Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Maret 2024

Tema Bulanan : Berdayakan Ekonomi dan Hidup Sejahtera bersama Yesus Sang Penyelamat

Tema Mingguan : Pndanglah Tuhan dan Entaskan Kemiskinan

Minggu, 03 Maret 2024

bahan bacaan : Matius 19: 16-26

Orang muda yang kaya
16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." 18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 20 Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" 21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 26 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

Pakailah Hartamu Untuk Menyalurkan Kasih Tuhan
Apakah salah menjadi orang kaya sehingga Tuhan Yesus berkata bahwa orang kaya sukar sekali untuk masuk ke dalam Kerjaan surga ? Tidak! Yesus tidak membenci orang kaya dan tidak melarang orang untuk memiliki harta kekayaan. Yesus mengecam orang yang bergantung pada harta kekayaannya dan menjadikannya pegangan hidup untuk menggantikan Tuhan. Selain itu, ia menjadi tidak peka terhadap kehidupan disekitamya dan mengabaikan orang-orang miskin yang membutuhkan pertolongannya. Ia gagal melihat kehadiran Tuhan di dalam diri orang-orang kecil, sebab yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana harus mempertahankan dan menambah kekayaan. Inilah yang menjadi batu sandungan bagi orang kaya untuk memperoleh kehidupan kekal. Melalui kisah di minggu sengsara ketiga ini kita belajar bahwa harta kekayaan yang kita peroleh melalui usaha dan kerja keras, hendaknya disyukuri lalu digunakan demi kebaikan dan kemuliaan Tuhan. Harta yang kita miliki jangan menjadi batu sandungan untuk mengikut Tuhan. Jangan pula mematikan rasa untuk peduli bagi sesama yang miskin. Melalui harta yang dimiliki, kita diajak untuk menyalurkan kasih Tuhan kepada sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Hanya dengan begitu harta tidak menjadi batu sandungan untuk memperoleh hidup kekal.

Doa: Tuhan, kami mau menyalurkan kasih dan berkat-Mu bagi sesama. amin.

Senin, 04 Maret 2024

bahan bacaan : Amsal 22:7-9

7 Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. 8 Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. 9 Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

Membagi Rezeki Dengan Orang Miskin Diberkati
Kenyataan suka berhutang sering kita temui dalam kehidupan orang Kristen. Bukan hanya orang yang lemah dan miskin, orang dengan pekerjaan pun terkadang berhutang. Hutang bukanlah sesuatu yang keliru, jika itu demi kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda dan memang karena tidak memiliki uang sama sekali. Zaman sekarang, orang yang berhutang biasanya diberikan pinjaman dengan bunga pinjaman yang harus diganti. Jika tidak bisa mengganti maka ada sanksi, misalnya penyitaan barang. Berbeda dengan zaman lampau, orang kaya ada yang memberi hutang kepada orang-orang lemah kadang disertai keinginan untuk menjadikan mereka budak. Ada juga orang kaya raya, tetapi menjadi sombong dan tidak mau peduli atau berbagi dengan orang lain di sekitar. Sungguh ironi!. Oleh karena itu, firman Tuhan ini mengingatkan, mari kita menjadi orang-orang baik yang tidak memiliki tujuan jahat ketika hendak membantu orang lain. Sesungguhnya kita tidak akan berkekurangan jika kita menolong orang-orang miskin dari kesulitannya dan dari kejahatan orang kaya yang tidak lurus hatinya. Ingatlah, membagi rezeki dengan orang miskin dan lemah akan diberkati.

Doa: Ya Allah, tolonglah kami untuk terus hidup berbagi berkat dengan orang miskin, amin.

Selasa, 05 Maret 2024

bahan bacaan : Amsal 28:27

27 Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.

Memberi Kepada Orang Miskin Tak akan Kekurangan
Pengamsal dalam nas bacaan hari ini mengingatkan kita akan satu hal penting yaitu hidup berbagi. Di tengah situasi dan kondisi hidup yang semakin sulit seperti sekarang ini, kita diingatkan untuk tidak lupa berbagi dengan orang lemah dan miskin. Kenyataannya, orang miskin selalu ada di sekitar kita, di tengah-tengah kehidupan warga jemaat. Ada juga orang kaya atau yang memiliki kelebihan secara materi. Tetapi tidak semua orang kaya atau yang berkelebihan memiliki kemauan untuk menolong atau berbagi dengan orang-orang miskin di sekitarnya. Perhatikan apa yang firman Tuhan
katakan: “Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan”. atau Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan” (Amsal 11:25). Firman Tuhan justru mengajarkan kita untuk suka memberi, terutama memberi kepada orang yang miskin. Karena itu, mari gunakan berkat yang Tuhan berikan untuk menolong orang miskin yang ada di tengah jemaat dan masyarakat. Yakinlah bahwa
kita tidak akan berkekurangan ketika memberi kepada yang miskin. Tuhan Sumber berkat senantiasa
menganugerahkan berkat-Nya dalam hidup kita. Maka teruslah berbagi. Banyak atau sedikit bukanlah ukuran, asalkan disertai ketulusan.

Doa: Ya Tuhan, kami mau terus hidup berbagi dengan orang yang miskin, Amin

Rabu, 06 Maret 2024

bahan bacaan : Amsal 31:16-20

16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. 17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. 18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. 19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. 20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Ulurkanlah Tangan Bagi Yang Miskin Dan Tertindas
Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, melakukan kebaikan merupakan suatu kewajiban bagi kita. Hal ini sekaligus menyatakan ungkapan rasa syukur kita karena Tuhan telah terlebih dahulu melakukan kebaikan. Ia mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Melakukan kebaikan telah menjadi gaya hidup isteri yang cakap dalam gambaran Amsal 31: 20 nas hari ini. Meskipun ia mendapatkan banyak keuntungan dari kerja kerasnya mengupayakan ladang dan tangannya yang tidak berhenti memintal, ia tidak melupakan orang lain. Ia senantiasa mengulurkan tangannya bagi yang miskin dan tertindas. Itulah sebabnya ia dihargai dan seisi keluarganya pun dihormati. Gaya hidup isteri yang cakap ini baik untuk dicontohi. Tidak hanya oleh isteri atau perempuan dalam keluarga yang berperan untuk mengatur segala keperluan rumah tangga, melainkan juga kita semua diingatkan hal yang sama. Jangan mengeraskan hati dan tangan bilamana kita melihat orang yang miskin dan tertindas. Ulurkanlah tangan bagi mereka. Tidak ada kata sia-sia bagi orang yang bermurah hati atau berbuat baik kepada orang lain! Di dalam Amsal 19:17 tertulis: “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas
perbuatannya itu.” Jadi, orang yang berbuat baik kepada orang lain sesungguhnya sedang melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri, sebab Tuhan pasti membalas perbuatan baiknya itu.

Doa: Kami mau mengulurkan tangan bagi yang miskin dan tertindas, Amin.

Kamis, 07 Maret 2024

bahan bacaan : Galatia 2:9-10

9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; 10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

Hidup Bersama Yang Saling Memberdayakan
Setiap manusia memiliki kemampuan di dalam dirinya. Kemampuan pada dirinya dimaknai sebagai anugerah dari Tuhan. Anugerah Tuhan berwujud dalam seluruh tindakan atau perbuatan yang dapat dirasakan oleh orang lain. Kemampuan seseorang yang merupakan anugerah itu hendaknya diwujudkan dengan saling menopang atau saling memberdayakan satu dengan yang lain. Setiap orang telah dianugerahkan Tuhan dengan potensi yang berbeda-beda. Keragaman potensi itu haruslah menjadi kekuatan bersama bagi terwujudnya hidup bersama yang adil dan bahagia. Kebahagiaan akan tercipta jika sikap hidup saling menopang terwujud dalam hidup bersama. Kebahagiaan itu tidak akan terwujud jika kita hanya hidup untuk diri saja. Sebaliknya, melalui kebersamaan yang saling menopang maka kebahagiaan akan terwujud. Hidup bersama yang saling memberdayakan adalah tanggung jawab iman setiap orang percaya. Hindarilah sikap iri hati, dengki, amarah, perseteruan hingga perpecahan. Hal-hal itu akan menjadi penghambat dalam mewujudkan hidup bersama yang sejahtera. Wujudkanlah hidup bersama yang saling memberdayakan sebagai tanggung jawab iman terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Doa: Kuatkanlah kami ya Tuhan agar mampu hidup saling menopang. Amin.

Jumat, 08 Maret 2024

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 4:1-7

Minyak seorang janda
Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." 2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."

Percayalah Pada Tuhan Dan Jadilah Berkat
Hidup menawarkan banyak hal entah yang baik atau buruk. Ada kebahagiaan tetapi ada jua tantangan yang menerpa kehidupan khususnya hidup orang percaya. Tantangan dalam hidup sosial, ekonomi bahkan secara iman pun tidak dapat terelakkan dalam perjalanan hidup sebagai orang-orang percaya. Ketika berhadapan dengan tantangan atau kesulitan, orang percaya perlu menempuh sikap memaknai. Sikap hidup tersebut merupakan cara terbaik menghadapi setiap kenyataan hidup. Orang percaya harus menaruh iman dan pengharapan seutuhnya kepada Tuhan sekalipun ada tantangan atau
kesulitan. Tantangan atau kesulitan bukanlah penghalang dalam mewujudkan tujuan hidup. Tantangan atau kesulitan harus dipahami sebagai cara Tuhan untuk membentuk iman dan percaya kepada-Nya. Hal penting lainnya yang layak diaktakan sebagai wujud beriman kepada Tuhan adalah saling membantu. Akta ini harus diwujudkan baik dalam keluarga dan hidup bersama di gereja maupun masyarakat. Saling membantu atau saling menopang adalah wujud menjadi berkat bagi sesama maupun semesta. Oleh sebab itu, percayalah kepada Tuhan, yakinilah bahwa Ia selalu menyertai dan memberi segala yang diperlukan. Jadi akhirnya ingatlah bahwa percaya kepada Tuhan harus pula diwujudkan dengan cara menjadi saluran berkat bagi sesama manusia bahkan bagi seluruh alam semesta. Itulah wujud iman atau percaya kepada Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami agar dapat menjadi saluran berkat bagi sesama dan semesta. Amin.

Sabtu, 09 Maret 2024

bahan bacaan : Nehemia 5 : 1-13

Nehemia memperhatikan keluhan-keluhan sesama orang Yahudi
Maka terdengarlah keluhan yang keras dari rakyat dan juga dari pihak para isteri terhadap sesama orang Yahudi. 2 Ada yang berteriak: "Anak laki-laki dan anak perempuan kami banyak dan kami harus mendapat gandum, supaya kami dapat makan dan hidup." 3 Dan ada yang berteriak: "Ladang dan kebun anggur dan rumah kami gadaikan untuk mendapat gandum pada waktu kelaparan." 4 Juga ada yang berteriak: "Kami harus meminjam uang untuk membayar pajak yang dikenakan raja atas ladang dan kebun anggur kami. 5 Sekarang, walaupun kami ini sedarah sedaging dengan saudara-saudara sebangsa kami dan anak-anak kami sama dengan anak-anak mereka, namun kami terpaksa membiarkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami menjadi budak dan sudah beberapa anak perempuan kami harus membiarkan diri dimiliki orang. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, karena ladang dan kebun anggur kami sudah di tangan orang lain." 6 Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. 7 Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: "Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!" Lalu kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar. 8 Berkatalah aku kepada mereka: "Kami selalu berusaha sedapat-dapatnya untuk menebus sesama orang Yahudi yang dijual kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi kamu ini justru menjual saudara-saudaramu, supaya mereka dibeli lagi oleh kami!" Mereka berdiam diri karena tidak dapat membantah. 9 Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu harus berlaku dengan takut akan Allah kita untuk menghindarkan diri dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita? 10 Juga aku dan saudara-saudaraku dan anak buahku telah membungakan uang dan gandum pada mereka. Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu! 11 Biarlah kamu kembalikan kepada mereka hari ini juga ladang mereka, kebun anggur, kebun zaitun dan rumah mereka, pula hapuskanlah hutang mereka, yakni uang serta gandum, anggur dan minyak yang kamu tagih dari pada mereka!" 12 Berkatalah mereka: "Itu akan kami kembalikan! Dan kami tidak akan menuntut apa-apa dari mereka. Kami akan lakukan tepat seperti yang engkau perintahkan!" Lalu aku memanggil para imam dan menyuruh mereka bersumpah, bahwa mereka akan menepati janji mereka. 13 Juga kukebas lipatan bajuku sambil berkata: "Demikianlah setiap orang yang tidak menepati janji ini akan dikebas Allah dari rumahnya dan hasil jerih payahnya. Demikianlah ia dikebas dan menjadi hampa!" Dan seluruh jemaah berkata: "Amin," lalu memuji-muji TUHAN. Maka rakyat berbuat sesuai dengan janji itu.

Pemimpin Yang Berkenan Kepada Tuhan
Perjalanan hidup bangsa Israel bukanlah sesuatu yang baik atau mulus saja. Pengalaman bangsa Israel menjadi pengalaman iman dan merupakan pelajaran bagi semua orang percaya. Pengalaman hidup tersebut bukan hanya yang baik tetapi juga yang tidak baik. Kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh bangsa Israel merupakan kenyataan bahwa masih banyak orang ternyata hidup hanya memikirkan dirinya sendiri. Sikap hidup yang hanya mementingkan diri sendiri disebabkan karena ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki sehingga menindas orang lain bahkan mengambil milik sesama. Terhadap kenyataan hidup seperti itu maka perlu ada sosok seorang pemimpin yang dapat bertanggung jawab bagi kepentingan semua orang. Sikap hidup Nehemia menjadi pelajaran iman bagi setiap orang percaya. Pemimpin harus mampu mendengarkan keluhan dari masyarakat atau umat. Hal ini penting sebab terkadang dengan menjadi pemimpin maka hanya kepentingan pribadi yang diutamakan dibandingkan kepentingan bersama. Tanggung jawab yang diemban merupakan anugerah Tuhan. Olehnya itu, sudah sepatutnya dalam menjalankan tanggung jawab tersebut harus menunjukkan teladan kebaikan bagi semua orang. Kebaikan diwujudkan melalui berbagai keputusan yang bermanfaat bagi semua orang. Dengan demikian, maka terwujudlah sikap hidup seorang pemimpin yang berpadanan dengan kehendak Tuhan.

Doa: ya Allah, layakkanlah kami untuk menjadi hambaMu yang setia. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2024, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar