Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 Desember 2022

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 04 Desember 2022                          

bacaan : Yesaya 57 : 14 – 21

Kata-kata penghiburan
14 Ada yang berkata: "Bukalah, bukalah, persiapkanlah jalan, angkatlah batu sandungan dari jalan umat-Ku!" 15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. 16 Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. 17 Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajah-Ku dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya. 18 Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung 19 Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat--firman TUHAN--Aku akan menyembuhkan dia! 20 Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. 21 Tiada damai bagi orang-orang fasik itu," firman Allahku.

Allah Berkuasa Mengampuni Dosa Kita

Ada seorang petani sedang duduk di bawah pohon kenari. Petani ini terus mengamati pohon kenari, dia berkata: Ah, betapa Allah tidak adil, menciptakan labu yang berat pada tanaman merambat dan menggantungkan kenari pada pohon yang cabangnya dapat menahan seorang manusia. Ia kemudian berkata lagi: kalau saya jadi Allah, saya akan mencipta lebih baik dari ini. Kemudian jatuhlah buah kenari menimpa kepalanya. Berlarilah ia dengan kencang meninggalkan tempat itu sambil berteriak: Allah adil!…Allah adil…Dia bijak… terpujilah Sang Pencipta. Peristiwa itu menjadi pelajaran yang menyadarkan si petani. Ia menyesal sebab  telah mencela  dan menuduh Allah melakukan ketidakadilan saat mencipta semesta ini. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak. Kita dapat saja melakukan kesalahan berpikir, merasa, berkehendak, bertindak dan mengambil keputusan. Kesalahan dapat  mengakibatkan kita terperosok ke dalam penderitaan. Ingatlah bahwa Allah berkuasa dan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. Ia berkuasa pula mengampuni kesalahan kita. Hidup sebagai anak-anak Allah, berarti harus berani mengakui kesalahan dan meyakini betapa Allah itu penuh kasih dan maha mengetahui. Ia maha pengampun, akuilah dosa dan mohon pengampunan. Teruslah berserah pada-Nya, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Allah lebih menyukai orang yang menyadari dosanya dan kemudian merendahkan dirinya di hadapan-Nya. Buanglah tegar tengkuk dan hiduplah dalam kerendahan. Rendahkanlah diri di hadapan Allah, maka engkau ditinggikan-Nya. Allah memberkati kita, membuat berhasil setiap usaha, melegakan, menuntun dan mengampuni. Sambutlah Dia, Sang Pemulih orang terluka.

Doa:  Tuntunlah kami dengan Roh-Mu agar menjadi berani dengan rendah hati mau mengakui dosa dan kembali ke jalan-Mu yang benar. Amin.

Senin, 05 Desember 2022                                     

bacaan : Yesaya 58: 6-8

6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Perlakukanlah Sesamamu Dengan Adil dan Jujur

Minggu Advent II telah dimasuki dan kiranya kita menjalaninya dengan keutuhan hidup, lahiriah dan spiritual. Ada baiknya bila  minggu ini dijadikan sebagai kesempatan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup beriman kita. Kita perlu belajar dari nabi Yesaya, ia mengajak bangsa Israel sesudah pembuangan di Babel untuk hidup sebagai umat Allah yang baru. Hidup sebagai umat Allah mesti berlangsung dengan semangat pembaruan. Salah satunya adalah tetap memlihara keutuhan makna ibadah.   Ibadah yang maknanya utuh lebih dari sekadar  rutinitas ritual, karena berurusan dengan hal memperlakukan sesama secara adil, jujur dan diakonal. Belenggu-belenggu kelaliman harus dibuka, tali-tali kuk dilepaskan dan dipatahkan, serta orang teraniaya dimerdekakaan. Buah dari ibadah yang kita lakukan setiap saat adalah hidup dengan cinta kasih bersama semua orang. Hidup kita digerakkan dengan cinta kasih, sehingga tidak lagi terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Seisi rumah hidup harmonis, saling meneguhkan, mendengar dan menghibur. Kita tak dikehendaki menjadi batu sandungan atau penyebab kesengsaraan bagi orang lain. Hubungan dan interaksi sosial haruslah berlangsung dengan harmonis tanpa kekerasan dan penindasan. Kehadiran dan perjumpaan kita dengan orang lain di tengah masyarakat, berlangsung karena kasih dan kepedulian tanpa batas.   Kita terpanggil juga untuk mengenyangkan orang lapar, memberi tumpangan bagi mereka yang tak memiliki rumah. Orang telanjang diberi pakaian, dan menjadi berkat bagi saudara sendiri. Semuanya dipedulkan dengan kasih, baik diri dan saudara sendiri maupun orang lain yang membutuhkan pertolongan. Hidup kita pasti diterangi, dipulihkan dan dipenuhi kemuliaan Tuhan.

Doa: Bapa pengasih, baruilah hidup kami  dengan kuasa dan kasih-Mu. Amin   

Selasa, 06 Desember 2022                                   

bacaan : Zakharia 8:1-8

Keselamatan bagi Israel
Datanglah firman TUHAN semesta alam, bunyinya: 2 "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar. 3 Beginilah firman TUHAN: Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus. 4 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. 5 Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ. 6 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib? demikianlah firman TUHAN semesta alam. 7 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, 8 dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran."

Menuju Masa Depan yang Gemilang

Umat Israel pernah mengalami masa hidup yang kelam sebagai akibat ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan. Pembuangan di Babel misalnya menjadi masa hidup yang berat, mereka harus terusir dari tanah perjanjian. Semua pengalaman pahit disadari, disesali dan dimaknai. Mereka bertobat, kembali menjadi umat yang setia kepada Tuhan dan berjanji membarui seluruh keberadaan. Ternyata kemampuan umat Israel bangkit dari kejatuhan, keterpurukan dan kekelaman karena pengharapan akan janji Tuhan tentang masa depan yang gemilang terus dihidupkan. Mari kita simak nas hari ini, gagasan teologi pengharapan dikisahkan nabi Zakharia dengan gamblang atau mudah dipahami.  Zakharia menyampaikan janji Tuhan tentang kebahagiaan bagi Yerusalem dan Yehuda di masa depan. Tuhan yang berjanji tentang masa depan yang bahagia atau gemilang disebut dengan nama “Tuhan semesta alam”. Tujuh kali tersebut dalam bacaan hari ini dan menunjuk pada pengertian: Allah adalah Tuhan semua kekuatan di bumi dan di langit. Umat Israel percaya dengan tidak ragu pada “Tuhan semesta alam”. Dia-lah Tuhan pemilik dan pengatur waktu atau jalan zaman yang pasti menepati janji-Nya. “Tuhan semesta alam” akan datang dalam kekudusan dan diam di tengah-tengah umat-Nya. Waktunya akan tiba, kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, anak laki-kali dan perempuan bermain-main di situ. Zakharia menubuatkan tentang masa depan yang gemilang. Kita mungkin pernah mengalami masa lalu yang pahit serta sedang menjalani hari ini dengan susah payah. Namun meyakini janji Tuhan tentang masa depan yang gemilang memampukan kita bertahan dan terus berjuang sampai pada akhirnya.

Doa: ya Tuhan, tuntunlah kami menuju masa depan yang gemilang. Amin

Rabu, 07 Desember 2022                                  

bacaan : Zakahria 8:14-19

14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: "Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam, 15 maka pada waktu ini Aku kembali bermaksud berbuat baik kepada Yerusalem dan kepada kaum Yehuda. Janganlah takut! 16 Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. 17 Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN." 18 Datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya: 19 "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!"

Cintailah Kebenaran dan Damai

Kita sedang menjalani masa penantian dalam peringatan minggu Advent II dan dihentar bersua lagi dengan pemberitaan nabi Zakharia tentang janji masa depan yang bahagia. Pemberitaan Zakharia tentang pengharapan masa depan hendak mengajak kita untuk hidup sebagai orang-orang yang memiliki visi. Sederhananya, kata visi berarti daya lihat, yakni kemampuan untuk melihat ke masa depan. Mereka yang memiliki visi tahu bagaimana merencanakan masa depan yang lebih baik. Hidup bukanlah sekadar urusan makan, pakai, tidur, kerja dan lainnya di hari ini, tetapi juga megenai ihwal kelihaian menata dan merencanakan hari esok yang lebih baik. Hari esok tak terpisah dari kekinian  atau dimulai sejak hari ini bahkan telah didahului masa lampau. Oleh sebab itu urusan masa depan dimulai sejak sekarang. Nas kita menegaskan akan hal tersebut. Umat yang meyakini janji Tuhan tentang masa depan bahagia haruslah mengisi hari-hari hidup mereka dengan cara mencintai kebenaran dan damai.  Percaya akan janji Tuhan tentang masa depan yang bahagia, berkonsekuensi menjalani hidup di hari ini sesuai kehendak-Nya. Nabi Zakharia memberitakan bahwa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan di hari ini adalah perbuatan sebagai berikut. Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Tuhan berkehendak agar umat-Nya melakukan perbuatan baik dalam hari hidup mereka. Isilah hari-hari hidup di minggu Advent II ini dengan kebaikan. Nantikanlah Tuhan penyelamat dengan mencintai kebenaran dan damai.

Doa: ya Kristus, pakailah kami sebagai alat kebenaran dan damai-Mu. Amin         

Kamis, 08 Desember 2022                               

bacaan : Zakharia 9:11-17

Israel dipulihkan kembali
11 Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjian-Ku dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair. 12 Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat! 13 Sebab Aku melentur Yehuda bagi-Ku, busur Kuisi dengan Efraim, dan Aku mengayunkan anak-anakmu, hai Sion, terhadap anak-anakmu, hai Yunani, dan Aku akan memakai engkau seperti pedang seorang pahlawan. 14 TUHAN akan menampakkan diri kepada mereka, dan anak panah-Nya akan melayang keluar seperti kilat. Dan Tuhan ALLAH akan meniup sangkakala dan akan berjalan maju dalam angin badai dari selatan. 15 TUHAN semesta alam akan melindungi mereka, dan mereka akan menghabisi dan menginjak-injak pengumban-pengumban. Mereka akan minum darah seperti minum anggur dan menjadi penuh seperti bokor penyiraman, seperti penjuru-penjuru mezbah. 16 TUHAN, Allah mereka, akan menyelamatkan mereka pada hari itu; seperti kawanan domba umat-Nya itu, sungguh, mereka seperti permata-permata mahkota yang berkilap-kilap, demikianlah mereka di tanah TUHAN. 17 Sungguh, alangkah baiknya itu dan alangkah indahnya! Teruna bertumbuh pesat karena gandum, dan anak dara karena anggur.

Sungguh Alangkah Baiknya dan Indahnya

Teks hari ini merupakan bagian dari nubuat-nubuat tentang kedatangan Mesias (pasal 9-14). Umat akan mengalami pemulihan sesuai perjanjian yang dibuat Tuhan dengan Musa dan bangsa Israel di gunung Sinai (Kel.19-40). Perjanjian itu dimetraikan dengan darah (Kel. 24:8). Nubuatan tentang masa depan ini berdasar pada gagasan tentang kesetiaan. Allah setia pada janji-Nya dan hal yang sama juga dituntut dari umat Israel. Pelajaran iman tentang kesetiaan ini dipandang amat penting bagi kita yang sedang merayakan minggu Advent II. Kesetiaan bersifat mutlak, bangsa Israel menjadi umat Tuhan dan tidak boleh menyembah kuasa yang lain. Bila mereka hidup dengan setia di hadapan Tuhan, maka masa depan yang terpulihkan pasti dialami. Hidup sedang kita jalani dalam masa penantian kedatangan Yesus Sang Mesias  juruselamat manusia dan dunia. Mari jalani hari-hari hidup dengan berpegang teguh pada prinsip kesetiaan menuju masa depan yang terpulihkan. Sadar ataupun tidak, kita sebenarnya telah mengadakan ikatan perjanjian dalam banyak hal. Suami isteri telah berjanji untuk saling mencintai seumur hidup baik dalam keadaan senang maupun susah. Kesetiaan terkadang terkikis karena situasi tertentu dan mengakibatkan ikatan perjanjian tak dapat bertahan abadi. Ikatan perjanjian bertahan sementara atau berantakan di tengah jalan. Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, bila semua kita menjalani hidup sebagai orang-orang yang setia. Hidup setia baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Suami isteri yang setia, orang tua yang setia, anak-anak yang setia, pelayan dan umat yang setia, serta pemimpin dan anggota masyarakat yang setia. Jalanilah hidup dengan berpengharapan bersama Tuhan yang setia mengasihi.

Doa: Bapa, tolonglah agar kami menjadi umat-Mu yang setia. Amin  

Jumat, 09 Desember 2022                                  

bacaan : Mazmur 34 : 19

18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Tuhan Dekat Pada Mereka yang Patah Hati dan Remuk Jiwa

Dewasa ini banyak orang mengalami kesedihan dan keterpurukkan. Kesedihan dan keterpurukkan dapat menjadikan orang yang mengalaminya patah hati dan remuk jiwa. Patah hati dan remuk jiwa mungkin disebabkan oleh putus cinta, kehilangan pekerjaan atau barang beharga, belum memperoleh pekerjaan tetap dll.  Kondisi yang demikian dapat berdampak buruk pada interaksi sosial dan aktifitas dalam bekerja. Hidup dijalani dengan sikap acuh tak acuh, masa bodoh dan malas, baik kerja, kuliah, kantor maupun ibadah dan  yang lainnya. Nyatanya memang ada banyak cara yang ditempuh untuk mengatasinya. Ada yang  bernyanyi, berdansa, berolahraga, membaca buku, berjalan-jalan, nonton film dan lainnya. Kita diingatkan tentang betapa pentingnya menjaga atau memelihara ketenangan hati dan jiwa selama menjalani minggu Advent. Cara-cara yang lazimnya dilakukan untuk mengatasi patah hati dan remuk jiwa perlu diuji. Apakah bermanfaat bagi dialaminya ketenangan sejati bagi hati dan jiwa. Kita harus menghindari menggunakan cara yang hanya menawarkan ketenangan sementara atau semu. Ketenangan sejati hanya ada pada Tuhan. Ia dekat kepada orang patah hati dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya. Dekat pada Tuhan membuat kita tak merasa kesepian dalam kesendirian. Meyakini dan merasakan serta mengalami Tuhan ada bersama memulihkan semangat yang patah dan perasaan ditinggalkan. Ia mendekat kepada kita dan menyelamatkan jiwa yang remuk. Iman diteguhkan, harapan terpulihkan, makna diperoleh dan tujuan menjadi jelas. Peliharalah ketenangan hati dan jiwa dalam masa penantian ini. Atasilah kesepian, kesendirian, kesunyian dan perasaan ditinggalkan dan jadilah tenang, sebab Tuhan dekat.    

Doa: Tuhan, mendekatlah kepada kami yang berseru kepada-Mu. Amin!

 Sabtu, 10 Desember 2022                               

bacaan : Ayub 42 : 10 – 17

10 Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. 11 Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas. 12 TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. 13 Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; 14 dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. 15 Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki. 16 Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. 17 Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Mohon Pengampunan Bagi Orang yang Bersalah.

Kisah tentang Ayub diakhiri dengan tindakan Tuhan menyalahkan sahabat-sahabatnya karena mereka tidak berkata yang sebenarnya. Sahabat Ayub tidak berkata yang sebenarnya tentang Tuhan. Tuhan memerintahkan mereka memberi persembahan khusus agar tidak dihukum. Ayub berdoa kepada sahabat-sahabatnya seperti yang dimintakan Tuhan, lalu ia menerima berkat Tuhan. Ayub memperoleh kembali kekayaannya dan memiliki lebih banyak anak untuk menggantikan semua hal yang sebelumnya hilang. Kisah akhir dari hidup Ayub sebagaimana juga yang diberitakan dalam nas hari ini, menarik untuk direnungkan. Pertama karena memberitakan bahwa Tuhan itu mendengar doa dan memulihkan hidup orang yang mengalami penderitaan. Kedua perilaku beriman Ayub yang tetap setia melakukan perintah Tuhan dan memperoleh lebih banyak dari semua hal yang sebelumnya hilang. Tuhan Allah kita peduli dan mendengar permohonan atau doa yang  dinaikkan kepada-Nya. Dia-lah Tuhan yang mendengar dan memulihkan hidup yang terpuruk dalam kesusahan atau penderitaan. Tuhan yang kita nanti dalam minggu penantian ini mendengar doa dan memulihkan hidup. Penantian akan Sang juruselamat kiranya terus dilaksanakan dengan setia menjadi umat yang berdoa. Setia berdoa dalam penantian, mendoakan hidup dan keberadaan keluarga sendiri maupun orang lain, termasuk mereka yang berbohong atau melakukan kejahatan. Kita berdoa agar hidup tidak lagi diwarnai dengan kebohongan, kejahatan, pemberontakan serta dosa. Berdoalah agar orang yang berbohong, bersalah dan berdosa memperoleh pengampunan dan yakinlah bahwa Tuhan pasti memulihkan hidup kita.

Doa: Tuhan tolonglah kami untuk memiliki hati yang mengampuni. Amin!

*SUMBER : SHK Bulan Desember 2022, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar