Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 April 2022

Tema Mingguan : “

Minggu, 10 April 2022

Bacaan : Lukas 23 : 26 – 32

Yesus dibawa untuk disalibkan

26 Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. 27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. 28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! 29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. 30 Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! 31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?" 32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia.

PENGORBANAN YESUS MENOREHKAN KEDAMAIAN

Penyerangan KKB terhadap 8 karyawan Palapa Timur Telematika (PTT) di Papua pada tanggal 02 Maret lalu, Menyisahkan duka mendalam kepada keluarga par korban (Sumber: Tribunnews.com). Salah satu korban berasal dari Kota Ambon dan jenazahnya telah dipulangkan ke keluarganya di Ambon. Tangisan pecah ketika korban tiba dan semua yang menjemputnya diselimuti duka yang mendalam. Tidak pernah dibayangkan oleh keluarga bahwa anak dan saudara mereka harus meninggal dalam keadaan seperti ini.

Kesedihan dialami juga oleh para pengikuti Yesus, namun Yesus berkata kepada mereka “Janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!”. ‘Tangisi diri sendiri’ mengandung makna bahwa kita harus menyadari kesalahan dan dosa kita sehingga kita dapat mengintropeksi diri menjadi lebih baik.

Tuhan Yesus memahami kesedihan perempuan-perempuan ini, tetapi pesan yang disampaikan-Nya juga sesungguhnya menyadarkan kita untuk berbenah dan menjadikan kehidupan kita lebih berarti. Tuhan Yesus hampir mencapai puncak penderitaan-Nya dan peristiwa ini setiap kali selalu menggetarkan hati kita untuk merasakan pengorbanan-Nya dan turut memberi diri kita agar mengalami penderitaan-Nya sehingga kita seutuhnya menjadi pengikut Kristus yang setia. Sebab dengan Kesetiaan, kesedihan akan diubah menajdi kebahagiaan. Peganglah Janji-Nya!

Doa : Kami percaya Tuhan, bersama-MU kami akan selalu merasakan sukacita. Amin

Senin, 11 April 2022

Bacaan : Matius 10 : 38-39

38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Jalan Salib, Jalan Menuju Kehidupan
Saat ini kita sudah berada di Minggu Sengsara VII. Beberapa hari lagi kita memperingati kematian Tuhan Yesus Kristus yang dikenal dengan Jumat Agung.
Dalam rangka itu LPJ GPM menetapkan tema Mingguan “Kerelaan dan Kesetiaan Memikul Salib Bersama Yesus.” Tema ini memang sulit untuk dipraktekkan karena menyangkut panggilan untuk menderita bersama Yesus. Penderitaan dinilai sebagai suatu yang negatif dan harus dihilangkan / dihindari. Ada pula umat Kristen yang berpendapat bahwa tanda seorang dikasihi Tuhan ialah jika ia tidak lagi menderita. Sebaliknya, kata Yesus: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (ay. 38). Jalan hidup murid Yesus yang sejati ditempuh dengan memikul salib atau penderitaan. Orang Kristen harus siap mengalami penderitaan bahkan kematian sekalipun.
Wujud mengalami penderitaan itu adalah penganiayaan, diskriminasi, ketidakadilan bahkanmenjadi martir. Itu merupakan harga yang harus dibayar karena iman kepada Yesus Kristus. Karena itu di dalam ayat 39 dikatakan: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia kan kehilangan nyawanya, dan barangsapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Kehilangan nyawa bukan hal yang gampang, semua orang pasti berusaha mempertahankan nyawa atau hidupnya dengan berusaha menjaga kesehatan; pola makan dan pola hidup yang sehat agar tetap hidup. Hal ini penting, namun yang dimaksudkan dengan perkataan Tuhan Yesus tentang kehilangan nyawa tidak berarti orang itu akan mati tetapi kesediaan untuk membuang segala keterikatan dosa, keterikatan kecintaan akan duniawi, serta keangkuhan hidup. Jika hal tersebut dapat kita praktektan dalam hidup sehari-hari, maka kita akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga dari nyawa itu sendiri yakni kehidupan yang kekal atau hidup sejati yang tidak diberikan oleh dunia ini (Band. Mat. 19:28)

Doa: Tuhan Yesus kuatkan kami untuk memikul salib bersama-Mu. Amin

Selasa, 12 April 2022

bacaan : Lukas 14 : 27

27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Penyangkalan Diri Sebagai Syarat Mengikut Yesus

Kata Tuhan Yesus: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Yesus mengucapkannya ketika sedang berada dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ia sadar sedang berjalan menuju salib; bukan menuju kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Karena itu, kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Yesus memperingatkan mereka bahwa menjadi murid Yesus yang sejati bukanlah mudah, sebab syarat utama menjadi murid Yesus adalah kesediaan untuk memikul salibnya. Memikul salibnya adalah sebuah kiasaan, yang berarti bahwa setiap orang yang mau menjadi pengikut Yesus harus rela mengalami penderitaan karena menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Yesus, bahkan sampai mati. Mengikuti Tuhan Yesus berati juga harus siap untuk setia dengan mungkin saja akan mengorbankan hal-hal yang paling dicintainya dalam kehidupan; keluarga, diri sendiri atau miliknya yang paling berharga (band.ay 26, 33). Sayangnya, banyak orang kristen mengaku menjadi murid Tuhan Yesus tetapi tidak bersedia memikul salibnya dan mengikuti Tuhan Yesus dengan melakukan kehendak Tuhan Yesus melalui firman-Nya. Orang percaya lebih memilih jalan aman, jalan kompromi karena kuasa, jabatan, harta dan sebagainya. Tema Mingguan “Kerelaan dan Kesetiaan Memikul Salib Bersama Yesus’ berdasarkan Lukas 14:27, mengingatkan setiap orang percaya bahwa syarat utama menjadi murid Yesus adalah memikul salib atau ketaatan dan kesediaan untuk menyangkal diri (mengesampingkan identitas duniawi dan mengarahkan hidup pada kehendak Tuhan). Artinya setelah diselamatkan, setiap orang percaya wajib menjalani kehidupan sesuai kehendak Tuhan dengan konsekuensi tidak diterima oleh orang lain, disingkirkan, dikhianati , ditolak, dicaci maki , dihina, dipermalukan, dan sebagainya. Ingat salib adalah salib.

Doa: Tuhan peliharalah hati kami untuk melakukan kehendak-Mu. Amin.

Rabu, 13 April 2022

bacaan : Ibrani 12 : 2

2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Teruslah Memandang Pada Salib Kristus

Hidup ibarat suatu pertandingan atau perlombaan. Misalnya harus senantiasa memandang kepada garis finish, karena jika tidak walaupun pelari itu berlari dengan cepat, tetapi jika arah tujuannya meleset maka ia tidak akan mencapai garis finish atau tidak akan mengakhiri perlombaan dengan baik. Bisa jadi ia akan keluar lintasan dan menuju ke arah yang salah walaupun mungkin secara kecepatan, pelari tersebut adalah yang paling cepat dibandingkan dengan para lawannya. Demikian, hidup orang percaya senantiasa mengalami perlombaan iman setiap hari, yakni masalah dan penderitaan. Hal ini juga dialami oleh orang percaya Ibrani, dimana mereka mengalami penganiayaan dan penderitaan yang hebat, sehinga ada yang meniggalkan imannya kepada Yesus Kristus, tetapi ada juga yang tetap mempertahankan imannya meskipun harus menderita. Dalam situasi tersebut, penulis surat Ibrani memperingatkan orang percaya untuk berlomba dengan baik, yakni dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang mengabaikan kehinanaan tekun memikul salib (ay.2). Menurut pandangan orang masa itu, mati di atas tiang salib adalah hal yang sangat hina dan memalukan. Namun berbeda dengan Tuhan Yesus, penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib merupakan wujud ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa di sorga. Karena ketaatan-Nya memikul salib, maka la memperoleh sukacita, bersama-sama memerintah dengan Allah Bapa. Makna bagi kita yang merayakan Minggu Sengsara Tuhan Yesus bahwa Kehidupan orang percaya senantiasa dihadapkan dengan masalah dan penderitaan yang disebabkan oleh faktor alam (gempa, banjir, badai), penyakit (covid 19) dan faktor manusia (ketidakadilan, fitnah, iri, dendam,dll). Dalam situasi tersebut, mari kita memandang hanya pada Tuhan; percaya dan berharap kepada-Nya, maka la akan menyertai kita.

Doa: Tuhan, pimpin kami untuk terus memandang salib-Mu. Amin.

Kamis, 14 April 2022

bacaan : Kisah Para Rasul 21 : 13

13 Tetapi Paulus menjawab: "Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus."

Jalan Hidup Tak Selalu Mudah

Sebait lirik lagu “Janji Tuhan” mengatakan: tak pernah Tuhan janji hidup tak kan berduri, tak pernah Dia berjanji lautan tenang. Artinya, menjadi orang kristen bukan berarti jalan hidup baik-baik saja atau aman-aman saja. Justeru menjadi orang Kristen maka kita siap mengalami kesusahan dan penderitaan karena iman kepada Tuhan Yesus. Hal ini dialami oleh Rasul Paulus karena pelayanan dan pemberitaan tentang Yesus maka ia rela mengalami penganiayaan, penderitaan bahkan dipenjarakan (band. Kisah 16: 12-40). Dalam perikop bacaan tadi dikisahkan tentang perjalanan penginjilan oleh Paulus di kota Kaisarea, suatu kota pelabuhan yang menjadi pusat pemerintahan Roma untuk Palestina. Di situ, ia menginap di rumah Filipus,salah seorang pemberita injil (ay 8). Agabus, nabi dari Yudea, datang dan bernubuat bahwa Paulus akan mengalami peristiwa yang berat di Yerusalem. Ia akan diikat dan diserahkan kepada orang Romawi di Yerusalem (band.ay.10,11). Mendengar nubuat tersebut orang banyak meminta supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem (ay. 12). Permintaan mereka ditolak oleh Paulus dengan mengatakan: “Mengapa kamu menangis sebab hal itu menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati” (ay. 13). Inilah sikap berimannya kepada Tuhan Yesus. Ia tidak takut bahkan bersedia mengalami penganiayaan dan penderitaan bersama Yesus. Jalanilah Minggu Sengsara Tuhan Yesus ini dengan meneladani Paulus yang rela dan setia memikul salib (mengalami jalan penderitaan) karena kita akan selalu berhadapan dengan tantangan, masalah, ketidakadilan, dan sebagainya. Kita tidak boleh hanya menangis, bersungut-sungut, pesismis melainkan percaya dan menyerahkan seluruh beban hidup kepada Tuhan Yesus. Sebab syair lagu janji Tuhan, bilang: “Dia berjanji ‘kan selalu sertaku dan menuntun jalan hidupku s’lalu”. Tuhan Menolong kita semua, amin.

Doa: Tuhan berilah aku kekuatan untuk menjadi saksi-Mu. Amin.

Jumat, 15 April 2022

bacaan : Lukas 23 : 44 – 49

Kematian Yesus Membuka Tabir Keselamatan

Hari ini Umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Jumat Agung. Jumat Agung dieknal sebagai hari peringatan kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. la rela mengorbankan diri sebagai bentuk kasih-Nya yang besar pada umat manusia (band. Yoh.3:16) Karena itu, peristiwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib harus dimaknai dalam perjalanan hidup kita sehari-hari bukan sekadar tradisi gerejawi semata-mata. Perikop Lukas 23: 44-49, merupakan tuturan Lukas mengenai proses kematian Tuhan Yesus yang ditandai dengan peristiwa alam. Matahari tidak bersinar sehingga terjadi kegelapan besar meliputi seluruh daerah Yerusalem. Hal ini mau menegaskan bahwa alam pun turut merasakan penderitaan yang dialami oleh seorang yang tidak bersalah dan bahwa kekuatan apapun di bumi (seperti matahari) tidak dapat membatalkan karya Allah yang agung di dalam Yesus Kristus. Lukas menambahkan peristiwa lain, yakni Tabir Bait Suci terbelah dua. Tabir/tirai pemisah tempat kudus dan maha kudus dalam Bait Allah (2Taw.3:14), yang hanya boleh dimasuki oleh imam besar (Im. 16:12) robek pada waktu Yesus mati (Mrk. 15:16). Maka jarak yang memisahkan manusia berdosa dengan Allah telah didamaikan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya. Kematian Kristus di salib telah membuka jalan pengampunan dan keselamatan bagi mereka yang percaya. Pengampunan dan Keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita harus direspons dengan hidup yang tidak lagi dikuasai oleh dosa atau merdeka dari dosa (bd. Gal.5:19-21) dan memiliki hidup yang dipimpin oleh Roh Tuhan (bd. Gal.22-26). Merayakan kematian Tuhan Yesus di salib atau Jumat Agung berarti merespons anugerah keselamatan yang diberikan Allah dengan hidup berkenan kepada-Nya. Perjuangkan keadilan, kebenaran, melayani sesama, berbagi dengan mereka yang susah, tidak mementingkan diri sendiri, memberi pengampunan, dll.

Doa: Tuhan kiranya kami hidup sebagai pemenang melawan dosa. Amin.

Sabtu, 16 April 2022

bacaan : Matius 27 : 57 – 61

Yesus dikuburkan
57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. 58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. 59 Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, 60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. 61 Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.

Tidak Sembunyi – Sembunyi Memikul Salib Yesus

Injil Markus 15:42-47 merupakan nas paralel dari nas hari ini yang menjelaskan tentang Yusuf dari Arimatea sebagai salah satu anggota majelis besar yang terkemuka atau Sanhedrin. Majelis ini merupakan mahkamah agung dan lembaga administratif tertinggi Yahudi. Saat itu Sanhedrin punya pengaruh yang besar atas masyarakat, pemerintahan dan agama. Kiblat pemahaman mereka terkait dengan tugas yang dimainkan telah memposisikan mereka sebagai kelompok yang juga memusuhi Yesus. Seperti orang Farisi, para anggotanya mengatur siasat untuk membunuh Yesus. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Yusuf Arimatea adalah orang jujur, baik dan benar-benar berusaha mematuhi perintah Allah. Dia menjadi murid Yesus secara sembunyi-sembunyi (Yohanes 19:38). Namun ketika dilihatnya Yesus mati tergantung di kayu salib sama seperti orang berdosa, maka Yusuf ingin memakamkan-Nya secara layak sebagai wujud penghormatan terakhirnya kepada Yesus, yang ia anggap sebagai GURU. Yusuf Arimatea memang tidak memikul salib bersama Yesus sama seperti Simon dari Kirene, namun keputusan dan tindakan yang dilakukannya membuktikan kerelaan dan kesetiaannya memikul salib bersama Yesus. Yusuf Arimatea dengan sepenuh hati menghadap Pilatus, sekalipun ia tahu bahwa perbuatannya tersebut sangat berisiko. la tidak mundur atau melakukannya dengan berat hati . Yusuf menunggu hingga mayat Yesus diturunkan dari salib dan kemudian mengambilnya. Kesediaan hati dan tindakan Yusuf Arimatea seharusnya juga menjadi sikap kita sebagai orang yang mau mengikut Yesus. Kerelaan dan kesediaan memikul salib bersama Yesus harus nyata sebagai spiritualitas seorang murid Yesus. Dengan demikian kita beriman tidak secara sembunyi-sembunyi, melainkan terbuka untuk disaksikan oleh dunia dan dapat diimani juga oleh mereka.

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk selalu rela dan bersedia memikul salib-Mu. Amin.

*Sumber : SHK bulan April 2022 LPJ GPM

Tinggalkan komentar