Tema Mingguan : “Bersorak dan Memuji Allah Dalam Penderitaan“
Minggu, 27 Maret 2022
bacaan : Yesaya 66 : 1 – 14
Keselamatan sesudah hukuman Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? 2 Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku. 3 Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka, 4 demikianlah Aku lebih menyukai memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang dan mendatangkan kepada mereka apa yang ditakutkan mereka; oleh karena apabila Aku memanggil, tidak ada yang menjawab, apabila Aku berbicara, mereka tidak mendengarkan, tetapi mereka melakukan yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak Kukehendaki. 5 Dengarlah firman TUHAN, hai kamu yang gentar kepada firman-Nya! Saudara-saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata: "Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, supaya kami melihat sukacitamu!" Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu. 6 Dengar, bunyi kegemparan dari kota, dengar, datangnya dari Bait Suci! Dengar, TUHAN melakukan pembalasan kepada musuh-musuh-Nya! 7 Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki. 8 Siapakah yang telah mendengar hal yang seperti itu, siapakah yang telah melihat hal yang demikian? Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari, atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali? Namun baru saja menggeliat sakit, Sion sudah melahirkan anak-anaknya. 9 Masakan Aku membukakan rahim orang, dan tidak membuatnya melahirkan? firman TUHAN. Atau masakan Aku membuat orang melahirkan, dan menutup rahimnya pula? firman Allahmu. 10 Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! 11 supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas. 12 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. 13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem. 14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.
Bersukacita Dalam Tuhan
Kata bersukacita menggambarkan ekspresi rasa bahagia yang diekspresikan dan diharapkan oleh setiap orang. Namun tidak demikian dengan pengalaman umat Israel dalam Bacaan kita hari ini. Penulis menggambarkan tentang situasi umat sekembalinya dari pembuangan, yang mengalami hidup dalam penderitaan. Akibat dari penderitaan yang dialami umat, membuat mereka tergoda dan jatuh dalam peyembahan-penyembahan berhala. Namun kebesaran Tuhan yang digambarkan dalam ay 1 serta keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang tertindas, patah semangatnya dan yang gentar kepada fiman-Nya (Ay 2) akan dinyatakan. Tuhan akan memberikan sukacita bagi mereka yang gentar kepada firman-Nya dan menghormati nama-Nya (Ay 5). Bahkan mengalirkan keselamatan seperti sungai dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir serta menunjukan kasih-Nya dengan menyusu, menggendong, membelai juga menghibur seperti seorang ibu (Ay 12-13). Penderitaan juga dapat dialami oleh setiap kita. Akan tetapi bagaimana kita menyikapi dan meresponi penderitaan itu sebagai orang percaya. Baiklah penderitaan itu dijalani dengan tetap mengimani bahwa Allah akan menyatakan kasih setia-Nya. Sebab Kasih, kesetiaan dan keberpihakan-Nya itu akan dinyatakan ketika secara sadar kita gentar pada fiman dan menghormati nama-Nya. Jadikanlah Tuhan sebagai tokoh sentral dalam seluruh kehidupan kita sambil meyakini bahwa kesetiaan-Nya itu untuk selama-lamanya. Teruslah bersukacita di dalam Tuhan, andalkan Dia senantiasa dan berserahlah pada kehendak-Nya. Ingatlah bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib telah memberikan keselamatan bagi kita yang percaya kepada-Nya dan oleh sebab itu patutlah kita bersukacita.
Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk keselamatan dan sukacita yang Engkau berikan bagi kami. Amin.
Senin, 28 Maret 2022
bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 19 – 26
Kepala penjara Filipi
19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. 20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: "Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, 21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya." 22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua
Pujilah Tuhan Dengan Sepenuh Hati
Berdoa dan memuji Tuhan merupakan bagian yang terkandung dalam unsur liturgi peribadahan. Hal seperti ini dilakukan dengan tujuan untuk membangun relasi antara manusia dengan Allah, baik secara pribadi maupun persekutuan. Akan tetapi apakah doa dan pujian lahir dari kesungguhan hati yang murni ataukah hanya dilakukan sebatas ritual semata? Tidak sedikit dari kita yang berdoa dan memuji Tuhan karena didukung oleh suasana hati yang senang dan bahagia. Tapi apakah itu terus akan dilakukan ketika diperhadapkan dengan sederetan penderitaa? Rasul Paulus dan rekan pelayannya Silas mengajarkan kepada kita tentang penyerahan hidup kepada Allah. Dalam tugas memberitakan firman Allah, mereka harus melewati berbagai macam tantangan. Meski ditangkap, diseret, dianggap sebagai pengacau, pakaian mereka dikoyakan, didera dan kemudian dilemparkan kedalam penjara tanpa diadili, akan tetapi tidak memudarkan semangat mereka di dalam peberitaan. Bahkan dalam penderitaan itu Paulus dan Silas terus berdoa dan memuji Allah. Doa dan pujian yang sunggu-sungguh dari mereka tidak membuat Allah tinggal diam, melainkan Ia menyatakan kuasa-Nya. Hubungan kita dengan Allah sang pemberi kehidupan haruslah tetap dijaga. meskipun harus diperhadapkan dengan situasi-situasi hidup yang sulit sekalipun. Doa dan pujian yang murni dari hati kepada Allah akan menghentarkan kita menyaksikan kuasa-Nya yang dasyat. Bahkan Ia mampu melakukan segala sesuatu di luar cara pikir kita sebagai manusia. Karena tidak ada yang mustahil dan yang tidak mungkin bagi-Nya. Arahkanlah pandangan kepada Allah sebagai bukti keyakinan kita yang sungguh. Sebab Ia mampu menyatakan kuasa bagi setiap orang yang terus berserah penuh kepada-Nya.
Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk terus memuji dan berserah kepada Engkau, meskipun dilanda penderitaan. Amin.
Selasa, 29 Maret 2022
bacaan : 1 Tesalonika 2 : 13 – 20
Sukacita atas jemaat
13 Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. 14 Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. 15 Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi, 16 karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya. 17 Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu. 18 Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu--aku, Paulus, malahan lebih dari sekali--,tetapi Iblis telah mencegah kami. 19 Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? 20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.
Teruslah Mengucap Syukur
Bersyukur merupakan bentuk respon positif manusia yang diungkapkan kepada Allah. Biasanya perasaan ini muncul dikarenakan pengakuan bahwa Allah turut campur tangan untuk mendatangkan kebaikan, damai sejaterah serta sukacita. Sama seperti pengalaman rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini. Paulus adalah seorang rasul yang dengan sungguh-sungguh memberikan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. Meskipun dalam pelayanannya itu, ia harus mengalami dan menghadapi penghinaan bahkan penganiayaan (ay 2). Akan tetapi pemberitaan yang disampaikan di jemaat Tesalonika tidaklah sia-sia (ay 1). Paulus bersyukur sebab pemberitaannya itu diresponi dengan baik oleh jemaat di Tesalonika dan menerima pemberitaannya bukan sebagai perkataan manusia tetapi sungguh-sungguh sebagai firman Allah (ay 13). Sikap Paulus yang dengan berani dan meyakini pertolongan Allah, membuatnya tetap bersyukur dan bersukacita. Kita harus menyadari bahwa untuk mendapatkan hasil yang terbaik bukan berarti tanpa tantangan. Justru ketika mampu melewati berbagai tantangan, kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Belajarlah untuk tetap melibatkan Tuhan dalam seluruh kehidupan kita, sebab Allah yang kita sembah di dalam Tuhan Yesus Kristus mampu menolong dan memberikan sukacita penuh. Seperti Paulus yang mengakui pertolongan Tuhan, demikian pula harus diyakini oleh kita sebagai orang percaya. Ingatlah bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segala-galanya. Menderita karena Kristus mengantarkan kita untuk hidup bersama-Nya dalam ungkapan syukur dan sukacita yang besar.
Doa: Ya Tuhan, berikanlah sukacita-Mu bagi kami meskipun ada dalam berbagai penderitaan. Amin.
Rabu, 30 Maret 2022
bacaan : Kisah Para Rasul 5 : 40 – 42
40 Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. 41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. 42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
Bersukacita Meskipun Dalam Penderitaan
Murid-murid Kristus, yakni jemaat mula-mula harus menghadapi masalah dan penderitaan karena iman kepada Kristus dan kegigihan mereka dalam memberitakan Injil. Adakalanya mereka harus menjalani sidang di Mahkamah Agama demi mempertanggungjawabkan iman. Namun meski berada dalam tekanan, himpitan, ancaman dan tantangan yang teramat berat, di mana nyawa menjadi taruhannya, mereka tidak menunjukkan mimik wajah yang sedih, stres atau takut, tapi mereka tetap bergembira. Mereka bersukacita karena mereka telah menderita bagi Kristus dan kemajuan Injil. Kalau boleh jujur penderitaan adalah hal yang sebisa mungkin selalu kita hindari, tidak ada orang yang mau hidup dalam penderitaan. Kita pastinya dalam hidup menginginkan hidup yang bahagia, karier dan pekerjaan yang lancar, sehat, hidup berkecukupan dan lain-lain. Tetapi kalau penderitaan itu datang bagaimana respon kita? Andalkan Tuhan dalam hidup dan meminta kekuatan dariNya agar kita bisa kuat menghadapinya dan menemukan jalan keluar dari setiap pergumulan. Sayangnya masih banyak dari kita yang seringkali mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapinya. Sikap hati yang benar dalam menghadapi penderitaan adalah dengan hanya mengandalkanNya, bersyukur dan bersukacita, serahkanlah bebanmu kepadaNya biar Ia yang atur maka engkau akan bersukacita walaupun dalam penderitaan
Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu punya sikap hati yang benar dalam menghadapi penderitaan. Amin.
Kamis, 31 Maret 2022
bacaan : Mazmur 69 : 31 – 37
31 Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; 32 pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. 33 Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! 34 Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. 35 Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya. 36 Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; 37 anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.
Berserulah Dalam Penderitaan
Dalam Mazmur 69 kita dapat memperhatikan curahan isi hati, doa dan juga nyanyian syukur yang dipanjatkan kepada Tuhan. Beratnya penderitaan yang dihadapi oleh pemazmur digambarkan seperti seorang yang terperosok ke dalam lumpur hidup ataupun seperti orang yang terombangambing di lautan tanpa pijakan. Walaupun demikian beratnya penderitaan pemazmur, namun dia hendak menyaksikan bahwa Tuhan itu adil. Tuhan pasti akan menyelamatkan orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan. Dia berdoa kepada Tuhan, walaupun dia menderita hal itu tidak menyurutkannya untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Pemazmur memperlihatkan keyakinannya kepada Tuhan dengan memuji Tuhan, dan hal itu jauh lebih berharga dari semua persembahan bakaran. Berdoalah kepada Tuhan saat penderitaan datang carilah Tuhan. Saat kekuatiran menguasai berserulah kepadaNya, minta hikmat untuk menghadapinya, Kadang doa sudah tidak terpikirkan lagi kalau sudah panik. Ada sebuah cerita dari pengalaman saya sendiri, pada waktu saya divonis kanker saya harus membayar 40 juta, untuk core biopsy, dan saya bilang kepada Tuhan darimana saya dapatkan uang itu karena kalau mau dengan BPJS itu harus ada biopsy terlebih dulu baru setelah itu diurus BPJS. Akhirnya saya saat itu juga pergi ke toilet rumah sakit untuk berdoa. Saya minta jalan keluar dari Tuhan dan ketika amin tiba-tiba saya langsung dipanggil bahwa core biopsy saya sudah bisa langsung ditangani BPJS jadi saya tidak perlu lagi membayar 40 juta. Berserulah kepada Tuhan dalam penderitaanmu, maka engkau akan bersukacita.
Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk jangan lupa berseru kepadaMu dalam penderitaan. Amin.
Jumat, 01 April 2022
Bacaan : Yesaya 38 : 16 – 20
Yesaya 38:16-20 (TB) Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau; tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!
Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu.
Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepada-Mu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaan-Mu.
Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepada-Mu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa memberitahukan kesetiaan-Mu kepada anak-anaknya.
TUHAN telah datang menyelamatkan aku! Kami hendak main kecapi, seumur hidup kami di rumah TUHAN.
Berharap Hanya Pada Allah
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa ini dapat menggambarkan pengalaman raja Hizkia. Dalam penderitaan karena sakit yang dialami sampai hampir mati, Hizkia harus mendengar kabar tentang kematiannya pula (ay 1). Akan tetapi penderitaan bahkan kabar kematiannya itu tidak serta merta membuatnya putus asa dan hilang harapan kepada Allah. Bacaan kita hari ini memperlihatkan ungkapan hati dari raja Hizkia ketika mengalami penderitaan tersebut. Dengan iman percayanya ia menaruh harapan sepenuhnya hanya kepada Allah. Ia menyadari sungguh bahwa hanya Allah yang mampu menolong, menyembuhkan dan menyehatkannya kembali. Kesadaran inilah yang membuat Hizkia tetap bersyukur meskipun ada dalam penderitaan. Pengalaman Hizkia mengajarkan kepada semua kita, tentang pentingnya menaruh harapan kepada Allah. Sebab dengan menaruh harap kepada Allah, sesungguhnya kita mengakui kemahakuasaan-Nya. Penderitaan seringkali juga dialami oleh kita sebagai orang percaya. Baik penderitaan karena sakit penyakit, hubungan yang tidak harmonis, perekonomian yang buruk dan lain sebagainya. Tetapi seperti Hizkia yang berdoa (ay 2) dan mengharapkan serta meyakini keselamatan dari Allah (ay 16 & 17) demikian pula dengan kita. Karena hanya Allah satu-satunya yang dapat memberikan keselamatan dan menolong untuk menyelesaikan setiap persoalan. Percayalah pada kuasa-Nya, sebab hanya dengan percaya kita akan terus bersyukur meskipun ada di dalam penderitaan. Mari mengawali bulan ini denga tetaplah berdoa, mengucap syukur, berharap kepada Allah dan meminta-Nya untuk terus turut serta bersama kita dalam menjalani hari-hari kehidupan. Karena dengan demikian kita akan melihat besarnya kuasa dan kebesaran Allah yang kita sembah.
Doa: Ajari kami Tuhan untuk tetap percaya dan menaruh harapan pada-Mu meski dalam penderitaan. Amin.
Sabtu, 02 April 2022
Bacaan : Mazmur 40 : 1 – 4
Syukur dan doa 40:1-3 (TB) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (40-2) Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. (40-3) Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, (40-4) Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.
Sebab Dia Layak Dipuji
Tidak sedikit dari kita yang membanggakan diri ketika mencapai kesuksesan, dapat melewati tantangan-tantangan hidup dan penuh dengan kebahagiaan. Namun sikap yang demikian tidak berlaku bagi raja Daud. Perikop bacaan kita hari ini merupakan suatu kesaksian Daud karena pertolongan Tuhan yang dinyatakan baginya. Ketika berbagai tantangan hidup menghampirinya, ia berseru dan Tuhan menolongnya. Tuhan tidak hanya mengangkatnya dari lobang kebinasaan tapi juga menempatkan kakinya di atas bukit batu bahkan menetapkan langkahnya (ay 5). Daud tidak hanya bersaksi tentang kebaikan Tuhan tetapi juga menyanyikan nyanyian baru untuk memuji-Nya. Apa yang dilakukan oleh raja Daud sudah sepatutnya menjadi perenungan kita bersama. Kita seharusnya menyadari kekurangan, kelemahan dan keterbatasan pada diri serta mengakui kuasa Allah yang malampaui akal dan pikiran. Dengan berseru dan meminta pertolongan menunjukan kebergantungan kita kepada Allah. Memuji-Nya juga menggambarkan pengakuan bahwa kebaikan yang kita alami semata-mata hanya karena pertolongan-Nya. Ingatlah bahwa pertolongan dan kuasa Tuhan tidak hanya berlaku bagi Daud, tetapi juga bagi kita sebagai orang percaya. Oleh sebab itu ketika diperhadapkan dengan berbagai tantangan, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat bergantunglah hanya kepada-Nya. Sebab Dia tidak hanya menolong dan membebaskan kita dari berbagai tantangan itu, melainkan menuntun dan menetapkan setiap langkah kita. Nantikanlah Tuhan dengan tetap percaya sambil terus memuji kebesaran-Nya. Bagunlah relasi denga-Nya di dalam doa sambil meyakini bahwa kuasa Allah akan dinyatakan bagi orang-orang yang selalu berseru kepada-Nya.
Doa: Ajarilah kami untuk tetap bergantung dan bersaksi tentang kebaikan-Mu. Amin.
*Sumber : SHK Bulan Maret 2022, LPJ-GPM