sikap seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Yesus tentang kasih. Yakobus katakan: “….Bukankah Allah memilih orang – orang yang dianggap miskin oleh dunia ini, untuk menjadi kaya dalam iman…” (ay.5.a). Dalam kehidupan kita, seringkali kita juga mengabaikan kelompok kecil yang rentan seperti: para janda, yatim piatu, kaum disabilitas, para pekerja kasar, dan mungkin ada yang lain. Padahal justru merekalah yang memiliki hati yang bersih, penuh kasih dan sangat menghargai orang lain. Karena itu hendaklah kita mengasihi semua orang tanpa memandang muka.    

Doa : Tuhan ampunilah kami, jika kami menyakiti sesama yang membutuhkan, amin

*sumber : SHK bulan Mei 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 9-15 Mei 2021

Ambon, 8 Mei 2021

Tema Mingguan : “Barang siapa Mengasihi Allah, Ia Harus Mengasihi Saudaranya

Minggu, 09 Mei 2021                                 

bacaan : 1 Yohanes 4 : 7 – 21

Allah adalah kasih
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. 13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

MARILAH KITA SALING MENGASIHI

Dalam bacaan kita hari ini, Tuhan Yesus menegaskan keharusan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh para pengikut-Nya. Kita diperintahkan untuk mengasihi satu dengan yang lain, artinya kita harus mengasihi semua orang. Kita dituntut menjadi pribadi yang aktif dalam menunjukkan identitas iman kita. Kita tidak diajarkan untuk ‘hanya’ mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi mengasihi satu dengan yang lain. Tidak ada batasan untuk mengasihi. Dalam menerapkan kasih, tidak ada orang kaya, orang miskin, tua, muda, dan sebagainya. Yesus tidak menginginkan kita memilih-milih orang untuk dikasihi. Yesus sendiri membuktikan bahwa dia mengasihi semua orang, bahkan orang-orang yang dikucilkan dan direndahkan, orang-orang cacat dan juga orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa, bahkan orang yang membenci-Nya sekalipun. Jadi Yesus tidak hanya mengajarkan konsep belaka kepada para murid-Nya, namun Dia mengajarkan apa yang telah Dia perbuat di tengah-tengah pelayanan-Nya.  Sebab itu, kita pun wajib saling mengasihi yang satu dengan yang lain. Sikap inilah yang menjadi penerapan akan kasih kita kepada Allah.  Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Maka sebagai orang Kristen kasih kepada Allah dan kepada sesama harus kita terapkan dalam kehidupan kita, dalam pelayanan dan dalam perkerjaan maupun dalam keluarga kita. Sehingga melalui kasih yang nyata kepada sesama maka nyata pula kita sudah tinggal di dalam kasih Allah. Marilah kita saling mengasihi.

DoaTuhan Yesus,  mampukan kami menaati perintah-Mu untuk hidup saling mengasihi satu dengan yang lain, Amin

Senin, 10 Mei 2021                                      

bacaan : Yohanes 15 : 9 – 17

Perintah supaya saling mengasihi
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

HANYA YESUS SAHABAT SEJATI

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini tak mungkin kita sendirian, siapa pun kita, pasti kita memerlukan orang lain sebagai teman atau sahabat.  Namun tidaklah mudah menemukan teman yang dapat menjadi sahabat yang baik, yang setia di segala keadaan. Teman datang dan pergi adalah hal yang biasa. Teman dalam suka banyak, tapi bagaimana dengan teman dalam duka atau ketika sedang susah?  Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan Yesus sendirilah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya. Tidak hanya itu, Ia pun rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Kalau Tuhan Yesus saja rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, apakah Dia akan tinggal diam ketika kita sedang dalam permasalahan yang berat?. Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita, tetapi Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul seorang diri.  Dan janji Tuhan itu ya dan amin!  Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita.  Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari. Karena itu, kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat sejati kita, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada, kita akan sanggup berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” 

DoaTerima kasih  Tuhan Yesus, karena Engkau mau menjadi sahabat sejati dalam suka dan duka hidup kami, Amin

Selasa, 11 Mei  2021                                          

bacaan : Roma 13 : 8 – 14

Kasih adalah kegenapan hukum Taurat
8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. 11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. 12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! 13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. 14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

“HIDOP BAKU SAYANG”

Hidop baku sayang” atau hidup saling mengasihi, merupakan nasehat utama orangtua kepada  anak-anak, ketika duduk bersama di meja makan. Hidop baku sayang artinya saling mengasihi antar ade-kaka dalam ikatan darah sebagai suatu keluarga; tetapi juga meluas dengan orang lain dari suku dan agama yang berbeda. Seperti dalam ungkapan “potong di kuku rasa di daging”, atau “ale rasa beta rasa” atau “sagu salempeng dibagi dua sama rata”. Didalam hidop baku sayang, seorang akan menganggap dan memperlakukan yang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri. Satu terhadap yang lain saling menghormati, saling menghargai, saling memahami dan saling menerima dalam kekurangan dan kelebihan yang dimiliki serta penuh kesopanan dalam berbicara dan dalam bertindak diantara mereka. Hidop baku sayang membuat seorang terhadap yang lain saling membutuhkan untuk saling melengkapi sehingga tidak ada jarak yang memisahkan, baik agama, suku dan status sosial. Itu adalah nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus dan juga bagi kita di saat ini. Di dalam hidop baku sayang setiap orang akan merasakan bahwa dirinya akan berarti atau bermanfaat bila ia berhubungan dengan orang lain. Hidop baku sayang memberi rasa aman dan saling percaya kepada setiap orang untuk menjalani hidup di tengah keluarga dan masyarakat. Justru, hidop baku sayang menciptakan keteraturan dan ketertiban hidup  di dalam keluarga dan masyarakat luas. Harmoni dan kesejahteraan keluarga terpenuhi dengan sendirinya. Sebab, hidop baku sayang tidak berbuat jahat, tidak berkata dusta, tidak berselisih, tidak iri hati, tidak melakukan perzinahan, tidak mencuri, tidak ada hawa nafsu. Jadi, hidop baku sayang adalah hidup dalam terang Tuhan Yesus.

Doa : Tuhan,  beri kami kemampuan untuk membangun hidop baku sayang. amin

Rabu, 12 Mei  2021                                         

bacaan : Matius 18 : 21 – 35

Perumpamaan tentang pengampunan
21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

“LAENG MUSTI KASI AMPONG LAENG”

Ingatan, dalam hidop ade kaka, laeng musti kasi ampong laeng”, artinya dalam hidup adik dan kakak, mereka harus saling mengampuni, jika ada yang melakukan kesalahan. Itulah nasehat orangtua kepada anak – anaknya untuk merawat hidup orang bersaudara. Itulah juga yang menjadi ajaran Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang pengampunan. Memang seringkali dalam posisi sebagai korban dari perbuatan jahat orang lain, rasa sakit secara psikis dan fisik membuat kita sangat sulit untuk memaafkan dan mengampuni. Kita selalu berusaha untuk membalas perbuatannya, sekalipun orang tersebut telah mengakui kesalahannya dan meminta pengampunan. Sebenarnya, hal ini sangat manusiawi, jika ada batas waktunya. Tetapi jika keputusan kita adalah bahwa seumur hidup kita tidak memaafkan dan mengampuni orang yang berbuat jahat itu, maka ini sangat bertentangan dengan ajaran Yesus tentang pengampunan. Jika kita tidak mengampuni, maka kita akan menghadapai berbagai hal. Pertama, hidup kita tidak akan tentram, ketika masih ada kebencian dan dendam. Setiap hari pikiran kita hanya bertujuan untuk balas dendam. Kedua, kita tidak mendapat pengampunan Tuhan, sama seperti kita tidak mengampuni orang yang berbuat jahat. Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang yang berbuat jahat itu? Jika kita tidak memaafkan dan mengampuni orang yang berbuat jahat itu maka kita pun secara sadar telah berbuat jahat. Bukankah pembalasan itu adalah hak Allah? Mengapa kita harus mengambil bagian yang merupakan milik Allah?  Kita adalah juga orang – orang yang sudah diampuni oleh Allah dan karena itu kita pun harus hidup saling mengampuni. Ikutilah petuah orang tua: “Ingatan, dalam hidop ade kaka, laeng musti kasi ampong laeng”.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk hidup saling mengampuni, seperti Engkau sudah mengampuni kami, Amin.

Kamis, 13 Mei 2021                                         

bacaan : Lukas 24 : 50 – 53

Kenaikan Yesus
50 Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. 51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. 52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. 53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

HIDUP SONDOR RASA TAKU

Hidup sondor rasa taku” atau hidup tanpa rasa takut, adalah suatu pernyataan iman seseorang tentang penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Penyertaan Tuhan menjadi kekuatannya, sehingga ia berani menjalani hidup yang penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Jadi, hidop sondor rasa takut, adalah hidup yang percaya bahwa Tuhan itu ada; Tuhan itu hidup; Tuhan setia memelihara,. Tuhan selalu memberi kepastian hidup dan masa depan bagi orang yang percaya kepada-Nya dengan cara memberkati mereka. Itulah yang terjadi dalam peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga. Peristiwa yang terjadi di tengah “rasa takut” yang dialami oleh para murid Yesus setelah Yesus mati dan dikuburkan. Kebangkitan Yesus pun masih belum dapat menghilangkan rasa takut. Peristiwa Kenaikan Yesus ke Sorga disertai dengan akta penumpangan tangan, menggenapi janji berkat Allah yang akan menjadi penghibur dan penolong bagi kehidupan murid – murid Yesus. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak lagi merasa takut, mereka bahkan kembali dengan bersukacita. Pernyataan berkat adalah keinginan Allah atau perkenaan-Nya yang memulihkan hidup manusia. Berkat terbesar yang telah Tuhan berikan adalah kehidupan baru dan pengampunan. Berkat Tuhan melenyapkan segala rasa sedih dan kecemasan yang membuat manusia tak berdaya. Orang yang menerima berkat Tuhan akan bersukacita yaitu mengalami kebahagiaan mendalam karena mendapat kekuatan dari Tuhan, sehingga dalam keadaan susah pun orang akan tetap bersukacita.   Hidop sondor rasa takut,  merupakan hidup baru yang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya kepada-Nya. Kepada mereka Tuhan memberikan tanggungjawab memberitakan pengampunan yang Tuhan sediakan kepada semua orang.

Doa : Tuhan, tolonglah kami agar hidup tanpa rasa takut dan berharap hanya kepadaMU amin

Jumat, 14 Mei 2021                                      

bacaan : 2 Samuel 9 : 1 – 13

Daud dan Mefiboset
Berkatalah Daud: "Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan." 2 Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: "Engkaukah Ziba?" Jawabnya: "Hamba tuanku." 3 Kemudian berkatalah raja: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Lalu berkatalah Ziba kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya." 4 Tanya raja kepadanya: "Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar." 5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. 6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku." 7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku." 8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?" 9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: "Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. 10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku." Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. 11 Berkatalah Ziba kepada raja: "Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya." Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. 12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. 13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

INGATAN JANG LUPA TEPATI JANJI

Beta seng pernah lupa apa yang beta janji, beta inga” artinya saya tidak pernah melupakan janji yang telah saya ucapkan. Kalimat ini menjelaskan tentang kebiasaan untuk mengingat sesuatu yang penting dan berharga, yang pernah terjadi pada waktu lampau. Kebiasaan mengingat,merupakan suatu perilaku yang jujur, dan setia. Sebab, dengan mengingat, orang akan  mengatakan hal-hal yang dirasakan dan dipahami sebagai yang belum dilaksanakan. Kemudian dengan kesadaran akan Tuhan, orang berniat untuk melaksanakannya. Bacaan kita hari ini, menceriterakan tentang kisah raja Daud yang selalu mengingat perjanjian yang pernah ia lakukan dengan sahabatnya Yonatan. Walaupun Yonatan sudah mati, tetapi Daud berniat untuk menepati janjinya. Daud meminta Mefiboset anak Yonatan untuk tinggal di istana bersama keluarganya, bahkan Daud mengembalikan semua  milik keluarga Saul kepada Mefiboset. Saat ini, hal ingat untuk menepati janji, menjadi hal yang langka, misalnya, ingat janji sebagai adik-kakak, atau ingat janji sebagai sahabat, ingat janji sebagai orang tua, ingat janji kepada guru, ingat janji kepada siapa saja. Menepati janji, ibarat tidak ada hutang tersisa yang belum dibayar oleh mereka. Justru, pola hubungan diantara mereka akan menjadi kekuatan dasar untuk terbinanya relasi baru dan berkelanjutan bagi generasi turun-temurun. Jadi, kebiasaan mengingat, sangat membantu setiap orang untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki berbagai relasi kehidupan yang dimiliki. Perilaku inga mewajibkan setiap orang untuk konsisten dalam kata dan perbuatan. Waktu terus berputar, hari-bulan-tahun terus berganti, tetapi tidak akan mengubah komitmen kita untuk menepati janji yang pernah dilakukan.

Doa : Tuhan, b’rilah Roh-Mu menuntunku supaya aku ingat untuk selalu menepati janjiku, Amin.

Sabtu, 15  Mei 2021                                 

bacaan : 1 Tesalonika 4 : 1 – 12

Nasihat supaya hidup kudus
Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. 9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

“KALESANG HIDOP”

Kata “kalesang” dalam Kamus Malayu Ambon artinya atur /mengatur, merawat dengan baik. Jadi, “kalesang hidop” artinya membuat hidup teratur, atau merawat hidup menjadi lebih baik.Orang tua selalu mengingatkan dalam nasehatnya: “Ana-ana ee, kalesang hidop tu jua” artinya anak-anak hendaklah mengatur atau merawat hidupnya dengan baik. Kalimat ini bersifat teguran atau nasehat yang disampaikan oleh orang tua atau orang yang dituakan, atau orang yang dianggap layak untuk memberi nasehat. Teguran atau nasehat ini disampaikan sebagai upaya untuk mencegah munculnya berbagai perilaku menyimpang yang bisa berakibat kekacauan, konflik dan kehancuran hidup bersama dengan orang lain. Setiap hari, kehidupan dipenuhi dengan berbagai hal yang baik atau yang buruk bagi manusia. Ibarat
“kalesang kintal rumah”
artinya mengatur, merawat halaman rumah supaya tidak kotor tapi selalu bersih, demikian juga dengan hidup. Kalesang hidup merupakan suatu perilaku iman, bahwa setiap orang baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda juga anak-anak, wajib membersihkan hidupnya dari berbagai praktek dosa, pelanggaran dan kesalahan supaya keteraturan hidup di rasakan. Hal ini disampaikan oleh rasul Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat di Tesalonika, tentang hidup kudus. Kalesang hidop dimulai dari kalesang diri, kalesang suami, kalesang isteri, kalesang anak-anak, kalesang rumah tangga, bahkan dalam setiap hubungan mulai dari hubungan antara dua orang sampai hubungan dengan banyak orang. Kalesang hidop merupakan cara manusia untuk merawat hidup supaya teratur, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dalam hubungan dengan sesamanya. Kalesang hidop akan menghasilkan kekudusan hidup sesuai kehendak Tuhan.

Doa : Tuhan, tuntun kami untuk merawat hidup kudus. Amin.

*sumber : SHK bulan Mei 2021, LPJ-GPM