Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik
Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga yang Ramah Lingkungan
Minggu, 7 Juni 2026
bahan bacaan : Yeremia 4 : 22 – 28 (TB2)
22 "Sungguh, umat-Ku itu bodoh, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pandai berbuat jahat, tetapi tidak tahu berbuat baik." 23 Aku melihat bumi, ternyata belum berbentuk dan kacau balau, dan melihat langit, tidak ada terangnya. 24 Aku melihat gunung-gunung, ternyata guncang; seluruh bukitpun goyang. 25 Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari terbang. 26 Aku melihat, ternyata tanah subur sudah menjadi padang gurun, dan semua kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala! 27 Sebab beginilah firman TUHAN: "Seluruh negeri ini akan menjadi sunyi sepi, tetapi Aku tidak akan membuatnya habis sama sekali. 28 Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, dan merencanakannya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan berbalik dari hal itu."
Gereja Rumah Tangga yang Ramah Lingkungan
Ada Ironi yang menyakitkan: manusia begitu cerdas untuk merusak, tetapi sering kali lalai untuk menjaga. Kita tahu cara mengeksploitasi sumber daya, tetapi lupa cara memelihara. Kita pandai mengambil keuntungan, namun gagal merawat dengan tanggung jawab. Akibatnya, bumi menjadi saksi bisu dari keserakahan dan ketidakpedulian manusia. Nabi Yeremia memandang kehancuran yang terjadi bukan sekadar bencana alam, melainkan sebagai krisis spiritual. Ketika relasi manusia dengan Allah rusak, relasi dengan sesama dan dengan alam pun ikut rusak. Karena itu, persoalan lingkungan bukan hanya isu ekologis, tetapi juga persoalan iman. Cara kita memperlakukan bumi mencerminkan sikap hati kita kepada Sang Pencipta. Gereja rumah tangga tidak boleh menutup mata terhadap panggilan ini. Iman tidak cukup dinyatakan lewat nyanyian dan doa, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata di rumah. Ketika keluarga memilih hidup sederhana, tidak serakah, mengurangi pemborosan, dan menjaga lingkungan, iman menjadi konkrit. Kita tidak hanya percaya kepada Allah, tetapi juga setia merawat ciptaan-Nya sebagai wujud syukur, ketaatan, dan tanggung jawab iman.
Doa: Ya Tuhan, tolong kami agar selalubersikap ramah terhadap alam Amin.
Senin, 8 Juni 2026
bahan bacaan : Mazmur 95 : 1 -5 (TB2)
Peringatan pada umat gembalaan TUHAN
Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. 2 Marilah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. 3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, Raja yang besar diatas segala ilah. 4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun milik-Nya. 5 Laut milik-Nya, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.
Laut Milik Tuhan, Jangan Mencemarinya
Kita Sering kali hidup seolah-olah dunia ini milik kita sepenuhnya. Kita mengambil, memakai, dan membuang sesuka hati tanpa berpikir panjang. Kita bertindak seperti pemilik, padahal sesungguhnya kita hanyalah pengelola yang dipercayakan tanggung jawab oleh Tuhan. Pemazmur mengingatkan dengan tegas bahwa laut adalah milik Tuhan dan daratan adalah karya tangan-Nya. Seluruh bumi berada dalam kedaulatan-Nya. Jika demikian, setiap tindakan merusak alam bukan sekadar kesalahan sosial, tetapi juga dosa spiritual. Kita tidak hanya mencemari lingkungan; kita sedang merendahkan karya Allah. Kita tidak hanya menebang pohon sembarangan atau membuang sampah sembarangan; kita sedang mengabaikan Sang Pencipta yang mempercayakan bumi kepada kita. Ketidakpedulian menjadi tanda hati yang jauh dari rasa syukur. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah ini berdampak bagi lingkungan?” tetapi, “Apakah ini menghormati Tuhan?” Sebab iman tidak berhenti pada liturgi di gereja, melainkan nyata dalam etika hidup sehari-hari. Cara kita memperlakukan alam mencerminkan cara kita memandang Allah. Ketika kita menjaga, merawat, dan menggunakan dengan bijak, di situlah iman diwujudkan dalam ketaatan dan kasih yang konkrit.
Doa: Ya Tuhan, kami hormati ciptaanMu, Amin.
Selasa, 9 Juni 2026
bahan bacaan : Ulangan 20: 19 – 20 (TB2)
19 Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kaukepung. 20 Hanya pohon-pohon, yang engkau tahu tidak menghasilkan makanan, boleh kaurusakkan dan kautebang untuk mendirikan pagar pengepungan terhadap kota yang berperang melawan engkau, sampai kota itu jatuh."
Tidak Merusak Pohon, Merawat Kelestariannya
Di tengah perang, situasi paling keras dan brutal, Tuhan tetap memberi batas: jangan merusak pohon. Mengapa? Karena bahkan dalam konflik, kehidupan tetap harus dijaga. Pohon adalah ciptaan Tuhan yang sangat menopang kehidupan. Kita bisa bernapas karena oksigen yang keluar dari proses fotosintesis pohon. Kita bisa menikmati air segar karena akar pohon tertanam kuat menjaganya didalam tanah. Tuhan tidak pernah mengizinkan manusia menghancurkan masa depan demi kemenangan sesaat. Tetapi manusia sering memilih jalan sebaliknya. Kita menukar masa depan dengan keuntungan instan. Kita menebang habis pohon-pohon dan mengorbankan keberlanjutan demi kenyamanan. Kita tahu dampaknya, tetapi tetap melakukannya. Ini bukan sekadar kesalahan, ini pilihan sadar untuk tidak taat. Iman yang sejati menuntut keberanian untuk berkata “cukup”. Cukup merusak, cukup mengambil, cukup mengabaikan. Keluarga dipanggil menjadi tempat di mana nilai itu diajarkan: bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang generasi yang akan datang. Menanam dan merawat pohon, menjaga kehidupan ribuan tahun ke depan.
Doa: Ya Tuhan, bimbinglah kami untuk merawat alam ciptaanMu. Amin.
Rabu, 10 Juni 2026
bahan bacaan : Yesaya 41 : 17 – 20 (TB2)
17 Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. 18 Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. 19 Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, 20 supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.
Merawat Bumi, Merawat Kehidupan
Allah kita adalah Allah yang memulihkan. Ia menghadirkan air di tempat kering, menumbuhkan pohon di tanah tandus. Ia tidak menyerah pada kehancuran. Ia menciptakan kehidupan di tengah kematian. Itulah yang Yesaya gambarkan dalam teks hari ini. perbuatan dosa manusia berimplikasi pada rusaknya alam. Sebab itu umat diingatkan untuk bertobat dari perilakunya yang keliru. Dengan begitu, janji pemulihan akan berlaku. Ya, Allah selalu mau memuihkan keadaan yang rusak dan hancur, termasuk hidup manusia. Namun pertanyaannya: di mana posisi kita? Apakah kita ikut ambil bagian dalam pemulihan yang dilakukan Allah, atau justru menjadi bagian dari kerusakan? Kita tidak bisa terus berdoa “Tuhan pulihkan bumi,” tetapi hidup dengan cara yang merusaknya. Doa tanpa tindakan adalah ilusi rohani. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk berharap, tetapi untuk bertindak. Setiap langkah kecil adalah bagian dari karya besar Allah. Ketika kita memilih untuk peduli, kita sedang ikut menulis kisah pemulihan. Melalui kesetiaan kecil kita, Tuhan bekerja memulihkan dunia ini sedikit demi sedikit.
Doa: Ya Tuhan,kami mau merawat kelangsungan bumi pemberianMu ini. Amin
Kamis, 11 Juni 2026
bahan bacaan : Yehezkiel 36 : 33 – 36 (TB2)
33 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali. 34 Tanah yang sudah lama tinggal tandus akan dikerjakan kembali, supaya jangan lagi tetap tandus di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 35 Sebaliknya mereka akan berkata: Tanah ini yang sudah lama tinggal tandus menjadi seperti taman Eden dan kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan musnah, sekarang didiami dan menjadi kubu. 36 Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.
Membangun Kembali “Taman Eden” di Rumah Kita
Bayangkan jika setiap rumah tangga Kristen menjadi agen perubahan lingkungan. Tanah yang tadinya mati diubah menjadi asri dengan memulai kebun kecil di halaman, mengelola sampah dapur menjadi kompos, atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sesungguhnya, rumah yang hijau dan tertata adalah cerminan dari jiwa yang dipelihara oleh Tuhan. Dalam perikop ini, nabi Yehezkiel menyampaikan janji pemulihan Allah yang luar biasa. Allah tidak hanya memulihkan kerohanian umat-Nya, tetapi juga memulihkan tanah yang tadinya tandus dan rusak menjadi seperti Taman Eden.Yehezkiel berkata, ”Maka bangsa-bangsa yang tertinggal di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah runtuh…” (ay. 36) Menjadi “Gereja rumah tangga yang ramah lingkungan” berarti menyadari bahwa bumi adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Pemulihan yang dijanjikan dalam Yehezkiel bukan hanya soal gedung, tapi soal kehidupan yang bersemi kembali di atas tanah yang diinjak. Mari kita renungkan: apakah gaya hidup rumah tangga kita saat ini sudah mencerminkan “Taman Eden” yang memuliakan Tuhan, atau justru menambah beban bagi bumi ciptaan-Nya?
Doa : Tuhan, kami mau berserah kepadaMu karena hanya Engkau yang sanggup memulihkan hidup kami. Amin
Jumat, 12 Juni 2026
bahan bacaan : Yesaya 24 : 1 -13 (TB2)
Bumi dihancurkan
Sesungguhnya, TUHAN akan menanduskan bumi dan akan menghancurkannya, akan membalikkan permukaannya, dan akan menyerakkan penduduknya. 2 Maka seperti nasib rakyat demikianlah nasib imam, seperti nasib hamba laki-laki demikianlah nasib tuannya, seperti nasib hamba perempuan demikianlah nasib nyonyanya, seperti nasib pembeli demikianlah nasib penjual, seperti nasib peminjam demikianlah nasib yang meminjamkan, seperti nasib orang yang berhutang demikianlah nasib orang yang berpiutang. 3 Bumi akan ditanduskan setandus-tandusnya, dan akan dijarah sehabis-habisnya, sebab Tuhanlah yang mengucapkan firman ini. 4 Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. 5 Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. 6 Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit. 7 Air anggur tidak menggirangkan lagi, pohon anggur merana, dan semua orang yang bersukahati mengeluh. 8 Kegirangan suara rebana sudah berhenti, keramaian orang-orang yang beria-ria sudah diam, dan kegirangan suara kecapi sudah berhenti. 9 Tiada lagi orang minum anggur dengan bernyanyi, arak menjadi pahit bagi orang yang meminumnya. 10 Kota yang kacau riuh sudah hancur, setiap rumah sudah tertutup, tidak dapat dimasuki. 11 Orang menjerit di jalan-jalan karena tiada anggur, segala sukacita sudah lenyap, kegirangan bumi sudah hilang. 12 Yang terdapat dalam kota hanya kerusakan, pintu gerbang telah didobrak dan runtuh. 13 Sebab beginilah akan terjadi di atas bumi, di tengah-tengah bangsa-bangsa, yaitu seperti pada waktu orang menjolok buah zaitun, seperti pada waktu pemetikan susulan, apabila panen buah anggur sudah berakhir.
Memuliakan Tuhan Dengan Merawat Bumi
Yesaya menegaskan bahwa kehancuran bumi bukan sekadar fenomena alam, melainkan akibat dari perilaku manusia yang “melanggar undang-undang” Allah. Dalam konteks modern, kita sering lupa bahwa mandat budaya yang diberikan Allah adalah untuk mengusahakan dan memelihara (Kejadian 2:15), bukan mengeksploitasi tanpa batas. Ketika rumah tangga kita menjadi konsumtif secara berlebihan, membuang limbah tanpa tanggung jawab, atau mengabaikan kelestarian, kita sedang “membatalkan perjanjian” dengan Sang Pencipta. Gereja rumah tangga harus menyadari bahwa dosa ekologis dimulai dari gaya hidup yang tidak ramah di dalam rumah sendiri. Tindakan kecil di rumah (seperti menanam pohon atau mengompos) mungkin terlihat sepele dibandingkan kerusakan global, namun di mata Tuhan, itu adalah pernyataan iman bahwa kita masih menghormati Perjanjian Kekal-Nya. Kesehatan bumi adalah cermin dari kesehatan spiritualitas keluarga kita. Mari jadikan rumah kita bukan sekadar tempat tinggal, melainkan markas “Gereja Hijau” yang memuliakan Tuhan dengan cara mencintai ciptaan-Nya. Jangan biarkan bumi layu karena kelalaian kita, biarlah ia bersemi karena kasih kita yang mengakar pada firman Tuhan.
Doa: Tuhan, ajarkan kami untuk tidak mencemarkan bumi agar bumi tetap memberikan kehidupan. Amin
Sabtu, 13 Juni 2026
bahan bacaan : Ayub 28 : 1 – 11 (TB2)
Manusia tidak dapat menemukan hikmat
"Memang ada tempat orang menambang perak dan tempat orang melimbang emas; 2 besi digali dari dalam tanah, dan dari batu dilelehkan tembaga. 3 Orang menyudahi kegelapan, dan batu diselidikinya sampai sedalam-dalamnya, di dalam kekelaman dan kelam pekat. 4 Orang menggali tambang jauh dari tempat kediaman manusia, mereka dilupakan oleh orang-orang yang berjalan di atas, mereka melayang-layang jauh dari manusia. 5 Tanah yang menghasilkan pangan, dibawahnya dibongkar-bangkir seperti oleh api. 6 Batunya adalah tempat menemukan lazurit yang mengandung emas urai. 7 Jalan ke sana tidak dikenal seekor burung buaspun, dan mata elang tidak melihatnya; 8 binatang yang ganas tidak menginjakkan kakinya di sana dan singa tidak melangkah melaluinya. 9 Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya; 10 di dalam gunung batu ia menggali terowongan, dan matanya melihat segala sesuatu yang berharga; 11 air sungai yang merembes dibendungnya, dan apa yang tersembunyi dibawanya ke tempat terang.
Jangan Serakah Terhadap Alam
Tuhan menitipkan bumi ini kepada kita. Gunung dan bukit-bukit yang menjulang tinggi, tanah dan sungai yang mengalir mengairi lembah-lembah tidak hanya menyenangkan mata yang memandangnya tetapi jauh di perut bumi ini mengandung kekayaan yang sungguh menggiurkan. Ayub 28:1-11 ini memperlihatkan kecerdasan manusia dalam mengolah alam, namun kecerdasan tanpa hikmat hanya akan berakhir pada eksploitasi. Dengan segala ilmu teknologi dan kepandaian manusia telah membongkar habis tanah dan gunung sampai ke akar-akarnya untuk mencari harta. Manusia mengabaikan tanggung jawab untuk menjaga ciptaan agar tanah tetap menghasilkan makanan. Keserakahan manusia mengakibatkan kerusakan parah yang pada gilirannya berdampak pada kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Firman Tuhan ini mengingatkan, mari jadikan gereja rumah tangga kita sebagai tempat di mana: edukasi ekologi menjadi bagian dari doa keluarga. Pemanfaatan sumber daya dilakukan dengan rasa syukur, bukan keserakahan dan keindahan alam dijaga sebagai cermin kemuliaan Tuhan.
Doa: Tuhan, mampukan kami menjadi penjga ciptaanMu yang setia, dimulai dari rumah kami, Amin
*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2026, LPJ-GPM