Santapan Harian Keluarga, 11-17 Desember 2022

Minggu, 11 Desember 2022                              

bacaan : Lukas 1 : 46 – 56

Nyanyian pujian Maria
46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Jiwaku Memuliakan Tuhan dan Hatiku Bergembira Karena Allah Juruselamatku

Kita bersukacita dan bersyukur karena minggu Advent III telah dijalani. Hidup kita dianugerahi kekuatan, kesehatan dan berkat dan oleh sebab itu Tuhan layak dimuliakan. Nas hari ini, Lukas 1:46-56, mengisahkan akta memuliakan Tuhan yang dilakukan oleh Maria ibu Yesus. Maria mengaktakannya secara spontan sebagai tanggapan atas rencana dan tindakkan Allah. Allah memakai Maria menjadi alat-Nya untuk menyelamatkan manusia dan dunia. Malaekat Gabriel disuruh ke Nazaret untuk bertemu Maria yang bertunangan dengan Yusuf dan menyampaikan bahwa ia akan melahirkan anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Dia akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Roh Kudus akan turun ke atas Maria dan Anak yang dilahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Maria memuliakan Tuhan dan bergembira karena Allah, juruselamatnya. Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya, melakukan perbuatan besar dan rahmat-Nya turun temurun atas orang-orang yang takut akan Dia. Kuasa-Nya diperlihatkan dan orang yang congkak hatinya dicerai-beraikan. Ia menurunkan orang-orang berkuasa, melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar dan menolong Israel  karena jani-Nya tak pernah dilupakan. Maria adalah contoh hidup, Ia mampu memahami maksud Tuhan dan hidup dalam relasi yang harmonis dengan kerabatnya. Kiranya minggu Advent III ini terus kita jalani sebagai orang percaya yang rendah hati, memahami maksud Tuhan, hidup damai dengan semua orang dan memberi diri dipakai menjadi alat penyelamatan-Nya. Hayatilah teladan iman Maria, teruslah bergembira dan muliakanlah Tuhan, baik dengan kata maupun tindakkan kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk dapat memuliakan-Mu. Amin.

Senin, 12 Desember 2022                                

bacaan : Mazmur 92 : 1 – 5

TUHAN, Hakim yang adil
Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (92-2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, 2 (92-3) untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, 3 (92-4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. 4 (92-5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.

Bersukacita Karena Pekerjaan Tuhan

Pemazmur menyaksikan hidup yang bersukacita dan akta iman ini layak kita teladani selama menjalani minggu Advent III. Hidup hendaknya kita lakoni dengan bersukacita bukan sedih, kecewa, bersungut, berbantah, putus asa, kuatir dan bimbang. Ada begitu banyak tanggung jawab yang mesti kita emban dan karenanya kita memerlukan kekuatan. Bersukacita adalah kekuatan atau daya hidup yang menggerakkan seluruh tanggung jawab dan membuat kita berhasil. Mari simak dengan saksama alasan atau sebab pemazmur bersukacita. Ia tidak bersukacita karena alasan yang manusiawi atau bendawi, tapi ilahi. Kita memang dapat bersukacita karena harta, kepintaran, jabatan, kecantikan dll, namun semua itu bukanlah segala-galanya. Alasan bersukacita yang sesungguhnya atau sejati adalah karena pekerjaan Tuhan. Tuhanlah pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Kita hidup dan berkarya karena kebaikan Tuhan yang tersedia pada seluruh ciptaan-Nya. Udara memungkinkan kita bernafas, tanah tempat  berpijak dan melakukan semua aktifitas, hujan yang membasahi dan menyejukkan juga menjamin ketersediaan air. Pandanglah laut yang membiru dengan gelombangnya atau hijaunya hutan karena segala kelimpahannya.  Hidup tak akan  ada artinya tanpa pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan adalah wujud sempurna kebaikan dan atas dasar itu pemazmur berkata adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada-Nya. Ia memandang baik pula untuk menyanyikan mazmur bagi Yang Mahatinggi dan memberitakan kasih setia-Nya di waktu pagi dan malam. Kebaikkan Tuhan dalam pekerjaan-Nya tak akan berakhir dan oleh sebab itu jangan pula lenyap kesukacitaan dalam hidupmu. 

Doa: ya Tuhan, biarlah kami tetap bersukacita karena pekerjaan-Mu. Amin.

Selasa 13 Desember 2022                        

bacaan : 2 Tawarikh 6 : 40 – 42 

40 Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya TUHAN Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu."

Bersukacita Karena Kehadiran Tuhan

Salomo dan bangsa Israel sukses menyelesaikan pembangunan Bait Allah serta mentahbiskannya. Mereka bersukacita dan bersyukur karena hal itu dan yang lebih penting karena meyakini bahwa Tuhan mendengar permohonan dan berkenan hadir. Menyelesaikan dan mentahbiskan Bait Allah bukanlah yang utama. Kehadiran Allah di dalamnya itulah yang utama. Bait Allah tanpa kehadiran Tuhan kehilangan artinya. Kehadiran Tuhan dalam Bait-Nya adalah hal yang menentukan dan oleh sebab itu Salomo bersama segenap bangsa Israel memanjatkan permohonan mereka. Nas hari ini dimulai dengan ungkapan: sebab itu ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka, dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini (ayat 40). Permohonan selanjutnya adalah dan sekarang, bangunlah ya Tuhan Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu. Inilah pelajaran tentang betapa pentingnya kehadiran Tuhan di tempat perhentian-Nya. Bait suci yang telah selesai dibangun dan ditahbiskan haruslah dijadikan tempat perhentian Tuhan. Kita boleh sukses menikahi kekasih idaman dalam pesta yang gemerlap, tapi tanpa kehadiran Tuhan dalam suatu pernikahan, besar risikonya. Siapapun boleh bermegah karena telah sukses membangun rumah tempat kediaman, namun bila Tuhan tidak hadir di dalamnya, sia-sialah semua itu. Jabatan dan posisi hebat boleh diraih, namun kelanjutan dan artinya terpelihara bila Tuhan hadir. Tapakilah hari-hari hidup ini sambil terus memohonkan kehadiran Tuhan. Mohonlah agar Tuhan berkenan hadir dalam tubuh kita, keluarga, pekerjaan, jemaat, gereja dan masyarakat. Orang-orang yang meyakini dan mengalami kehadiran Tuhan menjalani keberadaan mereka bagaikan seorang imam yang berpakaian keselamatan. Hidup kudus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat. Mereka bersukacita karena kebaikan Tuhan dan keturunannya diberkati di dunia ini. Bersukacitalah sebab Tuhan hadir dengan kuasa dan berkat-Nya dalam hidup  kita.   

Doa: ya Tuhan hadirlah agar sukacita kami alami dalam hidup ini.  Amin.  

Rabu  14 Desember 2022                                 

bacaan : Zefanya 3 : 9 – 15  

Janji keselamatan
9 "Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. 10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. 11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. 12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, 13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya." 14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! 15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.

Bersukacita Karena Tuhan Telah Memulihkan

Umat Israel bersukacita karena mereka mengalami kebaikan Tuhan yang memulihkan. Tindakkan pemulihan Tuhan yang dimaksud di sini adalah pemulangan dari pembuangan di Babel. Pembebasan dan pemulangan dari Babel dimaknai sebagai cara Tuhan memulihkan keberadaan umat pilihan-Nya. Mereka yang pulang dari Babel disebut sebagai sisa Israel (ayat 13). Sebutan sisa menunjuk pada pengertian “permulaan baru”. Umat diberi kesempatan untuk hidup dalam situasi dan kadar iman yang baru. Terbukalah peluang untuk dialaminya hidup baru di tanah pusaka mereka. Umat tak lagi hidup sebagai bangsa buangan atau merasa terbuang jauh dari hadapan Tuhan mereka. Hidup di tanah dan negeri sendiri serta dekat dengan Tuhan membuat bangsa pilihan ini bersukacita. Umat yang bersukacita itu disebut dalam ayat 14 nas hari ini. Bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! Kesaksian tentang tindakkan Tuhan yang memulihkan ini hendaknya menginspirasi kita selama menjalani minggu Advent III. Kebaikkan Tuhan tak akan pernah berakhir, selalu berlangsung “permulaan baru”. Pesan tentang “permulaan baru”, mendorong kita untuk hidup dengan semangat membarui diri. Jalanilah hidup dengan cara pandang, kesadaran, pikiran dan berbuatan yang baru. Hiduplah dengan “bibir yang bersih” agar kita layak memanggil nama Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Usahakanlah dan pelihara keutuhan, hindarilah hidup dalam pertengkaran serta perpecahan. Jadilah umat yang rendah hati di hadapan Tuhan dan carilah perlindungan pada-Nya. Jauhilah kelaliman, bicara bohong dan lidah penipu.   Yakinlah bahwa Ia akan memulihkan hidup kita dari keletihan, kesusahan, tekanan, kesalahan, dan kejatuhan serta keterpurkkan. Bersukacitalah karena kita pasti mengalami hidup yang dipulihkan Tuhan. Kita hidup seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.

Doa: Tuhan kami bersukacita  karena anugerah-Mu yang memulihkan. Amin.  

Kamis 15 Desember 2022                             

bacaan : Zefanya 3 : 16 – 20  

16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. 17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, 18 seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela. 19 Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi. 20 Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka," firman TUHAN.

Orang yang Bersukacita, Berani dan Kuat

Separuh dari hari-hari di bulan terakhir tahun ini telah kita masuki. Kita diminta untuk terus menjalani kehidupan dengan meyakini karya Tuhan yang memulihkan hidup. Kesaksian nabi Zefanya kembali meneguhkan semangat kita untuk menjalani hidup sebagai orang percaya yang berani dan kuat. Sama seperti bangsa Israel yang  pulang dari Babel, kitapun dapat saja mengalami rasa takut dan lemah. Hidup ini menjadi bermakna bila dijalani dengan berani dan kuat, bukan takut atau lemah. Rasa takut melemahkan, seolah-olah telah mengalami “patah” tangan. Tak ada hal apapun yang dikerjakan atau dihasilkan. Waktu atau kesempatan berlalu dengan sia-sia tanpa dimanfaatkan secara baik. Orang yang berani dan kuat mampu menjalani hidup dengan berpengharapan dan bersemangat. Nas hari ini mengaskan bahwa pengharapan dan kekuatan berasal dari Tuhan. Penegasan itu sebagaimana disebutkan dalam ayat 16 bacaan kita. “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.” Sambutlah kenyataan hidup dengan tetap bersukacita karena dari Tuhan akan datang kekuatan dan pengharapan. Pernyataan jangan takut merupakan penegasan yang membangkitkan semangat dan harapan untuk tetap bergantung kepada Tuhan. Bergantunglah pada Tuhan di tengah berbagai persoalan, tantangan bahkan godaan dari kekuatan kedagingan dan dunia ini. Menarik bahwa pernyataan jangan takut dalam Alkitab jumlahnya 365 kali. Angka ini sesuai dengan jumlah hari-hari dalam  satu tahun. Hal ini berarti bahwa penyertaan Tuhan melingkupi seluruh hari hidup kita.  Inilah alasannya mengapa kita harus menjalani hidup dengan berani dan kuat. Tetaplah beraktifitas, jangan menjadi lesu dan diam. Teruslah berkarya dan hasilkanlah prestasi, bersukacitalah senantiasa. Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan dan jadilah umat-Nya yang berani dan kuat. Ia ada di tengah-tengahmu dan membuat engkau tak akan mendapat cela atau malu, tapi kenamaan serta kepujian.   

Doa: Bapa Pengasih, jadikanlah kami berani dan kuat jalani hidup ini. Amin.  

Jumat  16 Desember 2022                                  

bacaan : Yoel 2 : 23 – 27  

23 Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. 24 Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. 25 Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. 26 Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. 27 Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya."

Bersukacita Karena Berkat Tuhan

Firman Tuhan di hari ini menyaksikan tentang ajakan nabi Yoel kepada umat pilihan atau yang disebut bani Sion untuk bersorak-sorak dan bersukacita. Alasannya adalah karena Tuhan telah memberikan atau menurunkan hujan pada awal dan akhir musimnya sesuai dengan kondisi seperti dahulu. Bani Sion pernah mengalami gagal panen baik gandum maupun buah anggur akibat serangan belelang. Serangan itu berskala besar karena dilakukan oleh berbagai jenis belalang, yakni pindahan, pelompat, pelahap dan pengerip. Umat Israel mengalami penderitaan hebat karena melanggar perintah dan kehendak Tuhan. Merka dihukum tapi kemudian mengalami pemulihan dari Tuhan. Kehidupan baru dialami karena apa yang diusahakan dalam hidup menjadi berhasil. Teruslah jalani minggu Advent III ini dalam keyakinan bahwa Tuhan pasti memberkati hidup kita. Tetaplah berusaha, sebab Tuhan pasti memberkati apapun yang kita usahakan dalam hidup ini. kita berusaha karena Tuhan pasti memberkatinya dan dari tempat usaha itu akan dibawa pulang sesuatu untuk memberi makan keluarga. Tuhan menghendaki kita agar terus bekerja atau melakukan pencarian. Baik di daratan, lautan, hutan, kantor, sekolah, kampus, toko, kios, perusahan, hotel, bengkel, angkot, kapal, mobil maupun di mana saja. Tempat di mana kita bekerja, berusaha atau mencari menjadi berarti karena di situ tersedia berkat Tuhan. Mari belajar dengar, pahami dan taat pada perintah atau kehendak Tuhan saat melakukan pekerjaan, agar Ia menyediakan berkat-Nya di tempat engkau berusaha. Bila usaha dalam hidupmu berhasil, engkau tak akan mendapat malu. Biarlah engkau dan seisi rumahmu menjadi kenyang dengan hasil usaha yang diberkati Tuhan. Hindarilah untuk memberi makan keluarga dari uasaha yang dikerjakan dengan tipu muslihat atau kejahatan. Percayalah kepada Dia sumber berkat itu dan kita pasti mengalami keajaiban-Nya. Bila telah kenyang karena berkat Tuhan, bersukacitalah dan pujilah nama-Nya.      

Doa : Tuhan buatlah kami bersukacita karena berkat-Mu. Amin.  

Sabtu, 17 Desember 2022                                    

bacaan : Ezra 6 : 19 – 22

19 Dan pada tanggal empat belas bulan pertama mereka yang pulang dari pembuangan merayakan Paskah. 20 Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri. 21 Orang-orang Israel yang pulang dari pembuangan memakannya dan demikian juga setiap orang yang memisahkan diri dari kenajisan bangsa-bangsa negeri itu lalu menggabungkan diri kepada mereka, untuk berbakti kepada TUHAN, Allah Israel. 22 Lagipula mereka merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dengan sukacita, tujuh hari lamanya, karena TUHAN telah membuat mereka bersukacita; Ia telah memalingkan hati raja negeri Asyur kepada mereka, sehingga raja membantu mereka dalam pekerjaan membangun rumah Allah, yakni Allah Israel.

Dalam Tuhan Ada Sukacita

Berbagai persoalan hidup acapkali membuat kita mengalami kebimbangan, kekuatiran juga putus asa dan karenanya  hilanglah sukacita. Sukacita dialami ketika kita dapat mengatasi atau terbebas dari persoalan yang dihadapi. Hal seperti ini juga yang dialami dan dirasakan oleh bangsa Israel. Pembangunan bait Allah yang dilakukan oleh tua-tua orang Yahudi, dapat terselesaikan pada tahun ke enam zaman pemerintahan Darius raja Persia. Pentahbisan bait Allah dirayakan dengan sukaria oleh bangsa Israel yakni para imam dan orang-orang Lewi serta mereka yang pulang dari pembuangan. Para imam dan orang-orang Lewi mentahirkan diri dari kenajisan dan menyembelih anak domba Paskah, bagi semua orang yang pulang dari pembuangan dan merayakan Paskah. Hari raya Roti Tidak Beragi juga dirayakan dengan penuh sukacita. Paskah dirayakan agar bangsa Israel selalu mengingat bagaimana Allah telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir (Kel. 12-13). Darah domba Paskah mengingatkan Israel pada darah yang dioleskan di pintu rumah oleh nenek moyang mereka dahulu. Akta pengolesan darah anak domba terjadi  sebelum Allah menjatuhkan tulah yang kesepuluh atas orang Mesir. Roti tidak beragi disantap saat perayaan Paskah dan dilanjutkan selama tujuh hari. Kedua perayaan yang dilakukan saat kembali dari pembuangan dengan sukacita itu mengambarkan respon bangsa Israel atas kasih dan penyertaan Allah. Kasih dan penyertaan Allah mereka alami dalam hidup. Pengalaman ini mengajarkan kepada kita secara pribadi, keluarga maupun sebagai persekutuan bergereja bahwa seberat apapun persoalan yang dihadapi, tetaplah percaya kepada kuasa Allah. Kuasa Allah yang membebaskan pernah dialami bangsa Israel, maka sebagai umat yang percaya-Nya, kitapun meyakininya. Allah di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus berkuasa membebaskan kita dari berbagai persoalan hidup. Dia-lah sumber pengharapan, sukacita dan damai sejahtera.

Doa: ya Tuhan, sumber sukacita peliharalah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan DESEMBER 2022, LJP-GPM

Tinggalkan komentar