Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Beriman”
Minggu, 01 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9
Abram dipanggil Allah Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.
Siapkan Hidupmu Untuk Menjadi Berkat
Abram adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi satu bangsa sebagai umat Allah. Bangsa besar juga termasyhur yang akan menjadi model tentang perjanjian kasih antara Tuhan dan manusia. Panggilan yang diterima oleh Abram bukan sesuatu yang mudah, tetapi berisiko tinggi. Panggilannya berdampak pada dialaminya hidup dalam keterbatasan. Ia harus meninggalkan banyak hal: negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Abram pergi ke negeri yang akan ditunjukan Tuhan kepadanya itu dengan membawa serta seluruh keluarganya. Mereka berjalan menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan karena meyakini janji berkat yang dikatakan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberikan kepada Abram keturunan dan tanah. Inilah perjanjian berkat, Tuhan berjanji memberi berkat dan Abram menanggapinya dengan ketaatan tanpa syarat. Kita belajar bahwa orang yang menaati perintah Tuhan dituntun untuk mengalami berkat-berkat-Nya. Tuhan berjanji lalu menepati janji-Nya dan orang yang taat, menjadi besar, termasyhur, serta diberkati. Tanah yang janjikan itu dimasuki, dan dijelajahi Abram, sambil mendirikan mezbah untuk memanggil nama Tuhan. Pemenuhan janji tentang tanah dialami dan disyukuri Abram bagi kemuliaan-Nya lalu memberi hidup sebagai saluran berkat Tuhan. Kita semua pada dasarnya memiliki dorongan untuk menjadikan hidup berguna bagi orang lain. Kita merasa senang atau bahagia ketika menyadari apa yang dikatakan atau dilakukan berguna bagi orang lain. Keberadaan yang kita jalani baik dalam keluarga, di tempat bekerja, maupun tempat melayani adalah kesempatan berharga untuk menjadi berkat sebagai wujud nyata menyatakan iman kepada Tuhan. Bersyukurlah atas panggilan dan pengutusan Tuhan, sebab dengan demikian berarti kita siap menjadi berkat.
Doa: Tuhan, kami siap mengikuti panggilan dan pengutusan-Mu untuk hidup menjadi berkat, Amin.
Senin, 02 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 12 : 10 – 20
Abram di Mesir
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu. 11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau." 14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu. 18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!" 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.
Jangan Lupa Melibatkan Tuhan Dalam Hidup
Pernahkah kita diperhadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sangat sulit sebagaimana pernah dialami Abram? Bacaan hari ini, menceritakan tentang rencana Abram untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari kelaparan yang terjadi di Tanah Negeb. Rencana tersebut ternyata membawanya kepada pengambilan keputusan yang sulit. Keputusan untuk menjadikan isterinya berpura-pura sebagai adik, tentulah tidak mudah bagi Abram. Ia berkehendak baik, yakni agar mereka dapat tinggal dengan aman di Mesir, tanpa berharap bahwa Firaun akan mengambil Sarai menjadi isterinya. Tujuan yang baik dapat dialami bila diupayakan dengan cara yang baik pula. Kemungkinan terburuk tidak dipikirkan Abram, tetapi Tuhan menyelematkannya. Tuhan tetap bekerja atau campur tangan dalam keadaan genting dan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun serta seisi istananya. Menyadari kesalahannya, Firaun akhirnya mengembalikan Sarai kepada Abram dan membiarkan Abram pergi bersama kepunyaannya. Tindakan Abram yang didasarkan pada rencana penipuan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan, ternyata menyebabkan orang lain mengalami hukuman Tuhan. Ini bukan tindakan yang tepat. Jangan karena kekuatiran akan hidup, lalu menipu orang lain. Belajar dari kisah ini membuat kita menyadari bahwa hidup dan semua kebutuhan dalam keluarga, pasti dijamin Tuhan. Sebab itu jangan lupa melibatkan Tuhan dalam pemikiran dan setiap pengambilan keputusan yang akan diambil sebagai solusi agar tidak berdampak buruk bagi kehidupan kita sendiri dan juga orang lain.
Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu mengandalkan-Mu dalam setiap pengambilan keputusan hidup, Amin.
Selasa, 03 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 13 : 1 – 18
Abram dan Lot berpisah Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. 8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. 9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." 10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- 11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. 12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. 13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. 14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. 16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. 17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." 18 Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.
Utamakanlah Jalan Damai
Kita pasti pernah mengalami konflik. Mulai dari konflik dengan diri sendiri hingga konflik dengan orang lain. Ada yang dengan cepat dapat menangani konflik itu, namun ada juga yang membiarkan konflik tersebut berlangsung sangat lama tanpa mengupayakan perdamaian. Bacaan kita hari ini menceritakan tentang konflik antara Abram dengan keponakannya sendiri, Lot. Konflik di antara mereka berkaitan dengan pembagian tempat atau tanah untuk masing-masing mereka tinggal. Abram tidak mau mengulangi pengalaman kesalahan seperti yang dilakukannya di Mesir, ketika terjadi perkelahian antara gembalanya dan gembala Lot. Karena itu Abram berinisiatif untuk menyelesaikan konflik itu dengan jalan damai. Ia mempersilahkan Lot untuk memilih tempat terlebih dahulu, meskipun ia pamannya dan berdasarkan usia, tentu Abram lebih tua. Peluang ini diresponi oleh Lot dengan memilih tempat yang menurut dia terbaik tanpa mempertimbangkan lingkungan di sekitarnya. Padahal tempat yang dipilihnya berdekatan dengan tempat dimana tinggal orang-orang Sodom dan Gomora yang jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Pilihan Lot untuk mengutamakan jalan damai sebagai bentuk keyakinannya bahwa Allah tidak lupa akan janji-Nya kepada Abram. Karena itu, situasi dan kondisi apa pun yang dialaminya tidak akan menghalangi Tuhan untuk menggenapi janji-Nya. Kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa memilih dan mengupayakan jalan damai merupakan hal penting. Kehidupan menjadi harmonis dan relasi pun tidak terganggu jika semua orang hidup berdamai. Marilah kita menjalani hari-hari hidup ini dengan tetap mengutamakan jalan damai!
Doa: Tuhan, berikanlah kami hati yang mau berdamai dengan semua orang, Amin.
Rabu, 04 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 14 : 1 – 16
Abram mengalahkan raja-raja di Timur dan menolong Lot Pada zaman Amrafel, raja Sinear, Ariokh, raja Elasar, Kedorlaomer, raja Elam, dan Tideal, raja Goyim, terjadilah, 2 bahwa raja-raja ini berperang melawan Bera, raja Sodom, Birsya, raja Gomora, Syinab, raja Adma, Syemeber, raja Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar. 3 Raja-raja yang disebut terakhir ini semuanya bersekutu dan datang ke lembah Sidim, yakni Laut Asin. 4 Dua belas tahun lamanya mereka takluk kepada Kedorlaomer, tetapi dalam tahun yang ketiga belas mereka memberontak. 5 Dalam tahun yang keempat belas datanglah Kedorlaomer serta raja-raja yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka mengalahkan orang Refaim di Asyterot-Karnaim, orang Zuzim di Ham, orang Emim di Syawe-Kiryataim 6 dan orang Hori di pegunungan mereka yang bernama Seir, sampai ke El-Paran di tepi padang gurun. 7 Sesudah itu baliklah mereka dan sampai ke En-Mispat, yakni Kadesh, dan mengalahkan seluruh daerah orang Amalek, dan juga orang Amori, yang diam di Hazezon-Tamar. 8 Lalu keluarlah raja negeri Sodom, raja negeri Gomora, raja negeri Adma, raja negeri Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar, dan mengatur barisan perangnya melawan mereka di lembah Sidim, 9 melawan Kedorlaomer, raja Elam, Tideal, raja Goyim, Amrafel, raja Sinear, dan Ariokh, raja Elasar, empat raja lawan lima. 10 Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan. 11 Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. 12 Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom. 13 Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram. 14 Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 15 Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. 16 Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya.
Karena Aku Mengasihimu
Konflik sering membuat ikatan kasih dan damai menjadi hilang. Bacaan hari ini, menegaskan baik teladan maupun pelajaran tentang kekuatan kasih yang tanpa batas dari Abram. Sebenarnya ada dua faktor yang dapat menghalangi Abram untuk menyatakan kasihnya kepada Lot. Pertama, kekuatan para musuh. Kisah ini memperlihatkan adanya dua kekuatan besar yang bermusuhan, yaitu Kedorlaomer dan sekutunya di satu pihak serta Sodom dan Gomora beserta sekutunya di pihak lain. Kerajaan Kedorlaomer dan sekutunya adalah kerajaan yang besar. Mereka adalah bangsa yang kuat dan terlatih berperang. Kedua, konflik yang pernah terjadi antara Abram dengan Lot mengenai ladang penggembalaan. Konflik yang menyebabkan terpisahnya tempat tinggal mereka. Namun ternyata persoalan itu tidak disimpan Abram di dalam hatinya. Maka ketika Abram mendengar bahwa Lot menjadi tawanan perang, ia menunjukkan kasih yang besar dengan mengerahkan pasukan untuk mengejar musuh, tanpa memikirkan risikonya. Mengapa Abram bersedia melakukan hal itu? Karena Abram mengasihi Lot yang adalah keponakannya dan sudah dianggap sebagai anaknya. Juga karena kepercayaan Abram pada kekuatan kuasa Tuhan yang mampu menolongnya. Dapatkah kita meneladani Abram dalam hal kasihnya kepada keluarganya? Tetap mengasihi dan berdamai sebagai kerabat yang memiliki ikatan kekeluargaan. Ibu Teresa pernah berkata “Jika tidak ada kedamaian di antara kita, itu dikarenakan kita melupakan bahwa kita memiliki satu sama lain.” Benar, sebab sebagai satu persekutuan keluarga, kita saling memiliki. Karena itu, jangan melupakan ikatan itu. Tetaplah mengasihi, tetaplah berdamai. Berkat Tuhan tersedia bagi semua orang dan semua keluarga yang tetap saling mengasihi.
Doa: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami agar dapat mengasihi dan hidup berdamai satu dengan lainnya. Amin.
Kamis, 05 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 14 : 17 – 24
Pertemuan Abram dengan Melkisedek
17 Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. 18 Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. 19 Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, 20 dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. 21 Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram: "Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu." 22 Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: "Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: 23 Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya. 24 Kalau aku, jangan sekali-kali! Hanya apa yang telah dimakan oleh bujang-bujang ini dan juga bagian orang-orang yang pergi bersama-sama dengan aku, yakni Aner, Eskol dan Mamre, biarlah mereka itu mengambil bagiannya masing-masing."
Keberhasilanku Dipersembahkan Bagi Kemuliaan Nama-Mu
Keberhasilan bisa membuat orang lupa diri dan sombong. Mudah sekali untuk merasa bahwa semua keberhasilan adalah usaha dan kerja keras serta kemampuan diri sendiri. Tujuan akhir dari semua itu hanya kepujian diri sendiri. Abram bukanlah tipe manusia seperti itu. Keberhasilan yang dia raih tidak membuatnya lupa diri dan sombong. Ia mempersembahkan seluruh keberhasilannya kepada Tuhan dengan cara memberikan persembahan persepuluhan kepada imam yang Mahatinggi, Melkisedek. Abram membuktikan bahwa dirinya adalah seorang beriman yang mengembalikan segala hormat dan pujian kepada Tuhan yang diyakininya sudah memberikan kepadanya keberhasilan dan kemenangan. Sikap Abram yang rendah hati membuatnya tidak melupakan orang-orang yang telah membantunya. Abram memastikan bahwa orang-orang itu mendapatkan pahala masing-masing sesuai dengan hak mereka sebagai pemenang perang. Ia juga tidak memberi kesempatan kepada orang berdosa bermegah atas orang benar. Sikapnya yang lain adalah menolak untuk menerima ucapan terimakasih Raja Sodom, karena merasa seakan-akan perbuatan Abram itu adalah jasa untuk Sodom. Abram tahu bahwa ia bertindak atas kehendak Tuhan untuk menyelamatkan Lot ponakannya. Oleh karena itu ia merasa tidak perlu menerima hadiah dari raja Sodom. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk hati-hati menyikapi keberhasilan. Keberhasilan dapat menjadi sumber kesombongan. Ingatlah selalu orang-orang yang telah membantu kita menuju keberhasilan dan mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan. Gunakanlah semua keberhasilan itu untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya dan bukan untuk kemuliaan dan kepujian diri sendiri.
Doa: Tuhan, keberhasilan yang kami dapat biarlah dipersembahkan hanya bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.
Jumat, 06 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 15 : 1 – 21
Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." 2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." 4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." 5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 7 Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." 8 Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" 9 Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati." 10 Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. 11 Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. 12 Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. 13 Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. 14 Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 15 Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. 16 Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap." 17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: 19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, 20 orang Het, orang Feris, orang Refaim, 21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."
Ku Tahu Siapa Yang Ku Percaya
“Untuk apakah kekayaan yang kumiliki ini jika pada akhirnya aku tidak dapat mewariskan kepada keturunanku”? Pertanyaan ini merupakan ekspresi suasana batin Abram. Tuhan mengetahui apa yang ada dalam hati Abram, sehingga Ia mengingatkan kembali akan janji-Nya tentang keturunan. Tuhan tidak melupakan apa yang telah diucapkanNya kepada Abram. Abram diajak untuk melihat karya tangan Tuhan agar keyakinannya tetap teguh. Ia berkata kepada Abram, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya, demikian banyaknya nanti keturunanmu”. Artinya dengan mengatakan itu, Tuhan menunjukkan siapa diriNya kepada Abram. Dia-lah Tuhan Pencipta semesta alam yang mengatur seisi ciptaan-Nya termasuk hal yang dianggap mustahil bagi Abram, maka percayalah ia. Keteguhan iman Abram untuk mempercayai janji Tuhan bukan berasal dari dirinya, tetapi karena dia melihat Tuhan Sang Khalik yang telah berjanji. Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abram sebagai kebenaran. Firman hari ini mengajarkan kita bahwa janji Tuhan itu pasti! Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kita dapat juga menghadapi berbagai kenyataan dan pergumulan hidup yang berdampak pada munculnya pertanyaan serta keraguan tentang janji atau kasih setia Tuhan. Kisah hari ini mengingatkan dan memberi inspirasi untuk tetap teguh beriman kepada Tuhan. Jangan meragukan kuasa-Nya, sebab Ia sanggup memberikan apapun yang kita butuhkan sekalipun itu mungkin mustahil untuk didapatkan. Biarlah kita semua yakin dan selalu berkata dalam berbagai situasi hidup,” Ku tahu siapa yang ku percaya,” Dialah Tuhan Pencipta semesta yang kasih-Nya tak pernah berubah dalam hidup kita.
Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu percaya pada janji dan kasih setiaMu dalam hidup ini, Amin.
Sabtu, 07 Agustus 2021
bacaan : Kejadian 17 : 1 – 27
Sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. 2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." 3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 4 "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. 7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. 8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka." 9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. 10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. 13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." 15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. 16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." 17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" 18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" 19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. 20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. 21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." 22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. 23 Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. 24 Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. 25 Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. 26 Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. 27 Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia.
Janganlah Meragukan Janji Tuhan
Janji merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk diucapkan, namun dapat pula sulit untuk ditepati. Saat janji diucapkan, banyak orang terlena dan terbuai. Janji yang ditepati membuahkan sukacita, tetapi bila diingkari menimbul kekecewaan bahkan kehancuran. Saat janji diingkari, muncul banyak respon dari korban pengingkaran itu. Ada yang berusaha keras menagih janji, mungkin juga mengalami putus asa dan mengakhiri hidup, atau bertindak fatal menghabisi si pengingkar janji. Anak muda misalnya, sering menjadi korban pengingkaran janji kekasihnya. Pengingkaran janji mengakibatkan banyak orang mengalami krisis kepercayaan, sulit dipercaya dan mempercayai. Mari kita belajar dari kisah Abraham. Allah berkenan menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Allah untuk menggantikan namanya dari Abram menjadi Abraham. Isterinya juga ditetapkan Allah menjadi ibu bangsa-bangsa, dan menggantikan namanya dari Sarai menjadi Sara. Suami isteri ini telah dipilih Allah untuk mengerjakan karya selamat-Nya, dan untuk maksud tersebut Ia mengikat perjanjian dengan mereka. Mereka telah menerima janji berkat Tuhan tentang keturunan, namun meragukannya sebab Sara telah berusia lanjut. Perjanjian Allah bersifat kekal dan Abraham diminta untuk berpegang teguh padanya. Allah berjanji untuk memberikan keturunan dan pasti mewujudkannya. Abraham meyakini janji Allah, menaatinya dan berserah serta bersabar dalam penantian panjang. Tuhan menepati janji tentang keturunan seturut waktu dan kehendak-Nya. Percayalah pada Tuhan dan jangan meragukan janji-Nya.
Doa: Tuhan, tolonglah kami supaya tidak ragu akan janjiMu. Amin.
*Sumber : SHK bulan Agustsu 2021, LPJ-GPM