Tema Mingguan : ” Merayakan Adventus Dengan Kedamaian Hati “
Minggu, 19 Desember 2021
bacaan : Yesaya 9 : 1 – 6
(9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 3 (9-2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 4 (9-3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 5 (9-4) Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. 7 (9-6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.
Wujudkan Kedamaian Hati Bersama Yesus
Beberapa hari lagi semua umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus. Euforia menyambut kelahiran Yesus dirasakan sejak memasuki bulan Ber-Ber (September, Oktober, November, Desember). Kidung natal terdengar di setiap sudut jalan, gang-gang, bahkan mall-mall. Pernak-pernik natal menghiasi setiap swalayan dan mengundang ibu-ibu rumah tangga untuk berbelanja atau sekedar hanya untuk ‘cuci mata’. Kelahiran Raja Damai merupakan perikop bacaan kita hari ini yang menjelaskan tentang datangnya seorang Pelepas untuk menuntun umat Allah kepada Sukacita, Damai Sejahtera, Kebenaran, Keadilan dan Kedamaian. Dialah Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah (ay.5). Nabi Yesaya secara tegas menyampaikan kabar sukacita bahwa akan datang Raja Damai kepada setiap umat Allah untuk menyelamatkan dan membawa kedamaian bagi kehidupan mereka. Kelahiran Raja Damai adalah Berita yang membawa sukacita karena Sang Juruselamat, yakni Yesus Kristus telah meninggalkan segala kemuliaan-Nya dan mendamaikan Diri-Nya dengan kita. Tuhan Yesus tidak menyamar sebagai manusia, namun IA benar-benar telah menjadi manusia. Melalui Tuhan Yesus, kita pun diperdamaikan dengan Allah, oleh Karena itu kita mesti menampakkan damai dari Allah itu di dalam kehidupan kita. Baiknya kita menjadi agen-agen perdamaian di dalam keluarga, jemaat bahkan masyarakat. Disadari bahwa manusia tidak dapat mewujudkan kedamaian tanpa Tuhan, oleh sebab itu mintalah hikmat Kristus untuk menuntun kita agar mampu menghadirkan kedamaian bagi sesama.
Doa: Ya Tuhan… Penuhilah hidup kami dengan Roh kedamaian, agar kami siap menjadi agen pendamai bagi sesama. Amin.
Senin, 20 Desember 2021
bacaan : Mazmur 69 : 33
32 (69-33) Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!
Rendah Hati, Sabar Dan Selalu Berdoa Dalam Hidup
Manusia pada umumnya tidak menginginkan hidup dalam keadaan susah, miskin, dan menderita. Manusia ingin hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berada dalam keadaan bebas, tidak tertekan, dan tidak terbelenggu oleh keadaan apapun yang membuat gerak-geriknya dibatasi. Keadaan seperti ini biasanya dirasakan oleh seseorang ketika berada sebagai tahanan (hidup di penjara). Mengapa demikian? Sebab biasanya manusia yang hidup dalam keadaan demikian: susah, miskin, menderita, dan disebut sebagai tahanan yang berada di penjara, dipandang oleh orang lain sebagai manusia hina. Kadang mereka tidak dihargai, dan menjadi cemohan banyak orang. Memang, orang miskin dan para tahanan dianggap sebagai orang-orang yang tidak berharga dalam masyarakat. Firman Tuhan hari ini hendak menegaskan bahwa Tuhan selalu ada bersama orang miskin dan tahanan. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dan Tuhan tetap menyayangi dan akan menolong mereka. Karena itu, orang-orang miskin dan para tahanan tidak perlu berkecil hati. Firman Tuhan ini juga mau mengingatkan orang-orang yang sering menghina dan mencela mereka yang miskin dan yang ditahanan untuk jangan pernah menganggap rendah dan hina, serta mencela dan mencemooh orang yang miskin dan yang di tahanan. Jadilah rendah hati satu terhadap yang lain, sabar dalam segala keadaan, dan dalam segala kondisi selalu berdoa kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.
Doa: Tuhan, kuatkan dan mampukanlah kami untuk hidup rendah hati, sabar, dan selalu dekat dalam doa kepadaMU. Amin.
Selasa, 21 Desember 2021
bacaan : Lukas 1 : 57 – 66
Kelahiran Yohanes Pembaptis
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." 61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Bersukacitalah Dalam Ketulusan
Pernahkah kita bersukacita dengan orang yang bersukacita? Tuluskah sukacita itu? Sebab seringkali dalam diri kita, muncul rasa iri ketika orang lain mengalami keberhasilan dalam pemberkatan Tuhan. Biasanya, hal ini terjadi dalam kehidupan antar tetangga maupun antar orang bersaudara. Apabila ada satu keluarga diberkati, tetangga atau saudaranya pasti ada yang iri. Mereka tidak turut bersukacita. Kalau pun ada rasa sukacita, itu tidak tulus. Bacaan Alkitab hari ini memberikan catatan penting untuk hidup sebagai tetangga dan sebagai orang bersaudara. Berita kehamilan Elisabet memberikan rasa sukacita tersendiri, apalagi ketika Elisabet telah melahirkan. Semua tetangga dan sanak saudaranya pun turut merasakan sukacita (58). Ketulusan sukacita mereka terlihat ketika bersama Elisabet dan Zakharia, mereka berdiskusi dan membicarakan tentang nama yang akan diberikan kepada anak Elisabet dan Zakharia yang baru lahir itu. Meskipun pada akhirnya Zakharia-lah yang diminta untuk memberi nama kepada anaknya dan memberikan nama Yohanes, namun setidaknya suasana pemberian nama anak terjadi dalam situasi yang penuh sukacita bersama antara Elisabet, Zakharia, para tetangga, dan sanak saudara. Kisah kelahiran Yohanes ini ingin mengajarkan kepada kita begaimana hidup bertetangga dan hidup sebagai orang bersaudara. Tetangga dan saudara yang baik adalah tetangga dan saudara yang penuh pengertian dan selalu hidup dalam saling peduli dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Hal tersebut juga harus berlangsung dalam keikhlasan dan ketulusan. Jangan ada yang mendustai perasaan. Kalau merasakan sukacita biarlah sukacita itu terjadi dalam keikhlasan dan ketulusan agar Tuhan memberkati semua yang bersukacita secara bersama.
Doa: Ajarlah aku Tuhan untuk bersukacita dengan sesama dalam ketulusan hati yang mendalam. Amin.
Rabu, 22 Desember 2021
bacaan : Yesaya 32 : 17 – 18
17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. 18 Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman.
Nyatakan Kebenaran Supaya Damai Dan Tenang Dalam Hidup
Semua orang menginginkan damai dan tenang, tidak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam ketidakdamaian dan ketidaktenangan. Namun, terkadang kita tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan cara untuk membuat kedamaian dan ketenangan tumbuh dalam kehidupan umatNya. Caranya yaitu dengan berpikir, berkata, dan berbuat kebenaran. Nabi Yesaya mengatakan, “dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan” (ay.17). Nubuatan nabi Yesaya ini hendak meletakkan dasar untuk bertumbuhnya damai dan ketenangan dalam hidup, yang tidak lain adalah dengan mengedepankan kebenaran disetiap aspek kehidupan. Mengapa harus kebenaran? Sebab dengan kebenaran merupakan suatu kekuatan yang sangat dahsyat, yang di dalamnya ada hal yang sangat mendasar dan yang sangat dibutuhkan untuk membuat hidup menjadi semakin berarti. Manfaat kebenaran tidak hanya untuk orang yang melakukan kebenaran tetapi juga bagi orang yang menerima kebenaran. Dengan berkata dan melakukan kebenaran sebenarnya di situlah kita sudah berupaya untuk membuat orang lain mengalami perubahan dan perkembangan dalam kehidupannya. Selain itu, ketika kita mengatakan sesuatu yang benar dan melakukan hal yang benar tersebut kepada orang lain dalam hidup ini maka dengan sendirinya kita telah membuat bathin kita dan bathin orang lain mengalami suatu kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Tidak hanya itu, kita juga harus menyadari bahwa tanda cinta kita kepada orang lain itu terletak juga dalam perkataan dan perbuatan kebenaran tersebut. Bahwa saat kita mengatakan suatu kebenaran dan memberlakukan segala sesuatu yang benar, tanpa sadar di situlah kita sudah menciptakan suatu relasi yang lebih dalam, dan yang berlangsung dalam suasana yang penuh kedamaian dan ketenangan. Karena itu, baiklah kita dalam menyambut kedatanganNya, mengatakan dan melakukan kebenaran, serta menjadikan kebenaran itu tumbuh di setiap perjalanan hidup kita agar damai dan ketenangan selalu menyertai perjalanan kehidupan kita selamanya.
Doa: Tuhan, Tolonglah kami untuk selalu berkata dan bertindak dalam kebenaran. Amin.
Kamis, 23 Desember 2021
bacaan : 2 Korintus 13 : 11
11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!
Memperoleh Berkat Tuhan Dengan Cara Tuhan
Berkat Tuhan menjadi hal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Kelihatannya orang percaya menganggap berkat Tuhan itu sangat mudah didapatkan dari Tuhan. Bahkan ada yang menganggap dan percaya bahwa berkat Tuhan itu setiap hari Tuhan berikan kepada manusia, yaitu berupa nafas kehidupan. Itu tidak salah, sebab tanpa diminta atau didoakan pun nafas kehidupan diberikan oleh Tuhan. Namun, terkadang banyak orang lupa akan hal itu, sehingga lupa untuk bersyukur atas nafas kehidupan yang Tuhan anugerahkan setiap hari, setiap saat. Selain itu, orang percaya juga banyak yang tidak tahu bagaimana ia harus mendapatkan berkat Tuhan lainnya, selain nafas kehidupan. Dalam 2 Korintus 13:11 ini Rasul Paulus membeberkan tips untuk memperoleh berkat Tuhan (selain nafas kehidupan). Pertama-tama Rasul Paulus mengajak orang percaya untuk bersukacita atas kehidupan yang dianegerahkan Tuhan. Mengapa demikian? Sebab dengan bersukacita orang percaya mengekspresikan dirinya sebagai pribadi yang sadar akan Tuhan sebagai sumber hidup. Selain itu, orang percaya diminta untuk tetap menjaga dirinya agar tetap sempurna dalam hidup. Yang dimaksud dengan sempurna di sini adalah segala pikiran, perkataan dan perbuatan selalu menyatakan kebenaran sebagai umat Tuhan. Bagaimana untuk menjadi sempurna? Matius 19:21, katakan: “Kata Yesus kepadanya: jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Hal ini berarti untuk menjadi sempurna dalam hidup orang percaya dituntut untuk memberlakukan kasih secara total bukan hanya dalam perkataan, tetapi yang terpenting adalah dalam perbuatan. Menjadi sempurna memerlukan pengorbanan diri demi kehidupan orang lain, bukan mengorbankan orang lain demi kehidupan diri sendiri.Hal yang tidak kalah penting untuk seseorang memperoleh berkat Tuhan yaitu tidak mengabaikan nasehat Firman Tuhan, selalu hidup sehati dan sepikir, serta hidup dalam damai sejahtera penuh kasih mesra dan saling mengasihi. Ketika melakukan hal-hal tersebut, maka dengan sendirinya akan ada berkat Tuhan yang mengalir dalam kehidupan orang percaya, yakni “Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu”.
Doa: Ajarlah kami untuk bersukacita, dan kuatkanlah kami untuk hidup ramah dan rendah hati… Amin.
Jumat, 24 Desember 2021
bacaan : Lukas 1 : 26 – 38
Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Rayakanlah Natal Dengan Rendah Hati Dan Setia
Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan menutupinya sedapat mungkin. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzinah. Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Maria pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti bergolak secara mental. Apa kata orang dan pembelaan apa yang akan disampaikannya? Tetapi ia memilih taat atas berita itu. Simaklah perkataannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak, tetapi menerimanya dengan sepenuhnya berserah kepada Allah. Maria tahu bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya. Di malam natal ini marilah kita merenung dan introspeksi diri apakah kita sudah benar-benar berserah terhadap rencana-Nya. Apakah kita mau mengikuti apa yang Allah kehendaki dengan rendah hati dan setia. Seperti Maria walaupun ia tahu akan ada konsekuensi dibalik keputusannya, tetapi ia lebih memilih rendah hati dengan menerima apa yang dpercayakan kepadanya dan dengan setia melakukan perintahNya karena dihatinya ia sangat bersyukur mendapat karunia yang sangat besar. Bagaimana dengan kita apakah kita sudah rendah hati dan setia ?
Doa: Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk Merayakan Natal dengan Rendah hati dan Setia bukan hanya mementingkan kemeriahan pesta. Amin.
Sabtu, 25 Desember 2021
bacaan : Matius 1 : 18 – 25
Kelahiran Yesus Kristus
18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. 24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Hati yang Merendah dan Setia Lebih Penting
Pasangan muda Yusuf dan Maria paling menonjol dalam kisah kelahiran Yesus versi Injil Matius. Tokoh Yusuf memercayakan dirinya kepada Tuhan. Saat malaikat Tuhan memberitakan alasan kehamilan Maria. Yusuf yang disebut seorang yang saleh, sederhana, dan tulus, belajar percaya dan taat pada sabda Allah. Melalui Roh Kudus, Tuhan berkarya secara istimewa dalam diri Maria. Pada awalnya, dalam diri Yusuf timbul rasa ragu dan konflik batin saat ia mengetahui tunangannya hamil. Injil Matius mencatat bahwa “ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam”. Di satu sisi, Yusuf tidak menginginkan Maria bernasib malang karena ia pasti dirajam oleh masyarakat Yahudi. Di sisi lain, ia tidak dapat menerima kenyataan itu dan berupaya meninggalkan Maria dengan cara menceraikannya. Ia tidak ingin mempermalukan martabat tunangannya di depan publik. Mungkin Yusuf berpikir bahwa dengan cara seperti itu barangkali Maria dapat menikah dengan lelaki yang telah membuatnya hamil. Inilah jalan iman yang dihayati dengan ikhlas dan rela oleh Yusuf. Tetapi setelah mengetahui yang sebenarnya Yusuf memilih tetap menikahi Maria menerima calon istrinya dengan rendah hati dan setia pada rencana Allah. Di hari Natal ini kita bersyukur bahwa sang Juruslamat telah lahir, kita berpesta dengan berbagai macam cara sesuai tradisi di dalam keluarga masing-masing, tetapi bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita rendah hati dan setia mempercayai Dia dalam hidup kita dan percaya akan RencanaNya. Jangan fokus pada perayaannya lebih baik fokus pada hati kita, dan merenungkan apakah hidup kita selama ini sudah sesuai dengan kehendakNya?
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu mengikuti kehendakMu dengan Rendah Hati Dan Setia. Amin.
*Sumber : SHK terbitan LPJ GPM