Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital
Tema Mingguan : Gereja Tekun Mendidik Keluarga Untuk Menjadi Berkat Bagi Masyarakat
Minggu, 19 Juli 2026
bahan bacaan : Kejadian 24 : 22 – 49 (TB2)
22 Setelah unta-unta itu selesai minum, orang itu mengambil anting-anting emas seberat setengah syikal sepasang gelang tangan seberat sepuluh syikal emas, 23 serta berkata: "Anak siapakah engkau? Tolong katakan kepadaku! Adakah tempat bermalam bagi kami di rumah ayahmu?" 24 Ia menjawab kepadanya: "Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor." 25 Kata gadis itu lagi: "Baik jerami, maupun pakan ternak ada banyak pada kami, tempat bermalampun ada." 26 Lalu orang itu berlutut dan sujud menyembah TUHAN, 27 serta berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak melepaskan kasih-Nya dan kesetiaan-Nya dari tuanku itu; akupun telah TUHAN tutun di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!" 28 Anak gadis itu berlari lalu menceritakan kejadian itu kepada seisi rumah ibunya. 29 Ribka mempunyai saudara laki-laki, bernama Laban. Laban berlari ke luar menemui orang itu, ke mata air tadi, 30 sesudah ia melihat anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan mendengar Ribka, saudaranya, berkata: "Begitulah dikatakan orang itu kepadaku." Ia menemui orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya dekat mata air itu, 31 Ia berkata: "Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, aku telah menyediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu." 32 Lalu orang itu masuk ke dalam rumah. Pelana unta-unta dilepas, jerami dan pakan diberikan kepada unta-unta itu, dan air pembasuh kaki kepada orang itu serta orang-orang yang bersama dengan dia. 33 Tetapi ketika makanan dihidangkan di depannya, berkatalah orang itu: "Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini." Jawab Laban: "Katakan!" 34 Lalu ia berkata: "Aku ini hamba Abraham. 35 TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. 36 Sara, isteri tuanku itu, dimasa tuanya, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu tuanku telah memberikan segala harta miliknya. 37 Tuanku itu telah mengambil sumpahku, katanya: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan orang Kanaan, yang negerinya kudiami ini, 38 melainkan engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku. 39 Jawabku kepada tuanku itu: Mungkin perempuan itu tidak mau mengikut aku. 40 Tetapi katanya kepadaku: TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku. 41 Engkau hanya dapat terlepas dari sumpahmu kepadaku, jika engkau sampai kepada kaumku dan mereka tidak memberikan perempuan itu kepadamu; hanya dalam hal itulah engkau terlepas dari sumpahmu kepadaku. 42 Hari ini aku sampai ke mata air tadi, dan aku berkata, TUHAN, Allah tuanku Abraham, jika Engkau berkenan membuat perjalanan yang kutempuh ini berhasil. 43 lihatlah aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari kendimu itu, 44 dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu pun akan kutimba air, maka dialah isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu. 45 Sebelum aku selesai berkata dalam hatiku, Ribka datang membawa kendi di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum. 46 Ia segera menurunkan kendi itu dari atas bahunya serta berkata: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum. Lalu aku minum, dan unta-unta itu juga diberinya minum. 47 Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Aku anak Betuel bin Nahor. Betuel itu dilahirkan Milka bagi Nahor. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya. 48 Kemudian aku berlutut dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya. 49 Sekarang, jika kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; Jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku berpaling entah ke kanan atau ke kiri."
Berkat yang Meluap dari Rumah
Teks Kejadian 24:22-49 memberi sebuah kebenaran penting: karakter hebat tidak jatuh dari langit, melainkan dibentuk dalam keluarga. Secara teologis, tindakan Ribka memberi minum sepuluh unta adalah iman yang bekerja. Memberi minum satu orang itu biasa, tapi memberi minum sepuluh unta yang haus butuh ketulusan dan kerja keras luar biasa. Ini membuktikan bahwa di rumahnya, Ribka sudah dididik untuk peduli pada sesama tanpa pilih-pilih.Rumah adalah “laboratorium” kebaikan. Jika sebuah keluarga hanya sibuk mengurus kenyamanan sendiri, mereka akan gagal secara spiritual. Ribka dipilih Tuhan menjadi bagian dari sejarah besar karena ia sudah terbiasa menjadi berkat dalam hal-hal kecil di kesehariannya.Oleh sebab itu, gereja harus sadar bahwa keberhasilan aslinya bukan dilihat dari penuhnya bangku ibadah, melainkan dari seberapa berdampaknya keluarga-keluarga di lingkungan setelah mereka selesai beribadah. Karenanya, orangtua yang beriman tidak hanya mewariskan harta, tapi juga mewariskan karakter melayani. Jangan biarkan keluarga menjadi kelompok yang eksklusif atau tertutup tetapi rumah tangga harus menjadi saluran berkat yang meluap hingga ke tetangga dan masyarakat. Saat rumah menjadi sekolah kasih, maka dunia akan melihat kemuliaan Tuhan secara nyata.
Doa: Tuhan, Biarlah bersama denganMu, berkat itu terus meluap dari rumah kami, amin
Senin, 20 Juli 2026
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 10 : 1 – 8 (TB2)
Petrus dan Kornelius
Di Kaisarea ada seorang laki-laki yang bernama Kornelius, seorang perwira dari batalion yang disebut batalion Italia. 2 Ia saleh, ia beserta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. 3 Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!" 4 Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. 5 Sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk memanggil seorang bernama Simon yang disebut juga Petrus. 6 Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit bernama Simon, yang tinggal di tepi laut." 7 Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama dia. 8 Sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope.
Keluarga: Dari Doa Menjadi Aksi Nyata
Kisah Kornelius menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya disimpan di dalam hati, tetapi harus nyata melalui doa dan tindakan kasih kepada sesama. Kornelius bukan hanya seorang yang takut akan Tuhan secara pribadi, tetapi ia juga mengajak seluruh keluarganya hidup dalam iman. Mereka tekun berdoa dan rela menolong orang-orang yang membutuhkan. Doa serta kebaikan yang mereka lakukan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Allah. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa keluarga adalah tempat pertama untuk bertumbuh dalam kasih dan kepedulian. Ketika keluarga rajin berdoa bersama, hati setiap anggota keluarga akan semakin peka melihat kesulitan orang lain. Iman yang benar tidak membuat seseorang hidup egois atau menutup diri, melainkan mendorong untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Karena itu, gereja dipanggil untuk terus mendampingi dan membimbing keluarga agar hidup dalam doa, kasih, dan semangat berbagi. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan anak-anak untuk peduli, menolong, dan hidup takut akan Tuhan sejak dini. Iman tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja saja, tetapi harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk mengasihimu secara nyata melalui sesama, amin
Selasa, 21 Juli 2026
bahan bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9 (TB2)
Panggilan Abram
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang mereka kumpulkan serta orang-orang yang mereka peroleh di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di sana. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, ke pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan tinggal di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Lalu disitu ia mendirikan mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian dari situ ia pindah ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya di antara Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu di situ ia mendirikan mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan berjalan terus ke Tanah Negeb.
Berani Keluar Untuk Berbagi Berkat
Cerita Abraham dalam dalam teks ini bukan sekadar cerita tentang pindah rumah, melainkan tentang ketaatan yang berbuah berkat. Tuhan memberkati Abraham bukan agar ia menikmatinya sendirian, melainkan supaya ia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyaman untuk membawa dampak positif bagi dunia. Di setiap tempat perhentiannya, Abraham membangun mezbah sebagai tanda ketaatan keluarganya kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa keluarga yang dekat dengan Tuhan pasti memiliki hati yang terbuka bagi orang lain. Keluarga kita saat ini memiliki panggilan yang sama persis dengan Abraham. Kita tidak diberkati Tuhan hanya supaya hidup berkecukupan atau sukses secara pribadi. Keberadaan rumah tangga kita di sebuah lingkungan harus menjadi jawaban atas masalah yang ada di sekitar kita. Jika keluarga kita hanya sibuk dengan urusan sendiri, kita kehilangan makna sebagai pengikut Tuhan. Setiap keluarga mesti sadar bahwa keluarga adalah utusan Tuhan di tengah masyarakat. Jangan biarkan keluarga kita menjadi tertutup atau tidak mau tahu urusan orang lain. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga dipanggil untuk menjadi saluran berkat yang nyata bagi lingkungan. Saat kita berani berbagi, kasih Tuhan akan dirasakan oleh semua orang.
Doa: dalam Nama Yesus, keluarga kami siap menjadi berkat bagi dunia, amin
Rabu, 22 Juli 2026
bahan bacaan : Ester 4 : 1 – 17 (TB2)
Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
Setelah mengetahui semua yang terjadi itu, Mordekhai mengoyak pakaiannya, serta memakai kain kabung dan abu, kemudian ia keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil menangis dengan nyaring dan pedih. 2 Ia pergi hanya sampai di depan pintu gerbang istana raja, karena tidak seorangpun boleh memasuki pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di setiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; banyak orang membentangkan kain kabung dengan abu sebagai alas tempat tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, sangat risaulah hati sang ratu, ia mengirim pakaian, supaya dikenakan pada Mordekhai dan supaya kain kabung ditanggal darinya, tetapi ia tidak menerimanya. 5 Ester lalu memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan untuk melayani dia. Ester memberi perintah kepadanya untuk menemui Mordekhai dan menanyakan apa arti dan sebab hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah menemui Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman untuk ditimbang bagi perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka, ia serahkan kepada Hatah untuk diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Hatah juga disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon kasih karunianya dan membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam tanpa dipanggil, berlaku satu undang-undang, orang itu harus hukuman mati. Hanya orang yang diberi uluran tongkat emas oleh raja akan tetap hidup. Padahal selama tiga puluh hari ini aku tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika perkataan Ester disampaikan kepada Mordekhai, 13 Mordekhai menyampaikan jawaban ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di istana raja, hanya engkau dari antara semua orang Yahudi yang akan terluput. 14 Sebab, jika engkau berdiam diri saja pada saat ini, pertolongan dan kelepasan bagi orang Yahudi akan muncul dari pihak lain, tetapi engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Lalu Ester menyampaikan jawaban ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang ada di Susan dan berpuasalah untuk aku; jangan makan dan minum selama tiga hari, siang dan malam. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, kemudian aku akan masuk menghadap raja, meskipun berlawanan dengan undang-undang; kalau aku harus mati, biarlah aku mati." 17 Mordekhai lalu pergi dan melakukan sama seperti yang dipesan Ester kepadanya.
Keluarga : Penopang di Tengah Krisis
Keselamatan sebuah bangsa sering kali dimulai dari keberanian satu keluarga kecil, inilah inti dari teks Ester 4:1-17. Artinya bahwa Tuhan tidak pernah menempatkan kita di suatu posisi secara kebetulan. Mordekhai menyadarkan Ester bahwa kenyamanan di istana bukanlah untuk dinikmati sendiri, melainkan alat untuk menolong sesama yang sedang di ujung tanduk. Ester kemudian mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam doa dan puasa. Ini menunjukkan bahwa krisis yang berat hanya bisa dihadapi jika kita mau melepas ego dan berjuang bersama sebagai satu keluarga besar. Kadang, di masa sulit, banyak orang cenderung menutup pintu rumah rapat-rapat karena takut ikut susah. Namun, belajar dari Ester dan Mordekhai, krisis seharusnya membuat kita semakin erat dalam kerja sama. Setiap keluarga terpanggil agar memiliki mentalitas saling menopang, terutama saat situasi ekonomi atau sosial sedang tidak menentu. Jangan biarkan kesulitan mengubah kita menjadi pribadi yang acuh tak acuh. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga adalah benteng pertahanan bagi sesamanya. Berusahalah untuk terus hidup saling menopang di tengah krisis apa pun. Saat kita berani berbagi beban, di situlah harapan dan kasih Tuhan nyata bagi masyarakat.
Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami penopang hidup bagi sesama, amin
Kamis, 23 Juli 2026
bahan bacaan : Kejadian 41 : 53 – 57 (TB2)
53 Setelah berakhir ketujuh tahun kelimpahan yang terjadi di tanah Mesir itu, 54 mulailah tujuh tahun kelaparan datang, seperti yang telah dikatakan Yusuf; Di semua negeri terjadi kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, lakukanlah apa yang dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu melanda seluruh bumi. Lalu Yusuf membuka semua lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab kelaparan itu semakin dahsyat di tanah Mesir. 57 Dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab kelaparan itu dahsyat di seluruh bumi.
Menjadi Berkat Di Tengah Krisis
Setiap orang menjalani pengalaman hidup yang berbeda, pengalaman itu meninggalkan jejak dalam pembentukan kepribadian. Pengalaman baik dapat membentuk rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman buruk seperti penolakan, kehilangan, atau kegagalan bisa melahirkan ketakutan atau luka emosional. Tidak semua orang merespons pengalaman yang sama dengan cara yang sama. Ada yang tumbuh lebih kuat dari kegagalan, namun ada pula yang menjadi mudah menyerah. Yusuf memaknai berbagai pengalaman pahit yang pernah dialaminya sebagai cara Tuhan untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih berhikmat, setia, dan bertanggung tanggung jawab. Yusuf menunjukkan manajemen yang baik selama masa kelimpahan untuk bersiap menghadapi kelaparan. Yusuf tidak menyia-nyiakan masa kelimpahan. Ia mengaturnya secara bijak untuk menghadapi krisis. Krisis adalah bagian dari kehidupan, melalui Yusuf Tuhan berdaulat dan menyediakan pertolongan di tengah kesukaran. Ia tidak egois, melainkan menggunakan posisinya untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Tekanan, tantangan bahkan krisis mendorong kita untuk hidup berhikmat mengelola sumber daya, bertanggung jawab, dan berbagi di masa sulit, serta mengandalkan Tuhan yang selalu setia memelihara hidup kita.
Doa: Tuhan, bentuk kami untuk menjadi penyalur damai sejahteramu, Amin
Jumat, 24 Juli 2026
bahan bacaan : Yesaya 58 : 6 – 7 (TB2)
6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
Memperjuangkan Keadilan dan Kasih
Puasa dalam pandangan Alkitab bukan hanya menghindari atau menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Berpuasa merupakan tindakan untuk menaklukan diri sepenuhnya di bawah kehendak Tuhan. Tidak hanya menahan lapar, puasa yang sejati juga terwujud dalam kepedulian untuk melepaskan mereka yang terbelenggu oleh kelaliman, dan memerdekakan mereka yang teraniaya. Puasa bukan sekedar ritual melainkan upaya untuk mewujudkan kasih Allah lewat sikap peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan memberi pakaian pada yang telanjang. Karena Ibadah sejati tercermin melalui tindakan yang penuh belas kasihan. Perbuatan kasih kepada sesama adalah cerminan dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Jadilah saluran berkat. Jangan menutup mata terhadap mereka yang berkekurangan atau tertindas di sekitar kita. Tuhan lebih menghargai tindakan kasih daripada sekadar menjalankan sebuah ritual. Memperjuangkan keadilan dan kasih adalah wujud memuliakan Tuhan.
Doa: Tuhan, tuntun kami untuk selalu memperjuangkan keadilan dan mewujudkan kasih, Amin
Sabtu, 25 Juli 2026
bahan bacaan : Yesaya 58 : 10 – 12 (TB2)
10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memenuhi kebutuhanmu di tanah yang gersang, serta membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Reruntuhan yang sudah berabad-abad akan kau bangun lagi, dan dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan akan kau perbaiki. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang bolong", "yang memperbaiki jalan supaya seluruhnya layak huni".
Hidup Berbagi Berkat Dengan Orang Lemah
Ibadah sejati bukan sekadar ritual, melainkan tindakan nyata mengasihi sesama melalui kedermawanan. Saat kita peduli pada yang lapar dan tertindas, Tuhan berjanji menuntun, memulihkan, dan menjadikan hidup kita sumber berkat yang tak pernah kering, seperti taman yang diairi. Kita dipanggil untuk “mencurahkan diri” bagi mereka yang membutuhkan. Ini berarti memberikan perhatian, waktu, dan materi kepada orang lapar dan tertindas. Tindakan ini mengubah “kegelapan” (kesedihan/masalah) kita menjadi terang seperti rembang tengah hari. Ketika kita melakukan kehendak-Nya, Tuhan berjanji akan menuntun kita senantiasa dan tidak meninggalkan kita sendirian. Tuntunannya memberi kepuasan di tengah situasi yang sulit atau “tanah yang kering” juga memberikan energi baru untuk melayani dan menghadapi hidup. Kita diibaratkan seperti “taman yang diairi dengan baik” dan “mata air yang tidak pernah mengecewakan”. Hidup kita tidak hanya diberkati, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi orang lain yang tidak pernah kering. Jangan menahan kebaikan, karena saat kita menjadi terang bagi orang lain, Tuhan meneguhkan kehidupan kita.
Doa: Tuhan, jadikan kami terang kasihMu, Amin
SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM