Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berhikmat”
Minggu, 15 Agustus 2021
bacaan : 1 Raja-Raja 3 : 16 – 28
Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan
16 Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 17 Kata perempuan yang satu: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. 18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. 20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan." 22 Kata perempuan yang lain itu: "Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 23 Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." 24 Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja. 25 Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain." 26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!" 27 Tetapi raja menjawab, katanya: "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya." 28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.
Orang Berhikmat Adil Dalam Membuat Keputusan
Hikmat Ilahi tidak semata-mata berupa akal budi yang rasional, karena juga menyangkut kasih dan kepedulian terhadap sesama. Manusia yang bergumul dengan penderitaan dan dosa seharusnya mendapat perlakuan yang adil. Kasus yang diperhadapkan kepada Salomo merupakakan kasus yang pelik. Masalahnya bukan sekadar bagaimana bertindak adil secara rasional, tetapi juga dalam pandangan Allah. Allah menghendaki agar mereka yang tertindas memperoleh belas kasihan dan bagi si penindas diberikan hukuman. Kedua perempuan sundal ini, selain menjadi budak dosa juga mewakili manusia yang diperbudak oleh kondisi sosial masyarakat yang bersifat patrilineal. Kondisi mereka melacurkan diri pasti tidak lepas dari perlakuan masyarakat yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Mereka sepatutnya mendapat perhatian dari masyarakat, bukan dari sang raja muda yang saleh saja. Raja ini bukanlah orang berhikmat yang kehilangan perasaan pada saat memerintahkan agar bayi yang diperebutkan itu dibelah menjadi dua bagian. Salomo justeru karena hikmat ilahi membongkar dinginnya hati manusia yang dibelenggu dosa. Ia juga menghangatkan hati nurani dari orang yang belum kehilangan kemanusiaannya. Kiranya hikmat yang sama memandu kita pada saat keputusan, terutama dalam keluarga. Janganlah mengandalkan rasio, tetapi nurani agar peka terhadap hati Allah yang peduli kepada orang tertindas. Mintalah hikmat ilahi sebab Allah akan memberikan hikmat-Nya kepada yang memintanya.
Doa: Tuhan berikanlah hikmat agar kami memutuskan hal apapun menurut kehendak-Mu. Amin!.
Senin, 16 Agustus 2021
bacaan : Ezra 7 : 25 – 27
25 Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajar. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum dengan seksama, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pembuangan, dengan hukuman denda atau hukuman penjara.” 27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,
Melayani Dengan Sungguh
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani-melayani lebih sungguh. Panggilan untuk melayani sebagaimana tersirat dalam penggalan lirik lagu di atas adalah sebuah komitmen iman yang mulia. Ezra adalah seorang imam, keturunan dari imam Eleazar anak imam Harun. Ia seorang ahli kitab dan mahir dalam taurat Musa. Perlindungan Tuhan selalu menyertainya baik ketika mengalami pembuangan di Babel, maupun pada saat pulang ke Yerusalem. Ezra pulang ke Yerusalem, karena diberikan tanggungjawab oleh raja Artahsasta untuk mengatur semua hal yang berkaitan dengan kebaktiaan di rumah Allah. Bacaan hari ini mengajarkan teladan kesetiaan dalam melayani pekerjaan Tuhan. Melayani merupakan suatu panggilan iman yang lahir dari hati yang tulus tanpa ada paksaan. Bahkan pada saat ketiadaan pengharapan sekalipun, kita harus dengan sungguh memberi diri untuk dipakai oleh Tuhan. Panggilan melayani tidak hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu atau di tempat tertentu saja. Melayani adalah panggilan untuk dilakukan oleh siapa saja kapan pun waktunya. baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, bergereja maupun dalam keluarga. Berusahalah untuk terus saling melayani satu akan yang lainnya dengan tetap meminta hikmat Allah, agar dituntun dan mampu menjalani hidup sebagai orang percaya. Ingat dan yakinlah bahwa pertolongan Tuhan pasti nyata menyertai setiap orang yang menunjukan kesetiaan kepada-Nya.
Doa: Tuhan Yesus, berikanlah hikmat bagi kami untuk melayani dimanapun kami berada. Amin.
Selasa, 17 Agustus 2021
bacaan : 2 Raja-raja 11 : 1 – 20
Atalya dibunuh dan Yoas menjadi raja Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja. 2 Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh. 3 Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri. 4 Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah TUHAN, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah TUHAN. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka. 5 Sesudah itu ia memerintahkan kepada mereka: "Inilah yang harus kamu lakukan: sepertiga dari kamu, yakni yang selesai bertugas pada hari Sabat di sini, tetapi mengawal di istana raja-- 6 sepertiga lagi ada di pintu gerbang Sur dan sepertiga pula di pintu gerbang di belakang para bentara penunggu--haruslah mengawal di istana; 7 dan kedua regu dari pada kamu, yakni semua orang yang bertugas di sini pada hari Sabat dan mengawal di rumah TUHAN, 8 haruslah mengelilingi raja dari segala penjuru, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, dan siapa yang mendatangi barisan haruslah mati dibunuh. Dan baiklah kamu menyertai raja setiap kali ia keluar atau masuk." 9 Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama-sama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada. 10 Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah TUHAN. 11 Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja. 12 Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: "Hiduplah raja!" 13 Ketika Atalya mendengar suara bentara-bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah TUHAN. 14 Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: "Khianat, khianat!" 15 Tetapi imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: "Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!" Sebab tadinya imam itu telah berkata: "Janganlah ia dibunuh di rumah TUHAN!" 16 Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ. 17 Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara TUHAN dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat TUHAN; juga antara raja dengan rakyat. 18 Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah TUHAN. 19 Sesudah itu ia mengajak para kepala pasukan seratus orang-orang Kari dan para bentara penunggu dan seluruh rakyat negeri, lalu mereka membawa raja turun dari rumah TUHAN; mereka masuk ke istana raja melalui pintu gerbang para bentara; kemudian duduklah raja di atas takhta kerajaan. 20 Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.
Rencana Allah Mendatangkan Kesejahteraan dan Keamanan
Perencanaan adalah realitas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan dilakukan dengan maksud memperoleh kebaikan. Ideal atau esensi perencanaan dimaksud dapatlah menjadi sirna bila nurani dibutakan oleh kejahatan dan kepentingan diri semata. Nurani yang jahat menyebabkan perencanaan dan tindakan yang membinasakan sesama. Kisah hari ini mengisahkan pesan iman bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki perencanaan dan tindakan yang tidak terpuji karena itu pasti bertindak menyatakan kehendak-Nya. Atalya sangat berambisi mengambil alih tahta kerajaan, sehingga merancangkan yang jahat di mata Tuhan dan akhirnya ia pun mati dibunuh. Membunuh orang lain dipahami sebagai tindakan yang benar untuk memperoleh tujuan memuaskan kepentingan disi sendiri. Kehendak Tuhan ditegakkan, Ia memakai Yoseba dan imam Yoyada sebagai alat penyelamatan, sehingga Yoas diangkat menjadi raja. Kisah pembunuhan terjadi pula dalam kehidupan dewasa ini baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Kita juga belajar bahwa mementingkan kepentingan diri sendiri selalu merusak kebersamaan yang rukun. Tanggung jawab untuk saling mengasihi, melindungi, memberikan rasa nyaman dan aman serta kesejahteraan antara satu dengan yang lainnya harus diwujudkan dalam keluarga. Momentum peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-76 ini hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk tidak semena-mena terhadap orang lain. Hiduplah dengan cinta kasih dan harmoni dengan semua orang, lakukanlah yang benar dan bersyukurlah senantiasa.
Doa: Ya Tuhan, ajari kami agar tidak memutlakkan kepentingan diri dan mengorbankan orang lain. Amin.
Rabu, 18 Agustus 2021
bacaan : Daniel 5 : 10 – 30
10 Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: "Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; 11 sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, 12 karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!" 13 Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? 14 Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. 15 Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu. 16 Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga." 17 Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku. 18 Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. 19 Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya. 20 Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. 21 Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. 22 Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. 23 Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 24 Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini. 25 Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. 26 Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; 27 Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; 28 Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia." 29 Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. 30 Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.
Takut Tuhan Peroleh Hikmat dan Tinggi Hati Direndahkan Orang
Keegoisan membuat seseorang menjadi tinggi hati, memiliki keyakinan berlebihan atas apa yang dilakukannya, dan tidak memperhitungkan dampak buruk dari keputusan atau tindakannya. Pengalaman haruslah dijadikan pelajaran hidup agar dapat terhindar dari akibat buruk keegoisan. Belsyazar sama sekali tidak belajar dari pengalaman ayahnya Nebukadnezar tapi justru meninggikan diri dengan kekuasaannya. Kekuasaan yang didapati oleh seseorang sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggungjawab dan takut. Perilaku tinggi hati atau sombong membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan dan karenanya menimbulkan kemarahan-Nya. Tulisan di dinding adalah bukti kemarahan Tuhan atas tingkah laku Belsyazar seorang raja yang tinggi hati. Bacaan hari mengajarkan bahwa kesombongan akan membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan. Kita harus menghargai dan tunduk pada otoritasnya-Nya dan terus belajar dari pengalaman, yang baik diteladani serta tidak mengulangi yang buruk. Keluarga berperanan penting dalam upaya pengenalan akan Tuhan. Karya dan kasih Tuhan diceritakan, kehendak-Nya diajarakan terus-menerus, sehingga seluruh keluarga takut Tuhan serta tunduk di hadirat-Nya. Daniel adalah contoh orang yang takut Tuhan, ia diberikan hikmat hikmat dan akal budi untuk mengartikan serta memaknai maksud Allah dalam tulisan di dinding. Orang yang takut akan Tuhan diberikan hikmat dan pengertian, dihargai dalam hidup karena prestasinya serta memuliakan Tuhan.
Doa: Tuhan, berikanlah hikmat bagi kami agar tetap merendahkan diri dan menghargai kekudusan Hadirat-Mu. Amin.
Kamis, 19 Agustus 2021
bacaan : Bilangan 22 : 2 – 13
Balak memanggil Bileam
2 Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. 3 Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. 4 Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: "Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang." Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab. 5 Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan: "Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. 6 Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk." 7 Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. 8 Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: "Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku." Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam. 9 Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: "Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?" 10 Dan berkatalah Bileam kepada Allah: "Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: 11 Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka." 12 Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." 13 Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak: "Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu."
Taat Dan Bertindak Sesuai Petunjuk Allah
Ketaatan merupakan bukti iman setiap orang percaya. Hidup yang taat senantiasa melibatkan Tuhan dalam berbagai macam pertimbangan dan keputusan. Kisah tentang Balak bin Zipor memanggil Bileam bin Beor sebagimana yang kita baca hari ini secara tegas menyajikan pesan ketataan. Awalnya adalah ketika Balak bin Zipor yang adalah raja Moab, merasa ketakutan melihat banyaknya bangsa Israel yang sedang berkemah di daerah seberang sungai Yordan. Ia pun mengutus orang-orang suruhannya kepada Bileam untuk mengutuki bangsa Israel, dengan tujuan dapat mengalahkan dan menghalau bangsa tersebut. Bileam seorang pelihat yang diketahui memiliki kemampuan memberkati dan mengutuk. Hal apa pun diberkatinya menjadi terberkati dan bila dikutuk akan terkutuk. Perkataan-perkataan yang diucapkannya berasal dari Tuhan sebab orang ini hidup dalam ketataan yang luar biasa. Ketaatan Bileam pada kehendak Tuhan layak dijadikan teladan beriman agar sebagai orang percaya kita mampu terhindar dari perilaku ketidaktaatan. Kita harus taat menjadikan firman sebagai pedoman agar kehendak Tuhan menguasai keinginan manusiawi. Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak menghalalkan cara dan mengorbankan orang lain demi memperoleh tujuan. Berusahalah terus menjadi orang percaya yang taat, selalu melibatkan dan meminta campur tangan Tuhan dalam seluruh kenyataan hidup. Berdoalah senantiasa, mintalah hikmat dari Tuhan agar terhindar dari niat jahat dan perilaku mendatangkan keburukan bagi orang lain.
Doa: Tuhan Yesus, berikanlah hikmat agar setiap sikap dan perbuatan kami mencerminkan ketaatan sesui dengan Kehendak-Mu. Amin.
Jumat, 20 Agustus 2021
bacaan : Ayub 12 : 12 – 13
12 Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. 13 Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.
Hikmat Allah Menuntun Hidup
Orang benar menjalani hidupnya bukan dengan mengandalkan pengertian sendiri, tetapi berdasar pada hikmat atau pengertian yang berasal dari Allah. Hidupnya berkenan kepada Allah dan meyakini bahwa campur tangan-Nya berlangsung dalam segala sesuatu yang dialami. Gagasan ideal tentang orang benar ini tak selamanya terwujud dalam kenyataan sehari-hari. Kenyataan membuktikan bahwa masih ada orang yang bersandar pada pengertian sendiri, angkuh, merasa paling hebat atau benar baik dalam pikiran maupun tindakan, dan menganggap bahwa sukses adalah hasil kerja kerasnya bukan anugerah Allah. Bacaan hari ini menegaskan bahwa pada saat Ayub mengalami berbagai tantangan hidup, dengan kesadaran diri ia tetap mengakui kekuasaan dan hikmat Allah. Ia mengakui bahwa sekalipun hikmat dan pengertian ada pada orang berusia lanjut, namun hanya Allah sajalah yang memiliki hikmat, kekuatan pertimbangan serta pengertian sejati. Kita diminta untuk menyadari bahwa selama hidup dijalani, masalah pasti ada dan berlangsung kapan serta di mana saja. Masalah hanya dapat diatasi dengan mengandalkan Allah, bukan bersandar pada pengertian sendiri. Keluarga haruslah dijadikan sebagai tempat belajar tentang hikmat, pengertian serta mengandalkan Allah baik dalam keadaan senang maupun susah. Bergantunglah pada Allah sebab hikmat-Nya akan senantiasa membimbing pada pemahaman, serta menuntun hidup. Ingatlah bahwa hikmat yang sejati berasal dari Allah karena itu janganlah mengandalkan pengertian sendiri agar hidup kita dituntun dan berkenan kepada-Nya.
Doa: Ya Allah, berikanlah hikmat-Mu agar dapat menuntun seluruh kehidupan kami. Amin.
Sabtu, 21 Agustus 2021
bacaan : 2 Tawarikh 34 : 1 – 7
Raja Yosia -- Pembaharuan yang dilakukan Yosia Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. 3 Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan. 4 Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu. 5 Tulang-tulang para imam dibakarnya di atas mezbah-mezbah mereka. Demikianlah ia mentahirkan Yehuda dan Yerusalem. 6 Juga di kota-kota Manasye, Efraim dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali, yang di mana-mana telah menjadi reruntuhan, 7 ia merobohkan segala mezbah dan tiang berhala, meremukkan segala patung pahatan serta menghancurluluhkannya, dan menghancurkan semua pedupaan di seluruh tanah Israel. Sesudah itu ia kembali ke Yerusalem.
Orang Tua Sebagai Teladan Yang Berhikmat
Umur 8 tahun, secara psikologi dikategorikan sebagai usia anak sekolah. Perkembangan emosional dan sosial anak mulai dialami pada usia ini. Tanda perkembangan tahap ini ialah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, mencari tahu mana yang salah dan benar, dapat mengidentifikasi dirinya melalui pertemanan, keluarga, kegemaran maupun kemampuan diri. Perkembangan yang demikian pada akhirnya menuntut peran orang tua agar dapat mengarahkan anak untuk menemukan jati dirinya. Yosia dinobatkan sebagai Raja Yerusalem pada usia 8 tahun. Ia telah diajarkan sejak kecil untuk mengenal Allah dan bertumbuh di dalam keluarga yang taat. Yosia tidak mengikuti jejak kakeknya Manasye yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan membawa bangsa Yehuda untuk menyembah berhala (2 Raja-raja 21:1-18). Ia bertumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah dan memilih untuk mereformasi atau melakukan pembaruan terhadap segala penyimpangan. Membimbing anak untuk menjadi pribadi yang baik dan berguna adalah dambaan setiap orang tua. Keluarga adalah basis pembentukan karakter dan kepribadian anak karena itu orang tua haruslah menjadi teladan orang berhikmat. Anak sudah mulai belajar menentukan yang salah dan benar ketika berumur 8 tahun dan orang tua terpanggil menjadi guru kehidupan yang meneladankan kebaikan. Teladan kebaikan adalah karakter orang tua berhikmat yang oleh karenanya anak-anak dibimbing dan dibentuk menjadi manusia yang taat kepada Allah. Anak-anak yang sejak dini telah diajarkan hal yang baik dan benar menjadi berkualitas dalam perkembangan. Mereka akan menjadi orang berhikmat, tahu membedakan baik dan buruk, tidak jatuh ke dalam pencobaan lalu menjadi mangsa kesia-siaan serta taat kepada Allah.
Doa: Ya, Tuhan, sertailah keluarga kami untuk tetap berhikmat kepada-Mu. Amin.
*sumber : SHK bulan Agustus 2021, LPJ GPM